Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pembelajaran merupakan suatu sistem, yang terdiri dari berbagai komponen
yang saling berhubungan satu dengan yang lain. Komponen tersebut meliputi:
tujuan/ kompetensi, materi, metode, dan evaluasi. Keempat komponen
pembelajaran tersebut harus diperhatikan oleh guru dalam memilih atau
menentukan model pembelajaran. Berkenaan dengan model pembelajaran,
makalah ini akan menjelaskan pembaca untuk memahami berbagai hal
yangterkait dengan model pembelajaran, macam-macam model pembelajaran,
dan model pembelajaran yang efektif.

Keanekaragaman model pembelajaran yang hendak di sampaikan pada


makalah ini merupakan upaya bagaimana menyediakan berbagai alternative
dalam strategi pembelajaran yang hendak disampaikan agar selaras dengan
tingkat perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotorik peserta didik. Ini
berarti tidak ada model pembelajaran yang paling baik, atau model
pembelajaran yangsatu lebih baik dari model pembelajaran yang lain. Baik
tidaknya suatu model pembelajaran atau pemilihan suatu model pembelajaran
akan tergantung pada tujuan pembelajaran, kesesuaian dengan materi yang
hendak disampaikan, perkembangan peserta didik, dan juga kemampuan
dosen dalam mengelola dan memberdayakan semua sumber belajar yang ada.
Dengan demikian makalah ini diharapkan bisa sebagai acuan bagi para dosen
dalam dalam rangka kelangsungan pembelajaran yang efektif dan efesien.

Proses pembelajaran merupakan suatu konsep yang sangat komplek dalam


menjadikan suatu kegiatan pembelajaran yang terjadi menjadi lebih efektif,
efisien dan kondusif. Proses ini melibatkan berbagai unsur dalam satu
lingkungan belajar, baik guru, siswa, media, dan unsur lain yang menunjang
terjadinya interaksi belajar. Pembelajaran yang terjadi selama ini diartikan

1
sebagai pembelajaran konvensional yang hanya memfokuskan pada
komunikasi verbalistik, sentralisasi dosen, pembelajaran yang otoriter, yang
berhak menentukan apa yang akan dipelajari oleh mahasiswa dan faham-
faham yang tidak memberikan ruang kreatifitas baik bagi mahasiswa dalam
mengembangkan pembelajaran yang inovatif dan kreatif. Hal ini menjadi
suatu dasar suatu jurang pemisah antara dosen dan mahasiswa dalam
pembelajaran. Sikap, paham, atau kebiasaan yang terjadi seperti disebutkan
menjadikan suasana belajar tidak menyenangkan. Menyikapi hal itu, kami
sebagai penyusun dalam makalah ini, mencoba untuk mengangkat beberapa
model pembelajaran yang bisa dijadikan rujukan oleh dosen dalam
menerapkan model dan strategi pembelajaran yang bersifat inovatif dan
berorientasi pada prinsip-prinsip konstruktifis yang saat ini sangat dianjurkan
bagi setiap dosen dalam melaksanakan pembelajaran di kelas. Pembelajaran
inovatif ini dilengkapi dengan model-model yang sangat variatif dengan
sintaks atau langkah-langkahnya. Di antaranya model pembelajaran langsung,
kooperatif, dan pembelajaran berdasarkan masalah. Demikianlah maakalah ini
dibuat dengan harapan dapat menjadi salah satu referensi bagi setiap pembaca
dalam mengembangkan kemampuannya dalam mengembangkan suatu proses
pembelajaran yang berdasarkan prinsip-prinsip pembelajaran yang inovatif.

2
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan pengertian model pembelajaran ?
2. Apa saja macam-macam model pembelajaran ? Jelaskan.
a. Model pembelajaran berbagi informasi
b. Berbasis pengalaman
c. Problem solving based
3. Apa yang dimaksud dengan analisis kompetensi utama ?
a. Apa saja macam macam metode pembelajaran ?
b. Apa saja macam macam media dalam kurikulum kebidanan ?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui tentang pengertian model pembelajaran
2. Untuk mengetahui macam-macam model pembelajaran
a. Untuk mengetahui model pembelajaran berbagi informasi
b. Untuk mengetahui model pembelajaran berbasis pengalaman
c. Untuk mengetahui model pembelajaran problem solving based
3. Untuk mengetahui tentang analisis kompetensi utama
a. Untuk mengetahui macam macam metode pembelajaran
b. Untuk mengetahui macam macam media dalam kurikulum
kebidanan

3
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Model Pembelajaran


Model pembelajaran menurut Kardi dan Nur ada lima model pembelajaran
yang dapat digunakan dalam mengelola pembelajaran, yaitu: pembelajaran
langsung; pembelajaran kooperatif; pembelajaran berdasarkan masalah;
diskusi; dan learning strategi.

Menurut Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega (1990) mengetengahkan


4 (empat) kelompok model pembelajaran, yaitu: (1) model interaksi sosial;
(2) model pengolahan informasi; (3) model personal-humanistik; dan (4)
model modifikasi tingkah laku. Kendati demikian, seringkali penggunaan
istilah model pembelajaran tersebut diidentikkan dengan strategi
pembelajaran.

Menurut E. Mulyasa (2003) mengetengahkan lima model pembelajaran yang


dianggap sesuai dengan tuntutan Kurikukum Berbasis Kompetensi; yaitu : (1)
Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching Learning); (2) Bermain
Peran (Role Playing); (3) Pembelajaran Partisipatif (Participative Teaching
and Learning); (4) Belajar Tuntas (Mastery Learning); dan (5) Pembelajaran
dengan Modul (Modular Instruction).

Menurut Joyce dan Weil (1986: 14-15) mengemukakan bahwa setiap model
belajar
mengajar atau model pembelajaran harus memiliki empat unsur berikut.

Sintak (syntax) yang merupakan fase-fase (phasing) dari model yang


menjelaskan model tersebut dalam pelaksanaannya secara nyata (Joyce dan
Weil, 1986:14).

