Anda di halaman 1dari 11

REKAYASA GENETIKA

RESUME

Disusun untuk Memenuhi Tugas Resume Genetika II


Yang dibimbing oleh Prof. Dr.agr. Mohammad Amin, S. Pd, M. Si dan
Deny Setiawan, S.Si.M. Si.

Disusun Oleh:
Kelompok 10/ Offering Kesehatan/ 2017
Nur Alfi Maghfirotus S. 170342615579
Vina Rizkiana 170342615504

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
November 2019
REKAYASA GENETIK

Rekayasa genetika adalah manipulasi atas materi genetik dengan cara menambah atau
menghilangkan gen tertentu. Pada teknologi ini dimanfaatkan vektor ataupun sarana lain untuk
memindahkan materi genetik, antara lain: injeksi mikro, fusi protoplas, elektroporasi dan proyektil
mikro. Berikut adalah pengertian rekayasa genetika (genetic engineering) dari 3 sumber:

 Rekayasa genetika adalah manipulasi sifat genetik suatu organisme dengan cara
mengintroduksi atau mengeliminasi gen-gen tertentu (Miclos, dkk, 1990).
 Rekayasa genetika adalah manipulasi genetik dalam sel untuk menghasilkan suatu sifat yang
dikehendaki yang biasanya disebut teknologi rekombinan DNA (Rasmussen, dkk, 1990).
 Rekayasa genetika adalah teknik mengubah konstitusi genetik sel atau individu dengan cara
pemindahan selektif, insersi atau dengan modifikasi gen balik yang individual maupun yang
berupa perangkat gen (Klug, dkk, 1994).

Berbagai fenomena genetik alami jika dicermati dapat menjadi model alami dari teknik
rekayasa genetika contohnya crossing over, gene pick up, transduksi, dan lain sebagainya. Pada
beberapa fenomena ini terjadi pemutusan, penyambungan, serta perpindahan bagian materi genetik
yang dapat mengakibatkan penambahan atau perpindahan suatu gen atau beberapa gen.

PROSES REKAYASA GENETIKA

Teknik-teknik Rekayasa Genetika

Menurut Smith dan Byars (1990) terdapat berbagai teknik yang digunakan dalam teknik
rekayasa genetika meliputi teknik vektor, injeksi mikro, fusi protoplas, dan elektroporasi. Selain
itu klug menambahkan juga teknik kopresipitassi kalsium pospat dan endositosis dan dikenal pula
teknik proyektil mikro.

Transfer Vektor

Transfer vektor merupakan cara memasukan suatu gen ke sel baru dengan menggunakan
pembawa (carrier) khusus yang memanfaatkan proses alami seperti pada transfer DNA oleh
bakteri dan virus. Vektor yang digunakan adalah plasmid, bakteriofage dan cosmid (russel, 1992).
Secara kimiawi vektor-vektor tersebut adalah molekul DNA. Sebagai vektor suatu molekul DNA
harus memiliki sifat-sifat yang harus dimiliki DNA seperti di bawah ini (Klug, dkk., 1994).
 Molekul DNA mampu melekukan replikasi sendiri maupun replikasi segmen DNA yang
diinsersikan bebas dari replikasi kromosom sel inang dengan cara membuahi suatu “ori”.
 Molekul DNA harus mengandung sejumlah tapak pemutusan enzim retrisi khusus yang
bermanfaat untuk insersi segmen-segmen DNA.
 Molekul DNA harus membuawahi suatu penenda yang dapat dimanfaatkan.
 Molekul DNA harus mudah terbebas kembali dari sel inang.

Selain sifat-sifat itu ada pula sifat lain yang diharapkan (Old dan Primrose, 1989).

 Berat molekul rendah


 Adanya kemampuan untuk memberikan sifat fenotip yang dipilih dengan segera pada sel
inang.

1. Plasmid
Contoh plasmid misalnya pSC101 (58 M dal), ColEl (4,2 M dal) dan RSF2124 (7,4 M dal)
Plasmid terbentuk secara alami invitro. Plasmid terdapat pada E. coli (plasmid RSF 2124
merupakan derifat dari plasmid ColE1). Plasmid-plasmid itu terdapat pada E.coli (plasmid
RSF2124 merupakan derivat dari plasmid CoE1). Contoh lainnya adalah pBR322 (gambar 1)
dan derivatnya yaitu pUC19 (gambar 2).

