Anda di halaman 1dari 65

PROPOSAL TESIS

ANALISIS PENERIMAAN PENGGUNA SISTEM INFORMASI


SI CANTIK DI KABUPATEN SIDOARJO

OLEH :
REZKHA MALA LUDYANINGRUM

UNIVERSITAS AIRLANGGA
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
PROGRAM MAGISTER
PROGRAM STUDI MAGISTER EPIDEMIOLOGI
MINAT STUDI MANAJEMEN SURVEILANS EPIDEMIOLOGI
INFORMASI KESEHATAN (MSEIK)
2018
PROPOSAL TESIS

ANALISIS PENERIMAAN PENGGUNA SISTEM INFORMASI


SI CANTIK DI KABUPATEN SIDOARJO

OLEH :
REZKHA MALA LUDYANINGRUM
101614553011

UNIVERSITAS AIRLANGGA
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
PROGRAM MAGISTER
PROGRAM STUDI MAGISTER EPIDEMIOLOGI
MINAT STUDI MANAJEMEN SURVEILANS EPIDEMIOLOGI
INFORMASI KESEHATAN (MSEIK)
2018
LEMBAR PERSETUJUAN

PROPOSAL TESIS
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Epidemiologi
Minat Studi Manajemen Surveilans Epidemiologi Informasi Kesehatan
(MSEIK)
Program Studi Magister Epidemiologi
Fakultas Kesehatan Masyarakat

Oleh:
REZKHA MALA LUDYANINGRUM
101614553011

Menyetujui,
Surabaya, tanggal Maret 2018
Pembimbing Ketua Pembimbing

Dr. Hari Basuki Notobroto, dr., M.Kes Dr. Diah Indriani, S.Si, M.Si
NIP. 196506251992031002 NIP. 197605032002122001

Mengetahui,
Koordinator Program Studi Epidemiologi

Prof. Dr. Chatarina U W, dr., M.S., M.PH


NIP. 195409161983032001
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR LAMPIRAN
DAFTAR ARTI LAMBANG, SINGKATAN DAN ISTILAH
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang dan Identifikasi Masalah

Pembangunan kesehatan merupakan upaya untuk memenuhi salah satu hak

dasar rakyat. Pembangunan kesehatan harus dipandang sebagai suatu investasi

untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia. Pada era globalisasi dewasa

seperti ini tentunya membuka peluang yang sangat besar untuk melaksanakan

program pembangunan kesehatan dengan menerapkan teknologi informasi dan

komunikasi (TIK). Penerapan TIK digunakan untuk mendukung pelaksanaan

program pembangunan kesehatan disebut sebagai e-health. Secara umum e-health

didefinisikan sebagai bidang baru yang merupakan persilangan antara aplikasi

TIK, medis, kesehatan masyarakat dan usaha yang berkaitan dengan jasa

pelayanan kesehatan melalui saluran internet/web-enabled systems (Wahyudin,

2009).

Teknologi informasi turut berkembang sejalan dengan perkembangan

peradaban manusia. Perkembangan teknologi informasi yang meliputi

perkembangan infrastruktur seperti hardware, software, teknologi penyimpanan

data (storage), dan teknologi komunikasi telah mempengaruhi berbagai bidang

seperti kesehatan, pendidikan, pemerintahan, dan terlebih lagi bisnis.

Kecanggihan teknologi informasi dirancang untuk mempermudah pekerjaan

manusia dan diharapkan dapat memenuhi kebutuhan informasi (Armanda, 2015).

Sistem informasi perlu dikembangkan dalam rangka mendukung kelancaran

proses manajemen pelayanan kesehatan pemerintah di berbagai jenjang


administrasi, termasuk di tingkat Puskemas dan Dinas Kesehatan. Puskesmas

merupakan jenjang ujung tombak sumber data kesehatan khususnya bagi Dinas

Kesehatan Kabupaten/Kota. Diharapkan Puskesmas dapat menciptakan informasi

yang akurat, representatif, dan reliable untuk dijadikan pedoman dalam

penyusunan perencanaan kesehatan. Setiap program akan menghasilkan data, dan

data yang dihasilkam perlu dicatat, dianalisis kemudian dibuat laporan. Data yang

disajikan adalah informasi tentang pelaksanaan program dan perkembangan

masalah kesehatan masyarakat. Informasi yan ada perlu dibahas, dikoordinasikan,

diintegrasikan agar menjadi pengetahuan untuk semua pegawai (sumber)

Pencatatan dan pelaporan adalah indikator untuk menilai keberhasilan suatu

kegiatan. Tanpa ada pencatatan dan pelaporan. Kegiatan pada program apapun

yang dilaksanakan tidak akan terlihat wujudnya. Output dari pencatatan dan

pelaporan ini adalah sebuah data dan informasi yang berharga dan bernilai bila

menggunakan metode yang tepat dan benar. Jadi data dan informasi merupakan

unsur terpenting dalam sebuah organisasi, karena data dan informasi yang akan

berbicara tentang keberhasilan atau perkembangan organisasi tersebut (Tiara,

2011).

Pengembangan sistem informasi kesehatan (SIK) di Puskesmas bertujuan

menghasilkan sistem yang mampu memberikan informasi untuk manajemen

pasien/klien bagi petugas pelayanan, manajemen Puskesmas dan Dinas Kesehatan

yang berbasis teknologi informasi. Data dan informasi yang akurat dari hasil

kegiatan Puskesmas menjadi sumber pengambilan keputusan untuk kebijakan

daerah dan pusat. Untuk rencana kedepan, Puskesmas juga dituntut berperan
dalam pemanfaatan aplikasi teknologi informasi terkait upaya peningkatan

pelayanan kesehatan secara komprehensif dan terpadu (Hatmoko, 2006).

Sistem informasi merupakan kombinasi teratur dari manusia, hardware,

software jaringan komunikasi dan sumber daya data, yang mengumpulkan

mengubah, dan menyebarkan informasi dalam suatu organisasi untuk mendukung

pembuatan keputusan dan mengontrol organisasi. Penggunaan sistem informasi

selain memberikan banyak manfaat, ada juga organisasi yang gagal dalam

penerapannya. Banyak proyek pengembangan sistem telah gagal menghasilkan

sistem yang bermanfaat. Kegagalan penerapan sistem teknologi informasi pada

organisasi dapat disebabkan oleh beberapa faktor baik internal maupun eksternal.

Keputusan untuk mengadopsi suatu sistem teknologi informasi ada ditangan

manajer, tetapi keberhasilan penggunaan teknologi tersebut tergantung pada

penerimaan dan penggunaan setiap individu pemakainya. Perilaku pemakaisistem

terbentuk dari sikap dan persepsi pemakai terhadap sistem informasi tersebut

(Bendi & Andayani, 2013).

Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo mulai mengembangkan aplikasi sistem

informasi Sidoarjo Cegah Kematian Ibu dan Anak (Si Cantik) pada tahun 2017.

Hasil pengembangan berupa piranti lunak mengenai pencatatan dan pelaporan ibu

hamil hingga ibu melahirkan berbasis Web dan Android yang dapat digunakan

secara online. Kegiatan penerapan aplikasi Si Cantik dimulai dengan tahapan

penyesuaian aplikasi Si Cantik dengan kebutuhan Puskesmas dan Dinas

Kesehatan, instalasi infrastuktur, pelatihan dan pendampingan tenaga belum

disebarluaskan masih terbatas pada bidan koordinator Puskesmas kemudian uji


coba aplikasi Si Cantik juga terhenti di satu Puskesmas saja yaitu Puskesmas

Tarik.

Aplikasi ini memang masih tergolong baru dalam pengembangan sistem

informasi sehingga diperlukan penyesuaian dalm hal penerimaan petugas dalam

merubah kebiasaan melakukan pencatatan secara manual beralih ke pencatatan

menggunakan TIK. Faktor-faktor penerimaan pertugas dalam mengahadapi

perubahan sistem informasi ini diperlukan analisis sistem informasi menggunakan

pendekatan TAM. TAM merupakan sebuah metode yang menjelaskan perilaku

pengguna teknologi informasi yang berlandaskan pada kepercayaan (beliefs),

sikap (attitude), minat (intention) dan hubungan perilaku pengguna (User

Behavior Relatioship). Tujuan model ini adalah untuk dapat menjelaskan faktor-

faktor utama dari perilaku pengguna teknologi informasi terhadap penerimaan

penggunaan teknologi informasi itu sendiri (Jogiyanto, 2007).

Pengembangan aplikasi Si Cantik didasarkan pada konsep kesehatan ibu

termasuk salah satu isu krusial dalam pencapaian pembangunan kesehatan di

seluruh dunia. Pelayanan kesehatan ibu tidak hanya dapat digunakan untuk

menentukan pembangunan kesehatan suatu negara, tetapi dapat digunakan untuk

investasi bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia di masa mendatang

(Syafrudin dan Hamidah, 2009). Ibu merupakan anggota keluarga yang berperan

penting dalam mengatur semua urusan rumah tangga, pendidikan anak dan

kesehatan seluruh keluarga, sehingga upaya peningkatan penyelenggaraan

kesehatan ibu perlu mendapatkan prioritas dan perhatian khusus (Kemenkes RI,

2014).
Angka kematian ibu (AKI) juga merupakan salah satu target yang telah

ditentukan dalam tujuan ke-5 pembangunan Millenium Development Goals

(MDGs) untuk menurunkan angka kematian ibu hingga tiga per empat dalam

kurun waktu 1990-2015. MDGs telah berakhir pada tahun 2015 dan World

Health Organization (WHO) mengembangkan agenda baru untuk kelanjutan dari

program MDGs yaitu menetapkan program Sustainable Developmnet Goals

(SDGs) dengan menargetkan pencapaian pengurangan AKI secara global hingga

dibawah 70/100.000 kelahiran hidup hingga kurun waktu 2030 (WHO, 2015).

Indonesia sejak tahun 1996 telah melakukan upaya strategis dalam menekan

AKI dengan pendekatan Safe Motherhood berupa program Gerakan Sayang Ibu

yang melibatkan berbagai sektor pemerintah serta kesehatan. Tahun 2000

Kementerian Kesehatan RI memperkuat strategi intervensi sektor kesehatan untuk

mengatasi kematian ibu dengan mencanangkan strategi Making Pregnancy Safer,

tetapi pada tahun 2012 SDKI mencatat kenaikan kematian ibu dari 228 menjadi

359 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup. Pemerintah pada tahun 2012

membuat Strategi Expanding Maternal and Neonatal Survival (EMAS) di 6

Provinsi dan Kabupaten dengan angka kematian ibu terbesar yaitu Sumatera

Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Dasar

pemilihan provinsi tersebut dikarenakan 52,6% dari jumlah kematian ibu yang

terjadi di Indonesia berasal dari enam provinsi tersebut, dengan penurunan AKI di

enam provinsi tersebut diharapkan akan dapat menurunkan AKI di Indonesia

secara signifikan (Kemenkes RI, 2015).


Upaya penurunan angka kematian ibu dan angka kematian neonatal melalui

program EMAS dilakukan dengan cara meningkatkan kualitas pelayanan

emergensi obstetri dan bayi baru lahir minimal di 150 rumah sakit (PONEK) dan

300 puskesmas/balkesmas (PONED) dan memperkuat sistem rujukan yang efisien

dan efektif antar puskesmas dan rumah sakit. Pelayanan kesehatan ibu meliputi

pelayanan kesehatan ibu hamil, pelayanan kesehatan ibu bersalin, pelayanan

kesehatan ibu nifas, pelayanan/penanganan komplikasi kebidanan, dan pelayanan

kontrasepsi. Sedangkan untuk pelayanan kesehatan bayi meliputi pelayanan

kesehatan imunisasi dasar lengkap, pelayanan tumbuh kembang, pelayanan

emergensy neonatal dan pelayanan gizi. Pemerintah bersama masyarakat

bertanggung jawab untuk menjamin setiap ibu memiliki akses terhadap pelayanan

kesehatan ibu dan anak yang berkualitas (Kemenkes RI, 2015).

