Anda di halaman 1dari 48

MATERI KULIAH

PENYELENGGARAAN
PEMERINTAHAN DESA BERDASARKAN
UU NO. 6 TAHUN 2014

OLEH:
KRISHNO HADI
DOSEN ILMU PEMERINTAHAN
FISIP UMM
PENDAHULUAN
• Setelah tujuh tahun digodok dewan, rancangan Undang-Undang Desa
akhirnya disahkan menjadi undang-undang di rapat Paripurna Dewan
Perwakilan Rakyat, Rabu 18 Desember 2013.
• Pasang surut pengaturan desa oleh Pemerintah, mengindikasikan
bahwa desa memiliki peran yang tidak hanya penting melainkan
sangat strategis dalam tata pemerintahan nasional.
• Diskusi panjang mengenai posisi Desa dalam tata pemerintahan
nasional, telah hadir sejak zaman Belanda. Bahkan secara sepsifik
Belanda mengatur desa dengan Indlandsche Gemeente Ordonontie
(IGO- 1906) untuk desa-desa di Jawa, dan Indlandsche Gemeente
Ordonontie Buitengewesten (IGOB-1938) untuk desa-desa di luar jawa
terutama di Sumatra.
PRINSIP HUBUNGAN PUSAT DAERAH

UU NO. 22 TAHUN 1999 UU NO. 32 TAHUN 2004


• Prinsip-prinsip utama: • Prinsip-prinsip Utama:
1. Non Hierarchies 1. Hierarchies
2. Separateness 2. Integrated/Synergic
3. Demokratisasi 3. Demokratisasi
4. Partisipatif 4. Partisipatif
5. Otonomi Seluas-luasnya 5. Otonomi Seluas-luasnya

