Anda di halaman 1dari 16

PROPOSAL

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK


“TERAPI MUSIK DAN EKSPLORASI PERASAAN”
Di Panti Sosial Tresna Werdha Provinsi Bengkulu

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK I
1. Anita Yulia P05120419 008
2. Anninah P05120419 006
3. Desi Fatmawati P05120419 013
4. Eirene Rosalina S P05120419 001
5. Masayu Martikasari P05120419 010
6. Putu Putra Yasa P05120419 011

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KEMENKES BENGKULU
JURUSAN KEPERAWATAN
PROFESI NERS
T.A 2019/2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat
taufik hidayat-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan proposal terapi aktivitas
kelompok terapi musik dan eksplorasi perasaan.
Proposal ini merupakan salah satu tugas mata kuliah Keperawatan Gerontik di
Program Profesi Ners Poltekkes Kemenkes Bengkulu. Selanjutnya penulis
mengucapkan terimakasih kepada segenap pihak yang telah memberikan bimbingan
serta arahan selama penulisan proposal ini.
Akhirnya penulis menyadari bahwa banyak terdapat kekurangan-kekurangan
dalam penulisan proposal ini, maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang
konstruktif dari para pembaca demi kesempurnaan proposal ini.

Bengkulu, 28 Januari 2020

Penulis
PROPOSAL
TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK
“TERAPI MUSIK DAN EKSPLORASI PERASAAN”
DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA PROVINSI BENGKULU

A. LATAR BELAKANG
Terapi aktivitas kelompok merupakan salah satu terapi modalitas yang
dilakukan perawat kepada kelompok. Aktivitas digunakan sebagai terapi dan
kelompok digunakan sebagai target asuhan. Di dalam kelompok terjadi dinamika
interaksi yang saling bergantung, saling membutuhkan dan menjadi laboratorium
tempat lansia melatih perilaku baru yang adaptif untuk memperbaiki perilaku yang
maladaptif. Wisma Mawar dan Bougenvil adalah salah satu wisma yang terdapat di
Panti Sosial Tresna Werdha Provinsi Bengkulu. Lansia yang berada di Wisma
Mawar dan Bougenvil menderita penyakit pada system pernapasan, endokrin,
kardiovaskuler, muskoleskletal, dan penglihatan. Lansia di Wisma Mawar
aktivitasnya terbatas, sebagian ada yang mandiri dan perlu bantuan. Dalam
kesehariannya, waktu lansia dihabiskan dengan melakukan kegiatan yang tesedia di
Panti Sosial Tresna Werdha dan ada sebagian yang hanya didalam kamar saja. Di
Wisma Mawar hiburannya terbatas seperti menonton TV tetapi lansia selalu
mengikuti kegiatan yang diadakan oleh Panti Sosial Tresna Werdha walaupun tidak
setiap hari. Pada lansia terjadi penurunan fungsi tubuh. Berdasarkan hasil observasi
dilapangan, lansia di ruang Wisma Mawar sebanyak 1 orang mengalami penurunan
fungsi pendengaran, sebanyak 1 orang mengalami penurunan fungsi penglihatan,
sebagian besar mengalami penurunan daya ingat, sebanyak 1 orang mengalami
gangguan pernapasan, sebanyak 1 orang mengalami penyakit hipertensi dan 1 orang
mengalami asam urat. Di ruang Wisma Bougenvil sebanyak 1 orang mengalami
hipertensi dan 1orang mengalami gangguan pernapasan. Maka dengan data yang ada
kami mahasiswa program profesi Ners Poltekkes Kemenkes Bengkulu akan
melakukan terapi aktivitas kelompok (TAK) yaitu terapi musik dan eksplorasi
perasaan.
B. TUJUAN
1. Tujuan umum
a. Lansia dapat berespon terhadap stimulus yang diberikan oleh perawat yaitu
musik.
b. Lansia dapat mengekspresikan perasaannya berupa pengalaman yang
menyenangkan
2. Tujuan Khusus
Setelah dilakukan kegiatan terapi musik di harapkan:
a. Lansia mampu memberi respons terhadap musik yang didengar.
b. Lansia mampu menceritakan perasaannya setelah mendengarkan musik
c. Lansia merasa tidak bosan dalam melewati hari - harinya di Panti Tresna
Werdha
d. Lansia mampu mengungkapkan perasaannya berupa pengalaman yang
menyenangkan

