Anda di halaman 1dari 53

UJI DAYA HAMBAT FRAKSI ETIL ASETAT

LENGKUAS MERAH (Alpinia purpurata (Vieill.) K.


Schum)TERHADAP JAMUR Candida albicans

KARYA TULIS ILMIAH

OLEH

YESI ARMILA
1648402064

PROGRAM STUDI DIII ANALIS FARMASI DAN MAKANAN


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ABDURRAB
PEKANBARU
2019
LEMBAR PERSETUJUAN

Karya Tulis Ilmiah Dengan Judul

UJI DAYA HAMBAT FRAKSI ETIL ASETAT


LENGKUAS MERAH (Alpinia purpurata (Vieill.)
K. Schum) TERHADAP JAMUR Candida albicans

Diseminarkan
Oleh

YESI ARMILA
1648402064

Karya Tulis Ilmiah Ini Telah Diseminarkan dan Dinyatakan Lulus Dihadapan Para Penguji
Seminar program Studi D III Analis Farmasi dan Makanan Universitas Abdurrab

Oleh
Dosen Pembimbing Karya Tulis Ilmiah

Pembimbing I Pembimbing II

(Rini Lestari, M. Farm., Apt.) (Sri Kartini, S.Si., M.Kes)


LEMBAR PENGESAHAN

NAMA : YESI ARMILA


NIM : 1648402064
JUDUL : UJI DAYA HAMBAT FRAKSI ETIL ASETAT
LENGKUAS MERAH (Alpinia purpurata (Vieill.) K.
Schum) TERHADAP JAMUR Candida Albicans
PROGRAM STUDI : DIII ANALIS FARMASI DAN MAKANAN

TIM PEMBIMBING

Pembimbing I Pembimbing II

(Rini Lestari, M. Farm., Apt.) (Sri Kartini, S.Si., M.Kes)

TIM PENGUJI

Penguji

(Irham Siregar, S.Pd., M.Si )

Program Studi D III Analis Farmasi dan Makanan


Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehasan Universitas Abdurrab
Telah Menyetujui Karya Tulis Ilmiah ini Sebagai Bagian Dari
Persyaratan Kelulusan Ahli Madya Kesehatan

(Isna Wardaniati, M. Farm., Apt.)


Plt. Ketua Program Studi D III Analis Farmasi dan Makanan
SK. Nomor : 120/REK-UNIVRAB/SK/A/XI/2018
KARYA TULIS ILMIAH
PROGRAM STUDI D-III ANALIS FARMASI DAN MAKANAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ABDURRAB
2019
Nama : Yesi Armila
Nim : 1648402064
Judul KTI :Uji Daya Hambat Fraksi Etil Asetat Lengkuas Merah (Alpinia
purpurata (Vieill.) K. Schum) Terhadap Jamur Candida Albicans
Pembimbing : 1. Rini Lestari, M.Farm,Apt
2. Sri Kartini, S.Si, M.Kes

ABSTRAK

Telah dilakukan uji daya hambat fraksi etil asetat rimpang lengkuas merah
(Alpinia purpurata (Vieill.)K. Schum) terhadap jamur Candida albicans.
Rimpang lengkuas merah secara tradisional digunakan untuk mengobati penyakit
kulit yang disebabkan oleh jamur. Penelitian ini bertujuan untuk mengatahui daya
hambat fraksi etil asetat lengkuas merah terhadap jamur Candida albicans
menggunakan metode difusi cakram pada media PDA. Pembanding yang
digunakan adalah nistatin. Ekstrak dibuat dengan metode meserasi menggunakan
pelarut dengan kepolaran bertingkat mulai dari n-heksan dan etil asetat. Fraksi etil
asetat dibuat dengan konsentrasi 3%, 5% dan 10%. Hasil penelitian didapatkan
diameter zona hambat rata-rata konsentrasi 3% sebesar 6,11 mm, 5% sebesar
7,38 mm dan 10% sebesar 7,92 mm dan nistatin sebasar 16,65 mm. Dari hasil di
atas dapat disimpulkan bahwa fraksi etil asetat lengkuas merah dapat menghambat
pertumbuhan Candida albicans.

Kata Kunci: Lengkuas merah (Alpinia Purpurata(Vieill.) K. Schum), Candida


albicans, Nistatin
SCIENTIFIC PAPER
DAPAETEMENT OF D-III FOOD AND PHARMACY’S ANALYSIS
FACULTY OF MEDICAL AND HEALTH SCIENCES
UNIVERSITAS ABDURRAB
2019

Name : Yesi Armila


Nim : 1648402064
Title : Inhibition Test Of Red Galangal Ethyl Acetate Fraction (Alpinia
Purpurata (Vieill.) K.Schum) Against Mushrooms Candida
albicans
Supervisor : 1. Rini Lestari, M.Farm,Apt
2. Sri Kartini, S.Si, M.Kes

ABSTRACT

The inhibitory power test of the red galangal rhizome (Alpinia purpurata
(Vieill.)K. Schum) ethyl acetate fraction on the fungus Candida albicans. Red
galangal rhizome is traditionally used to treat skin diseases caused by fungi. This
study aims to determine the inhibitory power of red galangal ethyl acetate fraction
against fungi Candida albicans using disc diffusion method on PDA media. The
comparison used is nystatin. The extract was made by meseration method using
solvents with multilevel polarity starting from n-hexa and ethyl acetate. Ethyl
acetate fraction is made with a concentration of 3%, 5% and 10%. The results
showed that the diameter of the inhibition zone averaged a concentration of 3% at
6.11 mm, 5% at 7.38 mm and 10% at 7.92 mm and nistatin at 16.65 mm. From the
results above it can be concluded that the red galangal ethyl acetate fraction can
inhibit the growth of Candida albicans.

Keyword :red galangal (terminalia catappa L.), Candida albicans, Nistatin


KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat

yang telah dilimpahkan-Nya, sehingga penulis dapat menyusun dan

menyelesaikan karya tulis ilmiah ini, yang diajukan guna melengkapi dan

memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan pendidikan Program Studi D-III

Anafarma Universitas Abdurrab dengan judul “Uji daya hambat fraksi etil asetat

lengkuas merah (Alpinia purpurata(Vieill.) K. Schum) terhadap jamur Candida

albicans”.

Sholawat beriring salam tidak lupa peneliti sampaikan kepada Nabi Besar

Muhammad SAW yang telah memberikan tauladan kepada kita semua.

Pada kesempatan ini perkenankanlah penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Ibu Isna Wardaniati, M.Farm, Apt Selaku ketua Prodi D-III Analis Farmasi dan

Makanan Universitas Abdurrab.

2. Ibu Rini Lestari, M.Farm,Apt Selaku pembimbing I, yang telah membimbing

penulis dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini dan telah banyak memberikan

pengarahan, bimbingan dan bantuan dengan kesabaran untuk semua kesalahan

dalam perbaikan selama menulis ini.

3. Ibu Sri Kartini, S.Si, M.Kes. Selaku pembimbing II, yang telah membimbing

penulis dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini dan telah banyak memberikan

pengarahan, bimbingan dan bantuan dengan kesabaran untuk semua kesalahan

dalam perbaikan selama menulis ini.


4. Seluruh dosen yang telah memberikan ilmu pengetahuan dan mendidik

penulis selama mengikuti perkuliahan di Program Studi D-III Anafarma

Universitas Abdurrab.

5. Ayahanda Ardi Hamidi dan Ibunda tercinta Nila Asma serta seluruh

keluarga yang selalu memberikan dorongan motivasi, semangat serta do’a

yang tiada henti-hentinya kepada penulis dalam mewujudkan cita-cita.

