Anda di halaman 1dari 6

HAIFA RAMADHANI ANNISA

HUKUM EKONOMI / B / 2016200209

15 MEI 2019

1. Indonesia adalah negara hukum, hal ini ditegaskan dalam Pasal 1 ayat (3) UUD 1945
sebagai landasan hukum tertinggi di Indonesia yang berbunyi, “Negara Indonesia
adalah negara Hukum.” Implementasi konsep Negara hukum dalam praktik
penyelenggaraan Negara menempatkan hukum sebagai aturan main dalam rangka
mewujudkan tujuan Indonesia. Hukum adalah supreme yang harus ditaati oleh setiap
warga Negara dan harus ditegakkan oleh Negara dalam rangka kehidupan berbangsa,
bernegara dan bermasyarakat.1 Penerapan hukum sebagai aturan main juga termasuk
pada bidang Ekonomi.
Implementasi kedua konsep (ekonomi dan hukum) dalam memandang tujuan dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara seringkali mendikotomi berbagai program
perencanaan dan pelaksanaan arah pembangunan suatu bangsa, yang pada akhirnya
akan menimbulkan conflict of interest. Mengingat dalam konsep ekonomi, motif untuk
melakukan segala kegiatan ekonomi adalah untuk mendapatkan laba sebesar-
besarnya. Perbedaan pandangan ini kemudian berpotensi menimbulkan kondisi
ketidakadilan dan ketidakpastian dalam sudut pandang lain.
Dipengaruhi juga oleh perkembangan jaman, globalisasi ekonomi dan perdagangan
bebas dunia menyebabkan banyaknya investasi-investasi asing yang tentunya bagus
untuk pembangunan ekonomi di suatu negara. Tetapi di sisi lain, keberadaan investasi
asing tersebut dapat menyingkirkan industri kecil di negara-negara berkembang dan
juga menambah ketergantungan ekonomi negara-negara berkembang pada negara-
negara maju.2 Untuk itulah negara harus turun tangan untuk mencegah hal-hal yang
demikian terjadi. Peran negara secara nyata dapat dilihat pada peran Hukum
Administrasi Negara yang sangat berpengaruh dalam kehidupan ekonomi dalam
membatasi perilaku pelaku kegiatan ekonomi.
Sehingga dapat disimpulkan, pembangunan ekonomi haruslah dilakukan melalui
landasan hukum yang kuat. Ekonomi merupakan tulang punggung kesejahteraan
rakyat, dan ilmu pengetahuan adalah tiang-tiang penopang kemajuan bangsa, namun
hukum merupakan pranata yang pada akhirnya menentukan bagaimana kesejahteraan
rakyat tersebut dapat dinikmati secara merata, serta bagaimana keadilan sosial dapat
diwujudkan dalam kehidupan masyarakat, dan bagaimana kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi dapat membawa kemajuan bagi rakyat banyak.3
Salah satu contoh kebijakan pemerintah dalam kegiatan ekonomi negara misalnya
kebijakan moneter dan kebijakan fiskal. Kebijakan moneter adalah kebijakan yang
dilakukan otoritas moneter yang mempengaruhi perekonomian melalui jumlah uang

1
Sukardi, Peran Penegakan Hukum Dalam Pembangunan Ekonomi, Jurnal Hukum & Pembangunan, Vol. 46, No. 4,
2016, hlm. 2
2
Y . Sri Susilo, Peranan Hukum dalam Pembangunan Ekonomi, Yogyakarta: Universitas Atma Jaya Yogyakarta,
2002, hlm. 1
3
Sukardi, opcit., hlm 17

1
beredar. Yang dipengaruhi adalah stabilitas kurs dan inflasi.4 Oleh karena itu negara
dalam hal ini pemerintah melalui Bank Indonesia (BI) mengeluarkan kebijakan
menaikkan harga barang atau menaikkan suku bunga agar animo masyarakat
menurun dan daya tabung menjadi tinggi.

