Anda di halaman 1dari 10

e-journal Keperawatan(e-Kp) Volume 7 Nomor 2, Agustus 2019

FUNGSI AFEKTIF DAN PERAWATAN KELUARGA


DENGAN KEPATUHANPENGOBATAN
TB PARU

Diandry Tamamengka
Billy Kepel
Sefti Rompas

Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran


Univeristas Sam Ratulangi
Email :diandry.tamamengka22@gmail.com

Abstrack: The functions of Affective and Family Care, namely mutual respect and mutual
support, foster care, in a way this is a family member feel got the attention, love, honor, the
warmth. This important function is there to maintain the State of health of the family members
to have a high productivity. The purpose of this research is to know the functions of affective
Relationships and family care with Pulmonary TB treatment compliance in Clinics Tuminting
Manado. Research methods design uses cross sectional techniques the taking of sampling
using the technique of accidental sampling with the total sample as much as 68 respondents.
Method of data collection using the questionnaire function of affective and family care with
Pulmonary Tb treatment compliance and test statistic using the test chi square.Research results
on p-values can be value of 0.001 and 0.003 ( α ≤ 0.05) which means there is a significant
Relationship conclusion the results of this research show that there is a corelation of care and
Affective function of families with Compliance with the treatment of Pulmonary tuberculosis in
health center Tuminting Manado.
Keywords: Family Affective function,The function of Family care, Adherence to treatment.

Abstrak : Fungsi Afektif dan Perawatan Keluarga yaitu saling mendukung, menghormati dan
saling asuh, dengan cara inilah seorang anggota keluarga merasa mendapat perhatian, kasih
sayang, kehormatan, kehangatan. Fungsi ini penting ada untuk mempertahankan keadaan
kesehatan anggota keluarga agar tetap memiliki produktivitas tinggi.Tujuan penelitian ini
untuk mengetahui Hubungan fungsi afektif dan perawatan keluarga dengan kepatuhan
pengobatan TB Paru di Puskesmas Tuminting Manado.Metode penelitian ini menggunakan
desain cross sectional teknik pengambilan sampling menggunakan teknik accidental sampling
dengan jumlah sampel sebanyak 68 responden.Metode pengumpulan data menggunakan
kuesioner fungsi afektif dan perawatan keluarga dengan kepatuhan pengobatan Tb Paru dan Uji
statistic menggunakan uji chi square.Hasil penelitian di dapat nilai p-value sebesar 0,001 dan
0,003 (≤ α 0,05) yang berarti ada Hubungan yang signifikan kesimpulan hasil penelitian ini
menunjukan bahwa ada Hubungan Fungsi Afektif dan Perawatan Keluarga dengan Kepatuhan
Pengobatan TB Paru di Puskesmas Tuminting Manado.
Kata kunci : Fungsi Afektif Keluarga, Fungsi perawatan keluarga, Kepatuhan pengobatan

PENDAHULUAN organ paru sebagai lokal infeksi primer.


Tuberkulosis merupakan penyakit Tuberculosis (TB) merupakan masalah
menular langsung yang disebabkan oleh kesehatan masyarakat yang penting
kuman tuberculosis. Infeksi ber-sifat didunia. World Health Orga-nization
sistemik sehingga dapat mengenai semua (WHO) telah terdapat 182 kasus per

