Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH JAMUR KAMIR DAN KAPANG

dosen pngampu : Gisthananda madyasta S.Pt.,M.Pt

Nama : Bator tri laksono

Nim : 195050107113012

FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA KAMPUS II

KEDIRI

2020
BAB 1

PENDAHULUAN
Latar Belakang
1. pengertian
Mikrobiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang seluruh seluk-beluk
kehidupan mikroorganisme. Peranan mikroorganisme sudah sejak lama diketahui
disegala aspek kehidupan manusia antara lain di pertanian, perikanan, kesehatan,
farmasi, dan lain-lain. Hingga saat ini ilmu tersebut telah memberi warna wawasan
dan cakrawala baru bagi kehidupan terutama dalam perkembangan bioteknologi
modern yang melibatkan ilmu mikrobiologi.
Pada umumnya bahan – bahan yang berasal dari alam mudah untuk
ditumbuhi jamur atau cendawan, misalnya pada buah – buahan. Jamur atau cendawan
tersebut biasanya akan mengakibatkan rusaknya bahan – bahan tersebut.
Jamur merupakan organisme yang terdiri dari kapang dan khamir. Jamur ada
yang bersifat baik dan ada yang buruk bagi kesehatan ternak. Menurut Kabir (2009)
jamur yang terdiri dari kapang Aspergillus, Candida serta khamir Saccharomyces
dapat berperan sebagai probiotik. Jamur tersebut memiliki manfaat menjaga
keseimbangan mikroflora pada usus, menghambat tumbuhnya mikroba patogen,
meningkatkan sistem imun, serta meningkatkan kualitas daging. Ambri et al. (2009)
menyatakan jumlah mikroorganisme probiotik yang diberikan memiliki batas
minimum untuk bisa bekerja optimal yaitu 106CFU/g.
BAB II
PEMBAHASAN

Ciri-ciri dan Morfologi jamur

Ciri-ciri umum fungi yaitu eukariotik, tidak dapat berfotosintesis, bersifat heterotrof, ada
yang uniseluler, namun umumnya multi seluler, struktur tubuh belum memiliki akar,
batang dan daun hanya berupa talus yang tersusun dari deretan sel yang berbentuk
benang, yaitu hipa. Benang-benang hipa membentuk anyaman disebut miselium.

Jamur termasuk tumbuhan tingkat rendah dan seperti halnya dengan tumbuhan lainnya
jamur mempunyai 2 fase dalam siklus hidupnya, yaitu:

a. fase vegetatif
b. fase reproduktif/generatif.

Struktur vegetatif dari jamur sendiri terdiri dari hifa yang menyerupai benang-benang
panjang. Hifa secara kolektif membentuk miselium dan panjangnya ada yang sampai
beberapa meter. Hifa ada yang beruas dan tak beruas. Pada hifa yang beruas hifanya
terbagi dengan sekat-sekat dan setiap ruas mengandung satu nucleus atau banyak
nucleus.Pada tipe yang tak beruas terdiri dari hifa yang mempunyai banyak nucleus yang
tidak dibatasi oleh sekat. Pada tipe ini dapat pula dijumpai dinding sekat terutama pada
hifa yang tua. Jamur parasit mempunyai hifa yang ektofitik atau endofitik. Miselium yang
ektofitik berada pada permukaan tanaman inang sedangkan miselium yang endofitik
berada didalam jaringan tanaman inang dan dapat tumbuh secara interseluler (diantara
sel) atau intraseluler (masuk kedalam sel). Hifa yang ektofitik dan interseluler
membentuk haustorium ke dalarn sel untuk memperoleh zat makanan. Bentuk haustorium
dapat bulat atau seperti akar.

