Anda di halaman 1dari 72

PEDOMAN PROSES PELAKSANAAN

TUJUAN PEMBANGUNAN
BERKELANJUTAN BERDASARKAN
PRINSIP HAK ASASI MANUSIA
Mempertemukan dan Menerapkan Prinsip Hak Asasi
Manusia (HAM) dalam Proses Pelaksanaan dan
Pencapaian Agenda Tujuan Pembangunan
Berkelanjutan (TPB/SDGs) di Indonesia

INFID 2019
PEDOMAN PROSES PELAKSANAAN
TUJUAN PEMBANGUNAN
BERKELANJUTAN BERDASARKAN
PRINSIP HAK ASASI MANUSIA
Mempertemukan dan Menerapkan Prinsip Hak
Asasi Manusia (HAM) dalam Proses
Pelaksanaan dan Pencapaian Agenda Tujuan
Pembangunan Berkelanjutan (TPB/SDGs) di
Indonesia

%JTVTVOPMFI
 *OUFSOBUJPOBM/(0'PSVNPO*OEPOFTJBO%FWFMPQNFOU*/'*%
 1FSIJNQVOBO#BOUVBO)VLVNEBO)".*OEPOFTJB 1#)*

 *OEPOFTJB6OUVL,FNBOVTJBBO *,B

5JN1FOVMJT
 5PUPL:VMJZBOUP
 +VMJVT*CSBOJ
 0LUJ1;BLBSJB
 #POB5VB11

Supported by :
Dokumen ini diterbitkan oleh INFID bekerjasama dengan Indonesia untuk Kemanusiaan
(IKa), melalui Program Peduli, dengan dukungan dari The Asia Foundation.

Isi dari dokumen ini sepenuhnya menjadi tanggung-jawab dari penulis, dan tidak
mencerminkan pendapat baik dari The Asia Foundation maupun Indonesia untuk
Kemanusiaan
DAFTAR ISI
Daftar Singkatan vi
Kata Pengantar vii

BAB I PENDAHULUAN 1
Gambaran Umum Kondisi HAM dan SDGS di Indonesia 1
Ruang Lingkup Buku Pedoman 4

Bab II INTER-RELASI HAM DAN SDGs 7


A. Gambaran Umum HAM dan SDGS 7
Konsepsi Umum Tentang Hak Asasi Manusia 7
Konsepsi Atas Sustainable Development Goals (SDGs)/Tujuan Pembangunan
9
Berkelanjutan (TPB)
B. Inter-relasi HAM dan SDGS 10
Persamaan Prinsip Antara HAM dan SDGs/TPB 10
Posisi Negara Sebagai Pemangku Kewajiban Pelaksanaan HAM dan SDGs/TPB 11
Sasaran SDGs/TPB Merupakan Perwujudan atas Nilai-nilai HAM 12
Mendekati TPB/SDGs dengan Pemantauan/Monitoring Berbasis Prinsip HAM 14

Bab III PRAKTIK BAIK ADVOKASI HAM 19


Kabupaten Ramah HAM Wonosobo 19
Isbath Nikah di Kabupaten Aceh Utara 20
“Angin Segar” dan “Memulihkan Martabat” Minoritas Kepercayaan Melalui Pengajuan
22
Konstitusional di Mahkamah Konstitusi
Membangun Kesadaran Advokasi Korban Pelanggaran HAM (Talangsari) 23
Mendorong Peran Aktif Negara Atas Akses Bantuan Hukum (Koalisi Advokasi Masyarakat Sipil
24
untuk UU Bantuan Hukum/KUBAH)
Menghancurkan Hambatan Regulasi Melalui Mahkamah Konstitusi (Putusan MK Terhadap
26
Masyarakat Adat)
Praktek Monitoring Agenda SDGs Terkait HAM Pada Tujuan 16 di Uruguay (Studi Monitoring
28
Tujuan 16 Pada Tingkat Negara)

BAB IV TAWARAN UPAYA YANG BISA DILAKUKAN ORGANISASI MASYARKAT SIPIL 31


Mendorong Integrasi Program HAM dan SDGs/TPB 31
Pemantauan/Monitoring Program HAM dan SDGs 34
Upaya yang Bisa Dilakukan 36
Konsolidasi Jaringan Masyarakat Sipil 36
Pemetaan Kebutuhan: Prioritas Isu HAM 37
Forum Bersama Multipihak 39
Usulan Regulasi 39
Working Group (Kelompok Kerja) 40

iii
DAFTAR PUSTAKA 42
LAMPIRAN 46

DAFTAR DIAGRAM
Diagram 1. Diagram Alur Negara, HAM dan SDGs 12
Diagram 2. Pemetaan Kebutuhan Prioritas HAM 51 38

DAFTAR TABEL
Tabel 1. HAM dan UUD 1945 8
Tabel 2. Sampel Uruguay Kartu Skor Monitoring Agenda HAM dalam SDGs Tujuan 16 29
Tabel 3. Tabel Sinkronisasi RPJMN dengan Indikator Pelaksanaan Tujuan 16 SDGs/TPB dan
46
Instrumen Hak Asasi Manusia (dalam lampiran)
Tabel 4. Tabel Pengakuan Terhadap Masyarakat Adat (Putusan MK Nomor: 35/PUU-X/2012
tentang Pengujian UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, Pasal 1 angka 6, Pasal 4 ayat 51
(3), Pasal 5 ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4), Pasal 67)
Tabel 5. Beberapa Peristiwa Terkait Penegakan HAM di Indonesia 54
Tabel 7. Ratifikasi Indonesia Terhadap Mekanisme dan Instrumen HAM Internasional 55
Tabel 8. Status Laporan Indonesia dalam UPR (Universal Periodic Report) 55
Tabel 9. Tabel Kompilasi HAM dan Sumber Hukumnya 56

iv
DAFTAR SINGKATAN
Adminduk : Administrasi dan Kependudukan
BPHN : Badan Pembinaan Hukum Nasional
CAT : Convention against Torture and Other Cruel, Inhuman or Degrading Treatment or Punishment
(Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam, Tidak
Manusiawi, atau Merendahkan Martabat Manusia)
CBD : Convention on Biological Diversity (Konvensi Biologi/Hayati)
CEDAW : Internationl Convention on Elimination of All Forms of Discrimination Againts Women
(Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap
Perempuan)
CIESU : Central Information Evaluation and Study Uruguay (Pusat Informasi dan Studi Uruguay)
CRC : Convention on the Rights of the Child (Konvensi tentang Hak-Hak Anak)
CPPCG : Convention on the Prevention and Punishment of the Crime of Genocide (Konvensi tentang
Perlindungan dan Hukuman Terhadap Kejahatan Genosida)
CRPD : Convention on the Rights of Persons with Disabilities (Konvensi mengenai Hak-hak
Penyandang Disabilitas)
CSO : Civil Society Organization
CTOC : United Nation Convention against Transnational Organized Crime (Konvensi PBB Menentang
Organisasi Kejahatan Transnasional)
DEVAW : Declaration on the Elimination of Violence Against Women (Deklarasi tentang Penghapusan
Kekerasan Terhadap Perempuan)
DUHAM : Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia
HPLF : High Level Panel Forum 2017 (Forum Politik Tingkat Tinggi 2017)
ICCPR : International Covenant on Civil and Politic Rights (Konvenan Internasional tentang Hak-Hak
Sipil dan Politik}
ICERD : International Convention on The Elimination of All Forms on Racial Discrimination (Konvensi
Internasional mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial)
ICESCR : International Covenant on Economic, Social and Cultural Rigts (Konvenan Internasional
tentang Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya)
ICPPED : International Convention for the Protection of All Persons from Enforced Disappearance
(Konvensi Internasional tentang Perlindungan Kepada Semua Orang dari Penghilangan Paksa)
ICMW : International Convention on the Protection of the Rights of All Migrant Workers and Members
of Their Families (Konvensi Internasional mengenai Perlindungan Hak-hak Seluruh Pekerja
Migran dan Anggota Keluarganya)
INFID : International NGO Forum on Indonesia Development
IKa : Indonesia untuk Kemanusiaan
IKOHI : Ikatan Keluarga Korban Orang Hilang Indonesia
IPAK : Indeks Perilaku Anti Korupsi
KLHK : Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
KOMNAS : Komisi Nasional Hak Asasi Manusia
HAM
KUA : Kantor Urusan Agama
KUBAH : Koalisi Advokasi Masyarakat Sipil untuk UU Bantuan Hukum
MDGs : Millenium Development Goals Menteri PPN/Kepala
Bappenas : Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan
Nasional

v
OMS : Organisasi Masyarakat Sipil
OP-CRC-AC : Optional protocol to the Convention on the Rights of the Child on the involvement of children
in armed conflict (Protokol Opsional Konvensi Hak-Hak Anak dalam Konflik Bersenjata
OP-CRC-SC : Optional protocol to the Convention on the Rights of the Child on The sale of children, child
prostitution and child pornography (Protokol Opsional Konvensi Hak-hak Anak mengenai
Penjualan Anak, Prostitusi Anak, dan Pornografi Anak)
Perda : Peraturan Daerah
PINTAR : Pandu Inklusi Nusantara
PPID : Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumenasi
P2KTL : Paguyuban Keluarga Korban Talangsari Lampung
RAN : Rencana Aksi Nasional
RAD : Rencana Aksi Daerah
RANHAM : Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia
RAN SDG’s : Rencana Aksi Nasional Sustainable Development Goals
RANTPB : Rencana Aksi Nasional Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
RKP : Rencana Kerja Pemerintah
RPJMN : Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
RPJPN : Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional
RPuK : Relawan Perempuan untuk Kemanusiaan
SAKIP : Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah
SDG’s : Sustainable Development Goals
SKPD : Satuan Kerja Pelaksana Dinas
TPB : Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
UNCAC : United Nation Convention Against Corruption (Konvensi PBB Tentang Anti Korupsi)
UDHR : Universal Declaration of Human Right
UNDRIP : United Nations Declaration on the Rights of Indigenous Peoples (Deklarasi PBB Tentang Hak
Asasi Indigenous Peoples)
UUD 1945 : Undang-Undang Dasar 1945
UU HAM : Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia
UN : United Nation Organzation
UNESCO : United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization
UNFCCC : United Nations Framework Convention on Climate Change (Framework Konvensi Perubahan
Iklim)
UPR : Universal Periodic Review (Laporan Periodik Universal
VNR : Voluntary National Review
VNR : (Uruguay) Voluntary National Review 2017
WTP : Wajar Tanpa Pengecualian

vi
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, karena limpahan rahmat-Nya,
kami berhasil menerbitkan sebuah dokumen yang berjudul, “Pedoman Pelaksanaan Tujuan
Pembangunan Berkelanjutan dan Hak Asasi Manusia, Menghubungkan Prinsip Hak Asasi
Manusia Terhadap Target Pencapaian Agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan”.

Dokumen pedoman, yang kini berada di tangan anda ini, kami terbitkan sebagai salah satu
referensi, maupun sumber informasi, bagi masyarakat sipil dalam melakukan advokasi Hak
Asasi Manusia (HAM), melalui Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB/SDGs). Dengan kata
lain, pelaksanaan dan pencapaian SDGs di Indonesia hendaknya disertai dengan penerapan
prinsip-prinsip HAM, khususnya pada Tujuan 16. Perdamaian, Keadilan dan Kelembagaan
yang Tangguh. Selain aitu, dokumen ini juga diharapkan dapat menjadi pedoman praktis
bagi kelompok rentan (korban pelanggaran HAM, masyarakat adat dan minoritas agama).
mengenai hal-hal yang dapat dilakukan untuk berpartisipasi dalam upaya memaksimalkan
penerapan HAM dan SDGs.

Mengkaitkan HAM dan SDGs tentulah sangat penting. Hal ini sejalan dengan kepentingan
menghubungkan antara advokasi pelaksanaan SDGs dengan advokasi pemenuhan HAM.
Selain itu juga untuk menjadi jalan atau langkah yang efektif dalam mendorong perkembangan
pelaksanaan SDGs, baik di tingkat nasional maupun daerah. Hal ini layak disadari, bahwa
komitmen SDGs merupakan konsensus atau komitmen yang bersifat politik, sementara nilai,
prinsip dan norma-norma HAM merupakan instrumen yang melekat dan mengikat bagi
negara yang telah meratifikasinya. Artinya, pelaksanan Tujuan (Goals) dan Target (Targets)
SDGs akan lebih mudah tercapai, jikalau dengan standar yang jelas, dan mengkaitkannya
secara langsung dengan kewajiban negara atas pemenuhan HAM.

Kami berharap, bahwa pedoman –yang disusun melalui kajian literatur, serta dialog bersama
dengan jaringan masyarakat sipil dan expert review ini– setidaknya mampu memberikan
pemahaman yang komprehensif tentang kesalingterhubungan antara HAM dan SDGs, yang
dalam dokumen ini disebut sebagai “inter-relasi” antara HAM dan SDGs. Harapannya, inter-
relasi ini kemudian dapat menjawab tantangan penyusunan pedoman ini, yaitu memberikan
informasi secara jelas dan mudah dipahami tentang relasi HAM dan SDGs, urgensi terkait
hubungan yang konkrit antara SDGs dan HAM, dan kenapa implementasi atau advokasi
SDGs perlu sejalan dengan HAM.

Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih kepada penyusun, yaitu Totok Yulianto dan
kawan-kawan, yang telah bekerja keras menyusun pedoman ini, serta semua pihak yang
telah berkontribusi dalam proses penyusunan. Dokumen pedoman ini merupakan salah
satu produk dari kerja-sama INFID dengan Indonesia untuk Kemanusiaan melalui
Program Peduli, dengan dukungan dari The Asia Foundation, sebagai upaya untuk 
ŵĞǁƵũƵĚŬĂŶ ŝŶŬůƵƐŝ ƐŽƐŝĂů ĚĂŶ ĂŬƐĞƐ LJĂŶŐ ƐĂŵĂ ƐĞďĂŐĂŝ ǁĂƌŐĂ ŶĞŐĂƌĂ͕ ƚĞƌůĞƉĂƐ ĚĂƌŝ
ƉĞƌďĞĚĂĂŶĂƉĂƉƵŶ͘

Tim Penyusun

vii
viii
BAB I
PENDAHULUAN

Gambaran Umum Kondisi HAM dan


SDGS di Indonesia
Kondisi perkembangan pelaksanaan Hak Asasi Manusia
(HAM) di Indonesia mengalami pasang - surut. Jaminan
atas HAM di Indonesia menguat pasca reformasi, hal
tersebut ditandai dengan dimasukannya ketentuan
HAM dalam Amandemen kedua UUD 1945. Guna
melaksanakan kewajibannya menjalankan HAM,
pemerintah giat membentuk berbagai institusi, yang
mendukung pemajuan HAM. Berbagai institusi yang
dibentuk tersebut, seperti: Komnas HAM, Komnas
Perempuan, Komisi Nasional Perlindungan Anak
Indonesia, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban,
Komisi Ombudsman dan Komisi Informasi Publik. Secara
khusus, pemerintah juga membentuk Direktorat Jenderal
HAM, di bawah Kementerian Hukum dan HAM, serta
merancang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia.
Pemerintah Indonesia juga meratifikasi berbagai kovenan
dan konvensi internasional terkait Hak Asasi Manusia.

Walaupun pemerintah sudah meratifikasi berbagai


kovenan dan konvensi –yang berkaitan dengan
pemajuan HAM, dan memasukan jaminan HAM dalam
konstitusi, namun dalam hal praktek penerapan HAM di
Indonesia bisa dikatakan belum sempurna. Masih banyak
pelanggaran-pelanggaran HAM, yang terjadi sampai saat
ini, dan belum menemukan titik terang dalam proses
penangannya, khususnya terhadap Kasus Pelanggaran
HAM Berat.

1
Sebagai lembaga yang diberikan mandat –melalui UU NO 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi
Manusia1 (selanjutnya disebut UU HAM), untuk melaksanakan fungsi pengkajian, penelitian,
penyuluhan, pemantauan dan mediasi tentang HAM, Komnas HAM juga menerima berbagai
pengaduan dari masyarakat atas pengabaian kewajiban negara dalam perlindungan,
pemenuhan dan pemajuan HAM. Berdasarkan Laporan Tahunan Komnas HAM2 selama
tahun 2017, tercatat terdapat pengaduan sebanyak 5.387 berkas, dengan klasifikasi laporan
terkait Hak atas Kesejahteraan; Hak Memperoleh Keadilan; Dugaan Pelanggaran HAM oleh
Korporasi; Penggusuran Terkait Pembangunan Infrastruktur; Dugaan Pelanggaran atas
Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan. Terdapat 3 institusi yang paling banyak diadukan,
yakni: Kepolisian (1652 berkas), korporasi (866 berkas) dan Pemerintah Daerah (597 berkas)3.
Sepanjang 2018, Komnas HAM fokus pada penanganan permasalahan: agrarian, intoleransi,
diskriminasi serta ekstrimisme.

Persoalan utama konflik kawasan kehutanan di Indonesia bersumber dari Kementerian


Lingkungan Hidup dan Kehutanan atau KLHK, yang secara sepihak telah menunjuk
kawasan hutan dan kemudian melakukan proses pengukuhan untuk menetapkan suatu
wilayah menjadi kawasan hutan negara. Konflik agraria umumnya juga terjadi pada sektor
penggunaan lahan untuk kepentingan infrastruktur, perkebunan, pertambangan dan lainya.
Minimnya pilihan-pilihan penyelesaiaan konflik agraria, antara masyarakat dengan pihak yang
membutuhkan-memanfaatkan lahan, menimbulkan terjadinya konflik antara masyarakat –
khususnya masyarakat adat, dengan negara ataupun korporasi4.

Persoalan intoleransi, diskriminasi dan ekstrimisme, yang dalam kurun waktu 5 (lima) tahun
terakhir marak terjadi di Indonesia, khususnya terkait dengan persoalan kebebasan beragama
dan berkeyakinan. Bentuk-bentuk lain, seperti: diskriminasi atas dasar agama dan keyakinan,
intimidasi dan tindakan pembiaran oleh negara atas terjadinya kasus semacam ini juga tinggi5.

Berbagai konflik yang terjadi di masyarakat menunjukan tidak bekerjanya akses masyarakat
dalam mendapatkan keadilan, dan, atau bisa dibaca juga sebagai tingginya tingkat
ketidakpercayaan masyarakat terhadap intitusi pemerintahan. Konflik yang terjadi di
masyarakat dapat menciptakan kondisi yang menghambat proses pembangunan,
mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, dan sering kali menimbulkan rasa dendam di antara
komunitas, yang bisa berlangsung hingga beberapa generasi.6 Kekerasan seksual, tindak
kejahatan, eksploitasi dan penyiksaan juga sering terjadi dalam kondisi konflik. Negara harus
mengambil tindakan untuk melindungi mereka yang berada dalam risiko.7 Hal ini menjadi
pekerjaan rumah kita bersama, untuk dapat berkontribusi dalam upaya pemenuhan HAM di
Indonesia.

1 Pasal 76 UU No 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia


2 Laporan Tahunan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, (Jakarta: Komnas HAM), 2017, hlm 35.
3 Ibid
4 Ibid
5 Ibid
6 16, Perdamaian, Keadilan dan Kelembagaan yang Tangguh”, diakses dari http://sdgs.bappenas.go.id/perdamaian-keadilan-dan-
kelembagaan-yang-tangguh/#sasaran-global949b-715ce0be-414f , diakses pada 1 April 2019, pukul 20.00 WIB.
7 Ibid.

2
Harapannya, dengan dilaksanakannya penghormatan, pemenuhan, perlindungan,
penegakan dan pemajuan HAM, akan mampu menciptakan kesejahteraan, kedamaiaan,
ketentraman dan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Guna mencapai tujuan itu,
pemerintah melalui Peraturan Presiden No 75 Tahun 2015 mengeluarkan Rencana Aksi
Nasional Hak Asasi Manusia (yang kemudian dikenal dengan istilah RANHAM) Tahun
2015-2019. RANHAM 2015-2019 diharapkan dapat mengintegrasikan nilai-nilai keadilan,
kemanusiaan dan inklusivitas kelompok rentan ke dalam satu Rencana Aksi Nasional yang
inklusif. Sasaran Khusus dalam RANHAM 2015-2019 adalah meningkatnya pemahaman HAM
aparatur negara dan masyarakat; terlaksananya instrumen HAM dalam kebijakan pemerintah;
meningkatnya partisipasi Indonesia dalam forum kerja-sama penghormatan, perlindungan,
pemenuhan, penegakan dan pemajuan HAM; meningkatnya penanganan pelanggaran
HAM; meningkatnya aksesibilitas penyandang disabilitas dan kelompok rentan lainya untuk
berpartisipasi di bidang sipil, politik, ekonomi, sosial dan budaya8.

Seperti yang terjadi pada rencana aksi umumnya, RANHAM 2015-2019 juga mengalami
berbagai permasalahan dan kendala. Pada tahun 2017, Badan Pembinaan Hukum Nasional
melakukan Evaluasi atas Implementasi RANHAM 2015-20199, dan menemukan faktor
penghambat pelaksanaan RANHAM, yakni karena belum optimalnya koordinasi antar
stakeholder, khususnya di daerah. Pemahaman tentang HAM dan RANHAM di kalangan
aparat pemerintah dan masyarakat juga belum optimal; masih adanya anggapan, bahwa HAM
serta pelaksanaan RANHAM hanya merupakan urusan Kementerian Hukum dan HAM. Selain
itu, juga terdapat kenyataan yang tidak dapat dipungkiri, yakni masih minimnya keterlibatan
masyarakat dalam implementasi RANHAM 2015 -2019.

Berbagai upaya advokasi Hak Asasi Manusia, yang banyak dilakukan oleh organisasi masyarakat
sipil, seringkali mengalami hambatan. Hambatan itu kerap kali muncul dikarenakan minimnya
komitmen pemerintah terhadap HAM dan politik pemerintah yang lebih menekankan pada
0aspek pembangunan10. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu upaya yang lebih komprehensif
untuk mengemas advokasi pemajuan HAM dalam kaitannya dengan program pembangunan,
sehingga akan lebih diperhatikan oleh pemerintah.

Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (“TPB”)


merupakan topik yang hangat dibicarakan, dalam beberapa tahun belakangan ini, baik
dalam forum internasional, regional, nasional maupun daerah. Salah satu bentuk komitmen
pemerintah dalam pelaksanaan pencapaian Tujuan SDGs/TPB yakni melakukan penyelarasan
dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional dan Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Nasional. Pemerintah mengeluarkan Peraturan Presiden No 59 Tahun 2017
tentang Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, yang di dalamnya
ditetapkan sasaran nasional yang akan digunakan oleh Kementerian/Lembaga dalam
penyusunan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi RAN TPB, dan Pemerintah Daerah dalam

8 Penjelasan Umum Perpres No 75 Tahun 2009 .


9 BPHN, Evaluasi implementasi RANHAM 2015-2019 Dalam Rangka Mewujudkan Penghormatan, Pemenuhan, Perlindungan, Penegakan dan
Pemajuan HAM di Indonesia, Pohon Cahaya, Jakarta, 2017.
10

3
penyusunan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi RAD SDGs/TPB serta sebagai acuan
bagi ormas, filantropi, pelaku usaha, akademisi dan pemangku kepentingan lainya yang akan
menyusun perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan serta evaluasi SDGs/TPB11.

