Anda di halaman 1dari 21

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Pembangunan kesehatan diselenggarakan berdasarkan pada perikemanusiaan,
pemberdayaan, kemandirian, adil dan merata, serta pengutaman dengan perhatian khusus
pada penduduk rentan, antara lain ibu, bayi, anak, lanjut usia (lansia), dan keluarga
miskin (Kemenkes RI, 2009). Anak merupakan generasi penerus bangsa, oleh karena itu
anak perlu mendapatkan perhatian dalam pertumbuhan dan perkembangannya untuk
menciptakan anak yang sehat baik fisik maupun mental sejak dini.Tingkat pertumbuhan
dan perkembangan anak perlu disesuaikan dengan kebutuhan fisik, sosial, dan emosional
dari anak serta mempertimbangkan latar belakang budaya dan keluarga. Keadaan sakit
pada anak dapat mempengaruhi keadaan fisiologis dan psikologis dari anak tersebut
(Markam S, 1992).Salah satu penyakit infeksi yang paling sering terjadi pada anak adalah
Meningitis.
Meningitis merupakan masalah medis yang serius serta membutuhkan pengenalan dan
penanganan segera untuk mencegah kematian. Meningitis masih merupakan infeksi yang
menakutkan karena menyebabkan mortalitas dan morbiditas yang tinggi terutama di
negara berkembang (WHO, 2003). Mortalitas Meningitis mencapai 5-10% dan
morbiditas jangka panjang yang berupa sekuel neurologis mencapai 50% (Rogiet, 2010)
dan di Indonesia diperkirakan mortalitas Meningitis pada anak sekitar 18-40% dengan
angka disabilitas berkisar antara 30-50% (Saharsodan Adayati, 2000). WHO (2003)
memperkirakan (dikutip dari Hom et al., 2001) bahwa Meningitis bacterial menyerang
426.000 anak dan 85.000 dilaporkan meninggal dunia (CFR = 19,9 %). Angka kejadian
Meningitis menduduki urutan ke 9 dan 10 pola penyakit di 8 rumah sakit pendidikan di
Indonesia.

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Bagaimana konsep dasar meningitis pada anak?
2. Bagaimana patofisiologi meningitis pada anak?
3. Apakah etiologi/penyebab dari meningitis pada anak?
4. Bagaimana tanda dan gejala klinis dari meningitis pada anak?
5. Apa pemeriksaan penunjang yang diperlukan dari penyakit meningitis pada anak?
6. Bagaimana penatalaksanaan medis dari penyakit meningitis pada anak?

1
1.3 TUJUAN PENULISAN
1. Dapat memahami konsep dasar meningitis pada anak
2. Dapat memahami patofisiologi meningitis pada anak
3. Dapat memahami etiologi/penyebab dari meningitis pada anak
4. Dapat mengetahui tanda dan gejala klinis dari meningitis pada anak
5. Dapat mengetahui pemeriksaan penunjang yang diperlukan dari penyakit meningitis
pada anak
6. Dapat mengetahui penatalaksanaan medis dari penyakit meningitis pada anak

1.4 MANFAAT PENULISAN


Penulisan “Makalah Gangguan Sistem Persyarafan Meningitis Pada Anak” ini
diharapkan dapat digunakan sebagai acuan dalam peningkatan kualitas asuhan
keperawatan serta perkembangan ilmu praktek keperawatan dan dapat meningkatkan
perkembangan dan peningkatan ilmu pengetahuan.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 KONSEP DASAR MENINGITIS


Meningitis adalah suatu penyakit yang terjadi karena peradangan atau infeksi pada
sistem selaput pelindung otak dan sumsum tulang belakang. Organisme penyebab
meningitis memasuki area secara langsung sebagai akibat cidera traumatik atau secara
tidak langsung bila dipindahkan dari tempat lain didalam tubuh ke dalam cairan
serebrospinal(CSS). Meningitis dapat disebabkan oleh berbagai agen seperti bakteri,
mikobakteria, jamur, dan virus. Meningitis salah satu penyakit Sistem Saraf Pusat (SSP)
yang mengancam jiwa dan menyebabkan kelainan neurologis, terutama pada anak. Data
World Health Organization (WHO) 2015, setiap tahun lebih dari 400 juta orang di 26
negara terserang meningitis. Kasus ini, 10% mengakibatkan kematian, dengan 10-20%
mengembangkan gejala sisa neurologis. Meningitis, merupakan masalah yang serius
sehingga dibutuhkan cara yang akurat dan efisien untuk menegakkan diagnosis.
Berdasarkan etiologi, gambaran klinis, dan gambaran cairan serebrospinalis (CSS), maka
umumnya terdapat tiga jenis meningitis: purulenta, serosa, dan aseptik. Meningitis
Purulenta adalah radang selaput otak (araknoid dan piameter) meliputi otak dan medulla
spinalis yang menimbulkan eksudasi berupa pus, disebabkan oleh kuman nonspesifik dan
nonvirus (Ngastiyah, 2005). Meningitis Serosa adalah radang selaput otak araknoid dan
piameter yang disertai cairan otak yang jernih. Gambaran tingkat pengetahuan dan
perilaku dikalangan masyarakat sangat dibutuhkan untuk mencegah terjadinya angka
kematian yang tinggi terhadap penyakit meningitis.

