Anda di halaman 1dari 20

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan Kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena atas
berkat dan karunia – Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan ini mengenai
“MENGUKUR FREKUENSI PERNAPASAN PADA TERNAK AYAM, MENGUKUR SUHU
REKTAL PADA TERNAK AYAM, MENGAMATI FREKUENSI DENYUT JANTUNG PADA
TERNAK AYAM DAN MENGAMATI ORGAN PENCERNAAN PADA TERNAK AYAM”

Mengingat laporan ini masih sangat jauh dari kata sempurna, maka kami
mengharapkan kritik dan saran yang kontriktif demi penyempurnaan pada penulisan laporan
berikutnya.

Semoga laporan ini dapat memberikan berbagai informasi yang bermanfaat dan dapat
menambah wawasan bagi para pembaca.

Kupang, 13 Juni 2019

Penulis

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................................ 1


DAFTAR ISI........................................................................................................................................... 2
BAB 1 ..................................................................................................................................................... 3
PENDAHULUAN .................................................................................................................................. 3
A. Latar Belakang ............................................................................................................................ 3
B. Tujuan dan Kegunaan ................................................................................................................. 3
BAB II..................................................................................................................................................... 4
TINJAUAN TEORITIS ......................................................................................................................... 4
1. SISTEM RESPIRASI PADA AYAM ........................................................................................ 4
2. SISTEM TERMOREGULASI DAN OSMOREGULASI PADA AYAM ................................. 5
3. SISTEM KARDIOVASKULER PADA AYAM........................................................................ 6
4. SISTEM PENCERNAAN PADA AYAM ................................................................................. 6
BAB III ................................................................................................................................................. 14
MATERI DAN METODE PRAKTIKUM ........................................................................................... 14
BAB IV ................................................................................................................................................. 15
HASIL DAN PEMBAHASAN............................................................................................................. 15
BAB V .................................................................................................................................................. 16
PENUTUP ............................................................................................................................................ 16
5.1 KESIMPULAN ........................................................................................................................... 16
5.2 SARAN ....................................................................................................................................... 16
LAMPIRAN.......................................................................................................................................... 17
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................................... 20

2
BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Unggas adalah ternak bersayap yang dalam taxonomi zologi tergolong dalam kelas
aves yg telah didomestikasi dan cara hidupnya diatur oleh manusia dengan tujuan
untuk memberikan nilai ekonomis. Ayam broiler adalah ayam yang mempunyai sifat
tenang, bentuk tubuh besar, pertumbuhan cepat, bulu merapat ke tubuh, kulit putih
dan produksi telur rendah. Ayam Broiler dalam klasifikasi ekonomi memiliki sifat-
sifat antara lain :ukuran badan besar, penuh daging yang berlemak, temperamen
tenang, pertumbuhan badan cepat serta efisiensi penggunaan ransum tinggi. Sifat-sifat
ayam broiler ini tentunya sangat berhubungan dengan tingkat konsumsi serta proses
pengolahan makanan di dalam sistem pencernaannya.
Sistem pernapasan terdiri atas rongga hidung atau sinus, batang tenggorok atau
trakhea, cabang batang tenggorok atau bronkus, paru-paru dan kantong udara.

Suhu rektal digunakan sebagai ukuran temperatur suhu tubuh karena suhu rektum
merupakan suhu yang paling optimal. Selama getaran jantung dapat terdengar dua macam suara
yang disebabkan oleh katub-katub yang menutup secara pasif. Denyut jantung
memiliki kecepatan itu sendiri di pengaruhi oleh beberapa faktor yaitu temperatur
tubuh atau reseptor panas pada kulit. Pencernaan secara mikrobiologik (jumlahnya
sedikit sekali) dan terjadi di sekum dan kolon. Secara umum pencernaan pada unggas
meliputi aspek : Digesti yang terjadi pada paruh, tembolok, proventrikulus,
ventrikulus (empedal/gizzard), usus halus, usus besar, dan ceca.

