Anda di halaman 1dari 73

EDISI 4/2007

FREE

EDISI IV / 2007 1
www.thelightmagz.com
THEEDITORIAL THEEDITORIAL

SEMAKIN MATANG,
PANEN TANTANGAN.
Mohon maaf yang sebesar-besarnya karena untuk pertama kalinya kami gagal memenuhi tanggal terbit. Terlalu banyak halangan yang tidak layak untuk diceritakan di
sini mengenai mengapa edisi ini terlambat terbit.
Edisi ini kami mencoba tampil semakin matang. Dengan bantuan nara sumber yang tidak kalah menarik jika dibandingkan dengan edisi-edisi sebelumnya ditambah
topik-topik yang menarik kami yakin bisa membayar “hutang” kami karena keterlambatan terbit ini.

Setelah edisi ketiga yang lalu terbit, kami terkaget karena ternyata THE LIGHT telah terdistribusi ke dalam komunitas pecinta fotografi dengan jumlah anggota seban-
yak 41.500 orang. Itu belum termasuk mereka yang mendapatkannya di pick up point.
Angka yang fantastis. Kalau tidak salah ini adalah angka tertinggi di antara majalah sejenis. Namun kami tidak puas begitu saja. Saat ini kami sedang berusaha bek-
erjasama dengan lebih dari 50 perguruan tinggi yang memiliki jurusan fotografi, desain grafis, desain komunikasi visual, jurnalistik, advertising, broadcasting, public
relation, dll. Kami juga sedang tahap finalisasi akhir kerjasama dengan dua buah internet service provider terkemuka di Indonesia yang memiliki jumlah pelanggan
sebanyak 50.000 orang dengan hit di websitenya sebanyak lebih dari 2.500.000 per bulannya. Berbagai jalinan kerjasama dengan beberapa event juga kami galang,
mulai dari Salon Foto Indonesia 2007, Forum Grafika Digital Conference, dan masih banyak lagi.

Pengembangan? Tentu saja masih banyak pengembangan yang akan kami lakukan ke depannya. Untuk itu mohon doa restu dan dukungannya. Dan juga terima
kasih kepada semua nara sumber, pemasang iklan, pick up point dan distribution partner serta pembaca sekalian atas dukungannya selama ini. Semoga kami dapat
ABOUT THE COVER menjawab tantangan untuk terus exist dan berkembang.
PHOTOGRAPHER:
LANS BRAHMANTYO Redaksi
“Hak cipta foto dalam majalah ini milik fotografer yang bersangkutan, dan
dilindungi oleh Undang-undang. Dilarang menggunakan foto dalam majalah
ini dalam bentuk / keperluan apapun tanpa seijin pemiliknya.”

PT Imajinasia Indonesia, Jl. Grinting II No.11, 7202495, www.thelightmagz.com, Pemimpin Perusahaan/Redaksi: Ignatius Untung, Technical Advi-
sor: Gerard Adi, Redaksi: redaksi@thelightmagz.com, Contributor: C Production, Public relation: Prana Pramudya, Marketing: , Stevanus Albert,
marketing@thelightmagz.com, Sirkulasi: Maria Fransisca Pricilia, sirkulasi@thelightmagz.com, Graphic Design: ImagineAsia, Webmaster: Gatot Suryanto

2 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 3


COMMERCIALPHOTOGRAPHY COMMERCIALPHOTOGRAPHY

DJONI DARMO,
BEKAS SUPIR
YANG JADI
FOTOGRAFER
OTOMOTIF
Fotografi komersil menuntut detail yang sempurna. Untuk itu diperlukan kemampuan teknis
yang mumpuni. Dari sekian banyak obyek foto pada fotografi komersil terdapat beberapa
obyek yang menuntut kemampuan teknis di atas rata-rata pada obyek spesifik tersebut. Salah
satunya adalah otomotif. Fotografer otomotif pada fotografi komersil bisa dikatakan sebagai
super spesialis. Ini karena bukan sekedar spesialis pada bidang komersil saja namun lebih
terspesialisasi lagi pada automotif. Ketika teknologi digital belum masuk Indonesia, tidak banyak
fotografer yang menspesialisasikan dirinya pada otomototif. Hal ini karena memotret mobil
atau motor tingkat kesulitannya cukup tinggi. Walaupun kini setelah digital merajalela, banyak
sekali fotografer yang juga melakukan pemotretan mobil dan motor. Untuk itu pada edisi ini
kami menghadirkan Djoni Darmodihardjo, seorang fotografer komersil yang menspesialisasikan
dirinya ke bidang otomotif.

