Anda di halaman 1dari 44

TUGAS PERENCANAAN SISTEM PENCEGAHAN DAN

PENANGGULANGAN KEBAKARAN INSTALASI HYDRANT


PADA GEDUNG APARTMENT WANGUNAN ING JERO ATI

NAMA : Muhammad Rinaldi Arazaqu P


NRP : 0517040021
KELAS :K3–5A

TEKNIK KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA


JURUSAN TEKNIK PERMESINAN KAPAL
POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA
2019
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN........................................................................................................... i
DAFTAR ISI ..................................................................................................................................... ii
DAFTAR GAMBAR ...................................................................................................................... iv
DAFTAR TABEL ............................................................................................................................ v
BAB I PENDAHULUAN............................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang .................................................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................................ 2
1.3 Tujuan .................................................................................................................................. 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA .................................................................................................. 4
2.1 Prinsip Terjadinya Kebakaran .................................................................................... 4
2.1.1 Teori Segitiga Api ...................................................................................................... 5
2.1.2 Fire Tetra Hedron ...................................................................................................... 5
2.2 Pencegahan Bahaya Kebakaran .................................................................................. 6
2.3 Penanggulangan Bahaya Kebakaran ......................................................................... 6
2.4 Perencanaan Konsep ....................................................................................................... 7
2.4.1 Klasifikasi Bahaya Hunian ....................................................................................... 7
2.5 Instalasi Hydrant Kebakaran ....................................................................................... 9
2.6 Rumus Head Loss Mayor dan Minor, Daya Pompa, Volume Reservoir ........ 18
2.7 Deskripsi Gedung ............................................................................................................. 21
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ................................................................................ 23
3.1 Diagram Alir Perancangan ............................................................................................ 23
3.2 Prosedur Perancangan .................................................................................................... 23
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................................................

i
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Diagram Fenomena Kebakaran ......................................................................... 4


Gambar 2.2 Segitiga Api ............................................................................................................... 5
Gambar 2.3 Fire Tetrahedron ...................................................................................................... 5
Gambar 3.1 Diagram alir perancangan sistem hydrant ..................................................... 23

ii
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Klasifikasi Bangunan Menurut Tinggi dan Jumlah Lantai ............................ 9
Tabel 2.2 Hydrant Berdasarkan Luas Lantai Klasifikasi Bangunan dan Jumlah
Lantai Bangunan ............................................................................................................................. 11
Tabel 2.3 Kehilangan Tekanan dalam Slang dan Nozzle .................................................... 15

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Keadaan darurat atau emergency merupakan kondisi yang tidak diinginkan yang
datang secara tiba-tiba. Semakin berkembangnya zaman, maka perkembangan dan
pertumbuhan bangunan, gedung, atau pabrik di berbagai tempat, sehingga potensi
bahaya kebakaran pada setiap bangunan tersebut dapat timbul, dengan begitu
pengamanan pada setiap bangunan atau gedung terhadap bahaya kebakaran juga
sangat diperlukan, hal ini dikarenakan masih adanya gedung-gedung atau pabrik yang
belum dilengkapi dengan fasilitas pemadam kebakaran yang lengkap dan terpasang
dengan baik, dalam melakukan perencanaan sistem pencegahan dan penanggulangan
kebakaran diharapkan dapat membantu bangunan yang ada. Menurut NFPA 10 Tahun
2013 kebakaran merupakan suatu peristiwa oksidasi yang melibatkan tiga unsur yaitu
bahan bakar, oksigen dan sumber energy atau panas yang berakibat menimbulkan
kerugian harta benda, cidera bahkan kematian.
Instalasi hydrant kebakaran adalah suatu sistem pemadam kebakaran yang tetap,
yang menggunakan media pemadam air bertekanan yang dialirkan melalui pipa-pipa
dan selang kebakaran. Sistem hydrant terdiri dari: sistem persediaan air, pompa,
perpipaan, kopling outlet dan inlet serta selang dan nozzle, ada 2 macam hydrant yang
digolongkan berdasarkan jenis dan penempatannya yaitu hydrant gedung dan hydrant
halaman. Hydrant gedung ialah hydrant yang terletak didalam suatu bangunan/gedung,
sedangkan hydrant halaman ialah hydrant yang terletak diluar bangunan.
Sistem instalasi hydrant terdiri dari sistem instalasi hydrant kering dan basah.
Sistem instalasi hydrant kering yaitu suatu sistem hydrant yang pipa-pipanya tidak
berisi air, dan akan berisi air jika hydrant tersebut digunakan, sedangkan untuk sistem
instalasi hydrant basah yaitu suatu sistem hydrant yang pipa-pipanya selalu berisi air.
Pemasangan hydrant pada setiap bangunan mempermudah untuk mengamankan
bangunan dari timbulnya bahaya kebakaran. Selain itu, perlu dilakukannya uji teknis
terhadap setiap instalasi hydrant yang terpasang pada bangunan, hal ini bertujuan agar
pada saat terjadinya kebakaran pada area bangunan tersebut hydrant dapat berfungsi
sebagaimana mestinya dan dapat sesegera mungkin memadamkan api. Maka dari itu

1
dilakukan perancangan serta perhitungan headloss dari sistem perpipaan hydrant pada
gedung apartment “Wangunan Ing Jero Ati”

1.2 Rumusan Masalah


Adapun perumusan masalah yang akan di bahas adalah :
1. Bagaimana cara menentukan peletakan serta pemasangan sistem instalasi
hydrant pada gedung apartment Wangunan Ing Jero Ati ?
2. Bagaimana cara menentukan jumlah pilar hydrant pada instalasi hydrant pada
gedung apartment Wangunan Ing Jero Ati ?
3. Bagaimana cara menentukan daya pompa untuk instalasi sistem hydrant pada
gedung apartment Wangunan Ing Jero Ati ?
4. Bagaimana cara menentukan kelas bahaya kebakaran pada gedung
apartment Wangunan Ing Jero Ati ?
5. Bagaimana cara menentukan jumlah kebutuhan hydrant pada gedung
apartment Wangunan Ing Jero Ati ?
6. Bagaimana cara menghitung head loss dari instalasi hydrant pada
gedung apartment Wangunan Ing Jero Ati ?
7. Bagaimana cara menentukan analisis hasil perhitungan dan perancangan untuk
gedung apartment Wangunan Ing Jero Ati ?
8. Bagaimana untuk memberi kesimpulan dari hasil analisis untuk instalasi hydrant
pada gedung apartment Wangunan Ing Jero Ati ?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari perencanaan sistem Hydrant sebagai sarana pencegahan
dan penanggulangan kebakaran adalah sebagai berikut :
1. Menentukan peletakan serta pemasangan sistem instalasi hydrant pada
gedung apartment Wangunan Ing Jero Ati .
2. Menentukan jumlah pilar hydrant pada instalasi hydrant pada gedung
apartment Wangunan Ing Jero Ati.
3. Menentukan daya pompa untuk instalasi sistem hydrant pada gedung
apartment Wangunan Ing Jero Ati.
4. Menentukan kelas bahaya kebakaran pada gedung apartment Wangunan Ing Jero Ati.
5. Menentukan jumlah kebutuhan hydrant pada gedung apartment Wangunan Ing Jero
Ati

