Anda di halaman 1dari 50

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah

Di era reformasi sekarang ini, Indonesia mengalami banyak perubahan.

Perubahan sistem politik, reformasi ekonomi, sampai reformasi birokrasi

menjadi agenda utama di negeri ini. Yang paling sering dikumandangkan

adalah masalah reformasi birokrasi yang menyangkut masalah-masalah

pegawai pemerintah yang dinilai korup dan sarat dengan nepotisme. Reformasi

birokrasi dilaksanakan dengan harapan dapat menghilangkan budaya-budaya

buruk birokrasi seperti praktik korupsi yang paling sering terjadi di dalam

instansi pemerintah.

Reformasi birokrasi ini pada umumnya diterjemahkan oleh instansi-

instansi pemerintah sebagai perbaikan kembali sistem remunerasi pegawai.

Anggapan umum yang sering muncul adalah dengan perbaikan sistem

penggajian atau remunerasi, maka aparatur pemerintah tidak akan lagi

melakukan korupsi karena dianggap penghasilannya sudah mencukupi untuk

kehidupan sehari-hari dan untuk masa depannya. Namun pada kenyataannya,


2
tindakan korupsi masih terus terjadi.

Korupsi merupakan permasalahan universal yang dihadapi oleh seluruh

negara dan masalah yang sulit untuk diberantas, Hal ini tidak lain karena

masalah korupsi bukan hanya berkaitan dengan permasalahan ekonomi semata

melainkan juga terkait dengan permasalahan politik, kekuasaan dan penegakan

hukum. Dilihat dari sudut pandang sejarah, korupsi telah dilakukan sejak dulu

hingga kini. Korupsi dilakukan oleh seluruh tingkat usia (kecuali anak-anak).

1
Bila dilihat dari sudut manajemen maka korupsi terjadi mulai dari tahap

perencanaan, pelaksanaan, hingga tahap pengawasan kegiatan. Korupsi bila

bersinggungan dengan penegakan hukum maka akan sulit untuk diberantas

karena secara otomatis akan bersinggungan dengan orang-orang yang memiliki

kekuasaan dan uang.

Secara etimologis atau menurut bahasa, korupsi berasal dari kata Latin

corruptio atau corruptus,dan dalam bahasa Latin yang lebih tua dikenal dengan

istilah corrumpere. Dari bahasa Latin itulah turun keberbagai bahasa bangsa-

bangsa di Eropa seperti Inggris : corruption, corrupt; Prancis : corruption; dan

Belanda : corruptie atau koruptie, yang kemudian turun kedalam bahasa

Indonesia menjadi korupsi. Arti harfiah dari kata itu adalah kebusukan,

keburukan, kebejatan, ketidakjujuran, dapat disuap, tidak bermoral,

penyimpangan dari kesucian.1

Korupsi dalam arti hukum adalah tingkah laku yang menguntungkan

kepentingan diri sendiri dengan merugikan orang lain, yang dilakukan oleh

para pejabat pemerintah yang langsung melanggar batas-batas hukum,

sedangkan menurut norma-norma pemerintah adalah apabila hukum dilanggar


3
atau apabila melakukan tindakan tercela dalam bisnis.2

Dalam Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 Jo Undang-Undang No. 20

Tahun 2001 (selanjutnya disebut Undang-Undang Korupsi), sebagaimana

tercantum dalam Bab II Pasal 2 yang dimaksud dengan korupsi adalah :

1
Andi Hamzah (I), Korupsi di Indonesia Masalah dan Pemecahannya, Gramedia Pusaka
Utama, Jakarta, 1991, hal. 7.
2
IGM. Nurdjana. Korupsi Dalam Praktek Bisnis Pemberdayaan Penegak Hukum, Program
Aksi dan Strategi Penanggulangan Masalah Korupsi, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2005,
hal. 8.
“Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan

memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat

merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.”

Ada sembilan tindakan kategori korupsi dalam UU tersebut, yaitu:

1. Suap;

2. illegal profit;

3. secret transaction;

4. hadiah;

5. hibah (pemberian);

6. penggelapan;

7. kolusi;

8. nepotisme; dan

9. penyalahgunaan jabatan dan wewenang serta fasilitas negara.


4
Kemudian Robert Kligaart memberikan devinisi korupsi dalam arti luas adalah:

Korupsi adalah menggunakan jabatan untuk kepentingan pribadi. Jabatan


adalah kedudukan kepercayaan. Seseorang diberi wewenang atau
kekuasaan untuk bertindak atas nama lembaga. Lembaga itu bisa lembaga
swasta, lembaga pemerintah, atau lembaga nirlaba. Korupsi berarti
memungut uang bagi layanan yang sudah seharusnya diberikan, atau
menggunakan wewenang untuk mencapai tujuan yang tidak sah. korupsi
adalah tidak melaksanakan tugas karena lalai atau sengaja.korupsi bisa
mencangkup kegiatan yang sah dan tidak sah. Korupsi dapat terjadi dalam
tubuh organisasi (misalnya pemerasan). Korupsi kadang-kadang dapat
membawa dampak positif di bidang sosial, namun pada umumnya korupsi
menimbulkan inefisiensi (pemborosan), ketidakadilan, dan ketimpangan.3

Definisi korupsi di atas mengidentifikasikan adanya penyimpangan dari

pegawai publik (public officials) dari norma-norma yang diterima dan dianut
3
Robert Kligart, Ronald Maclean Aboroa, H Lindasey Parris, Penuntutan Pemberantasan
Korupsi Dalam Pemerintah Daerah, Terjemahan Yayasan Aboe Indonesia, Jakarta, 2002, hal. 2
dan 3
masyarakat dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan pribadi (serve

private ends). Senada dengan Azyumardi Azra mengutip pendapat Syed Husein

Alatas yang lebih luas: ”Corruption is abuse of trust in the interest of private

gain”, Korupsi adalah penyalahgunaan amanah untuk kepentingan pribadi.4

Dampak atau akibat yang ditimbulkan oleh korupsi ini sangat banyak

sekali dan dapat menyentuh berbagai bidang kehidupan. Korupsi merupakan

masalah serius, tindak pidana ini dapat membahayakan stabilitas dan keamanan

masyarakat, membahayakan pembangunan sosial ekonomi, dan juga politik,

serta dapat merusak nilai-nilai demokrasi dan moralitas karena lambat laun

perbuatan ini seakan menjadi sebuah budaya. Korupsi merupakan ancaman

terhadap cita-cita menuju masyarakat adil dan makmur. 5Selain itu akibat dari

korupsi menurut Gunnar Myrdal yaitu :

1. Korupsi memantapkan dan memperbesar masalah-masalah yang

menyangkut kurangnya hasrat untuk terjun di bidang usaha dan mengenai


5
kurang tumbuhnya pasaran nasional.
2. Korupsi mempertajam permasalahan masyarakat plural sedang bersamaan

dengan itu kesatuan negara bertambah lemah. Juga karena turunnya

martabat pemerintah, tendesi-tendesi itu membahayakan stabilitas politik.


3. Korupsi mengakibatkan turunnya disiplin sosial.6

Dari beberapa definisi tersebut juga terdapat beberapa unsur yang melekat

pada korupsi antara lain :

4
Syamsul Anwar , Fikih Antikorupsi Perspektif Ulama Muhammadiyah Majelis Tarjih
dan Tajdid PP Muhammadiyah ( Jakarta: Pusat studi Agama dan Peradaban (PSAP), 2006) hal 10
5
Evi hartanti, Tindak Pidana Korupsi, Sinar Grafika, Jakarta, 2007, hal. 1
6
Andi Hamzah (II), Pemberantasan Korupsi, Rajagrafindo Persada, Jakarta, 2007, hal 2
1. tindakan mengambil, menyembunyikan, menggelapkan harta negara atau

masyarakat;

2. melawan norma-norma yang sah dan berlaku;

3. penyalahgunaan kekuasaan atau wewenang atau amanah yang ada pada

dirinya;

4. demi kepentingan diri sendiri, keluarga, kerabat, korporasi atau lembaga

instansi tertentu;

5. merugikan pihak lain, baik masyarakat maupun negara.

Jadi dalam menangani permasalahan tindak pidana korupsi penyidik dapat

menetapkan tersangka dan definisi tentang tersangka sangat jelas diatur dalam

ketentuan Pasal 1 angka 14 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana

(selanjutnya disebut KUHAP) yang menyebutkan bahwa:

“Tersangka adalah seorang yang karena perbuatannya atau keadaannya,


6
berdasarkan bukti permulaan patut diduga sebagai pelaku tindak pidana.”

Selanjutnya definisi tersangka dengan rumusan yang sama diatur pula dalam

ketentuan Pasal 1 angka 10 Peraturan Kapolri Nomor 14 Tahun 2012 tentang

Manajemen Penyidikan Tindak Pidana (Perkap No. 14 Tahun 2012).

Bukti Permulaan tidak secara spesifik diatur di dalam KUHAP, definisi itu

justru diatur dalam Pasal 1 angka 21 Perkap No. 14 Tahun 2012 sebagai

berikut:

“Bukti Permulaan adalah alat bukti berupa Laporan Polisi dan 1 (satu) alat

bukti yang sah, yang digunakan untuk menduga bahwa seseorang telah
melakukan tindak pidana sebagai dasar untuk dapat dilakukan

penangkapan.”

Jadi, berdasarkan laporan polisi dan satu alat bukti yang sah maka

seseorang dapat ditetapkan sebagai tersangka serta dapat dilakukan

penangkapan. KUHAP memang tidak menjelaskan lebih lanjut tentang definisi

‘bukti permulaan’, namun KUHAP secara jelas mengatur tentang alat bukti

yang sah di dalam ketentuan Pasal 184 KUHAP ayat (1) Alat bukti yang sah

ialah :

1. keterangan saksi;
2. keterangan ahli;
3. surat;
4. petunjuk;
5. keterangan terdakwa.

