Anda di halaman 1dari 35

1

SESI / PERKULIAHAN KE : I dan II

TIK : Setelah mengikuti kuliah ini, mahasiswa akan dapat :


1. Menghitung perubahan entalpi (dan energi internal) dari persamaan
kapasitas panas, grafik dan gambar, tabel, dengan diberikan
keadaan awal dan akhir.
2. Memilih sistem yang sesuai untuk memecahkan masalah, baik
tertutup maupun terbuka untuk keadaan steady state, dan
menetapkan batasan sistem.
3. Menggunakan prinsip neraca massa dan energi secara sistematis
dalam perhitungan proses kimia.

Pokok Bahasan : Neraca Energi

Deskripsi Singkat :
Dalam pertemuan ini mahasiswa akan mempelajari perubahan entalpi
reaksi kimia dan fase transisi, prinsip neraca energi, dan perhitungan secara
simultan neraca massa dan energi dalam suatu proses kimia.

Bahan Bacaan :

1. Bhatt, B.I, 1984, Stoichiometry , 2nd ed, New Delhi; mc.graw Hill Pub.

2. Himmelblan, David M, 1992, Basic Principles and Calculation ini Chemical Engineering ,

5th ed, New Yersey; Prentice. Hall International.


2

BAB I

NERACA ENERGI

8.1. Pendahuluan
Bab ini akan membahas topik yang berkaitan dengan neraca energi
(energi balance). Untuk memberikan konversi dari sumber daya menjadi
energi yang dapat diterima secara umum, efektif dan juga ekonomis dan
untuk menggunakan energi yang dihasilkan dengan benar, harus memahami
prinsip dasar yang mendasari generasi, penggunaan, dan transformasi energi
dalam bentuknya yang berbeda-beda. Penggunaan neraca energi, harus
dinyatakan sebagai persamaan. Setiap istilah dari neraca (kesetimbangan)
energi harus ditulis dalam simbol matematis sehingga dapat
menyederhanakan persamaan tersebut dengan tepat, dan kemudian dapat
diselesaikan.

Neraca energi adalah prinsip fisis yang sangat mendasar bahwa kita
menciptakan golongan-golongan energi baru untuk memastikan bahwa
persamaan tersebut benar-benar seimbang. Persamaan (8.1. seperti yang
ditulis di bawah ini adalah generalisasi dari banyak hasil percobaan pada
kasus-kasus yang relatif sederhana.Konsep neraca energi yang makroskopik
mirip dengan konsep neraca energi mikroskopik.

Akumulasi Perpindahan energi Perpindahan energi


energi dalam ke dalam sistem ke luar dari sistem
sistem = melalui batasan - melalui batasan
sistem sistem

Generasi energi Konsumsi


+ dalam sistem - Energi .. (8.1)
Dalam sistem
3

8.2. Jenis-jenis Energi


“Energi kinetik” (kinetic energi) adalah energi yang dimiliki oleh
suatu sistem karena kecepatannya relatif terhadap sekitarnya. Energi kinetik
dapat dihitung dari hubungan:
Ek = 1
2
Mv 2 …… (8.2)

Atau
Ek = 1
2
v2 …… (8.3)

Dimana : M = massa V = kecepatan


Persamaan (8.2, adalah menunjukkan energi persatuan massa, bukan energi
kinetik total (Pers. 8.1).

Contoh 8.1.
Air di pompa dari sebuah tangki penyimpanan melalui pipa berdiameter
dalam 3,0 cm. Pada laju 0,001 m3 /det. Hitung energi kinetik spesifik
(persatuan massa)

Penyelesaian:
Basis : 0,001 m3 /det air.
Asumsi bahwa :  = 1000 kg/m3

Jari-jari pipa (r) = 1 (3,0 cm)  1,5 cm  0,015 m


2

0,01 m3 / det
V =
 (0,015 m)2

= 1,415 m/det

Ek = 1 V 2
2

 


1N 

  
   1 (kg ) (m)   1 J 
=  1  (1,415 m / det) 2





 
2
  
 det 2 



1 Nm 
 
 
 

= 1,0 J/kg
4

“Energi potensial” (potential energy) adalah energi yang dimiliki oleh


suatu sistem karena gaya yang didesakkan pada massanya oleh medan
gravitasi atau eleketromagnetik relatif terhadap permukaan referensi.
Energi potensial untuk medan gravitasi dapat dihitung dengan persamaan:
Ep = m.g.h ….. (8.4)
Atau energi potensial persatuan massa:
Ep = g.h ….. (8.5)
Dimana:
Ep = Energi potensial
g = Gravitasi
h = Ketinggian benda atau jarak dari permukaan referensi

Contoh 8.2.
Air dipompa dari sebuah reservoir ke tangki lainnya sejauh 300 ft.
Permukaan air dalam tangki adalah 40 ft, di atas permukaan air dari
reservoir pertama. Hitung kenaikan energi potensial spesifik (persatuan
massa) dari air tersebut dalam BTU/Lbm

Penyelesaian:

40 ft

300 ft

Misalkan permukaan air dalam reservoir pertama adalah permukaan


referensi, maka h = 40 ft
Ep = gh
 
 
 
 
 1 BTU 
= (32,2 ft/det2) (40 ft) 


1 


 778,2 ft lbf 
 32,2 lbm ft   
 


lbf det 2 

= 0,0514 BTU/lbm
5

“Energi dalam” (internal energi) adalah pengukuran makroskopik dari


energi molekuler, atomic, dan subatomic, yang semuanya mengikuti
kaidah konservasi makroskopik tertentu. Karena tidak ada peralatan untuk
mengukur energi dalam secara langsung pada skala makroskopik, energi
dalam harus dihitung dari variabel tertentu lainnya yang dapat diukur
secara makroskopik, seperti tekanan, volume, suhu, dan komposisi.
Jika energi dalam (U) adalah fungsi dari suhu (T) dan volume (V):
U = Uf (T, V)
Dengan mengambil turunan total:

 dU   dU 
dU =   dt    dv …..
 dT  v  dv  T

(8.6)