Ciri-ciri Morfologi kapang :

Kapang mempunyai cirri-ciri morfologi yang spesifik secara makroskopis dan


mikroskopis. Ciri-ciri tersebut dapat digunakan sebagai identifikasi dan determinasi.
Pengamatan secara mikroskopis dapat berupa sekat atau setidaknya hifa, bentuk
percabangan hifa, stolon, rizoid, sel kaki badan buah, dasar badan buah, pendukung badan
buah dan bentuk spora (Sutainingsih dkk, 1997).
Tubuh atau talus suatu kapang pada dasarnya terdiri dari dua bagian : miselium
danspora (sel resisten.istirahat atau doormen). Miselium merupakan kumpulan beberapa
filamen yang dinamakan hifa. Setiap hifa lebarnya 5 sampai 10 mm, dibandingkan
dengan sel bakteri yang biasanya berdiameter 1mm. Di sepanjang setiap hifa terdapat
sitoplasma bersama. Ada tiga macam morfologi hifa :

1. Aseptat atau senosit. Hifa seperti ini tidak mempunyai dinding sekat
atau septum.

2. Septat dengan sel-sel uninukleat. Sekatb membagi hifa menjadi


ruang-ruang atau sel-sel berisi nukleus tunggal. Pada setiap septum
terdapat pori di tengah-tengah yang memungkinkan perpindahan
nucleus dan sitoplasma dari satu ruang ke ruang yang lain.
Sungguhpun setiap ruang suatu hifa yang bersekat tidak terbatasi oleh
suatu membran sebagaimana pada sel, setiap ruang itu biasanya
dinamakan sel.

3. Septat dengan sel-sel multinukleat. Septum membagi hifa menjadi sel-


sel dengan lebih dari satu nucleus dalam setiap ruang.

Miselium dapat vegetatif (somatik) atau reproduktif. Beberapa hifa dari miselium
somatik menembus kedalam medium untuk mendapat zat makanan. Miselium reproduksi
bertanggung jawab untuk pembentukan spora dan biasanya tumbuh meluas ke udara dari
medium. Miselium suatu kapang dapat merupakan jaringan yang terjalin lepas atau dapat
merupakan struktur padat yang terorganisir seperti pada jamur.

Ciri ciri dan Morfologi Khamir

Bentuk khamir dapat sperikal sampai ovoid. Kadang dapat membentuk miselium
semu. Mempunyai ukuran yang bervariasi. Struktur yang dapat diamati meliputi dinding
sel, sitoplasma, vakuol air, globula lemak dan granula.

Reproduksi secara aseksual melalui pembentukan tunas secara multilateral


ataupun polar. Reproduksi secara seksual menghasilkan askospora melalui konjugasi dua
sel atau konjugasi dua askospora yang menghasilkan sel anakan kecil. Jumlah spora
dalam askus bervariasi tergantung macam khamirnya.
Khamir dapat membentuk lapisan film di atas permukaan medium cair. Produksi
pigmen karotenoid menandakan adanya pertumbuhan genus Rhodotorula. Sulit
membedakan khamir dengan bakteri pada medium agar, kecuali dengan mikroskop.

Khamir ada yang bersifat oksidatif, fermentatif, ataupun kedua-nya. Khamir yang
oksidatif dapat tumbuh dengan membentuk lapisan film pada permukaan medium cair
sedang yang fermentative biasanya tumbuh dalam cairan medium.

Pengelompokan jamur

1. Divisi Zygomycota
Jamur yang tergolong divisi ini hidup di darat, di atas tanah, atau pada tumbuhan
dan hewan yang telah membusuk. Namun, Zygomycota berasal dari Zigospongarium.
Zigospora merupakan spora istirahat yang memiliki dinding tebal.

2. Divisi Ascomycota
Jamur Ascomycota “jamur kantung” ada yang uniseluler dan multiseluler. Jamur
ini ada yang bersifat parasit dan ada juga yang bersifat saprofit.

3. 3.Divisi Basidiomycota
Pada umumnya tubuh buah jamur dari divisi Basidiomycota berukuran besar
(Makroskopis), walapun ada juga yang berukuran kecil (Mikroskopis). Jamur dari divisi
basidomycota memiliki ciri khas, yang memiliki Basidium. Basidium merupakan alat
reproduksi seksual yang terdapat dalam bilah. Seluruh Basidium berkumpul membentuk
suatu badan yang disebut Basidiokarp. Spora yang dihasilkan dalam basidium dinamakan
Basidiospora.

