Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dari pembangunan
nasional yang bertujuan bahwa setiap penduduk mempunyai kemampuan sehat
bio-psiko-sosial-spiritual yang memungkinkan setiap orang yang hidup secara
produktif.
Untuk mencapai tujuan tersebut di atas perawatan merupakan salah satu
komponen pembangunan di bidang kesehatan sebab perawatan merupakan salah
satu usaha penting yang dapat menunjang dalam proses penyembuhan penyakit
dan memberikan pelayanan yang optimal bagi klien termasuk kelainan dengan
penyakit gangguan sistem pencernaan “Gastritis”. Berdasarkan catatan medik
RSUD Nene Mallomo Kabupaten Sidrap, jumlah seluruh penderita yang dirawat
dengan kasus penyakit dalam pada tahun 2002 di ruang perawatan I sebanyak
543 kasus, 75 diantaranya kasus gastritis (13,81 %).
Melihat tingginya angka kesakitan gastritis di atas maka penulis mencoba
menerapkan asuhan keperawatan klien dengan gastritis di ruang perawatan I
RSUD Nene Mallomo sehingga masalah dapat diatasi secara baik melalui
penerapan proses keperawatan.

B. TUJUAN PENULISAN
1. Tujuan Umum
Untuk memperoleh informasi/gambaran asuhan keperawatan klien dengan
gastritis di ruang perawatan I, RSUD Nene Mallomo Sidrap.
2. Tujuan Khusus
a. Dapat melaksanakan pengkajian klien dengan gangguan sistem
pencernaan “Gastritis”.

1
b. Dapat menentukan rencana keperawatan yang diberikan pada klien
dengan gangguan sistem pencernaan : Gastritis.
c. Dapat melaksanakan tindakan keperawatan pada klien dengan gangguan
sistem pencernaan “Gastritis”.
d. Dapat mengevaluasi hasil asuhan keperawatan pada klien dengan :
Gastritis.
e. Dapat melaksanakan pendokumentasian asuhan keperawatan pada klien
dengan gangguan sistem pencernaan “Gastritis”.

C. MANFAAT PENULISAN
Adapun manfaat penulisan dalam karya tulis ini :
1. Sebagai salah satu persyaratan dalam menyelesaikan ujian akhir jenjang
pendidikan program Diploma III Poltekkes Jurusan Keperawatan Tidung
Makassar.
2. Sebagai bahan masukan bagi tenaga keperawatan khususnya bagian yang
terkait dalam melaksanakan asuhan keperawatan dengan gangguan sistem
pencernaan.

D. METODE PENULISAN
Untuk mendapatkan data-data yang dibutuhkan pada penulisan ini, penulis
menggunakan metode, sebagai berikut :
1. Study kepustakaan
2. Study kasus
3. Study dokumenter

2
E. SISTIMATIKA PENULISAN
Pembahasan karya tulis ini dibagi dalam lima bab, dengan sistimatika
sebagai berikut :
BAB I : Pendahuluan.
Di dalam bab ini akan diuraikan tentang latar belakang masalah,
tujuan penulisan, metode penulisan, dan sistimatika penulisan.

BAB II : Tinjauan teoritis.


Dalam bab ini diuraikan konsep-konsep atau teori yang
mendasari judul penulisan karya tulis ini penulis akan
menguraikan dalam urutan-urutan sebagai berikut :
A. Konsep Dasar Medis, meliputi :
1. Pengertian gastritis.
2. Etiologi.
3. Anatomi fisiologi gastritis.
4. Patogenesis.
5. Gambaran klinik.
6. Komplikasi.
7. Diagnosis.
8. Penatalaksanaan.
B. Konsep Asuhan Keperawatan, meliputi :
1. Pengkajian data.
a. Pengumpulan data
b. Klasifikasi data/pengelompokan data
c. Analisa data
d. Diagnosa keperawatan
2. Perencanaan tindakan keperawatan.
3. Pelaksanaan tindakan keperawatan.
4. Evaluasi.

