Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH FILANTROPHI ISLAM

Dosen Pengampu : Safaah Restuning Hayati, Lc., S.E.I.,M.A.Ek.

Di susun oleh:

Muhammad Said Wibowo (2017073004)

Mita Hestiwandani (20170730014)

Nur Azizah (20170730017)

Jordan Fahmi (20170730025)

EKONOMI SYARIAH

FAKULTAS AGAMA ISLAM

UN IVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

2019

i
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kita rahmat serta
hidayah-Nya terutama nikmat kesehatan sehingga kita dapat diberi
kesempatan untuk menyelesaikan makalah mata kuliah “FILANTROPHI
ISLAM”. Kemudian shalawat juga salam tak lupa kami haturkan kepada
junjungan kita Nabi Agung kita Nabi Muhammad SAW yang telah
menunjukkan kita jalan dari kegelapan menuju jalan yang terang benderang
seperti saat ini.
Makaalah ini dibuat dengan usaha maksimal dan juga bantuan dari
berbagi pihak yang telah berkenan meluangkan waktu, tenaga dan pikirannya
untuk membantu menyelesaikan makalah ini. Oleh karena itu kami
mengucapkan banyak terimakasih yang sebesar-besarnya kepada pihak yang
telah membantu penyelesaian makalah ini.
Kita selaku penulis pun juga menyadari masih banyak kekurangan
dalam makalah ini sehingga kita sangat mengharapkan kritik dan saran
sebagai sarana perbaikan makalah, agar menjadi lebih baik. Akhir kata,
berharap makalah ini dapat memberi manfaat bagi pembaca dan masyarakat
luas.

ii
BAB 1

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Zakat, infak, shadaqah dan wakaf adalah salah satu ibadah yang
memiliki posisi yang sangat penting, strategis, dan menentukan, baik dari
sisi ubudyah mupun dari segi kesejahteraan ekonomi umat. Problematika
kehidupan umat manusia yang semakin komples dengan tuntutan hajat
hidup yang semakin besar telah banyak membentuk pola pikir dan tingkah
laku masyarakat. Di satu sisi, manusia mengharapkan sebuah tatanan
kehidupan bahagi, damai, aman dan menjamin kesejahteraan hidupnya. Jika
ingin memperoleh kehidupan yang lebih baik maka harus dilakukan dengan
saling membutuhkan antara yang satu dan yang lainnya.
Zakat, Infak, shadaqah dan wakaf merupakan satu-satunya ibadah
dalam syariat islam secara eksplisit dinyatakan ada petugasnya. Ada dua
pengelolaan zakat. Pertama, zakat dikelola oleh negara dalam sebuah
lembaga atau departemen khusus yang dibentuk oleh pemerintah. Kedua,
zakat yang dikelola oleh lembaga non pemerintah atau semi pemerintah
dengan mengacu pada aturan yang ditelah ditentukan oleh negara.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan Latar Belakang diatas, maka bisa dirumuskan
permasalahnya, yaitu :
1. Apa pengertian zakat, infak, shadaqah dan wakaf ?
2. Sebutkan dasar hukum Ziswaf ?
3. Bagaimana regulasi dan undang-undang yang berlaku di indonesia
tentang Ziswaf ?
4. Jelaskan rukun dan syarat Ziswaf ?
5. Jelaskan apa itu Muzakki dan mustahiq ?
C. Tujuan
Sesuai dengan objek kajian dan rumusan masalah yang
dikemukakan di atas, tujuannya yaitu :
1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Filantropi Islam

1
2. Untuk mengungkapkan apa itu ziswaf beserta dasar hukumnya, rukun,
syarat, dan regulasinya dalam perundang-undangan.
3. Bagi penulis, untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang ziswaf
4. Bagi Pembaca/Pendengar, diharapkan dapat memberikan manfaat, ilmu
dan memperluas pengetahuannnya dalam hal zakat, infak, shadaqah dan
wakaf

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Zakat, Infaq, Shadaqah, dan Wakaf


1. Zakat
Zakat merupakan saah satu rukun islam yang keberadaannya
menjadi salah satu penyangga bagi kesempurnaan islam. Zakat merupakan
ibadah dan kewajiban sosial bagi agniya’ (hartawan) serta kekayaannya
yang memenuhi batas minimal (nisbah ) dan rentang waktu satu tahun
(haul).1
Ditinjau dari segi bahasa, kata zakat merupakan kata dasar dari
zaka yang berarti suci, bersih, tumbuh, dan terpuji. Adapun dari segi istilah
fiqih, zakat berarti sejumlah harta tertentu yang diwajibkan Allah di
serahkan kepada orang-orang yang berhak menerimannya dengan
persyaratan tertentu.2
Menurut etimologi yang dimaksud dengan zakat adalah sejumlah
harta tertentu yang telah mencapai syarat tertentu yang diwajibkan Allah
untuk dikeluarkan dan diberikan kepada orang-orang yang berhak
menerimanya. Selain itu menurut istilah fiqih zakat adalah shodaqoh yang
sifatnya wajib, berdasarkan ketentuan nishab dan haul dan diberikan kepada
mereka yang berhak menerimanya, yakni 8 ashnaf.3

Zakat dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:

a. Zakat Fitrah merupakan zakat jiwa (zakat al-nafs), yaitu kewajiban


berzakat bagi seriap individu baik untuk orang yang sudah dewasa
maupun belum dewasa, dan dibarengi dengan ibadah puasa ramadhan.

