Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

MANAJEMEN RISIKO INVESTASI


Dosen pembimbing : Dr. H. Muslihun Muslim, M.Ag

Oleh:

1. MIA TILAWATINA (170502134)


2. RUKIYAMA KHAIRUNNISA ( 170502163)
3. RIZKY JULIANTI SUNACHIA S. (170502168)
4. KOMARIATUN (170502146)

MAHASISWA SEMESTER V D
PROGRAM STUDI PERBANKAN SYARIAH
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGRI MATARAM
TAHUN 2019
A. LATAR BELAKANG
Secara umum masalah utama yang dihadapi setiap perusahaan untuk mengembangkan
usahanya adalah “permodalan”. Walaupun dunia perbankan dan lembaga keuangan lainnya telah
menyediakan dan membuka kesempatan kepada setiap pengusaha untuk memperoleh fasilitas modal,
namun tidak semua perusahaan dapat memperoleh kesempatan tersebut. Hambatan utama biasanya
menyangkut jaminan atau agunan. Keterbatasan jaminan yang dimiliki perusahaan memaksa
terbukanya pasar bagi produk dan usahanya maupun kelonggaran yang diberikan pemerintah tidak
dapat sepenuhnya mereka manfaatkan.
Keadaan tersebut tidak sedikit menutup kesempatan berkembang bagi perusahaan kecil/
menengah. Di lain pihak, jenis usaha tersebut akan dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan besar
yang kuat permodalannya. Akhirnya, pengusaha dengan skala kecil terpaksa mengalihkan usahanya
ke bidang lain berhubung tidak kuat bersaing dengan perusahaan besar. Kalaupun dapat bersaing akan
kehilangan pasar.
Dalam usaha meningkatkan modal dengan menarik dana dari luar, perusahaan akan
memerhatikan masalah jumlah dana dan jangka waktu untuk memperolehnya. Di samping itu, jenis
dana yang ditarik tidak kalah penting pula untuk menjadi pertimbangan. Apakah dana yang ditarik itu
pinjaman atau modal sendiri (equity) akan tergantung pada posisi keuangan perusahaan yang telah ada.
Dengan demikian, bank tidak selalu akan dapat memenuhi permintaan kredit perusahaan. Posisi
keuangan yang telah melampaui ratio to equity yang aman tidak memungkinkan bank untuk
meningkatkan kredit (modal pinjaman) bagi perusahaan yang bersangkutan.
Dalam posisi yang demikian, penanaman modal perusahaan dapat ditempuh dengan jalan
menambah jumlah equity (saham). Jika perusahaan sudah tidak mungkin untuk meningkatkan modal
pinjaman, padahal peningkatan modal sudah sangat mendesak, akan semakin menyulitkan perusahaan
jika tidak ada jalan keluarnya. Hal itu tidak mustahil akan terjadi bila alternatif dana sangat terbatas.
Untuk mendorong perkembangan perusahaan, pemerintah berusaha menyediakan berbagai alternatif
dana yang dapat dimanfaatkan oleh perusahaan untuk memenuhi kedudukan dananya.
Melalui pasar modal, perusahaan dapat memperoleh dana pinjaman maupun dana equity.
Melalui pasar modal, perusahaan dapat mengutamakan dana pinjaman dengan menjual obligasi atau
sekuritas kredit. Adapun penguatan dana equity dapat ditempuh dengan menjual saham. Meskipun
sudah tersedia di pasar modal yang dapat dimanfaatkan oleh perusahaan sebagai wadah untuk menarik
dana dari pasar modal juga bagi pelaku usaha besar yang ingin menginvestasikan kelebihan dananya
guna membantu perusahaan-perusahaan kecil yang membutuhkan dana tambahan.
B. PENGERTIAN INVESTASI
Investasi berasal dari kata invest yang berarti menanam atau menginvestasikan uang atau
modal1. Istilah investasi atau penanaman modal merupakan istilah yang dikenal dalam kegiatan bisnis
sehari-hari maupun dalam bahasa perundang-undangan. Istilah investasi merupakan istilah yang
populer dalam dunia usaha, sedangkan istilah penanaman modal lazim digunakan dalam perundang-
undangan. Namun pada dasarnya kedua istilah tersebut mempunyai pengertian yang sama, sehingga
terkadang digunakan secara interchangeable2.
Investasi memiliki pengertian yang lebih luas karena dapat mencakup baik investasi langsung
(direct investment) maupun investasi tidak langsung (porofolio investment), sedangkan penanaman
modal lebih memiliki konotasi kepada investasi langsung3 .
Secara umum investasi atau penanaman modal dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang
dilakukan baik oleh orang pribadi (natural person) maupun badan hukum (juridical person) dalam
upaya untuk meningkatkan dan / atau mempertahankan nilai modalnya, baik yang berbentuk uang
tunai (cash money), peralatan (equipment), aset tidak bergerak, hak atas kekayaan intelektual maupun
keahlian4.
Dari beberapa pengertian di atas, dapat ditarik unsur-unsur terpenting dari kegiatan investasi
atau penanaman modal yaitu:
1. Adanya motif untuk meningkatkan atau setidak-tidaknya mempertahankan nilai
modalnya.
2. Bahwa “modal” tersebut tidak hanya mencakup hal-hal yang bersifat kasat mata dan dapat
di raba (tangible), tetapi juga mencakup sesuatu yang bersifat tidak kasat mata dan tidak
dapat diraba (intangible). Intangible mencakup keahlian, pengetahuan, jaringan, dan
sebagainya yang dalam berbagai kontrak kerja sama (joint venture agreement) biasanya
disebut valuable services.