4
Menurut Toeti Soekamto dan Winataputra (1995:78) mendefinisikan ‘model
pembelajaran’ sebagai kerangka konseptual yang menggambarkan prosedur
yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar bagi para siswa
untuk mencapai tujuan pembelajaran dan berfungsi sebagai pedoman bagi
para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan
melaksanakan aktivitas belajar mengajar.

Dua hal yang harus Anda ketahui pada setiap model pembelajaran adalah
bahwa setiap model pembelajaran akan berangkat dari tujuan dan asumsi.
Tujuan merupakan arah, haluan, atau maksud model pembelajaran itu akan
digunakan dalam pembelajaran. Asumsi adalah landasan berpikir karena
dianggap benar atau kebenaran itu tidak perlu dibuktikan.

Selain tujuan dan asumsi, hal yang harus Anda ketahui bahwa dalam setiap
model pembelajaran memuat unsur-unsur penting yang menentukan jenis atau
nama model pembelajaran tersebut. Joyce dan Weil (2000) mengemukakan
bahwa setiap model pembelajaran, selain ada tujuan dan asumsi juga harus
memiliki lima unsur karakteristik model, yaitu sintakmatik, sistem sosial,
prinsip reaksi, sistem pendukung, dan dampak instruksional dan pengiring.

2.2 Macam Macam Model Pembelajaran

2.2.1 Model pembelajaran berbagi informasi

Model Pembelajaran Kooperatif (Coorperative learning) menurut Sofan


Amri & Iif Khoiru Ahmadi, (2010:67) merupakan model pengajaran
dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang memiliki tingkat
kemampuan berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap
anggota saling kerjasama dan membantu untuk memahami suatu bahan
pembelajaran.

Pembelajaran koperatif sesuai dengan fitrah manusia sebagai makhluk


sosial yang penuh ketergantungan dengan orang lain, mempunyai tujuan
dan tanggung jawab bersama, pembagian tugas, dan rasa senasib. Dengan
memanfaatkan kenyatan itu, belajar berkelompok secara koperatif, siswa

5
dilatih dan dibiasakan untuk saling berbagi (sharing) pengetahuan,
pengalaman, tugas, tanggung jawab. Saling membantu dan berlatih
beinteraksi-komunikasi-sosialisasi karena koperatif adalah miniature dari
hidup bermasyarakat, dan belajar menyadari kekurangan dan kelebihan
masing-masing. Jadi model pembelajaran koperatif adalah kegiatan
pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling
membantu mengkontruksi konsep, menyelesaikan persoalan, atau inkuiri.
Menurut teori dan pengalaman agar kelompok kohesif (kompak-
partisipatif), tiap anggota kelompok terdiri dari 4 – 5 orang, siswa
heterogen (kemampuan, gender, karekter), ada control dan fasilitasi, dan
meminta tanggung jawab hasil kelompok berupa laporan atau presentasi.
Sintaks pembelajaran koperatif adalah informasi, pengarahan-strategi,
membentuk kelompok heterogen, kerja kelompok, presentasi hasil
kelompok, dan pelaporan. Beberapa Tipe dari Model Pembelajaran
kooperatif ini diantaranya yaitu :

a. Role Playing
b. Problem Based Intruction (PBI)
c. Mind Mapping (Peta pikiran)
d. Change of pairs (Tukar pasangan)
e. Group Investigation
f. Group to arround (keliling kelompok)
g. Snowball Throwing
h. Numbered Heads Together
i. Student Teams Achievement Divisions (STAD)
j. Jigsaw

2.2.2 Model Pembelajaran Experiential (Experiential Learning)

Model pembelajaran Experiential merupakan sebuah model


pembelajaran yang didasarkan pada teori Kolb, yaitu merupakan
proses dimana pengetahuan terkonstruksi melalui transformasi
pengalaman. Belajar dari pengalaman mencakup keterkaitan antara
berbuat (the doing) dan berpikir (the thinking). Menurut Kolb & Kolb

6
(2005), tujuan teori pembelajaran konstruktivis sosial Vygotsky
sejalan dengan pengembangan model pembelajaran Experiential.
Seseorang akan belajar jauh lebih baik lewat keterlibatannya secara
aktif dalam proses belajar. Menurut Vygotsky, konstruksi
pengetahuan fisik dan logiko matematis bersifat inter-individualistik.
Proses konstruksi pengetahuan lewat pengalaman tidak dapat terjadi
pda ruang lingkup yang kosong.

Pembelajaran Experiential menawarkan perbedaan yang mendasar


yang melihat proses belajar yang didasarkan atas epistemologi empiris
(Arsoy & Özad, 2005). Teori ini menekankan akan kebutuhan
lingkungan belajar dengan menyediakan kesempatan siswa belajar
untuk mengembangkan dan membangun pengetahuan melalui
pengalamannya. Pengalaman akan menyajikan dasar untuk melakukan
refleksi dan observasi, mengkonseptualisasi dan menganalisis
pengetahuan dalam pikiran anak.

Model pembelajaran Experiential mendefinisikan pembelajaran


sebagai sebuah proses yang didapatkan melalui kombinasi antara
memperoleh pengalaman (grasping experiece) dengan
mentransformasi pengalaman (transformation of experiece) (Holzer &
Andruet, 2000; Adam, et al., 2004). Kegiatan memperoleh
pengalaman (grasping experience) dapat terjadi secara langsung, yaitu
melalui indra dan secara tidak langsung, yaitu berupa bentuk simbolis,
misalnya konsep. Kegiatan mentransformasi pengalaman
(transforming experience) berupa refleksi dan keterlibatan siswa
dalam suatu aktivitas sains. Model pembelajaran Experiential
menggambarkan dua model peroleh informasi yaitu concrete
experience dan abstract conceptualization, dan dua model transformasi
pengalaman yaitu reflective observation dan active experimentation.

Pengalaman memberi peranan penting dalam kontruksi pengetahuan.


Madnesen & Sheal mengemukakan bahwa kebermaknaan belajar
tergantung bagaimana cara belajar. Jika belajar hanya dengan

7
membaca kebermaknaan belajar bisa mencapai 10%, dari mendengar
20%, dari melihat 30%, mendengar dan melihat 50%,
mengkomunikasikan mencapai 70 %, dan belajar dengan melakukan
dan mengkomunikasikan bisa mencapai 90% (Suherman, 2006). Jelas
bahwa kegiatan belajar dengan peran aktif siswa dalam pengalaman
nyata dapat mengoptimalkan kegiatan dalam mencapai tujuan belajar.

