Anda di halaman 1dari 14

BAB III

PEMBAHASAN

A. Bahan Baku Produksi

Bahan baku produksi meliputi bahan baku utama dan bahan baku

pendukung.

1. Bahan Baku Utama

PT.Petrokimia Gresik bergerak dalam bidang industri pupuk.

Perusahaan ini memiliki 3 unit produksi, yaitu Unit Produksi I, Unit Produksi

II, dan Unit Produksi III. Departemen Produksi III B merupakan bagian dari

Departemen Produksi III, yaitu departemen produksi dengan bahan baku

utama sulfur, departemen Produksi III B mempunyai beberapa unit produksi,

yaitu pabrik asam sulfat dan utilitas. Bahan baku untuk memproduksi asam

sulfat adalah sulfur.

2. Bahan Baku Pendukung

Bahan baku pendukung untuk memproduksi asam sulfat diperoleh

dari dalam negeri. Bahan pembantu tersebut antara lain:

a. CaO

Jenis CaO yang digunakan di pabrik asam sulfat berwujud serbuk.

Jumlah CaO yang digunakan setiap hari adalah 0,3 ton/hari

b. Diatomaceous earth

56
Jumlah diatomaceous earth yang digunakan setiap sekali pakai

sebanyak 160 kg. Diatomaceous ini digunakan sebagai pelapis leaf

filter.

c. Demin Water

Demin water berfungsi sebagai pereaksi dengan asam pirosulfat

untuk membentuk asam sulfat pekat.

d. V2O5 (Vanadium pentaoksida)

Vanadium pentaoksida berfungsi sebagai katalis pada reaktor untuk

mempercepat reaksi. Volume vanadium pentaoksida yang dibutuhkan

sebanyak 341000 liter.

3. Produk Utama

Produk utama yang dihasilkan dari unit III B adalah asam sulfat

dengan spesifikasi sebagai berikut :

Konsentrasi 98,5%
Fe 50 ppm max
Suhu 45 OC
Turbidity 10 NTU max

Jumlah produk yang dihasilkan sebanyak 1850 ton/hari. Kualitas produk

asam sulfat telah memenuhi persyaratan pabrik. Kualitas produk dijaga

melalui proses double contact double Absorber. Produk ini di distribusikan

ke Tangki TK-1401 A-F, SA Plant (exciting), Revamp PA, dan Unit Produksi

I,II,III.

57
B. Uraian Proses

Gambar III.B.1.1 Block diagram sulphuric acid plant

1. Seksi 1000 Tahapan Sulphur Handling

Jenis sulfur yang digunakan ada dua macam dan disimpan didalam

sulphur storage yang berkapasitas 75.000 ton3. Dari tempat ini sulfur

diangkut dengan shovel loader ke dump hopper (30-D-1001 A/B).

Pemakaian sulfur untuk pabrik adalah 600 ton/hari yang bisa dicairkan

dalam 24 jam secara kontinyu. Kapasitas bucket pada Shovel Loader

adalah 3,5 m3 dan bulk density dari serbuk belerang berkisar antara 1,3

58
ton/m3. Dua alat Shovel Loader akan digunakan untuk mengerjakan

setiap pengangkutan, dengan waktu rata-rata 20 menit. Dari Dump

Hopper sulfur dimasukkan ke Melter (30-D- 1002AB) melalui Conveyor

(30-M-1001 A/B). Sulfur dicairkan dengan pemanas steam (Steam Coil)

