Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN HASIL PEMICU

PEMICU 4 BLOK 11

DISUSUN OLEH:
Kelompok 11

DOSEN PEMBIMBING :
drg. Sumadhi S, Ph.D
drg. Lasminda Syafiar, M.Kes
Siti Utari,S.Si,M.Sc

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2019
TIM PENYUSUN

KETUA : SHAFA MASITHAH (180600235)

SEKRETARIS : KRISTIAN VIERI NAINGGOLAN (180600159)

ANGGOTA :

NURAINI (180600232)

ANNISA KHUMAIRA (180600066)

JUITA SEMBIRING (180600158)

GRACE MUTHIA (180600154)

NATHANIA ILLONA (180600161)

NOVITA MELANI SINAGA (180600155)

ATIKAH RAHMAH HARAHAP (180600064)

HALIMATUTSAHDIA ARITONANG (180600063)

FADILATUN HASANAH (180600065)

GRACE GINTA REGINA GINTING (180600231)

AULIA FARHAN (180600254)

LASMAWATI SEPTANIA SILABAN (180600157)

KOH SHENG HUI (180600253)

BELLA ULIARTA SIMANJUNTAK (180600233)

INDAH PERMATA SARI (180600160)

GINA GEOVANI TARIGAN (180600234)

NURUL HASYA TANTRI (180600067)


BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Gigi palsu atau denture adalah alat prostetik yang dapat menggantikan gigi yang sudah
hilang beserta jaringan gusi di sekelilingnya. Gigi palsu umumnya terbuat dari plastik akrilik,
logam, ataupun nilon. Gigi palsu seringkali digunakan untuk mengatasi masalah yang muncul
akibat kehilangan gigi, seperti gangguan dalam mengunyah makanan atau berbicara.

Berdasarkan jenisnya, gigi palsu dapat dibagi menjadi dua, yaitu gigi palsu sebagian dan
gigi palsu lengkap. Gigi palsu sebagian digunakan untuk mengganti satu atau beberapa gigi yang
lepas, tidak seluruhnya. Sedangkan gigi palsu lengkap digunakan untuk mengganti seluruh gigi
yang hilang, baik gigi atas maupun gigi bawah. Dokter gigi biasanya akan menggunakan kawat
khusus untuk menghubungkan beberapa gigi palsu yang dipasang.

Untuk gigi palsu lengkap, dapat dibuat dengan segera ataupun secara konvensional. Gigi
palsu lengkap yang dibuat secara konvensional, dibuat dan dipasang setelah seluruh gigi bagian
atas atau bawah dicabut, serta gusi tempat gigi yang dicabut sudah sembuh dengan baik.
Sedangkan, gigi palsu lengkap yang dibuat dengan segera artinya dibuat sebelum gigi atas atau
bawah dicabut. Sehingga tidak ada periode pasien tanpa gigi. Namun, pada proses penyembuhan
setelah cabut gigi, jaringan gusi dan tulang dapat mengkerut, sehingga bentuk dari gigi palsu
yang dibuat segera perlu disesuaikan kembali.
1.2. Deskripsi Topik

Nama Pemicu : Gigi Palsu My Honey..


Penyusun /Narasumber : drg. Sumadhi S, Ph.D; drg. Lasminda Syafiar, M.Kes; Siti Utari,
S.Si,M.Sc
Hari/Tanggal : Jum’at / 27 Desember 2019
Jam : 13.30 – 15.30 WIB

Kasus :
Seorang laki-laki membawa istrinya yang berusia 37 tahun datang ke RSGM untuk
membuat gigi palsu lepasan pengganti giginya yang telah dicabut. Dari pemeriksaan intra oral
terlihat edentulous pada gigi 35, 36, 46, dan 47. Dokter gigi merencanakan membuat gigi tiruan
kerangka logam.

Pertanyaan :
1. Jelaskan sifat mekanis logam yang dikaitkan dengan kurva stress-strain.
2. Jelaskan klasifikasi alloy yang digunakan di kedokteran gigi.
3. Jelaskan proses solidifikasi logam.
4. Jelaskan fungsi dari elemen-elemen yang terdapat pada dental alloy.
5. Jelaskan jenis alloy yang dapat digunakan dalam pembuatan gigi tiruan kerangka logam
pada kasus tersebut.
6. Jelaskan sifat fisis dari logam-logam yang terdapat pada alloy yang digunakan pada kasus
tersebut.
7. Jelaskan klasifikasi resin akrilik.
8. Jelaskan jenis dan tahap polimerisasi resin akrilik yang digunakan pada kasus tersebut.