Berdasarkan definisi (dU/dT), adalah kapasitas panas pada volume


konstan, yang diberi simbol khusus Cv, dan suku (dU/dV)T sangat kecil.
Sehingga suku kedua pada ruas kanan dari persamaan (8.5 tersebut dapat
diabaikan. Maka perubahan energi dalam (U) dapat dihitung dengan
mengintegralkan persamaan (8.5).
T
2
U = U2 – U1 =  CvdT …… (8.7)
T
1

dimana :
U1 = perubahan energi dalam awal
U2 = perubahan energi dalam akhir
T1 = Suhu awal
T2 = Suhu akhir
Cv = kapasitas panas pada volume konstan
“Entalpi” (entalphy) : variabel ini didefinisikan sebagai kombinasi dari dua
variabel yang sering digunakan dalam neraca energi.
H = U + PV …… (8.8)
6

dimana :
H = entalpi
U = energi dalam
P = tekanan
V = volume
Menghitung entalpi persatuan massa, dapat digunakan sifat bahwa entalpi
adalah juga sebuah differensial yang pasti. Untuk unsur murni, entalpi
untuk fase tunggal dapat dinyatakan dari segi suku dan tekanan:
H = H (T, P)
dengan mengambil turunan total dari H, didapat persamaan:

 dH   dH 
dH =   dt     dp ….
 dT  P  dp T
(8.9)
 dH 
Berdasarkan definisi   adalah kapasitas panas (Cp) pada tekanan
 dT  P
 
 
konstan. Untuk  dH  sangat kecil pada tekanan sedang, sehingga suku
 dp 
 T

ke dua pada ruas akan persamaan (8.8) dapat diabaikan. Perubahan entalpi
(H) dapat dihitung dengan mengintegralkan persamaan (8.8, sehingga
didapat:

T2

 H = H2 - H1 =  Cpdt ……… (8.10)


T1

Proses-proses yang beroperasi pada tekanan tinggi, suku kedua pada ruas
kanan persamaan (8.8 tersebut tidak dapat begitu saja diabaikan, tetapi
harus dievaluasi dari data percobaan. Seperti halnya energi dalam, entalpi
tidak mempunyai nilai absolut, hanya perubahan entalpi yang dapat
dihitung. Dalam menghitung perubahan entalpi, kondisi referensi
(standar) dapat dilihat yang berikut ini:
Keadaan awal sistem : entalpi = H1 - Href
Keadaan akhir sistem : entalpi = H2 - Href
7

Maka perubahan entalpi :


(H2 - Href) - (H1 - Href) = H2 - H1

“Kerja”(work) : adalah suatu bentuk energi yang menunjukkan


perpindahan (transfer) antara sistem dan sekitarnya. Kerja tidak dapat
disimpan. Kerja positif jika dikerjakan pada sistem. Untuk terjadinya
kerja karena gaya mekanis batasan dalam suatu sistem harus bergerak.
2
W =  F.ds ………… (8.11)
1

dimana :
W = Kerja
F = Gaya eksternal dalam arah S
S = Jarak
1 = Keadaan awal
2 = Keadaan akhir
Kerja disebut juga fungsi lintasan (fath function) dan nilai W tergantung
pada keadaan awal dan keadaan akhir dari sistem.

Contoh : 8.3.
Andaikan suatu gas ideal pada 300 K dan 200 kPa berada dalam
sebuah silinder yang ditutup oleh sebuah piston tanpa gesekan,
dan gas tersebut menekan piston secara perlahan sehingga volume
gas mengembang dari 0,1 menjadi 0,2 m3. Hitung kerja yang
dilakukan oleh gas pada piston (satu-satunya bagian dari batasan
yang bergerak) jika dua lintasan yang berbeda digunakan untuk
pindah dari keadaan awal ke keadaan akhir.
Lintasan A : Pengembangan terjadi pada tekanan konstan (P =
200 kPa)
8

Lintasan B : Pengembangan terjadi pada suhu konstan (T = 300


K)

Gambar 8.1a

Penyelesaian :
Kerja mekanis yang dikerjakan oleh sistem pada piston adalah:
V
2F 2
W = -  . A ds    p dV
1A V
1
(Catatan : kerja yang dilakukan oleh sistem adalah negatif)

Lintasan (Path) A:

2
W    dV   p ( V  V )
2 1
1
 N   3 
1 2  1 
= - (200 x 10 Pa)  m
3  (0,1 m 3 )  m 
 1 Pa  1 N 
   
   
= -20 kJ

Lintasan (Path) B
V 
V2
nRT
W = - 
V1 V
dv   nR ln  2
 V1


9

 1   kg mol k 
n = - (200 kPa) (0,1 m3)    3 

 300 k   8,314 ( kPa ( m ) 
= 0,00802 kg mol
 8,314 kJ 
W = - (0,00802 kg mol)   300 K  (ln 2)
 ( kg ) ( mol ) ( K ) 
= - 20 ln 2
= -13,86 kJ

Gambar : 8.1b. Kedua integral tersebut sebagai luas dalam bidang p – v

“Panas” (heat):biasanya didefinisikan sebagai bagian dari aliran energi


total yang mengalir melintasi batasan sistem yang disebabkan oleh
perbedaan suhu antara sistem dan sekitarnya. Panas (kalor) positif jika
dipindahkan ke sistem. Panas dapat dipindahkan dengan konduksi,
konveksi dan radiasi. Panas seperti halnya kerja adalah fungsi lintasan.
Rumus empiris untuk menaksir perpindahan panas:
Q = UA  T ………. (8.12)
Dimana :
Q = Laju perpindahan panas
U = Koefisien, empiris (dari data)
A = Luas penampang lintasan
T = Perubahan suhu antara sistem dan sekitarnya
10

