Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH KELOMPOK

FISIOLOGI SISTEM MUSCULOSKELETAL

“OTOT”

OLEH:

1A KEBIDANAN

1. Asmaul Husna
2. Dian Afriani
3. Elissabeth Koten
4. Linda Gustari
5. Nurul Kurnia Putri
6.Putri Nurhasanah
7. Reskia Ilmi Evelyn
8.Susana
9.Tety Lestari

KELOMPOK 3

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNGPINANG
PRODI DIII KEBIDANAN
TAHUN 2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan rahmat dan
hidayah-Nya, penulis bisa menyelesaikan tugas makalah ini dengan judul “Otot” dapat
terselesaikan dengan tepat waktu.

Penulis mengucapkan terimakasih kepada dosen pembimbing yang telah membimbing


penulis dalam menyelesaikan makalah ini. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai
salah satu acuan, referensi bagi pembaca dalam mengetahui dan memahami tentang otot.

Dalam penulisan makalah ini penulis menyadari sepenuhnya baik dari segi bentuk
maupun isi laporan ini tidak terlepas dari kekurangan- kekurangan yanf ada karena
keterbatasan penulis. Oleh karena itu, dengan kerendahan hati penulis akan menerima keritik
dan saran yang membangun. Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan
pembaca. Semoga Tuhan Yang Maha Esa meridhoi apa yang telah penulis usahakan.

Penyusun,
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam seumur hidup ada beberapa bagian yang bias membantu antara organ satu
dengan yang lainnya. Otot bisa melekat ditulang yang bekerja untuk bergerak aktif.
Selain itu otot merupakan jaringan pada tubuh hewan yang bercirikan mampu
berkontraksi,aktifitas biasanya pengaturan oleh rangsangan dari system sataf. Satuan
dasar dari seluruh jenis otot adalah myofibril yaitu struktur filament yang jarak sangat
kecil tersusun dari protein kompleks, yaitu filament aktin dan myosin.
Otot merupakan suatu organ yang sangat penting bagi tubuh kita,karena dengan otot
tubuh kita bias berdiri tegap. Otot merupakan suatu organ atau alat yang
memungkinkan tubuh kita agar bias bergerak. Otot merupakan alat gerak aktif, ini
adalah suatu sifat yang penting bagi habitat.
Otot merupakan alat master gerak aktif dan sisa sikap tubuh. Dalam tubuh kita
terdiri dari bermacam jenis otot juga memiliki sifat dan cara kerja sendiri sendiri,
untuk saling menunjang agar badab kita bias bergerak.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa saja bagian-bagian dari otot?


2. Apa saja jenis-jenis otot?
3. Bagaimana cara kerja otot?
4. Apa saja kelainan pada otot?

1.3 Tujuan

Tujuan penulisan makalah ini, yaitu:

1. Untuk mengetahui bagian-bagian dari oto


2. Untuk mengetahui jenis-jenis otot
3. Untuk mengetahui cara kerja otot
4. Untuk mengetahui berbagai kelainan pada otot
1.4 Manfaat

Agar mahasiswa mengetahui berbagai macam klasifikasi dari otot dan dapat
mempelajari mengenai otot. Serta mengambil hikmah atas pelajaran yang di dapatkan.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi Otot Berdasarkan Struktur

Arti definisi / pengertian Jaringan adalah sekumpulan sel yang memiliki bentuk,
struktur dan fungsi yang sama. Jadi jaringan otot adalah sekumpulan sel-sel otot.

A. Bagian-bagian otot:

1. Sarkolema
Sarkolema adalah membran yang melapisi suatu sel otot yang fungsinya
sebagai pelindung otot

2. Sarkoplasma
Sarkoplasma adalah cairan sel otot yang fungsinya untuk tempat dimana
miofibril dan miofilamen berada

3. Miofibril
Miofibril merupakan serat-serat pada otot.

4. Miofilamen
Miofilamen adalah benang-benang/filamen halus yang berasal dari
miofibril.Miofibril terbagi atas 2 macam, yakni :

a.miofilamen homogen (terdapat pada otot polos)


b. miofilamen heterogen (terdapat pada otot jantung/otot cardiak dan pada otot
rangka/otot lurik).

Di dalam miofilamen terdapat protein kontaraktil yang disebut aktomiosin


(aktin dan miosin), tropopin dan tropomiosin. Ketika otot kita berkontraksi
(memendek)maka protein aktin yang sedang bekerja dan jika otot kita melakukan
relaksasi (memanjang) maka miosin yang sedang bekerja.