4. Divisi Deuteromycota
Jamur yang tergolong Deuteromyota adalah jamur yang belum diketahui
reproduksi seksualnya. Jamur ini biasa disebut jamur tidak sempurna atau Jamur
Imperfecti (Campbell, 1998: 581). Reproduksi aseksualnya terjadi dengan fragmentasi
atau dengan Konidium.
Pengelompokan kapang

1. Rhizopus
Rhizopus sering diebut kapang roti karena sering tumbuh dan menyebabkan
kerusakan pada roti. Selain itu kapang ini juga tumbuh pada sayuran, dan buah-buahan.
Spesies rhizopus yang umum ditemukan pada roti yaitu rhizopus stoloniferdan Rhizopus
nigricans. Selain merusak makanan sebagian Rhizopus diguaka untuk beberapa makanan
fermentasi tradisional seperti, Rhizopus oligosporus dan Rhzopus orizaeyang digunakan
dalam pembuatan berbagai macam tempedan oncom hitam.

2. Aspergillus
Kapang ini mampu tumbuh baik pada substrat dengan konsentrasi gula dan
garam tinggi. Aspergillus orizae digunakan dalam fermentasi makanan tahap pertama
dalam pembuatan kecap dan tauco. Konidia kelompok ini berwarna kuning sampai hiju,
atau mungkin membentuk sklerotia.

3. Penicillum

Penicillium menyebabkan kerusakan pada bahan sayuran,buah-buahan, dan


serelia. Selain itu digunkan untuk industri,misalkan memproduksi antibiotic penisilin
yang diproduksi oleh Penicillium notatum dan Penicillium chysogenum. Kegunaan lain
untuk pematangan keju, misalnya keju camembert oleh Penicillium camemberti yang
konidianya berwarna abu-abu dll.

4. Neurospora (Monila)

Neurospora (Monila) sitophila dan N. crassa merupakan spesies yang umum


dijumpai pada makanan dan disebut kapang roti merah atau kapang nasi merah karena
pertumbuhannya yang cepat pada roti atau nasi dengan membentuk warna merah-oranye.
N. sitophila juga digunakan dalam pembuatan oncom merah.
Pengelompokan Khamir

1. Ascomycetes

Ciri jamur ini mempunyai hifa bersepta, dan dapat membentuk konidiofor. Secara
vegetatif dapat berkembang biak dengan potongan hifa, dan pada beberapa jenis dapat
menghasilkan konidia secara aseksual. Fase konidi jamur ini disebut juga fase imperfect.
Fungi yang hanya dalam bentuk fase imperfect disebut fungi imperfecti
(Deuteromycetes). Secara generatif dapat membentuk badan buah yang disebut askokarp,
yang di dalamnya terdapat askus (kantong) yang menghasilkan askospora. Askospora
merupakan hasil kariogami dan meiosis.

2. Basiodiomycetes

Ciri khusus jamur ini yaitu mempunyai basidium yang berbentuk seperti gada,
tidak bersekat, dan mengandung 4 basidiospora di ujungnya. Pada jamur tertentu
mempunyai hymenium atau lapisan-lapisan dalam badan buah. Hymenium terdapat pada
mushroom, maka disebut juga Hymenomycetes.

Hymenium terdiri dari basidia, hifa steril, parafisa, dan cysts. Basidia berasal dari
hifa dikariotik, sel ujungnya membesar, inti ikut membesar, 2 inti melebur menghasilkan
1 inti diploid, kemudian membelah reduksi menjadi 4 inti haploid yang menjadi inti
basidiospora. Tipe kelamin basidiospora terdiri atas 2 negatif dan 2 positif. Akumulasi
basidiospora dapat dilihat dari warnanya, yaitu seperti tepung halus berwarna coklat,
hitam, ungu, kuning, dan sebagainya. Contoh jamur ini adalah Pleurotus sp (Jamur
Tiram), Cyantus sp., dan khamir Sporobolomyces sp.

