Anda di halaman 1dari 11

BISNIS INTERNASIONAL

ANALISA FILM

Disusun oleh :

Kelompok 3

1. Muhammad Hafizh Al Ibrahim (185020200111004)


2. Ahmad Shofy Yuddin (185020200111060)
3. Nike Nurfita Dewi (185020200111075)
4. Faril Ardian (185020201111044)
5. Reynaldi Oksa Ariandri (185020207111036)

JURUSAN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

2019
Analisa Film ‘Gung Ho (1986)’ Terkait dengan Materi Bisnis Internasional

“Perbedaan budaya”

Kerangka Berpikir

Dalam melakukan kegiatan bisnis internasional, salah satu hal penting yang
perlu diperhatikan yakni budaya. Tentu saja setiap negara memiliki budayanya
masing-masing, bahkan dalam satu negara terkadang terdapat banyak budaya yang
berbeda. Perbedaan budaya ini dapat mencakup beberapa hal seperti bahasa,
perilaku, pakaian, kebiasaan, dan lain sebagainya. Namun, terkadang hal tersebut
hanya dianggap sebagai persoalaan mudah bahkan tidak dipikirkan sama sekali,
misalnya saja bahasa. Memang benar jika bahasa internasional adalah bahasa
Inggris, namun tidak semua orang mahir berbahasa Inggris, jadi kendala untuk
berkomunikasi masih ditemukan.

Permasalahan bisnis internasional dapat dilihat dari sebuah film tahun 1986
yang berjudul Gung Ho yang menceritakan masalah perbedaan budaya saat
melakukan bisnis antar negara. Singkat cerita seorang warga Amerika Serikat, Hunt
Stevensson, mendapatkan tugas dari wali kota Hadleyville untuk menyelamatkan
warga kota dari permasalahan pengangguran akibat kehilangan pekerjaan mereka
karena kebangkrutan pabrik mobil di kota tersebut. Hunt mendapat mandat untuk
mencari investor dari negara Jepang untuk membeli pabrik yang bangkut tersebut.
Saat tiba di Jepang, banyak permasalahan dihadapi oleh Hunt karena
ketidaktahuannya tentang bahasa dan budaya Jepang, hingga akhirnya ia bertemu
Oishi Kazuhiro, seorang manajer Assan Motor yang gagal. Pertemuan tersebut
membawa kepada keputusan untuk saling bekerjasama antar kedua pihak. Seiring
berjalannya waktu, masalah-masalah bermunculan hingga akhirnya kerjasama yang
terjalin tersebut gagal. Namun, Hunt dan Oishi tetap ingin kerjasama tersebut dapat
berjalan dan berhasil. Berdasarkan alur cerita singkat di atas, apa yang dapat
dihubungkan dengan materi perkuliahan mata kuliah Bisnis Internasional dan
kesimpulan apa yang dapat diambil dari analisia tersebut.

Analisis Komprehensif

Budaya dapat diartikan sebagai “Sesuatu yang kompleks dengan beberapa


komponen yang ada didalamnya seperti pengetahuan, kepercayaan, seni, moral,
hukum, adat, dan komponen lainnya yang dimiliki manusia dalam kehidupan
bermasyarakat” (Edward Taylor, 2013: 101). Seperti yang sudah dijelaskan tadi,
bahwa perbedaan budaya perlu diperhatikan dalam melakukan Bisnis Internasional
agar nantinya usaha yang ada di antar negara dapat menyesuaikan dengan budaya
yang ada.

Film Gung Ho tadi yang menceritakan seorang warga Amerika yang ingin
mencari investor dari Jepang untuk menyelamatkan warga kotanya dari
permasalahan pengangguran, memiliki keterkaitan yang jelas dengan materi
“Perbedaan Budaya” dari Bisnis Internasional ini. Berikut merupakan beberapa
penjelasan tentang keterkaitan film dengan materi yang ada.

