Anda di halaman 1dari 18

RESUME 1

Layanan Konseling 1

Tentang

LATAR BELAKANG PERKEMBANGAN BK di SLTP dan SLTA

Dosen Pembimbing : Drs. Yusri MPd. Kons

Oleh Kelompok 1

1. HAYATUL JANNAH (1300337)


2. NURUL AULIA IKHFANI (1300325)
3. WELDA WULANDARI (1300387)
4. RAHMI AGUSTIN (1300320)
5. INDO PRATAMA (1304895)

JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI PADANG

2014
LATAR BELAKANG PERKEMBANGAN BK di SLTP dan SLTA

A. Lahirnya BK di SLTP dan SLTA

Menurut Syamsu Yusuf dan Ahmad Juntika Nurihsan (2011: 94)”


Perkembangan layanan Bimbingan dan Konseling di Indonesia, dimulai dengan
kegiatan sekolah dan usaha- usaha pemerintah”. Layanan bimbingan dan
konseling di Indonesia telah mulai dibicarakan secara terbuka sejak tahun 1962.
Hal ini ditandai dengan adanya perubahan sistem pendidikan di SMA yaitu
terjadinya perubahan nama menjadi SMA Gaya Baru dan berubahnya penjurusan,
yang awalnya di kelas I menjadi di kelas II (Syamsu Yusuf dan Ahmad Juntika
Nurihsan , 2011: 94). Program penjurusan ini merupakan respon akan kebutuhan
untuk menyalurkan para siswa ke jurusan yang tepat bagi dirinya secara
perorangan. Dalam rencana Pelajaran SMA Gaya Baru, diantaranya ditegaskan
sebagai berikut:

a. Di kelas I setiap pelajar diberi kesempatan untuk lebih mengenal bakat


dan minatnya, dengan jalan menjelajahi segala jenis mata pelajaran
yang ada di SMA, dan dengan bimbingan penyuluhan yang teliti dari
para guru dan orangtua.
b. Dengan mempergunakan peraturan kelas dan bahan- bahan catatan
dalam kartu pribadi setiap murid, para pelajar disalurkan ke kelas II
kelompok khusus : Budaya, Sosial, Pasti dan Pengetahuan Alam.
c. Untuk kepentingan tersebut, maka pengisian kartu pribadi murid harus
dilaksanakan seteliti-telitinya (Rochman Natawidjaja, dalam Syamsu
Yusuf dan Ahmad Juntika Nurihsan, 2011: 95).

Perumusan dan pencantuman resmi di dalam rencana pembelajaran SMA


ini disusul dengan berbagai kegiatan pengembangan layanan bimbingan dan
konseling di sekolah, seperti rapat kerja, penataran dan lokakarya.

Pada tanggal 20-24 April 1964 diadakan konferensi Fakultas Keguruan


dan Ilmu Pendidikan seluruh Indonesia ii Malang. Konferensi ini menghasilkan
kesepakatan pendirian Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan (BP) di IKIP Bandung
dan IKIP Malang. Pendirian Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan di IKIP Bandung
dan IKIP Malang tersebut merupakan awal dan cikal bakal munculnya bimbingan
dan penyuluhan yag sekarang lebih dikenal dengan istilah Bimbingan dan
Konseling.

B. Perkembangan BK di SLTP dan SLTA


1. Kurikulum 1975 dan PPSP

Dengan diperkenalkannya gagasan Sekolah Pembangunan pada tahun


1970/1971, peranan bimbingan kembali mendapat perhatian. Gagasan Sekolah
Pembangunan ini kemudian dituangkan dalam program Sekolah Menengah
Pembangunan Persiapan (SMPP) yang berupa proyek percobaan dan peralihan
dari sistem persekolahan lama menjadi sekolah pembangunan. Pembentukan
SMPP ini dimaktubkan dalam SK Mendikbud no 0199/0/1973. Untuk
melaksanakan bimbingan dan penyuluhan di SMPP ini, Badan Pengembangan
Pendidikan dan Kebudayaan telah menyusun Program Bimbingan dan
Penyuluhan SMPP (Syamsu Yusuf dan Ahmad Juntika Nurihsan, 2011: 95).

