Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Hipertensi masih menjadi masalah kesehatan di dunia. Penyakit ini disebut


juga dengan the silent killer karena sering dijumpai tanpa gejala dan baru disadari
bila telah menyebabkan gangguan organ.

Hipertensi merupakan penyakit degeneratif yang banyak terjadi di


masyarakat dan mempunyai tingkat mortalitas yang cukup tinggi. Hipertensi
masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius, karena jika tidak
terkendali akan berkembang dan menimbulkan komplikasi yang berbahaya,
misalnya stroke, penyakit jantung koroner dan gagal ginjal.

Menurut Marliani hipertensi adalah terjadinya peningkatan tekanan


sistolik diatas 140 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg. Penyakit ini sering
ditandai dengan pusing, sering terasa kaku pada belakang leher, gangguan
penglihatan, sulit berkonsentrasi, sulit tidur dan sering gelisah, namun bisa tanpa
gejala. Terjadinya hipertensi dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain faktor
yang tidak bisa diperbaiki seperti generik, usia, jenis kelamin, dan faktor yang
bisa diperbaiki seperti kelebihan garam, kolesterol, obesitas, stres, merokok,
kafein, kurang gerak, alkohol.

Secara global WHO (World Health Organization) memperkirakan


penyakit tidak menular menyebabkan sekitar 60% kematian dan 43% kesakitan di
seluruh dunia. Perubahan pola struktur masyarakat dari agraris ke industri dan
perubahan gaya hidup, sosial ekonomi masyarakat diduga sebagai suatu hal yang
melatarbelakangi meningkatnya prevalensi penyakit tidak menular, sehingga
angka kejadian penyakit tidak menular semakin bervariasi dalam transisi
epidemiologi. Salah satu penyakit yang termasuk dalam kelompok penyakit tidak
menular tersebut yaitu hipertensi.

1
Menurut American Heart Association (AHA), penduduk Amerika yang
berusia diatas 20 tahun menderita hipertensi telah mencapai angka hingga 74,5
juta jiwa, namun hampir sekitar 90-95 % kasus tidak diketahui penyebabnya.
Diperkirakan sekitar 80% kenaikan kasus hipertensi terutama terjadi dinegara
berkembang pada tahun 2025, dari jumlah 639 juta kasus di tahun 2000. Jumlah
ini diperkirakan meningkat menjadi 1,15 miliar kasus di tahun 2025.

Hampir 1 milyar orang diseluruh dunia memiliki tekanan darah tinggi.


Hipertensi adalah salah satu penyebab utama kematian di seluruh dunia. Di tahun
2020 sekitar 1,56 milyar orang dewasa akan hidup dengan hipertensi. Hipertensi
membunuh hampir 8 milyar orang setiap tahun di dunia dan hampir 1,5 juta orang
setiap tahunnya di kawasan Asia Timur-Selatan. Sekitar sepertiga dari orang
dewasa di Asia Timur-Selatan menderita hipertensi.

Prevalensi hipertensi meningkat sejalan dengan perubahan gaya hidup


seperti merokok, obesitas, aktivitas fisik, dan stres psikososial. Hipertensi sudah
menjadi masalah kesehatan masyarakat (public health problem)dan akan menjadi
masalah yang lebih besar jika tidak ditanggulangi sejak dini. Pengendalian
hipertensi, bahkan di negara maju pun belum memuaskan.

Berdasarkan data dari Riskesdas Litbang Depkes (2013), hipertensi di


Indonesia merupakan masalah kesehatan dengan prevalensi yang tinggi yaitu
sebesar 25,8%. Prevalensi tertinggi di Bangka Belitung (30,9%), diikuti
Kalimantan Selatan (30,8%), Kalimantan Timur (29,6%), Jawa Barat (29,4%),
dan Gorontalo (29,4%).