2.2 Klasifikasi Otot Berdasarkan Lokasinya

Gambar 1.1 gambar otot

2.3 Perbedaan Fungsi 3 Macam Otot

Perbedaan fungsi dari 3 macam otot (otot rangka, otot jantung dan otot polos) yaitu :

a. Otot rangka

Otot rangka adalah satu-satunya jaringan otot sukarela dalam tubuh manusia, karena
bisa dikendalikan secara sadar. Setiap gerakan fisik yang dilakukan seseorang secara sadar
seperti berbicara, berjalan, atau menulis membutuhkan kerja otot rangka.

Fungsi otot rangka adalah berkontraksi untuk menggerakkan bagian-bagian tubuh


lebih dekat ke tulang yang melekat pada otot. Sebagian besar otot rangka melekat pada dua
tulang di sepanjang sendi, sehingga otot berfungsi untuk menggerakkan bagian-bagian tulang
lebih dekat satu sama lain.

Sel otot rangka sama dengan sel otot jantung yaitu memiliki lurik. Namun, sel otot
rangka berbentuk silindris bercabang dan memiliki inti sel banyak di setiap seratnya.

b. Otot Jantung

Seperti namanya, otot ini hanya ditemukan di jantung. Otot jantung bertanggung
jawab untuk memompa darah ke seluruh tubuh.
Otot jantung juga tidak dapat dikendalikan secara sadar, jadi ini juga disebut dengan
otot tak sadar. Sementara hormon dan sinyal dari otak menyesuaikan laju kontraksi, sel-sel
otot jantung merangsang jantung untuk berkontraksi.

Sel otot jantung memiliki garis-garis terang dan gelap yang disebut lurik. Susunan
serat protein di dalam sel menyebabkan pita terang dan gelap ini. Sel otot jantung berbentuk
silindris memanjang, dengan satu inti sel di tengah.

c. Otot Polos

Otot polos ditemukan di dinding organ internal seperti pembuluh darah, saluran
pencernaan, kandung kemih, dan rahim. Otot polos dikendalikan oleh alam bawah sadar otak,
sehingga kerjanya tidak dapat Anda kontrol langsung dengan pikiran sadar. Anda bahkan
tidak menyadari kerja otot polos dalam tubuh.

Sel otot polos berbentuk gelendong dan memiliki satu inti sel di tengah. Otot polos
berkontraksi secara perlahan dan berirama.

2.4 Yang Berperan Dalam Kontraksi Otot

Kontraksi otot adalah keadaan saat otot menegang dan memendek sehingga kemudian
dapat menggerakkan tulang atau rangka tubuhmu. Relaksasi adalah kondisi ketika otot
kembali memanjang. Kontraksi = memendek, relaksasi = memanjang. Otot yang membuat
rangka bergerak disebut dengan otot rangka. Unit fungsional dari otot rangka disebut dengan
sarkomer, yang tersusun oleh aktin dan miosin.

Gambar 1.2 aktin dan miosin

a. Actin & Miosin


Aktin adalah protein pembentuk filamen halus. Aktin ini ada 2 untai, lho. Di dalam aktin
ada protein troponin dan tropomiosin. Selain itu, juga ada sisi untuk pengikatan miosin.
Sedangkan miosin adalah protein pembentuk filamen tebal yang bertugas menarik aktin
ketika kontraksi otot terjadi.
Selain aktin dan miosin, sarkomer ini memiliki daerah-daerah lain di dalamnya. Ada
empat daerah, namanya Pita I, Pita A, Zona H, dan Garis Z. Pada Pita I hanya ada aktin di
dalamnya. Sementara itu, Pita A memiliki aktin dan miosin sekaligus. Lalu, Zona H hanya
memiliki miosin saja. Nah, Garis Z itu apa, ya? Garis Z itu penghubung antar sarkomer.

