Anda di halaman 1dari 48

1

PENENTUAN UKURAN DAN TEKNIK PENYIMPANAN


BENIH PISANG KEPOK (Musa sp. ABB Group)
DARI BONGGOL

Oleh
IRFAN FIRMANSYAH
A24070084

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA


FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011
2

RINGKASAN

IRFAN FIRMANSYAH. Penentuan Ukuran dan Teknik Penyimpanan Benih


Pisang Kepok (Musa sp. ABB Group) dari Bonggol. (dibimbing oleh
M. RAHMAD SUHARTANTO).

Salah satu masalah dalam pengembangan pisang adalah sulitnya


perbanyakan dan distribusi benih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
ukuran bonggol yang mampu menghasilkan tunas dan untuk mengetahui teknik
penyimpanan yang terbaik agar mampu mempertahankan viabilitas dan daya
simpan benih pisang dari bonggol. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun
Percobaan Pasirkuda, Ciomas, Bogor dan Laboratorium Ilmu dan Teknologi
Benih, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut
Pertanian Bogor mulai Februari sampai Mei 2011.
Bahan utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah bonggol pisang
kepok Varietas Unti Sayang, media tanah, dan fungisida Dithane M-45. Alat yang
digunakan adalah gunting, meteran, ember, timbangan, kertas label, cangkul,
termohigrometer, alat vacum Foodsaver tipe Compac II-Vac 550, Impulse Sealer
tipe PFS-200P, dan pembungkus bonggol yang terdiri atas plastik PP (p=40 cm,
l=25 cm, t=0.8 mm ) dan plastik vacum (p=400 cm, l=26 cm, t=1.2 mm).
Penelitian ini terdiri dari dua percobaan. Percobaan I bonggol
diklasifikasikan menjadi lima bagian berdasarkan bobot dan diameternya yaitu B1
(Bonggol dengan bobot rata-rata 733.33 g dan diameter 11.53 cm), B2 (Bonggol
dengan bobot rata-rata 1298.3 g dan diameter 14.60 cm), B3 (Bonggol dengan
bobot rata-rata 1728.3 g dan diameter 15.73 cm), B4 (Bonggol dengan bobot rata-
rata 2644.4 g dan diameter 18.12cm), dan B5 (Bonggol dengan bobot rata-rata
7400 g dan diameter 22.4 cm). Setiap bagian diulang sebanyak 3 kali dan setiap
ulangan terdapat 6 bonggol kecuali perlakuan B5 yang hanya menggunakan 1
bonggol, sehingga bonggol yang digunakan sebanyak 75 bonggol. Analisis data
dilakukan secara deskriptif dengan grafik dan standar deviasi karena keterbatasan
jumlah dan besarnya keragaman benih. Perlakuan dengan rata-rata terbaik dipilih
sebagai bahan untuk percobaan kedua.
3

Percobaan II adalah percobaan lanjutan untuk menentukan cara


penyimpanan benih yang tepat agar viabilitas benih tetap terjaga dengan baik.
Penelitian ini terdiri dari enam kombinasi perlakuan, yaitu antara jenis kemasan
dan aplikasi fungisida. Jenis kemasan terdiri dari tanpa kemasan (A1), plastik PP
(p=40 cm, l=25 cm, t=0.8 mm) (A2), dan plastik vacum (p=400 cm, l=26 cm,
t=1.2 mm) (A3). Aplikasi fungisida terdiri dari tanpa fungisida (B1) dan
menggunakan fungisida (B2). Setiap perlakuan terdiri dari 5 waktu simpan yang
berbeda sehingga terdapat 30 satuan percobaan. Setiap satuan percobaan terdapat
5 bonggol maka total bonggol yang akan digunakan sebanyak 150 bonggol.
Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan tabel pada berbagai periode
simpan karena keterbatasan jumlah bahan dan besarnya keragaman benih
(bonggol).
Hasil percobaan I menunjukkan ukuran bonggol yang tepat untuk
dijadikan calon benih adalah B5 (bonggol dengan bobot rata-rata 7400 g dan
diameter 22.4 cm). Jumlah tunas dan potensi tumbuh maksimum yang dihasilkan
bonggol dengan bobot rata-rata 7400 g dan diameter 22.4 cm paling tinggi
daripada bonggol lainnya yaitu masing-masing sebesar 3 tunas per bonggol dan
73.33%. Hasil percobaan II menunjukkan bonggol yang tidak dikemas dan tanpa
fungisida mampu mempertahankan viabilitas benih pisang selama 6 minggu
dengan potensi tumbuh maksimum sebesar 40%, sedangkan bonggol lainnya tidak
tumbuh sama sekali. Selain itu pertumbuhan tinggi tunas bonggol yang tidak
dikemas dan tanpa fungsida lebih baik daripada bonggol lainnnya.
Kesimpulan yang didapatkan adalah benih pisang yang diperbanyak
menggunakan bonggol dengan bobot 7400 g dan diameter 22.4 cm menghasilkan
3 tunas per bonggol dan potensi tumbuh maksimum 73.33%, terbaik bila
dibandingkan dengan ukuran bonggol lainnya.
Bonggol yang dikemas plastik PP dan vacum memiliki viabilitas yang
lebih kecil daripada bonggol yang tidak dikemas baik dari segi potensi tumbuh
maksimum maupun pertumbuhan tinggi tunas. Selama penyimpanan 6 minggu
bonggol yang tidak dikemas tanpa fungisida masih memiliki potensi tumbuh
maksimum sebesar 40%.
The Determination of Size and Seed Storage Techniques Kepok Banana (Musa sp.
ABB Group) From The Hump

Irfan Firmansyah

Abstract
This study aims to find out size of the hump that is able to produce
seedlings and to find out the best storage techniques to be able to maintain the
viability and power shelf. The research was conducted at the Kebun Percobaan
Pasirkuda, Ciomas, Bogor and Seed Science and Technology Laboratory,
Departmen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian
Bogor. The study began in February to May 2011. The size of the best hump that
have the highest potential growth maximum was 73.33% and the highest number
of shoots of 3 shoots per hump is B5 (hump with an average weight of 7400 g and
diameter 22.4 cm). The size of the best hump will be a reference for future
experiments on storage techniques. The best storage method is without packing
and without using fungicides. This method is able to make the hump can be stored
for 6 weeks.

Key word : hump, hump size, storage technique


4

PENENTUAN UKURAN DAN TEKNIK PENYIMPANAN


BENIH PISANG KEPOK (Musa sp. ABB Group)
DARI BONGGOL

Skripsi sebagai salah satu syarat


untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian
pada Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor

Oleh
IRFAN FIRMANSYAH
A24070084

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA


FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011
5

LEMBAR PENGESAHAN

Judul : PENENTUAN UKURAN DAN TEKNIK


PENYIMPANAN BENIH PISANG KEPOK
(Musa sp. ABB Group) DARI BONGGOL
Nama : IRFAN FIRMANSYAH
NIM : A24070084

Menyetujui,
Dosen pembimbing

Dr. Ir. M. Rahmad Suhartanto, MSi


NIP. 19630923 198811 1 001

Mengetahui,
Ketua Departemen Agronomi dan Hortikultura

Dr. Ir. Agus Purwito, M.Sc. Agr.


NIP. 19611101 198703 1 003

Tanggal Lulus :
6

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Bandung, pada tanggal 11 Februari 1989. Penulis


merupakan anak pertama dari pasangan Asep Somantri dan Ayi Zamilah.
Pada tahun 2001 penulis menyelesaikan studi di SDN Cibogo 1, kemudian
melanjutkan ke SMPN 1 Karang Tengah dan lulus pada tahun 2004. Setelah itu
penulis melanjutkan ke SMAN 1 Cianjur dan lulus pada tahun 2007. Pada tahun
yang sama yaitu 2007 penulis diterima di Departemen Agronomi dan Hortikultura
Institut Pertanian Bogor.
Selama di Institut Pertanian Bogor penulis aktif sebagai anggota
Himpunan Profesi Departemen Agronomi dan Hortikultura (HIMAGRON).
Selain itu penulis aktif mengikuti berbagai kegiatan yang dilaksanakan kampus,
mengikuti berbagai seminar dan menjadi panitia seminar.
7

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena berkat
rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul
“Penentuan ukuran dan teknik penyimpanan benih pisang kepok (Musa sp.
ABB Group) dari bonggol” di bawah bimbingan Bapak Dr. Ir. M. Rahmad
Suhartanto, MSi.
Penulis ingin menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang sebesar-
besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan masukan, dukungan, doa,
dan semangat baik selama penelitian maupun dalam penyusunan skripsi ini. Rasa
terima kasih yang tulus penulis sampaikan kepada :
1. Dr. Ir. M. Rahmad Suhartanto, MSi selaku dosen Pembimbing Skripsi
yang telah membantu selama penelitian dan penyusunan skripsi.
2. Dr. Ir. Sobir, MSi. dan Ir. Diny Dinarti, MSi. selaku dosen penguji.
3. Dr. Ir. Hariyadi, MS selaku dosen Pembimbing Akademik.
4. Bapak Asep Somantri, S.Pd.Ek. dan Ibu Ayi Zamilah yang senantiasa
memberi doa, dukungan, dan semangat.
5. Keluarga Besar Ojo Djakaria dan Keluarga Besar Bunyamin atas doa dan
dukungannya yang tiada henti.
6. Teman-teman “Happy House” Prama Nurgama, Dede Rosyana, Kharisma
Cipta Arifin, Yoga Suryaperdana, dan Kornel. Teman-teman Agronomi
dan Hortikultura 44 atas persahabatan yang luar biasa
7. Bapak Baesyuni dan pekerja di Kebun Percobaan Pasirkuda atas
bantuannya dalam penelitian di lapangan.

Akhirnya, semoga tulisan ini dapat bermanfaat kepada civitas akademika,


masyarakat, bangsa, dan agama.