Guna mewujudkan pelaksanaan SDGs/TPB di Indonesia, setidaknya dimandatkan untuk


dibentuk Peta Jalan SDGs/TPB, Rencana Aksi Nasional dan Rencana Aksi Daerah. Dukungan
dan pemahaman yang baik dari Perangkat-perangkat –yang melaksanakan, memantau
dan mengevaluasi SDGs/TPB, termasuk di dalamnya organisasi masyarakat sipil, filatropi,
pelaku usaha, akademisi dan pihak terkait, sangat diperlukan. Sampai saat buku pedoman
ini dibuat, pemerintah belum menetapkan Peta Jalan SDGs/TPB. Selain itu, juga belum ada
sosialisasi yang baik mengenai Rancangan Aksi Nasional SDGs/TPB dan beberapa daerah
belum menyusun Rancangan Aksi Daerah. Oleh karena itu, menjadi tuntutan penting
bagi organisasi masyarakat sipil, filatropi, pelaku usaha, akademisi dan pihak terkait, untuk
menyusun perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan serta evaluasi SDGs/TPB, sebagai
upaya pemajuan Hak Asasi Manusia.

Ruang Lingkup Buku Pedoman


Sebagian pihak memandang, bahwasanya SDGs/TPB ini merupakan program yang
terpisah dengan upaya pemajuan Hak Asasi Manusia, sehingga seringkali pihak-pihak yang
melakukan advokasi atas pemajuan Hak Asasi Manusia enggan menggunakan sarana yang
tersedia dalam pelaksanaan program SDGs/TPB. Begitu pun sebaliknya, pihak-pihak yang
menjalankan program SDGs/TPB mungkin tidak memandang, bahwasanya upaya untuk
mencapai target dari SDGs/TPB merupakan bagian dari upaya pemajuan Hak Asasi Manusia.

Buku pedoman ini bertujuan memberikan gambaran mengenai Hak Asasi Manusia, SDGS
dan Hubungan interelasi di antaranya, praktek terbaik serta tawaran rekomendasi yang dapat
dilakukan untuk melakukan upaya pemajuan HAM melalui program SDGs/TPB. Pembahasan
dalam pedoman ini secara khusus menyoroti SDGs “Goal 16: Peace, Justice, and Strong
Institution” (“Tujuan 16 Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh”), yang erat
sekali kaitannya dengan Hak Asasi Manusia (“HAM”).

SDGs sebagai kelanjutan dari MDGs yang disepakati pada tahun 2015 lalu, dapat dikatakan
sebagai bentuk penyempurnaan dari MDGs. Salah satu bentuk penyempurnaan yang
dilakukan adalah dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan (multistakeholders), di
antaranya:12

11 Pasal 3 PERPRES NO 59 Tahun 2017.


12 “Tantangan dan Strategi Pelaksanaan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB)/Sustainable Development Goals (SDGs)”, Menteri
Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Kuliah Umum TPB/SDGs, Universitas Padjajaran
Bandung, 4 April 2018, hlm 5.

4
1. Pemerintah
2. Organisasi Masyarakat Sipil (Civil Society Organisation) dan Media Massa
3. Filantropi dan Pelaku Bisnis
4. Ahli/Pakar dan Akademisi

Partisipasi secara aktif dari masyakarat sipil sangatlah diperlukan, mengingat posisi
masyarakat sipil sebagai salah satu unsur yang berperan penting dalam tercapainya SDGs/
TPB. Secara umum, pedoman ini disusun untuk masyarakat sipil, agar dapat berpartisipasi
secara maksimal dalam mendukung penerapan HAM dan SDGs/TPB di Indonesia, khususnya
masyarakat yang secara aktif terlibat dalam melakukan advokasi terkait HAM dan SDGs/TPB.

Pedoman ini dimaksudkan agar menjadi salah satu pijakan dalam melakukan advokasi HAM
dan SDGs di Indonesia. Perlu disadari, bahwa persoalan mengenai Hak Asasi Manusia dan
SDGs itu sendiri memiliki banyak aspek dalam implementasinya. Pedoman ini berusaha
menyajikan paparan dan memberikan contoh, agar dapat memberikan manfaat secara
maksimal, khususnya bagi organisasi masyarakat sipil dalam mewujudkan pelaksanaan HAM
melalui SDGs/TPB. Pedoman ini diharapkan dapat menjadi salah satu opsi untuk melakukan
upaya advokasi di masyarakat, yang tentunya akan terus berkembang seiring berjalannya
waktu dan dinamika di masyarakat.

Pedoman ini disusun melalui serangkaian diskusi terfokus dan telah mendapatkan review
dari para pakar di bidang Hak Asasi Manusia dan organisasi masyarakat sipil, yang seringkali
melakukan advokasi pemajuan HAM, khususnya bagi kelompok rentan.

5
6
BAB II
INTER-RELASI
HAM DAN SDGS
(Tujuan 16 : Perdamaian, Keadilan dan
Kelembagaan yang Tangguh)

A. Gambaran Umum HAM dan SDGS

Konsepsi Umum Tentang Hak Asasi Manusia

Pada dasarnya HAM merupakan hak yang dimiliki oleh


manusia, karena statusnya sebagai manusia, dan tugas
negara ialah menjaga hak-hak tersebut, memastikan
setiap warga negaranya terlindungi dan terpenuhi
hak-haknya. UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi
Manusia mendefinisikan Hak Asasi Manusia sebagai
seperangkat hak yang melekat pada hakekat dan
keberadaan manusia sebagai mahluk Tuhan Yang
Maha Esa serta merupakan anugerah-Nya yang wajib
dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara,
hukum, pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan
serta perlindungan harkat dan martabat manusia.

Pelaksanaan HAM oleh negara dijalankan dengan


memperhatikan prinsip-prinsip HAM. Prinsip HAM
pada umumnya terdapat di hampir semua perjanjian
internasional dan diaplikasikan ke dalam hak-hak yang
lebih luas. Prinsip-prinsip tersebut antara lain1

1 PUSHAM UII, Prinsip-prinsip Hak Asasi Manusia dalam Hukum Hak Asasi Manusia
Internasional, dikutip pada 30 Mei 2019 dari https://pusham.uii.ac.id/ham/8_
Chapter2.pdf

7
1. Prinsip Kesetaraan
Hal yang sangat fundamental dari HAM adalah ide yang meletakan semua orang terlahir
bebas dan memiliki kesetaraan dalam Hak Asasi Manusia. Kesetaraan mensyaratkan
adanya perlakuan yang setara, di mana pada situasi sama harus diperlakukan dengan
sama dan di mana pada situasi yang berbeda diperlakukan dengan berbeda pula.
Tindakan afirmatif mengizinkan negara untuk memperlakukan secara lebih kepada grup
tertentu.

2. Prinsip Non-Diskriminasi
Pelarangan terhadap diskriminasi adalah satu bagian dari prinsip kesetaraan. Jika semua
orang setara, maka seharusnya tidak ada perlakuan yang diskriminatif. Deklarasi Universal
Hak Asasi Manusia menyebutkan beberapa alasan diksriminasi antara lain ras, warna
kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, pendapat politik atau opini lainnya, nasional atau
kebangsaan, kepemilikan atas suatu benda, kelahiran atau status lainya. Saat ini, semakin
banyak instrumen yang memperluas alasan diskriminasi termasuk di dalamnya orientasi
seksual, umur dan cacat tubuh.

3. Kewajiban Positif Melindungi Hak Tertentu


Menurut hukum HAM, suatu negara tidak boleh secara sengaja mengabaikan hak-hak
dan kebebasan-kebebasan. Sebaliknya, negara diasumsikan memiliki kewajiban positif
untuk melindungi secara aktif dan memastikan terpenuhinya hak-hak dan kebebasan.

Pasca Refomasi, negara Indonesia memasukan berbagai ketentuan Hak Asasi Manusia ke
dalam UUD 1945, sehingga HAM secara tidak langsung menjadi hak konstitusional, yang
antara lain meliputi:

Tabel 1. HAM dan UUD 1945

8
Selain memasukan ketentuan HAM dalam konstitusi dan pembentukan institusi yang
bergerak di bidang pelaksanaan HAM, pemerintah Indonesia juga meratifikasi berbagai
kovenan/konvensi dan ikut dalam berbagai deklarasi yang berkaitan dengan HAM (Instrumen
HAM). Sebagai pihak yang terikat dalam konvensi dan ikut dalam deklarasi, pemerintah
memiliki kewajiban untuk tunduk terhadap ketentuan di dalam konvensi atau deklarasi.
Kewajiban tersebut ditandai dengan mengambil langkah-langkah yang diperlukan, sesuai
dengan proses kontitusinya, untuk menuangkan atau menyesuaikan konvensi internasional
ke dalam peraturan perundang-undangan, menjamin setiap orang yang hak atau kebebasan
yang diakui dalam suatu konvensi dilanggar akan memperoleh upaya pemulihan yang
efektif melalui sarana yang tersedia dan menyampaikan laporan secara berkala pelaksanaan
konvensi.

Konsepsi Atas Sustainable Development Goals (SDGs)/Tujuan


Pembangunan Berkelanjutan (TPB)

Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan (the 2030 Agenda for Sustainable
Development Goals atau “SDGs”) adalah kesepakatan pembangunan baru, yang mendorong
perubahan-perubahan agar bergeser ke arah pembangunan berkelanjutan berdasarkan
Hak Asasi Manusia dan kesetaraan untuk mendorong pembangunan sosial, ekonomi dan
lingkungan hidup2. Secara historis, SDGs disepakati dalam Sidang Umum Perserikatan
Bangsa-bangsa (“PBB”), pada bulan September 2015. Secara keseluruhan SDGs isinya
mencakup 17 Tujuan, 169 Target, dan 241 Indikator. Patut diketahui, SDGs adalah kelanjutan
dari MDGs, yang mencakup 8 Tujuan, 18 Target dan 67 Indikator. SDGs dapat disebut sebagai
penyempurnaan yang dilakukan terhadap MDGs. Penyempurnaan tersebut di antaranya
adalah:3

1. Lebih komprehensif, dengan melibatkan seluruh negara, dengan tujuan universal;


2. Memperluas sumber pendanaan (pemerintah, swasta, dan sumber lain);
3. Menekankan pada Hak Asasi Manusia dalam penanggulangan kemiskinan;
4. Prinsip inklusif dan “No one Left Behind” (tak seorang pun boleh terlewatkan);
5. Melibatkan seluruh pemangku kepentingan: pemerintah; organisasi masyarakat sipil &
media; filantropi & pelaku usaha/bisnis; serta pakar & akademisi;
6. Zero Goals, menargetkan untuk menuntaskan seluruh indikator;
7. Cara pelaksanaan (Means of Implementation).

Pada hakekatnya, SDGs memiliki prinsip universal, integrasi dan inklusif. Hal ini perlu
dikemukakan sebagai jaminan, bahwa tidak akan ada seorang pun yang boleh terlewatkan
dalam pembangunan ini, atau yang lebih dikenal dengan prinsip “No one Left Behind”. HAM
dan SDGs memiliki prinsip dan nilai yang sama dalam mencapai tujuannya. Keduanya berjalan
beriringan demi menciptakan kondisi ekonomi, sosial dan lingkungan yang lebih baik secara
global. SDGs sebagai kesepakatan pembangunan baru, yang mendorong perubahan-
2 “Tujuan 16, Perdamaian, Keadilan dan Kelembagaan yang Tangguh”, diakses dari http://sdgs.bappenas.go.id/perdamaian-keadilan-dan-
kelembagaan-yang-tangguh/#sasaran-global949b-715ce0be-414f , diakses pada 1 April 2019, pukul 20.00 WIB,
3 Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Op. Cit.

9
perubahan bergeser ke arah pembangunan sosial ekonomi dan lingkungan hidup yang
berkelanjutan, yang dalam implementasinya lebih berdasar pada Hak Asasi Manusia dan
kesetaraan.

Semangat “No one Left Behind” dimaksudkan bukan hanya agar semua lapisan masyarakat
tidak tertinggal dalam proses model pembangunan baru ini, melainkan –lebih dari itu– juga
seluruh warga masyarakat wajib dilibatkan secara aktif dalam mewujudkan Goals, yang
telah disepakati bersama secara global tersebut. Partisipasi masyarakat sipil diharapkan
dapat dilakukan secara aktif dan nyata, bukan hanya sekadar formalitas untuk memenuhi
target global yang telah disepakati bersama. “No one Left Behind”, prinsip yang dibawa oleh
semangat SDGs, terdengar sangat positif dalam memproyeksikan kesuksesan SGDs, sebagai
tujuan yang disepakati secara global, sejak tahun 2015 lalu, yang ditargetkan akan tercapai
di tahun 2030.

Salah satu tujuan SDGs/TPB adalah untuk menguatkan masyarakat yang inklusif dan
damai untuk pembangunan berkelanjutan, menyediakan akses keadilan untuk semua dan
membangun kelembagaan yang efektif, akuntabel, dan inklusif di semua tingkatan. Tujuan
SDGs ini terdapat di Goal 16 yang terkait pada Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang
Tangguh”. Pada tingkat globat terdapat 8 sasaran, yang kemudian dalam Perpres No 59
Tahun 2017 dikembangkan menjadi 20 sasaran nasional, karena disesuaikan dengan RPJMN
2015 – 2019.

B. Inter-relasi HAM dan SDGS

Persamaan Prinsip Antara HAM dan SDGs/TPB

Salah satu prinsip yang dijunjung dalam pelaksanaan HAM adalah prinsip kesetaraan dan non-
diskriminasi. Konsep kesetaraan dalam HAM menekankan penghargaan terhadap martabat
seluruh insan manusia. Sebagaimana dinyatakan secara khusus dalam Pasal 1 Deklarasi
Universal Hak Asasi Manusia, bahwasanya semua insan manusia dilahirkan bebas dan
setara dalam martabat dan hak-haknya. Sedangkan prinsip non-diskriminasi menekankan,
bahwa tidak seorang pun dapat diingkari hak-haknya sebagai manusia karena alasan faktor
eksternal, seperti: ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, politik dan pandangan lain,
asal kebangsaan, status sosial, kepemilikan, kelahiran atau status lainnya.

Sementara itu, pada SDGs/TPB terdapat prinsip-prinsip universal, integrasi dan inklusif
sebagai jaminan, bahwa tidak akan ada seorang pun yang terlewatkan dalam pembangunan
ini, atau dikenal dengan prinsip “No one Left Behind”. HAM dan SDGs/TPB memiliki prinsip dan
nilai yang sama dalam mencapai tujuannya. Keduanya berjalan beriringan demi menciptakan
kondisi ekonomi, sosial dan lingkungan yang lebih baik secara global.

10
Posisi Negara Sebagai Pemangku Kewajiban Pelaksanaan HAM dan
SDGs/TPB

Konstitusi bangsa ini secara jelas menyatakan, bahwa Indonesia adalah negara hukum.
Salah satu element terpenting dalam negara hukum adalah adanya jaminan Hak Asasi
Manusia berbasis konstitusi (Undang-Undang Dasar), yang dijalankan berdasarkan hukum
(Undang-Undang). Indonesia, dengan Undang-undang Dasar Tahun 1945 (“UUD 45”) sebagai
konstitusinya, telah meletakkan dasar pengakuan dan jaminan terhadap Hak Asasi Manusia
pada Bab XA, Pasal 28 A sampai dengan 28J. Di dalam Bab ini ditegaskan, bahwa perlindungan,
pemajuan, penegakan dan pemenuhan Hak Asasi Manusia adalah tanggung-jawab negara,
dalam hal ini terutama pemerintah.

Pengakuan terhadap Hak Asasi Manusia, serta tanggung=jawab negara atas perlindungan,
pemajuan dan pemenuhannya, menjadi entry point sekaligus trigger dalam pelaksanaan
Tujuan (Goals) dan Target (Targets) Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Agenda
pembangunan global yang dikonstruksikan ke dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
atau Sustainable Development Goals (SDGs) ini, sebagai bentuk komitmen politik antar
bangsa, yang didasarkan  pada Hak  Asasi  Manusia  (HAM)  dan kesetaraan. Agenda global
SDGs ini, sebagaimana yang telah disepakati dalam Sidang Pleno keempat Majelis Umum PBB
–pada 25 September 2015– menyatakan, bahwa “They seek to realize the human rights of
all and to achieve gender equality and the empowerment of all women and girls. They are
integrated and indivisible and balance the three dimensions of sustainable development:
the economic, social, and environmental” (Tujuan Pembangunan Berkelanjutan ini mencoba
untuk mewujudkan pemenuhan seluruh Hak Asasi Manusia dari semua umat manusia, guna
mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan seluruh perempuan –termasuk juga
gadis remaja dan anak perempuan. Semuanya itu terintegrasi dan tidak dapat dipisahkan,
serta seimbang di dalam tiga dimensi pembangunan berkelanjutan: ekonomi, sosial dan
lingkungan hidup).4 Di mana sebagian besar target SDGs, yakni 92% dari 169 Target (Goals),
jelas merupakan wujud implementasi dari berbagai instrumen internasional tentang Hak
Asasi Manusia.5 Dengan demikian, implementasi SDGs merupakan bentuk dari pelaksanaan
pengakuan Hak Asasi Manusia itu sendiri, yang menjadi tanggung-jawab negara atas
perlindungan, pemajuan dan pemenuhannya.

Berdasarkan hal tersebut di atas, menjadi penting untuk menguatkan peran serta atau
partisipasi masyarakat dalam mendorong implementasi hukum atas Hak Asasi Manusia,
serta pelaksanaan SDGs itu sendiri. Pemahaman semacam ini perlu ditekankan, dengan
tujuan utama, agar tetap berbasis pada kebutuhan dan/atau kepentingan masyarakat.
Hal ini sebagaimana dijamin oleh UU HAM, Pasal 43 ayat (2) UU HAM, yang menyatakan:

4 United Nations General Assembly, “a Resolution adopted by the General Assembly on 25 September 2015 Number A/
Res/70/1 (Transforming Our World: The 2030 Agenda for Sustainable Development), (United Nation: 2015), halaman 1.
5 UN General Assembly, Transforming our world: the 2030 Agenda for Sustainable Development, 21 October 2015, Preamble, paragraf 3.
Lihat juga, The Danish Institute for Human Rights, “Human Rights and The 2030 Agenda for Sustainable Development, Lesson Learned and
Next Steps”, 2018, hal. 3, 9. Lebih jauh, lihat http://sdg.humanrights.dk/

11
“Setiap warga negara berhak turut serta dalam pemerintahan dengan langsung atau dengan
perantaraan wakil yang dipilihnya dengan bebas, menurut cara yang ditentukan dalam
peraturan perundang-undangan.”

Diagram 1. Diagram Alur Negara, HAM dan SDGs

Sasaran SDGs/TPB Merupakan Perwujudan atas Nilai-nilai HAM

Sasaran dalam SDGs sudah diselaraskan dengan Rencana Pembangun Jangka Menengah
Nasional (RPJMN) 2015-2019. Pengarusutamaan pencapaian SDGs dalam RPJMN 2015-2019
dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) dilakukan dalam bentuk rumusan kebijakan, program,
kegiatan, indikator yang terukur serta sumber pembiayaannya.

Masuknya nilai-nilai SDGs dalam RPJMN 2015-2019 merupakan titik terang bagi implementasi
SDGs di Indonesia. SDGs diharapkan dapat menjadi pendorong bagi terpenuhinya HAM di
Indonesia. Keduanya harus dijalankan dengan serius oleh semua pemangku kepentingan,
agar pencapaian target dan indikator dapat terpenuhi, dengan lebih maksimal dan efisien.
Hal ini tetap perlu menjadi agenda prioritas, mengingat karena masih banyak pekerjaan yang
harus dilakukan, untuk mencapai semua target SDGs di tahun 2030 mendatang.

Masyarakat/warga negara sebagai subjek –yang menjadi penerima manfaat utama dari upaya-
upaya yang dilakukan oleh negara dalam melakukan pemajuan HAM dan pembangunan
yang berkelanjutan– memiliki peranan yang besar dalam usaha mencapai target SDGs di
tahun 2030. Pelibatan masyarakat pada berbagai tingkatan perencanaan, pelaksanaan,
monitoring dan evaluasi pelaksanaan program-program pemajuan HAM dan SDGs menjadi
sangat penting. Menjadi sangat penting karena untuk memastikan, bahwasanya pelaksanaan
kewajiban negara atas HAM dan pencapaiaan tujuan SDGS, akan membawa dampak positif
terhadap seluruh masyarakat.

12
Berbagai kebijakan di bidang HAM dan SDGs membuka ruang masyarakat dalam
berpartisipasi dan terlibat dalam upaya pemenuhan HAM dan SDGs. Undang-Undang No
39 Tahun 1999 memberikan ruang bagi setiap orang, kelompok, organisasi politik, organisasi
masyarakat, lembaga swadaya masyarakat atau lembaga kemasyarakatan lainnya untuk
berhak berpatisipasi dalam perlindungan, penegakan dan pemajuan HAM; menyampaikan
laporan atas terjadinya pelanggaran HAM; mengajukan usulan mengenai perumusan dan
kebijakan yang berkaitan dengan HAM; melakukan penelitian, pendidikan dan penyebaran
informasi mengenai HAM6.

Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang P. S. Brodjonegoro menegaskan, bahwa pelibatan


peran masyarakat sipil –yang tercakup ke dalam platform Sustainable Development Goals
(SDGs), untuk pencapaian Goals SDGs adalah sangat penting. Peran Platform Organisasi
Masyarakat Sipil (OMS) dan media adalah untuk mendiseminasikan dan melakukan advokasi
terhadap SDGs, membangun pemahaman dan kesadaran masyarakat, memfasilitasi program
dan pelaksanaannya serta monitoring dan evaluasi7. Partisipasi masyarakat dalam mencapai
tujuan SDGS. Ruang-ruang partisipasi masyarakat dalam upaya pembangunan yang
berkelanjutan atas dasar HAM harus dioptimalkan, dengan jalan meningkatkan kesadaran
masyarakat agar mau ambil bagian secara aktif dalam proses penyusunan, pelaksanaan,
monitoring dan evaluasi program-program pemerintah terkait HAM dan SDGs.

Mengacu pada target yang ingin dicapai dalam SDGs/TPB, di situ akan tergambar betapa
Sustainable Development Goals (SDGs) terkait erat dengan realisasi Hak Asasi Manusia. Dari
169 Target dalam SDGs, 156 di antaranya merefleksikan prinsip dan norma HAM, sebagaimana
dijamin dalam Deklarasi Universal HAM dan instrumen HAM yang lainnya8. Secara khusus,
Tujuan 16 SDGs/TPB mencakup sebagian besar dimensi sipil dan politik Hak Asasi Manusia.
Tujuan ini mencakup hak untuk hidup, hak untuk bebas dari penyiksaan dan perbudakan,
hak atas kebebasan informasi, hak atas partisipasi politik, hak atas kepribadian umum (legal
personality), serta hak atas keadilan. Semua hak tersebut dinyatakan dalam berbagai kovenan/
konvensi, yang telah diratifikasi Pemerintah Indonesia, dan dinyatakan dalam UUD 19459.
Kesesuaian antara target SDGs/TPB dan nilai-nilai HAM dapat dilihat dari tabel Sinkronisasi
RPJMN dengan Indikator Pelaksanaan Tujuan 16 SDGs/TPB dan Instrumen Hak Asasi Manusia
(dalam lampiran).