2. Bedasarkan manual hukum ekonomi yang ditulis oleh Ibu Elly Erawaty, Rule of law
mempunyai arti luas maupun sempit.5 Tamanaha menyebutkan bahwa inti dari rule of
law adalah bahwa seluruh pejabat pemerintah dan warga masyarakat tunduk pada dan
bertindak konsisten dengan hukum. Inti dari rule of law seperti ini mengindikasikan
adanya seperangkat ciri atau karakteristik yang harus dipenuhi, yakni hukum harus
dibuat secara prospektif, dibuat untuk publik, dibuat secara jelas, stabil, dan pasti, dan
diberlakukan terhadap semua orang.
Dari pengertian rule of law diatas, kemudian Tamanaha menyimpulkan bahwa rule
of law mempunyai 2 (dua) fungsi pokok, yakni:
1. Memberi batasan-batasan yuridis terhadap kewenangan dari pejabat
pemerintahan; dan
2. Mewujudkan atau memelihara ketertiban umum dan mengatur perilaku serta
transaksi diantara warga masyarakat.
Fungsi rule of law yang demikian berdampak pada penguatan dan peningkatan
kepastian, prediktabiliti, dan keamanan baik dalam relasi antara warga masyarakat
dengan pemerintah (relasi vertikal), maupun diantara warga masyarakat sendiri
(relasi horizontal). Jika suatu negara sudah mempunyai kondisi ideal seperti yang
disebutkan diatas, maka secara langsung akan mempengaruhi pembangunan
ekonominya, karena pembangunan ekonomi difasilitasi oleh kepastian, prediktabiliti,
dan keamanan.
Tercapainya kondisi ideal dapat menciptakan efisiensi ekonomi. Efisiensi disini
berarti bahwa dalam transaksi dan aktivitas ekonomi pemanfaatan sumber daya
haruslah minimal tetapi mampu menghasilkan produk secara optimal. Kondisi ideal
tersebut juga dapat meningkatkan minat para investor asing untuk menanamkan
modalnya di suatu negara karena adanya kepastian hukum. Efisiensi dan minat
investor asing adalah dua dari banyak faktor yang mempengaruhi pembangunan
ekonomi. Sekali lagi perlu ditegaskan bahwa efisiensi dan tingginya minat investor
asing tersebut hanya bisa dicapai jika suatu negara sudah tunduk pada dan bertindak
konsisten dengan hukum (rule of law).

3. Perkembangan jaman yang memasuki era globalisasi mempengaruhi berbagai


bidang salah satunya bidang ekonomi. Indonesia saat ini menggunakan sistem
ekonomi yang bersifat terbuka terhadap unsur-unsur ekonomi asing atau ekonomi
internasional, contoh nyatanya adalah melalui diterimanya investasi asing di berbagai
sektor ekonomi di Indonesia dan adanya kegiatan ekspor impor. Berbagai aktivitas dan
hubungan ekonomi antar bangsa atau ekonomi internasional pada prinsipnya juga
diatur oleh seperangkat asas dan kaidah hukum ekonomi yang dikenal sebagai Hukum

4
Ibid., hlm. 7
5
Brian Tamanaha, A Conscice Guide to the Rule of Law, Legal Research Paper, St. John University, School of Law,
2007.