Pada tahun 1971 berdiri Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) pada
delapan IKIP di Indonesia yaitu IKIP Padang, IKIP Jakarta, IKIP Bandung, IKIP
Yogyakarta, IKIP Semarang, IKIP Surabaya, IKIP Malang dan IKIP Manado.
Pada saat dikembangkannya PPSP ini, pembicaraan tentang bimbingan dan
penyuluhan telah ada terutama oleh para pendidik yang mempelajari bimbingan
dan penyuluhan di luar negeri. Selanjutnya hal ini ditindaklanjuti dengan
dibukanya jurusan Bimbingan dan Penyuluhan di IKIP Bandung (sekarang UPI)
pada tahun 1963, seterusnya diikuti oleh beberapa IKIP di Indonesia, termasuk
IKIP Padang dan IKIP lainnya (Riska ahmad, 2013: 18-19).

Badan Pengembangan Pendidikan, melalui lokakarya- lokakarya telah


berhasil menyusun dua naskahpenting dalam sejarah perkembangan layanan
bimbingan di Indonesia, yaitu sbb:

a. Pola Dasar Rencana Dan Pengembangan Program Bimbingan Dan


Penyuluhan melalui Proyek- Proyek Perintis Sekolah Pembangunana.
b. Pedoman Operasional Pelayanan Bimbingan pada Proyek- Proyek
Perintis Sekolah Pembangunan.

Secara formal bimbingan dan konseling diprogramkan di sekolah sejak


diberlakukannya kurikulum 1975, yang menyatakan bahwa bimbingan dan
penyuluhan merupakan bagian integral dalam pendidikan di sekolah. Salah satu
kekhasan kurikulum 1975 adalah dimuatnya pedoman pelaksanaan bimbingan dan
penyuluhan, meskipun pada saat itu belum semua guru bimbingan dan
penyuluhan berijazah strata 1 (S-1), sebagian masih berijazah sarjana muda.
Untuk memenuhi kebutuhan perlunya guru bimbingan dan penyuluhan, pada
tahun 1978 diselenggarakan melalui program PGSLP (Pendidikan Guru Sekolah
Lanjutan Pertama) dan PGSLA (Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Atas) jurusan
bimbingan dan penyuluhan yang berupa program percepatan.

Pelaksanaan bimbingan dan konseling dalam kurikulum 1975, yaitu:

1) Orientasi kurikulum

Fungsi utama bimbingan adalah membantu murid dalam masalah-masalah


pribadi dan social yang berhubungan dengan pendidikan dan pengajaran atau
penempatan menjad perantara dari dalam hubunganya dengan para guru maupun
tenaga administrasi.

Dalam kurikulum 1975 mengenai pedoman mengenai pedoman bimbngan


yang dipakai di sekolah lanjutan tingkat aatas (SLTA). Bimbingan dan
penyuluhan berfungsi sebagai:

a) Penyaluran, yang memberikan bantuan kepada siswa untuk mendapatkan


lingkungn yang sesuiai dengan keadaan dirinya.
b) Pengadaptasian, yang memberikan bantuan kepada sekolah untuk
menyesuaikan program pengajaran dengan dirinya.
c) Penyesuaian, yang memberikanbantuan kepada siswa untukmeyesuaiakan
diri terhadap lingkungan yang baru.
d) Pencegahan, yang memberikan bantuan kepada siswa untuk meenghindari
kemungkinan terjadinya hambatan dalam perkembanganya.
e) Perbaikan, yang memberikan bantuan kepada siswa untuk memperbaiki
kondisi yang dipandang kurang sesuai.
f) Perkembangan, yang membantu siswa untuk melalui proses perkembangan
secara wajar
2) Metode layanan

Metode yang dipakai adalah dengan menggunakan pendekatan system


dengan berorientasi kepada tujuan.

3) Pelaksanaan layanan

Hellen (2002:76-80) berpendapat tentang kegiatan bimbingan disekolah yang


mencakup 4 macam, yaitu:

a) Bimbingan pribadi
b) Bimbingan social
c) Bimbingan belajar
d) Bimbingan karir.