6 Partisipasi masyarkat dalam bidang HAM tercantum dalam BAB VII Pasal 100 – 103 UU NO 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.
7 Bappenas, https://www.bappenas.go.id/id/berita-dan-siaran-pers/peran-masyarakat-sipil-untuk-kesuksesan-tpbsdgs/ diunduh pada 21
April 2019.
8 Mimin Dwi Hartono, “Pendekatan HAM untuk Mencapai SDGs”, 30 Maret 2019, diakses dari https://www.Komnas HAM.go.id/index.php/
news/2018/3/30/511/pendekatan-ham-untuk-mencapai-sdgs.html, pada 1 April 2019 pukul 20.32 WIB.
9

13
Mendekati TPB/SDGs dengan Pemantauan/Monitoring Berbasis Prinsip
HAM

Tingkat konvergensi antara HAM dan SDGs –yang telah dijelaskan di atas– dapat menunjukkan
potensi, bahwa pelaksanaan pemantauan SDGs dapat menggunakan mekanisme
pemantauan HAM –baik berdasarkan mekanisme internasional, regional maupun nasional,
untuk menilai dan memandu pelaksanaan SDGs.

Pada mekanisme internasional, ratifikasi Pemerintah Indonsia atas deklarasi internasional


yang berkaitan dengan HAM (instrument HAM), dapat menghasilkan kewajiban untuk tunduk
terhadap ketentuan di dalam konvensi atau deklarasi tersebut. Mekanisme internasional
yang dapat digunakan antara lain: mekanisme Dewan HAM, Badan Perjanjian Internasional,
Organisasi Internasional Pemerintah, maupun konvensi internasional.

Salah satu mekanisme internasional yang menghasilkan kewajiban adalah Universal Periodic
Review (UPR). UPR merupakan mekanisme yang berisi peninjauan terhadap catatan HAM dari
semua negara anggota PBB. Guna melihat implementasi HAM secara global dapat dilakukan
dengan cara melihat UPR.

Universal Periodic Review adalah proses yang digerakkan oleh negara, di bawah naungan
Human Rights Council, yang memberikan kesempatan bagi setiap negara untuk menyatakan
tindakan apa yang telah diambil untuk memperbaiki situasi HAM di negaranya dan memenuhi
kewajiban mereka dalam perlindungan, pemajuan, penegakan dan pemenuhan Hak Asasi
Manusia. Tujuan akhir dari mekanisme ini adalah untuk memperbaiki situasi Hak Asasi Manusia
di semua negara dan menangani pelanggaran Hak Asasi Manusia yang terjadi di mana pun.10

Koalisi Masyarakat Sipil untuk Pemantauan Rekomendasi Universal Periodic Review (UPR) telah


melakukan pemantauan pada tahun 2017-2018, dengan menyusun dan mempublikasikan
indeks pelaksanaan HAM Indonesia berdasarkan rekomendasi UPR.   Dalam kesempatan ini
patut dikemukakan, bahwa indeks pelaksanaan HAM Indonesia dengan skor  0,42.  Angka
tersebut diperoleh berdasarkan gabungan beberapa rekomendasi UPR, yang dikelompokkan
dalam beberapa kluster. Dari kluster tersebut, kemudian dirumuskan menjadi variabel,
yang diturunkan dalam beberapa indikator penilaian, seperti: regulasi, indikator proses
pelaksanaan, dan indikator dampak pelaksanaan regulasi.11

Indeks ini dibuat dengan angka maksimal 4 untuk setiap indikator, jika tindak- lanjut atas
rekomendasi UPR sesuai dengan standar HAM. Skor 0.42 menandakan tidak adanya kemauan
politik dan kurangnya kapasitas penyelenggara negara dalam memenuhi kewajiban HAM

10 “Universal Periodic Review”, diakses dari https://www.ohchr.org/en/hrbodies/upr/pages/uprmain.aspx, diakses pada pada 18 April 2019
pukul 18.17 WIB.
11 HRWG, “Indeks HAM Indonesia 2018 Sebesar 0,42”, 18 Januari 2019, diakses dari https://hrwg.org/2019/01/18/indeks-ham-indonesia-2018-
sebesar-042/, diakses pada 18 April 2019 pukul 18.17 WIB.

14
internasional, yang diturunkan dalam program aksi di tingkat nasional12. Pada peninjauan
terakhir UPR pada Mei 2017, Indonesia mendapatkan 457 rekomendasi dari 104 negara.
Sebanyak 340 rekomendasi sudah diterima, sisanya masih sebagai catatan.

Lima teratas, rekomendasi terbanyak yang diterima Indonesia dalam UPR adalah: International
Instrument, Rights of the Child, Women’s Rights, Freedom of Religion and Belief dan Justice.
Dari daftar rekomendasi UPR tersebut dapat dilihat, bahwa masih banyak permasalahan
terkait kelompok rentan (dalam hal ini perempuan dan anak), yang masih menjadi catatan bagi
penegakan HAM di Indonesia. Jumlah rekomendasi terbanyak yaitu mengenai International
instrument, yang tentu saja menjadi perhatian penting, bahwa masih ada konvensi-konvensi
yang belum diratifikasi oleh Indonesia.

Untuk SDGs. sebagai bagian dari mekanisme tindak lanjut dan peninjauannya, SDGs juga
memiliki suatu mekanisme peninjauan sendiri secara global yaitu Voluntary National Review
(VNR). VNR bertujuan untuk mendorong negara untuk “melakukan tinjauan kemajuan secara
teratur dan inklusif di tingkat nasional dan daerah, yang dipimpin oleh negara dan digerakkan
oleh negara” (paragraf 79). 

Tinjauan VNR ini diharapkan dapat berfungsi sebagai dasar untuk pemantauan pelaksanaan
SDGs di suatu Negara melalui peninjauan secara reguler oleh forum politik tingkat tinggi
(HLPF) di bawah naungan ECOSOC PBB.  Sebagaimana diatur dalam paragraf 84 Agenda
2030, tinjauan berkala oleh HLPF dilakukan secara sukarela, dipimpin oleh negara, dilakukan
oleh negara maju dan berkembang, dan melibatkan banyak pemangku kepentingan

VNR bertujuan untuk memfasilitasi berbagi pengalaman, termasuk keberhasilan, tantangan,


dan pelajaran yang diperoleh dari pelaksanaan SDGs, dengan tujuan untuk mempercepat
implementasi Agenda 2030.  VNR juga berupaya memperkuat kebijakan  dan lembaga-
lembaga pemerintah dan untuk memobilisasi dukungan dan kemitraan multi pihak untuk
implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

Terkait pemantauan SDGs dengan mengedepankan nilai HAM dan SDGs, maka dapat
dilakukan melalui mekanisme pemantauan pada proses mekanisme pelaksanaan yang
inklusif serta upaya pencapaian tujuan 16 yang secara spesifik membahas agenda HAM
dalam pencapaian Agenda 2030 SDGs.

Pada tujuan 16, terdapat tiga aspek utama yang membentuk nya dan berkaitan dengan HAM
yaitu; (1) mengurangi segala bentuk kekerasan dan angka kematian terkait pembunuhan
dan mewujudkan perdamaian; (2) menggalakkan negara berdasarkan hukum dan menjamin
akses yang sama terhadap keadilan; serta (3) mengembangkan lembaga efektif, akuntabel
dan transparan di semua tingkatan. Ketiga aspek utama tersebut saling berhubungan dan
mempengaruhi arah pencapaian dari pembangunan dengan mengedepankan nilai dan
prinsip HAM.

12 Ibid.

15
Selain hal diatas, upaya monitoring tujuan 16 juga memungkinkan memantau keseimbangan
dimensi hak ekonomi sosial budaya dengan hak sipil politik (Menguatkan Masyarakat yang
Inklusif dan Damai untuk Pembangunan Berkelanjutan, Menyediakan Akses Keadilan untuk
Semua, dan Membangun Kelembagaan yang Efektif, Akuntabel, dan Inklusif di Semua
Tingkatan). Secara khusus, Tujuan No. 16 memungkinkan pengukuran akses terhadap
keadilan, kebebasan berpendapat, dan hak atas pembangunan dengan mengedepankan
kesetaraan dan non-diskriminasi dalam pembangunan. Prinsip dan pendekatan yang
dikandung dalam Tujuan No. 16 memberi peluang perwujudan inklusi sosial, yang dengan
kata lain, hal ini berarti mengambil tindakan untuk mencapai ke–17 TPB dengan terlebih
dahulu mengedepankan mereka yang jauh tertinggal.

Selanjutnya, sistem pemantauan dan pelaporan Hak Asasi Manusia regional dan internasional
dapat berkontribusi pada tindak-lanjut pelaksanaan dan pencapaian SDGs dengan
memberikan:

% Data kualitatif dan kuantitatif yang sistematis melalui laporan PBB, negara, dan masyarakat
sipil
% Rekomendasi untuk merujuk pada tantangan pelaksanaan dan pedoman untuk
mengatasinya
% Metodologi untuk pengumpulan dan produksi data yang inovatif, inklusif dan partisipatif
% Praktik baik tentang pelibatan para pemangku kepentingan dalam pemantauan dan
agenda tindak lanjut, termasuk transparansi dan akses informasi.

Pada tingkat nasional, institusionalisasi lembaga HAM yang dibentuk sebagai badan negara
independen, dengan mandat konstitusi maupun regulasi, juga dapat bermanfaat dalam
melakukan promosi pemantauan pembangunan berbasis pendekatan HAM. Seperti mandat
yang diterima Komisi Nasional HAM misalnya, adalah menyangkut berbagai isu (seperti:
perempuan, pelaksanaan HAM, dan lainnya), yang biasanya mencakup promosi, penelitian,
pendidikan, pemulihan, penyelidikan serta pemantauan dan pelaporan, baik yang dilakukan
dengan cara bekerjasama dengan organisasi setingkat subnasional, maupun dengan
organisasi nasional dan internasional.

16
17
18
BAB III
PRAKTIK BAIK
ADVOKASI
HAM
(Mewujudkan Perdamaiaan, Keadilan dan
Kelembagaan yang Tangguh)

Kabupaten Ramah HAM Wonosobo


Sebagai bagian dari negara Republik Indonesia,
Kabupaten Wonosobo turut mengemban dan
memajukan HAM. Melalui asas otonomi daerah,
Kabupaten Wonosobo berkomitmen untuk menghormati,
melindungi, memajukan, serta menjamin pemenuhan
HAM dalam menyelenggarakan urusan Pemerintah
Daerah. Inisiatif baik ini dijalankan untuk menjadikan
Wonosobo sebagai Kabupaten Ramah HAM. Usaha
untuk mewujudkan Wonosobo menjadi Kabupaten
Ramah HAM itu dituangkan dalam Peraturan Daerah
Kabupaten Wonosobo Nomor 5 Tahun 2015 tentang
Kabupaten Wonosobo Ramah Hak Asasi Manusia (Perda
Ramah HAM Wonosobo).

Peraturan Daerah (Perda) Ramah HAM Wonosobo


memprioritaskan pada bidang-bidang yang menjadi
urusan wajib Pemerintah Daerah, yang berkaitan dengan
pelayanan dasar sebagaimana diatur dalam Peraturan
Perundang-undangan tentang Pemerintahan Daerah,
serta urusan yang menyangkut perlindungan terhadap
perempuan dan anak, kelompok-kelompok rentan lainya
dan perlindungan kebebasan beragama. Pelayanan
dasar yang menjadi urusan wajib tersebut terkait

19
dengan pendidikan; kesehatan; pekerjaan umum dan penataan ruang; perumahan rakyat
dan kawasan permukiman; ketenteraman, ketertiban umum dan perlindungan masyarakat:
program sosial. Pelaksanaan Kabupaten Ramah HAM diseleraskan dan diharmoniskan dalam
Rencana Pembangunan Daerah satu kesatuan dalam sistem perencanaan pembangunan
nasional. Pembiayaan atas penyelenggaraan Kabupaten Wonosobo Ramah HAM dibebankan
kepada APBD.

Berbeda dengan daerah lain yang juga memiliki kebijakan terkait pemajuan HAM, secara
khusus Perda Ramah HAM Wonosobo memberikan kewenangan kepada Kabupaten
Wonosobo, untuk mendirikan lembaga atau badan HAM –yang bersifat independent atau
semi independent, yang tugas utamanya antara lain: melakukan mediasi, pendidikan dan
pelatihan, penelitian dan pemantauan. Lembaga/badan HAM tersebut diharapkan dapat
menjadi pengontrol pelaksanaan Kabupaten Wonosobo Ramah HAM, serta membantu
Pemerintah Daerah dalam penguatan kapasitas. maupun sosialisasi HAM, sehingga tercipta
budaya HAM.

Sebagai bentuk implementasi dari Perda Ramah HAM Wonosobo, Bupati Wonosobo
kemudian mengeluarkan Keputusan Bupati Nomor 050/450/2018 tentang pembentukan
Komisi Kabupaten Wonosobo Ramah HAM, yang terdiri dari unsur pemerintah, tokoh
masyarakat, perwakilan penyandang disabilitas dan tokoh agama. Komnas HAM menyambut
baik inisiatif pembentukan kebijakan Perda Ramah HAM dan Komisi HAM di tingkat daerah
sebagai inisatif pertama di Indonesia dan diharapkan mampu memberi motivasi Pemerintah
Daerah lainya, agar lebih peduli terhadap pemajuan HAM1

Isbath Nikah di Kabupaten Aceh Utara2

Konflik Aceh yang panjang, yakni sejak tahun 1980 hingga berakhir dengan perjanjian damai
15 Agustus 2005, sudah meninggalkan jejak kepedihan dan sejumlah persoalan. Tidak hanya
sejumlah nyawa yang menjadi korban, namun juga menyebabkan munculnya rentetan
trauma. Saat darurat militer dijalankan, nyaris seluruh kegiatan ekonomi warga menjadi
lumpuh, karena banyak yang terpaksa mengungsi ke desa lain.

Akibat dari mengungsi ini, kemudian banyak pasangan yang sudah menikah selama puluhan
tahun, tetapi tidak memiliki Surat Nikah. Hal ini bermuara dari pengungsi yang mengungsi ke
wilayah lain dan tidak mendapatkan kejelasan kartu identitas, karena berpindah lokasi demi
alasan mencari keamanan.

1 https://www.komnasham.go.id/index.php/news/2018/11/6/664/pertama-di-indonesia-komisi-ham-kabupaten-wonosobo-diresmikan.html
diunduh pada 8 April 2019.
2 https://aceh.kemenag.go.id/berita/368857/perwakilan-lsm-ika-jakarta-alhamdulillah-itsbat-nikah-perdana-nisam-antara-lancar.

20
Tanpa adanya dokumen kependudukan, khususnya akte nikah dan akte kelahiran. Warga
menjadi tak bisa mengakses segala bentuk layanan sosial dan bantuan pemerintah. Bagi para
perempuan, tiadanya catatan pernikahan dalam sebuah akta resmi juga seringkali membuat
mereka merasa, bahwa posisinya sebagai istri tidak sepenuhnya diakui. Hampir seluruh warga
Desa Seumirah dan Darussalam, Kecamatan Nisam Antara, dan Kabupaten Aceh Utara, yang
terletak tepat di kaki Gunung Salak mengalami kasus semacam ini.

Ada berbagai kendala yang menyebabkan puluhan pasangan suami-istri tidak bisa
mendapatkan akte nikah. Selain akses yang sulit, kurangnya sosialisasi, warga pun kurang
peduli untuk mendaftarkan pernikahan. Di luar itu, masa konflik panjang juga menjadi pangkal
soal. Pada masa itu, warga harus menunggu beberapa waktu untuk pemrosesan buku nikah.
Sementara itu, situasi keamanan pada saat konflik begitu mencekam, di setiap pintu-pintu
keluar gampong (desa) ada pos-pos keamanan. Banyak warga yang dapat dicurigai sebagai
anggota dan simpatisan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), sehingga warga masyarakat tidak
leluasa keluar desa, apalagi pergi mengurus ke Kantor Urusan Agama (KUA), yang jaraknya
hingga puluhan kilometer untuk mengambil buku nikah. Selain itu, dalam situasi konflik,
KUA pun banyak yang hangus terbakar dan mengakibatkan banyak dokumen dan data-data
hilang.

Alhasil, hingga bertahun-tahun kemudian, banyak warga yang hidup berumahtanga dengan
tanpa ada surat nikah di tangan. Akibatnya, warga terhambat dalam urusan administrasi
dan kependudukan (adminduk) dan akses pada berbagai layanan publik lainnya. Dalam
hal tertentu, misalnya, Geuchik (Kepala Desa) dapat memberikan surat keterangan untuk
mengurusanak-anak mereka mendaftar sekolah. Akan tetapi, tiadanya dokumen resmi
pernikahan tetap saja membuat mereka terganjal dalam banyak hal, bahkan salah satunya,
tidak bisa mengurus paspor dan pergi haji.

Tiadanya buku nikah, berdampak secara sosial hingga personal. Bagi warga pernikahan
adalah sebuah ritual sosial. Secara personal, dampak terbesar adalah bagi para perempuan.
Tiadanya buku nikah juga membuat perempuan merasa posisinya sebagai istri tidak
sepenuhnya diakui.

Melalui program Peduli, Relawan Perempuan untuk Kemanusiaan (RPuK) bekerjasama


dengan Dinas terkait menggagas program Isbath Nikah (pencatatan pernikahan), yang
akhirnya dilakukan pada Mei 2016. Acara yang berlangsung di Kecamatan Nisam Antara,
Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh merupakan Isbath Nikah pertama kali di Aceh Utara.
Pasangan yang bisa mendaftar di Isbath Nikah ini adalah mereka yang menikah di masa
konflik hingga tahun yang berdekatan dengan akhir konflik tahun 2005. Total pasangan yang
telah mendapat pelayanan fasilitas Isbath Nikah: 309 pasangan, dengan rincian 66 pasangan
untuk Pelayanan Terpadu (Yandu) pertama (Mei 2016), 192 pasangan pada Pelayanan Terpadu
kedua (Oktober 2016) dan 51 pasangan untuk Pelayanan Terpadu ketiga.3

3 https://aceh.tribunnews.com/2017/05/10/empat-instansi-teken-mou-isbat-nikah.

21
“Angin Segar” dan “Memulihkan Martabat” Minoritas
Kepercayaan Melalui Pengajuan Konstitusional di Mahkamah
Konstitusi

Putusan atas Permohonan No 97/PUU-XIV/2016, Mahkamah Konstitusi RI (MK) mengabulkan


permohonan yang diajukan oleh Nggay Mehang Tana, Pagar Demanra Sirait, Arnol Purba
dkk. terkait uji materi UU No. 24 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Undang-undang No. 23
Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan (selanjutnya disebut UU Adminduk).

Beberapa pasal dalam undang-undang ini mengatur mengenai pengosongan kolom agama
bagi penghayat kepercayaan pada Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK).
Melalui Program Peduli, upaya ini didorong oleh sejumlah organisasi masyarakat sipil yang
tergabung dalam Koalisi Pembela Kewarganegaraan.

Ketentuan ini memicu banyak tindakan diskriminatif terhadap penghayat kepercayaan,


khususnya dalam pelayanan publik. MK memutuskan dengan menerima seluruh permohonan
uji materi dengan menegaskan 2 hal: Pertama, menyatakan bahwa kata “agama” dalam Pasal
61 ayat (1) dan Pasal 64 ayat (1) UU Adminduk bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak
mempunyai kekuatan hukum mengikat secara bersyarat, sepanjang tidak dimaknai pula
sebagai sebagai kepercayaan. Kedua, menyatakan bahwa Pasal 61 ayat (4) dan Pasal 64 ayat
(5) yang mengatur mengenai pengosongan kolom agama bagi penghayat kepercayaan
bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak memiliki kekuatan hukum mengikat.

Putusan MK 97 dan perjuangan panjang penghayat kepercayaan dalam mencapai pengakuan


patut diapresiasi. Pengakuan kepercayaan sebagai bagian dari identitas dan bentuk ekspresi
spiritual menjadi penting. Selama beberapa dekade penghayat kepercayaan telah menjadi
muted group, yang ekspresi spiritualitasnya sangat dibatasi, berbeda dengan penganut
enam agama yang dianut mayoritas penduduk.

Pengakuan diatas menegaskan posisi dan relasi setara antara penghayat kepercayaan dan
penganut agama, setidaknya dalam pelayanan publik khususnya administrasi kependudukan.
Pengakuan ini juga membawa perintah tegas kepada penyelenggara pemerintahan di
lapangan (street level bureaucrat) dalam memberikan pelayanan kepada penghayat
kepercayaan dalam tingkat yang setara dengan pelayanan terhadap warga negara lainnya.

22
Membangun Kesadaran Advokasi Korban Pelanggaran HAM
(Talangsari)

Demi mewujudkan masyarakat yang inklusif dan damai untuk pembangunan yang
berkelanjutan, dengan mengedepankan prinsip “No one Left Behind”, maka perlu dilakukan
dukungan khusus terhadap kelompok rentan, terutama mereka yang mengalami atau
menjadi korban Pelanggaran HAM Berat. Penanganan Kasus Pelanggaran HAM Berat melalui
mekanisme peradilan tidak mudah dan seringkali dihadang oleh berbagai kendala, hal
tersebut membuat para pihak atau kelompok yang mengalami dan atau menjadi korban
Pelanggaran HAM Berat4 mendapatkan stigma dan perlakuan yang tidak adil, khususnya
ketika mengakses pelayanan publik.

Hal ini seperti yang pernah dialami oleh warga Dusun Talangsari III, yang diberikan cap
sebagai “orang-orang lokasi”. Selain trauma dan diskriminasi terhadap “orang-orang lokasi”,
perlakuan yang tidak adil itu juga berujung pada eksklusi sosial. Mereka tidak diterima
masyarakat dan membuat mereka tidak dapat menikmati fasilitas dan layanan publik seperti
warga masyarakat pada umumnya. Supiah, sebagai warga yang pernah menjadi korban
Pelanggaran HAM Berat, menceritakan: “Pada tahun 2005, saya punya anak laki-laki masih
kecil. Ketika itu ada imunisasi polio. Lantas ada teman yang cerita, kenapa semuanya diminta
ke sana kok saya enggak? Katanya “orang lokasi” tidak boleh diajak, sudah seperti anak tiri.”
Kenang Supiah 5.

Yayasan Indonesia untuk kemanusiaan –yang peduli terhadap upaya inklusi bagi korban
pelanggaran HAM– bekerjasama dengan IKOHI Jakarta dan Paguyuban Keluarga Korban
Talangsari Lampung (P2KTL), menjalankan aktivitas untuk melakukan pengkaderan bagi
keluarga korban, agar terjadi perubahan dari korban menjadi penyintas dan perlunya
persamaan persepsi, bahwa program akses layanan publik tidak sama dengan Islah di
masa lalu. Korban dan PK2TL bekerjasama dengan tokoh: pemerintahan, masyarakat dan
agama yang sudah menunjukan komitmen awal untuk memperlakukan Dusun Talangsari
sama dengan 9 Dusun lainnya, yang ada di Desa tersebut. Organisasi masyarakat di wilayah
Lampung berperan dalam melakukan advokasi pengambil kebijakan dan memberikan
penguatan pada masyarakat. Kelompok korban dan organisasi masyarakat mendorong
SKPD (Satuan Kerja Pelaksana Dinas) terkait untuk memberikan layanan publik yang layak di
Talangsari, seperti: Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Dinas Pertanian, Badan Pertanahan Provinsi
Lampung, PLN, Dinas Pembangunan Umum, Sementara itu, untuk peningkatan ekonomi
dilakukan kerjasama dengan badan amal Dompet Dhuafa6.

4 Dalam konteks pelanggaran HAM, konsep tentang korban sangat luas pengertiannya. Tidak hanya seseorang yang mengalami langsung
akibat dari suatu kejahatan pelanggaran HAM, tetapi juga keluarga dekat atau tanggungan langsung korban dan orang-orang yang
mengalami kerugian ketika membantu mengatasi penderitaan para korban atau mencegah viktimisasi.
5 https://programpeduli.org/blog/supiah-perempuan-dibalik-dusun-talangsari-yang-tersenyum-kembali/
6 Laporan Narasi Teori Perubahan Korban Kasus Talangsari Lampung (IKOHI Jakarta) Dalam Pelaksanaan Program Peduli, 2014.