6. Teman-teman, mahasiswa-mahasiswi D-III Anafarma Universitas Abdurrab

serta seluruh pihak terkait yang telah turut membantu penulis dalam

menyelesaikan karya tulis ilmiah ini.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa karya tulis ilmiah ini masih belum

sempurna dikarenakan keterbatasan kemampuan penulis, untuk itu penulis

mengharapkan kritikan dan saran-saran yang sifatnya membangun demi

kesempurnaan karya tulis ilmiah ini. Akhirnya kepada Allah SWT jualah kita

berserah diri semoga karya tulis ilmiah ini dapat memberikan manfaat bagi kita

semua, Aamiin.

Pekanbaru, Juni 2019

Penulis
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL
LEMBAR PERSETUJUAN
LEMBAR PENGESAHAN
ABSTRAK ................................................................................................. iv
ABSTACT .................................................................................................. v
KATA PENGANTAR ............................................................................... vi
DAFTAR ISI .............................................................................................. viii
DAFTAR TABEL .................................................................................... x
DAFTAR GAMBAR ................................................................................. xi
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................ xii
BAB I PENDAHULUAN .......................................................................... 1
1.1 Latar Belakang .............................................................................. 1
1.2 Perumusan masalah ....................................................................... 3
1.3 Tujuan Penelitian .......................................................................... 3
1.4 Manfaat Penelitian ........................................................................ 3
1.4.1 Manfaat Ilmiah ................................................................. 3
1.4.2 Manfaat Praktis ................................................................. 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................... 5
2.1 Tumbuhan Lengkuas Merah ........................................................ 5
2.1.1 Morfologi Lengkuas Merah .............................................. 5
2.1.2 Klasifikasi Lengkuas Merah ............................................. 6
2.1.3 Kandungan Kimia Lengkuas Merah ................................. 7
2.1.4 Manfaat Rimpang Lengkuas Merah .................................. 7
2.2 Candida albicans .......................................................................... 7
2.2.1 Penyakit Yang Ditimbulkan dan Gambaran Klinis ........... 9
2.2.2 Pengobatan ........................................................................ 10
2.3 Nistatin .......................................................................................... 11
2.3.1 Aktivitas Anti Jamur Nistatin ........................................... 11
2.3.2 Efek Samping .................................................................... 12
2.4 Ekstraksi dan Fraksinasi ............................................................... 12
2.5 Sterilisasi ....................................................................................... 13
2.5.1 Sterilisasi secara fisika (pemanasan) ................................. 13
2.5.2 Sterilisasi secara kimia ...................................................... 15
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ............................................... 16
3.1 Desain Penelitian .......................................................................... 16
3.2 Sampel........................................................................................... 16
3.3 Tempat dan Waktu Penelitian ....................................................... 16
3.4 Alat dan Bahan .............................................................................. 16
3.4.1 Alat ................................................................................... 16
3.4.2 Bahan................................................................................. 17
3.5 Prosedur Kerja .............................................................................. 17
3.5.1 Pembuatan Simplisia Rimpang Lengkuas Merah ............. 17
3.5.2 Pembuatan Ekstrak dan Fraksi Etil Asetat Rimpang
Lengkuas Merah ................................................................ 17
3.5.3 Pembuatan Larutan Fraksi Etil Asetat Konsentrasi 3%,
5%,dan 10% ..................................................................... 18
3.6 Sterilisasi Alat ............................................................................... 19
3.6.1 Desinfektan Tempat Kerja ................................................ 20
3.6.2 Antiseptik Tangan ............................................................ 20
3.6.3 Pembuatan Meia Potato Dextrose Agar (PDA) ................ 20
3.6.4 Pembuatan Larutan Standar Mc. Farland .......................... 20
3.6.5 Pembuatan Suspensi Jamur Candida albicans.................. 21
3.6.6 Pengujian Aktivitas Antijamur .......................................... 21
3.7 Analisis Data ................................................................................ 21
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................. 22
4.1 Hasil ............................................................................................... 22
4.2 Pembahasan .................................................................................... 23
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .................................................... 27
5.1 Kesimpulan .................................................................................... 27
5.2 Saran .............................................................................................. 27
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 28
LAMPIRAN ............................................................................................... 30
DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel I. Hasil uji daya hambat ................................................................... 22
DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1.Tanaman lengkuas merah ........................................................... 6


Gambar 2. Skema prosedur kerja ................................................................ 30
Gambar 3. Klasifikasi tanaman lengkuas merah ........................................ 31
Gamabr 4. Sampel lengkuas merah ............................................................. 36
Gambar 5. Simplisia lengkuas merah.......................................................... 36
Gambar 6.Strain jamur Candida albicans................................................... 37
Gambar 7. Suspensi Jamur dan Mc. Farland .............................................. 38
Gambar 8. Hasil uji daya hambat pengulangan I ........................................ 39
Gambar 9. Hasil ujidaya hambat pengulangan II ........................................ 40
Gambar 10. Hasil uji daya hambat pengulangan III ................................... 41
DAFTAR LAMPIRAN

Halaman
Lampiran 1. Skema prosedur kerja ............................................................. 30
Lampiran 2. Klasifikasi tanaman lengkuas merah (Alpinia purpurata

(Vieill.) K. Schum) ................................................................ 31

Lampiran 3. Perhitungan dan cara pembuatan ekstrak lengkuas merah ..... 32


Lampiran 4. Pembuatan media Potato Dextrose Agar (PDA) .................... 34
Lampiran 5. Perhitungan pembuatan larutan H2SO4 1% dan Bacl2 1% ..... 35
Lampiran 6. Sampel lengkuas merah dan simplisia lengkuas merah.......... 36
Lampiran 7.Hasil strain jamur Candida albicans ....................................... 37
Lampiran 8.Hasil suspensi jamur dan Mc. Farland..................................... 38
Lampiran 9.Hasil uji daya hambat jamur Candida albicans ...................... 39
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman hayati

berupa tanaman yang dapat diolah menjadi berbagai macam obat yang

dikenal dengan obat herbal. Salah satu tanaman yang dapat digunakan sebagai

bahan obat adalah lengkuas merah (Alpinia purpurata(Vieill.) K. Schum).

Selain digunakan untuk bumbu dapur, lengkuas sering digunakan untuk

mengobati penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur (Permadi, 2008).

Bagian tanaman dari lengkuas merah yang sering digunakan untuk

mengobati jamur adalah bagian rimpang. Rimpang lengkuas merah

mengandung senyawa kimia minyak atsiri, eugenol, seskuiterpen, saponin,

tannin dan flavonoid. Minyak atsiri pada rimpang lengkuas merah terdiri dari

senyawa 1,8 sineol, chavicol, β-caryophyllene dan α-siliene,fenilpropanoid 1-

asetoksikhavikol asetat, 1-asetoksieugenol asetat, 1-hidtroksikhavikol asetat,

yang memiliki daya antibakteri dan antifungi (Permadi, 2008). Salah satu

penyakit yang disebabkan oleh Candida albicans adalah sariawan, keputihan,

kulit dal lain-lain. Candida albicans adalah flora normal pada saluran

pencernaan, selaput mukosa, saluran pernapasan, vagina, uretra, kulit dan di

bawah kuku (Tan dan Kirana, 2007: 100-101).

1
Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Khamda (2016) “tentang uji

daya hambat antara ekstrak lengkuas merah (Alphinia purpurata (Vieill.) K.