1
Ahmad, Rofiq fiqih kontekstual:dari normative ke pemaknaan social, yogyakarta,pustaka
pelajar:2004 hl.259
2
Nurul, Huda, Heykal,M Lembaga Keuangan Islam Tinjauan Teoritis dan Praktik, Jakarta,
Kencana :2010, hlm 293
3
M. Damawan Rahardjo, Islam dan Transformasi Sosial-Ekonomi, Yogyakarta : Lembaga Studi Agama dan
Filsafat ( LSAF ), 1999, hlm. 475

3
b. Zakat Maal, seperti diuraikan terdahulu bahwa zakat sepadan dengan
kata shodaqoh dan infaq, ketiga istilah tersebut merupakan kata yang
mengindikasikan adanya ibadah maliyah yaitu ibadah yang berkaitan
dengan harta.
2. Infaq
Infaq secara bahasa berasal dari kata anfaqa yang berarti
mengeluarkan sesuatu untuk kepentingan sesuatu.Sementara menurut
istilah syari'at, infaq berarti mengeluarkan sebagian dari harta atau
pendapatan atau penghasilan untuk suatu kepentingan yang diperintahkan
agama Islam.Jika zakat ada nisabnya, maka infaq dan shodaqoh terbebas
dari nisab. Infaq bisa dilakukan oleh siapapun baik yang berpenghasilan
rendah maupun sempit.4
Selain itu, kata infaq berarti mendermakan harta yang diberikan
Allah SWT, menafkahkan sesuatu pada orang lain semata-mata mengharap
ridha Allah SWT. Dengan demikian, infaq merupakan bentuk
pentasharrufan harta sesuai dengan tuntunan syariat. Dan dapat diartikan
mendermakan atau memberikan rizki (karunia allah) atau menafkahkan
sesuatu kepada orang lain berdasarkan rasa ikhlas dan karena allah
semata.atau dapat diartikan pengeluaran derma setiap kali seorang muslim
menerima rezki (karunia) dari Allah sejumlah yang dikehendaki dan
direlakannya.5
Adapun perbedaan infaq dengan zakat dapat dilihat dari waktu
pengeluarannya, dalam zakat ada nisabnya sedangkan infaq tidak ada, baik
dia berpenghasilan tinggi maupun rendah.Zakat diperuntukkan untuk
delapan ashnaf, sedangkan infaq dapat diberikan kepada siapapun juga,
misalnya untuk keluarga, anak yatim, dan lainlain.Infaq tidak ditentukan
jenisnya, jumlah dan kadarnya, serta waktu penyerahannya.6
3. Shadaqah

4
Muhammad Sanusi, The Power of Sedekah, ( Yogyakarta : Pustaka Insan Madani, 2009 ), hlm.12
5
H. Cholid Padulullah,SH, Mengenal Hukum ZIS( Zakat Infaq dan Shadaqah ) dan
Pengamalannya di DKI Jakarta, Jakarta: Badan Amil Zakat,Infaq/shadaqah DKI Jakarta 2017, hlm 5-7
6
Ilmi Makhalul, Teori Dn Praktik LembagaMikro Keuangan syariah, Yogyakarta : UII Press,
2002, hlm69

4
Sedekah berasal dari bahasa arabshadaqa. Di dalam Al
Munjid kata shadaqah diartikan yang niatnya mendapatkan pahala dari
allah, bukan sebagai penghormatan. Secara umum dapat diartikan bahwa,
sedekah adalah pemberian dari seorang muslim secara suksrela tanpa
dibatasi waktu dan jumlah ( haul dan nisbah) sebagai kebaikan dengan
mengharap ridho allah.7
Selain itu shadaqoh juga berarti mendermakan sesuatu kepada orang
lain. Shadaqoh berasal dari kata shadaqah yang berarti benar,maksudnya
shadaqah merupakan wujud dari ketaqwaan sesorang, bahwa orang yang
bersedaqah adalah orag yang membenarkan pengakuan sebagai orang yang
bertaqwa melalui amal perbuatan positif kepada sesamannya baik berupa
amal atau yang lainnya.
Antara infaq atau shadaqoh terdapat perbedaan makna yang terletak
pada bendanya. Kalau infaq berkaitan dengan amal yang material,
sedangkan shadaqoh berkitan dengan amal baik yang wujudnya material
maupun non-material, seperti dalam bentuk pemberian benda, uang, tenaga
atau jasa, menahan diri tidak berbuat kejahatan, mengucap takbir, tahmid
bahkan yang paling sederhana adalah tersenyum kepada orang lain dengan
ikhlas.8
Yang dimaksud dengan shadaqah (sedekah), pada prinsipnya sama
dengan infaq, hanya saya ia memiliki pengertian yang lebih luas. Shadaqah
(sedekah) dapat berupa bacaan tahmid, takbir, tahlil, istigfar, maupun
bacaan-bacaan kalimah thayyibah lainnya.Demikian juga shadaqah dapat
berupa pemberian benda atau uang, bantuan tenaga atau jasa, serta menahan
diri untuk tidak berbuat kejahatan.Adapun infaq, tidaklah demikian. Hal lain
yang membedakan keduannya adalah bahwa infah dikeluarkan pada saat
seseorang menerima rezeki, sedangkan shadaqah lebih luas dan lebih umum

