Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH DINAMIKA KELOMPOK

“TIPE KELOMPOK SOSIAL”

Oleh Kelompok 4 :

1. Athia Sri Meylanda


2. Azimatul Amini
3. Fajri Rahma Perdana
4. Drisya Melani
5. Nabila Al Farouqi
6. Rezi Asmanovia
7. Silvi Salsabila
8. Tomi Zuliansah

Dosen pemimbing :

Yessi Yuzar, S.SiT, M.Kes

POLTEKKES KEMENKES RI PADANG

JURUSAN S1 TERAPAN PROMOSI KESEHATAN

TP : 2019/2020
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah rasa syukur penulis sampaikan kepada Allah SWT yang


telah melimpahkan segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah ini dengan baik. Shalawat beriring salam penulis
sampaikan pula pada baginda Rasulullah Muhammad SAW yang telah membawa
umat manusia dari zaman jahiliyah kepada zaman peradaban yang berilmu
pengetahuan dan berakhlak mulia.

Makalah yang berjudul “TIPE KELOMPOK SOSIAL” ini diajukan


sebagai tugas perkuliahan pada mata kuliah Dinamika Kelompok Program Studi
Sarjana Terapan Promosi Kesehatan Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan
Padang. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.
Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi
kesempurnaan pembuatan makalah lain di masa yang akan datang. Semoga
makalah ini dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Padang, Januari 2020

Penulis

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................. 1


DAFTAR ISI ................................................................................................................. 2
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ................................................................................................. 3
BAB II PEMBAHASAN
A. Tipe Kelompok Primer - Sekunder .................................................................. 4
B. Ingroup – Outgroup.......................................................................................... 4
C. Paguyuban – Patembayan ................................................................................ 5
D. Formal Group – Informal Group...................................................................... 6
E. Membership Group – Reference Group ........................................................... 7
F. Kerumunan Dan Public .................................................................................... 8
G. Masyarakat Perdesaan ...................................................................................... 9
H. Masyarakat Perkotaan (masyarakat modern) ................................................... 10
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ...................................................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................... 13

2
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kelompok social adalah himpunan atau kesatuan manusia yang hidup


bersama. Ada aksi dan reaksi. Pelakunya lebih dari satu. Antar individu dengan
individu, individu dengan kelompok, dan antara kelompok dengan kelompok.
Contoh guru mengajar merupakan contoh kelompok social anatar individu dan
kelompok.

Kelompok social dapat berupa kelompok social primer dan kelompok social
sekunder. Sedangkan komunikasi social dapat secara langsung maupun tidak
langsung. Kelompok social primer dengan hubungan langsung apabila tanpa
melalui perantara. Misalkan untuk mengenal lebih jauh dari kelompok primer
dapat kita lihat yaitu pada keluarga. Sedangkan kelompok social primer adalah
kelompok besar didasarkan pada kepentingan yang berbeda. Proses yang
membentuk terjadinya kelompok social meliputi faktor pendorong timbulnya
kelompok social dan dasar pembentukan kelompok social.

Setiap masyarakat manusia selama hidup pasti mengalami perubahan-


peruabahan. Perubahan dapat berupa perubahan yang tidak menarik dalam anti
kurang mencolok. Ada pula perubahan-perubahan yang lambat sekali, akan tetapi
ada juga yang berjalan dengan cepat.

Perubahan-perubahan hanya dapat ditemukan oleh seseorang yang sempat


memiliki susunan dan kehidupan suatu masyarakat pada suatu waktu dan
membandingkannya dengan susunan dan kehidupan masyarakat tersebut pada
waktu yang lampau. Perubahan-perubahan masyarakat dapat mengenai nilai-nilai
social, norma-norma social, pola-pola prilaku organisasi, susunan kelembagaan
masyarakat, kekuasaan dan wewenang, kelompok social dan sebagainya.