2
6. Menghitung head loss dari instalasi hydrant pada gedung apartment Wangunan Ing
Jero Ati.
7. Menentukan analisis hasil perhitungan dan perancangan untuk gedung
apartment Wangunan Ing Jero Ati.
8. Memberi kesimpulan dari hasil analisis untuk instalasi hydrant pada gedung
apartment Wangunan Ing Jero Ati.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Prinsip Terjadinya Kebakaran


Kebakaran merupakan suatu bencana dimana api yang semula bersahabat (api
kecil) menjadi tidak terkendali dan mulai membakar segala sesuatu yang ada
didekatnya (api besar). Kebakaran dapat terjadi karena hubungan arus pendek listrik,
kompor yang meledak, dan lain-lain. Bencanan kebakaran ini akan dapat
mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit, baik itu kerugian yang bersifat material
maupun kerugian immaterial. Untuk dapat mencegah serta menanggulangi bahaya
kebakaran tersebut, maka kita perlu mengetahui beberapa informasi dan teori tentang
kebakaran itu sendiri.
Kebakaran bukanlah suatu hal yang terjadi secara kebetulan, namun adanya suatu
proses atau tahapan-tahapan yang terjadi bisa disebut juga dengan diagram fenomena
kebakaran seperti Gambar 2.1 dibawah ini.

Gambar 2.1 Diagram Fenomena Kebakaran


(Sumber: Pengawasan K3 Penanggulangan Kebakaran, 2008)

4
2.1.1 Teori Segitiga Api
Unsur pokok terjadinya api dalam teori klasik yaitu teori segitiga api
(Triangle of fire) menjelaskan bahwa untuk dapat berlangsungnya proses nyala
api diperlukan adanya tiga unsur pokok yaitu Bahan yang dapat terbakar (Fuel),
Oksigen (O2) yang cukup dari udara atau dari bahan oksidator, dan panas yang
cukup.(lihat Gambar 2.2)

Gambar 2.2 Segitiga Api


(Sumber: http://www.firesafe.org.uk, 2016)

2.1.2 Fire Tetra hedron


Selama bertahun-tahun konsep dari api telah ditandai dengan segitiga api.
Pembakaran dan dimulai dari adanya bahan bakar, panas dan oksigen. Namun
seiring dengan perkembangan maka reaksi pembakaran mempunyai tambahan
yang terdiri dari empat unsur yaitu bahan bakar, panas, oksigen, dan suatu reaksi
rantai bahan kimia. (lihat Gambar 2.3)

Gambar 2.3 Fire Tetrahedron


(Sumber: http://www.firesafe.org.uk, 2016)

5
2.2 Pencegahan Bahaya Kebakaran
Setelah mengetahui teori segitiga api dan fenomena kebakaran, maka kita dapat
mengetahui bagaimana tata cara pencegahan bahaya kebakaran, diantaranya adalah
sebagai berikut:
a. Cara Penguraian
Yaitu dengan cara memisahkan/menempatkan pada tempat khusus bahan
bakar atau yang mudah terbakar.
b. Cara Pendinginan
Yaitu dengan cara menurunkan temperatur bahan bakar hingga berada
dibawah titik nyalanya.
c. Cara Isolasi
Yaitu dengan cara menurunkan konsentrasi/kadar oksigen hingga dibawah 12%.

2.3 Penanggulangan Bahaya Kebakaran


Jika ternyata kebakaran tetap saja terjadi, maka dibutuhkan teknik
penanggulangan kebakaran yaitu:
a. SER (Self Emergency Response)
Suatu teknik pemadaman kebakaran dengan cara memanfaatkan sarana dan
prasarana yang tersedia seperti Hydrant, APAR, Sprinkler dan lain-lain. Jika sarana
dan prasarana ini tidak tersedia atau kurang memadai maka terkadang kebakaran
akan sulit ditanggulangi.
b. CER (Community Emergency Response)
Suatu teknik pemadaman kebakaran dengan cara meminta bantuan kepada
masyarakat sekitar dan juga kepada departemen pemadaman kebakaran. Hal ini
sering dilakukan karena pada bangunan yang terbakar tidak memiliki sarana dan
prasarana penanggulangan kebakaran yang memadai. Namun, CER ini terkadang
mendapat hambatan seperti keterlambatan, akses masuk yang sempit sehingga truk
pemadam kebakaran tidak dapat masuk, dan kurangnya ketersediaan air pada
lokasi kebakaran sehingga truk pemadam kebakaran harus bolak-balik ke lokasi
kebakaran untuk mengambil air.

6
2.4 Perencanaan Konsep
Untuk merencanakan instalasi sistem pencegahan kebakaran harus
diperhatikan beberapa faktor yang menentukan antara lain:
2.4.1 Klasifikasi Bahaya Hunian
Klasifikasi bahaya hunian digunakan untuk dapat disesuaikan dengan
sarana dan prasarana emergency dan evakuasi di tempat kerja. Berdasarkan
Kepmenaker 186/MEN/1999 klasifikasi tersebut, terdiri dari :
1. Bahaya kebakaran ringan ialah jenis hunian yang mempunyai jumlah dan
kemudahan terbakar rendah, dan apabila terjadi kebakaran melepaskan panas
rendah sehingga menjalarnya api lambat.
Yang dimaksud bahaya kebakaran ringan adalah Hunian:
- Ibadat - Perkantoran
- Pendidikan - Perumahan
- Perawatan - Rumah makan
- Lembaga - Perhotelan
- Perpustakaan - Rumah sakit
- Museum - Penjara

