Anda di halaman 1dari 9

Larutan yang mempunyai konsentrasi molar yang diketahui, dapat dengan mudah

digunakan untuk reaksi-reaksi yang melibatkan prosedur kuantitaif. Kuantitas zat terlarut
dalam suatu volume larutan itu, di mana volume itu diukur dengan teliti, dapat diketahui
dengan tepat dari hubungan dasar berikut ini.

Mol = liter x konsentrasi molar atau mmol = mL x konsentrasi molar.

Perhitungan-perhitungan stoikiometri yang melibatkan larutan yang diketahui


normalitasnya bahkan lebih sederhana lagi. Dengan definisi bobot ekuivalen, dua larutan
akan bereaksi satu sama lain dengan tepat bila keduanya mengandung gram ekuivalen yang
sama yaitu, jika V1 x N2 = V2 x N2.

Dalam hubungan ini kedua normalitas harus dinyatakan dengan satuan yang sama, demikian
juga kedua volum, satuan-satuan itu dapat dipilih secara sembarang.

Larutan-larutan yang mempunyai normalitas yang diketahui sangat berguna walaupun hanya
satu di antara pereaksi itu yang terlarut. Dalam hal ini jumlah gram ekuivalen (atau
miliekuivalen) pereaksi yang tidak terlarut dapat dihitung dengan cara biasa, yaitu dengan
membagi massa contoh dalam gram (atau miligram) dengan bobot ekuivalennya. Jumlah g-ek
(atau mek) satu pereaksi tetap harus sama dengan g-ek (atau mek) zat yang lain (Brady,
1999).

Volumetri atau tirimetri adalah suatu cara analisis kuantitatif dari reaksi kimia. Pada analisis
ini zat yang akan ditentukan kadarnya, direaksikan dengan zat lain yang telah diketahui
konsentrasinya, sampai tercapai suatu titik ekuivalen sehingga kepekatan (konsentrasi) zat
yang kita cari dapat dihitung (Syukri, 1999).

Pada analisis volumetri diperlukan larutan standar. Proses penentuan konsentrasi larutan
satandar disebut menstandarkan atau membakukan. Larutan standar adalah larutan yang
diketahui konsentrasinya, yang akan digunakan pada analisis volumetri.

Ada dua cara menstandarkan larutan yaitu:

1. Pembuatan langsung larutan dengan melarutkan suatu zat murni dengan berat tertentu,
kemudian diencerkan sampai memperoleh volume tertentu secara tepat. Larutan ini
disebut larutan standar primer, sedangkan zat yang kita gunakan disebut standar primer.
2. Larutan yang konsentrasinya tidak dapat diketahui dengan cara menimbang zat kemudian
melarutkannya untuk memperoleh volum tertentu, tetapi dapat distandartkan dengan
larutan standar primer, disebut larutan standar skunder.

Zat yang dapat digunakan untuk larutan standar primer, harus memenuhi persyaratan
dibawah ini :

1. Mudah diperoleh dalam bentuk murni ataupun dalam keadaan yang diketahui
kemurniannya. Pengotoran tidak melebihi 0,01 sampai 0,02 %

2. Harus stabil

3. Zat ini mudah dikeringkan tidak higrokopis, sehingga tidak menyerap uap air, tidak
meyerap CO2 pada waktu penimbangan (Sukmariah, 1990).

Suatu reaksi dapat digunakan sebagai dasar analisis tirimetri apabila memenuhi persyaratan
berikut :