3
BAB II

PEMBAHASAN

A. Tipe Kelompok Primer – Sekunder

Istilah kelompok kecil dan kelompok primer sering dipakai bergantian


karena di anggap bermakna sama, walaupun sebenarnya berbeda (thoha,2003).
Kelompok primer disamping anggota kelompoknya kecil,maka terdapat juga
kriteria diamana antar anggotanya memiliki perasaan kebersamaan, loyalitas,
keagraban, dan mempunyai tanggapan yang sama terhadap nilai–nilai yang di anut
anggotanya. Contoh kelompok primer yaitu keluarga dan kolega , sehingga semua
anggota kelompok primer merupakan kelompok kecil, akan tetapi sebaliknya
kelompok kecil belemtentu kelompok primer.

Anggota dalam kelompok primer saling berhubungan secara langsung,


intim, akrab dan lebih bersifat personal. Ikatan kelompok primer lebih bersifat
emosional dan pembentukannya di karenakan bersifat fisik langsung (tatap muka),
sedangkan anggota dalam kelompok sekunder saling berhubungan secara lebih
interpersonal(tidak bersifat pribadi) dengan peran yang jelas dan interaksinya
selalu berorientasi pada tujuan (sudjarwo,2011). Sehingga pola hubungan antar
anggota dalam kelompok sekunder menjadi kurang erat dibandingkan kelompok
primer. Walaupun kelompok primer maupun sekunder memiliki kesamaan fungsi
yaitu sama sama mencapai tujuan bersama.

Menurut Charles H. Cooley mengatakan bahwa kelompok primer adalah


suatu kelompok yang anggota-anggotanya mempunyai hubungan atau interaksi
yang lebih intensif dan lebih erat antar anggotanya. Dan kelompok sekunder,
arrinya suatu kelompok yang anggota-anggotanya saling mengadakan hubungan
tidak langsung, berjauhan dan formal dan kurang bersifat kekeluargaan.

B. Ingroup – Outgroup

Ingroup adalah kelompok social yang individunya mengidentifikasi


dirinya dalam kelompok tersebut. Sifat ingroup didasarkan pada faktor simpati

4
dan kedekatan dengan anggota kelompok. Seperti , dian adalah siswa kelas X-A
SMA Harapan Pratiwi maka yang menjadi ingroup dian adalah kelas X-A

Outgroup adalah kelompok yang di artikan oleh individu sebagai lawan


ingroupnya atau kelompok yang ada di luar kelompok dirinya. Seperti outgroup
bagidian kelas selain kelas X- A seperti kelas X-B atau X-C.

C. Paguyuban – Patembayan

Paguyuban atau gemeinschaft adalah bentuk kehidupan bersama dimana


anggota anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni dan bersifat alamiah
serta bersifat kekal dasar hubungan tersebut adalah rasa cinta dan rasa kesatuan
batin yang memang di kuadratkan dan kehidupan tersebut di namakan bersifat
nyata dan organis. Kelompok social ini digambarkan sebagai kehidupan bersama
yang intim dan pribadi, yang merupakan keterikatan yang di bawa sejak lahir.

Ferdinan tonies mengatakan bahwa paguyuban mempunyai beberapa ciri


pokok yaitu:

1. Intimate, hubungan menyeluruh mesra


2. Prifate , hubungan yang bersifat pribadi
3. Exlusif , hubungan tersebut hanyalah untuk “kita” saja tidak untuk orang
lain

Tonies juga membedakan paguyuban dibagi atas 3 jenis yaitu:

1. Gemeinschaft by blood adalah paguyuban yang didasarkan pada


kekerabatan, atau yang didasarkan oleh ikatan darah atau keturunan
misalnya keluarga
2. Gemeinscaft of place adalah paguyuban yang mengacu pada kedekatan
tempat, sehingga dapat saling bekerja sama dan tolong menolong.
Misalnya masyarakat tingkat RT, Rw , Dusun .
3. Gemeinscaft of mine adalah paguyuban yang menuju pada hubungan
persahabatan karena persamaan minat, hobi, profesi, idiologi atau pikiran
yang sama bisa juga pada keyakinan. Misalnya kelompok agama ,
komunitas, atau sebagainya.