1. Budaya, Masyarakat, dan Negara


Perbedaan budaya orang timur dan orang barat sangat terlihat pada
kebiasaanya. Dalam film Gung Ho, diceritakan bahwa orang Jepang
merupakan orang yang memiliki etos kerja tinggi, dan disiplin. Namun
orang Amerika diceritakan sebaliknya, sering terlambat dan mudah
mengeluh. Tentu saja hal tersebut sangat berpengaruh pada tingkat
produktivitas kinerja perusahaan. Di dalam film, Oishi sempat mengeluhkan
bahwa orang Amerika sangat dibawah kata produktif jika dibandingkan
dengan orang Jepang, yang dapat memproduksi mobil hingga 15.000 unit
dalam kurun waktu hanya 1 bulan, tetapi orang Amerika juga hampir
melampaui angka tersebut dengan dukungan motivasi dari Hunt. Perbedaan
lagi dapat dilihat dari sikap orang Amerika yang etnosentris, yaitu seperti
saat mereka menganggap bahwa kebiasaan orang Jepang untuk senam pagi
sebelum bekerja dianggap konyol.
2. Kehidupan Sosial
Di Film tersebut, perbedaan budaya yang terlihat sangat jelas tentunya
adalah bahasa. Hunt, seorang warga Amerika, terlihat kesusahaan dan
sempat tersasar di Jepang saat sedang melakukan pencarian investor karena
ketidaktahuannya akan bahasa Jepang. Selain itu, yang digambarkan film
tersebut bahwa orang Amerika merupakan orang yang memiliki kehidupan
sosial yang baik terhadap sesamanya seperti menolak untuk bekerja lebih
keras lagi karena masih ingin bertemu dengan keluarga mereka di rumah.
Lalu dibalik ‘keangkuhan’ orang Amerika, mereka akhirnya dapat juga
membaur dengan kebiasan orang Jepang yaitu mengikuti senam pagi
sebelum bekerja.
3. Perbedaan Budaya Amerika dan Jepang
a. Nilai
Dari segi nilai, Amerika memiliki pengakuan terhadap nilai-nilai
yang terdapat pada masing-masing individu, serta mereka
menghargai kepentingan yang dimiliki orang lain. Sedangkan,
Jepang tidak terlalu mengakui nilai-nilai yang terdapat pada
individu, merka justru mengakui nilai-nilai kebersamaan satu
dengan yang lain.
b. Norma
 Kebiasaan
Dari segi kebiasaan, Jepang memiliki etos kerja yang tinggi
dan dikenal disiplin. Selain itu Jepang sangat menomor satukan
pekerjaan dibanding apapun. Sedangkan Amerika masih santai
dalam bekerja dan memperhatikan hal lain dibanding pekerjaan,
misalnya keluarganya. Hal tersebut ditandai saat para pekerja
Amerika menolak untuk bekerja lembur lagi karena masih ingin
berkumpul dengan keluarganya.
 Tata Kelakuan
Dari segi tata kelakuan, Jepang memiliki sikap yang ramah
dan sangat menghormati bangsa lainnya. Sedangkan Amerika
cenderung merasa lebih hebat dari bangsa lain dan meremehkan
orang Jepang. Hal tersebut dapat dilihat saat para pekerja
Amerika menganggap kebiasaan orang Jepang bersenam pagi
lucu dan konyol.
c. Faktor Budaya
 Agama dan Sistem Etika
Jepang, sebagian besar orang Jepang menganut lebih dari
satu agama dan sepanjang tahunnya mengikuti ritual dan
perayaan dalam berbagai agama. Mayoritas orang Jepang
dilahirkan sebagai penganut Shinto, merayakan Shichi-Go-San,
hatsumōde, dan matsuri di kuil Shinto. Ketika menikah,
sebagian di antaranya menikah dalam upacara pernikahan
Kristen. Penghormatan terhadap arwah leluhur dinyatakan
dalam perayaan Obon, dan ketika meninggal dunia dimakamkan
dengan upacara pemakaman agama Buddha. Sedangkan USA,
ayoritas dari penduduk Amerika Serikat adalah penganut agama
Kristen dengan persentase sebesar 70,6%. Penganut agama
Kristen di Amerika Serikat terdiri dari bermacam-macam
denominasi.
 Filosofi Politik
Jepang, dalam sistem politik menganut negara monarki
konstitusional yang sangat membatasi kekuasaan Kaisar
Jepang.Sebagai kepala negara seremonial, kedudukan Kaisar
Jepang diatur dalam konstitusi sebagai “simbol negara dan
pemersatu rakyat”. Kekuasaan pemerintah berada di tangan
Perdana Menteri Jepang dan anggota terpilih Parlemen Jepang,
sementara kedaulatan sepenuhnya berada di tangan rakyat
