Anda di halaman 1dari 6

PEMBERDAYAAN ISTRI NELAYAN MELALUI KOPERASI UNIT DESA (KUD)

(Studi Pada KUD Mina Jaya Sendang Biru


Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang)

Priskila Mustika Hayuning Pratama Soero, Dwi Sulistyo, Ainul Hayat


Jurusan Ilmu Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Brawijaya Malang
Email: only_priz@yahoo.com

Abstract: The Empowerment of Fisherman’s Wife through Village Unit Cooperatives (KUD).
The coastal communities at Sendangbiru is the traditional society with low condition of socio-
economic. This condition need of empowerment programme which can be realized through
independence of fisherman’s wife who has been accompanied by the KUD Mina Jaya. The purpose
of this research is to know, to describe, and to analyze the empowerment of fisherman’s wife
through the KUD Mina Jaya at Sendangbiru Village, Regency of Malang and its constraints faced.
The research method used is descriptive qualitative research method. The results of this research
show that the function of Village Cooperatives is helping fisherman’s wife to produce shredded
tuna. The constraints that faced were limited funds from the KUD and the DKP of Malang
Regency making some producers stopped production, socialization and training by the DKP is
unsustainable, and the quality of human resources of the KUD and fishermans are still low.

Key words: empowerment, fisherman’s wife, KUD Mina Jaya

Abstrak: Pemberdayaan Istri Nelayan melalui Koperasi Unit Desa (KUD). Masyarakat pesisir
di Sendangbiru merupakan masyarakat tradisional dengan kondisi strata sosial ekonomi rendah.
Untuk meningkatkan kondisi kehidupan masyarakat nelayan di pesisir Sendangbiru diperlukan
program pemberdayaan yang dapat diwujudkan melalui kemandirian istri nelayan yang
didampingi oleh KUD Mina Jaya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui,
mendeskripsikan, dan menganalisis pemberdayaan istri nelayan melalui KUD Mina Jaya di
Sendang Biru Kecamatan Sumbermanjing Wetan Kabupaten Malang beserta kendala-kendala yang
dihadapi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif
kualitatif. Hasil penelitian ini adalah peran KUD yang memberdayakan istri nelayan dengan
membuat abon ikan tuna. Kendala yang dihadapi antara lain adalah dana yang masih terbatas dari
KUD dan DKP Kabupaten Malang membuat beberapa produsen abon berhenti produksi,
sosialisasi dan pelatihan oleh DKP yang tidak berkelanjutan, serta kualitas SDM dari KUD dan
para nelayan yang masih rendah.

Kata kunci: pemberdayaan, istri nelayan, KUD Mina Jaya

Pendahuluan menutup kemungkinan mata pencaharian


Pembangunan dapat diartikan sebagai suatu sebagian penduduknya adalah nelayan.
proses menuju perubahan yang lebih baik. Untuk Namun model pembangunan dalam sektor
itu, pembangunan nasional pada hakikatnya kelautan yang selama ini menyebabkan laju
merupakan rangkaian upaya pembangunan yang perkembangan sektor kelautan dan perikanan
berkesinambungan yang meliputi seluruh berjalan relatif lamban. Kegiatan pemberdayaan
kehidupan masyarakat, bangsa dan negara untuk merupakan salah satu usaha yang bisa dilakukan
melaksanakan tugas mewujudkan tujuan untuk menunjang pembangunan khususnya
nasional. pembangunan di sektor kelautan.
Pembangunan nasional tidak akan terlepas Indonesia memiliki wilayah pesisir yang
dari pembangunan daerah karena pembangunan tersebar. Salah satu wilayah yang memiliki 14
daerah merupakan pendukung terciptanya pantai adalah Kabupaten Malang, Jawa Timur.
pembangunan nasional. Dalam pembangunan Sumbermanjing Wetan merupakan salah satu
daerah, sektor kelautan merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Malang yang memiliki
sumber daya yang sangat berpotensi mengingat pantai terpanjang bila dibanding dengan
Indonesia adalah negara maritim yang sebagian kecamatan lainnya. Pantai tersebut adalah Pantai
besar wilayahnya berupa perairan yang tidak

