Anda di halaman 1dari 10

UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN

FAKULTAS HUKUM
Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Badan Akreditasi Nasional Perguruan
Tinggi Nomor : 429/SK/BAN-PT/Akred/S/XI/2014

“Dampak Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 20 Tahun


2019 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan Nomor 51 Tahun 2018 Tentang Penerimaan Peserta Didik Baru
Pada Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama,
Sekolah Menengah Atas, dan Sekolah Menengah Kejuruan Terhadap Calon
Peserta Didik di Provinsi Banten Dikaitkan Dengan Undang-Undang Nomor
20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional”

Oleh:
NAMA PENYUSUN : HAIFA RAMADHANI ANNISA
NPM : 2016200209
NOMOR TELEPON : 081930455551

MENYETUJUI,

DOSEN PEMBIMBING PROPOSAL

USULAN DOSEN PENGUJI SEMINAR:


1. –
2. –
3. –

USULAN PENULISAN HUKUM


DISUSUN SEBAGAI SALAH SATU KELENGKAPAN UNTUK
MENYELESAIKAN PROGRAM S1 ILMU HUKUM

BANDUNG
2019
BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Pendidikan merupakan salah satu program utama pemerintah dalam upaya


membangun bangsa melalui generasi muda. Semakin berkualitas pendidikan
warganya, maka suatu negara akan menjadi semakin kuat di mata dunia. Salah
satu cita-cita Indonesia yang terdapat dalam Undang-Undang Dasar 1945 adalah
untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal ini secara nyata dituangkan dalam
alinea keempat dari pembukaan UUD 1945 yang berbunyi:

“Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara


Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah
darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban
dunia…”
Salah satu cara mencapai tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa yaitu
dengan mewujudkan sistem pendidikan nasional. Pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang
bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab. Sistem pendidikan nasional ini diwujudkan guna meningkatkan daya saing
bangsa dalam menghadapi globalisasi di segala bidang, sehingga diperlukan
pendidikan nasional yang mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dan
teknologi serta menghasilkan intelektual, ilmuwan, dan/atau profesional yang
berbudaya dan kreatif, toleran, demokratis, berkarakter tangguh, serta berani
membela kebenaran untuk kepentingan bangsa.

Dari berbagai cangkupan sistem pendidikan nasional yang luas, salah satu
bidang yang akan dikaji lebih dalam adalah mengenai sistem zonasi penerimaan
peserta didik baru. Zonasi adalah suatu sistem yang digunakan oleh pemerintah

1
berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia
Nomor 51 Tahun 2018 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru Pada Taman
Kanak-kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah
Atas, dan Sekolah Menengah Kejuruan yang telah diubah dengan Peraturan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2019
tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 51
Tahun 2018 Tentang Penerimaan Peserta Didik Baru Pada Taman Kanak-kanak,
Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, dan
Sekolah Menengah Kejuruan. Dengan menggunakan sistem zonasi, maka seleksi
terhadap calon peserta didik baru akan dilakukan dengan mempertimbangkan
jarak dari rumah calon peserta didik ke sekolah yang dituju. Penetapan zonasi
dilakukan pada setiap jenjang oleh Pemerintah Daerah sesuai dengan
kewenangannya, dengan prinsip utama untuk mendekatkan domisili peserta didik
dengan sekolah. Penetapan zonasi oleh Pemerintah Daerah pada setiap jenjang
wajib memperhatikan jumlah ketersediaan daya tampung yang disesuaikan
dengan ketersediaan jumlah anak usia Sekolah pada setiap jenjang di daerah
tersebut. Bagi sekolah yang berada di daerah perbatasan provinsi atau
kabupaten/kota, penetapan zonasi pada setiap jenjang dapat dilakukan
berdasarkan kesepakatan secara tertulis antar Pemerintah Daerah.1

Zonasi menjadi basis data dalam perumusan kebijakan yang berkaitan


dengan peta sebaran distribusi guru, ketersediaan sarana prasarana dan fasilitas
sekolah, termasuk Wajar (Wajib Belajar) 12 tahun. Sistem zonasi mempermudah
pemerintah pusat dan daerah untuk memetakan dan memberikan peningkatan
akses pendidikan, baik terkait fasilitas sekolah, metode pembelajaran, maupun
kualitas dan distribusi guru, sehingga dapat mempercepat pemerataan mutu
pendidikan di seluruh daerah.2 Tujuan lain yang ingin dicapai oleh pemerintah
adalah menghapuskan label “sekolah favorit” yang melekat hanya di beberapa