2.2 PATOFISIOLOGI
Infeksi mikroorganisme terutama bakteri dari golongan kokus seperti streptokokus,
stapilokokus, meningokokus, pnemokokus dan dari golongan lain seperti tersebut di atas
menginfeksi tonsil, bronkus, saluran cerna. Mikroorganisme tersebut mencapai otak
mengikuti aliran darah.
Di otak mikroorganisme berkembangbiak membentuk koloni. Koloni mikroorganisme
itulah yang mampu menginfeksi lapisan otak (meningen). Mikroorganisme menghasilkan
toksik dan merusak meningen. Kumpulan toksik mikroorganisme, jaringan meningen
yang rusak, cairan sel berkumpul menjadi satu membentuk cairan yang kental yang

3
disebut pustula. Karena sifat cairannya karena sifat cairannya tersebut penyakit ini
populer disebut meningitis purulenta.
Toksik yang dihasilkan oleh mikroorganisme melalui hematogen sampai ke
hipotalamus. Hipotalamus kemudian menaikkan suhu sebagai tanda adanya bahaya.
Kenaikan suhu di hipotalamus akan diikuti dengan peningkatan mediator kimiawi akibat
peradangan seperti prostaglandin, epinefrin, dan norepinefrin. Kenaikan mediator
tersebut dapat merangsang peningkatan metabolisme sehingga dapat terjadi kenaikan
suhu di seluruh tubuh, terasa sakit kepala, peningkatan respon gastrointestinal yang
memunculkan rasa mual dan muntah.
Volume pustula yang semakin meningkat dapat mengakibatkan peningkatan desakan
di dalam intracranial. Desakan tersebut dapat meningkatkan rangsangan di korteks
serebri yang terdapat pusat pengaturan sistem gastrointestinal sehingga merangsang
munculnya muntah dengan cepat, juga dapat terjadi gangguan pusat pernafasan.
Peningkatan tekanan intrakranial tersebut juga dapat mengganggu fungsi sensorik
maupun motorik serta fungsi memori yang terdapat pada cerebrum sehingga penderita
mengalami penurunan respon kesadaran terhadap lingkungan (penurunan kesadaran).
Penurunan kesadaran ini dapat menurunkan pengeluaran sekresi trakeobronkial yang
berakibat pada penumpukan sekret di trakea dan bronkial. Kondisi ini berdampak pada
penumpukan sekret di trakea dan bronkus sehingga bronkus dan trakea menjadi sempit.
Peningkatan tekanan intrakranial juga dapat berdampak pada munculnya fase eksitasi
yang terlalu cepat pada neuron sehingga memunculkan kejang. Respon saraf perifer juga
tidak bisa berlangsung secara kondusif ini yang secara klinis dapat memunculkan respon
yang patologis pada jaringan tersebut seperti munculnya tanda kernig dan brundinsky.
Kejang yang terjadi pada anak dapat mengakibatkan spasme pada otot bronkus. Spasme
dapat mengakibatkan penyempitan jalan nafas.

4
Pathway
Tonsilitis, bronkitis, typus abdominalis dan penyakit lain

Mikroorganisme secara hematogen sampai ke meningen

Meningitis

Mikroorganisme mensekresi toksik Kenaikan volumedan peningkatan viskositas LCS

Toksemia Penurunan penyerapan cairan LCS

Peningkatan suhu oleh penganturan hipotalamus Peningkatan tekanan intrakranial

Hipertermi Depresi pada pusat kesadaran, peningkatan eksitasi


memori, respon lingkungan luar neuron

Peningkatan output cairan Kejang

Penurunan sekresi trakeobronkial Penurunan kesadaran

Penumpukan sekret di trakea, bronkus Resiko cidera fisik Spasme otot bronkus

Gangguan bersihan jalan nafas

Penyempitan lumen trakea, bronkus

Penurunan masukan oksigen

Penurunan oksigen darah

Gangguan perfusi jaringan

5
2.3 ETIOLOGI
Meningitis (peradangan pada leptomeningens), dapat disebabkan oleh bakteri, virus,
atau meski jarang jamur. Bakteri yang sering menyebabkan meningitis bakterialis sebelum
tersedianya vaksin terkonjugasi adalah Haemophillus influenzae, Streptococccus
pneumonia,dan Neisseria meningitidis. Meningitis staphylococcus terjadi terutama pada
pasien dengan riwayat pembedahan saraf atau trauma tembus kepala. Meningitis viral
umumnya disebabkan oleh virus, echovirus, dan pada pasien yang tidak mendapatkan
vaksinasi virus polio. Eksresi transmisi melalui feses terjadi berkelanjutan dan bertahan
selama beberapa minggu. Pada dekade awal abad ini Mycobacterium Tuberculosis
merupakan penyebab tersering meningitis bakterialis pada anak, tetapi sekarang jarang.
Namun, penyakit ini tetap ditemukan, terutama pada mereka dengan status sosioekonomi
terbelakang dan pada anak di Negara yang belum berkembang (Rudolph dkk, 2006).
Virus lain yang dapat menyebabkan meningitis adalah virus herpes simplex, virus
Epstein Barr, sitomegalovirus, virus Limpositik koriomeningitis, dan Human
Immunodeficiency Virus (HIV). Virus mumps (gelondongan) adalah salah satu penyebab
meningitis yang umum terjadi pada anak yang belum divaksinasi. Penyebab meningitis
lainnya yang tidak umum adalah Borrelia burgdoferi (penyakit Lyme), Bortonella
henselae, (cat-scratch disease), Mycobacterium tuberculosis, Toxoplasma, jamur
(Cryptococcus, Histoplasma dan Coccidiodies) dan parasit (Angiostrongylus cantonensis,
Naegleria fowlery, dan Acanthamoeba) (Karen dkk, 2011).
Pada individu dewasa imunokompeten, S. pneumonia dan N. meningitides adalah
patogen utama penyebab meningitis bakterialis, karena kedua bakteri tersebut memiliki
kemampuan kolonisasi nasofaring dan menembus sawar darah otak (SDO). Basil gram
negatif seperti E. coli, Klebsiellasp, Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis,
dan Pseudomonas sp biasanya merupakan penyebab meningitis nosokomial, yang lebih
mudah terjadi pada pasien kraniotomi, kateterisasi ventrikel internal ataupun eksternal,
dan trauma kepala (Ropper dkk, 2005; Clarke dkk, 2009).

