Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Anak usia prasekolah adalah anak yang berusia 3-5 tahun, tumbuh lebih
lambat daripada tahun sebelumnya, dan anak prasekolah yang sehat bertubuh ramping
dan tangkas, dengan postur tubuh yang tegak. Perkembangan kognitif, bahasa, dan
psikososial sangat penting selama periode prasekolah (Papalia & Felman, 2011).
Masa prasekolah terjadi berbagai proses pertumbuhan dan perkembangan yang pesat
pada anak. Pada masa ini daya imajinasi dan kreatifitas anak mulai berkembang, pada
perkembangan motorik halus, anak sudah bisa memegang alat tulis dengan benar,
belajar menggambar dan mewarnai, menggambar kotak, garis garis, dan sebagainya.
Sebagian besar tugas yang dimulai selama periode todler dikuasai dan disempurnakan
selama periode prasekolah. Anak harus belajar untuk menoleransi perpisahan dari
orang tua, memiliki rentang perhatian yang lebih panjang, dan terus belajar
keterampilan yang akan mengarah pada keberhasilan di kemudian hari pada periode
usia sekolah. Anak-anak pada usia ini membutuhkan bahasa dan hubungan sosial yang
lebih luas, serta dapat memperoleh kontrol dan penguasaan diri, dam mereka semakin
menyadari sifat ketergantungan dan kemandirian, dan dapat mulai membentuk konsep
diri (Wong, 2009).

Tidak hanya orang dewasa, anak juga dapat terserang suatu penyakit dan
membutuhkan hospitalisasi untuk diagnosa dan pengobatan penyakitnya. Hospitalisasi
pada anak merupakan proses karena suatu alasan yang berencana atau darurat
mengharuskan anak untuk tinggal dirumah sakit menjalani terapi dan perawatan
sampai pemulangan kembali ke rumah (Wowiling, Ismanto, & Babakal, 2014).
Hospitalisasi adalah suatu keadaan krisis pada anak, saat anak sakit dan dirawat di
rumah sakit sehingga anak harus beradaptasi dengan lingkungan rumah sakit
(Wowiling, Ismanto, & Babakal, 2014). Mekanisme koping sangat penting dalam
proses adaptasi anak selama hopitalisasi, karena apabila anak mampu beradaptasi
dengan baik atau koping yang positif dapat mendukung dalam proses
penyembuhannya, dimana koping yang positif atau adaptif ditandai sikap yang positif
contohnya yaitu optimis, kompetensi, dan kepatuhan, sedangkan koping yang
1
maladaptif ditunjukan anak dengan sikap yang negatif yaitu menarik diri, mudah
tersinggung, suka murung dan diperlihatkannya dengan tindakan yang agresif.

Media yang efektif dalam upaya untuk mengatasi koping maladaptif saat
hospitalisasi dan sebagai media interaksi antara perawat dan anak adalah dengan
bermain. bermain pada anak adalah suatu kegiatan yang dilaksanakan anak meskipun
hal tersebut tidak menghasilkan komoditas tertentu misalnya keuntungan finansial.
Anak bebas mengekspresikan perasaan takut, cemas, gembira atau, perasaan lainnya,
sehingga dengan memberikan kebebasan bermain orang tua mengetahui suasana hati
anak (Nursalam, 2005). Banyak terdapat jenis terapi bermain yang dapat diberikan
kepada anak prasekolah yang mengalami hopitalisasi salah satu contohnya adalah
terapi bemain mewarnai gambar, dimana anak lebih mudah mengekpresikan pikiran
mereka, karena lukisan dan gambar merupakan media yang luar biasa untuk
berekspresi. Berdasarkan uraian diatas, penyusun akan menjelaskan lebih rinci
tentang keperawatan anak prasekolah dari segi tumbuh, kembang, proses hospitalisasi
dan bermain.

B. Rumusan Masalah

1. Apa Pengertian Anak Prasekolah?


2. Bagaimana Pertumbuhan Anak Prasekolah?
3. Bagaimana Perkembangan Anak Prasekolah?
4. Bagaimana Komunikasi Anak Prasekolah?
5. Bagaimana Fase Bermain Anak Prasekolah?
6. Bagaimana Hospitalisasi Anak Prasekolah?
C. Tujuan

1. Untuk Mengetahui Pengertian Anak Prasekolah


2. Untuk Mengetahui Pertumbuhan Anak Prasekolah
3. Untuk Mengetahui Perkembangan Anak Prasekolah
4. Untuk Mengetahui Komunikasi Anak Prasekolah
5. Untuk Mengetahui Fase Bermain Anak Prasekolah
6. Untuk Mengetahui Hospitalisasi Anak Prasekolah

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Anak Prasekolah

Menurut Wong anak prasekolah adalah anak yang berusia 3-5 tahun. Anak pra
sekolah adalah mereka yang berusia antar tiga sampai enam tahun (Patmonodewo,
1995). Masa pra sekolah menurut Muwandar (1992) merupakan masa untuk bermain
dan mulai memasuki taman kanak-kanak. Pada tahap ini, dimulai dari waktu anak-
anak dapat bergerak dan berdiri sampai mereka masuk sekolah. Pada usia tersebut
dicirikan dengan aktivitas yang tinggi dan menemukan hal-hal baru. Periode ini,
merupakan perkembangan fisik dan kepribadian yang besar. Pada anak usia
prasekolah mempunyai kemampuan motorik kasardanhalus yang lebih matang dari
pada usia toddler. Perkembangan motorik halus anak usia prasekolah anak sudah biasa
mulai menggambar, mewarnai, dan membuat coretan diatas kertas (Hidayat, 2005).
Anak-anak pada usia ini membutuhkan bahasa dan hubungan sosial yang lebih luas,
serta dapat memperoleh kontrol dan penguasaan diri, dan mereka semakin menyadari
sifat ketergantungan dan kemandirian, dan dapat mulai membentuk konsep diri
(Wong, 2009).

Menurut Hurlock, ciri-ciri ank usia prasekolah meliputi fisik, mototrik,


intelektual, dan sosial. Ciri fisik anak usia ini adalah otot-otot lebih kuat dan
pertumbuhan tulang menjadi lebih besar dan keras. Anak prasekolah mempergunakan
gerak dasar seperti berlari, berjalan, memanjat, melompat sebagai bagian dari
permainan mereka. Secara motorik anak mampu memanipulasi objek kecil,
menggunakan balok-balok dan berbagai ukuran dan bentuk . Selain itu anak juga
memiliki rasa ingin tahu, rasa emosi, cemburu, dan iri.

B. Pertumbuhan Anak Prasekolah

Pertumbuhan adalah berkembangnya dengan perubahan dalam besar, jumlah,


ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu yang bisa diukur dengan
ukuran berat (kg/gr) atau ukuran panjang (meter/centimeter) (Soetjiningsih: 1998).