Schum) dengan ekstrak rimpang lengkuas putih (Alphinia galanga W)

terhadap Candida albicans” menunjukkan bahwa ekstrak rimpang lengkuas

merah 10% mempunyai daya hambat yang lemah terhadap jamur candida

albicans, ekstrak lengkuas merah 40% lebih efektif terhadap pertumbuhan

membuktikan bahwa lengkuas merah efektif menghambat pertumbuhan

Candida albicans. Berdasarkan latar belakang di atas penulis tertarik untuk

melakukan penelitian tentang “Uji daya hambat fraksi etil asetat lengkuas

merah (Alpinia purpurata(Vieill.) K. Schum) terhadap jamur Candida

albicans”.

Untuk mendapatkan senyawa yang dapat mengatasi jamur Candida

albicans, perlu terlebih dahulu rimpang lengkuas merah kita ekstrak terlebih

dahulu. Ekstrak adalah material hasil penarikan oleh pelarut air atau pelarut

organik dari bahan kering. Hasil penyaringan tersebut kemudian pelarutnya

dihilangkan dengan cara penguapan dengan alat rotary evapolator sehingga

diperoleh ekstrak kental. Untuk pemilihan pelarut jika tujuannya mengisolasi

dan memurnikan senyawa target sudah jelas bisa menggunakan pelarut

organik seperti butanol, etil asetat, kloroform, aseton, atau n-heksan yang

memiliki sifat ekstraksi terbaik (Saifudin, 2014:46-47).

2
1.2 Perumusan masalah

Berdasarkan latar belakang di atas penulis membuat rumusan masalah,

apakah fraksi etil asetat rimpang lengkuas merah (Alpinia purpurata (Vieill.)

K. Schum) mampu menghambat pertumbuhan jamur Candida albicans pada

konsentrasi 3%, 5%, dan 10% dengan metode difusi agar.

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antijamur fraksi

etil asetat rimpang lengkuas merah (Alpinia purpurata (Vieill.) K. Schum)

terhadap jamur Candida albicans pada konsentrasi 3% ,5% dan 10%.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Ilmiah

Manfaat penelitian ini secara ilmiah menambah wawasan

penulis tentang aktivitas antijamur fraksi etil asetat rimpang lengkuas

merah (Alpinia purpurata (Vieill.) K. Schum) pada konsentrasi 3%,

5%, dan 10% untuk menghambat pertumbuhan jamur Candida

albicans dengan metode difusi agar. Diharapkan karya tulis ini dapat

menjadi bahan bacaan bagi pihak yang membutuhkan.

1.4.2 Manfaat Praktis

Manfaat penelitian ini secara praktis agar masyarakat

mengetahui manfaat fraksi etil asetat rimpang lengkuas merah

3
(Alpinia purpurata(Vieill.) K. Schum) untuk menghambat

pertumbuhan jamur Candida albicans.

4
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tumbuhan Lengkuas Merah

Lengkuas merahtermasuk kedalam family tumbuhan Zingiberaceae,

sering dipakai masyarakat sebagai obat. Lengkuas merah termasuk tumbuhan

tegak tinggi batangnya mencapai 2-2,5 meter. Rimpang lengkuas merah dapat

hidup di daerah dataran rendah sampai tinggi, lebih kurang 1.200 meter di

atas permukaan laut. Rimpang lengkuas merah tumbuh diseluruh Indonesia,

Asia Tenggara, di bawah kaki pegunungan himalaya sebelah timur hingga

laut cina dan India barat daya diantara Chats dan Lautan Indonesia.

Lengkuas merah ditemukan menyebar diseluruh dunia. Untuk tumbuh,

lengkuas menyukai tanah gembur, sinar matahari banyak, sedikit lembab,

tetapi tidak tegenang air. Kondisi tanah yang disukai berupa tanah liat

berpasir, banyak mengandung humus.

Untuk budidaya tanaman ini dapat dengan potongan rimpang yang sudah

memiliki mata tunas. Selain itu pemeliharaan mudah, seperti tanaman lain

dibutuhkan cukup air dengan penyiraman atau menjaga kelembapan tanah

dan pemupukan yang cukup (Depkes RI, 1978: 48-51).

2.1.1 Morfologi Lengkuas Merah

Lengkuas merah mempunyai batang pohon yang terdiri dari

susunan pelepah-pelepah daun. Daun-daunnya berbentuk bulat-bulat

panjang, ujung tajam, berambut sangat halus atau tidak berambut, dan

5
diantara daun terdapat pada bagian bawah terdiri dari pelepah-pelepah

saja, sedangkan bagian-bagian atas terdiri dari pelepah-pelepah lengkap

dengan helaian daun. Bunganya muncul pada bagian ujung batang,

berbentuk tandan, tegak, gagang panjang, ramping, jumlah bunga di

bawah lebih banyak dari pada bagian atas. Rimpang menjalar,

berdaging, berkulit mengkilap, berwarna merah, berserat kasar juga

mempunyai aroma yang khas dan rasa pedas (Wahyuni et al.,2016).

Gambar 1. Tanaman lengkuas merah

2.1.2 Klasifikasi Lengkuas Merah

Kingdom : Plantae

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Liliopsida

Bangsa : Zingiberales

Suku : Zingiberaceae

Marga : Alpinia

Spesies : Alpinia purpurata (Vieill.) K.Schum

Nama Daerah : Lengkuas Merah

6
2.1.3 Kandungan Kimia Rimpang Lengkuas Merah

Rimpang lengkuas merah mengandung 0,5-1,0% minyak atsiri

yang terdiri atas sisquisterpen, alkohol, dan sedikit eugenol. Galangol

mengandung diarilheptanoid, gingerol, flavonoid termasuk quercetin

dan kamferol, stereol dan steroidal glikosida (β-sitosterol diglukosil

kaprat), sodium, besi, vitamin A dan C, β-sitosterol, galangin, emodin,

dan quercetin (Wahyuni et al., 2016).

2.1.4 Manfaat Rimpang Lengkuas Merah

Rimpang lengkuas merah dapat digunakan untuk mengobati

penyakit rematik, sakit limpa, membangkitkan gairah dan tenaga,

membangkitkan nafsu makan, bronchitis, morbili, diare, biasa

digunakan sebagai bumbu dapur dan mengobati penyakit kulit yang

disebabkan oleh jamur seperti panu, kurap, eksim, koreng, bisul, dan

lain-lain. Bagian yang digunakan adalah rimpangnya (umbi), baik

kering maupun dalam bentuk segar (Permadi, 2008)

2.2 Candida albicans

Candida albicans adalah jamur yang terdiri dari sel-sel oval

seperti ragi dan sel-sel yang memanjang, sambung-menyambung

merupakan hyphae dan disebut pseudomycelium. Jamur ini adalah

bagian dari flora normal (komensal) selaput lendir di saluran

pernapasan, saluran cerna dan vagina (Tan dan Kirana, 2007:100).

7
Jamur Candida telah dikenal dan dipelajari sejak abad ke-18

yang menyebabkan penyakit yang dihubungkan dengan higiene yang

buruk. Namun Candida diperkenalkan pada Third International

Microbiology Congress di New York pada tahun 1938, dan dibakukan

pada Eight Botanical Congress albicans penyebab kandidiasis terdapat

diseluruh dunia dengan sedikit perbedaan variasi penyakit setiap area.

Infeksi yang disebabkan Candida albicans dapat berupa akut, subakut

atau kronis pada tubuh manusia. Candida albicans adalah monomorphic

yeast like organism yang tumbuh baik pada suhu 25-30ºC dan 35-37ºC.

