Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Elektronika dan instrumentasi merupakan cabang ilmu yang
menghubungkan antara pengetahuan elektronika dan instrumentasi dalam
suatu bidang industri. Instrumentasi juga dapat diartikan sebagai alat-alat
yang dipakai untuk pengukuran dan pengendalian dalam suatu sistem yang
lebih besar dan lebih kompleks. Secara umum instrumentasi mempunyai tiga
fungsi utama yaitu sebagai alat pengukuran, alat analisis dan alat kendali.
Sebagai alat pengukuran, efek pembebanan adalah salah satu akibat dari
proses pengukuran oleh alat ukur ammeter dan voltmeter yang menyebabkan
berkurangnya nilai arus yang mengalir pada sebuah rangkaian. Karena arus
yang mengalir pada rangkaian terbagi oleh nilai tahanan pada alat ukur
sehingga energi atau arus pada tahanan digunakan untuk mengoperasikan alat
ukur tersebut.
Jika efek pemebebanan pada ammeter semakin kecil nilai tahanan dalam
ammeter atau maksimal nol pada suatu rangkaian yang terpasang seri. Maka
persen kesalahan yang akan dihasilkan akan kecil karena nilai arus yang
mengalir pada nilai tahana kecil, maka pembacaan dapat mendekati nilai
aslinya. Untuk membuktikannya maka dilakukanlah percobaan efek
pembebanan agar pemahaman praktikan bertambah.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaiamana penyebab dan akibat pembebanan sebuah voltmeter pada
pengukuran tegangan ?
2. Berapa besar kesalahan dari pengukuran tegangan akibat efek pembebanan
sebuah voltmeter ?
C. Tujuan Percobaan
Tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan III ini agar mahasiswa :
1. Mampu menjelaskan penyebab dan akibat pembebanan sebuah voltmeter
pada pengukuran tegangan.
2. Mampu menghitung kesalahan dari pengukuran tegangan akibat efek
pembebanan sebuah voltmeter.
BAB II
LANDASAN TEORI

Saat sebuah voltmeter digunakan untuk mengukur tegangan pada komponen


rangkaian, rangkaian voltmeter itu sendiri dalam hubungan paralel dengan
komponen rangkaian. Sehingga kombinasi paralel dari dua resistor menjadi lebih
kecil saat voltmeter terhubung jika dibandingkan dengan tanpa voltmeter. Dengan
demikian tegangan pada komponen berkurang saat voltmeter dihubungkan
penurunan tegangan mungkin tidak berarti atau mungkin besar, tergantung dari
sensitivitas dari voltmeter yang digunakan (Cooper, 1999).
Suatu voltmeter DC yang sederhana dapat dibuat dengan memasang
hambatan secara seri dengan ampermeter. Bila teganngan pada ujung-ujung
masukan adalah V, arus yang mengalir melalui ampermeter I, hanmbatan yang
diseri adalah Rs maka hubungannya dapat dituliskan: V = (Rs + Rm) I. Persamaan
tersebut menunjukkan bahwa V merupakan fungsi dari I, artinya bahwa bila harga
arusnya I, tegangan pada ujung-ujungnya (V), maka V besarnya sama dengan (Rs
+ Rm) kali besarnya I (Waluyanti, 2008).
Sensivitas voltmeter arus searah merupakan faktor penting dalam pemilihan
sebuah alat ukur untuk pengukuran tegangan tertentu. Sebuah voltmeter sensivitas
rendah dapat memberikan pembacaan yang tepat sewaktu mengukur tegangan
dalam rangkaian-rangkaian tahanan rendah, tetapi jelas menghasilkan pembacaan
yang tidak dapat dipercaya dalam rangkaian-rangkaian tahanan tinggi. Bila sebuah
voltmeter dihubungkan antara dua titik di dalam sebuah rangkaian tahanan tinggi,
dia bertindak sebagai shunt bagi bagian rangkaian sehingga memperkecil tahanan
ekivalen dalam bagian rangkaian tersebut. Berarti voltmeter akan menghasilkan
penunjukan tegangan yang lebih rendah dari yang sebenarnya sebelum
dihubungkan. Efek ini disebut efek pembebanan instrument yang terutama
disebabkan oleh instrumen-instrumen sensitivitas rendah (Cooper, 1999).
Pembagian tegangan digunakan untuk membagi tegangan sumber atau
masukan menjadi beberapa bagian tegangan keluaran. Pembagian tegangan dapat
dilakukan dengan menggunakan dua atau lebih tahanan yang di rangkai secara
seri. Dalam gambar 3. 10 dapat diperhatikan arus I pada rangkaian mengalir ke
resistor R dan R 2. Tegangan
masukan E akan terbagi pada
bagian keluaran menjadi dua
bagian yaitu V1 dan V2. Besarnya
tegangan pada tiap resistor dapat
dihitung menggunakan hukum
Ohm V = IR, sehingga: V1 = IR1 dan V2 = IR2 (persamaan 1). Besarnya arus I
yang mengalir dalam rangkaian ditentukan oleh tegangan sumber dan nilai
E
tahanan total rangkaian: I = R (persamaan 2). Dengan mensubstitusi
1 +R2

persamaan 1 kedalam persamaan 2 maka besar tegangan pada tiap resistor : V1 =


R1 R2
E. dan V2 = R E. Maka dapat disimpulkan bahwa besarnya nilai
R1 +R2 1 +R2

tegangan pada sebuah resistor ditentukan oleh rasio atau perbandingan nilai
tahanan tersebut terhadap nilai tahanan dari total rangkaian. Untuk rangkaian yang
dibangun menggunakan resistor dengan nilai yang sama maka tegangan sumber
akan terbagi sama besar untuk tiap resistor (Yohandri, 2016).
Teknik pembagi tegangan ini tidak hanya dapat digunakan pada dua resistor
yang dipasang secara seri, namun juga dapat digunakna pada beberapa resistor.
Rangkaian pembagi tegangan
terkadang dihubungkan dengan
sebuah beban pada keluarannya. Efek
pemberian beban dapat memengaruhi
keluaran dari rangkaian pembagi
disebut juga dengan efek
pembebanan (loading effect). Rangkaian pembagi tegangan dengan R L seperti
terlihat dalam gambar 3.13. Berdasarkan gambar 3.13, tegangan keluaran tanpa
R2
beban dapa dihitung Vo = R E dan arus yang mengalir pada rangkaian tanpa
1 +R2