Menurut Whaley and Wong, pertumbuhan sebagai suatu peningkatan jumlah


atau ukuran/sel tubuh yang ditunjukan dengan adanya peningkatan ukuran dan berat
seluruh bagian tubuh.
3
Pertumbuhan pada anak usia pra sekolah, bebrapa aspek pertumbuhan fisik
terus menjadi stabil dalam tahun pra sekolah. Waktu rata-rata denyut jantung dan
pernapasan menurun hanya sedikit mendekati 90x/menit dan pernapasan 22-
24x/menit. Tekanan darah meningkat sedikit ke nilai rata-rata 95/58mmHg. Berat
badan anak meningkat kira-kira 2,5 kg/tahun, berat badan rata-rata pada usia 5 tahun
adalh kira-kira 21 kg, hampir 6 kali berat badan lahir. Prasekolah bertumbuh 2-3 inci
per tahun, panjang menjadi dua kali lipat panjang lahir pada usia 4 tahun, dan berada
pada tinggi rata-rata 43 inci.

1. Berat badan dan Tinggi badan


Salah satu untuk mengetahui pertumbuhan balita terutama pada ukuran berat badan
dan tinggi badan dapat menggunakan ukukuran yang telah ditetapkan oleh WHO,
sebagai berikut:

Usia bayi Tinggi Badan Berat badan


(tahun) (Cm) (Kg)
3 95 14
4 102 16
5 116 20

Umur Ke-5 Ke-10 Ke-25 Ke-50 Ke-75 Ke-90


(tahun) Kg, cm Kg,cm Kg,cm Kg,cm Kg,cm Kg,cm
3 TB: 89,0 TB: 90,3 TB: 92,6 TB: 94,9 TB: 97,5 TB: 100,1
BB: 12,05 BB: 12,58 BB:13,52 BB: 14,62 BB: 15,78 BB: 16,95
3,5 TB:92,5 TB: 93,9 TB: 96,4 TB: 99,1 TB:101,7 TB: 104,3
BB: 12,84 BB: 13,41 BB: 14,46 BB: 15,68 BB: 16,90 BB: 18,15
4 TB:95,8 TB: 97,9 TB: 100,0 TB: 102,9 TB: 105,7 TB: 108,2
BB:13,64 BB: 14,24 BB: 15,39 BB: 16,69 BB: 17,99 BB: 19,32
4,5 TB: 98,9 TB: 100,6 TB: 103,4 TB: 106,6 TB: 109,4 TB: 111,9
BB: 14,45 BB: BB: 16,30 BB: 17,69 BB:19,06 BB: 20,50
15,1O
5 TB: 102,0 TB: 103,7 TB: 106,5 TB: 109,9 TB: 112,8 TB: 115,4
BB: 15,7 BB: 15,96 BB: 17,22 BB: 18,67 BB: 20,14 BB:,21,70

2. Lingkar Lengan Atas

4
Lingkar lengan atas (LLA) menggambarkan tumbuh kembang jaringan lemak
di bawah kulit dan otot yang tidak banyak terpengaruh oleh keadaan cairan tubuh
dibandingkan dengan berat badan (BB). LLA lebih sesuai untuk dipakai menilai
keadaan gizi/tumbuh kembang pada anak kelompok umur prasekolah (3-5 tahun).

Pengukuran LLA ini mudah, murah, alat bisa dibuat sendiri dan bisa dilakukan
oleh siapa saja. Alat yang digunakan biasanya adalah pita ukur elastis. Namun,
penggunaan LLA ini lebih tepat untuk mengidentifikasi anak dengan gangguan
gizi/pertumbuhan fisik yang berat. Selain itu terkadang pengukurannya juga
dengan menekan pertengahan LLA yang dirasakan tidak nyaman bagi anak-anak.
Interpretasi hasil dapat berupa:

1. LLA (cm):
< 12.5 cm = gizi buruk (merah)
12.5 – 13.5 cm = gizi kurang (kuning)
>13.5 cm = gizi baik (hijau).
2. Bila umur tidak diketahui, status gizi dinilai dengan indeks:
LLA/TB: <75% = gizi buruk
75-80% = gizi kurang
80-85% = borderline
>85% = gizi baik (normal).

3. Lingkar Kepala
Ukuran lingkar kepala dimaksudkan untuk menaksir pertumbuhan otak.
Pertumbuhan ukuran lingkar kepala umumnya mengikuti pertumbuhan otak
sehingga bila ada hambatan/ gangguan pertumbuhan lingkar kepala, pertumbuhan
otak biasanya juga terhambat. Berat otak janin saat kehamilan 20 minggu
diperkirakan 100 gr, waktu lahir sekitar 350 gram, pada usia 1 tahun hampir
mencapai 3 kali lipat yaitu 925 gram atau mencapai 75% dari berat seluruhnya.
Pada usia 3 tahun sekitar 1100 gr dan pada 6 tahun pertumbuhan otak telah
mencapai 90% (1260 gr). Pada usia dewasa, berat otak mencapai 1400 gr.

Secara normal pertambahan ukuran lingkar kepala setiap tahap relatif konstan
dan tidak dipengaruhi oleh faktor ras, bangsa dan letak geografi. Saat lahir ukuran
ling- kar kepala normalnya 34-35 cm. Kemudian bertambah + 0,5 cm/bulan pada
bulan pertama atau menjadi + 44 cm. Pada 6 bulan pertama, pertumbuhan lingkar
kepa- la paling cepat dibanding tahap berikutnya kemudian tahun-tahun pertama
lingkar kepala bertambah tidak lebih dari 5 cm/th. Pada dua tahun pertama,

5
pertumbuhan otak relatif pesat. Setelah itu sampai usia 18 tahun lingkar kepala
hanya bertambah + 10 cm.

Pertambahan yang relatif konstan juga dapat diketahui dari proporsi besar
kepala dengan panjang badan.Saat lahir kepala berukuran seperempat (¼) bagian
dari pan- jang badan dan setelah dewasa besar kepala hanya seperdelapan (1/8)
dari panjang badan. Oleh karena itu lingkar kepala ini hanya efektif pada 6 bulan
pertama sampai umur 2-3 tahun, kecuali pada keadaan tertentu seperti bentuk
kepala yang besar pada anak yang menderita Hidrocephalus.

Pengukuran lingkar kepala lebih sulit bila dibandingkan dengan ukuran


antropometri lainnya dan jarang dilakukan pada balita, kecuali bila ada
kecurigaan pertumbuhan yang tidak normal.Namun alat yang dibutuhkan cukup
sederhana yaitu dengan pita pengukuran.