Permasalahannya dalam menetapkan tersangka tindak pidana korupsi

tidaklah mudah karena berkaitan dengan penguasa dan pemegang kekuasaan

karena pada dasarnya pelaku korupsi merupakan orang-orang yang

berpendidikan dan yang memiliki jabatan. Dengan demikian dengan mudah

pelaku korupsi dapat mengerahkan massa, membentuk opini, dan menyuap

penegak hukum melalui kekuasaan dan uang. Masalah korupsi telah

melibatkan para pemegang kekuasaan atau kekuatan, baik pemegang

kekuasaan politik, pemegang kekuasaan atau kekuatan ekonomi, pemegang

kekuasaan administrasi pemerintahan. Ditinjau dari kualitas pribadi para

pemegang kekuasaan atau kekuatan tersebut menunjukkan bahwa para pelaku

korupsi adalah mereka yang mempunyai intelektual tinggi. Sebagai pribadi

yang memiliki intelektual, pada umumnya mereka juga mengetahui bagaimana


7

cara-cara menghindar dari jerat hukum, mereka semua mencari celah-celah

hukum untuk melepas diri dari tuntutan hukum. Oleh karena itulah pada

umumnya tindak pidana korupsi dilakukan dengan modus operasi yang rapi,

tertutup dan sangat kompleks sehingga sulit diungkap.7

Jika kita melihat dari dinamika permasalahan tentang

dipraperadilankannya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) oleh Lembaga

Pengawasan dan Pengawalan Penegakan Hukum Indonesia (LPPPI) dan Polri,

pasca penetapan Komjen Budi Gunawan sebagai tersangka tindak pidana

gratifikasi oleh KPK, dalam sidang praperadilan ini hakim memutuskan bahwa

penetapan status tersangka oleh KPK kepada Budi Gunawan (BG) tidak sah

oleh termohon dalam hal ini adalah KPK dan tidak memiliki status hukum

mengikat. Padahal dalam Pasal 77 KUHAP yang berbunyi :

Pengadilan negeri berwenang untuk memeriksa dan memutus, sesuai


dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang ini tentang :
a. sah atau tidaknya penangkapan, penahanan, penghentian penyidikan atau
penghentian penuntutan;
b. ganti kerugian dan atau rehabilitasi bagi seorang yang perkara pidananya 8
dihentikan pada tingkat penyidikan atau penuntutan.

Berdasarkan ketentuan dalam Pasal 77 huruf (a) KUHAP mengatur

kewenangan praperadilan hanya sebatas pada sah atau tidaknya penangkapan,

penahanan, penghentian penyidikan atau penuntutan, tidak ada mengatur

penetapan tersangka. Tetapi dalam putusan sidang praperadilan Budi Gunawan,

hakim memutuskan bahwa status yang disangkakan oleh KPK terhadap BG

tidak benar dan mengabulkan tuntutan pemohon terhadap termohon.

7
Ramelan, Penerapan Konsep dan Pengertian Turut Serta (Medeplegen) dalam Perkara
Tindak Pidana Korupsi, Tesis. Program Pasca Sarjana Universitas Padjajaran Bandung, 2002, hal.
3.
Pertimbangan yang di lakukan oleh Hakim Sarpin Rizaldi yang

digunakan dalam mengabulkan tuntutan yang di layangkan oleh kubu BG yang

menyatakan bahwa penetapan status tersangka oleh KPK terhadap BG adalah

tidak sah dan tidak memiliki kekuatan hukum mengikat, 8 karena Hakim di

samping menjalankan hukum juga memiliki kewenangan menemukan hukum

dalam hal ini di sebut yurisprudensi.

Berawal dari Polemik penetapan tersangka sebagai salah satu objek

praperadilan akhirnya terjawab lewat putusan Mahkamah Konstitusi (MK)

bernomor 21/PUU-XII/2014. MK mengabulkan sebagian permohonan

terpidana korupsi kasus proyek biomediasi PT Chevron Bachtiar Abdul Fatah

yang salah satunya menguji ketentuan objek praperadilan yang menjadi

polemik terutama pasca putusan praperadilan PN Jakarta Selatan yang

membatalkan status tersangka Komjen (Pol) Budi Gunawan (BG) oleh KPK.

Dalam putusannya, Mahkamah Konstitusi menyatakan inkonstitusional (tidak

berdasarkan konstitusi atau Undang-Undang Dasar) bersyarat terhadap frasa

“bukti permulaan”, “bukti permulaan yang cukup”, dan “bukti yang cukup”

dalam Pasal 1 angka 14, Pasal 17, dan Pasal 21 ayat (1) KUHAP sepanjang

dimaknai minimal dua alat bukti sesuai Pasal 184 KUHAP. Pasal 77 huruf a

KUHAP dinyatakan inkontitusional bersyarat sepanjang dimaknai termasuk

penetapan tersangka, penggeledahan, dan penyitaan.9


8
http://afriansyahyusuf.blogspot.com/2015/02/tinjauan-yuridis-putusan-pra-peradilan.html,
Tinjauan Yuridis Putusan Pra Peradilan Penetapan Status Tersangka Calon Kapolri Komjen Pol
Budi Gunawan Oleh KPK Berdasarkan UU No.30 Tahun 2002 Tentang KPK diakses pada 20 Juni
2015.
9
http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt553f5575acd85/mk-rombak-bukti-permulaan-
dan-objek-praperadilan, MK ‘Rombak’ Bukti Permulaan dan Objek Praperadilan, diakses 21 Juni
2015
9

Mahkamah beralasan KUHAP tidak memberi penjelasan mengenai batasan

jumlah (alat bukti) dari frasa “bukti permulaan”, “bukti permulaan yang

cukup”, dan “bukti yang cukup”. Berbeda dengan Pasal 44 ayat (2) UU No. 30

Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang

mengatur secara jelas batasan jumlah alat bukti, yakni minimal dua alat bukti.10

“Frasa ‘bukti permulaan’, ‘bukti permulaan yang cukup’, dan ‘bukti yang

cukup’ dalam Pasal 1 angka 14, Pasal 17, dan Pasal 21 ayat (1) KUHAP harus

ditafsirkan sekurang-kurangnya dua alat bukti sesuai Pasal 184 KUHAP

disertai pemeriksaan calon tersangkanya, kecuali tindak pidana yang penetapan

tersangkanya dimungkinkan dilakukan tanpa kehadirannya (in absentia),” ujar

Hakim Konstitusi Wahiduddin Adam saat membacakan pertimbangan.11

Mahkamah menganggap syarat minimum dua alat bukti dan pemeriksaan

calon tersangka untuk transparansi dan perlindungan hak asasi seseorang agar

sebelum seseorang ditetapkan sebagai tersangka telah dapat memberi

keterangan secara seimbang. Hal ini menghindari adanya tindakan sewenang-


10
wenang oleh penyidik terutama dalam menentukan bukti permulaan yang

cukup itu. Sementara dalam pranata praperadilan, meski dibatasi secara

limitatif dalam Pasal 1 angka 10 jo Pasal 77 huruf a KUHAP yang berbunyi :

Pasal 1 angka 10 KUHAP :


praperadilan adalah wewenang pengadilan negri untuk memeriksa dan
memutuskan menurut cara yang diatur dalam Undang-Undang ini tentang:
a. sah atau tidaknya suatu penangkapan dan atau penahanan atas
permintaan tersangka atau keluarga atau pihak lain atas kuasa
tersangka;
b. sah atau tidaknya penghentiaan penyidikan atau penghentian
penuntutan atas permintaan demi tegaknya hukum dan keadilan;
10
Ibid.
11
Ibid.
c. permintaan ganti kerugian atau rehabilitasi oleh tersangka atau
keluarganya atau pihak lain atas kuasanya yang perkaranya tidak
diajukan ke pengadilan.

Pasal 77 huruf a KUHAP :


Pengadilan Negri berwenang untuk memeriksa dan memutus, sesuai
dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang ini tentang :
a. sah atau tidaknya penangkapan, penahanan, penghentian
penyidikan atau penghentian penuntutan.

Setelah putusan MK yang menyatakan penetapan tersangka masuk juga dalam

salah satu objek praperadilan.

Namun, penetapan tersangka adalah bagian dari proses penyidikan yang

terbuka kemungkinan terdapat tindakan sewenang-wenang oleh penyidik yang

termasuk perampasan hak asasi seseorang. Memang Pasal 1 angka 2 KUHAP

kalau diterapkan secara benar tidak diperlukan pranata praperadilan. Namun,

bagaimana kalau ada yang salah dalam menetapkan seseorang menjadi

tersangka? “Sehingga sudah seharusnya penetapan tersangka menjadi bagian

dari proses penyidikan yang dapat dimintakan perlindungan melalui pranata


11
praperadilan,” menurut Hakim Konstitusi Anwar Usman.12

Dari putusan itu dapat mengingatkan penyidik agar sangat berhati-hati

dalam menetapkan orang sebagai tersangka. Karena seperti diketahui, selama

ini penetapan status tersangka yang diberikan oleh penyidik kepada seseorang

dilekatkan tanpa batas waktu yang jelas. Akibatnya, orang tersebut secara

terpaksa menerima statusnya tanpa memiliki kesempatan untuk menguji

keabsahan penetapan itu.

Mengungkap dan membuktikan terjadinya korupsi oleh karenanya tidaklah

mudah, kecerdikan pelaku merupakan salah satu sebab mengapa tindak korupsi
12
Ibid.
baru dapat terungkap setelah berlangsung dalam tenggang waktu yang lama.

Tindak pidana korupsi pada umumnya melibatkan sekelompok orang yang

saling menikmati keuntungan dari tindak pidana itu. Kekhawatiran akan

keterlibatannya sebagai tersangka, maka di antara mereka sekelompok orang

tersebut akan saling menutupi. Demikian juga dengan rasa solidaritas

kelompok, kebanggaan korps yang menimbulkan rasa malu bila kelompok atau

institusinya dilanda korupsi, membuat mereka anggota kelompok sekalipun

tidak terlibat, senantiasa akan berupaya menutupi atau membela temannya

yang dituduh korupsi, secara sadar atau tidak sadar, tindak pidana korupsi

dilakukan secarsa terdramatisir dalam lingkungan kerjanya.13

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas, penulis tertarik untuk


menyusun Skripsi dengan judul “TINJAUAN YURIDIS
PENETAPANTERSANGKA DALAM TINDAK PIDANA KORUPSI”.