Bogor, September 2011


Penulis
8

DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR……………………………………………... i
DAFTAR ISI ………………………………………………………. ii
DAFTAR TABEL………………………………………………….. iii
DAFTAR GAMBAR………………………………………………. iv
DAFTAR LAMPIRAN…………………………………………….. v
PENDAHULUAN………………………………………………….. 1
Latar Belakang…………………………………………….... 1
Tujuan………………………………………………………. 3
Hipotesis……………………………………………………. 3
TINJAUAN PUSTAKA……………………………………………. 4
Botani tanaman pisang………………………………………. 4
Morfologi Pisang Kepok………………………………….…. 5
Perbanyakan Pisang…………………………………………. 5
Penyimpanan……………………………………………….... 7
Pengemasan…......................................................................... 9
BAHAN DAN METODE.................................................................. 12
Tempat dan Waktu ................................................................ 12
Bahan dan Alat ....................................................................... 12
Metode Penelitian ................................................................... 12
Pelaksanaan penelitian………................................................ 13
Pengamatan ........................................................................... 14
HASIL DAN PEMBAHASAN......................................................... 16
Pengamatan Suhu dan RH .................................................... 16
Percobaan 1 : Penentuan ukuran bonggol yang tepat ............. 16
Percobaan 2 : Penentuan teknik penyimpanan…….. ............. 22
KESIMPULAN DAN SARAN......................................................... 30
Kesimpulan ………………..................................................... 30
Saran ………………………………………………. ............. 30
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................... 31
LAMPIRAN……………………………………………………….... 35
9

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1. Persentase terkena cendawan sebelum tanam (%)…………..…. 22


2. Persentase terkena cendawan setelah tanam (%)………………. 24
3. Potensi Tumbuh Maksimum (%) pada empat minggu setelah
tanam…………………………………………………….……... 25
4. Rata-rata waktu munculnya tunas (hari) pada empat minggu
setelah tanam…………………………………….……………... 26
5. Rata-rata jumlah daun per tunas pada empat minggu setelah
tanam………………………………………………………..….. 27
6. Rata-rata tinggi tunas yang muncul pada empat minggu setelah
tanam………………………………………………………........ 28
10

DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

1. Rata-rata Potensi Tumbuh Maksimum (%) pada delapan minggu


setelah tanam………………………........................................... 17
2. Rata-rata jumlah tunas yang dihasilkan per bonggol pada delapan
minggu setelah tanam…………………..…………..………….... 18
3. Rata-rata waktu munculnya tunas (hari) pada delapan minggu
setelah tanam………………………………..…………………… 19
4. Rata-rata jumlah daun per tunas pada delapan minggu setelah
tanam………………………………………………………..…… 20
5. Rata-rata tinggi tunas (cm) pada delapan minggu setelah
tanam………………………………………..…………………… 21
6. Contoh bonggol (a) dan contoh mata tunas pada bonggol (b) .... 22
7. Contoh bonggol terserang cendawan (a) dan contoh bonggol yang
tidak terserang cendawan (b)……………………………………. 23
8. Contoh Contoh cendawan saprofit yang tumbuh pada bonggol
yang membusuk di persemaian ……………………………….…. 24
9. Contoh akar yang muncul pada bonggol yang berumur dua
minggu setelah tanam…………………………………………….. 27
11

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman

1. Suhu dan RH penyimpanan……………………………………. 35


2. Rata-rata Potensi Tumbuh Maksimum (%) pada delapan minggu
setelah tanam………………………………………………….... 35
3. Rata-rata jumlah tunas pada delapan minggu setelah tanam ….. 35
4. Rata-rata waktu munculnya tunas (hari) pada delapan minggu
setelah tanam…………………………………………………… 35
5. Rata-rata jumlah daun pada delapan minggu setelah tanam ..…. 36
6. Rata-rata tinggi tanaman pada delapan minggu setelah tanam ... 36
1

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Pisang (Musa spp.) merupakan salah satu komoditas penting di Indonesia.
Produksi pisang pada tahun 2008 mencapai 5 741 351 ton. Produksi pisang jauh di
atas komoditas buah lainnya seperti mangga (2 243 440 ton), jeruk (2 131 768
ton), dan pepaya (772 844 ton) (BPS, 2008). Namun bila dibagi luas lahan yang
berproduksi, produktivitas pisang pada tahun 2008 hanya mencapai 557,1
kuintal/ha. Lebih rendah daripada jeruk besar (163,4 ton/ha), jambu air (88,1
ton/ha), dan melon (18,3 ton/ha) (Deptan, 2009).
Salah satu cara untuk dapat meningkatkan produktivitas pisang adalah
melalui penggunaan benih yang bermutu. Pada pengembangan pisang selama ini,
ada kendala dalam ketersediaan benih, khususnya benih pisang yang sehat.
Biasanya petani memperoleh benih pisang dari anakan yang dipisahkan dari
rumpun induknya, sehingga agak sulit untuk mendapatkan benih pisang dalam
jumlah banyak dengan cepat. Selain itu, cara ini juga dapat merusak tanaman
induknya dan mempermudah timbulnya serangan hama dan penyakit. Berdasarkan
hal tersebut perlu adanya teknologi perbanyakan benih sehat dalam jumlah banyak
dengan cepat dan berkualitas yaitu perbanyakan benih dengan menggunakan
bonggol pisang (Deptan, 2006).
Ciri-ciri anakan yang baik untuk diambil bonggolnya adalah tinggi anakan
yang dijadikan benih 1-1,5 m. Anakan diambil dari pohon yang berbuah baik dan
sehat. Bibit anakan terdiri dari dua jenis yaitu anakan muda (tingginya 41-100 cm)
dan anakan dewasa (tingginya >100cm). Anakan dewasa lebih baik digunakan
karena persediaan makanan di dalam bonggol sudah banyak. Penggunaan bibit
yang berbentuk tombak (daun masih berbentuk seperti pedang, helai daun sempit)
lebih diutamakan daripada bibit dengan daun yang lebar karena pertumbuhannya
lebih baik (Menegristek, 2000).
Anakan yang berasal dari induk pisang yang sehat menjadi salah satu
syarat perbanyakan benih pisang dari bonggol. Pisang Kepok Varietas Unti
sayang digunakan karena memiliki ketahanan yang baik terhadap berbagai
penyakit seperti layu darah (Suhartanto et al., 2009)
2

Bonggol pisang dapat dikatakan memiliki sifat yang mirip benih


rekalsitran. Benih rekalsitran adalah benih yang berkadar air tinggi dan tidak
dapat dikeringkan, karena pengeringan akan mematikan benih. Berbeda dengan
benih ortodoks yang penanganannya mudah, benih rekalsitran memerlukan
penanganan khusus karena kadar airnya tinggi dan umumnya tidak memiliki sifat
dormansi dan mudah menurun viabilitasnya. Hal ini menjadi kendala dalam
pengadaan bahan tanaman yang diperlukan dalam pengembangan atau peremajaan
tanaman tersebut. Upaya untuk meningkatkan daya simpan benih rekalsitran
antara lain mengatur kadar air benih, kelembaban nisbi, suhu dan media simpan
serta menggunakan fungisida (Budiarti et al., 1993).
Benih pisang cukup mudah terserang penyakit. Cendawan menjadi
masalah yang sering merugikan. Masalah yang ditimbulkan seperti terjadi
pembusukan sehingga benih rusak dan tidak dapat digunakan. Aplikasi fungisida
sebelum penyimpanan diharapkan mampu untuk mengatasi masalah ini.
Mekanisme fungisida yang digunakan untuk penanggulangan penyakit pada
umumnya adalah menghambat perkecambahan, pertumbuhan, dan
perkembangbiakan atau sekaligus membunuh patogen.
Benih dari bonggol yang baik (berasal dari tanaman sehat) diperlukan
petani untuk menghasilkan tanaman pisang yang unggul. Ariany (2009)
menyatakan kendala utama dalam pengadaan benih rekalsitran adalah
menurunnya viabilitas benih seiring dengan lama waktu penyimpanan. Saat
pengadaan benih untuk kegiatan penanaman di lapangan, diperlukan kegiatan
pengangkutan atau transportasi dari lokasi pengumpulan benih menuju ke lokasi
penanaman di lapangan. Yuniarti et al. (2008a) menambahkan benih akan
mengalami proses penyimpanan selama transportasi berlangsung. Yuniarti et al.
(2009) menyatakan penggunaan wadah pengemasan benih yang tepat akan
berperan menekan laju penurunan viabilitas benih Oleh karena itu, untuk
mengatasi permasalahan pengadaan dan penanganan benih diperlukan suatu
penelitian mengenai teknik pengemasan yang dapat mempertahankan viabilitas
benih sebelum digunakan dalam penanaman.
3

Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ukuran (bobot dan diameter)
bonggol yang mampu menghasilkan tunas dan untuk mengetahui teknik
penyimpanan yang terbaik agar mampu mempertahankan viabilitas dan daya
simpan benih pisang dari bonggol.

Hipotesis
1. Terdapat ukuran bonggol terbaik yang dapat menghasilkan jumlah tunas
terbaik.
2. Terdapat teknik penyimpanan terbaik untuk mempertahankan viabilitas
dan daya simpan benih pisang dari bonggol.
4

TINJAUAN PUSTAKA

Botani Tanaman Pisang


Pisang adalah tanaman buah berupa herba yang berasal dari kawasan di
Asia Tenggara. Tanaman ini kemudian menyebar ke Afrika (Madagaskar),
Amerika Selatan dan Amerika Tengah. Penyebaran tanaman ini selanjutnya
hampir merata ke seluruh dunia, yakni meliputi daerah tropik dan subtropik,
dimulai dari Asia Tenggara ke Timur melalui Lautan Teduh sampai ke Hawai.
Selain itu, tanaman pisang menyebar ke barat melalui Samudera Atlantik,
Kepulauan Kanari, sampai Benua Amerika (Suyanti dan Supriyadi, 2010).
Pisang yang dikenal sampai saat ini merupakan keturunan dari spesies
pisang liar yaitu Musa acuminata dan Musa balbisiana. Pisang mempunyai
jumlah kromosom 22, 33, atau 44 dengan jumlah kromosom dasar adalah 11. Jadi
kultivar-kultivar ini adalah diploid (2n), triploid (3n), atau tetraploid (4n).
Perkawinan Musa acuminata yang mempunyai kromosom A dan Musa balbisiana
yang mempunyai kromosom B menghasilkan keturunan diploid AA, triploid AAA
atau AAB, bahkan tetraploid AAAA (Simmonds, 1966).
Berdasarkan taksonominya, tanaman pisang diklasifikasikan sebagai
berikut (Suyanti dan Supriyadi, 2010) :
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Keluarga : Musaceae
Genus : Musa
Spesies : Musa spp.
Menurut Simmonds (1966), tanaman pisang termasuk famili Musaceae,
genus Musa. Terdiri atas empat golongan berdasarkan daerah penyebarannya
yaitu:
1. Australiamusa, tersebar dari Queensland sampai Philipina. Pada umumnya
golongan ini ditanam untuk diambil serat dan buahnya.
2. Callimusa, tersebar di Indonesia dan Indocina. Golongan ini biasanya
ditanam sebagai tanaman hias.
5

3. Eumusa, tersebar dari India Selatan hingga Jepang dan Samoa. Pada
umumnya golongan ini ditanam untuk diambil buahnya, seratnya dan
bagian tertentu dari tanaman dapat dijadikan sayuran.
4. Rhodochlamya, tersebar dari India sampai Indocina. Pada umumnya
golongan ini ditanam sebagai tanaman hias.