1
e-journal Keperawatan(e-Kp) Volume 7 Nomor 2, Agustus 2019

100.000 penduduk di Afrika hampir 2 kali juta jiwa di dunia diselamatkan oleh
lebih besar asia tenggara yaitu 350 per program tersebut (WHO, 2013).
100.000 penduduk. (WHO 2009), Pengobatan Tuberkulosis me
Mengatakan Sebagaimana juga halnya di merlukan waktu yang relatif panjang,
negara negara berkembang lain, TB di dengan dua tahap, yaitu tahap awal
indonesia masih merupakan salah satu (intensif) dan tahap lanjutan Depkes,
masalah kesehatan yang utama. (2010). Pada semua tahap tersebut pasien
Tuberkulosis merupakan penyakit sistemik harus meminum obat dalam jangka waktu
yang dapat mengenai hampir semua organ tertentu.Banyaknya obat yang harus
tubuh, yaitu organ pernafasan. Kuman TB diminum dan toksisitas sertaefek samping
dapat hidup lama tanpa aktifitas dalam obat dapat menjadi peng-hambat dalam
jaringan tubuh (dormant) hingga sampai penyelesaian terapipasien Tuberkulosis
saatnya ia aktif kembali. Lesi TB dapat WHO (2009). Kepatuhan rata-rata pasien
sembuh tetapi dapat juga berkembang pada pengobatan jangka panjang terhadap
progresif atau mengalami proses kronik penyakitkronis di negara maju hanya
atau serius. Depkes RI , (2009) sebesar 50% sedangkan di negara
Tuberkulosis paru (TB paru) berkembang jumlah tersebut bahkan lebih
merupakan salah satu penyakit yang telah rendah. Ketidak patuhan pasien dalam
lama dikenal dan sampai saat ini masih pengobatan merupakan masalah kese-hatan
merupakan masalah kesehatan di berbagai yang serius dan sering terjadi padapasien
Negara di dunia.Salah satu Negara dengan penyakit kronis, seperti pada
berkembang yang terinfeksi kasus TB penyakit tuberkulosis paru.Banyak faktor
adalah Indonesia. Indonesia menempati yang berhubungan dengan kepatuhan
peringkat ketiga jumlah penderita TB di terhadap terapi TB paru, termasuk
dunia setelah india (1.762.000) dan china karakteristik pasien, hubungan antara
(1.459.000). petugas pelayanan kesehatandan pasien,
Depkes RI memperkirakan bahwa regimen terapi dan sistem penyelenggara
setiap tahun terdapat 528.000 kasus baru pelayanan kesehatan DepkesRI, (2009).
TB di Indonesia.Berdasarkan laporan hasil Rukmini, (2011), dalam pene-
survey yang di lakukan oleh WHO dari litiannya ia menemukan bahwa dukungan
tahun 2008 sampai dengan 2012 negara keluarga merupakan faktor penting
negara di dunia, bahwa penggunaan keberhasilan pasien TB dalam mematuhi
Directly observed Treatment Short Course program pengobatan.Keluarga merupakan
(DOTS) dan strategi stop TB mampu unit terkecil dari masyarakat yang besar
menurunkan beban TB setiap tahunnya. pengaruhnya dalam kehidupan se-seorang.
Penggunaan DOTS dan strategi stop TB Terlebih lagi dalam kesehatan, keluarga
merupakan pengobatan dengan peng- dapat berperan aktif dalam melindungi
awasan langsung terapi dengan cara anggota keluarganya yang sakit.
membantu pasien mengambil obat secara Kemampuan keluarga dalam mem-berikan
teratur untuk memastikan kepatuhan pasien perawatan kesehatan mem-pengaruhi status
dalam pengobatan TB paru. Kepatuhan kesehatan keluarga. Selain itu pengetahuan
pasien dalam pengobatan TB paru sangat keluarga tentang sehat dan sakit juga
berarti bahwa dunia berada di trek untuk mempengaruhi prilaku keluarga dalam
mencapai tujuan Millenium Deve-lopment menyelesaikan masalah kesehatan
Goals (MDGs ) untuk mem-balikan keluarga. Friedman membagi fungsi
penyebaran TB pada tahun 2015 dan angka keluarga menjadi lima yaitu, Fungsi
kematian yang di sebabkan oleh TB paru Afektif, Fungsi perawatan keluarga, Fungsi
menurun 45% dan diperkirakan sekitar 22 sosial, Fungsi rep-roduksi, Fungsi ekonomi.