2.4 TANDA DAN GEJALA KLINIS


Menurut Karen dkk 2011, Tanpa memandang etiologi, kebanyakan penderita dengan
infeksi sistem saraf pusat (SSP) akut mempunyai sindrom yang serupa. Gejala-gejala yang
lazim adalah : nyeri kepala, nausea, muntah, anoreksia, gelisah, dan iritabilitas.
Sayangnya, kebanyakan dari gejala-gejala ini sangat tidak spesifik. Tanda-tanda infeksi
SSP yang lazim, disamping demam adalah: fotopobia, nyeri dan kekakuan leher,

6
kesadaran kurang, stupor, koma, kejang-kejang dan defisit neurologis setempat. Diagnosis
meningitis dapat menjadi sulit jika manifestasi awal hanya nyeri kepala dan demam.
Selain itu, kaku kuduk tidak selalu ditemukan pada pasien sopor, koma, atau pada lansia
(Ropper dkk, 2005; Clarke dkk, 2009; Van De Beek dkk, 2006).
Menurut Soegen 2002, keparahan dan kumpulan tanda-tanda ditentukan oleh patogen
spesifik, hospes dan penyebaran infeksi secara anatomis. Gejala kegawatan pada anak
yang sering ditemukan adalah kejang, koma, hipertensi, renjatan, kadar hemoglobin
kurang dari 11g/dl dan leukosit dalam cairan serebrospiral kurang dari 1000/mm3.
Penderita ini umumnya meninggal. Meningitis bakteri biasanya didahului oleh gejala
gangguan alat pernafasan atas dan gastrointestinal, pada bayi biasanya gejalanya hanya
berupa iritabilitas, cengeng, tidak suka makan dan kadang-kadang demam.
Gambaran klinis yang sering muncul pada anak dengan meningitis antara lain :
a. Infeksi akut atau sub akut
Gejala infeksi akut berupa lesu, mudah terangsang, demam, muntah-muntah,
anoreksia dan pada anak yang besar mengeluh nyeri kepala, pada infeksi yang
disebabkan oleh meningokokus terhadap petekhia dan herpes labialis.
b. Gejala tekanan intra kranial yang meninggi.
Gejala tekanan intracranial yang meninggi berupa muntah, nyeri kepala (pada anak
besar), merintih (pada neonates).
c. Gejala rangsang meningeal.
Gejala rangsang meningeal berupa kaku kuduk, kadang terjadi rigiditas umum,
kernig, brudzinsky I dan II.
d. Kejang baik secara umum maupun lokal.
e. Kelumpuhan ektremitas (paresis atau paralisis).
f. Gangguan frekwensi dan rama pernafasan (cepat dengan irama kadang dangkal dan
kadang dalam).
Pada anak besar sebelum terjadi gejala di atas sering mengeluh sakit di daerah leher dan
punggung. Gejala neurologis meningitis bakteri dapat dibagi 4 fase:
1. Fase I : Sub febris, lesu, iritabel, selera makan menurun, mual dan sakit kepala ringan.
2. Fase II : Tanda rangsang meningen, kelainan saraf otak kadang hemiparase, arteritis.
3. Fase III : Tanda neurologi fokal, kovulsi, kesadaran menurun.
4. Fase IV : Tanda fase tiga disertai koma, syok.

7
Menurut Andrew & David 2012, pasien dikatakan menderita meningitis apabila:
a. Sakit kepala: parah, meliputi seluruh bagian kepala, dan terus-menerus.
b. Fotopobia: pasien menghindari oftalmoskopi,mungkin menutupi muka dengan
selimut.
c. Perubahan kesadaran: mengantuk dan tertidur jika tidak ada stimulus, tertidur saat
menjalani pemeriksaan.
d. Leher kaku: saat diluruskan namun tidak saat diputar.
e. Ruam: jika terjadi infeksi bakteri.
f. Demam selalu muncul, yang tertinggi adalah di malam hari, dan sering kali disertai
rigor (jika infeksi disebabkan oleh bakteri).
Menurut Hidayat 2008, Pada pengkajian neonatus dengan meningitis dapat ditemukan
suhu dibawah normal, pucat, letargi, iritabilitas, kurang makan dan minum, kejang, diare
dan muntah, fontanel yang menonjol dan opistotonus. Kemudian pada bayi dan anak
dapat ditemukan adanya latergi, iritabilitas, kepucatan, nafsu makan menurun, mual, dan
muntah, peningkatan tekanan intrakranial, fontanel menonjol dan adanya kejang.