Morfologi Pisang Kepok


Pisang Kepok Varietas Unti Sayang memiliki tinggi 370 cm dengan umur
berbunga 13 bulan. Batangnya berdiameter 31 cm dengan panjang daun 258 cm
dan lebar daun 90 cm, sedangkan warna daun serta tulang daun hijau tua. Bentuk
jantung spherical atau lanset. Bentuk buah lurus dengan panjang buah 14 cm dan
diameter buah 3.46 cm. Warna kulit dan daging buah matang kuning tua. Produksi
Pisang Kepok Varietas Unti Sayang dapat mencapai 40 ton/ha. Erionata thrax,
Thrips, dan Sigatoka dapat menyebabkan serangan yang rendah tetapi
Cosmopolites sordidus, Odiophorus sp., Fusarium oxysporum fsp cubense, Moko,
Virus, Heart rot tidak ada serangan sama sekali (Buddenhagen et al., 2008).

Perbanyakan Tanaman Pisang


Santoso (2008) menyatakan dalam satu rumpun tanaman pisang yang
lengkap terdapat anggota rumpun yang biasa kita temui yaitu :
1. Pohon induk, tanaman tertua dalam rumpun yang sedang berbuah.
2. Tunggul/bonggol, bekas pohon pisang yang ditebang.
3. Anakan rebung, tunas anakan yang panjangnya 20-40 cm, belum berdaun.
4. Anakan muda/anakan pedang, tunas anakan berukuran 41-100 cm dan
daunnya berbentuk seperti pedang dengan ujung runcing.
5. Anakan dewasa, tunas anakan dengan tinggi >100cm, telah memiliki
beberapa daun sempurna.
6. Tunas air, berbatang kurus dan panjang, diameter batang sama dengan
bonggol.

Perbanyakan benih pisang dapat dilakukan dengan teknik konvensional


(mengambil anakan dari induknya, anakan semai, bit anakan atau mini bit, dan
6

benih bit atau benih yang berasal dari bonggol) dan teknik kultur jaringan. Bibit
pisang yang berasal dari pemisahan anakan untuk langsung ditanam di kebun
merupakan cara umum digunakan oleh petani karena murah dan mudah dilakukan.
Cara ini sangat dipengaruhi oleh kemampuan tanaman induk dalam memproduksi
anakan. Kekurangannya adalah membutuhkan waktu yang lama untuk
menghasilkan anakan dan dapat merusak tanaman induk.
Bahan yang paling baik untuk perbanyakan pemisahan anakan langsung
adalah anakan pedang. Anakan rebung kurang baik jika ditanam langsung karena
bonggolnya masih lunak dan terlalu kecil sehingga mudah kekeringan. Anakan
dewasa terlalu berat dalam pengangkutan dan kurang tahan terhadap cekaman
lingkungan karena telah memiliki daun sempurna. Bibit anakan setelah dipisahkan
dari induknya harus segera ditanam, jika penanaman terlambat maka akan
meningkatkan serangan hama penggerek bonggol dan meningkatkan kematian
bibit di kebun. Teknik perbanyakan pisang yang lain adalah menggunakan anakan
semai. Anakan semai adalah bibit yang berasal dari anakan rebung atau anakan
yang memiliki bonggol sangat kecil. Anakan disemai terlebih dahulu dalam
kantong plastik atau polibag sebelum ditanam di kebun (Santoso, 2008).
Mini bit adalah bibit pisang yang berasal dari anakan yang terlebih dahulu
diinduksi untuk menumbuhkan tunas aksilar(samping). Bahan yang digunakan
adalah anakan pedang sampai anakan dewasa (Santoso, 2008). Keuntungan dari
cara ini yaitu tanaman yang digunakan satu tapi menghasilkan banyak benih
(tergantung jumlah tunas yang ada pada bonggol). Kekurangannya yaitu panen
yang tertunda karena alih fungsi dari anakan menjadi sumber benih. Waktu yang
tertunda diperkirakan 3-5 bulan (Nasir et al., 2006).
Benih bit merupakan benih pisang yang berasal dari bonggol tanaman
pisang. Bibit pisang berasal dari mata tunas yang terdapat pada tunggul pisang
yang bekas ditebang (Santoso, 2008). Bonggol yang digunakan harus dari
tanaman pisang yang telah berumur 7 bulan. Kekurangan dari cara ini yaitu
menggunakan tanaman dewasa yang seharusnya digunakan untuk panen.
Tanaman pisang selain dapat diperbanyak menggunakan teknik
konvensional, juga dapat digunakan teknik kultur jaringan. Ernawati et al. (1994)
menyatakan keunggulan teknik kultur jaringan daripada perbanyakan tanaman
7

secara vegetatif adalah dapat menghasilkan bibit-bibit yang sehat dan seragam
dalam jumlah yang banyak. Kekurangannya adalah biaya yang dibutuhkan cukup
tinggi dan membutuhkan perawatan ekstra ketika penanaman di lapangan.

Penyimpanan
Benih merupakan suatu kehidupan dan akan mengalami proses deteriorasi
yang mengakibatkan turunnya kualitas benih, maka pada saat penyimpanan harus
diusahakan agar laju deteriorasinya serendah mungkin (Kuswanto, 2003).
Penyediaan benih salah satunya ditunjang oleh cara penyimpanan benih yang
tepat. Tujuan utama penyimpanan benih adalah untuk mempertahankan viabilitas
benih selama periode simpan yang lama, sehingga benih ketika akan
dikecambahkan masih mempunyai viabilitas yang tidak jauh berbeda dengan
viabilitas awal sebelum benih disimpan.
Berapa lama benih dapat disimpan sangat tergantung pada kondisi benih
dan lingkungannya sendiri. Beberapa tipe benih tidak mempunyai ketahanan
untuk disimpan dalam jangka waktu yang lama atau sering disebut benih
rekalsitran. Pada umumnya semakin lama benih disimpan maka viabilitasnya akan
semakin menurun. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Masano dan Mawazin
(1997) yang menyatakan lamanya penyimpanan berpengaruh sangat nyata
terhadap penyimpanan benih Shorea selanica. Benih yang disimpan dalam wadah
plastik terbuka selama 3 minggu daya kecambahnya mulai menurun dan setelah 5
minggu daya kecambahnya 53.3 %.
Penanganan benih pisang mirip dengan penanganan benih rekalsitran.
Penanganan benih rekalsitran lebih sulit dibanding benih ortodoks. Mulawarman
et al. (2002) menyatakan benih rekalsitran tidak dapat dikeringkan sampai kadar
air yang rendah dan tidak dapat disimpan terlalu lama. Penyimpanan harus
dilakukan dengan baik untuk mempertahankan daya kecambah, menghindari
serangan hama penyakit, dan menjaga agar benih tidak berkecambah ditempat
penyimpanan.
8

Metode Penyimpanan Benih Rekalsitran


Penyimpanan benih rekalsitran yang baik adalah dalam kondisi cahaya
berintensitas rendah. Salah satu hasil penelitian menunjukkan bahwa benih
Dipterocarpaceae mampu bertahan hidup dan mempunyai pertumbuhan yang
lambat selama berbulan-bulan di bawah intensitas cahaya yang rendah. Metode
penyimpanan benih rekalsitran yang lain adalah penyimpanan benih pada suhu
yang sangat rendah atau cryopreservation. Cryopreservation adalah sebuah
metode penyimpanan material yang menggunakan suhu rendah dari liquid
nitrogen (LN) yaitu pada suhu -196ºC. Pada suhu tersebut semua metabolisme
yang berkaitan dengan kemunduran benih dikurangi atau bahkan terhenti. Suhu
yang rendah akan memperlambat proses metabolisme dan akan mempertahankan
viabilitas benih. Oleh karena itu, metode ini sangat mendukung penyimpanan
benih dalam jangka panjang (Puspita, 2009).
Tambunan dan Mariska (2003) menyatakan penyimpanan dengan cara
teknik kriopreservasi tidak memerlukan tindakan subkultur yang berulang-ulang
sehingga lebih efisien dari segi biaya, waktu, ruang penyimpanan, dan tenaga.
Keberhasilan teknik kriopreservasi tidak hanya ditunjukkan dengan kemampuan
hidup regenerasi bahan tanaman pasca kriopreservasi, tetapi juga ditentukan oleh
tingkat stabilitas genetiknya.
Bahan penghambat tumbuh dapat digunakan sebagai salah satu teknik
penyimpanan benih rekalsitran. Penelitian penyimpanan semai asal benih yang
bersifat rekalsitran dengan menggunakan bahan penghambat tumbuh telah diuji
coba oleh Syamsuwida et al. (2007) untuk jenis damar (Agathis dammara). Pada
penelitian tersebut, bahan penghambat tumbuh yang digunakan adalah
paclobutrazol dan NaCl dikombinasikan dengan beberapa kondisi ruang simpan
yang mempunyai intensitas sinar yang berbeda. Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa manipulasi faktor lingkungan dengan mengurangi intensitas cahaya (650
lux) dan suhu (25ºC) terhadap kondisi tempat simpan dikombinasikan dengan
pemberian paclobutrazol 250 ppm dapat mengurangi kecepatan pertumbuhan
semai damar hingga 29% selama penyimpanan 6 bulan dengan persentase tumbuh
97 - 99%.
9

Hal sama juga dilaporkan dalam penelitian mengenai benih kakao. Hasil
penelitian Budiarti et al. (1993) menyatakan bahwa penyimpanan benih kakao
dengan kadar air awal sekitar 37% menyebabkan benih tumbuh akarnya selama
periode simpan. Paclobutrazol 10 hingga 250 ppm dapat digunakan untuk
menekan jumlah benih berakar hingga periode simpan 6 minggu. Penghambatan
tumbuh oleh paclobutrazol masih berlangsung saat pembibitan.
Metode penyimpanan benih rekalsitran yang baru-baru ini ditemukan
adalah penggunaan bangun piramida. Pemilihan metode bangun piramida sangat
menguntungkan, selain karena piramida bisa dibuat dalam skala rumah tangga,
metode ini cukup efektif karena dapat mempertahankan viabilitas benih lebih
lama dari penyimpanan biasa. Piramida yang digunakan untuk pengawetan
tumbuhan obat mahkota dewa adalah piramida kayu yang memiliki alas berupa
persegi dengan sisi berukuran 0.5 cm dan sisi miring berukuran 0.5 cm.
Penyimpanan benih dilakukan di dalam ruangan (indoor) dengan menempatkan
benih di dalam piramida dan piramida dikondisikan sisi-sisinya menghadap arah
mata angin. Pengkondisian piramida tersebut mampu mempertahankan viabilitas
benih mahkota dewa selama lebih dari 2 bulan (Hidayat et al., 2011).