DISHARMONISASI HARMONISASI PUSAT-DAERAH


PUSAT-DAERAH
HAKEKAT DESA (1)
• Jika dilihat dari aspek eksistensi desa secara sosiologis, desa
adalah konstruksi masyarakat yang telah terbangun jauh
melebihi konstruksi masyarakat Indonesia itu sendiri.
• Oleh karena itu dalam konteks ini desa merupakan kesatuan
masyarakat yang sekaligus didalamnya merupakan satu
kesatuan masyarakat hukum yang memiliki ciri yang khas yang
membedakan desa yang satu dengan desa yang lainnya.
• Keberadaan desa yang mendahului keberadaan Pemerintahan
NKRI inilah, yang kemudian mengharuskan Pemerintah secara
konstitusional mengakui dan menghormati desa (Pasal 18 B
UUD 1945)
HAKEKAT DESA (2)
• Disamping konteks sosiologis, desa juga memiliki makna POLITIS.
• Ketika NKRI berdiri, maka secara politis desa adalah menjadi bagian
dari wilayah NKRI, yang secara politis tunduk dan patuh pada
konstitusi NKRI.
• Desa adalah sub sistem dari sistem pemerintahan Republik Indonesia.
• Sebagai sub sistem, desa adalah suatu unit pemerintahan yang berdiri
sendiri, yang berada dalam wilayah NKRI.
• Meski demikian diskusi panjang mengenai posisi desa dalam tata
pemerintahan telah dilakukan hingga lahirnya UU Desa yang baru
saja di sahkan oleh DPR pada 18 Desember 2013 yang lalu.
PERBANDINGAN PERATURAN MENGENAI DESA (1)
PEMBANDING UU No. 5/1979 UU No. 22/1999 UU No. 32/2004 UU No. 6 / 2014
Paradigma •Sentralistik • Desentral (Otonomi • Desentral (Otonomi • Desentral (Otonomi
Pengaturan •Uniformitas Asli) Asli) Asli)
Pemerintahan •Subordinatif • Diversity • Diversity • Diversity
Desa •Administratif • Mandiri • Mandiri • Mandiri
•Sub Sistem • Politik • Politik • Politik
• Bagian dari PEMDA • Administratif • Kultural
• Bagian dari PEMDA • Bukan Bagian dari
PEMDA
Pemerintah Desa Kepala Desa • Kepala desa dan • Kepala desa dan • Kepala desa dan
bersama dengan Perangkat desa Perangkat desa Perangkat desa
Lembaga (Eksekutif) (Eksekutif) (Eksekutif)
Musyawarah Desa • Badan Perwakilan • Badan • Badan
Desa (BPD) → Permusyawaratan Permusyawaratan Desa
Legislatif Desa Desa (BPD) → (BPD) → Legislatif
Legislatif Desa Desa
• Dan Musyawarah Desa
Masa Jabatan 8 Tahun (2 X) Paling lama 10 Th 6 Tahun (maks 2 X) 6 Tahun (maks 3 kali
Kepala Desa (Pasal 7) (atau 2 kali masa jab.) Pasal 204 masa jabatan)
Pasal 96 Pasal 39
PERBANDINGAN PERATURAN MENGENAI DESA (2)
PEMBANDING UU No. 5/1979 UU No. 22/1999 UU No. 32/2004 UU No. 6 / 2014
Kedudukan Desa • Kabupaten • Hanya • Bisa berada di • Bisa berada di
• Kotamadya berkedudukan di Kabupaten dan/atau Kabupaten dan/atau
• Berada langsung wilayah perdesaan Kota. Kota.
di bawah camat (Kabupaten)
• Desa yang di Kota,
akan diubah
menjadi kelurahan.
Perbandingan •Desa adalah unit • Desa adalah unit • Desa adalah unit • Desa adalah unit
Desa dan Pemerintahan pemerintahan pemerintahan pemerintahan otonom
Kelurahan otonom otonom otonom • Kelurahan bukan lagi
•Kelurahan • Kelurahan bukan • Kelurahan bukan lagi unit Pemerintahan,
adalah unit lagi unit unit Pemerintahan, melainkan wilayah
pemerintahan Pemerintahan, melainkan wilayah kerja perangkat
administratif melainkan wilayah kerja perangkat Daerah Kab./Kota
kerja perangkat Daerah Kab./Kota
Daerah Kab./Kota
PERBANDINGAN PERATURAN MENGENAI DESA (3)
PEMBANDING UU No. 5/1979 UU No. 22/1999 UU No. 32/2004 UU No. 6 / 2014
Perbandingan • Kelurahan • Mengenal Kawasan • Tidak mengenal • Tidak mengenal
Desa dan dianggap sebagai Perkotaan dan Kawasan kawasan perkotaan kawasan perkotaan dan
Kelurahan perkembangan Perdesaan dan perdesaan. perdesaan.
maju dari desa. •Kelurahan dianggap • Desa tetap boleh ada • Desa tetap boleh ada di
•Desa-desa dalam sebagai perkembangan di wilayah perkotaan wilayah perkotaan
perkembangannya maju dari desa. (Pemerintah Kota) (Pemerintah Kota)
akan diubah •Desa-desa dalam • Kelurahan dapat
menjadi kelurahan perkembangannya akan berubah menjadi Desa
diubah menjadi
kelurahan
Pendanaan Desa •Prinsip: PADesa, •Prinsip: PADesa, •Prinsip: PADesa, • Selain yang prinsip
Pempus, Pemda Tk Pempus, Pemprov, dan Pempus, Pemprov, • Ada ketegasan
I dan II Pemkab, Pihak ke 3 dan Pemkab, Pihak ke pemerintah untuk
•Besarnya tidak •Besarnya tidak diatur 3 memberikan dana ke
diatur tegas tegas •Besarnya tidak diatur desa → 10 % dana bagi
tegas hasil pajak dan retribusi
dan 10 % dari dana
Perimbangan
PERSPEKTIF PENGATURAN DESA
BERDASARKAN UU NO. 6 / 2014
TELAAH POLITIK DAN PROSPEK PEMERINTAHAN DESA
POSTUR UU DESA
Konsideran Menimbang : 4 butir

Konsideran Mengingat: Pasal 5, Pasal 18, Pasal 18B ayat (2), Pasal 20, dan
Pasal 22D ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945;