3. Deuteromycetes (Fungi Imperfecti)

Semua jamur yang tidak mempunyai bentuk (fase) seksual dimasukkan ke dalam
kelas Deuteromycetes. Jamur ini merupakan bentuk konidial dari klas Ascomycetes,
dengan askus tidak bertutup atau hilang karena evolusi. Jamur ini juga tidak lengkap
secara seksual, atau disebut paraseksual. Proses plasmogami, kariogami dan meiosis ada
tetapi tidak terjadi pada lokasi tertentu dari badan vegetatif, atau tidak terjadi pada fase
perkembangan tertentu. Miseliumnya bersifat homokariotik. Contoh jamur ini adalah
beberapa spesies Aspergillus, Penicillium, dan Monilia.
Sitem reproduksi

Sistem reproduksi jamur

Spora fungi memiliki berbagai bentuk dan ukuran, dan dapat dihasilkan

secara seksual maupun aseksual. Pada umumnya spora adalah organisme

uniseluler , tetapi ada juga spora multiseluler. Spora dihasilkan di dalam atau dari

struktur hifa yang terspesalisasi. Ketika kondisi lingkngan memungkinkan,

pertumbuhan yang cepat, fungi mengklon diri mereka sendiri dengan cara

menghasilkan banyak sekal spora secara aseksual. Terbawa oleh angin atau air,

spora-spora tersebut berkecamabh jika berada pada tempat yang lembab pada

permukaan yang sesuai (Campbell 2003).


Sistem reproduksi kapang

Secara alamiah kapang berkembang biak dengan berbagai cara, baik aseksual
dengan pembelahan, penguncupan, atau pembentukan spora. Dapat pula secara seksual
dengan peleburan nukleus dari kedua induknya. Pada pembelahan, suatu sel membelah
diri untuk membentuk dua sel anak yang serupa. Pada penguncupan suatu sel anak
tumbuh dari penonjolan kecil pada sel inangnya (Waluyo, 2012).

Sistem reproduksi kamir

Reproduksi dengan cara pertunasan, pembelahan, pembelahan tunas dan


pembentukan spora aseksual dinamakan reproduksi vegetatif sedangkan pembentukan
spora seksual disebut dengan reproduksi seksual.

Pertunasan Sel

Proses pertunasan dimulai melalui suatu saluran yang terbentuk dari vakuola di
dekat nukleus menuju dinding sel yang terdekat dengan vakuola. Karena adanya
penipisan dinding sel, maka protoplasma akan menonjol keluar kemudian membesar dan
terisi komponen-komponen nukleus dan sitoplasma dari inangnya melalui saluran yang
terbentu tersebut. Tunas terus tumbuh dan membentuk dinding sel baru dan juka ukuran
tunas sudah hampir sama besar dengan inangnya, komponen inti akan terpisah menjadi
dua.
Pembelahan Sel

Pembelahan sel atau pembelahan binner, mula-mula sel khamir membengkak atau
memanjang, kemudian nukleus terbagi menjadi dua dan terbentuk septa atau dinding
penyekat tanpa mengubah dinding sel. Setelah nukleus terbagi menjadi dua, septa terbagi
menjadi dua dinding dan kedua sel melepaskan diri satu sama lain.

Pembelahan Tunas

Reproduksi vegetatif dengan cara membelah tunas, yakni gabungan antara pertunasan
dengan pembelahan. Mula-mula terbentuk tunas, tetapi tempat melekatnya tunas pada
induk sel relatif besar, kemudian terbentuk septa yang memisahkan tunas dari induknya.

Pembentukan Spora Aseksual

Terjadi melalui pembentukan spora dibedakan atas beberapa macam yaitu:

Blastospora membentuk kumpulan tunas menempel pada sel yang memanjang,


Balliospora, tumbuh pada ujung sel yang meruncing satu demi satu dilepaskan dengan
tekanan,Khlamidospora, bentuk spora istirahat yang mempunyai dinding sel tebal.

Pembentukan Spora Seksual

Spora seksual terdiri dari basidiospora dan askospora. Khamir dibedakan atas dua
kelompok berdasarkan jumlah kromosom di dalam inti sel yakni :

1) Khamir diploid dan

2) Khamir haploid. Inti sel pada khamir diploid terbentuk dari pengabungan inti dua sel
haploid atau dua askospora, karena itu mengandung kromoson 2n. Askospora dapat
berkembang menjadi sel somatis atau sel vegetatif. Sel vegetatif dapat membelah
membentuk sel anak. Dua sel anak ini saling menempel dan dinding selnya larut
membentuk pembuluh kopulasi yaitu tempat yang akan dilalui oleh inti sel. Kedua inti sel
mengadakan perkawinan yang dinamakan kariogami. Hasil dari kariogami ini adalah
zigot dengan sebuah inti yang memiliki 2n kromosom. Bila sudah cukup dewasa, zigot
akan membelah secara meiosis membentuk 4 inti, kemudian membelah lagi sehingga
membentuk 8 inti.
Pengaruh lingkungan

