Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM LABORATORIUM LINGKUNGAN

Parameter Klorida (Cl-), Besi dan Mangan

NAMA : Christa Gabriela Koen


NIM : 104218034
KELAS : EV II
KELOMPOK : 9

LABORATORIUM LINGKUNGAN
PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS PERENCANAA INFRASTRUKTUR
UNIVERSITAS PERTAMINA
2019/2020
BAB I
A. Tujuan
1. Menentukan kadar klorida (Cl-) dalam air yang relatif jernih
2. Menentukan konsentrasi besi minimum 10 g dengan menggunakan spekto-
L
Fotometer
3. Mengukur mangan dengan konsentrasi minimum 210 g
L

B. Prinsip Dasar
Air adalah penunjang bagi setiap kegiatan manusia yang terus berlangsung seti-
ap hari. Tanpa air, ada banyak kegiatan manusia yang tidak dapat berlangsung. Salah
satu peran penting air dalam kehidupan manusia adalah, air minum. Namun untuk d-
apat dikonsumsi, air harus memenuhi persyaratan yang ada di dalam PERMENKES R-
EPUBLIK INDONESIA NOMOR 492/MENKES/PER/IV/2010 TENTANG PERSYARATAN K-
UALITAS AIR MINUM. Pada praktikum ini aka dilakukan pengujian terhadap paramet-
er klorida, nesi dan mangan.
Kandungan klorida yang terdapat pada air minum biasanya berasal dari pencemar s-
eprti limbah dan sisa kegiatan industri. Peningkatan logam yang ada dalam proses di-
stribusi air menyebabkan peningkatan laju korosi pada pipa-pipa logam yang mendis-
tribusikan air. Apabila klorida berikatan dengan ion natrium akan menyebabkan rasa
asin. Klorida dapat menyebabkan kerusakan jaringan tuguh, hipertensi serta dapat
membunuh bakteri baik yang ada dalam tubuh apabila dalam jumlah yang berlebih.
Klorida juga dibutuhkan sebagai desinfektan dalam jumlah terbatas yang ditentukan.
(Waluyo, 2010). Sejalan dengan perkembangan Teknologi, semakin banyak aktivitas
manusia yang terjadi. Tidak jarang kualitas air menurun akibat aktivitas manusia
(Mulia, 2015). Pembuangan limbah baik berupa padatan ataupun cairan secara lang-
sung ke suatu badan air menyebabkan terjadinya penyimpangan air dari keadaan n-
ormalnya (Wardhana, 2014). Pada praktikum ini, penentuan kadar klorida dilakukan
Denganmetode titrasi. Beberapa larutan seperti perak nitrat, natrium klorida dan ka-
lium/amonium tiosiatat diendapkan untuk menyederhanakn bahasan reaksi bahasan
yang menggunakan perak perak nitrat. Perak nitrat digunakan pada pembakua klori-
da dan bromida ( Muliyono, 2016).
Sesuai Permenkes, air minum yang dapat dikonsumsi, harus bebas dari bahan organi-
k dan anorganik, seperti bahan kimia, bakteri, racun, limbah dan lain sebagainya. Be-
si adalah salah satu logam berat yang banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari,
dalam berbagai aktivitas masyarakat. Besi baianya digunakan sebagai bahan baku d-
alam pembuatan peralatan rumah tangga dan kendaraan. Kandungan besi dalam air
minum, dapat menyebabkan warna kuning akibat pengendapan pada dinding pipa,
air memiliki rasa besi dan prtumbuhan bakteri besi (Melda, 2011). Di Alam, besi di-
dapat sebagai hematit dan di dalam tubuh, besi dibutuhkan oleh tubuh untuk pem-
bentukan hemoglobin, dengan jumlah atau batas tertentu. Pada praktikum ini, kons-
entrasi besi akan diukur dengan metode spektrofotometri, dimana transmitans atau
absorban dari sampel diukur sebagai panjang gelombang, diukur dengan sinar UV.
Mangan terdapat dalam jumlah yang melimpah di batuan dan tanah, terutama ben-
tuk mangan oksida dan hidroksida yang bereaksi dengan kation lain di alam bebas (
Montgomery,2015). Mangan juga merupakan salah satu logam esensial bagi lebih d-
ari 36 komponen enzim untuk metabolisme yang ada dalam tubuh, juga sebagai
Kofaktor bagi beberapa enzim. Namun dalam jumlah yang berlebih mangan dapat m-
enjadi toksik. Gejala toksisitas yang ditimbulkan oleh Mn antara lain, gangguan keji-
waan,hiperiritabilitas, perlakuan kasar, kerusakan syaraf, halusinasi, kelupaan, gejala
kelainan otak, serta tingkah laku abnormal (Dwi, 2010).