4 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 5


COMMERCIALPHOTOGRAPHY COMMERCIALPHOTOGRAPHY

6 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 7


COMMERCIALPHOTOGRAPHY COMMERCIALPHOTOGRAPHY

Bagaimana proses perkenalan anda den- kakak saya, akhirnya saya berhasil keluar dari Sampai di Indonesia saya disuruh motret suruh jalan-jalan dulu. Akhirnya saya ke sana.
gan fotografi? Inggris dan pindah ke New York. Di sana saya pernikahan adiknya istri saya. Tadinya saya Saya sempat belajar retouching film nega-
Saya mulai kenal fotografi sejak SMP kelas 1. kerja apa aja, mulai dari cuci piring sampai nggak mau karena saya nggak pernah motret tive di luar negeri ketika itu. Sampai pulang
Waktu itu saya dapet pinjeman kamera poket jadi supir. Ketika punya uang, saya memu- pernikahan, tapi karena dipaksa-paksa dari sana saya beli alat retouching negative,
dari kakak saya. Saat itu saya mulai senang tuskan untuk beli kamera sendiri yang lebih akhirnya mau juga. Setelah liat hasilnya saya namanya Adam Retoucher.
motret. Kemana-mana saya selalu bawa bagus. Saya juga memberanikan diri untuk malah disuruh untuk memproklamirkan diri
kamera, semuanya dipotret. Apalagi kalau ambil photography short course di Washing- sebagai fotografer. Nah setelah itu saya jadi Bagaimana perjalanan anda menuju
berenang, saya seneng banget motret cewek- ton. Di sana saya merasakan susahnya motret makin serius mendalami fotografi. Mulai dari fotografi komersil khususnya otomotif?
cewek yang lagi berenang. Hahaha… karena belajar fotografi secara benar dari tahun 1988 saya nggak pernah absent ke Awalnya saya menjalankan fotografi wedding.
Selanjutnya ketika SMA saya pindah dari awal. Satu per satu dipelajari. Ketika balik lagi Photo Kina. Tapi setelah digital mulai ramai, Sampai suatu saat saya ketemu Kiki Abadi,
Subang ke Bandung. Waktu itu saya dapat ke New York saya ambil short course juga di saya jadi agak jarang ke sana karena jadi ng- seorang fotografer otomotif. Dia bilang “Djon,
“warisan” kamera SLR dari kakak saya yang situ. gak seheboh waktu jaman analog. Saya ingat gue pusing banget nih motret mobil, lo yang
tinggal di New York. Sebenarnya dikasih sekali tanggal 11 Agustus 1988 saya pertama terusin deh.” Lalu saya dikenalin ke Dentsu,
ke kakak saya yang tinggal bareng say adi Kapan anda kembali ke Indonesia? kali ke Photo Kina, waktu itu nggak sengaja. advertising company yang menangani iklan
Bandung, tapi karena dia nggak banyak pakai Tahun 1981. Waktu itu istri saya yang dulu Saya baru saja mengalami kecelakaan dan Toyota. Ternyata, ketika saya kontak Dentsu
jadinya saya yang pakai aja. Sejak saat itu belum jadi istri ngajak pulang ke Indonesia. masih syok. Untuk menenangkan diri saya di- bukannya disuruh motret mobil saya malah
saya mulai lebih serius motret. Waktu itu disuruh motret hadiah untuk orang yang beli
saya bantu motret sebuah majalah musik, mobil. Hahaha… Kena juga saya dikerjain.
namanya Aktuil. Ketika kuliah saya pindah ke
Jakarta, saya kuliah di STTN yang sekarang Ternyata, ketika saya kon- Tapi tetap saya kerjain juga. Dan akhirnya
nggak sia-sia juga. Perlahan-lahan saya mulai
jadi ISTN. Hobby motret makin menjadi di
tak Dentsu bukannya disuruh dipercaya untuk melakukan pemotretan-

motret mobil saya malah disu-


sana. Semua saya potret sampai mapram aja pemotretan untuk mereka, belum otomotif sih
saya foto. Waktu kuliah saya juga belajar cuci tapi saya diperbolehkan belajar dari fotografer
cetak black & white. Nah karena suatu hal,
kuliah saya nggak selesai dan saya malah ruh motret hadiah untuk orang otomotif luar negeri yang biasa mereka pakai.