Produk :
Jawablah pertanyaan diatas secara individu pada buku tulis masing-masing mahasiswa
dengan tulisan tangan. Buku tersebut di tandatangani oleh fasilitator setelah selesai diskusi
kelompok. Buku tersebut dikumpulkan pada sekretaris blok setelah semua topik pemicu diskusi
kelompok pada blok terakhir. Disamping tugas individu, mahasiswa diwajibkan membuat laporan
kelompok mengenai hasil diskusi kelompok. Laporan akan dipresentasikan pada sidang pleno
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Sifat mekanis logam yang dikaitkan dengan kurva stress-strain:


→ Stress adalah beban dibagi luas penampang bahan dan strain adalah pertambahan
panjang dibagi panjang awal bahan.
Sifat mekanis logam adalah kemampuan bahan untuk menahan beban yang
diberikan, dimana beban tersebut dapat berupa beban tarik, tekan, lekung, geser, puntir
atau beban kombinasi.

Sifat mekanis logam yang dikaitkan dengan stress-strain, yaitu:


1. Kekerasan (hardness) adalah kemampuan bahan untuk tahan terhadap goresan,
penetrasi, pengikisan (abrasi). Sifat ini berkaitan dengan sifat keausan (wear resistance)
dan kekuatan.
2. Kekuatan (strenght) adalah kemampuan bahan menerima tegangan tanpa patah.
Kekuatan ada beberapa macam, tergantung pada beban yang bekerja antara lain dapat
dilihat dari kekuatan tarik, kekuatan geser, kekuatan tekan, kekuatan puntir, dan kekuatan
bengkok.
3. Kekenyalan (elasticity) adalah kemampuan bahan menerima tegangan tanpa
terjadinya perubahan bentuk yang permanen setelah tegangan dihilangkan. Jika bahan
mengalami tegangan maka terjadi perubahan bentuk. Jika tegangan yang bekerja besarnya
tidak melewati suatu batas tertentu maka perubahan bentuk yang terjadi bersifat sementara,
perubahan bentuk ini akan hilang bersama dengan hilangnya tegangan, akan tetapi jika
tegangan yang bekerja telah melampaui batas tersebut, maka sebagian bentuk itu tetap ada
walaupun tegangan telah dihilangkan. Kekenyalan juga menyatakan seberapa banyak
perubahan bentuk elastis yang dapat terjadi sebelum perubahan bentuk yang permanen
mulai terjadi, dengan kata lain kekenyalan menyatakan kemampuan bahan untuk kembali
ke bentuk dan ukuran semula setelah menerima beban yang menimbulkan deformasi.
4. Kekakuan (stiffness) adalah kemampuan bahan menerima tegangan tanpa
terjadinya perubahan bentuk (deformasi) atau defleksi.
5. Ketangguhan (toughness) adalah kemampuan bahan untuk menyerap sejumlah
energi tanpa mengakibatkan terjadinya kerusakan. Juga sebagai ukuran banyaknya energi
yang diperlukan untuk mematahkan suatu benda kerja. Sifat ini dipengaruhi banyak faktor
sehingga sifat ini sulit untuk diukur.
6. Plastisitas (plasticity) adalah kemampuan bahan untuk mengalami sejumlah
deformasi plastis (yang permanen) tanpa terjadinya kerusakan. Sifat ini diperlukan bagi
bahan yang akan diproses dengan berbagai proses pembentukan seperti, forging, rolling,
extruding dan sebagainya. Sifat ini juga disebut sebagai keuletan (ductility). Bahan yang
mampu mengalami deformasi plastis yang cukup tinggi dikatakan sebagai bahan yang
mempunyai keuletan tinggi, dimana bahan tersebut dikatakan ulet (ductile). Sedang bahan
yang tidak menunjukan terjadinya deformasi plastis dikatakan sebagai bahan yang
mempunyai keuletan yang rendah atau dikatakan getas – rapuh (brittle).
7. Kelelahan (fatique) adalah kecenderungan dari logam untuk patah jika menerima
tegangan yang berulang-ulang (cyclic stress) yang besarnya masih jauh di bawah batas
kekuatan elastisitasnya. Sebagian besar kerusakan yang terjadi pada komponen mesin
disebabkan oleh kelelahan. Karenanya kelelahan merupakan sifat yang sangat penting
tetapi sifat ini juga sulit diukur karena sangat banyak faktor yang mempengaruhinya.
8. Keretakan – merangkak (creep – crack) adalah sifat suatu logam untuk
mengalami deformasi plastik yang besarnya merupakan fungsi waktu, dimana pada saat
bahan tersebut menerima beban yang besarnya relatif tetap.

2.2. Klasifikasi alloy yang digunakan di kedokteran gigi :


→Logam merupakan substansi kimia opak mengkilap yang merupakan penghantar
(konduktor) panas atau listrik yang baik serta bila dipoles, merupakan pemantul atau
reflektor sinar yang baik. Semua logam dan logam campur yang digunakan dalam
kedokteran gigi adalah bahan padat seperti kristal, kecuali gallium dan merkuri yang
berwujud cairan pada temperatur tubuh.
Kebanyakan logam yang digunakan untuk restorasi gigi, gigi tiruan sebagian
rangka logam, dan kawat ortodonti adalah logam campur, dengan perkecualian lempeng
emas murni, titanium murni komersial, dan silver point endodontik.