Jurnal Administrasi Publik (JAP), Vol. 2, No. 1, Hal. 41-46 | 41


Sendang Biru. Sebagian besar penduduknya mandiri namun tetap dipantau dari kejauhan agar
berprofesi sebagai nelayan. bisa tetap stabil dan tidak terjatuh lagi.
Pada umumnya masyarakat desa pesisir Jika dilihat dari pendapat di atas, suatu
lebih merupakan masyarakat tradisional dengan pemberdayaan melalui proses belajar hingga
kondisi strata sosial ekonomi yang sangat rendah mampu mencapai status mandiri. Selanjutnya,
(Pramono, 2005, h.16-17). Masyarakat yang Sulistiyani (2007, h.83) mengatakan bahwa
tinggal di daerah pesisir khususnya masyarakat pemberdayaan merupakan proses belajar dalam
nelayan ini sering dikategorikan sebagai rangka pemberdayaan masyarakat akan
masyarakat yang biasa bergelut dengan berlangsung bertahap. Tahap-tahap yang harus
kemiskinan dan keterbelakangan. Permasalahan dilalui adalah:
pokok yang ada pada masyarakat nelayan yang 1) Tahap pembentukan perilaku menuju
bermukim di wilayah pesisir adalah masih perilaku yang sadar dan peduli sehingga
rendahnya tingkat pendidikan, pengetahuan setiap pribadi akan merasa membutuhkan
kelautan, pemilikan modal serta manajemen peningkatan kapasitas diri.
usaha perikanan yang dimiliki. 2) Tahap transformasi kemampuan berupa
Masalah sosial ini dapat mengurangi arus wawasan pengetahuan dan memberikan
proses pembangunan nasional nantinya. Untuk ketrampilan dasar sehingga dapat me-
itu diperlukan program pemberdayaan yang ngambil peran dalam pembangunan.
dapat diwujudkan melalui kemandirian 3) Tahap peningkatan kemampuan intelektual,
masyarakat nelayan sehingga ketika nelayan kecakapan ketrampilan sehingga terbentuk
tidak melaut, setidaknya mereka masih memiliki inisiatif dan kemampuan berinovasi untuk
keahlian atau skill lain yang bisa dipergunakan menuju kemandirian.
untuk pekerjaan sampingan. Sedangkan menurut Wrihatnolo dan
Program pemberdayaan dapat diwujudkan Dwidjowijoto (2007, h.1), dengan menekankan
melalui kemandirian para istri nelayan. Dalam pada proses, maka pemberdayaan masyarakat
upaya program pemberdayaan para istri nelayan memiliki tahap-tahap sebagai berikut:
ini, terdapat agen yang akan mendampingi dan 1. Penyadaran
akan menjadi fasilitator yang bersifat multi- Pada tahap ini dilakukan sosialisasi terhadap
disiplin. Ialah Koperasi Unit Desa (KUD) Mina komunitas agar mereka mengerti bahwa kegiatan
Jaya yang selama ini menjadi lembaga alternatif pemberdayaan ini penting bagi peningkatan
bagi masyarakat nelayan di Sendang Biru untuk kualitas hidup mereka, dan dilakukan secara
memperoleh akses modal, teknologi pe- mandiri (self help).
nangkapan maupun barang kebutuhan sehari- 2. Pengkapasitasan
hari. Sebelum diberdayakan, komunitas perlu di-
berikan kecakapan dalam mengelolanya. Tahap
Tinjauan Pustaka ini sering disebut sebagai capacity building, yang
a. Konsep dan Definisi Pembangunan terdiri atas pengkapasitasan manusia, organisasi,
Bryant dan White (dikutip oleh Suryono, dan sistem nilai.
2004, h.35) mendefinisikan pembangunan 3. Pendayaan
sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan Pada tahap ini target diberikan daya, kekuasaan,
manusia dalam mempengaruhi masa depannya. dan peluang sesuai dengan kecakapan yang
Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa sudah diperolehnya.
pembangunan tidak hanya menyangkut peruba-
han fisik dan konkret, namun pembangunan lebih c. Indikator Pemberdayaan Masyarakat
ditekankan dari segi manusianya sendiri, Nelayan
sehingga masyarakat memiliki kemampuan yang Kusnadi (2006, dikutip oleh Widayati,
lebih berkapasitas besar dan berkualitas. 2008, h.31) mengatakan bahwa ada beberapa
indikator kualitatif yang menandai suatu
b. Tahap-Tahap Pemberdayaan Masyarakat masyarakat nelayan memiliki keberdayaan,
Tahapan pemberdayaan berfungsi untuk yaitu:
memandirikan masyarakat dalam berbagai a. Tercapainya kesejahteraan sosial-ekonomi
kegiatannya karena seperti yang dikemukakan baik dalam individu itu sendiri, rumah tangga
Sumodiningrat (dikutip oleh Sulistiyani, 2007, maupun dalam masyarakat
h.78), bahwasanya suatu pemberdayaan dalam b. Kelembagaan ekonomi berfungsi optimal dan
masyarakat tidak akan bersifat selamanya, aktivitas ekonomi stabil.
melainkan pemberdayaan tersebut berlangsung c. Kelembagaan sosial berfungsi dengan baik
sampai masyarakat dirasa mampu untuk hidup sebagai instrumen pembangunan lokal.