B. Tujuan dan Kegunaan


1. Untuk mengetahui cara mengukur frekuensi pernapasan pada ternak ayam
2. Untuk mengetahui cara mengukur suhu rektal pada ternak ayam
3. Untuk mengetahui cara mengamati frekuensi denyut jantung pada ternak ayam
4. Untuk mengetahui cara mengamati organ pencernaan pada ternak ayam

3
BAB II

TINJAUAN TEORITIS

1. SISTEM RESPIRASI PADA AYAM


Respirasi meliputi semua proses kimia dan fisik dimana organisme
menukar udara atau gas dengan lingkungannya. Prinsip pertukaran udara
meliputi oksigen (O2) dan karbondioksida (CO2), dimana oksigen diambil dari
atmosfer yang diperlukan jaringan tubuh untuk metabolisme dan oksidasi,
sedangkan karbondioksida merupakan produk akhir yang penting dari
metabolisme dan harus dibuang dari tubuh (Kustono et al., 2008). Respirasi
pada unggas digunakan juga sebagai media pembuangan panas (Yuwanta,
2004).
Kustono et al., (2008) menyatakan bahwa istilah pernafasan yang
lazim digunakan menyangkut dua proses, yaitu external respiration
(pernafasan luar), yaitu pertukaran udara yang terjadi di dalam paru-paru,
penyerapan O2 dan pengeluaran CO2 dari tubuh secara keseluruhan. Internal
respiration (pernafasan dalam), yaitu pertukaran udara yang terjadi pada
jaringan-jaringan, penggunaan O2 dan pembentukan CO2 oleh sel-sel tubuh.
Frekuensi respirasi adalah jumlah perputaran atau jumlah pernafasan tiap
menit. Frekuensi respirasi merupakan indikator yang baik untuk mengetahui
status kesehatan, tetapi harus mengira dengan sepatutnya karena ini
dipengaruhi beberapa variasi. Alat-alat pernafasan pada mamalia terdiri dari
paru-paru dan saluran-saluran udara (lubang hidung, cavum nasalis, pharynx,
trakhea, dan bonkus) (Kustono et al., 2008).
Isnaeni (2006), menyatakan bahwa hewan yang memiliki tingkat
perkembangan lebih tinggi biasanya mempunyai aktivitas metabolisme yang
lebih tinggi dan ukuran tubuh lebih besar. Hewan dengan tingkat
perkembangan yang tinggi memerlukan O2 dalam jumlah lebih besar pula.
Faktor yang mempengaruhi pernapasan yaitu aktivitas tubuh, emosi, rasa sakit,
takut, impuls aferen dan pengendalian secara sadar (Gabriel, 1996).

4
2. SISTEM TERMOREGULASI DAN OSMOREGULASI PADA AYAM
Thermoregulasi merupakan suatu proses homeostatis untuk menjaga
agar suhu tubuh suatu hewan tetap dalam keadaan stabil dengan cara mengatur
dan mengontrol keseimbangan antara banyak energi (panas) yang diproduksi
dengan energi yang dilepaskan. Thermogenesis yang terdapat pada hewan
diperoleh dari hewan sendiri atau dari absorbsi panas lingkungan (Suripto,
1998). Hewan diklasifikasikan menjadi dua berdasarkan kemampuan untuk
mempertahankan suhu tubuh, yaitu poikiloterm dan homoiterm. Hewan
poikiloterm yaitu hewan yang suhu tubuhnya selalu berubah seiring dengan
berubahnya suhu lingkungan. Sementara hewan homoiterm yaitu hewan yang
suhu tubuhnya selalu konstan atau tidak berubah sekalipun suhu
lingkungannya sangat berubah (Isnaeni, 2006).

Termoregulasi adalah sistem pengaturan panas tubuh ayam. Ingat,


ayam adalah hewan berjenis homoeotherm atau berdarah panas. Artinya, suhu
tubuh ayam sangat tergantung dengan suhu lingkungan. Bila suhu luar panas,
maka suhu tubuh ikut naik. Sebaliknya, jika suhu luar dingin maka suhu tubuh
akan turun. Sementara suhu tubuh normal ayam adalah 40°C.

Anak ayam baru mampu mengatur termoregulasi secara baik pada


umur 10 hari. Sehingga peran brooding (penginduk ayam) menjadi sangat
vital dalam membantu anak ayam menjalankan fungsi termoregulasinya.
Fungsi termoregulasi agar berjalan optimal, menggunakan nutrisi pakan
sebagai bahan bakar. Pada saat suhu luar panas, maka ayam akan memecah
nutrisi untuk menjaga agar suhu tubuh tidak terlalu panas. Sebaliknya pada
saat suhu luar dingin maka ayam akan memecah nutrisi untuk menjaga suhu
turun agar tidak terlalu rendah.