Pada umumnya pertumbuhan fungi dipengaruhi oleh (Gandjar, 2006):

Jamur

1. Substrat

Substrat merupakan sumber nutrien utama bagi fungi. Nutrien-nutrien baru dapat
dimanfaatkan sesudah fungi mengekskresi enzim-enzim ekstraselular yang dapat
mengurai senyawa-senyawa kompleks dari substrat tersebut menjadi senyawa-senyawa
yang lebih sederhana. Misalnya, apabila substratnya nasi, atau singkong, atau kentang,
maka fungi tersebut harus mampu mengekskresikan enzim α-amilase untuk mengubah
amilum menjadi glukosa. Senyawa glukosa tersebut yang kemudian diserap oleh fungi.
Apabila substratnya daging, maka fungi tersebut harus mengeluarkan enzim yang
proteolitik untuk dapat menyerap senyawa asam-asam amino hasil uraian protein.

2. Kelembapan

Faktor ini sangat penting untuk pertumbuhan fungi. Pada umumnya fungi tingkat
rendah seperti Rhizopus atau Mucor memerlukan lingkungan dengan kelembapan nisbi
90%, sedangkan kapang Aspergillus, Penicillium, Fusarium, dan banyak hyphomycetes
lainnya dapat hidup pada kelembapan nisbi yang lebih rendah, yaitu 80%. Fungi yang
tergolong xerofilik tahan hidup pada kelembapan 70%, misalnya Wallemia sebi,
Aspergillus glaucus, banyak strain Aspergillus tamarii dan A. Flavus (Santoso et al., 1998
dalam Gandjar, 2006).

3. Suhu

Berdasarkan kisaran suhu lingkungan yang baik untuk pertumbuhan, fungi dapat
dikelompokkan sebagai fungi psikrofil, mesofil, dan termofil. Fungi psikofril adalah
fungi yang dengan kemampuan untuk tumbuh pada atau dibawah 00C dan suhu
maksimum 200C. Hanya sebagian kecil spesies fungi yang psikofril. Fungi mesofil
adalah fungi yang tumbuh pada suhu 10-350C, suhu optimal 20-350C. Fungi dapat
tumbuh baik pada suhu ruangan (22-250C). Sebagian besar fungi adalah mesofilik. Fungi
termofil adalah fungi yang hidup pada suhu minimum 200C, suhu optimum 400C dan
suhu maksimum 50-600C. Contohnya Aspergillus fumigatus yang hidup pada suhu 12-
550C.
4. Derajat keasaman lingkungan

pH substrat sangat penting untuk pertumbuhan fungi, karena enzim-enzim


tertentu hanya akan mengurai suatu substrat sesuai dengan aktivitasnya pada pH
tertentu. Umumnya fungi menyenangi pH di bawah 7.0. Jenis-jenis khamir tertentu
bahkan tumbuh pada pH yang cukup rendah, yaitu pH 4.5-5.5. Mengetahui sifat
tersebut adalah sangat penting untuk industri agar fungi yang ditumbuhkan
menghasilkan produk yang optimal, misalnya pada produksi asam sitrat, produksi
kefir, produksi enzim protease-asam, produksi antibiotik, dan juga untuk mencegah
pembusukan bahan pangan.

5. Bahan kimia

Bahan kimia sering digunakan untuk mencegah pertumbuhan fungi. Senyawa


formalin disemprotkan pada tekstil yang akan disimpan untuk waktu tertentu sebelum
dijual. Hal ini terutama untuk mencegah pertumbuhan kapang yang bersifat selulolitik,
seperti Chaetomium globosum, Aspergillus niger, dan Cladosporium cladosporoides yang
dapat merapuhkan tekstil, atau meninggalkan noda-noda hitam akibat sporulasi yang
terjadi, sehingga menurunkan kualitas bahan tersebut.