7
M. Irfan el-Firdausy, Dahsyatnya Sedekah Meraih Berkah Dari Sedekah, Yogyakarta :
Cemerlang Publishing, 2009, h. 14
8
Budiman, Good Governance Pada Lembaga ZISWAF …,hlm 35

5
lagi. Tidak ditentukan jenisnya, jumlahnya, waktu penyerahan, serta
peruntukkannya.9
4. Wakaf
Menurut bahasa, Wakaf berasal dari bahasa Arab Waqafah yang
berarti, menahan atau berhenti di tempat. Wakaf juga dikenal dalam istilah
ilmu tajwid yang bermakna menghentikan bacaan, baik seterusnya maupun
untuk mengambil nafas sementara. Bahkan wakaf dengan makna terdiam di
tempat juga dikaitkan dengan Wukuf yakni terdian di Arafah pada tanggal
9 Zulhijjah ketika menunaikan Ibadah Haji.
Menurut Istilah, Wakaf adalah penahanan Harta yang dapat diambil
manfaatnya tanpa musnah seketika dan untuk penggunaan yang mubah serta
dimaksudkan untuk mendapatkan keridhaan Allah. Dengan demikian,
secara garis besar wakaf dapat dibagi dalam dua kategori pertama, direct
wakaf dimana aset yang ditahan/ diwakafkan dapat menghasilkan manfaat
atau/jasa yang kemudian daapat digunakan oleh banyak orang (
beneficiaries) seperti rumah ibadah, sekolah dan lain-lain. Kedua, adalah
wakaf investasi ( aset yang diwakafkan digunakan untuk investasi).
Wakaf aset ini dikembangkan untuk menghasilkan pendapatan,
dimana pendapatan tersebut kemudian digunakan untuk membangun
fasilitas fasilitas umum seperti masjid, pusat kegiatan umat Islam dan lain-
lain.
B. Landasan Hukum Zakat, Infaq, Shadaqah, dan Wakaf
Landasan hukum dari zakat yaitu Fardhu ain ( wajib). Dikatakan
fardhu ain karena dengan cara membayar zakat dapat membersihkan dan
mensucikan jiwa. Dan zakat wajib bagi seluruh umat muslim. Jika infaq
dasar hukumnya yaitu fardhu kifayah, yang dimaksud dengan fardu kifayah
yaitu wajib bagi seorang muslim tapi jika telah ada yang mengerjakan maka
gugur sudah kewajiban tersebut. Sedangkan hukum dari shadaqah itu
sendiri yaitu sunnah dan hukum dari wakaf yaitu sunnah

9
H. Cholid Padulullah,SH, Mengenal Hukum ZIS( Zakat Infaq dan Shadaqah ) dan
Pengamalannya di DKI Jakarta, Jakarta: Badan Amil Zakat,Infaq/shadaqah DKI Jakarta 2017, hlm 7

6
Adapun ayat – ayat Al-qur’an yang membahas tentang zakat, infaq,
shadaqah dan wakaf yaitu:
1. Dalam QS. At Taubah/9 : 103
...... ‫خذ من اموالهم صدقة تطهرهم و تزكيهم بها و صل عليهم‬
Artinya : "Ambilah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat
itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah
untuk mereka........"
Keterangan dari ayat diatas adalah bahwa jika kita membayar zakat
maka dengan zakat itu kita akan bersih dan suci.
2. Dalam QS.Al-Baqarah/2 : 219
........‫ قل العفو‬,‫و يسئلونك ماذا ينفقون‬
Artinya : “ Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka
infakkan. Katakanlah: yang lebih dari keperluan.”
Keterangan dari ayat diatas adalah harta itu untuk diinfakkan. Jika
kita mempunyai harta maka pergunakanlah harta tersebut dengan
secukupnya, dan sisanya hendaknya disedekahkan. Abu umamah
r.a. meriwayatkan sabda nabi saw. “wahai manusia, harta yang
berlebih yang ada pada dirimu (keperluanmu) sedekahkanlah, yang
demikian itu buruk bagimu. Jika kamu menggunakannya sesuai
keperluanmu, yang demikian itu tidak tercela. Dalam
membelanjakan harta, mulailah dari orang-orang yang berada dalam
tanggunganmu, dan jika kamu memberikan hartamu itu lebih baik
daripada engkau diberi.
3. Dalam QS. At Taubah/9 :

‫ فبشرهم بعذاب اليم‬.‫والذين يكنزون الذهب و الفضة و ال ينفقونها في سبيل هللا‬......


Artinya : “............Dan orang-orang yang menyimpan emas dan
perak dan tidak menginfakkannya dijalan Allah, maka berikanlah
kabar gembira kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat)
azab yang pedih.”