Sementara itu, dalam Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang nomor 25 Tahun 2007 tentang penanaman
modal disebutkan bahwa penanaman modal diartikan sebagai segala bentuk kegiatan penanaman

1
Hasan Sadly, Kamus Lengkap Inggris-Indonesia, Jakarta, halaman 330.
2
Ida Bagus Rachmadi Supancana, Kerangka Hukum dan Kebijakan Investasi Langsung di Indonesia, Ghalia
Indonesia, Jakarta, 2006, halaman 1.
3
Dhaniswara K. Harjono, Hukum Penanaman Modal, Tinjauan terhadap Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007
tentang Penanaman Modal, Raja Grafindo Persada, Jakarta,2007, halaman 10.
4
Ana Rokhmatussa’dyah. Suratman, Hukum Investasi & Pasar Modal, Sinar Grafika, Jakarta, halaman 3.
modal, baik oleh penanam modal dalam negeri maupun penanam modal asing untuk melakukan
usaha di wilayah NKRI5

C. JENIS DAN BENTUK PENANANAMAN MODAL

1. Penanaman Modal Langsung (Direct Investment) atau yang Dikenal Juga Sebagai Penanaman
Modal Jangka Panjang
Dalam konteks ketentuan perundang-undangan dibidang penanaman modal di Indonesia,
yaitu undang-undang nomor 25 tahun 2007 tentang penanaman modal, pengertian penanaman
modal hanya mencakup penanaman modal secara langsung. Pengertian penanaman modal
langsung ini sering kali dikaitkan dengan keterlibatan pemilik modal secara langsung dalam
kegiatan pengelolaan modal.
Penanaman modal langsung ini dilakukan baik berupa mendirikan perusahaan patungan
(join venture company) dengan mitra lokal, dengan melakukan kerja sama operasi ( joint operation
scheme) tanpa membentuk perusahaan baru, dengan mengkonvrensikan pinjaman menjadi
penyertaan mayoritas dalam perusahaan lokal, dengan memberikan bantuan teknis dan manajerial
(technical and managment assistance) dengan memberikan lisensi dan lain-lain.

1. Penanaman Modal Tidak Langsung ( Indirect Investment) yang Lebih Dikenal sebagai
Portofolio Investment yang pada Umumnya Merupakan Penanaman Modal Jangka Pendek.
Yang termasuk dalam penanaman modal tidak langsung ini mencakup kegiatan transaksi
di pasar modal dan di pasar uang. Penanaman modal disebut sebagai penanaman modal disebut
sebagai penanaman modal jangka pendek, karena pada umumnya mereka melakukan jual beli
saham dan / atau mata uang dalam jangka waktu yang relatif singkat, tergantung kepada fluktuasi
nilai saham dan / atau mata uang yang hendak mereka perjual belikan. 6

5
Hendrik Budi Untung, Hukum Investasi, Jakarta, halaman 3.
6
Ibid, halaman 5.
D. Risiko dalam Investasi

Ada dua unsur yang selalu melekat pada setiap investasi yaitu hasil (return) dan risiko (risk).
Dua unsur ini selalu mempunyai hubungan yang searah, semakin tinggi risiko investasi semakin besar
peluang hasil yang diperoleh. Sebaliknya, semakin kecil risiko, semakin kecil pula peluang hasil yang
akan diperolehnya. Pada umumnya, tidak ada satu pun instrumen investasi yang sepenuhnya bebas
dari risiko. Sebagai contoh, investasi dalam bentuk tabungan dengan bunga tetap, tetapi memiliki risiko
minimal, yaitu turunnya daya beli tabungan tersebut akibat adanya inflasi, nilai tukar tidak seimbang
dengan return yang diperoleh dari investasi tersebut.
Investor tidak dapat dipisahkan dengan harapan untuk mendapatkan keuntungan yang
diharapkan sesuai dengan rencana yang ditetapkan tetapi selalu penuh dengan kepastian. Oleh karena
itu, seorang investor harus membuat perkiraan dan prediksi yang tepat dalam perencanaannya. Untuk
membuat prediksi yang tepat. Atas dasar keputusan investasi yang penuh dengan ketidakpastian ini
dan belum tentu sesuai dengan keinginan yang diharapkan maka sering menimbulkan risiko yang
dialami oleh seorang investor dalam berinvestasi. Bagi seorang investor yang bermaksud menanamkan
modalnya pada setiap instrumen investasi, harus mengetahui benar tentang risiko dalam berinvestasi,
ia harus bisa menguasai manajemen risiko ini.
Menurut Pandji Anoraga dan Piji Pakarti,7 dalam melaksanakan investasi, seorang investor
diharapkan memahami adanya beberapa risiko, sebagai berikut :
1. Risiko finansial, yaitu risiko yang diterima oleh investor akibat dari ketidak mampuan
emiten (saham/obligasi) memenuhi kewajiban pembayaran deviden ( bunga) serata
pokok investasi.
2. Risiko pasar, yaitu akibat menurunnya harga pasar substansial baik keseluruhan saham
maupun saham tertentu akibat perusahaan tingkat inflasi ekonomi, keuangan negara,
perubahan manajemen perusahaan atau kebijakan pemerintah dalam bidang ekonomi.
3. Risiko psikologis, yaitu risiko bagi investor yang bertindak secara emosional dalam
menghadapi perubahan harga saham berdasarkan optimisme dan pesimisme yang dapat
mengakibatkan kenaikan dan penurunan harga saham. jika banyak investor yang
membeli saham melebihi suplay yang tersedia dalam pasar, maka akan mendorong
harga keseluruhan semakin meningkat. Keadaan ini disebut dengan: “bullmarket”.