Kapang

Kapang mempunyai kisaran pH pertumbuhan yang luas, yaitu 1.5-11. Kebusukan


makanan kaleng yang disebabkan oleh kapang sangat jarang terjadi, tetapi mungkin saja
terjadi. Kebanyakan kapang tidak tahan panas sehingga adanya kapang pada makanan
kaleng disebabkan oleh kurangnya pemanasan (under process) atau karena terjadi
kontaminasi setelah proses. Kapang memerlukan oksigen untuk tumbuh sehingga
pertumbuhan pada kaleng hanya mungkin terjadi apabila kaleng bocor.

Kapang lebih tahan asam, sehingga kapang sering membusukkan makanan asam,
seperti buah-buahan asam dan minuman asam. Kapang seperti Bysochamys fulva,
Talaromyces flavus, Neosartorya fischeri dan lain-lain telah diketahui sebagai penyebab
kebusukan minuman sari buah kaleng dan produk-produk yang mengandung buah. Spora
kapang-kapang ini ternyata mampu bertahan pada pemanasan yang digunakan untuk
mengawetkan produk tersebut. Spora kapang ini tahan terhadap pemanasan selama 1
menit pada 920C dalam kondisi asam atau pada makanan yang diasamkan. Akan tetapi
untuk mencapai konsistensi yang seperti ini, kapang tersebut memerlukan waktu untuk
membentuk spora, sehingga sanitasi sehari-hari terhadap peralatan sangat penting untuk
mencegah pertumbuhan kapang ini dan pembentukan sporanya. Pada umumnya kapang
yang tumbuh pada makanan yang diolah dengan panas tidak menyebabkan penyakit pada
manusia.

khamir

Khamir mempunyai kisaran pH pertumbuhan 1.5-8.5. Namun kebanyakan khamir


lebih cocok tumbuh pada kondisi asam, yaitu pada pH 4-4.5, sehingga kerusakan oleh
khamir lebih mungkin terjadi pada produk-produk asam. Suhu lingkungan yang optimum
untuk pertumbuhan khamir adalah 25-30 oC dan suhu maksimum 35-47oC. Beberapa
khamir dapat tumbuh pada suhu 0oC atau lebih rendah. Khamir tumbuh baik pada kondisi
aerobik, tetapi khamir fermentatif dapat tumbuh secara anaerobik meskipun lambat.
Khamir hanya sedikit resisten terhadap pemanasan, dimana kebanyakan khamir dapat
terbunuh pada suhu 60oC. Jika makanan kaleng busuk karena pertumbuhan khamir, maka
dapat diduga pemanasan makanan tersebut tidak cukup atau kaleng telah bocor. Pada
umumnya kebusukan karena khamir disertai dengan pembentukan alkohol dan gas CO 2
yang menyebabkan kaleng menjadi kembung. Khamir dapat membusukkan buah kaleng,
jam dan jelly serta dapat menggembungkan kaleng karena produksi CO 2. Seperti halnya
kapang, khamir yang tumbuh pada makanan yang diolah dengan pemanasan tidak
menyebabkan penyakit pada manusia.
PERANAN DAN MANFAAT JAMUR BAGI KEHIDUPAN MANUSIA

Jamur merupakan organisme yang memiliki peran cukup banyak bagi kehidupan.
Peranan tersebut ada yang menguntungkan dan ada juga yang merugikan. Peranan jamur
dalam kehidupan manusia diantaranya adalah sebagai berikut:

Jamur yang Merugikan

Jamur yang merugikan umumnya parasit dan menyebabkan penyakit (patogen) pada
organisme lain, contohnya penyakit kulit, infeksi pada alat kelamin, dan infeksi paru-paru
yang dapat menyebabkan kematian. Beberapa jamur menyerang tanaman pangan dan
dapat menyebabkan racun bagi manusia yang mengonsumsinya. Contohnya jamur
Claviceps purpurea dari divisio Ascomycota yang dapat menyebabkan penyakit pada
perbungaan tanaman gandum. Penyakit yang disebabkan jamur ini membentuk struktur
berwarna ungu yang disebut ergot. Ergot mengandung substansi yang beracun bagi
manusia dan hewan ternak. Ergot ini apabila dikonsumsi oleh manusia dapat
menyebabkan kelemayuh (penyakit yang disebabkan oleh matinya jaringan tubuh),
kejang saraf, sensasi terbakar, halusinasi, dan gila sementara atau gangguan jiwa
sementara (Yardun, 2007).