Pengemasan
Sistem pengemasan diperlukan dalam penyimpanan benih. Saat ini dikenal
berbagai sistem kemasan yang sering digunakan dalam penyimpanan benih
rekalsitran. Bahan dari jenis kain blacu yang di dalamnya di beri media serbuk
sabut kelapa dan dimasukkan ke dalam besek dapat digunakan sebagai bahan
kemasan benih jenis rekalsitran. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Yuniarti et
al. (2008a) yang menyatakan untuk memperlambat laju penurunan viabilitas benih
jenis damar yang berkarakter rekalsitran diperlukan penanganan benih yang tepat.
Salah satu aspek yang harus diperhatikan adalah teknik pengemasan dan
transportasi benih, yang akan mendukung pengadaan benih dari jenis rekalsitran.
Teknik pengemasan benih rekalsitran jenis damar yang terbaik adalah benih yang
dimasukkan ke dalam besek dengan media serbuk sabut kelapa yang dimasukkan
ke dalam kantong kain blacu. Perlakuan ini dapat menghasilkan nilai daya
10

berkecambah sebesar 77.67%, kecepatan berkecambah 7.8%/hari, dan kadar air


benih 43.40%.
Bahan dari jenis styrofoam yang didalamnya di beri media serbuk sabut
kelapa bisa digunakan sebagai bahan kemasan benih rekalsitran. Hasil penelitian
Yuniarti et al. (2008b) menyatakan untuk memperlambat laju penurunan viabilitas
benih dengan karakteristik benih rekalsitran jenis tengkawang (Shorea stenoptera)
diperlukan penanganan benih yang tepat dan salah satu aspek yang harus
diperhatikan adalah wadah pengemasan benih selama transportasi yang akan
mendukung pengadaan benih dari jenis rekalsitran. Teknik pengemasan untuk
transportasi benih yang terbaik untuk jenis tengkawang adalah perlakuan benih
yang dimasukkan ke dalam kotak styrofoam yang didalamnya diberi media serbuk
sabut kelapa. Perlakuan ini dapat menghasilkan nilai daya berkecambah sebesar
53,33% dan nilai kadar air benih sebesar 45,09%.
Bahan dari jenis plastik berlubang yang didalamnya diberi media serbuk
sabut kelapa dan dimasukkan ke dalam besek ternyata juga dapat digunakan
sebagai bahan kemasan benih jenis rekalsitran. Hal ini sesuai dengan hasil
penelitian Yuniarti et al. (2009) yang menyatakan untuk menekan laju penurunan
viabilitas benih bagi benih yang bersifat rekalsitran seperti jenis gaharu diperlukan
penanganan benih yang tepat. Benih yang dalam pengangkutannya memerlukan
waktu ±30 jam dan dengan mobil bak terbuka sebaiknya dimasukkan ke dalam
besek dengan media serbuk sabut kelapa yang dimasukkan ke dalam kantong
plastik berlubang, agar persen kecambah dapat dipertahankan sampai 63.33%
dengan kadar air benih 63.04%.
Usaha penyimpanan benih secara konvensional sudah banyak dilakukan
tetapi hasil yang diperoleh merupakan penyimpanan jangka pendek. Umumnya
benih rekalsitran dapat disimpan dalam jangka waktu beberapa minggu dengan
cara menurunkan kadar airnya hingga batas kritiknya kemudian disemprot dengan
fungisida dan disimpan dalam kemasan yang masih memungkinkan terjadinya
pertukaran udara tetapi impermeabel terhadap uap air (Hidayat et al., 2011).
Permasalahan yang ada pada benih rekalsitran adalah penurunan kadar air
yang cepat, sehingga wadah penyimpanan untuk mempertahankan kadar air benih
sangat diperlukan. Upaya untuk mempertahankan viabilitas benih selama
11

penyimpanan dapat dilakukan dengan memperhatikan faktor-faktor yang dapat


mempengaruhi wadah simpan yaitu suhu dan kelembaban. Suhu penyimpanan
yang rendah menyebabkan laju respirasi juga rendah sehingga periode simpan
benih dapat lebih panjang, sedangkan kelembaban dapat dipertahankan dengan
mempertahankan kadar air benih. Biasanya, untuk mempertahankan agar kadar air
benih tetap tinggi dilakukan pencampuran benih dengan media arang, serbuk
gergaji atau serbuk sabut kelapa yang lembab, sedang untuk wadah benih yang
digunakan adalah wadah-wadah yang bersifat sarang seperti karung goni, kain
blacu yang tidak kedap, agar pertukaran udara tetap terjadi dengan bebas sehingga
terhindar dari terjadinya suhu udara yang tinggi dalam wadah simpan (Yuniarti et
al., 2009).
12

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu


Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Pasirkuda, Ciomas, Bogor
dan Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih, Departemen Agronomi dan
Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Penelitian
dimulai pada Februari sampai Mei 2011.

Bahan dan Alat


Bahan utama yang digunakan dalam penelitian adalah benih berupa
bonggol pisang kepok Varietas Unti Sayang, media tanah, dan fungisida Dithane
M-45. Alat yang digunakan adalah gunting, meteran, ember, timbangan, kertas
label, cangkul, termohigrometer, alat vacum Foodsaver tipe Compac II-Vac 550,
Impulse Sealer tipe PFS-200P, dan pembungkus bonggol yang terdiri atas plastik
PP (p=40 cm, l=25 cm, t=0.8 mm ) dan plastik vacum (p=400 cm, l=26 cm, t=1.2
mm).

Metode Penelitian
Penelitian ini terdiri dari dua percobaan, yaitu : percobaan I untuk
mempelajari pengaruh ukuran bonggol terhadap viabilitas benih pisang dari
bonggol anakan dengan rata-rata tinggi anakan 1.10 m (B1, B2, B3, B4) dan 1.87
m (B5) dan percobaan II untuk mengamati pengaruh jenis kemasan terhadap
viabilitas benih pisang dari bonggol anakan dengan rata-rata tinggi anakan 1.87 m.
Percobaan I adalah percobaan pendahuluan untuk menentukan ukuran
bonggol yang tepat untuk digunakan pada percobaan kedua. Bonggol
diklasifikasikan menjadi lima bagian berdasarkan bobot dan diameternya yaitu B1
(Bonggol dengan bobot rata-rata 733.33 g dan diameter 11.53 cm), B2 (Bonggol
dengan bobot rata-rata 1298.3 g dan diameter 14.60 cm), B3 (Bonggol dengan
bobot rata-rata 1728.3 g dan diameter 15.73 cm), B4 (Bonggol dengan bobot rata-
rata 2644.4 g dan diameter 18.12cm), dan B5 (Bonggol dengan bobot rata-rata
7400 g dan diameter 22.4 cm). Setiap bagian diulang sebanyak 3 kali dan setiap
ulangan terdapat 6 bonggol kecuali perlakuan B5 yang hanya menggunakan 1
13

bonggol, sehingga bonggol yang digunakan sebanyak 75 bonggol. Analisis data


dilakukan secara deskriptif dengan grafik dan standar deviasi karena keterbatasan
jumlah dan besarnya keragaman benih. Perlakuan dengan rata-rata terbaik dipilih
sebagai bahan untuk percobaan kedua.
Percobaan II adalah percobaan lanjutan untuk menentukan cara
penyimpanan benih yang tepat agar viabilitas benih tetap terjaga dengan baik.
Penelitian ini terdiri dari enam kombinasi perlakuan, yaitu antara jenis kemasan
dan aplikasi fungisida. Jenis kemasan terdiri dari tanpa kemasan (A1), plastik PP
(p=40 cm, l=25 cm, t=0.8 mm) (A2), dan plastik vacum (p=400 cm, l=26 cm,
t=1.2 mm) (A3). Aplikasi fungisida terdiri dari tanpa fungisida (B1) dan
menggunakan fungisida (B2). Setiap perlakuan terdiri dari 5 waktu simpan yang
berbeda sehingga terdapat 30 satuan percobaan. Setiap satuan percobaan terdapat
5 bonggol maka total bonggol yang akan digunakan sebanyak 150 bonggol.
Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan tabel pada berbagai periode
simpan karena keterbatasan jumlah bahan dan besarnya keragaman benih
(bonggol).

Pelaksanaan Penelitian
Percobaan 1
Persiapan bonggol dilakukan dengan memilih bonggol yang berasal dari
anakan pisang dengan rata-rata tinggi anakan 1.10 m, selanjutnya bonggol
dipotong 10 cm diatas pangkal bonggol. Bonggol dicuci bersih dan direndam
dalam larutan fungisida Dithane M-45 selama 15 menit dengan konsentrasi 2 g/L,
kemudian dikering anginkan selama 10 menit, ditimbang dan diukur bobotnya.
Bonggol diklasifikasikan menjadi 5 bagian. Bonggol kemudian dicacah menjadi 4
bagian dengan ukuran yang sama lalu di tanam pada lahan yang telah tersedia.
Pengamatan dilakukan dalam interval 2 minggu yaitu minggu ke-2, ke-4, ke-6 dan
ke-8.

Percobaan 2
Persiapan bonggol dilakukan dengan memilih bonggol yang berasal dari
anakan pisang dengan rata-rata tinggi anakan 1.87 m. Selanjutnya bonggol
14

dipotong 10 cm diatas pangkal bonggol, kemudian dicacah sesuai jumlah tunas


yang ada dengan ukuran 10x10x10 cm (Nasir et al., 2006). Bonggol yang telah
dicacah selanjutnya dicuci bersih. Sebagian bonggol direndam dalam larutan
fungisida Dithane M-45 selama 15 menit dengan konsentrasi 2 g/L, kemudian
dikering anginkan selama 10 menit sedangkan sebagian lagi tidak direndam
fungisida. Masing-masing perlakuan siap untuk dikemas.
Bonggol yang telah siap kemudian dikemas menggunakan kemasan plastik
PP dan plastik vacum, sementara sisanya tidak dikemas. Pengamatan dilakukan
dalam interval 2 minggu yaitu minggu ke-2, ke-4, ke-6, ke-8, ke-10, dan ke-12
dengan cara menanam tiap perlakuan di persemaian.