Bab : 16

Pasal : 122
PENDAHULUAN
• Dengan disahkannya UU yang baru tentang Desa pada 18 Desember 2013
yang lalu, memunculkan secercah harapan dan sekaligus kekhawatiran bagi
sejumlah kalangan berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan desa
ke depan.
• Terlepas dari permasalahan tersebut , hadirnya UU Baru tentang desa,
paling tidak telah mengembalikan kesadaran baru dari pemerintah tentang
eksistensi desa sebagaimana tertuang dalam konsideran menimbang pada
huruf a:
– bahwa Desa memiliki hak asal usul dan hak tradisional dalam mengatur dan mengurus
kepentingan masyarakat setempat dan berperan mewujudkan cita-cita kemerdekaan
berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
• Meskipun agak terlambat, karena eksistensi desa pernah hampir punah
pada saat diterapkannya UU No. 5 Tahun 1979, namun momentum
semacam ini tetap menjadi babak baru dalam penataan pemerintahan desa.
EKSISTENSI DESA HAMPIR PUNAH
• Sebagai bagian dari pembangunan nasional, Pembangunan Masyarakat Desa
(PMD) dikonseptualisasikan sebagai proses pengkonsolidasian berbagai wilayah
teritorial dan pengintegrasian kehidupan masyarakat dalam berbagai dimensi
(sosial, kultural, ekonomi maupun politik) ke dalam satu unit yang utuh.
• Dalam perspektif ini, program PMD yang dilakukan oleh pemerintah Orde Baru
mengandung dua proses yang berjalan serentak namun kontradiktif.
– Pertama, PMD merupakan proses "memasukkan Desa ke dalam negara", yaitu melibatkan
masyarakat Desa agar berperan serta dalam masyarakat yang lebih luas. Ini dilakukan
melalui pengenalan kelembagaan baru dalam kehidupan Desa dan penyebaran gagasan
modernitas.
– Kedua, PMD juga berwujud "memasukkan negara ke Desa". Ini adalah proses memperluas
kekuasaan dan hegemoni negara sehingga merasuk ke dalam kehidupan masyarakat Desa
dan sering mengakibatkan peningkatan ketergantungan Desa terhadapMochtar
negara.Mas’oed (1994)
APA YANG BARU?
• Beberapa hal baru dalam penataan pemerintahan desa yang penting
untuk dibahas dalam pertemuan ini adalah:
1. Prinsip baru dalam penyelenggaraan pemerintahan desa;
2. Pengakuan dan penghormatan terhadap desa-desa adat dengan segala hak
keistimewaannya;
3. Komitmen pemerintah untuk memberikan ruang bagi masyarakat desa untuk
turut serta (berpartisipasi langsung) dalam proses penyelenggaraan
pemerintahan desa;
4. Komitmen pemerintah dalam mengalokasikan dana untuk desa sebagai
konsekuensi adanya hak otonomi desa;
5. Format status desa bisa berubah:
1. Desa Menjadi kelurahan
2. Kelurahan menjadi Desa
3. Desa adat menjadi desa
4. Desa menjadi desa adat.
1. PENGERTIAN DESA
• Desa adalah desa dan desa adat atau • Makna umumnya adalah sama,
yang disebut dengan nama lain, namun ada hal yang baru yaitu:
selanjutnya disebut Desa, adalah adanya pengakuan desa adat
kesatuan masyarakat hukum yang menjadi bagian dari entitas unit