E
beban : I = R . Jika pada bagian keluaran rangkaian dipasang beban RL, maka
1 +R2

tahanan R2 akan parallel denga RL dan Tegangan dalam keadaan terbeban Vob
𝐸
dapat ditulis Vob = I (R2 // R1) dimana nilai I saat terbeban adalah I = R1 +(R2 // 𝑅1 )

jika I disubsitusi ke persamaan sebelumnya maka diperoleh tegangan keluaran


𝐸
dalam keadaan terbeban : Vob = (R2 // R1). Dari persamaan ini dapat
R1 +(R2 // 𝑅1 )

diketahui efek dari pemasangan beban dengan menghitung selisih tegangan


sebelum dan sesudah diberi beban βˆ†V = Vo βˆ’ Vob (Yohandri, 2016).

Efek pembebanan voltmeter


Tegangan sesungguhnya ( Vhitung)
𝑅2
Vh = Γ—Vs
𝑅1+𝑅2
Tahanan dalam voltmeter
Rv = V .S ; V = rangkuman voltmeter
Tahanan paralel
𝑅2 .𝑅𝑣
Rp =
𝑅2+𝑅𝑣
Tegangan yang terukur
𝑅𝑝
Vukur = Γ—Vs
𝑅1+𝑅𝑝
Presentase kesalahan pembacaan
π‘‰β„Žβˆ’π‘‰π‘’π‘˜π‘’π‘Ÿ
% Kesalahan Pembacaan = Γ—100% (Aidil, 2016: 39-40).
π‘‰β„Ž
Saat melakukan pengukuran perlu diperhatikan instrumen yang sesuai,
handal (reliable), dan cukup sensitive sehingga tidak menganggu yang diukur.
Kegagalan pengukuran bukan terletak pada instrumen yang ketelitiannya tinggi
melainkan pada pemakai yang tidak menggunakan atau memilih instrumen yang
tepat.. pemakai yang berpengalaman dapat menentukan tegangan sebenarnya
dengna menggunakan voltmeter yang tidak sensitive tetapi teliti. Oleh karena itu
ketelitian (accuracy) selalu diperlukan dalam penggunaan instrumen, sensitivitas
hanya diperlukan dalam pemakaian khusus dimana pembebanan mengganggu
yang akan diukur (Cooper,1985).
BAB III
METODE PERCOBAAN

A. Alat dan Bahan


1. Variabel power supply 1 buah
2. Basic meter (BM) 1 buah
3. Multimeter digital (DMM) 1 buah
4. Hambatan 100 Ω 2 buah
5. Hambatan 100 kΩ 2 buah
6. Kabel penghubung 7 buah
B. Identifikasi Variabel
1. Variabel manipulasi : Tegangan sumber (Vs)
2. Variabel kontrol : Hambatan (R1) dengan satuan Ohm (Ω)
Hambatan (R2) dengan satuan Ohm (Ω)
3. Variabel respon : Tegangan (V1) dengan satuan Volt (V)
Tegangan (V2) dengan satuan Volt (V)
C. Definisi Operasional Variabel
1. Tegangan Sumber (Vs) adalah nilai sumber tegangan yang dihasilkan dari
power supply yang diukur menggunakan multimeter digital dengan satuan
Volt (V).
2. Hambata adalah nilai resistansi dari sebuah resistor yang telah ditentukan
besarnya sesuai dengan spesifikasi pada kompenen itu sendiri, yang diukur
menggunkan ohmmeter dangan satuan Ω dan kΩ
3. Tegangan (V1) adalah beda potensial yang terukur pada R1 dengan
menggunakan multumeter digital dan basic meter dengan satuan Volt (V),
Tegangan (V2) adalah beda potensial yang terukur pada R2 dengan
menggunakan multumeter digital dan basic meter dengan satuan Volt (V),
D. PROSEDUR KERJA
1. Menyiapkan 2 (dua) buah hambatan 100 Ω terlebih dahulu.
2. Merangkai kedua hambatan seri tanpa power supply seperti pada gambar
berikut
3. Mengukur secara langsung tegangan keluaran dari power supply sebesar 2
Volt.
4. Melepaskan voltmeter beserta kabel penghubungnya dari terminal power
supply tanpa mengubah nilai tegangan yang diperoleh tadi.
5. Menghubungkan rangkaian seri kedua resistor pada sumber tegangan dan
mengukur besar tegangan jepit pada masing-masing hamabatana dengan
besicmeter (BM). Mencatat hasil pengukuran.
6. Dengan menggunakan tegangan keluaran yang sama dari power supply
sebesar 2 volt, menghubungkan rangkaian seri pada sumber tegangan dan
mengukur besar tegangan jepit pada masing-masing hambatan dengan
multimeter digital (DMM).
7. Mengukur tegangan keluaran power supply sebesar 4 volt dan 6 volt,
dengan rangkaian seri diabaikan terlebih dahulu. Tanpa mengubah
tegangan yang diukur sebelumnya, menghubungkan rangkaian kedua
hambatan pada sumber tegangan dan mengukur besar tegangan jepit pada
masing-masing hambatan dengan besic meter (BM) dan multimeter digital
(DMM).
8. Mengukur tegangan keluaran power supply sebesar 2 volt, 4volt, dan 6
volt dengan rangkaian seri di abaikan terlebih dahulu. Tanpa mengubah
tegangan yang diukur sebelumnya, menghubungkan rangkaian kedua
hambatan dengan nlai hambatan 100 kΩ pada sumber tegangan dan
mengukur besar tegangan jepit pada masing-masing hambatan dengan
basic meter (BM) dan multimeter digital (DMM).
9. Mengukur tegangan keluaran power supply sebesar 2 volt, 4 volt dan 6
volt dengan rangkaian seri diabaikan terlebih dahulu. Tanpa mengubah
tegangan yang diukur sebelumnya, menghubungkan rangkaian kedua
hambatan pada sumber tegangan dan mengukur besar tegangan jepit pada
masing-masing hambatan dengan basic meter (BM) dan multimeter digital
(DMM). Untuk hambatan 100 Ω sebagai R1 dan hambatan 100 kΩ sebagai
R2.
BAB IV
ANALISIS DAN PEMBAHASAN