Kolb (1994) mengemukakan 3 karakteristik model pembelajaran


Experiential, yaitu 1) belajar paling baik diterima sebagai suatu
proses, di mana konsep diperoleh dan dimodifikasi dari kegiatan
eksperimen, tidak dinyatakan dalam bentuk produk, 2) belajar
merupakan proses kontinu bertolak dari pengalaman, dan 3) proses
belajar memerlukan resolusi konflik (Wita et al.,2007).

Pembelajaran Experiential adalah proses belajar secara edukatif,


berpusat pada pebelajar, dan berorientasi pada aktivitas. Refleksi
secara personal tentang suatu pengalaman dan memformulasikan
rencana untuk menetapkan apa yang telah diperoleh dari pengalaman
sains untuk konteks sains yang lain adalah faktor kritis dalam menjaga
efektivitas pembelajaran Experiential.

Pengalaman-pengalaman yang telah dialami siswa mempunyai


peranan penting dalam pembentukan pengetahuan kognitif dalam
pikiran siswa. Siswa merefleksikan pengalamannya pada sebuah
pengetahuan baru. Suparno (1997) memaparkan bahwa konsep baru
dapat diintegrasi dengan konsep yang ada di dalam struktur kognitif
siswa apabila konsep baru tersebut dapat mereka bayangkan atau
dapat mereka kaitkan dengan dunia nyata (realistik). Pengetahuan
yang diperoleh kemudian diaplikasikan pada situasi lain (Diem, 2001;
Walt & Blicblau. 2005).

Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan eksperimen akan membuat


individu memperoleh pengalaman langsung yang konkrit. Menurut
Bruner, ketika siswa dilibatkan dalam kegiatan pengalaman

8
eksperimen, mereka akan mengembangkan kemampuan untuk
pemecahan masalah yang ada (Gonen & Ozek, 2005). Siswa atau
individu kemudian akan mengembangkan keterampilan observasi dan
kemudian merefleksikan pengalaman yang diperolehnya. Setelah fase
ini, siswa akan membentuk generalisasi dalam pikirannya yang
kemudian menghasilkan sebuah implikasi yang menjadi pegangan
dalam pengalaman baru.

Kolb menguraikan beberapa manfaat penerapan pembelajaran yang


didasarkan pada pengalaman sebagai berikut (Adam, et al., 2004).

1. Menyediakan arah pembelajaran yang tepat dalam penerapan apa


yang dipelajari.
2. Memberikan arah cakupan metode pembelajaran yang diperlukan.
3. Memberikan kaitan yang erat antara teori dan praktek.
4. Dengan jelas merumuskan pentingnya para siswa untuk
merefleksikan dan merangsang siswa memberikan umpan balik
tentang apa yang mereka pelajari.
5. Membantu dalam mengkombinasi gaya pengajaran sehingga
pembelajaran menjadi lebih efektif.

Pembelajaran Experiential digambarkan dalam suatu siklus


pembelajaran yang terhirarki pada masing-masing fase. Terdapat
empat tahapan model belajar berbasis pengalaman (Experiential
Learning Model), yaitu Concrete Experience, Refective Observation,
Abstract Conceptualization, Active Experimentation.

Sharlanova (2004) menyampaikan kegiatan belajar dalam siklus


belajar Kolb sebagai berikut.

1. Concrete Experience (CE)


Pada tahap concrete experience, pebelajar baik secara individu,
tim, atau organisasi hanya mengerjakan tugas. Tugas yang
dimaksudkan adalah aktivitas sains yang mendorong mereka
melakukan kegiatan sains atau mengalami sendiri suatu fenomena

9
yang akan dipelajari. Siswa berperan sebagai partisipan aktif.
Fenomena ini dapat berangkat dari pengalaman yang pernah
dialami sebelumnya baik formal ataupun informal, atau situasi
yang bersifat real problematic sehingga mampu membangkitkan
interest siswa untuk menyelidiki lebih jauh.
2. Refective Observation (RO)
Pada tahap refective observation, siswa mereview apa yang telah
dilakukan atau dipelajari. Keterampilan mendengarkan,
memberikan perhatian atau tanggapan, menemukan perbedaaan,
dan menerapakan ide atau gagasan dapat membantu dalam
memperoleh hasil refleksi. Siswa mengamati secara seksama dari
aktivitas sains yang sedang dilakukan dengan menggunakan panca
indra (sense) atau perasaan (feeling) kemudian merefleksikan hasil
yang didapatkan. Pada tahap ini siswa mengkomunikasikan satu
sama lain hasil refleksi yang dilakukan.
3. Abstract Conceptualization (AC)
Tahap abstract conceptualization merupakan tahapan mind-on atau
fase “think” di mana pebelajar mampu memberikan penjelasan
mtematis terhadap suatu fenomena dengan memikirkan,
mencermati alasan hubungan timbal balik (reciprocal-causing)
terhadap pengalaman (experience) yang diperoleh setelah
melakukan observasi dan refleksi terhadap penglaman sains pada
fase concrete experience. Pebelajar mencoba mengkonseptualisasi
suatu teori atau model terhadap penglaman yang diobservasi dan
mengintegrasikan pengalaman baru yang diperoleh dengan
pengalaman sebelumnya (prior experience).
4. Active Experimentation (AE)
Pada tahap ini, pebelajar mencoba merencanakan bagaimana
menguji kemampuan suatu teori atau model untuk menjelaskan
pengalaman baru yang diperoleh selanjutnya. Proses belajar
bermakna akan terjadi pada tahap active experimentation
(Mardana, 2006). Pengalaman yang diperoleh pebelajar

10
sebelumnya dapat diterapkan pada pengalaman baru dan atau
situasi problematik yang baru. Melalui kegiatan active
experimentation ini siswa akan melatih kemampuan berpikir kritis.
Siswa mengetahui sejauh mana pemahaman yang telah dimiliki
dalam memecahkan permasalahan-permasalahan yang terkait
dengan pengalaman sehari-hari. Terdapat tahapan penting dalam
pengajaran dengan menggunakan model pembelajaran
Experiential yang terangkum dalam sintak pembelajaran. Menurut
Mardana (2006), model pembelajaran Experiential mampu
menyediakan tahapan-tahapan pembelajaran yang menekankan
pada terjadinya proses transformasi pengalaman sains berangkat
dari pengalaman sehari-hari.