Gambar 1. Plasmid pBR322

2. Bakteriofag
Bakteriofag yang banyak digunakan dalam teknologi DNA rekombinan pada E. coli adalah
fag ƛ. Seluruh gen fag ƛ sudah diidentifikasi dan dipetakan uruturutan genom secara
keseluruhan sudah diketahui. Seluruh derivat fag ƛ yang digunakan sebagai vektor transfer
sudah direkayasa sehingga hanya siklus titik saja. Derivat-derivat fag ƛ lebih dari 100 derivat
yang dimanfaatkan sebagai vektor dibuat dengan cara membuang berbagai bagian kelompok
gen di daerah tengah. Selain bakteriofag yang digunakan sebagai vektor, salah satunya adalah
M 13.
Materi genetik pada M 13 berupa DNA unit tunggal. Jika M 13 menginfeksi suatu sel
bakteri, DNA unting tunggal bereplikasi menghasilkan suatu model DNA unting ganda yang
disebut RF (Replikasi Form). Molekul RF setara dengan plasmid dan DNA asing dapat
diinsersikan ke tapak-tapak pemutusan enzim retriksi tunggal yang ada pada genom. Susunan
dari molekul RF terdiri dari suatu unting tunggal (+) yang mengandung satu unting segmen
DNA yang diinsersikan. Klon DNA unting tunggal yang di hasilkan oleh M 13 dapat
digunakan untuk pengurutan DNA atau sebagai templet untuk perubahan urut-urutan klon
akibat mutasi.

Gambar 2. Plasmid pUC18/19

3. Kosmid (cosmid)
Kosmid adalah vektor yang dibangun di laboratorium memanfaatkan urut-urutan cos dan
fag ƛ yang berguna untuk pemasukan/pegumpulan kromosom ke dalam kepala fag dan
memanfaatkan pula urut-urutan (bagian tengah kosmid) untuk fungsi resistensi terhadap
antibiotik serta replikasi. Kosmid dirakit dan plasmid dan fag ƛ, contoh plasmid yang
digunakan Pbr322.
4. Vektor ulang-alik (Shuttle vectors)
Selain vektor-vektor transfer seperti plasmid, bakterio fag ƛ, dan kosmid yang digunakan
untuk pengklonan DNA, vektor lain yang dimanfaatkkan untuk memanfaatkan untuk
memasukkan molekul-molekul DNA rekombinan ke dalam sel prokariotik maupun eukariotik.
Vektor-vektor semacam itu disebut vektor ulang alik atau shuttlr vektor. Vektor ulang alik atau
shuttlr vektor adalah vektor pengklon yang dapat bereplikasi di dalam dua atau lebih mahkluk
hidup inang.

Injeksi Mikro, Fusi Protoplas, Elektroporasi, Kopresipitasi Kalsium Fosfat dan Endositosis,
Serta Proyeksi Mikro

Pada injeksi mikro menggunakan jarum mikroskopis, untuk memasukkan DNA melalui
membran sel sasaran, termasuk ke dalam inti sel. Pada fusi protoplas terjadi pelarutan dua
membran sel dari sel-sel yang berbeda sehingga dua sel dapat di gabung menjadi satu, misalnya
fusi antara sel sel-sel yang di kultur dengan protoplas bakteri yang mengandung DNA eksogen.
Fusi protoplas, suatu sistem transformasi yang memanfaatkan liposom yang tersusun dari suatu
lipida kationik. Pemanfaatan liposom sebagai suatu sistem transformasi atau transfeksi yang
disebut sebagai lipofeksi (lipofection).

Gambar 4. Vektor ulang alik yEp 24 pada khamir dan E. coli.

