Anda di halaman 1dari 5

1.

Threat adalah segala jenis ancaman/bahaya yang dapat menyebabkan


sistemterekspos. Exposure adalah kerugian, kehilangan, atau kerusakan yang dapat
terjadi apabilaterjadi gangguan oleh threat. Vulnerability adalah kualitas dari suatu
sumber daya atau lingkunganannya yangdapat menyebabkan suatu sistem dapat
dirugikan/dirusak oleh threat.Contoh:
1.Perampok yang dilengkapi dengan senjata adalah threatbagi suatu toko. Kasir toko
adalah potensi vulnerability karena kasir memegang uang dan
rentanmendapatkan ancaman/serangan dari perampok. Exposurenya adalah uang
ataubarang yang bisa diambil secara paksa oleh perampok.
2.V i r u s , m a l w a r e , d e n i a l o f s e r v i c e a d a l a h c o n t o h threat bagi s uatu
s ys t em komputer suatu organisasi. Anti virus yang tidak terinstall, firewall yang
tidak dipasang adalah contoh vulnerability yang dapat menyebabkan serangan
oleh threat. Data-data perusahaan yang sensitif seperti data-data dari
karyawan maupun nasabah yang rusak ataupun dicuri adalah contoh exposure
sebagai akibat serangan threat.

2. Analisis Porter’s 5 Force dalam Bisnis indomaret

Dalam menganalisis kondisi bisnis suatu perusahaan, dapat digunakan analisis lima kekuatan bersaing
(five competitive forces). Analisa Porter’s Five Forces memberikan gambaran yang powerful mengenai
bagaimana tingkat persaingan dari suatu industri, baik itu dari sisi supply chain (supplier dan pelanggan)
serta pasar (pemain baru dan substitusi). Keempat dari forces (dorongan) ini memberikan kontribusi
terhadap competitive rivalry atau tingkat persaingan dalam industri. Analisis Porter untuk Indomaret ini
diperlukan, mengingat banyak sekali IDF (Indomaret Franchise) yang telah bermunculan dimana-mana.
Analisis lima kekuatan bersaing ini dapat menentukan profitabilitas dari Indomaret yang menjadi daya
tarik bagi suatu industri, yang dengan mengetahui posisi suatu usaha berdasarkan kekuatan-
kekuatan yang telah dimilikinya.

1. Persaingan Antar Perusahaan Sejenis

Persaingan dalam industri ini masih terus berkembang sampai saat ini dan
persaingan tersebut cukup ketat. Hal ini terlihat dengan munculnya minimarket waralaba dan non-
waralaba mandiri baru yang merupakan kategori pengecer dan
semakin bertambahnya pendirian cabang-cabang gerai baru oleh perusahaan ritel.
Tingkat pertumbuhan industri ritel, setiap tahunnya pun mengalami kenaikan.
Ketiadaan diferensiasi produk dalam industri ritel, dapat digolongkan produk yang hampir sama.
Maka pemilihan produk oleh pembeli didasarkan harga dan pelayanan yang diberikan. Dalam hal
persaingan, diantara ritel-ritel modern, pesaing-pesaing langsung bagi Indomaret adalah Alfamart,
Alfamidi, Circle-K, dll. Dari semua kompetitor dengan kategori peritel yang sama sangat memungkinkan
berbeda yang dilihat dari kenyamanan saat berbelanja, keamanan, kemudahan, variasi produk yang
semakin beragam, kualitas produk yang terus meningkat, harga produk yang menjadi lebih murah.
Sehingga di sekitar lokasi
perusahaan ritel terdapat beberapa bisnis yang menjadi pesaing sejenis. Pesaing- pesaing yang
berada disekitar Indomaret Binus misalnya, terdapat Alfamart dan Seven Eleven, sedangkan
supermarket dan hypermarket seperti Carrefour Permata Hijau adalah pesaing-pesaing yang sifatnya
tidak langsung karena kategori ritelnya memang berbeda. Jadi dengan adanya para pesaing-
pesaing baru dari bisnis ritel yang terus bermunculan, maka persaingan di dalam industri ini
cenderung cukup tinggi.

2. Kemungkinan Masuknya Pesaing Baru

Dalam bisnis ritel, kemungkinan masuknya pesaing baru dapat dikatakan tidak mudah. Karena hambatan
masuk bagi pendatang baru cukup besar. Hal ini disebabkan karena untuk masuk ke dalam industri
bisnis ritel ini, pesaing baru memerlukan modal yang cukup besar dalam berinvestasi, kebutuhan akan
diferensiasi produk yang banyak (beraneka ragam), dan memperoleh akses untuk masuk ke dalam
saluran distribusi yang luas. Contoh dengan adanya pesaing baru yaitu dengan adanya Lawson yang
berada disekitar kampus Syahdan.