7
Keterangan dari ayat diatas adalah bahwa orang yang tidak
menginfakkan hartanya di jalan Allah, maka ia akan mendapatkan
siksaan yang pedih di akhirat kelak.
4. Dalam QS. Al-Baqarah 262 :

‫َّللا ث ُ َّم َال يُتْ ِبعُونَ َما أَ ْنفَقُوا َمنًّا َو َال أَذًى ۙ لَ ُه ْم أَجْ ُر ُه ْم ِع ْندَ َر ِب ِه ْم‬
ِ َّ ‫س ِبي ِل‬ َ ‫ا َّلذِينَ يُ ْن ِفقُونَ أ َ ْم َوالَ ُه ْم فِي‬
َ‫ف َعلَ ْي ِه ْم َو َال ُه ْم َيحْ زَ نُون‬
ٌ ‫َو َال خ َْو‬

Artinya : "Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah,


kemudian mereka tidak mengiringi apa yang diinfaqkan itu dengan
menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti
(perasaan si penerima), maka memperoleh pahala disisi Tuhan,
mereka dan tidak (pula) mereka sedih hati"
Keterangan dari ayat diatas adalah dorongan untuk membelanjakan
harta dijalan Allah swt. Dan tidak menyebut-nyebut harta yang telah
diberikan kepada seseorang. Maksud dari kalimat diatas adalah
apabila seseorang menyebut-nyebut pemberiannya maka seseorang
yang menerimanya akan merasa sakit hati. Rasulullah saw. bersabda
“ ada beberapa orang yang tidak masuk surga, pertama orang yang
menyebur-nyebut pemberian , kedua orang yang tidak patuh kepada
orang tuanya, dan yang terakhir orang yang biasa meminum khamr
dan sebagainya. (Durrul mantsur).
Walaupun wakaf tidak dengan tegas disebutkan dalam Al-Qur`an yang
memberi petunjuk dan dapat dijadikan rujukan sebagai sumber hukum
perwakafan.

C. Regulasi dan undang-undang yang berlaku di Indonesia


1. Zakat, Infak, dan Shadaqah

Kebijakan tentang regulasi zakat di Indonesia dimulai dari Peraturan


Menteri Agama Nomor 4 Tahun 1968 tentang pembentukan Badan Amil
Zakat dan Peraturan Menteri Agama Nomor 5 Tahun 1968 tentang
pembentukan Baitul Mal (Balai Harta Kekayaan) di Tingkat Pusat, Propinsi
dan Kabupaten/ Kotamadya

8
Sejak tahun 1968 umat islam di Indonesia memperjuangkan regulasi
zakit di Indonesia, kemudian terbitlah UU no 38 tahun 1999 tentang
pengelolaan zakat, meskipun undang – undang tersebut belum memuaskan,
namun paling tidak dengan adanya UU tersebut usaha untuk meningkat
kesejahteraan umat melalui jalur zakat mulai terkuak

Pengelolaan zakat semakin terlihat setelah terbitnya UU No 38


Tahun 1999 Tentang Pengelolaan Zakat. Saat disahkan UU tersebut peran
LPZ non-pemerintah semakin terlihat karena pada UU tersebut LPZ non-
pemerintah diakui eksistensinya

Kemudian setelah UU No 23 Tahun 2011 terbit regulasi mengenai


zakat semakin baik. Dalam kontek Lembaga Keuangan Syariah, Undang-
undang ini sangat strategis, karena hal ini membuat BAZNAS dan LAZ
harus memiliki sistem keuangan yang bagus. Kemudian bertambahnya DPK
bank syariah. bisa menambah angka market share dan asset Lembaga
Keuangan Syariah. Lembaga Keuangan Syariah bisa membuat gerai
pembayaran zakat dengan sistem setor maupun ATM (UPZ) dan dana zakat
yang begitu besar, bisa dikelola oleh Lembaga Keuangan Syariah untuk hal
yang lebih produktif dan untuk pemberdayaan ekonomi umat.

Sedangkan legalitas infak dan shadaqah dimuat dalam UU No 38


Tahun 1999 tentang pengelolaan zakat. Dalam pasal 13 dan 17 menyatakan
badan amil zakat dapat menerima harta salain zakat, seperti infak, shadaqah
, hibah , wasiat, dan kifarat (pasal 13) . hasil penerimaan infak, sedekah ,
hibah , dan wasiat dan khifarat sebagaimana dimaksudkan dalam pasal 13
di daya gunakan terutama untuk usaha produktif (pasal 17) . pengelolaan
dan pendayagunaan infak dan shadaqah sama dengan pengelolaan dan
pendayagunaan zakat. Karena fungsi target dan tujuan antara zakat, infak,
dan shadaqah. Maka pengolahannya di pandang sama dalam undang-
undang tersebut.

2. Wakaf

9
Sedangkan regulasi tentang wakaf di Indonesia dimulai dengan
keluarnya Peraturan Departemen Agama pada 22 Desember 1953 tentang
prosedur pemberian tanah wakaf, yang kemudian diatur kembali oleh Surat
Edaran Departemen Agama No. 5/D/1956.

