Anda di halaman 1dari 34

PEDOMAN PELAYANAN

UNIT GIZI
RUMAH SAKIT UMUM
PINDAD

TAHUN
2019
Lampiran Surat Keputusan Direktur Rumah Sakit Umum Pindad
Nomor : Skep/31/RSU-P/IX/2019
Tanggal : 26 September 2019

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Dalam melaksanakan pelayanan gizi di rumah sakit
diperlukan sumber daya manusia yang kompoten, sarana dan
prasarana yang memadai, agar pelayanan gizi yang di laksanakan
memenuhi standar yang telah di tetapkan. Pelayanan gizi
merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan di rumah
sakit, yang saling menunjang dan tidak dipisahkan dengan
pelayanan. Kesehatan dan gizi merupakan faktor penting karena
secara langsung berpengaruh terhadap kualitas SDM di suatu
negara, yang digambarkan melalui pertumbuhan ekonomi, umur
harapan hidup dan tingkat pendidikan. Tingkat pendidikan yang
tinggi hanya dapat dicapai oleh orang yang sehat dan berstatus gizi
baik.
Masalah gizi klinis adalah masalah gizi yang ditinjau secara
individual mengenai apa yang terjadi dalam tubuh seseorang, yang
seharusnya ditanggulangi secara individu. Demikian pula masalah
gizi pada berbagai keadaan sakit yang secara langsung ataupun
tidak langsung mempengaruhi proses penyembuhan, harus
diperhatikan secara individual. Adanya kecendrungan peningkatan
kasus penyakit yang terkait dengan nutrition related disease pada
semua kelompok rentan dari ibu hamil, bayi, anak, remaja, dewasa
dan usia lanjut, semakin dirasakan perlunya penanganan khusus.
Semua ini memerlukan pelayanan gizi yang bermutu untuk
mempertahankan status gizi yang optimal, sehingga tidak terjadi
kurang gizi dan untuk mempercepat penyembuhan.
Resiko kurang gizi akan muncul secara klinis pada orang
sakit, terutama pada penderita anoreksia, kondisi mulut/gigi geligi
buruk serta kesulitan menelan, penyakit saluran cerna disertai
mual, muntah dan diare, infeksi berat, usila tidak sadar dalam
waktu lama, kegagalan fungsi saluran cerna dan pasien yang

1
mendapat kemoterapi. Fungsi organ yang terganggu akan lebih
terganggu lagi dengan adanya penyakit dan kekurangan gizi.
Disamping itu masalah gizi lebih dan obesitas yang erat
hubungannya dengan penyakit degeneratif, seperti diabetes
melitus, penyakit jantung koroner dan darah tinggi, penyakit
kanker, memerlukan terapi gizi medis untuk penyembuhan
Pelayanan gizi di rumah sakit merupakan hak setiap orang,
memerlukan adanya sebuah pedoman agar diperoleh hasil
pelayanan yang bermutu. Pelayanan gizi yang bermutu di rumah
sakit akan membantu mempercepat proses penyembuhan pasien,
yang berarti pula memperpendek lama hari rawat sehingga dapat
menghemat biaya pengobatan. Keuntungan lain jika pasien cepat
sembuh adalah mereka dapat segera kembali mencari nafkah
untuk diri dan keluarganya. Sehingga pelayanan gizi yang
disesuaikan keadaan pasien dan berdasarkan keadaan klinis,
status gizi, dan status metabolisme tubuhnya. Keadaan gizi pasien
sangat berpengaruh pada proses penyembuhan penyakit,
sebaliknya proses perjalanan penyakit dapat berpengaruh terhadap
keadaan gizi pasien. Sering terjadi kondisi klien/ pasien semakin
buruk karena tidak di perhatikan keadaan gizi.
Terapi gizi menjadi salah satu faktor penunjang utama
penyembuhan tentunya harus diperhatikan agar pemberian tidak
tidak melebihi kemampuan organ tubuh untuk melaksanakan fungsi
metabolisme. Terapi gizi harus selalu disesuaikan seiring dengan
perubahan fungsi organ selama proses penyembuhan. Dengan
kata lain, pemberian diet pasien harus dievaluasi dan diperbaiki
sesuai dengan perubahan keadaan klinis dan hasil pemeriksaan
laboratorium, baik pasien rawat inap maupun rawat jalan. Upaya
peningkatan status gizi dan kesehatan masyarakat baik di dalam
maupun di luar rumah sakit, merupakan tugas dan tanggung- jawab
tenaga kesehatan, terutama tenaga yang bergerak di bidang gizi.

2
B. TUJUAN PEDOMAN
Pedoman Pelayanan unit gizi Mempunyai Tujuan :
1. Umum
Bertujuan mewujudkan pelayanan unit gizi yang prima,
bermutu dan aman
2. Khusus
a. Tercapainya penyelenggaraan pelayanan unit asuhan
gizi yang bermutu sesuai standar pelayanan minimal
rumah sakit
b. Terselenggaranya kebutuhan makanan sesuai standar
kebutuhan gizi dan aman dikonsumsi.
c. Terselenggaranya penyuluhan dan konseling gizi pada
pasien dan keluarga
d. Terpenuhinya kebutuhan standar minimal tenaga
profesional di bidang unit gizi
e. Terpenuhinya sarana prasarana pelayanan unit gizi
sesuai standar yang berlaku
C. RUANG LINGKUP PELAYANAN
Ruang lingkup kegiatan pokok pelayanan gizi di rumah sakit terdiri
dari:
1. Asuhan Gizi Pasien Rawat Inap
2. Penyelenggaraan Makanan
Untuk meningkatkan pelayanan paripurna kepada pasien,
maka perlu dibentuk Tim Asuhan Gizi yang bertugas
menyelenggarakan rawat inap.