Pada teknik eletroporasi menggunakan listrik untuk menciptakan lubang kecil di membran
sel yang akan dimanfaatkan untuk pemindahan DNA ke dalam sel. Berkenaan dengan
elektroporasi informasi dari Old dan Primrose (1989) menyebutkan bahwa pada pendedahan
singkat kejutan listrik berkekuatan antara 4000-8000 V, sel-sel memperoleh DNA eksogen dan
larutan sekitar (tampaknya melalui lubanglubang yang terbentuk sesaat pada membran plasma)
dengan kejutan listrik akan meningkatkan frekuensi efisien transformasi (Potter dkk., 1984 dalam
Old dan Primrose, 1989).

Pada teknik kopresipitasi, teknik ini merupakan cara umum memasukkan suatu DNA ke
dalam sel-sel mamalia. Pada teknik proyeksi mikro, DNA ataupun RNA ditembakkan ke dalam
sel (Klein dkk., 1987 dalam Old dan Primrose 1989), teknik ini merupakan suatu cara yang sama
sekali baru untuk memasukkan asam nuklet ke dalam sel tumbuhan memanfaatkan kecepatan
tinggi. Pada teknik proyeksi mikro membutuhkan kultur sel ataupun perlakuan jaringan resipien.

Prosedur Dasar Teknologi DNA Rekombinan

Urutan proses yang menjadi prosedur dasar pada teknik DNA rekombinan yang diperantai vektor
akan dikemukakan lebih lanjut (Klug dkk., 1994).

1. Pembuatan fragmen DNA dengan bantuan enzim nuklease retriksi yang mengenal dan
memotong molekul DNA pada urut-urutan nukleotida yang spesifik
2. Segmen-segmen digabung ke molekul DNA lain dengan bantuan vektor. Vektor dapat
bereplikasi secara otonom sehingga memfasilitasi manipulasi dan identifikasi molekul DNA
yang baru terbentuk.
3. Vektor yang sudah terinsersi segmen DNA ditransfer ke suatu sel inang. Molekul DNA
rekombinan direplikasi menghasilkan berlusin-lusin yang disebut klon-klon.
4. Segmen-segmen DNA yang diklon dapat diambil dari sel inang.
5. Sel-sel inang yang mengandung DNA rekombinan mewariskan kepada seluruh sel turunan,
menghasilkan suatu populasi sel-sel identik yang semua membawahi urut-urutan yang di-klon.
6. Secara potensial, DNA diklon dapat ditranskripsikan, RNA-d ditranslasikan serta produk-
produk gen diisolasi dan di kaji.

Peran Enzim Endonuklease Retriksi

Molekul DNA rekombinan tidak dapat dibentuk tanpa abntuan enzim endunuklease
restiksi. Penanaman endunuklease restiksi di beri nama berdasarkan macam makhluk hidup tempat
enzim tersebut diisolasi secara konvensional digunakan sistem tiga huruf dalam posisi huruf
miring yang diikuti dengan suatu angka romawi. Enzim endonuklease retriksi terbagi menjadi dua
kelompok atau tipe (Russel, 1992). Tipe I akan mengenali suatu urutan pasangan nukelotida yang
spesifik pada DNA dan selanjutnya memotong DNA pada suatu tapak tidak spesifik jauh dari
urutan. Enzim endonuklease restiksi tipe I tidak terlalu bermanfaat untuk pembentukan molekul
DNA rekombinan. Enzim endonuklease restiksi tipe II suatu urutan pasangan nukleotida spesifik
pada DNA namun tipe ini memotong DNA di dalam urutan (Russel,1992). Enzim endonuklease
restriksi bermanfaat untuk pembentukan molekul DNA rekombinan. Untuk pengenalan ezim
endonuklease restriksi tipe II memeliki suatu sumbu simetri yang melewati titik tengah urutan
pengenalan (Russel, 1992). Dalam urutan basa 5’3’ pada unting DNA sama dengan urutan basa
5’3’ pada komplementernya.

Enzim endonuklease restriksi sudah diisolasi dari sejumlah besar strain bakteri yang
berbeda (Russel, 1992). Oleh karena itu setiap enzim memotong DNA pada suatu pasangan
nukleotida yang spesifik untuk enzim yang bersangkutan, jumlah potongan yang dibuat enzim
pada suatu molekul DNA tertentu tergantung pada jumlah berapa kali urutan pengenalan
ditemukan pada DNA. Enzim endonuklease restriksi tipe II menghasilkan ujung-ujung lancip yang
memiliki nilai khusus pada pengklonal fragmenfragmen DNA jika kedua ujung tajam hasil
pemotongan bertemu dalam larutan, maka akan berbentuk pasangan basa yang sempurna.