2
Ekonomi Internasional.6 Karena pihak yang terlibat dalam ekonomi internasional ini
adalah Indonesia dan negara asing, maka menjadi tidak mungkin Hukum Ekonomi
Indonesia menjadi satu-satunya aturan main yang berlaku dalam pelaksanaannya,
melainkan juga harus memperhatikan hukum-hukum dari negara lain tersebut dan
juga asas-asas yang berlaku umum di tingkat Internasional yang berkaitan dengan
ekonomi. Sehingga dengan kata lain, Hukum Ekonomi Indonesia mendapat pengaruh
dari Hukum Ekonomi Internasional.
Asas-asas hukum internasional tersebut bersumber dari sumber-sumber hukum
Internasional seperti perjanjian internasional, hukum kebiasaan internasional, prinsip
hukum umum yang diakui oleh negara-negara di dunia, putusan pengadilan
internasional dan pendapat ahli hukum (doktrin). Salah satu sumber hukum ekonomi
internasional yang akan dibahas lebih lanjut adalah hukum kebiasaan internasional.
Hukum kebiasaan internasional adalah serangkaian perilaku yang dilakukan oleh
negara sebagai subjek hukum yang telah berlangsung secara terus menerus dalam
waktu yang lama atau kontinyu sehingga akhirnya dianggap sebagai sesuatu yang
normal atau lazim. Hukum kebiasaan internasional ini menjadi mengikat bagi seluruh
negara yang hendak melakukan kegiatan ekonomi internasional tanpa harus melalui
adanya suatu proses menyatakan dirinya terikat terhadap kebiasaan itu. Dengan kata
lain hukum kebiasaan internasional tidak memerlukan proses ratifikasi agar mengikat.
Berbeda halnya dalam konsep perjanjian internasional, negara mempunyai
kebebasan penuh untuk menentukan apakah dirinya mau terikat dengan perjanjian
internasional tersebut atau tidak. Jika suatu negara sudah memilih untuk mengikatkan
diri pada suatu perjanjian internasional, maka segala tindakan negara di bidang
ekonomi yang berkaitan dengan perjanjian tersebut tidak boleh bertentangan dengan
isi perjanjiannya.
Dari penjelasan diatas kemudian dapat ditarik kesimpulan bahwa Indonesia sebagai
subjek hukum internasional mempunyai kewajiban untuk menyesuaikan pelaksanaan
peraturan perundang-undangan yang telah berlaku dengan ketentuan yang ada dalam
hukum kebiasaaan internasional dan perjanjian internasional yang telah diratifikasi.
Dalam hal belum dibentuk peraturan perundang-undangan mengenai materi dari
perjanjian internasional yang telah diratifikasi tersebut, maka perjanjian internasional
dapat berperan menjadi model law.
Contohnya adalah perjanjian yang dibuat antara Indonesia dengan Organisasi
Internasional International Monetary Fund (IMF) ketika Indonesia meminta bantuan
IMF untuk mengatasi krisis moneter yang berakibat pada dibentuknya regulasi
ekonomi berupa Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek
Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat dan Undang-Undang Nomor 8 Tahun
1999 tentang Perlindungan Konsumen.

4. Konstitusi ekonomi adalah suatu istilah yang diperkenalkan di Indonesia oleh


mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie. Konsitusi ekonomi telah
berkembang menjadi salah satu objek kajian penting dari ilmu hukum tata negara. Ide-
ide rule of law, demokrasi, dan konstitusionalisme sangat terkait satu dengan yang lain
dengan konsep konsitusi ekonomi sebagai sumber rujukan tertinggi untuk penetuan
6
Elly Erawaty, Manual Hukum Ekonomi, Bandung: Universitas Katolik Parahyangan, 2018, hlm. 1