Jepang. Kaisar Jepang bertindak sebagai kepala Negara dalam
urusan diplomatik. Sedangkan, sistem politik negara Amerika
Serikat adalah republik federal dengan 50 negara bagian, yaitu
49 negara bagian dan satu distrik. Sistem pemerintahannya
adalah presidensial sehingga presiden menjadi kepala negara
dan kepala pemerintahan.
 Filosofi Ekonomi
Jepang. Negara Jepang menganut kapitalisasi pasar dan
industrialisasi. Dikarenakan Jepang menganut kapitalis pasar
maka bisa dikatakan untuk masuk pasar Jepang sangatlah mudah
karena negara mereka terbuka dalam persaingan bebas didalam
suatu pasar. Kemudian dari segi ekonomi dan pekerjaan
masyarakat Jepang adalah masyarakat pekerja keras, teliti, dan
disiplin sehingga perusahaan mobil Jepang yang bernama Assan
Motor Company yang dianggap sudah bangkrut dan sudah lama
tutup tiba- tiba mendapat tawaran untuk membuka kembali
pabrik motor tersebut di Amerika Serikat dan akhirnya mereka
berhasil bekerja sama dengan masyarakat USA. dan selain itu
perilaku pekerja keras mereka mencerminkan hasil dari produk
yang berkualitas untuk konsumen.
USA. Negara Amerika Serikat menganut sistem ekonomi
campuran. sistem yang memberi kebebasan kepada pihak swasta
atau masyarakat untuk melakukan kegiatan ekonomi, namun
terdapat intervensi atau campur tangan pemerintah atas kegiatan
ekonomi masyarakat tersebut. Tujuan adanya intervensi oleh
pemerintah dalam sistem ekonomi campuran adalah untuk
menghindari akibat buruk atau hal tidak menguntungkan yang
timbul dari sistem ekonomi terpusat maupun liberal, misalnya
terjadi monopoli atas sumber daya ekonomi oleh pihak-pihak
tertentu. Dari film tersebut bisa dilihat ketika Hunt di tunjuk
sebagai perwakilan dari kaum buruh untuk berangkat ke Jepang
oleh walikota yang ada di Hadleyville untuk membuka kembali
pabrik mobil di Amerika Serikat yang telah lama di tutup.
 Pendidikan
Jepang. Pendidikan di Negara Jepang sangatlah penting
dimana lebih difokuskan pada pengembangan watak kepribadian
dalam kaitannya terhadap kehidupan sehari-hari dan penilaian
ditentukan oleh guru/dosen dengan melihat kinerja belajar siswa
sehari-hari sebagai penentu kelulusan. Terbukti pada film Gung
Ho ketika Kozihiro memiliki kinerja buruk maka ia harus
mendapatkan pelatihan. untuk Pelajaran tentang seni dan
kebersamaan sangat diterapkan di pendidikan Jepang. Alhasil di
film tersebut orang Jepang mengajarkan sebelum bekerja harus
melakukan olahraga atau senam bersama demi untuk menjalin
hubungan baik antar atasan dengan pekerja. Selain itu, orang
Jepang juga mempunyai tradisi untuk berendam bersama antaran
atasan dan pekerja sehingga tidak ada yang namanya
kesenjangan sosial atau membeda-bedakan antara satu sama
lain.
USA. pendidikan di Amerika merupakan hal yang penting.
Dari segi sikap dan perilaku masyarakat Amerika adalah
masyarakat yang pantang menyerah dalam melakukan sesuatu
terbukti ketika orang Amerika sedang berada di titik
kekecewaannya terhadap Hunt dan pabrik tempat mereka
bekerja mereka harus menyelesaikan pekerjaan sebanyak 15.000
mobil. Dan dengan team work yang baik akhirnya mereka bisa
menyelesaikan tugas tersebut. Dan dari segi kepekaan rasa
mereka lebih baik dibandingkan masyarakat Jepang. Terlihat
dari film tersebut bahwa orang Jepang terlalu kaku, dan
berorientasi. Sedangkan orang Amerika lebih tenang dan sangat
menyayangi keluarga.
 Bahasa
Jepang, bahasa yang digunakan sangat sopan kepada atasan dan
untuk ke rekanya tidak membuat sakit hati, untuk berbicara ke
orang lain (orang asing ) sangat ditata tidak asal mengucap.
Amerika, bahasa yang digunakan amerika tidak sopan
walaupun itu terhadap atasan di dalam pekerjaan dan temanya,
mereka menganggap hal itu sama di mata mereka, di dalam tutur
bicaranya bahasa yang digunakan banyak candaan yang bersifat
kasar yang bisa menyakiti orang lain.