4) Kedudukan BK dalam Kurikulum

Tugas-tugas konselor tersebut antara lain:

a) Bertanggung jawab tentang keseluruhan pelaksanaan layanan konseling


disekolah
b) Mengumpulkan, menyusun, mengelola, serta menafsirkan data, yang
kemudian dapat dipergunakan ooleh semua staf bimbingan di sekolah.
c) Memilih dan mengunakan sebagai instrument psikologis untuk
memperoleh berbagai informasi mengenai bakat khusus, minat,
kepribadian, dan intelegensi untuk masing-masing siswa.
d) Melaksanakan bimbingan kelompok maupun bimbingan individual.
e) Mengumpulkan, menyusun dan mempergunakan informasi tentang
berbagai permasalahan pendidikan, pekerjaan, jabatan, atau karir, yang
dibutuhkan oleh guru bidang studi dalam proses belajar mengajar.
f) Melayani orang tua wali murid ingin mengadakan konsultasi tentang anak-
anak.

Pada tahun 1975 berdiri Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI) di


Malang. IPBI ini memberikan pengaruh yang sangat berarti terhadap perluasan
program bimbingan di sekolah.

2. Kurikulum 1984

Pada kurikulum 1984, istilah Bimbingan Penyuluhan (BP) diganti menjadi


Bimbingan Karier (BK). Menurut Riska Ahmad (2013: 19), “ Bimbingan Karier
tidak sama dengan Bimbingan Penyuluhan”. Namun, pada waktu itu timbul
beberapa masalah, seperti munculnya pendapat yang mengidentikkan bimbingan
karier dengan bimbingan penyuluhan sehingga muncul istilah bimbingan karier/
bimbingan penyuluhan. Salah satu faktor penyebab munculnya penyamaan arti
antara bimbingan karier dan bimbingan penyuluhan yaitu dampak
pengimplementasian SK Menpan no 26/1989 yang menyatakan semua guru dapat
diserahi tugas melaksanakan pelayanan bimbingan dan penyuluhan yang
mengakibatkan bimbingan dan penyuluhan menjadi kabur (kehilangan arti yang
sebenarnya), baik pemahaman maupun pengimplementasiannya. Pelaksanaan BK
pada kurikulum 1984, yaitu:

1) Orientasi kurikulum

Penyempurnaan kurikulum 1975 ke kurikulum 1984 dengan memasukkan


bimbingan karir di dalamnya. Selanjutnya UU No. 0/1989 tentang
Sisdiknas,membuat mantap posisi bimbingan dan konseling yang kian diperkuat
dengan PP No. 20 Bab X pasal 25/ 1990 dengan PP No. 29 Bab X pasal 27/1990
yang menyatakan bahwa bimbingan merupakan batuan yang dierikan kepada
siswa dalam rangka upaya menemukan pribadi, mengenal lingkungan dan
rencanakan masa depan.
Pada kurikulum 1984 orientasi layanan akan lebih fokus kepada layanan
bimbingan karir. Bimbingan kariri tidak hanya sekedar memberikan respon
kepada masalah-masalah yang muncul, akan tetapi juga membantu memperoleh
pengetahuan, sikap dan keterampilan yang diperlukan dalam pekerjaan.

Pada tahun 1984 bersama dangan diberlakuakanya. Kurikulum 1984,


bimbingan karir cukup terasa mendominasi dalam layanan bimbingan dan
penyuluhan pada tahun 1994, bersama dengan perubahan nama bimbingan
penyuluhan menjadi bimbingan dan konseling pada kurikulum 1994, bimbingan
karir ditempatkan sebagai salah satu bidang bimbingan. Sampai dengan sekarang
ini bimbingan karir masil merupakan salah satu bidang bimbingan dalam konteks
kurikulum berbasisi kopetensi, dengan diintegarasikannya Pendididkan
Kecakapan Hidup (Life skil education) dalam kurikulum sekolah, maka peranan
bimbingan karir sungguhh manjadi amat penting, khususnya dalam upaya
membantu siswa dalam memperoleh kecakapan vocational, yang merupakan salah
jenis kecakapan dalam Pendidikan kecakapan Hidup (Life Skill Education).

2) Metode layanan

Pendekatan yang dipakai adalah pendekatan keterampilan proses.

3) Pelaksanana layanan.