7
Panji Anoraga dan Piji Pakarti, Pengantar Pasar Modal, Rienka Cipta, Jakarta,2001,halaman 78.
Sebaliknya apabila banyak investor menjual sahamnya, sehingga mendorong harga
semakin menurun, kejadian ini dalam dunia investasi disebut “bearmarket”.

Investasi di Reksadana juga tidak terlepas dari risiko yang terjadi. Dalam setiap brosur
(reklame) mengenai reksadana yang diperdagangkan selalu dicantumkan bahwa Nilai Unit
Penyertaan reksadana dapat naik dapat pula turun sesuai harga yang berlaku di pasar modal.
Sering juga dicantumkan bahwa kinerja masa lalu bukan merupakan jaminan atau tidak harus
menunjukkan kinerja masa yang akan datang. Hal ini harus diketahui sepenuhnya oleh para
investor sebelum ia menanamkan modalnya pada salah satu instrumen investasi. Misalnya
berinvestasi di reksadana, investor harus mengerti betul tentang keadaan reksadana tersebut,
sebab pada dasarnya investasi melalui reksadana berarti berinvestasi dalam suatu pasar. Naik
turunnya pasar, apakah itu tingkat suku bunga pasar deposito atau harga-harga pasar obligasi,
atau harga-harga pasar saham, akan juga memengaruhi Nilai Unit Penyertaan Reksadana yang
dimiliki investor 8.
Sehubungan dengan hal tersebut, Eko Priyo Pratomo dan Ubaidillah Nugraha9
menjelaskan bahwa risiko yang selalu disebutkan dalam prospektus Reksadana pada umumnya
terdiri dari dua risiko yaitu:

1. Risiko berkurangnya nilai aktiva bersih per Unit Penyertaan ( NAB/Unit). Berkurangnya NAB/
Unit dari harga NAB/Unit pada saat investor membeli merupakan indikator kerugian bagi
investor. Turunnya harga NAB/Unit disebabkan oleh turunnya nilai atau efek-efek yang dimiliki
reksadana. Penyebabnya antara lain karena pengaruh kondisi ekonomi, politik, sosial,
keamanan, bencana, atau dan lain-lain. Bisa juga disebabkan karena terjadi wanprestasi (default)
dari emiten atau penerbit surat berharga atau juga pihak yang terlibat dalam transaksi dan
pengelolaan investasi dalam memenuhi kewajibannya.
2. Risiko likuiditas yaitu berkaitan dengan cepat lambatnya investor dapat mencairkan
investasinya dengan melakukan penjualan kembali unit penyertaan yang dimilikinya. Peraturan
bapepam mensyaratkan pembayaran dan hasil penjualan unit penyertaan oleh investor harus
dilakukan paling lambat tujuh hari bursa setelah permohonan diterima oleh manajer investasi.

8
Abdul Manan, Hukum Ekonomi Syariah dalam Perspektif Kewenangan Peradilan Agama, Prenada Media
Group, Jakarta, halaman 178-179.
9
Eko Priyono Pratomo dan Ubaidillah, Reksa Dana Solusi Perencanaan investasi di Era Modern, Gramedia Pustaka
Utama, Jakarta, halaman 84-85.
Timbulnya risiko investasi bersumber dari beberapa faktor. Menurut Kamaruddin Ahmad,10
faktor-faktor risiko ini dapat terjadi bersamaan atau hanya muncul dari salah satu saja. Risiko
tersebut antara lain:

1. Risiko tingkat bunga, terutama jika terjadi kenaikan.


2. Risiko daya beli, disebabkan inflasi.
3. Risiko bear and bull, tren pasar turun atau naik.
4. Risiko manajemen, kesalahan atau kekeliruan dalam pengelolaan.
5. Risiko kegagalan, keuangan perusahaan ke arah kepailitan.
6. Risiko likuiditas, kesulitan pencairan atau/ pelepasan aktiva.
7. Risiko penarikan, kemungkinan pembelian kembali aset/ surat berharga oleh emiten.
8. Risiko konversi, keharusan penukaran atau aktiva .
9. Risiko politik, baik internasional maupun nasional.
10. Risiko industri, munculnya saingan produk homogen.