Hal tersebut yang menjadi kunci efisiensi pakan. Sebab itu, jangan
sampai nutrisi dari pakan hanya digunakan ayam untuk mengatasi kondisi
lingkungan. Sehingga berakibat pada tidak maksimalnya penggunaan nutrisi
untuk pertumbuhan badan, kekebalan dan produksi.

Anak ayam sendiri belum memiliki cadangan nutrisi di awal hidupnya.


Sehingga secara alami belum cukup mampu menjalankan fungsi termoregulasi
ini. Sebab itu, anak ayam akan menggunakan nutrisi pakan secara langsung
untuk menjalankan termoregulasi bila terjadi kondisi yang tidak nyaman untuk
tubuhnya. Akibatnya adalah pertumbuhan badan dan kekebalan tubuh
terganggu bahkan membuat nafsu makan justru turun. Kondisi yang tidak
nyaman bagi ayam akan mengakibatkan stres, sehingga ada idiom di kalangan
peternak “makan banyak tapi tidak juga jadi daging”.

5
Dampak tidak sesuainya suhu brooding dengan kebutuhan anak ayam
akan mengakibatkan kondisi keseragaman ayam yang buruk. Anak ayam akan
mengalami kondisi rumit dalam menghadapi tantangan lingkungan, sehingga
reaksi individu menyebabkan bervariasinya keseragaman berat badan dan daya
tahan tubuh ayam.

Osmoregulasi adalah kemampuan organisme untuk mempertahankan


keseimbangan kadar dalam tubuh, di dalam zat yang kadar garamnya berbeda
(Kashiko.2000:389)

3. SISTEM KARDIOVASKULER PADA AYAM

Sistem kardiovaskular dan sistem respirasi harus bekerja sama


untukmelakukan pertukaran gas. Sistem ini berfungsi untuk mengelola
pertukaran oksigen dan karbondioksida antara udara dan darah. Oksigen
diperlukan oleh semua sel untuk menghasilkan sumber energi dan
karbondioksida dihasilkan oleh sel-sel yang secara metabolis aktif dan
membentuk suatu asam yang harus dibuang dari tubuh(Corwin, 2001).

Sistem kardiovaskuler merupakan organ sirkulsi darah yang terdiri dari


jantung, komponen darah dan pembuluh darah yang berfungsi memberikan
dan mengalirkan suplai oksigen dan nutrisi keseluruh jaringan tubuh yang di
perlukan dalam proses metabolisme tubuh. Sistem kardiovaskuler memerlukan
banyak mekanisme yang bervariasi agar fungsi regulasinya dapat merespons
aktivitas tubuh, salah satunya adalah meningkatkan aktivitas suplai darah agar
aktivitas jaringan dapat terpenuhi. Pada keadaan berat, aliran darah tersebut,
lebih banyak di arahkan pada organ-organ vital seperti jantung dan otak yang
berfungsi memlihara dan mempertahankan sistem sirkulasi itu sendiri.

Jantung

Jantung adalah sebuah rongga organ berotot yang memompa darah ke


pembuluh darah dengan berirama yang berulang. Jantung merupakan sebuah
organ yang terdiri dari otot. Otot jantung merupakan jaringan istimewa karena
jika dilihat dari bentuk dan susunanya sama dengan otot serat lintang, tetapi
cara kerjanya menyerupai otot polos yaitu diluar kemauan/ bekerja secaara tak
sadar (dipengaruhi oleh susunan syaraf otonom).

4. SISTEM PENCERNAAN PADA AYAM

Pencernaan yaitu penguraian bahan makanan ke dalam zat-zat makanan


dalam saluran pencernaan untuk dapat diserap dan digunakan oleh jaringan-
6
jaringan tubuh. Unggas mengambil makanannya dengan paruh dan kemudian
ditelan. Makanan tersebut disimpan dalam tembolok untuk dilunakkan dan
dicampur dengan getah pencernaan proventrikulus dan kemudian digiling
dalam empedal. Tidak ada enzim pencernaan yang dikeluarkan oleh empedal
unggas. Fungsi utama alat tersebut adalah untuk memperkecil ukuran partikel-
partikel makanan.