C. Reaksi
a) . Pembakuan Larutan AgNO3
K 2CrO4 ( aq )  NaCl ( aq )  AgNO3  AgCl( s )  Na( 2 )CrO4 ( s )  KNO3( aq )
b) . Reaksi pembakuan blanko dengan AgNO3
AgNO3( s )  H 2O  AgNO3( aq )
c) . Reaksi reduksi Fe
2 Fe 2 ( aq )  4 NH 2OH ( aq )  2OH  ( aq ) 2 Fe 2 ( aq )  N 2 ( g )  4 H 2O( l )
BAB II

A. Alat dan Bahan


1. Klorida (Cl-) dengan metode argentometri
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah :
a) . Labu Erlenmeyer 250 mL
b) . Buret 50 mL atau alat titrasi yang lain yang setara
c) . pH meter
d) . Pipet ukur 5 mL
e) . Pipet volumetric 1,0 mL,25 mL, 50,0 mL dan 100 mL
f) . Gelas piala
g) . Timbangan analitik dengan ketelitian 0,1 mg
Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah :
a) . Air bebas mineral
b) . Larutan baku natrium klorida (NaCl) 0,0141 N
c) . Larutan baku perak nitrat (AgNO3)b0,0141 N
d) . Larutan indikator kalium kromat (K2CrO4) 0,1 mg

2. Besi
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah :
a) . Labu Erlenmeyer 125 mL
b) . Pipet ukur 2 mL
c) . Pipet ukur 1 mL
d) . Pipet ukur 5 mL
e) . Labu ukur 1 L
f) . Labu ukur 100 mL
g) . Pipet tetes
h) . Gelas ukur 50 mL
i) . Kuvet
j) . spektrofotometer
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah :
a) . HCL pekat
b) . Larutan Hidroksilamin 10 %
c) . Larutan buffer amonium asetat
d) . Larutan phenantroline
e) . Larutan standar besi

3. Mangan
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah :
a) . Labu Erlenmeyer 125 mL
b) . Tabung Nessler
c) . Pipet ukur 1 mL
d) . Labu ukur 1 L
e) . Labu ukur 100 mL
f) . Pipet tetes
g) . Gelas ukur 50 mL
h) . Kuvet
i) . Spektrofotometer
Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah :
a) . Asam nitrat ( HNO3)
b) . AgNO3 1/35,45 N
c) . Larutan standar Mn ( 1 mL = 0,11 mg)
d) . Kristal (NH4)2S2O8

B. Cara Kerja
1. Klorida (Cl-) dengan metode Argentometri
1.1 Persiapan Pengujian
a) . 25 mL larutan baku NaCl 0,0141 N, dimasukan ke dalam labu Erlenmeyer 250
mL. Air bebas mineral ditambahkan sampai 100 mL
b) . 1 mL larutan indikator K2CrO4
c) . Dititrasi dengan larutan AgNO3 sampai terbentuk larutan berwarna kuning k-
emerahan sebagai titik akhir titrasi, kebutuhan larutan AgNO3 dicatat
d) . Langkah a-c dilakukan dengan menggunakan air bebas mineral sebagai larut-
an blanko
e) . Normalitas larutan AgNO3 dihitung dengan rumus :
V .N
NAgNO3 
A B
Dengan A : Volume larutan AgNO3 untuk titrasi NaCl (mL)
B : volume larutan AgNO3 untuk titrasi blanko (mL)
N : Molaritas larutan NaCl
V : volume larutan NacL (mL)
1.2 Pengujian
a) . 100 mL atau sejumlah volume sampel yang telah ditentukan, dipipet, dien-
cerkan menjadi 100 mL, dimasukan ke dalam labu Erlenmeyer 250 m
b) . 1 mL larutan indikator K2CrO4 ditambahkan
c) . dititrasi dengan larutan AgNO3 sampai terbentuk larutan berwarna kuning
kemerahan sebagai titik akhir titrasi. Kebutuhan larutan AgNO3 dicatat
e) . langkah a-c dilakukan menggunakan air bebas mineral sebagai blanko, keb-
utuhan larutan AgNO3 dicatat.