2
e-journal Keperawatan(e-Kp) Volume 7 Nomor 2, Agustus 2019

fungsi keluarga yang dia ambil yaitu fungsi mengantarnya untuk berobat, selain itu ada
Afektif dan fungsi perawatan dimana. yang tinggal hanya sendiri tidak ada
Fungsi afektif yang dimiliki keluarga keluarga. Berdasarkan latar belakang di atas
sebagai sumber kasih sayang dan maka peneliti tertarik untuk mengetahui
reinforcementse hingga keluarga mem- secara lebih mendalam Hubungan
bentuk suatu iklim yang positif bagi FungsiAfektif dan Perawatan Keluarga
anggota keluarga di dalamnya. dengan kepatuhan pengobatan TB Paru di
Keberhasilan dari pelak-sanaan fungsi Puskesmas Tuminting Manado.
afektif keluarga akan membentuk konsep
diri yang positif dari keluarga tersebut METODE PENELITIAN
Maria, (2009). Pelaksanaan fungsi afektif Penelitian ini termasuk dalam jenis
keluarga berhubungan dengan pencapaian penelitian kuantitatif dengan meng-
tujuan peran keluarga merawat anggota gunakan metode penelitian survei analitik
keluarga yang sakit.Keluarga mem-punyai untuk menganalisis hubunga kepercayaan
peran utama dalam pemeliharaan kesehatan dengan perilaku mencari pertolongan,
seluruh anggota keluarga dan bukan Penelitian ini meng-gunakan desain
individu sendiri yang mengu-sahakan penelitian cross sectional Setiadi, (2013).
tercapainya tingkat kesehatan yang di Penelitian ini dilaksanakan di
inginkan. puskesmas tuminting manado pada bulan
Perawatan kesehatan keluarga Mei 2019. Populasi penelitian ini seluruh
berfungsi meningkatkan status kese-hatan penderita TB Paru di Puskesmas Tuminting
anggota keluarga dengan cara mengenal Manado yang berjumlah 81
masalah kesehatan keluarga, memutuskan orang.Pengambilan sampel menggunakan
tindakan kesehatan yang tepat bagi teknik Accidental sampling, dengan rumus
keluarga, merawat keluarga yang slovin maka didapatkan jumlah sampel 68
mengalami gangguan kesehatan, me- responden. Instrument penelitian yang
modifikasi lingkungan keluarga untuk digunakan untuk mengukur variabel fungsi
menjamin kesehatan, me-manfaatkan afektif keluarga yaitu kuesioner yang
fasilitas pelayanan ke-sehatan, praktek diet pernah digunakan sebelumnya oleh Zulka
keluarga, praktek tidur, praktek latihan dan (2015) dan fungsi perawatan keluarga di
rekreasi, praktek penggunaan obat buat sendiri oleh peneliti, kuesioner fungsi
terapeutik, alkohol, tembakau, serta praktek afektif keluarga terdiri dari 22 pertanyaan
perawatan diri keluarga Suprajitno, (2004). dan fungsi perawatan keluarga terdiri dari
Berdasarkan observasi awal yang 10 pernyaataan Masing-masing item
dilakukan pada bulan Oktober 2018 pernyataan yang mendukung atau positif
didapatkan informasi bahwa jumlah (favorable) negative (unfavorable) dengan
kunjungan pasien TB Paru tahun 2018 ke pemberian bobot : kurang baik ≤ 55, Baik >
Puskesmas Tuminting Manado rata-rata 81 55, sedangkan fungsi perawatan kelurga
kunjungan baik pasien lama maupun pasien Kurang Baik ≤ 25, Baik > 25 dan instrument
baru. Hasil wawancara dengan lima orang penelitian yang digunakan untuk mengukur
pasien TB Paru mereka cenderung putus variabel kepatuhan pengobatan Tb paru
minum obat karena alasannya jauh dari yaitu kuesioner yang pernah di gunakan
keluarga, dan tinggal hanya sendiri dan ada sebelumnya oleh Aris widianto (2016) yang
keluarga yang hanya mengabaikannya. telah di uji validitasnya. Di susun dalam 20
Menurut perawat puskesmas yang pernyataan Masing- masing jawaban
bertanggung jawab pada kasus TB, memiliki 4 kategori yaitu SS = sangat
sebagian klien yang terkena TB putus setuju, S= setuju, TS = tidak setuju, STS =
minum obat karena tidak ada keluarga yang sangat tidak setuju. Skor penilain item yaitu