Tingginya kejadian hipertensi dimasyarakat dan bahaya dari komplikasi


yang dapat ditimbulkan akibat hipertensi oleh karena itu penulis ingin meneliti
“Gambaran Angka Kejadian Hipertensi di Puskesmas Kedokanbunder Bulan
Januari-Maret 2018”

2
1.2 Rumusan Masalah

Dari latar belakang yang tersebut diatas, maka rumusan masalah yang
penulis ambil adalah “Gambaran danhubungan factor
resikoterjadihipertensipadabulan November – Desember di
wilayahkerjapuskesmasNanggalo 2018”

1.3 Tujuan

Tujuan yang ingin dicapai pada mini project ini meliputi :

1. Mengetahui factor resikoterjadihipertensipadabulan November –


Desember di wilayahkerjapuskesmasNanggalo 2018.
2. Memberikan edukasi sebagai bentuk pencegahan dan pengontrol tekanan
darah hingga tidak sampai terjadinya komplikasi.

1.4 Manfaat

1. Bagi peneliti
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengalaman
dalam melakukan penelitian di lapangan sekaligus mengaplikasikan ilmu
pengetahuan yang telah diperoleh terutama mengenai hipertensi.
2. Bagi masyarakat
Menambah pengetahuan penderita hipertensi tentang hipertensi di
wilayah kerja PueksemasNanggalo, sehingga masyarakat dapat melakukan
pencegahan agar tidak menderita komplikasi penyakit hipertensi.
3. Bagi instansi
Hasil penelitian ini diharapkan dapat mennambah informasi dan
masukan mengenai angka kejadian hipertensi sehingga menjadi bahan
evaluasi untuk meningkatkan kegiatan penyuluhan kepada masyarakat
untuk mencegah hipertensi melalui perilaku hidup sehat.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Hipertensi

Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah tinggi


persisten dimana tekanan sistolik diatas 140 mmHg dan tekanan diastolik
di atas 90 mmHg dengan dua kali pengukuran. Menurut Wiryowidagdo
bahwa hipertensi merupakan suatu keadaan tekanan darah seseorang
berada pada tingkatan di atas normal. Jadi tekanan di atas dapat diartikan
sebagai peningkatan secara abnormal dan terus menerus.

2.2 Etiologi Hipertensi Berdasarkan Klasifikasi

Hipertensi dapat dikelompokkan dalam dua kategori besar, yaitu :

a. Hipertensi esensial (primer)


Hipertensi esensial adalah hipertensi yang belum diketahui
penyebabnya dan merupakan tipe yang hampir sering terjadi yaitu
sekitar 95% dari kasus terjadinya hipertensi. Hipertensi esensial
disebabkan multi faktor yaitu genetik disertai faktor gaya hidup yang
kurang baik seperti kurang gerak (inaktivitas) dan pola makan. Onset
hipertensi esensial biasanya muncul pada pasien yang berusia antara
25-55 tahun, sedangkan usia dibawah 20 tahun jarang ditemukan.
b. Hipertensi sekunder
Hipertensi sekunder disebabkan oleh kondisi medis lain, seperti
penyakit jantung, penyakit ginjal, penggunaan estrogen, hipertensi
yang berhubungan dengan kehamilan dan reaksi terhadap obat-obatan
tertentu (siklosporin dan OAINS/obat anti inflamasi nonsteroid).
Hipertensi sekunder berkisar 5% dari kasus hipertensi.

4
2.3 Faktor Risiko Hipertensi

Dibagi menjadi dua kategori utama, yaitu :

1. Faktor risiko yang tidakdapatdiperbaiki


a. Genetik
Jika satu atau dua orang dari orang tua atau saudara kandung
yang menderita hipertensi, maka peluang untuk menderita
hipertensi makin besar. Penelitian menunjukkan bahwa 25% dari
kasus hipertensi esensial dalam keluarga mempunyai dasar genetik.
b. Usia
Walaupun penuaan tidak selalu memicu hipertensi, tetapi
tekanan darah tinggi biasanya terjadi pada usia lebih tua. Pada usia
antara 30 dan 65 tahun, tekanan sistolik meningkat rata-rata
sebanyak 20 mmHg dan terus meningkat setelah usia 70 tahun.
Peningkatan risiko yang berkaitan dengan faktor usia ini sebagian
besar menjelaskan tentang hipertensi sistolik terisolasi dan
dihubungkan dengan peningkatan resistensi vaskular perifer dalam
arteri.
c. Jenis Kelamin
Pria sering mengalami tanda-tanda hipertensi pada usia akhir
tiga puluhan, sedangkan perempuan sering mengalami hipertensi
setelah menopause. Tekanan darah wanita, khususnya sistolik,
meningkat lebih tajam sesuai usia. Setelah usia 55 tahun, wanita
mempunyai risiko lebih tinggi untuk menderita hipertensi. Salah
satu penyebab terjadinya pola tersebut adalah perbedaan hormon
kedua jenis kelamin.
d. Ras
Statistik menunjukkan prevalensi hipertensi pada orang kulit hitam
hamper dua kali lebih banyak dibandingkan dengan orang kulit
putih.