5
Gesellscaft atau patembayan adalah ikatan lahir yang bersifat pokok untuk
jangka waktu yang pendek, bersifat sebagai bentuk pikiran belakang , dan
strukturnya bersifat mekanis. Bentuk patembayan terutama terdapat di dalam
hubungan perjanjian yang berdasarkan ikatan timbal balik misalnya ikatan antar
pedagang , organisasi pegawai dalam satu pabrik atau industry.

Perbedaan antara gemeinscaft dan gesellscaft :

1. Ciri gemeinscaft menurut hubungan social yaitu ikatan keluarga ,


sedangkan gesellscaft yaitu pertukaran ekonomi.
2. Ciri gemeinscaft menurut institusi khas yaitu keluarga , sedangkan
gesellscaft yaitu negara dan ekonomi.
3. Ciri gemeinscaft menurut citra tentang individu yaitu kedirian ,
sedangkan gesellscaft yaitu orang, warga.
4. Ciri gemeinscaft menurut bentuk kekayaan adalah tanah , sedangkan
gesellscaft yaitu uang .
5. Ciri gemeinscaft menurut tipe hukum yaitu hukum keluarga, sedangkan
gesellscaft adalah hukum kontrak.
6. Ciri gemeinschaft menurut inttitusi social yaitu desa, sedangkan
gesselschaft yaitu kota.
7. Ciri gemeinschaft menurut control social yaitu adat dan agama,
sedangkan geselschaft yaitu hukum dan pendapat umum.
8. Ciri gemeinschaft yaitu berbentuk komunitas sedangka ciri dari
gesselschaft yaitu masyarakat modern.

D. Formal Group – Informal Group

Formal group adalah kelompok yang mempunyai peratursan tegas dan


senagaja diciptakan oleh anggota-anggotanya.

Kelompok formal dapat bersifat permanen atau temporer bergantung pada


tujuannya. Kelompok formal yang bersifat permanen terbentuk sebagai penerapan
dari prinsip pembagian habis pekerjaan dalam pelaksanaan tugas dan fungsi
organisasi. Misalnya : biro, bagian, divisi, seksi, sub bagian, sub divisi, dst.

6
Kelompok formal tidak permanen disebut juga dengan kelompok tugas.
Berwenang untuk melaksanakan tugas tertentu dalam waktu tertentu. Contoh,
panitia, komite, satuan tugas dsb. Kelompok ini bersifat temporer karna bekerja
dalam jangka waktu yang ditetapkan.

Selain kelompok formal, di dalam organisasi terdapat kelompok informal.


Kelompok informal adalah kelompok yang tidak berstruktur yang pasti, terbentuk
karena pertemuan yang berulang-ulang sehingga terjadi pertemuan kepentingan
dan pengalaman. Kelompok ini tumbuh dari proses interaksi daya tarik, dan
kebutuhan. Anggota kelompok tidak diangkat, melainkan ditentukan oleh daya
tarik bersama antar individu dan kelompok. Kelompok informal sering berada
dalam kelompok formal, bahkan ada yang keluar dari kelompok formal. Menurut
Munandar Tahun 2001, kelompok informal terdiri atas kelompok kepentingan dan
persahabatan. Kelompok kepentingan adalah individu-individu bersatu karena
memiliki kepentingan yang sama, sedangkan kelompok persahabatan, individu-
individu bersatu karena adanya kesamaan.

Ciri-ciri interaksi kelompok tak resmi informal lebih mirip pada ciri-ciri
kelompok primer yang bersifat keluarga dengan corak simpati, sedangkan ciri-ciri
kelompok resmi mirip pada ciri-ciri interaksi pada kelompok sekunder, bercorak
pertimbangan-pertimbangan bersifat rasional objektif. Contoh, semua
perkump8ulan yang beranggapan dasar dan beranggapan rumah tangga
merupakan kelompok resmi. Dalam suatu kelompok resmi terdapat kelompok
informal yang terdiri dari beberapa orang atau beberapa keluarga saja, yang
mempunyai pengalaman bersama dan sifat interaksinya berdasarkan sifat saling
mengerti yang mendalam karna pengalaman dan pandangan bersama.

