Anda di halaman 1dari 4

MUH.

ADNANDA SUWARSYAH FIQRIH


A031171505 / AKUNTANSI

ASSET DEFINED
Tiga karakter dalam definisi aset:
 Memberikan manfaat ekonomis di masa depan
 Dikendalikan oleh sebuah entitas
 Didapat dari kejadian masa lampau
 Dapat dipertukarkan  pendukung

Manfaat ekonomi di masa depan (future economic benefit)


Manfaat ekonomis di masa depan di dalam aset adalah potensi yang dapat
dikontribusikan secara langsung maupun tidak langsung yang mengalir ke kas
entitas. Dapat juga disebut sebagai manfaat yang membantu entitas untuk mencapai
tujuannya. Dari berbagai pendapat, jika disimpulkan, maka aset adalah sesuatu yang
ada saat ini, dan memiliki kapabilitas memberikan jasa atau manfaat saat ini dan
juga di masa yang akan datang.

Dikendalikan oleh sebuah entitas (controlled by an entity)


Secara teknis, aset sebenarnya adalah hak untuk menggunakan aset, bukan
secara fisik. Perusahaan memiliki hak untuk menadapatkan manfaat dari aset
tersebut dan bisa mengontrolnya. Misalnya truk yang dibayar dengan kredit,
meskipun selama mencicil belum memiliki bukti sah kepemilikan, tapi sudah boleh
mengambil manfaat dari truk tersebut.

Didapat dari kejadian masa lampau (past event)


Syarat ini untuk menegaskan bahwa aset yang baru direncanakan tidak
dimasukkan dalam pelaporan. Contohnya aset yang ada dalam anggaran.
Perdebatan sering timbul dalam hal seperti wholly executory contract.

Dapat dipertukarkan (exchageability)  pendukung


Beberapa peneliti berpendapat bahwa definisi dari aset harus
mengikutsertakan kondisi bahwa aset itu harus dapat dipertukarkan, artinya suatu
item terpisah dari entitas dan nilai penghapusan terpisah dari nilai entitas. Suatu
barang yang tidak memiliki exchageability pastilah tidak memiliki nilai ekonomi
(MacNael).

RMK CHAPTER 7
MUH. ADNANDA SUWARSYAH FIQRIH
A031171505 / AKUNTANSI

ASSET RECOGNITION
Pengakuan melibatkan aturan pengakuan, ada yang formal maupun
informal. Contoh informal adalah pengakuan piutang ketika penjualan secara kredit
terjadi. Contoh formal adalah pengakuan financial leases sebagai aset. Framework
recognition criteria (kriteria-kriteria dalam pengakuan):
 Peluang dari keuntungan ekonomis yagn akan datang
 Aset harus dapat diukur dengan andal (reliably measured)

Past recognition criteria yang tidak harus semuanya dipenuhi dan tidak
mutually exclusive:
 Kepercayaan pada hukum (reliance on the law). Pengakuan aset
bergantung pada konsept legal/sah aset tersebut. Contoh: pembelian aset
tetap
 Penentuan substansi ekonomis pada transaksi atau kejadian. Substabsi
ekonomis dari transaksi berhubungan dengan tujuan pelaporan informal
yang relevan dan dapat diandalkan.
 Penggunaan konservatisme. Antisipasi kerugian, tapi tidak pada
keuntungan

ASSET MEASUREMENT
Tangible Asset
Terdapat dua jenis pengkuran yang dikenal, yaitu historical cost dan fair
value. Untuk historical cost, aset diukur pada saat akuisisi dan dikurangi akumulasi
depresiasi dan penurunan nilai. Sementara itu, revaluasi aset menyediakan
informasi yang relevan untuk para pengguna laporan keuangan. Namun, beberapa
berpendapat bahwa pengukuran ini tidak handal dan subjektif apabila penetuan
nilainya diestimasi padahal seharusnya diobservasi. Dikatakan subjektif karena
niali yang didapat berasal dari perhitungan manajemen sendiri.

Intangible Asset
Karena intangible asset tidak memiliki pasar, maka yang biasa yang
digunakan adalah cost (dikurangi oleh akumulasi amortisasi dan impairment). IAS
38 melarang pengakuan atas internally generated intangible asset karena hanya

RMK CHAPTER 7
MUH. ADNANDA SUWARSYAH FIQRIH
A031171505 / AKUNTANSI

dapat dimunculkan di balance sheet hanya atas capitalization of development cost


nya saja.

Financial Instrument
Model pengukuran yang paling dominan adalah historical cost. Namun,
banyak yang menentang karena tidak relevan. Contohnya derivatif yang telah diatur
untuk diukur dalam fair value. Sehingga, meskipun harga pasar lebih dianjurkan,
namun perkiraan manajemen juga boleh digunakan (untuk fair value).

CHALLENGES FOR STANDARD SETTERS


Which measurement model?
Terdapat dukungan dari IASB dan FASB untuk penggunaan nilai wajar
yang lebih luas dan menjadi fokus beberapa bagian dalam komunitas keuangan.

How to calculate fair value measurement?


Dalam SFAS 157 terdapat contoh dari teknik penilaian yang digunakan
untuk memperkirakan niali wajar, termasuk di dalamnya:
 Pendekatan pasar. Penggunaan dari harga observasi dan informasi dari
transaksi aktual untuk aset dan kewajiban yang identik, mirip, atau
sebanding.
 Pendekatan pendapatan. Konversi dari nilai masa depan ke nilai sekarang.
 Pendekatan biaya. Nilai yang dibutuhkan untuk mengganti kapasitas dari
sebuah jasa.

Tiga kategori untuk input yang digunakan untuk estimasi nilai wajar
 Tingkat 1. Menggunakan harga terpilih untuk aset dan kewajiban yang
identik di pasar yang aktif yang direkomendasikan kapan pun informasi
tersebut tersedia.
 Tingkat 2. Jika harga terpilih untuk aset dan kewajiban yang identik di pasar
yang aktif yang direkomendasikan tidak tersedia, maka nilai wajar harus
diestimasikan berdasarkan harga yang terpilih untuk aset dan kewajiban
yang hampir sama di pasar aktif.
 Tingkat 3. Jika tingkat 1 dan 2 tidak tersedia, atau jika perbedaan antara set
dan kewajiba yang hampir sama tidak dapat ditentukan secara objektif,

RMK CHAPTER 7
MUH. ADNANDA SUWARSYAH FIQRIH
A031171505 / AKUNTANSI

maka nilai wajar dapat diestimasi menggunakan beberapa teknik penilaian


yang konsisten dengan pendekatan pasar, pendapatan dan biaya.

ISSUES FOR AUDITORS


Mengaudit fair value menimbulkan kesulitan pada auditor karena
membutuhkan penerapan dari model valuasi dan ahli dari valuasi itu sendiri. Untuk
menciptakan pendekatan audit yang efektif, auditor memiliki peranan penting untuk
memastikan pengukuran yang dilakukan telah sesuai dan tidak terpengaruhi
berlebihan oleh insentif manajer. Auditor harus mengetahui proses dari perusahaan
kliennya dan pengendalian dalam pengukuran fair value, dan auditor harus
membuat penilai an apakah metodae pengukuran dan asumsi yang diguankan dari
perusahaan kliennya tersebut sudah sesuai dan memberikna landasa yang kuat
dalam pengukuran fair value.

RMK CHAPTER 7