12

B. Perumusan dan Pembatasan Masalah

Berdasarkan uraian dan latar belakang masalah yang telah diuraikan,

maka permasalahan yang ingin diteliti dan dianalisis dalam skripsi ini adalah :

1. Bagaimanakah penetapan tersangka dalam tindak pidana korupsi ?

2. Bagaimanakah upaya hukum dalam penetapan tersangka dalam tindak

pidana korupsi ?

Dalam rangka penulisan skripsi ini permasalahan dibatasi hanya pada

penetapan tersangka dalam tindak pidana korupsi.

13
Ramelan, Op.cit.
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Adapun yang menjadi tujuan penelitian dalam penulisan skripsi ini adalah:

1. Untuk mengetahui bagaimana penetapan tersangka dalam tindak pidana

korupsi.

2. Untuk mengetahui bagaimana upaya hukum yang dilakukan dalam

penetapan tersangka dalam tindak pidana korupsi.

Sedangkan yang menjadi kegunaan penelitian dari penulisan skripsi ini adalah :

1. Secara teoritis, penulisan skripsi ini diharapkan berguna bagi kemajuan

pendidikan ilmu hukum sebagai sumbangan pemikiran dalam

pengembangan ilmu pengetahuan dan pembangunan hukum nasional

khususnya bidang hukum pidana.

2. Secara praktis, penelitian ini dasarnya dapat memberikan masukan-

masukan yang bermanfaat bagi aparat penegakan hukum, serta pihak yang

berkompeten dibidang hukum pada umumnya dan bidang hukum pidana


13
pada khususnya bagi yang berhubungan dengan penanganan tindak pidana

korupsi. Dan juga sebagai sarana untuk memperluas wawasan bagi para

pembaca mengenai tindak pidana korupsi, serta untuk mengkaji dan

meninjau secara yuridis tentang penetapan tersangka dalam tindak pidana

korupsi.

3. Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar

Sarjana Hukum.

D. Metode dan Teknik Penelitian


Dalam upaya pengumpulan data bahan hukum dalam penulisan skripsi

digunakan metode dan sistematis penelitian hukum.

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan yaitu penelitian hukum dengan judul

(topik) yang menjadi objek kajian “Penetapan Tersangka Dalam Tindak

Pidana Korupsi” kemudian dirumuskan masalahnya dengan cermat dan

akurat agar isu hukumnya dapat dipahami dengan baik oleh peneliti,

dengan memberikan argumentasi hukum sebagai alternatif jawaban dari

pokok permasalahan yang menjadi isu hukumnya.


14
2. Metode Pendekatan

Metode pendekatan yang sering digunakan yaitu metode yuridis normatif :

penelitian yang menekankan pada bahan hukum yakni dengan mempelajari

dan mengkaji asas-asas hukum, selanjutnya kaidah-kaidah hukum dalam

peraturan perundang-undangan serta ketentuan-ketentuan yang berkaitan

dengan bidang hukum pidana/korupsi secara umum dan tentang

kewenangan penyidik dalam penetapan tersangka tindak pidana korupsi

secara khusus.

3. Tahap Penelitian

Dalam Penelitian ini dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :

a. Penelitian Kepustakaan ( library research )

Penelitian dengan melakukan study terhadap bahan pustaka baik dengan

bersifat primer maupun sekundertentunya dengan mengutamakan

bahan-bahan dari buku-buku literatur, peraturan perundang-undangan,


makalah, artikel dan ketentuan-ketentuan tulisan lainnya yang

mempunyai relevansi dengan masalah yang teliti,dari study kepustakaan

ini diperoleh bahan hukum dalam penelitian yang terdiri dari :

1) Bahan Hukum Primer antara lain :

a) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

b) Undang-Undang No 8 Tahun 1981 Tentang Kitab Undang-

Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP)

c) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1991

tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

d) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1991

tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

e) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian


15
Negara Republik Indonesia.

f) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi

Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

g) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2004

Tentang Kejaksaan Republik Indonesia.

h) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHPidana).

2) Bahan hukum sekunder, antara lain berupa tulisan-tulisan ilmiah

hukum dari buku literatur hukum, rancangan Undang-Undang dan

hasil penelitian yang ada hubungannya dengan substansi materi

penelitian
3) Bahan Hukum Tersier, antara lain berupa bahan-bahan yang bersifat

menunjang bahan hukum primer dan sekunder seperti Kamus Bahasa

Indonesia, Kamus Hukum, artikel-artikel pada surat kabar dan

majalah/media online (Website).

b. Penelitian Lapangan

Penelitian lapangan dilakukan guna mendapatkan data primer sebagai

input utama data pendukung dalam melakukanpenelitian analisis hukum

terhadap hasil penelitian. Penelitian lapangan yang diperlukan untuk

mendapatkan data langsung dari responden tentang Penetapan

Tersangka Dalam Tindak Pidana Korupsi. Dalam penelitian lapangan

ini mengambil respondennya di Direktorat Reserse Kriminal Khusus

(Ditreskrimsus) Polda Kalteng dan di Kejaksaan Tinggi (Kejati)

Provinsi Kalimantan Tengah.


16

4. Teknik Yang Digunakan Dalam Penelitian

a. Study kepustakaan dengan mempelajari ketentuan-ketentuan

perundang-undangan yang berkaitan dengan substansi materi penelitian

Skripsi.

b. Observasi, observasi langsung merupakan teknik penelitian

denganmengamati situasi dan atau fenomena yan sebenarnya terjadi

dalam kehidupan sosial di masyarakat tentunya disesuaikan dengan

substansi materi permasalahan atau isu hukum dalam bidang penelitian

hukum.
c. Wawancara, yaitu penelitian melakukan wawancara dengan sistem

bebas terpimpin dimana penulis tidak terkait dengan teks pertanyaan

dengan responden dalam hal ini pejabat dari instansi terkait sebagai

sumber informasi.

5. Analisis Data

Data sekunder dan data primer sebagaimana dalam penelitian yang

sifatnya deskriptif analitis dengan pendekatan yuridis normatif maka

analisis data dilakukan secara kualitatif, artinya data yang telah diperoleh

disusun secara sistematis dan lengkap dan kemudian dianalisis secara

kualitatif sehingga tidak menggunakan rumus statistik.

6. Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan di wilayah Kota Palangka Raya Provinsi Kalteng.

17

E. Sistematika Penulisan

Dalam penulisan skripsi ini penulisan akan di bagi dalam empat Bab

sebagai berikut :

Bab I : Pendahuluan yang terdiri atas Latar Belakang Masalah, Perumusan

dan Pembatasan Masalah, Tujuan dan Kegunaan Penelitian,

Metode dan Teknik Penelitian, serta Sistematika Penulisan.

Bab II : Merupakan Landasan Teori Dan Faktual Tentang Tinjauan Yuridis

Penetapan Tersangka Dalam Tindak Pidana Korupsi, dan sebagai

substansi pembahasannya adalah aspek hukum pidana secara


umum, pengertian dan dasar hukum tindak pidana korupsi, dan

kewenangan penyelidikan dan penyidikan dalam tindak pidana

korupsi.

Bab III : Pada bab ini sebagai pokok bahasannya adalah Tentang Tinjauan

Yuridis Penetapan Tersangka Dalam Tindak Pidana Korupsi, dan

permasalahan yang diangkat adalah penetapan tersangka dalam

tindak pidana korupsi, serta upaya hukum dalam penetapan

tersangka dalam tindak pidana korupsi.


18
Bab IV : Penutup

Pada bab ini penulis mencoba mensarikan hal-hal yang telah

dideskripsikan dalam bentuk yang berisi Kesimpulan dan

dilengkapi Saran-saran sebagai masukan positif penebagi pihak-

pihak maupun institusi aparat penegak hukum terkait dalam

penetapan tersangaka tindak pidana korupsi dengan

mengakomodasi kepentingan rakyat atau masyarakat, mengingat

kerugian negara yang ditimbulkan dari korupsi adalah uang rakyat.


BAB II

LANDASAN TEORITIS DAN FAKTUAL TENTANG TINDAK PIDANA

KORUPSI

A. Aspek Hukum Pidana Secara Umum.

Hukum pidana yang berlaku di Indonesia sekarang ini ialah hukum pidana

yang telah dikodifikasi, yaitu sebagian terbesar dan aturan-aturannya telah

disusun dalam satu kitab Undang-Undang (Wetbook), yang diamakan kitab

Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), menurut suatu sistem yang tertentu.


Hukum adalah kumpulan peraturan-peraturan yang harus ditaati oleh semua

orang di dalam suatu masyarakat dengan ancaman harus mengganti kerugian

atau mendapat hukuman jika melanggar atau mengabaikan peraturan-peraturan

itu, sehingga dapat tercapai suatu pergaulan hidup dalam masyarakat itu yang

tertib dan adil. (R.soesilo)

Hukum Pidana, termasuk hukum publik karena menyangkut hubungan

indivudu dengan Negara atau pemerintah yang diwakilkan kepada pegawai


20
penuntut umum (Jaksa) beserta alat-alatnya (pegawai Polisi).

Hukum pidana mengandung aspek hukum pidana yang disebut hukum

pidana materiil yang dapat juga disebut dengan hukum pidana abstrak, dapat

juga disebut hukum pidana dalam keadaan diam, yang sumber utamanya

adalah Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Sedangkan aspek

lainnya berisi dengan hukum pidana formil atau juga disebut hukum pidana

kongkrit atau hukum pidana dalam keadaan bergerak, yang juga sering disebut

dengan hukum acara pidana, yang sumber pokoknya adalah Kitab Undang-

Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP yakni UU NO 8 Tahun 1981).