1. Reaksi harus berlangsung cepat, sehingga titrasi dapat dilakukan dalam waktu yang tidak
terlalu lama.

2. Reaksi harus sederhana dan diketahui dengan pasti, sehingga didapat kesetaraan yang pasti
dari reaktan.

3. Reaksi harus berlangsung secara sempurna.

4. Mempunyai massa ekuivalen yang besar

Larutan standar biasanya kita teteskan dari suatu buret ke dalam suatu erlenmeyer yang
mengandung zat yang akan ditentukan kadarnya sampai reaksi selesai. Selesainya suatu
reaksi dapat dilihat karena terjadi perubahan warna Perubahan ini dapat dihasilkan oleh
larutan standarnya sendiri atau karena penambahan suatu zat yang disebut indikator. Titik di
mana terjadinya perubahan warna indikator ini disebut titik akhir titrasi. Secara ideal titik
akhir titrasi seharusnya sama dengan titik akhir teoritis (titik ekuivalen). Dalam prakteknya
selalu terjadi sedikit perbedaan yang disebut kesalahan titrasi (Sukmariah, 1990).
Untuk analisis titrimetri atau volumetri lebih mudah kalau kita memakai sistem ekivalen
(larutan normal) sebab pada titik akhir titrasi jumlah ekivalen dari zat yang dititrasi = jumlah
ekivalen zat penitrasi. Berat ekivalen suatu zat sangat sukar dibuat definisinya, tergantung
dari macam reaksinya. Pada titrasi asam basa, titik akhir titrasi ditentukan oleh indikator.
Indikator asam basa adalah asam atau basa organik yang mempunyai satu warna jika
konsentrasi hidrogen lebih tinggi daripada sutau harga tertentu dan suatu warna lain jika
konsentrasi itu lebih rendah.

Keenan, 1984.

Titrasi asam basa yaitu sebagai berikut:

1. Titrasi asam kuat dengan basa kuat

Pada akhir titrasi akan terbentuk garam yang berasal dari asam kuat dan basa kuat.
Misal : HCl + NaOH NaCl + H2O

2. Titrasi asam lemah dan basa kuat

Pada akhir titrasi terbentuk garam yang berasal dari asam lemah dan basa kuat.

Misal : Asam asetat dengan NaOH

CH3COOH + NaOH CH3COONa + H2O

3. Titrasi basa lemah dan asam kuat

Pada akhir titrasi akan terbentuk garam yang berasal dari basa lemah dan asam kuat.

Misal : NH4OH dan HCl

NH4OH + HCl NH4Cl + H2O

4. Titrasi asam lemah dan basa lemah

Pada akhir titrasi akan terbentuk garam yang berasal dari asam lemah dan basa lemah.
Misal : Asam asetat dan NH4OH
CH3COOH + NH4OH CH3COONH4 + H2O

pH larutan tergantung dari harga Ka dan Kb

Bila Ka > Kb larutan bersifat asam

Bila Kb < Ka larutan bersifat basa (Sukmariah, 1990).

PEMBAHASAN

Pada percobaan kali ini kita melakukan analisis kuantitatif untuk menentukan kadar
asam asetat dalam asam cuka komersial, yang beredar di pasaran. Di mana pada
percobaan ini digunakan asam cuka botol cap sendok. Analisis yang dilakukan adalah
analisis tirimetri karena kadar komposisi ditetapkan berdasarkan volum pereaksi
(konsentrasi diketahui). Penggunaan analisi tirimetri ini menggunakan larutan NaOH 0,1
N sebagai larutan standarnya. Karena NaOH merupakan larutan standar sekunder, maka
sebelum digunakan terlebih dahulu larutan NaOH tersebut distandarisasi dengan larutan
asam oksalat yang merupakan suatu standar primer.

Berdasarkan hasil percobaan dapat diketahui bahwa telah terjadi reaksi asam basa
antara asam oksalat dan larutan standar NaOH 0,1 N dan asam asetat dengan larutan
standar NaOH. Pada pembuatan larutan standar asam oksalat indikator yang digunakan
yaitu fenophtalein. Perubahan warna yang terjadi pada proses penitrasian ini adalah
berubah menjadi bening dengan warna asal mula adalah ungu. Jangka pH pada saat
terjadi perubahan warna adalah berkisar antara 8-10. Perubahan warna ini terjadi karena
telah tercapainya titik ekuivalen, yaitu titik di mana jumlah larutan standar NaOH
dengan larutan asam oksalat. Volume larutan asam oksalat yang diperlukan untuk titrasi
sebanyak 4,9 mL.

Pada penentuan Konsentrasi asam asetat terjadi reaksi antara asam lemah
(CH3COOH) dengan basa kuat (NaOH). Sebelum dititrasi, asam asetat telah diencerkan
terlebih dahulu. Karena asam asetat adalah asam monoproptik, maka n asam asetat
sebesar 1 ek/mol.