2.2.3 Model Pembelajaran Problem solving based

Dalam hal ini masalah didefinisikan sebagai suatu persoalan


yang tidak rutin, belum dikenal cara penyelesaiannya. Justru
problem solving adalah mencari atau menemukan cara
penyelesaian (menemukan pola, aturan, .atau algoritma). Sintaknya
adalah: sajiakn permasalah yang memenuhi criteria di atas, siswa
berkelompok atau individual mengidentifikasi pola atau aturan
yang disajikan, siswa mengidentifkasi, mengeksplorasi
menginvestigasi, menduga, dan akhirnya menemukan solusi.

Model pembelajaran berbasis masalah merupakan sebuah model


pembelajaran yang menyajikan masalah kontekstual sehingga
merangsang peserta didik untuk belajar. Dalam kelas yang
menerapkan pembelajaran berbasis masalah, peserta didik bekerja
dalam tim untuk memecahkan masalah dunia nyata (real world).

11
a. Kelebihan problem solving based ( Model Pembelajaran Berbasis
Masalah)

Dengan PSB akan terjadi pembelajaran bermakna. Peserta


didik/mahapeserta didik yang belajar memecahkan suatu masalah
maka mereka akan menerapkan pengetahuan yang dimilikinya atau
berusaha mengetahui pengetahuan yang diperlukan. Belajar dapat
semakin bermakna dan dapat diperluas ketika peserta
didik/mahapeserta didik berhadapan dengan situasi di mana konsep
diterapkan.

Dalam situasi PSB, peserta didik/mahapeserta didik


mengintegrasikan pengetahuan dan ketrampilan secara simultan
dan mengaplikasikannya dalam konteks yang relevan. PSB dapat
meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan inisiatif
peserta didik/mahapeserta didik dalam bekerja, motivasi internal
untuk belajar, dan dapat mengembangkan hubungan interpersonal
dalam bekerja kelompok.

b. Sistem penilaian model pembelajaran problem solving based.

Penilaian dilakukan dengan memadukan tiga aspek pengetahuan


(knowledge), kecakapan (skill), dan sikap (attitude). Penilaian
terhadap penguasaan pengetahuan yang mencakup seluruh kegiatan
pembelajaran yang dilakukan dengan ujian akhir semester (UAS),
ujianujian tengah semester (UTS), kuis, PR,dokumen, dan laporan.

Penilaian terhadap kecakapan dapat diukur dari penguasaan alat


bantu pembelajaran, baik software, hardware, maupun kemampuan
perancangan dan pengujian. Sedangkan penilaian terhadap sikap
dititikberatkan pada penguasaan soft skill, yaitu keaktifan dan
partisipasi dalam diskusi, kemampuan bekerjasama dalam tim, dan

12
kehadiran dalam pembelajaran Bobot penilaian untuk ketiga aspek
tersebut ditentukan oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan.

Sistem Penilaian
Penilaian pembelajaran dengan PBS dilakukan dengan authentic
assesment. Penilaian dapat dilakukan dengan portfolio yang
merupakan kumpulan yang sistematis pekerjaan-pekerjaan peserta
didik yang dianalisis untuk melihat kemajuan belajar dalam kurun
waktu tertentu dalam kerangka pencapaian tujuan pembelajaran.
Penilaian dalam pendekatan PBS dilakukan dengan cara evaluasi
diri (self-assessment) dan peer-assessment.

Penilaian (Assessment)
Penilaian dilakukan dengan memadukan tiga aspek pengetahuan
(knowledge), kecakapan (skill), dan sikap (attitude). Penilaian
terhadap penguasaan pengetahuan yang mencakup seluruh kegiatan
pembelajaran yang dilakukan dengan ujian akhir semester (UAS),
ujian tengah semester (UTS), kuis, PR, dokumen, dan
laporan.Penilaian terhadap kecakapan dapat diukur dari penguasaan
alat bantu pembelajaran, baik software, hardware, maupun
kemampuan perancangan dan pengujian.

c. Contoh Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah


(Problem Solving Based)

Sebelum memulai proses belajar mengajar di dalam kelas, peserta


didik terlebih dahulu diminta untuk mengobservasi suatu fenomena
terlebih dahulu. Kemudian peserta didik diminta mencatat masalah-
masalah yang muncul.
Setelah itu tugas guru adalah meransang peserta didik untuk
berpikir kritis dalam memecahkan masalah yang ada. Tugas guru

13
adalah mengarahkan peserta didik untuk bertanya, membuktikan
asumsi, dan mendengarkan pendapat yang berbeda dari mereka.

Contoh Penerapan
Memanfaatkan lingkungan peserta didik untuk memperoleh
pengalaman belajar. Guru memberikan penugasan yang dapat
dilakukan di berbagai konteks lingkungan peserta didik, antara lain
di sekolah, keluarga dan masyarakat.
Penugasan yang diberikan oleh guru memberikan kesempatan bagi
peserta didik untuk belajar diluar kelas. Peserta didik diharapkan
dapat memperoleh pengalaman langsung tentang apa yang sedang
dipelajari. Pengalaman belajar merupakan aktivitas belajar yang
harus dilakukan peserta didik dalam rangka mencapai penguasaan
standar kompetensi, kemampuan dasar dan materi pembelajaran.

2.3 Kompetensi Utama


Standar Kompetensi adalah kualifikasi kemampuan minimal peserta didik
yang menggambarkan penguasaan sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang
diharapkan dicapai pada setiap tingkat dan/atau semester; standar kompetensi
terdiri atas sejumlah kompetensi dasar sebagai acuan baku yang harus dicapai
dan berlaku secara nasional.