8.3. Perubahan Entalpi dan Fase Transisi


Bagian ini akan menjelaskan bagaimana mencari dan/atau menghitung
perubahan entalpi untuk digunakan dalam neraca energi.
Fase transisi (phase transition) terjadi dari fase padat ke cari dan fase
cair ke gas, dan sebaliknya. Selama transisi ini, terjadi perubahan besar
dalam nilai entalpi untuk suatu unsur yang harus dihitung dengan akurat
(juga disebut perubahan panas laten (latent heat). Untuk fase tunggal
(murni) entalpi bervariasi sebagai fungsi dari suhu, seperti yang
digambarkan dalam gambar 8.2. Perubahan entalpi yang terjadi dalam fase
tunggal sering disebut perubahan panas sensible (sensible heat).
Perubahan entalpi untuk fase transisi diistilahkan panas peleburan
(heat of fusion) untuk pelelehan, dan panas penguapan (heat of vaporization)
untuk penguapan. Panas pengembunan (heat of condersation) adalah
negatif dari panas penguapan, dan panas penyubliman (heat of sublimation)
adalah perubahan entalpi dari padat langsung ke uap.

Gambar 8.2. Perubahan entalpi untuk unsur tunggal (murni) sebagai


fungsi dari suhu. Garis vertikal menunjukkan “perubahan
laten” yang terjadi selama fase transisi.
11

“Kapasitas panas””

Entalpi untuk suatu unsur dalam fase tunggal (tidak untuk fase
transisi) dapat dihitung menggunakan kapasitas panas (heat capacity) dari
persamaan:
T2

H =  Cp dt
T1

Kapasitas panas (Cp) adalah jumlah energi yang dibutuhkan untuk


menaikkan suhu suatu unsur sebesar satu derajat, energi yang mungkin
diberikan oleh perpindahan panas dalam proses khusus tertentu, tetapi
dapat juga diberikan dengan cara lain. Dalam topik ini hanya dibahas Cp
(kapasitas panas pada tekanan konstan), karena Cv (pasitas panas pada
volume konstan) jarang digunakan. Dari definisi kapasitas panas maka
satuannya adalah (energi)/ (massa atau mol) (perbedaan suhu).
Campuran gas ideal, kapasitas panas (permol) campuran adalah rata-
rata berbobot mol dari kapasitas panas komponen-komponennya.
n

Cp rata-rata =  xiCpi
i  1
……..(8.13)

Dimana :
Cpi = kapasitas panas komponen I
Xi = fraksi massa atau mol komponen i
n = jumlah komponen
Campuran non ideal, khususnya cairan, harus merujuk pada data
percobaan. Kebanyakan persamaan untuk kapasitas panas padatan, cairan,
dan gas adalah empiris. Kapasitas panas biasanya dinyatakan pada tekanan
konstan (Cp) sebagai fungsi suhu dalam suatu deret pangkat, dengan
konstanta a, b, c dan seterusnya.
Cp = a + bT + cT2 .….(8.14)
Menghitung perubahan entalpi persatuan mol atau massa dengan
mengintegralkan persamaan kapasitas panas dari segi suhu, di dapat:
12

T2

H =  (a 
T1
bT  cT 2 )

b c
(T2  T1 )  (T2 3  T1 )
2 2 3
= a (T2 - T1) +
2 3
…(8.15)

Contoh: 8.4
Studi kelayakan ekonomi menunjukkan bahwa sampah padat
perkotaan dapat dibakar menjadi gas dengan komposisi sebagai berikut
(pada basis kering)
CO2 = 9,2%
CO = 1,5%
O2 = 7,3 %
N2 = 82,0%
100,0%
Hitung perbedaan entalpi (menggunakan persamaan kapasitas panas) per
mol antara bagian atas bawah cerobong, jika suhu bagian bawah
cerobong adalah 550 F dan suhu bagian atasnya 200oF uap air dalam
o

gas, dan efek energi yang dihasilkan dari pencampuran komponen-


komponen gas tersebut diabaikan.

Penyelesaian:
Persamaan kapasitas panas (T dalam oF, Cp = BTU/lb mol oF)
(data dari tabel lampiran)
N2 = Cp = 6,895 + 0,7624 x 10-3T – 0,7009 x 10-7 T2
O2 = Cp = 7,104 + 0,7851 + 10-3T – 0,5528 x 10-7T2
CO2 = Cp = 8,448+5,757 x 10-3T – 21,59 x 10-7T2 + 3,059 x 10-10T3
CO = Cp = 6,865 + 0,8024 x 10-3T – 0,7367 x 10-7 T2

Basis : 1 lb mol gas


Dengan mengalikan persamaan-persamaan di atas dengan masing-masing
fraksi mol dari tiap komponen, dan menjumlahkan semuanya bersama-
13

sama, maka dapat menghemat waktu untuk pengitegralan, tetapi


persamaan-persamaan tersebut dapat diintegralkan secara terpisah.
N2 = 0,82 (6,895 + 0,7624 x 10-3T – 0,7009 x 10-7 T2)
O2 = 0,073 (7,104 + 0,7851 x 10-3T – 0,5528 x 10-7T2)
CO2 = 0,092 (8,448 + 5,757 x 10-3T2 – 21,59 x10-7T2 x 3,059 x 10-
10 3
T)
CO = 0,015 (6,865 + 0,8024 x 10-3T – 0,7367 x 10-7 T2)
Sehingga:
Cp = 7,053 + 1,2242 x 10-3 T – 2,6124 x 10-7 T2 + 0,2814 x 10-10 T3)
200