Kemudian, diterbitkannya Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960


tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria. Dalam Undang-undang ini,
aset wakaf mendapatkan dasar hukum yang tetap, di mana negara secara
resmi menyatakan perlindungan terhadap harta wakaf. Dalam Pasal 49 ayat
3 disebutkan bahwa perwakafan tanah milik dilindungi dan diatur menurut
peraturan pemerintah. Perlindungan atas aset wakaf juga dipertegas kembali
dalam Peraturan Pemerintah No. 10 Tahun 1961 tentang Pendaftaran Tanah.
Peraturan ini meningkatkan penertiban sertifikasi tanah atas tanah wakaf
yang telah diikrarkan. Setelah mendapatkan jaminan perlindungan dari
pemerintah.

Setelah terbitnya Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 1977 tentang


Perwakafan Tanah Milik, yang memuat unsur-unsur substansi dan teknis
perwakafan menciptakan pembaruan yang sangat penting dalam
pengelolaan harta wakaf. Peraturan ini memberikan legalitas bagi bolehnya
pertukaran harta wakaf setelah mendapatkan izin dari Menteri Agama.
Aturan lain yang membawa pembaruan dalam pengelolaan wakaf adalah
Instruksi Presiden No. 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam
(KHI).

Saat ini telah lahir Undang-undang No. 41 tahun 2004 tentang wakaf
dengan tujuan pokok untuk mendorong kemajuan pengelolaan wakaf di
Indonesia. Dengan Undang-undang ini, sektor wakaf diharapkan mampu
berfungsi sedemikian rupa, sehingga mendukung kesejahteraan sosial-
ekonomi umat Islam. Apalagi para ulama dan pemerhati masalah-masalah
wakaf dari berbagai ormas Islam, baik Nahdlatul Ulama (NU),
Muhammadiyah, maupun ormas-ormas Islam lainnya mendukung proses
legislasi wakaf .

D. Rukun dan Syarat Zakat, Infaq dan Shodaqoh

10
Syarat Syarat Wajib Zakat yaitu :10

Pada prinsipnya zakat infaq dan shodaqoh itu sama artinya, paling
tidak esensinya, baik dalam al-Quran maupun Hadits. Para Ulama fiqih
bahwa zakat mempunyai beberapa syarat wajib dan syarat sah. Menurut
kesepakatan ulama, syarat wajib zakat adalah merdeka, muslim, baligh,
berakal, kepemilikan harta yang penuh, mencapai nishab, dan mencapai
haul. Adapun syarat sahnya, juga menurut kesepakatan mereka, adalah niat
yang menyertai pelaksanaan zakat. Adapun syarat wajibnya zakat, infaq,
dan shodaqoh yakni kefarduannya ialah sebagai berikut

a) Muslim
Seorang muslim wajib hukumnya membayar zakat, dalam rukun
islam pun zakat di urutan ke 3 setelah syahadat dan shalat. Umat
non muslim tidak wajib membayar zakat, tetapi apabila mereka
berada dalam wilayah muslim maka mereka wajib membayar
jizyah (upeti). (QS. At – Taubah/9: 29)
b) Merdeka
Seorang hamba sahaya tidak memiliki harta. Hamba sahaya
masih menjadi milik majikan mereka.
c) Harta itu mencapai nishab
Nishab yaitu jumlah minimal yang harus dimiliki oleh harta
tersebut untuk dikeluarkan zakatnya.
d) Harta itu sampai haul
Haul adalah masa satu tahun bagi emas, perak, ternak, dan harta
perniagaan, untuk dikeluarkan zakatnya. Sedangkan untuk
tanaman tidak menghitung setiap tahun tapi setiap panen.
e) Harta itu adalah miliknya secara penuh/sempurna
Maksud dari kalimat diatas yaitu harta itu keseluruhan milik si
pemberi, bukan harga pinjaman.

Rukun dan syarat infaq maupun shadaqah yaitu :

10
Syakir Jamaludin. 2015. Kuliah Fiqih Ibadah. Yogyakarta. Gramasurya

11
1. Orang yang memberi, syaratnya orang yang akan memberi orang yang
memiliki benda tersebut
2. Orang yang diberi, syaratnya berhak memiliki. Maksudnya tidak sah
apabila yang akan diberikan masih dalam kandungan
3. Barang yang diberikan, syaratnya barangnya jelas
4. Ijab dan qabul, syaratnya pernyataan pemberian dari orang yang
memberi kepada orang yang diberi.