Melihat risiko yang timbul bisa berbagai macam, baik yang timbul oleh faktor internal
maupun eksternal dari produk investasi. Setiap tindakan investasi mempunyai tingkat-tingkat risiko
dan keuntungan yang berbeda-beda. Ada karakter investor yang menginginkan tingkat keuntungan
cukup tinggi diatas rata-rata keuntungan normal, sehingga harus siap mendapatkan potensi tingkat
risiko yang tinggi pula. Ada juga investor yang mengharapkan tingkat keuntungan relatif kecil,
sehingga ia akan mendapatkan risiko cenderung lebih kecil pula. Istilah yang paling umum dikenal
dalam risiko ini “ high profit high risk, low profil low risk”.
Sehubung hal tersebut, Sapto Rahardjo11 menjelaskan bahwa risiko investasi yang timbul
dari setiap investasi kadang-kadang bisa di prediksi sebelumnya, kadang juga tidak bisa
diprediksikan. Oleh karena itu, sering kali investor menggunakan jasa konsultan atau analisis
investasi yang mungkin timbul. Analisis risiko investasi bisa mencakup analisis mikro perusahaan
serta analisis makro ekonomi dan politik suatu negara, hingga analisis keuangan dan pasar modal
internasional. Aspek analisis bisa mencakup aspek keuangan, bisnis, manajemen, industri bisnis,

10
Kamaruddin Ahmad, Dasar-Dasar Manajemen Investasi dan Portofolio, Rineka Cipta, Jakarta, 2004,
halaman 3-4.
11
Sapto Rahardjo, Panduan Investasi Obligasi, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2004 , halaman 48.
ekonomi makro dan lain sebagainya. Dengan mendapatkan gambaran potensi risiko investasi secara
hati-hati dan mampu bertindak membuat keputusan sesuai dengan kondisi yang ada.
Sehubungan dengan hal tersebut, dapat diketahui bahwa ada tiga tipe investor dalam
menghadapi risiko dalam berinvestasi, yaitu investor yang tergolong menyukai risiko (risk seeker),
investor yang tergolong kurang suka terhadap risiko (risk overter), dan investor yang tidak
memedulikan risiko (risk indifferent). Bagi investor yang berani mengambil risiko terhadap investasi
yang dilakukannya, biasanya ia memilih investasi pada saham yang sedang tumbuh. Jika investor
tergolong tipe tidak menyukai risiko, ia bisa memilih instrumen investasi yang berpenghasilan tetap,
seperti obligasi atau instrumen pasar modal yang dikelola oleh emiten dan manajer investasi yang
profesional. Jika terdapat pilihan investasi yang memiliki hasil yang sama, maka harus dipilih yang
risikonya paling rendah. Sebaliknya, jika terdapat pilihan investasi yang memberikan risiko sama,
maka sebaiknya dipilih yang memberikan hasil tertinggi. 12

E. Return (pengembalian)
Dalam kegiatan investasi, risiko didefinisikan sebagai kemungkinan terjadinya kehilangan
modal maupun kerusakan modal secara permanen. Seseorang memutuskan untuk melakukan
investasi dengan harapan bahwa akan memperoleh uang yang lebih banyak dibandingkan dengan
jumlah uang yang dikeluarkan hari ini. Selisih antara jumlah uang yang dikeluarkan hari ini dengan
jumlah uang yang akan di peroleh di akhir periode investasi disebut pengembalian (return).13
Pengembalian atas investasi (Return of Investment/ROI) atau disebut juga tingkat
pengembalian. ROI biasanya dinyatakan sebagai presentase dari investasi awal. Sebagai contoh, Adik
Anda meminjam uang sebesar $500 untuk membeli sebuah mobil tua dan setelah diperbaiki mobil
tersebut akan dijual kembali. Ketika mobil itu terjual dengan harga $1000, dia akan mengembalikan
uang pinjaman kepada Anda ditambah laba $500 dibagi dua. Dengan demikian, Anda akan
memperoleh $500 ditambah $250 atau sebesar $750. Karena $250 adalah setengah dari $500 (laba
yang didapat), maka hal ini berarti untuk setiap dollar yang Anda keluarkan maka Anda akan
memperoleh 50 sen (setengah dollar). Dengan demikian, ROI Anda adalah 50%.

Rumus yang dapat digunakan untuk menghitung pengembalian investasi14:

12
Abdul Manan, Hukum Ekonomi Syariah dalam Perspektif Kewenangan Peradilan Agama, Prenada Media
Group, Jakarta, halaman 180-181.
13
Edward T.Koch., Debra DeSalvo, Joshua A.Kennon, The Complete Ideal’s Guides, Prenada Media Group, Jakarta,
halaman 22-23.
14
Ibid, halaman 24.
1. Jumlah uang yang di terima di akhir periode investasi yang merupakan kekayaan akhir
(A).
2. Investasi di awal disebut kekayaan awal (B).
3. Bila mengurangi (B) dari (A) akan mendapat pengembalian.

Setelah memperoleh gambaran pengembalian, dengan mudah dapat di hitung nilai ROI
dengan menggunakan rumus berikut:
(A-B) x 100% = ROI
——
B

Jika rumus ini digunakan untuk menghitung contoh di atas, akan diperoleh hasil :

($750 - $500)
—————— x 100% = $250 : $500 x 100% = 50%
$500

Apa yang diperoleh (yaitu $250) dibagi yang dibayarkan (yaitu $500) kali 100%.