Kematian ibu dan bayi yang terjadi di Indonesia, salah satunya disebabkan

oleh komplikasi umum yang dapat diatasi dengan akses cepat terhadap pelayanan

obstetrik dan neonatal emergensi yang berkualitas. Kematian selama persalinan

dan minggu pertama setelah melahirkan diperkirakan menjadi penyebab dari 60%

kematian ibu. Sekitar 25-50% kematian neonatal terjadi dalam 24 jam pertama

dan sekitar 75% dalam minggu pertama. Kematian ibu terjadi karena tidak semua

kehamilan berakhir dengan persalinan yang berlangsung normal. Persalinan

disertai komplikasi sebesar 30,7%, dimana bila tidak ditangani dengan cepat dan

baik dapat meningkatkan kematian ibu. Kematian ibu banyak terjadi di rumah,

sedangkan kematian di fasilitas kesehatan hanya pada kasus rujukan (Kemenkes

RI, 2013).
Penyebab tidak langsung yang paling dominan adalah ibu hamil anemia 51%,

terlalu muda usianya (< 20 tahun) 10,3%, terlalu tua usianya (> 35%) 11%, terlalu

banyak anak (> 3-4 orang) 19,3%, terlalu dekat jaraknya kurang dari 24 bulan

15% dan kurang dari 36 bulan 36% (Kemenkes RI, 2013).

Berdasarkan laporan kematian ibu (LKI) Kabupaten/Kota se-Jawa Timur,

angka kematian ibu di Jawa Timur cenderung mengalami penurunan dalam tiga

tahun terakhir, tetapi tahun 2016 mengalami peningkatan lagi. Keadaan tersebut

dalam dilihat pada Gambar 1.1 berikut:

Angka Kematian Ibu (AKI) Provinsi Jawa


Timur Tahun 2010-2016
400
350
300
250
200
150
100
50
0
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016
RENSTRA 82 81.5 81 80.5 80 93.52 97.19
CAPAIAN 101.4 104.3 97.43 97.39 93.53 89.6 91
SUPAS 346 346 346 346 346 305 305

Sumber: Laporan Kematian Ibu (LKI) Kabupaten/Kota


Gambar 1.1 Angka Kematian Ibu (AKI) per 100.000 Kelahiran Hidup Provinsi Jawa Timur Tahun
2010-2016
Gambar 1.1 menyatakan bahwa capaian AKI tahun 2016 meningkat dari tiga

tahun sebelumnya, hal ini bukan berarti menggambarkan penurunan hasil kinerja

tetapi adanya sistem pencatatan dan pelaporan yang semakin membaik dan

peningkatan keterampilan klinis petugas di lapangan.


AKI tertinggi tahun 2016 terdapat di Kota Blitar sebesar 236 per 100.000

kelahiran hidup atau 5 orang meninggal setiap tahunnya. Sedangkan AKI terendah

ada di Kota Madiun sebesar 38,4 per 100.000 kelahiran hidup atau 1 orang

meninggal setiap tahunnya (DKP, 2016).

Angka kematian bayi (AKB) di Provinsi Jawa Timur cenderung mengalami

penurunan pada tahun 2010-2016 hal ini dapat dilihat pada gambar 1.2.

Angka Kematian Bayi (AKB) Provinsi Jawa


Timur Tahun 2010-2016
35
30
25
20
15
10
5
0
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016
TARGET 24 24 24 24 24 24 24
CAPAIAN 29.99 29.24 28.31 27.23 25.68 24 23.6
SUPAS 32 32 32 32 32 32 32

Sumber: Profil Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur Tahun 2016


Gambar 1.2 Angka Kematian Bayi (AKB) per 1.000 KH di Provinsi Jawa Timur Tahun 2010-2016

Upaya menurunkan morbiditas maternal dan kematian ibu di Provinsi Jawa

Timur telah dilakukan dengan melaksanakan program kesehatan ibu dan anak

antara lain penempatan bidan desa, pemberdayaan keluarga dan masyarakat

dengan menggunakan buku kesehatan ibu dan anak (buku KIA), program

perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi (P4K), Desa Siaga, dan Kelas

Ibu Hamil, serta penyediaan fasilitas Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi


Dasar (PONED) dan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif

(PONEK) di rumah sakit (Dinkes Jatim, 2011).

Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka


Kematian Bayi (AKB) Kabupaten Sidoarjo
Tahun 2011-2016
120
100 95.8
80 78.1 80
72.8 72
60 66.34

40
20
8.89 10.39 8.85 6.86 6.27 4.26
0
2011 2012 2013 2014 2015 2016

AKI AKB

Sumber: Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo Tahun 2016


Gambar 1.3 Angka Kematian Ibu (AKI) per 10.000 KH dan Angka Kematian Bayi (AKB) per
1.000 KH Tahun 2011-2016 di Kabupaten Sidoarjo

Gambar 1.3 menjelaskan bahwa kematian Ibu adalah kematian yang terjadi

pada ibu karena peristiwa kehamilan, persalinan dan masa nifas, kecuali kasus

kecelakaan. Angka kematian ibu di kabupaten Sidoarjo tahun 2016 sebesar 66,34

per 100.000 kelahiran hidup lebih rendah dibanding degan target yaitu sebesar <

87 per 100.000 kelahiran hidup. Angka kematian ibu (AKI) turun apabila

dibandingkan tahun 2015 yaitu sebesar 72,1 per 100.000 kelahiran hidup.

Angka kematian bayi (AKB) menunjukkan keberhasilan pelayanan kesehatan

suatu wilayah. Di Kabupaten Sidoarjo tahun 2016 Angka kematian bayi (AKB)

mencapai 4,26 per 1.000 kelahiran hidup lebih rendah dari target adalah sebesar <

12 per 1.000 kelahiran hidup. Hasil ini diketahui mengalami penurunan dari

kejadian tahun 2015 sebesar 6,27 per 1.000 kelahiran hidup.


Adapun penyebab kematian ibu mayoritas disebabkan karena Pre Eklamsi

sebesar 12,50% menyusul karena Pendarahan sebesar 7,29% dan terakhir

penyebab lain-lain sebebsar 5,21% untuk lebih rinci penyebab kematian ibu dapat

dilihat pada Gambar 1.4.

Persentase AKI Berdasarkan Penyebab


Tahun 2016

5.21% 7.29%
Perdarahan
PE/PEB
12.50% Lain-lain

Sumber: Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo Tahun 2016


Gambar 1.4 Persentase AKI Berdasarkan Penyebab Tahun 2016

Persentase AKB Berdasarkan Penyebab


Tahun 2016
12.11%
11.11%
BBLR
6.60% Asfiksia
58.56%
Infeksi
17.16%
Kel Kongenital
Lain-lain

Sumber: Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo Tahun 2016


Gambar 1.5 Persentase AKB Berdasarkan Penyebab Tahun 2016
Gambar 1.5 menunjukkan bahwa AKB di Kabupaten Sidoarjo berdasarkan

Penyebab mayoritas dikarenakan BBLR sebesar 58,56%, menyusul askiksia

sebesar 17,16% dan terakhir dikarenakan penyebab lain sebebsar 12,11%.

Berdasarkan data jumlah kasus risiko tinggi maternal rujukan di Puskesmas

Wonoayu diketahui pada tahun 2016 sebanyak 171 orang dan kasus risiko tinggi

neonatal sebanyak 30 orang. Sedangkan jumlah rujukan risiko tinggi maternal

pada tahun 2017 meningkat dari tahun sebelumnya yaitu sebanyak 271orang

begitu juga sebaliknya untuk jumlah rujukan neonatal sebanyak 39 orang. Jumlah

kematian maternal pada tahun 2016 yaitu 1 orang dan pada tahun 2017 meningkat

menjadi 3 orang, sedangkan jumlah kematian neonatal tahun pada tahun 2016

sebanyak 2 orang dan meningkat kembali pada tahun 2017 menjadi 6 orang

(Puskesmas Wonoayu, 2017).

Tren AKI dan AKB Puskesmas Wonoayu


Tahun 2015-2017
10
6
8
6
AKB
4
2 3 AKI
2
1
0 0
2015 2016 2017

Sumber: Data Internal Puskesmas Wonoayu Tahun 2017


Gambar 1.6 Tren AKI dan AKB Puskesmas Wonoayu Tahun 2015-2017
Penggunaan aplikasi sistem informasi Sidoarjo Cegah Angka Kematian Ibu

dan Anak (Si Cantik) yang efektif, maka AKI dan AKB di kabupaten Sidoarjo

dapat diturunkan hingga dicegah sebelum terjadinya risiko komplikasi yang


menjadikan kegawatdaruratan. Penggunaan sistem informasi Si Cantik yang

komprehensif semestinya melibatkan jejaring fasilitas kesehatan PONED

(Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar) dan PONEK (Pelayanan Obstetri

Neonatal Emergensi Komprehensif). Dengan jejaring semacam ini, maka segala

potensi yang dimiliki fasilitas kesehatan, baik sarana-prasarana maupun sumber

daya manusia, dapat dimanfaatkan secara optimal. Agar proses pertukaran

informasi dalam penganggulangan dan pencegahan AKI AKB dapat berjalan

dengan baik, diperlukan dukungan sarana dan teknologi informasi dan komunikasi

yang efektif.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh beberapa peneliti mengenai faktor-faktor

yang mempengaruhi penerimaan pengguna Teknologi Informasi dan Komunikasi

(TIK) dapat dilihat pada tabel 1.1

No. Nama Peneliti, Tahun Judul Hasil Penelitian


dan Penelitian
1. Eki Saputra dan Misfariyan Tiga variabel penentu yang
2013 mempunyai hubungan positif dan
“Analisis Penerimaan Sistem signifikan dalam menggunakan
Informasi Manajemen Rumah Sistem Informasi Manajemen Rumah
Sakit Umum Daerah Bangkinang Sakit (SIMRS) adalah
Menggunakan Metode 1) Variabel Perceived Ease of Use
Technology Acceptance Model (PEOU) terhadap variabel
(TAM)” Perceived Usefulness (PU)
2) variabel PU atau manfaat
menggunakan sistem informasi
terhadap variabel Intention to Use
(ITU)
3) ITU atau niat perilaku terhadap
variabel pengguna sesungguhnya
Actual Use (AU) dari teknologi.
2. Muhammad Bhanu Setyawan Delapan variabel pendukung yang
2016 positif signifikan terhadap adopsi
“Analisis Faktor Penentu Adopsi cloud computing di RS yaitu PU,
Cloud Computing pada Layanan PEOU, complexity, needs, top
Kesehatan” managemenr support dan behavioral
No. Nama Peneliti, Tahun Judul Hasil Penelitian
dan Penelitian
intention to use. Sedangkan faktor-
faktor yang tidak signifikan antara
lain cost effectiveness realibility dan
security effectiveness
3. Esti Widyapraba, Tony Dwi Terdapat empat variabel yang
Susanto dan Anisah Herdiyanti memberikan pengaruh positif dan
2016 signifikan terhadap penerimaan
“Analisis Faktor-faktor yang pengguna Aplikasi Daftar Online
Mempengaruhi Niat Pengguna Rumah Sakit (ADORS) yaitu
untuk Menggunakan Aplikais 1) Perceived service availability
Daftar Online Rumah Sakit terhadap PEOU
(Studi Kasus: RSUD Gambiran 2) PEOU terhadap PU
Kediri)” 3) PU terhadap behavioral intention
to use (BI)
4) Subjective norm terhadap BI.
4. Supriyadi dan Muhammad Pengujian delapan hipotesis
Cholil membuktikan bahwa
2017 1) Computer self efficacy dan
“Aplikasi Technology subjective norm berpengaruh
Acceptance Model pada Sistem terhadap persepsi manfaat dan
Informasi Manajemen Rumah persepsi kemudahan
Sakit” 2) System accessibility tidak
berpengaruh terhadap persepsi
manfaat, namun berpengaruh
terhadap persepsi kemudahan
3) Persepsi kemudahan berpengaruh
terhadap persepsi manfaat
4) Persepsi manfaat dan persepsi
kemudahan tidak berpengaruh
terhadap sikap
5) sedangkan sikap berpengaruh
terhadap niat
6) niat berpengaruh terhadap
perilaku menggunakan teknologi.
5. Ayu Laraswaty Lumban Gaol, a. Persepsi kemudahan
Atik Mawarni, Djoko Nugroho
2017
“Analisis Evaluasi Implementasi
SIK 5NG pada Bidan Desa
dengan Metode TAM di Wilayah
Kerja Dinas Kesehatan
Kabupaten Demak Tahun 2016”
enelitian yang dilakukan oleh (Marton & Wei Choo 2012) menjelaskan

bahwa faktor-faktor penentu penggunaan teknologi informasi yaitu karaktersitik

individu, kegunaan atau pengalaman menggunakan TIK dan sosial demografi.