yang dilengkapi dengan agitator (30-M 1002 A/B). Fungsi agitator adalah

meratakan panas dari Steam Coil ke sulfur dan mengurangi endapan

kotoran pada dasar Melter. Selanjutnya sulfur mengalir ke Dirty Sulphur

Pit (30-D 1003 A/B) yang dilengkapi dengan Steam Coil untuk menjaga

temperatur konstan. Waktu yang digunakan untuk mengendapkan

kotoran yang terkandung dalam sulfur di Settling Pit adalah 48 jam

sehingga hanya sulfur bersih yang masuk ke Dirty Sulphur Pumping Pit

(30-D-1005AB). Sulfur cair kemudian dipompakan ke Sulphur Filter (30-Fil-

1001 A/B) dengan Dirty Sulphur Pump (30-P- 1002 AB). Fasilitas sulphur

handling terdiri dari dua jalur (stream) dengan kapasitas masing- masing

sebesar 50% dari total kapasitas. Perlengkapan lain yang digunakan dalam

seksi 1000 ini antara lain Precoat Pit (30-D-1004) dan Precoat Pump (30-P-

1002 A/B). Sebagai bahan precoating adalah diatomaceous earth. Bahan

ini ditambahkan ke dalam sulfur cair kemudian diaduk dengan Agitator,

dipompakan ke dalam filter, sebelum filter operasi. Filter didesain

beroperasi tiga kali dalam 24 jam. Satu kali operasi terdiri dari 6 jam

penyaringan, 2 jam pembersihan, termasuk precoating. Waktu

penyaringan dapat diperpanjang tergantung dari sulfur kotor. Tipe filter

59
adalah lembaran-lembaran dan filter ditempatkan di bagian atas untuk

memudahkan pembersihan kotoran (cake) sehingga kotoran akan jatuh di

floor dan kemudian dibuang dengan Shovel Loader. Sebelum peleburan

sulfur, perlu ditambahkan kapur bubuk ke dalam Melter untuk

menetralkan H2SO4 bebas yang terkandung di dalam sulfur. H2SO4. Pada

keadaan operasi aktual, kapur yang ditambahkan dilebihkan 20%.

Penambahan kapur ini dilakukan di Dump Hopper . Untuk mencairkan

sulfur di Melter digunakan steam yang bertekanan 7 kg/cm2dan untuk

menjaga keadaan sulfur tetap cair diperpipaan digunakan Steam

Jacket dengan tekanan steam sebesar 4 kg/cm2. Untuk menjaga sulfur

tetap cair temperatur dijaga sekitar 135 oC. Viskositas sulfur cair akan

menurun dengan kenaikan temperatur, viskositas minimum dicapai pada

temperatur 153 oC. Pada temperatur di atas 153 oC viskositas sulfur akan

naik dengan cepat. Steam pada tekanan rendah (4 kg/cm2) dan pada suhu

jenuh merupakan pengganti sulfur cair dalam suhu yang cukup dan

viskositas yang rendah. Kondensat steam dari Jacket dikumpulkan dan

ditampung untuk digunakan lagi.

Diatomaceous earth (tanah diatom) yang digunakan sekitar 100-

150 kg tiap filter tiap precoating. Tingkatan sulfur cair di dalam pit dijaga

normal. Sulfur bersifat tidak korosi, namun kandungan asam lemah dan

asam sulfat yang terjadi karena reaksi (sulfur dengan H2O dan udara)

bersifat korosif terutama pada bagian permukaan sulfur cair. Peralatan

60
yang digunakan untuk sulfur cair diberi proteksi pada kisaran tingkatan

yang normal. Sulfur cair dengan temperatur sekitar 130-140oC pada

outlet filter selanjutnya di tampung di dalam tangki (30-TK-1001). Tangki

(30-TK-1001) mempunyai kapasitas 1800 ton sulfur cair atau 1000 m3.

Tangki ini dilengkapi dengan steam coil dan diisolasi. Kapasitas ini sama

dengan untuk keperluan operasi selama 3 hari.

2. Seksi 1100 Tahapan SO2 Generation

Sulfur cair yang bersih dari Storage Tank dialirkan ke dalam

Sulphur Burner Feed Pit (30-D-1006) yang dibangun di bawah tanah dan

dilengkapi Steam Coil pemanas. Pit ini dilengkapi juga dengan pompa

sulfur tipe vertikal, Burner Feed Pump (30-P-1004 A/B) yang mana pompa

ini memompa sulfur cair ke Sulphur Furnace (30-B-1101) dengan tekanan

sekitar 10 kg/cm2. Laju alir sulfur cair ke Furnace dapat diatur dengan

Control Valve yang dikontrol dari Control Room. Sulfur cair yang masuk ke

Sulphur Furnace (30-B-1101) di-spray-kan melalui Sulphur Burner (30-B-

1102 A/F) dan direaksikan dengan udara kering dari Drying Tower (30-T-

1301) menjadi gas SO2 dengan reaksi sebagai berikut:

S + O2  SO2 dH = + 70,96. 103 Kcal/kmol.

61
Gambar III.B.2.1 Proses pada Seksi SO2 Generation

Sekitar 70% dari laju alir total udara Sulphur Furnace dimasukkan lewat

Wind Box melalui Sulphur Burner. Selebihnya masuk ke tiga header

penyuplai udara disekeliling Furnace. Sebagian dari udara yang di line

supply ke header dinaikkan tekanannya oleh Cooling Air Booster

Compressor (30-C-1101) dan dimasukkan ke Burner Gun dan Peep Holes

dari Sulphur Furnace sebagai pendingin.