2. Bahaya Kebakaran Sedang


- Bahaya kebakaran sedang kelompok I
Jenis hunian yang mempunyai jumlah dan kemudahan terbakar sedang,
penimbunan bahan yang mudah terbakar dengan tinggi tidak lebih dari 2,5
m,dan apabila terjadi kebakaran melepaskan api sedang sehingga
menjalarnya api sedang. Yang termasuk bahaya kebakaran sedang
kelompok 1 ialah hunian:
- Parkir mobil - Pabrik susu
- Pabrik minuman - Pabrik elektronik
- Pabrik roti - Pabrik barang gelas
- Pengalengan - Pabrik permata

- Bahaya Kebakaran sedang kelompok II


Jenis hunian yang mempunyai jumlah dan kemudahan terbakar sedang,
penimbunan bahan yang mudah terbakar dengan tinggi tidak lebih dari 4 m

7
,dan apabila terjadi kebakaran melepaskan api sedang sehingga menjalarnya
api sedang. Yang termasuk bahaya kebakaran sedang kelompok II ialah
hunian:
- Penggilingan padi - Pabrik bahan makanan
- Pabrik bahan kimia - Pertokoan
- Perdagangan - Perakitan barang kayu
- Gudang pendinginan - Pengolahan logam
- Gudang perpustakaan - Pabrik barang kelontong
- Pabrik tembakau - Pabrik tekstile
- Penyulingan - Percetakan dan penerbitan
- Pabrik barang kulit - Pabrik perakitan kendaraan Bermotor

- Bahaya Kebakaran Sedang Kelompok III


Jenis hunian yang mempunyai jumlah dan kemudahan terbakar tinggi,
dan apabila terjadi kebakaran melepaskan panas tinggi, sehingga menjalarnya
api cepat. Berikut termasuk bahaya kebakaran sedang kelompok III ialah
hunian:
- Pameran - Pabrik permadani
- Pabrik makanan - Pabrik sikat
- Pabrik ban - Pabrik karung
- Bengkel mobil - Pabrik sabun
- Studio dan pemancar - Pabrik lilin
- Pabrik makan kering - Pabrik plastic dan barang plastic
- Pabrik pesawat terbang - Pabrik tepung terigu

3. Bahaya Kebakaran Berat


Jenis hunian yang mempunyai jumlah dan kemudahan terbakar tinggi,
dan apabila terjadi kebakaran melepaskan panas tinggi, penyimpanan cairan
mudah terbakar, serat atau bahan lain yang apabila terbakar apinya akan
cepat menjadi besar dengan melepaskan panas tinggi sehingga menjalannya
api cepat. Yang termasuk bahaya kebakaran tinggi ini ialah hunian:
- Pabrik kimia dengan -Pabrik karet busa atau kemudahan terbakar
tinggi plastic busa
- Penggergajian kayu dengan - Studio film dan TV

8
- Pabrik karet buatan bahan mudah terbakar - Pabrik cat
- Pabrik kembang api - Pemintalan benang

Dalam memadamkan kebakaran perlu memperhatikan klasifikasi bahan yang


terbakar berdasarkan NFPA 10 tahun 1998, yaitu:
1. Kelas A : Kebakaran bahan padat (contoh : kayu, kain textile, kertas,
karet, plastic)
2. Kelas B : Kebakaran bahan cair (contoh : minyak gemuk, alcohol, tinner)
3. Kelas C : Kebakaran gas dan Instalasi listrik
4. Kelas D : Kebakaran benda logam (contoh : magnesium, titanium, potassium)

2.5 Instalasi Hydrant Kebakaran


Untuk merencanakan instalasi hydrant kebakaran harus diperhatikan beberapa
faktor yang menentukan antara lain :
1. Klasifikasi bangunan menurut tinggi dan jumlah lantai
Tabel 2.1 Klasifikasi Bangunan Menurut Tinggi dan Jumlah Lantai

Klasifikasi
Ketinggian dan Jumlah Lantai
Bangunan

A Ketinggian sampai dengan 8 meter atau 1 (satu) lantai (lapis)

B Ketinggian sampai dengan 8 meter atau 2 (dua) lantai (lapis)

Ketinggian sampai dengan 14 meter atau 4 (empat) lantai


C
(lapis)

Ketinggian sampai dengan 40 meter atau 8 (delapan) lantai


D
(lapis)

Ketinggian lebih dari 40 meter atau diatas 8 (delapan) lantai


E
(lapis)

(Sumber: SNI-03-1745-2000)

9
2. Klasifikasi Bahaya Hunian
Berikut adalah klasifikasi bahaya hunian:
a. Bahaya Kebakaran ringan ialah bahaya terbakar pada tempat dimana terdapat
bahan-bahan yang mempunyai nilai kemudahan terbakar rendah dan apabila
terjadi kebakaran melepaskan panas rendah dan menjalarnya api lambat.
b. Bahaya Kebakaran Sedang kelompok 1 ialah bahaya kebakaran pada tempat
dimana terdapat bahan-bahan yang mempunyai nilai kemudahan terbakar
sedang, penimbunan bahan yang mudah terbakar dengan tinggi tidak lebih 2,5
meter dan apabila terjadi kebakaran, melepaskan panas sedang, sehingga
menjalarnya api sedang.
c. Bahaya Kebakaran Sedang kelompok 2 ialah bahaya kebakaran pada tempat
dimana terdapat bahan-bahan yang mempunyai nilai kemudahan terbakar
sedang, penimbunan bahan yang mudah terbakar dengan tinggi tidak lebih dari
4 meter dan apabila terjadi kebakaran melepaskan panas sedang, sehingga
menjalarnya api sedang.
d. Bahaya Kebakaran Sedang kelompok 3 ialah bahaya kebakaran pada tempa
dimana terdapat bahan-bahan yang mempunyai nilai kemudahan terbakar
tinggi dan apabila terjadi kebakaran, melepaskan panas tinggi, sehingga
menjalarnya api cepat.
e. Bahaya Kebakaran Berat ialah bahaya kebakaran pada tempat dimana terdapat
bahan-bahan yang mempunyai nilai kemudahan terbakar tinggi dan apabila
terjadi kebakaran melepaskan panas sangat tinggi dan penjalaran api sangat
cepat.

3. Klasifikasi Hydrant
Hydrant dapat diklasifikasikan berdasarkan jenis dan penempatan serta besar
ukuran pipa yang digunakan. Berikut adalah penjelasan mengenai klasifikasi
hydrant:
a. Berdasarkan jenis dan penempatan hydrant:

  Hydrant gedung

  Hydrant halaman

b. Berdasarkan besar ukuran pipa hydrant yang dipakai:

10
 Hydrant kelas I : Suatu hydrant yang menggunakan ukuran slang 6,25 cm
(2,5 Inc)

 Hydrant kelas II : Suatu hydrant yang menggunakan ukuran slang 3,75 cm
(1,5 Inc)

 Hydrant kelas III : Suatu hydrant yang menggunakan ukuran sistem
gabungan kelas I dan kelas II


4. Peletakan hydrant berdasarkan luas lantai klasifikasi bangunan dan jumlah lantai
gedung berdasarkan Keputusan menteri pekerjaan umum Nomor 02/KPTS/1985.