Terkait dengan penjabaran kompetensi dan materi layan bimbingan dan


konseling di SMTA, dibidang karir diarahkan untuk:

a) Pemantapan pemahaman diri berkenaan dengan kencederungan karir yang


hendak dikembangkan pada khususnya.
b) Pemantapan orientasi dan informasi karir pada umumnya dan kariri yang
hendak dikembangkan pada khususnya.
c) Orientasi dan inforamasi terhadap dunia kerja dan usaha memperoleh
penghasilan untuk memenuhi kebutuhan tuntutan hidup bekeluarga,
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
d) Pengenalan berbagai lapangan kerja yang dapat dimasuki tamatan SMTA.
e) Orientasi dan informasi terhadp pendidikan tembahan dan pendidikan
yang lebih tinggi, khususnya sesuai dengan karir yang hendak
dikembangkan.
f) Khusus sekolah Menengah Kejuruan ; pelatiahan diri untuk keterampilan
kejuruan khususnya pada lembaga kerja sesuai dengan program kurikulum
sekolah menengah kejuruan yang bersangkutan.
4) Kedudukan BK dalam Kurikulum

Dalam kurikulum 1984 BK memegang peranan yang sangat penting dalam


membantu mengembagkan kemampuan karir siswa. Konselor berperan sebagai
seseorang pendidik dalam hal pengembangan keterampilan karir siswa .

Selanjutnya secara legal formal bimbingan tercantum pada UU Sisdiknas


no 2/1989 ayat 1 “ Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik
melalui bimbingan, pengajaran dan/ atau latihan bagi perannya pada masa yang
akan datang”. Pada UU tersebut telah dicantumkannya kata-kata bimbingan.
Selanjutnya kata bimbingan tersebut dijelaskan melalui PP NO 28 pasal 25 tahun
1990 dan PP no 29 pasal 27 yang menyatakan bahwa “ Bimbingan merupakan
bantuan yang diberikan kepada siswa dalam rangka upaya menemukan pribadi,
mengenal lingkungan dan merencanakan masa depan”. Dengan tercantumnya
intilah bimbingan pada UU sistem pendidikan yang dilanjutkan dengan pemberian
arti tentang istilah bimbingan tersebut merupakan kemajuan yang luar biasa pada
dunia bimbingan dan penyuluhan di Indonesia.

Penataan bimbingan terus dilanjutkan dengan dikeluarkannya SK Menpan no


84/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Dalam pasal 3
disebutkan bahwa tugas poko guru adalah menyusun program bimbingan,
melaksanakan program bimbingan, evaluasi pelaksanaan bimbingan, analisis hasil
pelaksanaan bimbingan dan tindak lanjut dalam program bimbingan terhadap
peserta didik yang menjadi tanggung jawabnya.

3. Kurikulum kurikulum 1994


1) 4Orientasi kurikulum
Perkembangan dunia bimbingan dan konseling di Indonesia mengalami
proses yang berliku hingga pada tahun 1994 melalui kurikulum 1994, istilah
bimbinagn penyuluhan mulai diganti dengan bimbingan koseling (BK).
Perubahan mendasar dari istilah penyuluhan menjadi konseling didasai pada
paradigma bahwa konselor tidak melakukan penyuluhan yang merupakan
konotasi sebagai pekera lapangan (jenis penyuluh pertanian atau penyuluh KB)
tetapi lebih pada usaha membantu Konseling siswa sesuai dengan karakteristik
siswa.

2) Metode layanan

Metode layanan yang dipakai disesuaikan dengan jenis layanan yang


diberikan. Kadang-kadang sering memakai metode lapanagn atau metode
pendekatan proses.

3) Pelaksanaan layanan.

Dalam kurikulu 1994 tentang pelaksanaan bimbingan dan konseling (BK)


disampaikan bahwa ada tiga kategori pelaksanaanya; Bidang bimbingan dan
konseling yang meliputi bimbingan da pribadi, social, bimbingan belajaar dan
karir.

Jenis layanan bimbingan dan konseling meliputi layaan orientasi,


informasi, pembelajaran, layanan penempatan dan penyaluran. Layanan konseling
peseorangan dan kelompok serta bimbingan kelompok.

