Anda di halaman 1dari 72

ANALISIS HUBUNGAN POLA PERUBAHAN HARIAN SUHU UDARA

DAN KELEMBABAN UDARA DENGAN SUHU PERMUKAAN


AIR/LUMPUR DI HUTAN MANGROVE
TANJUNG PILAWANG TOBELO

SKRIPSI

SETH KRISTIANUS OBOS


22130022

PROGRAM STUDI FISIKA


FAKULTAS ILMU ALAM & TEKNOLOGI REKAYASA
UNIERSITAS HALMAHERA
2017
LEMBAR PENGESAHAN

ANALISIS HUBUNGAN POLA PERUBAHAN HARIAN SUHU UDARA


DAN KELEMBABAN UDARA DENGAN SUHU PERMUKAAN
AIR/LUMPUR DI HUTAN MANGROVE TANJUNG PILAWANG
TOBELO”

Skripsi Ini di Susun Sebagai Syarat Memperoleh Gelar Sarjana (S1) Pada
Program Studi Fisika Fakultas Ilmu Alam & Teknologi Rakayasa Universitas
Halmahera

Oleh:
Seth Kristianus Obos
NIM. 22130022

Disetujui oleh:
Dosen Pembimbing,

Harsen Berg Janis, M.Pd


NIDN. 1207120910

Mengetahui,
Ketua program studi fisika
Fakultas ilmu alam & teknologi rekayasa
Universitas Halmahera

Masitha Yusniar, S.Si., M.Pd


NIPEG. 145ED099

ii
PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “ANALISIS


HUBUNGAN POLA PERUBAHAN HARIAN SUHU UDARA DAN
KELEMBABAN UDARA DENGAN SUHU PERMUKAAN AIR/LUMPUR DI
HUTAN MANGROVE TANJUNG PILAWANG TOBELO” adalah benar hasil
karya saya sendiri yang belum pernah dipublikasikan ataupun diajukan sebagai
karya ilmiah perguruan tinggi atau lemaga manapun dan tidak mengandung
bahan-bahan yang pernah ditulis atau diterbitkan pihak lain kecuali sebagai
sumber rujukan yang dinyatakan dalam naskah, dan disebutkan dalam daftar
pustaka. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan saya
bersedia mempertanggungjawabkan pernyataan ini.

Tobelo, Desember 2017

Seth Kristianus Obos


NIM.22130022

iii
ABSTRAK

SETH KRISTIANUS OBOS.


Analisis Hubungan Pola Perubahan Harian Suhu Udara Dan Kelembaban Udara
Dengan Suhu Permukaan Air/Lumpur di Hutan Mangrove Tanjung Pilawang
Tobelo.

Penelitian ini bertujuan untuk mengukur dan menganalisis pola perubahan harian
suhu udara dan kelembaban udara dengan suhu permukaan air/lumpur di hutan
Mangrove Tanjung Pilawang. Data yang digunakan untuk menganalisis adalah
temperature(suhu udara), kelembaban relatif udara, dan suhu permukaan
air/lumpur dengan menggunakan alat hygrometer, dan termometer batang. Data
diolah dan dianalisis menggunakan fungsi deret fourier, hasil penelitian
menunjukkan kondisi temperatur udara maksimal terjadi pad titik -3, dan -1 yaitu
suhu rata-rata maksimal mencapai nilai ± 40 oC, hal ini dikarenakan pengaruh
keadaan cuaca yang sangat terik saat pengambilan data, nilai suhu Untuk
kelembaban relatif udara ...........................

Kata Kunci :Suhu udara, Kelembaban udara, Suhu Permukaan, Hutan Mangrove

iv
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadiratTuhan Yang Maha Esa yang
telahmemberikan kemudahan, limpahan Kasih Karunia dan Rahmat-Nya sehingga
Penulis dapat menyelesaikan penulisan skipsi ini dengan judul:“Analisis
Hubungan Pola Perubahan Harian Suhu Udara Dan Kelembaban Udara
Dengan Suhu Permukaan Air/Lumpur di Hutan Mangrove Tanjung
Pilawang”yang diajukan untuk memenuhi syarat matakuliah skripsi pada program
studi fisika, dan untuk memperoleh gelar Sarjana Sains (S.Si). Penulis menyadari
bahwa selama proses penyusunan proposal seminar skripsi ini tidak terlepas
daribantuan, bimbingan maupun dorongan berbagai pihak. Dalam kesempatan
iniPenulis ingin menyampaikan terima kasih kepada:

1. Tuhan Yesus, atas anugerah-Nya dalam hidup Penulis hingga bisa sampai
pada tahap ini.
2. Negara ku tercinta Republik Indonesia yang telah memberikan kesempatan
Penulis untuk mengembangkan kemampuan akademik di Perguruan
Tinggi melalui bantuan pendidikan beasiswa Bidikmisi 2013.
3. Bapak Harsen B. Janis, M.Pd, selaku pembimbing utama dalam penulisan
Skripsi ini, yang bukan hanya membimbing penulis dalam penyusunan
Skripsi ini tetapi juga banyak mengajarkan penulis tentang nilai-nilai
kehidupan, dengan tulus layaknya seperti orang tua, penulis sangat
beruntung dapat dibimbing langsung oleh Beliau.
4. Bapak, Juhbar Christian Mangimbulude, Ph.D, selaku Rektor Universitas
Halmahera.
5. Bapak, Ronald Kondolembang, S.Hut., M.Hut. selaku Dekan Fakultas
Ilmu Alam dan Teknologi Rekayasa.
6. Ibu Masita Yusniar, S.Si., M.Pd, selaku Ketua Program Studi Fisika.

v
7. Ibu Lili G.F Apituley., M.Hum, selaku Direktur Kemahasiswaan, yang
telah memberikan motivasi, saran, kritik, kepada Penulis serta menjadi
teman berbagi keluh kesah.

8. Papa, mama, kaka Non Kristiane Obos, kak Feki Senen serta kedua adik
ku tersayang, Evandel Kristovel Obos, dan Whely Whelen Kriston Obos
yang telah banyak memberikan dukungan, baik secara moril, maupun
materil serta doa. Sehingga Penulis selalu termotivasi dalam penulisan.
9. Bapak Philip Kastanya, yamg telah membantu penulis dalam pembuatan
peta lokasi penelitian. Semoga Bapak dan sekeluarga dapat diberkati oleh
Tuhan dan selalu menjadi berkat untuk banyak orang.
10. Adryan Salompahe, Frans Tongo-Tongo, Elshika Roba, Mersi Lobiua,
Balandina Mokara, Ruldof Ruo, Chrisna Selong, dan Nova Bitakono,
yang setia menemani Penulis dari Pengambilan data dilapangan selama 1
kali 24 jam, hingga menemani penulis menghabiskan malam tuk
menyususun skripsi ini, teman berbagi cerita, dan canda tawa.
11. Steward Bungan, sahabat masa kecilku yang selalu memotivasi Penulis,
12. Teman-teman Program Studi Fisika angkatan tahun 2013, yang telah
memberi warnai disetiap hari, saat penulis di bangku Perguruan Tinggi.
13. Dan semua pihak yang tidak dapat Penulis sebutkan satu-persatu yang
telahmembantu dalam penulisan.
Akhir kata, semoga Tuhan yang Maha Esa selalu melimpahkan Bekat dan
Karunia-Nya kepada kita semua. Amin.

Tobelo, Desember 2017

Seth Kristianus Obos


NIM.22130022

vi
DAFTAR ISI

Hal
PENGESAHAN.............................................................................................. ii
PERNYATAAN.............................................................................................. iii
ABSTRAK....................................................................................................... iv
KATA PENGANTAR.................................................................................... v
DAFTAR ISI................................................................................................... vi
DAFTAR GAMBAR...................................................................................... vii
DAFTAR GRAFIK......................................................................................... viii
DAFTAR TABEL........................................................................................... x
BAB I PENDAHULUAN............................................................................... 1
1.1. Latar Belakang...................................................................................... 1
1.2. Batasan Masalah................................................................................... 5
1.3. Rumusan Masalah................................................................................. 5
1.4. Tujuan................................................................................................... 5
1.5. Manfaat Penulisan…….……………………………………............... 5
BAB II KAJIAN PUSTAKA........................................................................ 6
2.1. Ekosistem Mangrove………………………........................................ 6
2.2. Zonasi Ekosistem Mangrove................................................................ 7
2.3. Hubungan Vegetasi Dengan Suhu Udara............................................. 10
2.4. Iklim Mikro.......................................................................................... 10
2.5. Suhu Udara........................................................................................... 11

vii
2.6. Pengaruh Suhu terhadap Hutan........................................................... 13

2.7. Kelembaban Udara................................................................................ 14

2.8. Kelembaban Lingkungan Hutan .......................................................... 15

2.9. Suhu permukaan beberapa penutupan lahan………………………… 17

2.10. Analisis Deret Fourier........................................................................... 18


2.11. Kontinuisasi dan Diskrititasi dengan Analisis Fourier.......................... 20
BAB III METODE PENULISAN…………................................................ 21
3.1. Deskripsi Lokasi & Waktu Penelitian.................................................. 21
3.2. Alat dan Bahan..................................................................................... 22
3.3. Variabel Penelitian............................................................................... 22
3.4. Instrumen Penelitian…………………………………………............. 22
3.5. Posedur Pengambilan Data……………………………………........... 23
3.6. Metode Analisa Data…………………………………………............ 24
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN........................................................ 25
4.1. Hasil Penelitian..................................................................................... 25
4.2. Pembahasan.......................................................................................... 54
BAB V PENUTUP..........................................................................................
5.1. Kesimpulan...........................................................................................
5.2. Saran.....................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................
Lampiran.........................................................................................................

viii
DAFTAR GAMBAR
Hal
Gambar 2.1 Pepindahan Panas..................................................................... 14
Gambar 3.1 Lokasi Penelitian……………………...................................... 17

ix
DAFTAR GRAFIK
hal
Grafik 4.1 Pola Perubahan Harian Suhu Permukaan ditik………………… 25
Grafik 4.2 Pola Perubahan Harian Suhu Udara di titik -3 pada ketinggian 10
cm………………………………………………………………… 26
Grafik 4.3. Pola Perubahan Harian SuhuUdara di titik -3 pad ketinggian 1 m. 26
Grafik 4.4. Pola Perubahan Harian KelembabanUdara di titik -3 pada
ketinggian 10 cm…………………………………………………. 27
Grafik 4.5. Pola Perubahan Harian KelembabanUdara di titik -3 pada
ketinggian 1m……………………………………………………. 28
Grafik 4.6. Pola Perubahan Harian Suhu Permukaan di titik -1…………… 28
Grafik 4.7. Pola Perubahan Harian Suhu Udara di titik -1 pada ketinggian 10
cm………………………………………………………………… 29
Grafik 4.8. Pola Perubahan Harian Suhu Udara di titik -1 pada ketinggian 1
29m
Grafik 4.9. Pola Perubahan Harian kelembabanUdara di titik -1 pada
ketinggian 10 cm………………………………………………… 30
Grafik 4.10. Pola Perubahan Harian kelembaban Udara di titik -1 pada
ketinggian 1m…………………………………………………… 30
Grafik 4.11. Pola Perubahan Harian Suhu Permukaan di titik 0……………. 31
Grafik 4.12 Pola Perubahan Harian Suhu Permukaan di titik 0 pada
ketinggian 10 cm…………………………………………………. 32
Grafik 4.13. Pola Perubahan Harian Suhu Permukaan di titik 0 pada
ketinggian 1m 32
Grafik 4.14. Pola Perubahan Harian Kelembaban Udara di titik 0 pada
ketinggian 10cm………………………………………………….. 33
Grafik 4.15. Pola Perubahan Harian Kelembaban Udara di titik 0 pada
ketinggian 1m……………………………………………………. 33
Grafik 4.16. Pola Perubahan Harian Suhu Permukaan Udara di titik 1……. 34
Grafik 4.17. Pola Perubahan Harian Suhu Udara di titik 1 pada ketinggian 34

x
10cm……………………………………………………………..
Grafik 4.18. Pola Perubahan Harian Suhu Udara di titik 1 pada ketinggian 1m 35
Grafik 4.19. Pola Perubahan Harian Kelembaban Udara di titik 1 pada
ketinggian 10cm………………………………………………….. 35
Grafik 4.20. Pola Perubahan Harian Kelembaban Udara di titik 1 pada
ketinggian 1m……………………………………………………. 36
Grafik 4.21. Pola Perubahan Harian Suhu Permukaan Udara di titik 3 37
Grafik 4.22. Pola Perubahan Harian Suhu Udara di titik 3 pada ketinggian
10cm…………………………………………………………….. 37
Grafik 4.23. Pola Perubahan Harian Suhu Udara di titik 3 pada ketinggian 1 m 38
Grafik 4.24. Pola Perubahan Harian Kelembaban Udara di titik 3 pada
ketinggian 10c m…………………………………………………. 38
Grafik 4.25 Pola Perubahan Harian Kelembaban Udara di titik 3 pada
ketinggian 1 m…………………………………………………… 39
Grafik 4.26. Pola Perubahan Harian Suhu Permukaan di titik 5……………. 40
Grafik 4.27. Pola Perubahan Harian Suhu Udara di titik 5 pada ketinggian
10cm……………………………………………………………… 40
Grafik 4.29. Pola Perubahan Harian Suhu Udara di titik 5 pada ketinggian
10cm……………………………………………………………… 41
Grafik 4.30. Pola Perubahan Harian Kelembaban Udara di titik 5 pada
ketinggian 10cm…………………………………………………. 41
Grafik 4.31. Pola Perubahan Harian Kelembaban Udara di titik 5 pada
ketinggian 1m…………………………………………………… 42
Grafik 4.32 Pola Perubahan Harian Suhu Permukaan di titik 7. 43
Grafik 4.33. Pola Perubahan Harian Suhu Udara di titik 7 pada ketinggian
10cm……………………………………………………………… 43
Grafik 4.34. Pola Perubahan Harian Suhu Udara di titik 7 pada ketinggian 1m 44
Grafik 4.35. Pola Perubahan Harian Kelembaban Udara di titik 7 pada
ketinggian 10 cm………………………………………………… 44
Grafik 4.36. Pola Perubahan Harian Kelembaban Udara di titik 7 pada 45