Dari empedal makanan yang bergerak melalui lekukan usus yang


disebut duodenum, yang secara anatomis sejajar dengan pankreas. Pankreas
tersebut mempunyai fungsi penting dalam pencernaan unggas seperti pada
spesies-spesies lainnya. Alat tersebut menghasilkan getah pankreas dalam
jumlah banyak yang mengandung enzim-enzim amilolitik, lipolitik dan
proteolitik. Enzim-enzim tersebut berturut-turut menghidrolisa pati, lemak,
proteosa dan pepton. Empedu hati yang mengandung amilase, memasuki pula
duodenum. Bahan makanan bergerak melalui usus halus yang dindingnya
mengeluarkan getah usus. Getah usus tersebut mengandung erepsin dan
beberapa enzim yang memecah gula. Erepsin menyempurnakan pencernaan
protein, dan menghasilkan asam-asam amino, enzim yang memecah gula
mengubah disakarida ke dalam gula-gula sederhana (monosakarida) yang
kemudian dapat diasimilasi tubuh. Penyerapan dilaksanakan melalui villi usus
halus. Unggas tidak mengeluarkan urin cair. Urin pada unggas mengalir
kedalam kloaka dan dikeluarkan bersama-sama feses. Warna putih yang
terdapat dalam kotoran ayam sebagian besar adalah asam urat. Saluran
pencernaan yang relatif pendek pada unggas digambarkan pada proses
pencernaan yang cepat (kurang lebih empat jam).

Prinsip pencernaan pada ayam ada tiga macam

1. Pencernaan Secara Mekanik

Pencernaan ini dilakukan oleh kontraksi otot polos, terutama terjadi di empedal
(gizzard) yang dibantu oleh bebatuan (grit). Pencernaan ini banyak terjadi pada ayam
yang dipelihara secara umbaran sehingga mendapatkan grit lebih banyak daripada
ayam yang dipelihara secara terkurung.

2. Pencernaan secara kimia dilakukan oleh enzim pencernaan yang dihasilkan :

 kelenjar saliva di mulut


 enzim yang dihasilkan oleh proventrikulus
 enzim dari pancreas
 enzim empedu dari hati
 enzim dari usus halus. Peranan enzim-enzim tersebut sebagai pemecah ikatan
protein, lemak, dan karbohidra

Pencernaan secara mikrobiologik (jumlahnya sedikit sekali) dan terjadi di


sekum dan kolon. Secara umum pencernaan pada unggas meliputi aspek : Digesti
yang terjadi pada paruh, tembolok, proventrikulus, ventrikulus (empedal/gizzard),
usus halus, usus besar, dan ceca. Absorpsi yang terjadi pada usus halus (small
intestinum) melalui vili-vili (jonjot usus). Metabolisme yang terjadi pada sel
tubuh yang kemudian disintesis menjadi protein, glukosa, dan hasil lain untuk

7
pertumbuhan badan, produksi telur atau daging, pertumbuhan bulu, penimbunan
lemak, dan menjaga/memelihara tubuh pada proses kehidupannya.

 Organ pencernaan ayam

A. Mouth (Mulut)

Ayam tidak mempunyai bibir, lidah, pipi dan gigi sejati, bagian mulut atas dan
bawah tersusun atas lapisan tanduk, bagian atas dan bawah mulut dihubungkan ke
tengkorak dan berfungsi seperti engsel Lidah unggas keras dan runcing seperti
mata anak panah dengan arah ke depan. Bentuk seperti kail pada belakang lidah
berfungsi untuk mendorong makanan ke oeshopagus sewaktu lidah digerakkan
dari depan ke belakang. Lidah berfungsi untuk membantu menelan makanan.
Kelenjar saliva mengeluarkan sejenis mukosa yang berfungsi sebagai pelumas
makanan untuk mempermudah masuk keoesophagus (Nesheim et al., 1997).
B. Oeshophagus (Tenggorok)

Oesophagus merupakan saluran memanjang berbentuk seperti tabung yang


merupakan jalan makanan dari mulut sampai permulaan tembolok dan
perbatasan pharynx pada bagian atas dan proventriculus
bagian.Dinding dilapisi selaput lendir yang membantu melicinkan makanan
untuk masuk ke tembolok. Setiap kali ayam menelan secara
otomatis oesophagus menutup dengan adanya otot. Fungsi oesophagus adalah
menyalurkan makanan ke tembolok. bawah (North, 1998)