23
Supiah, salah satu korban berhasil dikader menjadi penyintas dan menjadi Pandu Inklusi
Nusantara (PINTAR). Dia secara aktif mengumpulkan kelompok ibu-ibu dan membentuk
kelompok untuk pemberdayaan ekonomi mereka. Supiah juga aktif mengajak “orang lokasi”
untuk datang di kegiatan pengajian, hingga kegiatan pembinaan kesejahteraan keluarga
(PKK), agar mendapat ruang interaksi dan bersosialisasi dengan masyarakat. Melalui ruang
dan forum-forum seperti itu, stigma dan diskriminasi yang melekat pada mereka perlahan-
lahan dihapus dan relasi sosial kembali dijalin. Kondisi Dusun Talangsari lambat laun mulai
diperhatikan dan berkembang seperti Dusun lainnya. “Sekarang sudah ada acara sendiri.
Anak-anak bisa ramai, bahagia, tertawa ikut lomba-lomba. Ibu-ibunya juga ikut bergabung.
Tarik tambang, tanding masak antar RT, dan macam-macam lagi. Tahun-tahun belakangan
ini, saya ‘merasa merdeka’.” Cerita Supiah7

Mendorong Peran Aktif Negara Atas Akses Bantuan Hukum


(Koalisi Advokasi Masyarakat Sipil untuk UU Bantuan
Hukum/KUBAH)
Guna mewujudkan sasaran Global SDGS, terkait upaya menggalakan kedaulatan hukum di
tingkat nasional dan internasional serta menjamin akses yang sama terhadap keadilan bagi
semua, Pemerintah Indonesia menargetkan sejumlah orang atau kelompok masyarakat
miskin untuk memperoleh bantuan hukum litigasi dan non litigasi. Bantuan hukum menjadi
program yang didorong oleh Pemerintah guna menciptakan akses keadilan yang merata
untuk semua orang. Selain itu, pemerintah juga berharap inisiatif ini bisa menjadi program
yang dapat diusulkan dalam sasaran global, terkait akses terhadap keadilan dan penegakan
hukum.

Sedikit berbeda dengan negara lainnya, pemberian bantuan hukum di Indonesia bukan
dilakukan oleh negara, melainkan diberikan langsung oleh organisasi masyarakat sipil.
Sementara itu, negara –dalam hal ini Badan Pembinaan Hukum Nasional, di bawah Kementerian
Hukum dan HAM Republik Indonesia, bertindak sebagai penyelenggara, yang bertugas
menyusun dan menetapkan kebijakan penyelenggaraan bantuan hukum, seperti: standar
bantuan hukum, rencana anggaran, tata cara mengelola anggaran dan menyampaikan
laporan bantuan hukum8.

Sebelum disahkannya UU No 16 Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum, pemberian bantuan


hukum dilakukan oleh Advokat/Pengacara, dengan konsep probono sebagai implementasi
dari pelaksanaan profesi Advokat. Negara hanya menghormati hak setiap orang dalam
memilih bantuan hukum dan menunjuk Advokat/Pengacara dalam memberikan bantuan
hukum9, bagi tersangka tidak mampu dan yang dikenakan ancaman hukuman di atas 5 tahun
penjara.

7 Op. Cit. Hal. 21.


8 Pasal 16 ayat (3) UU No 16 Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum.
9 Pasal 56 KUHAP menyatakan: “Dalam hal Tersangka atau Terdakwa disangka melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana mati
atau ancaman pidana lima belas tahun atau lebih atau bagi mereka yang tidak mampu yang diancam dengan pidana lima tahun atau lebih
yang tidak mempunyai penasehat hukum sendiri, pejabat yang bersangkutan pada semua tingkat pemeriksaan dalam proses peradilan
wajib menunjuk penasihat hukum bagi mereka.”

24
Minimnya dukungan negara terhadap pemberian bantuan hukum, mendorong organisasi-
organisasi bantuan hukum dan lembaga yang fokus di bidang reformasi peradilan membentuk
Koalisi Advokasi Masyarakat Sipil untuk UU Bantuan Hukum (KUBAH). Organisasi koalisi ini
berperan dalam melakukan advokasi bersama, untuk mendorong peran aktif negara dalam
mewujudkan akses keadilan melalui bantuan hukum.

Demi tujuan untuk memperkuat gerakan masyarakat sipil, KUBAH yang digawangi
oleh YLBHI membangun jaringan dengan kelompok akademisi, dengan cara membuat
Pertemuan Bantuan Hukum untuk mencari dan menggali gagasan konsep bantuan hukum
yang tepat di Indonesia. Pertemuan Bantuan Hukum tersebut juga dijalankan dengan cara
mengundang berbagai perwakilan negara lain, untuk sharing sistem bantuan hukum di
negara mereka tersebut serta para pakar dari akademisi dan perwakilan negara-negara yang
disasar akan menjadi implementasi pelaksanaan sistem bantuan hukum. Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono –yang hadir dan membuka acara pertemuaan tersebut, mendukung
dikembangkannya konsep bantuan hukum, guna membantu menjawab permasalahan akses
keadilan di waktu yang akan datang10.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidato Pertemuan Bantuan Hukum itu
menyatakan: “Apa yang dilakukan oleh YLBHI sekarang ini, dalam forum ini, beserta
output yang dihasilkan harus kita pandang dari dua sisi, solving the problems and
upholding the law and lay down foundation, untuk bantuan hukum, untuk akses
terhadap keadilan dan lain-lain yang berkaitan dengan itu di waktu yang akan datang”.

Selain melakukan advokasi, Koalisi Masyarakat sipil yang tergabung dalam KUBAH juga
menyusun dan menawarkan Naskah Akademis dan RUU Bantuan Hukum versi masyarakat
sipil11. Walaupun tidak seluruh konsep masyarakat sipil diakomodir oleh UU Bantuan
Hukum, namun point pelibatan pemberian bantuan hukum yang langsung dilakukan oleh
organisasi masyarakat sipil, melalui organisasi bantuan hukum dan adanya dukungan negara
dalam bentuk operasional pemberian bantuan hukum dapat menjadi pintu masuk dalam
mewujudkan akses keadilan melalui bantuan hukum.

Sampai pada tahun 2013, setidaknya terdapat 310 organisasi bantuan hukum dan pada tahun
2016 terdapat 405 organisasi bantuan hukum, yang memberikan bantuan hukum dan terus
meningkat pada hasil verifikasi tahun 2019 menjadi sebanyak 524 organisasi bantuan hukum,
yang tersebar di seluruh Indonesia. Meningkatnya jumlah organisasi bantuan hukum selaras
dengan peningkatan para penerima bantuan hukum. Pada tahun 2013 terdapat 1040 orang
yang menerima bantuan hukum dan meningkat drastis pada 2017 sebanyak kurang lebih
50.000 orang penerima bantuan hukum12.

10 http://www.rifaihadi.com/2018/08/17/sejarah-singkat-munculnya-uu-bantuan-hukum-di-indonesia/ di unduh pada 29 Mei 2019.


11 Naskah Akademik RUU Bantuan Hukum Versi Masyarakat Sipil dapat dilihat di https://anggara.files.wordpress.com/2009/06/naskah-
akademik-ruu-bh-final.pdf diunduh pada 29 Mei 2019.
12 Panduan Penyelenggaran Bantuan Hukum di Daerah, YLBHI, 2018.

25
Meningkatnya jumlah organisasi bantuan hukum yang mengikuti proses verifikasi menjadi
organisasi pemberi bantuan hukum menunjukan tingginya ketertarikan masyarakat untuk
terlibat dalam program bantuan hukum yang diselenggarakan oleh pemerintah. Selain
menyediakan anggaran operasional pemberian bantuan hukum, pemerintah menjamin
kebebasan dan independensi organisasi bantuan hukum dalam menentukan strategi
pembelaan kasus. Penyelenggara bantuan hukum juga memberikan ruang bagi organisasi
bantuan hukum untuk melakukan kegiatan diluar litigasi terkait penyuluhan hukum, penelitian
hukum, peningkatan kapasitas pemberi bantuan hukum.

UU Bantuan Hukum juga mengamanatkan kepada Pemerintah Daerah untuk mengalokasikan


anggaran untuk program bantuan hukum. Sampai dengan tahun 2018 terdapat 16 Peraturan
Daerah setingkat Propinsi dan 61 Peraturan Daerah setingkat Kabupaten yang mengatur
mengenai bantuan hukum.

Menghancurkan Hambatan Regulasi Melalui Mahkamah


Konstitusi (Putusan MK Terhadap Masyarakat Adat)
Salah satu hambatan dalam mewujudkan Hak Asasi Manusia adalah peraturan perundang-
undangan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Hak Asasi Manusia. Walaupun UUD 1945 sebagai
konstitusi bangsa Indonesia secara tegas menjamin Hak Asasi Manusia dan tanggung-jawab
negara dalam menghormati, melindungi, memenuhi dan memajukan Hak Asasi Manusia,
namun seringkali pembuat dalam pembuatan peraturan perundang-undangan masih kerap
mengabaikan nilai-nilai Hak Asasi Manusia.

Sebagai sarana para pihak yang dilanggar hak konstitusionalnya memperjuangkan hak dan
kepetingannya, khususnya terhadap pelaksanaan HAM, pemerintah membentuk Mahkamah
Konstitusi. Mahkamah Konstitusi ini memiliki wewenang mengadili tingkat pertama dan
terakhir, yang putusannya bersifat final untuk menguji Undang-Undang terhadap Undang
Undang Dasar. Melalui kewenangan yang dimilikinya, Mahkamah Konstitusi dapat menguji:
apakah ketentuan dalam suatu peraturan perundang-undangan melanggar Hak Asasi
Manusia yang telah diatur dalam UUD 1945 atau tidak?

Melalui Putusannya, Mahkamah Konstitusi memberikan pengakuan terhadap masyarakat


adat13, memberikan pengakuan terhadap orang yang memeluk kepercayaan untuk
dicantumkan dalam kolom agama di KTP14 dan mendorong agar dinaikan usia perempuan
dalam syarat diperbolehkan menempuh pernikahan15. Ketiga putusan tersebut membawa
dampak yang signifikan terhadap upaya mencapai pemenuhan HAM dan mencapai
target SDGs/TPB, khususnya bagi Masyarakat Adat, kelompok minoritas dan perempuan.

13 Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 35/PUU-X/2012 tentang Pengujian UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, Pasal 1 angka 6, Pasal 4
ayat (3), Pasal 5 ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4), Pasal 67.
14 Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 97/PUU-XIV/2016 tentang Pengujian UU No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan,
Pasal 61 dan Pasal 64
15 Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 22/PUU-XV/2017 tentang Pengujian UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan terhadap UUD RI 1945,
Pasal 7 ayat (1)

26
Selanjutnya, mengenai rangkuman putusan Mahkamah Konstitusi tersebut secara rinci
dapat dilihat dalam daftar lampiran.

Mengajukan permohonan pengujian undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar 1945


melalui Mahkamah Konstitusi, supaya hasilnya maksimal, memerlukan berbagai persiapan
yang matang. Hal ini penting untuk diperhatikan, karena tidak mudah meyakinkan Hakim
Mahkamah Konstitusi dalam membatalkan suatu Undang-Undang, terlebih lagi posisi
Pemerintah dan DPR RI akan bertindak sebagai pihak yang mempertahankan produk
legislasinya, agar tidak dinyatakan bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945.

Pada umumnya berbagai langkah dilakukan oleh organisasi masyarakat sipil yang melakukan
advokasi, dengan cara melakukan pengujian atas suatu peraturan Perundang-undangan,
antara lain :
1. Membentuk Tim Advokasi
Hukum memiliki asas yang menyatakan semua orang dianggap tahu hukum, namun
faktanya banyak pihak tidak memperdulikan suatu kebijakan, kecuali ketika kebijakan
tersebut berdampak langsung kepada hak konstitusionalnya. Guna mengidentifikasi
apakah hak konstitusional, khususnya ketika terjadi pelanggaran Hak Asasi Manusia,
maka perlu dibentuk Tim Advokasi untuk pengidentifikasian produk kebijakan, yang
menghilangkan atau menghambat pelaksanaan hak konstitusional seseorang atau
sekelompok orang. Organisasi masyarakat sipil , yang memiliki perhatian khusus
terhadap suatu isu, akan lebih mudah mengidentifikasi peraturan perundang-undangan
yang merupakan pelanggaran hak konstitusional. Guna lebih mempermudah
pengidentifikasian, apakah suatu produk Perundang-undangan bertentangan dengan
norma dalam konstitusi, pada umumnya kelompok masyarakat sipil bekerjasama dengan
praktisi hukum dan akademisi hukum untuk membuat dan mengajukan permohonan
pengujian Undang-Undang ke Mahkamah Konstitusi.

2. Mempersiapkan Bukti
Pengujian Undang-undang berbeda dengan perkara litigasi pada suatu perkara hukum,
baik administrasi, perdata ataupun pidana. Pada perkara litigasi, umumnya ditekankan
pemeriksaan bukti untuk menemukan kebenaran atas suatu peristiwa, namun
dalam pengujian peraturan perundang-undangan pemeriksaan perkara selain untuk
memberikan gambaran Hakim Konstitusi atas dampak buruk peraturan perundang-
udangan terhadap hak konstitusional pemohon, selain itu juga untuk menunjukan,
bahwasanya norma dalam suatu Undang-Undang bertentangan dengan norma dalam
Undang-Undang Dasar. Pada umumnya, dalam pemeriksaan persidangan di Mahkamah
Konstitusi, peran ahli dalam menyampaikan argumen yang menjelaskan adanya
pertentangan norma antara ketentuan dalam Undang-Undang dengan Undang-Undang
Dasar 1945 menjadi penting. Ahli tersebut tidak hanya memiliki kompetensi dan kapasitas
yang berkaitan dengan ilmu di bidang hukum, namun juga merupakan pihak yang
memiliki keahlian di bidang tertentu, seperti: ahli lingkungan, ahli reproduksi, ahli filsafat
dan keahlian lain sesuai dengan isu yang diadvokasi. Oleh karena itu, mengajukan ahli

27
yang tepat dan kompeten, yang disertai dengan bukti pendukung lainnya, diharapkan
akan dapat memaksimalkan upaya advokasi dengan menggunakan ranah Mahkamah
Konstitusi

3. Melakukan Kampanye
Salah satu ciri yang membedakan pengujian peraturan perundang-undangan yang
diajukan oleh organisasi masyarakat sipil dengan pribadi atau korporasi yakni pada
kampanye yang dimainkan. Pada umumnya, organisasi masyarakat sipil yang sedang
melakukan pengujian peraturan perundang-undangan, menjadikan proses persidangan
sebagai panggung mereka dalam melakukan kampanye, untuk menyebarkan informasi
kepada publik ataupun pengambil kebijakan, bahwasanya peraturan atau kebijakan yang
mereka keluarkan salah dan merugikan banyak orang.

Walaupun suatu peraturan perundang-undangan berlaku untuk setiap orang, namun


pihak yang melakukan pengujian bisa satu atau perwakilan suatu kelompok orang
atau lembaga. Oleh kerena itu, menjadi penting untuk menyebarkan informasi kepada
masyarakat luas atas suatu kebijakan atau peraturan perundang-undangan yang
dianggap bertentangan atau berpotensi melanggar hak konstitusional. Dengan demikian,
diharapkan Hakim Konstitusi mendapat kesempatan untuk menggali nilai-nilai keadilan
dan perkembangan konstitusi di tengah masyarakat.

Praktek Monitoring Agenda SDGs Terkait HAM Pada Tujuan 16


di Uruguay (Studi Monitoring Tujuan 16 Pada Tingkat Negara)
Di Uruguay, Pusat Informasi dan Studi Uruguay (CIESU) merancang suatu kartu skor yang
menggabungkan indikator global (yaitu indikator SDGs 16 resmi), indikator pelengkap
(yaitu indikator SDGs 16 global yang disesuaikan dengan indikator nasional), serta indikator
pelengkap (yaitu tambahan, Indikator SDGs 16 khusus negara, untuk mengukur aspek yang
tidak ditangani oleh indikator global). Oleh karena indikator pelengkap hanya merupakan
“variasi” dari indikator global, CIESU memutuskan untuk menampilkan kedua jenis indikator
ini dalam tabel yang sama dan untuk menyajikan indikator pelengkap dalam tabel terpisah.

Kartu skor menunjukkan trend dalam evolusi indikator dari waktu ke waktu menggunakan
panah naik, netral atau turun. Klasifikasi tingkat global diperluas ke indikator nasional dan
kode warna digunakan untuk mengklasifikasikan indikator sebagai Tingkat 1 (hijau), Tingkat
2 (kuning) dan Tingkat 3 (merah). Selain itu, terdapat narasi untuk menggambarkan tindakan
yang diambil untuk mempercepat kemajuan pada setiap target di Tujuan 16, sekaligus daftar
aktor yang bertanggungjawab terhadap target tersebut.

Menarik untuk dilihat, bahwa Uruguay merupakan satu-satunya negara yang memasukkan
bab khusus tentang pelaksanaan dan pencapaian SDGs Tujuan 16 dalam Voluntary National

28
Review 2017, yang disajikan pada High Level Panel Forum 2017 (HLPF/Forum Politik Tingkat
Tinggi 2017). Bab khusus dalam VNR Uruguay 2017, secara eksplisit merujuk pada kartu
penilaian indikator, yang dihasilkan dari monitoring nasional, bersama dengan sejumlah
rekomendasi untuk meningkatkan pemantauan dan implementasi SDGs Tujuan 16

Menyadari posisi sentral SDGs Tujuan 16, yang terkait dengan pelaksanaan HAM dalam
kerangka Agenda 2030, Uruguay memulai sebuah inisiatif percontohan dengan tujuan
mengidentifikasi situasi suatu negara sehubungan dengan SDGs Tujuan 16, dan untuk
membahas serta mengusulkan indikator nasional dan membangun sistem pemantauan
nasional pada Tujuan 16 ini.

Tabel 2. Sampel Uruguay Kartu Skor Monitoring Agenda HAM dalam SDGs Tujuan 16

Terkait kerangka multipihak pada penyusunan laporan VNR Tujuan 16, Uruguay mengadakan
pertemuan workshop untuk proses VNR (sebanyak dua kali pada 2017), yang diselenggarakan
oleh pemerintah nasional dan Pusat Informasi dan Studi Uruguay (CIESU). Pertemuan ini
mempertemukan kurang lebih 140 pihak yang mewakili pemerintah nasional, akademisi/
universitas dan masyarakat sipil .

Proses multipihak dalam pelaporan Tujuan 16 VNR 2017 memiliki nilai lebih, yaitu hadirnya ruang
diskusi dan rekomendasi yang berasal dari multipihak dengan mengedepankan inklusivitas
dalam pelaporan pelaksanaan SDGs. Sehingga VNR Tujuan 16 Uruguay menghasilkan laporan
dan rekomendasi berdasarkan bukti, disertai perasaaan kepemilikan bersama multipihak
dalam pelaksanaan dan pencapaian agenda SDGs.

29
30
BAB IV
TAWARAN UPAYA
YANG BISA
DILAKUKAN
ORGANISASI
MASYARKAT SIPIL

Mendorong Integrasi Program HAM


dan SDGs/TPB

Proses pembentukan kebijakan SDGs –yang berjalan di


tingkat nasional– tentu menjadi tolak ukur implementasi
hingga tataran teknis di daerah, baik Provinsi maupun
Kota/Kabupaten. Belum lagi, kalau memperhatikan
dengan seksama fakta, bahwa kebijakan tentang HAM
dan SDGs masih belum menjawab problem mendasar
terkait “interrelasi” antara HAM dan SDGs yang secara
teoritis telah dipaparkan di atas. Dari hasil pencermatan
secara mendalam, paling tidak ada 3 (tiga) problem
mendasar yang terlihat.

Pertama, integrasi kebijakan HAM dan SDGs/TPB. Sebagai


tindak lanjut ratifikasi instrumen HAM internasional di
bidang HAM, pemerintah telah menyusun kebijakan
tentang HAM, yang dilanjutkan dengan penyusunan
program kerja di tingkat nasional maupun daerah.
Namun, lahirnya kebijakan nasional tentang SDGs/TPB,

31
belum diintegrasikan ke dalam kebijakan HAM. Dengan kata lain, kebijakan HAM dan SDGs/
TPB masih berdiri secara terpisah, seolah tidak ada relasi substantif di antara keduanya. Pada
bidang HAM, pemerintah menetapkan Rencana Aksi Hak Asasi Manusia untuk periode 2015
– 20191 sedangkan terkait SDGs/TPB, pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah No.
59 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan yang Berkelanjutan,
di mana kedua rencana aksi tersebut sebenarnya mengarah pada Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Nasional (“RPJMN”) 2015 – 20192.

Saat ini pemerintah sedang menyusun road map atau peta jalan Sustainable Development
Goals (SDGs) alias Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, yang diharapkan selesai pada
tahun ini.3 Dalam wawancara yang dilakukan pada bulan Januari 2019, Menteri Perencanaan
Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas)
Bambang P.S. Brodjonegoro mengungkapkan, bahwa peta jalan SDGs 2017-2030 ini akan
membantu penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) Indonesia yang
dibuat lima tahun sekali. Peta jalan ini diharapkan akan dapat segera dirampungkan, sehingga
tujuan-tujuan dalam SDGs/TPB dapat tercapai sesuai dengan target pada tahun 2030 nanti.

Peluang untuk mengintegrasikan kebijakan HAM dan SDGs/TPB sudah terbuka, karena pada
tahun 2019, RPJMN dan RANHAM akan berakhir, dan saat ini pemerintah sedang menyusun
RPJMN 2020-2025 dan RAN HAM 2020-2025. Momentum ini merupakan kesempatan
terbaik untuk melakukan penyelarasan kebijakan HAM dan SDGs/TPB, dengan sarana
pembangunan. Pencapaian negara terhadap HAM dan SDGs/TPB yang selaras dan sejalan
tentu membutuhkan integrasi kebijakan di antara keduanya.

Kedua, “buntut” dari terpisahnya kebijakan HAM dan SDGs/TPB adalah masalah mendasar
terkait kelembagaan. Mengacu pada hasil evaluasi RANHAM 2015-2019, yang dilakukan
oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional, yang memandang adanya permasalahan kordinasi
di tingkat Kementerian dan Pemerintah Daerah dalam mewujudkan agenda program
pembangunan. Fungsi dan peran Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) pada tingkat nasional dan
Badan Perencanaan Daerah pada tingkat daerah tidak hanya berperan sebagai perencana
dan pengawas, namun juga harus bisa memastikan pelaksana pada tingkat Kementerian
pada tingkat nasional dan Dinas pada tingkat daerah dapat melakukan koordinasi dengan
baik untuk mencapai tujuan yang ditargetkan.

Peran lembaga, seperti: Komnas HAM, Komnas Perempuan, Komnas Perlindungan Anak
1 RANHAM ditetapkan melalui Peraturan Presiden No. 75 Tahun 2015 Tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia.
2 Pasal 2 ayat (1) Peraturan Presiden No 59 Tahun 2017 menyebutkan: “Dengan Peraturan Presiden ini ditetapkan sasaran nasional
periode tahun 2017 sampai tahun 2019 dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019, yang selaras dengan TPB
sebagaimana tercantum dalam Lampiran dan merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Presiden ini.”
3 “Peta Jalan SDGs Ditargetkan Selesai Tahun Ini”, Hadijah Alaydrus, 21 Januari 2019, diakses dari https://ekonomi.bisnis.com/
read/20190121/9/880734/peta-jalan-sdgs-ditargetkan-selesai-tahun-ini, diakses pada 1 April 2019 pukul 1830 WIB.