xi
ketinggian 1m……………………………………………………..
Grafik 4.37. Pola Perubahan Harian Suhu Permukaan di titik 9…………….. 46
Grafik 4.38. Pola Perubahan Harian Suhu Permukaan di titik 9 pada
ketinggian 10 cm…………………………………………………. 47
Grafik 4.39. Pola Perubahan Harian Suhu udara di titik 9 pada ketinggian 1m 47
Grafik 4.39. Pola Perubahan Harian Kelembaban Udara di titik 9 pada
ketinggian 10cm………………………………………………….. 48
Grafik 4.40. Pola Perubahan Harian Kelembaban Udara di titik 9 pada
ketinggian 1m…………………………………………………….. 49
Grafik 4.41. Pola Perubahan Harian Suhu Permukaan di titik 16………….. 49
Grafik 4.42. Pola Perubahan Harian SuhuUdara di titik 9 pada ketinggian 10
cm………………………………………………………………… 50
Grafik 4.43. Pola Perubahan Harian Suhu Udara di titik 9 pada ketinggian 1
m…………………………………………………………………. 50
Grafik 4.44. Pola Perubahan Harian KelembabanUdara di titik 9 pada
ketinggian 10cm…………………………………………………. 51
Grafik 4.45 .Pola Perubahan Harian Kelembaban Udara di titik 9 pada
ketinggian 1m……………………………………………………. 52
Grafik 4.46. Pola Perubahan Harian Suhu Permukaan pada titik 32………. 52
Grafik 4.47. Pola Perubahan Harian Suhu Udaradi titik 32 pada ketinggian 10
cm………………………………………………………………… 53
Grafik 4.48. Pola Perubahan Harian Suhu Udara di titik 32 pada ketinggian
1m……………………………………………………………….. 53
Grafik 4.49. Pola Perubahan Harian Kelembaban Udara di titik 32 pada
ketinggian 10 cm………………………………………………… 53
Grafik 4.50. Pola Perubahan Harian Kelembaban Udara di titik 32 pada
ketinggian 1m……………………………………………………. 54

xii
DAFTAR TABEL

hal
Tabel 2.1 Zonasi Mangrove Menurut Watson, De Haan dan
McNae……………………….................................................. 8

Tabel 3.1 Agenda Kegiatan Penelitian…………………………………. 18


Tabel 3.2 Daftar Alat & Bahan Penelitian............................................... 18
Tabel 3.3 Isian data pengukuran .………………………….................... 19
Tabel L.1. Data Hasil Pengukuran Pada Tansek 1(satu), Titik -3………. ix
Tabel L.2. Data Hasil Pengukuran Pada Tansek 1(satu), Titik -1………. ix
Tabel L.3. Data Hasil Pengukuran Pada Tansek 1(satu), Titik 0………... x
Tabel L.4. Data Hasil Pengukuran Pada Tansek 1(satu), Titik 1………... x
Tabel L.5. Data Hasil Pengukuran Pada Tansek 1(satu), Titik 3………... xi
Tabel L.6. Data Hasil Pengukuran Pada Tansek 1(satu), Titik 5………... xi
Tabel L.7. Data Hasil Pengukuran Pada Tansek 1(satu), Titik 7………... xii
Tabel L.8. Data Hasil Pengukuran Pada Tansek 1(satu), Titik 9………... xiii
Tabel L.9. Data Hasil Pengukuran Pada Tansek 1(satu), Titik 16………. xiii
Tabel L.10. Data Hasil Pengukuran Pada Tansek 1(satu), Titik 32………. xiv
Tabel L.11. Data Hasil Pengukuran Pada Tansek 2(dua), Titik -3……….. xiv
Tabel L.12. Data Hasil Pengukuran Pada Tansek 2(dua), Titik -1……….. xv
Tabel L.13. Data Hasil Pengukuran Pada Tansek 2(dua), Titik -0……….. xv
Tabel L.14. Data Hasil Pengukuran Pada Tansek 2(dua), Titik 1………... xvi
Tabel L.15. Data Hasil Pengukuran Pada Tansek 2(dua), Titik 3………... xvi
Tabel L.16. Data Hasil Pengukuran Pada Tansek 2(dua), Titik 5………... xvii
Tabel L.17. Data Hasil Pengukuran Pada Tansek 2(dua), Titik 7………... xvii
Tabel L.18. Data Hasil Pengukuran Pada Tansek 2(dua), Titik 9………... xvii
Tabel L.19. Data Hasil Pengukuran Pada Tansek 2(dua), Titik 16………. xviii
Tabel L.20. Data Hasil Pengukuran Pada Tansek 2(dua), Titik 32………. xviii

xiii
Tabel L.21. Data Hasil Pengukuran Pada Tansek 3(tiga), Titik -3. ……… xix
Tabel L.22. Data Hasil Pengukuran Pada Tansek 3(tiga), Titik -1. ……… xix
Tabel L.23. Data Hasil Pengukuran Pada Tansek 3(tiga), Titik 0. ………. xx
Tabel L.24. Data Hasil Pengukuran Pada Tansek 3(tiga), Titik 1. ………. xx
Tabel L.25. Data Hasil Pengukuran Pada Tansek 3(tiga), Titik 3. ………. xii
Tabel L.26. Data Hasil Pengukuran Pada Tansek 3(tiga), Titik 5. ………. xii
Tabel L.27. Data Hasil Pengukuran Pada Tansek 3(tiga), Titik 7. ………. xxii
Tabel L.28. Data Hasil Pengukuran Pada Tansek 3(tiga), Titik 9. ………. xxii
Tabel L.29. Data Hasil Pengukuran Pada Tansek 3(tiga), Titik 16. ……... xxiii
Tabel L.30. Data Hasil Pengukuran Pada Tansek 3(tiga), Titik 32. …….. xxiii
Tabel L.31. Titik Koordinat Untuk tiap Transek……….……….………... xxiv

xiv
xv
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Sebuah sistem yang didalamnya terdapat hubungan timbal balik yang tak
terpisahkan antara makhluk hidup dan lingkungannya, itulah yang disebut dengan
ekosistem. Ekosistem bisa
dikatakan juga suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap
unsur lingkungan hidup yang saling memengaruhi.
Ekosistem merupakan penggabungan dari setiap unit biosistem yang
melibatkan interaksi timbal balik antara organisme dan lingkungan fisik sehingga
aliran energi menuju kepada suatu struktur biotik tertentu dan terjadi suatu siklus
materi antara organisme dan anorganisme.Matahari sebagai sumber dari semua
energi yang ada.
Dalam ekosistem, organisme dalam komunitas berkembang bersama-sama
dengan lingkungan fisik sebagai suatu sistem. Organisme akan beradaptasi dengan
lingkungan fisik, sebaliknya organisme juga memengaruhi lingkungan fisik untuk
keperluan hidup. Pengertian ini didasarkan pada Hipotesis Gaia, yaitu:
“organisme, khususnya mikroorganisme, bersama-sama dengan lingkungan fisik
menghasilkan suatu sistem kontrol yang menjaga keadaan di bumi cocok untuk
kehidupan”. Hal ini mengarah pada kenyataan bahwa kandungan kimia atmosfer
dan bumi sangat terkendali dan sangat berbeda dengan planet lain dalam tata
surya.
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar yang memiliki sekitar 17.500
pulau dengan panjang pantai sekitar 81.000 km, sehingga negara kita memiliki
potensi sumber daya wilayah pesisir laut yang besar. Ekosistem pesisir laut
merupakan sumber daya alam yang produktif sebagai penyedia energi bagi
kehidupan komunitas di dalamnya.Selain itu ekosistem pesisir dan laut
mempunyai potensi sebagai sumber bahan pangan, pertambangan dan mineral,
energi, kawasan rekreasi dan pariwista. Hal ini menunjukkan bahwa ekosistem
pesisir dan laut merupakan aset yang tak ternilai harganya di masa yang akan
datang. Ekosistem pesisir dan laut meliputi estuaria, hutan mangrove,

1
padanglamun, terumbu karang, ekosistem pantai dan ekosistem pulau-pulau
kecil.Komponen-komponen yang menyusun ekosistem pesisir dan laut tersebut
perlu dijaga dan dilestarikan karena menyimpan sumber keanekaragaman hayati
dan plasma nutfah.Salah satu komponen ekosistem pesisir dan laut adalah hutan
mangrove.
Hutan Mangrove berasal dari kata mangue/mangal (Portugis) dan grove
(English). Hutan mangrove dikenal juga dengan istilah tidal forest, coastal
woodland, vloedbosschen, atau juga hutan bakau. Hutan bakau atau disebut juga
hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang
terletak pada garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut.Hutan ini
tumbuh khususnya di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi
bahan organik.Baik di teluk-teluk yang terlindung dari gempuran ombak, maupun
di sekitar muara sungai di mana air melambat dan mengendapkan lumpur yang
dibawanya dari hulu.
Ekosistem hutan bakau bersifat khas, baik karena adanya pelumpuran yang
mengakibatkan kurangnya aerasi tanah; salinitas tanahnya yang tinggi; serta
mengalami daur penggenangan oleh pasang-surut air laut. Hanya sedikit jenis
tumbuhan yang bertahan hidup di tempat semacam ini, dan jenis-jenis ini
kebanyakan bersifat khas hutan bakau karena telah melewati proses adaptasi dan
evolusi.
Keberadaanya yang tumbuh di sekitar pesisir pantai atau berada di lingkungan
yang selalu basah, tentu jarang terjadi perubahan suhu air yang ekstrim yang
membahayakan kehidupan tumbuhan mangrove. Sementara cuaca dan iklim
merupakan faktor utama yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan tanaman, walaupun pengaruhnya tidak begitu besar karena secara
tidak langsung hutan mangrove itu sendiri yang membentuk iklim yang ada
disekitarnya (Iklim mikro)
Suhu atau temperatur udara merupakanderajat panas dari aktivitas molekul
dalam atmosfer. Secara fisis dapat diartikan sebagai tingkat gerakan molekul
benda, dimana ketinggian suhunya tergantung pada depat gerakan molekulnya.
Pada umumnya suhu di bagi menjadi tiga bagian yaitu suhu udara, suhu

2
resultan dan suhu radiatif. Suhu udara merupakan suatu sifat kalor yang di bawa
aliran angin dan di tambah kelembaban yang dapat mempengaruhinya. Suhu
resultan adalah gabungan dari suhu udara dan suhu radiatif. Sedangkan suhu
radiatif merupakan sifat panas yang di akibatkan pertukaran kalor secara radiasi
antar lingkungan dan pengukurannya.
Kelembaban adalah jumlah kandungan uap air dalam satuan volume udara.
Iklim laut ditandai dengan kelembaban tinggi sedangkan iklim kontinental
ditandai dengan kelembaban rendah. Angka kelembaban diukur dengan dua
pendekatan yakni kelembaban udara mutlak atau rasionaldengan satuan kg (uap
air) /kg udara-kering atau g (uap air) /g udara kering. Kemudian ada lagi sebutan
kelembaban relative dengan satuan persen (%), yakni kandungan uap airdalam
udara yang bersuhu dan tekanan tertentu. (Sangkertadi, 2013:37).
Iklim mikro dapat diartikan sebagai kondidi cuaca di area tertentu, iklm mikro
ini sangat berpengaruh terhadap kondisi hutan.Pengetahuan terhadap faktor suhu
dalam manejemen hutan terutama cuaca, merupakan hal yang harus menjadi
pertimbangan dalam menetukan kebijakan pengelolaan hutan.
Suhu, senantiasa memberikan pengaruh bagi tumbuhan mangrove karena suhu
berperan penting dalam proses fisiologis (fotosintesis dan respirasi); produksi
daun baru Avicennia marina terjadi pada suhu 18-20ºC dan jika suhu lebih tinggi
maka produksi menjadi berkurang; Rhizophora stlylosa, ceriops, excocaria,
Lumnitzera tumbuh optimal pada suhu 26-28°C; bruguire tumbuh optimal pada
suhu 27°C dan xylocarpus tumbuh optimal pada suhu 21-26°C, begitu pula
peningkatan kelembaban udara di sekeliling daun mengakibatkan penurunan
tekakan uap diantara daun dan udara disekitarnya hal ini mengakibatkan
penurunan laju tanspirasi.
Peranan hutan sebagai pengatur iklim mikro pada lingkungan di sekitarnya
sangat penting. Tiap kondisi hutan akan memiliki kemampuan yang berbeda
dalam hal mengaturiklim mikro pada suatu lingkungan hutan, misalnya
temperatur udara, kelembaban udara, dll.
Timbulnya iklim mikro disebabkan oleh adanya perbedaan- perbedaan dari
keadaan cuaca dan iklim yang cukup besar terutama proses sifat fisik lapisan

3
atmosfer (Hassan, 1970). Dijelaskan oleh Anwar (1983), bahwa temperatur udara
dekat permukaan tanah sangat dipengaruhi oleh besarnya radiasi matahari yang
diserap oleh permukaan tanah itu sendiri.Radiasi yang diterima permukaan tanah
pada siang hari, sebagian digunakan untuk memanaskan dan merambatkan ke
bagian yang lebih dalam dan sebagian lagi diradiasikan kembali dalam bentuk
gelombang panas yang memanaskan udara dan menguapkan air.
Selanjutnya dikemukakan oleh Tjasjono (1999), bahwa ada interaksi antara
tumbuhan dan iklim.Pengaruh tumbuhan pada iklim adalah menjadi penting
dengan semakin besarnya tumbuhan dan semakin banyaknya jumlah
tumbuhan.Pada mulanya tumbuhan hanya dipengaruhi oleh iklim mikro saja,
namun kemudian lambat laun dipengaruhi oleh iklim makro dan iklim meso.Ada
hubungan yang erat antara pola iklim dengan distribusi tumbuhan, sehingga
beberapa klasifikasi iklim didasarkan pada dunia tumbuh-tumbuhan.Tumbuhan
dipandang sebagai sesuatu yang kompleks dan peka terhadap pengaruh iklim
misalnya pemanasan, kelembaban, penyinaran matahari, dan lain-lain. Tanpa
unsur-unsur iklim ini, pada umumnya pertumbuhan tanaman akan terhambat,
meskipun ada beberapa tanaman yang dapat menyesuaikan diri untuk tetap hidup
dalam periode yang cukup lama jika kekurangan salah satu faktor tersebut. Unsur-
unsur iklim yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman ialah curah hujan, suhu,
angin, sinar matahari, kelembaban, dan evapotranspirasi.
Unsur iklim mikro seperti curah hujan, kelembaban relatif dan temperatur
merupakan unsur yang menunjukkan adanya perubahan pola iklim mikro di suatu
wilayah jika terjadi perubahan pada penggunaan lahan dan perubahan luas hutan
dan vegetasi (Larjavaara, 2005). Perubahan iklim mikro juga akan mempegaruhi
keberadaan hutan di wilayah tersebut karena tumbuhan memiliki ketergantungan
yang besar terhadap keadaan iklim dan cuaca (Spittlehouse, 2005).
Berdasarkan latar belakang di atas maka, penelitian ini dilakukan untuk
memantau perubahan lingkunagn di tiap titik pengamatan untuk menganalisis pola
perubahan harian suhu udara dan kelembaban udara dengan suhu permukaan
air/lumpur di hutan mangrove tanjung pilawang.