Pengamatan
Tolok ukur yang diamati pada percobaan 1 adalah :
1. Viabilitas benih (Potensi Tumbuh Maksimum)

2. Jumlah tunas yang dihasilkan perbonggol

3. Waktu munculnya tunas (Hari)

4. Keseragaman tanaman (jumlah daun dan tinggi tanaman)


Menghitung jumlah daun yang telah terbuka sempurna dan tinggi tunas
yang telah tumbuh dari atas tanah sampai ujung daun.
15

Tolok ukur yang diamati pada percobaan 2 adalah :


1. Persentase terserang penyakit sebelum dan sesudah tanam

2. Viabilitas benih (Potensi Tumbuh Maksimum)

3. Waktu munculnya tunas (hari)

4. Keseragaman tanaman (jumlah daun dan tinggi tanaman)


Menghitung rata-rata jumlah daun yang telah terbuka sempurna dan tinggi
tunas yang telah tumbuh dari atas tanah sampai ujung daun.
16

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengamatan suhu dan RH


Rata-rata suhu di dalam ruang penyimpanan adalah 25.31ºC, dengan rata-
rata RH mencapai 65.82%, sedangkan rata-rata suhu di luar ruang penyimpanan
adalah 27.89ºC dengan rata-rata RH mencapai 57.21% (Lampiran 1). Data ini
menunjukkan bahwa di dalam ruang penyimpanan suhunya lebih rendah daripada
di luar ruang penyimpanan tetapi kelembaban udara di dalam ruang penyimpanan
lebih tinggi daripada di luar ruang penyimpanan.
Kelembaban yang tinggi di dalam ruang penyimpanan menyebabkan benih
menyerap uap air dari lingkungannya. Hasil penelitian Budiarti et al., (1993)
menyatakan pada lingkungan berkelembaban nisbi rendah, benih melepaskan
kandungan airnya sampai mencapai keseimbangan, sebaliknya pada kondisi
lembab benih menyerap air dari lingkungan.

Percobaan 1 : Penentuan ukuran bonggol yang tepat


Bonggol yang digunakan dalam percobaan 1 adalah bonggol yang berasal
dari anakan dengan tinggi rata-rata 1.10 m (B1, B2, B3, B4) dan 1.87 m (B5).
Anakan dengan tinggi 1.10 m belum mempunyai tunas yang muncul pada bagian
bonggolnya. Anakan yang biasanya telah memiliki tunas pada bagian bonggolnya
adalah anakan dengan tinggi rata-rata 1.87 m. Jumlah bonggol yang tersedia di
lapang cukup terbatas dan beragam. Oleh karena itu, cukup sulit untuk
mendapatkan jumlah bonggol yang sesuai dan seragam.
Gambar 1 menunjukkan bahwa potensi tumbuh maksimum tertinggi
terdapat pada B5 (bonggol dengan bobot rata-rata 7400 g dan diameter 22.4 cm).
Rata-rata potensi tumbuh maksimum B5 sebesar 73.33%, berbeda sangat jauh
dengan B1 sebesar 13.89%, B2 sebesar 4.17%, B3 sebesar 4.17%. dan B4 sebesar
11.11% (Lampiran 2). Potensi tumbuh maksimum menunjukkan kemampuan
benih untuk tumbuh baik normal maupun abnormal pada kondisi tertentu.
Semakin tinggi potensi tumbuh maksimumnya maka benih itu semakin baik.
Rata-rata standar deviasi menunjukkan besarnya keragaman dari data yang
diamati. Semakin besar nilai standar deviasinya maka datanya semakin tidak
17

seragam. Walaupun B5 memiliki potensi tumbuh maksimum tertinggi daripada


B1, B2, B3 dan B4 tetapi nilai standar deviasi B5 juga tinggi yaitu sebesar 46.1,
sedangkan nilai standar deviasi bonggol lain relatif lebih kecil yaitu B1 sebesar
10.48, B2 sebesar 4.16, B3 sebesar 7.22, dan B4 sebesar 4.82. Oleh karena itu,
perlu perhatian khusus dalam perbanyakan bonggol pisang agar bonggol tumbuh
dengan seragam.

Keterangan :
140
B1 : Bobot = 733.33 g dan
120
Diameter = 11.53 cm
100
B2 : Bobot = 1298.3 g dan
PTM (%)

80
Diameter = 14.60 cm
60
B3 : Bobot = 1728.3 g dan
40 Diameter = 15.73 cm
20 B4 : Bobot = 2644.4 g dan
0 Diameter = 18.12cm
B1 B2 B3 B4 B5 B5 : Bobot = 7400 g dan
Perlakuan Diameter = 22.4 cm

Gambar 1. Rata-rata Potensi Tumbuh Maksimum (%) pada delapan minggu


setelah tanam

Gambar 2 menunjukkan bonggol yang terbaik menghasilkan tunas adalah


B5 (bonggol dengan bobot rata-rata 7400 g dan diameter 22.4 cm). Tunas yang
dihasilkan B5 sebanyak 3 tunas per bonggol. Hasil ini sangat berbeda jauh dengan
bonggol lainnya. B1 menghasilkan rata-rata sebesar 0.6 tunas per bonggol, B2 dan
B3 menghasilkan sebesar 0.2 tunas per bonggol serta B4 sebesar 0.4 tunas per
bonggol (Lampiran 3).
Jumlah tunas yang dihasilkan B5 lebih tinggi daripada B1, B2, B3, dan
B4, tetapi nilai standar deviasi B5 cukup tinggi yaitu sebesar 1.7. Nilai ini lebih
tinggi daripada B1 (0.4), B2 (0.2), B3 (0.3), dan B4 (0.2). Rata-rata standar
deviasi menunjukkan besarnya keragaman dari data yang diamati. Semakin besar
18

nilai standar deviasinya maka jumlah tunas yang dihasilkan semakin tidak
seragam.
Mata tunas yang terdapat dalam belahan bonggol diduga berpengaruh
terhadap kemampuan tunas untuk tumbuh dan kemampuan bonggol untuk
menghasilkan tunas. Bonggol yang memiliki mata tunas diduga memiliki
kemampuan tumbuh yang lebih tinggi dan dapat memunculkan calon tunas dari
setiap mata tunas yang disemaikan. Hasil penelitian Tri et al. (2006) menyatakan
bonggol yang ditanam dalam media tanah mampu menghasilkan tunas sebesar
4.4 tunas per bonggol.

5 Keterangan :
4.5
B1 : Bobot = 733.33 g dan
4
Diameter = 11.53 cm
Jumlah Tunas

3.5
3 B2 : Bobot = 1298.3 g dan
2.5 Diameter = 14.60 cm
2
B3 : Bobot = 1728.3 g dan
1.5
1 Diameter = 15.73 cm
0.5 B4 : Bobot = 2644.4 g dan
0
Diameter = 18.12cm
B1 B2 B3 B4 B5
B5 : Bobot = 7400 g dan
Perlakuan
Diameter = 22.4 cm

Gambar 2. Rata-rata Jumlah tunas yang dihasilkan per bonggol pada delapan
minggu setelah tanam

Bonggol yang paling cepat bertunas adalah B5 (bonggol dengan bobot


rata-rata 7400 g dan diameter 22.4 cm). Hal ini ditunjukkan pada Gambar 3.
Waktu munculnya tunas menunjukkan kecepatan tumbuh dari bonggol yang
ditunaskan. Semakin cepat bonggol bertunas maka akan semakin baik. B2 (33 hari
setelah tanam) dan B3 (16 hari setelah tanam) tidak dapat dibandingkan karena
ada 1 ulangan yang tidak bertunas pada B2 dan 2 ulangan yang tidak bertunas
pada B3 (Lampiran 4) yang membuat rata-rata B2 dan B3 menjadi kecil sehingga
tidak dapat dibandingkan. B5 rata-rata memunculkan tunas pada umur 36 hari
19

setelah tanam atau sekitar 5 minggu setelah persemaian, sedangkan B1


memunculkan tunas pada 41 hari setelah tanam dan B4 memunculkan tunas pada
48 hari setelah tanam. Nilai yang didapatkan oleh B5 sesuai dengan hasil
penelitian Purwanto dan Sujiprihati (1985) yang menunjukkan waktu munculnya
tunas belahan bonggol adalah 35.7 hari setelah tanam dan persentase munculnya
tunas sebesar 46%.
Rata-rata standar deviasi menunjukkan besarnya keragaman dari data yang
diamati. Semakin besar nilai standar deviasinya maka datanya semakin tidak
seragam. B4 dan B5 memiliki nilai standar deviasi yang kecil yaitu B5 (7) dan B4
(4.04). Artinya waktu munculnya tunas B4 dan B5 relatif seragam dibandingkan
perlakuan B1 (10.44), B2 (29.31) dan B3 (27.71).

70 Keterangan :
Munculnya Tunas (Hari)

60 B1 : Bobot = 733.33 g dan


50 Diameter = 11.53 cm

40 B2 : Bobot = 1298.3 g dan


Diameter = 14.60 cm
30
B3 : Bobot = 1728.3 g dan
20
Diameter = 15.73 cm
10
B4 : Bobot = 2644.4 g dan
0
Diameter = 18.12cm
B1 B2 B3 B4 B5
B5 : Bobot = 7400 g dan
Perlakuan
Diameter = 22.4 cm

Gambar 3. Rata-rata waktu munculnya tunas (hari) pada delapan minggu setelah
tanam

Gambar 4. menunjukkan bonggol yang terbaik pertumbuhannya diamati


dari jumlah daun yang dihasilkan adalah B1, B4, dan B5. Jumlah rata-rata daun
B5 sebesar 1.45 daun per tunas, sedikit lebih tinggi daripada B1 sebesar 1.33 daun
per tunas dan B4 sebesar 1.17 daun per tunas (Lampiran 5). B2 dan B3 hanya
menghasilkan jumlah daun masing-masing sebesar 0.33 daun per tunas.
20

Rata-rata standar deviasi menunjukkan besarnya keragaman dari data yang


diamati. Semakin besar nilai standar deviasinya maka datanya semakin tidak
seragam. B4 dan B5 memiliki standar deviasi yang kecil yaitu 0.29 dan 0.38.
Artinya jumlah daun yang muncul relatif seragam daripada B1 (0.67), B2 (0.58)
dan B3 (0.58).