19
Menurut sifatnya, hukum itu dapat dibedakan antara hukum materil dan

hukum formil :

1. Hukum Materil adalah hukum kumpulan dari norma-norma hukum yang

mengatur kepentingan-kepentingan perorangan (hukum perdata materil)

dari pada warga Negara dan norma-norma yang menentukan hal-hal yang

dapat dihukum dan hukuman apa yang dapat dipatuhkan (hukuman pidana

materil).
2. Hukum Formil adalah kumpulan peraturan-peraturan yang mengatur acara

yang dipergunakan untuk menyelenggarakan hukum perdata materil atau

kumpulan peraturan yang mengatur acara hukum pidana formil.


Hukum Pidana/Tindak Pidana yaitu sesuatu perbuatan yang dilarang atau

diwajibkan oleh Undang-Undang yang apabila dilakukan atau diabaikan, maka

orang yang melakukan atau mengabaikan itu diancam dengan hukuman

(R.Susilo)

Adapun kumpulan dari seluruh tindak pidana inilah disebut hukum pidana,

yaitu hukum pidana yang meteril juga

termuat dalam KUHP dan diluar KUHP yang diuraikan dalam rumusan aspek

hukum pidana sebagai berikut :

1. Rumusan Pertama 21
a. Aturan Umum Hukum Pidana
Aturan umum hukum pidana dimuat dalam Buku I KUHP, yang berupa

aturan-aturan dasar yang bersifat berlaku umum dalam hal dan yang

berhubungan dengan larangan perbuatan-perbuatan tertentu baik tindak

pidana dalam Buku II (kejahatan) dan Buku III KUHP (pelanggaran),

maupun tindak pidana yang diluar kuhp.


Hubungan antara aturan umum hukum pidana (Buku I) dengan

perbuatan-perbuatan yang dilarang (Buku II dan Buku III KUHP),

dapat digambarkan digambarkan secara singkat pada contoh sebagai

berikut. Ketentuan Bab I Buku I adalah berupa batasan berlakunya

ketentuan hukum pidana perihal larangan-larangan melakukan

perbuatan yang disertai ancaman pidana bagi si pelanggarnya

(terutama) sebagaimana yang dimuat dalam Buku II dan Buku III


KUHP. Demikian juga aturan umum pada Bab IV mengenai percobaan

(poging) atau aturan umum dalam Bab V mengenai penyertaan

(deelneming) adalah berupa aturan umum hukum pidana yang menjadi

dasar untuk dapat dipidanannya percobaan dan penyertaan dalam hal

larangan berbuat yang disertai ancaman pidana (disebut tindak pidana)

yang diatur dalam Buku II dan Buku III.


b. aspek Larangan Berbuat Yang Disertai Ancaman Pidana
Aspek larangan berbuat yang disertai ancaman pidana dalam artian

sering disebut dengan tindak pidana atau perbuatan pidana (berasal dari

kata strafbaar feit), yang juga sering disebut delik (berasal dari kata
22
delict). Tindak pidana adalah berupa rumusan tentang perbuatan yang

dilarang untuk dilakukan (dalam peraturan perundang-undangan) yang

disertai ancaman pidana bagi siapa saja yang melanggar larangan

tersebut. Jadi perbuatan (feit) disini adalah unsur pokok suatu unsur

pidana yang dirumuskan tersebut.


Hal perbuatan-perbuatan yang ditentukan sebagai dilarang, pada

garis besarnya ada 2 (dua) golongan , ialah :


1) berupa perbuatan-perbuatan aktif/perbuatan positif yang sering juga

disebut dengan perbuatan materiil (matriele feit), dan berupa


2) perbuatan perbuatan pasif/perbuatan negatif.14
2. Rumusan Kedua
Apabila dua aspek sebelumnya telah dipenuhi secara sempurna

dengan lengkap dalam KUHP dan KUHAP, tidak demikian dengan aspek

hukum pidana yang berupa aspek kesalahan (scruld) dan

pertanggungjawaban pidana (toerekeningsvadbaarheid). Pada rumusan

sebelumnya disertai ancaman pidana bagi sapa yang melanggarnya, yang


14
Adami Chazawi, 2002, Pelajaran Hukum Pidana 1, Cet. 1, Jakarta, PT. RajaGrafindo
Persada, hal. 5
dalam aspek ini tidak dihubungkan dengan adanya si pembuat dengan

dipidanannya si pembuat tersebut. Bagi si pembuat/petindak tersebut

apakah dia benar dapat dijatuhi pidana ataukah tidak, masih bergantung

dari apakah perbuatan yang nyata melanggar larangan itu dapat

dipersalahkan ataukah tidak kepadanya, artinya apakah dia mempunyai

kesalahan ataukah tidak. Jika dia tidak dapat dipersalahkan maka terhadap
23
perbuatannya yang nyata melanggar larangan itu tidak dapat

dipertanggungjawabkan kepadanya, artinya pidana tidak boleh dijatuhkan

padanya.
Dalam doktrin hukum pidana terdapat suatu asas mengenai hal ini

yang dikenal dengan asas geen straf sonder schuld (Belanda) atau keine

straf ohne schuld (Jerman) yang di Indonesia dikenal asas tiada pidana

tanpa kesalahan, artinya untuk dapatnya dipidana pada seseorang yang

perbuatannya nyata melangar larangan hukum pidana, disyaratkan bahwa

perbuatannya itu dapat dipersalahkan padanya, ialah sipembuat itu

mempunyai kesalahan.
3. Rumusan Ketiga
Hukum pidana yang mengandung aspek pertama dan kedua (hukum

pidana materiil) tidak ada faedahnya (manfaatnya) dalam mencapai tujuan

hukum pidana yakni ketertiban umum, apabila tidak dilaksanakan. Untuk

dapat dilaksanakan hukum pidana, haruslah diatur dan melalui hukum

pidana pula. Hukum pidana yang berfungsi sebagai dasar-dasar untuk

melaksanakan hukum pidana materill adalah berupa hukum pidana dalam

arti ketiga.
Hukum pidana merupakan hukum publik yaitu hukum yang mengatur

kepentingan umum, yakni mengatur hubungan hukum antara orang dengan

negara, antar badan atau lembaga negara satu sama lain dengan menitik

beratkan kepada kepentingan mesyarakat dengan negara. Hukum publik terdiri

atas hukum pidana umum dan hukum pidana khusus. Ketentuan pidana umum
24
diatur dalam KUHP, sedang pidana khusus antara lain diatur dalam Kitab

Undang-undang Khusus seperti UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan

Tindak Pidana Korupsi dan UU No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU

No. 31 Tahun 1999tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Menurut wujud dan sifatnya, tindak pidana adalah perbuatan-perbuatan

melawan hukum yang juga merugikan masyarakat, dalam arti bertentangan

dengan atau menghambat akan terlaksanannya tata pergaulan dalam

masyarakat yang dianggap baik dan adil. Tindak pidana khusus adalah tindak

pidana tertentu yang karena sifatnya, tidak dikelompokkan dalam tindak pidana

umum. Jenis perbuatan pidana yang termasuk tindak pidan khusus, hukum

acara (sebagian) dan sanksi pidana diatur sendiri. Undang-undang yang bersifat

khusus, mengenyampingkan undang-undang yang bersifat umum. Pengertian

tindak pidana khusus terdapat dalam Ketentuan Peralihan pasal 284 ayat (2)

KUHAP, yaitu :

“dalam waktu dua tahun setelah UU ini diundangkan, maka terhadap

semua perkara diberlakukan UU ini, dengan pengecualian untuk sementara

mengenai ketentuan khusus acara pidana sebagaimana tersebut pada UU

tertentu, sampai ada perubahan dan atau dinyatakan tidak berlaku lagi”.
Selanjutnya dalam penjelasan pasal tersebut diuraikan bahwa yang dimaksud

dengan “ketentuan khusus acara pidana sebagaimana tersebut dalam UU

tertentu” adalah ketentuan khusus acara pidana sebagaimana tersebut salah

satunya antara lain : Undang-Undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana


25
Korupsi (UU No.31 tahun 1999 Jo. UU No. 20 Tahun 2001)

Dengan catatan bahwa semua ketentuan khusus acara pidana sebagaimana

tersebut pada Undang-Undang tertentu akan ditinjau kembali, diubah atau

dicabut dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Sehubungan dengan

pembahasan hukum perundang-undangan di atas, kita perlu memperhatikan

asas-asas perundang-undangan. Antara lain :

1. Undang-Undang tidak berlaku surut.

2. Undang-Undang yang dibuat oleh penguasa lebih tinggi, mempunyai

kedudukan yang lebih tinggi pula.

3. Undang-Undang yang bersifat khusus, mengesampingkan Undang-

Undang yang bersifat umum.

4. Undang-Undang yang berlaku belakangan, membatalkan Undang-

Undang yang berlaku terdahulu.

B. Pengertian Dan Dasar Hukum Tindak Pidana Korupsi

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, pengertian korupsi berarti

perbuatan buruk seperti penggelapan uang penerimaan uang dan sebagainya.

Istilah korupsi berasal dari kata latin corruptio atau corruptus yang berarti

menyuap. Dan selanjutnya dikatakan bahwa corruptio itu berasal dari kata asal

corummpere yang berarti merusak.15Dari bahasa Latin itulah turun ke bayak


15
Fockema Andreae, Kamus Hukum, (Bandung: Bina Cipta: 1983).
bahasa Eropa, seperti Inggris : corruption, corrupt; Prancis : corruption, dan

Belanda : corruptie atau korruptie,dapat diduga istilah korupsi berasal dari


26
bahasa belanda. Ini yang kemudian diadopsi kedalam bahasa Indonesia

‘‘korupsi”.16Dalam The Lexion Webster Dictionary kata korupsi berarti :

kebusukan, keburukan, kebejatan, ketidakjujuran, dapat disuap, tidak bermoral,

penyimpangan dari kesucian, kata-kata atau ucapan yang menghina atau

memfitnah.