H =  (7,053  1,2242 x 10  3 T  2,6124 x 10  7 T 2  0,2814 x 10 10 T 3 ) dt


550

1,2242 x 10 3
= 7,053 [{200 – 550)]+ [( 200) 2  (550) 2 ]
2
2,6124 x 10 7 0,2814 x 10 10
- [( 200) 3  (500) 3 ]  [( 200) 4  (550) 4 ]
3 4
= - 2468,6 - 160,7 + 13,8 - 0,633
H = - 2616 BTU/lb mol gas

Contoh 8.5
Hitung perubahan entalpi 1 kg mol gas N2 yang dipanaskan pada
tekanan konstan 100 kPa dari 18oC ke 1100oC (gunakan nilai-nilai entalpi
pada tabel).
Penyelesaian:
Karena 100 kPa pada dasarnya 1 atm, maka dari tabel sifat-sifat fisis zat
organik dan anorganik dapat dipakai untuk menghitung perubahan entalpi
tersebut (yang digunakan hanya tabel entalpi nitrogen dan beberapa
oksidanya).
Pada 1100oC (1373K) : H = 34,715 kJ/kg mol (dengan interpolasi)
Pada 18oC (291 K) : H = 524 kJ/kg mol
H = 34,715 – 524 = 34.191 kJ/kg mol
14

Contoh 8.6
Hitung perubahan entalpi (H), volume spesifik (V), dan perubahan suhu
(T) untuk 1 lb uap jenuh n-butana berubah dari 2 atm menjadi 20 atm
(jenuh).
Penyelesaian:
Gunakan grafik tekanan entalpi untuk butana; di dapat data-data:
H (BTU/lb) V (ft3/lb) T (oF)

Uap jenuh pada 2 atm 179 3,0 72

Uap jenuh pada 20 atm 233 0,3 239

Sehingga:
H = 233 – 179 = 54 BTU/lb
V = 3,0 – 0,3 = 2,7 ft3/lb
T = 239 – 72 = 167oF

8.4. Penerapan neraca energi tanpa terjadi reaksi kimia


Beberapa proses khusus yang berhubungan dengan masalah neraca
energi:
(1) Isotermal (isothermal) (dT = 0) : proses berlangsung pada suhu konstan
(2) Isobarik (isobaric) (dP = 0) : proses berlangsung pada tekanan konstan
(3) Isometrik (isometric) atau isovolume (dV = 0) : proses berlangsung
pada volume konstan.
(4) Adiabatik (adiabatic) (dQ = 0); tidak ada perpindahan panas antara
sistem dan lingkungan (sistem terisolasi). Keadaan dimana sebuah
proses dapat disebut adiabatic salah satu dari yang berikut ini sangat
mungkin terjadi:
(a) Sistem tersebut diisolasi
(b) Panas (Q) sangat kecil dalam persamaan energi dan mungkin
diabaikan
15

(c) Proses terjadi dengan sangat cepat sehingga tidak ada waktu
terjadi perpindahan panas.

Langkah-langkah atau strategi untuk menganalisis masalah neraca


energi sama halnya untuk penyelesaian masalah neraca massa. Adapun
langkah-langkah atau strategi untuk menganalisis masalah tersebut adalah
sebagai berikut:
1. Membaca masalah dan menjelaskan apa yang akan dikerjakan
2. Menggambar sketsa proses (blok diagram), mendefinisikan sistem dengan
batas.
3. Memberi simbol aliran dari setiap arus dan komposisi yang berhubungan
dan informasi lain yang tidak diketahui
4. Menulis semua nilai komposisi dan aliran arus yang diketahui pada
gambar didekat setiap aliran, menghitung komposisi dan aliran tambahan
dari data yang diberikan jika perlu.
5. Memilih sebuah basis
6. Membuat sebuah daftar menurut simbol untuk setiap nilai yang tidak
diketahui dari aliran arus dan komposisi.
7. Menulis nama-nama dari kumpulan kesetimbangan (neraca) yang tepat
yang akan diselesaikan, tulis masing-masing kesetimbangan dengan jenis
kesetimbangan tertulis didekatnya. Jangan lupa kesetimbangan implisit
untuk fraksi massa atau mol.
8. Menghitung jumlah kesetimbangan independen yang dapat ditulis,
pastikan bahwa sebuah pemecahan mungkin dilakukan jika tidak, cari
informasi selanjutnya atau periksa kembali asumsi-asumsi.
9. Menyelesaikan persamaan-persamaan tersebut. Setiap perhitungan harus
dibuat pada basis yang konsisten.
10. Memeriksa jawaban-jawaban yang telah didapat apakah jawaban itu
masuk akal. Masukkan jawaban tersebut dalam persamaan kesetimbangan
total, apakah hasil dari persamaan tersebut dipenuhi?
16

Sistem yang digunakan untuk mengamati beberapa penerapan neraca


energi, pertama sistem tertutup dan kedua sistem terbuka. Sistem tertutup
dimana tidak ada massa yang mengalir masuk dan ke luar dari sistem,
sedangkan sistem terbuka terdapat massa mengalir masuk dan ke luar dari
sistem.

Contoh 8.7 (Sistem Tertutup)


Gas argon dalam wadah terisolasi, volume 2 liter akan dipanaskan
dengan pemanas tahanan elektris. Pada kondisi awal gas ideal pada tekanan
1,5 Pa dan 300 K. Pemanas 1000 ohm menarik arus pada 40 V selama 5
menit (yaitu 480 joule kerja oleh lingkungan). Berapa suhu dan tekanan gas
akhir pada ekuilibrium? Massa pemanas 12 g dan kapasitas panasnya 0,35
J/gK. Asumsi bahwa perpindahan panas ke wadah tersebut dari gas pada
tekanan rendah dan dalam jangka waktu yang pendek dapat diabaikan.