2.5 Keterangan :
B1 : Bobot = 733.33 g dan
2
Diameter = 11.53 cm
Jumlah Daun

1.5 B2 : Bobot = 1298.3 g dan


Diameter = 14.60 cm
1
B3 : Bobot = 1728.3 g dan
0.5 Diameter = 15.73 cm
B4 : Bobot = 2644.4 g dan
0
B1 B2 B3 B4 B5
Diameter = 18.12cm
B5 : Bobot = 7400 g dan
Perlakuan
Diameter = 22.4 cm

Gambar 4. Rata-rata Jumlah daun per tunas pada delapan minggu setelah tanam

Gambar 5. menunjukkan bonggol yang terbaik pertumbuhannya diamati


dari tinggi tunas adalah B1, B4, dan B5. Bonggol yang paling tinggi
pertumbuhannya adalah B1 sebesar 19.52 cm dan disusul oleh B5 sebesar 14.28
cm dan B4 sebesar 11.01 cm (lampiran 6). B2 dan B3 hanya memiliki rata-rata
tinggi tunas sebesar 6.41 cm dan 5.46 cm.
Rata-rata standar deviasi menunjukkan besarnya keragaman dari data yang
diamati. Semakin besar nilai standar deviasinya maka datanya semakin tidak
seragam. B4 memiliki nilai standar deviasi yang kecil yaitu 3.04, sedangkan B1
(6.59), B2 (5.67) dan B5 (6.97) memiliki standar deviasi yang relatif sama serta
standar deviasi terbesar adalah B3 sebesar 9.45. Artinya bonggol yang
pertumbuhan tingginya relatif seragam adalah B4 karena memiliki nilai standar
deviasi yang kecil.
21

30
Keterangan :
B1 : Bobot = 733.33 g dan
25
Diameter = 11.53 cm
Tinggi Tanaman (cm)

20 B2 : Bobot = 1298.3 g dan


Diameter = 14.60 cm
15
B3 : Bobot = 1728.3 g dan
10 Diameter = 15.73 cm

5 B4 : Bobot = 2644.4 g dan


Diameter = 18.12cm
0
B5 : Bobot = 7400 g dan
B1 B2 B3 B4 B5
Perlakuan
Diameter = 22.4 cm

Gambar 5. Rata-rata tinggi tunas (cm) pada delapan minggu setelah tanam

Bila diamati dari jumlah daun yang dihasilkan bonggol dengan bobot rata-
rata 7400 g dan diameter 22.4 cm pertumbuhannya dapat dikatakan cukup cepat.
Namun, bila dilihat dari pertumbuhan tinggi tunasnya bonggol dengan bobot rata-
rata 7400 g dan diameter 22.4 cm pertumbuhanya dapat dikatakan cukup lambat.
Hasil penelitian Tri et al. (2006) menyatakan bonggol yang ditanam dalam media
tanah mampu menghasilkan jumlah daun sebesar 0.73 daun per tunas sedangkan
tinggi tanamannya sebesar 27.27 cm pada 35 hari setelah tanam.
Bonggol yang terbaik untuk digunakan pada percobaan kedua adalah B5
(bonggol dengan bobot rata-rata 7400 g dan diameter 22.4 cm). Walaupun B5
memiliki standar deviasi yang cukup tinggi tetapi jumlah tunas yang dihasilkan
dan potensi tumbuh maksimumnya paling tinggi daripada bonggol lainnya.
Bonggol dengan bobot rata-rata 7400 g dan diameter 22.4 cm biasanya telah
memiliki mata tunas pada setiap bongolnya. Sedangkan bonggol lainnya (B1, B2,
B3, dan B4) belum memiliki mata tunas. Oleh karena itu untuk penelitian
selanjutnya tidak diukur lagi bobot dan diameternya. Bahan tanaman langsung
menggunakan bonggol yang telah memiliki mata tunas saja.
22

Percobaan 2 : Penentuan teknik penyimpanan


Bonggol yang digunakan pada percobaan kedua adalah bonggol anakan
dengan tinggi rata-rata 1.87 m (Gambar 6a). Anakan yang telah memiliki tinggi
rata-rata 1.87 biasanya telah memiliki tunas pada bonggolnya (Gambar 6b).
Jumlah tunas yang tersedia biasanya 2 mata tunas per bonggol. Jumlah bonggol
yang tersedia di lapang cukup terbatas dan beragam. Oleh karena itu cukup sulit
untuk mendapatkan jumlah bonggol yang sesuai dan seragam.

(a) (b)
Gambar 6. Contoh bonggol (a) dan contoh mata tunas pada bonggol (b)

Tabel 1. Persentase terkena cendawan sebelum tanam (%)


Waktu Simpan (Minggu)
Perlakuan
0 2 4 6 8
Tanpa Fungisida 0 100 100 100 100
Tanpa Kemasan
Fungisida 0 100 100 100 100
Tanpa Fungisida 0 40 100 100 100
Plastik PP
Fungisida 0 60 100 100 100
Tanpa Fungisida 0 0 0 0 0
Pastik Vacum
Fungisida 0 0 0 0 0

Bonggol yang terkena cendawan sebelum tanam ditunjukkan oleh Tabel 1.


Bonggol yang terkena cendawan sebelum tanam pada perlakuan tanpa kemasan
dan tanpa fungisida dengan penyimpanan 2 minggu, 4 minggu, 6 minggu, dan 8
minggu mencapai 100%, demikian pula pada perlakuan tanpa kemasan
menggunakan fungisida. Sama halnya pada bonggol yang dikemas plastik PP baik
tanpa fungisida maupun menggunakan fungisida dengan penyimpanan 4 minggu,
23

6 minggu, dan 8 minggu juga mencapai 100%. Hasil berbeda didapatkan pada
penyimpanan 2 minggu. Bonggol yang dikemas plastik PP tanpa fungisida dan
plastik PP dan menggunakan fungisida terkena cendawan masing-masing sebesar
40% dan 60%. Bonggol yang dikemas plastik vacum baik tanpa fungisida maupun
menggunakan fungisida tidak terserang cendawan selama penyimpanan.
Bonggol yang tidak dikemas maupun dikemas dengan plastik PP masih
terserang cendawan selama penyimpanan, baik diberi perlakuan fungisida maupun
tidak (Gambar 7a). Bonggol yang dikemas plastik vacum baik tanpa fungisida
maupun dengan fungisida sama sekali tidak terkena cendawan (Gambar 7b).
Cendawan datang dari udara atau tanah yang masih menempel pada benih
yang tidak dibersihkan secara baik. Oleh karena itu benih yang kedap udara lebih
memungkinkan untuk terhindar dari terserang cendawan karena tidak ada
pertukaran udara antara di dalam dan di luar kemasan.
Cendawan yang diduga sering menyerang benih pisang dalam
penyimpanan adalah Fusarium sp. non patogen, menurut Djaafar et al. (2001)
keberadaan genera Fusarium dan kapang dengan miselia putih bersepta selama
penyimpanan berasal dari kontaminasi selama penanganan lepas panen misalnya
dari tanah, debu atau wadah untuk pengeringan. Hal ini juga diperkuat oleh hasil
penelitian Hernadi (1981) yang menyatakan dari hasil pengujian berbagai varietas
pisang lokal di Samarinda didapatkan bahwa pisang Kepok, Pisang Susu, Pisang
Raja, dan Pisang kapas memiliki ketahanan yang rendah terhadap cendawan
Fusarium oxysporium f. cubens. Oleh karena itu, pisang kepok yang digunakan
dalam penelitian ini mudah terserang cendawan

(a) (b)
Gambar 7. Contoh bonggol terserang cendawan (a) dan
contoh bonggol yang tidak terserang cendawan (b)
24

Tabel 2. Persentase terkena cendawan setelah tanam (%)


Waktu Simpan (Minggu)
Perlakuan
0 2 4 6 8
Tanpa Fungisida 0 0 0 0 0
Tanpa Kemasan
Fungisida 0 0 0 0 0
Tanpa Fungisida 0 0 0 0 0
Plastik PP
Fungisida 0 0 0 0 0
Tanpa Fungisida 0 0 60 90 0
Pastik Vacum
Fungisida 0 0 40 40 0

Tabel 2 menunjukkan pada saat setelah ditanam, bonggol tetap berpotensi


untuk terkena cendawan. Bonggol yang tidak dikemas maupun yang dikemas
plastik PP tidak terkena cendawan setelah penanaman di persemaian, baik diberi
perlakuan fungisida maupun tidak. Sebaliknya bonggol yang dikemas plastik
vacum tanpa fungisida terkena cendawan setelah penanaman di persemaian
dengan penyimpanan 4 minggu dan 6 minggu sebesar 60% dan 90%. Sama halnya
dengan bonggol yang dikemas plastik vacum menggunakan fungisida terkena
cendawan setelah penanaman di persemaian dengan penyimpanan 4 minggu dan 6
minggu yang mencapai 40%, namun pada penyimpanan 2 dan 8 minggu bonggol
yang dikemas plastik vacum, baik dengan fungisida maupun tanpa fungisida tidak
terkena cendawan sama sekali.
Cendawan yang menyerang di persemaian diduga dari jenis cendawan
saprofit, berwarna putih, terdapat batang sebagai penopang tajuk yang juga
berwarna putih, dan muncul dari dalam tanah (Gambar 8). Cendawan ini hanya
muncul pada bonggol yang dikemas plastik vacum tanpa fungisida dan plastik
vacum dan menggunakan fungisida dengan penyimpanan 4 minggu dan 6 minggu.