Jurnal Administrasi Publik (JAP), Vol. 2, No. 1, Hal. 41-46 | 42


d. Berkembangnya kemampuan akses ma- sistem up down dan kurang mampu
syarakat terhadap sumber daya ekonomi baik berintegrasi dengan masyarakat sasaran.
dalam hal mendapatkan informasi dan 5) Peran tengkulak dan rentenir
kemampuan menggunakan teknologi. Tidak dapat dipungkiri, bahwa masyarakat
e. Meningkatnya partisipasi masyarakat dan nelayan tradisional umumnya masih terikat
tumbuhnya kesadaran warga terhadap secara moral dalam tradisi patron-klien.
persoalan-persoalan pembangunan yang ada Segala kebutuhan klien dalam usaha
di kawasan pesisir. perikanan yang dilakukannya dipenuhi oleh
f. Kawasan pesisir menjadi pusat partumbuhan patron sebagai pemilik modal atau sebagai
ekonomi wilayah dan ekonomi nasional yang penguasa usaha lokal. Sistem ini selain
dinamis, serta memiliki daya tarik investasi. menjerat nelayan tradisional, juga
memberikan kekuatan pandangan bagi
d. Kendala dalam Pemberdayaan Masya- mereka bahwa menerima apa yang
rakat Nelayan dibutuhkan dari patron lebih mudah
Mengutip Hakim, (diakses 12 Oktober dibandingkan dengan menerima bantuan dari
2012) kendala dalam upaya pemberdayaan oleh program pemberdayaan.
lembaga-lembaga formal yang bertujuan untuk 6) Pinjaman kurang mencukupi kebutuhan
meningkatkan kesejahteraan masyarakat perika- Modal bantuan program pemberdayaan yang
nan antara lain: diberikan oleh pemerintah atau lembaga-
1) Rendahnya sumber daya manusia (SDM) lembaga formal umumnya terbatas dan
Masyarakat nelayan yang menjadi sasaran dibatasi. Dampaknya, modal yang diberikan
pemberdayaan umumnya merupakan nelayan tidak memberikan efek yang berarti bagi
tradisional yang tergolong berpendidikan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat
berpenghasilan rendah. Secara psikologis, sasaran.
mereka cepat puas dengan apa yang
diperolehnya, sehingga mereka tidak tertarik e. Koperasi Unit Desa (KUD)
dengan program-program pemberdayaan oleh Koperasi Unit Desa (KUD) merupakan
pemerintah atau lembaga-lembaga formal. salah satu pilar perekonomian yang berperan
2) Program hibah penting dalam pembangunan perekonomian
Adanya anggapan masyarakat nelayan nasional. Menurut Chaniago (dikutip oleh
tradisional umumnya bahwa bantuan pe- Anoraga dan Widiyanti, 1993, h.27) KUD harus
merintah tidak perlu dikembalikan. Aki- mampu berfungsi sebagai pusat pelayanan dalam
batnya penggunaan bantuan itu tidak optimal. kegiatan perekonomian pedesaan yaitu:
Kurangnya sosialisasi dan pendekatan 1) Perkreditan
terhadap masyarakat sasaran merupakan 2) Penyediaan dan penyaluran-penyaluran
salah satu pemicu timbulnya anggapan sarana-sarana produksi
tersebut selain budaya tradisional yang 3) Pengolahan dan pemasaran hasil-hasil
menganggap bahwa menjadi kewajiban produksi dari para anggota KUD dan warga
pemerintah menyalurkan dana gratis dan juga desa umumnya.
karena tingkat pendidikan yang rendah. 4) Kegiatan perekonomian lainnya seperti
3) Kelembagaan perdagangan, pengangkutan, dan seba-
Dalam penyaluran dana pemberdayaan, gainya.
program yang akan dan sudah berjalan, 5) Dalam melaksanakan tugas KUD harus
menganggap bahwa semua masyarakat benar-benar mementingkan pemberian
nelayan sasaran program memiliki nilai sosial pelayanan kepada anggota dan masyarakat,
yang sama. Hal ini kurang memahami dan menghindarkan kegiatan yang me-
perlunya lembaga yang harus dibentuk tanpa nyaingi kegiatan anggota sendiri.
dilakukan identifikasi ma-sing-masing lokasi
sasaran berdasarkan kondisi sosial Metode Penelitian
masyarakatnya. Metode penelitian ini digunakan jenis
4) Lemahnya pendampingan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif.
Untuk melakukan sosialisasi, fasilitasi dan Peneliti ingin lebih memahami fenomena yang
pendampingan, umumnya dibentuk dan muncul di masyarakat dalam kasus pemberda-
diberdayakan Tenaga Pendamping Program yaan masyarakat di Kawasan Sendang Biru
(TPP) masing-masing lokasi sasaran. Tetapi melalui Koperasi Unit Desa (KUD). Fokus
kenyataannya, proses pendampingan oleh permasalahan penelitian ini adalah:
TPP dan supervise oleh KM ini pada tataran
teknis pelak-sanaan masih mengedepankan