Reaksi yang terjadi pada saat penitrasian adalah :


CH3COOH + NaOH CH3COONa + H2O

Pada proses penitrasian antara asam asetat dengan larutan standar NaOH 0,1 M
terjadi perubahan warna dimana setelah ditetesi indikator fenophtalein sebanyak 2 tetes
warna yang terjadi yaitu bening menjadi berwarna ungu. Seperti halnya dengan titrasi di
atas, perubahan warna ini terjadi pada pH dengan kisaran 8-10. Penyebab perubahan
warna ini karena telah terjadi pencapaian titik ekuivalen. Volume NaOH yang
diperlukan pada saat titrasi sebanyak 0,45 mL.

Pada penentuan konsentrasi NaOH didapat normalitas NaOH sebesar 0,098 N,


sedangkan pada penentuan konsentrasi asam asetat dalam asam cuka didapat normalitas
asetat sebesar 4,41 x 10-3 N. Setelah itu nilai ini digunakan untuk mencari konsentrasi
asetat sebelum pengenceran maka didapat hasil sebesar 5,5125 M. Konsentrasi asam
asetat yang dinyatakan dalam persentase sebesar 33,075 %.

VII. KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil setelah melakukan percobaan ini adalah sebagai berikut :

1. Standarisasi larutan bertujuan untuk menetukan konsentrasi dari larutan standar.

2. Pada penentuan konsentrasi NaOH didapatkan normalitas NaOH sebesar 0,098 N,


sedangkan pada penentuan konsentrasi asam asetat dalam asam cuka didapat normalitas
asetat sebesar 4,41 x 10-3 N.

3. Persentase asam asetat cap sendok sebesar 33,075 %.

4. Analisis kuantitatif memberikan informasi mengenai berapa banyak komposisi suatu


komponen dalam sampel.

DAFTAR PUSTAKA

Brady, James E. 1999. Kimia Universitas Asas dan Struktur. Bina Rupa Aksara, Jakarta.

Sukmariah. 1990. Kimia Kedokteran edisi 2. Bina Rupa Aksara, Jakarta.

Syukri.1999. Kimia Dasar 2. ITB, Bandung.


Analisa volumetri adalah analisa kuantitatif dimana kader komponen dari zat uji ditetapkan
berdasarkan volume reaksi pereaksi (konsentrasi diketehui ) yang ditambahkan kedalam larutan zat
uji, hingga komponen yang akan ditetapkan bereaksi secara kuantitatif dengan pereaksi tersebut.
Proses yang dikenal juga dengan analisa tirimetri.

Suatu pereaksi dapat digunakan sebagai dasar analisa titrimetri apabila memenuhi syarat

syarat sebagai berikut yaitu reaksiharus berlangsung sesuai persamaan reaksi kimia tertentu, harus
tidak ada reaksi samping. Yang kedua reaksi harus berlangsung sampai benar-benar lengkap pada titik
sama denga konsentrasi OH- maka larutan tersebut disebut larutan netral. Bila konsentrasi
lebiht i n g g i d a r i p a d a k o n s e n t r a s i m a k a l a r u t a n t e r s e b u t a d a l a h l a r u t a n y a n g
b e r s i f a t a s a m , s e d a n g k a n b i l a k o n s e n t r a s i l e b i h r e n d a h dari pada konsentrasi maka
larutan tersebut bersifat basa. pH atau kadar larutan yang bersifat netral sama dengan tujuh.
Larutanyang bersifat asam pH nya kurang dari tujuh. Semakin kurang dari tujuh maka larutan tersebut
mempunyai sifat asam yang semakin kuat.Sedangkan bila PH nya lebih dari tujuh, maka laritannya
bersifat basa, semakin pH nya lebih dari tujuh maka semakin kut basanya.