D. BATASAN OPERASIONAL
Batasan Operasional ini merupakan batasan istilah, sesuai
dengan kerangka konsep pelayanan gizi di rumah sakit yang
tertuang didalam pedoman pelayanan gizi
1. Pelayanan Gizi Rumah Sakit: adalah kegiatan pelayanan gizi
di rumah sakit untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat
rumah sakit baik rawat inap maupun rawat jalan, untuk

3
keperluan metabolisme tubuh, peningkatan kesehatan,
maupun mengoreksi kelainan metabolisme, dalam rangka
upaya preventif, kuratif, rehabilitatif, dan promotif.
2. Pelayanan Gizi: adalah rangkaian kegiatan terapi gizi medis
yang dilakukan di institusi kesehatan (rumah sakit),
puskesmas dan institusi kesehatan lain untuk memenuhi
kebutuhan gizi klien/ pasien. Pelayanan gizi merupakan upaya
promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif dalam rangka
meningkatkan kesehatan klien/ pasien.
3. Tim Asuhan Gizi: adalah sekelompok petugas rumah sakit
yang terkait dengan pelayanan gizi terdiri dari dokter/ dokter
spesialis, nutrisionst/dietisien, dan perawat dari setiap unit
pelayanan bertugas menyelenggarakan asuhan gizi (nutrition
care) untuk mencapai pelayanan paripurna yang bermutu.
4. Terapi Gizi Medis: adalah pelayanan gizi khusus untuk
peyembuhan penyakit baik akut maupun kronis atau kondisi
luka- luka, serta merupakan suatu penilaian terhadap kondisi
klien/ pasien sesuai dengan intervensi yang telah diberikan,
agar klien/pasien serta keluarganya dapat menerapkan
rencana diet yang telah disusun.
5. Terapi Gizi: adalah pelayanan gizi yang diberikan kepada
klien/pasien untuk penyembuhan penyakit sesuai dengan hasil
diagnosis, termasuk konseling, baik sebelum perawatan dalam
dan sesudah perawatan.
6. Terapi Diet: adalah pelayanan dietetik yang merupakan bagian
dari terapi gizi.
7. Preskripsi Diet atau Rencana Diet: adalah kebutuhan zat gizi
klien/ pasien yang dihitung berdasarkan status gizi,
degenerasi penyakit dan kondisi kesehatannya. Preskripsi diet
dibuat oleh dokter sedangkan Rencana diet dibuat oleh
nutrisionis/dietisien.

4
8. Konseling Gizi: adalah serangkaian kegiatan sebagai proses
komunikasi2 (dua) arah untuk menanamkan dan
meningkatkan pengertian, sikap, dan perilaku sehingga
membantu klien/ pasien mengenali dan mengatasi masalah
gizi, dilaksanakan oleh nutrisionis/dietisien.
9. Nutrisionis: seseorang yang diberi tugas, tanggung jawab dan
wewenang secara penuh oleh pejabat berwenang untuk
melakukan kegiatan teknis fungsional di bidang pelayanan
gizi, makanan, dan dietetik, baik di masyarakat maupun rumah
sakit, dan unit pelaksana kesehatan lainnya, berpendidikan
dasar akademi gizi.
10. Dietisien: adalah seorang nutrisionis yang telah mendalami
pengetahuan dan keterampilan dietetik, baik melalui lembaga
pendidikan formal maupun pengalaman bekerja dengan masa
kerja minimal satu tahun, atau yang mendapat sertifikasi dari
Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI), dan bekerja di unit
pelayanan yang menyelenggarakan terapi dietetik.
11. Food Model: adalah bahan makanan atau contoh makanan
yang terbuat dari bahan sintetis atau asli yang diawetkan,
dengan ukuran dan satuan tertentu sesuai dengan kebutuhan,
yang digunakan untuk konseling gizi, kepada pasien rawat
inap maupun pengunjung rawat jalan.
12. Tenaga Gizi adalah setiap orang yang telah lulus pendidikan
di bidang gizi sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan. Tenaga gizi meliputi Technical Registered Dietisien
(TRD), Nutrisionis Registered (NR) dan Registered Dietisien
(RD)
13. Klien: adalah pengunjung poliklinik rumah sakit, dan atau
pasien rumah sakit yang sudah berstatus rawat jalan.
Nutrition related disease: penyakit- penyakit yang
berhubungan dengan masalah gizi dan dalam tindakan serta
pengobatan memerlukan terapi gizi.

5
E. LANDASAN HUKUM
Sebagai acuan dan dasar pertimbangan dalam
penyelenggaraan pelayanan gizi di rumah sakit diperlukan
perundang- undangan pendukung (legal aspect). Beberapa
ketentuan perundang- undangan yang digunakan adalah sebagai
berikut:
1. Undang – Undang No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan.
2. Undang- Undang No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan
Konsumen.
3. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1333 tahun 1999
tentang Standar Pelayanan Rumah Sakit.
4. Keputusan Menteri Penertiban Aparatur Negara nomor 23/Kep/
M. PAN/4/2001 tentang Jabatan Fungsional Nutrisionis dan
Angka Kredit.

6
BAB II
STANDAR KETENAGAAN

A. KUALIFIKASI SUMBER DAYA MANUSIA


1. Kepala Unit Pelayanan Gizi
Kepala Unit Pelayanan Gizi adalah penganggung jawab
umum organisasi unit pelayanan gizi di sebuah rumah sakit,
yang ditetapkan oleh pimpinan rumah sakit dengan berdasarkan
ketentuan dan peraturan kepegawaian yang berlaku. Kepala
unit pelayanan gizi rumah sakit bertugas memimpin
penyelenggaraan pelayanan gizi di rumah sakit, yang pada
umumnya bertanggung jawab kepada Direktur Bidang
Penunjang Medis.
Tugas dan fungsi kepala unit pelayanan gizi di rumah sakit
meliputi:
a. Menyusun Perencanaan Pelayanan Gizi
b. Menyusun Rencana Evaluasi Pelayanan Gizi
c. Melaksanakan Pengawasan dan Pengendalian
d. Melaksanakan Pengkajian Data Kasus.
e. Melaksanakan Penelitian Dan Pengembangan
RS Umum Pindad saat ini berada pada kelas Tipe D,
Untuk melaksanakan tugas- tugas tersebut maka seorang
kepala unit pelayanan gizi rumah sakit harus memenuhi kriteria
tertentu sebagai berikut:
a. Lulusan S1- Gizi/ Kesehatan dengan Pendidikan dasar D3-
Gizi.
b. Lulusan D4 – Gizi dengan Pendidikan dasar D3- Gizi
c. Serendah- rendahnya lulusan D3 Gizi dengan pengalaman
kerja tertentu.