Gambar 1.3 wilayah sarkomer

b. Peranan Ion Ca++

Peran ion Ca dalam memulai peristiwa pergeseran miofilamen. Jika kemudian impuls
syaraf motorik berhenti, maka ion Ca dalam sitoplasma akan kembali ke reticulum
sarkoplasma melalui kanal ion oleh kegiatan pompa aktif. Ketiadaan ion Ca di sitoplasma
mengakibatkan binding sites di filament aktin tertutup kembali, ikatan aktin dan myosin
terlepas sehingga terjadilah relaksasi otot. Pelepasan Ca2+ dari retikulum sarkoplasmik
meningkatkan konsentrasi Ca2+ di sitosol kira-kira dari 10-7 menjadi 10-5 M. Berikut kerja
retikulum sarkoplasma mengatur kadar ion Ca2+ intraselular dalam otot rangka. Kalsium
membantu semua pergerakan tubuh, kepadatan kalsium merupakan standar dasar yang
mengatur kontraksi otot dan merengang dan bergerak.

c. Teori Kontraksi Otot

Filamen tipis terdiri dari 2 rantai molekul aktin yang melilit satu dengan yang lainnya dan
mengandung tempat pengikat bagi jembatan silang (cross bridge) dari filamen yang tebal
yang disebut "aktif site". Selain itu filamen tipis juga mengandung protein tropomiosin dan
troponin. Tropomiosin dan troponin dikenal sebagai protein pengatur. Troponin mempunyai
tempat pengikat ion Ca2.

Filamen tebal dibangun oleh molekul miosin dan setiap molekul miosin terdiri dari bentuk
batang yang disebut bagian ekor dengan salah satu ujungnya yang berbentuk bulat yang
disebut kepala. Kepala dari molekul miosin dikenal sebagai jembatan silang . Jembatan silang
memiliki dua tempat pengikatan, satu untuk aktin dan lainnya untuk ATP. Setiap filamen
tebal mengandung beratus-ratus molekul miosin. Dalam keadaan otot tidak berkontraksi,
posisi tropomiosin menutupi tempat pengikatan jembatan silang (kepala miosin). Jika
troponin mengikat ion Ca2+ terjadi perubahan posisi tropomiosin sedemikian rupa sehingga
kepala miosin berikatan dengan aktif site pada aktin akibatnya otot berkontraksi. Jadi
kontraksi otot rangka baru terjadi bila di sarkoplasma banyak terdapat ion Ca2+. Ion Ca2+ ini
disimpan dalam retikulum sarkoplasma yang membentuk triad. Pada otot polos , protein yang
mengikat ion Ca2+ adalah kalmodulin.

Selama kontraksi otot filamen aktin bergeser kedalam arah zona H, sarkomer memendek
tetapi panjang miofilamen aktin maupun miosin tidak mengalami perubahan. Jembatan silang
dari miofilamen miosin mengait pada aktif site filamen aktin dan aktivitas ini dapat terjadi
apabila tersedia ATP. Jembatan silang selanjutnya membengkokan diri kearah zona H
dengan ini filamen aktin menggeser dan garis Z tertarik ke arah zona H pula dengan demikian
sarkomer memendek, otot berkontraksi. Pada setiap daur, satu sarkomer memendek hanya
sepanjang 2 x 10 nm atau 1%nya. Pada kontraksi otot, pemendekan sarkomer dapat mencapai
30% hingga 50%. Untuk mendapatkan kontraksi sejauh itu, daur pergeseran harus diulang
beberapa kali. Untuk melaksanakan daur berikutnya, jembatan silang harus lepas dari aktif
site filamen aktin dengan bantuan ATP, selanjutnya daur dimulai lagi. Kekurangan ATP
dapat menyebabkan kejang otot. Relaksasi terjadi bila ion Ca2+ disingkirkan dari
sarkoplasma dengan mekanisme pompa Ca. Apabila kadar ion Ca2+ dalam sarkoplasma
turun dibawah kadar 10-7 mol/L, troponin kembali ke posisi semula, tropomiosin bergerak
kembali menutup aktif site pada aktin dan daur jembatan silang terhenti.

d. Isometrik dan Isotonik

ISOTONIK
Kata ‘isotonik’ berarti ketegangan atau bobot yang sama. Dalam kontraksi ini, ketegangan
berkembang secara konstan seiring dengan perubahan panjang otot. Ini melibatkan
pemendekan otot dan kontraksi aktif dan relaksasi otot-otot dan terjadi saat gerakan seperti
berjalan, berlari, melompat-lompat dll.

Kontraksi isotonik dapat dibagi lagi menjadi dua kategori sebagai konsentrik dan
eksentrik. Dalam kontraksi konsentris, otot lebih pendek sedangkan, dalam kontraksi
eksentrik, otot memanjang selama kontraksi. Kontraksi otot eksentrik adalah penting karena
dapat mencegah perubahan panjang yang cepat yang dapat merusak jaringan otot dan
menyerap guncangan.