E. Membership Group – Reference Group

Membership group adalah suatu kelompok yang didalamnya setiap orang


secara fisik menjadi anggotanya. Anggota-anggota dalam membership group
sering melakukan interaksi untuk membentuk kelompok-kelompok tersendiri.
Keanggotaan seseorang dalam membership group diukur dari interaksinya dalam
kelompok social tersebut termasuk para anggotanya.

7
Reference group adalah kelompok social yang menjadi acuan bagi
seseorang untuk membentuk kepribadian dan perilakunya.

Reference group terbagi menjadi 2 tipe :

1. Tipe normatif yang menentukan dasar-dasar bagi kepribadian seseorang


2. Tipe perbandingan (comprehension) merupaka suatu pegangan bagi
individu dalam penilaian kepribadian.

F. Kerumunan Dan Public

Kerumunan identic dengan semangat dan keinginan yang menyala-nyala


yang cenderung merusak (destruktif) namun, tidak semua kerumunan
menciptakan kerusuhan dan kekacauan. Menurut Herbert Lumer (1900-1987) ada
4 tipe kerumunan :

1. Kerumunan tidak tetap, adalah kerumunan yang keberadaannya singkat


dan terorganisasi longgar. Hal ini bersifat spontan. Contoh, kerumunan
orang yang bersama-sama melihat rumah terbakar atau kecelakaan lalu
lintas.
2. Kerumunan konfensional adalah kerumunan yang terjadi secara
terencana yang berperilaku teratur. Contohnya, para penonton sepak nola,
atau penonoton pertumjukan teater.
3. Kerumunan bertindak adalah kerumunan yang didasari pada permusuhan
atau aktivitas destuktif. Contonhnya MOB (kemunculan yang secara
emosional dan irrasional yang muncul untuk menjalankan aksi penuh
destruktif).
4. Kerumunan ekspresif adalah kerumunan yang muncul untuk
melampiaskan emosi dan ketegangan. Contohmya para penonton konser
music Rock.

Public adalah orang-orang yang berkumpul secara alamia yang memiliki


kesamaan, kepentingan. Orang-orang yang berkumpul dalam suatu pasar
tradisional (pengunjung) memiliki banyak kesamaan, namun masing-masing tidak
bertanggung jawab satu sama lainnya.

8
G. Masyarakat Perdesaan

Dalam kamus sosiologi, kata tradisional berasal dari bahasa inggris yaitu
“tradition” yang artinya adat istiadat atau kepercatyaan yang turun temurun
dipelihara.

Pengertian desa itu sendiri mengandung kompleksitas yang saling


berkaitan satu sama lain diantara unsur-unsur, yang sebenarnya desa masih
dianggap sebagai standard an pemelihara system kehidupan bermasyarakat dan
kebudayaan asli dan tolong menolong, keguyuban, persaudaraan, gotong royong,
kepribadian dalam berpakaian, kesenian kehidupan moral, susila dll yang
mempunyai ciri khas jelas.

Ciri-ciri masyarakat desa :

a. Afektifitas
Ada hubungannya dengfan perasaa, kasih sayang, cinta, kesetiaan dan
kemesraan. Perwujudannya dalam sikap dan perbuatan tolong menolong,
menyatakan simpati terhadap musibah yang diderita orang lain tanpa
pamrih.
b. Orientasi kolektif.
Sifat ini merupakan konsekuensi dari afektifitas, yaitu mereka
mementingkan kebersamaan, tidak suka menonjolkan diri, tidak suka akan
orang yang berbeda pendapat, intinya semua harus memperhatikan
keseragaman persamaan.
c. Partikularisme
Pada dasarnya adalah semua hal yang ada hubungannya dengan
keberlakuan khusus untuk suatu tempat atau daerah tertentu. Perasaan
subyektif, perasaan kebersamaan sesungguhnya yang hanya berlaku untuk
kelompok tertentu saja. (lawannya universalisme)
d. Askripsi
Yaitu berhubunhan dengan mutu atau sifat khusus yang tidak
diperoleh berdasarkan suatu usaha yang tidak disengaja, tetapi merupakan