C. LANDASAN TEORI
Menua atau menjadi tua adalah suatu keadaan yang terjadi di dalam
kehidupan manusia. Proses menua merupakan adalah proses sepanjang hidup, tidak
hanya dimulai dari suatu waktu tertentu, tetapi dimulai sejak pertumbuhan
kehidupan. Menjadi tua merupakan proses alamiah, yang berarti seseorang telah
melalui tiga tahap kehidupannya, yaitu anak, dewasa, dan tua. Tiga tahap ini
berbeda, baik secara biologis maupun psikilogis. Memasuki usia tua berarti
mengalami kemunduran dimana salah satunya seperti pendengaran kurang jelas,
penglihatan semakin memburuk.
Penurunan sensori-persepsi dapat dipengaruhi oleh hal-hal yang mana salah
satunya bisa berakibat depresi. Dimana seperti kita ketahui gangguan sensori
persepsi seperti penglihatan kurang jelas, pendengaran kurang jelas, dan persepsi
mereka dalam menilai dirinya sendiri yang kurang baik. Biasanya mereka akan
beranggapan merasa tidak berguna dan gampang putus asa, sampai menyebutkan
kata mati. Sebaliknya dengan mereka yang mempunyai penglihatan kurang jelas
dan pendengaran kurang jelas juga memicu klien untuk depresi, yang mana mereka
merasa dengan kondisi mereka yang seperti sekarang selalu merepotkan orang lain
dan tidak berguna dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Jadi secara teori depresi merupakan perasaan sedih, ketidakberdayaan, dan
pesimis, yang berhubungan dengan suatu penderitaan. Dapat berupa serangan yang
ditujukan kepada diri sendiri atau perasaan marah yang dalam. Gejala yang terjadi
umumnya: pandangan kosong, kurang atau hilangnya perhatian pada diri, orang
lain, atau lingkungan, inisiatif menurun, ketidakmampuan berkonsentrasi, aktivitas
menurun, kurangnya nafsu makan, mengeluh tidak enak badan, dan kehilangan
semangat, sedih, atau cepat lelah sepanjang waktu, dan mungkin susah tidur di
malam hari. Terapi disini diartikan sebagai suatu aktifitas yang digunakan di dalam
kelompok seperti membaca puisi, seni, musik, menari dan literature. Aktivitas
disini diartikan sebagai stimulus dan persepsi. Stimulus yang disediakan: baca
artikel/majalah, buku/puisi, menonton acara TV (ini merupakan stimulus yang
disediakan): stimulus dari pengalaman masa lalu yang menghasilkan proses
persepsi lansia yang maladaptif atau destruktif, misalnya kemarahan, kebencian,
putus hubungan, pandangan negatif pada orang,dan halusinasi. Kemudian dilatih
persepsi lansia terhadap stimulus.
Kelompok adalah kumpulan individu yang memiliki hubungan satu dengan
yang lain, saling bergantung dan mempunyai norma yang sama (Stuart dan Laraia,
2001). Tujuan kelompok adalah membantu anggotanya berhubungan dengan orang
lain serta mengubah prilaku yang obstruktif dan maladaptif. Kelompok berfungsi
sebagai tempat berbagi pengalaman dan saling membantu satu sama lainnya untuk
menemukan cara menyelesaikan masalah. Terapi kelompok adalah metode
pengobatan ketika lansia ditemui dalam rancangan waktu tertentu dengan tenaga
yang memenuhi persyaratan tertentu. Fokus dari terapi kelompok adalah membuat
perubahan sadar diri, peningkatan hubungan interpersonal, membuat perubahan
atau ketiganya.
Terapi aktifitas kelompok merupakan salah satu terapi modalitas yang
dilakukan perawat kepada sekelompok lansia yang mempunyai masalah
keperawatan yang sama. Aktifitas digunakan sebagai terapi dan kelompok
digunakan sebagai target asuhan. Dengan TAK itu sendiri memerlukan psikoterapi
dengan sejumlah pasien dengan waktu yang sama, manfaat terapi aktivitas
kelompok adalah agar lansia dapat kembali belajar bagaimana cara bersosialisasi
karena kelompok ini berfungsi sebagai tempat berbagi pengalaman dan membantu
satu sama lain untuk menemukan cara menyelesaikan masalah yang diakibatkan
oleh paparan stimulus kepadanya.

D. WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN


1. Hari : Rabu
2. Tanggal : 5 Februari 2020
3. Waktu : 09.00 WIB – 09.45 WIB
4. Tempat Pelaksanaan : Wisma Mawar
5. Setting Tempat

K K

K K
K K
Keterangan :
: Leader
: Co leader
: Observer
: Fasilitator
: Lansia

E. SASARAN PROGRAM
Sasaran diadakan kegiatan ini adalah lansia di Wisma Mawar dan Bougenvil

F. METODE DAN MEDIA


1. Metode
a. Diskusi
b. Sharing persepsi
c. Mengekspresikan perasaan
d. Mendengarkan musik
2. Media
a. Alat tulis
b. Speaker

G. SUSUNAN PANITIA
1. Leader: Eirene Rosalina Sibarani S.Tr.Kep
a. Membuka jalannya kegiatan
b. Memperkenalkan diri
c. Menganalisa dan observasi pola komunikasi dalam kelompok
d. Menetapkan tujuan dan peraturan kelompok
e. Membacakan tujuan dan peraturan kelompok sebelum kegiatan dimulai
f. Motivasi kelompok untuk aktif
g. Memberi reinforcement positif
h. Menyimpulkan keseluruhan aktivitas kelompok
2. Co leader: Anninah S.Tr.Kep
a. Membantu tugas leader
b. Menyampaikan informasi dari fasilitator ke leader
c. Mengingatkan leader bila ada kegiatan yang menyimpang
d. Mengingatkan leader untuk lamanya waktu kegiatan
e. Bersama leader menjadi contoh kerjasama yang baik
3. Observer: Desi Fatmawati S.Tr.Kep
a. Ikut serta sebagai anggota kelompok
b. Mengawasi jalannya kegiatan
c. Menilai setiap jalannya kegiatan
4. Fasilitator: Putu Putra Yasa S.Tr.Kep, Masayu Martika Sari S.Tr.Kep, Anita
Yulia S.Tr.Kep
a. Ikut serta dalam anggota sebagai anggota kelompok
b. Memotivasi anggota kelompok yang kurang atau tidak aktif selama TAK
berlangsung
c. Menjadi role model selama acara berlangsung
d. Menyiapkan alat/media

H. PROSES PELAKSANAAN
1. Orientasi
Pada saat ini terapis melakukan:
a. Memberi salam terapeutik: salam mulai dari terapis, perkenalan nama dan
panggilan terapis.
b. Evaluasi/Validasi: menanyakan perasaan lansia saat ini dan terapis
menanyakan tentang sejak kapan lansia mulai tinggal di Wisma Mawar
merasakan penurunan daya ingat dan fungsi pendengaran.
c. Kontrak
1) Menjelaskan tujuan kegiatan
2) Menjelaskan aturan main tersebut
a) Jika ada lansia yang akan meninggalkan kelompok harus minta ijin
kepada terapis
b) Lama kegiatan 45 menit
c) Setiap lansia mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir
d) Jika peserta merasa kurang jelas dengan penjelaskan leader, dapat
menanyakan kepada leader dengan menunjuk tangan terlebih dahulu.
e) Peserta hadir di tempat 5 menit sebelum kegiatan berlangsung.
2. Kerja
a. Terapis mengajak lansia untuk saling memperkenalkan diri (nama, dan nama
panggilan) dimulai secara berurutan searah jarum jam.
b. Setiap lansia selesai memperkenalkan diri, terapis mengajak semua lansia
untuk bertepuk tangan.
c. Terapis menjelaskan bahwa akan diputar lagu, lansia boleh tepuk tangan atau
boleh menari sesuai dengan irama lagu. Setelah lagu selesai lansia akan
diminta menceritakan isi dari lagu tersebut dan perasaan lansia setelah
mendengar lagu.
d. Terapis memutar lagu, lansia mendengar, boleh berjoget atau tepuk tangan
(kira-kira 15 menit). Musik yang diputar boleh diulang beberapa kali.
Terapis mengobservasi respons lansia terhadap music
e. Secara bergiliran, lansia diminta menceritakan isi lagu/mengungkapkan
perasaannya selama dirawat/pengalaman hidup. Sampai semua lansia
mendapatkan giliran.
f. Terapis memberikan pujian, setiap lansia selesai menceritakan perasaannya,
dan mengajak lansia bertepuk tangan.
g. Terapis dan lansia bernyanyi bersama.
3. Tahap terminasi
a. Evaluasi
1) Mahasiswa menanyakan perasaan lansia setelah mengikuti kegiatan
2) Memberikan pujian atas keberhasilan lansia.
b. Rencana Tindak lanjut
Terapis menganjurkan klien untuk mendengarkan musik yang disukai dan
bermakna dalam kehidupannya.
c. Kontrak yang akan datang
Terapis mengakhiri kegiatan dan mengingatkan kepada lansia untuk
melakukan kegiatan yang biasa dilakukan di Panti Sosial Tresna Werdha.
4. Evaluasi dan Dokumentasi
Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung, khususnya pada tahap
kerja. Aspek yang dinilai dan dievaluasi adalah kemampuan lansia sesuai
dengan tujuan TAK. Untuk TAK stimulasi sensoris mendengar musik,
kemampuan lansia yang diharapkan adalah mengikuti kegiatan, respons terhadap
musik, pendengaran, memberi pendapat tentang musik yang didengar, dan
perasaan saat mendengar musik. Formulir evaluasi sebagai berikut:
Terapi Musik dan Eksplorasi Perasaan
No Aspek yang dinilai Nama Klien