7
2. Pelaksana
Pelaksana yang dimaksud adalah petugas gizi yang
bertugas sebagai Juru Masak, Perbekalan, Pranata komputer,
dan Ketatausahaan
a. Juru Masak
Juru masak yaitu tenaga pengolahan bahan makanan yang
bertugas mulai dari persiapan bahan makanan hingga
pendistribusian mempunyai kriteria pendidikan SMU/ SLTP +
Kursus Masak.
b. Urusan Gudang/ Perbekalan
Tenaga urusan gudang atau perbekalan bertugas pada unit
penyimpanan bahan makanan untuk menjamin ketersediaan
dan kesiapan bahan makanan yang bermutu sesuai dengan
standar yang ditetapkan mempunyai kriteria pendidikan D1-
Gizi, SMU, atau yang sederajat.

B. PENGATURAN JAGA
Distribusi tenaga gizi disesuaikan dengan tingkat pendidikan
pada unit pelayanan gizi di rumah sakit. Adapun kegiatan
pelayanan gizi di rumah sakit adalah sebagai berikut:
 Tenaga untuk penyelenggaraan makanan
 Tenaga untuk rawat inap
Pengaturan Jaga
No Jabatan Jam Kerja
Jaga Pagi Senin – Jumat
1 Kepala Unit Pelayanan Gizi
07.00 – 16.00 WIB
Jaga Pagi 05.00 – 13.00 WIB
2 Pelaksana Juru Masak
Jaga Sore 11.00 – 19.00 WIB
Jaga Pagi 07.00 – 15.00 WIB
3 Pelaksana Urusan Gudang
Jaga Sore 13.00 – 20.00 WIB

8
BAB III
STANDAR FASILITAS

A. DENAH UNIT GIZI

D E G
A B
H2

Keterangan : A
C F

B A
K I
U

B
H1 H1 J

Keterangan :
A : Tempat Alat Memasak
B : Tempat Mencuci Alat Masak
C : Ruang Gas Elpiji
D : Tempat Memasak
E : Loker Karyawan
F : Meja Pengolahan Bahan
G : Ruang Kepala Unit Gizi
H1 : Ruang Penyimpanan Bahan Kering
H2 : Ruang Penyimpanan Bahan Basah
I : Tempat Penyajian Makanan
J : Tempat Penyimpanan Trolly Makanan
K : Tempat Penimbangan Bahan Makanan

9
B. STANDAR FASILITAS
Pelayanan Gizi RS Umum Pindad Mempunyai Standart
Fasilitas Poliklinik Gizi. Adapun Fasilitas yang ada adalah :
a. Sarana
Pantry dengan bangunan luas minimal 3x4 m / disesuaikan
dengan modal sistem distribusi makanan (sentralisasi)
b. Peralatan
Peralatan penyajian makanan
1. Water heater (aliran air panas dan dingin)
2. Bak cuci ganda
3. Meja distribusi
4. Lemari makan gantung
5. Lemari alat – alat
6. Trolly makan
7. Panci
8. Wajan
9. Alat Pengaduk dan penggoreng
10. Alat makan (piring,gelas,sendok,mangkok, dll)
11. Lemari pendingin
12. Blender
13. Sarana kebersihan dan tempat sampah bertutup serta papan
tulus
c. Sarana Penyelenggaran Makanan
Perencanaan Bangunan, Peralatan dan Perlengkapan
Agar penyelenggaraan makanan berjalan dengan optimal,
maka ruangan, peralatan dan perlengkapannya perlu
direncanakan dengan baik dan benar.Dalam merencanakan
sarana fisik dan bangunan untuk pelayanan gizi rumah sakit,
maka diperlukan kesatuan pemikiran antara perencana dan
pihak manajemen yang terkait. Oleh karena itu, diperlukan satu
tim yang memiliki keahlian yang berbeda, yang secara
langsung akan memanfaatkan hasil perencanaannya.

10
BAB IV
TATA LAKSANA PELAYANAN
A. PRODUKSI DAN DISTRIBUSI MAKANAN
1. Pengertian
Penyelenggaraan makanan rumah sakit adalah serangkaian
kegiatan mulai dari perencanaan menu sampai dengan
pendistribusian makanan kepada konsumen, dalam rangka
pencapaian status kesehatan yang optimal melalui pemberian diet
yang tepat. Dalam hal ini termasuk kegiatan pencatatan, pelaporan
dan evaluasi.
2. Tujuan
Penyelenggaraan makanan di rumah sakit dilaksanakan
dengan tujuan untuk menyediakan makanan yang berkualitas baik
dan jumlah yang sesuai kebutuhan serta pelayanan yang layak
dan memadai bagi klien atau konsumen yang membutuhkannya.
3. Bentuk Penyelenggaraan Makanan
Kegiatan penyelenggaraan makanan merupakan bagian
dari kegiatan instalasi gizi, atau unit pelayanan gizi di rumah sakit.
Sistem penyelenggaraan makanan yang dilakukan oleh RS Umum
Pindad adalah sistem swakelola, yaitu mulai instalasi bertanggung
jawab untuk melaksanakan semua kegiatan penyelenggaraan
makanan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
4. Mekanisme Kerja Penyelenggaraan Makanan
Mekanisme Kerja Penyelenggaraan Makanan meliputi:
a. Perencanaan Menu
Perencanaan Menu adalah suatu kegiatan penyusunan menu
yang akan diolah untuk memenuhi selera konsumen/ pasien,
dan kebutuhan zat gizi yang memenuhi prinsip gizi seimbang.
Tujuannya adalah tersedianya siklus menu sesuai klasifikasi
pelayanan yang ada di rumah sakit , misalnya siklus menu 10
hari

11
b. Pemesanan dan Pembelian Bahan Makanan
Pemesanan adalah penyusunan permintaan (order) bahan
makanan berdasarkan menu atau pedoman menu dan rata-
rata jumlah konsumen atau pasien yang dilayani.
Tujuannya adalah agar tersedianya daftar pesanan bahan
makanan sesuai standart atau spesifikasi yang ditetapkan.
Adapun persyaratan Pemesanan dan Pembelian Bahan
Makanan adalah sebagai berikut:
 Adanya kebijakan rumah sakit tentang pengadaan bahan
makanan
 Adanya surat perjanjian dengan bagian logistik rekanan
 Adanya spesifikasi bahan makanan
 Adanya daftar pesanan bahan makanan
 Tersedianya dana
Sehingga untuk melakukan pemesanan bahan Makanan harus
mempunyai langkah- langkah sebagai berikut:
 Ahli gizi membuat rekapitulasi kebutuhan bahan makanan
untuk esok hari dengan cara: standar porsi x jumlah
pasien.
 Hasil perhitungan diserahkan ke bagian gudang logistik
 Bagian gudang menyiapkan bahan makanan sesuai
dengan permintaan.
 Bagian pengolahan mengambil bahan makanan yang
dipesan (order)
5. Penerimaan, Penyimpanan dan penyaluran Bahan Makanan
a. Penerimaan Bahan Makanan
Penerimaan Bahan Makanan adalah suatu kegiatan
yang meliputi pemeriksaan / penelitian, pencatatan dan
pelaporan tentang macam, kualitas dan kuantitas bahan
makanan yang diterima sesuai dengan pesanan serta
spesifikasi yang telah ditetapkan.