Selain itu penelitian yang dilakukan oleh (Abdekhoda et al. 2013) menyatakan

bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan pengguna teknologi

informasi adalah persepsi tentang kegunaan dan kemudahan penggunaan untuk

menerima teknologi informasi saat sebuah sistem aplikasi berhasil dilakukan uji

coba. Penelitian yang dilakukan oleh (Saputra & Misfariyan 2013) menjelasakan

faktor-faktor yang mempengaruhi user dalam menggunakan Sistem Informasi

Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) adalah variabel PEOU mempunyai hubungan

positif signifikan terhadap variabel PU, variabel PU juga berpengaruh positif

terhadap ITU dan ITU sendiri juga memiliki pengaruh positif terhadap variabel

AU dari teknologi.

1.2 Kajian Masalah

Menekan angka kematian ibu (AKI), dinas kesehatan (dinkes) membuat Si

Cantik. Itu merupakan akronim dari Sidoarjo Mencegah Angka Kematian Ibu dan

Anak. Menurut dr Inensa Khoirul, Si Cantik berupa aplikasi dalam handphone.

’’Tujuannya untuk skrining ibu hamil yang berisiko tinggi,’’ paparnya kemarin.

Dengan begitu, kondisi kesehatan ibu hamil pun terpantau oleh tim kesehatan.

Baik di tingkat bidan, puskesmas, maupun rumah sakit. Aplikasi tersebut bisa

diakses tenaga medis dengan memasukkan nomor induk kependudukan (NIK).


’’Dengan begitu, faktor risiko tertangani sejak dini. Kematian pun bisa dicegah,’’

lanjut supervisor Si Cantik itu.

Selain kondisi terkini, tenaga kesehatan bisa mengetahui riwayat kesehatan

ibu hamil, Misalnya, pernah mengalami tekanan darah tinggi saat hamil atau

pendarahan. “Meski ibu pindah ke daerah lain tetap bisa diakses. Sebab,

passwordnya kan NIK,” tambahnya.

Aplikasi tersebut memang sangat bermanfaat asal digunakan dengan benar.

Menurut Ketua Forum Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi Sidoarjo dr

Setya Budi Pamungkas SpOG, secanggih apa pun aplikasi yang dibuat tidak ada

gunanya jika tidak ditunjang kinerja yang benar. Karena itu, dia mengimbau

seluruh peserta sosialisasi Si Cantik yang terdiri atas dokter, bidan, dan bidan

koordinator untuk tetap menjalankan prosedur standar operasi (PSO).

’’Bagaimana kita betul-betul menghargai nyawa pasien,’’ katanya.

Dia menegaskan, menangani ibu hamil dengan label risiko tinggi (risti) bukan

sekadar dalam bidang pemeriksaan. Tetapi juga meliputi identifikasi dan

memotivasi. Misalnya, memotivasi agar bersedia menjalani tes laboratorium.

’’Harus tuntas. Terdeteksi, tapi tidak bisa memotivasi akan hilang,’’ katanya.

Berdasar data Dinkes Sidoarjo, pada 2017 terdapat 30 ibu yang meninggal

dari 36.313 kelahiran hidup (KH). Jika dihitung per 100.000 KH, angka kematian

ibu mencapai 82,62. Jumlah tersebut terbilang sedikit dibanding target nasional

306 per 100.000 KH.

Pada 2016 terdapat 26 ibu yang meninggal. Menurut Kepala Dinkes Sidoarjo

dr Ika Harnasti, jumlah angka kematian ibu tersebut salah satunya diperoleh dari
pendataan yang lebih terperinci dan intensif. Petugas mendata dengan sistem

jemput bola. ’’Jadi, peristiwa yang tidak dilaporkan juga terdeteksi,’’ paparnya.

Sementara itu, faktor penyebab angka kematian ibu tinggi adalah pendarahan.

Dari 30 kasus kematian, 12 di antaranya meninggal karena pendarahan. ’’Tahun

ini selama tiga pekan sudah ada tiga ibu yang meninggal,’’ papar Kepala Seksi

Kesga dan Gizi Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Sidoarjo Sri Andari E.

Penanganan kegawatdaruratan yang efektif sangat diperlukan dalam upaya

meningkatkan keselamatan ibu hamil (maternal) dan bayi baru lahir (neonatal).

Salah satu upaya meningkatkan efektivitas penanganan kegawatdaruratan tersebut

adalah melalui pemanfaatan sistem informasi si cantik antarfasilitas kesehatan

dalam wilayah tertentu. Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) juga dapat

dimanfaatkan sebagai sarana pendukung komunikasi dan pengelolaan sistem

informasi si cantik antarfasilitas kesehatan.

Sistem informasi Si Cantik memang masih baru dan belum mulai

diimplementasikan berupa pelatihan mengenai entry data ke seluruh petugas

kesehatan khususnya bidan Puskesmas, bidan Desa, dan Bidan Praktek Mandiri

(BPM). Dengan adanya penerapan dan pemanfaatan sistem ini besar harapan

angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) dapat diturunkan

sehingga kesejahteraan ibu dan anak dapat terjamin.

Sidoarjo Cegah Kematian Ibu dan Anak (Si Cantik) merupakan suatu sistem

pengumpulan data menggunakan teknologi informasi berbasis website dan

android yang dapat digunakan untuk Puskesmas dan Rumah Sakit. Sistem

memulai pencatatan pada saat ibu dinyatakan positif hamil hingga melahirkan,
apabila ditengah periode kehamilannya ibu mengalami komplikasi dengan kasus

komplikasi maka segera mendapatkan fasilitas rujukan yang terencana. Sedangkan

untuk kasus ibu hamil dengan risiko tinggi dapat segera teridentifikasi dan

diberikan intervensi untuk mencegah terjadinya komplikasi sehingga keselamatan

ibu dan anak menjadikan prioritas utama.

1.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan kajian masalah dalam penelitian ini, maka

rumusan masalah pada penelitian ini adalah “Bagaimanakah analisis penerimaan

sistem informasi Sidoarjo Cegah Angka kematian ibu dan Anak (si Cantik) di

Kabupaten Sidoarjo?”

1.4 Tujuan Penelitian

1.4.1 Tujuan Umum

Menganalisis penerimaan sistem informasi Sidoarjo Cegah Angka Kematian

Ibu dan Anak (Si Cantik) dengan menggunakan pendekatan TAM di Kabupaten

Sidoarjo

1.4.2 Tujuan Khusus

1. Mempelajari sistem informasi si Cantik yang baru berjalan di Kabupaten

Sidoarjo

2. Mengidentifikasi hambatan yang dialami oleh petugas dalam pencatatan,

pelaporan dan pengolahan data sistem informasi si Cantik di Kabupaten

Sidoarjo

3. Menganalisis penerimaan sistem informasi si Cantik berdasarkan variabel

perceived usefulness di Kabupaten Sidoarjo


4. Menganalisis penerimaan sistem informasi si Cantik berdasarkan variabel

perceived ease of use di Kabupaten Sidoarjo.

5. Menganalisis penerimaan sistem informasi si Cantik berdasarkan variabel

attitude toward using di Kabupaten Sidoarjo

6. Menganalisis pemanfaatan sistem informasi si Cantik berdasarkan variabel

behavioral intention to use di Kabupaten Sidoarjo.

7. Menganalisis penerimaan sistem informasi si Cantik berdasarkan variabel

actual system use di Kabupaten Sidoarjo.

8. Melakukan pelatihan dan analisis perbaikan sistem informasi si Cantik di

Kabupaten Sidoarjo.

1.5 Manfaat Penelitian

1. Bagi Peneliti

Menambah wawasan, pengetahuan, dan pemahaman dalam mempersiapkan,

menganalisis, serta menginformasikan data yang telah di temukan dalam

pelaksanaan sistem rujukan maternal dan neonatal.

2. Bagi Universitas

Sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil kebijaksanaan yang lebih baik

di masa yang akan datang, terutama untuk memberikan masukan dan tambahan

informasi serta menyampaikan saran yang mungkin bermanfaat bagi Fakultas

Kesehatan Masyarakat.

3. Bagi Institusi
Sebagai masukan bagi pengelola dalam melaksanakan kegiatan rujukan

maternal dan neonatal serta sebagai masukan untuk bahan pertimbangan bagi

pembuat kebijakan.
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Sistem dan Informasi

Kata sistem berasal dari bahasa yunani “Sistema” yang artinya kesatuan.

Suatu sistem dapat terdiri dari sistem-sistem bagian (subsystems). Sebagai misal,

sistem komputer dapat terdiri dari subsistem perangkat keras dan subsistem

perangkat lunak. Menurut Jerry Fith Gerald (2010) sistem adalah suatu jaringan

kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama

untuk melakukan suatu kegiatan atau menyelesaikan suatu sasaran tertentu.

2.1.1 Pengertian Sistem

Sistem dapat bersifat abstrak atau fisik, sistem yang bersifat abstrak adalah

susunan yang teratur dari gagasan-gagasan atau konsep-konsep yang saling

ketergantungan. Sistem yang bersifat fisik adalah serangkaian unsur yang bekerja

untuk mencapai suatu tujuan tertentu (Gerreld and Werren, 2008).

Sistem dapat didefinisikan melalui dua pendekatan yaitu pendekatan prosedur

dan pendekatan komponen. Definisi sistem menggunakan pendekatan prosedur

yaitu kumpulan dari berbagai prosedur yang mempunyai tujuan tertentu.

Sedangkan sistem dengan pendekatan komponen adalah kumpulan dari berbagai

komponen yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya sehingga

membentuk suatu kesatuan guna memperoleh suatu tujuan (Jogiyanto, 2009).

Pengertian sistem dalam bahasa Indonesia adalah suatu rangkaian prosedur

yang telah merupakan suatu kebulatan untuk melaksanakan suatu fungsi. Dalam

ensiklopedi manajemen dijelaskan bahwa sistem adalah keseluruhan yang terdiri


dari atas sejumlah variabel yang berintegrasi. Suatu sistem pada dasarnya adalah

suatu susunan yang teratur dari kegiatan yang berhubungan satu dengan yang

lainnya dan prosedur-prosedur yang berkaitan yang melaksanakan dan

memudahkan pelaksanaan, kegiatan utama dari suatu organisasi (Gerreld and

Werren, 2008).