3
BAB III : Tinjauan kasus.
Dalam bab ini diuraikan mengenai hasil dan analisa kasus
berdasarkan pendekatan proses keperawatan.
BAB IV : Pembahasan
Dalam bab ini diuraikan mengenai pambahasan dan pemecahan
masalah yang ditemukan dengan penerapan asuhan keperawatan
BAB V : Kesimpulan dan saran.

4
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. KONSEP DASAR MEDIK


1. Pengertian
Gastritis adalah merupakan suatu peradangan mukosa lambung yang
bersifat akut, kronik, difus, atau local. Namun pada bab ini yang akan dibahas
hanya gastritis akut.
Gastritis akut adalah lesi mukosa akut berupa erosi dan perdarahan akibat
faktor-faktor agresif atau akibat gangguan sirkulasi akut mukosa.
2. Etiologi
Secara makroskopik terdapat lesi erosi mukosa dengan lokasi. Jika
ditemukan pada corpus dan fundus, biasanya disebabkan oleh stress. Jika
disebabkan karena obat-obatan AINS terutama ditemukan di daerah antrum,
namun dapat juga menyeluruh.
Gastritis akut dapat pula timbul tanpa diketahui penyebabnya. Penyebab yang
sering dijumpai ialah :
a. Obat analgetik-anti inflamasi, terutama aspirin.
b. Bahan kimia misalnya lisol.
c. Merokok.
d. Alcohol.
e. Stress fisis yang disebabkan oleh luka bakar, sepsis, trauma, pembedahan,
gagal pernafasan, gagal ginjal, kerusakan susunan saraf pusat.
f. Refleks usus lambung.
g. Endotoksin.
3. Anatomi dan Fisiologi.
Lambung merupakan bagian gastrointestinal yang terletak di antara
esophagus dan duodenum. Dari anatomi topografik lambung duodenum
dengan hati, pankreas dan limpa dapat diperkirakan tukak peptic akan

5
mengalami perforasi ke rongga sekitarnya secara bebas atau penetrasi ke
dalam rongga di sekitarnya, tergantung pada letak tukak.
Berdasarkan faalnya lambung dibagi dalam dua bagian. Tiga perempat
proksimal yang terdiri dari fundus dan korpus, berfungsi sebagai penampung
makanan yang ditelan serta tempat produksi asam lambung. Sedangkan
seperempat distal atau antrum kerjanya mencampur makanan dan
mendorongnya ke duodenum serta memproduksi gastrin.
Ciri yang cukup menonjol pada anatomi lambung adalah peredaran
darahnya yang sangat kaya dan berasal dari empat jurusan dengan pembuluh
nadi besar di pinggir kurvatura mayor dan minor serta dalam dinding
lambung. Perdarahan hebat bisa terjadi karena erosi dinding arteri itu pada
tukak peptic lambung dan duodenum. Vena lambung dan duodenum bermuara
ke vena porta. Peredaran vena ini kaya dengan hubungan kolateral ke organ
yang ada hubungan embrional dengan lambung dan duodenum. Persarafan
simpatis lambung seperti biasa melalui serabut saraf yang menyertai arteri.
Impuls nyeri dihantarkan melalui serabut parasimpatis berasal dari nervus
vagus dan mengurus sel parietal di fundus dan korpus lambung. Sel ini
berfungsi menghasilkan asam lambung. Nervous vagus anterior (sinister),
memberi cabang ke kandung empedu, hati, dan antrum sebagai saraf latarget
anterior, sedangkan nervus vagus posterior (dexter) memberi cabang ke
ganglion seliakus untuk visera lain di perut dan ke antrum sebagai saraf
laterjet posterior.
Fungsi utama lambung adalah sebagai penerima makanan dan
minuman oleh fundus dan korpus dan penghancur oleh kerja antrum di
samping turut bekerja dalam pencernaan awal oleh aksi kimia asam lambung
dan pepsin. Kemampuan lambung menampung makanan mencapai 1500 ml
karena ia mampu menyesuaikan ukurannya dengan kenaikan tekanan intra
luminal tanpa peregangan dinding (relaksasi resptif). Fungsi ini diatur oleh
nervus vagus dan hilang setelah vagotomi. Ini antara lain yang mendasari