 Struktur Sosial
Jepang, struktur social di jepang sangat bisa begitu terlihat, di
(film Gung Ho) dalam urusan bisnis teman dekat bisa menjadi
senoritas di urusan bisnis tersebut akan tetapi di luar bisnis dia
bisa dan menikmati air sungai bersama- sama sambil
bercengkrama tanpa ada status social.
Amerika, struktur social di amerika tidak terihat, di (film Gung
Ho) terutama urusan bisnis dia tidak bisa membedakan mana
atasan dan bawahan seperti karyawan amerika tidak terima
bahwa pekerjaanya jelek oleh atasanya orang jepang dan malah
menghina. Orang amerika memandang sama cara berperilaku
antara di dalam bisnis maupun di luar bisnis.

Kesimpulan

Perbedaan kehidupan berbudaya antar negara memang memiliki banyak


dampak bagi aktivitas bisnis internasional. Tidak semua orang memiliki etos kerja
dan produktivitas yang sama, seperti yang digambarkan film Gung Ho, bahwa
orang Jepang lebih disiplin dan giat dalam bekerja jika dibandingkan dengan orang
Amerika yang bekerja ‘biasa saja’ jika tidak termotivasi. Di film Gung Ho juga
mengajari tentang pepatah “dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung” yang
maksudnya jika dalam kehidupan sehari-hari kita harus menghormati atau
mematuhi adat-istiadat dimana tempat kita tinggal.

Kenali bagaimana perbedaan dalam budaya sosial

mempengaruhi nilai-nilai di tempat kerja

Hari pertama kerja di pabrik Assan Motor yang baru diawali dengan senam pagi,
bagi orang Jepang senam pagi adalah hal yang penting dalam memulai kerja, namun
orang Amerika tidak terbiasa akan hal ini, jadi ketika senam pagi dimulai orang-
orang Amerika menertawakan orang Jepang tersebut yang mereka anggap senam
tersebut adalah sebuah lelucon.

Para pekerja mulai bekerja dihari pertama dan sangat terasa perbedaan karakter
antara orang Amerika dan orang Jepang, dimana orang Jepang dalam memproduksi
mobil tidak menginginkan kecacatan sedikitpun, sehingga orang-orang Amerika
yang sering melakukan kesalahan dalam bekerja juga sering mendapat semprotan
para pengawas pekerjaan dari orang-orang Jepang. Dan tidak cuma itu orang-orang
Jepang kewalahan menangani orang-orang Amerika yang cenderung susah diatur
dan menganggap diri mereka itu lebih pandai dari orang-orang Jepang, dan satu lagi
orang Amerika tidak disiplin dalam bekerja yang dimana mereka lebih sering
datang telat dan pulang lebih awal.

Analisis SWOT karakter orang Jepang dan Amerika

1) Untuk Negara Amerika


Untuk orang-orang Amerika, mereka cenderung lebih sombong terhadap
apa yang mereka miliki, mereka menganggap diri mereka lebih hebat
dibandingkan dengan orang-orang dari negara lain, mereka sulit menerima
kalau orang Jepang mampu mengalahkan mereka dalam dunia pekerjaan
dan segalanya. Dan selain itu mereka cenderung tidak memperhatikan
kedisiplinan, sehingga budaya telat sudah menjadi kebiasaan mereka,
namun dibalik semua itu mereka memiliki rasa sosial antar sesama yang
sangat tinggi apalagi terhadap keluarga mereka, itu artinya kehidupam
sosial mereka cukup bagus. Dengan karakter mereka ini dalam dunia kerja
mungkin akan merugikan instansi atau perusahaan yang mereka tempati,
karena kekerasan mereka dalam hal kedisiplinan, namun adakalanya
perusahaan membutuhkan orang yang cerdas dalam hubungan sosial yang
nantinya bisa diajak bekerjasama untuk bernegosiasi dan mempengaruhi
masyarakat dalam arti yang positif.

2) Untuk Negara Jepang


Untuk orang-orang jepang sendiri, mereka cenderung lebih disiplin dalam
segala hal dan memiliki loyalitas yang tinggi terhadap atasan dan peraturan
yang berlaku, orang-orang jepang juga memiliki rasa malu yang tinggi
ketika mereka melakukan kesalahan dan bersiap melakukan apapun untuk
memperbaiki kesalahan mereka, ketika dalam perusahaan mereka
melakukan kesalahan, maka mereka siap lembur habis-habisan untuk
mengatasi masalah yang timbul akibat kesalahan yang telah mereka
lakukan, dan juga mereka lebih mementingkan perusahaan daripada
hubungan sosial mereka tak terkecuali dengan keluarga mereka sendiri.
Namun dengan disiplin dan loyalitas yang begitu tinggi membuat mereka
seolah-olah bukanlah manusia, melainkan sebuah robot yang terus bekerja
tanpa henti yang tidak memiliki kehidupan selain pekerjaan mereka sendiri
dan juga mengurangi kepekaan sosial mereka terhadap lingkungan sekitar,
buktinya mereka lebih mementingkan pekerjaan dibandingkan keluarga
mereka sendiri. Dengan karakter mereka yang pekerja keras itu akan
menguntungkan instansi tempat dimana mereka bekerja, namun ancaman
yang ada dalam diri mereka ialah mereka hanya akan mendapatkan uang
atau keuntungan yang besar, dibalik itu semua mereka tidak akan
mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya karena pekerjaan dianggap
sebuah kewajiban yang berada diatas segalanya yang terkadang menjadi
sebuah keterpaksaan untuk menjalankannya.

Anda mungkin juga menyukai