A. ANALISIS
Hasil pengamatan
Arus defleksi penuh basic meter (Ifs) : 1 Γ— 104 A
Sensivitas basic meter (S) : 1 Γ— 104 Ω/V
Batas ukur basic meter (Vfs) : 10 V dan 10-1 V
Resistansi internal basic meter (RM) : 103 Ω dan 105 Ω
Resistansi internal voltmeter digital (RM) : 10 MΩ
Hambatan : |100kΩ±5| dan |100Ω±5|
Kegiatan 1 : Pengukuran untuk R1 = 100 Ω dan R2 = 100 Ω dirangkai seri

Tegangan Tegangan R1, V1 (V) Tegangan R2, V2 (V)


R1 R2
sumber,
(Ω) (Ω) BM DMM BM DMM
Vs (V)

2 |0,9Β±0,1| |0,82Β±0,01| |0,8Β±0,1| |0,88Β±0,01|

100 100 4 |1,4Β±0,1| |1,95Β±0,01| |1,8Β±0,1| |1,88Β±0,01|

6 |2,8Β±0,1| |3,08Β±0,01| |2,6Β±0,1| |2,94Β±0,01|

Kegiatan 2 : Pengukuran untuk R1 = 100kΩ dan R2 = 100kΩ dirangkai seri

Tegangan Tegangan R1, V1 (V) Tegangan R2, V2 (V)


R1 R2
sumber,
(Ω) (Ω) BM DMM BM DMM
Vs (V)

2 |1,2Β±0,1| |1,02Β±0,01| |0,8Β±0,1| |0,8 9Β±0,01|

100k 100k 4 |1,4Β±0,1| |1,99Β±0,01| |1,6Β±0,1| |1,91Β±0,01|

6 |2,4Β±0,1| |2,98Β±0,01| |2,4Β± 0,1| |2,95Β±0,01|


Kegiatan 3: Pengukuran untuk R1 = 100 Ω dan R2 = 100kΩ dirangkai seri

Tegangan Tegangan R1, V1 (V) Tegangan R2, V2 (V)


R1 R2
sumber,
(Ω) (Ω) BM DMM BM DMM
Vs (V)

2 |2Γ—10-3Β±0,1| |2,0Γ—10-3Β±0,01| |1,8Β± 0,1| |2,01Β±0,01|

100 100k 4 |3Γ—10-3Β±0,1| |3,9Γ—10-3Β±0,01| |3.8Β± 0,1| |3,85Β±0,01|

6 | 6Γ—10-3 Β± 0,1| |6,2Γ—10-3Β±0,01| |5,8Β±0,1| |5,98Β±0,01|

Analisi data
οƒ˜ Basic Meter
1. Tegangan Ideal
Kegiatan 1 : Pengukuran untuk R1 = 100 Ω dan R2 = 100 Ω dirangkai seri
a. Untuk R1 = |100 Ω Β± 5| dengan Vs = |2,0 Β± 0,1| Volt
1) Tegangan Ideal (Videal)
𝑅1
Videal = Vs (𝑅 )
1 +𝑅2

100
= 2 V (100+100)

=1V
2) Ketidakpastian (βˆ†Videal)
π‘‘π‘‰π‘‘β„Ž π‘‘π‘‰π‘‘β„Ž π‘‘π‘‰π‘‘β„Ž
π‘‘π‘‰π‘–π‘‘π‘’π‘Žπ‘™ = | | 𝑑𝑅1 + | βˆ’1
| 𝑑(𝑅1 + 𝑅2 ) + | | 𝑑𝑉𝑆
𝑑𝑅1 𝑑(𝑅1 + 𝑅2 ) 𝑑𝑉𝑆
𝑑(𝑉𝑠.𝑅1 (𝑅1 +𝑅2 )βˆ’1 ) 𝑑(𝑉𝑠.𝑅1 (𝑅1 +𝑅2 )βˆ’1 )
π‘‘π‘‰π‘–π‘‘π‘’π‘Žπ‘™ = | | 𝑑𝑅1 + | | 𝑑(𝑅1 +
𝑑𝑅1 𝑑(𝑅1 +𝑅2 )βˆ’1

𝑑(𝑉𝑠.𝑅1 (𝑅1 +𝑅2 )βˆ’1 )


𝑅2 ) + | | 𝑑𝑉𝑆
𝑑𝑉𝑆

π‘‘π‘‰π‘–π‘‘π‘’π‘Žπ‘™ = |𝑉𝑠. (𝑅1 + 𝑅2 )βˆ’1 |𝑑𝑅1 + |𝑉𝑠. 𝑅1 (𝑅1 + 𝑅2 )βˆ’2 )|𝑑(𝑅1 +