6
turunnya kapasitas penampungan pada penderita tumor lambung lanjut
sehingga ia cepat kenyang.
Peristaltik terjadi bila lambung mengembang akibat adanya makanan
dan minuman. Kontraksi yang kuat pada antrum (dindingnya paling tebal)
akan mencampur makanan dengan enzim lambung kemudian
mengosongkannya ke duodenum secara bertahap. Daging tak berlemak,
nasi,dan sayur meninggalkan lambung dalam 3 jam sedangkan makanan yang
tinggi lemak di lambung sampai 6-12 jam.
4. Patogenesis
Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan kerusakan mukosa
lambung. Faktor-faktor itu adalah :
1. Kerusakan mukosa barrier sehingga difusi balik ion H meninggi.
2. Perfusi mukosa lambung yang terganggu.
3. Jumlah asam lambung merupakan faktor yang sangat penting.
Faktor-faktor tersebut biasanya tidak berdiri sendiri. Misalnya stress
fisis akan menyebabkan perfusi mukosa lambung terganggu, sehingga timbul
daerah-daerah infark kecil. Di samping itu sekresi asam lambung juga
terpacu. Muccosal barier pada penderita stress fisis biasanya tidak terganggu.
Hal itu yang membedakannya dengan gastritis erosif karena bahan kimia atau
obat. Pada gastrititis refluks, gastritis karena bahan kimia, obat, mucosal
barier rusak sehingga difusi balik ion H meninggi. Suasana asam yang
terdapat pada lumen lambung akan mempercepat mucosal barier oleh cairan
usus.
5. Gambaran Klinik
1. Mual, muntah.
2. Nyeri epigastrium.
3. Anoreksia.
4. Hematemesis.
5. Perdarahan.
6. Rasa selalu kenyang (tidak lapar).

7
6. Komplikasi
Komplikasi yang penting adalah :
a. Perdarahan saluran cerna bagian atas yang merupakan kedaruratan medis.
Kadang-kadang perdarahannya cukup banyak sehingga dapat
menyebabkan kematian.
b. Terjadi ulkus, kalau prosesnya hebat.
c. Jarang terjadi perforasi.
7. Diagnosis
Diagnosis gastritis akut, ditegakkan dengan pemeriksaan endoskopi
dan dilanjutkan dengan pemeriksaan histopatologi biopsi mukosa lambung.
Pemeriksaan radiologis biasanya tidak mempunyai arti dan baru dapat
membantu apabila digunakan kontras ganda. Pada pemeriksaan endoskopi
akan tampak erosi yang mengelompok multiple yang sebagian biasanya
tampak berdarah dan letaknya tersebar. Mukosa yang mengelompok pada satu
daerah, mukosa umumnya tampak merah. Pada saat pemeriksaan dapat
dijumpai lesi yang terdiri dari semua tingkatan perjalanan penyakitnya.
Akibatnya pada saat ini terdapat erosi yang masih baru bersama-sama dengan
lesi yang sudah mengalami penyembuhan.
Pada pemeriksaan histopatologi , kerusakan mukosa karena erosi tidak
pernah melewati mukosa muskularis. Ciri khas ialah sembuh sempurna dan
terjadi dalam waktu yang relatif singkat. Oleh sebab itu pemeriksaan
endoskopi, sebaiknya dilakukan se awal mungkin.
8. Penatalaksanaan
Pengobatan dalam hal ini meliputi :
a. Mengatasi kedaruratan medis yang terjadi.
b. Mengatasi atau menghindari penyebab apabila dijumpai.
c. Diet, makan makanan yang lunak, mudah dicerna dan menghindari
makanan yang dapat merangsang peningkatan asam lambung seperti
jangan makan yang pedas, asam, minum kopi, dan sayur yang
mengandung gas.

8
d. Pemberian obat-obat seperti antasid atau obat-obat ulkus lambung
lainnya.