3. Pengembangan Produk Substitusi

Pada Industrl ritel khususnya minimarket, ancaman produk substltusinya adalah para peritel tradisional.
Hal ini dapat dengan jelas dikatakan bahwa, para peritel tradisional memiliki banyak produk beragam
sebagai barang pengganti. Penjualan makanan, daging, sayuran serta produk-produk makanan lainnya,
serta melakukan pembatasan penjualan terhadap produk-produk nonmakanan, seperti produk
kesehatan, kecantikan dan produk-produk umum lainnya. Para peritel tradisional dapat menjadi produk
substitusi karena peritel tradisional merupakan pasar tradisional yang menyediakan segala kebutuhan
barang-barang yang dibutuhkan konsumen secara lebih
lebih lengkap bila dengan Indomaret. Indomaret hanya menjual beberapa produk seperti,
kebutuhan sembako, makanan kemasan, nonmakanan dll.

4. Kekuatan Tawar-Menawar Pembeli / Konsumen

Kekuatan posisi tawar menawar pembeli lebih kuat dibandingkan perusahaan ritelnya. Ini dikarenakan
perusahaan menjual produk kebutuhan sehari-hari dengan konsumennya adalah konsumen
akhir. Konsumen yang membeli produk kebutuhan sehari-
hari pada saat ini peka terhadap harga dikarenakan keadaan perekonomian negara yang masih
belum stabil. Jadi, perusahaan harus menetapkan harga yang tepat dan memberikan pelayanan yang
dapat memberikan kepuasan kepada pelanggan. Kekuatan yang dimiliki pembeli mampu memaksa harga
turun, peningkatan pelayan dan kualitas, dalam hal menetapkan harga pada Indomaret ini tidak secara
langsung menentukan harga, harga sepenuhnya ditentukan oleh franchisor-nya Indomaret dan harga
yang ditawarkan merupakan harga mati yang tidak dapat ditawar yang sifatnya tetap (fix). Dan dalam hal
ini, kekuatan tawar menawar pembeli ataupun konsumen bisa dikatakan sangat rendah.

5. Kekuatan Tawar-Menawar Penjual / Pemasok

Dalam hal ini, Indomaret memiliki posisi baik dalam menentukan produk yang akan dijualnya. Dilihat dari
jumlah pemasok yang banyak, pembelian barang dengan skala yang besar, produk pemasok
terdiferensiasi.
Porter Generic Strategi

Jika penentu utama dari profitabilitas perusahaan adalah daya tarik industri di
mana ia beroperasi, merupakan penentu sekunder penting adalah posisinya dalam industri tersebut.
Meskipun industri mungkin memiliki profitabilitas bawah rata-rata, sebuah perusahaan yang diposisikan
secara optimal dapat menghasilkan keuntungan superior.
Sebuah perusahaan memposisikan dirinya
dengan memanfaatkan kekuatan. Michael Porter telah menyatakan bahwa kekuatan sebuah perusahaan
pada akhirnya jatuh ke salah satu dari dua judul: keunggulan biaya dan diferensiasi. Dengan menerapkan
kekuatan baik dalam lingkup yang luas atau sempit, tiga generik hasil strategi: kepemimpinan biaya,
diferensiasi, dan fokus.

1. Strategi Biaya Rendah (cost leadership) atau Kepemimpian biaya

Strategi Biaya Rendah (cost leadership) menekankan pada upaya memproduksi produk standar (sama
dalam segala aspek) dengan biaya per unit yang sangat rendah. Produk ini (barang maupun jasa)
biasanya ditujukan kepada konsumen yang relatif mudah terpengaruh oleh pergeseran harga (price
sensitive) atau menggunakan harga sebagai faktor penentu keputusan. Strategi jenis ini amat sesuai
dengan kebutuhan pelanggan yang termasuk dalam kategori perilaku low-involvement, ketika konsumen
tidak (terlalu) peduli terhadap perbedaan merek, (relatif) tidak membutuhkan pembedaan produk, atau
jika terdapat sejumlah besar konsumen memiliki kekuatan tawar-menawar yang signifikan. Dalam kasus
indomaret ini, harga sepenuhnya ditentukan oleh franchisor-nya Indomaret dan harga yang ditawarkan
merupakan harga mati yang tidak dapat ditawar yang sifatnya tetap (fix).