3
e-journal Keperawatan(e-Kp) Volume 7 Nomor 2, Agustus 2019

SS=4, S=3, TS=2, STS=1. Dengan bobot Tabel 2. Karakteristik responden


penilainan : tidak patuh ≤ 50, patuh < 50. berdasarkan jenis kelamin
Pengolahan data yang diperoleh dari hasil Jenis Kelamin n %
penelitian ini dianalisis menggunakan uji Perempuan 30 44.1
statistik melalui sistem komputer dengan Laki-laki 38 55,9
beberapa tahap yaitu editing, coding,
tabulasi data (Notoatmodjo, 2010). Analisa Total 68 100
bivariat dalam penelitian ini yaitu untuk Sumber : data primer 2019
mengetahui hubungan fungsi afektif dan
perawatan keluarga dengan kepatuhan Tabel 2 di atas menjelaskan bahwa 68
pengobatan TB Paru di puskesmas responden didapat sebagian besar berjenis
tuminting manado. Peneliti meng-gunakan kelamin laki-laki sebanyak 38 responden
uji Uji Fisher Exact test dengan tingkat (55,9%) dan perempuan sebanyak 30
kepercayaan 95% (p = 0,001) dan responden (44,1%) Hasil penelitian ini
(p=0,003) sejalan dengan sitepu (2009) yang
menunjukan bahwa jenis kelamin paling
HASIL dan PEMBAHASAN banyak terdapat pada jenis kelamin laki-laki
1. Karakteristik Responden sebanyak 72 orang laki-laki memiliki
Tabel 1. Distribusi Responden Berdasarkan mobilitas yang lebih tinggi diban-dingkan
Umur perempuan sehingga kemung-kinan untuk
Umur n % terpapar kuman penyebab TB Paru lebih
besar, selain itu kebiasaan laki-laki
18-30 Thn 16 23,5 mengkomsumsi rokok, minuman alcohol
31-40 Thn 18 26,5 dan keluar malam hari dapat menurunkan
41-50 Thn 11 16,2 sistem kekebalan tubuh. Menurut
>50 Thn 23 33,8 penelitian yang telah dilaksanakan
Total 68 100 Maulidia (2014), penderita TB Paru
cenderung lebih tinggi pada laki-laki
Sumber : Data Primer 2019
dibandingkan perempuan. Pada
karakteristik jenis kelamin ini laki-laki
Tabel 1 di atas menjelaskan dari 68
lebih tinggi karena merokok tembakau dan
responden, hasil menunjukan bahwa TB
minum alcohol sehingga dapat menurunkan
paru di puskesmas tuminting manado
sistem pertahanan tubuh, sehingga lebih
didapati sebagian besar responden berumur
mudah terpapar dengan agen penyebab TB
>50 thn 23 responden (33.8%). Hasil
Paru.
penelitian ini sesuai dengan asra septia
(2014) dimana 58 responden, 23
Tabel 3. Karakteristik responden
diantaranya didaptkan 45-59 tahun orang
bersadarkan pendidikan
dewasa akhir Mayoritas responden pada
Pendidikan n %
penelitian ini berada pada kelompok
terakhir
dewasa awal dan akhir. Menurut Ani
Rusnoto, (2008), penyakit TB Paru SD 12 17,6
merupakan penyakit Kronis yang dapat SMP 26 38,2
menyerang semua lapisan usia, selain SMA 26 38,2
menyebabkan morbilitas dan mortalitas S1 4 5,9
yang cukup tinggi juga dapat merugikan Total 68 100.0
secara ekonomi karena hilangnya jam kerja. Sumber :Data primer : 2019

4
e-journal Keperawatan(e-Kp) Volume 7 Nomor 2, Agustus 2019

daya beli makin menurun, kemampuan


Hasil penelitian menunjukan dari 68 memenuhi kebutuhan pokok makin
responden didapati SMP dan SMA berkurang dan dikwatirkan keadaan ini
sebanyak 26 responden (38,2%). Menurut akan memperburuk kondisi kesehatan
penelitian panjaitan (2012), pendidikan masyarakat khususnya penderita TB Paru.
menjadi salah satu factor resiko penularan
penyakit Tuberkulosis. Rendahnya tingkat 2. Analisa Univairat
pendidikan res-ponden, akan berpengaruh
pada pemahaman tentang penyakit Tabel 5. Variabel Fungsi Afektif dan
Tuberkulosis. Masyarakat yang merasakan Perawatan Keluarga dengan Kepatuhan
pendidikan tinggi, tujuh kali lebih waspada Pengobatan
ter-hadap TB Paru ( gejala, cara penularan, Variabel Kategori n %
pengobatan) bila dibandingkan dengan Fungsi Baik 62 91.2
masyarakat yang hanya menempu Afektif Kurang 6 8.8
pendidikan dasar atau lebih rendah. Keluarga baik
Pendidikan yang rendah dihubungkan Total 68 100
dengan rendahnya tingkat kewaspadaan Fungsi Baik 64 94,1
terhadap penularan TB Paru. Perawatan Kurang 4 5,9
Keluarga baik
Tabel 4. Karakteristik responden Total 68 100
bersadarkan pekerjaan
Pekerjaan n % Kepatuhan Patuh 61 89,7
pengobatan Tidak 7 10,3
Petani 21 30.1 patuh
Pedagang 2 2,9
Total 68 100
IRT 15 22.1
PNS 1 1,5 Sumber : data primer 2019
Sopir 4 5,9
Tidak bekerja 11 16.2 Fungsi afektif keluarga didapati
Wiraswasta 12 17,6 sebagian besar responden dengan keadaan
Wirausaha 2 2,9 baik berjumlah 62 responden (91,2%) dan
kurang baik 6 responden (8,8%). Sedangkan
Total 68 100 fungsi perawatan keluarga dengan keadaan
Sumber :Data primer : 2019 baik berjumlah 64 responden (94,1%) dan
kurang baik berjumlah 4 responden (5,9%).
Tabel 4 di atas menjelaskan bahwa dan kepatuhan pengobatan TB Paru yang
Sebagian besar responden adalah petani patu berobat sebagian besar berjumlah 61
sebanyak 20 responden (29,4%) Di responden (89,7%)dan tidak patuh berobat 7
sampaikan amira (2008) bahwa umumnya responden (10,3%). Fungsi Afektif keluarga
individu yang mempunyai penghasilan yang utama mengajarkan segala sesuatu
kurang menyebabkan kemampuan untuk mempersiapkan anggota keluarga
memperoleh status gizi menjadi kurang berhubungan dengan orang lain, fungsi
baik dan kurang seimbang sehingga sosialisasi adalah fungsi mengem-bangkan
berdampak pada menurunnya status dan tempat melatih anak berkehidupan
kesehatan. Menurut Illu Picauly dan social sebelum menin-ggalkan rumah untuk
Ramang (2012), semakin memburuknya berhubungan dengan orang lain di luar
keadaan ekonomi seseorang, kelompok rumah, dan fungsi perawatan atau
pen-duduk miskin bertaambah banyak, pemeliharaan kesehatan, yaitu fungsi untuk