Jurnal Administrasi Publik (JAP), Vol. 2, No. 1, Hal. 41-46 | 43


1. Pemberdayaan istri nelayan melalui KUD mempengaruhi masa depannya. Dengan adanya
Mina Jaya di Sendang Biru Kecamatan program pemberdayaan terhadap istri nelayan,
Sumbermanjing Wetan Kabupaten Malang. diharapkan dapat menambah keahlian yang
a. Peran KUD dalam pemberdayaan istri dimiliki oleh istri nelayan, sehingga kualitas
nelayan SDM nelayan semakin baik dan kesejah-
b. Wujud dan hasil pemberdayaan istri teraannya ikut meningkat.
nelayan oleh KUD
2. Kendala-kendala dalam pemberdayaan istri b. Wujud dan Hasil Pemberdayaan Istri oleh
nelayan di Sendang Biru Kecamatan KUD
Sumbermanjing Wetan Kabupaten Malang, Wujud dan hasil pemberdayaan istri
meliputi: nelayan Sendangbiru adalah abon ikan tuna. Para
a. Dana pembuat abon yakni istri-istri nelayan tersebut
b. SDM (Sumber daya Manusia) dalam membuat abon ikan tuna, kemudian dipasarkan
KUD di pasar lokal maupun luar kota, contohnya ke
c. Dukungan Dinas terkait Surabaya, Bali, atau dipandu oleh DKP
d. Sikap istri nelayan (dukungan anggota Kabupaten Malang. Harga abon ikan tuna
KUD) tersebut cukup terjangkau, bisa dibeli oleh semua
Lokasi penelitian adalah kawasan pesisir kalangan. Namun sangat disayangkan karena
Sendang Biru Kabupaten Malang dan situs hanya dua kelompok yang sanggup bertahan
penelitian yakni Koperasi Unit Desa (KUD) hingga saat ini.
Mina Jaya, dan Dusun Sendang Biru Kecamatan Dengan terjadinya hal tersebut dapat dilihat
Sumbermanjing Wetan Kabupaten Malang. bahwa masyarakat nelayan di wilayah
Sumber data diperoleh dari data primer dan data Sendangbiru belum dapat diberdayakan dengan
sekunder. Pengumpulan data dilakukan melalui baik, karena sebagian dari mereka tidak mampu
observasi, wawancara, dokumentasi, serta studi untuk melanjutkan program pemberdayaan ini,
kepustakaan. Analisis data menggunakan metode padahal menurut pendapat yang dikemukakan
analisis interaktif menurut Miles dan Huberman oleh Kusnadi (2006, dikutip oleh Widayati,
(1992, h.16-19) yang meliputi 4 tahap yaitu 2008, h.31) indikator kualitatif yang menandai
pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, suatu masyarakat nelayan memiliki keberda-
serta penarikan kesimpulan/verifikasi. yaan, yaitu tercapainya kesejahteraan sosial-
ekonomi baik dalam individu itu sendiri, rumah
Pembahasan tangga maupun dalam masyarakat, yang ditan-
1. Pemberdayaan Istri Nelayan melalui KUD dai dengan kemandirian ekonomi berkembang
Mina Jaya di Sendang Biru Kecamatan dan orientasi kewirausahaan meningkat.
Sumbermanjing Wetan Kabupaten
Malang 2. Kendala yang dialami KUD Mina Jaya
a. Peran KUD dalam Pemberdayaan Istri dalam Pemberdayaan Istri Nelayan di
Nelayan Sendang Biru Kecamatan Sumber-
KUD Mina Jaya merupakan satu-satunya manjing Wetan Kabupaten Malang
koperasi yang ada di Dusun Sendang Biru, Desa a. Dana
Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Dana yang pertama kali dipergunakan
Kabupaten Malang sehingga keberadaan KUD dalam pelaksanaan program pemberdayaan
Mina Jaya sangat penting bagi kegiatan ekonomi pembuatan abon ikan tuna berasal dari dana
serta kelangsungan hidup masyarakat nelayan di Dinas Kelautan dan Perikanan serta dana dari
wilayah Kabupaten Malang, khususnya di KUD Mina Jaya. Dana tersebut digabung
wilayah Sendang Biru, seperti yang kemudian dibagikan kepada lima kelompok istri
dikemukakan oleh Chaniago (dikutip oleh Ano- nelayan yang ikut dalam program pemberdayaan.
raga, 1993, h.27) bahwa KUD harus mampu Namun dana tersebut tidak dapat mencukupi
berfungsi sebagai pusat pelayanan dalam untuk kegiatan produksi abon ikan tuna,
kegiatan perekonomian pedesaan. sehingga pihak KUD Mina Jaya menggunakan
Program pemberdayaan tersebut dapat dana internal dari kas koperasi untuk mendukung
dikatakan sebagai salah satu bentuk pem- kegiatan pelatihan pembuatan abon ikan tuna.
bangunan, karena pembangunan juga bertujuan Maka dari itu dana yang dipakai terbatas. Hal ini
untuk meningkatkan kemampuan manusia, seperti yang dikemukakan oleh Hakim, (diakses
seperti yang disampaikan oleh Bryant dan White 12 Oktober 2012) bahwa faktor yang menjadi
(dikutip oleh Suryono, 2004, h.35) kendala dalam upaya pemberdayaan salah
mendefinisikan pembangunan sebagai upaya satunya adalah modal bantuan program
untuk meningkatkan kemampuan manusia dalam pemberdayaan yang diberikan oleh pemerintah