memiliki batas wilayah yang pemerintahan dalam tata
berwenang untuk mengatur dan pemerintahan RI.
mengurus urusan pemerintahan,
kepentingan masyarakat setempat • UUD 1945 Pasal 18 B ayat 2: Negara
berdasarkan prakarsa masyarakat, mengakui dan menghormati
hak asal usul, dan/atau hak kesatuan-kesatan masyarakat hukum
tradisional yang diakui dan adat beserta hak-hak tradisionalnya,
dihormati dalam sistem sepanjang masih hidup dan sesuai
pemerintahan Negara Kesatuan dengan perkembangan masyarakat
Republik Indonesia. dan prinsip NKRI ang diatur dalam
undang-undang.
2. ASAS PENGATURAN DESA
a. rekognisi; g. musyawarah; • Ada penekanan baru dalam prinsip
penyelenggaraan pemerintahan desa,
b. subsidiaritas; h. demokrasi; yakni prinsip rekognisi (pengakuan)
c. keberagaman; • Penerapan prinsip ini membawa
i. kemandirian; konsekuensi pada adanya pengakuan
d. kebersamaan; pemerintah terhadap
e. kegotongroyongan;
j. partisipasi; kesatuan-kesatuan masyarakat dengan
hak-hak adatnya, sepanjang masih
f. Kekeluargaan; k. kesetaraan; berlaku dan dijunjung tinggi oleh
masyarakat setempat.
l. pemberdayaan • Tujuan pengaturan desa: “memberikan
; dan pengakuan dan penghormatan atas
Desa yang sudah ada dengan
m. keberlanjutan. keberagamannya sebelum dan
sesudah terbentuknya Negara
Kesatuan Republik Indonesia;”
3. PENGAKUAN AKAN ADANYA DESA ADAT
• Pasal 6 menyebutkan • Akomodasi terhadap keberadaan desa adat dengan segala
bahwa: pengaturan yang masih berlaku.
(1) Desa terdiri atas Desa • Pengakuan dan penghormatan negara terhadap Desa dalam
dan Desa Adat. konstitusi sebenarnya nampak jelas (Yando Zakaria, 2002). Dalam
penjelasan Pasal 18 B disebutkan bahwa: Dalam territoir Negara
(2) Penyebutan Desa atau Indonesia terdapat lebih kurang 250 zelfbesturende landchappen
Desa Adat sebagaimana dan volksgetneenschappen, seperti Desa di Jawa dan Bali, negeri
dimaksud pada ayat (1) di Minangkabau, dusun dan marga di Palembang dan sebagainya.
disesuaikan dengan Daerah-daerah itu mempunyai susunan asli, dan oleh karenanya
penyebutan yang dapat dianggap sebagai daerah yang bersifat istimewa. Kalimat ini
berlaku di daerah menegaskan bahwa NKRI harus mengakui keberadaan
setempat. Desa-Desa di Indonesia yang bersifat beragam. Konsep
zelfbesturende landchappen identik dengan Desa otonom (local
self government) atau disebut Desa Praja yang kemudian dikenal
dalam UU No. 19/1965, yakni Desa sebagai kesatuan masyarakat
hukum yang berhak dan berwenang mengatur dan mengurus
rumah tangganya sendiri.
BENTUK PENGAKUAN NEGARA ATAS DESA ADAT
1. Nama Desa/Desa adat, 4. Pengakuan musyawarah desa
disesuaikan dengan sebutan asli seperti rembug desa (Pasal 54)
(Pasal 6 ayat 2)
5. Dapat membentuk lembaga adat
2. Nama-nama wilayah desa juga desa (Pasal 95)
disesuaikan dengan sebutan lain
atau yang berlaku sesuai dg adat 6. Pengaturan khusus desa adat
istiadat (Pasal 8 ayat 4) (Pasal 96 s/d pasal 111)