Kegiatan pendukung Bk yang meliputi aplikasi instrument bimbingan,


pengumpilan data, konferensi kasus kunjungan rumah dan referral.

Menurut SK Menpan No. 84/1993 tentang jabatan funsional guru dan


angka kreditnya. Pada pasal(3) disebutkan bahwa tugas pokok guru pembimbing
adalah menyusun program bimbingan. Melaksanakan program bimbingan
evaluasi pelaksanaan bimbingan, analisis hasil pelaksanan bimbingan dan
tindaklanjut dalam program bimbinganterhadap perserta didik yang menjadi
tanggung jawabnya.
4) Kedudukan BK dalam Kurikulum

Jika kita cermati pola bimbingan dan oseling yang tercantum dalam
kurikulum 1994 tersebut. Maka buru BK harus diberikan kesempatan mengajar
bidang studi bimbingan dan konseling dikelas seperti layaknya guru bidang studi
lainya. Guru BK juga harus membuat program tahunan dan program semester.
Membuat program jangka panjang dan jangka pendek, membuat daftar anak didik
yang bermasalah untuk di bombing dan daftar materi bimbingan dan konseling
yang berkaitan denga jenis layan atau kegiatan pendikung. Terakhir guru BP harus
membuat juga laporan kepada madarsah dan pengawas yang ditunjuk.

Kendala dan hambatan, untuk mewujudkan eksistensi dan perana guru


BK di lingkungan madrasah seperti tercantum dalam kurikulm 1994 sebagai mana
semestinya, maka haruslah diperhatikan beberapahal berikut:

a) Guru bk harus diberikan jam pelajaran bimbingan konseling seperti guru


yang lainya, mereka harus bias melakuakn layan bK secara klasikal atau
kelompok seminggu sekali.
b) Memberikan informasi yang positif kepada siswa gar siswa bias
memahami fungsi Guru BK dan keberadaan program bimbingan dan
konseling dilingkungan madrasahnya. Hali ini dilkukan untuk meu
buhakan kesadaran ssiwa bahwa bertapa penting dan urgesinya bimbingan
dan konseling kepada merek. Sehingga lambat laun mereka akan
menganggap bahwa konseling itu adalah sebuah kebutuhan untuk
meningkatkan prestasi belajar mereka.
c) Guru bk yang ditunjuk dilingkungan madrasah tidak hanya sekedar
menuggu bola, artinya Guru BK tidak hanya duduk manis dalam sebuah
ruangan menunggu laporan guru terhadap anak didik yang bermasalah.
d) Kepada madarasah yang harus mnyiapkan sebuah ruangan khusus untuk
Ruangan BK. Hal ini dilakukan untuk meghindari keenganan siswa untuk
berkonsultasi. Ruangan yang tidak memadai atau bahkan ada madrasah
yang meja buru BP berada dengan Guru bidang studi lainya akan membuat
ketidak nyaman siswa dalam menyampaikan persoalanya kepada guru
bimbingan dan konseling itu. Konon lagi kalau murid bermasalah itu
dibimbing didepan guru guru lainya, atau bahkan ketika kasus mereka
sedang di tangani oleh Guru BP murid itu jadi bulan-bulanan gur lain atau
jad tontonan gratis, atau kadang kadang ketika guru BP sedang menyakan
sesuatu guru yang lain juga turut menimpalinya denga pertanyaan yang
tidak ada kaitan dengan hal tersebut.
e) Guru Bk hendaknya tenaga lulusan Bimbingan dan konseling bukan guru
bidang study tertentu yang sekedar hanya ditunjuk kepala madrasah untuk
mengani siswa yang bermasalah atau menagani siswa yang sakit. Sekedar
penjelasan pada umumnya guru BK yang sudah ada dilingknga madrasah
bukanlah jebolan prodi BK. Sehingga program bimbingan dan konseling
tidak berjalan semestinya

Hal ini, keberadaan guru bimbingan dan konseling bukanlah sekedar


pelengkap, tetapi keberadaan mereka sebenarnya sangatlah dibutuhkan. Hal ini
dapat kita lihat dari keseriusan pemerintah dalam merumus kan dan
meyempurnakan kurikulum itu sendiri, tahun 1975 kurikulum ini disebut dengan
guidance and counseling (GC), kemudian diadakan penyempurnaan kurikum pada
tahun 84 yang disebut dengan bimbingan dan penyuluhan(BP). Terakhir tahun 94
deabut dengan bimbingan dan konseling (BK) inilah bukti bahwa kurikulum ini
sangat dibutuhkan.