12
Tujuannya adalah tersedianya bahan makanan yang siap untuk
diolah.Persyaratannya adalah:
1) Tersedianya rincian pesanan bahan makanan harian berupa
macam dan jumlah bahan makanan yang akan diterima.
2) Tersedianya spesifikasi bahan makanan yang telah
ditetapkan
Langkah- langkah Penerimaan Bahan Makanan:
1) Setelah bahan makanan diambil dari gudang logistik
kemudian diperiksa satu persatu, untuk mengetahui ada
barang yang ada, kurang atau berlebih.
2) Kemudian bahan makanan disimpan di gudang
penyimpanan kecil sesuai jenis- jenis barang.
3) Esok harinya masing- masing bagian pengolahan
mengambil bahan makanan sesuai dengan kebutuhannya.
b. Penyimpanan Bahan Makanan
Penyimpanan Bahan Makanan adalah suatu tata cara
menata, menyimpan, memelihara keamanan bahan makanan
kering dan basah baik kualitas maupun kuantitas di gudang
bahan makanan kering dan basah serta pencatatan dan
pelaporannya. Tujuannya agar tersedianya bahan makanan
siap pakai dengan kualitas dan kuantitas yang tepat sesuai
dengan perencanaan. Untuk memenuhi hal ini maka harus
memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1) Adanya sistem penyimpanan barang
2) Tersedianya fasilitas ruang penyimpanan bahan makanan
sesuai persyaratan.
3) Tersedianya kartu stok/buku catatan keluar masuk bahan
makanan.
c. Penyaluran Bahan Makanan
Penyaluran Bahan Makanan adalah tata cara
mendistribusikan bahan makanan berdasarkan permintaan
harian. Tujuannya agar tersedianya bahan makanan siap pakai

13
dengan kualitas dan kuantitas yang sesuai dengan pesanan.
Sehingga harus mempunyai persyaratan sebagai berikut:
1) Adanya bon permintaan bahan makanan
2) Tersedianya kartu stok/ buku catatan keluar masuk
makanan
6. Persiapan Bahan Makanan
Persiapan bahan makanan adalah serangkaian
kegiatan dalam penanganan bahan makanan, yaitu meliputi
berbagai proses antara lain membersihkan, memotong, mengupas,
mengupas, mengocok, merendam. Tujuannya adalah
mempersiapkan bahan- bahan makanan, serta bumbu- bumbu
sebelum dilakukan kegiatan pemasakan. Sehingga untuk
melakukan persiapan bahan makanan harus mempunyai
persyaratan sebagai berikut:
 Tersedianya bahan makanan yang akan dipersiapkan
 Tersedianya peralatan persiapan
 Tersedianya protap persiapan
 Tersedianya aturan proses – proses persiapan
7. Pengolahan Bahan Makanan
Pengolahan bahan makanan merupakan suatu kegiatan
mengubah (memasak) bahan makanan mentah menjadi makanan
yang siap dimakan, berkualitas, dan aman untuk dikonsumsi.
Tujuannya pengolahan bahan makanan adalah:
 Mengurangi resiko kehilangan zat- zat gizi bahan makanan.
 Meningkatkan nilai cerna
 Meningkatkan dan mempertahankan warna, rasa keempukan
dan penampilan makanan.
 Bebas dari organisme dan zat yang berbahaya untuk tubuh.
Untuk dapat memenuhi hal tersebut, harus memenuhi
persyaratan sebagai berikut: Tersedianya siklus menu.
 Tersedianya peraturan pengguna bahan tambahan
pangan (BTP)

14
 Tersedianya bahan makanan yang akan diolah.
 Tersedianya peralatan pengolahan bahan makanan
 Tersedianya aturan penilaian.
 Tersedianya prosedur tetap pengolahan.
8. Pendistribusian Makanan
Pendistribusian Makanan adalah serangkaian kegiatan
penyaluran makanan sesuai dengan jumlah porsi dan jenis
makanan konsumen yang dilayani (makanan biasa maupun
makanan khusus.) Tujuannya agar konsumen mendapat makanan
sesuai diet dan ketentuan yang berlaku. Agar pendistribusian
makanan dapat berjalan dengan baik harus memenuhi persyaratan
sebagai berikut:
 Tersedianya standar pemberian makanan rumah sakit
menyangkut standar penyediaan energi dan zat gizi lainnya
serta dietetika.
 Tersedianya standar porsi yang ditetapkan rumah sakit
 Adanya peraturan pengambilan makanan
 Adanya bon permintaan makanan.
 Tersedianya makanan sesuai ketentuan diet pasien/ kebutuhan
konsumen.
 Tersedianya peralatan makanan
 Tersedianya sarana pendistribusian makanan
 Tersedianya tenaga pramusaji.
 Adanya jadwal pendistribusian makanan di dapur utama.
Pendistribusian makanan yaitu pada:
Pagi : jam 06.30 WIB
Siang : jam 11.30 WIB
Sore : jam 16.30 WIB
Adapun sistem penyaluran makanan di RS Umum Pindad
adalah sistem sentralisasi maksudnya adalah makanan pasien
dibagikan dan disajikan dalam alat makan di tempat pengolahan.

15
B. PELAYANAN GIZI RAWAT INAP
Pengertian asuhan gizi rawat inap adalah serangkaian
proses kegiatan pelayanan gizi yang berkesinambungan dimulai
dari perencanaan diet hingga evaluasi rencana diet pasien di
ruang rawat inap.
Tujuannya adalah memberikan pelayanan kepada pasien
rawat inap agar memperoleh gizi yang sesuai dengan kondisi
penyakit, dalam upaya mempercepat proses penyembuhan.
Pelayanan gizi pasien rawat inap merupakan serangkaian
kegiatan selama perawatan yang meliputi :
a. Pengkajian status gizi.
b. Penentuan kebutuhan gizi sesuai dengan status gizi dan
penyakit.
c. Penentuan macam atau jenis diet, sesuai dengan penyakit
dan cara pemberian makanan
d. Konseling dan penyuluhan gizi.
e. Pemantauan evaluasi dan tindak lanjut pelayanan gizi.