5
e-journal Keperawatan(e-Kp) Volume 7 Nomor 2, Agustus 2019

mempertahankan keadaan kesehatan Hasil penelitian menunjukan dari 68


anggota keluarga tetap memiliki responden 62 responden mengalami
produktivitas tinggi. Friedman (2010) keadaan baik, 59 responden diantaranya
menyatakan bahwa keluarga memiliki peran patuh dalam pengobatan TB Paru dan 3
untuk melaksanakan praktek asuhan kese- responden tidak patuh menjalankan
hatan, yaitu untuk mencegah terjadinya pengobatan. Untuk Fungsi Afektif Kurang
gangguan kesehatan atau merawat anggota Baik ada 6 responden, 2 responden patuh
keluarga yang sakit dengan cara menjalankan peng-obatan dan 4 responden
meningkatkan kesanggupan ke-luarga yang tidak patuh menjalankan pengobatan.odds
sakit agar dapat melakukan fungsi dan tugas ratio 39.3 dan Hasil Uji Hipotesis dengan
perawatan kesehatan dirinya. Keluarga Uji Cji-squer (x2) yang dilanjutkan dengan
sangat penting dalam merawat anggota uji Fisher Exact dengan tingkat
keluarga yang sedang sakit penelitian kepercayaan 95% (<0,05), menunjukan
Residan dan lystiana, berperan sebagai adanya Hubungan Fungsi Afektif Keluarga
pendukung dan ber-peran sebagai pengambil Dengan Kepatuhan Peng-obatan TB Paru di
keputusan dalam merawat anggota Puskesmas Tuminting Manado (p = 0,001).
keluarganya paska strok saat dirumah.Waktu Dari hasil penelitian Herryanto (2008),
peng-obatan yang lama menyebabkan mengemukakan karakteristik kasus
penderita sering terancam putus berobat kematian penderita TB yang hampir
selama masa penyem-buhan berbagai alasan, tersebar pada semua kelompok umur, dan
antara lain merasa sudah sehat atau faktor paling banyak pada kelompok usia 20-50
ekonomi akibat adalah pola pengobatan tahun yang merupakan usia produktif.
harus dimulai dari awal dengan biaya yang Riskesdes (2010), di ketahui bahwa
bahkan menjadi lebih besar serta privalensi TB Paru cenderung meningkat
menghabiskan waktu berobat yang lama sesuai dengan bertambahnya usia lebih dari
Riskesdas (2010). 65 tahun. Hal ini sejalan dengan pernyataan
Safi (2018). pengobatan TB Paru Subakti (2014) bahwa semakin Tua Umur
membutuhkan waktu panjang (sampai 6 atau seseorang maka semakin banyak fungsi
8 bulan) untuk mencapai penyem-buhan dan organ tubuh yang mengalami gangguan
panduan (kom-binasi) beberapa macam atau masalah yang berdampak pada
obat, sehingga tidak jarang pasien berhenti kebutuhan akan pemeliharaan ke-sehatan,
minum obat sebelum masa pengobatan usia dewasa dan diikuti oleh usia Tua
selesai yang beraakibat pada kegagalan merupakan kelompok yang paling sering
dalam peng-obatan TB. terkena TB di Amerika Serikat pada tahun
2008. Komponen dari fungsi afektif
3. Analisa Bivariat keluarga yang harus dipenuhi keluarga
Tabel 6. Hubungan fungsi afektif adalah Friedman, (2010) memelihara saling
keluarga dengan kepatuhan pengobatan Tb asuh, perkembangan hubungan yang akrab,
paru keseimbangan saling menghormati,
Kepatuhan pertalian dan identifikasi, menghasilkan
Fungsi Pengobatan
kenyamanan antar anggota keluarga ,
Afekti Tidak P
Patuh Total keterpisahan keter-paduan , pola kebutuhan
Keluarg patuh value
a n % n % n % dan respon , peran terapeutik .
Baik
59 95,2 3 4,8 62 100,0 0,001
Kurang
2 33,3 4 66,7 6 100,0
baik
Total 61 89,7 7 10,3 68 100,0
Sumber : data primer 2019