Pada saat Anda meminjamkan uang kepada adik Anda untuk membeli mobil tua, Anda telah
mengambil risiko yang disebabkan oleh kejadian buruk yang bisa menimpa, seperti:
1. Dia tidak bisa menjual mobil tersebut.
2. Mobil tersebut telah dicuri atau dirusak oleh kegiatan vandalisme sebelum sempat terjual.
3. Dia menjual mobilnya dalam keadaan rugi.

Sebelum Anda meminjaminya uang, Anda telah menghitung ROI yang diharapkan,
meskipun Anda tidak menyadarinya dan Anda menganggap apa yang ditawarkan adik Anda telah
memberikan pengembalian yang cukup untuk menutupi risiko yang bisa Anda terima. Tetapi,
apabila adik Anda tinggal di suatu lingkungan di mana pencurian mobil terjadi setiap malam, maka
Anda tidak akan berani mempertaruhkan uang $500. Kemungkinan lainnya, apabila adik Anda
berjanji kepada Anda bahwa dia akan dapat menjual mobil tua itu dengan harga $1.500 dan
memberikan keuntungan bagi Anda $500 dan bukannya $250, barangkali Anda akan tertarik
mengejar peluang tersebut. Karena pengembalian sebesar 100% merupakan hal yang menarik.

Konsep ini merupakan aturan dasar dari kegiatan investasi. Secara umum boleh dikatakan,
semakin tinggi tingkat pengembalian maka akan semakin besar risiko. Hanya investor yang dapat
memilih sebesar apa risiko yang mampu ditanggung. 15

15
Ibid, halaman 25.
Sebagai contoh, tingkat pengembalian investasi dalam sebuah usaha kecil sangat tinggi.
Tetapi secara hitungan kasar, satu dari tujuh usaha kecil mengalami kegagalan, sehingga risiko
kehilangan investasi juga semakin besar. Sebagai perbandingan, tingkat pengembalian tabungan
yang ditawarkan bank umum sangat rendah, berkisar antara 3 sampai 4 persen, tetapi risiko
kehilangan uang Anda tidak ada sama sekali.

F. Perangkat Analisis Perdagangan Saham


Untuk mengendalikan risiko, investor profesional menggunakan berbagai taktik yang
dapat diterapkan untuk portofolio investasi sendiri.
1. Standar Deviasi dan Permainan Podunk Potato
Freddie telah bermain di base 3 dalam permainan Podunk Potato selama 12 tahun. Skor
pukulannya rata-rata setiap tahun adalah sebagai berikut:
1. 0,290 5. 0,390 9. 0,330
2. 0,380 6. 0,320 10. 0,340
3. 0,300 7. 0,270 11. 0,350
4. 0,310 8. 0,370 12. 0,370

Berapa skor pukulannya pada tahun ke-13? Marilah kita lihat rata-rata skornya, caranya
sederhana, jumlahkan seluruh angka rata-rata lalu bagi dengan 12.

Rata-rata skor Freddie adalah 0,335. Tetapi barangkali pada tahun kedua dan kelima Freddie
beruntung sehingga skor pukulannya meningkat karena kecerobohan pelempar bola sehingga
bolanya mudah dipukul.

Dan katakanlah dia di dera oleh cedera pada tahun pertama dan ketujuh sehingga skornya
menjadi buruk. Hal-hal tersebut (skor yang terlalu tinggi maupun terlalu rendah) bukan merupakan
situasi yang normal, sehingga kenapa tidak kita buang saja skor di keempat tahun tersebut? Hal
yang sama berlaku juga pada saat juri skating dan senam memberikan penilaian pada peserta lomba,
mereka akan membuang skor yang paling besar maupun yang paling kecil. Analisis data sering kali
mengabaikan sepertiga dari jumlah yang diberikan, sebagaimana yang kita lakukan terhadap skor
Freddie dengan membuang empat skor dari keseluruhan 12 skor. 16

Bila kita membuang skor tahun pertama, kedua, kelima, dan ketujuh, maka skor terendah
Freddie menjadi 0,300, yaitu rata-rata skor pukulan tahun ketiga. Sedangkan skor tertinggi adalah

16
Ibid, halaman 26.
0,370 yaitu skor rata-rata tahun ke 12. Selisih skor antara skor tertinggi dengan skor terendah adalah
: 0,370 – 0,300 = 0,07

Jadi, kita memperkirakan bahwa Freddie cenderung memiliki rata-rata skor pukulan antara
0,300 dan 0,370. Bila kita membagi dua spreadnya (0,07:2), maka kita bisa mengasumsikan bahwa
rata-rata pukulan Freddie 0,335 ditambah atau dikurangi 0,035. Jadi, “plus atau minus 0,035”
disebut rentang standar deviasi. Angka ini memberikan gambaran yang jelas mengenai potensi skor
Freddie pada masa mendatang. Rata-rata skor pukulan Freddie akan menyimpang dari rata-rata
totalnya plus atau minus 0,035.