1
https://kominfo.go.id/index.php/content/detail/16271/kemendikbud-imbau-pemda-segera-
tetapkan-zona-persekolahan-dan-juknis-ppdb-2019/0/artikel_gpr diakses pada 29 Juli Pukul 10.00
WIB
2
https://www.indonesia.go.id/layanan/pendidikan/ekonomi/aturan-baru-sistem-zonasi-ppdb-2019
diakses pada 30 Juli 2019 pukul 15.05 WIB

2
sekolah saja, sehingga tidak jarang “sekolah favorit” kebanjiran pendaftar dan
sekolah yang tidak masuk dalam kategori “sekolah favorit” kekurangan pendaftar.
Pemerataan distribusi calon peserta didik inilah yang nantinya diharapkan akan
memajukan mutu pendidikan secara keseluruhan.

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik


Indonesia Nomor 51 Tahun 2018 yang telah diubah dengan Peraturan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2019,
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan mewajibkan setiap sekolah menampung
paling sedikit 80% (delapan puluh persen) murid yang berasal dari sistem zonasi.
Artinya, murid-murid yang berdomisili dekat dengan sekolah yang dituju akan
mendapat peluang lebih besar untuk diterima. Namun di sisi lain, penerapan
sistem zonasi penerimaan peserta didik baru menimbulkan permasalahan.
Mengutip salah satu pernyataan Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia
(KPAI) Bidang Pendidikan, Retno Listya, permasalahan yang pertama adalah
terkait penyebaran sekolah negeri yang tidak merata di setiap kecamatan dan
kelurahan sementara banyak daerah yang pembagian zonasinya didasarkan pada
wilayah administrasi kecamatan. Tidak sampai disitu, permasalahan terkait sistem
zonasi yang kedua adalah kemungkinan tidak terakomodasinya calon peserta
didik karena tidak bisa mendaftar ke sekolah negeri manapun sebab jarak rumah
ke sekolah yang terlalu jauh. Sekolah swasta pun kemudian menjadi pilihan bagi
para calon peserta didik yang tidak terakomodasi sekolah negeri sebagai akibat
dari sistem zonasi. Tetapi faktanya, sekolah swasta mempunyai biaya pendidikan
yang tidak murah, lain halnya dengan sekolah negeri yang dalam kegiatan
operasionalnya mendapatkan subsidi dari pemerintah berupa bantuan dana.
Akhirnya calon peserta didik yang tidak bisa lanjut sekolah dikarenakan ada
keterbatasan secara finansial.

Hal ini akan menyebabkan masyarakat dengan kondisi ekonomi menengah


kebawah terancam kehilangan kesempatan untuk menempuh pendidikan. Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menyatakan secara tegas
mengenai hak untuk mendapatkan pendidikan seperti tercantum dalam Pasal 31

3
ayat (1) yang menyatakan bahwa setiap warga negara berhak mendapat
pendidikan. Sama halnya dengan Pasal 28C ayat (1) Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menyatakan bahwa setiap orang berhak
mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat
pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni
dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya. Hak yang demikian juga
berusaha diperjelas melalui Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyatakan bahwa setiap warga
negara yang berarti seluruh warga Indonesia mempunyai hak yang sama untuk
memperoleh pendidikan yang bermutu. Dari pasal-pasal yang diatur dalam
berbagai peraturan perundang-undangan tersebut dapat disimpulkan bahwa
pendidikan tentu merupakan hak setiap warga negara Indonesia tanpa terkecuali
masyarakat dengan kondisi ekonomi menengah kebawah.

Hak untuk memperoleh pendidikan juga termasuk salah satu Hak Asasi
Manusia yang dilindungi secara penuh oleh negara. Hal ini dapat ditemukan
dalam Pasal 2 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi
Manusia yang berbunyi:

“Negara Republik Indonesia mengakui dan menjunjung tinggi hak asasi


manusia dan kebebasan dasar manusia sebagai hak yang secara kodrati
melekat pada dan tidak terpisahkan dari manusia, yang harus dilindungi,
dihormati, dan ditegakkan demi peningkatan martabat kemanusiaan,
kesejahteraan, kebahagiaan, dan kecerdasan serta keadilan.”
Ditinjau dari konsep negara kesejahteraan (welfare state), tujuan dari
diberlakukannya sistem zonasi adalah untuk memajukan kesejahteraan umum di
Indonesia. Asumsi yang kuat bahwa negara Kesatuan Republik Indonesia didesain
sebagai negara kesejahteraan (welfare state) dapat dilacak3 dari bunyi pembukaan
UUD 1945 yakni:

“Pemerintah melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah,


memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa”.