Jamur Candida tumbuh dengan cepat pada suhu 25-37ºC pada media

pembenihan sederhana sebagai sel oral oval dengan pembentukan tunas

untuk memperbanyak diri, dan spora jamur disebut blastospora atau sel

ragi/sel khamir. Berbentuk bulat panjang berukuran 3-7x3-14 µm

(Mutiawati, 2016:53-54).

Jamur merupakan flora normal yang biasa terdapat di kulit

tubuh, kulit kepala, mulut, sela-sela jari kaki, di dalam usus, di paru-

paru, dan di vagina. Dalam keadaan biasa Candida albicans tidak

menyebabkan gangguan. Jika keseimbangan flora normal terganggu

dan pertumbuhannya meningkat maka terjadilah gangguan yang

umumnya menimbulkan rasa gatal (Setiowati dan Deswaty, 2007:72)

8
2.2.1 Penyakit yang Ditimbulkan dan Gambaran Klinis

Beberapa penyakit yang disebabkan oleh Candida albicans

seperti:

1. Candidiasis mulut (sariawan). Infeksi di mulut bergejala

luka perih dan bercak-bercak putih pada mukosa mulut

serta lidah, yang dapat menjalar ke tenggorok dan

oesophagus. Ciri lainnya berupa cheilitis (radang di sudut-

sudut mulut). Infeksi ini sering terjadi akibat penggunaan

antibiotik berspektrum luas, kartikosteroid dan sitostatika,

selama terapi radiasi, leukimia, juga pada pasien AIDS

dengan sistem-imun lemah (CD4+ < 300 mm3).

2. Candidiasis usus. Candidiasis di usus bergejala diare, nyeri

perut, obstipasi atau terbentuknya banyak gas. Ditemukan

Candida dalam jumlah banyak di saluran dapat diakibatkan

oleh penggunaan antibiotik broad-spectrum, yang

mengubah susunan flora kuman yang normal.

3. Candidiasis vagina (vaginitis). Infeksi paling umum pada

alat kelamin wanita bergejala iritasi, keputihan, gatal-gatal

dan rasa terbakar. Gatal-gatal dapat merupakan gejala dari

penyakit kelamin lain (trichomonas, chlamydia, genore,

atau herpes). Disamping faktor-faktor tersebut diatas,

kehamilan, hygiene yang tidak memadai, penggunaan

antibiotika berspektrum luas (yang menekan flora bakteri

9
yang melindungi) dan pil antihamil membentu terjadinya

infeksi.

4. Candidiasis kulit. Terutama timbul pada bagian tubuh yang

lembab dan hangat, misalnya ketiak dan lipatan paha.

Kebanyakan infeksi menghinggapi orang gemuk dan

penderita diabetes. Gejalanya berupa kulit merah dan

mengeluarkan cairan.

5. Sistemis. Pada dekade terakhir semakin banyak timbul

Candida sistemis (umum) yang bercirikan rasa penat dan

lemah, keletihan kronis, disertai antara lain perasaan

mengamuk, lemah ingatan, nyeri otot dan persendian. Pada

sindron ini, karena sebab berbagai Candida menjadi ganas.

Setelah menembus mukosa usus, ragi ini melalui sirkulasi

darah menyebar ke semua organ, jaringan ikat dan

sebagainya (Tan dan Kirana,2007:100-101).

2.2.2 Pengobatan

Candidiasis mulut (sariawan) pengobatan efektif dapat dilakukan

dengan flukonazol oral. Pilihan kedua dengan itrakonazol dan

ketokonazol oral dan pilihan ketiga berupa penggunaan lokal (suspensi

nystatin, tablet hisap amfoterisin). Pada pasien AIDS tak jarang terjadi

resistensi akibat profilaksis jangka panjang dengan antimikotika.

Candidia vagina (vaginitis) pengobatan dapat dilakukan dengan

senyawa imidazol mikonazol, klotrimazol dan ketokenazol dalam

10
bentuk ovula (supp.vaginal) selama 2-6 malam. Sama efektifnya adalah

penggunaan oral dari ketokonazol, itrakonazol dan flukonazol sebagai

single dosis atau 2 dosis dengan jarak waktu 8 jam. Candidiasis kulit

pengobatan dapat dilakukan dengan krim mikonazol atau ketokonazol.

Sistemis dengan ketokonazol atau itrakonazol, ditunjang dengan diet

ketat untuk menghambat perbanyakan ragi, terutama gula dan produk-

produk yang mengandung ragi dan jamur (roti, kue, sampinyon, tempe,

oncom) perlu dihindari, begitu pula buah-buahan manis, alkohol, susu

dan daging babi, dan pengobatan candidiasis pada kulit menggunakan

nistatin merupakan obat antijamur spectrum luas, dan sebagai obat

pilihan pertama dalam pengobatan candidiasis. (Tan dan

Kirana,2007:100-102).

2.3 Nistatin

2.3.1 Aktivitas Antijamur Nistatin

Aktivitas antijamur nistatin tidak memberikan efek terhadap bakteri

atau protozoa, tetapi secara in vivo menghambat daya jamur termasuk

Candida, dermatofit dan organisme yang menghasilkan oleh mikosis

dalam badan manusia. Secara in vivo, kerjanya terbatas pada

permukaan dengan obat yang tidak diserap dan dapat kontak langsung

dengan ragi/jamur (Rahardjo, 2004:228).

11
2.3.2 Efek Samping

Nistatin (Mycostatin) efek samping yang paling sering ditemukan

ialah mual, muntah, diare pada dosis tinggi, iritasi oral dan sensitisasi,

ruam (termasuk urtikaria) (Informatorium Obat Nasional Indonesia,

2008: 441).

2.4 Ekstraksi dan Fraksinasi

Ekstraksi adalah proses penarikan senyawa menggunakan pelarut air atau

pelarut organik dari bahan kering (keringkan). Hasil penyarian tersebut

kemudian pelarutnya dihilangkan dengan cara penguapan dengan alat rotary

evapolator sehingga diperoleh ekstrak kental jika pelarutnya pelarut organik.

Jika pelarutnya air, pada tahap akhir dilakukan penghilangan total dengan

cara liofilisasi menggunakan alat Freeze dryer. Hasil liofilisasi akan berupa

serbuk. Untuk itu, cara lain bisa ditempuh dengan pengentalan dengan

waterbath dengan temperature kurang dari 60oC (Saifudin, 2014:46).

Metanol, etanol 70%, dan etanol 96% adalah pelarut pilihan utama untuk

mengekstraksi metabolit sekunder yang belum diketahui strukturnya dan

untuk tujuan skrining. Ketiga pelarut ini memiliki extracting power (daya

ekstraksi) yang luas sehingga semua metabolit sekunder tersari dalam tiga

kali maserasi. Jika tujuannya mengisolasi dan memurnikan senyawa target

sudah jelas bisa menggunakan pelarut organik lain (butanol, etil asetat,

kloroform, aseton, atau heksana) yang memiliki sifat ekstraksi terbaik

(melalui trial and error dan dipantau dengan plat KLT atau HPLC atau

12
densitometer dengan detektor UV/Vis). Tujuan pemurnian tertarget tersebut

dinamakan dereplikasi (Saifudin, 2014:46-47).

Fraksinasi merupakan teknik pemisahan atau pengelompokan kandungan

kimia ekstrak berdsarkan kepolaran. Pada proses fraksinasi digunakan dua

pelarut yang tidak bercampur dan memiliki tingkat kepolaran yang berbeda.