𝑅2 ) + |𝑅1 (𝑅1 + 𝑅2 )βˆ’1 |𝑑𝑉𝑆
π‘‘π‘‰π‘–π‘‘π‘’π‘Žπ‘™ 𝑉𝑠.(𝑅1 +𝑅2 )βˆ’1 𝑉𝑠.𝑅 (𝑅 +𝑅 )βˆ’2 )
= |𝑉𝑠.𝑅 βˆ’1 | 𝑑𝑅1
+ | 𝑉𝑠.𝑅1 (𝑅1 +𝑅2 )βˆ’1 | 𝑑(𝑅1 + 𝑅2 ) +
π‘‰π‘–π‘‘π‘’π‘Žπ‘™ 1 (𝑅1 +𝑅2 ) 1 1 2

𝑅 (𝑅1 +𝑅2 )βˆ’1


|𝑉𝑠.𝑅1 βˆ’1 | 𝑑𝑉𝑆
1 (𝑅1 +𝑅2 )
π‘‘π‘‰π‘–π‘‘π‘’π‘Žπ‘™ 𝑑𝑅 𝑑(𝑅1 +𝑅2 ) 𝑑𝑉
= | 𝑅 1| + | | + | 𝑉𝑠𝑆 |
π‘‰π‘–π‘‘π‘’π‘Žπ‘™ 1 𝑅1 +𝑅2

βˆ†π‘… βˆ†(𝑅1 +𝑅2 ) βˆ†π‘‰
βˆ†π‘‰π‘–π‘‘π‘’π‘Žπ‘™ = {| 𝑅 1 | + | | + | 𝑉 𝑆 |} π‘‰π‘–π‘‘π‘’π‘Žπ‘™
1 𝑅1 +𝑅2 𝑆

5Ω βˆ†(5 Ω + 5 Ω) 0.1 π‘‰π‘œπ‘™π‘‘


βˆ†π‘‰π‘–π‘‘π‘’π‘Žπ‘™ = {| |+ | |+ | |} 1 π‘‰π‘œπ‘™π‘‘
100 Ω 100 Ω + 100 Ω 2 π‘‰π‘œπ‘™π‘‘
βˆ†π‘‰π‘–π‘‘π‘’π‘Žπ‘™ =0.15 V
3) Kesalahan Relatif (KR)
βˆ†π‘‰π‘–π‘‘π‘’π‘Žπ‘™
KR = Γ— 100%
π‘‰π‘–π‘‘π‘’π‘Žπ‘™
0.15
= Γ— 100%
1

= 15% (2 AB)
4) Pelaporan Fisika (PF)
Videal = |1.0 Β± 0.1| V
Dengan cara yang sama diperoleh :
Kegi Penguku Vs Videal
βˆ†Videal (Volt) KR (%) AB PF Videal (Volt)
atan ran (Volt) (Volt)

2 1 0.15 15 2 |1.0 Β±0.1|


R1 =
4 2 0.125 6.25 2 |2.0 Β± 0.1|
1x10Β² Ω
6 3 0.116666667 3.888889 2 |3.0 Β± 0.1|
1.
1 0.15 15 2 |1.0 Β± 0.1|
R2 = 2
2 0.125 6.25 2 |2.0 Β± 0.1|
1x10Β² Ω 4
3 0.116666667 3.888889 2 |3.0 Β± 0.1|
6
2 1 0.050 5.01 2 |1.0 Β± 0.1|
R1 =
4 2 0.050 2.51 3 |2.00 Β± 0.05|
1x105 Ω
6 3 0.050 1.676667 3 |3.00 Β± 0.05|
2.
2 1 0.050 5.01 2 |1.0 Β± 0.1|
R2 =
4 2 0.050 2.51 3 |2.00 Β± 0.05|
1x105 Ω
6 3 0.050 1.676667 3 |3.00 Β± 0.05|
R1 = 2 0.002 0.0001 5.051 2 |2.0 Β± 0.1| 10-3
3.
1x102 Ω 4 0.004 0.0001 2.5501 3 |4.00 Β± 0.10| 10-3
6 0.006 0.0001 1.716767 3 |6.00 Β± 0.10|10-3
2 1.998 0.0999 5.00015 2 |1.0 Β± 0.1|
R2 =
4 3.996 0.0999 2.50015 3 |3.00 Β± 0.01|
1x105 Ω
6 5.994 0.0999 1.666817 3 |5.00 Β± 0.01|

2. Tegangan Akibat Pembebanan


Kegiatan 1 : Pengukuran untuk R1 = 100 Ω dan R2 = 100 Ω dirangkai seri
a. Untuk R1 = |100 Ω Β± 5| dengan Vs = |2.0 Β± 0.1| Volt
1) Tegangan Akibat Pembebaban (VAB)
𝑅𝑀
VAB = Videal (𝑅 )
𝑀 +π‘…π‘‡β„Ž

100000
= 1 V (100000+50)

= 0.9995 V
2) Ketidakpastian (βˆ†VAB)
βˆ†π‘‰
βˆ†VAB = {| 𝑉 π‘–π‘‘π‘’π‘Žπ‘™ |} Γ—VAB
π‘–π‘‘π‘’π‘Žπ‘™

0.15
= {| |} Γ— 1
1

= 0.15
3) Kesalahan Relatif (KR)
βˆ†π‘‰π΄π΅
KR = Γ— 100%
𝑉𝐴𝐡
0.15
= Γ— 100%
1

= 15 % (2 AB)
4) Pelaporan Fisika (PF)
VAB = |1.0 Β± 0.1| V
Dengan cara yang sama diperoleh :
Kegiata Penguku VAB βˆ†VAB
KR (%) AB PF VAB (Volt)
n ran (Volt) (Volt)