2. Besi
2.1 Prosedur
a) . 50 mL contoh air yang telah dikocok , dimasukan ke dalam labu Erlenmeyer
125 mL
b) . 2 mL HCl pekat dan 1 mL larutan hidroksil amin dan beberapa batu didih
didih ditambahkan, lalu dididihkan sampai menjafi 20 mL
c) . Setelah dididinginkan, secara kuantitatif cairan dipindahkan ke dalam labu
ukur 50 mL, 10 mL larutan buffer amonium asetat dan 4 mL larutan phenan-
troline ditambahkan, kemudian diencerkan dengan air bebas mineral sampai
tanda batas
e) . Dikocok dan dibiarkan selama 25 menit, lalu intensitas warna merahnya diu-
kur dengan spektofotometer pada panjang gelombang 560 nm.
f) . Untuk pembuatan kurva kalibrasi, dibuat dengan sederetan larutan standar
besi dengan konsentrasi 0,1-0,10 mg . Kemudian dilakukan prosedur yang
L
sama seperti pengerjaan untuk sampel air.

3. Mangan
3.1 Prosedur
a) . 50 mL air dimasukan ke dalam labu Erlenmeyer. 2-3 tetes HNO3 pekat ditam-
bahkan. Sebanyak 1/35,45 N larutan AgNO3 ditambahkan.
b) . dipanaskan sampai mendidih, cairan tetap disaring jika keruh. Kristal
(NH4)2S2O8 ditambahkan lalu dipanaskan lagi. Sampel air mengandung mang-
n apabila berwarna merah muda atau ungu
c) . pengukuran dengan spektrofotometer
Sampel yang berwarna merah dimasukan ke dalam labu ukur 50 mL, ditamb-
ahkan air bebas mineral sampai tanda batas. Intensitas berwarna merah dib-
aca dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 525 nm
d) . untuk kalibrasi dibuat sederetan larutan standar Mn (KMnO4) dari 1-15 mg ,
L
lalu intensitasmasing-masing larutan standar Mn diukur. Kurva kalibrasi dib-
uat antara konsentrasi dan absorbansi dan slope kemiringannya ditentukan.
BAB III

A. Data Pengamatan
Modul 7 Klorida (Cl-) Dengan Metode Argentometri
1. Pembakuan K2CrO4 : * titrasi pertama : 26 mL
* titrasi kedua : 25,6 mL
* Selisih titrasi pertama dan kedua : 0,6 mL
2. Pembakuan Blanko : *satu kali titrasi : 0,7 mL
3. Pembakuan sampel dengan AgNO3 : * titrasi pertama : 2,7 mL
* titrasi kedua : 2,8 mL
Tabel 3.1 Tabel Pengukuran Besi

Konsentrasi
Sampel (mL) Absorbansi (A)
(ⴏg/L)
50 0,2 0,029
100 0,4 0,082
150 0,6 0,131
250 1 0,198
300 1,2 0,232
350 1,4 0,229
400 1,6 0,252

Sampel (mL) Konsentrasi Absorbansi


(ppm) (A)
1 2,2 0,096
1,4 3,08 0,135
1,6 3,52 0,160
2 4,4 0,194
3 6,6 0,289
4 8,8 0,385