Korupsi merupakan salah satu bentuk dari kejahatan yang digolongkan

kedalam extraordinary crime. Hal ini dikarenakan tindak pidana korupsi di

Indonesia sudah sangat meluas, perkembangannya terus meningkat dari tahun

ke tahun, baik jumlah kasus, kerugian keuangan negara maupun modus

operandinya, dilakukan secara sistematis dan lingkupnya sudah merambah

keseluruh sendi kehidupan masyrakat, tidak hanya merugikan keuangan

negara dan perekonomian negara, tetapi juga pelanggaran terhadap hak-hak

sosial dan ekonomi masyarakat secara luas, sehingga digolongkan sebagai

extraordinary crime.17Dengan digolongkannya korupsi sebagai extraordinary

crime, maka pemberantasannya juga harus dilakukan dengan cara yang luar

biasa pula dengan menggunakan extraordinary instrument.18

Tindak pidana korupsi merupakan delik khusus yang diatur secara

tersendiri diluar Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHPidana). Di

16
HA Rasyid Noor, Korupsi dan Pemberantasannya di Indonesia, Varia Peradilan No.278
Januari 2009, hal. 28.
17
Basrief arif, 2006. Korupsi dan Upaya Penegakan Hukum. Jakarta: Adika Remaja
Indonesia, hal. 35
18
Elwi Danil, 2002, Ketidak Berdayaan Hukum Dalam Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi. Makalah: Lokakarya Regional Anti KKN Wilayah Sumatra : Fakultas Hukum Universitas
Andalas, hal.11.
dalam proses penangananan kasus korupsi berlaku prinsip yang diutamakan
27
atau didahulukan proses penyelesaiannya.

Hal tersebut sesuai dengan Pasal 25 Undang-Undang Republik Indonesia

Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31

Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, yang menyatakan

bahwa penyidikan, penuntutan, pemeriksaan, di sidang pengadilan dalam

perkara korupsi didahulukan dari perkara lain guna penyelesaian secepatnya.

Korupsi adalah penyelewengan tugas dan penggelapan uang negara atau

perusahaan untuk keuntungan pribadi maupun orang lain. Korupsi senantiasa

melibatkan lebih dari satu orang. Setiap tindakan korupsi mengandung

penipuan dan biasa terjadi pada badan publik atau masyarakat umum.

Penyebab adanya tindakan korupsi berasal dari aspek individu, organisasi, dan

peraturan yang ada. Dampak dari tindakan korupsi dapat merusak

perekonomian negara, demokrasi dan kesejahteraan umum.

Lahirnya Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah

dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas

Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana

Korupsi dengan adanya ancaman pidana minimum khusus, pidana denda yang

lebih tinggi, dan ancaman pidana mati yang merupakan pemberatan pidana,

pemberian ancaman pidana minimal khusus dalam Undang-Undang

Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU PTPK) adalah untuk memberikan

efek jera kepada koruptor dan mencegah potensi terjadinya korupsi.


Secara yuridis formal, pengertian Tindak Pidana Korupsi terdapat dalam

Bab II tentang Tindak Pidana Korupsi dari Pasal 2 sampai dengan Pasal 20,
28
Bab III tentang Tindak Pidana lain yang berkaitan dengan Tindak Pidana

Korupsi dari Pasal 21 sampai dengan Pasal 24 Undang-Undang Pemberantasan

Tindak Pidana Korupsi (UU PTPK).

Ketentuan Pasal 2 ayat (1) UU PTPK menyatakan tindak pidana korupsi

adalah:

Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan


memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat
merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana penjara
dengan penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat)
tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling sedikit Rp.
200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp.
1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah).

Dari ketentuan Pasal 2 ayat (1) UU PTPK tersebut diatas tersebut diatas,

maka rumusan tindak pidana korupsi adalah:

1. ‘‘Setiap orang” itu menunjuk pada subjek hukum pidana. Menutrut

ketentuan Pasal 1 angka 3 UU PTPK yang dimaksud dengan setiap orang

adalah orang perseorangan atau termasuk korporasi.

2. Unsur-unsur tindak pidana korupsi yang dirumuskan pada Pasal 2 ayat (1)

UU PTPK adalah:

a) Secara melawan hukum;

b) Melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau

suatu korporasi;

c) Yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.


Penjelasan umum UU PTPK menyatakan bahwa agar dapat menjangkau

berbagai modus operandi penyimpangan keuangan negara atau perekonomian

negara yang semakin canggih dan rumit, maka tindak pidana yang diatur dalam
29
undang-undang ini dirumuskan sedemikian rupa sehingga meliputi perbuatan-

perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau secara korporasi secara

‘‘melawan hukum” dalam pengertian formil dan materil. Dengan perumusan

tersebut, pengertian melawan hukum dalam tindak pidana korupsi dapat pula

mencangkup perbuatan-perbuatan tercela yang menurut perasaan keadilan

masyarakat harus dituntut dan dipidana.

Rumusan mengenai unsur “melawan hukum” penjabarannya lebih lanjut

terdapat dalam penjelasan Pasal 2 ayat (1) UU PTPK yang menentukan bahwa

yang dimaksud dengan “secara melawan hukum” dalam pasal ini mencangkup

perbuatan melawan hukum dalam arti formil maupun materil, yakni meskipun

perbuatan tersebut tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan namun

apabila perbuatan tersebut dianggap tercela karena tidak sesuai rasa keadilan

atau norma-norma kehidupan sosial dalam masyarakat, maka perbuatan

tersebut dapat dipidana.

C. Kewenangan Penyelidikan Dan Penyidikan Dalam Tindak Pidana

Korupsi

Di dalam pasal 1 KUHAP menyatakan bahwa penyidik adalah pejabat

polisi negara republik Indonesia atau pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang

diberkan wewenang khusus oleh Undang-Undang untuk melakukan


penyidikan.19 Mengenai penyidik pegawai negeri sipil atau dapat disingkat

PPNS adalah pejabat negeri sipil tertentu yang berdasarkan Undang-Undang


30
ditujukan selaku penyidik dan mempunyai wewenang untuk melakukan

penyidikan tindak pidana dalam lingkup Undang-Undang yang menjadi dasar

hukumnya masing-masing.20

Penyidikan tindak pidana menurut Pasal 1 angka 2 KUHAP dinyatakan

bahwa yang dimaksudkan dengan penyidikan adalah serangkaian tindakan

penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam Undang-Undang untuk

mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang

tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya.21

Penyelidikan adalah serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan

menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna

menentukan dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan menurut cara yang

diatur dalam Undang-Undang.

Dalam penyelenggaraan Negara telah terjadi praktek–praktek usaha yang

lebih menguntungkan sekelompok orang tertentu yang menyuburkan korupsi

kolusi dan nepotisme, yang melibatkan para pejabat Negara dengan para

pengusaha sehingga merusak sendi–sendi penyelenggara Negara dalam

berbagai aspek kehidupan nasional; Dalam rangka rehabilitasi seluruh aspek

kehidupan nasional yang berkeadilan, dibutuhkan penyelenggara Negara yang

dapat dipercaya melalui usaha pemeriksaan harta kekayaan para pejabat

19
Darwan Printis, Hukum Acara Pidana, Djambaitan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum
20
Joko Prakoso, 1987, Polri Sebagai Penyidik Dalam Penegakan Hukum, Jakarta, PT. Bina
Aksara.
21
Joko Prakoso, Penyidik Penuntut Umum , Hakim Dalam Proses Hukum Pidana, Jakarta,
Bina Askara.
Negara dan mantan pejabat Negara serta keluarganya yang diduga berasal dari

praktek korupsi, kolusi dan nepotisme, serta mampu membebaskan diri dari
31
praktek korupsi, kolusi dan nepotisme.

Penyelenggara Negara pada lembaga-lembaga eksekutif, legislative dan

yudikatif harus melaksanakan tugas dan fungsinya dengan baik dan

bertanggung jawab kepada masyarakat, bangsa dan Negara. Untuk

menjalankan fungsi dan tugasnya tersebut, penyelenggara Negara harus jujur,

adil, terbuka dan terpercaya serta mampu membebaskan diri dari praktek

korupsi, kolusi dan nepotisme.

Penanganan Korupsi oleh banyak kalangan dinilai tidak juga mengalami

peningkatan, sehingga keluarlah TAP MPR RI Nomor : VIII/MPR/2001

tentang Rekomendasi arah kebijakan pemberantasan dan Pencegahan Korupsi,

Kolusi dan Nepotisme. Tindak Pidana Korupsi digolongkan menjadi kejahatan

yang luar biasa atau extra ordinary crime sehingga untuk pemberantasannya

juga harus dilakukan dengan cara-cara yang luar biasa.

Berikut kewenangan-kewenangan yang dimiliki oleh institusi penegak

hukum khususnya dalam penyelidikan dan penyidikan tindak pidana korupsi :

1. Kewenangan Kepolisian Negara Republik Indonesia


a. Dasar hukum dari kewenangan yang dimiliki Polri adalah :
1) UU RI No. 8 / 1981 tentang KUHAP pasal 6 ayat (1) bahwa

penyidik adalah Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia. Dalam

pasal 2 juga disebutkan bahwa Penyidik melakukan penyidikan

terhadap tindak pidana, tidak ada istilah pidana umum maupun

khusus. Dengan demikian semua tindak pidana yang diatur dalam


KUHP maupun di luar KUHP Penyidik berwenang untuk
32
menanganinya.
2) UU RI No. 31 Tahun 1999 Tentang Tindak Pidana Korupsi Pasal 26
3) UU RI No. 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan atas UU RI No. 31

Tahun 1999 Pasal 26 Berbunyi Penyidikan terhadap tindak pidana

Korupsi dilakukan berdasarkan ketentuan dalam KUHAP


4) UU RI No. 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik

Indonesia berbunyi Penyelidikan dan penyidikan terhadap semua

tindak pidana dilakukan berdasarkan sesuai dengan KUHAP dan

peraturan perundang – undangan yang berlaku.


b. Dalam setiap proses Penyidikan, Penyidik selalu berpedoman pada Asas

yaitu :
1) Asas Pemerataan di muka umum/persamaan hak dalam hukum

(Equality before the Law) adalah Penyidik memperlakukan setiap

orang yang diduga terlibat dalam suatu tindak pidana tidak

diskriminatif (bersifat diskriminasi/membeda-bedakan) dimana

semua mempunyai hak yang sama


2) Asas praduga tak bersalah ( Presumption Of innocence ) adalah

semua orang yang ditangkap, diperiksa maupun ditahan tetap

dianggap belum bersalah sebelum adanya kekuatan hukum tetap/

putusan pengadilan atas dirinya.