C. PENYULUHAN DAN KONSULTASI DIIT


Penyuluhan gizi adalah serangkaian kegatan penyampaian
pesan-pesan giai dan kesehatan yang direncanakan dan
direncanakan dan dilaksanakan untuk menanmkan dan
meningkatkan pengertian, sikap serta perilaku posotif pasien/klien
dan lingkungannya terhadap upaya peningkatan status gizi dan
kesehatan. Penyuluhan gizi ditujukan untuk kelompok atau
golongan masyarakat masal dan target yang diharapkan adalah
pemahaman perilaku aspek kesehatan dalam kehidupan sehari-hari
Konseling gizi adalah serangkaian kegiatan sebagai proses
komunikasi dua arah yang dilaksanakan oleh Ahli Gizi/Dietisien
untuk menanamkan dan meningkatkan pengertian, sikap dan
perilaku pasien dalam mengenali dan mengatasi masalah gizi
sehingga pasien dapat memutuskan apa yang akan dilakukannya.

16
BAB V
LOGISTIK

A. PENGELOLAAN BAHAN MAKANAN


Pengelolaan bahan makanan pada Instalasi Gizi di rumah
sakit merupakan suatu aspek manajemen rumah sakit yang penting
oleh karena ketidak-efisienannya akan memberi dampak yang
negatif terhadap rumah sakit baik secara medik maupun ekonomik.
B. PEMBIAYAAN BAHAN MAKANAN
Upaya-upaya pengendalian biaya yang dapat dilakukan di rumah
sakit meliputi
a. Meningkatkan efisiensi
b. Meningkatkan kesadaran akan biaya
c. Teknik investasi
C. PERENCANAAN BAHAN MAKANAN
pengadaan bahan makanan hingga proses penyediaan
makanan matang bagi pasien dan karyawan rumah sakit, yang
meliputi :
a. Perencanaan anggaran belanja.
b. Perencanaan menu.
c. Perhitungan kebutuhan bahan makanan.
d. Prosedur pembelian bahan makanan
e. Prosedur penerimaan bahan makanan
f. Prosedur penyimpanan bahan makanan
g. Tehnik persiapan bahan makanan
h. Pengaturan pemasakan makanan
i. Cara pelayanan dan distribusi makanan
j. Pencatatan, pelaporan dan evaluasi.
D. PENGADAAN BAHAN MAKANAN
Langkah proses pengadaan dimulai dengan:
a. mereview daftar bahan yang akan diadakan,
b. menentukan jumlah masing-masing item yang akan dibeli,
c. menyesuaikan dengan situasi keuangan,

17
d. memilih metode pengadaan,
e. memilih supplier atau rekanan,
f. memonitor pengiriman barang, menerima barang dan
memeriksa,
E. PENYIMPANAN DAN DISTRIBUSI MAKANAN
Kegiatan penyimpanan atau Storage atau pergudangan, dimulai
dari datangnya barang yang diadakan sampai adanya permintaan
untuk digunakan atau distribusi.Kegiatan penyimpanan dan
distribusi diawali dengan penerimaan barang di gudang, penelitian
dan pengecekan, pencatatan pada kartu stok gudang untuk
pengendalian inventori serta barang dimasukkan dan ditempatkan
pada tempat yang telah ditentukan di dalam gudang.

18
BAB VI
KESELAMATAN PASIEN
Patient Safety (keselamatan pasien) rumah sakit adalah suatu
system dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman, hal ini
termasuk assesmen resiko, identifikasi dan pengelolaan hal yang
berhubungan dengan resiko pasien, pelaporan dan analisis insiden,
kemampuan dan analisis insiden dan tindak lanjutnya serta implementasi
solusi untuk meminimalkan timbulnya resiko.
Program patient safety bertujuan menjalin keselamatan pasien di
rumah sakit melalui pencegahan terjadinya kesalahan dalam memberikan
pelayanan kesehatan anatara lain infeksi nosokomial, pasien jatuh, pasien
decubitus, phlebitis pada pemasangan infuse, tindakan bunuh diri yang
bisa dicegah, dll
Tujuan dari program patient safety, yaitu :
1. Terciptanya budaya keselamatan pasien di rumah sakit
2. Meningkatkan akuntabilitas rumah sakit terhadap pasien dan
masyarakat
3. Menurunnya Kejadian Tak Diharapkan (KTD)
4. Terlaksananya program pencegahan sehingga tidak terjadi
pengulangan KTD
RSU Pindad menerapkan tujuh langkah keselamatan pasien
rumah sakit yang merupakan panduan komprehensif untuk menuju
keselamatan pasien.
Uraian Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien Rumah Sakit di
tingkat unit adalah sebagai berikut :
1. Bangun Kesadaran Akan Nilai Keselamatan Pasien
a. Pastikan rekan sekerja merasa mampu untuk berbicara
mengenai kepedulian mereka dan berani melaporkan bilamana
ada insiden
b. Demonstrasikan kepada seluruh personil ukuran – ukuran yang
dipakai di RSU Pindad untuk memastikan semua laporan dibuat

19
secara terbuka dan terjadi proses pembelajaran serta
pelaksanaan tindakan / solusi yang tepat.
2. Pimpin Dan Dukung Staf RS
a. Semua pimpinan unit kerja wajib memimpin gerakan
Keselamatan Pasien
b. Selalu jelaskan kepada seluruh personil tentang relevansi dan
pentingnya serta manfaat bagi mereka dengan menjalankan
gerakan Keselamatan Pasien
c. Tumbuhkan sikap kesatria yang menghargai pelaporan insiden
3. Integrasikan Aktifitas Pengelolaan Risiko
a. Dalam setiap rapat koordinasi selalu laksanakan diskusi tentang
hal – hal yang berkaitan dengan Keselamatan Pasien guna
memberikan umpan balik kepada Manajer terkait
b. Pastikan ada penilaian risiko pada individu pasien dalam proses
assesmen risiko rumah sakit
c. Lakukan proses assesmen risiko secara teratur, untuk
menentukan aksestabilitas setiap risiko , dan ambillah langkah –
langkah yang tepat untuk memperkecil risiko tersebuti
d. Pastikan penilaian risiko tersebut disampaikan sebagai
masukan ke proses assesemen dan pencatatan risiko rumah
sakit.
4. Kembangkan Sistem Pelaporan
a. Berikan semangat kepada seluruh personil untuk secara aktif
melaporkan setiap insiden yang terjadi dan insiden yang telah
dicegah tetapi tetap terjadi juga, karena mengandung bahan
pelajaran yang penting.
b. Semua insiden yang berkaitan dengan insiden keselamatan
pasien harus dilaporkan dengan form pelaporan insiden
keselamatan pasien yang dikeluarkan oleh PMKP dan
dilaporkan ke PMKP
5. Libatkan Dan Berkomunikasi Dengan Pasien
Kembangkan cara – cara komunikasi yang terbuka dengan pasien