Sutabri (2005) mendefinisikan sistem sebagai suatu jaringan kerja dari

prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk

melakukan suatu kegiatan atau untuk menyelesaikan suatu sasaran tertentu.

2.1.2 Karakteristik Sistem

Suatu sistem mempunyai karakteristik atau sifat – sifat yang tertentu (Sutabri,

2005) , yaitu:

1. Mempunyai komponen (components)

Suatu sistem terdiri dari sejumlah komponen yang saling berinteraksi, bekerja

sama membentuk satu kesatuan. Komponen-komponen sistem dapat berupa

subsistem atau bagian-bagian dari sistem. Setiap sistem tidak peduli berapapun

kecilnya selalu mengandung komponen atau subsistem. Setiap subsitem

mempunyai sifat dari sistem untuk menjalankan suatu fungsi tertentu dan

mempengaruhi proses sistem secara keseluruhan.

2. Batas sistem (boundary)

Batas sistem merupakan daerah yang membatasi antara suatu sistem dengan

sistem yang lainnya atau dengan lingkungan luarnya. Batas sistem ini

memungkinkan suatu sistem dipandang sebagai suatu kesatuan. Batas suatu

sistem menunjukkan ruang lingkup (scope) dari sistem tersebut.


3. Lingkungan luar sistem (environments)

Bentuk apapun di luar batas dari sistem yang mempengaruhi operasi sistem,

dapat bersifat merugikan dan menguntungkan.

4. Penghubung sistem (interface)

Media penghubung antara subsitem dengan subsitem lainnya. Keluaran

(output) dari suatu subsistem dapat menjadi masukan (input) subsistem lainnya

melalui penghubung.

5. Masukan sistem (input)

Merupakan energi yang dimasukkan ke dalam sistem. Masukan dapat berupa

perawatan (maintenance input) dan sinyal (signal input). Maintenance input

adalah energi yang dimasukkan supaya sistem tersebut dapat beroperasi. Signal

input adalah energi yang diproses untuk didapatkan keluaran. Sebagai contoh

dalam sistem komputer, program adalah maintenance input yang digunakan

untuk mengoperasikan komputernya dan data adalah signal input untuk diolah

menjadi informasi.

6. Keluaran sistem (output)

Suatu hasil dari proses pengolahan sistem yang dikeluarkan dan berguna untuk

lingkungan.

7. Pengolahan sistem (process)

Merupakan bagian yang memproses masukan untuk menjadi keluaran yang

diinginkan.

8. Sasaran sistem (objectives) atau tujuan (goal)


sesuatu yang menyababkan mengapa sistem itu dibuat atau ada. Suatu sistem

dikatakan berhasil bila mengenai sasaran atau tujuan.

9. Pengendalian (Control)

Pengendalian merupakan komponen utama yang diperlukan untuk menjaga

agar proses di dalam sistem berlangsung secara normal sesuai batasan yang

ditetapkan sebelumnya.

10. Umpan Balik (Feed Back)

Umpan balik diperlukan sebagai pengendalian (control) sistem untuk

mengecek terjadinya penyimpangan proses dalam sistem dan

mengembalikannya ke dalam kondisi normal.

Unsur-unsur dari sebuah sistem terdiri dari masukan (input), proses (process),

keluaran (output), umpan balik (feedback), dampak (impact), dan lingkungan

(environment) seperti yang dapat dilihat pada gambar 1.1 (Sutabri, 2005).

Masukan Proses Output Dampak

Feedback

Sumber: Sutabri, 2005


Gambar 2.1 Unsur-unsur sistem
Konsep dasar suatu sistem didasarkan pada dua pendekatan yaitu yang

menekankan pada komponennya dan yang menekankan pada prosedurnya.

Pendekatan sistem yang menekankan pada komponen-komponennya lebih mudah

digunakan untuk tujuan analisis dan rancangan suatu sistem, karena kenyataannya

suatu sistem dapat terdiri dari beberapa subsistem atau sistem bagian. Sedangkan
informasi adalah data yang diolah menjadi bentuk yang lebih berguna dan lebih

berarti bagi yang menerimanya (Jogiyanto, 2005).

Sutabri (2009) menjelaskan karakteristik sistem secara umum yaitu sebagai

berikut:

1. Sistem terdiri dari bagian-bagian yang terkecil yang disebut sub sistem

2. Sistem menunjukkan adanya entrop artinya keadaan sistem yang tertutup atau

tidak ada input dari luar

3. Sistem mempunyai komponen-komponen yang saling berhubungan antara satu

dengan yang lainnya

4. Semua sistem mempunyai input dan output

5. Sistem mengubah input menjadi output

6. Sistem mempunyai suatu deferensiasi yaitu tiap-tiap unit khusus menangani

tugas yang komplek atau rumit

7. Sistem adalah mengejar sasaran dalam berbagai cara

8. Sistem harus dipandang secara keseluruhan

9. Sistem mengajukan akhir yang sama artinya keadaan terakhir yang dicapai dari

jalur atau titik awal berlainan untuk mencapai tujuan.

2.1.3 Klasifikasi Sistem

Sistem dapat diklasifikasikan dari beberapa sudut pandangan, diantaranya

adalah sebagai berikut ini:

1. Sistem diklasifikasikan sebagai sistem abstrak (abstract system) dan fisik

(physical system). Sistem abstrak adalah sistem yang berupa pemikiran atau
ide-ide yang tidak tampak secara phisik. Sistem fisik merupakan sistem yang

ada secara fisik. Misalnya sistem komputer.

2. Sistem diklasifikasikan sebagai sistem alamiah (natural system) dan sistem

buatan manusia (human made system). Sistem alamiah adalah sistem yang

terjadi melalui proses alam, tidak dibuat manusia. Sistem buatan manusia

adalah sistem yang dirancang oleh manusia.

3. Sistem diklasifikasikan sebagai sistem tertentu (deterministic system) dan

sistem tak tentu (probabilistic system). Sistem tertentu beroperasi dengan

tingkah laku yang sudah dapat diprediksi. Interaksi diantara bagiannya dapat

dideteksi dengan pasti, sehingga keluaran dari sistem dapat diramalkan. Sistem

tak tentu adalah sistem yang kondisi masa depannya tidak dapat diprediksi

karena mengandung unsur probabilitas.

4. Sistem diklasifikasikan sebagai sistem tertutup (closed system) dan sistem

terbuka (open system). Sistem tertutup merupakan sistem yang tidak

berhubungan dengan lingkungan luarnya. Sistem terbuka adalah sistem yang

berhubungan dan terpengaruh dengan lingkungan luarnya. Sistem ini menerima

masukan dan menghasilkan keluaran untuk lingkungan luar atau subsistem

yang lainnya (Jogiyanto, 2009).

2.1.4 Pengertian Informasi

Menurut Jogiyanto (2005) informasi adalah data yang diolah menjadi lebih

berguna dan lebih bermanfaat bagi yang menggunakannya. Pengertian lain

tentang informasi adalah data yang telah diproses atau data yang memiliki arti,

jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa data merupakan sumber informasi. Data
merupakan bentuk mentah yang belum dapat bercerita banyak sehingga perlu

diolah untuk menghasilkan suatu informasi.

Kualitas informasi tergantung dari tiga hal yaitu informasi harus akurat, tepat

pada waktunya dan relevan. Akurat berarti harus bebas dari kesalahan dan tidak

bias atau menyesatkan. Akurat juga berarti informasi harus jelas mencerminkan

maksudnya. Informasi harus akurat karena dari sumber informasi sampai ke

penerimanya kemungkinan banyak terjadi gangguan yang dapat merubah atau

merusak informasi tersebut.

Menurut Hastono (2007) Informasi didefinisikan sebagai data yang diolah

menjadi bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi yang menerimanya.

Informasi merupakan suatu hal yang sangat penting dalam suatu sistem. Sistem

yang kurang mendapatkan informasi maka makin lama sistem tersebut akan

berakhir. Suatu informasi dapat dikatakan berkualitas bila memenuhi faktor-

faktor, yaitu:

1. Relevan (relevancy)

Informasi yang berkualitas akan mampu menunjukkan benang merah relevansi

kejadian masa lalu, hari ini, dan masa depan sebagai sebuah bentuk aktifitas

yang konkrit dan mampu dilaksanakan dan dibuktikan oleh siapa saja.

2. Akurat (accuracy)

Suatu informasi dikatakan berkualitas jika seluruh kebutuhan informasi

tersebut telah tersampaikan (completeness), seluruh pesan telah benar/sesuai

(correctness), serta pesan yang disampaikan sudah lengkap atau hanya sistem

yang diinginkan oleh user (security).


3. Tepat Waktu (timeliness)

Berbagai proses dapat diselesaikan dengan tepat waktu, laporan laporan yang

dibutuhkan dapat disampaikan tepat waktu.

4. Ekonomis (economy)

Informasi yang dihasilkan mempunyai daya jual yang tinggi, serta biaya

operasional untuk menghasilkan informasi tersebut minimal.

5. Efisien (efficiency)

Informasi yang berkualitas memiliki kalimat yang sederhana namun

memberikan makna dan hasil yang mendalam.

6. Dapat dipercaya (reliability)

Informasi berasal dari sumber yang dapat dipercaya. Sumber tersebut juga

teruji tingkat kejujurannya. Misalkan output suatu program komputer, bisa

dikategorikan sebagai reliability, karena program komputer akan memberikan

output sesuai dengan input yang diberikan.

2.1.5 Pengertian Sistem Informasi

Sistem informasi adalah suatu sistem di dalam suatu organisasi yang

mempertemukan kebutuhan pengolahan transaksi harian, mendukung operasi,

bersifat manajerial dan kegiatan strategi dari suatu organisasi dan menyediakan

pihak luar tertentu dengan laporan-laporan yang diperlukan (Jogiyanto, 2009).

Dalam siklus informasi terdapat proses pengolahan data menjadi informasi

dan pemakaian informasi untuk pengambilan keputusan, sehingga akhirnya dari

tindakan hasil pengambilan keputusan tersebut dihasilkan data kembali. Siklus

informasi lebih lengkap dapat dilihat pada gambar berikut (Kadir, 2005):
Input Proses Output Penerima

Basis data

Data Hasil Tindakan

Gambar 2.3 Siklus informasi


2.1.6 Penerimaan Sistem Informasi

Berdasarkan pembahasan mengenai ukuran penilaian dalam evaluasi sistem

informasi diatas, salah satu yang dapat digunakan adalah usability. Beynon-

Davies (2002) menganggap ada 5 aspek dalam usability, yaitu:

3 Learnability yaitu sebuah sistem informasi seharusnya mudah untuk dipelajari

bagaimana cara menggunakannya.

4 Rememberability yaitu setelah mengetahui bagaimana menggunakan sistem

informasi, pengguna haru mampu mengingat bagaimana menggunakannya

dengan mudah.

5 Efficiency of use yaitu sistem harus efisien untuk digunakan.

6 Reliability in use yaitu sistem harus meningkatkan kinerja manusia menjadi

lebih handal dalam arti bahwa sistem akan mengarahkan pengguna untuk

membuat lebih sedikit kesalahan.

7 Use satisfaction yaitu antarmuka dan sistem harus memuaskan pengguna

dalam arti bahwa secara subyektif pengguna senang menggunakan sistem.