4
1.2.Batasan Masalah
Fluktasi perubahan suhu udara, kelembaban udara, dan suhu permukaan
air/lumpur berdasarkan jarak pada tiap titik dari tepi hutan mangrove ke dalam
hutan mangrove.

1.3.Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang yang sebelumnya telah diuraikan diatas,
maka rumusan masalah dalam penelitiaan ini adalah sebagai berikut : Bagaimana
pola perubahan harian suhu udara udara, kelembaban udara dan suhu permukaan
air/lumpur di hutan mangrove tanjung pilawang?

1.4.Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah : Menganalisis pola perubahan harian suhu
udara, kelembaban udara, dan suhu permukaan air/lumpur di hutan mangrove
tanjung pilawang.

1.5. Manfaat Penelitian


Manfaat dari penelitian ini adalah :
1.5.1. Memberikan informasi perubahan suhu udara harian dan kelembaban
udara di kawasan hutan Mangrove Pantai Tanjung Pilawang Tobelo
1.5.2. Hasil penelitian ini dapat menjadi sumber informasi maupun referensi
bagi mata kuliah fisika lingkungan, dan kajian ilmiah lainnya bagi
yang membutuhkan.

5
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1.Ekosistem Mangrove
Menurut Undang-Undang No. 41/1999 tentang Kehutanan, hutan adalah
suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya hayati yang
didominasi pepohonan dalam persekutuan
alam lingkungannya, yang satu dengan yang
lain tidak dapat dipisahkan.
Hutan mangrove atau sering dikenal juga
dengan sebutan hutan payau hal ini
dikarenakan habitatnya yang memiliki kadar

Gambar. 2.1. Ekosistem Magrove garam (salinitas) antara 0,5 ppt (part per
thousand) dan 30 ppt. Selain itu juga karena
vegetasi yang tumbuh dalam kawasan hutan ini merupakan jenis pohon bakau,
maka kawasan mangrove juga disebut hutan bakau.Kata mangrove merupakan
kombinasi antara kata mangue (bahasa Protugis) yang berati tumbuhan dan kata
grove (bahasa Inggris) yang berarti berukar atau hutan kecil. Ada yang
menyebutkan mangrove berasal dari kata mangal yang menunjukkan komunitas
suatu tumbuhan.
Sumber daya ekosistem mangrove termasuk dalam sumberdaya wilayah
pesisir (Saparinto, 2007).Ekosistem mangrove adalah ekosistem yang memiliki
fungsi ekologi, sosial, dan ekonomi, (Jurnal Ilmiah, 2011 AgriSains, hal 174),
Fungsi ekologi hutan mangrove meliputi tempat sekuestrasi karbon, remediasi
bahan pencemar, menjaga stabilitas pantai dari abrasi, intrusi air laut, dan
gelombang badai, menjaga kealamian habitat, menjadi tempat bersarang,
pemijahan dan pembesaran berbagai jenis ikan, udang, kerang, burung dan fauna
lain, serta pembentuk daratan. Fungsi sosial-ekonomi hutan mangrove meliputi
kayu bangunan, kayu bakar, kayu lapis, tiang pancang, bagan penangkap ikan,
kayu untuk mebel dan kerajinan tangan, atap huma, tannin, bahan obat, gula,

6
alkohol, asam asetat, protein hewani, madu, karbohidrat, dan bahan pewarna, serta
memiliki fungsi sosial-budaya sebagai areal.

2.2.Zonasi Ekosistem Mangrove


Hutan mangrove merupakan tumbuhan kash yang hidup di daerah tropik dan
subtropik, dimana pertumbuhannya dipengaruhi oleh pasang surut air laut,
tepatnya disepanjang pantai atau muara sungai.
Biasanya di tempat yang tidak ada muara suangainya hutan mangrove
terdapat agak tipis, namun pada tempat yang bermuara yang besar dan delta yang
aliran airnya banyak mengandung lumpur, dan pasir, mangrove biasanya tumbuh
meluas (Ghufran dalam Nontji, 1987)
Ada lima faktor menurut Ghufran (2012) yang mempengaruhi zonasi hutan
bakau di kawasan pantai tertentu yaitu:
1. Gelombang air laut yang menentukan frekwensi tergenang.
2. Salinitas, kadar garam yang berkaitan dengan hubungan osmosis hutan
bakau.
3. Substrata tau media tumbuh.
4. Pengaruh darat, seperti aliran air masuk dan rembasan air tawar.
5. Keterbukaa terhadap gelombang, yang menentukan jumlah substrat yang
dapat dimanfaatkan.
Meskipun tidak ada cara universal dalam menuntukan zonasi hutan bakau di
suatu kawasan, tetapi skema umum hutan bakau untuk penggunaan secara luas
pada daerah Indonesia dapat digunakan seperti konsep yang di berikan oleh
Supriharyono dalam Ghufran (2012), ia membagi zona hutan bakau berdasrkan
jenis pohon kedalam enam zona, yaitu:
1. zona perbatasan dengan daratan;
2. zona semak-semak tumbuhan ceriops;
3. zona hutan Lacang;
4. zona hutan Bakau;
5. zona Api-api yang menuju ke laut; dan
6. zona Pedada.

7
Zonasi ekosistem mangrove berdasarkan jenis pohon di Indonesia, jika
diruntukan dari arah laut ke darat, biasanya dibedakan menjadi 4 zona (Ghufran
dalam Anonim, 1995) sebagai berikut:
1. Zona Api-api-Prepat (Avicennia-Sonneratia). Terletak pada luar/jauh atau
terdekat dengan laut. Kondisi tanah berlumpur agak lembek (dangkal),
sedikit bahan organik dan kadar garam agak lembek.
2. Zona Bakau (Rhizophora). Biasanya terletak dibelakang api-api dan
prepat, keadaan tanah berlumpur lembek (dalam). Pada umunya
didominasi oleh jenis-jenis bakau.
3. Zona tanjung (Bruguiera) terletak dibelakang Zona Bakau, agak jauh dari
laut dekat dengan daratan. Dengan keadaaan berlumpur agak keras, agak
jauh dari garis pantai .
4. Zona Nipah (Nypa fructicane) terletak di belakang Zona Bakau paling
dekat ke arah darat. Zona ini mengangung air dengan salinitas sangat
rendah dibandingkan zona lainnya, tanahnya keras, kurang dipengauhi
pasang surut, dan kebanyakan berada di tepi-tepi sungai dekat laut.

Tabel 2.1. Zonasi Mangrove Menurut Watson, De Haan dan McNae


Watson (1928) De Haan (1931) McNae (1986)
1. Daerah genangan 1. Payau asin, salinitas Ke arah laut, Sonneatia
untuk semua pada saat pasang alba atau Sonneratia
pasang naik naik sekitar 10-30 apelata atau Sonneratia
2. Daerah gengangan ppt. griffithii.
pada pasang a. Daerah tergenang Zona Avicennia maina.
medium air pasang 1 – 2
3. Daerah genangan kali sehari per Zona hutan Rhizophora
pada naik normal. bulan.
4. Daerah genangan b. Daerah tergenang Zona hutan Bruguiera
hanya pasang air pasang 10-19
perbani kali per bulan Hutan di daerah
5. Daerah genangan c. Daerah yang perbatasan daratan,
pada pasang naik hanya tergenang Xylocarpus granatum
lainnya air pasang sekitar atau Lumnitzera littorea
9 kali per bulan. atau bruguiera sexangula
d. Daerah yang atau kelompok Samphire
hanya tergenang atau Barringtonia
air pasang

8
beberapa hari. Kelompok Nypa
2. Air tawar-payau,
salinitas pada saat
air pasang sekitar 0-
10 ppt.
a. Daerah
dipengaruhi
pasang surut.
b. Daerah
dipengaruhi
pasang surut.
Sumber: Ghufran dalam Supriharyono (2000); Supriharyono (2007)

Walupun tumbuhan mangrove dapat berkembang pada kondisi lingkungan


yang buruk, akan tetapi setiap tumbuhan mangrove mempunyai kemampuan yang
berbeda untuk mempertahankan diri terhadap kondisi lingkungan fisik-kimia di
lingkungannya. Ada beberapa faktor utama yang menentukan penyebaran
tumbuhan mangrove, salah satu faktor yaitu, Suhu air (Ghufran dalam
Supriharyono 2000; Supriharyono 2007), dimana selain faktor pasang surut dan
salinitas, suhu air juga merupakan faktor yang sangat menetukan kehidupan dan
pertumbuhan mangrove. Menurut Walsh (1974) suhu yang menjadi pembatas
kehidupan mangrove adalah suhu rendah dan kisaran suhu musiman.Suhu yang
baik untuk kehidupan mangrove adalah tidak kurang dari 20oC, sedangkan kisaran
musiman suhu tidak melebihi 5oC.Suhu yang tinggi (> 40oC) cenderung tidak
mempengaruhi pertumbuhan dan/atau kehidupan tumbuhan dan/atau kehidupan
tumbuhan mangrove (Kolehmainen et al, 1973).
Karena tanaman mangrove berada di air atau berada di lingkungan yang
selalu basah, tentu jarang terjadi perubahan suhu air yang ekstrem yang
membahayakan kehidupan tumbuhan mangrove. Tumbuhan mangrove sepsis
Sonneratia atau Avicenniayang dapat tumbuh di patahan terumbuh karang yang
ketika terjadi surut terendah, tumbuhan tersebut mrngalami kekeringan 4-5 jam,
namun kekeringan tersebut tidak sampai mengganggu tumbuhan mangrove,
karena akar-akarnya berada di dalam karang yang tentunya masih berada di dalam
air.
Demikian pula sepsies Brugguiera yang tubuh jauh dari pantai dan dekat ke

9
Nypa.Tumbuhan ini hanya dapat digenangi pasang pada waktu-waktu
tertentu.Begitu juga panas matahari tidak membahayakan tumbuhan mangrove
karena ekosistem mangrove mempunyai tumbuhan yang cukup tebal, dan akar
tumbuhan mangrove menghujam ke dalam tanah yang terdapat air.

2.3.Hubungan Vegetasi Dengan Suhu Udara


Vegetasi pembentuk hutan merupakan komponen alam yang mampu
mengendalikan iklim melalui pengendalian fluktuasi atau perubahan unsur-unsur
iklim yang ada disekitarnya misalnya suhu, kelembaban, angin dan curah hujan,
serta menentukan kondisi iklim setempat dan iklim mikro (Indriyanto 2006). Suhu
vegetasi pada siang hari di atas permukaan tanah terbuka akan lebih tinggi bila
dibandingkan dengan suhu dibawah naungan karena radiasi matahari yang
diterima oleh tanaman tidak dapat dipantulkan kembali (Lakitan 2004).

2.4.Iklim Mikro
Iklim mikro merupakan kondisi iklimpada suatu ruang yang sangat terbatas,
tetapikomponen iklim ini penting artinya bagikehidupan manusia, tumbuhan dan
hewan,karena kondisi udara pada skala mikro iniyang akan berkontak langsung
dengan (danmempengaruhi secara langsung) makhluk-makhluk hidup tersebut
(Yermina, 2014)
Iklim mikro juga merupakan faktor-faktor kondisi iklim setempat yang
memberikan pengaruh langsung terhadap kenyamanan disuatu daerah.Iklim mikro
dipengaruhi oleh lintasan matahari, posisi dan model geografis yang
mengakibatkan pengaruh pada cahaya matahari dan pembayangan serta hal-hal
lain pada kawasan tersebut, misalnya radiasi panas, pergerakan udara, curah
hujan, kelembaban udara dan temperatur udara.
Unsur-unsur iklim seperti suhu dan kelembaban udara merupakan faktor utama
yang mempengaruhi kenyamanan dan aktivitas manusia (Destriana dalam Chiara dan
Koppelman 1975).