6
4. Lingkar Dada
Saat lahir diameter transversal dan anteroposterior hampir sama yaitu sekitar
34-35 cm sehingga bentuk dadanya seperti silinder. Dengan bertambahnya usia,
ukuran diameter transversal menjadi lebih besar dibanding diameter
anteroposterior, sehingga bentuk dada menjadi gepeng. Pertambahan ukuran
lingkar dada lebih lambat dibanding ukuran lingkar kepala. Sebagaimana lingkar
lengan atas, pengukuran lingkar dada jarang dilakukan. Untuk pengukurannya
dilakukan pada saat bernafas biasa (mid respirasi) pada tulang Xifoidius (incisura
substernalis). Pengukuran lingkar dada ini dilakukan dengan posisi berdiri pada
anak yang lebih besar, sedangkan pada bayi dengan posisi berbaring.

5. Antopometri Nutrisi
Antropometri berasal dari kata anthropos yang berarti tubuh dan methros
yang berarti ukuran. Secara sempit, antropometri dapat didefinisikan sebagai
ukuran dari tubuh. Dilihat dari sudut pandang ilmu gizi, antropometri
didefinisikan sebagai pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari
7
berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Makanan sehari-hari yang dipilih dengan
baik akan memberikan semua zat gizi yang dibutuhkan untuk fungsi normal
tubuh. Sebaliknya, bila makanan tidak dipilih dengan baik, tubuh akan
mengalami kekurangan zat-zat gizi esensial tertentu. Zat-zat gizi yang dapat
memberikan energi adalah karbohidrat, lemak dan protein. Oksidasi zat-zat gizi
ini menghasilkan energi yang diperlukan tubuh untuk melakukan aktivitas
(Almatsier,2002).

Bahan pangan penghasil zat pembangun adalah protein. Ada protein


metabolik yang dibutuhkan dalam proses metabolisme tubuh dan protein
struktural sel. Kelompok rawan seperti bayi, balita, anak yang sedang tumbuh
maupun ibu hamil dan ibu menyusui membutuhkan protein dalam jumlah besar
sehingga kebutuhan juga meningkat (Sudiarti dan Indrawani, 2007).

Pengukuran status gizi melalui antropometri mempunyai beberapa


kelebihan dan kelemahan. Kelebihan dari antropometri yaitu:

a) Prosedur sederhana, aman, dan dapat dilakukan pada jumlah sampel yang
besar.

b) Tidak perlu dilakukan oleh tenaga ahli. Cukup dilakukan oleh seseorang yang
sudah menjalani pelatihan singkat mengenai pengukuran antropometri.

c) Alat yang diperlukan murah, mudah dibawa, tahan lama, dan mudah didapat.
Hanya alat tertentu seperti skin fold caliper yang susah didapat karena
penggunaannya yang spesifik sehingga ketersediannya terbatas.

d) Metode tepat dan akurat karena dapat dibakukan.

e) Dapat menggambarkan riwayat gizi di masa lalu.

f) Dapat mengidentifikasi status gizi sedang, kurang, buruk karena sudah ada
ambang batas yang jelas.

g) Dapat mengevaluasi perubahan status gizi pada periode tertentu.

h) Dapat digunakan untuk skrining kelompok yang rawan.

Kelemahan antropometri yaitu:


8
a) Tidak dapat mendeteksi status gizi dalam kurun waktu singkat.

b) Tidak dapat membedakan kekurangan zat gizi tertentu.

c) Faktor di luar gizi seperti penyakit, genetik, dan penurunan penggunaan

d) energi dapat menurunkan sensitifitas dan spesifisitas.

Nutrisi sehat selama masa kanak-kanak harus mencakup makan berbagai


makanan dan mengkonsumsi energi yang cukup untuk meningkatkan
pertumbuhan dan perkembangan, sambil menghindari perkembangan obesitas
(kleinman, 2009). untuk anak-anak prasekolah, kebutuhan kalori per unit berat
badan sedikit menurun hingga 90 kkal/kg, untuk asupan harian rata-rata 1800
kalori. Kebutuhan cairan juga dapat sedikit menurun (sekitar 100 ml / kg per
hari), tetapi tergantung pada tingkat aktivitas, kondisi iklim, dan kondisi
kesehatan. peningkatan kebutuhan protein seiring bertambahnya usia, asupan
yang direkomendasikan untuk anak-anak prasekolah, adalah 13 hingga 19 gr /
hari, (0,45 hingga 0,67 ons/hari), (otten, hellwig, dan mayers 2006). pada anak-
anak di atas 2 tahun, asupan serat makanan harus sama dengan usia anak
ditambah 5 gram per hari (kleinman, 2009).

Akademi Komite Pediatri Nutrisi American merekomendasikan pedoman


berikut untuk anak-anak di atas usia 2 tahun; Konsumsi asam lemak jenuh harus
kurang dari 10% dari total asupan kalori, total lemak selama beberapa hari harus
20% hingga 30% dari total asupan kalori, dan konsumsi kolesterol harus kurang
dari 300 mg/hari (Kleinman, 2009). Pembuktian mendukung kemanjuran
mengikuti rekomendasi ini, dan efek kesehatan negatif belum dilaporkan
(American Heart Association, Gidding, Dennison, et al, 2006). Upaya ini penting
dalam pencegahan obesitas anak, penyakit kardiovaskular, diabetes, dan sindrom
metabolik. Sambil membatasi konsumsi lemak, penting juga untuk memastikan
diet tersebut mengandung nutrisi yang cukup. ini dapat dilakukan secara
bersamaan seperti pada contoh berikut tentang kalsium. rekomendasi untuk
asupan kalsium harian untuk anak-anak 1 hingga 3 tahun adalah 500 mg, dan
rekomendasi untuk anak-anak berusia 4 hingga 8 tahun adalah 800 mg (Otten,
Hellwig, dan Meyers, 2006). Konsumsi sedikit lemak, dengan mengganti produk
tinggi lemak seperti keju, yogurt, dan susu dengan produk rendah lemak.

9
Konsumsi jus buah yang berlebihan dan minuman manis lainnya dapat
berdampak pada kesehatan seperti menyebabkan karies gigi, gangguan
pencernaan seperti diare kronis, dan diet yang buruk dalam nilai gizi (Allen dan
Myers, 2006). American Academy of Pediatrics merekomendasikan membatasi
asupan jus buah 100% menjadi 4 hingga 6 ons/hari untuk anak-anak usia 1 hingga
6 tahun (American Heart Association, Gidding, Dennison, et al, 2006). Perawat
harus berkonsultasi dengan ahli gizi dalam konsumsi jus buah dan pada saat yang
sama memberikan saran untuk sumber nutrisi yang lebih tepat seperti asam
askorbat, folat, magnesium, dan kalium.