diajak teman pindah ke Inggris. Saya nggak


tau mau ngapain ke Inggris, uang juga Cuma yang beli mobil. Hahaha… Belajar ke luar negeri? Maksudnya?
Jadi setiap ada fotografer luar yang mau
bawa seadanya. Akhirnya sampai ngalamin motret otomotif saya dimintai tolong untuk
tidur di jalanan. Setelah itu dengan bantuan jadi organizernya. Jadi saya nyediain apa

8 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 9


COMMERCIALPHOTOGRAPHY COMMERCIALPHOTOGRAPHY

yang mereka butuhin di sini, lampu apa yang mereka pakai, kalau saya punya saya pinjemin suka motret model wanita cantik?
kalau nggak ada ya sewa atau mereka bawa dari sana. Tapi enaknya saya boleh melihat mereka Sebenarnya saya sih mau aja motret apa aja. Tapi memang ada beberapa alasan yang membuat
motret, bahkan saya belajar dari mereka. Awalnya saya bawa pelukis untuk ngelukis bentuk saya memperdalam otomotif. Pertama, di otomotif enaknya kalau kita sebel nggak dapet-dapet
setnya, posisi mobil yang difoto sampai letak lampu-lampunya. Sampai sudah beberapa kali mobilnya kita tendang pun nggak akan marah mobilnya, lain kalau model. Coba saja tendang
baru saya terang-terangan minta ijin untuk motret dokumentasinya. modelnya kalau nggak makin ngambek.. hahaha… Selain itu, dulu waktu saya mulai motret itu
umur saya sudah 30an. Nah model waktu itu kan umur belasan. Jadi ketika modelnya ketemu
Mengapa anda tertarik ke otomotif, bukan seperti kebanyakan fotografer yang lebih saya seakan-akan mereka ngomong “yah, fotografernya udah tua ya.” Hahaha… Jadi akhirnya

10 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 11


COMMERCIALPHOTOGRAPHY COMMERCIALPHOTOGRAPHY

ada gangguan confidence. Padahal memotret yang benar itu adalah jika yang dipotret sudah
sangat confidence kalau kita bisa bikin foto mereka jadi bagus banget, begitu juga dengan kita.
Jadi sama-sama confidence. Akhirnya untuk menyiasati hal itu, saya selalu siapin lagu yang lagi
in di kalangan anak muda yang jadi model saya. Jadi biarpun saya tua, kelihatannya berjiwa
muda dengan lagu-lagunya.. hahaha…

Nah, kenapa nggak diterusin di fotografi fashion atau model?


Waktu itu saya ketemu dengan Ko Bun Bi, Beliau adalah salah seorang fotografer otomotif
hebat. Dia cerita ke saya, kalau fotografer otomotif nggak banyak padahal yang butuh lumayan
banyak, jadi saya disuruh masuk. Apalagi bayarannya juga lumayan, minimal 4 kali motret
model.

Tapi teknisnya kan juga lebih sulit bukan?


Justru itu, kalau motret model, paling banyak 3 lampu juga udah bagus. Kalau mobil, saya bisa
pakai 15 lampu masing-masing 2500 watt, sekarang malah saya pakai lampu minimal 10.000
watt. Tapi justru itu tantangannya. Lebih seru biarpun juga lebih susah. Nah sekarang ini ketika
digital sudah masuk, motret otomotif jadi gampang karena semuanya bisa langsung dilihat. Dulu
waktu jaman analog saya motret pakai film lalu langsung diproses untuk dilihat sudah betul
belum. Setelah itu besoknya baru dilanjutin lagi. Maka dari itu sekarang banyak fotografer yang
berani motret otomotif. Karena semuanya bisa langsung dilihat jadi kalau ada yang belum pas
bisa langsung kelihatan dan dibenerin.

Hal apalagi yang membuat fotografi otomotif lebih susah dan mahal?
Studio. Motret otomotif studionya harus besar. Kalau punya sendiri pasti mahal investasinya,
kalau sewa, jadi mahal jual ke kliennya. Maka dari itu sekarang banyak yang motret piece by
piece.