5
2. Faktor risiko yang dapat diperbaiki
a. Merokok
Menurut ilmu kedokteran, rokok mengandung lebih kurang
4000 bahan kimia, diantaranya nikotin, tar, karbonmonoksida, dan
hidrogen sianida. Nikotin mendorong terjadinya adhesi platelet
yang diasosiasikan dengan penyakit kardivaskuler dan hipertensi.
Nikotin merupakan bahan yang mempunyai aktivitas biologis yang
potensial yang akan meningkatkan epinefrin dalam darah,
meningkatkan tekanan darah, menambah denyut jantung dan
menginduksi vasokontriksi perifer.
b. Obesitas
Obesitas adalah kelebihan berat badan sebagai akibat dari
penimbunan lemak tubuh yang berlebihan. Kelebihan berat badan
dan hipertensi sering berjalan beriringan, karena tambahan
beberapa kilogram membuat jantung bekerja keras.
c. Kolesterol
Dalam kondisi normal kolesterol adalah lemak (lipid) yang
diproduksi oleh hati dan sangat penting untuk fungsi tubuh. Namun
jika sesorang memiliki terlalu banyak kolesterol dalam aliran
darah, kelebihan nya dapat disimpan dalam pembuluh darah.
Kolesterol yang berlebihan tersebut akan menempel dan
menumpuk di pembuluh darah, yang pada akhirnya akan
menyebabkan diameter pembuluh darah semakin menyempit,
sehingga aliran darah yang melewatinya akan menjadi lebih deras.
d. Olahraga
Olahraga adalah menurunkan berat badan, meningkatkan level
HDL (High Density Lipoprotein), dan menurunkan trigliserida
(lemak dari makanan yang menjadi bagian dari sirkulasi darah
dalam aliran darah). Olahraga lebih banyak dihubungkan dengan
pengobatan hipertensi, karena olahraga isotonik (seperti bersepeda,
jogging, aerobik, berenang) yang teratur dapat memperlancar

6
peredaran darah sehingga menurunkan tekanan darah. Olahraga
juga dapat digunakan untuk mengurangi dan mencegah obesitas
dan mengurangi asupan garam kedalam tubuh (tubuh yang
berkeringat akan mengeluarkan garam lewat kulit). Orang yang
sering duduk secara signifikan lebih mungkin mengalami
hipertensi dan serangan jantung.
e. Kelebihan garam
Garam yang dimaksudkan disini adalah garam natrium. Salah
satu sumber utama garam natrium adalah garam dapur. Fungsi
garam dalam kadar normal adalah sangat penting sebagai ion-ion
penjaga kestabilan (normal tubuh manusia mengkonsumsi tidak
lebih dari 2400 mg perhari) garam tersebut dapat menyebabkan
tubuh menahan terlalu banyak air sehingga volume cairan darah
akan meningkat tanpa diserati penambahan ruang pada pembuluh
darah, yang akibatnya akan menambah tekanan darah dalam
pembuluh darah.
f. Kafein
Kafein terdapat pada kopi, teh, cokelat dan koka yang
berpengaruh terhadap perangsangan otot jantung. Kafein
mempunyai sifat antagonis endogenus adenosin, sehingga dapat
menyebabkan vasokontriksi dan peningkatan resistensi pembuluh
darah tepi. Namun dosis yang digunakan dapat mempengaruhi efek
peningkatan tekanan darah. Kebanyakan penelitian tidak
menunjukkan indikasi yang jelas bahwa asupan kafein dalam
jumlah normal (<100 mg/hari) menyebabakan hipertensi.
g. Penggunaan alkohol
Minum alkohol secara berlebihan, yaitu tiga kali atau lebih
dalam sehari merupakan faktor penyebab 7% kasus hipertensi.
Mengkonsumsi berlebihan, intake alkohol atau etanol dalam
jumlah 30-75 ml meningkatkan denyut jantung dan cardiac output.