Kompetensi Dasar merupakan sejumlah kemampuan yang harus dimiliki


peserta didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan untuk menyusun
indikator kompetensi.

Standar isi yang merupakan bagian dokumen I KTSP, kemudian dianalisis


pada lampiran SK dan KD yang akan menjadi dokumen II KTSP. Tiap KD
harus dianalisis untuk memperoleh Indikator Pencapaian sebagai dasar
pengembangan silabus. Indikator pencapaian dalam silabus selanjutnya
menjadi acuan dalam penentuan kegiatan pembelajaran, alokasi waktu, jenis
dan bentuk penilaian, serta sumber dan bahan pembelajaran. Pengembangan

14
RPP sesuai dengan tuntutan PP 19 Tahun 2005 harus mengacu pada hasil
pengembangan silabus. Penentuan tujuan pembelajaran harus sesuai dengan
indikator pencapaian, materi pembelajaran diuraikan dari materi pokok dalam
silabus, metode pembelajaran menjawab kebutuhan kegiatan pembelajaran,
penilaian berisi instrumen yang sesuai dengan jenis dan bentuk penilaian
dalam silabus, sementara sumber dan bahan pembelajaran sama dengan yang
tertuang dalam silabus.

Realitas menunjukkan bahwa pada umumnya dalam mengembangkan silabus


hanya mengutip SK dan KD yang terdapat pada Lampiran Standar Isi (belum
melakukan pengkajian/pemetaan kompetensi), karena belum memahami
bahwa proses pengkajian dimaksud sangat penting dan bermanfaat untuk
merumuskan: indikator pencapaian, materi pokok, kegiatan pembelajaran,
metode pembelajaran, penentuan bentuk dan jenis soal, serta sumber/bahan
belajar.

Adapun Langkah-Langkah Analisis SK dan KD


a. Mengkaji/memetakan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
b. Merumuskan indikator pencapaian kompetensi
c. Mengidentifikasi materi pembelajaran
d. Mengembangkan kegiatan pembelajaran
e. Menentukan jenis penilaian
f. Menentukan alokasi waktu
g. Menentukan sumber belajar

2.3.1 Macam-macam Metode Pembelajaran


a. Metode ceramah
Metode ceramah adalah penuturan bahan pelajaran secara lisan.
Metode ini tidak senantiasa jelek bila penggunaannya betul-betul
disiapkan dengan baik, didukung dengan alat dan media, serta
memperhatikan batas-batas kemungkinan penggunaannya. Menurut
Ibrahim, (2003: 106) metode ceramah adalah suatu cara mengajar

15
yang digunakan untuk menyampaikan keterangan atau informasi atau
uraian tentang suatu pokok persoalan serta masalah secara lisan.

Metode ini seringkali digunakan dosen dalam menyampaikan


pelajaran apabila menghadapi sejumlah mahasiswa yang cukup
banyak, namun perlu diperhatikan juga bahwa metode ini akan
berhasil baik apabila didukung oleh metode-metode yang lain,
misalnya metode tanya jawab, latihan dan lain-lain. Dosen harus
benar-benar siap dalam hal ini, karena jika disampaikan hanya
ceramah saja dari awal pelajaran sampai selesai, mahasiswa akan
bosan dan kurang berminat dalam mengikuti pelajaran, bahkan bisa-
bisa mahasiswa tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh dosennya.

a) Kelebihan metode ceramah

1) Dosen lebih menguasai kelas.

2) Mudah mengorganisasikan tempat duduk/kelas.

3) Dapat diikuti oleh jumlah mahasiswa yang besar.

4) Mudah mempersiapkan dan melaksanakannya.

5) Dosen mudah menerangkan pelajaran dengan baik.

b) Kelemahan metode ceramah

1) Mudah menjadi verbalisme (pengertian kata-kata).

2) Yang visual menjadi rugi, yang auditif (mendengar) lebih biasa


menerima.

3) Membosankan bila selalu digunakan dan terlalu lama.

4) Sukar menyimpulkan mahasiswa mengerti dan tertarik pada


ceramahnya.

16
b. Metode tanya jawab
Metode Tanya Jawab adalah metode mengajar yang memungkinkan
terjadinya komunikasi langsung yang bersifat ywo way traffic, sebab
pada saat yang sama terjadi dialog antara dosen dan mahasiswa.
Dosen bertanya mahasiswa menjawab atau mahasiswa bertanya
dosen menjawab. Dalam komunikasi ini terlihat adanya hubungan
timbal balik secara langsung antara dosen dengan mahasiswa. Metode
tanya jawab dapat juga diartikan sebagai metode mengajar yang
memungkinkan terjadinya komunikasi langsung yang bersifat dua
arah sebab pada saat yang sama terjadi dialog antara dosen dan
mahasiswa. Dosen bertanya mahasiswa menjawab atau mahasiswa
bertanya dosen menjawab.

a) Kelebihan metode tanya jawab


1) Pertanyaan dapat menarik dan memusatkan perhatian mahasiswa.
2) Merangsang mahasiswa untuk melatih dan mengembangkan
daya pikir, termasuk daya ingatan.
3) Mengembangkan keberanian dan keterampilan mahasiswa dalam
menjawab dan mengemukakan pendapat.

b) Kelemahan metode tanya jawab


1) Mahasiswa merasa takut bila dosen kurang dapat mendorong
mahasiswa untuk berani dengan menciptakan suasana yang tidak
tegang.
2) Tidak mudah membuat pertanyaan yang sesuai dengan tingkat
berpikir dan mudah dipahami mahasiswa.
3) Sering membuang banyak waktu.
4) Kurangnya waktu untuk memberikan pertanyaan kepada seluruh
mahasiswa.

17
c. Metode diskusi
Metode diskusi adalah bertukar informasi, berpendapat, dan unsur-unsur
pengalaman secara teratur dengan maksud untuk mendapat pengertian
bersama yang lebih jelas dan lebih cermat tentang permasalahan atau topik
yang sedang dibahas.