Tabel 2.2 Hydrant Berdasarkan Luas Lantai Klasifikasi Bangunan dan


Jumlah Lantai Bangunan

Klasifikasi Ruang tertutup Ruang tertutup dan terpisah


Bangunan Jumlah/luas lantai Jumlah/luas lantai

2 2
A 1 buah per 1000 m 2 buah per 1000 m
2 2
B 1 buah per 1000 m 2 buah per 1000 m
2 2
C 1 buah per 1000 m 2 buah per 1000 m
2 2
D 1 buah per 800 m 2 buah per 800 m
2 2
E 1 buah per 800 m 2 buah per 800 m
(Sumber: SNI-03-1745-2000)

5. Bangunan Industri
Setiap bangunan industri harus dilindungi dengan instalasi hydrant kebakaran
dengan ketentuan sebagi berikut :
a. Panjang slang pancaran air dapat menjangkau seluruh ruangan yang dilindungi.
b. Setiap bangunan dengan bahaya kebakaran ringan yang mempunyai luas lantai
2 2
minimum 1000 m dan maksimum 2000 m harus dipasang minimum 2 titik
2
hydrant, setiap penambahan luas lantai maksimum 1000 m harus ditambah
minimum 1 titik hydrant.

11
c. Setiap bangunan indusrti dengan kebakaran sedang yang mempunyai luas lantai
2 2
minimum 800 m dan maksimum 1600 m harus dipasang minimum 2 titik
2
hydrant, setiap penambahan luas lantai maksimum 800 m harus ditambah
minimum 1 titik hydrant.
d. Setiap bangunan industry dengan kebakaran tinggi yang mempunyai luas lantai
2 2
minimum 600 m dan maksimum 1200 m harus dipasang minimum 2 titik
2
hydrant, setiap penambahan luas lantai maksimum 600 m harus ditambah
minimum 1 titik hydrant.

6. Bangunan Umum
Setiap bangunan umum atau tempat pertemuan dan perdagangan harus
dilindungi dengan instalasi hydrant kebakaran dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Slang dan pancaran air yang dapat menjangkau seluruh ruangan yang
dilindungi.
b. Setiap bangunan umum/tempat pertemuan, tempat hiburan, perhotelan, tempat
2
perawatan, perkantoran dan pertokoan/pasar untuk setiap 800 m
harus dipasang minimum 1 titik hydrant.
2
c. Setiap bangunan tempat beribadah dan pendidikan untuk setiap 1000 m
harus dipasang minimum 1titik hydrant.
2
d. Setiap bangunan perumahan dengan luas minimum 1000 m harus
dipasang minimum 1 titik hydrant.

7. Sistem Pasokan Air


Untuk sistem pasokan air berdasarkan SNI 03-6570-2001 harus
diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a. Sumber pasokan air untuk kebutuhan hydrant dapat berasal dari PDAM, sumur
artesis, sumur gali dengan sistem penampungan, tangki gravitasi, tangki
bertekanan, reservoir air dengan sistem pemompaan.
b. Persediaan air setiap saat yang dapat dipergunakan minimum selama 30
menit pada kapasitas pompa 1800 liter/menit

12
8. Sistem Pompa
Pompa kebakaran harus tersedia 2 unit pompa dengan kapasitas yang sama,
dimana 1 unit sebagai pompa utama dan yang lain sebagai cadangan, jika
bangunan mempunyai sumber listrik dari PLN sebagai sumber daya utama dan
mempunyai sumber daya listrik dari diesel genset sebagai cadangan, maka pompa
hydrant dalam bangunan tersebut harus terdiri dari 2 buah pompa hydrant listrik, 1
beroperasi dan 1 sebagai cadangan dan 1 pompa pacu, jika bangunan tidak
mempunyai daya genset sebagai cadangan, maka pompa hydrant terdiri dari :
 1 buah pompa hydrant listrik sebagai pompa utama

 1 buah pompa hydrant diesel sebagai cadangan

 1 buah pompa pacu

a. Kemampuan pompa dalam liter permenit.


b. Tempat dimana pompa akan dipasang.
c. Temperatur dan berat jenis zat cair.
d. Panjang pemipaan, banyaknya belokan, dan banyaknya penutup/kran.
e. Tekanan air pada titik tertinggi/terjauh tidak kurang dari 4-5 kg/cm.
f. Bekerja secara otomatis dan stop secara manual.
g. Sumber tenaga listrik harus ada dari generator darurat dapat bekerja secara
otomatis dalam waktu kurang dari 10 detik bila sumber utama padam.

9. Sistem Perpipaan
Dalam merencanakan sistem perpipaan berdasarkan SNI 03-1745-2000 harus
diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a. Diameter pipa induk minimum 15 cm atau 6 inchi dan diameter pipa
cabang minimum 10 cm atau 4 inchi atau dihitung secara hidrolis.
b. Tidak boleh digabungkan dengan instalasi lainnya.
c. Pipa berdiameter sampai 6,25 cm atau 2,5 inchi harus
menggunakan sambungan ulir.
d. Bilamana pipa baja disambung dengan fitting ulir, tebal dinding minimum
harus sesuai dengan pipa skedul 30 [untuk ukuran 200 mm (8 inci) dan lebih
besar atau pipa skedul 40 [untuk ukuran pipa kurang dari 200 mm (8
inci)dengan tekanan sampai dengan 20,7 bar (300 psi).

13
e. Pipa berdiameter lebih besar dari 6,25 cm atau 2,5 inchi harus menggunakan
sambungan las.
f. Bilamana pipa baja yang dipakai dan penyambungan dengan las sesuai
ketentuan yang berlaku, tebal dinding nominal minimum untuk tekanan
sampaidengan 20,7 bars (300 psi) harus sesuai skedule 10 untuk ukuran pipa
sampai dengan 125 mm (5 inci); 3,40 mm (0,134 inci) untuk pipa 150 mm (6
inci);dan 4,78 mm (0,188 inci) untuk pipa 200 mm (8 inci) dan 250 mm (10
inci).
g. Memasang pipa horizontal.