6
e-journal Keperawatan(e-Kp) Volume 7 Nomor 2, Agustus 2019

Tabel 7. Hubungan fungsi perawatan pada pendidikan rendah dibandingkan


keluarga dengan kepatuhan pengobatan TB pendidikan tinggi Depkes RI, 2008).
paru Novitasari, (2014). dan terdapat
Fungsi Kepatuhan beberapa tugas dalam melaksanakan
pe- Pengobatan
rawata
perawatan kesehatan keluarga menurut
Patuh Tidak Total P
n patuh valve setiadi (2013) yaitu: Mengenal masalah
n % n % n % kesehatan, Mengambil keputusan mengenai
Baik 60 93,8 4 6,3 64 100,0 0,003 tin-dakan kesehatan yang tepat, Merawat
Kurang
baik 1 25,0 3 75,0 4 100,0 anggota keluarga yang mengalami ma-salah
Total 61 89,7 7 10,3 68 100,0 kesehatan, Modifikasi lingkungan fisik dan
Sumber: data primer 2019 psikologis, Menggunakan fasi-litas
kesehatan yang ada disekitar keluarga.
Hasil penelitian menunjukan dari 68 Kriteria Kurang Baik tetapi patuh
responden 64 responden mengalami menjalankan pengobatan, dari wa-wancara
keadaan baik, 60 responden diantaranya yang peneliti lakukan mereka semangat
Patuh dalam pengobatan dan 4 responden berobat karena masih ingin berkumpul
tidak patuh dalam peng-obatan. Untuk dengan keluarganya. Adapun konsep diri
Fungsi Perawatan Kurang Baik ada 4 responden yang baik yang mendominasi ini
responden, 1 responden patuh menjalankan karena mereka menerima penyakit
pengobatan dan 3 responden tindak tuberkulosis yang diderita dengan selalu
menjalankan pengobatan.odds ratio 45.0 menjalani peng-obatan untuk mencapai
dan Hasil uji Hipotesis dengan kesembuhan, menerima penurunan berat
menggunakan Uji-Chisquer (x2) yang badan saat ini, dan responden percaya diri
dilanjutkan dengan Uji Fisher Exact dengan walaupun harus menjaga jarak saat
tingkat kepercayaan 95% (<0,05) berkontak langsung dengan keluarga
menunjukan adanya Hubungan Fungsi maupun orang lain. Hal ini menurut Manalu
Perawatan Keluarga Dengan Kepatuhan (2010) mengatakan bahwa konsep diri
Peng-obatan TB Paru di Puskesmas adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan
Tuminting Manado (p=0,003). pendirian yang diketahui individu tentang
Berdasarkan hasil penelitian ini sejalan dirinya dan mempengaruhi individu dalam
dengan Boidowi di semarang bahwa ber-hubungan dengan orang lain.
pendidikan berpengaruh terhadap Maulidia, (2014) menyatakan bahwa
kepatuhan berobat pasien TB Paru, tingkat penderita tuberkulosis sangatlah mem-
pen-didikan formal merupakan landasan butuhkan peran keluarga dalam
seseorang dalam memahami sesuatu. kesembuhan yang berupa memberikan
Pendidikan yang rendah mengakibatkan sarana perasanan, menyediakan dana
responden kurang informasi berkaitan pengobatan, meluangkan waktu untuk
dengan penularan dan pengobatan TBC. mendampingi berobat dan saat dirumah
Menurut Notoadmojo (2010), bahwa maupun bergaul dilingkungan seki-tarnya.
semakin tinggi pendidikan individu Menurut Manalu (2010), faktor yang
semakin mudah penerimaan informasi, mempengaruhi dukungan keluarga
tetapi semakin rendah pendidikan semakin diantaranya menerapkan fungsi keluarga
sulit untuk menerima informasi jadi yaitu sejauh mana keluarga mempengaruhi
pendidikan mempengaruhi diri individu. anggota ke-luarga lain saat mengalami
temuan penelitian ini sesuai dengan hasil masalah kesehatan serta membantu dalam
Riskesdas (2007), yang menemukan memenuhi kebutuhan.
prevalensi TB Paru empat kali lebih tinggi Penelitian yang dilakukan sebe-lumnya
oleh Asra Septiani (2014) bahwa terdapat