Tujuan fraksinasi adalah memisahkan senyawa-senyawa kimia yang ada di

dalam ekstrak berdasarkan tingkat kepolarannya. Senyawa-senyawa yang

bersifat nonpolar akan tertarik oleh pelarut nonpolar seperti n-heksana.

Senyawa yang semipolar seperti golongan terpenoid dan alkaloid akan

tertarik oleh pelarut semi polar seperti etil asetat. Senyawa-senyawa yang

bersifat seperti golongan flavonoid dan glikosida akan tertarik oleh pelarut

polar seperti n-butanol (Nurika dan Sri, 2019: 176).

2.5 Sterilisasi

Sterilisasi dalam mikrobiologi berarti membebaskan tiap benda atau

substansi dari semua kehidupan dalam bentuk apapun. Untuk tujuan

mikrobiologi dalam usaha untuk mendapatkan keadaan steril (Irianto, 2006 :

75).

2.5.1 Sterilisasi Secara Fisika

Metode sterilisasi panas merupakan metode yang dapat dipercaya

yang banyak digunakan. Metode sterilisasi panas dengan penggunaan

uap air disebut sterilisasi lembab atau sterilisasi basah. Metode

13
sterilisasi panas tanpa kelembapan (tanpa penggunaan uap air) disebut

metode sterilisasi panas kering atau sterilisasi kering.

• Sterilisasi panas kering berfungsi untuk mematikan organisme

dengan cara mengoksidasi komponen sel ataupun mendetanurasi

enzim. Metode ini tidak dapat digunakan untuk bahan dari karet

atau plastik, waktu sterilisasi kira-kira 2-3 jam, dan berdaya

penetrasi rendah. Ada dua metode sterilisasi panas kering yaitu

dengan isinerasi (incineration), yaitu pembakaran dengan

menggunakan api dari Bunsen biasanya digunakan untuk

mensterilkan kawat ose, dengan panas oven dengan temperature

160-170 ᵒC digunakan untuk alat-alat kaca (Pratiwi, 2008 : 13-

138).

• Sterilisasi panas basah, menggunakan temperature diatas 100ᵒC

dilakukan dengan uap panas autoklaf, alat serupa Pressure cooker

dengan pengatur tekanan dan klep pengaman. Prinsip auutoklaf

adalah terjadinya koagulasi yang lebih cepat dalam keadaan basah

dibandingkan dalam keadaan kering. Proses sterilisasi dengan

autoklave ini dapat membunuh mikroorganisme dengan cara

mendenaturasi atau mengkoagulasi protein pada enzim dan

membrane sel mikroorganisme. Proses ini juga dapat membunuh

endospora bakteri. Suhu pada autoklaf pada 121ᵒC dengan tekanan

2 atm dan waktu yang diperlukan adalah 15 menit (Pratiwi, 2008 :

138).

14
2.5.2 Sterilisasi Secara Kimia

Metode sterilisasi kimia dilakukan untuk bahan-bahan yang rusak

bila disterilkan pada suhu tinggi (misalnya bahan-bahan plastik).

Sterilisasi ini dapat dilakukan dengan menggunakan gas atau radiasi

beberapa bahan kimia yang dapat digunakan untuk sterilisasi gas adalah

etilen oksida, gas formaldehida, asam parasetat, dan glutradehidalkalin.

Sterilisasi kimia juga dapat dilakukan dengan penggunaan cairan

disinfektan biasanya yang digunakan adalah alkohol 70% (Pratiwi,

2008: 141-142).

15
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Desain penelitian ini adalah deskriptif kualitatif untuk melihat daya

hambat fraksi etil asetat rimpang lengkuas merah terhadap jamur Candida

albicans pada konsentrasi 3%, 5%, dan 10%.

3.2 Sampel

Sampel yang digunkan dalam penelitian ini adalah lengkuas merah yang

berasal dari Kecamatan Kinali Kabupaten Pasaman Barat.

3.3 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Universitas

Abdurrab di Pekanbaru. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari 2019.

3.4 Alat dan Bahan

3.4.1 Alat

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah pisau, serbet,

botol gelap, rotary evaporator, autoclave, oven, inkubator, cawan petri,

lampu spritus, asbes, kaki tiga, erlemeyer, beaker glass, gelas ukur,

kawat ose, batang pengaduk, timbangan analitik, pipet tetes, kapas lidi

16
steril, kertas padi, penggaris, pipet mikro1-10ml, tabung reaksi,

magnetik stiter.

3.4.2 Bahan

Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah,

rimpang lengkuas merah, disk nistatin, etil asetat, etanol 70%, strain

jamur Candida albicans, akuades, media PDA (Potato Dextrose

Agar),tween 80, span 80, disk kosong, kertas padi, kapas, hand scund,

NaCl fisiologis steril.

3.5 Prosedur Kerja

3.5.1 Pembuatan Simplisia Rimpang Lengkuas Merah

Langkah pertama yaitu pengumpulan bahan (sortasi basah).

Lengkuas merah dibersihkan dengan air bersih yang mengalir, lalu

ditiriskan. Lengkuas merah dikeringkan dan ditimbang berat sampel.

Kemudian, dirajang halus letakkan diatas plastik, dikering anginkan.

Lengkuas merah yang sudah kering dibersihkan dari pengotor (sortasi

kering). Kemudian sampel yang sudah kering dihaluskan. Simplisia

yang dihasilkan ditimbang.

3.5.2 Pembuatan Ekstrak dan Fraksi Etil Asetat Rimpang Lengkuas

Merah

Lengkah pertama disiapkan dan dibersihkan alat. Simplisia

lengkuas merah ditimbang. Masukkan kedalam botol coklat,

ditambahkan pelarut n-heksan hingga sampel terendam sempurna

17
(pelarut n-heksan yang digunakan sebanyak 100 ml) kemudian ditutup

rapat. Diamkan selama 3 hari, sambil sekali-kali diaduk setiap hari.

Selanjutnya setelah 3 hari, simplisia lengkuas merah disaring.

Kemudian filtratnya dikumpulkan. Proses diulangi 2-3 kali hingga

proses ekstraksi sempurna. Filtrat yang sudah dikumpulkan dan

dikentalkan dengan rotary evaporator hingga didapatkan ekstrak

kental fraksi n-heksan.

Langkah kedua ampas dari lengkuas merah direndam kembali

dengan pelarut etil asetat sampai terendam sempurna (pelarut etil asetat

yang digunakan sebanyak 100 ml) kemudian ditutup rapat. Diamkan

selama 3 hari, sambil sekali-sekali diaduk setiap hari. Selanjutnya

setelah 3 hari, simplisia lengkuas merah disaring. Kemudian filtratnya

dikumpulkan. Proses diulangi 2-3 kali hingga proses ekstraksi

sempurna. Filtrat yang sudah dikumpulkan dikentalkan dengan rotary

evaforator hingga didapatkan ekstrak kental fraksi etil setat.

3.5.3 Pembuatan Larutan Fraksi Etil Asetat Konsentrasi 3%, 5%, dan

10%.

 Konsentrasi 10% sebanyak 10ml.

Fraksi etil asetat lengkuas merah ditimbang sebanyak 1 gram.

Ditambah span 80 sebanyak 0,5 gram, lalu dipanaskan pada suhu

70ᵒC sambil diaduk (fase minyak). Lalu tween 80 sebanyak 0,5

gram ditambahkan akuades 5 ml pada suhu 70ᵒC (fase air), setelah

itu fase minyak ditambahkan kedalam fase air sambil terus diaduk

18
dengan magnetik stirer hingga terbentuk emulsi, lalu tambahkan

sisa air add sampai tanda batas 10 ml labu ukur.