2.5 PEMERIKSAAN PENUNJANG YANG DIPERLUKAN


Diagnosis meningitis ditegakkan melalui analisis CSS, pewarnaan CSS, biakan CSS,
dan kultur darah. Kultur darah positif pada 40-50% penyakit maningokokus, 80-90%
meningitis pneumokokus dan H.influenzae bila belum mendapat antibiotik. Pada
prinsipnya, pungsi lumbal harus dikerjakan pada setiap kecurigaan meningitis dan/atau
ensefalitis. Pada pemeriksaan darah, meningitis disertai dengan peningkatan leukosit dan
penanda inflamasi dan kadang disertai hipokalsemia, hiponatremia, serta gangguan
fungsi ginjal dengan asidosis metabolik. Pencitraan otak harus dilakukan secepatnya
untuk mengeksklusi lesi massa, hidrosefalus, atau edema serebri yang merupakan
kontraindikasi relatif pungsi lumbal. Jika pencitraan tidak dapat dilakukan, pungsi
lumbal harus dihindari pada pasien dengan gangguan kesadaran, keadaan
immunocompromised (AIDS, terapi imunosupresan, pasca-transplantasi), riwayat
penyakit sistem saraf pusat (lesi massa, stroke, infeksi fokal), defisit neurologik fokal,
bangkitan awitan baru, atau papil edema yang memperlihatkan tanda-tanda ancaman
herniasi.
Tekanan pembukaan saat pungsi lumbal berkisar antara 20-50 cmH2O. CSS
biasanya keruh, tergantung dari kadar leukosit, bakteri, dan protein. Pewarnaan Gram
CSS memberi hasil meningokokus positif pada sekitar 50% pasien dengan meningitis

8
meningokokal akut. Kultur darah dapat membantu, namun tak selalu bisa diandalkan.
Pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR) bersifat sensitif terhadap Streptococcus
pneumoniae dan Neisseria meningitidis. Karakteristik CSS pada jenis meningitis yang
berbeda disajikan dalam tabel:
Normal Bakterial Viral TB Fungal
Makros- Jernih, Keruh Jernih Jernih Jernih
kopik tak
berwarna
Tekanan Normal Meningkat Normal atau Meningkat Normal
meningkat atau
meningkat
Sel 0-5/mm3 100- 5-100/mm3 5-1000/mm3 20-
60.000/mm3 500/mm3
Neutrofil Tak ada >80% <50% <50% <50%
Glukosa 75% Rendah (<40% Normal Rendah (<50% Rendah
glukosa glukosa darah) glukosa darah) (<80%
darah glukosa
darah)
Protein <0,4 g/L 1-5 g/L >0,4-0,9 g/L 1-5 g/L 0,5-5 g/L
Lainnya Gram positif PCR kultur Kultur positif Gram
<90%; kultur positif <50% 50- 80% negatif;
positif <80%; kultur
kultur darah positif 25-
positif <60% 50%

2.6 PENATALAKSANAAN MEDIS


1. Pemberian cairan intravena. Pilihan awal yang bersifat isotonik seperti asering atau
ringer laktat dengan dosis yang dipertimbangkan melalui penurunan berat badan anak
atau tingkat dehidrasi. Ini diberikan karena anak yang menderita meningitis sering
datang dengan penurunan kesadaran karena kekurangan cairan akibat muntah,
pengeluaran cairan melalui proses evaporasi akibat hipertermia dan intake cairan yang
kurang akibat kesadaran yang menurun.

9
2. Pemberian diazepam apabila anak mengalami kejang. Pada dosis awal diberikan
diazepam 0,5 mg/KgBB/kali pemberian secara intravena. Setelah kejang dapat diatasi
maka diberikan fenobarbital dengan dosis awal pada neonatus 30 mg, anak kurang
dari 1 tahun 50 mg sedangkan yang lebih 1 tahun 75 mg. Untuk rumatannya diberikan
fenobarbital 8-10 mg/KgBB dibagi dalam dua kali pemberian diberikan selama 2
hari. Sedangkan pemberian fenobarbital 2 hari berikutnya dosis diturunkan menjadi 4-
5 mg/kgbb dibagi dalam 2 kali pemberian. Pemberian diazepam selain untuk
menurunkan kejang juga diharapkan dapat menurunkan suhu tubuh karena selain
toksik kuman peningkatkan suhu tubuh juga berasal dari kontraksi otot akibat kejang.
3. Penempatan pada ruangan yang minimal rangsangan seperti rangsangan suara, cahaya
dan rangsangan polusi. Rangsangan yang berlebihan dapat mengakibatkan kejang
pada anak karena peningkatan rangsangan depolarisasi neuron yang dapat
berlangsung cepat.
4. Pembebasan jalan nafas dengan menghisap lendir melalui section dan memposisikan
anak pada posisi kepala miring hiperekstensi. Tindakan pembebasan jalan nafas
dipadu dengan pemberian oksigen untuk mensupport kebutuhan metabolisme yang
meningkat selain itu mungkin juga terjadi depresi pusat pernapasan karena
peningkatan tekanan intrakranial sehingga perlu diberikan oksigen bertekanan tinggi
yang lebih mudah masuk ke saluran pernafasan. Pemberian oksigen pada anak dengan
meningitis di anjurkan konsentrasi yang masuk bisa tinggi melalui masker oksigen.
5. Pemberian antibiotik yang sesuai dengan mikroorganisme penyebab. Antibiotik yang
sering dipakai adalah ampisillin dengan dosis 300-400 mg/KgBB dibagi dengan 6
dosis pemberian secara intravena dikombinasikan dengan kloramfenikol 50 mg/KgBB
dibagi dalam 4 dosis pemberian. Pemberian antibiotik ini yang paling rasional melalui
kultur dari pengambilan cairan serebrospinal melalui lumbal fungtio.

