Anda di halaman 1dari 2

Peran Nomor 9 di era Modern

Nomor punggung 9 dalam dunia sepakbola memegang kesan yang spesial. Nomor
yang sering digunakan oleh pemain berposisi penyerang ini menyiratkan akan
kehadiran seorang yang haus gol, yang akan selalu hadir di saat suatu tim kesulitan
menembus pertahanan lawan. Dalam sejarahnya pun, penyerang berkelas dunia
hampir selalu memilih nomor punggung 9 dalam tim yang mereka perkuat, sebut saja
Marco van Basten, Ronaldo Nazario de Lima hingga Samuel Eto’o.

Dua nama yang akan coba dibahas dalam tulisan ini adalah bomber Bayern Munich,
Robert Lewandowski serta striker Liverpool FC, Roberto Firmino. Keduanya sama-sama
mendapat kostum nomor 9 serta berperan sebagai garda terdepan dalam formasi tim
mereka. Akan tetapi, samakah peran mereka di lapangan pada kenyataannya?

Lewandowski merupakan seorang penyerang bisa dibilang seorang konservatif di era


sepakbola modern seperti sekarang. Era yang melahirkan banyak pemain pencetak gol
yang tidak berposisi penyerang tengah, namun bisa dari gelandang sayap, gelandang
menyerang maupun penyerang sayap. Pemain kebangsaan Polandia berusia 31 tahun
tersebut memiliki kelebihan insting mencetak gol yang tinggi, penyelesaian yang di
atas rata-rata serta kekuatan fisik yang menunjang posisinya sebagai seorang goal
getter.
Setiap kesebelasan yang ia perkuat, sejak dari Lech Poznan, Borussia Dortmund hingga
Bayern Munich dan timnas Polandia selalu mengandalkan dirinya sebagai penggedor
pertahanan lawan. Secara statistik pun, Lewy, sapaannya, memiliki rasio gol per menit
yang mencengangkan, ia telah mencatatkan 177 gol dan 27 assist dari 221 penampilan
saat berseragam klub Bavaria tersebut.

Keberadaan pemain sayap mumpuni yang pernah dan masih berseragam Bayern
ketika Lewy berada di sana turut membantunya meraih capaian itu, sebut saja duo
legendaris Arjen Robben-Franck Ribbery, hingga saat ini Kingsley Coman, Serge
Gnabry serta David Alaba. Gol-golnya pun bervariasi mulai dari sepakan kaki kanan,
kiri hingga sundulan kepala serta dari titik putih maupun sepakan bebas. Timnas
Polandia pun untungnya memiliki pemain sayap seperti Jakub “Kuba” Blaszcykowski
serta Lukasz Piszcek yang mampu memanjakan Lewandowski dengan umpan manis
untuk dikonversi jadi gol.

Lain halnya dengan Firmino, salah satu pemain kunci Liverpool dalam Liga Champions
musim 2018-19 lalu. Pemain asal Brasil tersebut memiliki perbedaan dalam konteks
pemain nomor 9 dengan Lewandowski, dimana Bobby lebih mengandalkan link-up
play, operan pendek serta positioning dalam permainnya di lapangan bersama
Liverpool. Penempatan posisi Firmino dapat mendistraksi perhatian bek-bek lawan
sehingga memudahkan pemain The Reds liannya untuk dapat membuat kesempatan
mencetak gol. Hal ini secara strategi dapat diakomodasi oleh Jurgen Klopp,
dikarenakan mereka memiliki dua pemain sayap modern, yang dianugerahi kecepatan,
olah bola yang baik serta naluri mencetak gol yang mumpuni, dalam diri Mohammed
Salah dan Sadio Mane.

Firmino sendiri sebenarnya memiliki kemampuan mencetak gol yang cukup baik juga,
terbukti dari statistiknya bersama Liverpool dengan 69 gol dan 47 assist dari 207
penampilan. Jumlah assist yang cukup tinggi untuk ukuran seorang striker inilah yang
membuat Klopp tidak membutuhkan seorang pemain bertipe playmaker, seperti
Philippe Coutinho atau Mesut Ozil, dalam skema permainannya bersama Liverpool.
Hal ini sedikit banyak juga ditunjang dari pengalamannya bermain sebelum membela
Liverpool, dimana saat ia masih membela TSG Hoffenheim, ia sering bermain sebagai
gelandang serang ataupun pemain sayap. Selain itu, ego yang tidak terlalu tinggi
sebagai seorang nomor 9 juga yang membuat ia rela menjadi penyuplai untuk rekan
setimnya.

Keberadaan Firmino serta kreativitas Salah dan Mane juga yang membuat lini tegah
Liverpool mayoritas diisi pemain bertipe pekerja, macam James Milner, Jordan
Henderson, Naby Keita hingga Fabinho. Keberadaan mereka bertugas sebagai
pemenang perebutan bola untuk akhirnya disuplai ke lini depan, jangan lupakan pula
keterlibatan duo bek sayap terbaik dunia, Andy Robertson dan Trent Alexander-Arnold
yang rajin mengirim umpan terobosan. Tak salah bahkan bila Klopp pernah berujar
bahwa Firmino adalah salah satu pemain terpenting di klubnya, seperti Salah dan Van
Dijk.

Di atas kita dapat belajar dari dua Robert, dengan kemampuan berbeda yang dapat
mendatangkan manfaat untuk masing-masing tim yang mereka perkuat. Kesebelasan
mereka pun cenderung membentuk tim agar dapat mengakomodasi atau
memanfaatkan kelebihan Lewy dan Bobby. Pemain yang bertipe seperti Lewandowski
masih tersebar di Eropa walau tidak sebanyak zaman dulu, seperti Luis Suarez
(Barcelona/Uruguay), Duvan Zapata (Atalanta/Kolombia), atau Jamie Vardy
(Leicester/Inggris), sedangkan beberapa pemain bertipe nomor 9 lain menjadi seorang
supplier dan berperan sebagai seorang Firmino di klub yang mereka perkuat, seperti
Karim Benzema (Real Madrid/Perancis) atau Alexandre Lacazette (Arsenal/Perancis).
(FF/MAW)