Tabel 3.1 Tabel Pengukuran Mangan


Gambar 3.1 Grafik Konsentrasi Standar Terhadap absorbansi besi

Gambar 3.2 Grafik Konsentrasi Standar Terhadap absorbansi mangan

B. Perhitungan
1. Regresi untuk besi
y  a  bx
y  0,02  0,157 x
2. Konsentrasi besi
Absorbansi  int ersept
MFe 
slope
0,21  0,02

0,157
 1,21 mg
L
3. Regresi untuk mangan
y  a  bx
y  0,024  0,043
absorbansi  int ersept
MMn 
slope
0,094  0,024

0,043
 1,627 mg
L
4. Normalitas Larutan AgNO3
V .N
MAgNO3 
A B
25,7  0,0141
MAgNO3   0,603 N
26  25,4
5. Kadar Klorida (mgcl/cl-)
( A  B )  N  35450
 f
V
( 2 , 75  0 , 7 )  0 , 603  35450
 1
50

 91 ,567 mgCl
L

C. Pembahasan
Pada praktikum ini, kadar klorida yang ada dalam air sampel uji adalah,
91,567 mgCl/L. Berdasarkan Permenkes No.492 tahun 2010 tentang
Persyaratan kualitas air minum, kadar klorida maksimum dalam suatu
badan air adalah 250 mg/L. Unsur klorida yang ada pada suatu badan air
biasanya menyebabkan peningkatan laju korosi pada pipa-pipa distribusi
air, dan menyebabkan rasa asin pada air minum. Meskipun kadar klorida
yang ada pada sampel air yang diuji berada di bawah standar baku mutu
air minum,sampel yang digunakan dalam pengukuran tidak dapat
dikonsumsi, karena pada praktikum ini, tidak diukur kandungan lain yang
ada dalam sampel uji, sehingga perlu dilakukan pengujian lebih lanjut
mengenai kandungan bahan organik dan anorganin yang ada dalam
sampel uji. Untuk mengurangi kadar klorida yang ada di dalam air, dapat
dilakukan dengan proses klorinasi, yaitu proses pemberian klorin dalam
air yang bertujuan untuk membunuh kuman dan mengoksidasi bahan
kimia yang ada di dalam air. Menurut Permenkes No.492 tahun 2010
tentang persyaratan kualitas air minum, kadar maksimum besi yang
terdapat dalam air minum adalah,0,3 mg/L .Pada praktikum ini, konsentrasi
besi yang didapatkan adalah 1,21 mg/L. Kadar besi yang ada pada sampel
air uji melebihi baku mutu air minum.Hal ini dikarenakan, pipa yang
digunakan untuk mendistribusikan air sampel adalah pipa yang terbuat
dari logam, hal tersebut memungkinkan terjadi korosi dalam saluran pipa
yang terbuat dari logam. Logam besi yang ada di air menyebabkan rasa
yang tidak enak pada air, warna kekuningan, serta terjadi pengendapan
pada pipa saluran distribusi air.Salah satu cara, untuk mengurangi
konsentrasi besi dalam air adalah dengan cara Koagulasi dengan
elektrolitik. Koagulasi dengan elektrolitik dilakukan dengan memasukan
lempeng elektroda alumunium yang dialiri listrik searah ke dalam air.
Dengan adanya arus listrik dalam lempengan Al, lempengan tersebut
akan larut dan membentuk ion Al3+, yang akan bereaksi dengan air
membentuk Al(OH)3 yang sangat efektif sebagai koagulan. Kadar mangan
yang didapat dalam praktikum ini adalah 1,627 mg/L. berdasarkan standar
baku mutu air minum, dalam Permenkes No.492 tahun 2010, kadar
maksimum mangan dalam suatu badan air adalah 0,4 mg/L. hal ini
menunjukan bahwa, untuk dapat dikonsumsi, air tersebut harus diolah
terlebih dahulu. Salah satu cara untuk mengurangi kadar mangan yang
ada di dalam air adalah dengan menggunakan pertukaran ion. Pertukaran
ion dilakukan dengan mengalirkan cairan yang mengandung Mn melalui
media pertukaran ion, sehingga Mn akan bereaksi dengan media
pertukaran ionnya.
BAB IV