 Klasifikasi logam berdasarkan fungsi:

1. Tipe I (lunak) untuk restorasi yang hanya terkena sedikit tekanan. Contoh: inlay
kecil
2. Tipe II (sedang) untuk restorasi yang terkena tekanan sedang. Contoh: mahkota
¾, abutment, pontik, dan mahkota penuh.
3. Tipe III (keras) untuk restorasi dengan tekanan besar. Contoh: mahkota ¾ yang
tipis, abutment, pontik, mahkota penuh, basis gigi tiruan, gigi tiruan sebagian
cekat yang pendek.
4. Tipe IV (ekstra keras) untuk keadaan dengan tekanan yang sangat besar. Contoh:
inlay yang terkena tekanan yang sangat besar, termasuk lempeng basis dan
cengkeram gigi tiruan, gigi tiruan sebagian rangka logam, dan gigi tiruan
sebagian cekat yang panjang.
5. Alloy untuk mahkota dan jembatan, cocok digunakan untuk restorasi vinir
dengan dental porselen, coping, gigi tiruan cekat dengan span pendek.
6. Alloy untuk gigi tiruan sebagian lepasan.

 Klasifikasi logam berdasarkan tingkat kekerasan:


1. Tipe I (lunak) angka kekerasan Vickers (VHN) 50-90
2. Tipe II (sedang) angka kekerasan Vickers (VHN) 90-120
3. Tipe III (keras) angka kekerasan Vickers (VHN) 120-150
4. Tipe IV (ekstra keras) angka kekerasan Vickers (VHN) >150

 Klasifikasi alloy berdasarkan ADA :

1. High noble Alloy (HN) atau logam sangat mulia ≥60% wt dan kandungan emas
≥40% Au-Pt alloy: untuk Full Casting, Porcelain Fuse to Metal Au-Cu-Ag alloy:
Full Casting
2. Noble Alloy (N) atau logam mulia dengan komposisi logam mulia ≥25%Ag-Au-
Cu alloy: Full Casting

Spesifikasi terbaru juga mengikut sertakan non-noble alloy sama seperti alloy yang
tidakmengandung emas tapi memiliki kandungan palladium yang tinggi. Berdasarkan
klasifikasi terbaru maka semua tipe alloy pada klasifikasi lama merupakan high noble
alloy.
2.3. Proses solidifikasi logam :
→Solidifikasi atau Pembekuan logam merupakan suatu proses pengecoran yang
mana logam dicairkan, dimasukkan dalam cetakan dan dikeluarkan. Kemudian dibiarkan
membeku menjadi produk akhir atau semi akhir.
Tahap pembekuan logam yaitu pada umumnya pembekuan logam dapat dibagi
menjadi beberapa tahap seperti yang terlihat pada gambar dibawah ini :

Keterangan gambar :
a) Pembekuan inti stabil
b) Pertumbuhan inti menjadi butir
c) Pembentukan struktur sebuah butir

1. Pembentukan Inti Stabil dalam Logam Cair


Terdapat dua mekanisme pengintian dari partikel padat dalam logam cair
a) Pengintian Homogen
Pengintian terjadi ketika atom-atom mulai mengatas dan mengikuti suatu
pola geometris. Kemudian setelah itu terbentuk inti yang stabil dalam logam
yang mulai membeku. Berikut adalah table nilai dari suhu pembekuan/suhu
cair, panas fusi,energi permukaan dan undercooling maksimum untuk beberapa
logam terpilih.
b) Pengintian Heterogen
Proses pengintian yang sama dengan proses pengintian homogen. Hanya
saja pengintian terjadi dalam logam cair yang berada pada permukaan cetakan
atau logam cair yang tidak murni seperti logam paduan. Pengintian heterogen
ini banyak terjadi pada proses pengecoran industri yang mana tidak ada
undercooling yang besar dan biasanya berkisar antara 0.1 hingga 10°C
terhadap titik cair.

2. Pertumbuhan Kristal dalam Logam Cair dan Pembentukan Struktur Butir. Berikut
adalah urutan proses pertumbuhan Kristal dalam logam cair dan pembentukan
struktur butir.
a) Setelah inti yang stabil terbentuk pada logam yang sedang memadat
b) Inti tumbuh menjadi kristal
c) Pada setiap kristal atom berjajar beraturan sedangkan arah barisan berbeda antara satu
kristal dengan yang lainnya.
d) Saat pembekuan total terjadi , antar kristal saling bertemu membentuk batas butir
(grain boundaries) dan butiran (grains)

Macam- macam solidifikasi antara lain :


1. Solidifikasi logam murni
Logam murni membeku pada temperatur konstan yaitu sama dengan temperatur
pembekuannya/temperatur leburnya, seperti dalam gambar dibawah ini.