Rukun wakaf yaitu terbagi menjadi 4, yaitu :

1. Wakif (orang yang mewakafkan harta)


2. Mauquf bih (barang atau benda yang diwakafkan)
3. Mauquf ‘Alaih (pihak yang diberi wakaf/peruntukan wakaf)
4. Shighat (pernyataan atau ikrar wakif sebagai suatu kehendak untuk
mewakafkan sebagian harta bendanya
5. Pengelola Wakaf (bisa berbentuk perorangan, badan, lembaga)

Syarat Wakaf

1. Orang yang mewakafkan dalam kadaan sadar


2. Orang yang menerima wakaf tidak boleh bertentangan dengan nilai nilai
ibadah
3. Harta benda yang di wakafkan yaitu harta yang bernilai, tahan lama dan
hak milik murni
4. Adanya pernyataan ijab qabul dapat diucapkan secara lisan, tertulis dan
lainya.
E. Muzakki
Muzakki adalah seseorang yang berkewajiban mengeluarkan
zakat.11 Menurut Undang-Undang No. 38 Tahun 1999 tentang pengelolaan
zakat pasal 1, muzakki adalah orang atau badan yang dimiliki oleh orang
muslim yang berkewajiban menunaikan zakat.12 Zakat hanyalah diwajibkan
atas orang yang telah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

11
Umratul, Khasanah, Manajemen Zakat Modern: Instrumen Pemberdayaan Ekonomi Umat
(Malang: UIN-Maliki Press, 2010), hal 37
12
Kementrian Agama,UU No. 38 Tahun 1999 tentang pengelolaan zakat

12
1. Islam
Dalil yang mendasarinya adalah perkataan Abu Bakar r.a :
“Inilah kewajiban zakat yang telah ditetapkan oleh Rasulullah
SAW, atas kaum muslimin.” (Riwayat al-Bukhari: 1386)
Dengan adanya kata-kata “atas kaum muslimin”, berarti jelas
bahwa selain orang Islam tidak dituntut mengeluarkan zakat.13 Seorang
Islam yang telah memenuhi syarat wajib zakat kemudian ia murtad
sebelum membayarkan zakatnya maka menurut fuqahaSyafi’iyah" wajib
baginya mengeluarkan zakat yang dimilikinya sebelum murtadd
Sedangkan Abu Hanifah berpendapat" murtadnya seseorang
menggugurkan semua kewajibannya sebelum murtad" sebab setelah
murtad ia sudah menjadi kafir asli dalam pengertian semua amal
ibadahnya yang lalu tidak ada gunanya.14
2. Merdeka
Keharusan merdeka bagi wajib zakat menafikan kewajiban zakat
terhadap hamba sahaya. Hal ini sebagai konsekuensi dari ketiadaan
hak milik yang diberikan kepadanya. Hamba sahaya dan semua yang
ada padanya menjadi milik tuannya. Demikian halnya hamba sahaya
yang telah diberikan kesempatan untuk memerdekakan dirinya dengan
tebusan, karena ini belum secara sempurna memiliki apa yang
ada padanya.
3. Baligh dan Berakal sehat
Ahli fiqh mazhab Hanafi menetapkan Baligh dan Berakal sebagai syarat
wajib zakat. Menurut mereka, harta anak kecil dan orang gila
tidak dikenakan wajib zakat karena keduanya tidak dituntut
membayarkan zakat hartanya seperti halnya shalat dan puasa. Mayoritas
ahli fiqh selain hanafiyah tidak menetapkan baligh dan berakal sebagai
syarat wajib zakat. Oleh karena itu, menurut mereka harta anak kecil dan

13
Umar Anshori, Fiqih Syafi’i Sistematis II (Semarang : CV. Asy-Syifa’, 1987) hal. 13
14
Rahman Ritonga dan Zainuddin, Fiqh dan Ibadah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2002), hal.
178

13
orang gila wajib dikeluarkan zakatnya, dan yang mengeluarkannya
adalah walinya.
4. Memiliki Harta atau Kekayaan yang Cukup Nisab
Orang tersebut memiliki sejumlah harta yang telah cukup jumlahnya
untuk dikeluarkan zakatnya.
5. Memiliki harta atau kekayaan yang sudah memenuhi haul
Harta atau kekayaan yang dimiliki telah cukup waktu untuk
mengeluarkan zakat yang biasanya kekayaan itu telah dimilikinya dalam
waktu satu tahun.
6. Memiliki harta secara sempurna
Maksudnya adalah bahwa orang tersebut memiliki harta yang tidak ada
di dalamnya hak orang lain yang wajib dibayarkan. Atas dasar syarat ini,
seseorang yang memiliki harta yang cukup satu nisab, tetapi karena ia
masih mempunyai hutang pada orang lain yang jika dibayarkan sisa
hartanya tidak lagi mencapai satu nisab, maka dalam hal ini tidak wajib
zakat padanya, karena hartanya bukanlah miliknya secara sempurna.
Orang tersebut tidak dapat disebut orang kaya melainkan orang miskin.15
7. Muzakki adalah orang yang berkecukupan atau kaya
Zakat itu wajib atas si kaya yaitu orang yang mempunyai kelebihan dari
kebutuhan-kebutuhan yang vital bagi seseorang, seperti untuk
makan, pakaian, dan tempat tinggal. Zakat tersebut dibagikan kepada
fakir miskin atau orang yang berhak menerima zakat.
F. Mustahiq
Menurut Undang-Undang No. 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat
pasal 1, mustahiq adalah orang atau badan yang berhak menerima zakat.
Allah telah menentukan golongan-golongan tertentu yang berhak menerima
zakat. Oleh karena itu, zakat harus dibagikan kepada golongan-golongan
yang telah ditentukan yakni seperti dalam at-Taubah ayat 60 sebagai berikut
:

15
Rahman Ritonga dan Zainuddin, Fiqh dan Ibadah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2002), hal.
179

14
ِ ‫ب َو ْالغ‬
َ‫َار ِمين‬ ِ ‫املِينَ َعلَ ْي َها َو ْال ُم َؤلَّفَ ِة قُلُوبُ ُه ْم َوفِي‬
ِ ‫الرقَا‬ ِ َ‫ين َو ْالع‬ َ ‫اء َو ْال َم‬
ِ ‫سا ِك‬ ِ ‫صدَقَاتُ ِل ْلفُقَ َر‬
َّ ‫إِنَّ َما ال‬
‫َّللاُ َع ِلي ٌم َح ِكي ٌم‬ َّ َ‫ضةً ِمن‬
َّ ‫َّللاِ ۗ َو‬ َ ‫سبِي ِل ۖ فَ ِري‬ َّ ‫سبِي ِل‬
َّ ‫َّللاِ َواب ِْن ال‬ َ ‫َوفِي‬

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-


orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk
hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk
jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu
ketetapan yang diwajibkan Allah,dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha
Bijaksana.
(Q.S at-Taubah ayat 60)

Berdasarkan ayat di atas, penjelasan 8 golongan penerima zakat itu sebagai


berikut :

1. Fakir
Imam Syafi’i mengatakan bahwa fakir ialah orang yang tidak
mempunyai harta benda dan tidak punya mata pencaharian. Hal tersebut
terjadi secara terus menerus atau dalam beberapa saat, baik ia meminta-
minta maupun tidak.16 Termasuk dalam kelompok ini adalah orang yang
tidak berharta dan tidak tercukupi makanan, pakaian maupun tempat
tinggalnya, tidak mempunyai pekerjaan yang dapat memenuhi kebutuhan
pokoknya.
2. Miskin
Miskin ialah orang yang mempunyai harta atau mata pencaharian,
namun belum mencukupi keperluannya sehari-hari, baik ia meminta-minta
maupun tidak.
3. Amal zakat
Menurut Fatwa Majelis ulama Indonesia (MUI) No. 8 Tahun 2011
tentang amil zakat, pengertian amil zakat adalah seseorang atau sekelompok
orang yang diangkat oleh pemerintah untuk mengelola pelaksanaan ibadah
zakat, atau seseorang atau sekelompok orang yang dibentuk oleh

16
Asmaji Muchtar, Fatwa-Fatwa Imam Syafi’i Masalah Ibadah (Jakarta: Amzah, 2014), hal. 271

15
masyarakat dan disahkan oleh pemerintah untuk mengelola pelaksanaan
ibadah zakat.17
4. Muallaf
Secara prinsip, pengertian muallaf adalah orang0orang yang baru
memeluk agama Islam. Para ahli fikih banyak memberikan masukan antara
lain yang menambah perluasan makna dari pengertian muallaf itu sendiri.
Dalam kajian fikih klasik, muallaf diklasifikan menjadi empat macam yaitu:
pertama, muallaf muslim ialah orang yang sudah masuk Islam tetapi niat
dan imannya masih lemah. Kedua, orang yang telah masuk Islam, niat dan
imannya sudah cukup kuat. dan juga terkemuka (tokoh) di kalangan
kaumnya. Ketiga, muallaf yang mempunyai kemampuan untuk
mengantisipasi tindak kejahatan yang datang dari kaum kafir. Keempat,
muallaf yang mempunyai kemampuan mengantisipasi kejahatan yang
datang dari kelompok pembangkang wajib zakat.
5. Riqab
Di masa Rasullullah SAW, seorang budak telah menjadi makanan
sehari-hari untuk diperlakukan secara tidak manusiawi. Oleh karena itu,
riqab atau secara bahasa berarti memerdekan budak menjadi salah satu
sasaran penerima zakat yang berhak menurut Al Quran
6. Gharim
Menurut mazhab Abu Hanifah, gharim adalah orang yang
mempunyai utang dan aset yang dimiliki tidak mencukupi untuk memenuhi
utangnya tersebut.
7. Fi Sabilillah
Kerap diartikan sebagai jihad (Berperang), karena memang pada
sejumlah ayat al-Qur’an arti kata fi sabilillah sangat Berdekatan dengan
pemahaman jihad Berperang di jalan allah. apaBila dikaitkan dengan
Indonesia sekarang yang tidak dalam kondisi Berperang dengan pihak mana
pun, maka tentu dana ini harus dialihkan kepada Bentuk lain dari Berjihad
di jalan allah. Bukan mereka yang mengangkat senjata api tapi Bagi mereka
yang mengangkat penaa menuntut ilmu untuk mengibarkan panji agama

17
Majelis Ulama Indonesia, Himpunan Fatwa MUI Sejak 1975 (Jakarta: Erlangga, 2011)

16
Allah di muka Bumi ini. Perjuangan seorang muslim untuk meningkatkan
SDM lebih realistis untuk dikatakan sebagai pejuang di jalan Allah untuk
era ini. Masih banyak putra putri bangsa ini yang tidak sekolah atau putus
sekolah karena kendala biaya. Dan masih banyak komunitas umat Islam di
Indonesia yang membutuhkan sarana dan prasarana yang memadai dalam
menyelenggarakan pendidikan.
8. Ibnu Sabil
Ibnu sabil menurut jumhur ulama adalah kiasan untuk
musafir (perantau), yaitu orang yang melakukan perjalanan dari satu daerah
kedaerah lain. Imam Thabari meriwayatkan dari Mujahid: “ Ibnu Sabil
mempunyai hak dari dana zakat apabila kehabisan akomodasi
dan perbekalannya walaupun pada asal ekonominya berkecukupan.

