Anda di halaman 1dari 3

Leisure Economy: Trend Bisnis Milenial Ekonomi Indonesia

Saat ini dunia tengah menyambut gempita revolusi industri terbaru yang disebut sebagai generasi
keempat dari perkembangan industrialisasi (revolusi industri 4.0). Perubahan berlangsung dinamis
pada lingkungan ekonomi dan bisnis.

Seiring dengan perkembangan zaman, ekonomi dan Pendidikan, pola konsumsi masyarakat saat
ini yang sebelumnya didominasi hanya sandang, pangan dan papan, kini menjadi hiburan atau
leisure. Dinamika ekonomi ini mengakibatkan tingginya standar kepuasan dan target maupun
tekanan yang diberikan perusahaan kepada pekerja yang sebanding dengan upah yang diberikan
membuat leisure datang menjadi kebutuhan.

Istilah leisure economy yang dipopulerkan Linda Nazareth lewat bukunya The Leisure Economy:
How Changing Demographics, Economics, and Generational Attitudes Will Reshape Our Lives
and Our Industries (2007), pola konsumsi mulai bergeser dari goods-based consumption (barang)
menjadi experience-based consumption (pengalaman). Dalam tulisannya, Linda Nazareth juga
menjelaskan bahwa telah terjadi pergeseran pola konsumsi dari yang semula cenderung memilih
untuk mengkonsumsi barang (goods-based, misalnya sandang, pangan, papan) berubah
menjadi experience-based consumption (pengalaman). Indonesia tergolong sebagai negara yang
terjangkit virus leisure secara masif.

Indonesia menjadi salah satu negara yang terkena fenomena ini. Pasalnya, konsumsi dalam
kategori leisure makin marak dininikmati di masyarakat. Kategori leisure seperti traveling,
menginap di hotel, menonton film, konser musik, dan kuliner telah menjadi konsumsi gaya hidup
sekarang ini. Fenomena ini menjadikan konsumsi masyarakat dengan tujuan mendapatkan
kesenangan dan pengalaman dapat terealisasi sesuai dengan keinginan.

Dikutip dari majalah swa berdasarkan Studi Nielsen (2015) mengungkapkan, kaum millenial yang
kini telah menjadi konsumen dominan Indonesia (mencapai 46%) sangat mudah mengeluarkan
biaya yang bersifat gaya hidup dan experience based. Maksud experience based ini diambil dari
data Badan Pusat Statistik (BPS) dimana terdapat peningkatan konsumsi berbasis pengalaman di
tahun 2015 dengan pengeluaran US$2-10 per hari.
Fenomena peralihan pandangan ekonomi ini mengakibatkan sektor leisure telah menjadi gaya
hidup ekonomi baru di Indonesia. Leisure economy diprediksi bisa menjadi semakin popular
dimasa depan seiring dengan kemajuan teknologi informasi. Terlebih potensi yang dimiliki
Indonesia melalui sektor pariwisata yang tersebar dari Sabang hingga Marauke.
Diperkirakan leisure economy di bidang pariwisata memberikan kontribusi yang relatif signifikan
pada perekonomian baik dari segi pemerintahan maupun peningkatan pendapatan dari penduduk
yang memiliki property ataupun berada di sekitar wilayah dengan tujuan para pelaku leisure
ekonomi.

Tren yang berkembang di kalangan para millenial saat ini ada di antara living,
working, dan leisure menjadi satu. Hal ini yang membuka inovasi dan menjadi peluang luar biasa.
Elemen-elemen leisure dalam sebuah bisnis akan semakin dominan untuk menarik konsumen.
Mencari celah di mana sebuah produk dapat disuntikkan unsur leisure menjadi cara baru dalam
menciptakan bisnis. Tidak sedikit perusahaan yang memberikan benefit berupa leisure sebagai
bentuk kompensasi atas hasil kerja pekerjanya. Hal tersebut juga memberikan dampak positif
dalam peningkatan leisure economy saat ini.

Tingginya demand mengakibatkan mulai bermunculan sistem ecommers semakin banyak dalam
menunjang kebutuhan konsumen dalam memenuhi kebutuhan leisure. Tidak hanya dalam situs
pencarian dengan mengkedepankan perbandingan harga antara penyedia layanan satu dan lainnya,
namun juga semakin dipermudahnya konsumen dalam melakukan pembayaran. Selain itu
tingginya demand akan kebutuhan leisure, dan dibarengi juga tidak sedikitnya pengeluaran dalam
pembelian barang pokok membuat para pelaku industri tidak kehabisan akal dalam meluncurkan
produk-produk dengan system pembayaran online dengan penawaran penggunaan e-money
ataupun peluncuran produk baru berbasis pembayaran berbasis paylater. Kemudahan dalam
pemenuhan kebutuhan leisure yang diberikan oleh industry hiburan memanjakan para konsumen
dalam lebih cenderung konsumtif. Namun tidak sedikit juga para konsumen yang memiliki
pengetahuan dan strategi dalam memanfaatkan fitur-fitur maupun benefit yang ditawarkan oleh
para pelaku industri tersebut.

Dengan mempertimbangkan potensinya yang cukup besar, hendaknya para pelaku ekonomi mulai
intens untuk menjadikan kegiatan-kegiatan leisure sebagai suatu Industri. Dimana hulu-hilir dari
industri ini harus dikemas untuk menjadi nilai tambah yang besar bagi makro perekonomian
(daerah dan negara) beserta para pelakunya (mikro ekonomi). Sektor basisnya dapat dibangun
melalui industri pariwisata yang unggul dalam rendahnya barrier to entry (inklusif) dan mampu
melibatkan peran banyak sektor.

Menurut penulis, setiap fenomena ekonomi yang terjadi pasti memiliki kelebihan dalam
peningkatan pendapatan untuk para pelaku ekonomi, baik dari sisi regulator sekaligus pelaku
ekonomi makro (pemerintah) maupun para pelaku industri dan konsumen/masyarakat. Semua itu
tergantung kepada masing masing pelaku pasar. Apakah ingin menjadikan fenomena ini sebagai
suatu kesempatan dalam peningkatan pendapatan maupun kepuasan yang menghasilkan
equilibrium market atau hanya menjadikan fenomena ini sebagai fenomena yang tidak
menimbulkan efek positif dalam pertumbuhan ekonomi.