Bagaimana dengan motor?


Motret motor sebenarnya lebih susah dari motret mobil. Kalau motret mobil susahnya ada-

12 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 13


COMMERCIALPHOTOGRAPHY COMMERCIALPHOTOGRAPHY

lah kontrol refleksinya, kalau motor karena


bagiannya kecil-kecil, lekukan dan bentuknya
macam-macam warnanya juga. Jadi ketika
kita mau motret satu bagian aja warnanya
macam-macam. Ada yang warnanya gelap
ada yang terang ada yang bahannya trans-
paran. Akhirnya ada yang over ada yang un-
der. Solusinya harus dibelain salah satu, nanti
baru kita foto lagi dengan posisi yang sama
lalu dibelain yang lain. Nanti baru digabungin
di computer.

Jadi kesimpulannya lebih enak pakai


digital daripada film?
Jelas dong. Kalau orang advertising yang
lama-lama suka ragu pakai digital. Mereka
lebih yakni pakai film. Tapi masalahnya film
juga kan harus lewat process scanning. Dan
process scanning itu kalau salah jadi nurunin
kualitas. Makanya saya lebih suka pakai
digital, karena semuanya bisa dikontrol.

Masalah apa yang paling tidak disukai


pada kasus pemotretan otomotif.
Di otomotif karena obyek yang difoto bahan-
nya sangat mudah memantulkan bayangan
jadi set lightingnya harus benar. Untuk itu
saya paling benci kalau ada klien datang
tanpa tahu angle dari mobil yang mau difoto.

14 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 15


COMMERCIALPHOTOGRAPHY COMMERCIALPHOTOGRAPHY

16 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 17


COMMERCIALPHOTOGRAPHY COMMERCIALPHOTOGRAPHY

18 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 19


COMMERCIALPHOTOGRAPHY COMMERCIALPHOTOGRAPHY

yang bisa mengeluarkan sisi terbaik dari


obyeknya. Set up lightingnya juga harus
bisa mengeluarkan sisi terbaiknya. Sampai
penggunaan lensa pun harus selektif. Dulu
orang bilang kalau mau motret mobil supaya
kelihatan gagah harus pakai tele. Makanya
saya dulu kalau motret mobil bisa sampai
pake lensa 1200mm. Yang kedua, memotret
otomotif yang utama adalah harus bisa
menunjukkan bentuk mobil/motornya. Jadi
lighting yang dibuat biasanya untuk mem-
bantu menunjukkan shape lekukan-lekukan-
nya. Yang terakhir, beda material beda juga
treatment lightingnya. Misalnya ban dan grill
depan, karakternya jelas beda dengan body
yang kuat refleksinya.

Pertanyaan terakhir, bagaimana cara


untuk belajar jadi fotografer otomotif?
Gampang, kalau lagi nongkrong di mana
aja perhatiin aja mobil yang lagi parkir atau
lagi lewat. Cari angle terbaiknya. Perhatiin
refleksinya, semua obyek yang ada diseki-
tarnya kan juga masuk. Cari tau gimana cara
Karena beda angle beda lighting. Sementara Apa saja yang harus diperhatikan ketika menghilangkan obyek yang masuk refleksi.
cari lightingnya aja susahnya setengah mati. memotret otomotif? Pelajarin gimana membuat highlightnya, dll.
Jadi saya selalu minta mereka datang sudah Yang pertama, klien biasanya selalu minta Jadi belajar motret otomotif itu murah.
dengan angle yang pasti. fotonya lebih bagus dari aslinya. Maka dari
itu angle yang dipilih juga harus yang terbaik

20 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 21


FASHIONPHOTOGRAPHY WEDDINGPHOTOGRAPHY

HARY
SUWANTO,
SERIUS DI
BISNIS FOTO
WEDDING
Berbicara fotografi wedding, tentu saja hampir tidak ada yang tidak pernah mendengar nama
besar Kingfoto. Kingfoto adalah salah satu dari sedikit pemain di fotografi wedding yang sudah
sejak lama exist di bidangnya. Kali ini kami menampilkan Hary Suwanto seorang fotografer wed-
ding yang ikut membesarkan Kingfoto bersama sang pemiliknya Indra Leonardi.