10
2.5.Suhu Udara
Udara adalah kumpulan atau campuran gas, yang terbanyak nitrogen dan
oksigen, dimana oksigen sangat penting untuk mendukung kehidupan makhluk
hidup, dan nitrogen merupakan penyubur tanaman, bakteri menggunakan nitrogen
dari udara untuk menyuburkan tanah (Wahyu. 2009), sedangkan suhu udara dapat
disebut sebagai derajat panas udara.
Suhu udara juga mencerminkan energi kinetik rata-rata dari gerakan molekul-
molekul atau dapat diartikan gambaran umum keadaan energi suatu benda.Satuan
suhu yang umum dikenal ada empat macam yaitu celsius (ºC), Fahrenheit (ºF),
reamur (ºR) dan kelvin (ºK).Namun, satuan yang sering digunakan adalah celcius
(ºC).Hubungan (oC) dengan skala yang lain adalah:
5
𝑡𝑜 𝐶 = (𝑡 𝑜 𝐹 − 32𝑜 )………………………………….………………….(2.1)
9
5
𝑡𝑜 𝐹 = (𝑡 𝑜 𝐶) + 32𝑜 ………………………………….………………….(2.2)
9
4 𝑜
𝑡𝑜 𝑅 = 𝑡 𝐶………………………………….………………..………….(2.3)
5

𝑡 𝑜 𝐾 = 𝑡 𝑜 𝐶 + 273………………………………….…….……………….(2.4)

Derajat suatu jenis thermometer dapat dikonversikan ke derajat lainnya


(sabarudin 2012, dalam Petterseen, 1941; Yoade 1983) sebagai berikut:
5
a. Suhu dalam derajat Fahrenheit (F) ke derajat Celsius, 𝑡 𝑜 𝐶 = (𝑡 𝑜 𝐹 −
9
4
32𝑜 ) ke derajat Reamur 𝑡 𝑜 𝑅 = (𝑡 𝑜 𝐹 − 32𝑜 ) dan ke derajat Kelvin
9
5
𝑡𝑜 𝐾 = (𝑡 𝑜 𝐹 − 32𝑜 ) + 273…………………………………………..(2.5)
9
5
b. Suhu dalam derajat Reamur (R) ke derajat Celsius, 𝑡 𝑜 𝐶 = (𝑡 𝑜 𝑅), ke
4
9
derajat Fahrenheit, 𝑡 𝑜 𝐹 = (𝑡 𝑜 𝑅 + 32𝑜 )dan derajat Kelvin, 𝑡 𝑜 𝐾 =
4
5
(𝑡 𝑜 𝑅 + 273)…………………………………………...……………..(2.5)
4

c. Suhu dalam derajat Kelvin (K), ke dalam derajat Fahrenheit 𝑡 𝑜 𝐹 =


9 4
(𝑡 𝑜 𝐾 − 273) + 32, ke Reamur, 𝑡 𝑜 𝑅 = (𝑡 𝑜 𝐾 − 273) dan ke derajat
5 5

Celsius 𝑡 𝑜 𝐶 = (𝑡 𝑜 𝐾 − 273)…………………….……………………..(2.5)

11
Suhu udara sangat dipengaruhi oleh permukaan bumi tempat persentuhan
antara udara dengan daratan dan lautan. Permukaan bumi tersebut merupakan
pemasok panas untuk terjadinya pemanasan udara. Lautan mempunyai luas dan
kapasitas panas yang lebih buruk tetapi karena udara bercampur secara dinamis,
maka pengaruh permukaan lautan secara vertikal akan lebih dominan. Akibatnya,
suhu akan turun menurut ketinggian baik diatas lautan maupun daratan. Rata-rata
penurunan suhu udara menurut ketinggian di Indonesia sekitar 5-6ºC tiap
kenaikan 1000 m. Suhu dipermukaan bumi makin rendah dengan bertambahnya
lintang. Perbedaannya, pada penyebaran suhu secara vertikal permukaan bumi
merupakan sumber pemanasan sehingga semakin tinggi tempat maka akan
semakin rendah suhunya. Selain itu, suhu udara dipengaruhi oleh topografi,
pengaruh arus laut dan pengaruh arah pergerakan angin(Destriana dalam
Kartasapoetra 2004).
Di daerah tropika fluktuasi suhu rata-rata harian relatif konstan sepanjang
tahun sedangkan fluktuasi suhu diurnal (variasi antara siang dan malam hari) lebih
besar daripada fluktuasi suhu rata-rata harian (Destrianadalam Handoko 1995).
Menurut Lakitan (2002), pada malam hari tanaman berperan sebagai penahan
panas, sehingga suhu udara dibawah tajuk pohon lebih hangat dibandingkan suhu
udara diatas permukaan tanah terbuka tanpa vegetasi. Suhu udara pada naungan
pohon pada siang hari dapat lebih rendah 14ºC daripada daerah terbuka tanpa
naungan pohon.
Untuk menghitung rata-rata nilai hariannya, pengukuran suhu udara dapat
dilkukan seperti halnya pada pengukuran kelembaban udara. Rata-rata suhu udara
disuatu tempat dapat dihitung dengan tiga cara, yakni:
a. Pengukuran yang dilakukan pada waktu tengah hari untuk suhu
maksimum (Tmax) dan pada tengah malam untuk suhu minimum (Tmin).
Rata-rata suhu harian (𝑇̅) berdasarkan cara ini dihitung dengan persamaan
sebagai berikut;
Tmax  Tmin
T
2 ……………………………………………………….(2.6)
b. Pengukuran yang dilakukan pada pagi, siang dan sore hari, maka rata-rat

12
suhu udara harian berdasarkan cara ini dihitung dengan persamaan sebagai
berikut;
2.T pagi  Tsiang  Tsore
T
4 ……………………….................................(2.7)
c. Pengukuran yang dilakukan setiap jam, yakni dimulai dari jam 07.00 pgi
samapi 17.00 sore. Rata-rata suhu udara harian berdasarkan cra ini
dihitung dengan persamaan sebagai berikut;
n
Ti T07  T08  ...Tn
T  
i n n ………………………………………...…(2.8)
Dengan: n, jumlah jam pengamatan dan i, jam pengamatan ke-I dimana i=
1, 2,…., n.

2.6.Pengaruh Suhu Terhadap Hutan


Suhu merupakan alat ukur untuk mengetahui intensitas energi panas yang
masuk ke dalam hutan.Musim panas dapat menyebabkan terbakarnya hutan
sehingga banyak pohon yang mati, serta iklim mikro hutan pun mengalami
perubahan.
Iklim mikro berpengaruh terhadap kondisi tanah dalam areal
hutan.Pengetahuan terhadap faktor suhu dalam manejemen hutan terutama cuaca,
merupakan hal yang harus menjadi pertimbangan dalam menetukan kebijakan
pengelolaan hutan.
Suhu, senantiasa memberikan pengaruh bagi tumbuhan mangrove karena suhu
berperan penting dalam proses fisiologis (fotosintesis dan respirasi); produksi
daun baru Avicennia marina terjadi pada suhu 18-20ºC dan jika suhu lebih tinggi
maka produksi menjadi berkurang; Rhizophora stlylosa, ceriops, excocaria,
Lumnitzera tumbuh optimal pada suhu 26-28°C; bruguire tumbuh optimal pada
suhu 27°C dan xylocarpus tumbuh optimal pada suhu 21-26°C.

2.7.Kelembaban Udara
Kelembaban udara menggambarkan kandungan uap air diudara yang dapat

13
dinyatakan sebagai kelembaban mutlak, kelembaban nisbi (relatif) maupun defisit
tekanan uap air. Kelembaban mutlak adalah kandungan uap air (dapat dinyatakan
dengan massa uap air atau tekanannya) per satuan volume. Kelembaban nisbi
membandingkan antara kandungan atau tekanan uap air aktual dengan keadaan
jenuhnya atau pada kapasitas udara untuk menampung uap air. Kapasitas udara
untuk menampung uap air semakin tinggi dengan naiknya suhu udara, maka pada
tekanan uap aktual yang relatif tetap pada siang hari dan malam hari yang
mengakibatkan kelembaban udara (RH) akan lebih rendah pada siang hari tetapi
lebih tinggi pada malam hari (Destriana dalam Handoko 1995).Di daerah tropika
basah seperti Indonesia, kelembaban rata-rata harian atau bulanan relatif tetap
sepanjang tahun, umumnya kelembaban udara (RH) lebih dari 60%. Kelembaban
udara dikawasan kota lebih kecil jika dibandingkan dengan daerah sekitarnya,
karena terdapat banyak perkerasan, kurangnya pori-pori permukaan dan
kurangnya transpirasi tanaman. Bangunan yang tinggi merupakan pemicu udara
menjadi naik sehingga memungkinkam meningkatnya hujan.Kelembaban udara
juga berhubungan dengan keseimbangan energi. Kelembaban merupakan ukuran
banyaknya energi radiasi berupa panas laten yang dipakai untuk menguapkan air
permukaan yang menerima radiasi (Destriana dalam Irwan 2005).
Metode pengukuran kelembaban udara dapat dilakukan dengan berbagai cara
sesuai kemampuan dari pengamat. Rata-rata kelembaban udara di suatu tempat
dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut;
a. Bila pengamatan dilakukan pada pagi, siang, dan sore hari, maka
perhitungan rata-rata kelembaban harian RH  adalah sebagai berikut:
RH pagi  RH siang  RH sore
RH  ………………..……………………(2.5)
3
b. Bila pengamatan dilakukan pada setiap jam, maka rata-rata kelembaban
harian RH  adalah sebagai berikut:
RH 00  RH 01  RH 02 ...  RH n
RH  ………………….……………..(2.6)
n
Dengan n : jumlah waktu pengamatan.

14
2.8.Kelembaban Lingkungan Hutan
Kelembaban terkait dengan dua pertimbangan Pertama : reaksi biokimia yang
berlangsung dalam sistem biologi yang berproses dalam air. Organisme jarang
berada dalam kelembaban yang seimbang dengan lingkungannya.Selama
keseimbangan air dalam organisme dapat dipelihara dengan lingkungan
sekitarnya, maka kehidupan organisme dapat dipertimbangkan.Kedua :
kelembaban lingkungan sangat penting dalam transfer energi. Bila ada perubahan
fase yang melibatkan transfer air, maka banyak energi yang bisa di transfer ke
atau dari permukaan. Dalam hal ini kelembaban berperan penting dalam transfer
energi.
a. Kondisi Saturasi: Bila sebuah wadah air terbuka pada sebuah ruang
tertutup, maka air akan menguap ke ruang tersebut. Sebagai air yang
menguap maka konsentrasi molekul air dalam udara akan meningkat
akhirnya keseimbangan menjadi tetap ketika jumlah molekul air yang
meninggalkan air sama dengan jumlah molekul yang ditangkap oleh air.
b. Angin :Kecepatan aliran angin dibawah tajuk akan berbeda menurut jenis
dan tinggi tajuk. Dibawah tajuk akan tercipta iklim mikro yang suhunya
lebih dipengaruhi oleh tanaman dibandingkan dengan suhu di atas tajuk.

Perpindah massa udara merupakan mekanisme perubahan energi pada Daerah


Aliran Sungai (DAS). Hal yang sangat perlu diketahui bahwa pertukaran panas
antara permukaan DAS dengan atmosfer dilakukan oleh gayaconvection
(perpindahan udara secara horizontal). Gaya convection inilah yang memindahkan
panas dari permukaan DAS ke atmosfer dibantu oleh gayaconvection.Ada tiga
sifat sebagai faktor dominan dalam transfer panas convection pada DAS
1. Kecepatan angin yang berlangsung di atas permukaan.
2. Suhu dan tekanan udara antara permukaan dan udara bebas.
3. Kekasaran permukaan
Hubungan antara angin, suhu, dan tekanan uap ke atas pada permukaan halus
dan kasar ditunjukan pada gambar berikut.

15
Gambar 2.1. Perpindahan Panas. Sumber : Internet

Peningkatan suhu angin dan tekanan uap dipengaruhi oleh kehalusan dan
kekasaran permukaan tanah.Di sini dapat dilihat bagaimana pergerakan kurva
peningkatan suhu, angin dan dan tekanan uap pada permukaan lahan gundul dan
pada permukaan lahan berhutan (Gambar 2.1.Gambar a. Lahan gundul.Gambar b.
Lahan berhutan).
Pada lahan gundul suhu, kecepatan angin dan tekanan uap sangat cepat
meningkat dan mulus sedangkan dibanding areal yang berhutan suhu, kecepatan
angin dan tekanan uap terjadi sangat lambat.

2.9.Suhu Permukaan Beberapa Penutupan Lahan

16
Suhu permukaan diukur menggunakan alat termometer inframerah yang
memungkinkan kita mengukur suhu permukaan suatu jenis tutupan lahan tertentu
tanpa bersentuhan dengan objek yang ingin diketahui suhunya. Cara mengukurnya
adalah dengan menembakkan alat tersebut kearah permukaan objek yang ingin
diamati. Pada penelitian ini penutupan lahan yang diukur suhu permukaannya
adalah kanopi hutan, lahan terbuka, badan air dan suhu permukaan tanah di dalam
hutan.
Thermometer infrared adalah perangkat pengukuran temperatur non-kontak
dimana mendeteksi energi inframerah yang dipancarkan oleh suatu objek pada
suhu di atas nol mutlak (nol Kelvin) dan mengubah energi menjadi faktor
pembacaan suhu. Dalam penggunaan termometer ini, kita harus menyesuaikan
nilai emisivitas dari objek yang akan diukur temperaturnya. Emisivitas
didefenisikan sebagai rasio energi yang dipancarkan oleh suatu benda pada suhu
tertentu terhadap energi yang dipancarkan oleh radiator sempurna yang disebut
dengan blackbody pada suhu yang sama.
Suhu permukaan dari setiap penutupan lahan diukur setiap jam dari pukul
09.00 hingga pukul 15.00, kecuali untuk tutupan lahan badan air. Untuk suhu
permukaan badan air hanya dilakukan 3 kali pengukuran yaitu pada pukul 09.00,
11.00 dan 15.00. Suhu permukaan lahan terbuka yang merupakan lapangan
rumput memiliki nilai suhu permukaan tertinggi, diikuti oleh kanopi hutan
kemudian suhu tanah di dalam hutan .
Perbedaan suhu permukaan dan suhu atmosfer terletak pada letak dan
ketinggian serta gas-gas penyusunnya. Selain itu perbedaannya bahwa suhu
permukaan juga dipengaruhi oleh permukaan bumi secara langsung.
Suhu udara antara daerah satu dengan daerah lain sangat berbeda. Hal ini
sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor-faktor seperti:
a. Sudut datangnya sinar matahari
Sudut datang sinar matahari terkecil terjadi pada pagi dan sore hari, sedangkan
sudut terbesar pada waktu siang hari tepatnya pukul 12.00 siang. Sudut datangnya
sinar matahari yaitu sudut yang dibentuk oleh sinar matahari dan suatu bidang di
permukaan bumi.