C. Crop (Tembolok)
Crop mempunyai bentuk seperti kantong atau pundi-pundi yang merupakan
perbesaran dari oesophagus. Pada bagian dindingnya terdapat banyak kelenjar
mukosa yang menghasilkan getah yang berfungsi untuk melembekkan
makanan. Crop berfungsi menyimpan dan menerima makanan untuk sementara
sebelum masuk ke proventriculus. Tembolok adalah modifikasi dari esofagus.
Fungsi utama dari organ ini adalah untuk menyimpan pakan sementara, terutama
pada saat ayam makan dalam jumlah banyak. Bolus berada di tembolok selama
dua jam. Kapasitas tembolok mampu menampung pakan 250 g. Pada tembolok

8
terdapat saraf yang berhubungan dengan pusat kenyang-lapar di hipotalamus
sehingga banyak sedikitnya pakan yang terdapat dalam tembolok akan
memberikan respon pada saraf untuk makan atau menghentikan makan (Yuwanta
2004).
Tembolok mensekresikan mukus yang berfungsi sebagai cairan lubrikasi yang
dapat menghaluskan pakan. Jika ayam lapar, pakan akan melewati tembolok dan
menuju langsung ke proventrikulus dan lambung otot. Selama proses memakan,
tembolok mulai terisi dan bertindak sebagai organ penyimpanan
Terjadi sedikit atau sama sekali tidak terjadi pencernaan di dalamnya kecuali jika
ada sekresi kelenjar saliva dalam mulut. Pakan unggas yang berupa serat kasar
dan bijian tinggal di dalam tembolok selama beberapa jam untuk proses pelunakan
dan pengasaman. Hal ini disebabkan pada tembolok terdapat kelenjar yang
mengeluarkan getah yang berfungsi untuk melunakkan makanan (Sudaryati,
1994).
D. Proventriculus (Lambung Kelenjar)

Proventriculus merupakan perbesaran terakhir dari oesophagus dan juga


merupakan perut sejati dari ayam. Juga merupakan kelenjar, tempat terjadinya
pencernaan secara enzimatis, karena dindingnya disekresikan asam klorida, pepsin
dan getah lambung yang berguna mencerna protein (Nesheim et al., 1997). Sel
kelenjar secara otomatis akan mengeluarkan cairan kelenjar perut begitu makanan
melewatinya dengan cara berkerut secara mekanis (Akoso, 1993). Karena
makanan berjalan cepat dalam jangka waktu yang pendek di
dalam proventriculus, maka pencernaan pada material makanan secara enzimatis
sedikit terjadi (North, 1998).
E. Gizzard (Empedal/Rempela)

Gizzard berbentuk oval dengan dua lubang masuk dan keluar pada bagian atas dan
bawah. Bagian atas lubang pemasukkan berasal dari proventriculus dan bagian
bawah lubang pengeluaran menuju keduodenum. Besar kecilnya empedal
dipengaruhi oleh aktivitasnya, apabila ayam dibiasakan diberi pakan yang sudah
digiling maka empedal akan lisut (Akoso, 1993).
Gizzard disebut pula otot perut yang terletak diantara proventriculus dan batas
atas dari intestine. Gizzard mempunyai otot-otot yang kuat sehingga dapat
menghasilkan tenaga yang besar dan mempunyaimucosa yang tebal. Perototan

9
empedal dapat melakukan gerakan meremas kurang lebih empat kali dalam satu
menit (Akoso, 1993).
Fungsi gizzard adalah untuk mencerna makanan secara mekanik dengan bantuan
grit dan batu-batu kecil yang berada dalam gizzard yang ditelan oleh ayam
(Nesheim et al., 1979). Partikel batuan ini berfungsi untuk memperkecil partikel
makanan dengan adanya kontraksi otot dalam gizzard sehingga dapat masuk ke
saluran intestine (North, 1998).