Pada titrasi biasanya digunakan suatu indikator yang memberikan tanda kepada kita bahwa campuran
asam basa yang ada dalamlarutan memiliki pertandingan yang benar untuk mencapai suatu keadaan
larutannya yang netral. Titik akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna dari inikator atau kenaikan
penurunan PH nya yang tiba-tiba. Idealnya perubahan warna indikator akan terjadi pada saatkita
mencampurkan larutan itu padsa proporsi ya ng sama, tepat. Keadaan ini disebut titik ekivalen. Kurva
yang menunjukkan perubahan

warna pH versus volume larutan titrasi disebut dengan kurva titrasi. Bentuknya tergantung pada nilai
Ka dan konsentrasi asam basa yangdigunakan.
2

Prosedur untuk menentukan konsentrasi suatu larutan dengan caramereaksikan larutan tersebut
dengan larutan zat lain yang telah diketahui konsentrasinya disebut dengan titrasi. Jika yang
dilihatkan adalahlarutan asam dan larutan basa, titrasi itu disebut dengan titrasi asam basa. Larutan
yang diketahui konsentrasinya disebut larutan baku (larutan standar ). Pada bagian ini akan dibahas
bagaimana perubahan pada berbagai titrasi asam basa. Titrasi asam basa merupakan penambahan
secara hati-hati sejumlah larutan basa dengan konsentrasi tertentu. Ekivalen suatu indikator harus ada
untuk menunjukkan titik ekivalen. Yang ketiga adalah reaksi.
2
(
http://www.google.co.id/titrasi.html
)
Beberapa jenis reaksi dapat digunakan untuk titrasi yaitu pengendapan, reaksi oksidasi-reduksi,reaksi
asam-basa,dan reaksi pembentukan kompleks. Pada percobaan ini akan dilakukan titrasi asam basa.
Pertamakali akan dilakukan standarisasi (pembakuan)terhadap larutan basa. Yang selanjutnya
digunakan untuk menganalisis contoh yang mengandung asam. Bila sebagai titrasi adalah
larutan baku asam,maka endapan tersebut dinamakan Asidimetri dan apabila larutan baku basa
sebagai titran maka disebut Alkalimetri. Secararingkas reaksi asma basa atau netralisasi disebabkan
oleh proton dari asam yang bereaksi dengan OH- dari basa. Reaksi yang terjadi adalah :

+O

Pereaksi yang digunakan digunakan dinamakan titran dan larutannya disebut larutan titeratau larutan
beku. Konsentrasi larutanini dapat dihitung berdasarkan berat baku yang ditimbangkan secara
seksama atau dengan penetapan yang dikenal dengan standarisasi atau pembekuan. Larutan standar
(baku) dibagi menjadi standar primer dan standar sekunder. Kedua jenis larutan standar (baku) ini
dapatdigunakan analisa kuantitatif suatu larutan senyawa.
Pereaksi pada kebanyakan titrasi asam basa perubahan larutan pada titik ekivalen tidak jelas. Untuk
mengatasi hal ini makadigunakan indikator yaitu suatu senyawa organik asam atau basa lemah yang
mempunyai warna molekul (warna asam) berbeda denganwarna ionnya (warna basa), dimana
indikator ini memperlihat perubahan warna pH tertentu. Secara umum untuk titrasi asam basa
indikator yang digunakan adalah indikator venotalin yang mempunyai trayek pH 8,3

10.5 dimana indikator senyawa ini tidak berwarna pada larutanasam dan berwarna merah muda dalam
larutan basa.

Bila kuantitas ekimolar dari suatu asam kuat seperti asam klorida (HCL) dan suatu basa kuat seperti
natrium hidroksida (NaOH)Dicampurkan dalam satu larutan, maka ion hidrinium dari asam dan ion
hidroksida dari basa akan bersenyawa membentuk air (H2O).Reaksi antara ion hidronium dari asam
dengan ion hidroksida dari basa sehingga membentuk senyawa air tadi merupakan reaksi penetralan.
Setelah reaksi antara asam klorida dengan natrium klorida hidroksida maka akan tinggal larutan dari
ion dan .Meskipun kedua ion ini tidak terlihat dalam proses penetralan dapat dikatakan bahwa larutan
NaCl terbentuk sebagai hasil dari suatu reaksiantara asam klorida dengan natrium klorida atau dapat
pula dikatakan reaksi asam basa.