B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN GASTRITIS


Asuhan keperawatan dilakukan dengan menggunakan pendekatan proses
keperawatan untuk meningkatkan, mencegah, mengatasi, dan memulihkan
kesehatan melalui 4 tahap proses keperawatan yang terdiri dari pengkajian,
perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.
1. Pengkajian data.
Pengkajian merupakan tahap awal dan merupakan dasar proses keperawatan.
Diperlukan pengkajian yang cermat untuk masalah klien, agar dapat
memberi arah kepada tindakan keperawatan. Sebagai sumber informasi dapat
digunakan yaitu : pasien, keluarga, anak, saudara, teman, petugas kesehatan
lainnya.
Tahap pengkajian meliputi 4 kegiatan yaitu :
a. Pengumpulan data.
Data yang berhubungan dengan kasus gastritis :
1.) Biodata.
a.) Identitas klien : nama, jenis kelamin, agama, suku bangsa, dan
alamat.
b.) Identitas penanggung : nama, umur, jenis kelamin, suku bangsa,
agama, pendidikan, pekerjaan, penghasilan, dan alamat serta
hubungan keluarga.
2.) Riwayat kesehatan sekarang.
a.) Adanya nyeri epigastrium.
b.) Disertau mual, muntah, anoreksia.
3.) Riwayat kesehatan sebelumnya.
a.) Alkohol.
b.) Makan yang pedas.
c.) Obat-obatan.

9
d.) Riwayat diabetes mellitus.
e.) Riwayat toksik
4.) Aspek-aspek lain yang berhubungan misalnya pola
istirahat, aspek psikososial dan spiritual.
5.) Data-data pengkajian klien.
- Aktivitas/istirahat.
Gejala : Kelemahan, kelelahan.
Tanda : Tachikardia, takipnea/hiperventilasi (respon terhadap
aktivitas).
- Sirkulasi.
Gejala : Hipotensi termasuk postural, takikardia, disritmia,
kelemahan/nadi perifer lemah, pengisian kapiler lembut/
perlahan.
Warna kulit : pucat, sianosis.
Kelembaban kulit : berkeringat (menunjukkan status syok,
nyeri akut, respon psikologik).
- Integritas ego.
Gejala : Faktor stress akut atau kronik (keuangan, hubungan, kerja)
Tanda : Tanda ansietas, misalnya : gelisah, pucat, berkeringat,
perhatian menyempit, gemetar, suara gemetar.
- Eliminasi.
Gejala : Riwayat penyakit sebelumnya karena perdarahan gastro
intestinal atau masalah yang berhubungan dengan gastro
intestinal.
Misalnya : luka peptic/gaster, gastritis, bedah gaster, iradiasi
gaster.
Tanda : Nyeri tekan abdomen, distensi.
Bunyi usus : sering hiperaktif selama perdarahan, hipoaktif
setelah perdarahan. Karakteristik feses diare, darah warna
gelap, kecoklatan atau kadang merah cerah : berbusa, bau

10
busuk (steatorea). Konstipasi dapat terjadi (perubahan diet,
penggunaan antasida).
Haluaran urine : menurun, pekat.
- Makanan/cairan
Gejala : Anoreksia, mual, muntah (muntah yang memanjang diduga
obstruksi pilorik bagian luar sehubungan dengan luka
duodenal).
Masalah menelan, cekukan.
Nyeri ulu hati, sendawa bau asam, mual/muntah. Tidak
toleran terhadap makanan, contoh makanan pedas, cokelat ;
diet khusus untuk penyakit ulkus sebelumnya.
Tanda : Muntah : warna kopi gelap atau merah cerah, dengan atau
tanpa bekuan darah.
Membran mukosa kering, penurunan produksi mukosa,
turgor kulit buruk (perdarahan kronis).
Berat Jenis urine meningkat.
- Neurosensori
Gejala : Rasa berdenyut, pusing sakit kepala karena sinar,
kelemahan.
Status mental : tingkat kesadaran dapat terganggu rentang
dari agak cenderung tidur, disorientasi/bingung, sampai
pingsan, dan koma (tergantung pada volume sirkulasi/
oksigenisasi).
- Nyeri/kenyamanan
Gejala : Nyeri digambarkan sebagai tajam, dangkal, rasa terbakar,
perih.
Rasa ketidaknyamanan/distres samar-samar setelah makan
banyak dan hilang dengan makan (gastritis akut).