Seleksi Klon Rekombinasi

Southern mengembangkan suatu metode untuk mendeteksi fragmen-fragmen di dalam sel agarose
yang komplementer dengan urutan rna dan dna tertentu. Metode ini dikenal sebagai southern

blotting yang kemudian dikembangkan untuk menganalisis rna dan protein yang dikenal dengan
nothern and western blotting. Pada teknik blotting ini intinya adalah mentransfer makro molekul
dari gel, berarti mereka dipisahkan secara elektroforesis ke perekaman suatu membran.
MANFAAT DAN RESIKO REKAYASA GENETIKA

Manfaat Rekayasa Genetika

Manfaat analisis reayasa genetika dapat dilihat dalam kiatannya dengan analisis genetik,
diagnosis molekuler atas penyakit manusia, terapi gen, sidik jari dna, serta bioteknologi (klug dkk
1994). Uraian tersebut antara lain:

Analisis Genetik

Teknik-teknik itu memungkinkan penggandaan suatu kumpulan klon yang meliputi


keseluruhan klon demikian pula memungkinkan pemetaan genetik maupun fisik yang lengkap,
serta memungkinkan penetapan urutan nukleotida dari keseleuruhan kromosom. Dari analisis
tersebut salah satunya telah ditemukan ukuran genome beberapa makhluk hidup. Proyek genome
manusia mulai dirintis sejak tahun 1986 dan sejak 1988 dilaksanakan suatu rencana royek genome
manusia berjangak 5 tahun. Analisis genetik manusia ini sudah memungkinkan untuk membuat
peta kelamin genetik manusia natara lain dengan bantuan penanda rflp (retriction fragment lenght
polymerphism).

Diagnosis Molekuler atas Penyakit Manusia

Pemanfaatan urutan dna yang di klon memungkinkan pengamatan langsung terhadap


genotip dari pada pengamatan atas suatu produk gen yang belum dikenal atau tidak terekspresi.
Sebagai contoh deteksi molekuler dapat diinduksikan atas thelessemia dan sickle cell anemia.

Terapi Gen

Pada mulanya kemampuan mengklon dan mengisolasi gen-gen spesifik manusia yang
dikembangkan sebagai suatu kegiatan penelitian, sekarang sedang b digunakan dalam bidang
kedokteran secara operasional untuk mengani kelainan-kelainan menurun dan cara yang ditempuh
adalah mengganti gen cacat dengan salinan gen normal (klug dkk, 1994). Yang mana prosesnya
dikenal sebagai terapi gen. Sudah banyak metode yang diterapkan dalam memasukkan gen ke
dalam sel manusia termasuk pemanfaatan vektor virus maupun fusi sel dengan vesikula buatan
yang mengandung urutan dna yang diklon, transfer kimiawi yang mendorong pengangkutan gen
melewati membran sel jika sudah dilakukan. Panduan terapi yang sudah ditemukan seduah
ditemukan berdasarkan prasyarat berikut (klug, dkk 1994):
a. Gen harus diisolasi dan ditransfer
b. Cara transfer gen yang efektif harus ada
c. Jaringan target harus dapat tercapai sebagai contoh, percobaan terapi gen yang pertama
menggunakan sel-sel darah putih ataupun prekusornya sebgai jaringan target.
d. Terapi gen tidak boleh menyakiti pasien dan sudah tidak ada cara terapi lain yang efektif.