A. Kesimpulan
Kadar klorida yang terdapat dalam sampel air adalah, 91,567 mgCl/L. Sedangkan, baku
mutu air minum, menurut Permenkes No. 492 tahun 2010, kadar klorida dalam air
minum adalah, 250 mg/L. Hal ini menunjukan bahwa, kadar klorida yang ada dalam
sampel yang diuji masih ada dibawah baku mutu air minum. Namun sampel tersebut,
tidak dapat dikonsumsi tanpa melalui rangkaian proses pengujian untuk mengetahui
kandungan organik dan anorganik apa saja yang ada dalam sampel tersebut.
Kadar besi yang didapatkan dalam praktikum ini adalah, 1,21 mg/L. sedangkan, baku
mutu air minum untuk besi adalah, 0,3 mg/L. hal ini menunjukan, bahwa untuk dapat
dikonsumsi, sampel harus diolah terlebih dahulu, untuk menghilangkan kandungan
besi didalamnya.
Kadar mangan yang didapat dalam praktikum ini adalah, 1,627 mg/L. Baku mutu air
minum untuk mangan adalah, 0,4 mg/L. hal ini menunjukan sebelum dikonsumsi,
Sampel air harus diolah terlebih dahulu.

B. Saran
Untuk titrasi dalam pengujian klorida, sebaiknya titrasi dilakukan perlahan,
sambil terus memperhatikan perubahan warna yang terjadi pada larutan yang dititr-
asi. Untuk pengukuran absorbansi sampel dengan menggunakan spektofotometer,
sebaiknya, sampel disaring hingga benar-benar bersih agar tidak mengganggu pros-
es pengukuran.
DAFTAR PUSTAKA
D. Risman Andri. 2016. “UJI KADAR KLORIDA DENGAN TITRASI ARGENTOMETRI METODE
MOHR PADA SAMPEL AIR MINUM ISI ULANG DI KABUPATEN SERDANG BEDAGAI”. Tugas
Akhir. Sumatera Utara : Universitas Sumatera Utara

E. Sinaga. 2016. “Penetapan Kadar Klorida pada Air Minum Isi Ulang dengan Metode
Argentometri (Metode Mohr)”. Tugas Akhir. Sematera Utara : Universitas Sumatera Utara
Melda. 2011. “ANALISA KANDUNGAN BESI (II) DENGAN SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN
ATOM DAN ION NITRAT DENGAN SPEKTROFOTOMETRI UV PADA AIR BAKU DAN AIR MINUM
ISI ULANG DI KOTA PEKANBARU”. Tugas Akhir. Riau : Universitas Islam Negri Sultan Syarif
Kasim
Monthgomery,j.M.2015.”Water Treatment Priciples and Desing”. USA : Jhon Willey and Son
Inch.

Mulia, M. R. 2015. Kesehatan Lingkungan. Yogyakarta: Penerbit Graha Ilmu. Hal. 41-42, 46.

Mulyono, H. 2016. Membuat Reagen Kimia di Laboratorium. Jakarta: PT Bumi Aksara. Hal.
157.

Peraturan Mentri Kesehatan Indonesia Nomor 492/Menkes/per/IV/2020 Tentan Persyarat-


an Kualitas Air Minum.

Waluyo, L. 2010 . Mikrobiologi Lingkungan. Malang: UMM Press. Hal. 129.

Wardhana, A. W. 2014. Dampak Pencemaran Lingkungan. Yogyakarta: Penerbit Andi Offset.


Hal. 71, 73-74, 132-135

Yuliani, Dwi. 2010. “Penentuan Kadar Logam Mangan (Mn) dan Krom (Cr) dalam Air Minum
Hasil penyaringan Yamaha Water Purifier dengan Metode Spektrofotometri Serpan Atom”.
Tugas Akhir. Sumatera Utara : Universitas Sumatera Utara