Hary mengenyam pendidikan formal fotografi dari Brooks Art Institute. Ia mengaku tertarik
fotografi karena menyenangkan. Sebelumnya Hary mengaku tidak hobby fotografi. Selama ber-
guru di Brooks Hary mendapat pelajaran paling berharga mengenai fotografi, yaitu penggunaan
large format camera. “Susah banget belajar large format, saya hampir nggak tahan.” Ungkap-
nya. Namun ia mengaku dengan menguasai large format ia mengerti cara kerja kamera dengan
lebih baik. Keunggulan dalam memotret terutama arsitektur, interior, still life juga menjadi salah
satu keuntungan menguasai large format camera. Hal ini karena karakter large format cam-
era yang lebih bisa mengontrol distorsi dan ketajaman. Namun begitu kini Hary lebih banyak
melakukan pemotretan dengan DSLR karena lebih praktis.

Berbicara mengenai fotografi wedding Hary melihat banyak fotografer yang terlalu menggam-
pangkan dan menganggap enteng fotografi wedding. Hal ini terlihat dari banyaknya fotogtafer

22 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 23


WEDDINGPHOTOGRAPHY WEDDINGPHOTOGRAPHY

24 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 25


WEDDINGPHOTOGRAPHY WEDDINGPHOTOGRAPHY

wedding yang kurang menjaga kualitas. Ini


terjadi karena fotografi wedding sering di-
lakukan sebagai pekerjaan sampingan selain
memotret bidang lain. Ujung-ujungnya adalah
karena tergiur rupiah yang nilainya lumayan
dengan peluang mendapatkan klien yang
relative lebih mudah karena market volume-
nya juga besar. “padahal di wedding semuan-
ya based on trust, jadi kalau mengecewakan
gampang juga untuk menyebar. Karena masih
bergantung pada word of mouth” ungkap-
nya. Untuk itu Hary menekankan pentingnya
kualitas. Kualitas yang dimaksud mencakup
kualitas alat yang digunakan, kualitas ke-
masan dan presentation, kualitas design dan
juga konsep.

Kualitas alat yang dimaksud adalah peng-


gunaan alat yang akan dipergunakan dalam
pemotretan. Hary menyarankan untuk
menggunakan alat terbaik yang masih bisa
dijangkau oleh fotografernya sendiri. Karena
pada akhirnya alat terbaik pasti juga akan
menghasilkan hasil yang baik. Setelah sesi
pemotretan dilakukan presentation atau ke-
masan yang dipilih juga harus baik. Pemilihan
album, materi kertas, cetakan foto, akurasi
warna. Untuk itu Hary menyarankan para
fotografer wedding untuk tidak sembarangan

26 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 27


WEDDINGPHOTOGRAPHY WEDDINGPHOTOGRAPHY

28 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 29


WEDDINGPHOTOGRAPHY WEDDINGPHOTOGRAPHY

memilih tempat proses cetak foto. Mengenai banyaknya fotografer wedding yang hanya menjual
jasa pemotretan dan menyerahkan hasilnya dalam bentuk soft copy kepada klien untuk dicetak
sendiri Hary berpendapat seharusnya hal itu tidak boleh terjadi. “Semua foto yang diserahkan
ke klien selalu membawa nama kita, jadi kualitas cetaknya juga harus bagus supaya nama kita
tidak jelek.”
Hal selanjutnya yang juga harus dijaga adalah kualitas design. “Banyak klien yang lebih senang
kalau albumnya nggak plain. Elemen grafisnya juga harus bagus.” Ungkapnya.

Mengenai mitos bahwa klien fotografi wedding banyak yang rewel, Hary senada dengan Gondo,
fotografer wedding dari Surabaya pada edisi lalu. “Jangan dilihat negatifnya saja, ketika klien
rewel justru memacu kita untuk bikin yang lebih bagus lagi. Dan kalau kita bisa memuaskan
klien yang rewel itu, rasanya puas banget.” Jelasnya.

Ditanya mengenai cara mengarahkan model, Hary mengaku bahwa ia selalu melakukan komu-
nikasi yang baik dengan klien. “kalau perlu bercanda ya nggak apa-apa, supaya mereka nggak
sungkan lagi.” Ungkapnya. “mengenai pose, saya biasa mulai dengan yang simple dulu, lama-
lama kalau sudah mulai “panas” baru mulai yang lebih susah.” Tambahnya. “Dulu ada yang
bilang kalau motret wedding, jepretan awal biasanya untuk pemanasan aja, jadi jarang kepakai,
tapi kalau udah beberapa lama baru mulai bagus.”