17
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Zakat merupakan saah satu rukun islam yang keberadaannya menjadi salah
satu penyangga bagi kesempurnaan islam. Zakat dapat dibedakan menjadi dua
jenis, yaitu zakat fitrah dan zakat mall.

Infaq berarti mengeluarkan sesuatu untuk kepentingan sesuatu. Adapun


perbedaan infaq dengan zakat dapat dilihat dari waktu pengeluarannya, dalam zakat
ada nisabnya sedangkan infaq tidak ada, baik dia berpenghasilan tinggi maupun
rendah

Sedekah adalah pemberian dari seorang muslim secara suksrela tanpa


dibatasi waktu dan jumlah ( haul dan nisbah) sebagai kebaikan dengan mengharap
ridho allah. Antara infaq atau shadaqoh terdapat perbedaan makna yang terletak
pada bendanya. Kalau infaq berkaitan dengan amal yang material, sedangkan
shadaqoh berkitan dengan amal baik yang wujudnya material maupun non-material.

Wakaf adalah penahanan Harta yang dapat diambil manfaatnya tanpa


musnah seketika dan untuk penggunaan yang mubah serta dimaksudkan untuk
mendapatkan keridhaan Allah.

Landasan Hukum Zakat, Infaq, Shadaqah, dan Wakaf : dalam QS. At


Taubah/9 : 103, dalam QS.Al-Baqarah/2 : 219, dll

Regulasi dan undang-undang yang berlaku di Indonesia : Kebijakan tentang


regulasi zakat di Indonesia dimulai dari Peraturan Menteri Agama Nomor 4 Tahun
1968 tentang pembentukan Badan Amil Zakat dan Peraturan Menteri Agama
Nomor 5 Tahun 1968 tentang pembentukan Baitul Mal (Balai Harta Kekayaan) di
Tingkat Pusat, Propinsi dan Kabupaten/ Kotamadya.

Rukun dan Syarat Zakat, Infaq dan Shodaqoh yaitu : Rukun zakat ialah
mengeluarkan sebagian dari nishab (harta), dengan melepaskan kepemilikan

18
terhadapnya, menjadikannya sebagai milik orang fakir, dan menyerahkannya
kepadanya. Syarat-syarat zakat: Pada prinsipnya zakat infaq dan shodaqoh itu sama
artinya, paling tidak esensinya, baik dalam al-Quran maupun Hadits

Rukun dan syarat infaq maupun shadaqah yaitu : orang yang memberi,
orang yang diberi, barang yang akan diberikan dan ijab dan qabul.

Muzakki adalah seseorang yang berkewajiban mengeluarkan zakat.


Mustahiq adalah orang atau badan yang berhak menerima zakat.

19
DAFTAR PUSTAKA

Anshori.Umar. 1987. Fiqih Syafi’i Sistematis II. Semarang : CV. Asy-Syifa

Asmaji Muchtar.2014. Fatwa-Fatwa Imam Syafi’i Masalah Ibadah. Jakarta:


Amzah

Huda.Nurul, Heykal,M.2010 Lembaga Keuangan Islam Tinjauan Teoritis dan


Praktik,Jakarta: Kencana
H. Cholid Padulullah,SH. 2017. Mengenal Hukum ZIS( Zakat Infaq dan Shadaqah)
dan
Pengamalannya di DKI Jakarta, Jakarta: Badan Amil Zakat,Infaq/shadaqah DKI
Jakarta
Jamaluddin, Syakir. 2015. Kuliah Fiqih Ibadah. Yogyakarta. Gramasurya
Kementrian Agama,UU No. 38 Tahun 1999 tentang pengelolaan zakat

Khasanah, Umratul.2010. Manajemen Zakat Modern: Instrumen Pemberdayaan


Ekonomi Umat. Malang: UIN-Maliki Press
Majelis Ulama Indonesia, 2011. Himpunan Fatwa MUI Sejak 1975.Jakarta:
Erlangga
Muhammad Sanusi, 2009. The Power of Sedekah, Yogyakarta : Pustaka Insan
Madani
M. Damawan Rahardjo, 1999. Islam dan Transformasi Sosial-Ekonomi,
Yogyakarta : Lembaga Studi Agama dan Filsafat
M. Irfan el-Firdausy. 2009. Dahsyatnya Sedekah Meraih Berkah Dari Sedekah,
Yogyakarta :
Cemerlang Publishing
Rahman Ritonga dan Zainuddin. 2002. Fiqh dan Ibadah. Jakarta: Gaya Media
Pratama

Rofiq, Ahmad. 2004. fiqih kontekstual:dari normative ke pemaknaan social,


yogyakarta. Pustaka pelajar

20