Urutan prosesnya yaitu :


1. Temperature logam cair murni pada titik leburnya
2. Seiring penuangan logam cair ke cetakan, cairan logam sudah mengalami penurunan
suhu
3. Pendinginan awal dimulai, dimana suhu pendinginan awal dan suhu pendinginan
selesai sama atau disebut “local solidification time”.
4. Setelah pendinginan selesai, mulailah cairan logam mengalami pengerasan struktur,
kemudian proses solidifikasi mendekati suhu kamar.
Beberapa istilah waktu dalam proses solidifikasi logam murni :
a) Waktu solidifikasi lokal adalah waktu pembekuan sebenarnya;
b) Waktu solidifikasi total adalah waktu antara penuangan sampai proses pembekuan
berakhir. Setelah pembekuan berakhir temperatur turun hingga temperatur kamar.

2. Solidifikasi logam paduan (alloy)


Logam paduan umumnya membeku pada daerah temperatur tertentu, seperti seperti
dalam gambar berikut :

Urutan prosesnya yaitu :


1. Logam paduan dicairkan sampai temperatur lebur.
2. Seiring penuangan cairan logam paduan, cairan tersebut sudah mengalami penurunan
temperature.
3. Temperature terus menurun sampai terjadi pendinginan awal cairan logam paduan.
Karena cairan logam paduan mempunyai material logam yang berbeda-beda, contoh
paduan Al-Mg. maka pendinginan awal sampai pendinginan selesai mempunyai
temperature yang berbeda
4. Cairan logam paduan mengalami pengerasan struktur. Dimana temperature terus
menurun samapai mendekati temperature kamar.
Garis awal terjadinya pembekuan disebut garis liquidus, dan garis akhir
pembekuan disebut garis solidus. Suatu paduan dengan komposisi tertentu bila
didinginkan dalam waktu yang sangat lambat, maka pembekuan akan mulai terjadi
pada saat temperatur mencapai garis liquidus, dan pembekuan berakhir bila telah
mencapai garis solidus. Setelah itu pendinginan akan berjalan terus hingga mencapai
temperatur kamar.
2.4. Fungsi dari elemen-elemen yang terdapat pada dental alloy :
→Dental alloy adalah gabungan antara dua logam atau lebih untuk mendapatkan
sifat tertentu.Untuk restorasi gigi, berbagai logam digabungkan untuk
menghasilkan alloys dengan sifat yang memadai untuk aplikasi gigi karena tidak ada
unsur/elemen dengan sendiri memiliki sifat yang cocok. Alloys ini dapat digunakan untuk
restorasi gigi sebagai dental alloy atau mungkin dimanipulasi menjadi kawat
atau ditempah dengan bentuk lainnya.
Elemen-elemennya:

1. Emas (Au)
Emas murni merupakan logam yang halus, lunak dan elastis yang
berwarna kuning yang mengkilap. Meskipun emas murni termasuk logam yang
paling elastis dan lunak dari semua jenis logam, tapi emas relative tidak kuat. Keelastisan
emas bergantung pada kondisi logam, apabila dituangkan, rolled, dan dibuat dalam bentuk
kawat. Sebagian kecil ketidakmurnian emas mempunyai efek jelas pada sifat mekanik emas
dan alloy emas. Kandungan timah yang kurang dari 0,2% menyebabkan emas menjadi
sangat rapuh. Air raksa dalam jumlah sedikit juga mempunyai efek berbahaya. Udara atau
air pada suhu apapun tidak mempengaruhi atau merusak emas. Emas tidak larut dalam sulfat,
nitrat, atau asam klorida. Namun, emas mudah larut dalam kombinasi nitrat dan
asam klorida,Emas juga larut dalam beberapa bahan kimia seperti kalium sianida
dan larutan brom atau klor.

Karena emas hampir sehalus timah, maka emas harus di campur tembaga, perak, platinum,
dan logam lainnya untuk mengembangkan kekerasan, daya tahan, dan elastisitas yang
diperlukan dalam dental alloys, koin, dan perhiasan. Melalui penyulingan dan
pemurnian yang tepat, emas dengan tingkat kemurnian yang sangat tinggi dapat
dihasilkan.Diperlukan kerja keras untuk meningkatkan sifat fisik emas. Tanpa peningkatan
sifat fisik, kekuatan dan kekerasan, emas akan menjadi kurang memadai.