10
BAB III
TINJAUAN ASKEP

3.1 PENGKAJIAN
Fokus yang memungkinkan muncul pada anak dengan meningitis yang sedang dirawat di
rumah sakit antara lain:
1. Riwayat kesehatan
Anak yang menderita meningitis mengalami gejala awal seperti peradangan
pada jaringan tubuh umumnya yaitu munculnya peningkatan suhu tubuh beberapa
hari. Anak dengan peningkatan suhu tubuh oleh orang tuanya biasanya diberi obat
penurun panas (paracetamol) akan tetapi selang 3-4 jam pemberian biasanya suhu
anak sudah naik lagi sehingga ini yang mendorong orang tua untuk memeriksakan
anak ke dokter praktek atau pelayanan kesehatan yang terdekat (orang tua masih
banyak yang menghindari ke rumah sakit). Setelah obat yang diperoleh diminumnya
ternyata anaknya belum membaik baru bawa dibawa ke rumah sakit.
2. Keluhan utama
Anak yang dibawa ke rumah sakit biasanya sudah mengalami peningkatan
suhu tubuh yang kadang diikuti dengan penurunan kesadaran dan kejang.
3. Kondisi fisik
Kesadaran anak menurun Apatis sampai dengan koma dengan nilai GCS yang
berkisar antara 3 sampai dengan 9. Kondisi ini diikuti dengan peningkatan denyut
jantung yang terkesan lemah dengan frekuensi >100 kali/menit. Frekuensi pernafasan
juga meningkat kurang >30 kali/menit dengan irama kadang dangkal kadang dalam,
suara pernafasan mungkin terdengar ronkhi basah karena penumpukan secret.
Peningkatan denyut jantung dan pernapasan sebagai kompensasi peningkatan
metabolisme tubuh anak. Nadi anak teraba lemah karena penurunan cairan tubuh dan
penurunan cairan tubuh dan penurunan volume cairan darah akibat muntah yang
dialami oleh anak.
Munculnya muntah kalau kita kaji akan relevan dengan meningkatnya
peristaltik usus dan gerakan gaster. Dalam 1 menit peristaltik anak mungkin mencapai
25 kali.

11
Pada pengkajian persarafan dijumpai kaku kuduk dengan reflek kernig dan
brundisky positif. Turgor kulit anak mungkin juga mengalami penurunan akibat
peningkatan kehilangan cairan melalui proses evaporasi. Kualitas penurunan cairan
juga dapat dibuktikan dengan mukosa bibir yang kering dan penurunan berat badan
anak.
4. Kebutuhan fungsional
Kebutuhan fungsional yang mungkin akan terganggu pada anak dengan meningitis
antara lain:
a. Kebutuhan rasa aman dan nyaman
Kebutuhan rasa aman terganggu karena meningitis dapat membuat
anak mengalami penurunan kesadaran yang berakibat penurunan respon
terhadap rangsangan dari dalam seperti pengeluaran sekresi trakeobronkial
maupun dari luar seperti rangsangan yang berupa panas, nyeri maupun
rangsangan suara. Kondisi ini dapat berakibat anak berisiko cedera fisik
sehingga terganggu rasa amannya. Sedangkan rasa nyaman mengalami
gangguan karena anak mengalami peningkatan suhu tubuh rata-rata di atas
37,5 derajat Celcius.
b. Kebutuhan oksigenasi
Peningkatan sekresi trakeobronkial pada spasme otot bronkial dapat
menjadikan jalan nafas sempit sehingga asupan oksigen mengalami
penurunan. Pada pengkajian ini mungkin ditemukan anak terlihat pucat sampai
kebiruan terutama di jaringan perifer. Anak juga terlihat frekuensi
pernapasannya meningkat >30 x/menit sebagai kompensasi pemenuhi
kebutuhan oksigen tubuh.
c. Kebutuhan cairan dan elektrolit
Anak yang menderita meningitis mengalami peningkatan rangsangan
pengeluaran gastrointestinal karena penekanan pada saraf pusat. Peningkatan
rangsangan ini dapat berakibat muntah yang dapat bersifat proyektil akibat
peningkatan tekanan intracranial. Penderita dapat mengalami defisit cairan
tubuh yang dapat dilihat pada pemantuan balance cairan jumlah cairan yang
keluar lebih banyak daripada yang masuk. Jumlah muntah mungkin juga
cukup banyak dapat mencapai kurang lebih 500 cc dalam sehari. Pada saat
kesadaran masih baik anak yang sudah dapat berbicara dengan baik akan
mengatakan haus. Untuk kebutuhan fungsional yang lain saat dilakukan

12
pengujian mungkin ada juga yang terganggu tergantung banyak sekali faktor
lain yang terlibat.
5. Pengkajian pertumbuhan dan perkembangan anak
Karena organ yang mengalami gangguan adalah organ yang berdekatan
dengan fungsi memori, fungsi pengaturan motorik dan sensorik dan pengaturan yang
lain maka akan kemungkinan besar dapat mengalami masalah ancaman pertumbuhan
dan perkembangan seperti retardasi mental, gangguan kelemahan atau
ketidakmampuan menggerakkan tangan maupun kaki (paralisis). Karena gangguan
tersebut anak dapat mengalami keterlambatan dalam mencapai kemampuan sesuai
dengan tahapan usia misalnya usia 4 tahun sudah bisa menggosok gigi ternyata ketika
diberi sikat gigi anak masih bingung. Karena dampak yang cukup besar bagi
pertumbuhan dan perkembangan anak itulah asuhan kepada anak dengan meningitis
harus benar-benar terpadu dengan baik.