F. Small Intestine (Usus Kecil)

Small intestine memanjang dari ventriculus sampai large intestinum dan terbagi
atas tiga bagian yaitu duodenum, jejenum dan ileum. Duodenum berbentuk
huruf V dengan bagian pars descendens sebagai bagian yang turun dan
bagian pars ascendens sebagai bagian yang naik. Menurut Akoso (1993) selaput
mukosa pada dinding usus halus memiliki jonjot yang lembut dan menonjol
seperti jari yang berfungsi sebagai penggerak aliran pakan dan memperluas
permukaan penyerapan nutrien.
Pada bagian duodenum disekresikan enzim pankreatik yang berupa enzim
amilase, lipase dan tripsin. Ada beberapa enzim yang dihasilkan oleh dinding sel
dari small intestine yang dapat mencerna protein dan karbohidrat (North, 1998).
Pencernaan pakan ayam di dalam usus kecil secara enzimatik dengan
berfungsinya enzim-enzim terhadap protein lemak dan karbohidrat. Protein oleh
pepsin dan khemotripsin akan diubah menjadi asam amino. Lemak oleh lipase
akan diubah menjadi asam lemak dan gliserol. Karbohidrat oleh amilase akan
diubah menjadi disakarida dan kemudian menjadi monosakarida.
G. Ceca (Usus Buntu)

Ceca terletak diantara small intestine (usus kecil) dan large intestine (usus besar),
dan pada kedua ujungnya buntu, maka disebut juga usus buntu. Usus buntu
mempunyai panjang sekitar 10 sampai 15 cm dan berisi calon tinja (Akoso, 1993).
Fungsi utama ceca secara jelas belum diketahui tetapi di dalamnya
terdapat sedikit pencernaan karbohidrat dan protein dan absorbsi air (North,
1978). Di dalamnya juga terjadi digesti serat oleh aktivitas mikroorganisma
(Nesheim et al., 1997).

10
H. Large Intestine (Usus Besar)

Large intestine berupa saluran yang mempunyai diameter dua kali dari
diameter small intentine dan berakhir pada kloaka (North, 1998). Usus besar
paling belakang terdiri dari rektum yang pendek dan bersambungan dengan kloaka
(Akoso, 1993). Pada large intestine terjadi reabsorbsi air untuk meningkatkan
kandungan air pada sel tubuh dan mengatur keseimbangan air pada unggas
(North, 1998).

I. Cloaca

Kloaka merupakan bagian akhir dari saluran pencernaan. Kloaka merupakan


lubang pelepasan sisa-sisa digesti, urin dan merupakan muara saluran reproduksi
(North, 1998). Air kencing yang sebagian berupa endapan asam urat dikeluarkan
melalui kloaka bersama tinja dengan bentuk seperti pasta putih (Akoso, 1993).
Pada kloaka terdapat tiga muara saluran pelepasan yaitu urodeum sebagai muara
saluran kencing dan kelamin, coprodeum sebagai muara saluran makanan
dan proctodeum sebagai lubang keluar dan bagian luar yang berhubungan dengan
udara luar disebut vent (Nesheim et al., 1997). Kloaka juga bertaut dengan bursa
fabricius pada sisi atas berdekatan pada sisi luarnya (Akoso, 1993). Kloaka pada
bagian terluar mempunyai lubang pelepasan yang disebut vent, yang pada betina
lebih lebar dibanding jantan, karena merupakan tempat keluarnya telur (North,
1998).

2. Organ Pencernaan Tambahan

Organ tambahan mempunyai hubungan dengan saluran pencernaan dengan adanya


suatu duktus yang berfungsi sebagai saluran untuk mengekskresikan material dari
organ tambahan ke saluran pencernaan yang berguna untuk kelancaran proses
pencernaan pakan. Ada tiga organ pencernaan tambahan yaitu hati, pankreas dan
limpa (North, 1998).
A. Hati

Hati terletak diantara gizzard dan empedu, berwarna kemerahan dan terdiri
dari dua lobus, yaitu lobus dexter dan sinister. Hati mengeluarkan cairan
berwarna hijau kekuningan yang berperan dalam mengemulsikan lemak. Cairan

11
tersebut tersimpan di dalam sebuah kantung yang disebut kantung empedu yang
terletak di lobus sebelah kanan. Makanan yang berada pada duodenum akan
merangsang kantung empedu untuk mengkerut dan menumpahkan cairan empedu.
Hati juga menyimpan energi siap pakai (glikogen) dan menguraikan hasil sisa
protein menjadi asam urat yang dikeluarkan melalui ginjal (Lehninger, 1994).
B. Pankreas

Pankreas terletak pada lipatan duodenum. Pankreas mensekresikan cairan


pankreas ke duodenum melalui ductus pancreaticus dan menghasilkan enzim
yang mendigesti karbohidrat, lemak dan protein (North, 1998).
C. Limpa

Limpa berbentuk agak bundar, berwarna kecoklatan dan terletak pada titik
antara proventriculus, gizzard dan hati (Jull, 1991). Fungsi dari limpa sampai
sekarang belum diketahui, hanya diduga sebagai tempat untuk memecah sel darah
merah dan untuk menyimpan Fe dalam darah.