2. Platinum (Pt)

Platinum adalah logam berwarna putih kebiruan yang berat, elastis, lunak, dan dapat
diproduksi sebagai timah atau kawat. Platinum memiliki kekerasan yang sama dengan
tembaga. Platinum murni banyak digunakan dalam kedokteran gigi karena
titik leburnya tinggi, tahan terhadap kondisi mulut dan suhu yang tinggi.

Platinum meningkatkan kekerasan dan keelastisan emas, dan


beberapa dental casting alloy dan kawat yang mengandung sejumlah platinum hingga
8% yang dikombinasikan dengan logam lainnya. Platinum dapat mengurangi warna kuning
keemasan alloys.

3. Palladium (Pd)
Palladium adalah logam berwarna putih agak gelap dari platinum. Massa jenisnya sedikit
lebih banyak dari setengah massa jenis platinum dan emas. Palladium memiliki
kualitas penyerapan (atau occluding) sejumlah besar gas hidrogen bila dipanaskan. Hal ini
bisa menghasilkan kualitas yang tidak diinginkan apabila alloy yang mengandung
palladium dipanaskan dengan obor gas-udara yang disesuaikan tidak benar.

Alloy dapat terbentuk dari campuran emas dan paladium, dan jumlah paladium dengan
kandungan serendah 5% memiliki efek jelas pada pemutihan alloys dari emas
kuning. Alloy dari paladium dan emas dengan kandungan paladium 10% atau lebih
berwarna putih. Alloy dari paladium dan unsur-unsur lain yang disebutkan sebelumnya
tersedia sebagai pengganti untuk alloy kuning-emas, dan sifat mekanik dari alloy paladium
mungkin sebaik atau lebih baik dari kebanyak alloy dari emas tradisional. Meskipun banyak
dari alloy paladium berwarna putih, beberapa seperti alloy dari paladium-iridium-
perak, berwarna kuning

4. Iridium (Ir), Ruthenium (Ru) dan Rhodium (Rh)

Iridium dan ruthenium digunakan dalam jumlah kecil dalam dental alloys sebagai grain
refiner untuk menjaga ukuran grain (butiran) tetap kecil. Sebuah ukuran butiran kecil
dibutuhkan karena meningkatkan sifat mekanik dan keseragaman sifat dalam alloy.
Sesedikit 0,005% (50 ppm) dari iridium, efektif dalam mengurangi ukuran butir. Ruthenium
memiliki efek yang sama. Sifat grain refiner elemen ini sebagian besar disebabkan oleh titik
lebur yang sangat tinggi. Iridium melebur pada 2410° C dan ruthenium pada 2310° C.
Dengan demikian unsur-unsur ini tidak mencair selama casting alloys dan sebagai pusat
sebagai nukleasi untuk mencair hinga mendingin, hasil dari fine-grained alloy. Rhodium
juga memiliki titik lebur tinggi (1966 ° C) dan telah digunakan dalam alloy dengan platinum
untuk membentuk kawat untuk termokopel. Termokopel ini membantu mengukur suhu di
tungku porselin digunakan untuk membuat restorasi gigi.

2.5. Jenis alloy yang dapat digunakan dalam pembuatan gigi tiruan kerangka
logam pada kasus tersebut :
→ Gigi tiruan kerangka dibuat dari bahan kobalt kronium, karena menghasilkan
suatu logam campur yang keras dan tahan terhadap korosi. Kronium adalah logam yang
keras, dapat dipoles, mempunyai daya afinitas/daya gabung yang tinggi terhadap oksigen
dengan membentuk lapisan oksida tipis sebagai lapisan pelindung yang menghalangi
oksidasi/difusi oksigen ke lapisan yang letaknya lebih di bawah lapisan pelindung,
sehingga logam menjadi kurang aktif dan tahan terhadap korosi.
2.6. Sifat fisis dari logam-logam yang terdapat pada alloy yang digunakan pada
kasus tersebut :
→Sifat fisik logam diantaranya titik leleh dan titik didih tinggi, dayantar listrik dan
panas yang baik, dapat ditempa, dibengkokan, dan ditarik, serta mengkilap.

Sifat fisik logam yang pertama yaitu logam-logam cenderung memiliki titik leleh
dan titik didih yang tinggi karena atom-atom logam terikat oleh ikatan logam yang kuat.
Untuk mengatasi ikatan tersebut, diperlukan energi dalam jumlah yang besar.

Kekuatan ikatan berbeda antara logam yang satu dengan logam yang lain
tergantung pada jumlah elektron yang terdelokalisasi pada lautan elektron, dan pada
susunan atom-atomnya. Logam-logam golongan 1 seperti natrium dan kalium memiliki
titik leleh dan titik didih yang relatif rendah karena tiap atomnya hanya memiliki satu
elektron untuk dikontribusikan pada ikatan, tetapi ada hal lain yang menyebabkan hal ini
terjadi yaitu unsur-unsur golongan 1 tersusun dengan tidak efektif (terkoordinasi 8), karena
itu tidak terbentuk ikatan yang banyak seperti kebanyakan logam. Unsur-unsur golongan
1 memiliki ukuran atom yang relatif besar (berarti bahwa inti jauh dari elektron yang
terdelokalisasi) yang juga menyebabkan lemahnya ikatan.