17
b. Tinggi rendahnya suatu tempat
Semakin tinggi kedudukan suatu tempat, temperatur udara di tempat tersebut
akan semakin rendah. Perbedaan temperatur udara yang disebabkan adanya
perbedaan tinggi rendah suatu daerah disebut amplitudo.
c. Angin dan arus laut
Angin dan arus dari daerah yang dingin, akan menyebabkan daerah yang
dilalui angin tersebut juga akan menjadi dingin.
d. Lama penyinaran
Lamanya penyinaran matahari pada suatu tempat tergantung dari letak garis
lintangnya. Semakin rendah letak garis lintangnya maka semakin lama daerah
tersebut mendapatkan sinar matahari dan suhu udaranya semakin tinggi.
Sebaliknya, semakin tinggi letak garis lintang maka intensitas penyinaran
matahari semakin kecil sehingga suhu udaranya semakin rendah.
e. Awan
Awan merupakan penghalang pancaran sinar matahari ke bumi. Jika suatu
daerah terjadi awan (mendung) maka panas yang diterima bumi relatif sedikit, hal
ini disebabkan sinar matahari tertutup oleh awan dan kemampuan awan menyerap
panas matahari.

2.10. Analisis Deret Fourier


Suhu udara dan kelembaban udara merupakan dua dari beberapa variabel-
variabel fisik lingkungan yang berubah menurut ruang dan waktu, dan variabel
seperti ini memenuhi syarat Dirichlet : dimana jika suatu fungsi periodik memiliki
makna fisis dinyatakan oleh f t  dan periodenya adalah T maka :
f t   f t  T  ………………………………………………………….......(1)
dimana T adalah nilai terkecil dari periode yang mungkin dimiliki oleh fungsi
f t  .
Variabel t dapat berupa koordinat ruang atau waktu, dan sebagainya.Andaikan
f(t) suatu fungsi yang berkelakuan baik, yaitu memenuhi syarat-syarat Dirichlet
berikut:
1. f(t) bernilai tunggal dimana-mana;

18
2. f(t) terintegrasi secara mutlak, artinya

toT

 f t  dt
to
ada(berhingga) untuk setiap pemilihan t ;

3. f(t) untuk setiap periode jumlah diskontinuitas yang terbatas.


4. f(t) mempunyai nilai ekstrim (maksimum dan minimum) yang terbatas
banyaknya dalam t tiap periode.maka f(t) dapat dijabarkan ke dalam deret
sukusuku harmonik sinus dan / atau kosinusberbentuk :


a0
f t     a n cos nt  bn sin nt  ………………………………(2)
2 n 1

Dimana  suatu konstanta matematik (yang bermakna fisis) dan memenuhi


definisi.
2

T
Bila t variabel waktu maka  adalah parameter frekuensi bernilai waktu. Dan
variabel ruang (seperti x, y, z, atau yang sejenis) maka  adalah parameter
frekuensi bernilai ruang yang biasa bersimbol k. Dalam persamaan (6.1) a n dan bn
dinamakan koefisien Fourier dan diberikan oleh persamaan.
toT

 f t  cos nt
2
An 
T to ………………………………………….…..(3)
toT

 f t sin nt
2
Bn 
T to ………………………………………………(4)

2.11. Kontinuisasi dan Diskrititasi dengan Analisis Fourier


Dalam rujukan aplikasi statistik analisis Fourier persamaan fungsi Fourier
dinyatakan dalambentuk diskrit.Andaikan bahwa Xo………Xn –1adalah kumpulan

19
n pengamatan suatuvariabel fisis, maka dapat ditentukan.
1 n 1
A0   f t   X
n t 0 ………………………………………………….(5)
2 n 1
AJ   f t  cos jt
n t 0 ………………………………………...……(6)
2 n 1
BJ   f t  sin jt
n t 0 ………………………………………...……(7)

Fungsi fourier
f t   A0   A
0 j   n 1
j cos jt  B j  sin jt 
…………………….…(8)

n 1

f t   A0   A j cos jt  B j  sin jt 


2

j 0 …………………...….…(9)

BAB III
METODE PENELITIAN

20
3.1. Deskripsi Lokasi Dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Tobelo, Kabupaten Halmahera
Utara.Tepatnya di kawasan hutan mangrove Pantai Tanjung Pilawang Tobelo
yang merupakan salah satu pantai kota Tobelo yang terletak di desa Gura. Jika di
lihat dari titik koordinat Tanjung Pilawang sebenarnya sudah berada di bagian
daratan yang sedikit menjorok ke dalam sudah masuk kawasan yang disebut teluk
sehingga menjadikan daerah pantai Tanjung Pilawang selalu mempunyai kondisi
air laut yang tenang atau jauh dari bergelombang besar.Pantai Tanjung pilawang
ini juga sudah dijadikan salah satu pusat aktivitas masyarakat Tobelo, Lokasi
pengambilan data dalam penelitian ini dibagi menjadi 10 (-3, -1, 0, 1, 3, 5, 7, 9,
16, 32) titik pengukuran dengan menggunakan jarak Logaritma, yang kemudian di
analisis menggunakan Deret Fourier untuk melihat pola perubahanya terhadap
waktu.

Gambar 3.1.Lokasi Penelitian

21
Penelitian dilakukan pada tanggal 12 November 2017s.d 13 November 2017
Agar mendapat hasil pengukuran yang baik, pengukurannya di mulai pada pukul
06.00 WIT s.d 06.00 WIT, dalam 1x24 jam (satu hari)

Tabel 3.1. Agenda Kegiatan Penelitian


November Desember
No Agenda Kegiatan Minggu Minggu
3-4 5 6
1 Pengambilan Data
2 Analisis Data
3 Pembuatan Laporan

3.2. Alat dan Bahan


Beberapa alat yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu:

Tabel 3.2. Daftar Alat & Bahan Penelitian


No Alat Fungsi Jumlah
1 Hygro thermometer Untuk mengukur suhu udara dan 3 buah
kelembaban udara
2 Termometer batang Untuk mengukur suhu permukaan 3 buah
air/lumpur
3 Tali rafia Untuk menentukan titik dan transek Seperlunya
dari area penelitan

3.3. Variabel Penelitian


3.3.1. Suhu udara
Suhu terbagi menjadi tiga bagian yaitu suhu udara yang merupakan suatu sifat
kalor yang terbawa oleh pergerakan angin dan pengaruh dari kelembaban., suhu
resultan yaitu kombinasi antara suhu udara dan suhu radiatif, sedangkan suhu
radiatif itu sendiri adalah suhu yang merupakan sifat panas yang di akibatkan
pertukaran kalor secara radiasi anatara lingkungan dan pengukurannya. Suhu atau
temperatur udara adalah derajat panas dari aktivitas molekul dalam atmosfer.

3.3.2. Kelembaban Udara

22
Kelembaban udara dipengaruhi oleh suhu, makin panas suhu udara makin
besar kemampuan udara untuk menerima uap air.Keterkaitan kelembaban udara
dengan pertumbuhan tanaman adalah dalam hal transpirasi oleh karena itu dalam
penelitian ini salah satu variable iklim yang penting untuk diukur selain suhu
adalah kelembaban

3.4. Instrumen Penelitian


Tabel 3.3.Isian data pengukuran variabel selama 24 jam (sehari)
Variabel
Suhu (oC)
Keterangan
Suhu Udara
Kelembaban (%) Cuaca
Waktu
(WIT) 10 cm (Dari 10
Permukaan 1 m (Dari atas 1 m(Dari
atas cm(Dari
Permukaan) atas
Pemukaan) atas
Permuka
Pemukaa
an)
n)
06.00
08.00
10.00
12.00
14.00
16.00
18.00
20.00
22.00
00.00
02.00
04.00
06.00

3.5. Prosedur Pengambilan Data


Sebelum melakukan pengambilan data ada beberapa tahapan penelitian yang
haru dilakukan, yaitu:
3.5.1. Orientasi Lapangan
Orientasi lapangan dimaksudkan untuk memilih dan menentukan daerah
pengamatan yang representatif untuk meletakkan alat-alat penelitian.
3.5.2. Pengumpulan Data
a) Siapkan alat yang diperlukan.

b) Melakukan pengukuran untuk tiap variabel yang diukur.

23
c) Catat hasil pengukuran.

d) Mengulangi langkah b s.d c untuk titik pengukuran yang selanjutnya.

3.6. Metode Analisis Data


Penelitiaan ini dilakukan di Bulan Desember 2017, data yang digunakan
meliputi suhu udara, suhu permukaan, dan kelembaban udara, yang diuku
menggunakan tehmometer batang, dan hygro themometer yang diambil pada tiap
titik di tiga transek.
Untuk tiap perubahan suhu udara, suhu permukaan, dan kelembaban udara
yang diukur adalah selisih dalam selang waktu tertentu, dimana analisis dalam
penelitiaan ini adalah data transek dua yang diukur perubahannya tiap dua jam
sekali dimulai dari pukul 06.00 WIT s.d 06.00 WIT (24 jam), hasil
pengukurannya dianalisis menggunakan fungsi deret fourier untuk melihat pola
perubahan tiap data yang diuku terhadap waktu.

BAB IV

24
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.Hasil Analisis Data Pola Perubahan Harian Suhu Permukaan, Suhu


Udara, dan Kelembaban Udara

4.1.1. Analisis Data Pola Perubahan Harian Suhu Permukaan, Suhu Udara, dan
Kelembaban Udara Di Titik -3

1. Suhu Permukaan terhadap waktu :


2𝜋𝑡 2𝜋𝑡 4𝜋𝑡 4𝜋𝑡 6𝜋𝑡
𝑇(𝑡) = 25 + (3,598 cos + 7,007 sin − 2,953 cos + 4,287 sin − 3,584 cos
13 13 13 13 13
6𝜋𝑡 8𝜋𝑡 8𝜋𝑡 10𝜋𝑡
− 0,1 sin − 0,709 cos − 1,799 sin + 0,862 cos
13 13 13 13
10𝜋𝑡 12𝜋𝑡 12𝜋𝑡
+ 0.475 sin − 1.062 cos + 1.075 sin )
13 13 13
T (Suhu)

t
(waktu)
Grafik 4.1.Pola Perubahan Harian Suhu Permukaan ditik -3

2. Suhu Udara terhadap waktu pada ketinggian 10 cm

25
2𝜋𝑡 2𝜋𝑡 4𝜋𝑡 4𝜋𝑡
𝑇(𝑡) = 28,677 + (2.450 cos + 2.540 sin − 0,673 cos + 2.492 sin
13 13 13 13
6𝜋𝑡 6𝜋𝑡 8𝜋𝑡 8𝜋𝑡
− 1,167 cos + 0.160 sin − 0,186 cos − 0.971 sin
13 13 13 13
10𝜋𝑡 10𝜋𝑡 12𝜋𝑡 12𝜋𝑡
+ 0.415 cos + 0.327 sin − 1,169 cos + 0.598 sin )
13 13 13 13

Grafik 4.2.Pola Perubahan Harian Suhu Udara di titik -3 pada ketinggian 10 cm

3. Suhu Udara terhadap waktu pada ketinggian 1 m


2𝜋𝑡 2𝜋𝑡 4𝜋𝑡 4𝜋𝑡
𝑇(𝑡) = 28,831 + (1,551 cos + 3,389 sin − 1.825 cos + 2.892 sin
13 13 13 13
6𝜋𝑡 6𝜋𝑡 8𝜋𝑡 8𝜋𝑡
− 2,026 cos − 0.254 sin + 0,343 cos − 1.273 sin
13 13 13 13
10𝜋𝑡 10𝜋𝑡 12𝜋𝑡 12𝜋𝑡
+ 1.179 cos + 0.374 sin − 1,562 cos + 0.737 sin )
13 13 13 13

Grafik 4.3.Pola Perubahan Harian SuhuUdara di titik -3 pada ketinggian 1 m.