Jurnal Administrasi Publik (JAP), Vol. 2, No. 1, Hal. 41-46 | 44


atau lembaga-lembaga formal umumnya terbatas mereka tidak mampu untuk mengembangkan
dan dibatasi. Akibatnya, kebutuhan yang harus modalnya dengan baik, sehingga pada saat ini
dipenuhi dalam meningkatkan usaha atau hanya tersisa dua kelompok saja yang bertahan
mengembangkan usaha kurang mencukupi. dalam produksi abon ikan tuna tersebut.
Agar program pemberdayaan tersebut dapat
b. SDM (Sumber Daya Manusia) dalam KUD berhasil, seharusnya pemerintah daerah setempat
Sumber Daya Manusia (SDM) yang bekerja dan pihak-pihak yang terkait dapat lebih
di KUD Mina Jaya rata-rata lulusan melaksanakan tahap-tahap pemberdayaan secara
SMA/sederajat dan Sarjana (S1). Namun saat ini, serius dengan menekankan pada proses
pegawai dirasa masih kurang memadai dalam pemberdayaan yang terdiri dari beberapa tahap,
pengembangan KUD. Dalam kenyataannya, para seperti yang dikemukakan oleh Wrihatnolo
pegawai KUD memang mendukung kegiatan (2007, h.1), dengan menekankan pada proses,
pemberdayaan istri nelayan, namun dukungan maka pemberdayaan masyarakat memiliki tahap-
tersebut kurang memberikan kontribusi yang tahap yang terdiri dari penyadaran yang
jelas terhadap program pemberdayaan ini, dilakukan dengan mengadakan sosialisasi
terlihat dengan semakin berkurangnya anggota terhadap komunitas agar mereka mengerti bahwa
kelompok ibu-ibu yang bergabung untuk kegiatan pemberdayaan ini penting bagi
memproduksi abon ikan tuna. peningkatan kualitas hidup mereka dan
dilakukan secara mandiri, yang kedua adalah
c. Dukungan Dinas Terkait pengkapa-sitasan yang sering disebut sebagai
Sesuai dengan data pengamatan lapangan, capacity building, yang terdiri atas pengka-
dapat diketahui bahwa peran Dinas Kelautan dan pasitasan manusia, organisasi, dan sistem nilai,
Perikanan (DKP) Kabupaten Malang kurang serta yang ketiga pendayaan yaitu masyarakat
menunjang proses pemberdayaan istri nelayan di diberikan daya, kekuasaan, dan peluang sesuai
Sendangbiru karena DKP Kabupaten Malang dengan kecakapan yang sudah diperolehnya.
belum melakukan pemberdayaan istri nelayan d. Sikap Istri Nelayan (Dukungan Anggota
secara maksimal. Program pemberdayaan ini KUD)
memang sudah seharusnya dilakukan secara Dukungan dari para istri nelayan sangat
bertahap karena dalam hal ini istri nelayan penting bagi keberhasilan program pemberda-