11
Nyeri epigastrium kiri/tengah menyebar ke punggung 1 – 2
jam setelah makan dan hilang dengan makan antasida
(Ulkus gaster).
Nyeri epigastrium terlokalisir di kanan  4 jam setelah
makan bila lambung kosong dan hilang dengan makanan
atau antasida (ulkus duodenal).
Tak ada nyeri (varises esofageal atau gastritis).
Faktor pencetus : makanan, rokok, alcohol, penggunaan
obat tertentu (salsilat, reserpin, antibiotik, ibuprofen),
stressor psikologis.
Tanda : Wajah berkerut, berhati-hati pada area yang sakit, pucat,
berkeringat, perhatian menyempit.
- Keamanan
Gejala : Alergi terhadap obat/sensitive, misalnya : ASA.
Tanda : Peningkatan suhu.
Spider angioma, eritema palmar (menunjukkan sirosis/
hipertensi portal).
- Penyuluhan/pembelajaran
Gejala : Adanya penggunaan obat resep/dijual bebas yang
mengandung ASA, alcohol, steroid.
NSAID menyebabkan perdarahan GI.
Keluhan saat ini dapat dterima karena (misalnya : anemia)
atau diagnosa yang berhubungan dengan (misalnya trauma
kepala), flu usus, atau episode muntah berat.
Masalah kesehatan yang lama misalnya : sirosis,
alcoholisme, hepatitis, gangguan makan.
Pertimbangan : DRG menunjukkan rerata lama dirawat : 3,9 hari.
Rencana pemulangan :
Dapat memerlukan perubahan program terapi/pengobatan.
- Pemeriksaan diagnostik

12
* EGD (esofagogastroduodenoskopi) : tes
diagnostik kunci untuk perdarahan GI atas, dilakukan untuk
melihat sisi perdarahan/derajat ulkus jaringan/cedera.
* Minum barium untuk foto rontgen untuk
membedakan diagnosa penyebab/sisi lesi.
* Analisa gaster : mengkaji aktivitas
sekretori mukosa gaster. Penurunan atau jumlah normal diduga
ulkus gaster.
* Angiografi : vaskularisasi GI dapat dilihat
bila endoskopi tidak dapat disimpulkan atau tidak dapat
dilakukan. Menunjukkan sirkulasi kolateral dan kemungkinan sisi
perdarahan.
* Hb/Ht : penurunan kadar terjadi dalam 6 –
24 jam setelah perdarahan mulai.
* Jumlah darah lengkap : dapat meningkat,
menunjukkan respon tubuh terhadap cedera.
* Analisa gastrin serum : peningkatan kadar
diduga sindrom Zollinger – Allison atau kemungkinan adanya
penyembuhan ulkus yang buruk. Normal atau rendah pada
gastritis tipe B.
* Kadar pepsinogen ; meningkat dengan
penetralisir ulkus duodenal, kadar rendah diduga gastritis.
* Sel parietal antibody serum : adanya
dugaan gastritis kronis.
b. Klasifikasi data.
Mengklasifikasikan dalam data subjektif dan data objektif.
1.) Data subjektif.
Adalah persepsi klien terhadap masalah-masalah yang dikeluhkan
sehubungan dengan gastritis.
2.) Data obyektif.