4. Kurikulum 2004

1)Orientasi kurikulum

Pada tahun 2004 ini mulai diperkenakan kurikulum pendidikan yang baru
dengan sebutan kurikum berbasis kompetensi (KBK), rencanaya kurikulum baru
ini akan dilaksanakan secara menyeluruh di Indonesia pad atahun jaran baru
2004/2005 pelaksanan kurikulum KBK ini secara langsung berdampak pada
program layanan BK di sekolah.
Kurikulum 2004 adalah kurikulum KBK yang mana BK menyusun satu
buku yang disebut modul sehingga pada tahun ini ada buku-buku seperti
Intelegensi, karier di sekolah. Dan pada tahun 2004 lahirlah BK POLA 17, namun
dalam KBK ada dua jenis program bk yakni BK POLA 17 dan BK Komperhensif.

1) BK POLA 17, terdiri dari beberapa bidang, jenis layanan dan kegiatan
pendukung yang jika dijumlah total keseluruhannya 16 sedangkan
satunya adalah wawasan bimbingan dan konseling.
2) BK Komperhensif, pada dasarnya sama namun ada beberapa yang
membedakannya, adapun yang membedakannya adalah 1) layanan
dasar yakni layanan yang harus diberikan atau dimilki siswa sebelum
masuk atau mengikuti konseling. 2) layanan responsive. Bk
komprehensif digunakan di bandung dan Jogja.

Mulyana (2002) mengemukan pengertian komptensi sebagai pengetahuan


keterampilan dan kemampuan yang dikuasai oleh seseorang yang telah menjadi
bahagian dari dirinya sehingga ia dapat melakukan perilaku-perilaku kognitif,
afektif dan psikomotorik dengan sebaik-baiknya lebih lanjut, Finch dan
Cungkilton mendefinisikan kompetensi sebagai penguasaan terhadap suatu tugas,
keterampilan,sikap dan apresiasi yang diperluakan untuk menunjanhg
keberhasilan.

Depdiknas (Mulyana, 2002) menyebutkan beberapa ciri atau karakteristik


kurikulum KBK sebagai berikut:

a) Menekankan pada ketercapaian, kompetensi siswa baik secara individual


maupan klasikan
b) Berorientasi pada hasil belajar dan keberagaman.
c) Penyampaian dalam pembelajaran mengunakan pendekatan dan metode
yang berfariasi.
d) Sumber belajar bukan hanya guru,tepai juga sumber belajar lainya yang
mempunyai unsusr edikatif
e) Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dala upaya
penguasaan atau penempatan suatu kompetensi

2) Metode layanan

Metode pelayanan yang diberikan, mengacu pada arah pelayanan BK,


yaitu:

a) Layanan dasar ; yakni layan bantuan kepada peserta didik melalui


kegiatan, kelas atau luar kelas yang disajiak secara sistematis, dalam
rangka membantu peserta didik untuk dapat mengembangkan potensi
dirinya seecara optimal. Tujuan layana ini adalah untuk membantu peserta
didik agar memperoleh perkembangan yang normal, memlilik mental yang
sehat, memperoleh keterampialn hidup, yang dapat dilakukan melalui
strategi layan klasikal dan strategi layan kelompok.
b) Layana responsive; yaitu layan bantuan bagi peseta yang memiliki
kebutuhan atau masalah yang memerlukan bantuan segera. Tujuan layan
ini dalah membantu peserta didik agar dapat mengatasi masalah yang
dialaminya yang dilakukan melalui strategi layan konsultasi, konseling
individual, konseling kelompok, reveral dan bimbingan teman sebaya.
c) Layanan perencanaan individual; yaitu bantua kepada pesert adidik agar
mampu membuat dan melaksanakan perencanan masa depanya.
Berdasarkan pemahaman akan kekuatan dan kelemahanya. Tujuan layanan
ini adalh agar peserta didik dapat memiliki kemapuan merumuskan tujuan,
merencanakan atau mengelola pengembangan dirinya, baik menyangjut
aspek pribadi, social, belajar, maupun karir. Dapat melakuan kegiatan atau
aktivitas berdasarkan tujuan atau perencanaan yang telah diditetapkan, dan
mengevaluasi kegiatan yang dilakunanya yang dapat dilakuan melalui
strategi penilaianindividual, penasehat individual atau kelompok.
d) Layanan dukungan system; yaitu kegiatan kegiatan menajemen yang
bertujaun mementapkan , memelihara dan meningkatkan program BK
disekolah secara menyeluruh melaui pengembangan profesiona; hubungan
masyarakat dan staf; konsultasi dengan guru lain, staf ahli, danmasyarakat
yang lebih luas; menajemen program; dan penelitan dan pebgembangan.