C. Perkembangan Anak Prasekolah

1. Perkembangan Motorik

a) Keterampilan Motorik Kasar

1) Usia 4 Tahun
 Melempar bola dengan ayunan tanga yang tinggi.
 Menendang bola ke depan.
 Menangkap bola yang memantul.
 Melompat pada satu kaki.
 Berdiri pada satu kaki hinga 5 detik.
 Mengangkat dan menurunkan kaki secara bergantian.
2) Usia 5 Tahun
 Berdiri pada satu kaki selama 10 detik atau lebih.
 Berayun dan memanjat engan baik.
 Dapat melakukan lompat tali.
 Melakukan jungkir balik,
 Dapat bermain sepatu luncur.
 Berenang.

b) Keterampilan Motorik Halus

1) Usia 4 Tahun
 Menggunting
 Mengopi huruf kapital.
 Menggambarlingkaran dan bujur sangkar.
 Mengambar orang dengan 2 hingga 4 bagian tubuh.
2) Usia 5 Tahun
 Menggambar orang minimal 6 bagian tubuh.
 Berpakaian atau melepasnya tanpa bantuan.
 Dapat belajar mengikat tali sepatu.
10
 Menggunakan
 Garpudan sendok dengan baik.
 Mengopi segituga dan pola geometri lainnya.
 Sebagian besar memperhatikan kebutuhan toileting sendiri.

2. Perkembangan Kognitif

Salah satu yang dipersiapkan pada masa prasekolah adalah mempersiapkan


sekolah dan sekolah. Banyak proses sulit yang sangat penting untuk
memaksimalkan persiapan sekolah, dan proses ini dipersiapkan bagi anak-anak
sejak usia mereka 5 sampai awal 6 tahun.

Menurut teori kognitif Piaget, dibagi menjadi dua fase: fase prakonseptual
pada usia 2 sampai 4 tahun, dan fase intuitif pada usia 4 sampai 7 tahun. Salah
satu perubahan utama selama dua tahap ini adalah kemampuan untuk sepenuhnya
bergerak dari berpikir yang berpusat pada diri sendiri ke berfikir ke arah sosial
dan dengan sudut pandang yang berbeda.

Bahasa berkembang selama masa kanak-kanak. Bahasa tetap menjadi media


komunikasi, bahasa yang digunakan berpusat pada diri sendiri. Saat prasekolah,
setiap orang menganggap bahwa apa yang mereka pikirkan dapat dimengerti oleh
orang lain. Karena komunikasi mandiri dan berpusat pada diri sendiri, penting
untuk mengeksplorasi dan memahami pikiran anak-anak. Mencari dan mengerti
pikiran mereka seringkali penting. Cara paling bermanfaat dan efektif untuk
bermain adalah dengan memberikan pemahaman tentang pengalaman hidup,
adaptasi, dan berolahraga. Karena imajinasi dan kemampuan anak yang luas,
semua jenis permainan yang memancing kreativitas dan imajinasi anaklah yang
diterapkan

Pada masa prasekolah, semakin banyak bahasa yang digunakan hanya untuk
situasi di mana mereka tidak mengerti konsep yang mereka alami secara tepat.
Sebagai contoh, mereka bisa melihat bagaimana memakai sepatu dengan
mengingat bahwa gesper sepatu selalu berada di luar. Mereka tidak mengerti
konsep kanan dan kiri.

Pemikiran anak prasekolah sering menggambarkan pemikiran ajaib. Karena


mereka percaya bahwa semua fokus diri dan keberanian adalah kekuatan. Pikiran
seperti itu membuat mereka berada dalam posisi yang tidak dapat menahan
11
tanggung jawab yang mungkin terjadi bersamaan dengan kejadian yang mereka
merasa bersalah dan ingin harapkan. Contoh yang khas adalah saat mereka
menyebabkan saudaranya celaka, mereka tidak memahami bahwa merekalah
yang membuat kesalahan, karena ketidaktahuan itu mereka membela diri dan
tidak mau disalahkan.

Bahasa menjadi lebih canggih dan kompleks selama tahun-tahun prasekolah,


baik kemampuan kognitif dan lingkungan khususnya model peran yang konsisten
mempengaruhi pembicaraan dan pemahaman kosa kata. Bahasa menjadi mode
utama komunikasi dan interaksi sosial. perbendaharaan kata meningkat secara
dramatis, dari 300 kata pada usia 2 menjadi lebih dari 2.100 kata pada akhir 5
tahun, struktur kalimat gramatikal, penggunaan dan kecerdasan juga meningkat
ke tingkat yang lebih dewasa, anak-anak prasekolah bahkan bisa menjadi
bilingual.

3. Perkembangan Psikososial

Pada masa prasekolah, anak-anak berada dalam tahap belajar yang energik.
Mereka merasakan kepuasan dari bermain, bekerja, dan hidup serta kegiatan
mereka. Konflik terjadi saat anak-anak mendapat rasa bersalah karena tidak
bertindak dengan benar, melebihi batas kemampuan mereka. Menangis, cemas,
ketakutan bisa timbul dari konflik tersebut.

Kemajuan bertahap telah mulai mendorong akhir masa kecil dan ini adalah
tantangan besar bagi anak-anak prasekolah. Belajarlah untuk memilih dari benar
atau salah adalah awal dari moralitas. Anak-anak di usia ini pada umumnya tidak
mengerti mengapa hal apa yang bisa diterima. Mereka hampir sepenuhnya
bergantung pada prinsip orang tua untuk mengenali hukuman atau imbalan dan
mengembangkan penilaian moral mereka sendiri. Pelaksanaan bahasa yang
terbatas jauh lebih efektif di kelompok ini daripada bayi. Sebagai contoh, para
orang tua perlu mengawasi bayi mereka dan menyuruh mereka untuk tidak
meninggalkan area itu di tengah-tengah perlindungan. Anak-anak Amerika tahu
tentang bahaya dan bisa mendengar dan tunduk dalam banyak kasus. Jika
keberatan dan pertanyaan diizinkan untuk ditanyakan, mereka akan
mengembangkan independensi dari tindakan dan pikiran yang diterima secara
sosial.
12
4. Perkembangn Spiritual

Anak-anak belajar tentang iman dan agama dari orang-orang penting di


lingkungan mereka, biasanya dari orang tua dan keyakinan serta praktik agama
mereka, namun tingkat kognitif memengaruhi anak-anak kecil atau anak-anak
prasekolah secara spiritual memiliki konsepsi konkret tentang tuhan dengan
karakter fisik.