Ketika otot bekerja dengan kontraksi secara isotonik maka bagian tubuh dimana otot
melekat akan bergerak. Kontraksi isotonik memiliki 2 tipe yaitu :

1. Kontraksi isotonik memendek

Ketika suatu otot berkontraksi dan kedua titik perlekatan otot tersebut saling mendekat satu
sama lain, maka kontraksi tersebut dikenal sebagai kontraksi isotonik memendek. Sebagai
contoh, ketika lengan diangkat ke samping dan abduktor should berkontraksi dengan isotonik
memendek.

2. Kontraksi isotonik memanjang

Ketika perlekatan suatu otot bergerak secara perlahan menjauhi satu sama lainnya dari
titik perlekatannya dan otot tersebut menghasilkan gerakan dalam pola yang terkontrol, maka
aksi otot tersebut disebut dengan kontraksi isotonik memanjang. Sebagai contoh, ketika tubuh
dalam posisi berdiri tegak dan lengan diturunkan dari abduksi ke adduksi maka abduktor
shoulder akan mengontrol gerakan tersebut dan bekerja secara isotonik memanjang.

Kontraksi isotonik memendek dapat terjadi dalam berbagai keadaan,yaitu kapan pun
gerakan yang terjadi sering titik perlekatan otot saling mendekat dimana kerja otot akan
berkontraksi secara isotonik memendek. Bagaimanapun juga, kontraksi isotonik memanjang
hanya dapat terjadi jika ada gaya eksternal yang teraplikasikan pada komponen yang bergerak
dan bagian tubuh tersebut akan bergerak secara perlahan sehingga titik perlekatan otot saling
menjauh.

Dalam latihan isotonik tampak anggota tubuh yang bergerak. Kontraksi isotonik
meliputi dua macam bentuk, yaitu kontraksi konsetrik yaitu otot memendek dan kontraksi
eksentrik yaitu otot memanjang. Kontraksi konsentrik adalah tipe kontraksi otot yang lebih
umum. Latihan isotonik biasanya dilakukan dengan memakai beban, baik dengan beban
tubuh sendiri maupun beban dari luar, seperti lempengan besi, katrol, atau mesin latihan.

Dalam kegiatan olahraga salah satu contoh nyata kontraksi isotonik adalah ketika
lengan seseorang mengangkat dumble. Untuk mengangkat dumble dari posisi lengan lurus
menjadi lengan di tekuk, otot biceps brachii berkontraksi dalam pola kerja isotonik. Isotonik
diartikan sebagai pola kontraksi yang berpegang pada tonusnya tetap, sebaliknya panjang
ukuran oto berubah/memendek. Kontraksi isotonik juga disebut kontraksi otot kontraksi
konsentris atau dinamis.

Secara anatomis otot biceps brachii berlokasi di lengan atas anterior. Otot ini
mempunyai origo di tulang scapula. Tepatnya adalah di proseseus coracoideus dan supra
glenoidalis scapula. Sedang intersisnya ada di tulang radius (tuberositas radial). Ketika
berkontraksi isotonik maka lengan bawah akan terangkat ke atas atau fleksi lengan terjadi.

B. ISOMETRIK

Kata ‘isometrik’ menyiratkan panjang otot konstan atau tidak berubah. Dalam
kontraksi isometrik, panjang otot tetap konstan sementara ketegangan mengalami perubahan
yang bervariasi. Di sini, ketegangan berkembang pada otot, tapi otot tidak memendek untuk
memindahkan objek. Oleh karena itu, konsentrasi isometrik, bila tidak ada objek bergerak,
pekerjaan di luar yang dilakukan adalah nol. Dalam kontraksi ini, serat individual bisa
memendek meskipun seluruh otot tidak berubah panjangnya, sehingga latihan isometrik
membantu untuk memperkuat otot-otot.

Kontraksi isometrik tidak melibatkan gerakan bersama sehingga pasien yang


membutuhkan rehabilitasi dapat melakukan latihan isometrik untuk menghindari gerakan
yang menyakitkan. Latihan-latihan ini tidak dianjurkan untuk pasien dengan tekanan darah
tinggi karena dapat menyebabkan lonjakan tekanan darah yang berbahaya. Contoh gerakan
isometrik melibatkan mencengkeram obyek seperti tongkat atau raket. Di sini, kontraksi otot
untuk menahan dan menstabilkan objek belum ada perubahan panjang otot saat menahan
mereka.