1. Mengikuti kegiatan dari awal sampai


akhir
2. Memberi respons (ikut
bernyanyi/menari/menggerakan
tangan-kaki-dagu sesuai irama
3. Memberi pendapat tentang musik yang
didengar
4. Menjelaskan perasaan setelah
mendengar lagu
5 Mengungkapkan perasaan berupa
pengalaman yang menyenangkan
Petunjuk :
Untuk tiap lansia, semua aspek di nilai dengan memberi tanda √ (check list) jika
ditemukan pada lansia atau tanda “X” jika tidak ditemukan kemampuan yang
ditemukan. Jika mendapatkan nilai > 2 berarti lansia aktif, jika nilai ≤ 2 berarti
lansia tidak aktif.
a. Evaluasi Struktur
1) 80 % peserta atau undangan hadir di tempat penyuluhan
2) Kesiapan proposal kegiatan
3) Kesiapan materi terapi aktivitas kelompok
4) Persiapan perlengkapan (Pengeras suara)
5) Tempat yang digunakan nyaman dan mendukung
6) Undangan 1 hari sebelum kegiatan
b. Evaluasi Proses
1) Peserta hadir sesuai dengan kontrak waktu yang ditentukan 2/3 dari
jumlah peserta
2) Peserta berperan aktif dan mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir
3) Media sudah efektif
4) Petugas dapat menjalankan peran sesuai dengan tugas dan tanggung
jawabnya
c. Evaluasi hasil
Target yang ingin kami capai dalam kegiatan aktivitas kelompok yang
dilakukan pada hari Rabu, 5 Februari 2020 pukul 09.00–09.45 WIB di Wisma
Mawar. Target yang ingin kami capai dalam pengembangan kemampuan
lansia untuk melakukan TAK ini sekitar 80 %. Dengan kriteria hasil:
1) Lansia mampu memberi respons terhadap musik yang didengar: 80 %
2) Lansia mampu menceritakan perasaannya setelah mendengarkan musik:
80%
3) Lansia merasa tidak bosan dalam melewati hari-harinya di Panti Tresna
Werdha 80 %
4) Lansia mampu mengungkapkan perasaannya berupa pengalaman yang
menyenangkan: 80%