26
4. Kelembaban Udara terhadap waktu pada ketinggian 10 cm
2𝜋𝑡 2𝜋𝑡 4𝜋𝑡 4𝜋𝑡
𝑅𝐻(𝑡) = 82,385 + (−13,768 cos − 11,686 sin − 2,146 cos − 9.186 sin
13 13 13 13
6𝜋𝑡 6𝜋𝑡 8𝜋𝑡 8𝜋𝑡
+ 3,092 cos − 2,614 sin + 2,060 cos + 1,761 sin
13 13 13 13
10𝜋𝑡 10𝜋𝑡 12𝜋𝑡 12𝜋𝑡
+ 0,816 cos − 0,429 sin + 5,255 cos − 2,094 sin )
13 13 13 13

Grafik 4.4.Pola Perubahan Harian KelembabanUdara di titik -3 pada ketinggian


10 cm

5. Kelembaban udara terhadap waktu pada ketinggian 1 m


2𝜋𝑡 2𝜋𝑡 4𝜋𝑡 4𝜋𝑡
𝑅𝐻(𝑡) = 82,923 + (−13,524 cos − 11,268 sin − 2,177 cos − 9.235 sin
13 13 13 13
6𝜋𝑡 6𝜋𝑡 8𝜋𝑡 8𝜋𝑡
+ 3,358 cos − 3,393 sin + 3,164 cos + 1,978 sin
13 13 13 13
10𝜋𝑡 10𝜋𝑡 12𝜋𝑡 12𝜋𝑡
+ 0,952 cos + 0,621 sin + 3,998 cos − 1,173 sin )
13 13 13 13

27
Grafik 4.5.Pola Perubahan Harian KelembabanUdara di titik -3 pada ketinggian
1m.

4.1.2. Analisis Data Pola Perubahan Harian Suhu Permukaan, Suhu Udara, dan
Kelembaban Udara Di Titik -1

1. Suhu Permukaan terhadap waktu


2𝜋𝑡 2𝜋𝑡 4𝜋𝑡 4𝜋𝑡 6𝜋𝑡
𝑇(𝑡) = 24 + (2,765 cos + 5,341 sin − 1,999 cos + 4.579 sin − 3,407 cos
13 13 13 13 13
6𝜋𝑡 8𝜋𝑡 8𝜋𝑡 10𝜋𝑡
+ 0,643 sin − 1,434 cos − 1,362 sin + 0,138 cos
13 13 13 13
10𝜋𝑡 12𝜋𝑡 12𝜋𝑡
− 1,076 sin + 0,092 cos + 0,712 sin )
13 13 13

Grafik 4.6.Pola Perubahan Harian Suhu Permukaan di titik -1

2. Suhu udara terhadap waktu pada ketinggian 10 cm


2𝜋𝑡 2𝜋𝑡 4𝜋𝑡 4𝜋𝑡
𝑇(𝑡) = 28,169 + (2.044 cos + 2.989 sin − 0,397 cos + 2.121 sin
13 13 13 13
6𝜋𝑡 6𝜋𝑡 8𝜋𝑡 8𝜋𝑡
− 1,538 cos + 0.011 sin − 0,181 cos − 0.996 sin
13 13 13 13
10𝜋𝑡 10𝜋𝑡 12𝜋𝑡 12𝜋𝑡
+ 0.462 cos + 0.125 sin − 0,872 cos + 0.606 sin )
13 13 13 13

28
Grafik 4.7.Pola Perubahan Harian Suhu Udara di titik -1 pada ketinggian 10cm

3. Suhu udara terhadap waktu pada ketinggian1 m

2𝜋𝑡 2𝜋𝑡 4𝜋𝑡 4𝜋𝑡


𝑇(𝑡) = 28,138 + (2,156 cos + 2,532 sin + 0,359 cos + 2,039 sin
13 13 13 13
6𝜋𝑡 6𝜋𝑡 8𝜋𝑡 8𝜋𝑡
− 1,218 cos + 0.510 sin − 0,770 cos − 0,730 sin
13 13 13 13
10𝜋𝑡 10𝜋𝑡 12𝜋𝑡 12𝜋𝑡
+ 0,163 cos − 0,379 sin − 0,546 cos + 0.273 sin )
13 13 13 13

Grafik 4.8.Pola Perubahan Harian Suhu Udara di titik -1 pada ketinggian 1 m


4. Kelembaban udara terhadap waktu pada ketinggian 10 cm
2𝜋𝑡 2𝜋𝑡 4𝜋𝑡 4𝜋𝑡
𝑅𝐻(𝑡) = 82,000 + (−13,470 cos − 10,850 sin − 1,876 cos − 8,339 sin
13 13 13 13
6𝜋𝑡 6𝜋𝑡 8𝜋𝑡 8𝜋𝑡
+ 2,993 cos − 1,556 sin + 1,480 cos + 2,908 sin
13 13 13 13
10𝜋𝑡 10𝜋𝑡 12𝜋𝑡 12𝜋𝑡
+ 0,037 cos − 0,122 sin + 4,544 cos − 1,742 sin )
13 13 13 13

29
Grafik 4.9.Pola Perubahan Harian kelembabanUdara di titik -1 pada ketinggian
10cm

5. Kelembaban udara terhadap waktu pada ketinggian 1 m


2𝜋𝑡 2𝜋𝑡 4𝜋𝑡 4𝜋𝑡
𝑅𝐻(𝑡) = 82,077 + (−13,805 cos − 11,723 sin − 1,675 cos − 10,154 sin
13 13 13 13
6𝜋𝑡 6𝜋𝑡 8𝜋𝑡 8𝜋𝑡
+ 4,649 cos − 3,147 sin + 3,270 cos + 2,384 sin
13 13 13 13
10𝜋𝑡 10𝜋𝑡 12𝜋𝑡 12𝜋𝑡
+ 0,687 cos + 0,964 sin + 3,492 cos − 0,700 sin )
13 13 13 13

Grafik 4.10.Pola Perubahan Harian kelembaban Udara di titik -1 pada ketinggian


1m
4.1.3. Analisis Data Pola Perubahan Harian Suhu Permukaan, Suhu Udara, dan
Kelembaban Udara Di Titik 0

1. Suhu Permukaan terhadap waktu pada titik 0

30
2𝜋𝑡 2𝜋𝑡 4𝜋𝑡 4𝜋𝑡 6𝜋𝑡
𝑇(𝑡) = 24 + (2,612 cos + 4,561 sin − 1,181 cos + 3,529 sin − 2,261 cos
13 13 13 13 13
6𝜋𝑡 8𝜋𝑡 8𝜋𝑡 10𝜋𝑡
+ 0,536 sin − 0,152 cos − 0,819 sin − 0,299 cos
13 13 13 13
10𝜋𝑡 12𝜋𝑡 12𝜋𝑡
+ 0,881 sin − 1,338 cos + 0,827 sin )
13 13 13

Grafik 4.11.Pola Perubahan Harian Suhu Permukaan di titik 0

2. Suhu Udara terhadap waktu pada ketinggian 10 cm


2𝜋𝑡 2𝜋𝑡 4𝜋𝑡 4𝜋𝑡
𝑇(𝑡) = 27,908 + (2,193 cos + 1,801 sin + 0,892 cos + 1,500 sin
13 13 13 13
6𝜋𝑡 6𝜋𝑡 8𝜋𝑡 8𝜋𝑡
− 0,532 cos + 0, 341 sin − 0,417 cos − 0,431 sin
13 13 13 13
10𝜋𝑡 10𝜋𝑡 12𝜋𝑡 12𝜋𝑡
+ 0.023 cos + 0.031 sin − 0,889 cos + 0.277 sin )
13 13 13 13

Grafik 4.12.Pola Perubahan Harian Suhu Permukaan di titik 0 pada ketinggian 10


cm

31
3. Suhu Udara terhadap waktu pada ketinggian 1 m
2𝜋𝑡 2𝜋𝑡 4𝜋𝑡 4𝜋𝑡
𝑇(𝑡) = 29,038 + (2,692 cos + 3,506 sin − 0,602 cos + 2,703 sin
13 13 13 13
6𝜋𝑡 6𝜋𝑡 8𝜋𝑡 8𝜋𝑡
− 1,691 cos + 0.012 sin − 0,221 cos − 1.255 sin
13 13 13 13
10𝜋𝑡 10𝜋𝑡 12𝜋𝑡 12𝜋𝑡
+ 0,512 cos − 0,274 sin − 1,144 cos + 0.918 sin )
13 13 13 13

Grafik 4.13.Pola Perubahan Harian Suhu Permukaan di titik 0 pada ketinggian 1m

4. Kelembaban Udara terhadap waktu Pada Ketinggian 10 cm


2𝜋𝑡 2𝜋𝑡 4𝜋𝑡 4𝜋𝑡
𝑅𝐻(𝑡) = 82,000 + (−13,764 cos − 12,115 sin − 0,698 cos − 10,183 sin
13 13 13 13
6𝜋𝑡 6𝜋𝑡 8𝜋𝑡 8𝜋𝑡
+ 5,197 cos − 2,018 sin + 2,937 cos + 4,023 sin
13 13 13 13
10𝜋𝑡 10𝜋𝑡 12𝜋𝑡 12𝜋𝑡
− 0,113 cos + 1,769 sin + 2,453 cos − 0,626 sin )
13 13 13 13

32
Grafik 4.14.Pola Perubahan Harian Kelembaban Udara di titik 0 pada ketinggian
10cm

5. Kelembaban udara terhadap waktu pada ketinggian 1 m


2𝜋𝑡 2𝜋𝑡 4𝜋𝑡 4𝜋𝑡
𝑅𝐻(𝑡) = 82,500 + (−12,565 cos − 11,553 sin − 0,447 cos − 9,339 sin
13 13 13 13
6𝜋𝑡 6𝜋𝑡 8𝜋𝑡 8𝜋𝑡
+ 4,735 cos − 1,254 sin + 1,873 cos + 3,574 sin
13 13 13 13
10𝜋𝑡 10𝜋𝑡 12𝜋𝑡 12𝜋𝑡
− 0,317 cos + 0,847 sin + 3,184 cos − 1,375 sin )
13 13 13 13

Grafik 4.15.Pola Perubahan Harian Kelembaban Udara di titik 0 pada ketinggian


1m

4.1.4. Analisis Data Pola Perubahan Harian Suhu Permukaan, Suhu Udara, dan
Kelembaban Udara Di Titik 1

1. Suhu Permukaan terhadap waktu pada titik 1

33
2𝜋𝑡 2𝜋𝑡 4𝜋𝑡 4𝜋𝑡 6𝜋𝑡
𝑇(𝑡) = 24 + (2,549 cos + 4,123 sin − 0,991 cos + 3,888 sin − 1,554 cos
13 13 13 13 13
6𝜋𝑡 8𝜋𝑡 8𝜋𝑡
+ 0,720 sin − 1,250 cos − 0,453 sin
13 13 13
10𝜋𝑡 10𝜋𝑡 12𝜋𝑡 12𝜋𝑡
+ 0,066 cos + 0,868 sin − 1,517 cos + 0,374 sin )
13 13 13 13

Grafik 4.16.Pola Perubahan Harian Suhu Permukaan Udara di titik 1

2. Suhu udara terhadap waktu pada krtinggian 10 cm


2𝜋𝑡 2𝜋𝑡 4𝜋𝑡 4𝜋𝑡
𝑇(𝑡) = 27,785 + (2,025 cos + 2,254 sin + 0,431 cos + 1,666 sin
13 13 13 13
6𝜋𝑡 6𝜋𝑡 8𝜋𝑡 8𝜋𝑡
− 0,661 cos + 0, 491 sin − 0,053 cos − 0,222 sin
13 13 13 13
10𝜋𝑡 10𝜋𝑡 12𝜋𝑡 12𝜋𝑡
− 0,091 cos + 0.889 sin − 1,548 cos + 0,639 sin )
13 13 13 13

Grafik 4.17.Pola Perubahan Harian Suhu Udara di titik 1 pada ketinggian 10cm

34
3. Suhu udara terhadap waktupada ketinggian 1 m
2𝜋𝑡 2𝜋𝑡 4𝜋𝑡 4𝜋𝑡
𝑇(𝑡) = 28,177 + (2,278 cos + 1,330 sin + 0,785 cos + 1,560 sin
13 13 13 13
6𝜋𝑡 6𝜋𝑡 8𝜋𝑡 8𝜋𝑡
− 0,194 cos + 0,533 sin − 0,001 cos − 0,118 sin
13 13 13 13
10𝜋𝑡 10𝜋𝑡 12𝜋𝑡 12𝜋𝑡
− 0,229 cos + 0,512 sin − 1,437 cos + 0,557 sin )
13 13 13 13

Grafik 4.18.Pola Perubahan Harian Suhu Udara di titik 1 pada ketinggian 1m

4. Kelembaban Udara terhadap waktu pada ketinggian 10 cm


2𝜋𝑡 2𝜋𝑡 4𝜋𝑡 4𝜋𝑡
𝑅𝐻(𝑡) = 82,538 + (−13,291 cos − 10,773 sin − 1.727 cos − 9,563 sin
13 13 13 13
6𝜋𝑡 6𝜋𝑡 8𝜋𝑡 8𝜋𝑡
+ 3,873 cos − 2,753 sin + 2,472 cos + 2,136 sin
13 13 13 13
10𝜋𝑡 10𝜋𝑡 12𝜋𝑡 12𝜋𝑡
+ 0,947 cos + 0,19 2sin + 3,881 cos − 1,004 sin )
13 13 13 13

Grafik 4.19.Pola Perubahan Harian Kelembaban Udara di titik 1 pada ketinggian


10cm

35
5. Kelembaban udara terhadap waktu pada ketinggian 1 m
2𝜋𝑡 2𝜋𝑡 4𝜋𝑡 4𝜋𝑡
𝑅𝐻(𝑡) = 82,538 + (−11,852 cos − 10,931 sin − 1,406 cos − 7,994 sin
13 13 13 13
6𝜋𝑡 6𝜋𝑡 8𝜋𝑡 8𝜋𝑡
+ 3,552 cos − 2,775 sin + 3,294 cos + 3,246 sin
13 13 13 13
10𝜋𝑡 10𝜋𝑡 12𝜋𝑡 12𝜋𝑡
− 0,488 cos + 1.518 sin + 3,055 cos − 1,473 sin )
13 13 13 13

Grafik 4.20.Pola Perubahan Harian Kelembaban Udara di titik 1 pada ketinggian


1m

4.1.5. Analisis Data Pola Perubahan Harian Suhu Permukaan, Suhu Udara, dan
Kelembaban Udara Di Titik 3

1. Suhu Permukaan terhadap waktu pada titik 3


2𝜋𝑡 2𝜋𝑡 4𝜋𝑡 4𝜋𝑡 6𝜋𝑡
𝑇(𝑡) = 23 + (2,334 cos + 4,360 sin − 1,328 cos + 3,443 sin − 1,996 cos
13 13 13 13 13
6𝜋𝑡 8𝜋𝑡 8𝜋𝑡 10𝜋𝑡
− 0,133 sin + 0,040 cos − 0,202 sin − 0,357 cos
13 13 13 13
10𝜋𝑡 12𝜋𝑡 12𝜋𝑡
+ 0,320 sin − 1,232 cos + 1,346 sin )
13 13 13