3. Pelaksanaan kewenangan 7. Kelembagaan, pengisian jabatan,


berdasarkan hak asal usul dan dan masa jabatan kepala desa
kewenangan berskala desa adat diatur secara adat (pasal
diserahkan ke desa (Pasal 20) 109)
4. RUANG PARTISIPASI LANGSUNG BAGI
MASYARAKAT DESA (1)
• Dengan lahirnya UU yang baru tentang Desa, dalam aspek
permusyawaratan disamping ada Badan permuswaratan desa (BPD)
juga ada mekanisme permusyawaratan, yang disebut dengan
Musyawarah desa, terutama untuk membahas hal-hal penting
berkaitan dengan:
a. penataan Desa;
b. perencanaan Desa;
c. kerja sama Desa;
d. rencana investasi yang masuk ke Desa;
e. pembentukan BUM Desa;
f. penambahan dan pelepasan Aset Desa; dan
g. kejadian luar biasa.
• (Pasal 54 ayat 2 UU Desa)
4. RUANG PARTISIPASI LANGSUNG BAGI
MASYARAKAT DESA (2)
BADAN
ITEM REMBUG DESA LMD PERWAKILAN PERMUSYAWARATA
N

Penentuan Dipilih oleh Ditetapkan secara


Ditentukan oleh masyarakat desa musyawarah
Pimpinan dan Musyawarah
Kepala Desa/Lurah /mufakat
anggota
Sejajar dan berada Sejajar dan berada
Musyawarah tertinggi Di bawah Kepala
Kedudukan terpisah terpisah
desa Desa (Legislatif) (Legislatif)
Kedudukan Kepala Sebagai pimpinan Ketua umum dan Terpisah (Kontrol) Terpisah (Mitra)
Desa rembug/musyawarah mendominasi
Terwakili (terlibat
Masy. terlibat semua
Keterlibatan Masy. Elit Desa langsung dlam Elit Desa
(KK) pemilihan)
Perwalian (Delegatif Perwakilan Perwalian
Deliberatif (Delegatif yang
Tipe Demokrasi yang tidak
(Musyawarah) tidak sempurna)
sempurna)
5. KOMITMEN UNTUK ALOKASI DANA LANGSUNG
DARI APBN (1)
• Pasal 73 menegaskan bahwa keuangan desa disamping bersumber
sebagaimana yang berlaku selama ini, ditegaskan juga soal:
(2) Alokasi anggaran yang bersumber dari Belanja Pusat dilaksanakan
dengan mengefektifkan program yang berbasis Desa secara merata
dan berkeadilan.
(3) Bagian hasil pajak daerah dan retribusi daerah Kabupaten/Kota
paling sedikit 10% (sepuluh perseratus) dari pajak dan retribusi
daerah.
(4) Alokasi dana Desa paling sedikit 10% (sepuluh perseratus) dari
dana perimbangan yang diterima Kabupaten/Kota dalam Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah setelah dikurangi Dana Alokasi
Khusus.
5. KOMITMEN UNTUK ALOKASI DANA LANGSUNG
DARI APBN (2)
• Sebagai konsekuensinya
– 10 % dari dana perimbangan sekitar Rp. 700 Juta s/d Rp. 1,4 Milliar per
tahun;
– Ditambah juga anggaran dari Provinsi dan Kabupaten

• Pendek kata, akan banyak dana mengalir ke desa → sehingga


dibutuhkan SDM desa yang berkualitas dan benar-benar mampu
mengelola keuangan desa.
• Dalam bidang pengawasan penggunaan keuangan negara oleh
Desa, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) diberikan peluang
untuk masuk ke Desa dalam rangka Pemeriksaan.
JANJI MANIS UU BARU TENTANG DESA

•Kepastian hukum adanya Desa adat dengan segala kekhususannya;

•Jaminan kepastian akan penghasilan Kepala Desa dan Perangkat Desa (dari dana
transfer Desa → semacam DAU di Kab./Kota)

•Masa jabatan Kepala Desa yang boleh 3 kali berturut-turut atau tidak berturut-turut
(maksimal 18 tahun)

•Kepastian keberlangsungan pembangunan desa alokasi dana desa yang bersumber


dari Pusat (APBN), APBD Provinsi, APBD Kab./Kota.
PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN
DESA
FORMAT PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DESA BERDASARKAN
UU NO. 6 TAHUN 2014 DAN PP NO. 43 TAHUN 2014 TENTANG
PERATURAN PELAKSANAAN UU NO. 6 TAHUN 2014
UMUM
• Format Desa, pada prinsipnya hampir sama dengan pengaturan
desa sebelumnya (dalam UU No. 32 Tahun 2004).
• Jika ada perubahan, maka hal yang paling menonjol adalah
perubahan format (bentuk dan status) desa. Berdasarkan Pasal
20 PP No, 43 Tahun 2014:
– Desa berubah menjadi kelurahan
– Kelurahan berubah menjadi desa
– Desa adat menjadi desa
– Desa menjadi Desa adat (Pasal 28 PP No, 43 Tahun 2014 )
STRUKTUR PEMERINTAHAN DESA
• PERANGKAT DESA (Pasal 48 UU No. 6 Tahun 2014, Pasal 61 PP
No. 43 Tahun 2014, dan Permendagri No. 84 Tahun 2015
Tentang SOTK Pemerintahan Desa), terdiri dari:
– Sekretaris Desa (Maks. 3 Kepala Urusan)
– Pelaksana Kewilayahan, dan
– Pelaksana Teknis (Maks 3 Seksi)
• Struktur Pemerintahan Desa berdasarkan UU No. 6 Tahun 2014
ada sedikit perubahan terutama dengan adamya Pelaksana
Teknis dalam bentuk SEKSI, yang langsung di bawah kepala desa
sebagai unsur pembantu kepala desa dalam penyelenggaraan
tugas operasional.
STRUKTUR PEMERINTAH DESA