0.9995 0.149925 15 2 |1.0 Β± 0.1|


R1 =
1. 1.999 0.1249375 6.25 3 |2.00 Β± 0.12|
1x10Β² Ω
2.998501 0.1166084 3.8889 3 |3.00 Β± 0.11|
0.9995 0.149925 15 2 |1.0 Β± 0.1|
R2 =
1.999 0.1249375 6.25 3 |2.00 Β± 0.12|
1x10Β² Ω
2.998501 0.1166084 3.8889 3 |3.00 Β± 0.11|
0.0333333 |6.7 Β± 0.3|10-1
0.666667 7.50 2
33
R1 =
0.0333333 |1.00 Β± 0.03|
1.333333 1.88 3
1x105 Ω 33
0.0333333 |2.00 Β± 0.03|
2 0.83 3
2. 33
0.0333333 |6.7 Β± 0.3| 10-1
0.666667 7.50 2
33
R2 =
0.0333333 |1.00 Β± 0.03|
1.333333 1.88 3
1x105 Ω 33
0.0333333 |2.00 Β± 0.03|
2 0.83 3
33
0.002000 0.000101 5.050 2 |2.0 Β± 0.1| 10-3
R1 =
0.004000 0.000102 2.550 3 |4.00 Β±0.10| 10-3
1x10 Ω
2

0.006000 0.000103 1.717 3 |6.00 Β±0.10| 10-3


3.
1.998000 0.099903 5.000 2 |2.0 Β± 0.1|
R2 =
3.996000 0.099906 2.500 3 |4.00 Β± 0.01|
1x105 Ω
5.993999 0.099909 1.667 3 |6.00 Β± 0.01|

3. Persentase Kesalahan
Kegiatan 1 : Pengukuran untuk R1 = 100 Ω dan R2 = 100 Ω dirangkai seri
a. Untuk R1 = |100 Ω Β± 5| dengan Vs = |2,0 Β± 0,1| Volt
π‘‰π‘–π‘‘π‘’π‘Žπ‘™ βˆ’ π‘‰π‘šπ‘’π‘Žπ‘ 
% Error =| |Γ— 100%
π‘‰π‘–π‘‘π‘’π‘Žπ‘™
1βˆ’0.9
=| | Γ— 100%
1
0.1
= | 1 | Γ— 100%

= 10%
Dengan cara yang sama diperoleh:

Kegiatan Pengukuran Videal (Volt) Vmeas (Volt) % Error

1. R1 = 1x10Β² Ω 1 0.9 10
2 1.4 30
3 2.8 6.666667
1 0.8 20
R2 = 1x10Β² Ω 2 1.8 10
3 2.6 13.33333
1 1.2 20
R1 = 1x105 Ω 2 1.4 30
2. 3 2.4 20
1 0.8 20
R2 = 1x105 Ω 2 1.6 20
3 2.4 20
0.001998 0.002 0.1
R1 = 1x102 Ω 0.003996 0.003 24.925
3. 0.005994 0.006 0.1
1.998002 1.8 9.91
R2 = 1x105 Ω 3.996004 3.8 4.905
5.994006 5.8 3.236667

4. Persentase Perbedaan
Kegiatan 1 : Pengukuran untuk R1 = 100 Ω dan R2 = 100 Ω dirangkai seri
a. Pengukuran R1 = 100 Ω dengan Vs = 2 Volt
𝑉𝐴𝐡 βˆ’ π‘‰π‘šπ‘’π‘Žπ‘ 
% Diff =| Μ…
| Γ— 100%
𝑉
1βˆ’0.9
= | 0.95 | Γ— 100%
0.1
= |0.95| Γ— 100%

= 10.5%
Dengan cara yang sama diperoleh

Kegiata Pengukuran VAB (Volt) Vmeas (Volt) Vaverg (Volt) % Diff


n
1 0.9 0.95 10.53
R1 = 1x10Β² Ω 2 1.4 1.7 35.29
1. 2.999999 2.8 2.8999995 6.90
1 0.8 0.9 22.22
R2 = 1x10Β² Ω 2 1.8 1.9 10.53
2.999999 2.6 2.7999995 14.29
2. 1 1.2 1.1 18.18
R1 = 1x105 Ω 2 1.4 1.7 35.29
3 2.4 2.7 22.22
1 0.8 0.9 22.22
R2 = 1x105 Ω 2 1.6 1.8 22.22
3 2.4 2.7 22.22
0.001998 0.002 0.001999 0.10
R1 = 1x10Β² Ω 0.003996 0.003 0.003498 28.47
3. 0.005994 0.006 0.005997 0.10
1.998002 1.8 1.899001 10.43
R2=1x105 Ω 3.996004 3.8 3.898002 5.03
5.994005 5.8 5.8970025 3.29

οƒ˜ Digital Multimeter
1. Tegangan Ideal
Kegiatan 1 : Pengukuran untuk R1 = 100 Ω dan R2 = 100 Ω dirangkai seri
a. Untuk R1 = |100 Ω Β± 5| dengan Vs = |2,0 Β± 0,1| Volt
1) Tegangan Ideal (Videal)
𝑅1
Videal = Vs (𝑅 )
1 +𝑅2

100
= 2 V (100+100)

=1V
2) Ketidakpastian (βˆ†Videal)
βˆ†π‘… βˆ†(𝑅1 +𝑅2 ) βˆ†π‘‰
βˆ†π‘‰π‘–π‘‘π‘’π‘Žπ‘™ = {| 𝑅 1 | + | | + | 𝑉 𝑆 |} π‘‰π‘–π‘‘π‘’π‘Žπ‘™
1 𝑅1 +𝑅2 𝑆