Perkembangan hati nurani sangat terkait dengan spiritual, perkembangan pada


usia ini anak-anak belajar berperilaku benar untuk menghindari hukuman
kesalahan dan anak-anak prasekolah sering salah mengartikan, sebagai hukuman
untuk pelanggaran nyata atau yang dibayangkan itu adalah importir bahwa anak-
anak memandang tuhan sebagai orang yang melimpahkan cinta tanpa syarat ,
mengamati tradisi keagamaan dan berpartisipasi dalam komunitas agama ketika
membantu anak-anak dan keluarga mereka mengatasi stres seperti sakit dan rawat
inap (Speraw 2006)

5. Perkembangan Moral

Teori perkembangan moral didasarkan pada teori kognitif dan terdiri dari tiga
tingkat utama, prakonvensional, konvensional, dan postconvensional (kohlberg
1968). Perkembangan anak-anak muda penilaian moral berada pada tingkat yang
paling rumit, mereka memiliki sedikit jika ada kekhawatiran mengapa ada sesuatu
yang salah, mereka berperilaku karena kebebasan atau pembatasan yang
ditempatkan pada tindakan dalam hukuman dan orientasi kepatuhan, anak-anak
sekitar usia 2 hingga 4 tahun menilai apakah suatu tindakan baik atau buruk
berdasarkan apakah itu menghasilkan hadiah hukuman, jika anak-anak dihukum
karenanya, tindakan tersebut adalah buruk, jika mereka tidak dihukum tindakan
itu baik, terlepas dari artinya misalnya jika orang tua membiarkan memukul anak
akan menganggap bahwa memukul itu baik karena tidak terkait dengan hukuman

Dari usia sekitar 4 hingga 7 tahun, anak-anak berada dalam tahap orientasi
instrumental yang naif di mana tindakan atau diarahkan untuk memuaskan
kebutuhan mereka dan, yang lebih jarang dari kebutuhan orang lain, mereka
memiliki perasaan konkret tentang keadilan dan keadilan selama masa
perkembangan ini. Perkembangan moral. Anak prasekolah mampu berperilaku
prososial, yakni setiap tindakan yang dilakukan individu agar bermanfaat bagi
13
orang lain. Perilaku moral biasanya dipelajari melalui upaya meniru, mula-mula
orang tua dan kemudian orang terdekat lainnya. Anak parsekolah mengontrol
perilaku mereka karena mereka menginginkan cinta dan persetujuan dari orang
tua. Biasanya mereka berperilaku baik di tatanan sosial (Kozier, 2010).

6. Perkembangan Seksual

Perkembangan seksual selama tahun-tahun prasekolah adalah penting bagi


seseorang secara keseluruhan identitas dan kepercayaan seksual, anak-anak
prasekolah membentuk ikatan yang kuat dengan orang tua lawan jenis sambil
mengidentifikasi dengan orang tua jenis kelamin yang sama, mengetik jenis
kelamin atau proses dimana seseorang mengembangkan perilaku kepribadian, dan
Keyakinan yang sesuai untuk budaya dan jenis kelaminnya terjadi melalui
beberapa mekanisme selama periode ini, mungkin mekanisme yang paling kuat
adalah pengasuhan anak, praktik dan meniru cara-cara berpakaian orang tua,
memegang disiplin belain, pelukan, dan berbicara dengan anak mereka
mengekspresikan beberapa aspek berorientasi seksual Identifikasi gender perilaku
adalah hasil dari prenatal dan postnatal yang kompleks, faktor-faktor psikologis
serta pengaruh biologis, sosial dan genetik, diyakini bahwa sebagian besar anak-
anak menyadari jenis kelamin mereka dan seperangkat perilaku terkait yang
diharapkan, meskipun balita mungkin menyadari seks praktis, mereka tidak
melakukan keterampilan bahasa dan kognitif untuk menyelidiki makan identitas
seksual sepenuhnya seperti prasekolah.

Pada tahap ini anak prasekolah termasuk pada tahap falik, dimana masa ini
genita menjadi area tubuh yang menarik dan sensitive (Hidayat, 2005). Tahap
falik berlangsung dari usia 3-5 tahun kepuasan anak berpusat pada genitalia untuk
kesenangan fisiologis. Erikson melihat dengan perkembangan sebagai berikut,
kepuasan pada anak terletak pada rangsangan autoerotic yaitu meraba-raba,
merasakan kenikmatan dari beberapa daerah organnya dengan demikian, toilet
training adalah waktu yang tepat dilakukan pada periode ini. Anak laki-laki
cenderung suka pada ibunya daripada ayahnya demikian sebaliknya anak
perempuan senang pada ayahnya.

7. Perkembangan Sosial

14
Selama masa prasekolah proses pemisahan individuasi selesai anak-anak
prasekolah telah mengatasi banyak kecemasan mereka terkait dengan orang asing
dan takut berpisah tahun-tahun sebelumnya, mereka berhubungan dengan orang
asing dengan mudah dan mentolerir pemisahan singkat dari orang tua dengan
sedikit atau tanpa protes, namun mereka masih membutuhkan bimbingan dan
persetujuan pemulihan keamanan orang tua terutama ketika memasuki pra
sekolah atau sekolah dasar pemisahan berkepanjangan seperti yang dipaksakan
oleh sakit dan rawat inap sulit, namun anak-anak prasekolah merespon dengan
baik persiapan persiapan dan penjelasan konkret, mereka dapat mengatasi
perubahan dalam rutinitas sehari-hari jauh lebih baik daripada balita. tetapi dapat
mengembangkan lebih banyak ketakutan imajiner, mereka mendapatkan
keamanan dan kenyamanan dari benda-benda yang sudah dikenal seperti mainan,
boneka atau foto anggota keluarga yang dapat mereka atasi melalui banyak
ketakutan, fantasi, dan kecemasan mereka yang belum terselesaikan melalui
permainan, terutama jika dipandu dengan objek bermain yang sesuai. yang
mewakili fami anggota profesional kesehatan dan anak-anak lainnya.

Menurut Erikson dalam Kozier (2010) krisis perkembangan anak usia


prasekolah adalah inisiatif versus rasa bersalah. Anak prasekolah harus
memecahkan masalah sesuai hati nurani mereka. Kepribadian mereka
berkembang. Erikson memandang krisis pada masa ini sebagai sesuatu yang
penting bagi perkembangan konsep diri. Anak prasekolah harus belajar dengan
apa yang dapat mereka lakukan. Akibatnya anak prasekolah meniru perilaku, dan
imajinasi serta kreativitasnya menjadi hidup.

D. Komunikasi pada Anak Prasekolah

Ada beberapa teknik atau cara menurut Hatfield (2008) dalam berkomunikasi pada
anak prasekolah, diantaranya adalah :

a. Menggunakan kalimat yang pendek atau sederhana

Hal ini agar mudah dimengerti oleh anak dan mampu mengingat apa yang
dikomunikasikan

b. Memberikan penjelasan yang bersifat positif

15
Yaitu kalimat-kalimat yang cenderung baik dan tidak mempengaruhi sesuatu yang
berefek buruk pada anak

c. Menggunakan istilah yang sering anak gunakan

Supaya anak lebih nyaman dan merasa bahwa komunikan selama ini
memperhatikan gaya atau istilah kata yang sering anak ucapkan.

d. Tidak membuat anak terancam dengan istilah yang menakutkan

Menghindarkan kalimat-kalimat yang membuat anak merasa tidak nyaman karena


akan berdampak pada psikisnya.

e. Ketika sedang menjelaskan sesuatu dengan cara yang jelas dan konkret

Maksudnya adalah dalam menjelaskan tidak bertele-tele dan singkat serta jelas
sehingga anak mudah menerima penjelasan.