7
Dimana terjadi perubahan tahanan pada pembuluh darah perifer
karena dipengaruhi oleh alkohol.
h. Stres
Stres yang dialami seseorang akan membangkitkan saraf
simpatis yang akan memicu kerja jantung dan menyebabkan
peningkatan tekanan darah. Oleh karena itu, bagi mereka yang
sudah memiliki riwayat sejarah kesehatan penderita hipertensi,
disarankan untuk berlatih mengendalikan stres dalam hidupnya.
2.4 Klasifikasi Hipertensi
Klasifikasi tekanan darah pada orang dewas menurut The Sevent :
Klasifikasi Sistolik (mmHg) Diastolik (mmHg)
Normal <120 <80
Prehipertensi 120-139 80-89
Hipertensi tingkat 1 140-159 90-99
Hipertensi tingkat 2 ≥160 ≥100

Tabel 2.1 Klasifikasi Tekanan Darah Menurut JNC 7

2.5 Gejala hipertensi


Biasanya hipertensi esensial ringan sampai sedang tidak
menunjukkan gejala, tampak sehat selama bertahun-tahun. Ada
beberapa gejala hipertensi, yaitu kepala pusing, mudah marah, sulit
tidur, gelisah, sesak napas, sering kaku dileher belakang, gangguan
penglihatan dan sulit konsentrasi.
Nyeri kepala suboccipital berpulsasi, yang khas terjadi pada
penderita hipertensi yang terjadi pada pagi hari dan berkurang
ketika siang hari.
2.6 Diagnosis Hipertensi
Tekanan darah diukur setelah seseorang duduk bersandar atau
berbaring, setelah beristirahat, selama 5 menit. Angka 140/90
mmHg atau lebih dapat diartikan sebagai hipertensi, tetapi
diagnosis ini tidak dapat ditegakkan berdasarkan satu kali
pengukuran.

8
Jika pada pengukuran pertama memberikan hasil yang tinggi
maka tekanan darah diukur kembali sebanyak dua kali atau lebih
dengan jarak dua menit untuk meyakinkan adanya hipertensi. Hasil
pengukuran bukan hanya menentukan adanya tekanan darah tinggi,
tetapi juga digunakan untuk menggolongkan beratnya hipertensi.
Setelah diagnosis ditegakkan, dilakukan pemeriksaan terhadap
organ tertentu, terutama pembuluh darah, jantung, otak, dan ginjal.
2.7 Komplikasi hipertensi
1) Penyakit kardiovaskuler hipertensi
Komplikasi jantung merupakan penyebab utama morbiditas
dan moratalitas padan hipertensi esensial. Bukti
elektrokardiografi tentang adanya hipertrofi ventrikel kiri
ditemukan 2-15% pasien hipertensi kronik. Hipertrofi ventrikel
kiri dapat menyebabkan atau mempermudah berbagai macam
komplikasi jantung akibat hipertensi, termasuk gagal jantung
kongestif, aritmia ventrikel, iskemi miokard dan meninggal
mendadak.
2) Penyakit cerebrovaskuler hipertensif dan demensia
Hipertensi merupakan penyebab utama stroke, terutama
perdarahan intraserebral dan infark serebral iskemik.
3) Penyakit renal hipertensi
Hipertensi kronik menyebabkan nefrosklerosis dan
merupakan penyebab umum dari insufisiensi renal.
2.8 Penatalaksanaan hipertensi
1. Nonfarmakologi
Perubahan gaya hidup yang dapat menurunkan tekanan
darah dan menurunkan risiko penyakir kardiovaskuler adalah :
a. Mengurangi kelebihan berat badan
b. Berhenti merokok
c. Membatasi konsusmsi alkohol
d. Melakukan aktivitas fisik (olahraga)

9
Seperti jalan kaki, joging, senam dengan faktor
kesulitan yang kecil, olahraga yang bersifat rekreatif.
Sebaiknya aerobik dilakukan 30-45 menit per hari setiap
hari.