5Ω βˆ†(5 Ω+5 Ω) 0.01 π‘‰π‘œπ‘™π‘‘


βˆ†π‘‰π‘–π‘‘π‘’π‘Žπ‘™ = {|100 Ω| + |100 Ω+100 Ω| + | |} 1 π‘‰π‘œπ‘™π‘‘
2 π‘‰π‘œπ‘™π‘‘

βˆ†π‘‰π‘–π‘‘π‘’π‘Žπ‘™ = 0.105 V
3) Kesalahan Relatif (KR)
βˆ†π‘‰π‘–π‘‘π‘’π‘Žπ‘™
KR = Γ— 100%
π‘‰π‘–π‘‘π‘’π‘Žπ‘™
0.105
= Γ— 100%
1

= 10.5 % (2 AB)
4) Pelaporan Fisika (PF)
Videal = |1.0 Β± 0.1| V
Dengan cara yang sama diperoleh :
Kegi Penguk Vs Videal βˆ†Videal
KR (%) AB PF Videal (Volt)
atan uran (Volt) (Volt) (Volt)
R1 = 2 1 0.105 10.5 2 |1.0 Β± 0.1|
1x10Β² 4 2 0.205 10.25 2 |2.0 Β± 0.2|
Ω 6 3 0.305 10.16667 2 |3.0 Β± 0.3|
1.
R2 = 2 1 0.105 10.5 2 |1.0 Β± 0.1|
1x10Β² 4 2 0.205 10.25 2 |2.0 Β± 0.2|
Ω 6 3 0.305 10.16667 2 |3.0 Β± 0.3|
R1 = 2 1 0.0051 0.51 3 |1.00 Β± 0.01|
1x105 4 2 0.0052 0.26 4 |2.000 Β± 0.005|
Ω 6 3 0.0053 0.176667 4 |3.000 Β± 0.005|
2.
R2 = 2 1 0.0051 0.51 3 |1.00 Β± 0.01|
1x105 4 2 0.0052 0.26 4 |2.000 Β± 0.005|
Ω 6 3 0.0053 0.176667 4 |3.000 Β± 0.005|

2 0.000110 |2.00 Β± 0.01| 10-3


R1 = 0.001998 5.50999 2
09
1x102 4 0.000210 |4.00 Β± 0.01| 10-3
0.003996 5.25999 2
19
Ω 0.000310
6 0.005994 5.176657 2 |6.00 Β± 0.01|10-3
3. 29
2 0.010289 |2.00 Β± 0.0 1|
R2 = 1.998002 0.51499 3
51
1x105 4 0.010589 |4.000 Β± 0.001|
3.996004 0.26499 4
01
Ω 0.010888
6 5.994006 0.181657 4 |6.000 Β± 0.001|
51
2. Tegangan Akibat Pembebanan
Kegiatan 1 : Pengukuran untuk R1 = 100 Ω dan R2 = 100 Ω dirangkai seri
a. Untuk R1 = |100 Ω Β± 5| dengan Vs = |2.0 Β± 0.1| Volt
1) Tegangan Akibat Pembebaban (VAB)
10000000
VAB = Videal (10000000+50)
100000
= 1 V (100000+50)

= 0.999995 V
2) Ketidakpastian (βˆ†VAB)
βˆ†π‘‰
βˆ†VAB = {| 𝑉 π‘–π‘‘π‘’π‘Žπ‘™ |} Γ—VAB
π‘–π‘‘π‘’π‘Žπ‘™

0.105
= {| |} Γ— 0.999995
1

= 0.00599997 V
3) Kesalahan Relatif (KR)
0.00599997
KR = Γ— 100%
0.999995
0.00599997
= Γ— 100%
0.999995

= 0.6 % (3 AB)
4) Pelaporan Fisika (PF)
VAB = |1.00 Β± 0.01| V
Dengan cara yang sama diperoleh :
Kegiata Penguk
VAB (Volt) βˆ†VAB (Volt) KR (%) AB PF VAB (Volt)
n uran

R1 = 0.999995 0.00599997 0.6 3 |1.00 Β± 0.01|

1x10Β² 1.99999 0.00699997 0.35 3 |2.00 Β± 0.01|

Ω 0.2666 |3.000 Β± 0.008|


2.999985 0.00799996 4
1. 67
R2 = 0.999995 0.00599997 0.6 3 |1.00 Β± 0.01|

1x10Β² 1.99999 0.00699997 0.35 3 |2.00 Β± 0.01|

Ω 0.2666 |3.000 Β± 0.008|


2.999985 0.00799996 4
67
R1 = 0.995025 0.00497612 0.5001 3 |1.00 Β± 0.01|

1x105 1.99005 0.00497711 0.2501 4 |2.000 Β± 0.005|

Ω 0.1667 |3.000 Β± 0.005|


2.985075 0.00497811 4
2. 67
R2 = 0.995025 0.00497612 0.5001 3 |1.00 Β± 0.01|

1x105 1.99005 0.00497711 0.2501 4 |2.000 Β± 0.005|

Ω 0.1667 |3.000 Β± 0.005|


2.985075 0.00497811 4
67
R1 = 0.001998 0.000011 0.5501 3 |2.00 Β± 0.01| 10-3
3. 1x102 |4.000 Β± 0.001|
0.03996 0.000012 0.3001 4
Ω 10-3
|6.000 Β± 0.001|
0.2167
0.005994 0.000013 4
67 10-3
0.5001 |2.00 Β± 0.01|
R2 = 1.998002 0.009993 3
5
1x105 0.2501 |4.000 Β± 0.001|
3.996004 0.009996 4
5
Ω 0.1668
5.994006 0.009999 4 |6.000 Β± 0.001|
17
3. Persentase Kesalahan
Kegiatan 1 : Pengukuran untuk R1 = 100 Ω dan R2 = 100 Ω dirangkai seri
a. Untuk R1 = |100 Ω Β± 5| dengan Vs = |2,0 Β± 0,1| Volt
π‘‰π‘–π‘‘π‘’π‘Žπ‘™ βˆ’ π‘‰π‘šπ‘’π‘Žπ‘ 
% Error =| |Γ— 100%
π‘‰π‘–π‘‘π‘’π‘Žπ‘™
1βˆ’0.82
=| | Γ— 100%
1
0.18
=| | Γ— 100%
1