Ketika suatu otot bekerja secara isometrik maka panjang otot akan memendek dan
komponen-komponen non-kontraktil sedikit memanjang serta tidak ada gerakan yang terjadi
pada suatu sendi dimana otot melewati sendi tersebut. Kontraksi ini paling mudah dan
kenyataannya untuk menghasilkan kontraksi isometrik, biasanya dilakukan ketika otot dalam
keadaan ROM inner-range, tetapi dengan latihan dapat dikembangkan keterampilan/skill
tentang latihan kontraksi otot isometrik pada suatu bagian ROM. Kontraksi isometrik dapat
dilakukan pada otot dengan mengaplikasikan manual resisten yang besarnya tahanan sama
dengan kontraksi yang dihasilkan oleh otot tersebut.

Ketika kontraksi isometrik dilakukan pada suatu otot, biasanya diajarkan ke pasien
latihan kontraksi sendiri tanpa tahanan terapis. Tentu saja kontraksi isometrik terjadi dengan
sendirinya ketika pasien memakai suatu support seperti sebuah plaster atau fiksasi splint.
Tipe kerja otot ini digunakan ketika sendi mengalami inflamasi dimana gerakan akan
menimbulkan nyeri hebat. Kekuatan dan tonus otot bekerja pada sendi yang dilewatinya akan
dipertahankan dengan mengajarkan kontraksi isometrik kepada pasien.

Kontraksi isometrik atau kontraksi statik merupakan kontraksi sekelompok otot tanpa
gerakan anggota tubuh. Bentuk latihan dapat berupa mengangkat, mendorong atau menarik
benda yang tidak dapat digerakkan seperti mendorong tembok, pohon, dan sebagainya.

Perbedaan antara Kontraksi isotonik dan isometric,antara lain:

1. Pada kontraksi isotonik, ketegangan konstan sedangkan panjang otot bervariasi. Dalam
kontraksi isometrik, panjang otot tetap konstan sementara ketegangan bervariasi.

2. kedutan isotonik memiliki waktu yang lebih singkat, periode kontraksi pendek, dan jangka
waktu relaksasi lebih lama. Sebaliknya, kedutan isotonik memiliki periode yang lebih lama,
periode kontraksi juga, dan periode relaksasi pendek.

3. Kenaikan suhu menurunkan ketegangan isometrik sedangkan meningkatkan kedutan


isotonik saat memendek.

4. kurang melepaskan panas kontraksi isometrik dan, oleh karena itu, kontraksi isometrik
lebih hemat energi, sedangkan kontraksi isotonik lebih dan, karena itu, kurang hemat energy.

5. Selama kontraksi isometrik, tidak ada pemendekan terjadi dan, oleh karena itu, tidak ada
pekerjaan eksternal yang dilakukan, namun selama kontraksi isotonik, pemendekan terjadi
dan kerja eksternal dilakukan.
6. kontraksi isotonik terjadi di tengah-tengah kontraksi sementara kontraksi isometrik terjadi
pada awal dan akhir dari semua kontraksi.

7. Selama kontraksi otot, fase isometrik meningkat ketika beban meningkat sedangkan fase
isotonik menurun ketika beban meningkat
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dari pembahasan yang telah di uraikan dapat disimpulkan bahwa, struktur otot terdiri
atas berkas-berkas serabut otot, ini terdiri atas sel-sel otot. Di dalam setiap sel otot terdiri atas
sarkolemna, sarkoplasma, dan myofibril. Myofibril memilii stuktur gelap dan struktur terang.
Dalam pola gelap dan terang tersebut terdapat miofilamen yang terdiri atas filament tipis dan
filament tebal. Filamne tipis merupaka aktin, sedangkan filame tebal merupakan mioisin.
Aktin dan mioisin merupakan protein sel otot yang bertanggung jawab atas kontraksi otot,
selain akti dan mioisin, terdapat pula beberapa protein otot yang mempunyai peran penting
dalam kontraksi otot, yaitu titin, tropomiosin dan troponin.

3.2 Saran

Penulis menyadari bahwa makalah ini tidak luput dari kekurangan, maka penulis
membutuhkan saran yang dapat membangun dalm melakukan pembuatan makalh ini.
DAFTAR PUSTAKA

Husada, Dian.2012.Anatomi Dian Husada. http://nisnisaika.blogspot.com/p/231-klasifikasi-


berdasarkan-struktur.html. (1 Juni 2012)

Ayuningtyas,Rika. Klasifikasi Otot Bedasarkan Lokasinya.


http://anatomiika.blogspot.com/2012/06/klasifikasi-otot-berdasarkan-lokasinya.html. (3
Juni2012)