20
a. Pastikan seluruh personil menghargai dan mendukung
keterlibatan pasien dan keluarganya bila telah terjadi insiden
b. Prioritaskan pemberitahuan kepada pasien dan keluarga
bilamana terjadi insiden dan segera berikan kepada mereka
informasi yang jelas dan benar secara tepat
c. Pastikan segera setelah kejadian, panitia menunjukkan empati
kepada pasien dan keluarganya
6. Belajar Dan Berbagi Pengalaman Tentang Keselamatan Pasien
Seluruh staf harus mampu untuk melakukan analisis akar masalah
untuk belajar bagaimana dan mengapa KTD itu timbul.
a. Diskusikan dalam jajaran unit dari hasil analisis insiden
b. Identifikasi unit atau bagian lain yang mungkin terkena dampak
di masa depan dan bagilah pengalaman tersebut secara lebih
luas
7. Cegah Cedera Melalui Implementasi Sistem Keselamatan Pasien
Gunakan informasi yang ada tentang kejadian / masalah untuk
melakukan perubahan pada system pelayanan.
Langkah Penerapan :

a. Libatkan seluruh personil dalam mengembangkan berbagai cara


untuk membuat asuhan pasien menjadi lebih baik dan lebih
aman
b. Telaah kembali perubahan – perubahan yang telah dibuat dan
pastikan pelaksanaannya.
c. Pastikan seluruh personil menerima umpan balik atas setiap
tindak lanjut tentang insiden yang dilaporkan
Selain itu program keselematan pasien di rawat inap juga
diterapkan melalui 6 (enam) Sasaran Keselamatan Pasien yaitu :
1. Ketepatan Identifikasi Pasien
Identifikasi pasien di rawat jalan menggunakan minimal 3 detail
identitas yaitu , nama pasien, tanggal lahir dan nomor rekam
medis pasien. Identifikasi di Instalasi Rawat jalan dilakukan

21
sebelum melakukan tindakan dan memberikan pengobatan
kepada pasien
2. Peningkatan Komunikasi Efektif
Komunikasi efektif akan dapat mengurangi kesalahan dan
menghasilkan peningkatan Keselamatan Pasien, Komunikasi
yang efektif adalah komunikasi yang :
a. Tepat waktu
b. Akurat
c. Lengkap
d. Jelas
e. Dipahami Oleh Pihak- Pihak Terkait
3. Peningkatan Keamanan Obat
Pemberian obat yang perlu diwaspadai adalah pemberian obat
yang sering menyebabkan KTD atau Kejadian Sentinel. Adapun
obat yang harus diwaspadai adalah : NORUM / LASA dan
Elektrolit Konsentrat
4. Kepastian Tepat Lokasi, Tepat Prosedur, Tepat Pasien Operasi
Sebelum melakukan tindakan, hendaknya dipastikan lokasi dan
prosedur secara tepat untuk menghindari kondisi yang tidak
diinginkan (KTD). Kepastian tepat lokasi perlu melibatkan
pasien.
5. Pengurangan Risiko Infeksi
Pendekatan yang dilakukan untuk mengurangi risiko infeksi
salah satunya adalah melalui cuci tangan. Cara cuci tangan
yang dilakukan di Instalasi Rawat Jalan sesuai standar WHO
yaitu menggunakan 6 langkah cuci tangan .
Adapun lima mencuci tangan adalah :
a. Sebelum kontak dengan pasien
b. Setelah kontak dengan pasien
c. Sebelum melakukan tindakan aseptic
d. Setelah terpapar cairan yang beresiko
e. Setelah kontak dengan lingkungan pasien

22
6. Pengurangan Risiko Jatuh
Beberapa langkah yang dilakukan untuk mengurangi risiko
jatuh:
a. Menyediakan kursi roda yang aman dan nyaman
b. Memastikan lorong – lorong bebas hambatan
c. Mengamati lingkungan untuk kondisi berpotensi tidak aman
dan segera dilaporkan untuk perbaikan
d. Tidak membiarkan pasien risiko jatuh tanpa pengawasan
e. Memastikan pasien yang menggunakan brancart dalam
posisi aman
f. Berkolaborasi dengan pasien atau keluarga untuk
memberikan bantuan yang dibutuhkan bagi pasien yang
beresiko jatuh

23
BAB VII
KESELAMATAN KERJA
1. PENGERTIAN
Keselamatan kerja (safety) adalah segala upaya atau
tindakan yang harus diterapkan dalam rangka menghindari
kecelakaan yang terjadi akibat kesalahan kerja petugas ataupun
kelalaian / kesengajaan.
2. TUJUAN
Menurut Undang- undang Keselamatan Kerja Tahun 1970,
Syarat- syarat keselamatan kerja meliputi seluruh aspek pekerjaan
yang berbahaya, dengan tujuan:
a) Mencegah dan mengurangi kecelakaan.
b) Mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran
c) Mencegah, mengurangi bahaya ledakan
d) Memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada waktu
kebakaran atau kejadian yang berbahaya.
e) Memberi pertolongan pada kecelakaan
f) Mencegah dan mengendalikan timbul atau menyebar luasnya
suhu, kelembaban, debu, kotoran, asap, uap, gas, hembusan
angin, cuaca, sinar atau radiasi
g) Mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja,
baik fisik/ psikis, keracunan, infeksi dan penularan
h) Menyelenggarakan penyegaran udara yang cukup
i) Memelihara kebersihan, kesehatan dan ketertiban
j) Mengamankan dan memelihara pekerjaan bongkar muat
perlakuan dan penyimpanan barang
k) Mencegah terkena aliran listrik
3. PRINSIP KESELAMATAN KERJA PEGAWAI DALAM PROSES
PENYELENGGARAAN.
a. Pengendalian teknis mencakup :
 Letak, bentuk dan kontruksi alat sesuai dengan kegiatan dan
memenuhi syarat yang telah ditentukan