I. PENUTUP
Demikian proposal ini kami buat, kami berharap kegiatan ini berjalan
dengan lancar tanpa hambatan suatu apapun. Kegiatan ini tidak bisa berjalan tanpa
partisipasi dan dukungan dari semua pihak khususnya pembimbing pendidikan dan
pembimbing lahan, untuk itu kami berharap demi suksesnya kegiatan tersebut
proposal ini dapat dijadikan sebagai landasan untuk jalannya kegiatan tersebut.
Lampiran
TERAPI MUSIK KELOMPOK
A. Pengertian
Musik merupakan hasil dari cipta dan rasa manusia atas kehidupan dan
dunianya. Musik mampu menenangkan pikiran saat bosan, gundah, dan juga
sebagai terapi reaktif (Lan, 2009). Terapi musik terdiri dari dua kata yaitu terapi
dan musik. Kata terapi berkaitan dengan serangkaian upaya yang dirancang untuk
membantu atau menolong orang. Biasanya kata tersebut digunakan dalam konteks
masalah fisik dan mental (Djohan, 2006).
B. Klasifikasi
Klasifikasi terapi musik dalam dunia penyembuhan dengan musik, dikenal 2
macam terapi musik, yaitu:
1. Terapi musik aktif.
Terapi musik aktif adalah keahlian menggunakan musik dan elemen musik
untuk meningkatkan, mempertahankan dan mengembalikan kesehatan mental,
fisik, emosional, dan spiritual. Terapi musik aktif ini dapat dilakukan dengan
cara mengajak klien bernyanyi, belajar main alat musik, bahkan menggunakan
lagu singkat atau dengan kata lain terjadi interaksi yang aktif antara yang diberi
terapi dengan yang memberi terapi (Halim, 2003 cit Purwanta, 2007).
2. Terapi musik pasif
Terapi musik pasif adalah terapi musik dengan cara mengajak klien
mendengarkan musik. Hasilnya akan efektif bila klien mendengarkan musik
yang disukainya (Halim, 2003 cit Purwanta, 2007). Terapi musik pasif
merupakan terapi musik yang murah, mudah dan efektif. Terapi musik pasif
merupakan terapi yang tidak melibatkan pasien, bertujuan untuk menjadikan
pasien rileks dan tenang (Deviana, 2011). Hal terpenting dalam terapi musik
pasif adalah pemilihan jenis musik harus tepat dengan kebutuhan pasien.

C. Pengaruh Terapi Music


Terapi musik memiliki pengaruh dan manfaat yang besar pada setiap orang
yang mendengarkannya. Terapi musik juga dapat berpengaruh pada sistem saraf
otak kita. Terdapat tiga sistem saraf dalam otak yang akan terpengaruh oleh musik
yang didengarkan, yaitu:
1. Sistem otak yang memproses perasaan.
Musik adalah bahasa jiwa, musik mampu membawa perasan kearah mana saja.
Musik yang Anda dengar akan merangsang sistem saraf yang akan
menghasilkan suatu perasaan. Perangsangan sistem saraf ini mempunyai arti
penting bagi pengobatan, karena sistem saraf ambil bagian dalam proses
fisiologis (Deviana, 2011). Dalam ilmu kedokteran jiwa, jika emosi tidak
harmonis, maka akan mengganggu sistem lain dalam tubuh kita, misalnya sistem
pernapasan, sistem endokrin, system immune, sistem kardiovaskuler, sistem
metabolik, sistem motorik, sistem nyeri, sistem temperatur dan lain sebagainya.
Semua sistem tersebut dapat bereaksi positif jika mendengar musik yang tepat
(Silvia, 2009).
2. Sistem otak kognitif
Aktivasi sistem otak kognitif dapat terjadi walaupun seseorang tidak
mendengarkan atau memperhatikan musik yang sedang diputar. Musik akan
merangsang sistem ini secara otomatis, walaupun seseorang tidak menyimak
atau memperhatikan musik yang sedang diputar (Silvia, 2009). Jika sistem ini
dirangsang maka akan dapat meningkatkan memori, matematika, logika, bahasa,
musik dan emosi. Musik berhasil merangsang pola pikir dan menjadi jembatan
bagi pemikiran-pemikiran yang lebih kompleks. Didukung pula oleh Goleman
(1995) dalam Martin Gardiner (1996) dari hasil penelitiannya mengatakan seni
dan musik dapat membantu otak berfokus pada hal lain yang dipelajari (Fauzi,
2008). Penelitian lain terkait dengan pengaruh musik yaitu mampu menjadikan
seseorang berpikir logis dan intutif, sekaligus cerdas, kreatif, jujur, dan tajam
perasaannya (Sirait, 2006).
3. Sistem dalam tubuh
Musik secara langsung bisa mempengaruhi kerja otot kita. Detak jantung dan
pernafasan bisa melambat atau cepat secara otomatis, tergantung alunan musik
yang didengar. Bahkan bayi dan orang tidak sadar pun tetap terpengaruh oleh
alunan musik (Sacks, 2011). Musik mampu mempengaruhi sistem dalam tubuh
kita, termasuk hormon-hormon dalam tubuh. Musik mampu mempengaruhi
denyut jantung dan tekanan darah dengan merangsang hormon adrenalin. Jenis
musik tertentu ternyata dapat memberikan efek relaksasi. Musik yang
menenangkan ini juga dipakai dalam pengobatan penderita infark miokard
(serangan jantung), pasien sebelum operasi, bahkan untuk menurunkan stress
pasien yang menunggu di ruang tunggu praktek (Sirait, 2006).

