Anda di halaman 1dari 4

RUANG LINGKUP BENCANA

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Gawat Darurat

Dosen pengampu : Istianna NH M.Kep.,Ns.,Sp.Kep.Kom

Disusun oleh

Nama : Diah Ristanti.

Nim : 1702096

DIII KEPERAWATAN/KELAS IIIC

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH KLATEN

TAHUN AJARAN 2018/2019


A. Jenis – jenis bencana

Menurut Giri, 2017 Bencana alam dapat dibagi menjadi beberapa kategori, yaitu bencana
alam yang bersifat meteorologis, bencana alam yang bersifat geologis, wabah, dan bencana
ruang angkasa.
1. Bencana alam meteorologi
Bencana alam meteorologi atau hidrometeorologi berhubungan dengan iklim.
Bencana ini umumnya tidak terjadi pada suatu tempat yang khusus walaupun ada
daerah – daerah yang menderita banjir musiman, kekeringan atau badai tropis
dikenal terjad pada daerah – daerah tertentu. Bencana alam bersifat meteorologis
seperti banjir dan kekringan merupakn bencana alam yang paling banyak terjadi
diseluruh dunia. Beberapa diantaranya hanya terjadi pada suatu wilayah iklim
tertentu. Kekhawatiran terbesar pada abad modern adalah bencana yang
disebabkan oleh pemanasan global.
2. Bencana alam geologi
Bencana alam geologi adalah bencana alam yang terjadi di permukaan bumi seperti
gempa bumi, tsunami, tanah longsor, dan gunung meletus. Gempa bumi dan gunung
meletus terjadi hanya sepanjang jalur jalur pertemuan lempeng tektonik di darat
atau di lantai samudra. Contoh bencana alam geologi tang paling umum adalah
gempa bumi, tsunami, dan gunung meletus. Gempa bumi terjadi karena gerakkan
lempeng tektonik. Gempa bumi pada lantai samudra dapat memicu gelombang
tsunami ke pesisir – pesisir yang jauh. Gelombang yang disebabkan oleh peristiwa
seismik memuncak pada ketinggian kurang dari 1 meter dilaut lepas namun
bergerak dengan kecepatan ratusan kilometer per jam. Jadi saat mencapai perairan
dangkal, tinggi gelombang dapat melampaui 10 meter. Geunung meletus diawali
oleh suatu periode aktivitas vulkanis seperti hujan abu, semburan gas beracun,
banjir lahar dan munthan batu – batuan. Aliran lahar dapat berupa banjir lumpur
atau kombinasi lumpur dan debu yang disebabkan mencairnya sallju di puncak
gunung, atau dapat disebabkan hujan lebat dan akumulasi material yang tidak stabil.
3. Wabah
Wabah aatau epidemi adalah penyakit menular yang menyebar melalui populasi
manusia di dalam ruang lingkup yang besar, misalnya antar negara atau seluruh
dunia. Contoh wabah terburuk yang memakan korban jiwa jumlah besar adalah
pedemi flu, cacar, dan tuberkulosis.
4. Bencana alam dari luar angkasa
Bencana dari ruang angkasa adalah datangnya berbagai benda langut seperti
asteroid atau gangguan badai matahari. Meskipun dampak langsung asteroid tidak
berpengaruh besar, asteroid kecil tersebut berjumlah sangat banyak sehingga
kemungkinan besar untuk menabrak bumi.

B. Faktor resiko bencana


Nurjanah, 2013 menjelaskan bahwa Dalam manajemen bencana, resiko bencana
dalah interaksi atanra tingkat kerentanan daerah dengan ancaman bahaya yang ada.
Ancaman bahaya, khususnya bahaya alam bersifat tetap karena bagian dari dinamika proses
alami pembangunan atau pembentukan roman muka bumi baik dari tenaga internal maupun
eksternal. Sedangkan tingkat kerentanan daerah dapat dikurangi, sehingga kemampuan
dalam menghadapi ancaman tersebut semakin meningkat.
Secara umum resiko dapat dirumuskan sebagai berikut :
R = F (bahaya * kerentanan/kemempuan)
Keterangan :
R : resiko