 Konsentrasi 5%

Fraksi etil asetat lengkuas merah ditimbang sebanyak 0,5 gram

tambah span 80 sebanyak 0,5 gram lalu dipanaskan pada suhu 70ᵒC

sambil diaduk (fase minyak). Lalu tween 80 sebanyak 0,5 gram

ditambahkan akuades 5ml pada suhu 70ᵒC (fase air), setelah itu

fase minyak ditambahkan kedalam fase air sambil terus diaduk

dengan magnetik stirer hingga terbentuk emulsi, lalu tambahkan

sisa air add sampai tanda batas 10 ml labu ukur.

 Konsentrasi 3%

Fraksi etil asetat lengkuas merah ditimbang sebanyak 0,3 gram

tambah span 80 sebanyak 0,5 gram lalu dipanaskan pada suhu 70ᵒC

sambil diaduk (fase minyak). Lalu tween 80 sebanyak 0,5 gram

ditambahkan akuades 5ml pada suhu 70ᵒC (fase air), setelah itu

fase minyak ditambahkan kedalam fase air, sambil terus diaduk

dengan magnetik stirer hingga terbentuk emulsi, lalu tambahkan

sisa air add sampai tanda batas 10 ml labu ukur.

3.6 Sterilisasi Alat

Alat di cuci sampai bersih, lalu dikeringkan. Dibungkus alat tersebut

dengan kertas padi atau kertas koran. Alat dimasukkan kedalam oven pada

suhu 170°C selama satu jam. Dikeluarkan alat dari oven, kemudian

19
didinginkan dan simpan di tempat bersih. Labu ukur, pipet volum disterilkan

dengan cara dibilas menggunakan etanol 70%.

3.6.1 Desinfektan Tempat Kerja

Tempat kerja dibersihkan dari debu, kemudian didesinfektan

dengan etanol 70%, bunsen dinyalakan pada saat bekerja.

3.6.2 Antiseptik Tangan

Dicuci tangan terlebih dahulu dengan air bersih, kemudian

disemprotkan tangan dengan etanol 70%. Kemudian menggunakan

masker dan glove steril untuk melakukan penelitian.

3.6.3 Pembuatan Media Potato Dextrose Agar (PDA)

Dibuat media Potato Dextrose Agar (PDA) dengan cara ditimbang

sebanyak 3,9 g, dimasukkan kedalam erlemeyer 250 ml, dan ditambahkan

100 ml akuades sambil dikocok, dipanaskan hingga mendidih, kemudian

disterilkan dalam autoclave selama 15 menit dengan tekanan 2 atm.

Setelah media steril dikeluarkan dari autoclave, lalu ditambahkan 1 ml

larutan kloramfenikol 50 mg/ml diaduk hingga homogen, setelah itu

tuangkan kedalam cawan petri steril, ditutup dan didiamkan.

3.6.4 Pembuatan Larutan Standar Mc. Farland


Pembuatan larutan standar Mc. Farland yaitu larutan H2SO4 1%

dipipet sebanyak 9 ml dicampurkan dengan larutan BaCl2 1% sebanyak

1 ml dalam tabung reaksi. Kemudian dikocok sampai terbentuk larutan

yang keruh. Kekeruhan ini dipakai sebagai standar kekeruhan

suspensinya.

20
3.6.5 Pembuatan Suspensi Jamur Candida albicans

Pembuatan suspensi jamur dilakukan untuk memperoleh kekeruhan

yang sama dari larutan Mc. Farland yang dilakukan dengan cara

disiapkan kawat ose yang steril, kemudian jamur Candida albicans

yang telah diinokulasi diambil dengan ujung kawat ose, setelah itu

disuspensikan kedalam tabung yang berisi 10 ml larutan infus NaCl

hingga diperoleh kekeruhan yang sama dengan standar kekeruhan

larutan Mc. Farland.

3.6.6 Pengujian Aktivitas Antijamur

Setelah media padat disterilkan, strain jamur diambil dengan kapas

lidi steril, yang sudah dibasahi dengan NaCl fisiologis. Permukaan

media dioleskan dengan sterein jamur hingga rata dengan tiga kali

pengulangan agar jamur tumbuh merata diseluruh permukaan media.

Diambil kertas disk nistatin, diletakkan pada permukaan media

sebanyak satu disk. Ambil disk kosong sebanyak tiga disk diletakkan

pada permukaan media ditandai untuk masing-masing diteteskan

dengan larutan ekstrak 3%, 5%, dan 10% sebanyak 10 μL

menggunakan pipet mikro. Diinkubasi selama 24-48 jam pada suhu

37ºC. Diukur diameter zona hambatnya masing-masing.

3.7 Analisis Data

Data yang dicatata dalah diameter zona hambat yang ditandai dengan zona

bening disekitar kertas disk. Zona hambat di ukur menggunakan jangka sorong

disajikan dalam bentuk tabel.

21
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Telah dilakukan uji daya hambat fraksi etil asetat lengkuas merah (Alpinia

purpurata (Vieill.) K. Schum) terhadap Candida albicans. Hasil pengujian

didapatkan diameter zona hambat rata-rata fraksi etil asetat 3%, 5% dan 10 %

sebesar 6,11 mm, 7,38 mm dan 7,92 mm. Diameter zona hambat nistatin sebesar

16,65 mm.

Tabel I. Hasil uji daya hambat

Diameter Zona Hambat


Pengulangan Konsentrasi Konsentrasi Konsentrasi Kontrol (+)
3% 5% 10% Nistatin
I 5,16 mm 8,11 mm 8,84 mm 15,81 mm

II 5,11 mm 7,18 mm 8,18 mm 17,65 mm

III 7,06 mm 6,85 mm 7,11 mm 16,51 mm

Rata-rata 6,11 mm 7,38 mm 7,92 mm 16,65 mm

Keterangan : Diameter kertas disk yang digunakan adalah 5 mm.

22
4.2 Pembahasan

Fraksinasi merupakan teknik pemisahan atau pengelompokan kandungan

kimia ekstrak berdsarkan kepolaran. Tujuan fraksinasi adalah memisahkan

senyawa-senyawa kimia yang ada di dalam ekstrak berdasarkan tingkat

kepolarannya. Senyawa-senyawa yang bersifat nonpolar akan tertarik oleh pelarut

nonpolar seperti n-heksana. Senyawa yang semipolar seperti golongan terpenoid

dan alkaloid akan tertarik oleh pelarut semi polar seperti etil asetat. Senyawa-

senyawa yang bersifat seperti golongan flavonoid dan glikosida akan tertarik oleh

pelarut polar seperti n-butanol (Nurika dan Sri, 2019: 176).

Pada penelitian ini penulis menggunakan sampel lengkuas merah (Alpinia

purpurata(Vieill.) K. Schum). Lengkuas merah tersebut dibuat dalam bentuk

ekstrak dengan konsentrasi 3%, 5%, dan 10%. Pada pembuatan ekstrak etil asetat

lengkuas merah, pengambilan sampel rimpang lengkuas merah dilakukan pada

pagi hari dikarenakan disaat itu pada tanaman terjadi proses fotosintesis yang

maksimum, yaitu proses pembentukan metabolit sekunder tanaman secara

maksimal (Ramadhaniyah, 2018). Kemudian dibersihkan, dirajang. Proses

perajangan ini bertujuan agar kandungan air pada lengkuas berkurang dan

simplisia awet. Meserasi dilakukan dengan cara merendam simplisia dengan

menggunakan pelarut dengan kepolaran bertingkat dimulai dari n-heksan. Setelah

proses ekstraksi dengan n-heksan selesai, dilanjutkan dengan meserasi

menggunakan pelarut etil asetat. Tujuan dilakukan meserasi agar senyawa aktif

yang ada didalam simplisia lengkuas merah tertarik oleh pelarut. Pelarut n-heksan

23
dapat menarik senyawa non polar, pelarut etil asetat dapat menarik senyawa semi

polar.