Gambar 8. Contoh cendawan saprofit yang tumbuh pada bonggol yang


membusuk di persemaian
25

Tabel 3. Potensi Tumbuh Maksimum (%) pada empat minggu setelah tanam
Waktu Simpan (Minggu)
Perlakuan
0 2 4 6 8
Tanpa Tanpa Fungisida 40 20 20 40 0
Kemasan Fungisida 20 20 20 0 0
Tanpa Fungisida 20 80 0 0 0
Plastik PP
Fungisida 40 80 20 0 0
Tanpa Fungisida 0 0 0 0 0
Pastik Vacum
Fungisida 20 0 0 0 0

Potensi tumbuh maksimum pada empat minggu setelah tanam ditunjukkan


oleh Tabel 3. Bonggol yang tidak dikemas dan tanpa fungisida mampu tumbuh
dengan baik sampai waktu simpan 6 minggu yaitu sebesar 40%, sedangkan
bonggol yang tidak dikemas dan menggunakan fungisida dan bonggol yang
dikemas plastik PP dan menggunakan fungisida mampu tumbuh baik sampai
waktu simpan 4 minggu yaitu sebesar 20%. Bonggol yang hanya mampu tumbuh
baik setelah disimpan 2 minggu adalah bonggol yang dikemas plastik PP tanpa
fungisida yaitu sebesar 80%. Bonggol yang dikemas plastik vacum, baik tanpa
fungisida maupun menggunakan fungisida tidak mampu tumbuh sama sekali
setelah penyimpanan.
Potensi tumbuh maksimum adalah kemampuan benih untuk tumbuh baik
normal maupun abnormal pada kondisi tertentu. Semakin tinggi nilainya maka
semakin baik benih tersebut. Bonggol yang masih bisa disimpan selama 6 minggu
adalah bonggol yang tidak dikemas dan tanpa fungisida dengan presentase potensi
tumbuh maksimum sebesar 40%. Artinya 2 bonggol masih sanggup bertunas dari
5 bonggol yang disemaikan. Bonggol sudah tidak bisa lagi disimpan selama 8
minggu karena presentase tumbuh maksimum untuk semua perlakuan bernilai 0%.
Khusus untuk presentase potensi tumbuh maksimum pada bonggol yang
dikemas plastik PP baik menggunakan fungisida maupun tidak dengan
penyimpanan selama 2 minggu nilainya lebih besar daripada bonggol dengan
perlakuan lainnya. Ini dikarenakan bonggol pada perlakuan tersebut telah
memunculkan tunas di penyimpanan sehingga pada saat penanaman di lapang
potensi tumbuh maksimumnya menjadi lebih tinggi.
26

Bonggol yang tidak tumbuh sama sekali setelah disimpan adalah


perlakuan bonggol yang dikemas plastik vacum tanpa fungisida dan dengan
fungisida. Perlakuan ini menggunakan kemasan kedap udara sehingga tidak
memungkinkan terjadinya pertukaran udara yang menyebabkan benih berespirasi
anaerob. Hasil dari respirasi anaerob salah satunya adalah alkohol yang dapat
meracuni bonggol pisang.
Darussamin (1979) yang meneliti benih karet mengemukakan bahwa
konservasi anaerobik menyebabkan laju kemunduran benih lebih cepat
dibandingkan dengan konservasi aerobik akibat kandungan alkohol dan kebocoran
membrannya yang lebih tinggi.

Tabel 4. Rata-rata waktu munculnya tunas (hari) pada empat minggu setelah
tanam
Waktu Simpan (Minggu)
Perlakuan
0 2 4 6 8
Tanpa Fungisida 28 28 28 14 0
Tanpa Kemasan
Fungisida 28 28 28 0 0
Tanpa Fungisida 28 14 0 0 0
Plastik PP
Fungisida 28 25 28 0 0
Tanpa Fungisida 0 0 0 0 0
Pastik Vacum
Fungisida 28 0 0 0 0

Rata-rata waktu munculnya tunas pada empat minggu setelah tanam


ditunjukkan oleh Tabel 4. Bonggol yang tidak dikemas, baik tanpa fungisida
maupun menggunakan fungisida rata-rata bertunas 28 hari setelah tanam pada
penyimpanan 2 minggu dan 4 minggu, namun bonggol yang tidak dikemas tanpa
fungisida memunculkan tunas lebih cepat pada penyimpanan 6 minggu yaitu 14
hari setelah tanam.
Bonggol yang dikemas plastik PP tanpa fungisida rata-rata memunculkan
tunas 14 hari setelah tanam pada penyimpanan 2 minggu. Bonggol yang dikemas
plastik PP dan menggunakan fungisida rata-rata memunculkan tunas 25 hari dan
28 hari setelah tanam pada penyimpanan 2 minggu dan 4 minggu. Bonggol yang
dikemas plastik vacum, baik tanpa fungisida maupun menggunakan fungisida
tidak mampu tumbuh sama sekali setelah penyimpanan.
27

Rata-rata waktu munculnya tunas menunjukkan kecepatan tumbuh dari


bonggol yang disemaikan. Semakin cepat benih bertunas maka akan semakin
baik. Bonggol rata-rata bertunas 28 hari setelah tanam. Waktu munculnya tunas
ditunjukkan lebih cepat oleh bonggol yang dikemas plastik PP tanpa fungisida dan
plastik PP menggunakan fungisida dengan penyimpanan 2 minggu yaitu 14 hari
dan 25 hari setelah tanam serta bonggol yang tidak dikemas tanpa fungisida
dengan penyimpanan 6 minggu sebesar 14 hari setelah tanam. Ini disebabkan
bonggol telah bertunas pada saat penyimpanan.
Bonggol diduga tetap mengalami pertumbuhan pada saat di penyimpanan,
tetapi pertumbuhannya sangat lambat. Saat bonggol disemaikan di lapang barulah
pertumbuhan bonggol kembali cepat. Biasanya pada 2 minggu setelah tanam
bonggol mulai memunculkan akar, tetapi belum memunculkan tunas.
Penyebabnya adalah kebutuhan benih untuk penyerapan air dan hara. Barulah
setelah penanaman sekitar 4 minggu atau 28 hari bonggol mulai memunculkan
tunas (gambar 8).

Gambar 9. Contoh akar yang muncul pada bonggol yang berumur dua minggu
setelah tanam

Tabel 5. Rata-rata jumlah daun per tunas pada empat minggu setelah tanam
Waktu Simpan (Minggu)
Perlakuan
0 2 4 6 8
Tanpa Fungisida 0 1 0 1.5 0
Tanpa Kemasan
Fungisida 0 0 0 0 0
Tanpa Fungisida 0 0 0 0 0
Plastik PP
Fungisida 0 0 0 0 0
Tanpa Fungisida 0 0 0 0 0
Pastik Vacum
Fungisida 1 0 0 0 0
28

Tabel 5 menunjukkan jumlah daun per tunas pada empat minggu setelah
tanam. Bonggol yang tidak dikemas tanpa fungisida memunculkan daun pada
penyimpanan 2 minggu dan 6 minggu sebesar 1 daun dan 1.5 daun. Bonggol
dengan perlakuan lainnya tidak memunculkan daun sama sekali pada
penyimpanan 2 minggu sampai 8 minggu.
Biasanya bonggol belum aktif memunculkan daun pada 4 minggu setelah
tanam sehingga belum banyak bonggol yang memunculkan daun pada 4 minggu
setelah tanam. Oleh karena itu, pada persemaian bonggol pisang, benih biasanya
disemaikan minimal selama 3 bulan setelah tanam agar setidaknya telah tumbuh 2
sampai 3 helai daun sebelum di pindah ke kebun (Mulyani et al., 2008).

Tabel 6. Rata-rata tinggi tunas yang muncul pada empat minggu setelah tanam
Waktu Simpan (Minggu)
Perlakuan
0 2 4 6 8
Tanpa Fungisida 0.37 10 7 14 0
Tanpa Kemasan
Fungisida 2 1.6 2.5 0 0
Tanpa Fungisida 1 3.7 0 0 0
Plastik PP
Fungisida 3.05 3.78 6.7 0 0
Tanpa Fungisida 0 0 0 0 0
Pastik Vacum
Fungisida 15.1 0 0 0 0

Tinggi tunas yang muncul pada empat minggu setelah tanam ditunjukkan
oleh Tabel 6. Bonggol yang tidak dikemas dan tanpa fungsida memiliki rata-rata
pertumbuhan tinggi tunas yang lebih baik daripada bonggol yang tidak dikemas
dan menggunakan fungisida. Bonggol yang dikemas plastik PP dan tanpa
fungisida rata-rata pertumbuhan tinggi tunasnya lebih rendah daripada bonggol
yang dikemas plastik PP dan menggunakan fungisida. Bonggol yang dikemas
plastik vacum baik tanpa fungisida maupun menggunakan fungisida dengan
penyimpanan 2 minggu sampai 8 minggu tunasnya tidak tumbuh sama sekali.
Kemasan yang digunakan dalam penyimpanan bonggol diduga
berpengaruh terhadap pertumbuhan tunas bonggol. Bonggol yang tidak dikemas
pertumbuhannya lebih baik daripada bonggol yang dikemas plastik PP dan plastik
vacum. Kemasan yang digunakan dalam penyimpanan bonggol diduga
menyebabkan pertumbuhan tinggi tunas menjadi lambat akibat respirasi anaerobik
29

yang terjadi di dalam kemasan. Respirasi anaerobik ini menyebabkan benih


mengalami keracunan dan dapat menghambat pertumbuhan benih.
30

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Kesimpulan yang didapatkan adalah benih pisang yang diperbanyak
menggunakan bonggol dengan bobot 7400 g dan diameter 22.4 cm menghasilkan
3 tunas per bonggol dan potensi tumbuh maksimum 73.33%, terbaik bila
dibandingkan dengan ukuran bonggol lainnya.
Bonggol yang dikemas plastik PP dan vacum memiliki viabilitas yang
lebih kecil daripada bonggol yang tidak dikemas baik dari segi potensi tumbuh
maksimum maupun dari segi pertumbuhan tinggi tunasnya. Selama penyimpanan
6 minggu bonggol yang tidak dikemas tanpa fungisida masih memiliki potensi
tumbuh maksimum sebesar 40%.

Saran
Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang berbagai jenis cendawan
yang menyerang bonggol baik di tempat penyimpanan maupun di persemaian.
31

DAFTAR PUSTAKA

Ariany, R. 2009. Teknik pengemasan dan transportasi benih rekalsitran dan bibit
siap tanam jenis Nyemplung (Callophyllum inophyllum) dan Meranti
(Shorea sp.). http://bpthbalinusra.net. [03 Agustus 2011].

BPS. 2009. Produksi buah-buahan di Indonesia. http://www.bps.go.id. [11


November 2010].

Buddenhagen, I. W., H. Nugroho, Witjaksono, dan Sobir. 2008. Berita resmi


pendaftaran varietas lokal. http://www.deptan.go.id. [15 September 2011].

Budiarti, T., E. Widajati, dan A. Qadir. 1993. Penggunaan zat pengatur tumbuh
tanaman pada beberapa benih rekalsitran untuk meningkatkan daya simpan
dan vigor bibit. Direktorat Pembinaan Penelitian dan Pengabdian pada
Masyarakat, Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan. Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Bogor. 50 hal.