Reaksi asam basa yang sama kekuatannya akan menghasilkan larutan yang bersifat netral. Asam dan
basa bereaksi dapat berasaldari suatu asam lemah ataupun basa kuat. Reaksi asam basa kekuatannya
berlainan akan menghasilkan larutan dengan sifat satu asam lemahdan yang saytu lagi bersifat basa
lemah. Itu semua tergantung pada kekuatan atom asam konjugasinya dan basa konjugasinya
yangdihasilkan. Semua itu bertitik tolak pada larutan standar yang digunakan. Larutan standar yang
digunakan atau dipakai NaOH. Perbedaan antara titik akhir titrasi dengan titik ekivalen adalah titik
ekivalen yang terjadi pada saat reaksi asam dan basa mulaimenetral, dimana asma menuju basa.
Sedangkan titik akhir titrasi terjadi karena pada saat dimana dari ion-ion asam dan basa telah
lengkap bereaksi maka hasilnya akan membentuk suatu senyawa air.

Proses yang dikenal dengan titrasi oleh karena dikenal juga dengan “analisis titrimetri” suatu pereaksi
dapat digunakan sebag
ai dasar analisa titrimetri apabila memenuhi syarat-syarat berikut :reaksi harus berlangsung sesuai
persamaan reaksi kimia tertentu harus tidak adareaksi samping,reaksi harus berlangsung sampai
benar-benar lengkap pada titik ekivalen, reaksi harus berlangsung cepat, sehingga titrasidiperlakukan
dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama.
VOLUMETRI / TITRIMETRI
Volumetri atau titrimetri merupakan suatu metode an
alisis kuantitatif didasarkan pada
pengukuran volume titran yang bereaksi sempurna den
gan analit.
Titran merupakan zat yang digunakan untuk mentitras
i.
Analit adalah zat yang akan ditentukan konsentrasi/
kadarnya.
Standar primer
Larutan titran haruslah diketahui komposisi dan kon
sentrasinya. Idealnya kita harus
memulai dengan larutan standar primer. Larutan stan
dar primer dibuat dengan melarutkan
zat dengan kemurnian yang tinggi (standar primer) y
ang diketahui dengan tepat beratnya
dalam suatu larutan yang diketahui dengan tepat vol
umnya. Apabila titran tidak cukup
murni, maka perlu distandardisasi dengan standar pr
imer. Standar yang tidak termasuk
standar primer dikelompokkan sebagai standar sekund
er, contohnya NaOH; karena NaOH
tidak cukup murni (mengandung air, natrium karbonat
dan logam-logam tertentu) untuk
digunakan sebagai larutan standar secara langsung,
maka perlu distandardisai dengan
asam yang merupakan standar primer misal: kalium hi
drogen ftalat (KHP)
Persyaratan standar primer
1.
Kemurnian tinggi
2.
Stabil terhadap udara
3.
Bukan kelompok hidrat
4.
Tersedia dengan mudah
5.
Cukup mudah larut
6.
Berat molekul cukup besar
Contoh standar primer:
Kalium hidrogen ftalat
(KHP) KHC
8
H
4
O
4
lebih sering digunakan
berat ekuivalen tinggi (204,2 gram/ek)
kemurnian tinggi
stabilitas termal tinggi
reaksi dengan NaOH / KOH cepat
2-Furanic acid
lebih kuat dari asam kalium ftalat
Larutan standar yang ideal untuk titrasi
1.
Cukup stabil sehingga penentuan konsentrasi cukup d
ilakukan sekali
2.
Bereaksi cepat dengan analit sehingga waktu titrasi
dapat dipersingkat
3.
Bereaksi sempurna dengan analit sehingga titik akhi
r yang memuaskan dapat dicapai
4.
Melangsungkan reaksi selektif dengan analit
Keakuratan hasil metode titrasi amat bergantung pad
a keakuratan penentuan konsentrasi
larutan standar. Untuk menentukan konsentrasi suatu
larutan standar dapat digunakan 2
cara
1.
Dengan cara langsung, menimbang dengan tepat standa
r primer, melarutkannya dalam
pelarut hingga volume tertentu
2.
Dengan standarisasi, yaitu titran yang akan ditentu
kan konsentrasinya digunakan untuk
mentitrasi standar primer/sekunder yang telah diket
ahui beratnya