Dengan demikian, Metode Diskusi adalah metode pembelajaran berbentuk


tukar menukar informasi, pendapat dan unsur-unsur pengalaman secara
teratur dengan maksud untuk mendapat pengertian yang sama, lebih jelas
dan lebih teliti tentang sesuatu atau untuk mempersiapkan dan
merampungkan keputusan bersama. Oleh karena itu diskusi bukanlah
debat, karena debat adalah perang mulut orang beradu argumentasi, beradu
paham dan kemampuan persuasi untuk memenangkan pahamnya sendiri.
Dalam diskusi tiap orang diharapkan memberikan sumbangan sehingga
seluruh kelompok kembali dengan paham yang dibina bersama.

a) Kelebihan metode diskusi


1) Merangsang kreatifitas anak didik dalam bentuk ide, gagasan,
prakarsa dan terobosan baru dalam pemecahan masalah.
2) Mengembangkan sikap saling menghargai pendapat orang lain.
3) Memperluas wawasan.
4) Membina untuk terbiasa musyawarah dalam memecahkan suatu
masalah.

b) Kelemahan metode diskusi


1) Membutuhkan waktu yang panjang.
2) Tidak dapat dipakai untuk kelompok yang besar.
3) Peserta mendapat informasi yang terbatas.
4) Dikuasai orang-orang yang suka berbicara atau ingin menonjolkan
diri.

18
d. Metode demonstrasi
Metode demonstrasi dan eksperimen merupakan metode mengajar yang
sangat efektif, sebab membantu para mahasiswa untuk mencari jawaban
dengan usaha sendiri berdasarkan fakta yang benar. Demonstrasi yang
dimaksud ialah suatu metode mengajar yang memperlihatkan bagaimana
proses terjadinya sesuatu.

Metode demonstrasi adalah metode mengajar yang cukup efektif sebab


membantu para mahasiswa untuk memperoleh jawaban dengan
mengamati suatu proses atau peristiwa tertentu.

a. Kelebihan metode demonstrasi

1) Menghindari verbalisme.

2) Mahasiswa lebih mudah memahami apa yang dipelajari.

3) Proses pengajaran lebih menarik.

4) Mahasiswa dirangsang untuk aktif mengamati, menyesuaikan


antara teori dengan kenyataan dan mencoba melakukannya sendiri.

b. Kelemahan metode demonstrasi

1) Memerlukan keterampilan dosen secara khusus.

2) Kurangnya fasilitas.

3) Membutuhkan waktu yang lama.

e. Metode latihan (drill)

Metode latihan adalah suatu teknik mengajar yang mendorong mahasiswa


untuk melaksanakan kegiatan latihan agar memiliki ketangkasan atau
keterampilan yang lebih tinggi dari apa yang dipelajari.

a. Kelebihan metode latihan

1) Untuk memperoleh kecakapan motoris.

19
2) Untuk memperoleh kecakapan mental

3) Untuk memperoleh kecakapan dalam bentuk asosiasi yang


dibuat.

4) Pembentukan kebiasaan serta menambah ketepatan dan


kecepatan pelaksanaan.

5) Pemanfaatan kebiasaan yang tidak membutuhkan konsentrasi.

6) Pembentukan kebiasaaan yang lebih otomatis.

b. Kelemahan metode latihan.

1) Menghambat bakat dan inisiatif mahasiswa.

2) Menimbulkan penyesuaian secara statis kepada lingkungan.

3) Monoton, mudah membosankan.

4) Membentuk kebiasaan yang kaku.

5) Dapat menimbulkan verbalisme.

f. Metode Pemberian Tugas (Resitasi)

Metode resitasi adalah metode penyajian bahan di mana dosen memberikan


tugas tertentu agar mahasiswa melakukan kegiatan belajar.

a. Kelebihan metode resitasi

1) Merangsang mahasiswa dalam melaksanakan aktivitas belajar


baik individual maupun kelompok.

2) Dapat mengembangkan kemandirian.

3) Membina tanggung jawab dan disiplin mahasiswa.

4) Mengembangkan kreatifitas mahasiswa.

20
b. Kelemahan metode resitasi

1) Sulit dikontrol.

2) Khusus tugas kelompok yang aktif mahasiswa tertentu.

3) Sulit memberikan tugas yang sesuai perbedaan individu.

4) Menimbulkan kebosanan.

2.3.2 Macam-macam Media dalam Kurikulum Kebidanan

a. Gambar/Foto

Adalah gambaran fotografis maupun non fotografis yang


menyerupai benda atau objek yang sesungguhnya. Gambar/foto
memiliki sejumlah karakteristik baik kelebihan maupun
kelemahan. Beberapa kelebihan media gambar/foto di antaranya:
sifatnya konkret, dapat mengatasi keterbatasan ruang dan waktu,
dapat mengatasi keterbatasan pengamatan, serta murah dan
gampang didapat. Sementara beberapa kelemahan media gambar di
antaranya adalah: hanya menekankan persepsi indera mata, serta
objek yang terlalu kompleks kurang efektif untuk kegiatan
pembelajaran.

Penggunaan media ini dalam perkuliahan kebidanan lebih sesuai


diaplikasikan dalam teori dikelas dan lab skill.

b. Overhead Projektor (OHP) / Overhead Transparencies (OHT)

Merupakan gambar yang diletakkan/dicetak dalam plastic


transparan dan bisa ditampilkan dengan bantuan proyektor. Tidak
hanya terbatas pada gambar tetapi tulisan yang ditulis di plastic
tranparansi juga bisa ditanyangkan dengan OHT ini.

21
Keunggulan overhead transparencies

a. Karena letaknya selalu didepan, akan memungkinkan


pendidik untuk mengatur kelas dan menatap peserta didik
dengan lebih jelas.
b. Dapat digunakan untuk menyajikan pesan di semua ukuran
ruang kelas
c. Dapat mempersiapkan materi lebih awal, sehingga
sistematika penyajian terencana. Pendidik juga dapat
menghemat waktu karena selama mengajar tidak terus
menerus menulis.
d. Dapat menyajikan urutan atau langkah-langkah dari suatu
kejadian atau pekerjaan dengan menggunakan bentuk
pembuatan OHT tertentu.
e. Informasi atau materi dapat disajikan dengan memilih
tulisan atau gambar dengan tangan atau dengan ketik
komputer.
f. OHT dapat disimpan dan digunakan lagi dalam waktu yang
cukup lama, dengan penyimpanan yang hati-hati.