Unggas tidak memiliki gigi atau pinggiran paruh yang bergerigi sehingga pada mulut
(paruh) tidak terjadi pencernaan secara mekanik (Anggorodi,1994). Lidah unggas
berbentuk runcing dan keras seperti ujung panah dengan arah kedepan serta berbentuk
seperti kail pada bagian belakang lidah. Lidah pada unggas berfungsi membantu pada
waktu makan karena ada bagian dari lidah yang bercabang pada bagian belakang yang
mendorong makanan turun kedalam kerongkongan. Saliva atau kelenjar ludah dalam
jumlah sedikit dikeluakan dalam mulut untuk membantu menelan makanan untuk
melicinkan makanan yang masuk menuju esophagus dan diteruskan ketembolok
(Akoso, 1998).

 Unggas tidak memiliki gigi atau pinggiran paruh yang bergerigi sehingga pada
mulut (paruh) tidak terjadi pencernaan secara mekanik (Anggorodi,1994). Lidah
unggas berbentuk runcing dan keras seperti ujung panah dengan arah kedepan
serta berbentuk seperti kail pada bagian belakang lidah. Lidah pada unggas
berfungsi membantu pada waktu makan karena ada bagian dari lidah yang
bercabang pada bagian belakang yang mendorong makanan turun kedalam
kerongkongan. Saliva atau kelenjar ludah dalam jumlah sedikit dikeluakan dalam
mulut untuk membantu menelan makanan untuk melicinkan makanan yang masuk
menuju esophagus dan diteruskan ketembolok (Akoso, 1998).

o Proses Pencernaan Makanan pada Ayam

Sistem pencernaan unggas berbeda dengan pencernaan hewan lainnya. Unggas tidak
memiliki gigi sehingga tidak terjadi pencernaan mekanik di dalam beak. Makanan
akan langsung melewati esophagus dan selanjutnya menuju tembolok yang disertai
dengan sekresi mukus oleh tembolok yang berfungsi sebagai pelumas untuk

12
menghaluskan makanan. Tembolok merupakan organ penyimpanan makanan
sementara, kapasitas tembolok mampu menampung bolus hingga 250 g.

Organ ini banyak terdapat saraf yang berhubungan dengan pusat lapar-kenyang di
hipotalamus sehingga banyak sedikitnya pakan di dalam tembolok mempengaruhi
tindakan makan atau menghentikan makan. Setelah melewati pelumasan di dalam
tembolok, selanjutnya makanan akan menuju pada lambung kelenjar atau
proventriculus serta disekresikan enzim pepsin dan amilase oleh organ tersebut.
Makanan berlanjut pada tahap pencernaan di gizzard yaitu lambung yang tersusun
oleh otot yang kuat berisi pasir atau bebatuan yang akan menghancurkan makanan.

Proses absorpsi terjadi di dalam usus halus yang terdiri dari duodenum, jejenum, dan
ileum. Menurut Soeharsono (2010), hubungan relatif antara usus halus dengan tubuh
pada unggas lebih pendek daripada mamalia, tetapi terdapat variasi panjang, yang
dipengaruhi oleh kebiasaan makan (eating habits). Usus halus akan lebih panjang
pada unggas pemakan hijauan dan butiran sedangkan pada unggas pemakan daging
lebih pendek. Disimpulkan bahwa pencernaan untuk pakan hijauan atau biji-bijian
lebih lama dibandingkan dengan unggas pemakan daging hal ini dilihat dari
perbandingan panjangnya usus halus pada unggas.