Penyelesaian:
Dalam sistem tidak ada terjadi perpindahan massa, dan tidak terjadi reaksi
kimia.
Energi total = energi dalam + energi potential + energi kinetik
= panas + kerja
E = U + Ep + Ek = Q + W
Pada sistem tersebut : Ek = Ep = O
Q = O
W = 480 J (kerja dikerjakan pada sistem) dalam 5 menit
Basis : 5 menit
Untuk gas ideal : pV = nRT
pV
n =
RT
 10 3 m 3   1 (g mol ) K   1 
n = (1,5 Pa) (2 l) (    3 
  
 1l   8,314 ( Pa ) ( m )   300 K 
-6
= 1,203 x 10 gmol
17

Massa pemanas dan kapasitas panas gas (Cv):


5
Cv = Cp - R, karena Cp = R , maka :
2
5 3
Cv = R  R  R
2 2
Asumsikan bahwa kapasitas panas alat pemanas yang diberikan adalah
Cv juga
T

 U = n n  Cv dt  n Cv (T  300)
300

U = Q + W = O + W
U = W
U = 480 J = (12) (0,35) (T – 300) + (1,203 x 10-6) (3/2) (8,314) (T-300)
pemanas gas
Sehingga: T = 414,3 K
Tekanan akhir
P2 V2 n 2 RT 2

P1 V1 n 1 RT1

T   414,3 
P2 = P1  2   1,5    2,07 Pa
 T1   300 

Contoh 8.8 (Sistem terbuka)


Air di pompa dari dasar sebuah sumur dengan kedalaman 15 ft pada
laju 200 gal/jam, ke dalam sebuah tangki penyimpanan, permukaan air
dalam tangki pada 165 ft di atas permukaan tanah. Untuk mencegah
pembekuan di musim dingin, sebuah pemanas kecil memasok 30.000
BTU/jam ke dalam air selama perpindahannya dari sumur ke tangki. Panas
hilang dari sistem ke seluruhannnya pada laju konstan sebesar 25.000
BTU/Jam. Hitung suhu air ketika air tersebut masuk ke tangki
penyimpanan, dengan asumsi suhu air sumur 35oF. sebuah pompa dengan
daya 2 hp digunakan untuk memompa air tersebut. Sekitar 55% dari daya
18

tersebut berubah menjadi kerja pemompaan dan sisanya hilang sebagai


panas ke atmosfer.

Penyelesaian
Misalkan sistem terdiri dari saluran masuk
sumur, pipa pompa, dan saluran ke luar
pada tangki prnyimpanan. Asumsi proses
tersebut steady state (tunak) dengan massa
secara kontinyu masuk dan ke luar dari
sistem.
Basis : 1 jam operasi
Gambar 8.3

Massa masuk 200 gal dan ke luar 200 gal dalam 1 jam operasi
Neraca energi:
E = Q + W -  [(H + Ek + Ep) m]
Persamaan tersebut dapat disederhanakan:
1. Proses dalam keadaan steady, sehingga E = 0
2. m = m1 = m2
3. Ek = 0, karena V1 = V2 = 0
Maka :
O = Q + W -  [(H + Ep) m]
Nilai  H pada bagian puncak tangki tidak diketahui, tetapi dapat dihitung
dari kesetimbangan energi.
T2

H = M  Cp dt  mCp
35 o F
(T2  35)

Jika Cp diasumsikan konstan, maka masalah ini mempunyai satu


pemecahan yang unik.
19

Massa air total yang dipompa:

 gal   8,333 lb 
 200     1.666 lb / jam
 jam   1 gal 

Perubahan energi potensial:


 Ep = mgh
 
   1 BTU 
1
 Ep = (1666 lbm) (32,2 ft/det2) (180 ft)    
 32,2 ft lbm   778 ft lbf 
 
 det 2 lbf 
 Ep = 385,5 BTU
Panas yang dihilangkan oleh sistem adalah 25.000 BTU, sedangkan
pemanas, memasok 30.000 BTU ke dalam sistem, maka perubahan
panas:
Q = 30.000 – 25.000 = 5.000 BTU
Laju kerja yang dikerjakan pada air oleh pompa:
 33.000 ft lb   60 menit   1 BTU 
W = (2 hp) 0,55)      
 ( menit ) ( hp )   1 jam   778 ft lb 
= 2800 BTU/jam.
 dapat di hitung dari : Q + W =  + Ep
5000 + 2800 = H + 386
H = 7414 BTU.
Karena kisaran suhu diperkirakan kecil, kapasitas air cair dapat
diasumsikan konstan = 1,0 BTU / lboF, jadi :
7414 = H = mCpT
= 1666 (1,0) (T)
T = 4,5 oF (kenaikan suhu)
maka T = 39,5 oF.
20

8.5. Neraca Energi yang memperhitungkan reaksi kimia


Perpindahan panas yang diamati yang terjadi dalam sistemtertutup
(dengan kerja nol) sebagai akibat dari suatu reaksi menunjukkan energi
yang berkaitan dengan penyusunan kembali ikatan-ikatan yang menyatukan
atom-atom dari molekul-molekul yang bereaksi. Untuk reaksi eksotermik
(exothermic reaction), energi lebih kecil dari pada yang dibutuhkan untuk
menyatukan reaktan, sedangkan reaksi endotermik (endothermic reaction)
adalah sebaliknya.
Berikut ini akan dibahas secara spesifik penggunaan panas
(kalor) pembentukan dalam neraca energi untuk menjawab pertanyaan
seperti:
(1) Berapa suhu dari suatu arus masuk atau ke luar?
(2) Berapa banyak massa yang harus dimasukkan ke dalam suatu arus
masuk untuk menyediakan sejumlah tertentu perpindahan panas?