3)Pelaksanan layanan

3)Kedudukan BK dalam Kurikulum

Implentasi kegiatan BK dalam pelaksanaan KBK sangat menentukan


keberhasilan PBM. Oleh karena itu perana guru kelas dalam pelaksanaan kegiatan
BK sangat penting dalam rangka mengefektifkan pencapaian pembelajaran yang
dirumuskan.

5. Kurikulum 2007
1) Orientasi kurikulum

Pada kurikulum KTSP orientasi layanan BK adalah mensukseskan atau


membantu pengembangan diri pada siswa. Dalam kurikulum KTSP, keberadaan
Bimbingan dan Konseling di setiap satuan pendidikan merupakan bagian integral
dalam suatu sistem pendidikan. Jika guru mata pelajaran memberikan materi
pelajaran pada peserta didik, maka konselor sekolah menggarap pengembangan
diri peserta didik. Pengembangan diri ini sangat mempengaruhi terhadap
perkembangan peserta didik. Bimbingan dan Konseling di sekolah memiliki
kedudukan dan peran yang sangat penting bahkan perlu, sebab dengan layanan
BK di sekolah yang mengacu pada pengembangan diri, peserta didik akan dapat
berkembang secara optimal dalam melaksanakan tugas perkembangannya.

2)Metode layanan

Metode yang digunakan dalam pelaksanaan layanan adalah dengan metode


klasikal, partisipasi, tanya jawab dan diskusi, dan metode ceramah.

3)Pelaksanaan layan
Layanan yang diberikan dilaksanak baik dalam jam pelajaran maupun
diluar jam pelajaran.

4) Kedudukan BK dalam kurikulum

BK adalah bagian integral dari KTSP yang sesuai dengan UU No. 20


Tahun 2003 pasal 1 ayat 1 dan 6 , dan PP 19 tahun 2005 SNP serta Permen NO.
22,23 dan 24 tahun 2006. Layan konseling yang diberikan memberikan
kesempatan kapada peserta didik untuk mengembangkan potensinya seoptimal
mugkin

Di dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), di lingkungan


pendidikan dasar dan menengah yang berkaitan dengan masalah Bimbingan dan
Konseling disebutkan bahwa pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran
yang harus diasuh oleh guru. Pengembangan diri bertujuan memberikan
kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan
diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minat setiap peserta didik sesuai dengan
kondisi sekolah. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh
konselor, guru atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk
kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan
layanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan
sosial, belajar dan pengembangan karir peserta didik.

. Melihat kedudukan dan perannya layanan BK di sekolah, maka layanan BK


memiliki fungsi a). pemahaman b). pencegahan c).pengentasan d). pemeliharaan
dan pengembangan dan e). fungsi advokasi. Jika saja semua fungsi layanan BK di
sekolah dapat berjalan dengan baik dan ditangani secara profesional, maka
perkembangan dan pertumbuhan peserta didik akan lebih mampu kembang dan
tumbuh sesuai dengan tahapan dan tugas-tugas perkembangannya. Agar tahap dan
tugas perkembangan itu dapat berjalan, maka salah satu prosedur atau cara dalam
melaksankan BK di sekolah adalah melalui layanan konseling. Adapun
pelaksanaan layanan dapat diberikan di dalam kelas dan juga dapat di luar kelas
sebagai kegiatan ekstrakurikuler.
6. Kurikulum 2013