3
Oman Sukmana, Konsep dan Desain Negara Kesejahteraan (Welfare State), Jurnal Sospol, Vol.
2, No.1, 2016, hlm. 104

4
Sebenarnya gagasan tentang negara kesejahteraan (welfare state) bukanlah
suatu gagasan yang baru. Ide tentang negara kesejahteraan (welfare state) sudah
lahir sejak sekitar abad ke-18. Menurut Bessant, Watts, Dalton dan Smith (2006),
ide dasar negara kesejahteraan beranjak dari abad ke-18 ketika Jeremy Bentham
(1748-1832) mempromosikan gagasan bahwa pemerintah memiliki tanggung
jawab untuk menjamin the greatest happiness (atau welfare) of the greatest
number of their citizens.4 Hal ini merupakan perkembangan dari konsep negara
penjaga melam (nachwachterstaat). Dalam konsep negara penjaga malam, fungsi
negara harus dibatasi secara minimal, sehingga kebebasan raja untuk melakukan
tindakan sewenang-wenang dapat ditangkal. Bahkan dikatakan bahwa “the least
government is the best government.”5 Garis besar, negara kesejahteraan menunjuk
pada sebuah model ideal pembangunan yang difokuskan pada peningkatan
kesejahteraan melalui pemberian peran yang lebih penting kepada negara dalam
memberikan pelayanan sosial secara universal dan komprehensif kepada
warganya.6 Konsep negara kesejahteraan memberikan kewajiban bagi pemerintah
untuk mengatur sgeala aspek kehidupan rakyatnya, tidak terkecuali dalam hal
pendidikan melalui sistem zonasi.

Zonasi pada praktiknya menyebabkan tidak imbang atau tidak adilnya


akses calon peserta didik ke sekolah-sekolah tujuannya berdasarkan daerahnya,
sehingga zonasi berpotensi untuk menimbulkan ketidakadilan baru karena
terkesan membatasi kebebasan calon peserta didik untuk bersekolah di sekolah
tujuannya. Apalagi ditambah fakta bahwa belum meratanya Sumber Daya
Manusia dan sarana prasarana penunjang pendidikan antara satu sekolah dan
sekolah lain.

Hilangnya kesempatan untuk menempuh pendidikan bagi masyarakat


dengan kondisi ekonomi menengah kebawah tentu saja merupakan pelanggaran
terhadap Hak Asasi Manusia yang seharusnya dilindungi oleh Pemerintah.
Pelaksanaan sistem zonasi yang kurang memperhatikan nasib masyarakat dengan

4
Ibid., hlm. 105
5
Miriam Budiarjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Jakarta: Pustaka Utama, 2001, hlm. 52
6
Ibid., hlm. 107

5
kondisi ekonomi menengan kebawah yang tidak terakomodir sekolah negeri dapat
menimbulkan ketidakadilan dan oleh karena itu perlu dikaji lebih lanjut dengan
mengacu pada Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
dan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

2. Kasus Posisi

Seorang anak janda miskin berusia 16 tahun yang berdomisili di Kampung


Alun-Alun, Desa Selaraja, kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, Banten
yang bernama Radi Abdul Muad terancam putus sekolah karena tidak bisa masuk
ke Sekolah Menengah Atas (SMA). Alasannya adalah sistem zonasi yang berlaku
atas dasar hukum Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia Nomor 51 Tahun 2018 yang telah diubah dengan Peraturan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2019. Jarak
yang jauh antara rumah kediamannya dengan beberapa sekolah negeri seperti
SMA Negeri 1 Warunggunung, SMAN 1 Rangkasbitung, dan SMAN 3
Rangkasbitung yang masing-masing berjarak empat kilometer (km), dan sepuluh
kilometer (km) menjadi penghambat Radi Abdul Muad untuk melanjutkan
sekolahnya. Ibunya yang hanya menjadi Asisten Rumah Tangga (ART) mengaku
bahwa pendapatannya tidak akan mampu untuk membawa anaknya sekolah di
sekolah swasta.