e. Mengurangi konsumsi kolesterol


Kurangi makan-makanan yang mengandung gula
murni, daging, ayam, kuning telur dan sarden. Serta hindari
makan-makanan seafood, otak, jeroan, lemak hewani dan
mentega. Makanan yang dianjurkan seperti sayuran, buah,
minyak nabati (kecuali minyak kelapa), putih telur, ikan,
dan kacang-kacangan.
f. Istirahat yang cukup dan tidak stres
Istirahat dengan posisi badan berbaring dapat
mengembalikan aliran darah ke otak. Oleh karena tekanan
darah dapat meningkat jika orang terkena stres, maka
hindari kegiatan dan tempat-tempat yang dapat
menyebabkan stres. Pilihan untuk mengurani stres seperti
rekreasi ke tempat-tempat yang sejuk, rindang, alam bebas
dan daerah yang berbeda dengan kegiatan sehari-hari.
g. Modifikasi diet atau pengaturan diet
1. Diet rendah garam
Tujuan diet rendah garam adalah membantu
menurunkan retensi garam atau air dalam jaringan
tubuh dan menurunkan tekanan darah pada pasien
hipertensi.
Jenis diet rendah garam
a. Diet rendah garam I (200-400mg Na)
 Untuk pasien dengan edema, asites, hipertensi
berat
 Tidak ditambah garam dapur

10
 Hindari makanan yang tinggi kadar natrium
b. Diet rendah garam II (600-800mg Na)
 Untuk pasien dengan edema, asites dan
hipertensi tidak terlalu berat
 Boleh menggunakan ½ sdt garam dapur
 Hindari makanan yang tinggi kadar natrium
c. Diet rendah garam III (1000-1200 mg Na)
 Untuk pasien dengan edema dan hipertensi
ringan
 Boleh menggunakan 1 sdt (4gr) garam dapur
2. Diet rendah kolesterol dan lemak terbatas
Di dalam tubuh terdapat tiga bagian lemak yaitu
kolesterol. Trigliserida dan pospolid. Tubuh
memperoleh kolesterol dari makanan sehari-hari dan
dari hasil sintesis dari hati. Kolesterol dapat berbahaya
jika dikonsumsi lebih banyak dari pada yang
dibutuhkan oleh tubuh, peningkatan kolesterol dapat
terjadi karena terlalu banyak mengkonsumsi makanan
yang mengandung kolesterol tinggi dan tubuh akan
mengkonsumsi sekitar 25-50% dari setiap makanan.
3. Diet tinggi serat
Diet tinggi serat sangat penting bagi penderita
hipertensi, terdiri dari dua jenis yaitu serat kasar yang
banyak terdapat pada sayuran dan buah-buahan
sedangkan serat makanan terdapat pada makanan
karbohidrat seperti kentang, beras, singkong dan kacang
hijau.
4. Diet rendah kalori bila kelebihan berat badan
Diet rendah kalori dianjurkan untuk orang yang
kelebihan berat badan. Kelebihan berat badan atau
obesitas akan berisiko tinggi terkena hipertensi.

11
Demikian juga dengan orang yang berusia 40 tahun
mudah terkena hipertensi.
2. Farmakologi
Hampir 20 penelitian yang dilakukan secara acak
menunjukkan bahwa terapi obat pada pasien dengan hipertensi
derajat II dan III secara konsisten mengurangi insiden stroke
30-50%, gagal jantung kongestif sebesar 40-50%. Beberapa
penelitian pada orang lebih tua dengan hipertensi sistolik telah
dipastikan bahwa terapi antihipertensi mencegah infark
miokard fatal dan non fatal serta keseluruhan mortalitas
kardiovaskular. Ada beberapa keadaan yang mungkin langsung
diberikan obat antihipertensi, yakni :
- Tekanan darah lebih dari 180/120 mmHg
- Tekanan darah lebih dari 160/100 mmHg yang menetap
selama kurun waktu tertentu
- Tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg dengan disertai
salah satu atau lebih keadaan berikut :
a. Diabete melitus
b. Kerusakan organ target misalnya, jantung, gagal ginjal,
atau stroke.
c. Risiko penyakit kardiovaskuler dalam tahun lebih dari
20%

Namun demikian, jika tekanan darah hanya


sedikit meningkat (kurang dari 140/90 mmHg), obat
antihipertensi diberikan hanya bila perubahan gaya
hidup tidak cukup menurunkan tekanan darah.