2
F : fungsi
*: kali
/ : bagi
Dalam kaitan ini, bahya menunjukkan kemungkinan terjadinya bencana baik alam
maupun buatan di suatu tempat. Kerentanan menunjukkan kerawanan yng dihadapi
kerawanan yang dihadapi suatu masyarakat dalam mneghadapi ancaman. Ketidakmampuan
merupakan kelangkaan upaya atau kegiatan untuk mengurangi korban jiwa atau kerusakan.
Dengan demikian semakin tinggi bahaya, kerentanan dan ketidakmampuan, akan semakin
besar pula resiko bencana yang dihadapi.
Berdasarkan potensi ancaman bencana dan tingkat kerentanan yang ada, maka
dapat diperkirakan resiko bencana yang akan terjadi di wilayah Indonesia tergolong tinggi.
Resiko bencana pada wilayah Indonesia yang tinggi terseebut dsebabkan oleh potensi
bencana yang dimiliki wilayah – wilayah tersebut yang memang sudah tinggi. Ditambah
dengan tingkatb kerentanan yang sangat tinggi pula. Sementara faktor lain yang mendorong
semakin tingginya resiko bencana adalah menyangkut pilihan masyarakat (public choice).
Banya penduduk yang memilih atau dengan sengaja tinggal di kawasan yang rawan atau
rentan terhadap bencana dengan berbagai alasan seperti kesuburan atau peluang lainnya
yang dijanjikan oleh lokasi tersebut. Atau karena memang tidak ada kemampuan ekonomi
untuk memiliki tanah/rumah. Sebagai cotoh, jika dalam suatu daerah teridentifikasi
terancam bencana banjir, maka upaya yang paling mudah untuk dilakukan adalah
memindahkan penduduk ketempat lain yang aman (mencegah dengan cara menjauh dari
ancaman bencana). Akan tetapi jika penduduk setempat tidak bersedia pindah, maka
penduduk tersebut dapat melakuka pembangunan rumah bertingkat dan kontruksi beton.
Dengan cara ini jika banjir terjadi lagi masyarakat tersebut tidak terkena dampak yang parah
(mitigrasi struktural). Demikian juga dengan bahaya lain seperti gempa bumi, jika dianggap
bahwa bahaya gempa tidak dapat dirubah (given), maka yang dapat dilakukan aadalah
menurunkan kerentanan dengan cara membuat bangunan aman/tahan gempa,
menempatkan barang – barang dan lain – lain ditempat yang aman (tidak menjatuhi orang).
Sedangkan untuk meningkatka kapasitas dapat dilakukan misalnya melakukan sosialisasi,
pelatihan (trainning praktis dalam upaya penyelamatan diri) dan latihan (simulasi secara
terus menerus hingga masyarakat memahami cara menggulangi bencana atau
penyelamatan diri) dengan demikian jika bahaya tersebut dianggap sudah konstan (tidak
bisa dirubah), cara yang mudah untuk dilakukan adalah menurunkan tingkat kerentanan dan
meningkatkan kemampuan, sehingga resiko terhadap masyarakat akan berkurang.
Dalam kaitan pengurangan resiko bencana, upaya yang dapat dilakukan adalah
melalui penurunan tingkat kerentanan karena hal tersebut relatif lebih mudah dibandingkan
dengan mengurangi/ memperkesil bahaya.
C. Kerentanan
Menurut Giri, 2017 Kerentanan merupakan suatu kondisi dari suatu komunitas atau
masyarakat yang mengarah atau menyebakan ketidakmampuan dalam menghadapi
ancaman bahaya. Tingkat kerentanan adalah suatu hal penting untuk dieketahui sebagai
salah satu faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya bencana, karean bencana baru akan
terjadi apabila “bahaya” terjadi pada “kondisi yang rentan”, seperti yang dikemukan
Awotona (1997:1 – 2): “national disaster are the interaction between natural hazards and
vulnerable condition.”
Tingkat kerentanan dapat ditinjau dari kerentanan fisik (infrastruktur), sosial
kependusukan, dan ekonomi. Kerentanan fisk menggambarkan suatu kondisi fisik
(infrastruktur) yang rawan terhadap faktor bahaya (hazards) tertentu. Kondisi kerentanan ini
dapat dilihat dari beberapa indikator :
1. Presentase kawasan terbangun
2. Kepadatan bangunan