13
Adalah semua data senjang pada klien dengan gastritis yang diperoleh
dari hasil pemeriksaan fisik (inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi, dan
hasil-hasil pemeriksaan diagnostik).
c. Analisa data.
Dengan melihat data subjektif dan data obyektif dapat ditentukan
permasalahan yang dihadapi oleh klien dan dengan memperhatikan
patofisiologi mengenai penyebab penyakit gastritis sampai permasalahannya
tersebut.
d. Diagnosa keperawatan.
“Diagnosa keperawatan adalah penilaian klinis tentang respon aktual dan
potensial dari individu, keluarga, atau masyarakat terhadap masalah
kesehatan proses kehidupan”. (Carpenito, 1995). Adapun kemungkinan
diagnosa keperawatan pada klien dengan gangguan sistem pencernaan
gastritis, baik aktual maupun potensial adalah sebagai berikut ;
1.) Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan
peradangan pada mukosa lambung.
2.) Gangguan keseimbangan cairan (kurang dari kebutuhan).
3.) Resiko terjadinya gangguan nutrisi kurang dari
kebutuhan berhubungan dengan intake yang tidak adekuat.
4.) Gangguan pola istirahat berhubungan dengan nyeri.
5.) Gangguan kecemasan berhubungan dengan perubahan
status kesehatan.
2. Perencanaan Tindakan Keperawatan/Intervensi.
Perencanaan keperawatan adalah penentuan apa yang akan
dilaksanakan untuk membantu memenuhi kebutuhan dan mengatasi masalah
keperawatan dan tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan. Diagnosa
keperawatan yang telah dirumuskan, yaitu :
a. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan peradangan pada
mukosa lambung.
Tujuan : Rasa nyeri teratasi.

14
Intervensi :
1.) Kaji tingkat nyeri.
Rasional : Dengan mengetahui tingkat nyeri klien dapat membantu
dalam menentukan tindakan selanjutnya.
2.) Anjurkan klien berbaring dengan posisi yang menyenangkan.
Rasional : Posisi yang menyenangkan dapat mengurangi nyeri dan
mencegah arus balik asam lambung ke esophagus.
3.) Anjurkan klien untuk menghindari makanan/minuman yang dapat
merangsang timbulnya rasa sakit/nyeri.
4.) Beri minum air putih hangat 5 – 8 gelas/hari.
Rasional : Air putih yang hangat dapat berfungsi untuk menetralisir
asam lambung.
5.) Kolaborasi dengan dokter tentang pemberian cimetidin.
Rasional : Cimetidin adalah obat bersifat H2 reseptor antagonis yang
berguna untuk menekan produksi asam lambung.
b. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan
adanya mual, muntah.
Tujuan : Keseimbangan cairan dan elektrolit teratasi.
Intervensi :
1.) Monitor intake dan output.
Rasional : Untuk mengetahui jumlah minuman yang cukup dan untuk
mencatat frekuensi urine, akan menunjukkan kebutuhan
terhadap cairan.
2.) Kaji riwayat penggunaan obat-obatan/alcohol.
Rasional : Obat-obatan dapat meningkatkan kehilangan volume
cairan.
3.) Monitor turgor kulit.
Rasional : Kehilangan cairan intestinal menyebabkan kehilangan
elastisitas kulit.

15
c. Resiko terjadinya gangguan pemenuhan nutirisi kurang dari
kebutuhan berhubungan dengan intake yang tidak adekuat.
Tujuan : Tidak mengalami malnutrisi lebih lanjut.
Intervensi :
1.) Kaji kebiasaan makan dan minum klien.
Rasional : Mengetahui pola makan dan minum klien dapat membantu
dalam memenuhi kebutuhannya.
2.) Saji makanan yang menarik dan selalu hangat.
Rasional : Penyajian makanan yang menarik,. Hangat dengan porsi
kecil tapi sering dapat mencegah kejenuhan klien terhadap
makanan tertentu dan memberi kesempatan pada usus
untuk mengabsorbsi makanan yang lebih banyak.
3.) Berikan makanan yang berkalori tinggi, volume
tambahan dari kalori rendah.
Rasional : Memperoleh penambahan intake kalori pada volume yang
kecil tapi padat.
4.) Perbolehkan keluarga membawakan makanan dari
rumah.
Rasional : Makanan dari rumah mungkin lebih diterima oleh klien.
5.) Lakukan penimbangan berat badan 1 kali dalam
seminggu.
Rasional : Penimbangan berat badan secara teratur sebagai salah satu
indicator untuk mengetahui status nutrisi.
6.) Berikan HE tentang pentingnya pemenuhan kebutuhan
nutrisi dan berikan makanan secara teratur.
Rasional : Klien dapat mengetahui pentingnya nutrisi bagi tubuh dan
kegunaan makan secara teratur.
d. Gangguan pola istirahat tidur berhubungan dengan nyeri.
Tujuan : Pola istirahat tidur terpenuhi.
1.) Kaji pola tidur klien