= 18%
Dengan cara yang sama diperoleh:

Kegiatan Pengukuran Videal (Volt) Vmeas (Volt) % Error


1 0.82 18
R1 = 1x10Β² Ω 2 1.95 2.5
1. 3 3.08 2.666667
1 0.88 12
R2 = 1x10Β² Ω 2 1.88 6
3 2.94 2
1 1.02 2
R1 = 1x105 Ω 2 1.99 0.5
2. 3 2.98 0.666667
1 0.89 11
R2 = 1x105 Ω 2 1.91 4.5
3 2.95 1.666667
0.001998 0.002 0.1
R1 = 1x102 Ω 0.003996 0.0039 2.4
3. 0.005994 0.0062 3.4
1.998002 2.01 0.6
R2 = 1x105 Ω 3.996004 3.85 3.7
5.994006 5.98 0.2
4. Persentase Perbedaan
Kegiatan 1 : Pengukuran untuk R1 = 100 Ω dan R2 = 100 Ω dirangkai seri
a. Pengukuran R1 = 100 Ω dengan Vs = 2 Volt
𝑉𝐴𝐡 βˆ’ π‘‰π‘šπ‘’π‘Žπ‘ 
% Diff =| Μ…
| Γ— 100%
𝑉
1βˆ’0.9
= | 0.95 | Γ— 100%
0.1
= |0.95| Γ— 100%

= 10.5%
Dengan cara yang sama diperoleh

Kegiata Pengukuran VAB (Volt) Vmeas (Volt) Vaverg (Volt) % Diff


n
0.999995 0.179995 0.9099975 19.78
R1 = 1x10Β² Ω 1.99999 0.04999 1.974995 2.53
1. 2.999985 -0.080015 3.0399925 2.63
0.999995 0.119995 0.9399975 12.77
R2 = 1x10Β² Ω 1.99999 0.11999 1.939995 6.19
2.999985 0.059985 2.9699925 2.02
0.995025 -0.024975 1.0075125 2.48
R1 = 1x105 Ω 1.99005 0.00005 1.990025 0.00
2. 2.985075 0.005075 2.9825375 0.17
0.995025 0.105025 0.9425125 11.14
R2 = 1x105 Ω 1.99005 0.08005 1.950025 4.11
2.985075 0.035075 2.9675375 1.18
0.001998 0.002 0.001999 0.10
R1 = 1x10Β² Ω 0.03996 0.0039 0.003948 2.43
3. 0.005994 0.0062 0.006097 3.38
1.998002 2.01 2.004001 0.60
R2=1x105 Ω 3.996004 3.85 3.923002 3.72
5.994006 5.98 5.987003 0.23
B. PEMBAHASAN
Efek pembebanan pada tegangan adalah dimana pada suatu rangkaian harga
resistor jauh lebih besar daripada harga hambatan pada suatu alat ukur. Sehingga
alat ukur menjadi terbebani dan terjadi kesalahan pada pengukuran tegangan. Efek
pembebanan mengakibatkan terjadinya perbedaan hasil pengukuran dengan
multimeter dan hasil secara perhitungan. Hal ini mungkin disebabkan nilai resistor
lebih besar dari nilai hambatan pada alat ukur tersebut, sehingga alat ukur
terbebani dan terjadi kesalahan pada pengukuran tegangan.
Pada percobaan ini kami menggunakan hambatan sebesar 100 Ω, 100 Ω, 100
kΩ dan 100 kΩ, menggunakan alat ukur Basicmeter (BM) dan Multimeter digital
(DMM). Untuk basicmeter dan multimeter digital pada kegiatan satu digunakan
hambatan R1 dan R2 sebesar 100 Ω. Kegiatan dua digunakan hambatan R1 dan R2
sebesar 100 kΩ sedangkan pada kegiatan tiga digunakan hambatan R1 sebesar 100
Ω dan R2 sebesar 100 kΩ. Berdasarkan teori, jika resistansi R1 dan R2 sama
tegangannya akan tetap sama dan jika dijumlahkan hasilnya akan sama dengan
jumlah tegangan sumber. Pada percobaan ini, tegangan yang diperoleh pada R 1
dan R2 sama tetapi banyak data yang diperoleh hasil jumlah R1 dan R2 tidak sama
dengan jumlah tegangan sumber.
Berdasarkan hasil pengamatan dengan menggunkan basic meter (BM)
diperoleh persentase kesalahan (%Error) tertinggi untuk setiap kegiatan yaitu
30%, 30% dan 24%. Adapun dengan menggunakan digital multimeter (DMM)
diperoleh persentase kesalahan (%Error) tertinggi untuk setiap kegiatan yaitu
18%, 11% dan 3.43%. Semakin besar pembebanan pada voltmeter maka semakin
besar pula persentase kesalahan (error) begitupun sebaliknya.
BAB V
PENUTUP