mendapatkan pengetahuan baru sehingga yaan ini namun dalam kenyataannya sebagian
membutuhkan proses yang bertahap agar mereka besar nelayan menganggap hal itu tidak penting
dapat memahami kegiatan pemberdayaan sehingga mereka melarang istri mereka untuk
tersebut, seperti yang dikemukakan oleh mengikuti pelatihan. Tingkat pendidikan yang
Sulistiyani (2007, h.83) bahwasanya rendah sangat berpengaruh pada pola pikir
pemberdayaan merupakan proses belajar dalam masyarakat nelayan. Selain itu modal yang
rangka pemberdayaan masyarakat akan dimiliki juga terbatas sehingga proses produksi
berlangsung bertahap. abon tuna menjadi terhambat bahkan dapat ter-
DKP sebagai pihak yang berkewajiban henti karena modal produksi yang kurang. Hal
untuk memberdayakan istri nelayan seharusnya ini seperti yang dikemukakan oleh Hakim
dapat terus mendampingi para istri nelayan (2012), bahwa faktor yang menjadi kendala
sampai mereka mampu untuk mandiri dan dalam upaya pemberdayaan salah satunya adalah
mengembangkan potensinya agar kesejahteraan masyarakat nelayan yang menjadi sasaran
ekonominya dapat tercapai, seperti yang pemberdayaan umumnya merupakan nelayan
dikemukakan Sumodiningrat dalam Sulistiyani tradisional yang tergolong masyarakat
(2007, h.78), bahwasanya suatu pemberdayaan berpendidikan dan berpenghasilan rendah.
dalam masyarakat tidak akan bersifat selamanya, Padahal dukungan atau partisipasi dari
melainkan pemberdayaan tersebut berlangsung masyarakat dalam suatu pemberdayaan sangat
sampai masyarakat dirasa mampu untuk hidup penting, karena masyarakat merupakan subyek
mandiri namun tetap dipantau dari kejauhan agar dari pemberdayaan itu sendiri, selain itu yang
bisa tetap stabil dan tidak terjatuh lagi. menentukan keberhasilan pemberdayaan adalah
Namun kegiatan pelatihan tersebut hanya adanya partisipasi masyarakat, seperti yang
dilakukan sekali saja, tidak dilakukan secara dikemukakan oleh Kusnadi dikutip oleh
berkelanjutan. Seiring berjalannya waktu para Widayati (2008, h.31) bahwa indikator yang
anggota kelompok mulai tidak mampu untuk menandai bahwa masyarakat memiliki
melanjutkan usaha untuk memproduksi abon keberdayaan salah satunya adalah meningkatnya
ikan tuna tersebut, hal ini terbukti dengan adanya partisipasi masyarakat dan tumbuhnya kesadaran
beberapa kelompok yang memutuskan untuk warga terhadap persoalan-persoalan pembangu-
berhenti memproduksi abon ikan tuna karena nan yang ada di kawasan pesisir.