16
Rasional : Untuk mengetahui kecukupan jam tidur klien.
2.) Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman.
Rasional : Lingkungan yang tenang dan nyaman dapat memberi
ketenangan pada klien sehingga klien dapat tidur dengan
nyenyak.

3.) Pelihara tempat tidur klien


Rasional : Kebersihan tempat tidur membuat klien nyaman untuk
istirahat.
4.) HE pada klien tentang pentingnya istirahat tidur.
Rasional : Klien dapat mengerti dan mau melaksanakannya karena
pada waktu tidur terjadi pembekuan sel dan
merelaksasikan otot – otot.
e. Kecemasan klien berhubungan dengan status kesehatannya.
Tujuan : Kecemasan berkurang/hilang
Intervensi :
1.) Kaji tingkat kecemasan.
Rasional : Mengetahui sejauh mana tingkat kecemasan yang
dirasakan klien, sehingga memudahkan dalam pemberian
tindakan selanjutnya.
2.) Beri informasi yang benar tentang penyakitnya.
Rasional : Klien memahami dan mengerti tentang keadaannya
sehingga mau bekerja sama dalam perawatannya/pengo-
batan.
3.) Dengarkan semua keluhannya.
Rasional : Klien merasa ada yang memperhatikan sehingga klien
merasa aman dalam segala hal tindakan yang diberikan.
4.) Beri dorongan spiritual.

17
Rasional : Bahwa segala tindakan yang diberikan untuk proses
penyembuhan penyakitnya, masih ada yang berkusa
menyembuhkannya yaitu Tuhan Yang Maha Esa.
3. Pelaksanaan Keperawatan.
Pelaksanaan keperawatan adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana
perawatan. Untuk memperoleh pelaksanaan yang efektif, dituntut
keterampilan dan pengetahuan yang luas dari tenaga perawat, untuk
memberikan pelayanan perawatan yang baik dan bermutu sehingga harapan
dan tujuan rencana perawatan yang baik dan bermutu yang telah ditentukan
dapat tercapai.
Ada dua syarat hasil yang diharapkan (performance) dalam
pelaksanaan perawatan yaitu :
a. Adanya bukti bahwa klien sedang dalam proses menuju kepada
tujuan perawatan atau bahkan telah mencapai tujuan tersebut.
b. Adanya bukti bahwa tindakan-tindakan (intervensi) perawatan dapat
diterima oleh klien.
4. Evaluasi Keperawatan.
Evaluasi perawatan adalah penilaian keberhasilan rencana perawatan dalam
memenuhi kebutuhan klien. pada klien dengan gastritis dapat dinilai
pelaksanaan perawatan dengan melihat catatan perawatan, hasil pemeriksaan
klien, melihat langsung keadaan klien dan timbul keluhan sebagai masalah
baru. Evaluasi keperawatan akan berhasil baik jikalau tindakan perawatan
yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan klien. setelah mengadakan
evaluasi dapat dilihat empat kemungkinan yang menentukan tindakan
perawatan selanjutnya yaitu :
a. Masalah klien dapat dipecahkan.
b. Sebagian masalah klien dapat dipecahkan.
c. Masalah tidak dipecahkan.
d. Timbul masalah baru.

18
Dengan penerapan proses keperawatan diharapkan semua masalah yang
dihadapi klien dapat diatasi dengan baik, sehingga klien dapat kembali ke
rumahnya dalam keadaan sehat sesuai dengan tujuan perawat yang telah
ditentukan sebelumnya.

19