Anda di halaman 1dari 3

HAIFA RAMADHANI ANNISA / 2016200209

HUKUM PENANAMAN MODAL KELAS A

1. Apakah ada kriteria tertentu secara yuridis, alasan mengeksekusi putusan arbitrase
tidak boleh bertentangan dengan ketertiban umum? Berikan argumentasi secara
yuridis?
Untuk menjawab pertanyaan diatas, perlu diketahui dulu peraturan yang berkaitan
dengan arbitrase dan alternatif penyelesaian sengketa. Dua aturan yang paling relevan
adalah Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif
Penyelesaian Sengketa (UU Arbitrase) dan Peraturan Mahkamah Agung Republik
Indonesia Nomor 1 Tahun 1990 tentang Tata Cara Pelaksanaan Putusan Arbitrase Asing.
Asas ketertiban umum (public policy) yang di atur secara khusus dalam UU No.
30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, yang menyatakan
bahwa suatu putusan arbitrase asing untuk dapat dilaksanakan di Indonesia harus
memenuhi syarat-syarat yang diatur dalam Pasal 66, dan pada point c juga mengatur
bahwa putusan arbitrase yang dapat dilaksanakan adalah keputusan arbitrase yang tidak
bertentangan dengan ketertiban umum. Pasal 3 ayat (3) Perma No. 1 Tahun 1990
menegaskan bahwa putusan arbitrase internasional yang diakui serta yang dapat
dieksekusi di Indonesia hanya terbatas pada putusan-putusan yang tidak bertentangan
dengan ketertiban umum. Yang selalu menimbulkan masalah dalam penerapan ketertiban
umum (public policy) ialah mengenai definisi dan jangkauannya. Di dalam Perma No. 1
Tahun 1990 tidak memberikan batasan dan rincian yang jelas mengenai definisi dan
jangkauan ketertiban umum seperti apa yang dimaksud dan dianggap dengan ketertiban
umum. Secara umum, batasan pengertian mengenai definisi dari ketertiban umum adalah
sesuatu dianggap bertentangan dengan ketertiban umum pada suatu lingkungan (negara),
apabila didalamnya terkandung sesuatu hal atau keadaan yang bertentangan dengan
sendi-sendi dan nilai-nilai asasi sistem hukum dan kepentingan nasional suatu bangsa.1
Alasan yang paling utama mengenai mengapa pelaksanaan putusan arbitrase tidak
boleh bertentangan dengan kepentingan umum adalah sebagai perisai (as ashield), dalam

1
Frans Hendra Winarta, Hukum Penyelesaian Sengketa Arbitrase Nasional Indonesia dan Internasional, PT. Sinar
Grafika, Jakarta, 2013, hlm. 74

1
usaha untuk menjaga agar tidak terjadi pelanggaran terhadap sendi-sendi asasi dari sistem
hukum dan tata susila masyarakat kita sendiri dan bukan sebagai pedang (as a sword)
yang setiap kali akan mencegah berlakunya putusan arbitrase luar negeri.2
Kemudian menjadi penting untuk mengetahui pengertian dan batasan dari
ketertiban umum itu sendiri. Blacks’s Law Dictionary mendefinisikan asas ketertiban
umum sebagai berikut: Broadly, principles and standards regarded by the legislature or
by the courts as being of fundamental concern to the state and the whole of society.
Courts sometimes use the term to justify their decisions, as when declaring a contract
void because it is “contrary to public policy” also termed policy of the law. Sehingga
dapat disimpulkan, ketertiban umum merupakan suatu asas dan standar yang dibentuk
oleh badan pembuat undang-undang atau oleh pengadilan sebagai suatu dasar atau asas
yang penting bagi suatu negara dan semua masyarakat. Selanjutnya Pasal 4 ayat 2 Perma
No. 1 Tahun 1990 memberikan definisi mengenai apa yang dimaksud asas ketertiban
umum yaitu apa yang diartikan dengan sendi-sendi asasi dari seluruh sistem hukum dan
masyarakat di Indonesia.
Kriteria tertentu mengenai apakah suatu putusan arbitrase dapat dilaksanakan di
Indonesia dapat ditemukan dalam Pasal 3 Perma No. 1 Tahun 1990. Secara umum, pasal
ini merupakan syarat-syarat dalam peraturan ini untuk melaksanakan putusan arbitrase
asing. Syarat-syarat tersebut adalah:
a. putusan itu dijatuhkan oleh suatu badan arbitrase ataupun arbiter perorangan di
suatu negara yang dengan negara Indonesia ataupun bersama-sama dengan negara
Indonesia terikat dalam suatu konvensi internasional perihal pengakuan dan
pelaksanaan putusan arbitrase asing. Pelaksanaannya didasarkan atas dasar asas
timbal balik (resiprositas);
b. putusan-putusan arbitrase asing diatas hanyalah terbatas pada putusan-putusan
yang menurut ketentuan hukum Indonesia termasuk dalam ruang lingkup hukum
dagang;
c. putusan-putusan arbitrase asing di atas hanya dapat dilaksanakan di Indonesia
terbatas pada putusan-putusan yang tidak bertentangan dengan ketertiban umum;