2.2 Sistem Informasi Kesehatan

Sistem informasi kesehatan adalah suatu sistem yang menyediakan dukungan

informasi bagi proses pengambilan keputusan di setiap jenjang administrasi


kesehatan, baik di tingkat unit pelaksana kesehatan, di tingkat kabupaten/kota, di

tingkat propinsi, maupun di tingkat pusat. Sebagaimana sistem pada umumnya,

sistem informasi kesehatan juga mempunyai komponen sub sistem yang saling

berkaitan (Jogiyanto, 2009). Sistem informasi kesehatan adalah tatanan yang

dengan transformasi data menjadi informasi kesehatan yang dimanfaatkan oleh

pengambil keputusan di bidang kesehatan.

Sistem informasi kesehatan pada era desentralisasi mengalami beberapa

kendala seperti yang disampaikan kepala pusat data dan informasi Depkes pada

pertemuan SIK yaitu (Indrasanto, 2006):

1. Laporan operasional (SIMPUS, surveilans) hanya sampai pada tingkat

kabupaten/kota

2. Data kegiatan/program hanya sampai pada tingkat kabupaten tidak ada

tembusan ke dinas kesehatan propinsi

3. Laporan SIRS hanya sampai pada ditjen yanmedik tetapi tidak selalu ada

tembusan ke dinas kesehatan kabupaten/kota dan propinsi

4. Kegiatan unit kesehatan swasta tidak termonitor oleh dinas Kesehatan

5. Pemanfaatan data oleh manajemen yang tidak optimal.

Menurut Winarno (2004), kualitas informasi memiliki karakteristik seperti:

akurat yang menggambarkan kondisi objek yang sesungguhnya, tepat waktu,

informasi tersedia sebelum pegambilan keputusan, lengkap mencakup semua yang

dibutuhkan oleh pengambil keputusan, relevan berhubungan dengan keputusan

yang diambil, terpercaya isi informasi dapat dipercaya, terverifikasi dapat dilacak

ke sumber aslinya, mudah dipahami dan mudah diperoleh.


2.3 Pengembangan Sistem Informasi

Beberapa pendekatan yang dapat digunakan untuk mengembangkan sistem

informasi yaitu pendekatan tradisional, pendeekatan alternatif (prototyping,

pembelian paket software, outsourcing) dan pengembangan oleh pengguna. Pada

penelitian ini pengembangan sistem dilakukan melalui pendekatan prototype.

Sutabri (2009) menyatakan bahwa pengembangan sistem merupakan kegiatan

menyusun sistem yang baru dan menggantikan yang lama atau suatu usaha

memperbaiki sistem yang lama. Ada tiga hal yang mendasari pengembangan

sistem yaitu:

1. Munculnya masalah pada sistem lama, berupa:

a. Sistem yang lama tidak dapat beroperasi karena adanya gangguan

b. Kebutuhan organisasi yang akan menyebabkan harus disusunnya sistem baru

2. Memperoleh kesempatan

Teknologi informasi yang berkembang dengan cepat memberikan

kemungkinan peningkatan penyediaan informasi yang dapat mendukung proses

pengambilan keputusan manajemen.

3. Adanya instruksi

Penyusunan sistem baru dilakukan untuk memecahkan masalah yang timbul

atau untuk memenuhi instruksi, misalnya peraturan Pemerintah.

Menurut Jogiyanto (2007), jika sistem baru sudah terbentuk maka diharapkan

akan terjadi peningkatan sistem tersebut meliputi:

1) Kirnerja, yang dapat diukur dari beban kerja dan waktu respon. Beban kerja

adalah jumlah pekerjaan yang dapat dilakukan pada saat tertentu. Waktu
respon adalah rata-rata waktu yang tertunda diantara dua transaksi atau

pekerjaan ditambah dengan waktu respon untuk menanggapi pekerjaan

tersebut.

2) Informasi, terjadi peningkatan kualitas informasi yang disajikan

3) Ekonomis, terjadi peningkatan manfaat atau keuntungan atau penghematan

biaya

4) Pengendalian, terjadi peningkatan pada pengendalian untuk mendeteksi dan

memperbaiki kesalahan serta kecurangan yang terjadi

5) Efisisensi, terjadi peningkatan efisiensi operasi yang dapat diukur dengan cara

keluaran dibagi masukan

6) Pelayanan, terjadi peningkatan pelayanan yang diberikan oleh sistem.

2.4 Technology Acceptance Model (TAM)

Penerimaan pengguna terhadap suatu teknologi merupakan faktor kunci

dalam keberhasilan pengaplikasian Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)

atau sistem informasi (Jogiyanto, 2007). Penerimaan pengguna didefinisikan

sebagai kesediaan pengguna yang ditunjukkan melalui penggunaan suatu

teknologi secara aktif dalam rangka menunjang penyelesaian suatu tugas tertentu

(Hosaain & Silva, 2009).

Technology Acceptance Model (TAM) merupakan salah satu model yang

dibangun untuk menjelaskan dan memprediksi perilaku dalam manusia

menggunakan teknologi atau sistem informasi yang baru. Perilaku manusia

tersebut dijelaskan melalui lima variabel laten (construct) yang ada pada model

TAM yaitu Perceived Ease Of Use (PEOU), Perceived Usefulness (PU), Attitude
Toward Using (ATU), Behavioral Intention to Use (BI), dan Actual Usage (AU).

Dari kelima variabel laten (construct) yang ada pada TAM, dua diantaranya

merupakan variabel belief yang menjadi construct utama TAM yaitu PU dan

PEOU. Kedua variabel belief tersebut selalu dilibatkan pada penelitian yang

menggunakan pendekatan TAM sedangkan construct lainnya tidak selalu

dilibatkan. Berikut ini merupakan definisi masing-masing construct (variabel

laten) yang ada pada TAM:

Tabl 2.1 Definisi Variabel Laten (Construct)


Variabel Laten Definisi
(Construct)
PU Derajat dimana seseorang mempercayai bahwa
menggunakan suatu teknologi akan meningkatkan
performansinya
PEOU Derajat dimana seseorang ketika menggunakan teknologi
akan bebas dari physical dan mental effort yang besar
ATU Derajat evaluatif yang mempengaruhi keputusan seseorang
dalam menggunakan teknologi
BI Derajat yang menunjukkan kehendak (maksud dan niat)
pengguna untuk menggunakan suatu teknologi
AU Derajat yang menunjukkan intensitas pengguna untuk
menggunakan teknologi secara aktif
Sumber: Davis et al., 1989; Davis, 1989; Davis, 1993; Shyu Huang, 2011; Teo
& Noyes, 2011), Wu et al., 2011.

Menurut Davis (1989) dalam Jogiyanto (2007) TAM tidak hanya digunakan

untuk memprediksi tetapi menjelaskan faktor penerimaan TIK atau sistem

informasi oleh pengguna. TAM pertama kali diperkenalkan oleh Fred Davis pada

tahun 1989. TAM merupakan hasil pengembangan dari Theory of Reasoned

Action (TRA) yaitu teori tindakan yang beralasan dengan satu premis bahwa

reaksi dan persepsi seseorang terhadap sesuatu hal akan menentukan sikap dan

perilaku orang tersebut. TRA sendiri dikembangkan oleh Fishbein dan Ajzen pada

tahun 1980 (Churtur, 2009).


2.4.1 Konsep Model Penerimaan Teknologi

TAM dalam memprediksi penerimaan pengguna berdasarkan pada 2 variabel

utama yaitu persepsi kegunaan (perceived usefulness) dan persepsi kemudahan

penggunaan (perceived ease of use) yang akan mempengaruhi sikap terhadap

penggunaan (attitude toward using), lalu mempengaruhi niat perilaku untuk

menggunakan (behavioral intention to use) dan pada akhirnya menunjukkan

penggunaan nyata dari sistem (actual system use) (Davis, 1989).

Perceived
Usefulness
Attitude Toward Behavioral Actual System
Using Intention to Use Use
Perceived
Ease of Use

Gambar 2.2 Model TAM (Technology Acceptance Model)

a. Persepsi Kegunaan (Perceived Usefulness)

Menurut Davis (1986) persepsi kegunaan diartikan sebagai tingkat dimana

individu percaya bahwa menggunakan sistem tertentu akan meningkatkan kinerja

pekerjaannya. Persepsi ini diukur melalui indikator produktivitas (productivity),

efektivitas (effectiveness), pentingnya bagi tugas (importance to job), dan

kegunaan secara keseluruhan (overall usefulness) (Chuttur, 2009).

b. Persepsi Kemudahan Penggunaan (Perceived Ease Of Use)

Merupakan tingkat dimana individu percaya bahwa menggunakan sistem

tertentu akan bebas dari upaya fisik dan mental. Persepsi ini diukur melalui

indikator kemudahan untuk dipelajarii (easy to learn), kemudahan mencapai

tujuan (controllable), jelas dan mudah dipahami (clear & understable), fleksibel

(flexibel), dan kemudahan akses (easy to access) (Chuttur, 2009).


Persepsi kemudahan dapat meyakinkan individu bahwa teknologi yang

dipergunakan bukanlah merupakan beban serta hambatan dalam pekerjaan atau

tugas. Dengan adanya kemudahan dalam penggunaan teknologi membuat individu

yang menjalankan tugas akan terus menggunakan teknologi.

Persepsi kemudahan merupakan suatu keyakinan pengguna akan mudahnya

sistem saat digunakan dan mudahnya suatu sistem dapat diaplikasikan dalam

suatu kegiatan. Selain itu dapat diartikan pula bahwa persepsi kemudahan

mengukur pandangan seseorang seberapa besar IT dapat digunakan secara mudah

untuk dipahami dan digunakan. Persepsi kemudahan mempengaruhi intention of

use (perilaku) dan IT acceptance (penerimaan). Selain itu persepsi kemudahan

juga dapat mempengaruhi persepsi kebermanfaatan (Jogiyanto, 2007).

c. Sikap terhadap Penggunaan (attitude toward using)

Sikap ini dalam TAM dikonsepkan sebagai sikap terhadap penggunaan sistem

yang berbentuk penerimaan atau penolakan sebagai dampak bila seseorang

menggunakan suatu teknologi dalam pekerjaannya (Chuttur, 2009).

ATU dapat dikatakan sebagai evaluasi atas ketertarikan penggunaan

teknologi informasi. Reaksi dan respon atas penggunaan teknologi informasi

membuat kecenderungan seseorang akan menggunakan teknologi tersebut. Sikap

seseorang terdiri atas tiga komponen yaitu komponen kognitif merupakan

representasi atas sesuatu yang dipercayai oleh pemilik sikap; komponen afektif

merupakan aspek emosional atas perasaan pemilik sikap; dan komponen konatif

merupakan aspek kecenderungan berperilaku tertentu sesuai dengan pemilik sikap

(Jogiyanto, 2007).
d. Minat Perilaku untuk Menggunakan (Behavioral Intention To Use)

Merupakan kecenderungan perilaku untuk tetap menggunakan suatu

teknologi. Tingkat penggunaan sebuah teknologi komputer pada seseorang dapat

diprediksi dari sikap perhatiannya terhadap teknologi tersebut, misalnya keinginan

menambah pengguna yang mendukung, motivasi untuk tetap menggunakan, serta

keinginan untuk memotivasi pengguna lain (Davis, 1986).

Sikap perhatian pengguna teknologi menjadi faktor pemicu suatu minat dalam

diri individu. Atensi atau perhatian adalah pemrosesan secara sadar sejumlah kecil

informasi dari sejumlah besar informasi yang tersedia. Seberapa besar tingkat

perhatian individu atas suatu teknologi akan berbanding lurus terhadap minat

penggunaan teknologi (Jogiyanto, 2007).

e. Penggunaan nyata dari sistem (Actual System Use)

Merupakan kondisi nyata penggunaan sistem. Seseorang akan merasa puas

menggunakan sistem jika mereka meyakini bahwa sistem tersebut mudah

digunakan dan akan meningkatkan produktifitas mereka yang tercermin dari

kondisi nyata penggunaan (Natalia Tangke, 2004).