  Diberi penggantung dengan kemampuan 5 kali berat pipa berisi air 



  Harus terpisah dengan penggantung lain

  Jarak antara penggantung maximum 3,5 m.

h. Pipa yang menembus beton bangunan harus disediakan selongsong dari
besituang atau pipa baja dengan kelonggarn minimum 25 mm di luar pipa.
i. Pipa yang dipasang di dalam tanah harus memenuhi persaratan

  Kedalaman minimal 75 cm dari permukaan tanah



  Pipa harus diberi tumpuan pada jarak setiap 3 m

  Dasar lubang galian harus cukup stabil dan rata

  Pipa harus dicat flincoote minimum 3 lapis 

 Pemasangan pipa di daerah korosi perlu dilindungidengan cara yang tepat.

10. Selang dan Nozzle


a. Selang Air
Selang air pemadam kebakaran dibuat secara kusus dari bahan kanvas,
polyester dan karet sesuai dengan fungsi yang diperlukan dalam
tugaspemadaman yaitu:
 Harus kuat menahan tekanan air yang tinggi

 Tahan gesekan

 Tahan pengaruh zat kimia

 Mempunyai sifat yang kuat, ringan dan elastis

 Panjang selang air 30 m dengan ukuran 1,5 inchi s/d 2,5 inchi
Dilengkapi dengan kopling dan nozle sesuai dengan ukuran.

14
b. Nozle
Nozle yang dihubungkan pada selang kebakaran ada 2 tipe yaitu jenis jet
(fix nozle) dan nozle kombinasi. Nozle dengan semprotan jet (semprotan lurus)
untuk tujuan semprotan jarak jauh. Nozle kombinasi yang dapat diatur dengan
bentuk jenis pancaran lurus dan pancaran spray. Jenis pancaran spray bertujuan
sebagai perisai untuk mendekat ke daerah kebakran. Kehilangan tekanan karena
gesekan pada selang dan nozle harus diperhitungkan sesuai dengan tabel sebagai
berikut:
Tabel 2.3 Kehilangan Tekanan dalam Slang dan Nozzle
Kapasitas
Kehilangan Tekanan Gesekan
Aliran Ukuran Nozzle
dalam Slang 2,5” per 100 m
Liter/menit

600 2,5 cm/1” 21 psi

700 2,5 cm/1“ 27 psi

800 2,5 cm/1” 30 psi

900 2,5 cm/1” 33 psi

(Sumber: NFPA 14, 1996)

11. Hydrant Gedung dan Hydrant


Halaman a. Hydrant Gedung:
1. Diameter selang untuk hydrant gedung maximum 1,5” atau 40 mm
2. Diameter pipa tegak harus memenuhi ketentuan:
 Untuk bangunan rendah diameter pipa tegak 2” atau 50 mm

 Untuk bangunan tinggi kelas A, diameter pipa tegak 2,5” atau 65mm

 Untuk bangunan tinggi kelas B, diameter pipa tegak 4” atau 100 mm

3. Tekanan maksimum pada titik terberat adalah 7 kg/cm2 dan pada titik
terlemah sebesar 4,5 kg/cm2.
4. Dilengkapi dengan katub pengeluaran (landing valve) berukuran 2,5”.
b. Hydrant Halaman
1. Hydrant halaman atau hydrant pilar yang mempunyai satu atau
dua buahkopling pengeluaran dengan diameter2,5”
15
2. Tekanan maksimum pada titik terberat adalah 7 kg/cm2 dan tekanan
maksimal pada titik terlemah atau terjauh adalah 4,5 kg/cm2.
3. Hydrant pilar harus dipasang pada jarak tidak kurang dari 6 meter
dari tepibangunan
4. Pada sistim hydrant halaman harus ada sambungan kembar siam
(Siamese connection).

12. Pemeriksaan dan Pengujian Hydrant


1. Pemeriksaan instalasi hydrant sebaiknya dilakukan dengan disaksikan
oleh Dinas kebakaran dan pemilik gedung atau wakilnya.
2. Pemeriksaan dilakukan :
a. Pada instalasi sistem hydrant yang baru sedang dipasang atau
sebelum dioperasikan/bangunan sedang dibangun.
b. Pada instalasi sistem hydrant yang sudah ada/sudah terpasang.
3. Umum.
a. Selama pemeriksaan dan pengujian ini harus diperiksa kondisi dan
keadaan berikut:

  Sumuran atau PIT.



  Kerangka hydrant box dan pemasangannya.

  Penutup PIT dan pintu hydrant box. 

  Landasan hydrantbox.

  Sistem penggantung dan penyangga pipa.

b. Semua sistem hydrant yang baru harus diuji sebelum penghuni bangunan
masuk. Sistem hydrant yang telah ada yang akan digunakan sebagai sistem
kombinasi dengan sprinkler dan hydrant baru, harus juga diuji sesuai dengan
ketentuan berikut ini:
 Pengujian harus meliputi penggelontoran sambungan keluaran/flushing
outlet dan pemeriksaan sambungan outlet. Aliran dan tekanan pada
outlet harus diukur dan dicatat.

 Setelah dilakukan pengujian, harus dicheck ulang pengoperasian katup
outlet dan sumuran/PIT harus dalam keadaan bersih dan kosong.

 Pemipaan antara siamese connection dan katup balik (check valve) pada
pipa inlet harus digelontor dengan volume air yang cukupuntuk
16
menyingkirkan kotoran dan sampah yang terkumpul, dan penggelontoran
dilakukan sebelum pemasangan sambungan kembali.
 Ulir Slang.

a. Semua ulir sambungan slang damn ulir sambungan Siamese
connectionharus dicoba untuk meyakinkan kesesuaian dengan ulir- ulir
yang dipakai oleh dinas Pemadam Kebakaran Lokal.
b. Pengujian harus terdiri dari contoh-contoh ulir kopling capsatau
plugpada alat yang terpasang.

4. Uji Hidrostatis.
Menurut SNI 03-1745-2000 pengujian hidrostatis pada instalasi hydrant
sebagai berikut.
a. Umum
Semua sistem baru, termasuk pemipaan halaman dan sambungan
pemadam kebakaran, harus di uji secara hidrostatik pada tekanan tidak
kurang dari 13,8 bar ( 200 psi) selama 2 jam, atau dengan tambahan 3,5
bar (50 psi) dari tekanan maksimum apabila tekanan maksimum melebihi
10,3 bar (150 psi). Tekanan uji hidrostatik harus diukur pada titik
ketinggian terendah dari sistim individu atau zona yang akan diuji.
Pemipaan sistem pipa tegak di dalam harus menunjukkan tidak adanya
kebocoran. Pipa di dalam tanah harus diuji sesuai ketentuan yang
berlaku.
b. Sambungan Dinas Pemadam Kebakaran.
Pemipaan antara sambungan Dinas Pemadam Kebakaran dan check
valvepada pipa masuk harus diuji hidrostatis.