Jamur yang Menguntungkan

Sebagai Bahan Makanan

Jamur dikonsumsi sebagai bahan makanan oleh manusia. Jamur yang dapat dimakan
ini umumnya dari divisio Basidiomycota. Untuk mengetahui suatu jenis jamur dapat
dimakan atau tidak, hanya ahli Mikologi saja yang menguasainya, terutama jamur-jamur
liar yang belum teridentifikasi. Jenis jamur yang dapat dikonsumsi sebagai bahan
makanan, contohnya jamur shitake (Lentinulla edodes), jamur kuping (Auricularia
polytricha), dan jamur merang (Volvariella volvaceae). Selain itu terdapat juga jenis
jamur yang membantu dalam proses pembuatan suatu jenis makanan atau minuman.
Contohnya pembuatan oncom oleh jamur Neurospora crassa dan pembuatan tuak oleh
jamur Saccharomyces tuac melalui proses fermentasi (Haryadi, 2013).
Sebagai Bahan Obat-obatan

Jamur yang digunakan sebagai bahan obata-obatan contohnya adalah Penicillium


chrysogenum. Penicillium chrysogenum merupakan kapang (jamur) yang sangat penting
dalam industri fermentasi untuk menghasilkan penisilin. Penisilin merupakan kelompok
antibiotik yang ditandai oleh adanya cicin β-laktam dan diproduksi oleh berbagai jenis
jamur (eukariot) yaitu dari jenis Penicillium, Aspergillus, serta oleh beberapa prokariot
tertentu (Madigan el al., 2000). Penisilin yang dihasilkan oleh Penicillium chrysogenum
merupakan hasil metabolit sekunder yang bersifat ekstraseluler. Penisilin yang akan
dikeluarkan dari sel dan terakumulasi di dalam medium fermentasi, sehingga perlu
dilakukan purifikasi. Menurut Waluyo (2004
DAFTAR PUSTAKA

Dwidjoseputro. 2003. Dasar-Dasar Mikrobiologi.Jakarta : Djambatan

Natsir. 2003. Biologi. Jakarta: Erlangga.

Pelczar, M.J. & E.C.S Chan. 2008. Dasar-dasar mikrobiology. Terj. dari Elements of
microbiology oleh Hadioetomo, R.S., T. Imas, S.S. Tjitrosomo, & S.L. Angka. UI-Press.
Jakarta Syamsuri,Istamar.2004.Biologi.Jakarta:Erlangga

Waluyo,L.2007. Mikrobiologi Umum. UPT Penerbita UMM. Malang


Campbell, dkk. 2003. Biologi jilid 2. Jakarta: Erlangga

Kimball, John W. 1999. Biologi jilid 3. Jakarta: Erlangga


Pelczar, Michael J. 1986. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: UI-Press. Hal: 131
Madigan, M.T., J.M.Martinko dan J. Parker. 200u0. Biology of Microorganisms. 9th
edition. Prentice Hall International, Inc. New Jersey

Maren, A, K. 2007. Aspergillus flavus: the major producer of aflatoxin. Molecular Plant
Pathology (6) 8: 713-722

Oyeleke SB, Oyewole OA, Egwim EC, Dauda BEN, Ibeh EN. 2012. Cellulase and
pectinaseproduction potensials of Aspergillus niger isolated from corn cob.
Bajopas 5 (1): 78-83.

Risdianto H, Sofianti E, Suhardi SH, Setiadi T. 2009. Produksi lakase menggunakan


fermentasi padat (solid state fermentation) dari limbah hasil pertanian. Prosiding
Seminar Nasional Teknik Kimia Indonesia, Bandung 19-20 Oktober 2009.
Sivaramanan S. 2014. Isolation of cellulolytic fungi and their degradation on
cellulosic agricultural wastes. J Acad Industr Res 2 (8): 458-463.