Pengukuran actual system use dikonsepkan dalam bentuk tingkat durasi dan

frekuensi atas penggunaan terhadap teknologi informasi. actual system use diukur

berdasarkan frekuensi atas penggunaan suatu teknologi dan durasi waktu atas

penggunaan suatu sistem (Jogiyanto, 2007).

2.4.2 Perkembangan TAM

Seiring perkembangan waktu, model TAM telah banyak mengalami

modifikasi. Beberapa peneliti mencoba mengembangkan model TAM dengan


menambahkan beberapa variabel eksternal yang menerangkan lebih lanjut atau

menjadi penyebab dari kegunaan persepsian (PU) atau kemudahan penggunaan

persepsian (PEOU). Model TAM yang telah dimodifikasi dengan menambahkan

variabel eksternal yaitu sebagai berikut:

Perceived
Usefulness
Attitude Behavioral Actual
Variabel
towards Using Intention to Use Technology Use
Eksternal
Technology
Perceived
Ease of Use

Gambar 2.3 Model TAM yang dikembangkan

TAM digunakan untuk meneliti apakah antara perceived of usefulness dan

perceive ease of use berpengaruh terhadap behavioral intension of use. Namun

dalam penelitian ini peneliti menambahkan beberapa variabel untuk mengetahui

apakah variabel eksternal berpengaruh terhadap variabel kunci dalam TAM dan

apakah variabel tersebut berpengaruh positif terhadap variabel kunci dari TAM.

2.4.3 Penentuan Variabel Eksternal

Prinsip dari TAM ini adalah menguji PU dan PEOU berpengaruh kepada BI

sehingga dapat mempengaruhi AU (Shyu & Huang, 2011). Menurut Moon and

Kin (2001) faktor yang melatarbelakangi kesediaan seseorang akan berbeda antara

penggunaan TIK satu sama lain tergantung dari teknologi yang digunakan,

pengguna teknologi dan kontekstual kasus yang diteliti. Oleh karena itu

diperlukan perluasan model TAM melalui pengembangan variabel eksternal agar

model yang dihasilkan dapat menjelaskan kesedian petugas (bidan) untuk

menggunakan aplikasi Si Cantik.


Menurut Al-Qeisi (2009) disebutkan bahwa variabel eksternal yang

digunakan pada suatu penelitian dapat berupa objective system design, computer

self-efficacy, pelatihan, keterlibatan pengguna dalam tahap desain, karakteristik

proses implementasi teknologi secara alamiah dsb.


No. Peneliti Judul Penelitian Variabel Definisi Variabel Eksternal Relevansi Penelitian
Eksternal
1. Edwin Surya Saputra Analisis Faktor yang Demand of Tuntutan tugas dan pekerjaan
(2012) Mempengaruhi Task (Tugas dipengaruhi atas kesesuaian,
Penerimaan dan dan Pekerjaan) interaksi, teknologi, dan tugas atau
Penggunaan Software pekerjaan yang berbasis
Akuntasi dengan teknologi. Tuntutan tugas dan
Pendekatan TAM pekerjaan akan mengarah kepada
seberapa mudah system dan
seberapa besar manfaat atas sistem.
Experience Konstruk pengalaman dapat
(Pengalaman) dikatakan sebagai dasar atas
penerimaan suatu teknologi, tingkat
kesulitan suatu teknologi dapat
diterima dan digunakan bila
seorang individu mempunyai
pengalaman dalam teknologi
tersebut.
Frequency of Frekuensi merupakan ukuran
Use (Frekuensi jumlah putaran ulang per peristiwa
Penggunaan) dalam selang waktu yang diberikan.
Frekuensi memiliki arti yang
hampir sama terhadap pengalaman.
Namun frekuensi diukur dari
beberapa sering seorang individu
memakai teknologi, sedangkan
pengalaman diukur bukan dari
penggunaan melainkan seberapa
lama seorang individu menjalankan
suatu teknologi.
2. Supriyati & Aplikasi TAM Pada Computer Self Keyakinan terhadap kemampuan
Muhammad Cholil Sistem Informasi efficacy dan ketrampilan yang dimiliki oleh
(2017) Manajemen Rumah karyawan dalam memutuskan
Sakit tindakan yang diperlukan dalam
menggunakan aplikasi sistem
informasi dengan tujuan untuk
mencapai kinerja yang dinginkan.
Subjective Keyakinan bahwa dukungan
Norm seseorang dimana karyawan
memutuskan tindakan perilaku
menggunakan aplikasi sistem
informasi akan meningkatkan
kinerja mereka.
System Tingkat kenyamanan karyawan
Accessibility dalam menggunakan aplikasi sistem
informasi manajemen rumah sakit
merasakan kemudahan dalam
mengakses untuk mengerjakan
pekerjaan mereka.
3. I Made Agus Ana Pengembangan Gender Tingkat penerimaan teknologi
Widiatmika dan Model Penerimaan ditunjukkan dari perbedaan persepsi
Dana Indra Sensuse Teknologi Internet berdasarkan jenis kelamin. Wanita
(2015) Oleh Pelajar dengan memandang lenih tinggi nilai dari
Menggunakan kegunaan persepsian (perceived
Konsep Technology usefulness) dibandingkan dengan
Acceptance Model yang dipersepsikan oleh laki-laki.
(TAM) Sebaliknya dibandingkan dengan
wanita, laki-laki lebih melihat
kemudahan penggunaan persepsian
(perceived ease of use) di dalam
penggunaan komputer.
Experience Tingkat pengalaman dapat
mempengaruhi penerimaan sistem
secara tidak langsung lewat
kepercayaan (beliefs) berupa
kemudahan penggunaaan
persepsian (perceived ase of use)
dan keguanaan persepsian
(perceived usefulness)
Perceived Tingkat kesulitan penerimaan
Complexity teknologi komputer untuk dipahami
dan digunakan oleh pemakai.
Voluntariness Tingkat sejauh mana adopsi
potensial memberikan persepsi
keputusan adopsi sebagai ssesuatu
yang tidak wajib
BAB 3

KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS PENELITIAN

3.1 Kerangka Konseptual Penelitian

Gender Pengalaman Kerumitan Kesukggggggg


(experience) (complexity) ggggggggggggg
ggggggggggggg
ggggggggggggg
ggggggggggggg
Kegunaan ggggggggggggg
Persepsian ggggggggggggg
(Perceived ggggggggggggg
Usefulness) Sikap Terhadap Minat Perilaku ggggggggggggg
Penggunaan
Menggunakan Menggunakan ggggggggggggg
Teknologi
Teknologi Teknologi ggggggarelaan
Sesungguhnya
(Attitude (Behavioral (voluntariness)
(Actual
Kemudahan Toward Using) Intention to Use) Technology Use)
Penggunaan
(Perceived
Ease of Use)

Sumber : (Gardner dan Amoroso, 2004)


Gambar 3.1 Kerangka Konseptual Sistem Informasi Si Cantik menggunakan Modifikasi TAM

Keterangan:

: Diteliti

: Tidak diteliti

Berdasarkan kerangka konseptual diatas maka dapat dijelaskan bahwa salah

satu model keperilakuan penggunaan sistem informasi pada penerimaan pemakai

sistem informasi yaitu modifikasi TAM oleh Gardner dan Amoroso (2004). Pada

penelitian ini yang akan diteliti yaitu hubungan dari beberapa konstruk yaitu

kegunaan persepsian, kemudahan penggunaan, sikap menggunakan teknologi,

terhadap niat perilaku menggunakan teknologi hingga terbentuknya penggunaan

teknologi yang sesungguhnya. Penelitian ini tidak akan meneliti mengenai


variabel eksternal meliputi gender, pengalaman, kerumitan dan kesukarelaan

penggunaan karena peneliti hanya ingin meneliti hubungan dari kelima konstruk

tersebut terhadap perilaku penggunaan teknologi.

3.2 Hipotesis Penelitian

1. Ada pengaruh kemudahan penggunaan persepsian (perceived ease of use)

terhadap kegunaan persepsian (perceived usefulness).

2. Ada pengaruh kegunaan persepsian (perceived usefulness) terhadap sikap

penggunaan teknologi (Attitude Toward Using).

3. Ada pengaruh kemudahan penggunaan persepsian (perceived ease of use)

terhadap sikap penggunaan teknologi (Attitude Toward Using).

4. Ada pengaruh kegunaan persepsian (perceived usefulness) terhadap niat

perilaku menggunakan teknologi (behavioral intention to use).

5. Ada pengaruh sikap penggunaan teknologi (Attitude Toward Using) terhadap

niat perilaku menggunakan teknologi (behavioral intention to use).


BAB 4

METODE PENELITIAN

4.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian observasional analitik. Penelitian

observasional yaitu melakukan pengamatan atau pengukuran terhadap berbagai

variabel subjek penelitian menurut keadaan alamiah, tanpa berupaya melakukan

manipulasi atau intervensi. Intervensi dalam konteks ini adalah penelitian yang

dilakukan oleh peneliti terhadap subyek penelitian dan hasil perlakuan

tersebutdiamati, diukur dan dianalisis (Sastroasmoro & Ismael, 2014). Perlu

ditambahkan kata-kata

4.2 Rancang Bangun Penelitian

Rancaang bangun/ desain penelitian yang digunakan yaitu penelitian cross

sectional karena peneliti melakukan observasi pada satu saat tertentu. Artinya

semua subyek diamati tepat pada tempat yang sama, tetapi tiap subyek hanya

diobservasi satu kali dan pengukuran variabel subyek dilakukan pada saat

pemeriksaan tersebut sehingga peneliti tidak melakukan tindak lanjut terhadap

pengukuran yang dilakukan (Sastroasmoro & Ismael, 2014). Penelitian ini

dilakukan dengan menggunakan pendekatan modifikasi TAM, yaitu suatu model

yang dibangun untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan

penggunaan teknologi.

4.3 Lokasi dan Waktu Penelitian

4.3.1 Lokasi Penelitian


Penelitian ini akan dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Wonoayu.

Lokasi ini dipilih dengan pertimbangan sebagai berikut:

1. Puskesmas Wonoayu merupakan salah satu puskesmas yang menjadi pusat

penyelenggaraan sistem informasi Si Cantik.

2. Keterjangkauan lokasi Puskesmas Wonoayu dengan peneliti.

3. Penelitian yang serupa belum pernah dilakukan di Puskesmas Wonoayu.

4.3.2 Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Maret – Agustus 2018. Dimulai dari

pembuatan proposal penelitian, pengumpulan data, wawancara dengan

menggunakan kuesioner, pengolahan dan analisis data serta penulisan laporan

penelitian.

4.4 Populasi Penelitian

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/ subyek yang

mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang diterapkan oleh peneliti

untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Ari Setiawan, 2011).

Populasi pada penelitian ini adalah seluruh bidan di wilayah kerja Puskesmas

Wonoayu sebagai pengguna sistem informasi Si Cantik. Berdasarkan observasi

langsung dan wawancara terhadap bidan koordinator Puskesmas Wonoayu bahwa

jumlah seluruh bidan yang ada di wilayah kerja Puskesmas Wonoayu sebanyak 32

orang.

4.5 Sampel, Besar Sampel, dan Cara Pengambilan Sampel

4.5.1 Sampel Penelitian


Sampel adalah bagian (subset) dari populasi yang dipilih dengan cara tertentu

sampai dianggap dapat mewakili populasinya (Sastroasmoro & Ismael, 2014).