1
•KEPALA DESA

•PERANGKAT DESA :
•1. Sekretaris Desa → Dibantu oleh unsur staf maksimal 3 bidang urusan
•2. Pelaksana Kewilayahan
•3. Pelaksana Teknis

2
PEMERINTAHAN DESA

•PEMERINTAH DESA
•BADAN PERMUSYAWARATAN DESA (BPD)
•MUSYAWARAH DESA
MUSYAWARAH DESA (1/2)
• Musyawarah Desa atau disebut dengan nama lain (Jawa: Rmbug
Desa), memiliki peran yang sangat penting sebagai cerminan
dari demokrasi asli di desa.
• Dalam pasal 54 UU No. 6 Tahun 2014 ayat (1) dinyatakan bahwa
Musyawarah desa merupakan forum permusyawaratan yang
diikuti oleh BPD, Pemdes, dan unsur masyarakat desa, untuk
memusyawarahkan hal-hal yang bersifat strategis dalam
penyelenggaraan pemerintahan desa.
• Hal-hal bersifat strategis, maksudnya adalah:
– Berskala luas, jangkauan waktu panjang;
– Menyangkut hajat hidup masyarakat desa secara keseluruhan;
MUSYAWARAH DESA (2/2)
• Hal-hal yang bersifat startegis tersebut meliputi:
a. penataan Desa;
b. perencanaan Desa;
c. kerja sama Desa;
d. rencana investasi yang masuk ke Desa;
e. pembentukan BUM Desa;
f. penambahan dan pelepasan Aset Desa; dan
g. kejadian luar biasa. [Pasal 54 Ayat (2) UU No. 6 Tahun 2014]
• Penyelenggaraan musyawarah desa adalah sekurang-kurangnya
sekali dalam setahun [Pasal 54 Ayat (2) UU No. 6 Tahun 2014]
• Penyelenggara Musyawarah desa adalah BPD difasilitasi oleh Pemdes,
dana diambil dari APB Desa.
BADAN PERMUSYAWARATAN DESA (BPD)
• Pengaturannya relatif sama, baik aspek tugas pokok maupun
fungsinya. Hanya beberapa tugas pokok yang berkaitan dengan
permasalahan strategis, maka BPD ada tugas tambahan yaitu
menyelenggarakan musyawarah desa.
• Penentuan keanggotaan BPD dapat dilakukan dengan dua cara:
– Dengan Pemilihan Langsung
– Dengan Musyawarah Mufakat
– Keanggotaan BPD hendaknya mengakomodasi keterwakilan perempuan.
– Ada mekanisme penggantian antar waktu
– Masa jabatan (6 tahun) bisa diangkat kembali (paling banyak 3 kali
masa jabatan) berturut-turut atau tidak.
UNSUR SEKRETATARIAT DESA
• Dipimpin oleh sekretaris desa
• Merupakan unsur staf kepala desa yang membantu kepala desa
di bidang administrasi desa;
• Sekretariat desa Pasal 3 Permendagri No. 38 Tahun 2015
– Maksimal 3 bidang urusan (Uurusan Tata Usaha dan Umum, Urusan
Keuangan, dan Urusan Perencanaan)
– Minimal 2 Urusan (Urusan Umum dan Perencanaan, dan Urusan
Keuangan)
UNSUR KEWILAYAHAN
• Pasal 4 Peremndagri No. 84 Tahun 2015
• Pelaksana Kewilayahan, merupakan unsur pembantu kepala
desa sebagai satuan tugas kewilayahan.
• Jumlahnya disesuaikan dengan kondisi georgrafis dan
proporsionalitas antara keuangan desa dan luas wilayah.
• Biasanya mengikuti pola dusun
• Pelaksana Kewilayahan disebut Kepala Dusun atau yang lainnya
UNSUR PELAKSANA TEKNIS
• Pelaksana teknis merupakan unsur pembantu kepala desa,
sebagai pelaksana tugas operasional. (Pasal 5 Permendagri No.
84 Tahun 2015)
• Pelaksana Teknis dalam bentuk seksi