Untuk memperkaya style dalam foto weddingnya, Hary sering melihat-lihat referensi fashion.
“Klien kita juga kebanyakan baca majalah fashion, jadi mereka suka kalau difoto kayak di
majalah fashion.” Jelasnya. Untuk itu Hary juga tidak heran jika semakin lama wedding semakin
berkiblat ke fashion. Namun begitu Hary juga terbuka untuk kemungkinan tren lain seperti
oversaturated dan undersaturated dan juga infra red seperti yang saat ini sedang ramai. “Yang
penting seperlunya aja, jangan semuanya diambil pakai infra red padahal nggak semuanya
cocok pakai infra red. Masalahnya banyak yang semuanya diambil pakai infra red padahal ng-
gak cocok.” Ungkapnya. “Jadi fotografer wedding harus bisa banyak variasi, sehingga eksplorasi
tekniknya juga bisa beragam. Dengan gitu klien akan lihat lebih lengkap.” Tambahnya.

30 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 31


WEDDINGPHOTOGRAPHY WEDDINGPHOTOGRAPHY

32 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 33


WEDDINGPHOTOGRAPHY WEDDINGPHOTOGRAPHY

Mengenai penggunaan software olah digital seperti photoshop seperti yang banyak dilakukan
fotografer pemula pada saat ini Hary melihat batasan yang jelas. “Banyak fotografer yang
sedikit-sedikit bilang “nanti di photoshop aja. Tapi lama-lama malah jadi ketergantungan dengan
photoshop. Fotografinya nggak maju-maju photoshopnya tambah jago.” Ungkapnya. “Fotografer
harus dilihat dari teknisnya. Nggak apa-apa sih kalau photoshopnya jago, tapi kalau banyakan
photoshopnya mendingan jangan nyebut diri fotografer, mending sebut diri digital artist aja.”

Berbicara mengenai persaingan di bisnis fotografi wedding, Hary berpendapat bahwa seharus-
nya para fotografer wedding tidak melakukan perang harga. Karena ini justru akan merugikan
diri sendiri. Selain profit yang didapat tidak terlalu besar, kualitas yang dihasilkan juga tidak bisa
dijaga karena semua biaya ditekan seminim mungkin. Mulai dari penggunaan make up artis,
kostum, lokasi , biaya cetak, album dan lain-lain akan turun pada level asal ada dan murah.
Padahal sekali lagi Hary menekankan. Fotografer bertanggung jawab penuh atas foto yang ia
buat. Nama si pembuat seolah-olah tercantum pada foto tersebut sehingga kualitas harus tetap
dijaga. “Ingat, keep up the good name”. Untuk itu Hary menayarankan fotografer wedding untuk
membuat segmentasi yang tepat sebelum terjun. “Pilih mau masuk pasar yang mana, yang mu-
rah, yang sedang atau yang mahal. Sesuaikan juga dengan kemampuan.” Jelasnya. “Sehingga
tidak perlu terjadi perang harga yang sangat terbuka.” Tambahnya.

34 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 35


FINEARTPHOTOGRAPHY LIPUTANUTAMA

HAK CIPTA
FOTO DIGITAL
Perkembangan teknologi sejatinya adalah untuk memberikan kemudahan-kemudahan bagi
manusia. Inovasi dan pengembangan terhadap penemuan terdahulu memang diupayakan untuk
membuat hidup lebih mudah dan lebih murah lagi. Begitu juga dengan penemuan kamera digi-
tal. Bertahun-tahun yang lalu ketika kamera digital diciptakan, tujuannya jelas untuk kemudahan
penggunanya. Pehobi fotografi tidak perlu lagi membeli film negative, memprosesnya hingga
mencetaknya. Proses memotret pun menjadi lebih mudah karena semuanya lebih terkontrol.
Lihat saja setiap orang yang memotret dengan kamera digital, setiap baru saja memencet shut-
ter pastilah mereka tergoda untuk segera melihatnya di layer LCD yang ada di bagian belakang
kamera. Tujuannya untuk memastikan bahwa foto yang diambil sudah bagus dan benar. Dan
akhirnya memotret jadi hal yang mudah dan menyenangkan.