Sampel yang baik adalah sampel yang akurat (tidak bias) dan tepat. Sampel yang

tepat adalah sampel yang mempunyai presisi (precision) yang tinggi mempunyai

kesalahan pengambilan sampel (sampling error) yang rendah. Semakin besar

jumlah besar sampelnya, semakin kecil kesalahan standar estimasinya (Jogiyanto,

2007).

4.6 Besar Sampel dan Cara Pengambilan Sampel

4.6.1 Besar Sampel

Dalam menentukan besar sampel terdapat beberapa hal yang perlu

diperhatikan, menurut Hidayat (2011) diantaranya adalah jenis dan rancangan

penelitian, tujuan penelitian, jumlah populasi atau sampel, teknik sampling, skala

pengukuran, variabel dependen, dan tingkat penyimpangan yang masih dapat

ditoleransi.

Karena populasi dalam penelitian ini sejumlah 32 orang maka sampel

penelitian yang diambil adalah seluruh petugas (bidan) yang ada di wilayah kerja

Puskesmas Wonoayu baik bidan desa maupun bidan praktek mandiri (BPM).

4.6.2 Cara Pengambilan Sampel

4.7 Variabel Penelitian, Definisi Operasional, dan Cara Pengukuran

Variabel

Variabel adalah konsep yang mempunyai variasi nilai, variabel juga dapat

diartikan sebagai pengelompokan yang logis dari dua atribut atau lebih. Misalnya

variabel jenis kelamin, variabel ukuran industri dan sebagainya (Margono, 2007).
Sedangkan menurut Notoatmodjo (2012) Variabel adalah sesuatu yang digunakan

sebagai ciri, sifat atau ukuran yang dimiliki atau didapatkan oleh satuan penelitian

tentang sesuatu konsep penelitian tertentu. Misalnya umur, jenis kelamin,

pendidikan, status perkawinan, pekerjaan, pengetahuan penyakit dan sebagainya.

1. Variabel Bebas (Independent Variable)

Variabel ini sering disebut sebagai variabel stimulus, predictor, antecedent.

Variabel independen merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi

sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen. Dalam SEM (Structural

Equation Modeling) variabel independen disebut juga variabel eksogen

(Sugiyono, 2010).

Pada penelitian ini terdapat tiga variabel independen yaitu kemudahan

pengguna persepsian, norma subyektif, dan kontrol perilaku persepsian. Variabel

independen (eksogen) dalam penelitian ini merupakan variabel latent atau

konstruk yaitu variabel yang tidak dapat diukur secara langsung (unobserved).

Oleh karena itu, keberadaan variabel-variabel laten ini diukur oleh indikator-

indikator atau manifest yaitu pertanyaan dalam bentuk skala Likert (Ghozali,

2011).

2. Variabel Terikat (Dependent Variable)

Variabel Dependen sering disebut variabel output, kriteria, konsekuen.

Variabel Dependen merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi

akibat, karena adanya variabel bebas. Dalam SEM (Structural Equation

Modeling) variabel dependen disebut juga variabel indogen (Sugiyono, 2010).

Pada penelitian ini terdapat tiga variabel dependen yaitu kegunaan persepsian,
sikap terhadap penggunaan teknologi, dan niat perilaku menggunakan teknologi.

Variabel dependen (endogen) dalam penelitian ini merupakan variabel latent atau

konstruk yaitu variabel yang tidak dapat diukur secara langsung (unobserved).

Oleh karena itu, keberadaan variabel-variabel laten ini diukur oleh indikator-

indikator atau manifest yaitu pertanyaan dalam bentuk skala Likert (Ghozali,

2011).

Definisi operasional dan cara pengukuran masing-masing komponen

penelitian dapat dilihat pada tabel 4.1.

Tabel 4.1 Definisi Operasional Variabel yang dihubungkan dengan Analisis Penerimaan Pengguna
Sistem Informasi Si Cantik di Puskesmas Wonoayu
No. Variabel Laten Definisi Operasional Cara Skala
(Construct) Pengukuran
1. Kegunaan Derajat yang menunjukkan sejauh mana Kuesioner Ordinal
Persepsian petugas (bidan) meyakini (mempersepsikan)
(Perceived penggunaan aplikasi sistem informasi Si
Usefulness) Cantik dapat meningkatkan performansinya
dalam berbagi ….
2. Kemudahan Derajat yang menunjukkan sejauh mana Kuesioner Ordinal
Penggunaan petugas (bidan) meyakini (mempersepsikan)
(Perceived Ease of penggunaan aplikasi sistem informasi Si
Use) Cantik tidak memerlukan mental effort yang
besar, yang memiliki indikator reflektif
kecepatan mempelajari aplikasi Si Cantik,
tingkat kemudahan untuk menjadi terampil
dalam melakukan pencatatan dan pelaporan
AKI AKB, kemudahan dalam mengingat
langkah-langkah menggunakan aplikasi Si
Cantik, dan tingkay kemudahn
pengoperasian Si Cantik secara umum.
3. Sikap Terhadap Derajat yang menunjukkan sejauh mana Kuesioner Ordnal
Menggunakan adopsi (penggunaan) Si Cantik sebagai
Teknologi media pencatatan dan pelaporan AKI AKB
(Attitude Toward dipersepsikan oleh petugas (bidan) akan
Using) memberikan suatu kesenangan tersendiri,
dengan mengesampingkan konsekuensi yang
mungkin muncul, yang memiliki indikator
reflektif adanya kesenangan tersendiri (fun)
jika dibandingkan dengan aplikasi yang
lainnya, adanya perasaan menikmati (enjoy)
selama melakukan entry data, proses
bersosialisasi dan berdiskusi untuk
mengurangi kesulitan selama penggunaan
aplikasi dapat membuat perasaan menjadi
No. Variabel Laten Definisi Operasional Cara Skala
(Construct) Pengukuran
senang dan lebih baik (pleasure), dan adanya
kepuasan batin (satisfaction) karena dapat
mengajarkan cara melakukan entry data
kepada petugas yang membutuhkan.
6. Minat Perilaku Derajat yang menunjukkan kehendak Kuesioner Ordinal
Menggunakan (maksud atau niat) petugas (bidan) untuk
Teknologi bersedia menggunakan aplikasi Si Cantik
(Behavioral sebagai media pencatatan dan pelaporan AKI
Intention to Use) dan AKB yang memiliki indikator reflektif
yaitu pendapat bahwa aplikasi Si Cantik
merupakan sesuatu yang menguntungkan,
adanya niat untuk tetap menggunakan
aplikasi ini, adanya maksud untuk lebih
sering menggunakan aplikasi.
7. Penggunaan Derajat yang menunjukkan intensitas Kuesioner Ordinal
Teknologi petugas (bidan) dalam menggunakan aplikasi
Sesungguhnya Si Cantik sebagai sotware pencatatan dan
(Actual Technology pelaporan AKI dan AKB yang memiliki
Use) indikator reflektif yaitu ser….

4.8 Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data

4.8.1 Teknik Pengumpulan Data

Data adalah pencatatan peneliti yang berupa fakta maupun angka yang dapat

dijadikan bahan untuk menyusun suatu informasi (Arikunto, 2006). Data yang

digunakan pada penelitian ini diperoleh dengan mengumpulkan data primer dan

data sekunder.

1. Data Primer

Data primer merupakan data yang didapat dari sumber pertama yang diperoleh

dari individu atau perorangan dapat berupa kumpulan wawancara atau hasil

pengsisian kuesioner (Suyanto, 2005). Data primer dalam penelitian ini

diperoleh dari kuesioner melalui wawancara tentang kegunaan persepsian,

kemudahan penggunaan, sikap menggunakan teknologi, norma subyektif dan

kontrol perilaku persepsian terhadap minat perilaku menggunakan teknologi


hingga terbentuknya penggunaan teknologi yang sesungguhnya berdasarkan

persepsi pengguna sistem informasi Si Cantik di Puskesmas Wonoayu.

2. Data Sekunder

Data sekunder adalah sumber data yang tidak langsung memberikan data

kepada pengumpul data, misalnya orang lain atau dokumen yang ada

(Sugiyono, 2014). Data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari laporan

tahunan Dinas Kesehatan Sidoarjo berupa jumlah AKI dan AKB, guidline

sistem informasi Si Cantik dan profil Puskesmas Wonoayu.

4.8.2 Instrumen Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu dilakukan dengan

wawancara secara langsung kepada responden dan dengan dokumentasi.

Wawancara merupakan suatu metode yang dipergunakan untuk mengumpulkan

data, dimana peneliti mendapatkan keterangan atau informasi secara lisan dari

seorang sasaran penelitian (responden), atau bercakap-cakap berhadapan muka

dengan orang tersebut (face to face) (Notoatmodjo, 2012). Pada penelitian ini,

untuk memperoleh data primer mengenai data kegunaan persepsian, kemudahan

penggunaan, sikap menggunakan teknologi, norma subyektif dan kontrol perilaku

persepsian terhadap minat perilaku menggunakan teknologi hingga terbentuknya

penggunaan teknologi yang sesungguhnya berdasarkan persepsi pengguna sistem

informasi Si Cantik di Puskesmas Wonoayu. Metode dokumentasi adalah mencari

data mengenai hal-hal ataupun variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat

kabar, majalan, prasasti, notulen rapat, agenda, dsb (Arikunto, 2006). Data dalam

penelitian ini diperoleh melalui bagian poli KIA di Puskesmas.


Alat perolehan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner

tertutup. Kuesioner adalah alat pengumpulan data yang dipakai didalam

wawancara yang berisi daftar pertanyaan yang sudah tersusun dengan baik,

dimana interviewer tinggal memberikan jawaban atau dengan memberikan tanda-

tanda. Kuesioner tertutup memberikan keuntungan mudah mengarahkan jawaban

responden dan juga mudah diolah. Penelitian ini menggunakan kuesioner tertutup

yang terdiri dari data responden dan bagaimana kegunaan persepsian, kemudahan

penggunaan, sikap menggunakan teknologi terhadap minat perilaku menggunakan

teknologi hingga terbentuknya penggunaan teknologi yang sesungguhnya

berdasarkan persepsi pengguna sistem informasi Si Cantik di Puskesmas

Wonoayu. Penyusunan kuesioner menggunakan skala likert untuk mengukur

sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena

sosial. Untuk kepentingan analisis kuantitatif, maka jawaban itu dapat diberi skor

(Sugiyono, 2014).