2. Perilaku Menyimpang

Kita bisa menerapkan prosedur yang sama pada saat melakukan analisis terhadap hasil dari
suatu saham dengan melihat data-data pengembalian tahunan saham dari periode tahun yang lalu
sejauh yang bisa diperoleh. Asumsikan bahwa untuk periode waktu satu tahun, saham tertentu
memberikan pengembalian 12% dengan standar deviasi plus atau minus 15%. Hal ini berarti bahwa
saham tersebut dapat memberikan pengembalian antara 27% (12% + 15% ) atau – 3% (12% - 15%
).

Pada tahun yang sama, obligasi memberikan hasil 15% dan instrumen pasar uang
memberikan pengembalian 3%. Dengan demikian apabila pasar saham sedang berada dalam kondisi
yang sangat buruk, maka akan mengalami kerugian 3% dan mungkin Anda akan lebih tertarik
membeli obligasi atau menyimpan dana dalam bentuk tabungan.

Yang menarik adalah apabila memperhatikan data-data pengembalian tahunan saham


selama periode waktu 20 tahun, standar deviasi akan mengalami penurunan dari +/- 15% menjadi
+/- 3% . hal ini berarti bagi para investor yang telah berinvestasi dalam saham selama 20 tahun,
dapat mengharapkan pengembalian 12% plus-minus 3%. Tingkat pengembalian terendah adalah
9% (12 - 3%), sedangkan pengembalian tertinggi adalah 15% ( 12% + 3% ). Berarti bagi para
investor saham yang sudah berinvestasi 20 tahun, saham telah memberi mereka pengembalian yang
baik dibandingkan obligasi. Semakin panjang jangka waktu, tingkat pengembalian saham semakin
mulus dan deviasinya berkurang.

Pada intinya, semakin lama berinvestasi dalam bentuk investasi yang tinggi risikonya
seperti saham, maka akan semakin kecil standar deviasinya. Semakin lama fluktuasi pengembalian
tidak lagi menjadi masalah. Yang perlu dipertimbangkan adalah bagaimana kinerja investasi dalam
jangka panjang bukan jangka pendek. Secara historis, pengembalian saham akan sangat berfluktuasi
dalam jangka pendek, tetapi akan memberikan hasil yang baik dalam jangka panjang17.

Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa standar deviasi (risiko) dari pengembalian investasi
yang bersifat hasil tinggi akan berkurang apabila waktu investasi diperpanjang. Hal ini merupakan
konsep kunci dalam teori investasi. 18

G. Contoh Kasus Jual Beli Saham


1. Kasusnya
Seorang wanita bernama Lenny Roswita (LR) adalah pemilik saham PT. BUMI MANSYUR
PERMAI ( PT. BMP) sebanyak 2.525 lembar saham. Pada 29 Oktober 1997 dilaksanakan Rapat
Umum Pemegang Saham (RUPS) PT. BMP dengan keputusan menyetujui dan menyepakati
penjualan saham pada pihak luar yang bukan pemegang saham PT. BMP sebagaimana dituangkan
dalam Berita Acara No. 58 tanggal 29 Oktober 1997 yang dibuat oleh dan di hadapan Ny.
Chairani Bustani, S.H. Notaris di Medan.
Jumlah saham yang dijual sebanyak 2.221 lembar. Dari perincian penjualan saham milik LR
sesuai hasil RUPS, maka LR masih mempunyai sisa saham sebanyak 2.525 lembar – 2.221
lembar = 304 lembar. Atas penjualan saham tersebut LR sudah berulang kali mengingatkan
pemegang saham lainnya agar segera membayar harga saham LR sebanyak 2.221 lembar, akan
tetapi mereka tidak pernah membayar harga saham tersebut.
Perbuatan para pemegang saham tersebut merupakan perbuatan melawan hukum yang
mengakibatkan LR telah dirugikan sebesar Rp 10.000.000.00 per lembar saham x 2.221 lembar
saham = Rp 22.210.000.000.00, akan tetapi mereka tidak pernah membayar harga saham tersebut.
Oleh karena sudah ditagih berulang kali tidak ada hasilnya, akhirnya LR menggugat para
pemegang saham, yaitu Morris Srijaya, Ny. Margaret Leory, Ny. Suliana Taniwan, Ny. Finahati
Taniwan, Kamaruddin, Chairuddin dan Regan Lie ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dengan
tuntutan sebagai berikut:
Primair:
1. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya.
2. Menyatakan perbuatan para Tergugat merupakan perbuatan yang melawan hukum.

17
Ibid, halaman 27.
18
Ibid, halaman 27.
3. Menghukum para Tergugat untuk membayar harga saham Penggugat sebesar Rp
22.210.000.000.00 (dua puluh dua miliar dua ratus sepuluh ribu rupiah) secara
proporsional sesuai jumlah saham.
4. Menyatakan sah dan berharga sita jaminan yang telah diletakkan.
5. Menetapkan uang paksa (dwangsom) sebesar Rp 100.000.000.00/ hari setiap
keterlambatan Tergugat melaksanakan putusan Pengadilan yang telah berkekuatan
hukum tetap.
6. Menyatakan putusan ini dapat dijalankan serta merta.
7. Menghukum para Tergugat untuk membayar biaya yang timbul dalam perkara ini.