c. Tugas dan tanggung jawab penyidik Polri telah diatur jelas dalam UU

RI No. 8 Tahun 1981 Tentang KUHAP dan UU RI No. 2 Tahun 2002

Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Pasal 4 sampai Pasal 9 KUHAP menguraikan tentang Penyidik adalah

Pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia yang mempunyai tugas

dan tanggung jawab melakukan Penyelidikan, Penyidikan sampai


penyerahan berkas perkara untuk semua tindak pidana yang terjadi

termasuk tindak pidana korupsi dan tatacara dalam melaksanakan tugas

dan tanggung jawab tersebut terurai dalam Pasal 102 sampai Pasal 136

KUHAP

Pada UU RI No 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik

Indonesia telah diuraikan juga mengenai tugas dan tanggungjawab

sebagai Penyidik (Pasal 1 sampai Pasal 8 serta Pasal 10), Pasal 14 huruf

g menyatakan dalam tugas dan tanggung jawab Penyidik berpedoman

pada KUHAP.

d. Kewenangan yang diberikan Negara kepada Polri dalam pelaksanakan

penyelidikan dan penyidikan tindak pidana korupsi tersebut diatur

dalam :
1) UU RI No 8 Tahun 1981 Tentang KUHAP, dijelaskan bahwa

Penyidik adalah Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia.

Penyidik menurut KUHAP berwenang melakukan Penyidikan tindak

pidana yang terjadi, dimana pasal 1 ayat (1),(2) tidak mengenal

istilah pidana umum atau pidana khusus, dengan demikian setiap

perbuatan yang melawan hukum dan diancam dengan pidana baik

yang ada di dalam maupun di luar KUHP, Penyidik dalam hal ini

Polisi berwenang melakukan penyidikan. Dengan demikian

kewenangan tersebut telah ada sejak diberlakukannya KUHAP.

2) Berdasarkan UU RI No. 20 Tahun 2001 (UU KORUPSI)

memberikan kewenangan seluas-luasnya kepada Penyidik Polri

untuk melakukan penyidikan Tindak Pidana Korupsi yang dijelaskan


dalam Undang-Undang ini secara rinci dan memuat ketentuan pidana

yaitu menentukan ancaman pidana minimum khusus, pidana denda

yang lebih tinggi dan diancam pidana khusus yang merupakan

pemberantasan tindak pidana korupsi.


Pasal 26 UU RI No.31 Tahun 1999 menjelaskan : Penyelidikan,

Penuntutan dan pemeriksaan di sidang pengadilan terhadap Tindak

Pidana Korupsi dilakukan berdasarkan hukum Acara Pidana yang

berlaku dan ditentukan lain dalam Undang–Undang ini dimana

kewenangan penyidik dalam pasal ini termasuk wewenang untuk

melakukan penyadapan.
3) Berdasarkan UU RI No.2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara

Republik Indonesia. Pasal 14 ayat (1) yaitu melakukan penyelidikan

dan penyidikan terhadap semua tindak pidana sesuai dengan hukum

acara pidana dan peraturan perundang-undangan lain.


Wewenang kepolisian dalam proses pidana diatur dalam pasal 16

UU RI No 2 Tahun 2002 sebagai berikut :


1) Melakukan penangkapan, penahanan, penggeledehan dan penyitaan;
2) Melarang setiap orang meninggalkan/memasuki TKP (tempat

kejadian perkara) untuk kepentingan penyidikan;


3) Membawa dan menghadapkan orang kepada penyidik dalam rangka

penyidikan;
4) Menyuruh berhenti orang yang dicurigai, menyakan serta memeriksa

tanda pengenal diri;


5) Melakukan pemeriksaan dan penyitaan diri;
6) Mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya

dengan pemeriksaan perkara;


7) Mengadakan penghentian penyidikan;
8) Menyerahkan berkas perkara kepada penuntut umum;
9) Mengajukan permintaan secara langsung kepada pejabat imigrasi

yang berwenang di tempat pemeriksaan imigrasi dan menangkap

orang yang disangka untuk melakukan tindak pidana;


10) Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggungjawab.
Dengan demikian kewenangan penyidik Polri dalam memberantas

tindak pidana korupsi sudah jelas dan terarah sehingga apa yang

diharapkan oleh pemerintah/masyarakat kepada aparat penegak hukum

dalam hal ini Polri dapat berjalan dengan baik.

Walaupun Polri telah diberikan kewenangan untuk melaksanakan

penyidikan tindak pidana korupsi berdasarkan KUHAP, tetapi masih

banyak kendala dan tantangan yang harus dihadapi, dimana setiap hasil

penyidikan (Berkas Perkara) yang telah dibuat oleh Penyidik Polri

tetapi oleh Kejaksaan selalu diambil alih untuk ditangani sendiri atau

penuntut Jaksa yang sulit untuk dipenuhi.

e. Di samping kewenangan Polri sebagai Penyidik dalam pemberantasan

tindak pidana korupsi, Polri mempunyai kewajiban sebagai aparat

penegak hukum yang meliputi sebagai berikut:


1) Memberikan perlindungan terhadap saksi atau pelapor yang

menyampaikan laporan ataupun memberikan keterangan mengenai

terjadinya tindak pidana korupsi;


2) Menegakkan sumpah jabatan sebagai aparat penegak

hukum;
3) Menjalankan tugas, tanggung jawab dan wewenangnya

berdasarkan peraturan perundangan – undangan yang berlaku;


4) Memeberikan informasi kepada masyarakat berkaitan

dengan proses pemberantasan tindak pidana korupsi dan sanksi;


5) Membuat dan menyusun laporan serta menyampaikan

kepada Presiden Republik Indonesia, KPK tentang tindak pidana

korupsi yang di tangani oleh Penyidik Polri.


2. Kewenangan Kejaksaan Republik Indonesia
Kejaksaan adalah sebutan bagi institusi dalam sistem peradilan pidana

yang memiliki fungsi menuntut dan membuat dokumen seperti dakwaan

dan surat tuntutan. Jaksa adalah tokoh utama dalam penyelenggaraan

peradilan pidana.22 38
a. Dasar Hukum
1) Pasal 91 ayat (1) KUHAP mengatur tentang Kewenangan Jaksa

untuk mengambil alih berita acara pemeriksaan.


2) Pasal 284 ayat (2) KUHAP menyatakan : “ Dalam waktu dua tahun

setelah Undang-Undang ini diundangkan, maka terhadap semua

perkara diberlakukan ketentuan Undang-Undang ini, dengan

pengecualian untuk sementara mengenai ketentuan khusus acara

pidana sebagaimana tersebut pada Undang-Undang tertentu, sampai

ada perubahan dan/atau dinyatakan tidak berlaku lagi.” Yang

dimaksud ketentuan khusus acara pidana sebagaimana tersebut pada

pada Undang-Undang tertentu” adalah ketentuan khusus acara

pidana sebagaimana tersebut pada :


a) Undang-Undang tentang Pengusutan, Penuntutan dan Peradilan

Tindak Pidana Ekonomi ( UU No.7 Drt Tahun 1955 )


b) Undang -Undang tentang Pemberantasan Korupsi ( No 3 / 71)
3) Pasal 17 Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983 tentang

pelaksanaan kitab Undang-Undang hukum acara pidana disebutkan :

22
Suradji, Mudiyati dan Sutriya (editor), Analisis dan Evaluasi Hukum Penuntuttan dan
Pemeriksaan Tindak Pidana Korupsi, Badan Pembinaan Hukum Nasional, Depertemen Hukum
dan Hak Asasi Manusia, Jakarta, 2008, hal. 8
“ Penyidik menurut ketentuan khusus acara pidana sebagaimana

tersebut Undang-Undang tertentu sebagaimana dimaksud dalam

Pasal 284 ayat (2) KUHAP dilaksanakan oleh Penyidik, Jaksa, dan

pejabat Penyidik yang berwenang lainnya berdasarkan peraturan


39
perundang-undangan.”
4) Pasal 30 ayat (1) UU R 16 tahun 2004 Tentang Kejaksaan Republik

Indonesia menjelaskan : “ Di bidang pidana , Kejaksaan mempunyai

tugas dan wewenang :


a) Melakukan penuntutan;
b) Melaksanakan penetapan hakim dan putusan pengadilan yang

telah memperoleh kekuatan hukum tetap;


c) Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan putusan bersyarat ;
d) Melakukan penyidikan terhadap tindak pidana tertentu

berdasarkan undang – undang;


e) Melengkapi berkas perkara tertentu dan untuk itu dapat

melakukan pemeriksaan tambahan sebelum dilimpahkan ke

pengadilan yang dalam pelaksanaannya dikoordinasikan dengan

penyidik.
Jaksa bertugas sebagai penuntut umum yang melakukan “tindakan

penuntutan”. Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana

diatur juga tugas jaksa sebagai penuntut umum dalam bidang

prapenuntutan. Tugas jaksa dalam bidang prapenuntutan diatur dalam

Pasal 14 huruf (b) KUHAP yang mengatur tentang wewenang jaksa

sebagai penuntut umum.


b. Dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya Kejaksaan berdasarkan

pada:
40

1) Asas Legalitas yaitu penuntut umum diwajibkan menuntut semua

orang yang dianggap cukup alasan bahwa yang bersangkutan telah

melakukan pelanggaran hukum.


2) Asas Oportunitas yaitu penunutut umum tidak diharuskan menuntut

seseorang, meskipun yang bersangkutan sudah jelas melakukan

suatu tindak pidana yang dapat dihukum.


c. Tugas dan wewenang Kejaksaan di bidang pidana yaitu :
1) Melakukan penuntutan;
2) Melaksanakan penetapan hakim dan putusan pengadilan yang telah

memperoleh kekuatan hukum tetap;


3) Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan putusan bersyarat;
4) Melakukan penyidikan terhadap tindak pidana tertentu berdasarkan

Undang – Undang;
5) Melengkapi berkas perkara tertentu dan untuk itu dapat melakukan

pemeriksaan tambahan sebelum dilimpahkan ke pengadilan yang

dalam pelaksanaannya dikoordinasikan dengan penyidik.