Obat- obatan yang diberikan :

a. Diuretik tiazid

12
Biasanya merupakan obat pertama yang
diberikan untuk mengobati hipertensi. Diuretik
membantu ginjal membuang garam dan air, yang
akan mengurangi volume cairan diseluruh tubuh
sehingga menurunkan tekanan darah. Diuretik juga
menyebabkan pelebaran pembuluh darah dan
hilangnya kalium melalui air kemih sehingga
kadang diberikan tambahan kalium atau obat
penahan kalium. Diuretik sangat efektif pada usia
lanjut, kegemukan, penderita gagal jantung dan
penyakit ginjal menahun
b. Penghambat adrenergik
Merupakan sekelompok obat yang terdiri
dari alfa-blocker, beta-blocker dan alfa-beta-blocker
labetolol, yang menghambat efek sistem saraf
simpatis. Sistem saraf simpatis adalah saraf yang
dengan segera akan memberikan respon terhadap
stres, dengan cara meningkatkan tekanan darah.
Yang paling sering digunakan adalah beta-blocker
yang efektif diberikan kepada :
 Penderita yang pernah mengalami serangan
jantung
 Penderita dengan denyut jantung yang cepat
 Angina pectoris
 Sakit kepala migren
c. Angiotensin converting enzim inhibitor (ACE-
Inhibitor)
Menurunkan tekanan darah dengan
memblokade produksi hormon angiotensin II yang
menyebabkan konstriksi pembuluh darah. Dengan
demikian, obat ini dapat memperlebar pembuluh

13
darah dan mengurangi tekanan darah. Obat ini
efektif diberikan kepada :
 Penderita gagal jantung
 Penderita dengan protein dalam air kemihnya
yang disebabkan oleh penyakit ginjal menahun
atau penyakit ginjal diabetik
 Pria yang menderita impotensi sebagai efek
samping dari obat lain
d. Angiotensin II blocker menyebabkan penurunan
tekanan darah dengan suatu mekanisme yang mirip
dengan ACE Inhibitor
e. Antagonis kalsium
Obat ini menyebabkan melebarnya
pembuluh darah dengan mekanisme yang berbeda.
Obat ini sangat efektif diberikan kepada lanjut usia,
penderita angina pectoris, denyut jantung yang
cepat, sakit kepala migren.
f. Vasodilator
Obat ini dapat langsung menyebabkan
melebarnya pembuluh darah. Obat dari golongan ini
hampir selalu digunakan sebagai tambahan terhadap
obat antihipertensi lainnya.
g. Kedaruratan hipertensi (misalnya hipertensi
maligna)
Memerlukan beberapa obat yang bisa
menurunkan tekanan darah dengan cepat dan
sebagian besar diberikan secara intravena, yaitu :
 Diazoxide
 Nitroprusside
 Nitroglycerin
 Labetolol

14
 Nifedipin
Nifedipin merupakan kalsium antagonis
dengan kerja yang sangat cepat dan bisa
diberikan peroral, tetapi obat ini bisa
menyebabkan hipotensi sehingga pemberiannya
harus diawasi secara ketat.

Tabel 2.2 Golongan Obat Antihipertensi

1. Diuretik thiazid Spironolakton, hidroklortiazid, indapamid,


metolazol

2. Beta blocker Propanolol, atenolol, bisoprolol

3. Alfa blocker Doxazosin, prazosin, terazosin

4. Antagonis kalsium Amlodipin, diltiazem, nifedipine

5. ACE Inhibitor Captopril, enalapril, lisinopril

6. Obat antihipertensi kerja Klonidin, metildopa


sentral
7. Antagonis reseptor Losartan kalium, valsartan
angiotensin II
8. Vasodilator Hidralazin, dihidralazin minoksidil

15
BAB III

METODE PENETILIAN

3.1 Rancangan Mini Project

Mini project ini dilakukan dengan pengumpulan data melalui data


rekam fisik di Puskesmas Nanggalo, serta melalukan wawancara kepada
responden penderita hipertensi di poliklinik puskesmas Nanggalo.

3.2 Waktu dan Tempat Mini Project

Mini project ini dilaksanakan pada bulan November – Desemberdi


poliklinik puskesmasNanggalo.