3
kebijakan-kebijakan perekonomian dalam satu negara demokrasi modern atau dalam
suatu negara hukum modern.7
Suatu konstitusi baru akan disebut sebagai konstitusi ekonomi jika memuat
kebijakan ekonomi yang akan memberi arahan tentang perkembangan ekonomi suatu
negara, dapat dijadikan sarana untuk membuka jalan, merekayasa, dan mengarahkan
jalannya perekonomian di masyrakat. Pelaksanaan ekonomi yang berdasarkan pada
sebuah konsitusi kemudian diberi nama sebagai ekonomi konstitusi.
Jika kita berbicara mengenai ekonomi konsitusi, maka kita akan berbicara mengenai
perekonomian yang didasarkan atas norma hukum konsitusional yang bersifat mutlak
tidak boleh dilanggar oleh penentu kebijakan ekonomi yang bersifat operasional.8
Pelaksanaannya di Indonesia ditemukan dalam pembentukan peraturan perundang-
undangan yang hierarkinya lebih rendah menjadi tunduk dan tidak bertentangan
dengan UUD 1945. Jika ditemukan suatu peraturan perundang-undangan yang
bertentangan dengan UUD 1945, maka peraturan perundang-undangan tersebut dapat
dibatalkan melalui proses judicial review di Mahkamah Konstitusi.
Ekonomi konstitusi dan konstitusi ekonomi kemudian menjadi hal yang saling
berkaitan erat satu sama lain. Dimana ekonomi konstitusi adalah perekonomian
berdasarkan konstitusi, dan konstitusi ekonomi menjadi sumber yang berisi norma-
norma dasar kebijakan ekonomi.
Kemudian untuk menjawab pertanyaan apakah UUD 1945 merupakan konstitusi
ekonomi maka harus melihat apakah pasal-pasal didalamnya mengandung kebijakan
yang mengatur mengenai ekonomi. Bisa dilihat salah satu pasal dalam UUD 1945 yang
mengatur tentang perekonomian negara adalah Pasal 33 yang berbunyi,
“(1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan;
(2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat
hidup orang banyak dikuasai oleh negara;
(3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh
negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat;
(4) Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi
dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan
lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan
ekonomi nasional; dan
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-
undang.”
Pasal ini secara eksplisit mengatur tentang bagaimana perekonomian negara
Indonesia disusun dan diselenggarakan, yaitu berdasarkan asas kekeluargaan dan
diselenggarakan berdasarkan demokrasi ekonomi. Pelaksanaan ekonomi yang
demikian dapat membawa Indonesia menjadi negara yang makmur dan mampu
mesejahterakan kehidupan rakyatnya sesuai dengan tujuan negara yang dituangkan
dalam bagian Pembukaan UUD 1945. Kemudian pasal ini juga ditempatkan dalam bab
Perekonomian dan Kesejahteraan Sosial sehingga memperkuat argumentasi bahwa
pasal ini merupakan pasal yang mengatur dan metapkan arah pembangunan ekonomi
nasional.

7
Jimly Asshiddiqie, Konstitusi Ekonomi, Jakarta: Kompas, 2016, hlm. 68
8
Ibid., hlm 69

4
Selain Pasal 33, ada juga pasal lain yang bisa digunakan sebagai dasar argumentasi
untuk menyatakan bahwa UUD 1945 adalah merupakan konstitusi ekonomi, salah
satunya Pasal 23 yang mengatur tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
(APBN) yang erat kaitannya dengan ekonomi. Dalam pasal ini ditetapkan bahwa APBN
akan dilaksanakan secara terbuka dan bertanggung jawab untuk sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat. Selanjutnya ditemukan juga pengaturan mengenai pajak (Pasal
23A), macam dan harga mata uang (Pasal 23B), bank sentral (23D), dan masih banyak
lagi. Sehingga berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa UUD 1945
termasuk dalam konstitusi ekonomi.