13
BAB III

MATERI DAN METODE PRAKTIKUM

1. Waktu dan Lokasi Praktikum


 Pukul 12.40 – 14.00 WITA
 Lab. Reproduksi dan Kesehatan Ternak
2. Bahan dan Alat
 Ayam
 Stetoskop
 Termometer
 Stopwatch
 Organ pencernaan ayam
 Alat ukur

3. Prosedur Praktikum
Pengarahan praktikum, penjelasan tentang cara pembuatan laporan,
pembagian kelompok, pembagian alat dan bahan praktikum,
penjelasan tentang cara penggunaan alat praktikum, dan pelaksanaan
praktikum.
4. Pengasuh Praktikum
I. Ir. Aloysius Marawali, MS
II. Ir. Marthen Mullik, PG.Dip.Agr.St,Ph.D
III. Ir. Kirenius Uly, MP
5. Peserta Praktikum

Seluruh mahasiswa semester 2 fakultas peternakan yang memprogam mata


kuliah fisiologi ternak di kelas E4.

14
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Mengukur Frekuensi Pernapasan Pada Ternak Ayam

a. Sebelum Beraktivitas
Frekuensi pernapasan : 111 kali / menit
b. Setelah Beraktivitas
Frekuensi pernapasan : 121 kali / menit
2. Mengukur Suhu Rektal Pada Ternak Ayam
a. Sebelum Beraktivitas
Suhu rektal : 41,8° C
b. Setelah Beraktivitas
Suhu rektal : 42° C
3. Mengamati Frekuensi Denyut Pada Ternak Ayam
a. Sebelum Beraktivitas
Denyut jantung : 144 kali / menit
b. Setelah Beraktivitas
Denyut jantung : 101 kali / menit
4. Mengamati Organ Pencernaan Pada Ternak Ayam

No. Parameter Organ Dalam Panjang (cm) Berat (gram)


1. Oesophagus 21 6
2. Crop 9 9
3. Proventrikulus 4 9
4. Gizzard 5 42.6
5. Duodenum 26 6
6. Jejunum 106 14
7. Ilieum 100 8
8. Coecum 25 5
9. Usus besar 15 5
10. Kloaka 3 10
15
11. Hati - 64.4
12. Pankreas 10 3
13. Limfa - 2
14. Jantung - 64.4

BAB V

PENUTUP

5.1 KESIMPULAN
Respirasi meliputi semua proses kimia dan fisik dimana organisme menukar
udara atau gas dengan lingkungannya. Prinsip pertukaran udara meliputi oksigen
(O2) dan karbondioksida (CO2), dimana oksigen diambil dari atmosfer yang
diperlukan jaringan tubuh untuk metabolisme dan oksidasi, sedangkan
karbondioksida merupakan produk akhir yang penting dari metabolisme dan harus
dibuang dari tubuh (Kustono et al., 2008). Respirasi pada unggas digunakan juga
sebagai media pembuangan panas (Yuwanta, 2004).
Thermoregulasi merupakan suatu proses homeostatis untuk menjaga agar suhu
tubuh suatu hewan tetap dalam keadaan stabil dengan cara mengatur dan mengontrol
keseimbangan antara banyak energi (panas) yang diproduksi dengan energi yang
dilepaskan.

Sistem kardiovaskular dan sistem respirasi harus bekerja sama


untukmelakukan pertukaran gas. Sistem ini berfungsi untuk mengelola pertukaran
oksigen dan karbondioksida antara udara dan darah.

Pencernaan yaitu penguraian bahan makanan ke dalam zat-zat makanan dalam


saluran pencernaan untuk dapat diserap dan digunakan oleh jaringan-jaringan tubuh.

5.2 SARAN
Kedepannya Praktek harus dilakukan tepat waktu sehingga tidak terkesan
terburu-buru.

16
LAMPIRAN

17
18
19
DAFTAR PUSTAKA

Akoso, dan Nuggroho. 1993. Keanekaragaman Ternak Unggas. Dian Rakyat: Jakarta
Jull, 1991. Kemajuan Mutakhir dalam Ilmu Makanan Ternak Unggas. Cetakan
Pertama. Universitas Press, Jakarta.
Lehninger, 1994. Pencernaan Ayam Bloiler. ACIAR :Bogor.
Nesheim et al., 1997. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Edisi Keempat.
Diterjemahkan Oleh : B. Srigandono dan Koen Praseno. Yogyakarta : UGM Press.
Hal : 528, 542-552

North, 1998. Nutrisi Aneka Ternak Unggas. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta
Sudaryati, 1994. Fisiologi Ternak. Bandung : Widya Padjadjaran. Hal : 163-190
Yuwanta, T. 2004. Dasar Ternak Unggas. Kanisius, Yogyakarta

20