Kelemahan

a. Urutan OHT mudah kacau, karena merupakan urutan yang


lepas
b. Memerlukan perencanaan yang matang dalam pembuatan
dan penyajiannya.
c. Penggunaan media ini dalam perkuliahan kebidanan lebih
sesuai diaplikasikan dalam teori dikelas.

c. Media alat rekam

Media rekam merupakan salah satu media yang digunakan sebagai


alat rekam. Biasanya media rekam ini berbentuk tape
recorder dengan media rekamnya berbentuk kaset. Perkembangan
teknologi membuat keberadaan tape recorder mulai diganti dengan

22
alat rekam digital berupa voice recorder yang alatnya bisa
berbentuk handphone, atau mp3 player. Keberadaan media alat
rekam mampu membantu peserta didik terutama bagi bidang studi
ilmu social yang memanfaatkan penelitian sebagai salah satu
model pembelajarannya. Dalam sosiologi alat ini akan sangat
membantu terutama untuk merekam wawancara atau pembicaraan
dengan masyarakat.

Kelebihan media alat rekam

1) Media rekam dapat diputar berulang-ulang sesuai dengan


kebutuhan peserta didik
2) Rekaman dapat dihapus dan digunakan kembali
3) Mengembangkan daya imajinasi peserta didik
4) Selain efektif untuk bidang studi bahasa juga membantu
untuk pengembangan bahan ajar ilmu social

Kelemahan

1) Terbatas pada pendengaran dan daya jangkauan terbatas


2) Penggunaan media ini dalam perkuliahan kebidanan lebih
sesuai diaplikasikan dalam teori dikelas dan praktik klinik.

d. Motion Pictures (Film)

Film disebut juga gambar hidup (motion pictures) yaitu


serangkaian gambar diam (still pictures) yang meluncur secara
cepat dan diproyeksikan sehingga menimbulkan kesan hidup dan
bergerak. Film merupakan media yang menyajikan pesan
audiovisual dan gerak, oleh karenanya, film memberikan kesan
yang impresif bagi pemirsanya. Biasanya film digunakan sebagai
hiburan, tetapi penggunaannya menjadi lebih luas lagi ketika
digunakan sebagai media pembelajaran. Film akan menjadi alat
intruksional yang efektif mengembangkan media ajar dan

23
memperkuat pemahaman peserta didik. Oleh sebab itu kebanyakan
film sudah menjadi salah satu media standard dikelas-kelas karena
sifatnya yang menghibur dan tidak membosankan. Sifat film yang
menghibur merupakan salah satu alat motivator terbaik untuk
menarik perhatian peserta didik. Hanya saja penggunaan media ini
tidak bisa terlalu sering, karena keterbatasan waktu dan biaya
pengadaan. Durasi film yang kebanyakan cukup panjang menjadi
salah satu keterbatasannya.

Kelebihan media film ini adalah sebagai berikut.

a. Memberikan pesan yang dapat diterima secara lebih merata


oleh peserta didik
b. Sangat bagus untuk menerangkan suatu proses
c. Mengatasi keterbatasan ruang dan waktu
d. Lebih realistis, dapat diulang dan dihentikan sewaktu-
waktu
e. Memberikan kesan yang mendalam, yang dapat
mempengaruhi peserta didik

Kelemahan media film berikut ini.

a. Biaya produksi yang relative mahal


b. Untuk membuat butuh biaya mahal
c. Keterbatasan tema film dengan bahan ajar
d. Penggunaan media ini dalam perkuliahan kebidanan lebih
sesuai diaplikasikan dalam teori dikelas.

e. Games dan Simulasi

Permainan dan simulasi merupakan, operasional model yang


mendekati kenyataannya, memberikan pengalaman pada peserta
didik dengan memberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam
permainan untuk memerankan peran yang berbeda-beda. Ketika
peserta didik memainkan permainan/simulasi, peserta didik

24
dituntut untuk memposisikan diri mereka pada keadaan yang
disimulasikan, baik itu peran, tujuan dan peserta didik pun juga
dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Permainan/simulasi
selain menarik, sekaligus memberikan rangsangan bagi peserta
didik untuk belajar dan memahami materi secara lebih mendalam,
karena dengan permainan/simulasi peserta didik dibawa ke dalam
kondisi yang mirip dengan kenyataannya.

Kelebihan

a) Pembelajaran akan berlangsung aktraktif


b) Peserta didik terlbat secara aktif untuk menentukan aturan
main, pembuatan keputusan maupun memformulasikan
hasil
c) Memerlukan perhatian yang tinggi untuk menciptakan
partisipasi yang sesuai dengan realitas

Kekurangan

a) Kadangkala peserta didik tertarik hanya pada permainannya


tidak pada subjek/pokok bahasan/materi
b) Bisa bias dengan realitas nyata karena hanya dimainkan
oleh peserta didik
c) Diperlukan waktu yang banyak
d) Banyak permainan hanya membutuhkan sedikit orang
untuk bermain
e) Penggunaan media ini dalam perkuliahan kebidanan lebih
sesuai diaplikasikan dalam teori dikelas dan lab skill.

f. PowerPoint Presentation

Powerpoint adalah program aplikasi presentasi yang merupakan


salah satu program aplikasi di bawah Microsoft Office.
Keuntungan terbesar dari program ini adalah tidak perlunya
pembelian piranti lunak karena sudah berada di dalam Microsoft

25
Office. Jadi pada waktu penginstalan program Microsoft Office
dengan sendirinya program ini akan terinstal. Hal ini akan
mengurangi beban hambatan pengembangan pembelajaran dengan
komputer.