5. Uji aliran/Flow Test


a. Sumber air/water supply harus diuji untuk memeriksa apakah sumber air
sesuai dengan rancangan uji. Rancangan ini dilaksanakan dengan
mengalirkan air dari tempat yang secara hidrolis paling jauh letaknya.
b. Uji aliran harus dilakukan pada tiap roof outlet untuk mengetahui bahwa
pada titik terjauh tersebut masih terdapat aliran dan tekanan yang
diperlukan.

17
c. Pengaturan pengisian untuk suction tanks harus diperiksa dengan
menutup semua suplai air ke tangki, tangki dikurus sampai muka air
dibawah,dan kemudian kita buka suplai untuk menjamin beroperasinya
sistem otomatik.
d. Pressure Regulation Device.
 Setiap pressure regulating device harus diuji untuk membuktikan
bahwa pemasangannya benar, dan alat berfungsi secara baik dan
outletserta inlet sesuai rancangan.

 Residual inlet pressure dan residual outlet pressure serta aliran
harusdicatat sebagai test certificate.

2.6 Rumus Head Loss Mayor dan Minor, Daya Pompa, Volume Reservoir

1. Head losses mayor

Untuk menghitung kerugian gesek antara dinding pipa dengan aliran fluida
tanpa adanya perubahan luas penampang di dalam pipa dapat dipakai rumus Darcy
yang secara matematis ditulis sebagai berikut:

Dengan :

hf = head loss mayor (m)

f = koefisien gesekan

L = panjang pipa (m)

D = diameter dalam pipa (m)

v = kecepatan aliran dalam pipa (m/s)

2
g = percepatan gravitasi (m/s )
Untuk aliran laminer dan turbulen terdapat rumus yang berbeda. Sebagai
patokan apakah suatu aliran itu laminer atau turbulen, dipakai bilangan Reynolds:

18
Dengan:

Re = bilangan Reynolds

v = kecepatan rata-rata aliran di dalam pipa (m/s)

D = diameter dalam pipa (m)

2
ʋ = viskositas kinematik cairan (m /s)
Untuk Re < 2300, aliran bersifat laminar ; Untuk 2300 < Re < 4000,
aliran bersifat transisi ; Untuk Re > 4000, aliran bersifat turbulen

a. Aliran laminar

b. Aliran tubulen
Untuk menghitung koefisien gesek f dapat dihitung dengan
menggunakan rumus Darcy. Untuk mengetahui nilai f harus diketahui
kekasaran pipa (ε) dan diameter pipa (d). Haaland memberikan suatu
formula yang menyempurnakan persamaan yang ditemukan oleh Colebrook
untuk menentukan nilai f :

2. Head losses minor

Secara umum head losses minor dinyatakan secara umum dengan rumus:

Dengan:

h = head loss minor

K = koefisien resistansi valve atau fitting berdasarkan bentuk dan ukuran

v = kecepatan rata-rata aliran dalam pipa (m/s)

2
g = percepatan gravitasi (m/s )
(Sumber : Incropera, F.P. dan DeWitt, D.P., 1981)

19
3. Daya Pompa

Daya pompa adalah besarnya energi persatuan waktu atau kecepatan


melakukan kerja. Ada beberapa pengertian daya, yaitu :

1. Daya hidrolik (hydraulic horse power)


Daya hidrolik (daya pompa teoritis) adalah daya yang dibutuhkan untuk
mengalirkan sejumlah zat cair. Daya ini dapat dihitung dengan rumus :

2. Daya Poros Pompa (Break Horse Power)

Untuk mengatasi kerugian daya yang dibutuhkan oleh poros yang sesungguhnya
adalah lebih besar dari pada daya hidrolik. Besarnya daya poros sesungguhnya
adalah sama dengan effisiensi pompa atau dapat dirumuskan sebagai berikut :

3. Daya Penggerak (Driver)


Daya penggerak (driver) adalah daya poros dibagi dengan effisiensi mekanis
(effisiensi transmisi). Dapat dihitung dengan rumus :

20
4. Effisiensi Pompa
Effisiensi pada dasarnya didefinisikan sebagai perbandingan antara output
dan input atau perbandingan antara HHP Pompa dengan BHP pompa. Harga
effisiensi yang tertinggi sama dengan satu harga effisiensi pompa yang
didapat dari pabrik pembuatnya. Effisiensi pompa merupakan perkalian dari
beberapa effiaiensi, yaitu:

(Sumber : Ir. Sularso, MSME dan Prof. Dr. Haruo Tahara.1983)

4. Volume Reservoir
3
Volume Reservoir = s

2.7 Deskripsi Gedung


Gedung Apartment Wangunan Ing Jero Ati adalah sebuah gedung yang akan
dibangun sebagai gedung Apartment. Gedung Apartment ini akan dibangun 4 lantai
dengan rincian sebagai berikut :
1. Lantai dasar (Basement) : Digunakan sebagai lahan parkir, penyimpanan
genset, dan pompa
  Lahan Parkir
  Gudang dan genset
 Perpustakaan
 linik 
 Mushola
 Kantin Karyawan

2. Lantai 1 : Digunakan sebagai Pusat Administrasi dan Ruang Pertemuan
  R. Reservasi
  Atrium
 R. Retail

21
3. Lantai 2 : Digunakan sebagai Smoking Area dan beberapa Kamar untuk
penghuni.
 Smoking Area
  24 Kamar untuk Penghuni

4. Lantai 3-4 : Digunakan sebagai Smoking Area dan beberapa Kamar
penghuni
 Smoking Area
 24 Kamar untuk Penghuni

22
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Diagram Alir Perancangan


Gambar 3.1 di bawah ini merupakan diagram alir perancangan sistem hydrant.