Subsidair:

1. Menyatakan batal atau tidak berkekuatan hukum RUPS PT. BMP pada tanggal 29
Oktober 1997 sesuai Berita Acara RUPS No. 58 yang dibuat oleh dan di hadapan Ny.
Chairani Bustami, S.H. Notaris di Medan, berikut akte yang dibuat setelah tanggal 29
Oktober 1997 terutama akte No.29 tanggal 18 September 1998.
2. Menyatakan Penggugat adalah pemegang saham PT. BMP sebanyak 2.525 lembar
saham.
3. Mohon putusan yang seadil-adilnya.

2. Putusan Pengadilan Negeri


Terhadap gugatan penggugat tersebut Pengadilan Negeri Medan dengan putusannya tanggal 25
September 2001 No.59/Pdt.G/2001/PN.Mdn di dalam pertimbangan hukumnya berpendapat
Penggugat tidak dapat membuktikan dalil gugatannya sehingga gugatan Penggugat ditolak dan
amar putusannya sebagai berikut:19

Dalam ekspesi

a. Menolak Ekspeksi Tergugat II s/d VII seluruhnya.

Dalam pokok perkara

a. Menolak gugatan Penggugat seluruhnya.

19
Gatot Supramono, Transaksi Bisnis Saham & Penyelesaian Sengketa Melalui Pengadilan,Prenada Media
Group, Jakarta, halaman 37-38.
b. Menghukum Penggugat membayar biaya yang timbul dalam perkara yang hingga sekarang
ditentukan sebanyak Rp 184.000,- (seratus delapan puluh empat ribu rupiah)
3. Putusan Banding
Merasa perkaranya kalah di Pengadilan tingkat pertama pengajuan pemeriksaan tingkat
banding. Setelah dilakukan pemeriksaan perkara Pengadilan Tinggi Medan menjatuhkan putusan
tanggal 29 April 2002 No. 89/PDT/2002/PT MDN yang menilai pertimbangan hukum pengadilan
tingkat pertama sudah benar dan tepat serta tidak bertentangan dengan hukum, dan amar
putusannya sebagai berikut:20
a. Menerima permohonan banding dari Penggugat/Pembanding.
b. Menguatkan putusan Pengadilan Negeri Medan No.59/Pdt.G/2001/PN.Mdn tanggal 25
September 2001 yang dimohonkan banding tersebut.
c. Menghukum Penggugat Pembanding untuk membayar biaya perkara yang timbul dalam
kedua tingkat peradilan, yang dalam tingkat banding sebesar Rp 110.000.00 (seratus sepuluh
ribu rupiah)
4. Putusan Kasasi
Perkara gugatannya masih kalah lagi di pengadilan banding Penggugat mengajukan
permohonan kasasi. Dalam pemeriksaan tingkat kasasi Mahkamah Agung dengan putusannya
tanggal 26 September 2005 No.1163 K/Pdt/2004 memberikan pertimbangan, bahwa alasan
kasasinya tidak dapat dibenarkan karena judex factie tidak salah menerapkan hukum, dan amar
putusannya sebagai berikut:
a. Menolak permohonan kasasi dari Pemohon kasasi Leni Roswita tersebut.
b. Menghukum Pemohon kasasi/ Penggugat untuk membayar biaya perkara dalam tingkat kasasi
ini sebesar Rp 500.000.00 (lima ratus ribu rupiah).
5. Putusan PK
Sudah tiga kali berturut-turut gugatan Penggugat ditolak oleh semua tingkat pengadilan,
tetapi Penggugat pantang menyerah dengan perkara yang dihadapinya dan masih ada kesempatan
untuk mengajukan upaya hukum Peninjauan Kembali (PK). Di tingkat pemeriksaan PK
Mahkamah Agung dengan putusan No. 354 PK/Pdt/2007 tanggal 26 Januari 2008 di dalam
pertimbangan hukumnya mengemukakan, bahwa surat-surat bukti baru yang diajukan pemohon
PK tersebut memang bukan merupakan alat bukti yang bersifat menentukan, akan tetapi dapat
menjadi alat bukti permulaan tentang belum terjadinya jual beli saham PT BMP yang sekarang
menjadi pokok sengketa.

20
Ibid, halaman 39.
Selanjutnya Mahkamah Agung berpendapat bahwa terdapat kekhilafan hakim atau kekeliruan
nyata dalam putusan judex facti dan judex juris, yakni:
a. Putusan hakim dalam ketiga tingkat peradilan tersebut berpendapat bahwa in casu dianggap
telah terjadi jual beli antara Pemohon Peninjauan Kembali dan Termohon Peninjauan
kembali, padahal yang terbukti baru adanya perjanjian kolektif untuk menjual saham.
b. Akibat dari pendapat tersebut, hakim dalam tiga tingkat dalam putusannya telah menyatakan
“bahwa para Termohon Peninjauan Kembali sudah menjadi pemilik saham PT BMP,
sehingga mereka berhak menyelenggarakan RUPS.
c. Ketentuan Pasal 64 ayat (1) Undang-Undang Nomor: 1 Tahun 1995 menentukan “ RUPS
diadakan ditempat kedudukan perseroan atau tempat perseroan melakukan kegiatan
usahanya, kecuali ditentukan lain.” In casu RUPS yang diadakan bukan di Medan sebagai
tempat kedudukan dan usaha PT. BMP, tapi di Bekasi.