9
suatu keadan yang sudah merupakan kebiasaan atau keturunan (lawannya
prestasi)
e. Kekaburan
Merupakan suatu yang tidak jelas terutama dalam hubungan antara
pribadi tanpa ketegasan yang dinyatakan eksplisit atau tidak to the point.
Masyarakat desa merupakan bahasa tidak langsung, untuk menunjuian
sesuatu. Dari uraian tersebut (pendapat Talcott parson) dapat terlihat pada
desa-desa yang masih murni masyarakatnya tanpa pengaruh dari luar.

H. Masyarakat Perkotaan (masyarakat modern)

Menurut para ahli :

1. Wirth : kota adalah suatu pemilihan yang cukup besar, padat dan
permanen, dihuni oleh orang-orang yang kehidupan sosialnya heterogen.
2. Dwight Sanderson : kota ialah tempat yang berpenduduk 10 ribu orang
atau lebih. Dan dari beberapa pendapat secara umum dapat dikatakan
mempunyai ciri-ciri mendasar yang sama. Pengertian kota dapat
dikenakan pada daerah atau lingkungan komunitas tertentu dalam
struktur pemerintahan.

Ciri-ciri masyarakat kota :

a. Heterogenitasosial
Kota merupakan metting pot bagi aneka suku maupun ras,
sehingga masing-masing kelompok berusaha diatas kelompok lain. Maka
dari itu sering terjadi usaha untuk memperbuat kelompoknya untuk
melebihi kelompok yang lain.
b. Hubungan sekunder.
Dalam masyarakat kota, pergaulan dengan sesama anggota (orang
lain)
c. Toleransi social
Masyarakat kota tidak memrdulikan tingkah laku sesamanya dan
pribadi sebab masing-masing anggota mempunyai kesibukan sendiri.

10
Sehingga control social pada masyarakat kota dapat dikatakan lemah
sekali dan non pribadi.
d. Control sekunder
Anggota masyarakat kota secara fisik tinggal berdekatan, tetapi
secara pribadi atau social berjauhan. Dimana bila ada anggota
masyarakat yang susah, senang, jahat, dsb, anggota masyarakat yang lain
ytidak mau mengerti.
e. Mobilitas social di kota sangat mudah sekali terjadi perubahan atau
perpindahan status, tugas maupun tempat tinggal.
f. Individual
Akibat hubungan sekunder, maupun control sekunder, maka
kehidupan masyarakat dikota menjadi individual. Apakah yang mereka
inginkan dan rasakan, harus mereka rencana dan laksanakan sendiri.
Bantuan dan kerjasama dari anggota masyarakat yang lain sulit untuk
diharapkan.
g. Ikatan sukarela
Walaupun hubungan social bersifat sekunder tetapi dalam
organisasi tertentu yang mereka sukar (kesenian, olahraga, politik) secara
sukarela menggabungkan diri dan berkorban
h. Segeregasi kekurangan
Akibat dari integritas social dan kompetisi ruang terjadi pola
social, ras, dan kompetisi ruang, terjadi pola social yang berdasarkan
pada social ekonomi, ras, agama, suku bangsa, dsb.

11
BAB III

PENUTUP

Ada 8 tipe kelompok social, yaitu :

a) Tipe Kelompok Primer – Sekunder


b) Ingroup – Outgroup
c) Paguyuban – Patembayan
d) Formal Group – Informal Group
e) Membership Group – Reference Group
f) Kerumunan Dan Public
g) Masyarakat Perdesaan
h) Masyarakat Perkotaan (masyarakat modern)

12
DAFTAR PUSTAKA

Saantosa, Slamet. 2006. Dinamika Kelompok. Bumi Aksara : Jakarta.

Zulkarnain, Wildan. 2013. Dinamika Kelompok Latihan Kepemimpinan

Pendidikan. Bumi Aksara : Jakarta.

Hidayat, AAA. 2004. Pengantar Konsep Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.

13