Tapi, di balik semua kemudahan dan manfaat yang kita dapatkan dari kecanggihan teknologi
itu tersimpan celah-celah yang jika tidak mendapat perhatian serius bisa membawa petaka di
kemudian hari. Mungkin hukum alam juga terjadi pada kecanggihan teknologi sama seperti
perkembangan obat dan penyakit yang selalu menjadi rival abadi. Setiap perkembangan juga
diikuti kemunduran di sisi lain. Setiap ditemukan obat baru, ditemukan pula penyakit baru.
Bagaimana dengan kamera digital?
Satu celah yang tercipta sebagai konsekuensi dari perkembangan teknologi pada kamera digital
adalah tidak adanya film negative yang bisa menjadi bukti otentik kepemilikan foto. Memang
benar film negative pun bisa diduplikasi sehingga masih ada celah bagi orang-orang iseng.
Namun setidaknya kamera digital meninggalkan celah permasalahan mengenai pembuktian
siapa yang berhak mengklaim sebagai pemilik foto.

36 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 37


LIPUTANUTAMA LIPUTANUTAMA

Beberapa kasus mengenai perselisihan Kasus lain yang juga sering terjadi adalah bisa berbeda-beda. Ada yang panjang dan
kepemilikan hak cipta foto digital sudah terjadi ketika sebuah foto dibuat oleh team yang lengkap sampai lensa yang digunakan, speed
baik di luar maupun dalam negeri. Karakter terdiri dari beberapa orang dengan porsi dan bukaan lensa yang digunakan ada juga
foto digital yang tidak memiliki film negative kompetensinya masing-masing. Ada yang yang sederhana sebatas tanggal pembuatan
yang merupakan cetakannya dan juga sangat bertugas sebagai fotografer, ada model, ada dan jenis kamera yang dipakai. Roy Suryo
mudah diduplikasi menyisakan celah bagi make up artis, fashion stylist, dll. Dalam kasus berpendapat bahwa metadata ini bisa diguna-
orang-orang iseng untuk mengcopy foto milik ini kepemilikan dan hak penggunaan foto kan sebagai salah satu cara pembuktian yang
orang dan mengkalim atau menggunakannya tersebut harus disepakati secara bersama- bisa ditempuh. Selanjutnya untuk melakukan
untuk keperluan pribadi maupun komersil. sama di antara team yang terlibat. pembuktian adalah dengan melakukan cross
Jika anda pernah mengunjungi toko-toko check dengan menanyakan kepada kedua
yang menjual software bajakan anda akan Yang menarik bagi kami adalah apa yang belah pihak mengenai kamera yang dipakai
menemui tumpukan CD yang berisi stock foto terjadi ketika dua orang memiliki foto dalam untuk membuat foto tersebut dan tanggal
baik dalam resolusi tinggi untuk keperluan bentuk file digital yang sama dan sama- pembuatan. Semua data mengenai tanggal
cetak maupun resolusi rendah untuk keper- sama mengklaim sebagai pemilik foto. Pakar pembuatan dan jenis kamera yang dipakai
luan online publishing. Sementara di sebuah telematika dan multimedia KRMT Roy Suryo tersimpan di metadata yang terbawa bersama
toko buku grafis di kawasan Jakarta selatan membagikan pengetahuannya kepada kami. file digital foto tersebut. “Dengan catatan:
anda bisa menemui CD yang sama dengan Menurut Roy sebuah file foto digital bisa yang pertama metadatanya belum ditabrak
kemasan yang lebih rapih lengkap dengan dengan mudah dicopy 100% sama tanpa bisa (diganti – red.), yang kedua tanggal di kamera
segelnya dengan harga lebih dari 10 kali diketahui mana yang asli mana duplikatnya.
lipatnya. Jelas yang mahal adalah yang asli Maka dari itu sebuah forum di tingkat interna-
atau legal, sementar yang murah adalah baja- sional yang bernama joint photography expert
kan. Pembajakan hak cipta foto juga terjadi di group (jpeg) yang juga mengeluarkan format
internet di mana anda bisa menemui website jpg. Mencoba menyelesaikan persoalan ini
stock image maupun web gallery komunitas dengan sebuah script yang diberi nama
fotografi online. Foto-foto yang terpampang di metadata/EXIF. Bertahun-tahun yang lalu
website semacam ini sangat rentan terhadap forum ini merekomendasikan para produsen
pencurian. Namun lebih mudah dibuktikan kamera untuk menyertakan metadata pada
keasliannya karena besaran resolusi foto yang setiap kameranya. Walaupun panjang string
dipublish di internet relative kecil. yang tersimpan pada metadata tiap kamera

38 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 39


LIPUTANUTAMA LIPUTANUTAMA

di set setiap habis dilepas baterynya. Karena ketika kita melepas battery, tanggal akan kembali
ke tanggal awal berdasarkan programnya.” Ungkap Roy Suryo.