Udara pembakaran yang disuplaikan secara tepat sepanjang

dinding Refractory melalui nozel udara mengakibatkan kecepatan yang

tinggi dan menimbulkan sirkulasi secara turbulen. Sulfur disemprotkan ke

dalam Furnace melalui Atomizing Gun. Pembakaran yang sempurna

dimaksudkan untuk melindungi pemanasan dari Refractory, penguapan

sulfur dan pembentukan gas NOx. Gas proses panas yang mengandung

SO2 dengan konsentrasi sekitar 10,7% mol dialirkan ke dalam Waste Heat

Boiler (30-B-1104) dan Steam Superheater (30-E-1102) yang mana steam

62
yang diproduksi adalah Superheater Steam . Temperatur gas Outlet

Furnace sekitar 1050oC dan outlet dari Waste Heat Boiler sebesar 590 oC.

Waste Heat Boiler dilengkapi dengan by pass gas untuk menjaga

temperatur gas inlet Converter (30-R-1201).

3. Seksi 1200 Tahapan SO3 Convertion

Gambar III.B.3.1 Proses pada Seksi SO3 Convertion

Converter terdiri dari empat lapisan katalis (bed). Tiga lapisan pertama

merupakan konverter tingkat pertama dan satu lapisan lainnya

merupakan konverter tingkat kedua. Setiap tingkat konverter masing-

masing mempunyai Absorber.

Gas proses yang mengandung gas SO2 dengan temperature 440oC

masuk Bed Converter I yang mana sekitar 66,5% dari gas SO2 diubah

63
menjadi SO3 dengan katalis V2O5 dengan reaksi sebagai berikut :

SO2 + ½ O2  SO3 H= + 23,49. 103 Kcal/kmol

Gas outlet dari Bed Converter I yang mengandung SO3 dengan

temperatur 616 oC masuk ke shell side Heat Exchanger I (30-E-1201) untuk

dimanfaatkan panasnya pada media steam sehingga suhu keluarnya

menjadi 440 oC. Kemudian gas tersebut masuk ke Converter Bed II

(konversi 90,4%) dan keluar dengan kenaikan suhu menjadi 512 oC, gas

outlet didinginkan pada shell Heat Exchanger I (30-E-1202) sampai suhu

440 oC, lalu masuk ke Converter Bed III (konversi 96,01%) pada suhu 440

o
C, dan keluar pada suhu 457 oC.

Gas outlet dialirkan pada HE II (30-E-1201) untuk menaikkan suhu

gas SO3 yang keluar dari Absorber I, dan Economizer I (30-E-1203) untuk

memanaskan umpan Boiler Feed Water, sehingga terjadi penurunan suhu

menjadi 220 oC, sebelum masuk ke Absorber I (30-T-1302). Sisa gas keluar

dari Absorber I memiliki temperatur sekitar 80 oC. Setelah itu gas

dinaikkan suhunya pada HE II (30-E-1201) dan HE I (30-E-1202) menjadi

440 oC dan masuk ke Converter Bed IV (konversi 99,88%). Gas outlet dari

Converter Bed IV pada suhu 457 oC, lalu dialirkan ke Economizer II (30-E-

1204) untuk memanaskan umpan Boiler Feed Water, sehingga suhu

keluarnya menjadi 190 oC, setelah itu gas dialrkan ke Absorber II (30-T-

1303). Untuk mencegah kondensasi gas dari gas outlet (30-T- 1302),

64
dipasang tracing pada saluran gas antara Absorbtion Tower I dan Heat

Exchanger I dan II.

4. Seksi 1300 Tahap Air Drying dan SO3 Absorbtion

Udara atmosfer dihisap dengan Air Blower (30-C-1301 A/B) melalui

Drying Tower . Pada Drying Tower ini kandungan air dalam udara diserap

dengan H2SO4 untuk menghasilkan udara kering. Asam sulfat 98,5% w/w

disirkulasikan melalui Drying Tower. Udara kering dari Air Blower yang

bertemperatur 110 oC dimasukkan ke Sulphur Furnace sebagai udara

pembakar untuk proses oksidasi sulfur. Gas yang mengandung SO3 dari

bed III dan bed IV dari konverter diserap dengan H 2SO4 98,5 % yang

disirkulasikan di Absorbing Tower I dan II yang menghasilkan asam sulfat.

Gambar III.B.4.1 Proses pada Seksi SO3 Absorbtion

Reaksi Pembentukan asam pirosulfat:

65
H2SO4 (aq) + SO3 (g)  H2S2O7

Gas SO3 diserap oleh H2SO4 pekat membentuk Asam Pirosulfat.

Asam Pirosulfat juga disebut Oleum (H2SO4.SO3) atau asam sulfat pekat

berasap. Absorpsi ini terjadi didalam 1st Absorption Tower 30-T-1302.