Penguapan ekstrak dilakukan dengan alat rotarry evaporator, yang biasa

digunakan untuk mempercepat pemisahan pelarut dari suatu larutan. Alat ini

menggunakan prinsip vakum destilasi, sehingga tekanan akan menurun dan

pelarut akan menguap pada suhu 5-10ºC dibawah titik didih pelarutnya dan zat

yang terkandung di dalam pelarut tidak rusak oleh suhu tinggi (Ramadhaniyah,

2018).

Sebelum melakukan pengujian uji daya hambat fraksi etil asetat lengkuas

merah terhadap Candida albicans, alat-alat kaca disterilkan terlebih dahulu di

dalam oven pada suhu 160-170ºC selama 2-3 jam, tujuannya adalah untuk

mematikan dan membebaskan organisme yang terdapat pada alat-alat kaca

tersebut. Sebelum dimasukkan ke dalam oven, alat-alat dibungkus dengan kertas

pada untuk mencegah terjadinya kontaminasi pada waktu pendinginan atau

penyimpanan (Hasdianah, 2012).

Selanjutnya yang dilakukan adalah pembuatan medium padat karena metode

pengujian yang akan digunakan adalah metode difusi lempeng agar. Medium

padat yang digunakan adalah Potato Dextrose Agar (PDA). Hal ini dikarenakan

media PDA merupakan salah satu media kultur yang paling umum digunakan

karena formulasinya yang sederhana dan merupakan media terbaik karena

kemampuannya dalam mendukung pertumbuhan pada berbagai jamur media ini

padat (agar) dengan kandungan nutrisi karbohidrat (dektrosa) yang baik untuk

pertumbuhan kapang dan khamir. Jamur yang digunakan dalam penelitian ini

24
adalah jamur Candida albicans. Selanjutnya pembuatan larutan konsentrasi

ekstrak yaitu konsentrasi 3%, 5% dan 10%.

Selanjutnya pembuatan konsentrasi ekstrak dilakukan dengan cara dibuat

dalam bentuk emulsi menggunakan tween 80 dan span 80 sebagai emulgator. Hal

ini dikarenakan fraksi etil asetat tidak larut dalam air. Emulsi tanpa ekstrak

digunakan sebagai kontrol negatif yang tidak memberikan daya hambat terhadap

candida albicans.

Mikroba uji disuspensikan dalam larutan NaCl fisiologis sampai

kekeruhannya sama dengan larutan Mc. Farland. Nacl fisiologis digunakan karena

larutan tersebut mempunyai tekanan osmosis yang sama dengan cairan yang ada

di dalam tubuh manusia. Tingkat kekeruhan mikroba uji akan dibandingkan

dengan larutan Mc. Farland, dengan kekeruhan tersebut maka diasumsikan jumlah

pertumbuhan mikroba uji pada media tidak terlalu rapat dan tidak terlalu jarang

(Alimsardjono et all, 2015).

Pada saat penanaman jamur pada media Potato Dextrose Agar (PDA), perlu

diperhatikan bahwa suspensi jamur dioleskan hingga benar-benar merata pada

permukaan media (PDA), karena jika tidak rata maka hasil yang didapat tidak

sempurna dan zona hambatnya tidak jelas. Jarak antara pembanding dan sampel

tidak boleh berdekatan yaitu jaraknya lebih kurang 2 c,. Hal ini dimaksudkan

supaya zona hambatnya tidak bersatu, kemudian diinkubasi pada suhu 37ºC

selama 24 - 48 jam yang merupakan suhu optimum untuk pertumbuhan Candida

albicans. Pembacaan hasil dilakukan dengan mengukur daerah zona hambat yang

terbentuk.

25
Penelitian ini menggunakan beberapa konsentrasi, yaitu dengan konsentrasi

3%, 5% dan 10% dilakukan sebanyak 3 x pengulangan untuk mendapatkan nilai

rata-rata dari zona hambat fraksi etil asetat rimpang lengkuas merah terhadap

pertumbuhan Candida albicans. Penelitian ini menggunakan antijamur nistatin

sebagai kontrol positif, karena nistatin merupakan antibiotik golongan polien,

yang telah diisolasi dari Streptomyces naursei yang bersifat fungidal. Nistatin

merupakan antijamur yang digunakan untuk mengobati infeksi yang disebabkan

oleh Candida albicans. Nistatin memiliki aktifitas antifungi atau antijamur

(Dumasari, 2008).

Berdasarkan hasil penelitian uji daya hambat fraksi etil asetat lengkuas

merah (Alpinia purpurata(Vieill.) K. Schum) pada konsentrasi 3%, 5% dan 10%

mampu menghambat pertumbuhan jamur Candida albicans dan rata-rata zona

hambat yang terbentuk pada konsentrasi 3% (6,11 mm), 5% (7,38 mm) dan 10%

(7,92 mm). Diameter zona hambat nistatin sebagai kontrol positif sebesar 16,65

mm.

26
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Fraksi etil asetat lengkuas merah dengan konsentrasi 3%, 5% dan 10% dapat

menghambat pertumbuhan jamur Candida albicans dengan diameter zona hambat

rata-rata 6,11 mm, 7,38 mm, dan 7,92 mm. Diameter zona hambat nistatin sebagai

kontrol positif sebesar 16,65 mm.

5.2 Saran

Dari hasil penelitian yang sudah dilakukan, penulis menyarankan:

1. Kepada peneliti selanjutnya dapat meningkatkan konsentrasi pada

ekstrak yang digunakan.

2. Disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk mengisolasi zat aktif dari

rimpang lengkuas merah (Alpinia purpurata) yang dapat menghambat

pertumbuhan Candida albicans.

3. Kepada masyarakat agar menggunakan obat-obat tradisional seperti

lengkuas merah yang dapat menghambat pertumbuhan jamur Candida

albicans.

27
DAFTAR PUSTAKA

Alimsardjono, L. Purwono, B.P. dan Endraswari, D.P. 2015. Pemeriksaan


Mikrobiologi Pada Penyakit Infeksi. Jakarta: Sagung Seto.
Andayani, R. Mubarak, Z. dan Rinanda, R.D. 2016. Aktifitas Antibakteri Tepung
Cacing Tanah (Lumbricus rubellus) Terhadap Anterococcus faecalis Secara
IN Vitro. Jurnal: Syiah Kuala
Dapartemen Kesehatan Republik Indonesia, 1978 : 48-51.

Dumasari,R. 2008. Dapartemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin. Fakultas


Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Harahap, M. 2000. Ilmu Penyakit Kulit.Jakarta: Hipokrates

Hasdianah, DR.H.R. 2012. Panduan Laboraturium Mikrobiologi dan Rumah


Sakit. Yogyakarta: Nuha Medika Hernani. T. M, Chiristina.W. 2007.
Pemilihan Pelarut Pada Pemurnian Ekstrak Lengkuas (Alpinia galangal)
Secara Ekstraksi.J.Pascapanen 4 (1):1-8

Informatorium Obat Nasional Indonesia, 2008 : 411

Irianto, Koes. 2006. Menguak Dunia Mikroorganisme. Bandung: CV YRAMA


WiDYA

Khamda, R.D.P. 2016.uji daya hambat antara ekstrak lengkuas merah (Alphinia
purpurata K. Schum) dengan ekstrak rimpang lengkuas putih (Alphinia
galanga W) terhadap Candida albicans. Fakultas Kedokteran Gigi.
Universitas Jember.