Kuesioner dibuat berdasarkan 9 buah variabel laten (construct) yang ada pada

penelitian. Agar dapat diukur, maka masing-masing variabel laten (construct)

tersebut dijabarkan dengan beberapa buah pernyataan indikator yang berdasarkan

pada referensi terpilih. Berikut ini merupakan pernyataan indikator yang terdapat

pada masing-masing variabel laten:

Tabel 4.2 Pernyataan Indikator pada Masing-masing Variabel Laten (Construct) yang ditanyakan
pada Responden Penelitian
No. Variabel Laten Pernyataan Indikator
(Construct)
1. Percived Usefulness (PU) 1) Pekerjaan saya akan sulit dilakukan tanpa
aplikasi sistem informasi Si Cantik
2) Menggunakan aplikasi sistem informasi Si
Cantik menghemat waktu saya
3) Menggunakan aplikasi sistem informasi Si
Cantik memungkinkan untuk
menyelesaikan tugas lebih cepat
4) Menggunakan aplikasi sistem informasi Si
Cantik dapat meningkatkan performa
5) Menggunakan aplikasi sistem informasi
Si Cantik dapat mempermudah pekerjaan
6) Menggunakan aplikasi sistem informasi Si
Cantik dapat meningkatkan produktivitas
pekerjaan
7) Menggunakan aplikasi sistem informasi Si
Cantik dapat meningkatkan efektifitas
8) Saya menemukan aplikasi sistem
informasi Si Cantik bermanfaat dalam
pekerjaan
2. Perceived Ease of Use 1) Belajar menggunakan aplikasi sistem
(PEOU) informasi Si Cantik itu mudah buat saya
2) Saya merasa mudah untuk melakukan
pencatatan dan pelaporan dari aplikasi
sistem informasi Si Cantik
3) Interaksi saya dengan aplikasi sistem
informasi Si Cantik jelas dan mudah
dimengerti
4) Mudah bagi saya untuk menjadi terampil
dalam menggunakan aplikasi sistem
informasi Si Cantik
5) Saya mempersepsikan bahwa aplikasi
sistem informasi Si Cantik mudah
digunakan (dioperasikan)
3. Attitude Toward Using 1) Saya senang berinteraksi dengan aplikasi
(ATU) sistem informasi Si Cantik
2) Menggunakan aplikasi sistem informasi Si
Cantik memberikan banyak manfaat
3) Saya menikmati menggunakan aplikasi
sistem informasi Si Cantik
4) Menggunakan aplikasi sistem informasi Si
Cantik membuat saya bosan
4. Behavioral Intention to 1) Saya selalu mencoba menggunakan
Use (BI) aplikasi sistem informasi Si Cantik untuk
melakukan pencatatan dan pelaporan AKI
AKB
2) Saya selalu mencoba menggunakan
aplikasi sistem informasi Si Cantik
3) Saya berencana untuk terus menggunakan
aplikasi sistem informasi Si Cantik
4) Saya berharap penggunaan aplikasi sistem
informasi Si Cantik berlanjut di masa
depan
5. Actual Technology Use 1) Saya sering berpartisipasi dengan cara
(ATU) memberikan jawaban atas pertanyaan
petugas lain yang sedang kesulitan
menggunakan aplikasi sistem informasi Si
Cantik
2) Apabila ada petugas yang sedang kesulitan
mengisi formulir AKI dan AKB saya
sering memberikan dukungan (support)
3) Apabila memiliki pertanyaan tentang
penggunaan aplikasi sistem informasi Si
Cantik saya biasanya menanyakan kepada
petugas lain yang lebih mengerti
4) Apabila sedang mengikuti
6. Perceived Complexity 1) Menggunakan aplikasi sistem informasi Si
Using the Internet (PCU) Cantik dapat menghabiskan banyak waktu
saya saat melakukan banyak tugas
2) Ketika saya menggunakan aplikasi sistem
informasi Si Cantik, saya merasa sulit
menggabungkan hasilnya dalam pekerjaan
3) Menggunakan aplikasi sistem informasi Si
Cantik menghadapkan saya pada
kerentanan kerusakan komputer dan
hilangnya data
7. Experience 1) Saya memiliki banyak pengalaman
menggunakan aplikasi sistem informasi
2) Berapa tahun menggunakan aplikasi
sistem informasi
8. Voluntariness 1) Menggunakan aplikasi sistem informasi Si
Cantik adalah sukarela untuk menunjang
pekerjaan
2) Saya tidak seharusnya menggunakan
aplikasi sistem informasi untuk bekerja
3) Sementara aplikasi sistem informasi Si
Cantik meningkatkan efektivitas dalam
menyelesaikan tugas, tetapi tidak harus
saya gunakan
9. Gender 1) Laki-laki dan perempuan

Untuk mengisi jawaban pada masing-masing pernyataan indikator tersebut,

maka responden dipersilahkan memilih salah satu pilihan jawaban yang paling

mewakili kondisi responden. Berdasarkan referensi masing-masing indikator yang


tertera pada tabel 4.2, maka pilihan jawaban pada kuesioner menggunakan skala

likert 1-4 (ordinal) dengan deskipsi masing-masing sebagai berikut:

Tabel 4.3 Deskripsi Pilihan Jawaban pada Kuesioner Pernyataan Indikator


Pilihan Jawaban (Score) Keterangan Pilihan Jawaban
1 Sangat Tidak Setuju
2 Tidak Setuju
3 Setuju
4 Sangat Setuju

4.9 Teknik Pengolahan dan Analisis Data

4.9.1 Teknik Pengolahan

Sebelum dilakukan analisis, data dilakukan pengolahan terlebih dahulu

dengan menggunakan beberapa teknik, teknik pengolahan data pada penelitian ini

menggunakan Teknik Pengolahan data dengan komputer melalui langkah menurut

Notoatmodjo (2012) sebagai berikut :

1. Editing

Merupakan kegiatan untuk pengecekan dan perbaikan isian formulir atau

kuesioner tersebut, apakah lengkap, jawaban cukup terbaca, jawaban relevan,

dan jawaban konsisten dengan pertanyaan-pertanyaan lain.

2. Coding

Setelah semua kuesioner diedit dan disunting, selanjutnya melakukan koding/

pengkodean yaitu mengubah dari kalimat menjadi data angka, misalnya 1 =

laki-laki, 2 = perempuan.

3. Memasukkan data (Data Entry)

Melakukan pemasukan data/ entry data dengan menggunakan bantuan SPSS

window.
4. Pembersihan data (Cleaning data)

Melakukan pembersihan data dengan melakukan tabulating, mengecek bahwa

total dari jumlah responden sama dengan saat memasukkan dan seharusnya.

4.9.2 Analisis Data

Analisis data merupakan bagian teramat penting dalam metode penelitian

ilmiah, karena data dapat memberikan arti an makna yang berguna dalam

memecahkan masalah penelitian (Nazir, 2009). Kegiatan dalam analisis data

adalah mengelompokkan data berdasarkan variabel dan jenis responden,

melakukan tabulasi data berdasarkan variabel dari seluruh responden, menyajikan

data tiap variabel yang diteliti, melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan

masalah dan melakukan perhitungan untuk menguji hipotesis yang telah diajukan.

Statistik analisis data pada penelitian ini menggunakan statistik inferensial yaitu

digunakan apabila peneliti ingin membuat kesimpulan yang berlaku untuk

populasi (Sugiyono, 2014). Analisis data dalam penelitian ini menggunakan

Partial Least Square (PLS) atau software smartPLS. PLS adalah analisis

persamaan struktural berbasis varian yang secara stimultan dapat melakukan

pengujian model pengukuran sekaligus pengujian model struktural. Model

pengukuran digunakan untuk uji validitas dan reliabilitas sedangkan struktural

digunakan digunakan untuk pengujian hipotesis dengan model prediksi. PLS

digunakan untuk mengetahui kompleksitas hubungan suatu konstrak dengan

konstrak lainnya (inner model) dan hubungan suatu konstrak dengan indikatornya

(outer model) (Ghozali & Latan, 2012).

4.10Validitas dan Realibiltas Instrumen


4.10.1 Validitas Instrumen

Validitas (validity) menunjukkan seberapa jauh suatu tes atau satu set dari

operas-operasi mengukur apa yang seharusnya diukur. Validitas berhubungan

dengan ketepatan alat ukur untuk melakukan tugasnya mencapai sasaran

(Jogiyanto, 2008). Instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk

mendapatkan data (mengukur) itu valid sehingga instrumen tersebut dapat

digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur (Sugiyono, 2014). Uji

validitas digunakan untuk menguji apakah instrumen yang digunakan konsisten

dan dapat digunakan untuk mengukur obyek yang sama, akan menghasilkan data

yang sama. Pengolahan data untuk menunjukkan valid tidaknya suatu instrumen

menggunakan aplikasi smartPLS.

4.10.2 Reliabilitas Instrumen

Reliabilitas (realibility) adalah suatu pengukuran yang menunjukkan stabilitas

dan konsistensi dari suatu instrumen yang mengukur suatu konsep dan berguna

untuk mengakses kebaikan dari suatu pengukur. Reliabilitas berhubungan dengan

ketepatan atau akurasi dari pengukuran (Jogiyanto, 2008). Instrumen yang reliabel

berarti instrumen yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur objek yang

sama akan mengahasilkan data yang sama (Sugiyono, 2014). Uji reliabilitas dapat

dilihat dari nillai cronbach’s alpha dan nilai composite reliability. Untuk dapat

dikatakan suatu item pertanyaan yang reliabel, maka nilai cronbach’s alpha dan

composite reliability > 0,6 (Ghozali & Latan, 2014).


DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsini., 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.


Jakarta: Rineka Cipta
Arikunto, Suharsini, 2009. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.
Jakarta: Rineka Cipta
Budiarto, Eko. 2003. Metodologi Penelitian Kedokteam : Sebuah Penantar.
Jakarta : EGC.
Bungin, Burhan. 2001. Metodologi Penelitian Sosial : Format-Format Kuantitatif
Dan Kualitatif. Surabaya : Airlangga University Press
Departemen Kesehatan. 2008. Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Obstertri
Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) 24 Jam Di Rumah Sakit.
Jakarta : Departemen Kesehatan.
Dinas Kesehatan. 2010.Profil Kesehatan Provinsi Jawa Timur 2009. Surabaya :
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur.
Dinas Kesehatan. 2011.Profil Kesehatan Provinsi Jawa Timur 2010. Surabaya :
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur.
Dinkes Provinsi Jawa Timur. 2012. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Timur.
Surabaya: Dinkes Provinsi Jawa Timur.
Dinkes Provinsi Jawa Timur. 2013. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Timur Tahun
2012. Surabaya: Dinkes Provinsi Jawa Timur
Fathansyah. 2012. Basis Data, Revisi edn. Bandung : Informatika Bandung.
Kadir, A. 2014. Pengenalan Sistem Informasi, Edisi Revisi.Yogyakarta : ANDI
Yogyakarta.
Kementerian Kesehatan. 2006.Pedoman Pengembangan Pelayanan Obstetri
Neonatal emergency Dasar (PONED). Jakarta : Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia.
Kementerian Kesehatan. 2011.Profil Kesehatan Indonesia 2010. Jakarta :
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Kementerian Kesehatan RI. 2013. Profil Kesehatan Indonesia 2012. Jakarta:
Kementerian Kesehatan RI
Kementerian Kesehatan RI. 2013. Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas
Kesehatan Dasar dan Rujukan. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI
Indrajani. 2014. Database Systems. Jakarta: PT Gramedia.
Indrijani, SK. 2014. Database. Jakarta : PT Elex Media Komputindo.
Irasanty, Gufria D. 2008. Pencegahan Keterlambatan Rujukan Maternal di
Kabupaten Majene. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, vol 11 No. 03
September 2008
Nwameme AU, Philips JF, Adongo PB. 2014. Compliance With Emergency
Obstetric Care Referrals Among Pregnant Women in an Urban Informal
Settlement of Accra, Ghana, Matern Child Health Journal Vol. 18:1403-1412.
http:// Springer.com
Oktaviany N. 2013. Analisis Pengaruh Kualitas ANC (Antenatal Care) dan
Rujukan Terhadap Morbiditas Maternal di Kabupaten Sidoarjo. Tesis.
Universitas Airlangga
RSUD Kabupaten Sidoarjo. 2014. Laporan Tahunan RSUD Sidoarjo Tahun 2014.
Sidoarjo: RSUD Kabupaten SidoarjoRoeshadi,R.H. 2006. Pelayanan
Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta. Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo
Sumarni, Anasari T. 2013. Faktor yang Mempengaruhi Keterlambatan Rujukan
Pada Kasus Kematian ibu di RS margono Soekardjo. Jurnal Ilmiah Kebidanan
Vol.5 No.2. Edisi Desember 2014.
USAID. 2012. Panduan Operasional Pendampingan Tata Kelola Klinik. EMAS.
http://assets. emasindonesia.org