f. Pembicaraan dapat dimulai dengan menggunakan boneka, mainan, atau puppets

Contoh : menanyakan sesuatu merujuk kea rah benda. “Siapa nama boneka ini?’

g. Memberikan anak kesempatan untuk bereksplorasi dengan alat medis

Contoh : dengan mengijinkan anak untuk bermain dengan alat medis seperti
stetoskop yang bertujuan agar anak tertarik berkomunikasi dengan perawat

h. Hindari menggunakan analogi atau perumpamaan

Contoh : “Nanti kalau disuntik akan terasa sakit seperti disengat lebah, loh.”

i. Perhatikan non verbal pada anak

Contohnya :

1) Menangis atau merengek

2) Menunjuk sesuatu

3) Menendang-nendang

4) Mendorong objek

j. Hindari jarak yang jauh dan kondisi berdiri ketika berbicara dengan anak

16
Usahakan mensejajarkan diri seperti sedikit berjongkok menyesuaikan tinggi anak
agar anak merasa lebih diperhatikan.

E. Fase Bermain Anak Prasekolah

1. Pengertian Bermain pada Anak Prasekolah

Terapi bermain atau aktivitas bermain pada anak adalah suatu kegiatan yang
dilaksanakan anak meskipun hal tersebut tidak menghasilkan komoditas tertentu
misalnya keuntungan finansial (uang).Anak bebas mengekspresikan perasaan
takut, cemas, gembira atau, perasaan lainnya, sehingga dengan memberikan
kebebasan bermain orang tua mengetahui suasana hati anak (Nursalam, 2005).

2. Fungsi Bermain pada Anak Prasekolah

Fungsi terapi bermain serta aplikasi dalam permainan yang bersifat terapeutik
sangat erat hubungannya dengan faktor biological, intrapersonal, interpersonal,
dan sosialcultural. Faktor biological dimaksudkan bahwa terapi bermain berkaitan
erat dengan fungsi secara biologis, diantaranya bermain dapat dijadikan sebagai
sarana untuk mempelajari keterampilan dasar, dapat digunakan sebagai penyalur
energi untuk mendapatkan relaksasi, dan bisa menajdi stimulus secara kinestik.
Faktor intrapersonal dalam bermain melibatkan tiga fungsi, yakni untuk
memenuhi gairah diri, untuk mendapatkan kemampuan menguasai situasi tertentu,
dan dapat dijadikan sebagai sarana untuk mengatasi konflik-konflik dirinya.
Fungsi bermain interpersonal sebagai wahana bagi seorang anak untuk lebih
banyak mempelajari keterampilan-keterampilan sosial. Fungsi bermain yang
terakhir adalah sosialcultural, yaitu sebagai media belajar anak-anak dalam
memepelajari peranan budaya bagi kepentingan diri mereka maupun orang lain.
Fungsi bermain yang paling penting bagi anak yaitu antara lain :

a) Dapat melanjutkan tumbuh kembang yang optimal dan normal pada anak
selama mendapatkan perawatan, sehingga tumbuh kembang pada anak dapat
terus berlangsung tanpa adanya hambatan oleh keadaan anak.
b) Dapat mengembangkan kreativitas anak melalui pengalaman permainan yang
tepat.
c) Anak dapat beradaptasi secara lebih efektif terhadap stress karena dirawat
dirumah sakit dan anak mendapatkan ketenangan dalam bermain.

17
d) Dapat mengekspresikan pikiran dan fantasi anak.

3. Prinsip Bermain pada Anak Prasekolah

Menurut Nursalam (2005), dalam pemberian terapi bermain pada anak yang
dirawat dirumah sakit tetap harus memperhatikan keadaan anak.

a) Anak tidak banyak menggunakan energi

Waktu bermain lebih singkat untuk menghindari kelelahan, dan alat-


alat permainannya lebih sederhana. Misalnya, menyusun balok membuat kraft
(kerajinan tangan), dan menonton tv. Menurut Vanfeet, 2010, waktu yang
diperlukan untuk terapi bermain pada anak yang dirawat di rumah sakit adalah
15-20 menit. Waktu 15-20 menit dapat membuat kedekatan antara orangtua
dan anak serta tidak menyebabkan anak kelelahan akibat bermain. Hal ini
berbeda dengan Adriana, 2011, yang menyatakan bahwa waktu untuk terapi
bermain 30-35 menit yang terdiri dari tahap persiapan 5 menit, tahap
pembukaan 5 menit, tahap kegiatan 20 menit dan tahap penutup 5 menit. Lama
pemberian terapi bermain bisa bervariasi, idealnya dilakukan 15-30 menit
dalam sehari selama 2-3 hari.

b) Relatif aman dan terhidar dari infeksi silang


Permainan harus memperhatikan keamanan dan kenyamanan. Anak
kecil perlu rasa nyaman dan yakin terhadap benda-benda yang dikenalnya,
seperti boneka 23 yang dipeluk anak untuk memberi rasa nyaman dan dibawa
ke tempat tidur di malam hari, mainan tidak membuat anak tersedak, tidak
mengandung bahan berbahaya, tidak tajam, tidak membuat anak terjatuh, kuat
dan tahan lama serta ukurannya menyesuaikan usia dan kekuatan anak.

c) Orang tua boleh membawa mainan dari rumah, tetapi permainan harus berada
dalam kondisi bersih.

Hal ini berguna untuk menghindarkan penyakit penyerta yang nantinya


beresiko menginfeksi kepada anak.

18
d) Sesuai dengan kelompok usia
Pada rumah sakit yang mempunyai tempat bermain, hendaknya perlu
dibuatkan jadwal dan dikelompokkan sesuai usia karena kebutuhan bermain
berlainan antara usia yang lebih rendah dan yang lebih tinggi.

e) Tidak bertentangan dengan terapi


Terapi bermain harus memperhatikan kondisi anak. Bila program
terapi mengharuskan anak harus istirahat, maka aktivitas bermain hendaknya
dilakukan ditempat tidur. Permainan tidak boleh bertentangan dengan
pengobatan yang sedang dijalankan anak. Apabila anak harus tirah baring,
harus dipilih permainan yang dapat dilakukan di tempat tidur, dan anak tidak
boleh diajak bermain dengan kelompoknya di tempat bermain khusus yang
ada di ruang rawat.

f) Perlu partisipasi orang tua dan keluarga


Menurut Wong (2009), keterlibatan orangtua dalam terapi adalah
sangat penting, hal ini disebabkan karena orangtua mempunyai kewajiban
untuk tetap melangsungkan upaya stimulasi tumbuh kembang pada anak
walaupun sedang dirawat si rumah sakit. Anak yang dirawat di rumah sakit
seharusnya tidak dibiarkan sendiri. Keterlibatan orangtua dalam perawatan 24
anak di rumah sakit diharapkan dapat mengurangi dampak hospitalisasi.
Keterlibatan orangtua dan anggota keluarga tidak hanya mendorong
perkembangan kemampuan dan ketrampilan sosial anak, namun juga akan
memberikan dukungan bagi perkembangan emosi positif, kepribadian yang
adekuat serta kepedulian terhadap orang lain. Kondisi ini juga dapat
membangun kesadaran buat anggota keluarga lain untuk dapat menerima
kondisi anak sebagaimana adanya.
4. Jenis-Jenis Permainan pada Anak Prasekolah