D. Terapi Musik Kelompok


Terapi musik kelompok adalah salah satu kombinasi baru yang merupakan
hasil adaptasi penggabungan antara terapi musik secara aktif maupun secara pasif
(Chen et al, 2009). Terapi musik kelompok dapat dilakukan dengan berbagai cara.
Menurut Mohammadi et al (2009) terdapat 5 tahapan terapi musik yang dapat
dilakukan, yaitu memainkan alat musik, bernyanyi, menari, mendengarkan lagu
atau musik, live music (mengekspresikan diri lewat musik). Bentuk pengekspresian
diri ini bisa berupa puisi, kemarahan, teriakan, kekesalan, dan nyanyian. Berbeda
dari Mohammadi et al (2009), Cheet al (2009) membagi terapi musik kelompok
menjadi beberapa fase/tahapan, yaitu:
1. Tahap Awal
Tahap awal fase merupakan tahap perkenalan dimana fasilitator dan peserta
memperkenalkan diri masing-masing. Perkenalan ini meliputi nama, latar
belakang singkat untuk para peserta. Setelah perkenalan yang singkat perlu ada
sedikit penjelasan tentang kegiatan yang akan dilakukan oleh leader (Chen et
al.,2009). Tahap perkenalan ini diharapkan dapat menambah keakraban dan
kepercayaan antara peserta dan fasilitator.
2. Pemanasan
Fase pemanasan merupakan fase pelenturan otot-otot terutama otot tangan dan
persendian, yang dapat dilakukan dalam fase ini adalah kegiatan pijat memijat
ataupun senam ringan. Pemijatan dapat dilakukan secara mandiri, bergantian
ataupun saling memijat antar peserta lansia (Pacchetti et al., 2001). Fase
pemanasan ini dapat diiringi dengan menggunakan alunan musik dan dapat juga
diselingi dengan game/permainan, sehingga membuat suasana lebih santai.
3. Menari
Fase menari dapat dilakukan dengan bantuan alunan musik. Para peserta menari
mulai dari ritme lambat sampai cepat mengikuti irama musik yang diberikan dan
ditentukan oleh fasilitator (Mohammadi et al.,2009). Menari membuat lansia dan
para peserta menjadi santai dan secara tidak lansung dapat menggerakkan
seluruh anggota badan untuk menjaga kebugaran tubuh.
4. Mendengarkan alunan musik santai
Para peserta lansia mendengarkan alunan musik santai dan dapat juga bernyanyi
bersama ataupun bermain alat musik bersama (Chen et al.,2009).
5. Menyimpulkan fase
Di akhir sesi fasilitator mengungkapkan penghargaannya kepada peserta dan
memberikan selamat serta berjabat tangan pada peserta. Fasilitator juga
menanyakan perasaan peserta, menanyakan lagu-lagu atau musik-musik yang
disukai peserta untuk dijadikan bahan pada pertemuan selanjutnya (Chen et
al.,2009). Diharapkan lagu/musik yang dipilih merupakan lagu atau musik
pilihan peserta
DAFTAR PUSTAKA

Chen, S.L., Lina, H.J., & Jane, S.W. (2009) Perceptions of Group Music Therapy
Among Elderly Nursing Home Residents in Taiwan. Complementary Therapies in
Medicine: 17, 190—195
Nugroho, W. (2005) Perawatan Lanjut Usia. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
1992. h. 17-25.
Susanto, (2011) Pengaruh Musik terhadap Psikologis Lansia. Artikel Psikologi. h 10-20.
Vink A.C., Bruinsma M.S., & Scholten R.J.P.M., (2013). Music therapy for people with
dementia (Intervention Review). [Internet]. The Cochrane Library 2013, Issue 9.
Available from: <http://www.thecochranelibrary.com> . [Accessed 30 January
2020].