3. Pertanyaan Yuridis
1. Bagaimana efektifitas Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 51 Tahun 2018
Tentang Penerimaan Peserta Didik Baru Pada Taman Kanak-kanak,
Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas,
dan Sekolah Menengah Kejuruan?
2. Bagaimana pertanggungjawaban Pemerintah dalam menjamin
pemenuhan Hak Asasi Manusia bagi calon peserta didik yang
terancam putus sekolah akibat sistem zonasi?

6
4. Penelusuran Hukum

Dari kasus posisi dan pertanyaan yuridis diatas, maka akan dilakukan
penelusuran hukum baik itu yang merupakan sumber hukum primer dan/atau
sekunder mengenai aturan-aturan dan/atau dokumen yang nantinya akan
digunakan untuk menyusun pendapat hukum. Aturan-aturan dan/atau dokumen
antara lain:

1) Pasal 31 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik


Indonesia Tahun 1945. Pasal ini menyatakan bahwa setiap warga
negara berhak mendapat pendidikan.
Pasal ini menjadi relevan untuk kemudian dijadikan dasar argumentasi
bahwa sesungguhnya pendidikan merupakan hak yang dimiliki oleh
setiap warga negara.
2) Pasal 28C ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945. Pasal ini menyatakan bahwa setiap orang
berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya,
berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu
pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan
kualitas hidupnya.
Pasal ini menjadi relevan untuk kemudian dijadikan dasar argumentasi
bahwa pendidikan yang merupakan hak bagi setiap warga negara
penting untuk meningkatkan kualitas hidupnya, sehingga secara tidak
langsung dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
3) Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional. Pasal ini menyatakan bahwa setiap
warga negara yang berarti seluruh warga Indonesia mempunyai hak
yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu.
Pasal ini menjadi relevan untuk kemudian dijadikan dasar argumentasi
bahwa setiap warga Indonesia berhak untuk mendapatkan pendidikan
yang bermutu.

7
4) Pasal 11 ayat (1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional. Pasal ini berbunyi:
“(1) Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib memberikan layanan
dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang
bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi.”
Pasal ini menjadi relevan untuk dikaji guna menjawab pertanyaan
yuridis mengenai efektivitas Permendikbud tentang sistem zonasi.

5. Rencana Sistematika Penulisan


Hasil dari penelitian penulisan hukum ini akan dituangkan dengan
sistematika penulisan sebagai berikut:
Bab I: Pendahuluan. Pada bagian ini akan dikemukakan
mengenai latar belakang penulisan hukum ini, dimulai dari masalah yang
timbul di masyarakat dikaitkan dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun
2003 dan rumusan masalah penulisan hukum ini. Selain itu, akan terdapat
kasus posisi, dan sistematika penulisan.
Bab II: Penelusuran Hukum Pada bab ini, akan diuraikan
mengenai aturan-aturan hukum yang akan digunakan untuk menyusun
legal opinion yang akan menjawab pertanyaan yuridis.
Bab III: Landasan Teori. Pada bab ini, akan dijelaskan khusus
mengenai teori-teori, doktrin, asas-asas yang berhubungan dengan
kewajiban pemerintah untuk menjamin pemenuhan Hak Asasi Manusia
bagi calon peserta didik yang terancam putus sekolah akibat sistem zonasi
Bab IV: Pendapat Hukum. Pada bab ini, akan diuraikan
mengenai jawaban terhadap permasalahan hukum yang dialami dengan
mengacu pada aturan-aturan hukum yang relevan. Jawaban dalam legal
opinion bersifat praktis dan dimaksudkan sebagai nasihat yuridis yang
dapat dilaksanakan secara konkrit.
Bab V: Kesimpulan. Pada bab ini, akan ditarik kesimpulan dan
saran dari penulisan bab-bab sebelumnya

8
DAFTAR PUSTAKA SEMENTARA

Buku:

Budiarjo, Miriam. 2001. Dasar-Dasar Ilmu Politik, Jakarta: Pustaka Utama,

Jurnal:

Sukmana, Omen. 2016. Konsep dan Desain Negara Kesejahteraan (Welfare


State), Jurnal Sospol, Vol. 2, No.1

Sumber Lain:

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

https://kominfo.go.id/index.php/content/detail/16271/kemendikbud-imbau-
pemda-segera-tetapkan-zona-persekolahan-dan-juknis-ppdb-2019/0/artikel_gpr
diakses pada 29 Juli Pukul 10.00 WIB

https://www.indonesia.go.id/layanan/pendidikan/ekonomi/aturan-baru-sistem-
zonasi-ppdb-2019 diakses pada 30 Juli 2019 pukul 15.05 WIB