Sejalan dengan tumbuh kembangnya anak pra sekolah mempunyai kemampuan


motorik kasar dan motorik halus yang lebih matang daripada anak usia toodler. Anak
sudah lebih aktif, kreatif, dan imajinatif. Oleh karena itu jenis permainan yang sesuai
adalah asosiatif play, dramatic play, dan skill play. Anak melakukan permainan
bersama- sama dengan temannya dengan komunikasi yang sesuai dengan kemampuan

19
bahasanya. Anak juga sudah mampu memainkan peran orang tertentu yang
diidentifikasikannya seperti ayah, ibu, dan bapak atau ibu gurunya.
a) Permainan melatih motorik halus
Motorik halus merupakan sektor motorik terkait dengan aspek yang berhubungan
dengan kemampuan anak dalam mengamati sesuatu, melakukan gerakan yang
melibatkan bagian - bagian tubuh tertentu dan dilakukan oleh otot-otot kecil.
b) Permainan melatih motorik kasar
Sektor motorik kasar merupakan aspek yang berhubungan dengan pergerakan dan
sikap tubuh. Seperti berlari dan berhenti secara tiba-tiba, anak juga dapat
melompat dengan rangkaian lompatan yang tidak teratur dan bervariasi, dan naik
turun anak tangga dengan kaki yang bergantian.
c) Sektor bahasa
Sektor bahasa merupakan aspek yang berkaitan dengan kemampuan dalam
berkomunikasi dan juga respon terhadap suara, mengkuti perintah dan berbicara
saecara spontan.

Contoh perkembangan permainan dan bahasa pada anak prasekolah :


NO USIA MOTORIK KASAR MOTORIK HALUS BAHASA

20
1 3-4 1. melempar bola dan 1. mengkopi huruf 1. mainan yang
tahun menendang bola capital yang sudah mengeluarkan
diberikan contoh suara
2. melompat dengan
burufnya
kaki bergantian 2. bermain drama
2. menggambar pola imajinatif dengan
3. menaiki anak tangga
yang sederhana seperti orang tua atau
dengan kaki yang
lingkaran, segitiga, teman sebaya
bergantian
persegi
4. bermain melewati
3. mengopi palang atau
terowongan
wajik
5. bermain dengan
4. melipat kertas
benda yang dapat
menjadi dua bagian atau
ditarik atau didorong
lebih dengan sejajar dan
(mobil-mobilan yang
lurus
dapat bergerak)
5. mewarnai gambar
6. menari dengan
ayng mudah dan
music anak-anak
sederhana

2. 5-6 7. bersepeda 6. menempel kertas 3. bercerita tentang


tahun warna wani pada suatu kisah yang mudah
8.mainan gantung dan
pola yang sudah ada diikuti
bisa berputar
7. menggunting gambar 4. menebak
9. bermain ayunan dan
sederhana dengan baik gambar hewan dan
memanjat dengan baik
benda dengan
8. bermain menyusun
10. bermain lompat tali video atau gambar
menara balok warna-
11. berenang warni 5. bernyanyi lagu
anak-anak
12. melakukan jungkir 9. membentuk puzzle
balik sederhana dengan 6. membacakan
gambar yang menarik buku bergambar
13. bermain petak
umpet 10. melukis 7. menari dan
pemandangan dan menyanyi bersama
14. bermain masak- manusia yang sederhana teman sebaya atau
masakan atau rumah- sesuai kemampuan orang tua
rumahan. anak.

21
a. Motorik Kasar

22
NO NAMA GAMBAR
PERMAINAN
1 Melempar bola dan
menendang

2 Melompat dengan
kaki bergantian

3 Menaiki anak
tangga

4 Bermain
terowongan

5 Bermain dengan
benda yang bisa
bergerak

6 Menari dengan
music 23
b. Motorik Halus

24
NO NAMA PERMAINAN GAMBAR
1 Mengkopi atau menulis
huruf capital dengan
diberi contoh dulu

2 Menggambar pola
sederhana

4 Melipat kertas

5 Mewarnai

6 Menempel kertas warna-


warni

7 Menggunting gambar
pola

8 Menyusun menara balok


warna-warni

25

9 Menyusun puzzle
c. Permainan Bahasa

NO NAMA PERMAINAN GAMBAR


1 Mainan yang
mengeluarkan suara

2 Bermain drama imajinatif

3 Bercerita kisah

4 Menebak gambar lewat


video atau gambar

26
5 Bernyanyi

6 Membaca buku berambar

7 Menari bersama

27
F. Hospitalisasi Anak Prasekolah

1. Pengertian Hospitalisasi Anak Prasekolah

Hospitalisasi pada anak merupakan proses karena suatu alasan yang berencana
atau darurat mengharuskan anak untuk tinggal dirumah sakit menjalani terapi dan
perawatan sampai pemulangan kembali ke rumah (Wowiling, Ismanto, &
Babakal, 2014). Hospitalisasi adalah suatu keadaan krisis pada anak, saat anak
sakit dan dirawat di rumah sakit sehingga anak harus beradaptasi dengan
lingkungan rumah sakit (Wowiling, Ismanto, & Babakal, 2014).

2. Tanda dan Gejala Hospitalisasi Anak Prasekolah

Keluhan yang sering dikemukakan oleh orang yang mengalami kecemasan, antara
lain sebagai berikut:

a) Cemas, khawatir, firasat buruk, takut akan pikirannya sendiri, mudah


tersinggung.

b) Merasa tegang, tidak tenang, gelisah, mudah terkejut

c) Takut sendirian, takut pada keramaian

d) Gangguan pola tidur, mimpi-mimpi yang menegangkan.

3. Peran Perawat dalam Hospitalisasi Anak Prasekolah

a) Pemberi perawatan

Memberikan pelayanan perawatan anak, memenuhi kebutuhan dasar anak


seperti kebutuhan asah, asih dan asuh.

b) Advocat keluarga

Pembela keluarga khususnya dalam hal seperti menentukan haknya sebagai


klien.

c) Pencegahan penyakit

Setiap melakukan asuhan keperawatan perawat harus selalu mengutamakan


tindakan pencegahan terhadap timbulnya masalah sebagai dampak dari
penyakit masalah yang diderita.