3
3. Presentase bangunan kondisi darurat
4. Jaringan listrik
5. Rasio panjang jalan
6. Jaringan telekomunikasi
7. Jaringan PDAM
8. Jalan kereta api
Wilayah permukiman di Indonesia dapat dikatakan berada pada kondisi yang sangat
rentan karena presentase kawasan terbangu, kepadatan bangunan dan bangunan konstruksi
darurta di perkotaan sangat tinggi. Sedangkan presentase, jaringan listrik, rasio panjang
jalan, jaringan telekomunikasi, jaringan PDAM, dan jalan kereta api sangat rendah.
Kerentanan sosila menggambarkan kondisi tingkat kerapuhan sosial dalam
menghadapi bahaya. Pada konsisi sosial yang rentan, jika terjadi bencana dapat dipastikan
akan menimbulkan dampak kerugian yang besar. Beberapa indikator kerentanan sosiala
antara lain kepadatan penduduk, laju pertumbuhan penduduk, dan presentase penduduk
usia tua – balita. Kota – kota di Indonesia memiliki kerentanan sosial yang tinggi karena
memiliki presentase yang tinggi pada indikator – indikator tersebut.
Kerentanan ekonomi menggambarkan suatu kondisi tingkat kerapuhan ekonomi
dalammenghadapi ancaman bahaya. Beberapa indikator kerentanan ekonomi diantaranya
adalah presentase rumah tangga yang bekerja di sektor rentan (sektor yang rawan terhadap
pemutusan hubungan kerja) dan presentase rumah tangga miskin.
Beberapa indikator kerentanan disik, ekonomi dan sosila tersebut diatas
menunjukan bahwa wilayah indonesia memiliki tingkat kerentanan yang tinggi. Hal ini
mempengaruhi atau menyebabkan tingginya resiko terjadinya bencana. Daerah dengan
kepadatan penduduk yang tinggi juga memilki esiko terjadinya bencana yang lebih besar.
Sedangkan menurut Nurjanah, 2013 Kerentanan dibagi menjadi 3 yaitu kerentanan
Sosial, kerentanan fisik dan kerentanan ekonomi. Kerentanan sosial terdiri dari parameter
kepadatan penduduk dan kelompok rentan. Kelompok rentan terdiri dari rasio jenis kelamin,
rasio kelompok umur rentan, rasio penduduk miskin, dan rasio penduduk cacat. Kerentanan
fisik terdiri dari parameter rumah, fasilitas umum dan fasilitas kritis. Jumlah nilai rupiah
rumah, fasilitas umum, dan fasilitas kritis dihitung berdasarkan kelas bahaya diarea yang
berdampak. Kerentanan ekonomi terdiri dari parameter konstribusi PDRB dan lahan
produktif
D. RAPID HEALTH ASSESSMENT (RHA)
Kemenkes 2016 menyebutkan bahwa RHA adalah kegiatan pengumpulan data dan
inforrmasi yang bertujuan untuk memetakan masyarakat terdampak bencana, penyakit
muncul, kebutuhan sanitasi masyarakat terdampak kebutuhan logistik masyarakat
terdampak dan kebutuhan obat-obatan
Menurut WHO, 2016 RHA merupakan kegiatan pengumpulan data dan informasi
dengan tujuan untuk menilai kerusakan dan mengidentifikasi kebutuhan dasar yang
diperlukan sebagai respond dalam suatu kejadian bencana.

DAFTAR PUSTAKA

Giri Wiarto. 2017. Tanggap Darurat Bencana Alam. Yogyakarta : Gosyen


Kemenkes RI 2016
Nurjanah dkk. 2013. Manajemen Bencana. Bandung : Alfabeta
WHO (World Health Organization) 2016