7
e-journal Keperawatan(e-Kp) Volume 7 Nomor 2, Agustus 2019

Hubungan Dukungan Keluarga dengan Keluarga perlu meberikan dukungan yang


Kepatuhan Minum Obat pada Penderita TB positif untuk melibatkan keluarga sebagai
Paru di Rumah Sakit Umum Daerah Arifin pendukung pengobatan sehingga adanya
Achmad. Dengan skor sebagai berikut kerjasama dalam pemantauan pengobatan
didapatkan 43 orang mendapati dukungan antara petugas dan anggota keluarga yang
keluarga positif dan 15 orang mendapatkan sakit.(Friedman, Bowden &Jones,2010)
dukurngan keluarga ne-gatif. Dukungan
keluarga merupakan faktor paling penting SIMPULAN
keberhasilan pasien TB Paru dalam Hasil dari pembahasan Hubungan
mematuhi program pengobatan.Keluarga Fungsi Afektif dan Perawatan Keluarga
me-rupakan unit terkecil dari masyarakat dengan Kepatuhan Pengobatan TB Paru di
yang besar pengaruhnya dalam ke-hidupan Puskesmas Tuminting Manado bahwa
seseorang terlebih lagi dalam :Sebagian besar gambaran fungsi Afektif
kesehatan.keluarga dapat berperan aktif Ke-luarga TB Paru di Puskesmas Tumi-
dalam melindungi anggota keluarga yang nting Manado adalah Baik. dan Se- bagian
sakit, kemapuan keluarga dalam besar gambaran fungsi pe- rawatan keluarga
memberikan perawatan kesehatan TB Paru di puskesmas Tuminting Manado
mempengaruhi status kesehatan ke-luarga. adalah Baik. Se-bagian besar gambaran
Selain itu pengetahuan keluarga sehat dan pengobatan Tb Paru di puskesmas
sakit juga mempengaruhi prilaku keluarga Tuminting Patuh dalam Pengobatan.Juga
dalam menyelesaikan masalah kesehatan Terdapat Hu-bungan antara Fungsi Afektif
keluarga, Friedman (2010). Keluarga Dengan Kepatuhan Pengobatan
Penelitian ini didukung oleh peneliti TB Paru di Puskesmas Tuminting
Subakti (2014) tentang Hubungan Manado.Terdapat Hubungan antara Fungsi
Dukungan Keluarga dengan Tindakan Perawatan Keluarga Dengan Kepatuhan
Penderita TB Paru Me-laksankan kontrol Pengobatan TB Paru di Puskesmas
ulang di Puskesmas Sidomulyo bahwa Tuminting Manado.
berdasarkan du-kungan keluarga yang
positif yaitu sebanyak 23 responden DAFTAR PUSTAKA
(56,11%) dan 31 responden (75,6%) Aris Widiyanto (2016) Hubungan
diantaranya memiliki tindakan untuk kepatuhan minum obat denga
melakukan kontrol ulang secara rutin di kesembuhan pasien tuberculosis paru
Puskesmas. Penelitian lain yang BTA Positif di puskesma delanggu
mendukung adalah yang dilaksankan oleh kabupaten klaten
Pare, Amiruddin dan Leida (2012), yang
menemukan bahwa ada Hubungan Asra Septia , hubungan dukungan keluarga
Dukungan Keluarga dengan Kepatuhan dengan kepatuhan minum obat pada
minum obat penderita TB paru. Dukungan penderitaTBparu.https://media.neliti.
keluarga merupakan salah satu faktor yang com/media/publications/185830-ID-
mempengaruhi kepatuhan untuk hubungan-dukungan-keluarga-
pengobatan TB paru, dimana keluarga inti dengan-kepatu.pdf (diaskes 26
maupun keluarga besar berfungsi sebagai september 2018)
sistem pendukung bagi anggota Departemen Kesehatan RI., 2009, Pedoman
keluarganya.Fungsi dasar keluarga itu yaitu Nasional Penanggulangan
fungsi perawatan kesehatan.Fungsi Tuberkulosis Paru, Jakarta, Depkes
perawatan kesehatan adalah kemampuan RI
keluarga untuk merawat anggota keluarga
yang mengalami masalah kesehatan. Depker RI. (2010). Riset kesehatan dasar.