28
d) Pendidikan

Perawat harus mampu berperan sebagai pendidik.

e) Konseling

Memberikan waktu untuk berkonsultasi terhadap masalah yang dihadapi oleh


anak maupun keluarga.

f) Kolaborasi

Pelayanan keperawatanan aktidak dapat dilakukan secara mandiri oleh tim


perawat tetapi perawat harus melibatkan tim kesehatan lain.

g) Pengambil keputusan etik

Perawat mempunyai peran penting dalam mengambil keputusan

h) Peneliti

Peran sebagai peneliti dapat dilakukan dalam meningkatkan mutu pelayanan


keperawatan anak (Ngastiyah, 2005).

4. Dampak Hospitalisasi pada Anak Prasekolah

a. Cemas akibat Perpisahan

Kecemasan pada anak biasanya timbul akibat berpisah dengan suasana


rumah sendiri, benda-benda yang familiar digunakan sehari-hari, juga rutinitas
yang biasa dilakukan dan juga berpisah dengan anggota keluarga lainnya.
Kecemasan yang timbul merupakan respon emosional terhadap penilaian
sesuatu yang berbahaya, berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak
berdaya. Menurut Wong (2009), Stres utama dari masa bayi pertengahan
sampai usia prasekolah, terutama untuk anak-anak yang berusia 6 bulan
sampai 30 bulan adalah kecemasan akibat perpisahan yang disebut sebagai
depresi anaklitik. Pada kondisi cemas akibat perpisahan anak akan
memberikan respon berupa perubahan perilaku. Manifestasi kecemasan yang
timbul terbagi menjadi tiga fase yaitu:

29
1) Fase protes (phase of protest)
Anak-anak bereaksi secara agresif dengan menangis dan berteriak
memanggil orang tua, menarik perhatian agar orang lain tahu bahwa ia
tidak ingin ditinggalkan orang tuanya serta menolak perhatian orang asing
atau orang lain dan sulit ditenangkan.
2) Fase putus asa (phase of despair)
Di mana tangisan akan berhenti dan muncul depresi yang terlihat
adalah anak kurang begitu aktif, tidak tertarik untuk bermain atau terhadap
makanan dan menarik diri dari orang lain.
3) Fase menolak (phase of denial)
Merupakan fase terakhir yaitu fase pelepasan atau penyangkalan,
dimana anak tampak mulai mampu menyesuaikan diri terhadap
kehilangan, tertarik pada lingkungan sekitar, bermain dengan orang lain
dan tampak membentuk hubungan baru, meskipun perilaku tersebut
dilakukan merupakan hasil dari kepasrahan dan bukan merupakan
kesenangan. Berpisah dengan suasana rumah sendiri, benda-benda yang
familiar digunakan sehari-hari, juga rutinitas yang biasa dilakukan dan
juga berpisah dengan anggota keluarga lainnya
b. Stress
Hospitalisasi pada anak merupakan pengalaman yang penuh dengan
stress, baik bagi anak itu sendiri maupun orang tua. Banyaknya stressor yang
dialami anak ketika menjalani hospitalisasi menimbulkan dampak negatif yang
mengganggu perkembangan anak. Lingkungan rumah sakit yang kurang
nyaman bagi anak dapat menyebabkan stress. Ditambah lagi kebanyakan anak
yang dirawat dirumah sakit tidak tidak mengetahui apa yang terjadi pada
dirinya, sehingga anak terus berfikir kenapa dia bisa dirawat dirumah sakit,
apakah bila dirawat dirumahsakit dia akan mati?, dan pertanyaan pertanyaan
lain yang membuat anak terus berfikir dan akhirnya menimbulkan stress.
Tindakan medis yang dilakukan juga menjadi pemicu stress pada anak karena
anak tidak mengetahui tujuan diberikannya tindakan tersebut sehingga anak
menjadi takut cemas dan stress.

c. Kehilangan kendali
Kehilangan kendali pada anak prasekolah; anak usia prasekolah
menerima keadaan masuk rumah sakit dengan rasa ketakutan. Jika anak sangat
ketakutan, ia dapat menampilkan perilaku agresif, dari menggigit, menendang-

30
nendang, bahkan berlari keluar ruangan. Selain itu ada sebagian anak yang
menganggapnya sebagai hukuman sehingga timbul perasaan malu dan
bersalah, dipisahkan, merasa tidak aman dan kemandiriannya terhambat
(Wong, 2009). Beberapa di antaranya akan menolak masuk rumah sakit dan
secara terbuka menangis tidak mau dirawat. Ekspresi verbal yang ditampilkan
seperti mengucapkan kata-kata marah, tidak mau bekerja sama dengan
perawat, dan ketergantungan pada orang tua. Biasanya anak akan bertanya
karena bingung dan tidak mengetahui keadaan di sekelilingnya. Selain itu,
anak juga akan menangis, bingung, khususnya bila keluar darah atau
mengalami nyeri pada anggota tubuhnya. Ditambah lagi, beberapa prosedur
medis dapat membuat anak semakin takut, cemas, dan stress.

31
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Anak usia pra sekolah adalah anak yang berada pada masa kanak-kanak awal yaitu
usia 3-5 tahun. Anak usia prasekolah memiliki tahapan pertumbuhan dan
perkembangan yang cepat. Perkembangan anak sangat pesat. Anak mulai mampu
melakukan permainan yang mebutuhkan ia untuk berfikir, seperti bermain puzzle,
menggambar bentuk. Kemampuan berbicara anak usia prasekolah juga mulai
berkembang. Anak mampu bercerita dan mengarang cerita dengan bahasa yang
sederhana selain itu anak juga menjadi aktif bertanya.
Karena pada masa prasekolah ini anak mengalami pertumbuhan dan
perkembangan yang pesat maka ketika anak usia prasekolah sakit dan membutuhkan
perawatan maka orang tua dan perawat harus memberikan pelayanan yang sesuai
usianya. Orang tua dan perawat harus bisa membentuk kepercayaan anak dan
menjelaskan prosedur-prosedur yang harus dilakukan dengan sederhana agar anak
tidak mengalami kecemasan dan stress yang bisa berakibat pada perkembangannya.

B. Saran
Dengan adanya makalah ini, semoga dapat digunakan sebagai pedoman bagi
pembaca baik tenaga kesehatan khususnya perawat dalam pemberian asuhan
keperawatan secara profesional. Makalah ini masih banyak kekurangan dalam hal
penulisan maupun isi. Oleh sebab itu penyusun mengharapkan saran dan kritik demi
kesempurnaan penyusunan makalah ini.

32
DAFTAR PUSTAKA

Betz, C. L. (2009). Buku Saku Keperawatan Pediatri. Jakarta: EGC

Hidayat, A. A. (2008). Ilmu Kesehatan Anak Untuk Pendidikan Kebidanan. Jakarta:


Salemba Medika

Kyle, T., & Susan, C. (2012). Keperawatan Pedriatri. Jakarta: EGC

Wong, D. L. (2009). Buku Ajar Keperawatan Pedriatri. Jakarta: EGC

33