Peran dan posisi pelayanan bimbingan konseling kini telah tertuang dalam
kurikulum 2013. Penjelasan tentang layanan bimbingan dan konseling dalam
Implementasi Kurikulum 2013 telah dituangkan dalam Peraturan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 81A Tahun 2013. Dalam Permendikbud ini
disertai dengan lampiran-lampiran yang memuat tentang beberapa pedoman yang
berkaitan dengan Implementasi Kurikulum 2013, secara khusus layanan
bimbingan dan konseling dimuat pada lampiran IV

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia


Nomor 81A Tahun 2013 Tentang Implementasi Kurikulum pada butir VIII.
Konsep dan Strategi Layanan Bimbingan dan Konseling.

Berkenaan dengan implementasi kurikulum 2013, khusus untuk kegiatan


bimbingan dan konseling, ditegaskan adanya daerah garapan yang disebut
peminatan peserta didik. Bidang peminatan ini menjadi substansi pokok pekerjaan
guru bimbingan dan konseling atau konselor di sekolah atau madrasah. Meskipun
demikian, pelayanan bimbingan dan konseling tentulah tidak hanya sekedar
menangani program atau wilayah peminatan saja. Tugas konselor jauh lebih luas
daripada bidang peminatan itu sendiri, yaitu menyangkut pengembangan pribadi
peserta didik ke arah kemandirian diri dan juga mengendalikan diri.

Dalam kurikulum 2013, kegiatan bimbingan dan konseling, program


bimbingan dan konseling, di samping diisi dengan berbagai kegiatan layanan dan
kegiatan pendukung, juga diisi dengan pelayanan peminatan yang membesarkan
kemandirian peserta didik sesuai dengan potensi, bakat, minat mereka masing-
masing. Dengan demikian, pelayanan peminatan peserta didik di satu sisi harus
dilakukan dan di sisi lain layanan peminatan tidak boleh melemahkan pelayanan
bimbingan dan konseling secara menyeluruh. Jabaran program peminatan peserta
didik tersebut tertuang dalam program bimbingan dan konseling secara
menyeluruh.
Dalam Permendikbud no 81 A, dijelaskan bahwa pelayanan bimbingan
dan konseling dalam kurikulum 2013 disiapkan untuk menfasilitasi satuan
pendidikan dalam mewujudkan proses pendidikan dalam mewujudkan proses
pendidikan yang memperhatikan dan menjawab ragam kemampuan, kebutuhan,
dan minat sesuai dengan karakteristik peserta didik. Khusus untuk SMA/ MA dan
SMA/ MAK bimbingan dan konseling dimaksudkan untuk membantu satuan
pendidikan dalam memfasilitasi satuan pendidikan dalam memilih dan
menetapkan program peminatan akademik bagi peserta didik SMA/ MA dan
peminatan vokasi bagi peserta didik SMK/MAK, serta pemilihan mata pelajaran
lintas minat khusus bagi peserta didik SMA/MA. Selain itu, bimbingan dan
konseling juga dimaksudkan untuk memfasilitasi guru bimbingan dan konseling/
konselor sekolah untuk menangani dan membantu peserta didik yang secara
individual mengalami masalah psikologis atau psikososial seperti sulit
berkonsentrasi, rasa cemas dan perilaku menyimpang.
KEPUSTAKAAN

Riska Ahmad. 2013. Dasar- Dasar Bimbingan dan Konseling. Padang: UNP
Press.

Syamsu Yusuf dan Ahmad Juntika Nurihsan. 2011. Landasan Bimbingan dan
Konseling. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Permendibud no 81 A tentang Pedoman Umum Pembelajaran.

Modul Diklat Peningkatan Kompetensi Guru BK/ Konselor SMP/ Mts:


Implementasi Program Bimbingan dan Konseling dalam Kurikulum 2013. 2013.
Jakarta: P4TK Penjas dan BK.

Rifki Konseling. 2011. Kedudukan BK dalam KTSP. (online) dalam


http://rifqikonseling.blogspot.com/2011/01/kedudukan-bk-dalam-ktsp.html
diakses pada tanggal 6 November 2014 pukul 10.40.