Darussamin, A. 1979. Pengaruh penyimpanan aerobik dan anaerobik terhadap


biokimia dan fisiologi benih karet (Hevea brasiliensis, Muel Arg). Tesis.
Fakultas Pascasarjana, IPB. Bogor.

Deptan. 2009. Produktivitas hortikultura tahun 2000-2009.


http://www.deptan.go.id. [11 november 2010].

Deptan. 2006. Teknik Perbanyakan Bibit Pisang Sehat Secara Mudah dan Cepat.
Departemen Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian,
Balai Besar Pegkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. Nusa
Tenggara Barat.

Djaafar, T. F., E. S. Rahayu dan S. Rahayu. 2001. Kontaminasi kapang selama


penyimpanan benih jagung dan hubungannya dengan daya kecambah. J. II.
Pert. Indon. 10(2):46-49.

Ernawati, A., A. Purwito, dan K. Suketi. 1994. Studi perbanyakan cepat Pisang
Raja Bulu, Pisang Ambon Kuning, dan Pisang Barangan dengan teknik
kultur jaringan. Direktorat Pembinaan Penelitian dan Pengabdian pada
Masyarakat, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan. Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Bogor. 35 hal.

Hernadi, R. 1981. Pengujian ketahanan beberapa varietas pisang lokal terhadap


Fusarium Oxysporium f. cubens di Samarinda. Fakultas Pertanian,
Universitas Mulawarman Samarinda. Samarinda. 8 hal.
32

Hidayat, R., Dahlan, dan R. W. Atmaja. 2011. Bangun piramida sebagai metode
baru penyimpanan benih tumbuhan obat Mahkota Dewa (Phaleria
macrocarpa (Scheff) Boerl.). Institut Pertanian Bogor. Bogor. 9 hal.

Kuswanto, H. 2003. Teknologi Pemrosesan, Pengemasan, dan Penyimpanan


Benih. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. 127 hal.

Masano dan Mawazin. 1997. Penyimpanan benih Shorea selanica Blume. Pusat
Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam, Bogor. Bogor.
(summary).

Menegristek. 2000. Pisang. Kementrian Negara Riset dan Teknologi, Bidang


Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu dan Teknologi. Jakarta. 13 hal.

Mulawarman, J. M. Roshetko, S. H. Sasongko, dan Djoko Irianto. 2002.


Pengelolaan Benih Pohon (Sumber Benih, Pengumpulan dan Penanangan
Benih). International Centre for Research in Agroforenstry dan Winrock
International. Bogor. 45 hal.

Mulyani, N., Suprapto, dan J. Hendra. 2008. Teknologi Budidaya Pisang. Balai
Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Badan
Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Lampung. 33 hal.

Nasir, N., Prisdiminggo, dan M. Nazam. 2006. Teknologi pengadaan benih pisang
secara cepat, sederhana dan bermikoriza untuk lahan marginal.
http://www.ntb.litbang.deptan.go.id. [11 November 2010].

Poerwanto, R. dan S. Sujiprihati. 1985. Studi pengaruh jenis bibit serta taraf
pemupukan nitrogen terhadap pertumbuhan dan produksi pisang. Jurusan
Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
47 hal.

Puspita, A. 2009. Beberapa Alternatif Metode Penyimpanan Benih Jenis


Rekalsitran. Prosiding Workshop Sintesa Hasil Penelitian Hutan Tanaman.
Departemen Kehutanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan,
Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. Bogor. 383-386 hal.

Santoso, P. J. 2008. Produksi benih pisang dari rumpun in situ. Balai Penelitian
Tanaman Buah Tropika. Sumatera Barat. 25-33 hal.

Simmonds, N. W. 1966. Bananas. Longman Ltd. London. 512p.

Suhartanto, M. R., Sobir, H. Harti, dan M. A. Nasution. 2009. Pengembangan


Pisang sebagai Penopang Ketahanan Pangan Nasional. Prosiding Seminar
Hasil-Hasil Pertanian IPB. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 600-608.

Suyanti dan A. Supriyadi. 2010. Pisang : Budidaya, Pengolahan, dan Prospek


Pasar. Penebar Swadaya. Jakarta. 132 hal.
33

Syamsuwida, D., A. Aminah, dan A. R. Hidayat. 2007. Penyimpanan semai asal


benih rekalsitran jenis Agathis dammara. Jurnal Penelitian Hutan
Tanaman. 4(3):135-142.

Tambunan, I. R., dan I. Mariska. 2003. Pemanfaatan teknik Kriopreservasi dalam


penyimpanan plasma nutfah tanaman. Bul. Plasma Nutfah. 9(2):10-18.

Tri, R. E., Awaludin, A. Susanto. 2006. Pengaruh media terhadap pertumbuhan


bibit pisang susu asal bonggol di Sambelia, Lombok Timur, NTB. BPTP
NTB. Lombok Timur.

Yuniarti, N., D. Syamsuwida, dan E. Suita. 2008a. Teknik pengemasan dan


transportasi benih untuk karakteristik benih rekalsitran jenis Damar. Jurnal
Penelitian Hutan Tanaman. 5(2):259-267.

__________., D. Syamsuwida, E. Rohani, dan A. Rahmat. 2008b. Dampak


Pengemasan terhadap Viabilitas Benih Tengkawang (Shorea stenoptera)
Selama Transportasi. Prosiding Workshop Sintesa Hasil Penelitian Hutan
Tanaman. Departemen Kehutanan, Badan Penelitian dan Pengembangan
Kehutanan, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. Bogor.
213-219 hal.

___________., D Syamsuwida, E. Suita, E. Rohani, dan A. Rahmat. 2009.


Pemilihan teknik pengemasan yang tepat untuk mempertahankan viabilitas
benih Gaharu (Aquilaria malaccensis lamk.). Tekno Hutan Tanaman.
2(2):53-58
34

LAMPIRAN
35

Lampiran 1. Suhu dan RH penyimpanan


Tempat Pengamatan Suhu (⁰C) RH (%)
Dalam ruang penympanan 25.31 65.82
Luar ruang penimpanan 27.89 57.21

Lampiran 2. Rata-rata Potensi Tumbuh Maksimum (%) pada delapan minggu setelah tanam
Ulangan Standar
Perlakuan Rata-rata
I II III deviasi
Bonggol dengan bobot rata-rata 733.33 g
12.5 25 4.17 13.89 10.48434
dan diameter 11.53 cm (b1)
Bonggol dengan bobot rata-rata 1298.3 g
8.33 4.17 0 4.166667 4.165001
dan diameter 14.60 cm (b2)
Bonggol dengan bobot rata-rata 1728.3 g
0 12.5 0 4.166667 7.216878
dan diameter 15.73 cm (b3)
Bonggol dengan bobot rata-rata 2644.4 g
16.67 8.33 8.33 11.11 4.815101
dan diameter 18.12cm (b4)
Bonggol dengan bobot rata-rata 7400 g
100 100 20 73.33333 46.18802
dan diameter 22.4 cm (b5)

Lampiran 3. Rata-rata Jumlah Tunas pada delapan minggu setelah tanam


Ulangan Rata- Standar
Perlakuan
I II III rata deviasi
Bonggol dengan bobot rata-rata 733.33 g 0.5 1 0.2 0.6 0.4
dan diameter 11.53 cm (b1)
Bonggol dengan bobot rata-rata 1298.3 g 0.3 0.2 0 0.2 0.2
dan diameter 14.60 cm (b2)
Bonggol dengan bobot rata-rata 1728.3 g 0 0.5 0 0.2 0.3
dan diameter 15.73 cm (b3)
Bonggol dengan bobot rata-rata 2644.4 g 0.7 0.3 0.3 0.4 0.2
dan diameter 18.12cm (b4)
Bonggol dengan bobot rata-rata 7400 g 4 4 1 3 1.7
dan diameter 22.4 cm (b5)

Lampiran 4. Rata-rata waktu munculnya tunas (hari) pada delapan minggu setelah tanam
Ulangan Standar
Perlakuan Rata-rata
I II III deviasi
Bonggol dengan bobot rata-rata 733.33 g
48 46 29 41 10.44031
dan diameter 11.53 cm (b1)
Bonggol dengan bobot rata-rata 1298.3 g
43 56 0 33 29.3087
dan diameter 14.60 cm (b2)
Bonggol dengan bobot rata-rata 1728.3 g
0 48 0 16 27.71281
dan diameter 15.73 cm (b3)
Bonggol dengan bobot rata-rata 2644.4 g
43 50 50 47.66667 4.041452
dan diameter 18.12cm (b4)
Bonggol dengan bobot rata-rata 7400 g
29 36 43 36 7
dan diameter 22.4 cm (b5)
36

Lampiran 5. Rata-rata Jumlah daun pada delapan minggu setelah tanam


Ulangan Standar
Perlakuan Rata-rata
I II III deviasi
Bonggol dengan bobot rata-rata 733.33 g
0.67 1.33 2 1.333333 0.665006
dan diameter 11.53 cm (b1)
Bonggol dengan bobot rata-rata 1298.3 g
1 0 0 0.333333 0.57735
dan diameter 14.60 cm (b2)
Bonggol dengan bobot rata-rata 1728.3 g
0 1 0 0.333333 0.57735
dan diameter 15.73 cm (b3)
Bonggol dengan bobot rata-rata 2644.4 g
1.5 1 1 1.166667 0.288675
dan diameter 18.12cm (b4)
Bonggol dengan bobot rata-rata 7400 g
1.5 1.75 1 1.416667 0.381881
dan diameter 22.4 cm (b5)

Lampiran 6. Rata-rata Tinggi tanaman pada delapan minggu setelah tanam


Ulangan Standar
Perlakuan Rata-rata
I II III deviasi
Bonggol dengan bobot rata-rata 733.33 g
15.23 16.22 27.1 19.51667 6.585988
dan diameter 11.53 cm (b1)
Bonggol dengan bobot rata-rata 1298.3 g
11.2 7.1 0 6.1 5.666569
dan diameter 14.60 cm (b2)
Bonggol dengan bobot rata-rata 1728.3 g
0 16.37 0 5.456667 9.451224
dan diameter 15.73 cm (b3)
Bonggol dengan bobot rata-rata 2644.4 g
14.18 10.75 8.1 11.01 3.048327
dan diameter 18.12cm (b4)
Bonggol dengan bobot rata-rata 7400 g
13.75 21.5 7.6 14.28333 6.965331
dan diameter 22.4 cm (b5)