24
 Ruangan dapur cukup cukup luas, denah sesuai arus kerja
dan dapur dari bahan- bahan kontruksi yang memenuhi
syarat.
 Perlengkapan alat kecil yang cukup disertai tempat
penyimpanan yang praktis
 Penerapan dan ventilasi yang cukup memenuhi syarat
 Tersedianya ruang istirahat untuk pegawai
b. Adanya pengawasan kerja yang dilakukan oleh penanggung
jawab dan terciptanya kebiasaan kerja yang baik oleh pegawai
c. Pekerjaan yang ditugaskan hendaknya sesuai dengan
kemampuan kerja dari pegawai
d. Volume kerja yang dibebankan hendaknya sesuai dengan jam
kerja yang telah ditetapkan.
e. Maintenence (perawatan) alat dilakukan secara kontinyu agar
peralatan tetap dalam kondisi yang layak dipakai
f. Adanya pendidikan mengenai keselamatan kerja bagi pegawai
g. Adanya fasilitas /peralatan pelindung keselamatan bagi
pegawai
h. Petunjuk penggunaan alat keselamatan kerja.

25
BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU
A. Pengertian
1. Pengawasan
Pengawasan merupakan salah satu fungsi manajemen
yang mengusahakan agar pekerjaan terlaksana sesuai dengan
rencana, instruksi, pedoman, standar, peraturan dan hasil yang
telah ditetapkan sebelumnya agar mencapai tujuan yang
diharapkan.
2. Pengendalian
Pengendalian merupakan bentuk atau bahan untuk
melakukan pembetulan atau perbaikan pelaksanaan yang
terjadi sesuai dengan arah yang ditetapkan. Pengertian
pengawasan dan pengendalian hampir sama. Perbedaannya
jika pengawasan mempunyai dasar hukum dan tindakan
administratif, sedangkan pengendalian tidak. Pengawasan dan
pengendalian bertujuan agar semua kegiatan- kegiatan dapat
tercapai secara berdaya guna dan berhasil guna, dilaksanakan
sesuai dengan rencana, pembagian tugas, rumusan kerja,
pedoman pelaksanaan dan peraturan perundang- undangan
yang berlaku.
3. Evaluasi/ Penilaian
Evaluasi merupakan salah satu implementasi fungsi
menajemen. Evaluasi ini bertujuan untuk menilai pelaksanan
sesuai dengan rencana dan kebijaksanaan yang disusun
sehingga dapat mencapai sasaran yang dikehendaki. Melalui
penilaian, pengelola dapat memperbaiki rencana yang lalu bila
perlu, ataupun membuat rencana program yang baru.
B. Bentuk Bentuk Pengawasan Dan Pengendalian
1. Pencatatan dan Pelaporan
Pencatatan dan pelaporan adalah serangkaian kegiatan
pengumpulan data dan pengolahan data kegiatan pelayanan

26
gizi rumah sakit dalam jangka waktu tertentu, untuk
menghasilkan bahan bagi penilaian kegiatan pelayanan gizi
rumah sakit maupun untuk pengambilan keputusan.
Kegiatan pencatatan dan pelaporan di Instalasi Gizi.
a. Pencatatan dan Pelaporan Pengadaan Makanan
 Formulir pemesanan bahan makanan harian.
 Pencatatan bahan makanan yang diterima oleh bagian
gudang instalasi gizi pada hari itu.
 Pencatatan sisa bahan makanan (harian/ bulanan),
meliputi bahan makan basah dan bahan makanan kering.
 Pencatatan data permintaan/ pesanan bahan makanan
berdasarkan bon- bon pemesanan dari masing- masing.
b. Pencatatan Dan Pelaporan Tentang Penyelenggaraan
Makanan
 Buku laporan timbang terima barang antara penggantian
rotasi (berisi pesan- pesan yang penting)
 Buku laporan pasien baru/ yang berdiet khusus.
 Buku laporan pasien baru makanan biasa
 Buku laporan pergantian/ pertukaran diet pasien.
c. Pencatatan Dan Pelaporan Tentang Perlengkapan Peralatan
Instalasi Gizi.
 Membuat kartu inventaris peralatan masak.
 Membuat kartu inventaris peralatan makan
 Membuat kartu inventaris peralatan kantor
 Buku besar tentang peralatan keseluruhan ( untuk
aimpan pinjam)
 Formulir untuk pelaporan alat- alat masak.
 Formulir daftar kekuatan pasien dalam sehari
 Laporan jumlah pasien pada pagi hari setiap harinya.
d. Pencatatan dan Pelaporan Anggaran Belanja Bahan
Makanan

27
 Pencatatan tentang pemasukan dan pemakaian bahan
makanan harian selama 1 kali putaran menu
 Perhitungan tentang rencana kebutuhan bahan makanan
untuk yang akan datang selama triwulan/ tahunan.
 Rekapitulasi tentang pemasukan dan an pemakaian
bahan makanan
 Perhitungan harga rata- rata bahan makanan per orang
perhari dalam satu kali putaran menu
 Pelaporan tentang kondite rekanan harian/tahunan
 Pencatatan tentang penggunaan bahan bakar perbulan
e. Pencatatan Dan Pelaporan Pelayanan Gizi Di Ruang Rawat
Inap.
 Buku catatan harian pasien tentang perkembangan diet,
termasuk catatan makanan sisa yang tidak dihabiskan.
 Formulir permintaan makanan untuk pasien baru
 Formulir pembatalan makanan untuk pasien pulang
 Formulir perubahan diet
 Formulir permintaan makan pagi, siang, sore.
 Laporan harian tentang kegiatan penyuluhan
f. Pemantauan jumlah sisa makan siang pasien non diit
2. Pengawas Standar Porsi
a. Untuk bahan makanan (pada) pengawasan porsi dilakukan
dengan penimbangan.
b. Untuk bahan makanan yang cair atau setengah cair seperti
susu dan bumbu dipakai gelas ukuran/liter matt, sendok
ukuran atau alat ukur lain yang sudah distandarisasi atau
bila perlu ditimbang.
c. Untuk pemotongan bentuk bahan makanan yang sesuai
untuk jenis hidangan. Dapat dipakai alat-alat pemotong.
d. Untuk memudahkan persiapan sayuran dapat diukur dengan
kontainer/panci yang standar dan bentuk sama.