• Maksimal 3 Seksi (Seksi Pemerintahan, Seksi Kesejahteraan, dan
Seksi Pelayanan)
• Maksimal 2 Seksi (Seksi Pemerintahan, dan Seksi Kesejahteraan
dan Pelayanan)
KEWENANGAN DESA (UMUM)
• Berdasarkan Pasal 33, PP No. 43 Tahun 2014, kewenangan desa
dapat digolongkan menjadi 4 (empat) bagian:
1. Kewenangan berdasarkan hak asal usul;
2. Kewenangan lokal berskala desa;
3. Kewenangan yang ditugaskan oleh pemerintah, pemerintah daerah
provinsi, atau pemerintah daerah kabupaten/kota;
4. kewenangan lain yang ditugaskan oleh Pemerintah, pemerintah daerah
provinsi, atau pemerintah daerah kabupaten/kota sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
KEWENANGAN DESA BERDASARKAN HAK ASAL
USUL
• Dalam Pasal 34 PP No. 43 Tahun 2014, ayat (1) Kewenangan
Desa berdasarkan hak asal usul sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 33 huruf a paling sedikit terdiri atas:
a. sistem organisasi masyarakat adat;
b. pembinaan kelembagaan masyarakat;
c. pembinaan lembaga dan hukum adat;
d. pengelolaan tanah kas Desa; dan
e. pengembangan peran masyarakat Desa.
KEWENANGAN LOKAL BERSKALA DESA
• Kewenangan lokal berskala Desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33
huruf b paling sedikit terdiri atas kewenangan:
a. pengelolaan tambatan perahu;
b. pengelolaan pasar Desa;
c. pengelolaan tempat pemandian umum;
d. pengelolaan jaringan irigasi;
e. pengelolaan lingkungan permukiman masyarakat Desa;
f. pembinaan kesehatan masyarakat dan pengelolaan pos pelayanan terpadu;
g. pengembangan dan pembinaan sanggar seni dan belajar;
h. pengelolaan perpustakaan Desa dan taman bacaan;
i. pengelolaan embung Desa;
j. pengelolaan air minum berskala Desa; dan
k. pembuatan jalan Desa antarpermukiman ke wilayah pertanian.
PENYELENGGARAAN KEWENANGAN
BERDASARKAN HAK ASAL USUL
• Berdasarkan Pasal 35 PP No. 43 Tahun 2014 Penyelenggaraan
kewenangan berdasarkan hak asal usul oleh desa adat paling
sedikit meliputi:
a. penataan sistem organisasi dan kelembagaan masyarakat adat;
b. pranata hukum adat;
c. pemilikan hak tradisional;
d. pengelolaan tanah kas desa adat;
e. pengelolaan tanah ulayat;
f. kesepakatan dalam kehidupan masyarakat desa adat;
g. pengisian jabatan kepala desa adat dan perangkat desa adat; dan
h. masa jabatan kepala desa adat.
PEMERINTAH DAN PEMERINTAHAN DESA
• Pemerintahan Desa adalah penyelenggaraan urusan
pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat dalam
sistem pemerintahan Negara Kesatuan RI (Pasal 1 ayat 2 PP No.
43 Tahun 2014)
• Pemerintah Desa adalah Kepala Desa atau yang disebut dengan
nama lain dan yang dibantu oleh perangkat Desa atau yang
disebut dengan nama lain. (Pasal 25 UU No. 6 Tahun 2014)
• Sedangkan Pasal 1 ayat 3 PP No. 43 Tahun 2014 menegaskan
bahwa Pemerintah Desa adalah kepala Desa atau yang disebut
dengan nama lain dibantu perangkat Desa sebagai unsur
penyelenggara Pemerintahan Desa.
PENGHASILAN PEMERINTAHAN DESA