Nurika, I., dan Sri.,S. 2019. Bioenergi dan Biorefinery. Malang: UB Press.

Mutiawati, V., K. 2016. Pemeriksaan Mikrobiologi Pada Candida Albicans.


Jurnal Kedokteran Syiah Kuala, Volume (16) : 1.
Permadi, A.2008. Membuat Kebun Tanaman Obat. Jakarta : Pustaka Bunda

Pratiwi, S. T. 2008. Mikrobiologi Farmasi. Jakarta : Gelora Aksara Pratama

Rahardjo, Rio. 2004. Kumpulan Kuliah Farmakologi, Ed 2. Jakarta: EGC.

Ramadhaniyah, N. 2018. Uji Aktivitas n-Heksan Rimpang Lengkuas Merah


(Alpinia purpurata K.Schum) Terhadap Bakteri Stereptococcus mutans
Penyebab Karies Gigi. Universitas Islam Negeri Alauddin : Makassar.

28
Saifudin, A. 2014.Senyawa Alam Metabolit Sekunder. Yogyakarta: Deepublish

Setiowati, T., dan Deswaty.,F. 2007. Biologi Interaktif. Jakarta: Azka Press
Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas
Sriwijaya. 2008. Kumpulan Kuliah Farmakologi.Jakarta: GC

Tan, H.,T dan Kirana.,R. 2007. Obat-Obat Penting Khasiat, Penggunaan, dan
Efek-Efek Sampingnya. Jakarta: Gramedia.
Wahyuni, K. Ekasari, M. Witono, J. P. Purnobasuki, H. 2016. Toga
Indonesia.Surabaya: Airlangga University Press.

29
Lampiran 1. Skema prosedur kerja

Lengkuas Merah

Meserasi dengan pelarut n-heksan, dilanjutkan


dengan etil asetat

Meserat

Dikentalkan dengan rotary evaporator

Ekstrak kental

Pp

Pembuatan emulsi ekstrak dengan konsentrasi


3%, 5% dan 10%

Sterilisasi alat, bahan dan penyiapan tempat kerja

Pembuatan media potato dextrose agar (PDA)

Pembuatan larutan standar Mc Farland

Pembuatan larutan suspensi jamur Candida albicans

Pengujian daya hambat fraksi etil asetat rimpang lengkuas merah

Pp

Gambar2. Skema prosedur kerja

30
Lampiran 2.Klasifikasi tanaman lengkuas merah (Alpinia purpurata(Vieill.) K.

Schum)

Gambar 3. Klasifikasi tanaman lengkuas merah

31
Lampiran 3. Perhitungan dan cara pembuatan konsentrasi ekstrak lengkuas merah

1. Kosentrasi 10% ekstrak lengkuas merah sebanyak 10 ml

10
Ekstrak lengkuas = x 100 gram = 1 gram
100

Ekstrak lengkuas merah ditimbang 1 gram ditambahkan 1

tetes tween 80, dan span 80 di dalam beaker glass steril diaduk

hingga larut sempurna, dimasukkan kedalam labu ukur 10 ml

steril dan ditambahkan akuades sedikit demi sedikit sampai

tanda batas dikocok hingga homogen.

2. Kosentrasi ekstrak lengkuas merah 5% sebanyak 10 ml

10
Ekstrak lengkuas = x 1000 gram = 0,5 gram
100

Ekstrak lengkuas merah ditimbang 0,5gram ditambahkan 1

tetes tween 80, dan span 80 di dalam beaker glass steril diaduk

hingga larut sempurna, dimasukkan kedalam labu ukur 10 ml

steril dan ditambahkan akuades sedikit demi sedikit sampai

tanda batas dikocok hingga homogen.

3. Kosentrasi ekstrak lengkuas merah 3% sebanyak 10 ml

10
Ekstrak lengkuas = x 1000 gram = 0,5 gram
100

Ekstrak lengkuas merah ditimbang 0,3gram ditambahkan 1

tetes tween 80, dan span 80 didalam beaker glass steril diaduk

32
Lampiran 3. (Lanjutan)

hingga larut sempurna, dimasukkan kedalam labu ukur 10 ml

steril dan ditambahkan akuades sedikit demi sedikit sampai

tanda batas dikocok hingga homogen.

33
Lampiran 4.Pembuatan media Potato Dextrose Agar (PDA)

1. Perhitungan media Potato Dextrose Agar (PDA)

Untuk membuat media PDA dibutuhkan 39 gram untuk 1000 ml

akuades.

C = 39 gram

1000 ml

V = 100 ml

Dit : B

Jawab :

C=B

B=CxV

= 39 g x 100 ml

1000 ml

= 3,9 gram

Cara kerja :

Media PDA ditimbang sebanyak 3,9 gram, dilarutkan dengan

akuades sebanyak 100 ml, dipanaskan hingga mendidih,

kemudian disterilisasi dalam autoclave dengan suhu 121°C

selama 15 menit, kemudian media PDA dikeluarkan dari

autoclave. Media dituang kedalam masing-masing cawan petri

steril, kemudian biarkan hingga membeku.

34
Lampiran 5. Perhitungan pembuatan larutan H2SO4 1% dan BaCl2 1%

1. H2SO4 1% dari H2SO4 97%


V1 × C1 = V2 × C2
V1 x 97% = 10 ml × 1 %
10 ml × 1%
V1 =
97%
V1 = 0,103 ml

Cara kerja:
H2SO4 1% dipipet sebanyak 0,103 ml, kemudian dimasukkan
dalam labu ukur 10 ml yang telah berisi sedikit akuades. Kemudian
ditambahkan akuades sampai tanda batas, dikocok hingga
homogen.

2. Larutan BaCl2 1%
1%= 1 g dalam 100 ml
Jika dibuat dalam 10 ml maka = 1 g x 10 ml
100 ml
= 0,1 g
Cara kerja :
BaCl2 ditimbang sebanyak 0,1 gram, kemudian dimasukkan dalam
beaker glass dan dilarutkan dengan akuades. Setelah itu
dimasukkan dalam labu ukur 10 ml, lalu ditambahkan akuades
sampai tanda batas, dikocok hingga homogen.

35
Lampiran 6.Sampel lengkuas merah dan simplisia lengkuas merah

Gambar 4. Sampel lengkuas merah

Gambar 5. Simplisia lengkuas merah

36
Lampiran 7.Hasil strainjamur Candida albicans

Gambar 6.Strain jamur Candida albicand

37
Lampiran 8.Hasil suspensi jamur dan Mc. farland

Mc Farland

Suspensi Jamur

Gambar 7. Suspensi jamur dan Mc.farland

38
Lampiran 9. Hasil uji daya hambat jamur Candida albicans

Konsentrasi 5%

Konsentrasi 3%

Kontrol Negative

Konsentrasi 10%

Kontrol Positive

Gambar 8. Hasil uji daya hambat pengulangan I

39
Lampiran 9.(Lanjutan)

Kontrol Positive

Konsentrasi 10%

Kontrol Negative

Konsentrasi 3%

Konsentrasi 5%

Gambar 9. Hasil uji daya hambat pengulangan II

40
Lampiran 9.(Lanjutan)

Konsentrasi 5%

Konsentrasi 3%

Kontrol Negative

Konsentrasi 10%

Kontrol Positive

Gambar 10. Hasil uji daya hambat pengulangan III

41