Anda di halaman 1dari 2

1

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Mie saat ini merupakan salah satu makanan yang sangat digemari

masyarakat. Hal ini didukung dengan kecenderungan dan pola hidup masyarakat

modern yang lebih menginginkan makanan siap saji (Winarti et al, 2017).

Menurut Hasibuan et al., (2015). Tepung terigu merupakan bahan dasar

pembuatan mie. Tepung terigu diperoleh dari biji gandum yang digiling.

Keistimewaan terigu antara lain memiliki sifat elastis tidak mudah putus pada

saat pencetakan dan pemasakan mie. Hal ini disebabkan oleh adanya gluten

(Effendi et al, 2016). Namun kandungan gizi yang terdapat dalam mie belum

menunjang nilai gizi yang diperlukan oleh manusia, terutama anak–anak yang

sangat membutuhkan asupan gizi untuk pertumbuhan dan perkembangan

tubuhnya (Hutriani et al, 2019).

Mie basah merupakan hasil pengolahan dari bahan dasar tepung yang

dicampur dengan bahan tambahan lainnya. Menurut Agusandi et al., (2013),

menyatakan bahwa mie yang dicampurkan dengan tinta cumi-cumi mempunyai

kandungan nutrisi cukup baik di antaranya provitamin A 169,89, kadar protein

7,109%, kadar karbohidrat 14,85%, kadar air 52,57%, dan kadar abu 0,34%.

Dengan penambahan tinta cumi-cumi di dalam mie basah dapat menambah

kandungan gizi dan antioksidan yang dapat mencegah kerusakan sel.

Pemanfaatan rumput laut juga dapat dimaksimalkan dengan diversifikasi

produk olahan rumput laut yang merupakan salah satu upaya untuk

meningkatkan daya guna dan nilai ekonomis dari rumput laut. Salah satu usaha

diversifikasi tersebut adalah dengan cara mengolah rumput laut jenis E. cottonii

menjadi mie basah. Penambahan rumput laut pada pembuatan mie basah,

diharapkan dapat meningkatkan konsumsi gizi yang lebih variatif bagi


2

masyarakat luas dan pemenuhan kebutuhan gizi karena rumput laut

mengandung yodium dan kadar serat yang tinggi. Penggunaan rumput laut juga

mempengaruhi karakteristik mie basah yang dihasilkan (Lubis et al., 2013)

Mie pada pengujian kali ini ditambahkan tinta cumi dan rumput laut jenis

E. cottonii ke dalam bahan pembuatannya, dikarenakan konsumen mie tidak

hanya orang dewasa melainkan juga anak-anak. Hal ini dimaksudkan untuk

meningkatkan nilai gizi mie dan memenuhi kebutuhan asupan nutrisi terutama

pada anak-anak. Komposisi kimia seperti kadar air, kadar protein, kadar abu,

kadar lemak, dan kadar karbohidrat menjadi karakteristik kimia mie basah yang

penting untuk diteliti.

1.2. Maksud dan Tujuan

1.2.1. Maksud

Maksud dari pelaksanaan Kerja Praktek Akhir (KPA) ini adalah untuk

mengikuti Proses pembuatan Mie Tinta Cumi Basah dengan penambahan

rumput laut E. cottonii serta mempelajari dan mengetahui komposisi kimia

meliputi kadar air, kadar abu, kadar protein, kadar lemak, dan karbohidrat pada

produk tersebut melalui prosedur uji proksimat di Lab Uji Mutu Politeknik

Kelautan dan Perikanan Sidoarjo Jawa Timur.

1.2.2. Tujuan

Tujuan dari Praktek Kerja Akhir (KPA) ini yaitu meningkatkan

pengetahuan dan keterampilan pada proses pembuatan Mie Tinta Cumi Basah

dengan penambahan rumput laut E. cottonii serta prosedur pengujian proksimat

dari mie tersebut untuk memperoleh data komposisi kimia yang meliputi uji kadar

air, kadar abu, kadar protein, kadar lemak, dan karbohidrat.