2
Tineke Louise Tuegeh Longdong, Asas Ketertiban Umum dan Konvensi New York 1958, PT. Citra Adtya Bhakti,
Bandung, 1998, hlm. 24

2
d. suatu putusan arbitrase asing hanya dapat dilaksanakan di Indonesia setelah
memperoleh exequatur dari Mahkamah Agung RI.

2. Apa yang dimaksud dengan kedaulatan negara?

Pengertian kedaulatan negara dapat ditemukan dalam pendapat para ahli, salah
satunya adalah George Jellinek. Kedaulatan menurut George Jellinek adalah kekuatan
yang tidak diturunkan dari sesuatu kekuatan atau kekuasaan lain yang derajatnya lebih
tinggi. Kekuatan asli itu merupakan kekuasaan tertinggi dan diatasnya tidak ada
kekuasaan lain. Negara adalah organisasi yang dilengkapi dengan sesuatu kekuatan Asli.

Negara yang berdaulat adalah negara yang mampu membuat suatu keputusan
akhir tanpa dipengaruhi pihak atau otoritas lain, dan memperjuangkan haknya utnuk
memnentukan keputusan akhir tanpa harus mematuhi kehendak otoritas lain.3 Dengan
kata lain, negara yang berdaulat mempunyai kebebasan untuk melakukan berbagai
kegiatan kenegaraan sesuai dengan kepentinganya, asulkan tidak bertentangan dengan
kepentingan Negara lain dan hukum internasional.4

Dalam konteks pelaksanaan putusan arbitrase baik nasional maupun internasional,


suatu negara mempunyai kedaulatan terhadap putusan arbitrase itu. Kedaulatan yang
dimaksud adalah kebebasan apakah negara hendak melaksanakan atau menolak untuk
melaksanakan putusan arbitrase tersebut. Hal ini berhubungan dengan fakta bahwa suatu
negara yang berdaulat maka ia mempunyai hak-haknya, seperti yurisdiksi teritorial dan
mempertahankan negaranya.

Secara yuridis, kedaulatan negara Indonesia terhadap pelaksanaan putusan


arbitrase dapat ditemukan dalam Pasal 59, Pasal 61, dan Pasal 62 UU Arbitrase yang
menyatakan bahwa pelaksanaan putusan arbitrase didasarkan pada keputusan Ketua
Pengadilan Negeri. Kemudian terhadap putusan arbitrase Internasional, pelaksanaannya
didasarkan pada keputusan Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

3
Christopher M. Roy, Sovereignity, Intervention and the Law : Journal of International Studies, 1997, hlm.77
4
Jawahir Thantowi, Hukum Internasional Kontemporer, Refika Aditama, Jakarta, 2006, hlm. 69