Menentukan gedung yang akan


dirancang sistem hydrant

Menentukan luas area seluruh


gedung

Menentukan jumlah kebutuhan


hydrant berdasar SNI 03-1735-2000

Merancang sistem perpipaan hydrant

Menghitung head loss pada


perpipaan hydrant

Menghitung daya pompa dan


volume reservoir pada hydrant

Analisis hasil perhitungan

Kesimpulan

Gambar 3.1 Diagram alir perancangan sistem hydrant

3.2 Prosedur Perancangan


Prosedur dalam melakukan perancangan hydrant berserta sistem perpipaan
hydrant adalah sebagai berikut:
1. Menentukan gedung yang akan dirancang sistem hydrant.
2. Menentukan kelas bahaya kebakaran gedung apartment.
3. Menentukan luas area keseluruhan dari gedung apartment.

23
4. Menentukan jumlah kebutuhan hydrant pada gedung dengan mengacu pada standart SNI 03-1735-
2000.
5. Merancang sistem perpipaan untuk instalasi hydrant pada gedung apartment.
6. Menghitung head loss dari perpipaan instalasi hydrant.
7. Melakukan analisis hasil perhitungan dan perancangan.
8. Memberi kesimpulan pada hasil analisis.
9. Menggambar hasil perhitungan dan perancangan sistem hydrant beserta sistem perpipaan pada autocad.
BAB IV
ANALISA DAN PEMBAHASAN

4.1 Identifikasi Bahaya


Tabel 4.1 Identifikasi bahaya untuk setiap lantai pada gedung Diknas IV lantai

No Lantai Fungsi Luas Lantai Potensi Bahaya Klasifikasi

Digunakan sebagai 1350


Berpotensi terjadinya
lahan parkiran
kebakaran pada kendaraan Bahaya Kebakara
1 Lantai Dasar kendaraan karyawan
apabila terdapat sumber SNI 03-1
dan pengguna
api terbuka
gedung

Bahaya Kebakara
Digunakan sebagai SNI 03-1745-20
ruangan kepala UPT, tahun 2013) k
Berpotensi terjadinya kebakaran
staff UPT dan
kebakaran pada dokumen,
penyimpanan berkas.
2 Lantai 1 buku bacaan atau berkas
Serta penyimpanan
(kertas) apabila terdapat
makanan dan tempat
sumber api terbuka
memperoleh
informasi

Digunakan sebagai
ruang kepala dinas,
sekretariat, staff,
ruang
kabid,perpustakaan,
ruang arsip, dan
smoking area. Untuk Berpotensi terjadinya
penyimpanan kebakaran pada berkas
berkas-berkas (kertas) kerja penting yang
kantor, penyimpanan berada di ruang arsip Bahaya Kebak
buku-buku-buku maupun gudang karena (Menurut SNI 03-
3 Lantai 2 bacaan, ada beberapa barang yang terdapat tumpukan
penyimpanan barang
gampang terbakar apabila arsip da
ataupun berkas terdapat sumber api
penting di dalam terbuka seperti percikan
gudang, dan tempat dari api rokok
khusus untuk
merokok/smoking
area

25
Digunakan sebagai
tempat pembuatan Berpotensi terjadinya
ataupun kebakaran pada barang-
penyimpanan barang penting (seperti
Bahaya Kebakar
4 Lantai 3 makanan & televisi, AC, almari es,
(Menurut NFPA 1
minuman. Maupun sofa, dan almari untuk
penyimpanan penyimpanan dokumen)
barang-barang dari kantor
pribadi dari kantor

4.2 Nozzle dan Jarak Pancaran Terjauh


Dalam NFPA disebutkan dalam NFPA 14 ukuran nozzle standar harus 1.5 in
atau 38.1 mm dan 2.5 in atau 63.5 mm. Untuk hydrant gedung atau hydrant box
menggunakan 1.5 in atau 38.1 mm, ukuran nozzle lebih besar dari 1.5 in atau 38.1 mm
tidak perlu digunakan. Untuk hydrant luar gedung atau hydrant pillar ukuran nozzle
menggunakan 2.5 in atau 63.5 mm. Ukuran nozzle disesuaikan dengan bentuk ruangan,
h Diameter 1,5” = 0,0381 m
Luas lubang Nozzle (Ao)
Ao = ᴫr2

3,14.(0,01905)2
0,001139 m2
Kecepatan aliran nozzle diameter 1,5”

V=

=
5,545 m/s
 Jarak jangkauan terjauh (Xt)

Xt = 

26
3,137 m

B. Diameter 2,5” = 0,0635 m


Luas lubang Nozzle (Ao)
Ao = ᴫr2

3,14.(0,03175)2
0,003165 m2

Kecepatan aliran nozzle diameter 2,5”


V=

=
4,96 m/s

 Jarak jangkauan terjauh (Xt)

Xt = 

=
= 2,51 m

4.3 Kebutuhan Hydrant Tiap Lantai


Pada gedung Diknas IV Lantai, menurut NFPA 14 dapat diklasifikasikan dengan
class II yang artinya mengunakan hose connection 1.5 in (40 mm) yang digunakan
oleh penghuni gedung atau petugas pemadam kebakaran selama tindakan pertama dan
panjang selang 39.7 m.
Kebutuhan hydrant dapat dilihat pada tabel dibawah :
r = 39,7 m + 3,137 m = 42,837
Luas proteksi area :
5.3.14 × (42,837)2
6.5761,92 m2

27
Tabel 4.2 Perhitungan Jumlah Hydrant
Lantai Perhitungan Hasil Jumlah Keterangan
Hydrant
Lantai 1350 0.234 1 1 hydrant halaman
dasar/ 5761,92
basement
Lantai 1 1350 0,234 1 1 hydrant gedung
5761,92
Lantai 2 992,80 0,172 1 1 hydrant gedung
5761,92
Lantai 3 992,80 0,172 1 1 hydrant gedung
5761,92

Dari perhitungan diatas maka dapat diperkirakan kebutuhan hydrant pada Gedung
Diknas sebanyak 4 hydrant dengan rincian 1 hydrant halaman dan 3 hydrant gedung.