3.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN


Berdasarkan perjalanan patofisiologi penyakit masalah keperawatan yang mungkin
muncul pada anak dengan meningitis antara lain:
1. Tidak efektifnya bersihan jalan nafas berhubungan dengan penumpukan sekret di
trakeobronkial.
Data yang mendasari, suara pernafasan pada bronkus terdengar ronkhi basah, pada
faring terlihat sekret kental, frekuensi pernapasan meningkat (misalnya 32 x/menit).
2. Risiko gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan pemenuhan asupan oksigen
dari luar.
Data yang mendukung, anak terlihat pucat atau kebiruan, akral teraba dingin,
pernafasan terlihat cepat dan dangkal kadang dalam dengan frekuensi >30 kali/menit.
3. Gangguan Keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh berhubungan dengan
pengeluaran yang berlebihan.
Data yang mendasari, intake cairan lebih kecil dari output cairan (misalnya jumlah
cairan yang masuk 1200 cc/hari sedangkan yang keluar 1400 cc/hari), turgor kulit
jelek, akral teraba dingin, mukosa bibir kering, terjadi penurunan berat badan
(misalnya 0,25 kg), nadi teraba lemah dengan frekuensi >115 kali/menit misalnya
kesadaran anak apatis (mungkin juga sampai koma). Nilai elektrolit untuk plasma di
bawah normal (nilai normal elektrolit plasma Na+ 140 mEq/l, K+ 5 mEq/l, Ca+ 5
mEq/l, Mg+ 4 mEq/l).

13
4. Hipertermi berhubungan dengan toksemia
Data yang mendasari, suhu tubuh anak 38 derajat Celcius, dahi teraba panas, nadi
meningkat dengan frekuensi 108 kali/menit misalnya pada leukosit 13.000 mg/dl,
terdapat kaku Kuduk pada anak, pada kultur cairan serebrospinal dijumpai koloni
bakteri jenis coccus (misalnya koloni yang berbentuk buah anggur seperti
streptokokus).
5. Risiko cedera fisik berhubungan dengan kejang, penurunan kesadaran.
Data yang mendukung, kesadaran anak apatis atau kesadaran dibawahnya terdapat
kuku kuduk, terdapat spasma pada otot ekstremitas.
6. Resiko gangguan perkembangan (retardasi mental) berhubungan dengan kerusakan
memori pada otak.
Data yang mendukung, sudah 3 hari dirawat panas tubuh anak belum juga turun
(misalnya suhu antara 37,5 derajat celcius- 38 derajat celcius) menurut ibu anak
penyakit anaknya sudah kambuh 2 kali, setelah serangan yang pertama anaknya
terlihat kurang aktif sejak diajak bermain.

3.3 RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN


1. Tidak efektifnya bersihan jalan nafas berhubungan dengan penumpukan sekret atau
sputum di trakeobronkial.
Rencana tindakan:
a. Kaji frekuensi dan jalan nafas
Rasional, frekuensi pernafasan yang meningkat sebagai kompensasi menurunnya
diameter lumen bronkus dan trakea menyediakan jalan masuknya oksigen dari
luar.
b. Atur posisi anda dengan kepala miring hiperekstensi
Rasional, membuat jalan nafas lurus sehingga memudahkan oksigen masuk.
Posisi miring dapat mencegah aspirasi benda asing seperti muntahan ke saluran
pernafasan.
c. Keluarkan lendir yang ada pada faring, trakea dengan manual atau section
Rasional, mengurangi penumpukan sputum dalam faring atau trakea yang
menjadi salah satu penyebab penyempitan jalan nafas.
d. Anjurkan orang tua untuk memberi minum anak (bila tingkat kesadaran
memungkinkan) dengan minuman yang hangat

14
Rasional, membantu mengencerkan dahak (terjadi vasidilatasi pada dahak karena
kena air hangat) supaya mudah dikeluarkan.
e. Kolaborasi pemberian obat mukolitik dan bronkodilator melalui inhalasi atau
nebulizer seperti perpaduan flexotid dan ventilon dengan perbandingan 1:1.
Rasional, pemberian inhalasi dapat mempercepat reaksi di saluran pernafasan.
Mukolitik membantu mengencerkan dahak supaya mudah keluar. Bronkodilator
membantu penambahan diameter bronkus.
2. Risiko gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan asupan oksigen dari
luar.
Hasil yang diharapkan anak tidak terlihat pucat atau kebiruan akral teraba hangat,
irama pernafasan anak teratur (reguler) dengan frekuensi 26-30x/menit. Hasil ADG:
PH darah 7,35-7,45, PO2 80-104 MmHg, HCO3 21-25.
Rencana tindakan:
a. Kaji tingkat pemenuhan oksigen jaringan melalui pemantuan capillary refill,
warna kulit, tingkat kesadaran, produksi urine dan AGD (analisa gas darah).
Rasional, penurunan oksigen jaringan dapat berakibat pada penurunan respirasi
aerobik jaringan yang berfungsi untuk memproduksi energi metabolik yang
memungkinkan terjadinya aktivitas sel.
b. Tempatkan anak pada ruangan dengan ventilasi yang cukup (kurang lebih 1/4 dari
total luas ruangan).
Rasional, ruangan dengan ventilasi yang baik akan membantu jumlah penyediaan
oksigen ruangan yang dapat diambil oleh anak dan meningkatkan tekanan oksigen
ruangan sehingga mudah masuk ke saluran pernafasan.
c. Berikan oksigen dengan masker oronasal atau canule atau tenda (pemberian
dengan canule 3 liter/menit dapat mencapai konsentrasi 35%, pemberian masker 4
liter/menit dapat memberikan konsentrasi 24-28% sedangkan untuk 8 liter/menit
dapat mencapai konsentrasi 35%).
Rasional, oksigen murni yang terdapat pada tabung mempunyai tekanan yang
relatif tinggi daripada oksigen ruangan sehingga lebih mudah masuk ke saluran
pernafasan.
d. Batasi aktivitas anak (aktivitas diusahakan di tempat tidur)
Rasional, menurunkan kebutuhan oksigen jaringan untuk memproduksi energy.
Semakin langka banyak bergerak semakin tinggi kebutuhan oksigen jaringan.