3.3 Populasi Mini Project

Populasi mini project ini adalah seluruh penderita hipertensi yang


datang ke poliklinik puskesmas Nanggaloyang dilihat dari rekam medik.

3.4 Subjek Mini Project

Subjek mini project diambil dari masyarakat penderita hipertensi


yang berobat ke puskesmasNanggalo.

16
BAB IV

HASIL PENELITIAN

4.1 Hasil Mini Project

Sebagai perbandingan untuk data pasien hipertensi pada tahun


2017 adalah sebagai berikut:

Bulan Kasus Total


0- 20- 45- 55- 60- 65- >70 Kasus Baru Kasus Lama Kasus
19th 44th 54th 59th 64th 69th
L P L P L P L P L P L P L P L P JML L P JML
Januari 0 0 9 35 19 72 8 13 12 14 12 8 5 17 65 154 219 0 5 5 224
Februari 0 0 4 20 14 24 5 8 8 7 7 10 7 8 45 77 112 0 0 0 122
Maret 0 0 7 14 10 23 4 15 13 9 4 4 4 10 42 68 110 0 7 7 117
April 0 0 8 15 8 34 4 9 3 7 5 5 3 7 29 76 105 2 1 3 108
Mei 0 0 7 6 14 23 5 12 7 14 5 4 4 9 42 68 110 0 0 0 110
Juni 0 0 7 8 10 21 4 14 12 15 4 9 5 9 41 76 117 1 0 1 118
Juli 0 0 6 11 13 28 9 17 13 14 6 8 9 11 56 89 145 0 0 0 145
Agustus 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 61 86 147 0 0 0 147
September 0 0 4 20 14 24 5 8 8 7 7 10 7 8 45 77 122 0 0 0 122
Oktober 0 0 9 12 12 29 9 15 6 4 5 8 8 11 49 79 128 0 0 0 128
November 0 0 8 11 10 40 14 13 11 11 6 8 10 16 58 98 156 1 1 2 158
Desember 3 0 13 30 20 43 14 12 11 18 7 6 4 7 71 105 176 1 1 2 178

Tabel 4.1 Jumlah Penderita Hipertensi Di Puskesmas Kedokan Bunder Tahun


2017

Berdasarkan tabel diatas jumlah pasien hipertensi di wilayah kerja


puskesmas kedokan bunder mengalami penurunan dari setiap bulan nya. Kejadian
terbanyak terjadi pada bulan januari dengan jumlah pasien 224 orang. Sedangkan
jumlah pasien terendah terjadi pada bulan april sejumlah 108 orang. sedangkan
jika menurut usia hipertensi sering terjadi pada rentang usia pasien antara 45-54
tahun.

17
Jumlah Penderita Hipertensi Esensial di Pukesmas Kedokan Bunder
2017

250
200
150
100
50
0
Janua Febru Agust Septe Oktob Nove Dese
Maret April Mei Juni Juli
ri ari us mber er mber mber
Total Kasus 224 122 117 108 110 118 145 147 122 128 158 178

Total Kasus

Gambar 4.1 Jumlah Penderita Hipertensi Di Puskesmas Kedokan Bunder


Tahun 2017

Berdasarkan hasil yang diperoleh didapatkan bahwa dari


totalpasien yang menderita hipertensi dari bulan januari-maret sebanyak
558 orang.

Tabel 4.2 Data Penderita Hipertensi Berdasarkan Usia Dan Jenis Kelamin

Jumlah Penderita Hiperteni Esensial di Pukesmas Kedokan Bunder

Kasus
0-19 20-44 45-54 55-59 60-64 65-69 >70 thn Kasus baru Kasus lama Total kasus
Bulan thn thn thn thn thn thn
L P L P L P L P L P L P L P L P jml L P jml
Januari 0 0 9 35 19 27 8 13 12 14 12 8 5 17 65 154 219 0 5 5 224
Februari 0 0 8 25 6 31 10 15 10 15 8 12 7 18 49 116 165 0 0 0 165
Maret 0 0 13 29 8 34 14 16 9 8 3 9 12 14 59 110 169 0 0 0 169

Berdasarkan tabel diatas didapatkan penderita hipertensi bulan


Januari berjumlah 224 orang yang terdiri dari 65 orang laki-laki dan 159
orang perempuan. Pada bulan Februari penderita hipertensi menurun

18
dengan jumlah sebanyak 165 orang yang terdiri dari 49 orang laki-laki dan
116 orang perempuan, sedangkan pada bulan Maret jumlah penderita
hipertensi meningkat kembali sebanyak 169 orang yang terdiri dari 59
orang laki-laki dan 110 orang perempuan.