Gambar : 8.3 Proses dengan reaksi kimia

Proses yang digambarkan dalam gambar 8.3, reaksinya adalah:


aA + bB  cC + dD

Jumlah nonstoikiometri dari reaktan dan produk, masing-masing memasuki


dan meninggalkan sistem tersebut. Pada suhu yang berbeda. Dalam
penyelesaian masalah harus selalu pertama-tama memilih keadaan referensi
untuk entalpi yang pada keadaan ini panas pembentukan diketahui, yaitu
25oC dan 1 atm. Jika tidak ada reaksi yang terjadi, keadaan referensi dapat
berupa keadaan arus masuk atau arus ke luar.
Entalpi dari tiap arus (stream) yang masuk dan ke luar dihitung relatif
terhadap keadaan referensi yang dipilih, dan meliputi :
21

(1) Panas pembentukan standar dari komponen-komponennya


(2) Panas sensible dari komponen-komponen tersebut
(3) Perubahan fase dari komponen-komponen itu

Entalpi adalah fungsi keadaan, maka dapat dipilih lintasan apapun yang
diinginkan untuk melaksanakan perhitungan perubahan entalpi keseluruhan
dalam suatu proses selama mulai dan berhenti masing-masing pada keadaan
awal dan akhir yang ditentukan. Gambar 8.4 menggambarkan gagasan
tersebut.

Gambar : 8.4 : Perhitungan perubahan entalpi untuk setiap komponen


dalam suatu proses pada 25oC dan 1 atm sebagai keadaan
referensi.

Keadaan referensi dipilih 25oC dan 1 atm, keadaan dimana panas


pembentukan standar (Hf) diketahui. Gambar 8.4, suhu Tc = Td. Efek
tekanan dapat dimasukkan bersama dengan efek suhu pada entalpi, tetapi
dalam pembahasan ini akan menghilangkan pertimbangan efek tekanan
kecuali untuk masalah yang data entalpinya diambil dari tabel (seperti tabel
uap).
Gambar 8.5 (menunjukkan aliran informasi untuk perhitungan dalam
neraca energi dengan mengasumsikan proses keadaan tunak atau steady
22

(E = O), tidak ada perubahan energi kinetik atau potensial, dan W = 0,
sehingga persamaan neraca energi umum menjadi:
Q = H = Hproduk - Hreaktan …. (8.16)

Gambar : 8.5 : Diagram alir informasi yang menunjukkan bagaimana


menghitung entalpi dari komponen yang masuk dan
meninggalkan reaktor.

Contoh : 8.9.
Suatu biji besi pyrite yang mengandung 85,0% FeS2 dan 15,0% gangue
(kotoran, inert, batu, dll) dibakar dengan sejumlah udara dengan 100%
kelebihan udara, reaksi:
4 FeS2 + 11O2  Fe2O3 + 8 SO2

Untuk menghasilkan SO2, semua gangue plus Fe2O3 berakhir dalam


produk buangan padat (cinder), dan hasil analisis 4,0% FeS. Hitung
perpindahan panas per kg biji untuk menjaga arus produk pada suhu 25oC,
jika suhu arus masuk berada pada 25oC.
23

Catatan: udara masuk + 100% kelebihan udara = 200% udara masuk


Penyelesaian:
Proses ini adalah proses keadaan tunak (steady state) dengan reaksi kimia
BM : Fe 55,85, Fe2O3 = 159,70, FeS2 = 120,0
Basis : 100 kg bijih pyrite

Kelebihan udara:
85,0
Mol FeS2 =  0,7083 kg mol
120,0
O2 yang dibutuhkan = 0,7083 (11/4) = 1,9479 kg mol
Kelebihan O2 = 1,9479 (2,0) = 3,8958 kg mol
Total O2 masuk = 1,9479 Kmol + 3,8958 kg mol
= 5,8437 kg mol
Total N2 masuk = 5,8437 (79/21) = 21,983 kg mol

Neraca massa komponen:


Masuk Ke luar
Gaunge (kg) 15,0 = x1
N2 (Kg mol) 21,983 = x6
S (Kg mol) 2 (85/120) = x4 + (x3/120) (2)
Fe (Kg mol) 1 (85/120) = (x2/159,70) 2 + (x3 /120)(1)
O2 (Kg mol) 5,8437 = x4 + x2 + (x2 /159,70) (1,5)
X3
 0,04
x1  x 2  x 3
24

Penyelesaian untuk persamaan-persamaan ini adalah:

Masuk Ke luar
SO2 = 1,368 kg mol Gaunge = 15,0 kg
O2 = 3,938 Fe2O3 = 54,63  0,342 kg mol
N2 = 21,983 FeS2 = 2,90  0,0242 kg mol

Selanjutnya gunakan neraca energi untuk menentukan perpindahan panas,


neraca energi umum berkurang menjadi:
(E = 0, Ep = 0, Ek = 0, W = 0) Q = H. karena semua reaktan dan
produk berada pada 25oC dan 1 atm, maka semua panas sensible menjadi nol
sehingga:
Q = ni Hoi - ni Hoi
Produk Reaktan

Produk Reaktan
H f Hof
-3 o o -3
10 X niH f 10 X niHof

Komp. (g mol) (kJ/gmol) (kJ) (gmol) (kJ/gmol) (kJ)