4.4 Perancangan Kebutuhan Air Pada Sistem Hydrant


Berdasarkan NFPA 14 – 2013 laju aliran minimum untuk sistem pipa tegak hidraulik
terjauh sebesar 946 liter/menit untuk hydrant halaman dan 379 liter/menit untuk
hydrant gedung. Berdasarkan NFPA 14 – 2013 pasokan minimum yang harus tersedia
untuk kebutuhan sistem sekurang-kurangnya untuk 30 menit.
4. Lantai dasar
Volume hydrant halaman sejumlah
1 V = 946 liter/menit x 30 menit x 1
28380 liter
28,38 m3

5. Lantai 1
Volume hydrant gedung sejumlah 1
V = 379 liter/menit x 30 menit x 1
11370 liter
11,37 m3

28
10. Lantai 2
Volume hydrant gedung sejumlah 1
V = 379 liter/menit x 30 menit x 1
11370 liter
11,37 m3

11. Lantai 3
Volume hydrant gedung sejumlah 1
V = 379 liter/menit x 30 menit x 1
11370 liter
11,37 m3

Volume hydrant total :


= 28,38 m3 + 11,37 m3 + 11,37 m3 + 11,37 m3
= 62,49 m3

4.5 Perancangan Reservoir (Bak Tampung Air)


Bak air (reservoir) untuk persediaan air juga tidak boleh di isi penuh atau harus
ada freeboard. Oleh karena itu, dari hasil volume air yang dibutuhkan sistem dapat
ditentukan klasifikasi konstruksi bak air (reservoir). Dari volume total air yang
dibutuhkan yaitu 62,49 m3, maka dimensi reservoir dapat ditentukan. Bentuk reservoir
yang diinginkan adalah berbentuk kubus sehingga dimensinya p x l x t nya adalah :
Dimensi reservoir total

= 62,49
= 2,8 m
Maka dimensi s x s x s = 2,8 m × 2,8 m × 2,8 m

2,8 m

2,8 m

2,8 m

29
4.6 Perhitungan Head Loss

 
Nilai f adalah 0,026

30
Nilai pada flow through dapat dilihat pada Tabel 8.4

HLm1

= 43,8 x 10-4m
 Head loss mayor

1 hL = 

= 8,372 x 10-4
Re = 52675,58

= 10-4 f
= 0,02 L
= 2,91m

hL1
=

hL1
=

hL1 = 17,09 x 10-4 m

 Head loss minor 2



Head loss minor disini berupa belokan pipa suction yang pertama (elbow 90°)

HLm

Nilai pada elbow dapat dilihat pada Tabel

8.4 HLm2

31
= 26,2 x 10-4 m
 Head loss mayor

2 hL = 

= 8,372 x 10-4
Re = 52675,58

= 10-4 f
= 0,02 L
= 0,57m

hL2 =

hL2 =

hL2 = 3,34 x 10-4 m

 Head loss minor 3 (elbow 90°)

HLm3 

= 26,2 x 10-4 m
 Head loss mayor

3 hL = 

= 8,372 x 10-4
Re = 52675,58

= 10-4
f = 0,02
L = 11m

hL3 =
32
hL3
=

hL3 = 64,61 x 10-4 m

 Head loss minor 4 (elbow

90°) HLm4 

= 26,2 x 10-4 m
 Head loss mayor 4

hL4
=

hL4
=

hL4 = 82,82 x 10-4 m

 Head loss minor 5



Head loss minor berupa tee (terminal) yang berupa flow through branch dan flow
through run

flow through run

HLm

HLm5

= 52,56 x 10-4 m
flow through branch

HLm5

33
= 26,2 x 10-4 m
HLm5 total = 52,56 x 10-4 m+26,2 x 10-4 m
= 78,76 x 10-4 m
 Head loss mayor 5

hL5 =

hL5 =

hL5 = 65,14 x 10-4 m

HLtotal = HLm1 +HL1+ HLm2 + HLm3 + HL2 + HLm4 + HL3 + HLm5 + HL4 +
HLm6 + HL5

HLtotal = 43,8 x 10-4m + 17,09 x 10-4 m + 26,2 x 10-4 m + 26,2 x 10-4 m + 3,34 x 10-4 m
+ 26,2 x 10-4 m + 64,61 x 10-4 m + 78,76 x 10-4 m + 82,82 x 10-4 m + 65,14 x
10-4 m
HL Total = 369,55 x 10-4 m

4.7 Pembahasan
Perancangan instalasi hydrant dilakukan pada gedung Diknas IV Lantai. Gedung
ini masuk ke dalam kategori hunian dengan kelas bahaya kebakaran ringan. Luas area
pada gedung adalah 1350 m2. Menurut SNI 03-1745-2000 maka hydrant yang
diperlukan adalah sejumlah 1 hydrant halaman. Untuk ukuran reservoir adalah sama
dengan pada perancangan instalasi hydrant yaitu 2,8 m x 2,8 m x 2,8 m.
Ukuran diameter 1,5 inch sebagai hydrant gedung dan 2,5 inch sebagai hydrant
halaman. Setelah dilakukan perhitungan jumlah kebutuhan hydrant dan perhitungan
kebutuhan persediaan air pada reservoir yang dibutuhkan pada gedung Diknas IV
Lantai, maka dilakukan perancangan sistem perpipaan pada hydrant. Dari hasil

34
perhitungan head loss seluruh pipa instalasi hydrant maka didapatkan nilai head loss
total pipa sebesar 369,55 x 10-4 m.

35
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Dari hasil analisis dan perhitungan pada instalasi hydrant maka dapat disimpulkan
sebagai berikut:
1. Peletakan instalasi hydrant pada gedung Diknas IV Lantai dengan mengacu pada
standart SNI 03-1745-2000 seperti yang ditunjukkan pada
2. Menentukan jumlah hydrant adalah dengan menentukan luas area gedung, lalu
melihat pada Tabel 5.4 dalam SNI 03-1745-2000. Luas area gedung Diknas IV
Lantai adalah 1350 m2. Maka jumlah kebutuhan hydrant adalah 3 buah hydrant.
3. Daya pompa hydrant pada gedung Diknas IV Lantai adalah sebesar 0,369Hp.
4. Klasifikasi bahaya kebakaran adalah kelas ringan menurut Kepmenaker
186/MEN/1999
5. Jumlah kebutuhan hydrant untuk gedung Diknas IV Lantai adalah 1 hydrant
halaman dan 4 hydrant gedung
6. Perhitungan total head loss adalah 369,55 x 10-4

5.2 Saran
Adapun saran demi perancangan dan penulisan laporan yang lenih baik
kedepannya adalah sebagai berikut:
1. Lebih baik perancang menggunakan program pipe flow expert untuk mendapatkan
hasil perhitungan head loss yang lebih akurat.
Sebaiknya perancangan dilakukan dengan sebaik mungkin agar nilai head loss pipa tidak
terlalu besar.
DAFTAR PUSTAKA

NFPA 10 2013 About Fire Extinguisher

SNI 03-1745-2000 Tentang Pipa Tegak

NFPA 20, Standard for the Installation of Stationary Pumps for Fire Protection,
1999 edition.

NFPA 13 Standard for Installation of Sprinkler Systems, 1994 edition


LAMPIRAN

39