Sidik Jari DNA

RFLP sudah digunakan untuk membedakan salinan gen yang normal dari yang mutan dan
dapat digunakan sebagai penanda genetik, karena polimorfisme tersebut diwariskan dalam pola
kodominan (klug dkk, 1994). Fenotip dari penanda-pennda ini berupa susunan atau deretan
fragmen DNA berbagai ukuran yang ada pada southern blott, sesudah DNA dipotong dengan suatu
enzim endonuklease restriksi. Suatu tipe rflp kedua muncul dari variasi jumlah urutan berulang
tandem. DNA yang ada diantara dua tapak enzim edonuklease restriksi. Urutan tersebut berasal
dari dua hingga dua puluh nukleotida. Pola pita yang dihasilkan ketika urutan vnrt dipotong
dengan menggunakan enzim endonuklease restriksi dan divisualisasikan dengan southern blotting
itulah yang dikenal sebgai sidik jari dna. Rflp tersebut ekuivalen dengan sidik jari konvensional
karena pola pita yang dihasilkan berbeda beda dari orang per orang.

Bioteknologi

Saat ini rekayasa genetika dalam pertanian menjanjikan tetapi ada keterbatasan dalam
teknologi. Menurut micklos dan freyer (1990) kesulitan analitis genetis tanaman disebabkan oleh:

1. Pertumbuhan tanaman yang lambat dan umur pergantian generasi yang lama.
2. Besarnya genome tanaman, termasuk banyaknya kromosom poliploid.
3. Dimilikinya “kotak kayu” yaitu dinding sel berupa selulose yang mengelilingi tanaman.

Dalam rekayasa genetika sifat yang dikendalikan oleh banyak gen sangat sulit untuk di
rekayasa dan dikendalikan. Misalnya, tumbuhan memerlukan nitrogen untuk membuat protein
tetapi tidak dapat langsung memanfaatkannya secara langsung dari udara bebas. Perakaran kacang
tanah, kedelai, dan semanggi mengandung bakteri bintil akar yang dapat mengubah nitrogen
diudara bebas menjadi bentuk yang dapat dimanfaakan, tatapi perakaran tanaman lain seperti
jagung dan padi harus memperoleh nitrogen dari pupuk atau dari produk samping organisme lain
yang meninggalkan nitrogen yang tersedia dari dalam tanah. Apabila dapat di ciptakan jagung
yang dapat membuat nitrogen tentulah dapat mengurangi biaya pemupukan, termasu mengurangi
pencemaran sistem perairan karena masukknya sisa-sisa pemupukan nitrat dan fosfat dari tanah
pertanian.
Vina Rizkiana

1. Apakah perbedaan antara enzim endonukelase retriksi I dan II?


Jawaban: Tipe I akan mengenali suatu urutan pasangan nukelotida yang spesifik pada DNA
dan selanjutnya memotong DNA pada suatu tapak tidak spesifik jauh dari urutan. Enzim
endonuklease restiksi tipe I tidak terlalu bermanfaat untuk pembentukan molekul DNA
rekombinan. Enzim endonuklease restiksi tipe II suatu urutan pasangan nukleotida spesifik
pada DNA namun tipe ini memotong DNA di dalam urutan. Enzim endonuklease restriksi
bermanfaat untuk pembentukan molekul DNA rekombinan.
2. Apa yang menyebabkan kesulitan bioteknologi pada tanaman?

Jawab: kesulitan analitis genetis tanaman disebabkan oleh Pertumbuhan tanaman yang
lambat dan umur pergantian generasi yang lama, Besarnya genome tanaman, termasuk
banyaknya kromosom poliploid, dan Dimilikinya “kotak kayu” yaitu dinding sel berupa
selulose yang mengelilingi tanaman.

Nur Alfi M. S.

1. Bagaimana proses seleksi klon dengan metode southern blotting?


Jawab: Pada teknik blotting ini intinya adalah mentransfer makro molekul dari gel, berarti
mereka dipisahkan secara elektroforesis ke perekaman suatu membran.
2. Sifat-sifat apa saja yang harus dimiliki sebuah vector untuk membawa DNA?
Jawab: Molekul DNA mampu melekukan replikasi sendiri maupun replikasi segmen DNA
yang diinsersikan bebas dari replikasi kromosom sel inang dengan cara membuahi suatu
“ori”, Molekul DNA harus mengandung sejumlah tapak pemutusan enzim retrisi khusus
yang bermanfaat untuk insersi segmen-segmen DNA, Molekul DNA harus membawahi
suatu penanda yang dapat dimanfaatkan, Molekul DNA harus mudah terbebas kembali dari
sel inang.