Adapun kewenangan Kejaksaan untuk melakukan penyidikan

disebutkan dalam UU No. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik

Indonesia (“UU Kejaksaan”). Berdasarkan pasal 30 UU Kejaksaan,

kejaksaaan berwenang untuk melakukan penyidikan terhadap tindak

pidana tertentu berdasarkan Undang-Undang. Kewenangan kejaksaan

ini contohnya kewenangan yang diberikan oleh UU No. 26 Tahun 2000

tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia, UU No. 31 Tahun 1999 tentang

Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah

dengan UU No. 20 Tahun 2001, dan UU No. 30 Tahun 2002 tentang

Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (“UU KPK”).


41

Menurut Marwan Efeendy faktor yang menstimulus kedudukan dan

fungsi Kejaksaan Republik Indonesia dalam penegakan hukum secara

negatif adalah sistem hukum itu sendiri. Pertama, karena ditetapkan

oleh Undang-Undang No 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik

Indonesia berada dilingkungan eksekutif yang menyebabkan Kejaksaan

RI tidak mandiri dan independen dalam penegakan hukum. Kedua,

adanya pengurangan dan pembatasan kewenangan oleh Undang-

Undang, baik dalam bidang penyidikan meupun dalam bidang

penuntutan. Selain itu dengan terbentuknya Komisi Pemberantasan

Tindak Pidana Korupsi dengan kewenangan yang lebih besar, tidak saja

berdampak terhadap struktur ketatanegaraan yang semakin besar, yang

mengesampingkan asas dominus litis dan prinsip eenen ondeelbaar,

tetapi juga menimbulkan social cost yang cukup besar yang berdampak

terhadap anggaran belanja Negara.23

3. Kewenangan Komisi Pemberantasan Korupsi


a. Dasar hukum yang digunakan KPK dalam pemberantasan tindak pidana

korupsi terdiri dari :


1) Pasal 43 UU RI No. 31 / 1999 tentang Pemberantasan Korupsi
42
sebagaimana telah diubah dengan UU RI No.20 Tahun 2001 tentang

Perubahan atas UU RI No.31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan

Tindak Pidana Korupsi berbunyi :


a) Dalam waktu paling lambat 2 (dua) tahun sejak Undang-Undang
ini mulai berlaku, dibentuk Komisi Pemberantasan Korupsi.
b) Komisi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) mempunyai tugas
dan wewenang melakukan koordinasi dan supervise, termasuk

23
Marwan Effendy, 2005, Kejaksaan RI Posisi dan Fungsinya Dalam Perspektif Hukum,
Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, hal.183
penyelidikan, penyidikan dan penunututan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
c) Keanggotaan Komisi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
terdiri atas unsur pemerintah dan unsur masyarakat.
d) Ketentuan mengenai pembentukan, susunan organisasi, tata
kerja, pertanggungjawaban, tugas dan wewenang, serta
keanggotaan Komisi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1),
ayat (2), dan ayat (3) diatur dengan Undang-Undang.

2) Undang-Undang Republik Indonesia No. 30 Tahun 2002 Tentang

Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.


b. Dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, Komisi Pemberantasan

Korupsi berdasarkan pada :


1) “Kepastian Hukum” adalah asas dalam Negara hukum yang

mengutamakan landasan peraturan perundang-undangan, kepatutan,

dan keadilan dalam setiap kebijakan menjalankan tugas dan

wewenang Komisi Pemberantasan Korupsi;


2) “Keterbukaan” adalah asas yang membuka diri terhadap hak

masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar dan jujur serta

tidak diskriminatif tentang kinerja Komisi Pemberantasan Korupsi

dalam menjalankan tugas dan fungsinya;


3) “Akuntabilitas” adalah asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan

dan hasil akhir kegiatan Komisi Pemberantasan Korupsi harus dapat

dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai

pemegang kedaulatan tertinggi Negara sesuai dengan peraturan

perundang – undangan yang berlaku;


4) “Kepentingan Umum” adalah asas yang mendahulukan

kesejahteraan umum dengan cara yang aspiratif, akomodatif dan

selektif;
5) “Proporsionalitas” adalah asas yang mengutamakan keseimbangan

antara tugas, wewenang, tanggung jawab, dan kewajiban Komisi

Pemberantasan Korupsi.
c. Tugas dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah ditetapkan

dalam BAB II, pada Pasal 6 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002

tentang Tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi antara

lain diantaranya melaksanakan:


1) Koordinasi dengan instansi yang berwenang melakukan

pemberantasan tindak pidana korupsi;

Yang dimaksud dengan “ instansi yang berwenang “ termasuk badan

pemeriksa keuangan, badan pengawas keuangan dan pembangunan,

komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara, Inspektorat

pada departemen atau lembaga pemerintah non-departemen;

2) Supervisi terhadap instansi yang berwenang melakukan

pemberantasan tindak pidana korupsi;


3) Melakukan penyelidikan, penyidikan dan penuntutan terhadap tindak

pidana korupsi;
4) Melakukan tindakan-tindakan pencegahan tindak pidana korupsi;
5) Melakukan monitor terhadap penyelenggaraan pemerintah Negara.

Dalam melaksanakan tugas supervisi, Komisi Pemberantasan

Korupsi berwenang melakukan: Pengawasan, penelitian atau

penelaahan terhadap instansi yang berwenang menjalankan tugas dan

wewenangnya berkaitan dengan pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

dan instansi yang melakukan pelayanan publik, mengambil alih

penyidikan dan penuntutan terhadap pelaku tindak pidana korupsi yang


dilakukan oleh Kepolisian atau Kejaksaan.24Sedangkan tindak pidana

korupsi yang akan dilakukan penyelidikan, penyidikan dan penuntutan

oleh KPK adalah :

1) Melibatkan aparat penegak hukum, penyelenggara Negara, dan

orang lain yang ada kaitannya dengan tindak pidana korupsi yang

dilakukan oleh aparat penegak hukum atau penyelenggara negara;


2) Mendapat perhatian yang meresahkan masyarakat; dan atau
3) Menyangkut kerugian Negara paling sedikit Rp 1.000.000.000,-

(satu milyar rupiah).


d. Kewenangan yang dimiliki KPK dalam rangka penyelidikan,

penyidikan dan penuntutan diantaranya adalah :


1) Melakukan penyadapan dan merekam pembicaraan;
2) Memerintahkan kepada instansi yang terkait untuk melarang seorang

bepergian ke luar negeri;


3) Meminta keterangan kepada bank atau lembaga keuangan lainnya

tentang keadaan keuangan tersangka atau terdakwa yang sedang

diperiksa;
4) Memerintahkan kepada Bank atau lembaga keuangan lainnya untuk

memblokir rekening yang diduga hasil korupsi milik tersangka,

terdakwa atau pihak lain yang terkait;


5) Memerintahkan kepada pimpinan atau atasan tersangka untuk

memberhentikan sementara tersangka dari jabatannya;


6) Meminta data kekayaan dan data data perpajakan tersangka atau

terdakwa kepada instansi yang terkait;


7) Menghentikan sementara suatu transaksi keuangan, transaksi

perdagangan dan perjanjian lainnya atau pencabutan sementara

perizinan, lisensi atau konsesi yang dilakukan atau dimiliki oleh

24
Abdi Rahmansyah, Tinjaun Yuridis Tentang Kewenangan Penyidikan Dalam Tindak
Pidana Korupsi, (skripsi, FH. UNRAM, 2008), hal. 55
45

tersangka atau terdakwa yang diduga berdasarkan bukti awal yang

cukup ada hubungannya dengan tindak pidana korupsi yang sedang

diperiksa;
8) Meminta bantuan Interpol Indonesia atau instansi penegak hokum

Negara lain untuk melakukan pencarian, penangkapan dan penyitaan

barang bukti di luar negeri;


9) Meminta bantuan Kepolisian atau Instansi lain yang terkait untuk

melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan dan penyitaan

dalam perkara tindak pidana korupsi yang sedang ditangani.

Kewenangan KPK mengambil alih kewenangan penyidikan dan

penuntutan ini dilakukan guna mencegah terjadinya penyelewengan

kekuasaan yang dimiliki oleh aparat penegak hukum dalam hal korupsi

dilakukan oleh anggota dari lembaga yang menangani perkara korupsi

tersebut, wewenang pengambilalihan penyidikan dan penuntutan ini

hanya dapat dilakukan oleh KPK dalam hal sebagaimana aturan dalam

pasal 9 Undang-Undang No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi

Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yakni:

1) Laporan masyarakat mengenai tindak pidana korupsi tidak

ditindaklanjuti;
2) Proses penanganan tindak pidana korupsi secara berlarut-larut atau

tertunda-tunda tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan;


3) Penanganan tindak pidana korupsi ditujukan untuk melindungi

pelaku tindak pidana korupsi yang sesungguhnya;


4) Penanganan tindak pidana korupsi mengandung unsur korupsi;
5) Hambatan penanganan tindak pidana korupsi karena campur tangan

dari eksekutif, yudikatif, atau legislatif; atau


6) Keadaan lain yang menurut pertimbangan kepolisian atau Kejaksaan,

penanganan tindak pidana korupsi sulit dilaksanakan secara baik dan

dapat dipertanggungjawabkan.

Pengambilalihan wewenang penyidikan dilakukan KPK dengan

surat pemberitahuan pengambilan penyidikan misalnya

pengambilalihan dari Polri harus mencantumkan alasan dilakukannya

pengambilalihan, setelah menerima pemberitahuan pengambilan

penyidikan oleh KPK, Polri harus menyerahkan wewenang penyidikan

kepada KPK, menurut pakar hukum pidana sekaligus Guru besar

hukum di Universitas Trisakti, Andi Hamzah yang menilai langkah

Polri menghentikan kegiatan penyidikan dan menyerahkan berkas lima

tersangka kasus Simulator SIM ke Komisi Pemberantasan Korupsi

sudah tepat.25 Penyerahan berkas perkara ini tidak disangkutpautkan

dengan aturan KUHAP yang jadi pedoman hukum Polri. Sebab,

pelimpahan berkas perkara ini menggunakan hukum istimewa yang

dimiliki KPK, yakni Pasal 50 Undang-Undang KPK. Jadi Undang-

Undang KPK-lah yang dikutip.