32
Indonesia, Komisi Informasi Publik, Komisi Ombudsman dan instansi sejenisnya, memiliki
peran untuk melakukan kajian dan memberikan rekomendasi kepada pemerintah. Lembaga-
lembaga komisioner terkait dapat berperan membantu Menteri Perencanaan Pembangunan
Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, untuk turut terlibat secara aktif
dalam menyusun rencana aksi dan melakukan pengawasan.

Berdasarkan informasi yang kami peroleh, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas
HAM) bekerjasama dengan United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organisation
(UNESCO) telah mengembangkan instrumen monitoring pencapaian SDGs/TPB.
Pengembangan instrumen ini dilakukan dengan harapan dapat mendorong implementasi
SDGs/TPB secara lebih inklusif dan partisipatif, agar dapat mencapai seluruh target dan
memenuhi seluruh indikator SDGs/TPB di tahun 2030 yang akan datang4. Menteri PPN/
Bappenas sendiri, merupakan anggota dari Sekertariat Bersama RANHAM, yang bertugas:
mengkordinasikan, memantau dan mengevaluasi pelaksanaan RANHAM di Kementerian,
Lembaga dan Pemerintah Daerah serta menyampaikan laporan capaian pelaksanaan
RANHAM di Kementerian, Lembaga dan Pemerintah Daerah kepada Presiden setiap tahun5.
Terlihat jelas, signifikansi peran dari Kementerian PPN/Bappenas yang memiliki fungsi dan
kewenangan untuk menjadi “rumah bersama” bagi kebijakan, program dan pelaksanaan dari
substansi HAM dan SDGs/TPB.

Problem mendasar yang ketiga, adalah partisipasi publik, khususnya oleh masyarakat
sipil. Salah satu klaim yang menyatakan, bahwasanya SDGs/TPB lebih baik dari program
sebelumnya, yakni MDGs, adalah terkait metode partisipatif dalam mencapai target-
target yang telah ditetapkan. Hampir semua Rencana Aksi dan program yang disusun
oleh pemerintah memasukan klausul partisipasi masyarakat, namun tidak jelas di mana
porsi masyarakat dalam berpartisipasi dalam menjalankan program tersebut. Setidaknya
masyarakat ikut terlibat secara aktif dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi
dalam program-program yang disusun oleh pemerintah.

Pada proses perencanaan dan evaluasi kita bisa belajar dari Wonosobo, yang memasukan
element masyarakat –khususnya perwakilan kelompok rentan, dalam menyusun dan
mengevaluasi program-program kebijakan, untuk mewujudkan Wonosobo menjadi Kota
Ramah HAM. Pada proses pelaksanaan kita bisa belajar dari program bantuan hukum yang
diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional di bawah Kementerian Hukum
dan HAM RI, di mana negara menyediakan alokasi anggaran khusus bagi organisasi bantuan
hukum, yang dilaksanakan oleh masyarakat dalam proses pemberian bantuan hukum. Tentu
saja sebelum melibatkan masyarakat, pemerintah harus memastikan tingkat pengetahuan dan
pemahaman masyarakat melalui berbagai kegiatan pemberian informasi dan pengkaderan,
sehingga muncul kesadaran dalam masyarakat untuk terlibat dalam upaya pemajuan HAM
melalui program SDGs/TPB, sebagaimana yang dilakukan oleh masyrakat di Talangsari.

4 Komnas Ham, https://www.komnasham.go.id/index.php/news/2018/3/30/511/pendekatan-ham-untuk-mencapai-sdgs.html, diakses pada


25 Mei 2019.
5 Pasal 5 ayat (1) Peraturan Presiden No 75 Tahun 2014 Tentang Rencana Aksi Nasional HAM.

33
Pemantauan/Monitoring Program HAM dan SDGs

Pada pelaksanaan tujuan SDGs yang ambisius, yaitu pencapaian 17 Tujuan dan 169 target,
maka haruslah disertai dengan kemampuan monitoring dan akuntabilitas bersama dari semua
pihak. Usaha monitoring dan akuntabilitas tersebut idealnya disertai dengan suatu kerangka
kerja lengkap, yang mencakup tentang komitmen, fungsi, standard dan proses kelembagaan
yang saling terkait. Dengan demikian, sehingga diharapkan ada pertanggungjawaban dari
para aktor utama terhadap pencapaian tujuan.

Oleh karena itu, target dari instrumen pelaksanaan (means of implementation) merupakan
kunci untuk mewujudkan tujuan agenda serta dipandang sama pentingnya dengan tujuan
dan sasaran lainnya (dalam hal ini yaitu pendekatan dengan menggunakan prinsip HAM).
Oleh karenanya, dalam konteks tersebut, maka monitoring dan akuntabilitas dapat dipahami
sebagai komitmen bersama untuk memantau, mengevaluasi, berbagi dan mendiskusikan
kemajuan yang dicapai dalam pelaksanaan tujuan-tujuan yang disepakati.

Adanya suatu kerangka kerja monitoring dan akuntabilitas akan memungkinkan setiap
pemerintah dan aktor pembangunan untuk ikut berkontribusi dan mendapatkan manfaat
dari pemahaman yang lebih baik, tentang tantangan dan strategi yang efektif. Oleh karena itu,
kerangka kerja monitoring dan akuntabilitas yang efektif menjadi penting bagi keberhasilan
proses pelaksanaannya.

Dalam arti yang sempit, monitoring dan akuntabilitas mengacu pada hubungan hirarkis
vertikal, yang mengandalkan hubungan top-down yaitu dari atas ke bawah (Biela 2014).
Akuntabilitas vertikal berlaku secara eksternal pada pemerintah, yang secara formal
dilakukan melalui proses secara tidak langsung melalui warga dan masyarakat sipil, termasuk
media massa, di mana aktor-aktor eksternal tersebut berupaya untuk menegakkan standar
kinerja yang baik kepada para pejabat (Sharma 2008). Namun, pemahaman klasik tentang
akuntabilitas ini telah dikritik, karena semakin kurang masuk akal, dan terlalu sempit (Roberts
dalam Biela 2014).

Pemahaman tentang monitoring dan akuntabilitas telah melebar, sehingga mencakup


juga hubungan non-hirarkis, yang seringkali disebut terkait dengan konsep “akuntabilitas
horizontal” atau “akuntabilitas diagonal” (Bovens, 2007). Sementara akuntabilitas vertikal
ditandai dengan hubungan heirarkis prinsipal, akuntabilitas horizontal tidak demikian:
“Akuntabilitas horizontal mengacu pada mekanisme akuntabilitas yang tidak menyangkut
berbagai prinsipal politik dari lembaga heirarkis atau vertikal, tetapi menyangkut pemangku
kepentingan kunci lainnya, seperti masyarakat sipil dan aktor non pemerintah lainnya”.
Sebagai contoh, pemerintah memberlakukan akuntabilitas horizontal secara internal melalui
mekanisme kelembagaan untuk melakukan pengawasan serta checks and balances (saling
kontrol dan menjaga keseimbangan), dan mengacu pada kapasitas lembaga-lembaga

34
negara untuk memeriksa pelanggaran yang dilakukan oleh lembaga publik

Di sisi lain, akuntabilitas hibrida atau akuntabilitas diagonal, mengacu pada partisipasi
warga/masyarakat sipil (yaitu aktor dari hubungan akuntabilitas “vertikal”) dalam beberapa
mekanisme akuntabilitas “horisontal” (misalnya mekanisme pengawasan/watchdog negara,
seperti Komisi Nasional HAM). Oleh karena itu, akuntabilitas diagonal melibatkan warga
dalam menjalankan peran pengawasan baru dalam fungsi pengawasan negara, sehingga
meruntuhkan monopoli negara dalam “pengawasan eksekutif resmi”, yang bertujuan untuk
mengatasi keterbatasan dari efektivitas peran pengawasan masyarakat sipil yang biasanya
berlaku (Goetz dan Jenkins dalam Sharma 2008).

Peran warga dan masyarakat sipil dalam proses monitoring dan akuntabilitas yang lebih
meluas ini menekankan pada pentingnya akuntabilitas sosial sebagai mekanisme non-politik.
Akuntabilitas sosial penting dilakukan, dengan tujuan untuk memastikan agar pemerintah
senantiasa bertanggunjawab atas tindakan dan keteledorannya sendiri, khususnya terkait
gagalnya pemenuhan hak ekonomi kesejahteran serta sipil politik. Akuntabilitas sosial
terfokus pada aksi warga yang bertujuan untuk meminta pertanggungjawaban negara,
dengan menggunakan berbagai strategi, seperti: mobilisasi sosial, laporan pers dan tindakan
hukum dalam menangani isu-isu seperti: keamanan, independensi peradilan dan akses
terhadap keadilan, serta korupsi yang dilakukan pemerintah. Mekanisme ini memberikan
tambahan instrumen checks and balances terhadap negara untuk kepentingan umum,
sehingga berpeluang untuk mengekspos kasus politis dan kelalaian negara yang tidak akan
dapat diatasi oleh bentuk-bentuk akuntabilitas horisontal.

Meskipun mekanisme monitoring dan akuntablitas di atas memiliki berbagai macam bentuk,
segala bentuk pemantauan dan pertanggungjawaban secara konsisten mempunyai dimensi
dan nilai yang sama. Mekanisme yang diperlukan dalam monitoring dan akuntabilitas di
setiap tingkatan yaitu:

% Mekanisme pemantauan harus independen (namun bersifat partisipatif), dan dapat


memberikan analisa baseline yang kredibel, maupun pelaporan yang rutin dan transparan
tentang kemajuan pencapaian sasaran, serta dapat bersifat partisipatif .

% Mekanisme peninjauan didasarkan pada prinsip “mutual accountability” (akuntabilitas


timbal-balik) dan bersifat terbuka serta partisipatif. Mencakup seluruh pemangku
kepentingan dan multipihak untuk memperkuat proses peninjauan.

% Mekanisme penyelesaian akan memastikan, bahwa hasil monitoring berdampak pada


proses pelaksanaan. Penyelesaian masalah untuk mengatasi berbagai kekurangan dalam
mencapai kemajuan/kinerja dapat ditentukan secara kolaboratif antara para pemangku
kepentingan.

35
Usulan mekanisme monitoring harus dibangun pada satu badan/institusi representasi yang
luas, dan secara efektif terhubung dengan sistem yang ada dari tata kelola pelaksanaan SDGs
berbasis prinsip HAM. Adapun keanggotaannya diambil berdasarkan multipihak.

Institusi tersebut akan melakukan pertemuan setidaknya sekali dalam setahun, yang
berlangsung secara terbuka dan sepenuhnya transparan, untuk membahas kemajuan
pelaksanaan SDGs, dengan menggunakan pendekatan HAM, menerima masukan dan saran
dari panel ahli yang independen, serta memfasilitasi partisipasi yang seluas-luasnya dari
masyarakat. Selain hal tersebut, institusi ini harus memiliki kapasitas untuk melibatkan aktor di
luar wilayahnya yang relevan – terutama lembaga internasional, aktor masyarakat sipil, aktor
sektor swasta, serta kemitraan antara berbagai pemangku kepentingan (multistakeholder)
– untuk ikut berbagi tentang kontribusi mereka di tingkat negara bagi pencapaian SDGs,
dengan mengedepankan prinsip HAM dalam suatu diskusi publik.

Upaya yang Bisa Dilakukan


Praktik baik di berbagai wilayah, terkait kebijakan HAM yang sejalan dan selaras dengan
SDGs/TPB, yang dimulai pada proses pembentukan kebijakan, hingga pelaksanaan bersama
oleh pemerintah dan masyarakat sipil, dapat menjadi preseden yang baik untuk dilakukan di
wilayah lainnya, pada level daerah, baik Provinsi, maupun Kota/Kabupaten.

Masyarakat sipil/warga negara adalah subjek yang menjadi penerima manfaat utama dari
upaya-upaya yang dilakukan oleh negara dalam melakukan pemajuan HAM dan SDGs/TPB.
Pelibatan masyarakat terhadap berbagai perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi
pelaksanaan program-program pemajuan HAM dan SDGs/TPB menjadi sangat penting
untuk memastikan, bahwa pelaksanaan kewajiban negara atas HAM dan pencapaiaan tujuan
SDGs/TPB membawa dampak positif terhadap masyarakat.

Konsolidasi Jaringan Masyarakat Sipil

Lemahnya pengetahuan dan pemahaman publik terkait HAM dan SDGs/TPB bukan berarti
tidak ada sama sekali aktor dari masyarakat sipil yang memiliki pengetahuan dan pehamaman.
Dari praktik baik yang sudah dipaparkan sebelumnya, adanya 1 (satu) atau 2 (dua) aktor dari
masyarakat sipil yang memiliki pengetahuan dan pemahaman terkait HAM dan SDGs/TPB
sudah dapat menjadi pemantik bagi diseminasi HAM dan SDGs/TPB ke berbagai kelompok
masyarakat sipil lainnya. Oleh sebab itu, langkah konkret pertama, dalam mendorong
kebijakan HAM dan SDGs/TPB yang terintegrasi adalah konsolidasi jaringan masyarakat
sipil. Bagaimana, masyarakat sipil dari berbagai latar belakang spesifikasi HAM, dapat

36
berkonsolidasi dan saling merefleksikan situasi dan kondisi pemenuhan HAM di wilayahnya.
Refleksi empirik ini merupakan modalitas yang kuat, bagi proses pembentukan kebijakan dan
implementasi SDGs/TPB ke depannya.

Refleksi empirik ini dapat dilakukan dengan menganalisa apakah pemenuhan HAM telah
dilakukan oleh pemerintah, dan apa saja isu HAM yang telah mengalami kemajuan, serta
pelanggaran-pelanggaran yang masih terjadi. Dengan begitu, masyarakat sipil bukan saja
dapat mengidentifikasi apa kebutuhan HAM yang masih belum terpenuhi dan skala prioritas
pemenuhannya, tetapi juga aktor-aktor yang memiliki signifikansi dalam pemenuhan HAM,
baik sebagai pihak yang membantu pemenuhan, maupun pelanggar HAM itu sendiri. Forum-
forum diskusi yang terbuka dengan melibatkan CSO, kelompok rentan, jaringan komunitas
korban pelanggaran HAM, dapat menjadi sarana yang efektif untuk menggali refleksi empirik
terkait situasi dan kondisi HAM tersebut.

Pemetaan Kebutuhan: Prioritas Isu HAM

Kebutuhan akan pemenuhan HAM, serta isu HAM yang menjadi prioritas perlu digali
berdasarkan hasil refleksi masyarakat, dengan melibatkan komunitas korban pelanggaran
HAM, kelompok rentan, dan pihak penerima manfaat HAM lainnya. Berbagai metode
penelitian ilmiah untuk menggali kebutuhan HAM dan prioritas isunya telah banyak dilakukan
baik oleh masyarakat atau pemerintah.

Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan
tujuan dan kegunaan tertentu. Misalnya dengan metode survey, pengertian metode survey
adalah “Penelitian yang dilakukan dengan menggunakan angket sebagai alat penelitian yang
dilakukan pada populasi besar maupun kecil, tetapi data yang dipelajari adalah data dari
sampel yang diambil dari populasi tersebut, sehingga ditemukan kejadian relatif, distribusi,
dan hubungan antar variabel, sosiologis maupun psikologis”.6 Metode penelitian survey ini
dapat dilakukan dengan menyebarkan kuesioner. 7

6 Sugiyono, Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R&D, Bandung: Alfabeta, 2013, halaman 11.
7 Sugiyono, Statistika untuk Penelitian, Bandung: Alfabeta, 2003, halaman 7.

37
Mendesign &
Daftar Jadwal
Mengembangkan Design Survey
Pertanyaan Wawancara
instrument Survey

Seleksi Sampel Sumber Data

Kuantitatif Kualitatif
Pengambilan Data
Initial Analisis

Analisa Analisa Data

Diskusi dan
Pengembangan
Hasil
Model

Diagram 2. Pemetaan Kebutuhan Prioritas HAM8

Penelitian dengan metode survey ini ditujukan untuk mengumpulkan data, paling tidak
yang dapat menjawab apa saja permasalahan HAM yang di hadapi masyarakat, dan isu
HAM apa yang paling dibutuhkan untuk menjadi prioritas dalam pemenuhannya. Nantinya,
skala prioritas isu HAM inilah yang akan menjadi tolok ukur, dalam penyusunan program
pembangunan hingga di level teknis. Misalnya, apa saja 3 (tiga) isu HAM yang menjadi target
pemenuhannya dalam program pembangunan HAM dan SDGs/TPB di 1 (satu) tahun ke
depan

8 Diambil dari: http://www.waier.org.au/forums/2001/siragusa.html

38
Forum Bersama Multipihak

Hasil penelitian ilmiah mengenai apa saja kebutuhan HAM di masyarakat dan skala prioritas
pemenuhannya yang digali dari masyarakat, komunitas korban pelanggaran HAM, kelompok
rentan, dan para penerima manfaat HAM lainnya, kemudian didiskusikan bersama-sama
dalam sebuah forum multipihak. Forum multipihak ini diharapkan melibatkan seluruh aktor,
yang memiliki signifikansi terhadap pemenuhan HAM dan SDGs/TPB. Baik dari kalangan ahli/
akademisi, pelaku usaha/bisnis, filantropi, organisasi masyarakat dan lainnya yang relevan.

Forum multipihak ini sangatlah diperlukan. Ada beberapa alasannya. Pertama, Forum
multipihak ini dapat menjadi turning point atau titik tolak penyebarluasan pengetahuan
dan pemahaman HAM dan SDGs/TPB, kepada pihak-pihak yang relevan dan terkait dengan
kepentingan pemenuhan HAM dan pelaksanaan SDGs/TPB. Utamanya pihak yang dapat
mendukung. Dengan pelibatan pihak-pihak tersebut sejak awal diskursus publik tentang
HAM dan SDGs/TPB dibuka, maka akan diikuti dengan akseptansi yang memadai dari pihak-
pihak terhadap kebijakan HAM dan SDGs/TPB serta pelaksanaannya. Akseptansi pihak-pihak
inilah yang dapat menjadi tangga pertama pelibatan publik dalam proses ke depannya.
Kedua, forum juga dapat memperkaya substansi hasil penelitian, karena latar belakang yang
berbeda dari para pihak tersebut, tentu menghasilkan berbagai perspektif dan pemikiran
tentang HAM dan SDGs/TPB, utamanya terhadap hasil penelitian ilmiah yang telah dilakukan.

Usulan Regulasi

Adanya konsolidasi jaringan masyarakat sipil untuk isu HAM dan SDGs/TPB, lalu tersedianya
pemetaan berdasarkan penelitian ilmiah terkait kebutuhan HAM dan skala prioritas
pemenuhannya, yang dilengkapi dengan berbagai perspektif dan pemikiran dari multipihak,
telah menjadi modalitas yang memadai untuk melakukan inisiasi pembentukan kebijakan
tentang HAM dan SDGs/TPB kepada pemerintah. Dalam konteks ini, yang paling relevan
adalah kebijakan di level daerah Provinsi, atau Kota/Kabupaten, Peraturan Daerah (Perda)
misalnya.

Inisiasi kebijakan atau usulan pembentukan regulasi tentang HAM dan SDGs/TPB ini dapat
ditargetkan untuk menjadi sarana integrasi RANHAM dan RANTPB di level daerah. Selain
materi yang sudah dapat diusulkan sebagai substansi kebijakan, keberadaan forum bersama
multipihak juga dapat menjadi indikator pihak-pihak mana saja yang dapat dilibatkan sebagai
perwakilan dalam implementasi teknis kebijakan tersebut dan dimasukkan ke dalam rumusan
kebijakan sebagai tim pelaksana teknis.

39
Working Group (Kelompok Kerja)

Pihak-pihak yang dilibatkan sebagai perwakilan dalam implementasi teknis kebijakan


tersebut, atau dapat disebut sebagai tim pelaksana teknis, atau Kelompok Kerja (Working
Group), nantinya akan bekerjasama secara sinergis dengan Pemerintah Daerah. Komposisi
yang paling representatif adalah perwakilan CSO, ahli/akademisi, dan perwakilan komunitas
korban pelanggaran HAM serta kelompok korban.

Berbagai kebijakan di bidang HAM dan SDGs/TPB membuka ruang masyarakat dalam
berpartisipasi dan terlibat dalam upaya pemenuhan HAM dan SDGs/TPB. Undang-Undang
HAM memberikan ruang bagi setiap orang, kelompok, organisasi politik, organisasi
masyarakat, Lembaga Swadaya Masyarakat atau lembaga kemasyarakatan lainya berhak
berpatisipasi dalam perlindungan, penegakan dan pemajuan HAM, menyampaikan laporan
atas terjadinya pelanggaran HAM, mengajukan usulan mengenai perumusan dan kebijakan
yang berkaitan dengan HAM, melakukan penelitian, pendidikan dan penyebaran informasi
mengenai HAM9.

Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang P. S. Brodjonegoro menegaskan, bahwa pelibatan


peran masyarakat sipil yang tercakup ke dalam platform Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
(TPB) atau Sustainable Development Goals (SDGs) sangat penting untuk pencapaian
Tujuan TPB/SDGs. Peran Platform organisasi masyarakat sipil (OMS) dan media untuk
mendiseminasikan dan melakukan advokasi tentang SDGs/TPB, membangun pemahaman
dan kesadaran masyarakat, memfasilitasi program dan pelaksanaannya serta monitoring
dan evaluasi10. Partisipasi masyarakat dalam mencapai tujuan SDGs/TPB. Ruang-ruang
partisipasi masyarakat dalam upaya pembangunan yang berkelanjutan atas dasar HAM
harus dioptimalkan, dengan upaya meningkatkan kesadaran masyarakat untuk terlibat dalam
proses penyusunan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi program-program pemerintah
terkait HAM dan SDGs/TPB.

9 Partisipasi Masyarkat dalam bidang HAM tercantum dalam BAB VII Pasal 100 – 103 UU NO 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.
10 Bappenas, https://www.bappenas.go.id/id/berita-dan-siaran-pers/peran-masyarakat-sipil-untuk-kesuksesan-tpbsdgs/ diunduh pada 21
April 2019

40
41
DAFTAR PUSTAKA

UUD 1945 dan Landasan Hukum:


% Undang-Undang Dasar 1945
% Undang-Undang No 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia
% Undang-Undang No 16 Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum
% UU No 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana
% Peraturan Presiden No 59 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan Pencapiaan Tujuan yang
Berkelanjutan
% Peraturan Presiden Nomor 75 Tahun 2014 tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia
% Peraturan Daerah Kabupaten Wonosobo No 5 Tahun 2015 tentang Kabupaten Wonosobo
Ramah Hak Asasi Manusia
% Peraturan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional No. 7 Tahun 2018 tentang Koordinasi, Perencanaan, Pemantauan,
Evaluasi, dan Pelaporan Pelaksanaan Tujuan Pembangunan
% Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 35/PUU-X/2012 tentang Pengujian UU No. 41 Tahun
1999 tentang Kehutanan, Pasal 1 angka 6, Pasal 4 ayat (3), Pasal 5 ayat (1), ayat (2), ayat (3),
dan ayat (4), Pasal 67
% Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 97/PUU-XIV/2016 tentang Pengujian UU No. 23 Tahun
2006 tentang Administrasi Kependudukan, Pasal 61 dan Pasal 64
% Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor Nomor: 22/PUU-XV/2017 tentang Pengujian UU No. 1
Tahun 1974 tentang Perkawinan terhadap UUD RI 1945, Pasal 7 ayat (1).