8
e-journal Keperawatan(e-Kp) Volume 7 Nomor 2, Agustus 2019

Jakarta: Badan Litbangkes Depkes RI. kesehatan dasar tahun 2010) bulletin
penelitian sistem kesehatan,14(4)
Friedman, M. 2010. Buku ajaranan
keperawatan keluarga, riset, teori, Rusnoto, R. (2008). Faktor-faktor yang
dan praktek. Edisi ke-5 \. Jakarta berhubungan dengan kejadian tb paru
EGC pada usia dewasa (Studi kasus di balai
pencegahan dan pengobatan penyakit
Freidman, M. M., Bowden, V. R., & Jones, paru Pati). Jurnal Epidemiologi.
E.G. (2010). Buku ajar keperawatan
Hiswani. (2009), Tuberkulosis merupakan
keluarga: Riset, teori, dan praktik,
alih bahasa, Akhir Yani S. Hamid penyakit infeksi yang masih menjadi
dkk; Edisi 5. Jakarta: EGC. masalah kesehatan
masyarakat.Diakesdarihttp://library
Maulidia, D.F. (2014). Hubungan antara .usu. ac.id/download/fkmhiswani6.
dukungan keluarga dan kepatuhan pdf pada tanggal 10 April 2014.
minum obat pada penderita
tuberculosis di wilayah ciputat Illu, S. I. D.. Picauly, I., & Ramang, R.
tahun2014 (diaskes 18 mei 2019)
(2012). Faktor-faktor penentu
Maria H. Bakri, SKM., M. Kes asuhan kejadiantuberkulosis paru pada
keperawatan keluarga penderita anak yang pernah berobat di
RSUD W.Z Yohanes Kupang. Diakses
Manalu H.S.P.(2010). Faktor-faktor yang melalui
mempengaruhi kejadian TB paru dan http://www.academia.edu/4915863/
upaya penanggulangannya.indonesia faktorfaktor_penentu_kejadian_tuberk
jurnal of health ecology, 2010,9,4 ulosisparu_pada_penderita_anak_yang
Maulidia, D.F. (2014). Hubungan antara _pernah_berobat.pdf pada tanggal 23
dukungan keluarga dan kepatuhan Mei2014
minum obat pada penderita Pare, L. Amiruddin R, & Leida I. (2012).
tuberculosis di wilayah ciputat Hubungan antara pekerjaan. PMO
tahun2014 (diaskes 18 mei 2019) pelayanan
Novitasari, I.A. (2014). Hubungan antara Safii, S., Putri, S. T., & Suparto, T. A.
dukungan keluarga terhadap konsep (2018). Gambaran Kepatuhan Pasien
diri pada penderita TBC dalam Tuberkulosis Paru Terhadap Regimen
proses pengobatan di wilayah kerja Terapeutik Di Puskesmas
puskesmas bendosari sukoharjo Padasuka. JURNAL PENDIDIKAN
(Doctoral dissertation, universitas KEPERAWATAN INDONESIA, 1(2),
muhammadiyah Surakarta).(diaskes 98-104
18 mei 2019)
Setiadi, (2013), Konsep dan Praktek
Notoadmodjo, S. (2010). Metodologi Penulisan Riset Keperawatam,
Penelitian Kesehatan, Jakarta:Rineka Edisi 2, Yogyakarta; Graha Ilmu
Cipta
Suprajitno, S.kep Asuhan keperawatan
Rukmini,R, & Chatarina, U.W.(2011). keluarga (diaskes 21 mei 2019)
Faktor-faktor yang berpengaruh
terhadap kejadian Tb Paru dewasa di Subhakti, K.A. (2014). Hubungan
Indonesia (analisis data riset dukungan keluarga dengan tindakan
penderita tb paru melakukan control

9
e-journal Keperawatan(e-Kp) Volume 7 Nomor 2, Agustus 2019

ulang dipuskesmas sidomulyo. Jurnal


online mahasiswa (JOM) bidang ilmu
keperawatan, 1 (1),1-6. (diaskes 18 mei
2019)
WHO. (2009). Defenition and diagnosis of
pulmonolgy tuberculosis. Diakses
darihttps://mdgsgoals.com.who.int/
sree/ pada tanggal 27 Desember
2007.
WHO. (2013). Report tuberculosis in
thworld. Diakses dari https://
extranet.who.int/sree /Reports
padatanggal 27 Desember 2007
Zulka, A. N. (2015). Hubungan
Pelaksanaan Fungsi Afektif Keluarga
dengan Tingkat Harga Diri Klien
Kusta di Wilayah Kerja Puskesmas
Tanggul dan Sumberbaru Kabupaten
Jember

10