36
Grafik 4.21.Pola Perubahan Harian Suhu Permukaan Udara di titik 3

2. Suhu udara terhadap waktu pada ketinggian 10 cm


2𝜋𝑡 2𝜋𝑡 4𝜋𝑡 4𝜋𝑡
𝑇(𝑡) = 27,562 + (2,200 cos + 1,834 sin + 0,750 cos + 1,584 sin
13 13 13 13
6𝜋𝑡 6𝜋𝑡 8𝜋𝑡 8𝜋𝑡
− 0,228 cos + 0, 396 sin − 0,118 cos − 0,071 sin
13 13 13 13
10𝜋𝑡 10𝜋𝑡 12𝜋𝑡 12𝜋𝑡
− 0,234 cos + 0.362 sin − 1,350 cos + 0.496 sin )
13 13 13 13

Grafik 4.22.Pola Perubahan Harian Suhu Udara di titik 3 pada ketinggian 10cm

3. Suhu udara terhadap waktu pada ketinggian 1 m


2𝜋𝑡 2𝜋𝑡 4𝜋𝑡 4𝜋𝑡
𝑇(𝑡) = 27,831 + (2,778 cos + 2,272 sin + 1,109 cos + 1,845 sin
13 13 13 13
6𝜋𝑡 6𝜋𝑡 8𝜋𝑡 8𝜋𝑡
− 0,340 cos + 0.957 sin − 0,355 cos + 0,177 sin
13 13 13 13
10𝜋𝑡 10𝜋𝑡 12𝜋𝑡 12𝜋𝑡
− 0,660 cos + 0,703 sin − 1,583 cos + 0,363 sin )
13 13 13 13

37
Grafik 4.23.Pola Perubahan Harian Suhu Udara di titik 3 pada ketinggian 1 m

4. Kelembaban udara terhadap waktu pada ketinggian 10 cm


2𝜋𝑡 2𝜋𝑡 4𝜋𝑡 4𝜋𝑡
𝑅𝐻(𝑡) = 81,308 + (−12,972 cos − 11,460 sin − 2,721 cos − 7,980 sin
13 13 13 13
6𝜋𝑡 6𝜋𝑡 8𝜋𝑡 8𝜋𝑡
+ 3,137 cos − 3,035 sin + 2,429 cos + 3,205 sin
13 13 13 13
10𝜋𝑡 10𝜋𝑡 12𝜋𝑡 12𝜋𝑡
+ 0,024 cos + 0,088 sin + 4,504 cos − 1,585 sin )
13 13 13 13

Grafik 4.24.Pola Perubahan Harian Kelembaban Udara di titik 3 pada ketinggian


10c m

5. Kelembaban udara terhadap waktu pada ketinggian 1 m

38
2𝜋𝑡 2𝜋𝑡 4𝜋𝑡 4𝜋𝑡
𝑅𝐻(𝑡) = 81,385 + (−12,885 cos − 11,334 sin − 2,776 cos − 7,836 sin
13 13 13 13
6𝜋𝑡 6𝜋𝑡 8𝜋𝑡 8𝜋𝑡
+ 2,987 cos − 2.998 sin + 2,314 cos + 3,104 sin
13 13 13 13
10𝜋𝑡 10𝜋𝑡 12𝜋𝑡 12𝜋𝑡
+ 0,042 cos − 0,064 sin + 4,640 cos − 1,675 sin )
13 13 13 13

Grafik 4.25.Pola Perubahan Harian Kelembaban Udara di titik 3 pada ketinggian


1m

4.1.6. Analisis Data Pola Perubahan Harian Suhu Permukaan, Suhu Udara, dan
Kelembaban Udara Di Titik 5

1. Suhu Permukaan terhadap waktu pada titik 5


2𝜋𝑡 2𝜋𝑡 4𝜋𝑡 4𝜋𝑡 6𝜋𝑡
𝑇(𝑡) = 23 + (2,384 cos + 4,354 sin − 1,415 cos + 3,120 sin − 1,534 cos
13 13 13 13 13
6𝜋𝑡 8𝜋𝑡 8𝜋𝑡 10𝜋𝑡
+ 0,416 sin − 0,573 cos − 0,634 sin − 0,058 cos
13 13 13 13
10𝜋𝑡 12𝜋𝑡 12𝜋𝑡
+ 0,766 sin − 1,270 cos + 0,634 sin )
13 13 13

39
Grafik 4.26.Pola Perubahan Harian Suhu Permukaan di titik 5.

2. Suhu udara terhadap waktu pada ketinggian 10 cm


2𝜋𝑡 2𝜋𝑡 4𝜋𝑡 4𝜋𝑡
𝑇(𝑡) = 27,677 + (2,416 cos + 1,780 sin + 0,546 cos + 1,723 sin
13 13 13 13
6𝜋𝑡 6𝜋𝑡 8𝜋𝑡 8𝜋𝑡
− 0,289 cos + 0, 316 sin − 0,041 cos − 0,010 sin
13 13 13 13
10𝜋𝑡 10𝜋𝑡 12𝜋𝑡 12𝜋𝑡
− 0,451 cos + 0.647 sin − 1,277 cos + 0.479 sin )
13 13 13 13

Grafik 4.27.Pola Perubahan Harian Suhu Udara di titik 5 pada ketinggian 10cm

40
3. Suhu udara terhadap waktu pada ketinggian 1 m
2𝜋𝑡 2𝜋𝑡 4𝜋𝑡 4𝜋𝑡
𝑇(𝑡) = 28,569 + (2,470 cos + 2,873 sin − 0,090 cos + 1,771 sin
13 13 13 13
6𝜋𝑡 6𝜋𝑡 8𝜋𝑡 8𝜋𝑡
− 0,755 cos + 0.668 sin + 0,881 cos − 0,273 sin
13 13 13 13
10𝜋𝑡 10𝜋𝑡 12𝜋𝑡 12𝜋𝑡
+ 0,428 cos + 1,596 sin − 2,420 cos + 1,152 sin )
13 13 13 13

Grafik 4.29.Pola Perubahan Harian Suhu Udara di titik 5 pada ketinggian 10cm

4. Kelembaban Udara terhadap waktu pada ketinggian 10 cm


2𝜋𝑡 2𝜋𝑡 4𝜋𝑡 4𝜋𝑡
𝑅𝐻(𝑡) = 82,769 + (−12,508 cos − 9,428 sin − 2,848 cos − 7,557 sin
13 13 13 13
6𝜋𝑡 6𝜋𝑡 8𝜋𝑡 8𝜋𝑡
+ 3,108 cos − 1,825 sin + 1,404 cos + 3,259 sin
13 13 13 13
10𝜋𝑡 10𝜋𝑡 12𝜋𝑡 12𝜋𝑡
+ 0,554 cos + 0,314 sin + 3,236 cos − 0,303 sin )
13 13 13 13

Grafik 4.30.Pola Perubahan Harian Kelembaban Udara di titik 5 pada ketinggian


10cm

41
5. Kelembaban udara terhadap waktu pada ketinggian 1 m
2𝜋𝑡 2𝜋𝑡 4𝜋𝑡 4𝜋𝑡
𝑅𝐻(𝑡) = 83,462 + (−11,614 cos − 9,007 sin − 2,569 cos − 7,242 sin
13 13 13 13
6𝜋𝑡 6𝜋𝑡 8𝜋𝑡 8𝜋𝑡
+ 2,858 cos − 2.215 sin + 1,822 cos + 2,678 sin
13 13 13 13
10𝜋𝑡 10𝜋𝑡 12𝜋𝑡 12𝜋𝑡
+ 0,537 cos + 0,379 sin + 3,208 cos − 0,570 sin )
13 13 13 13

Grafik 4.31.Pola Perubahan Harian Kelembaban Udara di titik 5 pada ketinggian


1m

4.1.7. Analisis Data Pola Perubahan Harian Suhu Permukaan, Suhu Udara, dan
Kelembaban Udara Di Titik 7

1. Suhu Permukaan terhadap waktu pada titik 7


2𝜋𝑡 2𝜋𝑡 4𝜋𝑡 4𝜋𝑡 6𝜋𝑡
𝑇(𝑡) = 23 + (2,384 cos + 4,354 sin − 1,415 cos + 3,120 sin − 1,534 cos
13 13 13 13 13
6𝜋𝑡 8𝜋𝑡 8𝜋𝑡 10𝜋𝑡
+ 0,416 sin − 0,573 cos − 0,634 sin − 0,058 cos
13 13 13 13
10𝜋𝑡 12𝜋𝑡 12𝜋𝑡
+ 0,766 sin − 1,270 cos + 0,634 sin )
13 13 13

42
Grafik 4.32.Pola Perubahan Harian Suhu Permukaan di titik 7.

2. Nilai Suhu udara terhadap waktu pada ketinggian 10 cm


2𝜋𝑡 2𝜋𝑡 4𝜋𝑡 4𝜋𝑡
𝑇(𝑡) = 27,592 + (1,900 cos + 1,494 sin + 0,382 cos + 0,836 sin
13 13 13 13
6𝜋𝑡 6𝜋𝑡 8𝜋𝑡 8𝜋𝑡
− 0,582 cos − 0,454 sin + 0.070 cos − 0,680 sin
13 13 13 13
10𝜋𝑡 10𝜋𝑡 12𝜋𝑡 12𝜋𝑡
+ 0,266 cos + 0.098 sin − 0,448 cos + 0.349 sin )
13 13 13 13

Grafik 4.33.Pola Perubahan Harian Suhu Udara di titik 7 pada ketinggian 10cm

3. Nilai Suhu Udara terhadap waktu pada ketinggian 1 m


2𝜋𝑡 2𝜋𝑡 4𝜋𝑡 4𝜋𝑡
𝑇(𝑡) = 27,592 + (1,486 cos + 1,300 sin + 0,301 cos + 0,892 sin
13 13 13 13
6𝜋𝑡 6𝜋𝑡 8𝜋𝑡 8𝜋𝑡
− 0,373 cos − 0,341 sin + 0,213 cos − 0,584 sin
13 13 13 13
10𝜋𝑡 10𝜋𝑡 12𝜋𝑡 12𝜋𝑡
+ 0,209 cos + 0,178 sin − −0,650 cos + 0,297 sin )
13 13 13 13

43
Grafik 4.34.Pola Perubahan Harian Suhu Udara di titik 7 pada ketinggian 1m

4. Nilai Kelembaban udara terhadap waktu pada ketinggian 10 cm


2𝜋𝑡 2𝜋𝑡 4𝜋𝑡 4𝜋𝑡
𝑅𝐻(𝑡) = 83,462 + (−12,083 cos − 8,698 sin − 2,413 cos − 6,664 sin
13 13 13 13
6𝜋𝑡 6𝜋𝑡 8𝜋𝑡 8𝜋𝑡
+ 2,135 cos − 1,037 sin + 1,188 cos + 2,939 sin
13 13 13 13
10𝜋𝑡 10𝜋𝑡 12𝜋𝑡 12𝜋𝑡
− 0,014 cos + 0,515 sin + 3,437 cos − 1,082 sin )
13 13 13 13

Grafik 4.35.Pola Perubahan Harian Kelembaban Udara di titik 7 pada ketinggian


10 cm

44
5. Nilai Kelembaban udara terhadap waktu pada ketinggian 1 m
2𝜋𝑡 2𝜋𝑡 4𝜋𝑡 4𝜋𝑡
𝑅𝐻(𝑡) = 83,615 + (−12,076 cos − 8,100 sin − 2,885 cos − 5,976 sin
13 13 13 13
6𝜋𝑡 6𝜋𝑡 8𝜋𝑡 8𝜋𝑡
+ 1,295 cos − 0,600 sin + 0,200 cos + 2,624 sin
13 13 13 13
10𝜋𝑡 10𝜋𝑡 12𝜋𝑡 12𝜋𝑡
− 0,153 cos − 0,692 sin + 4,715 cos − 1,849 sin )
13 13 13 13

Grafik 4.36.Pola Perubahan Harian Kelembaban Udara di titik 7 pada ketinggian


1m

4.1.8. Analisis Data Pola Perubahan Harian Suhu Permukaan, Suhu Udara, dan
Kelembaban Udara Di Titik 9

1. Nilai Suhu Permukaan terhadap waktu pada titik 9.


2𝜋𝑡 2𝜋𝑡 4𝜋𝑡 4𝜋𝑡 6𝜋𝑡
𝑇(𝑡) = 23 + (2,667 cos + 4,368 sin − 1,718 cos + 3,382 sin − 1,562 cos
13 13 13 13 13
6𝜋𝑡 8𝜋𝑡 8𝜋𝑡 10𝜋𝑡
+ 0,044 sin − 0,374 cos − 0,542 sin − 0,052 cos
13 13 13 13
10𝜋𝑡 12𝜋𝑡 12𝜋𝑡
+ 0,821 sin − 1,348 cos + 0,745 sin )
13 13 13

45
Grafik 4.37.Pola Perubahan Harian Suhu Permukaan di titik 9.

2. Nilai Suhu udara pada ketinggian 10 cm


2𝜋𝑡 2𝜋𝑡 4𝜋𝑡 4𝜋𝑡
𝑇(𝑡) = 28,454 + (1,966 cos + 3,569 sin − 1,460 cos + 1,679 sin
13 13 13 13
6𝜋𝑡 6𝜋𝑡 8𝜋𝑡 8𝜋𝑡
− 1,310 cos − 1,898 sin + 1,467 cos − 1,566 sin
13 13 13 13
10𝜋𝑡 10𝜋𝑡 12𝜋𝑡 12𝜋𝑡
+ 1,240 cos + 1,311 sin − 1,771 cos + 1,374 sin )
13 13 13 13