Pustaka:
Antara News, “ILR Dorong Capres-Cawapres Prioritaskan Isu HAM”, dikutip pada 27
Mei 2018 dari https://pemilu.antaranews.com/berita/776739/ilr-dorong-capres-
cawapres-prioritaskan-isu-ham.
Aceh Tribun News, https://aceh.tribunnews.com/2017/05/10/empat-instansi-teken-mou-
isbat-nikah.
Bapenas, “Tujuan 16, Perdamaian, Keadilan dan Kelembagaan yang Tangguh”, diakses
dari http://sdgs.bappenas.go.id/perdamaian-keadilan-dan-kelembagaan-yang-
tangguh/#sasaran-global949b-715ce0be-414f , diakses pada 1 April 2019, pukul
20.00 WIB
Bapenas, “Peran Masyarakat Sipil Untuk kesuksesan TPB/SDGS”, dikutip pada 21 April
2019 dari https://www.bappenas.go.id/id/berita-dan-siaran-pers/peran-masyarakat-
sipil-untuk-kesuksesan-tpbsdgs/
Bapenas, https://www.bappenas.go.id/id/berita-dan-siaran-pers/peran-masyarakat-sipil-
untuk-kesuksesan-tpbsdgs/ diunduh pada 21 April 2019.BPHN, Evaluasi Implementasi

42
RANHAM 2015-2019 Dalam Ragka Mewujudkan Penghormatan, Pemenuhan,
Perlindungan, Penegakan dan Pemajuan HAM di Indonesia, Pohon Cahaya, Jakarta
2017.
Hadijah Alaydrus, “Peta Jalan SDGs Ditargetkan Selesai Tahun Ini”, 21 Januari 2019,
diakses dari https://ekonomi.bisnis.com/read/20190121/9/880734/peta-jalan-sdgs-
ditargetkan-selesai-tahun-ini, diakses pada 1 April 2019 pukul 1830 WIB.
HRWG, “Indeks HAM Indonesia 2018 Sebesar 0,42”, 18 Januari 2019, diakses dari https://
hrwg.org/2019/01/18/indeks-ham-indonesia-2018-sebesar-042/, diakses pada 18
April 2019 pukul 18.17 WIB.
Kementerian PPN/Bappenas, Pedoman Penyusunan Rencana Aksi Tujuan Pembangunan
Berkelanjutan (TPB)/Sustainable Development Goals (SDGs), Kementerian
Perencanaan Pembangunan Nasional/BAPPENAS 2017.
Kementerian Agama, https://aceh.kemenag.go.id/berita/368857/perwakilan-lsm-ika-jakarta-
alhamdulillah-itsbat-nikah-perdana-nisam-antara-lancar.
Komnas HAM, Laporan Tahunan Komnas HAM 2017, Komnas HAM, 2017.
Komnas HAM, “Pertama di Indonesia Komisi HAM Kabupaten Wonosobo”, dikutip pada
8 April 2019 dari https://www.komnasham.go.id/index.php/news/2018/11/6/664/
pertama-di-indonesia-komisi-ham-kabupaten-wonosobo-diresmikan.html.
Komnas HAM, https://www.komnasham.go.id/index.php/news/2018/3/30/511/pendekatan-
ham-untuk-mencapai-sdgs.html, diakses pada 25 Mei 2019.
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan
Nasional Bekerjasama dengan Universitas Padjajaran, “Kuliah Umum TPB/SDGs
Tantangan dan Strategi Pelaksanaan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB)/
Sustainable Development Goals (SDGs)”, Universitas Padjajaran Bandung, 4 April
2018.
Mimin Dwi Hartono, “Pendekatan HAM Untuk Mencapai SDGS”, 30 Maret 2019 diakses dari
https://www.Komnas HAM.go.id/index.php/news/2018/3/30/511/pendekatan-ham-
untuk-mencapai-sdgs.html, pada 1 April 2019
Program Peduli, “Perempuan di Balik Dusun Talangsari yang Tersenyum Kembali”, dikutip pada
30 Mei 2019 dari HYPERLINK https://programpeduli.org/blog/supiah-perempuan-
dibalik-dusun-talangsari-yang-tersenyum-kembali/
Program Peduli, “Laporan Narasi Teori Perubahan Korban Kasus Talangsari Lampung
(IKOHI Jakarta) Dalam Pelaksanaan Program Peduli”, 2014.
Program Peduli, “Laporan Narasi Teori Perubahan Korban 65 Sulawesi Tengah SKP-HAM
Dalam Pelaksanaan Program Peduli”, 2014.
PUSHAM UII, “Prinsip-prinsip Hak Asasi Manusia dalam Hukum Hak Asasi Manusia
Internasional”, dikutip pada 30 Mei 2019 dari https://pusham.uii.ac.id/ham/8_
Chapter2.pdf.
Rifaihadi, “Sejarah Singkat Munculnya UU Bantuan Hukum di Indonesia”, dikutip pada
29 Mei 2019 dari HYPERLINK http://www.rifaihadi.com/2018/08/17/sejarah-singkat-
munculnya-uu-bantuan-hukum-di-indonesia/

43
SKP HAM, “Ketika Walikota Meminta Maaf Kepada Korban”, dikutip pada 31 Mei 2019 dari
HYPERLINK https://www.skp-ham.org/76/ketika-walikota-meminta-maaf-kepada-
korban/
Sugiyono, Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R&D, Bandung: Alfabeta, 2013
Sugiyono, Statistika untuk Penelitian, Bandung: Alfabeta, 2003.
United Nation, The Foundation of International Human Rights Law.United Nations General
Assembly,  “a Resolution adopted by  the General Assembly on  25 September
2015  Number A/Res/70/1  (Transforming  Our World:  The 2030  Agenda
for Sustainable Development), (United Nation: 2015).
UN General Assembly, Transforming our world: the 2030 Agenda for Sustainable Development,
21 October 2015, Preamble.
UN, Unanimously Adopting Historic Sustainable Development Goals, General Assembly
Shapes Global Outlook for Prosperity, Peace. Catatan dari Sesi ke 70, Pertemuan ke
4, 5 dan 6 dari Sidang Umum PBB.
UPR, “Universal Periodic Review”, diakses dari https://www.ohchr.org/en/hrbodies/upr/
pages/uprmain.aspx, diakses pada pada 18 April 2019 pukul 18.17 WIB.
YLBHI, “Naskah Akademik RUU Bantuan Hukum Versi Masyarakat Sipil”, dikutip pada 29
Mei 2019 dari https://anggara.files.wordpress.com/2009/06/naskah-akademik-ruu-
bh-final.pdf
YLBHI, Pedoman Penyelenggaraan Bantuan Hukum di Daerah, YLBHI, Jakarta: 2018.
The Danish Institute for Human Rights, Human Rights and The 2030 Agenda for Sustainable
Development, Lesson Learned and Next Steps, 2018, hal. 3, 9. Lebih jauh, lihat http://
sdg.humanrights.dk/

44
45
LAMPIRAN
Tabel 3. Tabel Sinkronisasi RPJMN dengan Indikator Pelaksanaan Tujuan 16
SDGs/TPB dan Instrumen Hak Asasi Manusia (dalam lampiran)
Target Goal 16.1
Secara signifikan mengurangi segala bentuk kekerasan dan angka kematian di mana pun.
SASARAN NASIONAL RPJMN 2015-2019 INDIKATOR PELAKSANAAN INSTRUMEN HAK ASASI MANUSIA
1.1. Meningkatnya upaya keberlanjutan 1. Angka korban kejahatan pembunuhan UDHR (Universal Declaration Human Right)
pembangunan sosial yang ditandai per 100.000 penduduk berdasarkan Pasal 3
dengan terkendalinya kekerasan umur dan jenis kelamin. Setiap orang berhak atas kehidupan, kebebasan
terhadap anak, perkelahian, Kekerasan 2. Jumlah kasus kejahatan pembunuhan dan keselamatan sebagai induvidu.
Dalam Rumah Tangga (KDRT), dan pada Pasal 5
meningkatnya keamanan yang satu tahun terakhir. Tidak seorang pun boleh disiksa atau diperlakukan
tercermin dalam rendahnya konflik 3. Kematian disebabkan konflik per secara kejam, diperlakukan atau dihukum
horizontal dan rendahnya tingkat 100.000 secara tidak manusiawi atau dihina.
kriminalitas penduduk terpilah berdasarkan jenis ICCPR (International Covenant on Civil and Politic
kelamin, umur dan penyebab kematian. Rights) Pasal 6.1, 7, 9.1
4. Kematian disebabkan konflik per ICERD (International Convention on The Elimination
100.000 of All Forms on Racial Discrimination) Pasal 5, 5.b
penduduk. CRC (Convention on the Rights of the Child ) Pasal
5. Proporsi penduduk yang mengalami 6.1, 6.2, 19.1, 19.2, 38.2, 38.3
kekerasan secara fisik, psikologi atau CRPD (Convention on the Right of Person with
seksual dalam 12 bulan terakhir. Disability) Pasal 10, 16.1, 16.2, 16.3
6. Proporsi penduduk yang menjadi korban ICRMW (International Convention on the protection
kejahatan kekerasan dalam 12 bulan of the Migrant Worker) Pasal 9, 10, 16.1, 16.1
terakhir. ICPPED (International Convention for the Protection
7. Proporsi penduduk yang merasa aman of All Persons from Enforced Disappearance) Pasal
berjalan sendirian di area tempat 1.1, 1.2, 2, 5
tinggalnya. UNDRIP (United Nations Declaration on the Rights
of Indigenous Peoples) Pasal 7.1, 7.2, 22.2
DEVAW (Declaration on the Elimination of Violence
Against Women) Komentar 1
CPPCG (Convention on the Prevention and
Punishment of the Crime of Genocide) Komentar 1

Target SDGS 16.2.


Menghentikan perlakuan kejam, eksploitasi, perdagangan, dan segala bentuk kekerasan dan penyiksaan terhadap anak.
SASARAN NASIONAL RPJMN 2015-2019 INDIKATOR PELAKSANAAN INSTRUMEN HAK ASASI MANUSIA
2.1 Menurunnya prevalensi kekerasan 1. Proporsi anak umur 1-17 tahun yang UDHR
terhadap anak pada tahun 2019 (2013: mengalami hukuman fisik dan/atau Pasal 3
38,62% untuk anak laki-laki dan 20,48% agresi psikologis dari pengasuh dalam Setiap orang berhak atas kehidupan, kebebasan
untuk anak perempuan) sebulan terakhir. dan keselamatan sebagai individu.
2. Proporsi rumah tangga yang memiliki Pasal 4
anak umur 1-17 tahun, yang mengalami Tidak seorang pun boleh diperbudak atau
hukuman fisik dan/atau agresi psikologis diperhambakan; perhambaan dan perdagangan
dari pengasuh dalam setahun terakhir. budak dalam bentuk apa pun mesti dilarang.
3. Prevalensi kekerasan terhadap anak laki- Pasal 5
laki dan anak perempuan. Tidak seorang pun boleh disiksa atau
4. Angka korban perdagangan manusia diperlakukan secara kejam, diperlakukan atau
per 100.000 penduduk menurut jenis dihukum secara tidak manusiawi atau dihina.
kelamin, kelompok umur dan jenis
eksploitasi. ICCPR Pasal 7, 8.1, 8.2, 8.3.a, 9.1
5. Proporsi perempuan dan laki-laki muda ICESCR (International Covenant on Economic,
umur 18-29 tahun, yang mengalami Social and Cultural Rigts) Pasal 10, 10.3
kekerasan seksual sebelum umur 18 ICERD Pasal 5, 5.b
tahun. CRC Pasal 19.1, 19.2, 20.1, 33, 34, 34.a, 34.b, 34.c, 35,
6. Proporsi perempuan dan laki-laki muda 36,
umur 18-24 tahun, yang mengalami CEDAW (Internationl Convention on Elimination of
kekerasan seksual sebelum umur 18 All Forms of Discrimination Againts Women) Pasal 6
tahun. CRPD Pasal 16.1, 16.2, 16.3, 27.2
CAT (Convention against Torture and Other Cruel,
Inhuman or Degrading Treatment or Punishment)
komentar 1
ICRMW Pasal 10, 11.1, 11.2, 16.1, 16.2
UNDRIP Pasal 7.1, 7.2, 17.2, 22.2
CTOC (United Nation Convention against
Transnational Organized Crime) komentar 1

46
Target SDGs 16.3
Menggalakkan kedaulatan hukum di tingkat nasional dan internasional dan menjamin akses yang sama terhadap keadilan bagi semua.
SASARAN NASIONAL RPJMN 2015-2019 INDIKATOR PELAKSANAAN INSTRUMEN HAK ASASI MANUSIA
3.1 Jumlah orang atau kelompok 1. Proporsi korban kekerasan dalam 12 UDHR
masyarakat miskin yang memperoleh bulan lalu, yang melaporkan kepada Pasal 6
bantuan hukum litigasi sebanyak 3.021 pihak berwajib atau pihak berwenang Setiap orang berhak atas pengakuan di depan
orang dan non litigasi sebanyak 3.654 yang diakui dalam mekanisme resolusi hukum sebagai manusia pribadi di mana saja ia
orang pada tahun 2019. konflik. berada.
2. Proporsi korban kekerasan dalam 12 Pasal 7
bulan terakhir, yang melaporkan kepada Semua orang sama di depan hukum dan berhak
polisi. atas perlindungan hukum yang sama tanpa
3. Jumlah orang atau kelompok masyarakat diskriminasi. Semua berhak atas perlindungan
miskin, yang memperoleh bantuan yang sama terhadap setiap bentuk diskriminasi,
hukum litigasi dan non litigasi. yang bertentangan dengan Deklarasi ini, dan
4. Jumlah pelayanan peradilan bagi terhadap segala hasutan yang mengarah pada
masyarakat miskin melalui sidang di luar diskriminasi semacam ini.
gedung pengadilan; pembebasan biaya Pasal 8
perkara; dan Pos Layanan Hukum. Setiap orang berhak atas pemulihan yang efektif
5. Proporsi tahanan terhadap seluruh dari pengadilan nasional, yang kompeten untuk
tahanan dan narapidana. tindakan-tindakan, yang melanggar hak-hak dasar,
6. Proporsi tahanan yang melebihi masa yang diberikan kepadanya oleh undang-undang
penahanan terhadap seluruh jumlah dasar atau hukum.
tahanan. Pasal 10
Setiap orang, dalam persamaan yang penuh,
berhak atas peradilan yang adil dan terbuka
oleh pengadilan yang bebas dan tidak memihak,
dalam menetapkan hak dan kewajiban-kewajibannya
serta dalam setiap tuntutan pidana yang dijatuhkan
kepadanya.

ICCPR Pasal 2.3., 2.3.a, 2.3.b, 2.3.c, 14.1, 14.2, 14.3,


14.3.a, 14.3.b, 14.3.c, 14.3.d, 14.3.e, 14.3.f, 14.3.g, 14.4,
14.5, 14.6, 14.7, 16
ICERD Pasal 5, 5.a, 6
CRC Pasal 12.2
CEDAW Pasal 15.1, 15.2
CRPD Pasal 13.1, 13.2

Goal 16.4 SDGs


Pada tahun 2030 secara signifikan mengurangi aliran dana gelap maupun senjata, menguatkan pemulihan dan pengembalian aset
curian dan memerangi segala bentuk kejahatan yang terorganisasi.
SASARAN NASIONAL RPJMN 2015-2019 INDIKATOR PELAKSANAAN INSTRUMEN HAK ASASI MANUSIA
1. Total nilai aliran dana gelap masuk dan CTOC komentar 1
keluar negeri (dalam US$).
2. proporsi senjata api dan senjata
ringan yang disita, yang terdaftar dan
terlacak, yang sesuai dengan standar
internasional dan ketentuan hukum.

Target 16.5
Secara substansial mengurangi korupsi dan penyuapan dalam segala bentuknya.
SASARAN NASIONALRPJMN 2015-2019 INDIKATOR PELAKSANAAN INSTRUMEN HAK ASASI MANUSIA
5.1 Meningkatnya Indeks Perilaku Anti 1. Proporsi penduduk yang memiliki paling ICESCR Pasal 2.1
Korupsi (IPAK) menjadi 4.0 pada tahun tidak satu kontak hubungan dengan UNCAC (United Nation Convention Against
2019 (2015: 3.6) petugas, yang membayar suap kepada Corruption) komentar 1
petugas atau diminta untuk menyuap
petugas tersebut dalam 12 bulan
terakhir.
2. Indeks Perilaku Anti Korupsi (IPAK).
3. Proporsi pelaku usaha yang paling
tidak memiliki kontak dengan petugas
pemerintah dan yang membayar suap
kepada seorang petugas, atau diminta
untuk membayar suap oleh petugas-
petugas, selama 12 bulan terakhir.

47
Target 16.6
Mengembangkan lembaga yang efektf, akuntabel, dan transparan di semua tingkat.
SASARAN NASIONALRPJMN 2015-2019 INDIKATOR PELAKSANAAN INSTRUMEN HAK ASASI MANUSIA
6.1 Meningkatnya persentase opini 1. Proporsi pengeluaran utama pemerintah ICCPR Pasal 2.2
Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) terhadap anggaran yang disetujui. ICESCR Pasal 2.1
atas laporan keuangan pada tahun 2. Persentase peningkatan opini Wajar ICERD Pasal 2.2
2019 untuk Kementerian/Lembaga: Tanpa Pengecualian (WTP) atas Laporan CRC Pasal 4
95%., Provinsi: 85%, Kabupaten: 60%, Keuangan Kementerian/ Lembaga dan CEDAW Pasal 3
Kota: 65% (2015 untuk Kementerian/ Pemerintah Daerah (Provinsi/Kabupaten/
Lembaga: 74%, Provinsi: 52%. Kota).
Kabupaten: 30%, Kota: 41%). 3. Persentase peningkatan Sistem
Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (SAKIP)
6.2. Meningkatnya persentase Skor B Kementerian/Lembaga dan Pemerintah
atas Sistem Akuntabilitas Kinerja Daerah (Provinsi/ Kabupaten/Kota).
Instansi Pemerintah (SAKIP) untuk 4. Persentase penggunaan E-procurement
Kementerian/Lembaga:85%., Provinsi: terhadap belanja pengadaan.
75%, Kabupaten/Kota: 50% pada 5. Persentase instansi pemerintah
tahun 2019 (2015 untuk Kementerian/ yang memiliki nilai Indeks Reformasi
Lembaga: 60,24%, Provinsi: 30,30%. Birokrasi Baik Kementerian/Lembaga
Kabupaten/Kota: 2,38%). dan Pemerintah Daerah (Provinsi/
Kabupaten/Kota).
6.3. Meningkatnya penggunaan 6. Proporsi penduduk yang puas terhadap
E-procurement terhadap belanja pengalaman terakhir atas layanan publik.
pengadaan menjadi 80% pada tahun 7. Persentase Kepatuhan pelaksanaan UU
2019 (2013: 30%). Pelayanan Publik Kementerian/Lembaga
dan Pemerintah Daerah (Provinsi/
6.4. Meningkatnya persentase instansi Kabupaten/Kota).
pemerintah yang memiliki nilai
Indeks Reformasi Birokrasi Baik untuk
Kementerian/Lembaga menjadi 75%.,
Provinsi: 60%, Kabupaten/Kota: 45%
pada tahun 2019 (2015 untuk K/L: 47%,
Provinsi: N/A, Kabupaten/Kota: N/A).

6.5. Meningkatnya persentase Kepatuhan


pelaksanaan UU Pelayanan Publik
untuk Kementerian: 100%, Lembaga:
100%, Provinsi: 100%, Kabupaten/Kota:
80% pada tahun 2019.

Target 16.7
Menjamin pengambilan keputusan yang responsif, inklusif, partisipatif dan representatif di setiap tingkatan.
SASARAN NASIONAL RPJMN 2015-2019 INDIKATOR PELAKSANAAN INSTRUMEN HAK ASASI MANUSIA
7.1. Meningkatnya keterwakilan 1. Proporsi jabatan (menurut kelompok UDHR
perempuan di DPR dan DPRD (Hasil umur, jenis kelamin, disabilitas dan Pasal 21.1
Pemilu 2014 untuk DPR: 16,6%). kelompok masyarakat) di lembaga publik Setiap orang berhak turut serta dalam pemerintahan
(DPR/DPRD, pelayanan publik, peradilan) negaranya, secara langsung atau melalui
7.2. Meningkatnya keterwakilan dibanding distribusi nasional. wakil-wakil yang dipilih dengan bebas.
perempuan sebagai pengambil 2. Persentase keterwakilan perempuan
keputusan di lembaga eksekutif di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) ICCPR Pasal 25, 25.a, 25.b, 25.c
(Eselon I dan II) (2014: Eselon I = dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah ICERD Pasal 5, 5.c
20,66% dan Eselon II = 16,39%). (DPRD). CRC Pasal 12.1
3. Persentase keterwakilan perempuan CEDAW Pasal 7, 7.a, 7.b, 7.c
7.3. Meningkatnya Indeks Lembaga sebagai pengambilan keputusan di CRPD Pasal 4.3
Demokrasi menjadi 71 pada tahun lembaga eksekutif (Eselon I dan II). ICRMW Pasal 41.1, 41.2, 42.1, 42.2, 42.3
2019 (2015: 66,87). Proporsi penduduk yang percaya UNDRIP Pasal 5, 18
pada pengambilan keputusan yang UNFCCC (United Nations Framework Convention
7.4. Meningkatnya Indeks Kebebasan Sipil inklusif dan responsif menurut jenis on Climate Change) Pasal 4.1, 4.1.i, 6, 6.a, 6.a.i, 6.a.ii,
menjadi 87 pada tahun 2019 (2015: kelamin, umur, difabilitas dan kelompok 6.a.iii, 6.b, 6.b.i, 6.b.ii
80,30). masyarakat. CBD (Convention on Biological Diversity) Pasal 8, 8.j,
7.5. Meningkatnya Indeks Hak-hak Politik 4. Indeks Lembaga Demokrasi. 14.1, 14.1.a
menjadi 68 pada tahun 2019 (2015: Indeks Kebebasan Sipil.
70,63). Indeks Hak-hak Politik.

48
Target SDGs 16.8
Memperluas dan meningkatkan partisipasi negara berkembang di dalam lembaga tata kelola global.
SASARAN NASIONAL RPJMN 2015-2019 INDIKATOR PELAKSANAAN INSTRUMEN HAK ASASI MANUSIA
Tidak diatur dalam RPJM, namun Proporsi keanggotaan dan hak UDHR
merupakan pengembangan dari Indikator pengambilan keputusan dari negara- Pasal 28
Global yang dikembangkan negara berkembang di organisasi Setiap orang berhak atas suatu tatanan sosial dan
internasional. internasional di mana hak-hak dan kebebasan-
kebebasan yang termaktub di dalam Deklarasi ini
dapat dilaksanakan sepenuhnya.