2. Strategi Pembedaan Produk (differentiation)

Strategi Pembedaan Produk (differentiation), mendorong perusahaan untuk sanggup menemukan


keunikan tersendiri dalam pasar yang jadi sasarannya. Keunikan produk (barang atau jasa) yang
dikedepankan ini memungkinkan suatu perusahaan untuk menarik minat sebesar-besarnya dari
konsumen potensialnya. Cara pembedaan produk bervariasi dari pasar ke pasar, tetapi berkaitan dengan
sifat dan atribut fisik suatu produk atau pengalaman kepuasan (secara nyata maupun psikologis) yang
didapat oleh konsumen dari produk tersebut. Berbagai kemudahan pemeliharaan, features tambahan,
fleksibilitas, kenyamanan dan berbagai hal lainnya yang sulit ditiru lawan merupakan sedikit contoh dari
diferensiasi. Strategi jenis ini biasa ditujukan kepada para konsumen potensial yang relatif tidak
mengutamakan harga dalam pengambilan keputusannya (price insensitive).

Dalam hal ini Indomaret menerapkan strategi-strategi yang membuatnya berbeda dari pesaingnya, yaitu:

– Harga Heboh: promosi mingguan yang memberikan harga sangat murah untuk produk-produk
kebutuhan sehari-hari

-Super Hemat: Leaflet edisi dua mingguan yang mempromosikan produk-produk dengan hemat sebagai
panduan bagi konsumen untuk belanja hemat

-Promosi Bulan Ini: promosi bulanan atas produk tertentu daam bentuk pembelian langsung atau
potongan harga

Untuk jangka panjang, Indomaret juga menerapkan berbagai program yang berkaitan dengan loyalitas
atau potongan harga

Resiko lainnya dari strategi ini adalah jika perbedaan atau keunikan yang ditawarkan produk tersebut
ternyata tidak dihargai (dianggap biasa) oleh konsumen. Jika hal ini terjadi, maka pesaing yang
menawarkan produk standar dengan strategi biaya rendah akan sangat mudah merebut pasar. Oleh
karenanya, dalam strategi jenis ini, kekuatan departemen Penelitian dan Pengembangan sangatlah
berperan.
Pada umumnya strategi biaya rendah dan pembedaan produk diterapkan perusahaan dalam rangka
mencapai keunggulan bersaing (competitive advantage) terhadap para pesaingnya pada semua pasar.
(Lihat David, 1998; Fournier dan Deighton, 1997; Pass dan Lowes, 1997; Porter, 1980 dan 1985).

3. Strategi Fokus (focus)

Strategi fokus digunakan untuk membangun keunggulan bersaing dalam suatu segmen pasar yang lebih
sempit. Strategi jenis ini ditujukan untuk melayani kebutuhan konsumen yang jumlahnya relatif kecil dan
dalam pengambilan keputusannya untuk membeli relatif tidak dipengaruhi oleh harga. Dalam
pelaksanaannya – terutama pada perusahaan skala menengah dan besar –, strategi fokus diintegrasikan
dengan salah satu dari dua strategi generik lainnya: strategi biaya rendah atau strategi pembedaan
karakteristik produk. Strategi ini biasa digunakan oleh pemasok “niche market” (segmen khusus/khas
dalam suatu pasar tertentu; disebut pula sebagai ceruk pasar) untuk memenuhi kebutuhan suatu produk
— barang dan jasa — khusus.

Syarat bagi penerapan strategi ini adalah adanya besaran pasar yang cukup (market size), terdapat
potensi pertumbuhan yang baik, dan tidak terlalu diperhatikan oleh pesaing dalam rangka mencapai
keberhasilannya (pesaing tidak tertarik untuk bergerak pada ceruk tersebut). Strategi ini akan menjadi
lebih efektif jika konsumen membutuhkan suatu kekhasan tertentu yang tidak diminati oleh perusahaan
pesaing. Biasanya perusahaan yang bergerak dengan strategi ini lebih berkonsentrasi pada suatu
kelompok pasar tertentu (niche market), wilayah geografis tertentu, atau produk — barang atau jasa —
tertentu dengan kemampuan memenuhi kebutuhan konsumen secara baik, excellent delivery. (Lihat
David, 1998; Fournier dan Deighton, 1997; Pass dan Lowes, 1997; Porter, 1980 dan 1985).

Dalam hal ini, Indomaret melakukan strategi fokus dengan mengevaluasi terhadap keuntungan per
produk barang dagangan yang ditawarkan pada pelanggan yang merupakan dasar untuk dapat
menetapkan strategi pengelolaan ritel dengan lebih komprehensif. Melalui evaluasi keuntungan per
produk, peritel dapat mengklasifikasikan mana produk-produk yang tergolong sebagai produk cepat laku
(fast moving product) dan mana yang dikelompokkan sebagai produk yang kurang laku (slow moving
product).

Indomaret terus melakukan evaluasi terhadap keuntungan per produk, sehingga berdasarkan data
evaluasi tersebut, Indomaret bisa menerapkan space produk mana yang perlu dipasok lebih banyak dari
segi kuantitas dan mana yang tidak, sehingga dengan adanya evaluasi seperti ini maka keuntungan
dapat terus dikendalikan untuk mencapai maksimum profit.