15
e. Kolaborasi pemberian obat penenang (bila dianggap sangat perlu) seperti
diazepam atau barbiturate.
Rasional, menekan depolarisasi persarafan yang juga bermanfaat menekan
aktivitas sehingga kebutuhan oksigen jaringan terpenuhi.
3. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh berhubungan dengan pengeluaran
yang berlebihan.
Hasil yang diharapkan, intake cairan dan output seimbang (contohnya hasil
penjumlahan intake cairan 1000ml/hari dan jumlah total yang keluar 975 ml/hari),
turgor kulit baik, akral teraba hangat, mukosa bibir lembab, berat badan pasien
normal, nadi teraba kuat (dengan frekuensi 110 kali permenit untuk anak usia 1 tahun,
110-115 kali permenit pada usia 2-5 tahun, 90-110 kali permenit pada usia 5-10
tahun), kesadaran anak komposmentis, nilai elektrolit tubuh dalam plasma normal
(seperti nilai di bagian diagnosa keperawatan).
Rencana tindakan:
a. Kaji intake dan output cairan melalui pemantuan balance cairan selama 24 jam.
Rasional, untuk mengetahui pendekatan secara konkrit kebutuhan cairan tubuh.
b. Kaji penurunan kesadaran, tanda-tanda vital terutama nadi, tekanan darah, dan
pernafasan.
Rasional, kesadaran yang menurun salah satunya dapat diakibatkan penurunan
elektrolit seperti natrium dan kalium. Nadi yang lemah dan cepat mengindikasikan
penurunan cairan ekstraseluler terutama yang terdapat pada pembuluh darah,
tekanan darah yang menurun sebagai tanda penurunan tekanan pembuluh darah
yang diakibatkan oleh volume cairan dalam darah, pernafasan yang cepat dan
dangkal dapat sebagai pertanda munculnya gangguan asam basa oleh elektrolit
tubuh yang dapat berdampak pada asidosis atau alkalosis.
c. Berikanlah rehidrasi secara terintegrasi melalui oral, parenteral (memperlihatkan
intake dan output cairan). Rehidrasi awal yang diharuskan untuk meningkatkan
volume darah dengan plasma, darah atau normal saline. Rehidrasi harus dalam
batas aman pada 3 jam pertama. Rehidrasi oral dilakukan apabila kasus dehidrasi
ringan dan anak masih toleransi terhadap asupan oral.
Rasional, mengganti cairan yang terdapat pada darah, cairan intraseluler dan
interstitial yang mengalami penurunan untuk keperluan transportasi zat.

16
4. Hipertermi berhubungan dengan toksemia
Hasil yang diharapkan, suhu tubuh anak 35,8-37,3 derajat celcius, nadi <115 kali
permenit, angka leukosit 5000-10000 u/dl tidak terdapat kaku kuduk pada anak,
kesadaran anak komposmentis.
Rencana tindakan:
a. Monitor suhu tubuh anak
Rasional, makin meningkatnya suhu tubuh sebagai tanda peningkatan toksik yang
dihasilkan oleh mikroorganisme.
b. Lakukan kompres hangat atau dingin pada anyaman kelenjar limfe dan pembuluh
darah yang besar seperti daerah ketiak, lipatan paha, dan leher.
Rasional, panas dari tubuh anak ke media yang suhunya relatif lebih rendah.
c. Bedrestkan pasien untuk menghambat perjalanan toksik.
Rasional, aktivitas fisik dapat meningkatkan kontraksi otot dan menaikkan
kecepatan aliran darah yang dapat berdampak pada penyebaran toksik. Kontraksi
otot juga menaikkan produksi panas tubuh.
d. Kolaborasi pemberian antipiretik seperti parasetamol. Dosis rata-rata yang
dianjurkan adalah usia 1 tahun 60-120 mg, usia 1-5 tahun 120-150 mg, usia 6-12
tahun 250-500 mg.
Rasional, antipiretik menghambat kenaikan suhu tubuh pada jalur pusat
persyarafan yang berperan terhadap suhu tubuh yaitu hipotalamus.
e. Kolaborasi pemberian antibiotik
Rasional, antibiotik dapat merusak dinding mikroorganisme sehingga tidak
mampu berkembang dan menghasilkan toksik yang dapat berakibat toksemia.
5. Resiko cedera fisik berhubungan dengan kejang, penurunan kesadaran.
Hasil yang diharapkan, anak tidak mengalami luka lebam maupun jenis luka yang lain
akibat terjatuh.
Rencana tindakan:
a. Kaji tingkat kesadaran anak melalui Gloscow Coma Scale (GCS)
Rasional, nilai GCS yang kurang dari 10 terjadi fase kesadaran dibawah
komposmentis sehingga anak berisiko jatuh.
b. Tempatkan anak pada bed dengan pengaman di semua sisinya
Rasional, mencegah anak terjatuh.
c. Tempatkan anak pada bed dengan pengalas lunak dan posisi garis lurus.
Rasional, mencegah injury kulit dan hambatan jalan nafas.