ICCPR Pasal 1.1


ICESCR Pasal 1.1

Target SDGs 16.9


Pada tahun 2030, memberikan identitas yang sah bagi semua, termasuk pencatatan kelahiran.
SASARAN NASIONAL RPJMN 2015-2019 INDIKATOR PELAKSANAAN INSTRUMEN HAK ASASI MANUSIA
1.1. Meningkatnya cakupan pelayanan 1. Poporsi anak umur di bawah 5 tahun, UDHR Pasal 15.1
dasar kepemilikan akte lahir untuk yang kelahirannya dicatat oleh lembaga ICCPR Pasal 24.2, 24.3
penduduk 40% berpendapatan pencatatan sipil, menurut umur. ICERD Pasal 5, 5.d, 5.d.iii
terbawah menjadi 77,4% pada tahun 2.. Persentase kepemilikan akte kelahiran CRC Pasal 7.1, 7.2
2019. untuk penduduk 40% berpendapatan CEDAW Pasal 9.1, 9.2
terbawah. CRPD 18.1, 18.1.a, 18.1.b, 18.2
1.2. Meningkatnya persentase anak yang 3. Persentase anak yang memiliki akte UNDRIP Pasal 6, 33.1
memiliki akte kelahiran menjadi 85% kelahiran.
pada tahun 2019 (2015: 75%)

Target SDGs 16.10


Menjamin akses publik terhadap informasi dan melindungi kebebasan mendasar, sesuai dengan peraturan nasional dan kesepakatan
internasional.
SASARAN NASIONAL RPJMN 2015-2019 INDIKATOR PELAKSANAAN INSTRUMEN HAK ASASI MANUSIA
10.1. Jumlah kasus terverifikasi atas UDHR
pembunuhan, penculikan dan Pasal 3
penghilangan paksa, penahanan Setiap orang berhak atas kehidupan, kebebasan dan
sewenang-wenang dan penyiksaan keselamatan sebagai induvidu.
terhadap jurnalis, awak media, serekat Pasal 5
pekerja dan pembela HAM dalam 12 Tidak seorang pun boleh disiksa atau diperlakukan
bulan terakhir secara kejam, diperlakukan atau dihukum
10.1 (a) Jumlah penangaan pengadian secara tidak manusiawi atau dihina.
pelanggaran HAM Pasal 12
10.1 (b) Jumlah penanganan pengaduan Tidak seorang pun boleh diganggu urusan
pelanggaran HAM perempuan pribadinya, keluarganya, rumah tangganya atau
terutama kekerasan terhadap hubungan surat menyuratnya dengan sewenang-
perempuan wenang; juga tidak diperkenankan melakukan
10.2 Jumlah negara yang mengadopsi dan pelanggaran atas kehormatan dan nama baiknya.
melaksanakan konstitusi, statutory Setiap orang berhak mendapat perlindungan
dan/atau jaminan kebijakan untuk hukum terhadap gangguan atau pelanggaran
akses publik pada informasi seperti ini.
10.2 (a) Tersedianya Badan Publik yang Pasal 19
menjalankan kewajiban diatur dalam Setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai
UU No 14 Tahun 2008 Tentang dan mengeluarkan pendapat; dalam hal ini
Keterbukaan informasi publik termasuk kebebasan menganut pendapat tanpa
10.2.(b) Presentase penyelesaian sengketa mendapat gangguan, dan untuk mencari, menerima
informasi pubik melalui mediasi dan/ dan menyampaikan keterangan-keterangan dan
atau judikasi non litigasi pendapat dengan cara apa pun dan dengan
10.2. (c ) Jumlah kepemilikan sertifikat tidak memandang batas-batas.
Pejabat Pengelola Informasi dan
Dokumenasi (PPID) untuk mengukur ICCPR Pasal 6.1, 7, 9.1, 19.1, 19.2
kualitas PPID dalam menjalankan ICERD Pasal 5, 5.b, 5.d, 5.d.ix, 5.d.viii
tugas dan fungsi sebagaimana CRC Pasal 13.1, 14.1, 15.1, 16.1, 16.2, 17, 17.d, 17.3
diatur dalam peraturan perundang- CRPD Pasal 10, 14.1, 14.1.a, 14.1.b, 15.1
undangan CAT Komentar 1
ICRMW Pasal 9, 10, 13.1, 13.2, 16.4
ICPPED Pasal 1.1, 1.2, 2, 5
UNDRIP Pasal 7.1, 16.1, 16.2
DEVAW Komentar 1

49
Target SDGs 16.a
Memperkuat lembaga-lembaga nasional yang relevan, termasuk melalui kerjasama internasional, untuk membangun kapasitas di semua
tingkatan, khususnya di negara berkembang, untuk mencegah kekerasan serta memerangi radikalisme dan terorisme
SASARAN NASIONAL RPJM INDIKATOR PELAKSANAAN INSTRUMEN HAK ASASI MANUSIA
Tersedianya lembaga hak asasi manusia ICCPR art 2.2
(HAM) nasional yang independen, yang ICESR Pasal 11.1
sejalan dengan Paris Principles.

Target SDGs 16.b


Menggalakkan dan menegakkan undang-undang dan kebijakan yang tidak diskriminatif untuk pembangunan berkelanjutan.
SASARAN NASIONAL RPJM INDIKATOR PELAKSANAAN INSTRUMEN HAK ASASI MANUSIA
1. Proporsi penduduk yang melaporkan UDHR
mengalami diskriminasi dan pelecehan Pasal 2
dalam 12 bulan lalu berdasarkan pada Setiap orang berhak atas semua hak dan
pelarangan diskriminasi menurut hukum kebebasan-kebebasan yang tercantum di dalam
HAM Internasional. Deklarasi ini, dengan tidak ada pengecualian apa
2. Jumlah kebijakan yang diskriminatif pun, seperti pembedaan ras, warna kulit, jenis
dalam 12 bulan lalu berdasarkan kelamin, bahasa, agama, politik atau pandangan
pelarangan diskriminasi menurut hukum lain, asal-usul kebangsaan atau kemasyarakatan, hak
HAM Internasional. milik, kelahiran ataupun kedudukan lain.
Pasal 21.1
Setiap orang berhak turut serta dalam pemerintahan
negaranya, secara langsung atau melalui wakil-wakil
yang dipilih dengan bebas.
Pasal 21.2
Setiap orang berhak atas kesempatan yang sama
untuk diangkat dalam jabatan pemerintahan
negaranya.
Pasal 22
Setiap orang, sebagai anggota masyarakat, berhak
atas jaminan sosial dan berhak akan terlaksananya
hak-hak ekonomi, sosial dan budaya yang sangat
diperlukan untuk martabat dan pertumbuhan
bebas pribadinya, melalui usaha-usaha nasional
maupun kerjasama internasional,
dan sesuai dengan pengaturan serta sumber daya
setiap negara.
Pasal 25.1
Setiap orang berhak atas tingkat hidup yang
memadai untuk kesehatan dan kesejahteraan
dirinya dan keluarganya, termasuk hak atas pangan,
pakaian, perumahan dan perawatan kesehatan serta
pelayanan sosial yang diperlukan, dan berhak atas
jaminan pada saat menganggur, menderita sakit,
cacat, menjadi janda/duda, mencapai usia lanjut
atau keadaan lainnya, yang mengakibatkannya
kekurangan nafkah, yang berada di luar
kekuasaannya.

ICCPR art 2.1, 2.2, 25, 25.a, 25.b, 25.c


ICESR Pasal 2.1, 2.2, 9, 11.1, 11.2
ICERD Pasal 1.1, 1.4, 2.2, 5, 5.a, 5.c, 5.e, 5.e.i, 6
CRC Pasal 2.1, 2.2, 4, 19.1, 19.2, 26.1, 26.2
CEDAW Pasal 1, 2, 2.a, 2.b, 2.c, 2.d, 2.e, 2.f, 2.g, 3, 7, 7.a,
7.b, 7.c, 11.2, 11.2.c, 13, 14.2, 14.2.a, 15.1, 15.2, 15.3, 15.4
CRPD Pasal 4.1, 4.1.a, 4.1.b, 4.1.c, 4.2, 13.1, 13.2, 28.2,
28.2.b, 28.2.c
ICRMW Pasal 7, 27.1, 43.1, 43.1.c, 84
UNDRIP Pasal 3, 5, 15.2, 20.1, 20.2, 21.1, 21.2

50
Tabel 4. Tabel Pengakuan Terhadap Masyarakat Adat (Putusan MK Nomor: 35/
PUU-X/2012 tentang Pengujian UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, Pasal 1
angka 6, Pasal 4 ayat (3), Pasal 5 ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4), Pasal 67)

Pengakuaan Terhadap Masyarakat Adat


Putusan MK Nomor :35/PUU-X/2012 tentang Pengujian UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, Pasal 1 angka 6, Pasal 4 ayat (3),
Pasal 5 ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4), Pasal 67
Pertimbangan Hukum Hal Amar Putusan
[3.12.3] 169 1. Mengabulkan Permohonan Untuk Sebagian:
Dengan perlakuan hutan adat sebagai bagian dari hutan Negara, 1.1. Kata “Negara” ada Pasal 1 angka 6 Undang
masyarakat hukum adat secara potensial, atau bahkan dalam Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan
kasus-kasus tertentu secara faktual, kehilangan haknya atas hutan bertentangan dengan UUD RI Tahun 1945
sebagai sumber daya alam untuk kehidupannya, termasuk hak 1.2. Kata “Negara” pada Pasal 1 angka 6 Undang Undang
tradisionalnya, sehingga masyarakat hukum adat mengalami Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan tidak
kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dari hutan sebagai mempunyai kekuatan hukum yang mengikat, sehingga
sumbernya. pengertian hutan adat adalah hutan yang berada
dalam wilayah masyarakat hukum adat.
[3.12.4] 170 1.3. Pasal 4 ayat (3) Undang Undang Nomor 41 Tahun
1. Keadaan sebagaimana diuraikan di atas sebagai akibat 1999 tentang Kehutanan bertentangan dengan UUD
berlakunya norma yang tidak menjamin kepastian hukum dan RI Tahun 1945 sepanjang tidak dimaknai “penguasaan
menimbulkan ketidakadilan terhadap masyarakat hukum adat hutan oleh Negara tetap memperhatikan hak
dalam kaitannya dengan hutan sebagai sumber kehidupan masyarakat hukum adat, sepanjang masih hidup dan
masyarakat adat. sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip
2. Subjek hukum dalam Undang-Undang Kehutanan memperoleh Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam
kejelasan mengenai hak-haknya atas hutan. Sedangkan undang undang”.
masyarakat hukum adat berada dalam posisi yang lemah 1.4. Pasal 4 ayat (3) Undang Undang Nomor 41 Tahun 1999
karena tidak diakuinya hak-hak mereka secara jelas dan tegas tentang Kehutanan tidak mempunyai kekuatan hukum
ketika berhadapan dengan negara dengan hak menguasai yang mengikat sepanjang tidak dimaknai “penguasaan
sangat kuat. hutan oleh Negara tetap memperhatikan hak
[3.13.1] 170-173 masyarakat hukum adat, sepanjang masih hidup dan
1. Keberadaan hutan adat dalam kesatuannya dengan wilayah hak sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip
ulayat dari suatu masyarakat hukum adat adalah konsekuensi Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam
pengakuan terhadap hukum adat sebagai Living Law undang undang”.
2. Pengakuan tercantum pada Putusan Mahkamah Nomor 3/ 1.5. Pasal 5 ayat (1) Undang Undang Nomor 41 Tahun 1999
PUU-VIII/2010 bertanggal 16 Juni 2011, Paragraf 3.14.4, tentang Kehutanan bertentangan dengan UUD RI
Pada Pasal 33 ayat (3) UUD 1945, menyebutkan sebesar-besar Tahun 1945 sepanjang tidak dimaknai “Hutan negara
kemakmuran rakyatlah yang menjadi ukuran utama bagi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, tidak
negara dalam menentukan pengurusan, pengaturan atau termasuk hutan adat”.
pengelolaan atas bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung 1.6. Pasal 5 ayat (1) Undang Undang Nomor 41 Tahun 1999
di dalamnya. tentang Kehutanan tidak mempunyai kekuatan hukum
Penguasaan Negera juga harus memerhatikan hak-hak individu mengikat sepanjang tidak dimaknai “Hutan negara
dan kolektif yang dimiliki masyarakat hukum adat (hak ulayat), sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, tidak
hak masyarakat adat, dan hak konstitusional lainnya termasuk hutan adat”.
3. Berdasarkan Prinsip 22 Rio Declaration on Environment and 1.7. Pasal 5 ayat (1) Undang Undang Nomor 41 Tahun 1999
Development menyatakan Masyarakat hukum adat mempunyai tentang Kehutanan bertentangan dengan UUD RI
peranan penting dalam pengelolaan dan pembangunan Tahun 1945.
lingkungan hidup karena pengetahuan dan praktik tradisional. 1.8. Pasal 5 ayat (1) Undang Undang Nomor 41 Tahun 1999
Oleh karenanya negara harus mengenal dan mendukung tentang Kehutanan tidak mempunyai kekuatan hukum
entitas, kebudayaan, dan kepentingan mereka serta mengikat.
memberikan kesempatan untuk berpartisipasi aktif dalam 1.9. Pasal 5 ayat (2) Undang Undang Nomor 41 Tahun 1999
pencapaian pembangunan yang berkelanjutan. tentang Kehutanan bertentangan dengan UUD RI
4. Hubungan antara hak menguasai negara dengan hutan negara, Tahun 1945.
dan hak menguasai negara terhadap hutan adat. 1.10. Pasal 5 ayat (2) Undang Undang Nomor 41 Tahun 1999
Terhadap hutan negara, negara mempunyai wewenang penuh tentang Kehutanan tidak mempunyai kekuatan hukum
untuk mengatur dan memutuskan persediaan, peruntukan, mengikat.
pemanfaatan, pengurusan serta hubungan-hubungan hukum 1.11. Frasa “dan ayat (2)” dalam Pasal 5 ayat (3) Undang
yang terjadi di wilayah hutan negara Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan
Terhadap hutan adat, wewenang negara dibatasi sejauh mana bertentangan dengan UUD RI Tahun 1945
isi wewenang yang tercakup dalam hutan adat. Hutan adat 1.12. Frasa “dan ayat (2)” dalam Pasal 5 ayat (3) Undang
berada dalam cakupan hak ulayat karena berada dalam satu Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan
kesatuan wilayah masyarakat hukum adat, yang peragaannya tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat,
didasarkan atas leluri (traditio) yang hidup dalam suasana rakyat sehingga maksud Pasal 5 ayat (3) menjadi “Pemerintah
Para warga suatu masyarakat hukum adat mempunyai hak menetapkan status hutan sebagaimana dimaksud
membuka hutan ulayatnya untuk dikuasai dan diusahakan pada ayat (1); dan hutan adat ditetapkan sepanjang
tanahnya bagi pemenuhan kebutuhan pribadi dan keluarganya. menurut kenyataannya masyarakat hukum adat yang
Tidak dimungkinkan hak yang dipunyai oleh warga masyarakat bersangkutan masih ada dan diakui keberadaannya”.
hukum adat ditiadakan atau dibekukan sepanjang memenuhi 2. Memerintahkan pemuatan putusan ini dalam Berita Negara
syarat dalam cakupan pengertian kesatuan masyarakat hukum Republik Indonesia sebagaimana mestinya.
adat 3. Menolak permohonan para Pemohon untuk selain dan
selebihnya

51
[3.13.2] 177
Masyarakat hukum adat dihadapkan pada status keberadaannya, di
mana ada 2 kemungkinan
a. Kenyataannya masih ada, tetapi tidak diakui keberadaannya;
atau
b. Kenyataannya tidak ada, tetapi diakui keberadaannya
Jika Poin (a) terjadi pada masyarakat hukum adat, maka dapat
menimbulkan kerugian pada masyarakat yang bersangkutan.
Contohnya, tanah masyarakat adat digunakan untuk kepentingan
lain tanpa seizin masyarakat adat melalui cara penggusuran.

Pengakuan Terhadap Kepercayaan di KTP


Putusan MK Nomor: 97/PUU-XIV/2016 tentang Pengujian UU No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan, Pasal 61 dan
Pasal 64
Pertimbangan Hukum Hal Amar Putusan
[3.13.1] 138-140 1. Mengabulkan permohonan untuk seluruhnya.
1. Hak dasar untuk menganut agama, yang di dalamnya 2. Menyatakan kata “Agama” dalam Pasal 61 ayat (1)
mencakup hak untuk menganut kepercayaan terhadap Tuhan dan Pasal 64 ayat (1) UU No. 23 Tahun 2006 tentang
Yang Maha Esa, adalah bagian dari hak asasi manusia dalam Administrasi Kependudukan bertentangan dengan
kelompok hak-hak sipil dan politik. Artinya, hak untuk menganut UUD RI Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan
agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa hukum mengikat secara bersyarat sepanjang tidak
merupakan salah satu hak dalam kelompok hak-hak sipil dan termasuk “Kepercayaan”.
politik yang diturunkan dari atau bersumber pada konsepsi hak- 3. Menyatakan kata “Agama” dalam Pasal 61 ayat (2)
hak alamiah (natural rights). dan Pasal 64 ayat (5) UU No. 23 Tahun 2006 tentang
2. Apabila norma-norma hukum dasar (konstitusi) dihubungkan Administrasi Kependudukan bertentangan dengan
secara sistematis, yang dapat dipahami, adalah Pasal 28E UUD RI Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan
ayat (1) dan ayat (2) UUD 1945 berisi pengakuan terhadap hak hukum mengikat.
setiap manusia untuk memeluk agama dan hak untuk meyakini 4. Memerintahkan pemuatan Putusan ini dalam Berita
kepercayaan. Pengakuan tersebut membawa implikasi bahwa Negara Republik Indonesia sebagaimana mestinya.
memeluk agama dan meyakini kepercayaan merupakan hak
yang melekat pada setiap orang. Sebagai konsekuensinya,
Pasal 29 UUD 1945 muncul dengan rumusan, bahwa negara
menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk
agamanya dan untuk beribadah menurut agama dan
kepercayaannya itu.
3. Pengakuan atas hak beragama dan menganut kepercayaan
terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebagaimana disebutkan dalam
konstitusi bersesuaian dengan semangat rumusan kebebasan
beragama seperti yang tercantum dalam DUHAM dan ICCPR.
[3.13.2.1] 147-150
1. Pada Pasal 61 dan 64 UU Administrasi Kependudukan, agama
yang dimaksud dalam UU ini adalah “yang diakui sebagai agama
sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-Undangan”,
yang mana tidak termasuk kepercayaan terhadap TYME.
2. Pengosongan Kolom “agama” bagi penganut kepercayaan
bukan sebagai bentuk perlindungan dan jaminan Negara,
melainkan semata-mata menegaskan tentang kewajiban
Negara untuk memberikan pelayanan kepada setiap warga
negara sesuai dengan data yang tercantum dalam data base
kependudukan yang memang kewajiban dan tugas Negara.
3. Hak beragama dan menganut kepercayaan merupakan salah
satu hak asasi manusia, maka sebagai negara hukum yang
mempersyaratkan salah satunya adanya perlindungan terhadap
hak asasi manusia, sehingga membawa konsekuensi adanya
tanggung-jawab negara untuk menjamin bahwa hak asasi
warganya benar-benar ternikmati dalam praktik.
[3.13.2.2] 151
1. Dalam Pengertian agama, penganut kepercayaan tidak
termasuk ke dalamnya. Akibatnya bagi penganut kepercayaan
sudah pasti tidak mendapatkan pengakuan, jaminan,
perlindungan, dan kepastian hukum yang adil, lebih-lebih
perlakuan yang sama di hadapan hukum.
2. Pasal 61 ayat (1) dan (2) serta Pasal 64 ayat (1) dan (2)
menimbulkan ketidakpastian, penafsiran yang berbeda, dan
tidak konsisten dengan norma lainnya dalam undang-undang
yang sama seperti dengan Pasal 58 ayat (2), di mana hal
itu menimbulkan akibat, bahwa warga negara penghayat
kepercayaan kesulitan memperoleh KK maupun KTP-el.
Dengan dikosongkannya elemen data kependudukan tentang
agama juga telah berdampak pada pemenuhan hak-hak
lainnya, seperti perkawinan dan layanan kependudukan.
Sehingga, penganut kepercayaan tidak mendapatkan
jaminan kepastian dan persamaan di hadapan hukum dan
pemerintahan sebagaimana diperoleh warga negara lainnya.

52
[3.13.2.3] 152-153
1. Pengaturan tersebut telah memperlakukan secara berbeda
terhadap hal yang sama, yakni terhadap warga negara
penghayat kepercayaan dan warga negara penganut agama
yang diakui menurut peraturan perundang-undangan dalam
mengakses pelayanan publik
2. Mahkamah pembatasan demikian tidak berhubungan dengan
penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan bukan
pula untuk memenuhi tuntutan yang adil dalam kehidupan
masyarakat yang demokratis. Sebaliknya, pembatasan hak a
quo justru menyebabkan munculnya perlakuan yang tidak adil
terhadap warga negara penghayat kepercayaan sebagaimana
yang didalilkan oleh para Pemohon.

Usia Perkawinan Perempuan


Nomor: 22/PUU-XV/2017 tentang Pengujian UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan terhadap UUD RI 1945, Pasal 7 ayat (1)
Pertimbangan Hukum Hal Amar Putusan
[3.10.1] 43-46 1. Mengabulkan Permohonan Untuk Sebagian
1. Kebutuhan untuk menentukan batasan usia perkawinan 2. Pasal 7 ayat (1) UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan
khususnya untuk perempuan adalah relatif menyesuaikan bertentangan dengan UUD RI Tahun 1945 dan tidak
dengan perkembangan beragam aspek baik itu aspek mempunyai kekuatan hukum mengikat
kesehatan hingga aspek sosial-ekonomi. 3. Pasal 7 ayat (1) UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan
2. Tidak ada jaminan yang dapat memastikan bahwa dengan masih tetap berlaku sampai dengan dilakukan
ditingkatkannya batas usia kawin untuk wanita dari 16 (enam perubahan sesuai dengan tenggang waktu
belas) tahun menjadi 18 (delapan belas) tahun, akan semakin 4. Memerintahkan kepada pembentuk UU dalam jangka
mengurangi angka perceraian, menanggulangi permasalahan waktu paling lama 3 (tiga) tahun melakukan perubahan
kesehatan, maupun meminimalisir permasalahan sosial lainnya. terhadap UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan,
3. Bukan berarti pula tidak perlu dilakukan upaya apa pun, khusus mengenai usia perkawinan.
terutama tindakan preventif, untuk mencegah terjadinya 5. Memerintahkan pemuatan Putusan ini dalam Berita
perkawinan usia anak yang dikhawatirkan akan menimbulkan Negara Republik Indonesia sebagaimana mestinya.
beragam masalah. 6. Menolak permohonan para Pemohon untuk selain dan
Apabila memang dikehendaki adanya perubahan batas usia kawin selebihnya
untuk wanita, hal tersebut bisa diikhtiarkan melalui proses legislative
review yang berada pada ranah pembentuk Undang-Undang untuk
menentukan batas usia minimum ideal bagi wanita untuk kawin.
[3.10] 48-50
1. Sekalipun penentuan batas usia minimal perkawinan
merupakan kebijakan hukum (legal policy), namun kebijakan
tersebut tidak boleh memperlakukan warga negara secara
berbeda semata-mata atas dasar perbedaan jenis kelamin atau
gender.
2. Benar Pembedaan antara laki-laki dan perempuan bukan
sebagai yang melanggar moralitas, rasionalitas, serta
ketidakadilan yang intolerable. Namun pembedaan perlakuan
antara laki-laki dan perempuan itu berdampak terhalangnya
pemenuhan hak-hak dasar warga Negara.
Pasal 7 ayat (1) UU Perkawinan dikatakan diskriminatif karena
dengan pembedaan batas usia minimum perkawinan yang
termuat di dalamnya telah menyebabkan perempuan menjadi
diperlakukan berbeda dengan laki-laki dalam pemenuhan hak-hak
konstitusionalnya
[3.13] 54
Adanya ketidaksinkronan antara undang-undang, di mana dalam
Pasal 1 angka 1 UU Perlindungan Anak, usia anak di bawah 18 tahun.
Sedangkan pada pasal 7 ayat (1) UU Perkawinan usia perkawinan
perempuan adalah 16 tahun. Ketidak sinkronan ini berdampak pada
jaminan dan perlindungan konstitusional hak anak.
[3.14] 55-56
1. Berdasarkan SDGs, tahun 2030 tidak ada satu Negara yang
tertinggal, terutama mengenai kesetaraan gender dan
memberdayakan semua perempuan dan anak perempuan.
Tujuannya adalah untuk menghapus perkawinan anak.
2. Pernikahan anak merupakan pelanggaran hak anak dan
menimbukan kemudaratan, di mana hak ini dijamin pada pasal
28B ayat (2) UUD 1945.
Kebijakan yang menjadi faktor penyebab terjadinya perkawinan
anak sudah seharusnya disesuaikan, in casu UU 1/1974 yang telah
berlaku selama 44 tahun.