Mist acid dipisahkan oleh Demister dari gas SO 2, agar system outlet 1st

Absorption Tower 30-T-1302 (Duct inlet shell Exchanger 30-E-1201 dan

30-E-1202) tidak terkorosi. H2S2O7 dari bottom 1st Absorption Tower 30-

T-1302 dialirkan secara gravity ke DT/ 1st AT Pump Tank 30-D-1301. Asam

Pirosulfat direaksikan dengan dillution water membentuk asam sulfat

pekat.

Reaksi Pembentukan asam sulfat:

H2S2O7 + H2O 2 H2SO4 H= + 32,8 kcal/kgmol.

Reaksi ini terjadi di DT / 1st AT Pump tank 30-D-1301 dan asam sulfat

pekat (konsentrasi ± 98.5 %) tersebut dipompa dengan 1st AT Circulation

Pump 30- P-1302, masuk ke 1st AT Cooler 30-E-1302 untuk diturunkan

temperaturnya menggunakan media pendingin cooling water.

Pengenceran H2SO4 selama penyerapan H 2O dari udara di dalam Drying

Tower dan penambahan konsentrasi dari penyerapan SO3 didalam

Absorbing Tower I dicampur bersama-sama di dalam DT/1st AT Pump Tank

(30-D -1301). Apabila konsentrasi H2SO4 di dalam pump tank ini lebih dari

98,5% w/w, maka ditambahkan air (dilution water) yang tujuannya untuk

menjaga konsentrasinya agar tetap 98,5% w/w H 2SO4. Panas yang

66
dihasilkan dari pengenceran di Drying Tower dan panas hasil reaksi di

dalam Absorbing Tower I dan II, masing-masing didinginkan di Acid Cooler

dengan pendingin cooling water. Temperatur H2SO4 didalam DT/1st AT

pump tank sekitar 100oC. Asam tersebut dipompakan dari DT circulation

tank pump (30-P-1301) ke Drying Tower kemudian didinginkan di Drying

Tower Cooler (30-E-1301 A/B) sampai 60 oC lalu masuk ke Drying Tower.

Asam sulfat Outlet Drying Tower bersuhu 65 oC dan kembali ke DT/1st AT

Pump Tank. Dengan 1st AT Circulation Pump (30-P-1302) asam sulfat

dikirim ke Absorbing Tower I melalui 1st AT Cooler (30-E-1302) yang mana

asam sulfat didinginkan menjadi 80 oC. Asam sulfat outlet dari Absorbing

Tower bertemperatur sekitar 116 oC. Asam dengan temperatur 90 oC dari

2nd AT masuk ke 2nd AT Pump Tank (30-D-1302) dan dipompakan oleh (30-

P-1303) ke Absorbing Tower II melalui Absorbing Tower Cooler (30-E-

1303) untuk didinginkan sampai suhu 80 oC.Produk asam yang diambil

dari cabang line 2nd AT Circulation Pump masuk ke Product Cooler (30-E-

1304) yang mana produk didinginkan sampai 34 oC dan dikirim ke sulfuric

acid Storage Tank.

BAB IV

67
PENUTUP

A. Kesimpulan

PT Petrokimia Gresik memproduksi asam sulfat konsenterasi 98,5

% (w/w) dengan kapasitas produksi sebanyak 1850 ton/hari. Kualitas

produk dijaga melalui proses double contact dengan double Absorber.

Produk ini di distribusikan ke Tangki TK-1401 A-F, SA Plant (exciting),

Revamp PA, dan Unit Produksi I,II,III. Tahapan proses produksi asam Sulfat :

1. Sulphuric Handling

2. SO2 Generation

3. SO2 Convertion

4. Air Drying dan SO3 Absorbtion

B. Saran

1. Pihak pabrik perlu melakukan pencatatan mengenai kondisi operasi

tiap alat untuk memudahkan dalam mengerjakan laporan.

2. Perlu adanya perawatan yang efektif untuk setiap alat sehingga

efisiensi produksi dapat ditingkatkan serta terjaminnya keselamatan

dan kesehatan kerja.

DAFTAR PUSTAKA

68
Prasetyo, Catur. 2016. Laporan Kerja Praktek Departement Produksi III B Unit
Asam Sulfat PT. Petrokimia Gresik. IST AKPRIND. Yogyakarta.

Dyastama, Hakel. 2018. Laporan Kerja Praktek Departement Produksi III B Unit
Asam Sulfat PT.Petrokimia Gresik. Universitas Diponegoro. Semarang.

69