Jurnal Administrasi Publik (JAP), Vol. 2, No. 1, Hal. 41-46 | 45


Kesimpulan Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten
KUD Mina Jaya memiliki fungsi yakni Malang jumlahnya terbatas, sosialisasi dan
mengatur sistem pendapatan hasil tangkap pelatihan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan
nelayan Pantai Sendangbiru. Peran lainnya ialah (DKP) bagi istri nelayan hanya dilakukan satu
memberdayakan masyarakat nelayan dengan kali dan tidak berkelanjutan, kemampuan KUD
membantu nelayan beserta istrinya agar memiliki yang masih terbatas tidak disertai dengan
kemampuan untuk mengolah ikan tuna hasil dukungan yang baik dari Dinas Kelautan dan
tangkapan menjadi produk makanan yang Perikanan (DKP) Kabupaten Malang sehingga
memiliki nilai jual sehingga dapat menambah program pemberdayaan istri nelayan di kawasan
penghasilan serta meningkatkan kesejahteraan Sendang Biru berjalan kurang maksimal, serta
mereka di kala tidak musim melaut. Adanya dua istri nelayan yang merupakan subyek utama
kelompok produsen abon ikan tuna merupakan dalam program pemberdayaan nyatanya kurang
wujud dan hasil pemberdayaan istri nelayan oleh memahami maksud dari KUD Mina Jaya, sebab
KUD Mina Jaya. dengan rendahnya sumber daya manusia (SDM)
Kendala yang dialami dalam proses yang mereka miliki membuat pola pikir menjadi
pemberdayaan istri nelayan tersebut diantaranya sempit dan menganggap program tersebut
adalah dana yang diberikan sebagai modal awal sebagai sesuatu yang terlalu rumit dan
produksi oleh KUD Mina Jaya dan Dinas menghabiskan banyak tenaga juga waktu.

Daftar Pustaka
Anhakim (2008) Sebuah Tinjauan: Beberapa Kendala Pemberdayaan Masyarakat Perikanan. Anhakim
Weblog 12 Oktober [Internet blog] Available from:
<http://anhakim.wordpress.com/2008/01/08/sebuah-tinjauan-beberapa-kendala-pemberdayaan-
masyarakat-perikanan/> [Accessed 12 October 2012].
Anoraga, Pandji dan Widiyanti, Ninik. (1993) Dinamika Koperasi. Jakarta, Rineka Cipta.
Miles, B. Matthew dan Huberman, A. Michael. (1992) Analisis Data Kualitatif. Jakarta, Universitas
Indonesia.
Pramono, Djoko. (2005) Budaya Bahari. Jakarta, Gramedia Pustaka Utama.
Sulistiyani, Ambar Teguh. (2007) Konseptual Model Pemberdayaan LSM sebagai Fasilitator
Pembangunan. Jurnal Kebijakan Administrasi Publik, 11 (2), November, pp. 139-157.
Suryono, Agus. 2004. Pengantar Teori Pembangunan. Malang, UM Press.
Widayati, Tri. (2008) Analisis Efisiensi Teknis Tempat Pelelangan Ikan dan Tingkat Keberdayaan
Pengelola Tempat Pelelangan Ikan serta Strategi Pemberdayaannya di Wilayah Pantai Utara
Jawa Tengah. [Internet], Semarang, Magister Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan Universitas
Diponegoro Semarang. Available from: Netlibrary <http://www.google.com> [Accessed: 28
September 2012]
Wrihatnolo, Randy R dan Riant Nugroho. (2007) Manajemen Pemberdayaan, Sebuah Pengantar dan
Panduan untuk Pemberdayaan Masyarakat. Jakarta, Gramedia.

Jurnal Administrasi Publik (JAP), Vol. 2, No. 1, Hal. 41-46 | 46

Anda mungkin juga menyukai