17
d. Pantau posisi dan keadaan umum anak setiap jam
Rasional, posisi leher yang fleksi juga dapat beresiko di dalam jalan nafas.
Keadaan umum yang memburuk sebagai indikasi peningkatan cidera seluller.
e. Diskusikan dengan keluarga tentang perkembangan tingkat kesadaran dan jadwal
pemantauan pasien.
Rasional, meningkatkan partisipasi keluarga untuk mencegah kemungkinan
timbulnya injury.
6. Risiko gangguan perkembangan (retardasi mental) berhubungan dengan kerusakan
memori pada otak.
Data yang mendukung, sudah 3 hari dirawat panas tubuh anak
belum juga turun (misalnya suhu antara 37,5-38 derajat celcius), menurut ibu anak
penyakit anaknya sudah kamu 2 kali setelah Serangan yang pertama anaknya terlihat
kurang aktif saat diajak bermain.
Rencana tindakan:
a. Pantau pertumbuhan dan perkembangan anak melalui kartu KMS dan DDST
(Denver II).
Rasional, KMS berada pada zona merah merupakan indikasi gangguan
pertumbuhan. Anak yang tidak melalui tahapan perkembangan pada DDST
sebagai tanda keterlambatan perkembangan.
b. Bantu anak selama sakit dan kondisi memungkinkan untuk mencapai tumbang
sesuai umur dengan bermain.
Rasional, bermain sebagai sarana yang tidak memaksakan anak dalam mencapai
pertumbuhan dan perkembangan.
c. Anjurkan orang tua untuk berpartisipasi merangsang perkembangan anak tanpa
memaksa.
Rasional, keberhasilan dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang
baik tergantung kepada kemauan anak, dukungan orang tua dan kondisi yang tidak
menakutkan.
d. Anjurkan keluarga untuk rutin menjalankan program pengobatan dan terapi
bermain.
Rasional, pengobatan rutin dapat mencegah kekambuhan meningitis karena
mikroorganisme penyebab dapat betul-betul dimatikan. Terapi bermain dapat
merangsang pertumbuhan dan perkembangan anak.

18
3.4 EVALUASI
Evaluasi dalam proses keperawatan umumnya merupakan penentuan dari
efektifitas rencana asuhan terhadap seorang pasien (Vaughans, 2013). Tindakan
keperawatan dilakukan setiap hari sehingga dapat mengetahui perkembangan yang
terjadi pada klien setiap harinya. Oleh karena itu, evaluasi pada anak penderita
meningitis harus dilakukan sesuai dengan kerangka waktu penetapan tujuan, tetapi
selama proses pencapaian terjadi pada klien juga harus selalu dipantau. Untuk
memudahkan mengevaluasi atau memantau perkembangan pada anak penderita
meningitis, maka digunakan komponen SOAP disetiap diagnosanya:
S (subjektif) : Data subektif berisi data dari pasien melalui anamnesis (wawancara)
yang merupakan ungkapan langsung
O (objektif) : Data objektif data yang dari hasil observasi melalui pemeriksaan fisik
A (assesment) : Analisis dan interpretasi Berdasarkan data yang terkumpul kemudian
dibuat kesimpulan yang meliputi diagnosis, antisipasi diagnosis atau masalah potensial,
serta perlu tidaknya dilakukan tindakan segera.
P (plan) : Perencanaan merupakan rencana dari tindakan yang akan diberikan
termasuk asuhan mandiri, kolaborasi, diagnosis atau labolatorium, serta konseling untuk
tindak lanjut.

19
BAB IV
PENUTUP

4.1 KESIMPULAN
Meningitis merupakan suatu kasus kegawatdaruratan neurologik dengan angka
morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Oleh karena itu, diagnosis dan terapi harus
dilakukan secepatnya untuk mencegah keluaran yang buruk. Diagnosis meningitis
ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang seperti
pungsi lumbal. Penatalaksanaan meningitis memerlukan pemahaman tentang karakter
pasien agar pemilihan antibiotik dapat dilakukan dengan tepat. Penegakan diagnosis dan
penentuan terapi yang baik dapat memberi harapan kualitas hidup yang baik bagi pasien.
Saat ini sudah terdapat imunisasi untuk beberapa bakteri etiologi meningitis, sehingga
angka kejadian meningitis dapat diturunkan.

4.2 SARAN
Sebagai tim kesehatan agar lebih bisa meningkatkan pengetahuan tentang meningitis
dan sebaiknya kita juga memberikan informasi atau health education mengenai
meningitis kepada masyarakat khususnya orang tua. Dan masyarakat sebaiknya
menghindari hal-hal yang dapat memicu terjadinya meningitis dan meningkatkan pola
hidup sehat.

20
DAFTAR PUSTAKA

Betz, Cecily & Sowden. 2009. Buku Saku Keperawatan Pediatri (Terjemahan oleh Eny
Meiliya & Egi Komara Yudha). Jakarta: EGC.
Fauziah, F.2017. Karakteristik Penderita Meningitis Pada Anak Di Ruang Rawat Inap
Di Rsup H. Adam Malik Medan. Medan: Universitas Sumatra Utara.
Hidayat, Aziz. 2008. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta: Salemba Medika.
Lalani, Amina. (Ed). 2011. Kegawatdaruratan Pediatri. Jakarta: EGC.
Meisadona, Soebroto & Estiasari. 2015. Diagnosis dan Tatalaksana Meningitis
Bakterialis. Jurnal Kesehatan: 15-17.
Nurafif, Amin & Kusuma. 2016. Asuhan keperawatan Praktis. Jogjakarta: Mediaction.
Riyadi, Sujono & Sukarmin. 2012. Asuhan Keperawatan pada Anak. Yogyakarta: Graha
Ilmu.
Rolentina Simanullang, Sori Muda Sarumpaet, Rasmaliah. 2015. Karakteristik Penderita
Meningitis Anak Yang Dirawat Inap Di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan.
Jurnal Kesehatan: 1-2.
Simanullang, R. 2015. Karakteristik Penderita Meningitis Anak Yang Dirawat Inap Di
Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan. Medan: Universitas Sumatra Utara.

21