Apa yang dipertimbangkan oleh judex factie dalam putusannya mengenai eksepsi,
menurut pendapat Mahkamah Agung sudah berdasarkan alasan yang tepat dan benar, oleh karena
itu dapat diambil alih sebagai pendapat dan putusannya sendiri oleh Mahkamah Agung. 21

Berdasarkan pertimbangan tersebut di atas, menurut pendapat Mahkamah Agung


terdapat cukup alasan untuk mengabulkan permohonan peninjauan kembali dari Pemohon
Peninjauan Kembali Leni Roswita tersebut dan membatalkan putusan MA tanggal 26
September 2005 No.1163 K/Pdt/2004 jis putusan Pengadilan Tinggi Sumatra Utara di Medan
tanggal 29 April 2002 No. 89/PDT/2002/PT-MDN dan Putusan Pengadilan Negeri Medan
tanggal 25 September 2001 No. 37/Pdt.G/2001/PN. Mdn. Serta MA mengadili kembali perkara
ini dengan amar putusan sebagai berikut:

MENGADILI
Mengabulkan permohonan peninjauan kembali dari Pemohon Peninjauan Kembali: LENNY
ROSWITA.

Membatalkan putusan MA tanggal 26 September 2005 No. 1163 K/Pdt/2004 jis putusan
Pengadilan Tinggi Sumatra Utara di Medan tanggal 2 April 2002 NO. 89/Pdt/2002/PT-MDN
dan putusan Pengadilan Negeri Medan tanggal 25 September 2001 No. 37/Pdt.G/2001/PN.Mdn.

MENGADILI KEMBALI

21
Ibid,halaman 40-41.
Dalam eksepsi

a. Menolak ekspesi terhadap Tergugat II sampai dengan Tergugat VII untuk seluruhnya.
Dalam pokok perkara:
a. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk sebagian.
b. Menyatakan para Tergugat telah melakukan perbuatan melawan hukum.
c. Menyatakan batal atau tidak berkekuatan hukum RUPS PT. BMP, pada tanggal 29
Oktober 1997 sesuai berita acara RUPS No. 58 yang dibuat oleh dan dihadapan Ny.
Chairani Bustami, S.H. Notaris di Medan, berikut akte yang dibuat setelah tanggal 29
Oktober 1997 terutama yaitu akte No.29 tanggal 18 September 1998 yang dibuat oleh
dan dihadapan Sri Bandioningsih, S.H. Notaris di Bekasi.
d. Menyatakan Penggugat adalah pemilik sah sebanyak 2.525 lembar saham dari PT.BMP.
e. Menolak gugatan Penggugat untuk selebihnya.
f. Menghukum para tergugat untuk secara tanggung renteng membayar biaya perkara ini
dalam semua tingkatan peradilan yang dalam tingkat peninjauan Peninjauan Kembali
sebesar Rp 2.500.000,00 (dua juta lima ratus ribu rupiah).

6. Belum Terjadi Jual Beli Saham


Pada kasus diatas belum terjadi jual beli saham dan yang terjadi baru kesepakatan untuk
menjual saham perseroan. Keputusan RUPS tidak dapat digunakan sebagai landasan hukum
karena tidak memenuhi syarat, yaitu tidak diselenggarakan menurut ketentuan UUPT. Saham
tidak ada yang beralih kepemilikannya, sehingga Penggugat masih memiliki saham yang
jumlahnya seperti semula. 22

H. Kesimpulan
Investasi merupakan salah satu dari banyak cara dalam menggunakan kelebihan
dana yang dimiliki baik perseorangan maupun perusahaan. Beberapa jenis investasi
antara lain: saham, obligasi, reksadana dan lain sebagainya. Untuk perusahaan kecil
atau mikro memanfaatkan saham sebagai salah satu jalan untuk mendapatkan modal
ketika perbankan sudah tidak menyediakan modal lagi entah karna kurangnya jaminan
atau agunan atau karna faktor lain. Selain itu, saham juga berguna untuk investor yang
tertarik melakukan investasi di dunia bursa efek. Bermain saham berarti siap
menanggung risiko yang besar, karna sifat saham yang fluktuaktif. Semakin besar risiko

22
Ibid, halaman 42.
yang mampu ditanggung investor maka semakin besar juga return yang akan diterima
itulah konsep dasar dari bermain investasi saham.
Daftar Pustaka
Manan,Abdul.2012. Hukum Ekonomi Syariah dalam Perspektif Kewenangan Peradilan
Agama.Jakarta: Prenada Media Group.
T.Koch, Edward. DeSalvo,Debra. A.Kennon, Joshua.2008.The Complete Ideal’s Guides
Investing.Jakarta: Prenada Media Group.
Rokmatussa’dyah, Ana. Suratman.2015. Hukum Investasi & Pasar Modal.Jakarta: Sinar Grafika.
Supramono, Gatot.2014. Transaksi Bisnis Saham & Penyelesaian Sengketa Melalui
Pengadilan.Jakarta: Prenada Media Group.
Untung, Hendrik Budi.2010. Hukum Investasi. Jakarta: Sinar Grafika.