28
e. Untuk mendapatkan porsi yang tetap(tidak berubah-ubah)
harus digunakan standar porsi dan standar resep.
C. Indikator Keberhasilan Pelayanan Gizi Rumah Sakit.
1. Terselenggaranya diagnosis terhadap gangguan gizi dan
metabolisme zat gizi berdasarkan anamnesis, antropometri,
gejala klinis, dan biokimia tubuh (laboratorium)
2. Terselenggaranya pengkajiann dietetik dan pola makan
berdasarkan anemnesis diet dan pola makan.
3. Terwujudnya penentuan kebutuhan gizi sesuai keadaan pasien
4. Terwujutnya bentuk pembelian bahan makanan, pemilihan
bahan makanan, jumlah pemberian serta cara pengolahan
bahan makanan.
D. MUTU GIZI DI RSU PINDAD
1. Sisa makan siang pasien yang tidak termakan

Judul Indikator Sisa makan siang pasien yang tidak termakan


Dasar pemikiran
Dimensi Mutu 1. Efisiensi
v
2. Efektifitas v
3. Aksesibilitas

4. Keselamatan

5. Fokus kepada pasien

6. Kesinambunga
Tujuan Tergambarnya efektifitas dan efisiensi pelayanan instalasi
gizi
Definisi Sisa makan adalah porsi makanan yang tersisa yang tidak
Operasional dimakan oleh pasien lebih dari ½ porsi.
Jenis Indikator
Struktur Proses v

Outcome Proses & Outcome

Numerator Jumlah kumulatif porsi sisa makanan dari pasien yang


(pembilang) disurvei dalam satu bulan

29
Denominator Jumlah pasien yang disurvei dalam satu bulan
(penyebut)

Target ≤ 20%
Kriteria: - Inklusi
- Eksklusi
Formula Numerator .
X 100%
Denominator (menit)
Sumber data Survey
Frekuensi Setiap bulan
pengumpulan data
Periode analisis Tiga bulan sekali
Cara Retrospektif
Pengumpulan
Data
Sampel Besaran sample disesuaikan disesuaikan dengan kaidah
statistik

Rencana Analisis Menggunakan Diagram garis digunakan untuk menampilkan


Data data dari waktu ke waktu
Instrumen Formulir Rekapitulasi Bulanan
Pengambilan Data
Penanggung Kepala Instalasi Gizi
Jawab

2. Kepatuhan Identifikasi Pasien

Judul Indikator Kepatuhan Identifikasi Pasien


Dasar pemikiran Permenkes Nomor 11 Tahun 2017
Dimensi Mutu 1. Efisiensi

2. Efektifitas

3. Aksesibilitas

4. Keselamatan V

5. Fokus kepada pasien V

6. Kesinambungan
Tujuan Terlaksananya proses identifikasi pasien agar
menjamin keselamatan pasien.

30
Definisi Identifikasi pasien adalah proses pengecekan identitas
Operasional pasien menggunakan minimal 2 identitas dari 3
identitas yang tercantum pada gelang, label atau
bentuk identitas lainnya sebelum memberikan
pelayanan sesuai dengan regulasi yang berlaku di
rumah sakit.

Disebut patuh bila proses identifikasi pasien dilakukan


secara benar oleh petugas pada saat, antara lain :
1. pemberian obat dan nutrisi
2. sebelum tindakan medis
3. pemberian darah dan produk darah
4. pengambilan specimen
5. sebelum melakukan tindakan diagnostik /
therapeutic.

Pengukuran dilakukan terpisah untuk masing-masing


proses tersebut diatas dan menghasilkan lima sub
indikator yaitu:
1. Kepatuhan pengecekan identitas pasien
sebelum pemberian obat dan nutrisi
2. Kepatuhan pengecekan identitas pasien
sebelum tindakn medis
3. Kepatuhan pengecekan identitas pasien
sebelum pemberian transfusi darah dan produk
darah.
4. Kepatuhan pengecekan identitas pasien
sebelum pengambilan spesimen pemeriksaan
5. Kepatuhan pengecekan identitas pasien
sebelum melakukan tindakan diagnostik
Jenis Indikator
Struktur Proses v

Outcome Proses & Outcome

Numerator Jumlah proses yang telah dilakukan identifikasi secara


(pembilang) benar
Denominator Jumlah proses pelayanan yang di observasi
(penyebut)
Target 100%
Pencapaian
Kriteria:
- Inklusi Semua pasien
- Eksklusi
Formula N/D x 100%

31
Sumber data sensus pada saat pengambilan data/ observasi
Frekuensi Bulanan
pengumpulan
data
Periode analisis 3 bulan
Cara Concurrent
Pengumpulan
Data
Sampel Besaran sample disesuaikan dengan kaidah-kaidah
statistik
Menggunakan sampling dengan besaran sampel
disesuaikan dengan kaidah – kaidah statistik.
Rencana Analisis Menggunakan diagram Garis atau diagram batang:
Data - diagram garis digunakan untuk menampilkan data
dari waktu ke waktu
- diagram batang digunakan untuk menampiilkan data
perbandingan antar unit
Instrumen 1. formulir sensus harian
Pengambilan 2. formulir rekapitulasi bulanan
Data

Penanggung Pejabat penanggung jawab pelayanan


Jawab

32
BAB IX
PENUTUP

Pelayanan Gizi Rumah Sakit merupakan bagian integral dari


pelayanan kesehatan lainnya di rumah sakit dan secara menyeluruh
merupakan salah satu upaya dalam rangka meningkatkan kualitas
pelayanan kesehatan bagi pasien rawat inap di rumah sakit.
Pedoman Pelayanan Gizi Rumah Sakit bertujuan untuk
memberikan acuan yang jelas dan profesional dalam mengelola dan
melaksanakan pelayanan gizi di rumah sakit yang tepat bagi klien/pasien
sesuai tuntutan dan kebutuhan masyarakat. Selain itu, pedoman ini juga
akan bermanfaat bagi pengelola gizi rumah sakit dalam
mengimplementasikan dan mengevaluasi kemajuan serta perkembangan
pelayanan gizi yang holistik.

Dikeluarkan di :Turen
Pada tanggal : 26 September 2019

RUMAH SAKIT UMUM PINDAD


KEPALA

SAJI PURBORETNO

SAJI PURBORETNO

33