FeS2 0,0242 -177,9 -4,305 0,7083 -177,9 -126,007
Fe2O3 0,342 -822,156 -281,156 0 -822,156 0
N2 21,9983 0 0 21,983 0 0
O2 3,938 0 0 5,8437 0 0
SO2 1,368 -296,90 -406,159 0 -296,90 0
Total -691,641 -126,007

Q = [ -691,641 – (-126,007) ] (103) = -565,634 x 103 kJ/100 kg biji


Atau Q = -5,656 x 103 kJ/kg bijih
Tanda negatif menunjukkan panas dikeluarkan dari proses tersebut

8.6. Perhitungan secara simultan neraca massa dan energi dalam suatu
proses kimia
Pengalaman dalam penyelesaian masalah neraca energi pada
pembahasan sebelumnya, kini saatnya menerapkan pengetahuan ini pada
25

masalah yang lebih rumit yang melibatkan neraca massa maupun neraca
energi. Pada bagian ini kita harus mengamati bagaimana memastikan
bahwa suatu masalah dispesifikasikan dengan tepat dan lengkap. Gambar
8.6 menggambarkan suatu sistem atau sebuah peralatan dalam keadaan
tunak (steady state).

Kerja W

A. lb C. lb

B. lb D. lb

Panas Q

Gambar : 8.6. Aliran proses dengan reaksi kimia

Neraca massa total dan komponen dapat ditulis:

Masuk Ke luar
Total =A + B =C+D
Komponen 1 = A XA1 + BXB1 = CXC1 + DX D1
Komponen 2 = AXA2 + BXB2 = CXC2 + DX D2
Dst

Neraca energi keseluruhan (over all) dapat ditulis:


Q - W = (C Hc + D HD) - (AHA + BHB)
Dimana:
Xi = fraksi berat tiap komponen
Hi = entalpi per satuan massa tiap komponen
Keadaan yang lebih komplek, dari gabungan beberapa alat, dapat dilihat
pada gambar 8.7.
26

Gambar 8.7. Proses yang terdiri dari beberapa alat

Neraca Masuk Keluar


Over all:

Total : F = D - W
Komponen : FXF1 = DXD + WXw
Energi : QII + QIII + FHF = DHD + WHW

Proses I
Total : F + R + Y = V + L
Komponen : FXF + RXR + Y Xy = VXv + LxL
Energi : FHF + RHR + YHy = VHV + LHL

Proses II
Total : V= R+ D
Komponen : VXv = RXR + DXD
Energi : QII + VHV = RHR + DHD
Proses III
Total : L =Y + W
Komponen : LXL = YXy + WXW
Energi : QIII + LHL = YHY + WHW

Contoh : 8.10
Sebuah kolom distilasi memisahkan 10.000 lb/jam larutan dengan
komposisi 40% benzena dan 60% chlorobenzena. Produk cair dari puncak
kolom terdiri dari 99,0% benzena, produk bawah mengandung 1%
27

benzena. Air pendingin masuk kondenser pada suhu 60oF dan keluar pada
suhu 140oF, pemanas reboiler menggunakan steam jenuh pada suhu 280 oF.
Reflux rasio (rasio cairan kembali ke kolom dan cairan produk atas) adalah
6 : 1. Asumsi kondenser dan reboiler beroperasi pada tekanan 1 atm,
perhitungan suhu untuk kondenser 178oF dan reboiler 268oF, dan fraksi
benzena fasa uap dari reboiler adalah 3,9% berat (5,5% mol).
Hitunglah:
a. Produk atas (destilat) dan produk bawah (lb/jam)
b. Cairan masuk reboiler dan uap reboiler (dalam lb/jam)
c. Steam dan air pendingin yang digunakan (dalam lb/jam)

Penyelesaian:

Gambar : 8.8 Kolom Distilasi

Basis : 100 lb produk bawah (B)

Komponen Lb BM Lb mol Mol fraksi

Benzena 1 78,1 0,0128 0,014

Chlorobenzena 99 112,6 0,88 0,986

0,8928 1,00
28

Data kapasitas panas benzena cair (Bz) dan chlorobenzena (Cl) adalah

sebagai berikut:

Cp (BTU/(lb) (oF) Huap (BTU/lb)


Suhu (oF) Cl Bz Cl Bz
70 0,31 0,405 - -
90 0,32 0,415 - -
120 0,335 0,43 - -
150 0,345 0,45 - -
180 0,360 0,47 140 170
210 0,375 0,485 135 166
240 0,39 0,50 130 160
270 0,40 0,52 126 154

Basis : 10.000 lb feed/jam


Neraca massa total keseluruhan:
F =P+ B
10.000 = P + B

Neraca keseluruhan benzena :


FXF = P Xp + BXB
10.000 (0,40) = P (0,99) + B (0,01)
10.000 (0,40) = P (0,99) + (10.000 – P) (0,01)
Sehingga:
a. Produk atas : P = 3960 lb/jam
Produk bawah : B = 6040 lb/jam
b. Neraca massa sekitar kondenser
R
 6 atau R = 6 P = 6 (3960) = 23.760 lb/jam
p

V = R + p = 23.700 + 3960 = 27.720 lb/jam

Neraca massa sekitar reboiler


Total : L = B + Vb
29

Benzena : L XL = BXB + VbXVb


L = 6040 XB+ Vb
LXL = 6040 (0,01) + Vb (0,039)
Karena ada tiga variabel yang tidak diketahui, sedangkan persamaan
independen hanya ada dua, maka untuk penyelesaiannya harus dilakukan
dahulu penyelesaian neraca energi.
Neraca energi keseluruhan (overl all):
Ambil suhu referensi 70oF, tidak ada energi potensial dan energi kinetik
178 268 70

Qsteam + Qkondensat = p  Cpp dt  B  C PB dt  F  CpF dt


70 70 70

Hp HB HF = 0

Neraca energi pada kondenser

Suhu referensi diambil 178oF, asumsi produk pada suhu jenuh dalam

kondenser pada suhu 178oF.