UPAYA MEMPERBAIKI KESEJAHTERAAN PENYELENGGARA


PEMERINTAHAN DESA
PENGHASILAN PEMERINTAH DESA
• Sumber Penghasilan Pemerintah Desa:
– Desa (APB Desa, atau Bengkok dll.)
– Pemerintah Daerah (Kab./Kota)
– Pemerintah Pusat dari Alokasi Dana Desa dari APBN.
– Tunjangan dan penerimaan lain yang sah.

• Besaran Berapa?
– Khusus dari Desa dan Kab./Kota, besarannya berbeda-beda tergantung
kemampuan keuangan desa/keuangan daerah.
– Sumber dari Pusat besarannya ditentukan berdasarkan rasio ADD.
RASIO ADD TERHADAP PENGHASILAN PEMDES
KRITERIA BESARAN ADD DARI PUSAT PORSI PENGHASILAN
I < Rp. 500 Juta,- 60 %
II Rp. 500. Juta – Rp. 700 Juta 50 %
III Rp. 700 Juta – Rp. 900 Juta 40 %
IV > Rp.900 Juta 30 %

Catatan:
• Besaran Gaji ditetapkan dengan Peraturan Bupati/Walikota
BADAN PERMUSYAWARATAN DESA (BPD)
Ketentuan Pasal 78 PP No. 43 Tahun 2014
(1) Pimpinan dan anggota Badan Permusyawaratan Desa mempunyai hak
untuk memperoleh tunjangan pelaksanaan tugas dan fungsi dan
tunjangan lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Selain tunjangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Badan
Permusyawaratan Desa memperoleh biaya operasional.
(3) Badan Permusyawaratan Desa berhak memperoleh pengembangan
kapasitas melalui pendidikan dan pelatihan, sosialisasi, pembimbingan
teknis, dan kunjungan lapangan.
(4) Pemerintah, pemerintah daerah provinsi, dan pemerintah daerah
kabupaten/kota dapat memberikan penghargaan kepada pimpinan dan
anggota Badan Permusyawaratan Desa yang berprestasi.
PROSPEK DESA

ANALISIS DAMPAK MUNCULNYA UU YANG BARU TENTANG


DESA
PENDAHULUAN
• Hadirnya UU yang baru tentang desa, tentu akan membawa dampak
positif dan negatif;
• Hadirnya UU yang baru tentang desa tidak serta merta membawa
pada kebaikan penyelenggaraan pemerintahan desa (self regulation),
melainkan ditentukan oleh keberhasilan dalam implementasinya;
• Implementasi dari UU Desa sangat ditentukan tidak hanya
menyangkut kesiapan pemerintah desa saja, melainkan juga kejelasan
menganai peraturan pelaksanaan mengenai UU desa tersebut, baik
dalam bentuk Peraturan Pemerintah, Keputusan Presiden, Peraturan
Menteri Dalam Negeri, maupun peraturan Daerah;
• Intinya → masih perlu kerja keras untuk memperbaiki
penyelenggaraan pemerintahan desa.
IDENTIFIKASI PERMASALAHAN /KENDALA
IMPLEMENTASI UU DESA (1)
• Permasalahan yang dihadapi dalam penerapan UU Desa yang baru.
1. Keterbatasan sumber daya aparatur desa;
2. Kemampuan dalam perencanaan keuangan (manajemen keuangan) dari
aparatur desa;
3. Pemerintah Desa dan jabatannya menjadi ajang bureaucratic rent seeking
yang baru;
4. Ekspektasi yang tinggi dari masyarakat berkaitan dengan kehadiran UU Desa,
sementara tahun 2014 disibukkan oleh Pemilu, sehingga sangat mungkin jika
implementasi UU desa akan mengalami keterlambatan;
5. UU Desa lahir sebelum Revisi UU tentang Pemda diselesaikan. Jika perubahan
yang terjadi tidak konsisten/sejalan dengan filosofi penyelenggaraan
pemerintahan desa, bisa jadi dikemudian hari UU Desa akan direvisi lagi.
6. Dibutuhkan komitmen dari Pemerintah Kabupaten/Kota untuk secara serius
menata Desa berdasarkan prinsip rekognisi dan keragaman (bukan seragam
dan administratif)
IDENTIFIKASI PERMASALAHAN /KENDALA
IMPLEMENTASI UU DESA (2)
7. Kontestasi politik jabatan di desa semakin sengit sebagai
akibat dari “janji manis” jabatan Kepala Desa dan Perangkat
Desa.
8. Kontestasi yang sengit tersebut, sangat berpotensi menjadi
sumber konflik horisontal dan disharmonisasi masyarakat
desa.
9. Seperti yang dikhawatirkan banyak pihak adalah Desa sebagai
lahan korupsi yang baru, besarnya alokasi dana ke desa akan
berakibat pada semakin meluasnya peluang korupsi aparat
birokrasi.
Puncak Bestari, 07 Agustus 2014
• Pak Krishno Hadi HP.: 08123385763
• Email : krishno_hadi@yahoo.co.id