Grafik 4.38.Pola Perubahan Harian Suhu Permukaan di titik 9 pada ketinggian 10


cm

46
3. Nilai Suhu Udara terhadap waktu pada ketinggian 1 m
2𝜋𝑡 2𝜋𝑡 4𝜋𝑡 4𝜋𝑡
𝑇(𝑡) = 27,454 + (1,679 cos + 1,826 sin + 0,423 cos + 1,032 sin
13 13 13 13
6𝜋𝑡 6𝜋𝑡 8𝜋𝑡 8𝜋𝑡
− 0,770 cos − 0,061 sin + 0,048 cos − 0,640 sin
13 13 13 13
10𝜋𝑡 10𝜋𝑡 12𝜋𝑡 12𝜋𝑡
+ 0,097 cos − 0,236 sin − 0,451 cos + 0,250 sin )
13 13 13 13

Grafik 4.39.Pola Perubahan Harian Suhu udara di titik 9 pada ketinggian 1m

4. Nilai Kelembaban udara terhadap waktu pada ketinggian 10 cm


2𝜋𝑡 2𝜋𝑡 4𝜋𝑡 4𝜋𝑡
𝑅𝐻(𝑡) = 83,615 + (−12,308 cos − 7,339 sin − 1,355 cos − 6,895 sin
13 13 13 13
6𝜋𝑡 6𝜋𝑡 8𝜋𝑡 8𝜋𝑡
+ 2,440 cos − 0,789 sin − 0,080 cos + 2,986 sin
13 13 13 13
10𝜋𝑡 10𝜋𝑡 12𝜋𝑡 12𝜋𝑡
− 0,304 cos + 0,803 sin + 3,710 cos − 0,754 sin )
13 13 13 13

Grafik 4.39.Pola Perubahan Harian Kelembaban Udara di titik 9 pada ketinggian


10cm

47
5. Nilai Kelembaban udara terhadap waktu pada ketinggian 1 m
2𝜋𝑡 2𝜋𝑡 4𝜋𝑡 4𝜋𝑡
𝑅𝐻(𝑡) = 83,308 + (−12,617 cos − 7,971 sin − 1,895 cos − 7,096 sin
13 13 13 13
6𝜋𝑡 6𝜋𝑡 8𝜋𝑡 8𝜋𝑡
+ 2,332 cos − 1,227 sin − 0,064 cos + 2,399 sin
13 13 13 13
10𝜋𝑡 10𝜋𝑡 12𝜋𝑡 12𝜋𝑡
+ 0,229 cos + 0,274 sin + 4,419 cos − 1,617 sin )
13 13 13 13

Grafik 4.40.Pola Perubahan Harian Kelembaban Udara di titik 9 pada ketinggian


1m

4.1.9. Analisis Data Pola Perubahan Harian Suhu Permukaan, Suhu Udara, dan
Kelembaban Udara Di Titik 16

1. Nilai Suhu Permukaan terhadap waktu pada titik 16


2𝜋𝑡 2𝜋𝑡 4𝜋𝑡 4𝜋𝑡 6𝜋𝑡
𝑇(𝑡) = 24 + (2,538 cos + 4,217 sin − 1,476 cos + 3,631 sin − 1,571 cos
13 13 13 13 13
6𝜋𝑡 8𝜋𝑡 8𝜋𝑡 10𝜋𝑡
+ 0,364 sin − 0,491 cos − 0,614 sin − 0,087 cos
13 13 13 13
10𝜋𝑡 12𝜋𝑡 12𝜋𝑡
+ 0,782 sin − 1,529 cos + 1,331 sin )
13 13 13

48
Grafik 4.41.Pola Perubahan Harian Suhu Permukaan di titik 16

2. Nilai Suhu udara pada ketinggian 10 cm


2𝜋𝑡 2𝜋𝑡 4𝜋𝑡 4𝜋𝑡
𝑇(𝑡) = 27,277 + (1,693 cos + 1,668 sin + 0,591 cos + 1,162 sin
13 13 13 13
6𝜋𝑡 6𝜋𝑡 8𝜋𝑡 8𝜋𝑡
− 0,477 cos + 0,139 sin − 0,220 cos − 0,545 sin
13 13 13 13
10𝜋𝑡 10𝜋𝑡 12𝜋𝑡 12𝜋𝑡
− 0,068 cos − 0,291 sin − 0,416 cos + 0,104 sin )
13 13 13 13

Grafik 4.42.Pola Perubahan Harian SuhuUdara di titik 9 pada ketinggian 10 cm

3. Nilai Suhu udara terhadap waktu pada ketinggian 1 m


2𝜋𝑡 2𝜋𝑡 4𝜋𝑡 4𝜋𝑡
𝑇(𝑡) = 27,492 + (2,084 cos + 1,871 sin − 0,436 cos + 1,058 sin
13 13 13 13
6𝜋𝑡 6𝜋𝑡 8𝜋𝑡 8𝜋𝑡
− 0,638 cos + 0,052 sin − 0,151 cos − 0,936 sin
13 13 13 13
10𝜋𝑡 10𝜋𝑡 12𝜋𝑡 12𝜋𝑡
+ 0,221 cos − 0,199 sin − 0,290 cos + 0,455 sin )
13 13 13 13

49
Grafik 4.43.Pola Perubahan Harian Suhu Udara di titik 9 pada ketinggian 1 m

4. Nilai Kelembaban udara pada ketinggian 10 cm


2𝜋𝑡 2𝜋𝑡 4𝜋𝑡 4𝜋𝑡
𝑅𝐻(𝑡) = 84,000 + (−11,600 cos − 8,316 sin − 2,262 cos − 6,218 sin
13 13 13 13
6𝜋𝑡 6𝜋𝑡 8𝜋𝑡 8𝜋𝑡
+ 2,023 cos + 0,018 sin + 0,414 cos + 3,395 sin
13 13 13 13
10𝜋𝑡 10𝜋𝑡 12𝜋𝑡 12𝜋𝑡
− 0,408 cos − 0,126 sin + 3,543 cos − 1,475 sin )
13 13 13 13

Grafik 4.44.Pola Perubahan Harian KelembabanUdara di titik 9 pada ketinggian


10cm

50
5. Nilai Kelembaban udara pada ketinggian 1 m
2𝜋𝑡 2𝜋𝑡 4𝜋𝑡 4𝜋𝑡
𝑅𝐻(𝑡) = 84,308 + (−11,171 cos − 7,877 sin − 2,815 cos − 6,195 sin
13 13 13 13
6𝜋𝑡 6𝜋𝑡 8𝜋𝑡 8𝜋𝑡
+ 1,843 cos − 0,195 sin + 0,565 cos + 3,301 sin
13 13 13 13
10𝜋𝑡 10𝜋𝑡 12𝜋𝑡 12𝜋𝑡
− 0,183 cos + 0,651 sin + 3,167 cos − 1,214 sin )
13 13 13 13

Grafik 4.45.Pola Perubahan Harian Kelembaban Udara di titik 9 pada ketinggian


1m

4.1.10. Analisis Data Pola Perubahan Harian Suhu Permukaan, Suhu Udara, dan
Kelembaban Udara Di Titik 32

1. Nilai Suhu Permukaan pada titik 32


2𝜋𝑡 2𝜋𝑡 4𝜋𝑡 4𝜋𝑡 6𝜋𝑡
𝑇(𝑡) = 22 + (1,893 cos + 2,690 sin + 0,556 cos + 2,369 sin − 1,141 cos
13 13 13 13 13
6𝜋𝑡 8𝜋𝑡 8𝜋𝑡 10𝜋𝑡
+ 1,788 sin − 1,396 cos + 0,224 sin − 1,067 cos
13 13 13 13
10𝜋𝑡 12𝜋𝑡 12𝜋𝑡
+ 0,131 sin − 0,396 cos − 0,823 sin )
13 13 13

51
Grafik 4.46.Pola Perubahan Harian Suhu Permukaan pada titik 32

2. Nilai Suhu Udara pada ketinggian 10 cm


2𝜋𝑡 2𝜋𝑡 4𝜋𝑡 4𝜋𝑡
𝑇(𝑡) = 26,700 + (0,511 cos + 0,189 sin + 0,847 cos + 0,088 sin
13 13 13 13
6𝜋𝑡 6𝜋𝑡 8𝜋𝑡 8𝜋𝑡
+ 0,988 cos − 0,383 sin + 0,931 cos + 0,482 sin
13 13 13 13
10𝜋𝑡 10𝜋𝑡 12𝜋𝑡 12𝜋𝑡
− 0,339 cos + 1.264 sin − 1,650 cos + 0,919 sin )
13 13 13 13

Grafik 4.47.Pola Perubahan Harian Suhu Udaradi titik 32 pada ketinggian 10 cm

52
3. Nilai Suhu Udara pada ketinggian 1 m
2𝜋𝑡 2𝜋𝑡 4𝜋𝑡 4𝜋𝑡
𝑇(𝑡) = 27,515 + (1,350 cos + 1,414 sin + 0,190 cos + 1,456 sin
13 13 13 13
6𝜋𝑡 6𝜋𝑡 8𝜋𝑡 8𝜋𝑡
− 0,576 cos + 0,017 sin − 0,223 cos − 0,744 sin
13 13 13 13
10𝜋𝑡 10𝜋𝑡 12𝜋𝑡 12𝜋𝑡
− 0,040 cos − 0,139 sin − 0,234 cos + 0,029 sin )
13 13 13 13

Grafik 4.48.Pola Perubahan Harian Suhu Udara di titik 32 pada ketinggian 1m

4. Nilai Kelembaban udara pad ketinggian 10 cm


2𝜋𝑡 2𝜋𝑡 4𝜋𝑡 4𝜋𝑡
𝑅𝐻(𝑡) = 85,000 + (−10,326 cos − 7,820 sin − 1,542 cos − 5,949 sin
13 13 13 13
6𝜋𝑡 6𝜋𝑡 8𝜋𝑡 8𝜋𝑡
+ 1,956 cos − 0,065 sin + 0,474 cos + 2,749 sin
13 13 13 13
10𝜋𝑡 10𝜋𝑡 12𝜋𝑡 12𝜋𝑡
− 0,438 cos − 0,410 sin + 3,567 cos − 1,770 sin )
13 13 13 13

Grafik 4.49.Pola Perubahan Harian Kelembaban Udara di titik 32 pada ketinggian

53
10 cm

5. Nilai Kelembaban Udara pada ketinggian 1 m


2𝜋𝑡 2𝜋𝑡 4𝜋𝑡 4𝜋𝑡
𝑅𝐻(𝑡) = 83,923 + (−12,208 cos − 8,669 sin − 3,112 cos − 7,580 sin
13 13 13 13
6𝜋𝑡 6𝜋𝑡 8𝜋𝑡 8𝜋𝑡
+ 2,039 cos − 2,704 sin + 1,417 cos + 0,597 sin
13 13 13 13
10𝜋𝑡 10𝜋𝑡 12𝜋𝑡 12𝜋𝑡
+ 1,149 cos − 1,413 sin + 5,480 cos − 1,633 sin )
13 13 13 13

Grafik 4.50.Pola Perubahan Harian Kelembaban Udara di titik 32 pada ketinggian


1m

4.2. Pembahasan Hasil Analisis Data Pola Perubahan Harian Suhu


Permukaan, Suhu Udara, dan Kelembaban Udara

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengukuran suhu udara, suhu


permukaan, dan kelembaban udara yang terukur untuk tiap titik memiliki nilai
yang berbeda untuk tiap waktu.
Perubahan harian pada titik -3 dan -1 untuk suhu permukaan dan suhu udara
jika ditinjau dari Grafik 4.1, Grafik 4.2, Grafik 4.3, Grafik 4.6, Grafik 4.7, dan
Grafik 4.8 menunjukan nilai suhu rata-rata maksimal mencapai nilai ± 40 oC, hal
ini dikarenakan pengaruh keadaan cuaca yang sangat terik saat pengambilan data,
dan selain itu juga pada titik -3 dan -1 merupakan titik pengukuran diluar dari
kawasan hutan mangrove, dimana tidak terdapat vegatasi yang menutupi titik

54
tersebut, dan terletak tepat di aspal, namun ketika keadaan cuaca mulai berawan
dan mendung suhu permukaan dan udarapun mulai rendah yang mengakibatkan
nilai kelembaban udara bertamabah, seperti yang tercantum dalam Grafik 4.9, dan
Grafik 4.10.
Sedangkan untuk titik 0 dan 1, untuk perubahan harian suhu permukaan dan
suhu udara jika ditinjau dari Grafik 4.11, Grafik 4.12, Grafik 4.13 menunjukan
nilai suhu rata-rata maksimal mencapai nilai ± 30 oC, dan nilai kelembaban
maksimalnya mancapai nilai nilai ± 90 %.
Selanjutnya untuk hasil pengukuran di titik 3, 5, 7, 9,16, dan, 32 menunjukan
bawah hasil pengukuran tidak jauh-jauh berbeda, Adapun faktor-faktor yang
mempengaruhi tidak terjadinya perbedaan suhu yang signifikan adalah
dikarenakan saat itu kondisi cuaca yang konstan.

55
BAB V
PENUTUP
5.1.Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan pada penelitian ini dapat disimpulkan
bahwa 1) Suhu Udara, Suhu Permukaan, dan Kelembaban udara berubah setiap
waktu. Hasil pengukuran suhu rata-rata maksimal terdapat di titik -3 dan -1 yaitu
mencapai nilai ± 40 oC. Grafik yang dihasilkan mengikuti pola tertentu dan
menunjukkan bahwa suhu dan kelembaban yang terukur untuk tiap titik
mengalami peningkatan dan penurunan pada tiap jam dan berbeda pada tiap
ruang, tergantung pada kondisi cuaca, namun secara umum tren pola perubahan
suhu dan kelembaban tidak jauh berbeda.

5.2.Saran
Saran yang dapat diberikan dari penelitian ini yaitu: Hasil penelitian ini dapat
digunakan sebagai penelitian lanjutan tentang pengaruh perubahan suhu terhadap
kelebaban, atau pun referensi lainnya.

56