Sistem ( kondenser ) Lingkungan (air )


H Condenser  Q kondenser H air  Q air

Sehingga : Qsistem = - Qlingkungan Hkondenser = - Hair

V = (-H penguapan) = - WCpH2O (t2 – t1)

27,720 [170 (0,995) + Kw (0,005)] = W (1) (140 – 60) = Qair = -Qkondenser


Qc = - 4,71 x 106 BTU/jam

d. Air yang digunakan = 5,89 x 104 lb H2O / Jam


Menghitung steam yang digunakan :
BTU lb BTU
Qsteam = 3960 lb/jam (46,9 ) + 6040 (68,3 ) + 4,71 x
lb jam lb

106BTU/jam
178 268

Hp =  Cpp dt BTU / lb


70
H B   Cp
70
B
dt BTU / lb
30

BZ Cl rata 2 Bz Cl rata 2
47,0 36,2 46,9 88,1 6,0 68,3
Asumsi stream P adalah benzena murni dan stream B adalah
chlorobenzena murni
Q steam = 5,31 x 106 BTU/jam
Dari steam tabel, Huap pada 280oF adalah 923 BTU/jam dan asumsi
steam pada suhu jenuh.
Jadi jumlah steam yang digunakan:
5,31 x 10 6 BTU / jam

923 BTU / lb
= 5760 lb/jam
Neraca energi sekitar reboiler:
Qsteam + L (HL) = Vb (Hvb) + B (HB)
Suhu reference : 268oF
Neraca energi:
BTU
5,31 x 106 BTU/jam + (L,lb) [0,39 o
] ( 20 o F) 
(lb)( F)
Vb (0,99) (126) + (0,01) (154) + B (0)

dimana:
Qsteam = 5,31 x 106 BTU/jam
Asumsi suhu stream L masuk reboiler tidak lebih dari 20oF di bawah suhu
reboiler 268oF.
Neraca massa:
L = 6040 + Vb
5,31 x 106 - (6040 + Vb) (7,8) = 126,3 Vb
5,31 x 106 – 0,047 x 106 = 126,3 Vb + 7,8 Vb

Sehingga :
C. Cairan yang masuk ke reboiler:
5,26 x 10 6
VD =  39.300 lb / jam
134
L = VD + B = 39.300 + 6040 = 45.340 lb/jam
5,31 x 10 6
Uap dari reboiler : Vb =  42,100 lb / jam
126,3
31

Soal-soal :
8.1. Batu kapur (CaCo3) dikonversi menjadi CaO dalam kilu vertikal kontinyu.
Panas untuk pembakaran digunakan gas alam (CH4) dengan kontak
langsujng dengan batu kapur dan menggunakan udara berlebih 50%. Hitung
CaCO3 yang dapat diproses per kilogram gas alam. Kapasitas panas rata-
rata:
Cpm CaCO3 = 234 J/(g mol) (oC)
Cpm CaO = 111 J/(g mol) (oC)
CaCO3
Jawab : 20,2 KG CaCO3/kg CH4

8.2. Larutan NaCl akan dipekatkan dari 7% berat menjadi 40% berat dalam
evaparator. Umpan masuk evporator 16.000 lb/jam.Umpan masuk
evaporator dipanaskan mencapai suhu 180oC. Uap air dari larutan dan
larutan pekat pada suhu 180oC. Laju steam masuk 15.00 lb/jam, pada suhu
230oF dan kondensat 230oF. Hitunglah
a. Suhu umpan masuk evaparator
b. Berat produk larutan
Pekat 40% NaCl/jam
Data-data lain : Cp rata-rata
Cp 7% NaCl = 0,92 BTU/lboC
Cp 40% NaCl : 0,85 BTU/lboF
H penguapan H2O pada 180oF : 990 BTU/lb
H penguapan H2O pada 230oF : 959 BTU/lb

Jawab: (b) 2800 lb/jam


32

DAFTAR KEPUSTAKAAN

1. Bhatt, B.I dan S.M. Vora, 1984, Stoichiometry, 2nd ed, New Delhi, Mc Graw
Hill Pub.

2. Coulson, J.M. dan JF Richardson, 1988, Chemical Engineering, Volume 1,


3rd ed, Canada, Pergamon Press Canada Ltd.

3. Himmelblau, David, M, 1992, Basic Principle and Calculation in Chemical


Engineering, 5th ed, New Jersey, Prentice Hall International.

4. Maryono, H.R. dkk, 1985, Industri Kimia I, Bandung, Jurusan Teknik Kimia,
FTI, ITB.

5. Reklaitis, GV, 1983, Material and Energi Balances, New York, John Willey &
Sons Pub.
33

AZAS TEKNIK KIMIA

Penyusun :

Ir. Hastami Murdiningsih, MT


Ir. Zulmanwardi, M.Si.

JURUSAN TEKNIK KIMIA


POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG
TAHUN 2005
34

BAB VIII NERACA ENERGI......................................................................... 96


8.1. Pendahuluan ............................................................................ 96
8.2. Jenis-jenis Energi ..................................................................... 97
8.3. Perubahan Entalpi dan Fase Transisi ...................................... 104
8.4. Penerapan Neraca Energi Tanpa Terjadi Reaksi Kimia ......... 108
8.5. Neraca Energi yang Memperhitungkan Reaksi Kimia ........... 114
8.6. Perhitungan secara Simultan Neraca Massa dan Energi dalam
suatu Proses Kimia .................................................................. 118
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 126
LAMPIRAN .................................................................................................... 127

iv
35