Keuntungan lain dari program ini adalah sederhananya tampilan


ikon-ikon. Ikon-ikon pembuatan presentasi kurang lebih sama
dengan ikon-ikon Microsoft Word yang sudah dikenal oleh
kebanyakan pemakai komputer. Pemakai tidak harus mempelajari
bahasa pemrograman. Dengan ikon yang dikenal dan
pengoperasian tanpa bahasa program maka hambatan lain dari
pembelajaran dengan komputer dapat dikurangi yaitu hambatan
pengetahuan teknis dan teori. Pengajar atau pendidik bidang studi
dapat membuat sebuah program pembelajaran tanpa harus belajar
bahasa komputer terlebih dahulu. Dengan mengunakan media
PowerPoint sebagai media pembelajaran, maka diharapkan metode
pembelajaran yang digunakan akan semakin variatif dan menarik.
Keuntungan lainnya adalah bahwa program ini bisa disambungkan
ke jaringan internet.

Penggunaan PowerPoint sebagai media pembelajaran memiliki


banyak keunggulan, selain mudah dibuat,
dengan PowerPoint dapat ditampilkan berbagai macam media
selain teks, misalnya gambar, audio, film, chart, bagan, bahkan
dengan PowerPoint juga bisa dihubungkan dengan internet.

Kelebihan Power point

a) Dapat menyajikan teks, gambar, film, sound efek, lagu,


grafik, dan animasi sehingga menimbulkan pengertian dan
ingatan yang kuat.
b) Merangsang minat dan perhatian peserta didik dengan
warna dan gambar yang kongkrit.
c) Program slide mudah direvisi sesuai dengan kebutuhan.

26
d) Penyimpanannya mudah karena dalam bentuk file/softcopy.
e) Dapat menjangkau kelompok yang banyak
f) Dapat dipakai berulang-ulang
g) Dapat diperbanyak dalam waktu singkat dan tanpa biaya
h) Dapat dikoneksikan dengan internet

Kelemahan

a) Diperlukan alat bantuan (proyektor LCD) untuk


menampilkan presentasi, yang kemungkinan tidak semua
sekolah memiliki karena harganya yang relatif mahal
b) Butuh persiapan dan kesiapan dari pendidik untuk
mempersiapkan PowerPoint
c) Peserta didik kadangkala enggan untuk mencatat hal-hal
penting terkait dengan materi
d) Penggunaan media ini dalam perkuliahan kebidanan lebih
sesuai diaplikasikan dalam teori dikelas.

g. Media Internet

Internet merupakan sebuah jaringan global dimana dibutuhkan


perangkat komputer dan adanya akses internet untuk bisa akses.
World wide web merupakan bagian penting dari
internet dimana dengan membuka website atau search engine kita
bisa mendapatkan banyak materi pembelajaran. Kemudahan akses
memungkinkan baik peserta didik maupun pendidik untuk
menggunakan media ini. Pengembangan media ini kedepan
dimungkinkan pembelajaran tidak lagi harus di kelas (e-learning),
tetapi bisa dimana saja, karena dengan bantuan internet, waktu dan
tempat tidak lagi menjadi penghambat.

Kelebihan media internet

a) Melatih peserta didik menggunakan dan memanfaatkan


teknologi modern

27
b) Kemampuan mencari dan menemukan sumber/materi dapat
memperkaya dinamika pembelajaran
c) Melatih ketelitian dan kesabaran dalam mengakses internet
terutama yang terkait dengan materi pelajaran
d) Memperluas wawasan

Kekurangan

a) Kemungkinan terjadi plagiasi semakin besar


b) Penyalahgunaan internet untuk hal-hal yang negatif
c) Biaya internet yang masih mahal
d) Kecepatan akses yang lambat
e) Penggunaan media ini dalam perkuliahan kebidanan lebih
sesuai diaplikasikan dalam teori dikelas dan lab skill.

28
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Model pembelajaran merupakan kerangka dasar pembelajaran yang dapat
diisioleh beragam muatan mata pelajaran, sesuai dengan karakteristik
kerangkadasarnya.Macam-macam model pembelajaran diantaranya Model
PAKEM (Partisipatif, Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan), serta ada
pula pembelajaran langsung, kooperatif, dan pembelajaran berdasarkan
masalah. Sedangkan pembelajaran afektif adalah pembelajaran yang
mengarah pada emosi, suasana hati, dan perasaan yang nampak melalui
minat, sikap, nilai, apresiasi, dan penyesuaian.Macam-macam model
pembelajaran dicipkakan dengan tujuan mengembangkan kemampuan
mahasiswa maupun dosen selaku pembimbing dalam mengembangkan suatu
proses pembelajaran yang berdasarkan prinsip-prinsip pembelajaran yang
inovatif.

3.2 Saran
Dalam pembelajaran guru diharapkan mampu memilih model pembelajaran
yang sesuai dengan materi yang diajarkan. Dimana dalam pemilihan Model
pembelajaran meliputi pendekatan suatu model pembelajaran yang luas dan
menyeluruh.

29
DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Zainal. 2011. Penelitian Pendidikan . Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Daryanto. 2010. Media Pembelajaran Peranannya Sangat Penting Dalam


Mencapai Tujuan Pembelajaran. Cetakan kedua. Bandung: PT. Sarana Nurani
Sejahtera.

Zain, Aswan . 2010 . Strategi Belajar Mengajar. Cetakan keempat . Jakarta :


Rineka Cipta.

Hamdani. 2011. Strategi Belajar Mengajar. Bandung : Pustaka Setia

Hamruni.2012. Strategi Pembelajaran. Yogyakarta: Insan Madani

Nasution. 2008. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar & Mengajar.


Cetakan kedua belas. Jakarta : Bumi Aksara.

Purwanto. 2013. Evaluasi Hasil belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Riduan. 2010. Belajar Mudah Penelitian untuk Guru & Karyawan Peneliti
Pemula. Bndung : Alfabeta.

Aryani, Ayu Sekar. 2008. Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta : Center for
Teaching Staf Development (CTSD) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Depdiknas. (2003). Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga. Jakarta: Balai
Pustaka

Ismail. (2003). Media Pembelajaran (Model-model Pembelajaran). Jakarta:


Direktorat PLP.

Rahmadi Widdiharto. (2006). Model-model Pembelajaran MIPA. Yogyakarta:


PPPG SAINS

Slavin. (1994). Cooperative Learning, Theory, Research, and Practice (Second


Edition). Jakarta: PT. Indeks

30