5. Sejarah perkembangan Hukum Ekonomi di Perancis


Pada awalnya, Perancis adalah negara yang sangat mengedepankan
kebebasan individu. Kebebasan ini menyebabkan berkembangnya sistem ekonomi
kapitalis yang membawa keuntungan bagi Perancis. Namun disamping dampak
positif tersebut, ternyata juga timbul dampak negatif yaitu adanya ketidak-adilan
dan ketimpangan sosial antara pihak yang mempunyai modal dan yang tidak
mempunyai modal. Untuk mengoreksi dampak negatif tersebut, dirasa perlu adanya
campur tangan pemerintah untuk membatasi pelaksanaan kebebasan tersebut
melalui kaidah Hukum Administrasi Negara (HAN) yang disebut Droit Economique
atau Hukum Ekonomi Sempit.
Kemudian sejak terjadinya Perang Dunia II yang menyebabkan
perekonomian di kawasan Eropa Barat menjadi hancur, Perancis membuat program
yang bertujuan untuk memulihkan dan membangun kembali perekonomian
negaranya. Untuk mendukung program tersebut diperlukanlah peran dan fungsi
negara sebagai regulator. Sehingga pada saat ini, regulasi yang dibuat negara tidak
hanya untuk membatasi pelaksanaan kebebasan melainkan juga mencakup lingkup
materi yang lebih luas lagi yang meliputi seluruh aktivitas ekonomi makro mulai
dari produksi, distribusi sampai konsumsi, faktor sumber daya alam, permodalan,
sampai ke sumber daya manusia. Perkembangan seperti inilah yang menimbulkan
istilah Droit de l’economie atau Hukum Ekonomi Luas.
Dari uraian diatas kemudian dapat disimpulkan bahwa hukum ekonomi
Perancis berkembang dari hanya membatasi perilaku pelaku usaha melalui kaidah
HAN menjadi keseluruhan kaidah hukum baik HAN yang dibuat oleh eksekutif
maupun Undang-undang yang dibuat oleh legislatif, bahkan termasuk juga kaidah
hukum internasional, yang bertujuan untuk mengatur, mengawasi, dan
mengarahkan keseluruhan aktivitas ekonomi dari para pelaku ekonomi di suatu
wilayah negara.9

Sejarah perkembangan Hukum Ekonomi di Inggris


Di Inggris, perkembangan hukum ekonomi dimulai dari awal abad ke-20 dan
kemudian berkembang dengan cepat setelah Perang Dunia II.10 Ada 3 (tiga) faktor
utama yang mempengaruhi perkembangan hukum ekonomi di Inggris, yaitu:

9
Elly Erawaty, opcit., hlm. 3
10
Ibid., hlm. 5

5
1. Pertumbuhan Institusional
Perseroan Terbatas (PT) yang mulai muncul pada awal abad ke-19
telah berubah menjadi suatu institusi yang dominan dan menjadi motor
penggerak utama roda perekonomian Inggris di abad ke-20.
Perkembangan PT tersebut menyebabkan keputusan dan kebijakan yang
diambil pengelola PT tidak hanya berdampak pada PT tersebut
melainkan berdampak juga pada ekonomi negara dan ekonomi negara
lain yang memiliki hubungan bisnis dengan mereka. Untuk itulah
diperlukan regulasi yang mengatur tentang perilaku PT dengan tujuan
melindungi kepentingan masyarakat umum dan juga melindungi
kepentingan PT itu sendiri dari praktik bisnis curang.
2. Gerakan Konsumen
Revolusi Industri telah mengubah dinamika perekonomian sehingga
menyebabkan meningkatnya daya beli konsumen yang berpengaruh
terhadap naiknya jumlah barang dan jasa yang diproduksi oleh pelaku
usaha. Dalam konteks ini, menjadi tidak mungkin bagi pelaku usaha
untuk menutup perjanjian satu demi satu dengan konsumen sehingga
muncul sebuah alternatif yang bernama kontak baku. Kontrak baku yang
dibentuk secara sepihak oleh pelaku usaha cenderung mengabaikan
kepentingan-kepentingan konsumen, dan konsumen disini tidak
mempunyai kemampuan untuk bernegosiasi sehingga terjadi
ketimpangan kedudukan antara Pelaku Usaha dengan Konsumen. Untuk
itulah diperlukan regulasi yang melindungi kepentingan konsumen dalam
hubungannya dengan produsen agar kedudukan Konsumen dengan
Pelaku Usaha menjadi seimbang.
3. Membesarnya Peran Negara
Hal ini disebabkan oleh pergeseran paham laissez faire, laissez passé
yang berarti segala kegiatan ekonomi diserahkan ke pasar, menjadi
“economic dirigisme” yang berarti negara dapat membatasi kebebasan
pelaku ekonomi apabila berkaitan dengan kepentingan publik.
Pergeseran paham inilah yang melatar belakangi kemunculan berbagai
kaidah hukum ekonomi di Inggris.