53
[3.17] 58
1. Penentuan batas usia minimal perkawinan merupakan kebijakan
hukum (legal policy) pembentuk undang-undang.
2. Apabila Mahkamah memutuskan batas minimal usia
perkawinan, hal tersebut justru akan menutup ruang
bagi pembentuk undang-undang di kemudian hari untuk
mempertimbangkan lebih fleksibel batas usia minimal
perkawinan sesuai dengan perkembangan hukum dan
perkembangan masyarakat.
Mahkamah memberikan waktu selambat-lambatnya 3 (tiga) tahun
kepada pembentuk undang-undang untuk sesegera mungkin
melakukan perubahan kebijakan hukum terkait batas minimal usia
perkawinan, khususnya sebagaimana diatur dalam Pasal 7 ayat (1)
UU 1/1974

Tabel 5. Beberapa Peristiwa Terkait Penegakan HAM di Indonesia

Peristiwa Deskripsi

Tanjung Priok 1984 Bentrok antara warga dan aparat yang menggunakan senjata api. Berawal dari ketegangan setelah aparat
mencabut pamflet berisi kritikan terhadap pemerintah dan undangan Tablig Akbar. Korban tewas ditaksir
sebanyak 400 orang (menurut Solidaritas untuk Korban Peristiwa Tanjung Priok)1.

Setelahnya warga diadili dengan tuduhan melakukan kerusakan dan kekerasan.


Talangsari 1989 Bentrok antara warga Desa Talangsari dengan aparat berujung dengan penembakan dan pembakaran rumah
warga. Berawal dari kecurigaan makar terhadap kelompok pengajian yang dipimpin Warsidi.

246 orang dinyatakan tewas2.


Kerusuhan 1998 Penembakan mahasiswa Universitas Trisakti yang melakukan demonstrasi menewaskan 4 orang, berlanjut
dengan tragedi semanggi I dan II.

Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) dibentuk pada 23 Juli 1998. Menurut laporan TGPF total 1190 orang tewas
terbakar, 27 orang tewas akibat senjata dan 91 orang luka-luka pada kerusuhan 19983
Penyerangan Ahmadiyah Penyerangan, perusakan rumah penduduk dan pengusiran jemaat Ahmadiyah di Lombok Timur Mei 2018.
2018
Belum ada penyelesaian terhadap kasus ini. Jumlah pengungsi saat ini berkisar 35 kepala keluarga, yang terdiri
dari 131 jiwa masih ada yang tinggal di BLK Transito Mataram4

Tabel 6. Lembaga Negara yang Menangani Persoalan HAM di Indonesia


Nama Lembaga Contact Person Email

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Ahmad Taufan Damanik info@komnasham.go.id


(Komnas HAM)
(Ketua Komnas HAM)

Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Azriana R Manalu mail@komnasperempuan.go.id


Perempuan
(Ketua Komnas Perempuan)
(Komnas Perempuan)
Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban Drs. Hasto Atmojo Suroyo, M.Krim lpsk_ri@lpsk.go.id
(LPSK)
(Ketua LPSK)

54
Tabel 7. Ratifikasi Indonesia Terhadap Mekanisme dan Instrumen HAM Internasional

Perjanjian HAM Internasional dan Protokol lain Deskripsi Status Ratifikasi Indonesia

1. International Convention on the Elimination of All Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Disahkan melalui UU no.29 tahun 1999.
Forms of Racial Discrimination (ICERD) 1965. Diskriminasi 1965.
2. International Covenant on Civil and Political Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Disahkan melalui UU no.12 tahun 2005.
Rights (ICCPR) 1966. sipil dan politik.
3. International Covenant on Economic, Social and Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Disahkan melalui UU no.11 tahun 2005.
Cultural Rights (ICSCR) 1966. Ekonomi, Sosial dan Budaya.
4. Convention on the Elimination of All Forms of Konvensi mengenai Penghapusan Disahkan melalui UU no.7 tahun 1984.
Discrimination against Women (CEDAW) 1979. Segala Bentuk Diskiriminasi terhadap
Perempuan.
5. Convention against Torture and Other Cruel, Konvensi Menentang Penyiksaan dan Disahkan melalui UU no.5 tahun 1998.
Inhuman or Degrading Treatment or Punishment Perlakuan atau Penghukuman Lain
(CAT) 1984. yang Kejam, Tidak Manusiawi, atau
Merendahkan Martabat Manusia.
6. Convention on the Rights of the Child (CRC) Konvensi tentang Hak-hak Anak. Disahkan melalui Keputusan Presiden no.
1989. 36 tahun 1990.
6.1 Optional protocol to the Convention Protokol Opsional Konvensi Hak-hak Disahkan melalui UU no.9 tahun 2012.
on the Rights of the Child on the Anak mengenai Keterlibatan Anak dalam
involvement of children in armed conflict Konflik Bersenjata.
(OP-CRC-AC) 2000.
6.2 Optional protocol to the Convention Protokol Opsional Konvensi Hak-Hak Disahkan melalui UU no.10 tahun 2012.
on the Rights of the Child on the sale Anak mengenai Penjualan Anak,
of children, child prostitution and child Prostitusi Anak, dan Pornografi Anak.
pornography (OP-CRC-SC).
7. International Convention on the Protection of the Konvensi Internasional mengenai Disahkan melalui UU no.6 tahun 2012.
Rights of All Migrant Workers and Members of Perlindungan Hak-Hak Seluruh Pekerja
Their Families (ICMW) 1990. Migran dan Anggota Keluarganya.
8. Convention on the Rights of Persons with Konvensi mengenai Hak-Hak Disahkan melalui UU no. 19 tahun 2011.
Disabilities (CRPD) 2006. Penyandang Disabilitas.

Tabel 8. Status Laporan Indonesia dalam UPR (Universal Periodic Report)6


UPR Cycle Periode

Universal Periodic Review Cycle 1 Dilaporkan tahun 2008


Universal Periodic Review Cycle 2 Dilaporkan tahun 2012

Universal Periodic Review Cycle 3 Dilaporkan tahun 2017

1 https://www.webcitation.org/64QwDlcc5
2 https://tirto.id/mengenang-pembantaian-umat-di-talangsari-ckrJ
3 https://www.liputan6.com/news/read/2049065/kerusuhan-mei-1998-ketika-ratusan-nyawa-jadi-tumbal-reformasi?related=dable&utm_
expid=.9Z4i5ypGQeGiS7w9arwTvQ.1&utm_referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com%2F
4 https://www.antaranews.com/berita/926536/mataram-enggan-menambah-pengungsi-ahmadiyah
6 https://www.ohchr.org/EN/HRBodies/UPR/Pages/IDIndex.aspx

55
56
Tabel 9. Tabel Kompilasi HAM dan Sumber Hukumnya
HAM yang diakui secara DUHAM Instrumen Internasional Soft law (Prinsip & UUD 1945 UU Ratifikasi UU No. 39 Peraturan Yurisprudensi
internasional 1948 Deklarasi) Tahun 1999 Perundang- MK dan MA, dan
tentang HAM undangan Lain Ketentuan selain UU
Hak atas Kebebasan, Kesetaraan, Pasal 1 - ICERD 1965 Pasal 28H(2) UU No. 29/1999 Pasal 3(1) UU No. 40/2008
Tanpa Diskriminasi karena Ras, Pasal 2 - ICCPR 1966 Pasal 28I(2) UU No. 12/2005 Pasal 3(3)
Warna Kulit, Jender, Bahasa, - ICESCR 1966 UU No. 11/2005
Agama, Pendapat Politik atau - ILO Convention No. UU No. 21/1999
lainnya, Kewarganegaraan atau 111/1958
Latar Belakang Sosial, Kelahiran - Genocide Convention
atau Status Lainnya 1948
Hak Menentukan Nasib Sendiri - ICCPR 1966 UU No. 12/2005
- ICESCR 1966 UU No. 11/2005
Hak atas Hidup Pasal 3 - ICCPR 1966 Prinsip-Prinsip Dasar ten- Pasal 28A UU No. 12/2005 Pasal 4 UU No. 2/2002 Putusan MK No. 2-3/
- ICESCR 1966 tang Penggunaan Kekerasan UU No. 11/2005 Pasal 9 UU No. 26/2000 PUU-V/2007
- ICPPED 2007 dan Senjata Api
Hak atas Kebebasan dan Kea- Pasal 3 - ICCPR 1966 Prinsip-Prinsip Dasar ten- Pasal 28G(1) UU No. 12/2005 Pasal 4 UU No. 2/2002
manan Diri - ICESCR 1966 tang Penggunaan Kekerasan UU No. 11/2005 Pasal 21 UU No. 26/2000
- ICPPED 2007 dan Senjata Api Pasal 29(1)
Pasal 30
Hak untuk Bebas dari Perbuda- Pasal 4 - ICCPR 1966 UU No. 12/2005 Pasal 4
kan dan Kerja Paksa - ILO Convention No. UU No. 19/1999 Pasal 20
105/1957
Hak untuk Bebas dari Penyiksaan, Pasal 5 - ICCPR 1966 Pasal 28G(2) UU No. 12/2005 Pasal 4 UU No. 26/2000
Perlakuan dan Hukuman Lain - CAT 1984 UU No. 5/1998 Pasal 33
yang Kejam, Tidak Manusiawi - ICPPED 2007
dan Merendahkan Martabat
Hak untuk pengakuan, jaminan, Pasal 6 - ICCPR 1966 - Aturan Perilaku bagi Pasal 27(1) UU No. 12/2005 Pasal 3(2) UU No. 8/1981 Putusan MK No.
perlindungan, dan kepastian Pasal 7 - ICPPED 2007 Aparat Penegak Hukum Pasal 28D(1) Pasal 4 UU No. 48/2009 065/PUU-II/2004
hukum yang adil serta perlakuan Pasal 8 - Kumpulan Prinsip untuk Pasal 5 UU No. 18/2003 PP No. 44/2008
yang sama dihadapan hukum Pasal 9 Perlindungan Semua Pasal 17 UU No. 8/2011
(dari penangkapan s/d pemen- Pasal 10 Orang terhadap Semua Pasal 18 UU No. 18/2011
jaraan) Pasal 11 Bentuk Penahanan dan Pasal 19 UU No. 13/2006
Pemenjaraan Pasal 29(2) UU No. 30/2002
- Deklarasi Dasar Prin- Pasal 34 UU No. 16/2011
sip-Prinsip Peradilan Bagi UU No. 2/2002
Korban Kejahatan dan UU No. 12/1995
Korban Penyalahgunaan UU No. 26/2000
Wewenang 1985
- Peraturan Standar Min-
imum untuk Perlakuan
terhadap Tahanan
- Peraturan Standar Min-
imum untuk Tindakan
Non-penahanan
- Prinsip-Prinsip Bangalore
tentang Perilaku Peradilan
HAM yang diakui secara DUHAM Instrumen Internasional Soft law (Prinsip & UUD 1945 UU Ratifikasi UU No. 39 Peraturan Yurisprudensi
internasional 1948 Deklarasi) Tahun 1999 Perundang- MK dan MA, dan
tentang HAM undangan Lain Ketentuan selain UU
Hak atas Privasi Pasal 12 - ICCPR 1966 Pasal 28H UU No. 12/2005 Pasal 31 Putusan MK No.5/
Pasal 32 PUU-VIII/2010
Kebebasan Bergerak Pasal 13 - ICCPR 1966 UU No. 12/2005 Pasal 27
Hak Meminta Suaka Pasal 14 - ICCPR 1966 Pasal 28G(2) UU No. 12/2005 Pasal 28
- Refugee Convention
1951
Hak atas Kewarganegaraan Pasal 15 - ICCPR 1966 Pasal 28D(4) UU No. 12/2005 Pasal 26 UU No. 12/2006
Hak Membentuk & Perlindungan Pasal 16 - ICCPR 1966 Pasal 28B(1) UU No. 12/2005 Pasal 10 UU No. 1/1974
atas Keluarga - ICESCR 1966 UU No. 11/2005
Hak untuk Mengembangkan Diri Pasal 22 - ICESCR 1966 Pasal 28C(1) UU No. 11/2005 Pasal 11 UU No. 12/2012

Hak atas Kepemilikan Pasal 17 - ICESCR 1966 Pasal 28H(4) UU No. 11/2005 Pasal 36 UU No. 5/1960
UU No. 15/1997
UU No. 8/1999
UU No. 18/2004
UU No. 11/2010
UU No. 1/2011
UU No. 2/2012
Hak Kebebasan Beragama dan Pasal 18 - ICCPR 1966 Pasal 28E(1) UU No. 12/2005 Pasal 4 UU No. 17/2013 Putusan MK No. 140/
Berkeyakinan Pasal 29(2) Pasal 22 UU No. 23/2011 PUU-VII/2009
Putusan MK No. 86/
PUU-X/2012
Kebebasan Berpendapat dan Pasal 19 - ICCPR 1966 Pasal 28 UU No. 12/2005 Pasal 23 UU No. 11/2008 Putusan MK No. 140/
Berekspresi Pasal 28E(2) UU No. 17/2013 PUU-VII/2009
Pasal 28E(3)
Hak Berserikat, Berkumpul, Pasal 20 - ICCPR 1966 Pasal 28 UU No. 12/2005 Pasal 24 UU No. 21/2000
Mendirikan dan Bergabung den- Pasal - ICESCR 1966 Pasal 28E(3) UU No. 11/2005 Pasal 25 UU No. 13/2003
gan Serikat Pekerja 23(4) - ILO Convention No. Keppres No. Pasal 39 UU No. 17/2013
87/1948 83/1998
- ILO Convention No. UU No. 18/1956
98/1949
- ILO Convention No.
141/1975
Hak untuk Ikut Serta dalam Pasal 21 - ICCPR 1966 Pasal 28D(3) UU No. 12/2005 Pasal 43 UU No. 6/2014 Putusan MK No. 5/
Pemerintahan UU No. 23/2014 PUU-V/2007
Putusan MK No. 102/
PUU-VII/2009
Hak atas Jaminan Sosial Pasal 22 - ICESCR 1966 Pasal 28H(3) UU No. 11/2005 Pasal 41(1) UU No. 13/2003 Putusan MK No.
- ILO Convention No. Pasal 34(2) UU No. 40/2004 007/PUU-III/2005
102/1952 UU No. 24/2011

Hak untuk Menikmati Kemajuan Pasal 22 - ICESCR 1966 UU No. 11/2005 Pasal 13 UU No. 11/2010
Ekonomi, Sosial, Teknologi, Pasal 27
Budaya

57
58
HAM yang diakui secara DUHAM Instrumen Internasional Soft law (Prinsip & UUD 1945 UU Ratifikasi UU No. 39 Peraturan Yurisprudensi
internasional 1948 Deklarasi) Tahun 1999 Perundang- MK dan MA, dan
tentang HAM undangan Lain Ketentuan selain UU
Hak Berkomunikasi dan Men- Pasal 28F UU No. 12/2005 Pasal 14 UU No. 14/2008
cari, Memperoleh, Menyimpan,
Mengolah, dan Menyampaikan
Informasi
Hak Pengembangan Diri, secara - ICESCR 1966 Pasal 28C(2) Pasal 15
Pribadi maupun Kolektif
Hak atas Pekerjaan dan Kondisi Pasal - ICESCR 1966 Pasal 27(2) UU No. 11/2005 Pasal 38(1)(2) UU No. 1/1970 Putusan MK No.
Kerja yang Layak 23(1) - ILO Convention No. Pasal 28D(2) UU No. 13/2003 100/PUU-X/2012
155/1981
- ILO Convention No.
148/1977
- ILO Convention No.
184/2001
- ILO Convention No.
189/2011

Hak atas Upah yang Layak tanpa Pasal - ICESCR 1966 Pasal 28D(2) UU No. 11/2005 Pasal 38(3)(4) UU No. 13/2003 Putusan MK No.
Diskriminasi 23(2) - ILO Convention No. UU No. 80/1957 100/PUU-X/2012
Pasal 100/1951 UU No. 21/1999
23(3) - ILO Convention No.
111/1958
- ILO Convention No.
95/1949
- ILO Convention No.
189/2011
Hak Beristirahat dan Cuti dalam Pasal 24 - ICESCR 1966 UU No. 11/2005 UU No. 13/2003
Tanggungan
Hak atas Kesehatan Pasal 25 - ICESCR 1966 Pasal 28H(1) UU No. 11/2005 UU No. 36/2009
Hak atas Pendidikan Pasal 26 - ICESCR 1966 Pasal 31(1) UU No. 11/2005 Pasal 12 UU No. 20/2003 Putusan MK No. 011/
- CRC 1990 Keppres No. UU No. 12/2012 PUU-III/2005
36/1990 Putusan MK No. 24/
PUU-V/2007
Hak Ekonomi Pasal 22 - ICESCR 1966 UU No. 11/2005 UU No. 3/2014 Putusan MK No. 21-
22/PUU-V/2007
Hak atas Perumahan - ICESCR 1966 Pasal 28H(1) UU No. 11/2005 Pasal 40 UU No. 1/2011
UU No. 15/1997
Hak atas Lingkungan yang Bersih - ICESCR 1966 Pasal 28H(1) UU No. 11/2005 Pasal 9(3) UU No. 40/2007
UU No. 32/2009
UU No. 36/2009
UU No. 1/2011
UU No. 3/2014
UU No. 37/2014
HAM yang diakui secara DUHAM Instrumen Internasional Soft law (Prinsip & UUD 1945 UU Ratifikasi UU No. 39 Peraturan Yurisprudensi
internasional 1948 Deklarasi) Tahun 1999 Perundang- MK dan MA, dan
tentang HAM undangan Lain Ketentuan selain UU
Hak atas Air dan Sanitasi - ICESCR 1966 Resolusi Majelis Umum PBB UU No. 11/2005 UU No. 11/1974 Putusan MK No.
- CEDAW 1979 No. 64/292 Tahun 2010 UU No. 7/1984 UU No. 3/2014 058-059-060-063/
- CRC 1990 Keppres No. UU No. 37/2014 PUU-II/2004
- ICRPD 2006 36/1990 Putusan MK No. 85/
UU No. 19/2011 PUU-XI/2013
Hak atas Tanah - CEDAW 1979 Deklarasi Vancouver UU No. 7/1984 UU No. 5/1960
- ICERD 1965 UU No. 29/1999 UU No. 15/1997
UU No. 18/2004
UU No. 1/2011
UU No. 2/2012
Hak-Hak Perempuan Pasal - ICCPR 1966 - Deklarasi tentang Pengha- UU No. 12/2005 Pasal 5(3) UU No. 21/2007
23(2) - ICESCR 1966 pusan Kekerasan terhadap UU No. 11/2005 Pasal 41(2) UU No. 23/2004
- CEDAW 1979 Perempuan 1993 UU No. 7/1984 Pasal 45-51 UU No. 36/2009
- ILO Convention No. UU No. 80/1957 UU No. 13/2003
100/1951 UU No. 21/1999
- ILO Convention No.
111/1958
- ILO Convention No.
189/2011
Hak-Hak Anak - ICESCR 1966 - Peraturan Minimum Pasal 28B(2) UU No. 11/2005 Pasal 5(3) UU No. 11/2012
- CRC 1990 PBB bagi Administrasi Keppres No. Pasal 41(2) UU No. 36/2009
- OP I CRC 2000 Peradilan Anak (Beijing 36/1990 Pasal 52-66 UU No. 23/2002
- OP II CRC 2000 Rules) UU No. 9/2012 UU No. 13/2003
- ILO Convention No. - Pedoman PBB untuk UU No. 10/2012
138/1973 Pencegahan Kejahatan UU No. 20/1999
- ILO Convention No. Anak-Anak (Riyadh Guide- UU No. 1/2000
182/1999 lines)
- ILO Convention No.
77/1946
- ILO Convention No.
78/1946
- ILO Convention No.
189/2011
Hak-Hak Pekerja Migran - ICRMW 1990 UU No. 39/2004 Pasal 5(3) UU No. 13/2003
- ILO Convention No.
97/1949
- ILO Convention No.
143/1975
- ILO Convention No.
189/2011

59
60
HAM yang diakui secara DUHAM Instrumen Internasional Soft law (Prinsip & UUD 1945 UU Ratifikasi UU No. 39 Peraturan Yurisprudensi
internasional 1948 Deklarasi) Tahun 1999 Perundang- MK dan MA, dan
tentang HAM undangan Lain Ketentuan selain UU
Hak-Hak Penyandang Disabilitas Pasal 1 - ICRPD 2006 Deklarasi tentang Hak-Hak Pasal 28I(2) UU No. 19/2011 Pasal 5(3) UU No. 8/2016 - PP No. 43/1998
Pasal 2 - ILO Convention No. Orang dengan Disabilitas Pasal 41(2) UU No. 13/2003 - No. Registrasi MA
159/1983 1975 Pasal 42 UU No. 36/2009 595 K/TUN/2005,
Peraturan-Peraturan PBB UU No. 20/2003 Pemkot Surabaya
tentang Penyetaraan vs. Wuri Han-
Peluang bagi Penyandang dayani
Disabilitas 1993 - Memorandum
Komnas HAM no.
102/PK-KHUSUS/
III/2005
Hak Orientasi Seksual dan Identi- Pasal 1 - ICCPR 1966 Prinsip-Prinsip Yogyakarta UU No. 11/2005 Pasal 5(3)
tas Jender Pasal 2
Hak-Hak Masyarakat Adat Pasal 1 - ICESCR 1966 - Deklarasi PBB tentang Pasal 18B(2) UU No. 11/2005 Pasal 5(3) UU No.6/2014 Putusan MK No. 35/
Pasal 2 - ILO Convention No. Hak-Hak Masyarakat Adat Pasal 28I(3) Pasal 6 UU No. 41/1999 PUU-IX/2012
169/1989 - Deklarasi tentang Hak-Hak UU No. 18/2004
Orang-Orang yang Beras- UU No. 20/2003
al dari Suku Bangsa atau UU No. 11/2010
Etnis, Agama dan Bahasa
Minoritas
Perlindungan dari Penghilangan Pasal 3 - ICPPED 2007 - Deklarasi PBB tentang Pasal 33(2)
Paksa Perlindungan Semua
Orang dari Penghilangan
Paksa 1992
- Prinsip-Prinsip tentang
Pencegahan dan Penyeli-
dikan yang Efektif dari
Eksekusi di Luar Hukum,
Sewenang-wenang dan
Sumir
Hak-Hak Selama Konflik Bersen- - GC I-IV 1949 UU No.
jata - AP GC I-II 1977 59/1958
- Refugee Convention
1951
NGO in Special Consultative Status
with the Economic and Social Council of the United Nations, Ref. No: D1035

Jl. Jatipadang Raya Kav.3 No.105 Pasar Minggu, Jakarta Selatan, 12540
021 7819734, 7819735 | info@infid.org | www.infid.org

Follow Us:
infid infid_ID infid_ID