Daya hantar listrik

Sifat fisik logam yang kedua yaitu memiliki daya hantar listrik yang baik, yang
disebabkan oleh adanya elektron valensi yang bergerak bebas dalam kristal logam. Jika
listrik dialirkan melalui logam, elektron-elektron valensi logam akan membawa muatan
listrik ke seluruh logam dan bergerak menuju potensial yang lebih rendah sehingga terjadi
aliran listrik dalam logam.

Daya hantar panas

Sifat fisik logam yang ketiga yaitu memiliki daya hantar panas yang baik. Daya
hantar panas disebabkan adanya elektron valensi yang dapat bergerak bebas. Bila bagian
tertentu dari logam dipanaskan, maka elektron-elektron pada bagian logam tersebut
menerima sejumlah energi sehingga energi kinetisnya bertambah dan gerakannya makin
cepat. Elektron-elektron yang bergerak dengan cepat tersebut menyerahkan sebagian
energi kinetisnya kepada elektron lain sehingga seluruh bagian logam menjadi panas dan
naik suhunya.

Dapat ditempa, dibengkokkan dan ditarik.

Oleh karena elektron valensi logam mudah bergerak dalam Kristal logam, maka
elektron-elektron tersebut mengelilingi ion logam yang bermuatan positif secara simetris,
karena gaya tarik antar ion logam dan elektron-elektron valensi sama ke segala arah. Ikatan
dalam kisi kristal logam tidak kaku seperti kristal senyawa kovalen, sebab dalam kisi kristal
logam tidak terdapat ikatan terlokalisasi. Karena daya tarik setiap ion logam bermuatan
positif terhadap elektron valensi sama besarnya, maka suatu lapisan ion logam bermuatan
positif dalam kisi kristal mudah bergeser. Jika ikatan logam putus, maka akan segera
terbentuk ikatan logam yang baru. Oleh karena itu, sifat fisik logam dapat ditempa
menjadi lempeng yang sangat tipis, dapat ditarik menjadi kawat yang halus atau
dibengkokkan.

Sifat Mengkilap

Bila cahaya tampak jatuh pada permukaan logam, sebagian elektron valensi yang
mudah bergerak tersebut tereksitasi (elektron berpindah dari tingkat energi yang lebih
rendah ke tingkat energi yang lebih tinggi). Ketika elektron tereksitasi tersebut kembali
pada keadaan dasarnya, maka energi cahaya dengan panjang gelombang tertentu (di daerah
cahaya tampak) akan dipancarkan kembali. Peristiwa ini dapat menimbulkan sifat fisik
logam yang khas yaitu mengkilap.

2.7. Klasifikasi resin akrilik :


→ Resin akrilik adalah rantai polimer yang terdiri dari unit-unit metil metakrilat
yang berulang. Resin akrilik digunakan untuk membuat basis gigi tiruan dalam proses
rehabilitatif, untuk pelat ortodonsi, maupun restorasi crown and bridge.
1. Klasifikasi menurut American Dental Asociation (ADA), resin akrilik dibedakan
menjadi dua, yaitu :
a) Resin Akrilik Polimerisasi Panas (Heat-Cured Polymerization).
Merupakan resin akrilik yang polimerisasinya dengan bantuan pemanasan. Energi
termal yang diperlukan dalam polimerisasi dapat diperoleh dengan menggunakan
perendaman air atau microwave. Penggunaan energy termal menyebabkan dekomposisi
peroksida dan terbentuknya radikal bebas. Radikal bebas yang terbentuk akan mengawali
proses polimerisasi.
b) Resin Akrilik Swapolimerisasi ( Self-Cured Autopolymerizing/Resin Cold
Curing).
Merupakan resin akrilik yang teraktivasi secara kimia. Resin yang teraktivasi
secara kimia tidak memerlukan penggunaan energy termal dan dapat dilakukan pada suhu
kamar. Aktivasi kimia dapat dicapai melalui penembahan amintersier terhadapa
monomer. Bila komponen powder dan liquid diaduk, amintersier akan menyebabkan
terpisahnya benzoil peroksida sehingga dihasilkan radikal bebas dan polimerisasi
dimulai.
2. Klasifikasi resin akrilik berdasarkan polimerisasinya (Anusavice, 2004):
A. Resin akrilik teraktivasi dengan panas
Resin akrilik heat curing terdiri dari serbuk (polimer) dan cairan (monomer).
Polimer terdiri dari butir-butir polimetil metakrilat pra-polimerisasi dan sejumlah kecil
benzoil peroksida. Monomer didominasi oleh metil metakrilat tidak terpolimerisasi
dengan sejumlah kecil hidroquinon. Selama pembuatan basis gigi tiruan, panas
diaplikasikan pada resin dengan merendam kuvet protesa dan alat pembawa kuvet dalam
bak air. Kemudian air dipanaskan sampai temperatur yang dianjurkan dan dipertahankan
pada temperatur tersebut untuk suatu periode waktu yang dianjurkan oleh pabrik
pembuat. Panas diperlukan untuk menyebabkan pemisahan molekul benzoil peroksida.
Oleh karena itu, panas dinamakan sebagai aktivator. Pemisahan molekul benzoil
peroksida memberikan radikal-radikal bebas yang bertanggung jawab terhadap
dimulainya pertumbuhan rantai. Jadi, benzoil peroksida dinamakan inisiator.