A. KESIMPULAN
1. Pembebanan pada tegangan terjadi apabila nilai resistansi lebih besar dari
hambatan dalam voltmeter. Hal ini terjadi karena apabila resistansinya
lebih besar daripada hambatan dalam maka arus listrik akan cenderung
mengalir ke voltmeter. Hal ini disebabkan karena arus akan mengalir pada
hambatan yang lebih rendah dari hambatan yang tinggi.
2. Setelah melakukan percobaan maka diperoleh besar kesalahan dari
pengukuran tegangan akibat efek pembebanan sebuah volmeter yaitu
dengan menggunkan basic meter (BM) diperoleh persentase kesalahan
(%Error) tertinggi untuk setiap kegiatan yaitu 30%, 30% dan 24%. Adapun
dengan menggunakan digital multimeter (DMM) diperoleh persentase
kesalahan (%Error) tertinggi untuk setiap kegiatan yaitu 18%, 11% dan
3.43%.
B. SARAN
1. Praktikan, diharapkan agar memperhatikan penjelasan dan pengarahan dari
pembimbing, dan lebih berhati-hati serta fokus pada saat praktikum
terutama dalam pengambilan data agar praktikum bisa berjalan dengan
baik dan hasil yang diperoleh sesuai harapan.
2. Diharapakn untuk mempelajari dan mengetahui rangkaian yang akan
dilakukan pada praktikum ini, agar tidak terjadi kesalahan dalam
pengambilan data.
3. Disarankan untuk melakukan pemeriksaan dan pemeliharaan terhadap alat-
alat serta kelengkapan laboratorium, karena beberapa alat seperti kabel
penghubung banyak yang sudah tidak berfungsi dengan baik, sehingga
baik pembimbing maupun praktikan tidak kewalahan dan kehabisan waktu
untuk pengambilan data
DAFTAR PUSTAKA

Cooper, William D.1985.Instrumentasi Elektronik dan Teknik Pengukuran.


Jakarta:Erlangga.
Cooper, William David. 1999. Instrumentasi Elektronik dan Teknik Pengukuran.
Jakarta: Erlangga.
Waluyanti, Sri. dkk. 2008. Alat Ukur dan Teknik Pengukuran Jilid 1. Jakarta:
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan.
Yohandri dan Arizal. 2016. Elektronika Dasar 1. Jakarta: Kencana.
nilainya berada diantara nilai minimum dan maksimumnya, untuk R1
dengan nilai resistansi 0.990 kΩ berada diantara nilai minimum dan
maksimum yaitu 0.973 kΩ dan 1.007 kΩ lalu untuk R2 5.6 kΩ juga berada
diantara nilai minimum dan maksimum yaitu 5.32 kΩ dan 5.56 kΩ dan untuk
R3 9.86 kΩ juga berada diantara nilai minimum dan maksimumnya yaitu 9.69
kΩ dan 10.3 kΩ.
Pada kegiatan ketiga sesuai hukum kirchoff kita memanfaatkan nilai kuat
arus dan beda potensial untuk mencari nilai hambatannya. Dimana untuk
ketelitian voltmeter yaitu (0.9% + 2 digit) dan ketelitian ammeter yaitu (1.4%
+ 3 digit) dari hasil pengukuran nilai V1, V2 dan V3 masing masing yaitu
9.75 V, 9.74 V dan 9.75 V dengan toleransi masing masing 0.11 V, 0.11 V
dan 0.11 V. Sementara untuk nilai kuat arus diperoleh A1, A2 dan A3 masing
masing 1.79 mA, 9.88 mA dan 0.99 mA sementara nilai toleransinya yaitu
0.06 mA, 0.17 mA dan 0.04 mA. Dari nilai kuat arus dan beda potensial
secara perhitungan diperoleh nilai hambatan R1, R2 dan R3 masing masing
5.45 kΩ, 0.99 kΩ dan 9.85 kΩ dengan toleransi masing masing yaitu 0.25
kΩ, 0.03 kΩ dan 0.50 kΩ . Untuk R1 dengan nilai resistansi 5.45 kΩ berada
diantara nilai minimum dan maksimum yaitu 5.2 kΩ dan 5.7 kΩ lalu untuk
R2 0.99 kΩ juga berada diantara nilai minimum dan maksimum yaitu 0.96 k
Ω dan 1.02 kΩ dan untuk R3 9.85 kΩ juga berada diantara nilai minimum
dan maksimumnya yaitu 9.35 kΩ dan 10.35 kΩ.
BAB V
PENUTUP

A. KESIMPULAN
1. Prinsip dasar pengukuran tegangan dengan menggunakan multimeter
digital yaitu merangkai parallel resistor dengan power supply. Untuk
pengukuran arus multimeter dirangkai secara seri dengan power supply
dan resistor. Adapun resistansi dapat diukur secara langsung menggunakan
ohmmeter atau hukum ohm.
2. Untuk menentukan resistansi sebuah resistor beserta toleransinya
berdasarkan nilai yang tertera dapat dilihat pada spesifikasi resistor
tersebut setelah itu hitung nilai toleransi sesuai dengan nilai huruf yang
tertera pada resistor. Adapun dengan pembacaan langsung menggunakan
multimeter digital nilai resistansi yang diperoleh dapat langsung dilihat
hasilnya namun untuk mengetahui nilai toleransinya maka nilai resistansi
yang terukur harus dikalikan dengan ketelitian alat ukur yang digunakan
Dan dengan menggunakan hukum Ohm maka resistor dirangkai secara
parallel dengan voltmeter dan secara seri dengan ampermeter. Kemudian
nilai dari masing-masing alat ukur digunakan pada hukum ohm untuk
mendapatkan nilai resistansi dan toleransinya.
B. SARAN
Diharapkan kedepannya praktikan lebih terampil dalam melakukan sebuah
pengukuran agar hasil pengukuran dan analisis pengukuran yang di
perolehnya dapat lebih baik dan ideal.

Anda mungkin juga menyukai