Penyerahan Kewenangan penyidikan yang disertai dengan

penyerahan tersangka serta alat-alat bukti yang telah diperoleh Polri

kepada KPK dilakukan Polri tanpa mengeluarkan Surat Penghentian

Penyidikan (SP3), penyerahan tersebut dilakukan berdasarkan

25
http://edsus.tempo.co/konten-berita/hukum/2012/10/23/437285/7/Penyerahan-
Kasus-Simulator-Tanpa-SP3-Dinilai-Benar, Penyerahan Kasus Simulator tanpa SP3 Dinilai Benar,
diakses 5 Juni2015
ketentuan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 Tentang Komisi

Pemberantasan Korupsi dan paling lambat 14 (empat belas) hari kerja

semenjak diterimanya permintaan oleh KPK.

e. Kewajiban yang harus dilaksankan oleh KPK diantaranya adalah :


1) Memberikan perlindungan terhadap saksi atau pelapor yang

menyampaikan laporan ataupun keterangan mengenai terjadinya

tindak pidana korupsi;


2) Memberikan informasi kepada masyarakat yang memerlukan atau

memberikan bantuan untuk memperoleh data lain yang berkaitan

dengan hasil penuntutan tindak pidana korupsi yang ditanganinya;


3) Menyusun laporan tahunan dan menyampaikannya kepada Presiden

Republik Indonesia, Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia

dan Badan Pemeriksa keuangan; 49


4) Menegakkan sumpah jabatan;
5) Menjalankan tugas, tanggung jawab dan tanggung jawab dan

wewenangnya berdasarkan asas : kepastian hukum, keterbukaan,

akuntabilitas, kepentingan umum dan proporsionalitas.

Didalam melaksanakan tugas, wewenang, dan tanggung jawabnya

sesuai amanat Undang-Undang, Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK)

juga berkewajiban untuk menyusun laporan tahunan serta

menyampaikannya kepada Presiden, DPR, dan BPK. Oleh karena tidak

berada dibawah kekuasaan eksekutif, legislatif, maupun yudikatif, maka

Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK) bertanggungjawab langsung

kepada publik atas pelaksanaan tugasnya. Pelaksanaan publik itu

dilaksanankan melalui cara-cara :


1. wajib audit terhadap kinerja dan pertanggunjawaban keuangan sesuai

dengan prigram kerjanya;

2. menerbitkan laporan tahunan; dan

3. membuka akses informasi.26

BAB III
TINJAUAN YURIDIS PENETAPANTERSANGKA DALAM TINDAK

PIDANA KORUPSI

A. Penetapan tersangka dalam tindak pidana korupsi

Berdasarkan Pasal 1 angka 14 KUHAP , yang dimaksud dengan tersangka

adalah seseorang yang karena perbuatannya atau keadaannya berdasarkan bukti

permulaan patut diduga sebagai pelaku tindak pidana. Selanjutnya dalam pasal

66 ayat (1) dan ayat (2) peraturan Kapolri Dalam menangani permasalahan

tindak pidana korupsi penyidik dapat menetapkan tersangka dan definisi

tentang tersangka sangat jelas diatur dalam ketentuan Pasal 1 angka 14 Kitab

26
Didie A. Rachim, Mengenal KPK dan Upaya Pemberantasan Korupsi, Situs Berita
Indonesia, Email : redaksi@apindonesia.com. Diakses 29 Juni 2015
Undang-Undang Hukum Acara Pidana (selanjutnya disebut KUHAP) yang

menyebutkan bahwa:

“Tersangka adalah seorang yang karena perbuatannya atau keadaannya,

berdasarkan bukti permulaan patut diduga sebagai pelaku tindak pidana.”

Selanjutnya definisi tersangka dengan rumusan yang sama diatur pula

dalam ketentuan Pasal 1 angka 10 Peraturan Kapolri Nomor 14 Tahun 2012

tentang Manajemen Penyidikan Tindak Pidana (Perkap No. 14 Tahun 2012).

Bukti Permulaan tidak secara spesifik diatur di dalam KUHAP, definisi itu

justru diatur dalam Pasal 1 angka 21 Perkap No. 14 Tahun 2012 sebagai

berikut:

“Bukti Permulaan adalah alat bukti berupa Laporan Polisi dan 1 (satu) alat

bukti yang sah, yang digunakan untuk menduga bahwa seseorang telah

melakukan tindak pidana sebagai dasar untuk dapat dilakukan

penangkapan.”

Jadi, berdasarkan laporan polisi dan satu alat bukti yang sah maka

seseorang dapat ditetapkan sebagai tersangka serta dapat dilakukan


51
penangkapan. KUHAP memang tidak menjelaskan lebih lanjut tentang definisi

‘bukti permulaan’, namun KUHAP secara jelas mengatur tentang alat bukti

yang sah di dalam ketentuan Pasal 18450KUHAP ayat (1) Alat bukti yang sah

ialah :

1. keterangan saksi;
2. keterangan ahli;
3. surat;
4. petunjuk;
5. keterangan terdakwa.
Bukti yang cukup” dalam Pasal 1 angka 14, Pasal 17, dan Pasal 21 ayat (1)

KUHAP sepanjang dimaknai minimal dua alat bukti sesuai Pasal 184 KUHAP.

Pasal 77 huruf a KUHAP dinyatakan inkontitusional bersyarat sepanjang

dimaknai termasuk penetapan tersangka, penggeledahan, dan penyitaan.27

Mahkamah beralasan KUHAP tidak memberi penjelasan mengenai

batasan jumlah (alat bukti) dari frasa “bukti permulaan”, “bukti permulaan

yang cukup”, dan “bukti yang cukup”. Berbeda dengan Pasal 44 ayat (2)

UU No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana

Korupsi yang mengatur secara jelas batasan jumlah alat bukti, yakni

minimal dua alat bukti.28

1. Frasa ‘bukti permulaan bukti permulaan yang

cukup dan

2. Bukti yang cukup , dalam Pasal 1 angka 14, Pasal

17, dan Pasal 21 ayat (1) KUHAP harus ditafsirkan sekurang-kurangnya


52
dua alat bukti sesuai Pasal 184 KUHAP disertai pemeriksaan calon

tersangkanya, kecuali tindak pidana yang penetapan tersangkanya

dimungkinkan dilakukan tanpa kehadirannya (in absentia),”

B. Upaya hukum dalam penetapan tersangka dalam tindak pidana

korupsi ?

Syarat minimum dua alat bukti dan pemeriksaan calon tersangka untuk

transparansi dan perlindungan hak asasi seseorang agar sebelum seseorang

27
Agus Sahbani, MK ‘Rombak’ Bukti Permulaan dan Objek Praperadilan,
http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt553f5575acd85/mk-rombak-bukti-permulaan-dan-
objek-praperadilan, diakses 21 Juni 2015
28
Ibid.
ditetapkan sebagai tersangka telah dapat memberi keterangan secara

seimbang. Hal ini menghindari adanya tindakan sewenang-wenang oleh

penyidik terutama dalam menentukan bukti permulaan yang cukup itu.

Sementara dalam pranata praperadilan, meski dibatasi secara limitatif dalam

Pasal 1 angka 10 jo Pasal 77 huruf a KUHAP yang berbunyi :Pasal 1 angka

10 KUHAP : praperadilan adalah wewenang pengadilan negri untuk

memeriksa danmemutuskan menurut cara yang diatur dalam Undang-

Undang ini tentang:

1. sah atau tidaknya suatu penangkapan dan

atau penahanan atas permintaan tersangka atau keluarga atau pihak

lain atas kuasa tersangka;

2. sah atau tidaknya penghentiaan penyidikan

atau penghentian penuntutan atas permintaan demi tegaknya hukum

dan keadilan;

3. permintaan ganti kerugian atau rehabilitasi

oleh tersangka atau keluarganya atau pihak lain atas kuasanya yang
53
perkaranya tidak diajukan ke pengadilan.

Pasal 77 huruf a KUHAP :

Pengadilan Negri berwenang untuk memeriksa dan memutus, sesuai dengan

ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang ini tentang : sah atau tidaknya

penangkapan, penahanan, penghentian penyidikan atau penghentian

penuntutan.
Setelah putusan MK yang menyatakan penetapan tersangka masuk juga

dalam salah satu objek praperadilan.Namun, penetapan tersangka adalah

bagian dari proses penyidikan yang terbuka kemungkinan terdapat tindakan

sewenang-wenang oleh penyidik yang termasuk perampasan hak asasi

seseorang. Memang Pasal 1 angka 2 KUHAP kalau diterapkan secara benar

tidak diperlukan pranata praperadilan. Namun, bagaimana kalau ada yang

salah dalam menetapkan seseorang menjadi tersangka? “Sehingga sudah

seharusnya penetapan tersangka menjadi bagian dari proses penyidikan

yang dapat dimintakan perlindungan melalui pranata praperadilan,” menurut


11
Hakim Konstitusi Anwar Usman.29

Putusan ini mengingatkan penyidik agar sangat berhati-hati dalam

menetapkan orang sebagai tersangka. Karena seperti diketahui, selama ini

penetapan status tersangka yang diberikan oleh penyidik kepada seseorang

dilekatkan tanpa batas waktu yang jelas. Akibatnya, orang tersebut secara

terpaksa menerima statusnya tanpa memiliki kesempatan untuk menguji

keabsahan penetapan itu.

BAB IV

PENUTUP
29
Ibid.
A. Kesimpulan

B. Saran

DAFTAR PUSTAKA

Buku Pedoman Penulisan Proposal dan Skripsi,Sekolah Tinggi Ilmu Hukum


Tambun Bungai Palangka Raya,2014