B. Resin akrilik teraktivasi secara kimia


Resin akrilik self curing tidak memerlukan energi termal karena dapat dilakukan
pada temperatur ruang. Resin yang teraktivasi secara kimia sering disebut sebagai resin
cold-curing, self-curing atau otopolimerisasi. Resin aktivasi kimia dicapai melalui
penambahan amin tersier seperti dimetil-para-toluidin terhadap monomer. Polimerisasi
berlangsung dengan cara yang serupa dengan sistem heat curing. Waktu kerja untuk resin
yang diaktivasi secara kimia lebih pendek dibandingkan bahan yang diaktivasi panas.
Keakuratan dimensi lebih baik dibandingkan dengan heat curing. Kestabilan warna dari
resin yang teraktivasi secara kimia umumnya lebih rendah dibandingkan dengan
kestabilan warna resin yang diaktivasi dengan panas.

C. Resin akrilik teraktivasi dengan sinar


Teknik ini menggunakan resin dengan rumus khusus serta kuvet yang tidak
mengandung logam. Bahan terdiri dari suatu komposit yang memiliki matriks uretan
dimetakrilat, silika ukuran mikro, dan monomer resin akrilik dengan berat molekul tinggi.
Sinar yang terlihat dengan mata dinamakan aktivator, sementara camphoroquinone
bertindak sebagai pemulai polimerisasi. Resin polimetil metakrilat dipolimerisasi dengan
energi gelombang mikro. Keuntungan utama dari teknik ini adalah kecepatan
polimerisasi yang dicapai.
2.8. Jenis dan tahap polimerisasi resin akrilik yang digunakan pada kasus
tersebut :
→ Jenis resin akrilik yang digunakan pada kasus tersebut adalah heat curing resin
akrilik. Proses polimerisasi dapat dicapai dengan menggunakan panas/tekanan.
Perbandingan monomer dan polymer akan menentukan sturktur resin.
Perbandingan monomer dan polymer, biasanya 3 sampai 3,5/1 satuan volume atau 2,5/1
satuan berat. Bila ratio terlalu tinggi, tidak semua polymer sanggup dibasahi oleh
monomer akibatnya acrylic yang digodok akan bergranula. Selain itu juga tidak boleh
terlalu rendah karena sewaktu polmerisasi monomer murni terjadi pngerutan sekitar 21%
satuan volume. Pada adonan acrylic yang berasal dari perbandingan monomer dan
polymer yang benar, kontraksi sekitar 7%. Bila terlalu banyak monomer, maka kontraksi
yang terjadi akan lebih besar.
Pencampuran polymer dan monomer harus dilakukan dalam tempat yang terbuat dari
keramik atau gelas yang tidak tembus cahaya (mixing jar). Hal ini dimaksudkan supaya
tidak terjadi polymerisasi awal. Bila polymer dan monomer dicampuur, akan terjadi
reaksi dengan tahap-tahap sebagai berikut:
Tahap 1 : Adonan seperti pasir basah (sandy stage).
Tahap 2 : Adonan seperti Lumpur basah (mushy stage).
Tahap 3 : Adonan apabila disentuh dengan jari atau alat bersifat lekat, apabila ditarik
akan membentuk serat (stringy stage). Butir-butir polimer mulai larut, monomer bebas
meresap ke dalam polimer.
Tahap 4 : Adonan bersifat plastis (dough stage). Pada tahap ini sifat lekat hilang dan
adonan mudah dibentuk sesuai dengan yang kita inginkan.
Tahap 5 : Kenyal seperti karet (rubbery stage). Pada tahap ini lebih banyak monomer
yang menguap, terutama pada permukaannya sehingga terjadi permukaan yang kasar.
Tahap 6 : Kaku dan keras (rigid stage). Pada tahap ini adonan telah menjadi keras dan
getas pada permukaannya, sedang keadaan bagian dalam adukan masih kenyal.
Waktu dough (waktu sampai tercapainya konsistensi liat) tergantung pada:
1. Ukuran partikel polymer; partikel yang lebih kecil akan lebih cepat dan lebih cepat
mencapai dough.
2. Berat molekul polymer; lebih kecil berat molekul lebih cepat terbentuk konsistensi liat.
3. Adanya Plasticizer yang bisa mempercepat terjadinya dough.
4. Suhu; pembentukan dough dapat diperlambat dengan menyimpan adonan dalam
tempat yang dingin.
5. Perbandingan monomer dan polymer; bila ratio tinggi maka waktu dough lebih
singkat.
Pada proses polimerisasi polimetri metakrilat terjadi reaksi kimia berupa adisi.
Reaksi yang terjadi sewaktu polimerisasi metakrilat berlangsung dengan tahap :
a) Inisiasi
Masa permulaan berubahnya molekul dari inisiator menjadi
bertenaga/bergerak mulai memindahkan energi pada molekul monomer. Suhu
mempengaruhi masa inisiasi.
b) Propagasi
Tahap pembentukan rantai yang terjadi karena monomer yang diaktifkan.
c) Terminasi
Adanya reduksi radikal bebas 2 rantai yang sedang tumbuh sehingga
terbentuk molekul stabil.
BAB III