Jumlah Penderita Hipertensi Esensial di Pukesmas Kedokan Bundar


250

200

150

100

50

0
L P L P L P L P L P L P L P L P JML L P JML
0-19th 20-44th 45-54th 55-59th 60-64th 65-69th >70 Kasus Baru Kasus Lama
Kasus Total Kasus
Januari 0 0 9 35 19 72 8 13 12 14 12 8 5 17 65 154 219 0 5 5 224
Februari 0 0 8 25 6 31 10 15 10 15 8 12 7 18 49 116 165 0 0 0 165
Maret 0 0 13 29 8 34 14 16 9 8 3 9 12 14 59 110 169 0 0 0 169

Januari Februari Maret

Gambar 4.2 Jumlah Penderita Hipertensi Di Puskesmas Kedokan Bunder januari- maret
2018

19
Gambar 4.3 Jumlah Penderita Hipertensi Di Puskesmas Kedokanbunder Berdasarkan
Jenis Kelamin

Gambar 4.3 Jumlah Penderita Hipertensi Di Puskesmas Kedokanbunder Berdasarkan


Jenis Kelamin

20
BAB V

PEMBAHASAN

5.1 Kesimpulan

1. Angka kejadian hipertensi di wilayah kerja puskesmas kedokan bunder


masih tinggi. Dapat dilihat dari kejadian setiap bulan nya yang
cenderung meningkat walaupun ada penurunan tetapi tidak signifikan.
Pada bulan januari terdapat 224 orang penderita hipertensi yang
kemudian menurun pada bulan februari menjadi 165 orang. Pada bulan
Maret penderita hipertensi meningkat kembali dengan jumlah 169
orang.
2. Angka kejadian hipertensi pada bulan Januari lebih banyak penderita
perempuan sebanyak 159 orang dibandingkan dengan laki-laki
sebanyak 70 orang. sama hal nya pada bulan Februari yaitu 116 orang
penderita perempuan dan 49 orang laki-laki. Pada bulan Maret juga
jumlah perempuan lebih besar yaitu 110 orang dan laki-laki sebesar 59
orang.
3. Angka kejadian hipertensi paling banyak terjadi pada usia 45-54 tahun
pada setiap bulan nya dari Januari-Maret.

5.2 Saran

1. Di wilayah puskesmas kedokan bunder perlu ditingkatkan promosi


kesehatan terutama sebagai upaya pencegahan primer dan sekunder
dalam masyarakat terhadap penyakit hipertensi.
2. Petugas kesehatan diharapkan mampu memahami prinsip dasar
mengenai hipertensi pada saat melakukan upaya promotif, preventif
dan kuratif.
3. Perlunya digiatkan kegiatan kunjungan rumah dari petugas kesehatan
terutama pasien yang tidak rutin mengkonsumsi obat hipertensi.

21
4. Perlunya diadakan penelitian khusus untuk mengetahui faktor-faktor
yang berperan dalam tingginya angka kejadian hipertensi di wilayah
kerja puskesmas kedokan bunder.

22
DAFTAR PUSTAKA

1. Sudoyono AW. Ilmu Penyakit Dalam Vol 2. Ed V. Jakarta Pusat: Interna.


Publishing. 2009:1079
2. Boedhi-Darmojo. Mengamati Perjalanan Epidemiologi Hipertensi di
Indonesia. Medika. 2001;7;442-448
3. Casey Eggie. Benson Herbert. Menurunkan Tekanan Darah. Jakarta: PT
Bhuana Ilmu Populer.2006;381-393
4. Palmer Anma dan Williams Bryan.Tekanan Darah Tinggi. Jakarta:
Erlangga. 2007:78
5. Almatsier Sunita. Penuntun Diet. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
2004;9:64-150

23