PENUTUP

Seseorang biasanya memasang gigi palsu karena kehilangan gigi tetapnya. Gigi tetap bisa
hilang atau lepas dari gusi akibat berbagai hal, terutama karena penyakit gigi dan gusi. Gusi dapat
terkena penyakit akibat bakteri yang terkumpul di permukaan gigi dan menyebabkan plak. Bakteri
yang terdapat pada plak gigi dapat melemahkan ikatan gigi dengan gusi, sehingga gigi akan mudah
lepas dari gusi. Gusi juga dapat melemah akibat pembusukan gigi berlubang. Gigi yang berlubang
biasanya akan ditambal menggunakan tambalan khusus. Akan tetapi seiring bertambahnya usia,
tambalan ini akan melemah dan terlepas, sehingga dapat memicu pembusukan gigi. Berbagai
kondisi tersebut menyebabkan gigi lebih mudah lepas dari gusi, terutama pada lansia. Hal ini yang
mengakibatkan pengguna gigi palsu umumnya adalah para lansia.

Umumnya jika dirawat dengan baik, gigi palsu cukup aman untuk dipakai. Akan tetapi jika
tidak dirawat dengan baik, gigi palsu justru dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Selain itu,
perlu diingat juga bahwa pemakai gigi palsu umumnya adalah lansia yang kondisi kesehatannya
juga sudah menurun.
Copot gigi palsu saat tidur karena memakai gigi palsu pada saat tidur dapat meningkatkan risiko
munculnya berbagai penyakit, seperti:

 Plak pada lidah dan gigi palsu


 Radang gusi
 Infeksi jamur Candida albicans
 Pneumonia

Gigi palsu, baik yang sebagian maupun yang lengkap, tetap memerlukan perawatan secara
rutin. Jika tidak dirawat, gigi palsu justru dapat mengganggu kesehatan mulut pasien dan
menimbulkan dampak negatif, seperti plak dan meningkatnya pertumbuhan bakteri di dalam
mulut. Untuk merawat gigi palsu sebagian, hendaknya pasien menyikat gigi dan gigi palsu secara
bersamaan dengan sikat gigi berbulu lembut. Pada saat pasien tidak menggunakan gigi palsu,
lakukan pemijatan pada gusi atau sikat gusi dengan menggunakan sikat gigi khusus yang berbulu
lembut.
DAFTAR PUSTAKA

1. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22643/5/Chapter%20II.pdf
2. K. Anusavice. Philip’s Science and Dental Materials. 11th Ed. Elsevier Science.
2003
3. McCabe JF and Walls AWG. Applied Dental Materials. 9th Ed. Blackwell.
Munksgaard. 2008
4. Annusavice, Kenneth J. 2003. Phillips: Buku Ajar Ilmu Bahan Kedokteran Gigi.
Jakarta: EGC.
5. Combe, EC. 1992. Sari Dental Material. Penerjemah : Slamat Tarigan. Jakarta :
Balai Pustaka
6. O’Brien dan Gunnar Ryge.1985. An Outline of Dental Materials and Their
Selection. 9th edition. Philadelphia USA : W.B Saunders Company.
7. Tjahyanti M, dkk. Pengaruh Etsa Kimia dengan Akrilik terhadap Kekuatan
Tarik-Penekanan Bahan Resi Akrilik Pada Gigi Tiruan Kerangka Logam. MKK
Suri: 2012, hal: 13-16
8. Buku Ilmu Material & Teknologi Kedokteran Gigi. USU Press: 2019, Hal:216-
217
9. Majalah Kedokteran Gigi. Juni:2012. 19(1). Hal: 12-16