Sementara Maria Y.P. Ardianingtyas, seorang pehobi fotografi yang juga berprofesi sebagai
pekerja di bidang hukum berpendapat bahwa dari segi hukum pembuktian kepemilikan sebuah
foto yang tidak memiliki dokumen pendukung apapun bisa dilakukan dengan kesaksian be-
berapa orang saksi yang kebetulan melihat proses pembuatan foto tersebut. Dan jika dipandang
perlu bisa dilakukan pembuktian kemampuan fotografi pihak-pihak yang berselisih. “Kalau yang
satunya jago motret, yang satunya biasa-biasa aja, padahal foto yang dipermasalahkan jelas
susah secara teknis, seharusnya secara tidak langsung bisa menunjukkan siapa yang membuat
foto tersebut.” Ungkap Maria Y.P. Ardianingtyas.

Bagaimana duduk persoalannya pada foto jurnalistik di mana fotografer yang membuat me-
wakili sebuah instansi media tertentu. “Pertama-tama harus dimengerti dulu ada yang namanya
pencipta, ada yang namanya hak cipta ada yang namanya pemegang hak cipta. Semuanya
dilindungi undang-undang.” Jelas Maria Y.P. Ardianingtyas. Menurut undang-undang nomor
19 tahun 2002 mengenai hak cipta, Pencipta adalah seorang atau beberapa orang secara
bersama-sama yang atas inspirasinya melahirkan suatu Ciptaan berdasarkan kemampuan
pikiran, imajinasi, kecekatan, keterampilan, atau keahlian yang dituangkan ke dalam bentuk
yang khas dan bersifat pribadi. Artinya title “pencipta” tidak bisa dipindahtangankan karena
memuat fakta mengenai siapa yang membuat sebuah karya foto. Selanjutnya Hak Cipta adalah
hak eksklusif bagi Pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak
Ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan
menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sementara Pemegang Hak Cipta adalah
Pencipta sebagai Pemilik Hak Cipta, atau pihak yang menerima hak tersebut dari Pencipta,
atau pihak lain yang menerima lebih lanjut hak dari pihak yang menerima hak tersebut. Artinya
hak cipta bisa dipindahtangankan sesuai kesepakatan pihak-pihak yang terlibat. Artinya dalam
kasus foto jurnalistik, bisa disimpulkan bahwa fotografer yang bertugas untuk sebuah instansi
media adalah pencipta, namun pemegang hak ciptanya bisa instansi tempat dimana fotografer

40 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 41


LIPUTANUTAMA LIPUTANUTAMA

tersebut bekerja bisa kedua belah pihak, memgang hak cipta. Kecuali ada kesepaka-
semuanya tergantung kesepakatan kedua tan lain.” Hal ini juga berlaku pada fotografi
belah pihak. fashion, komersil, wedding dan fotografi lain
dimana melibatkan pihak kedua yang menu-
Fotografer jurnalistik senior, Arbain Rambey gaskan atau mempekerjakan fotografer untuk
berpendapat, “kalau saya ditugasi meliput membuat foto untuknya.
sebuah peristiwa oleh kantor saya, maka hak
ciptanya milik berdua. Ketika salah satu pihak Kasus lain yang juga sering terjadi pada
menjualnya ke pihak lain, maka pihak yang fotografi fashion dan komersil. Ketika sebuah
satu lagi juga harus mendapat bagian. Namun foto fashion dan komersil dibuat kecend-
kebanyakan dalam kasus ini fotografer tidak erungannya adalah akan melibatkan banyak naan foto tersebut. Jika melibatkan bangu-
boleh menjual foto yang dibuat atas biaya pihak (tidak hanya fotografer saja). Untuk itu nan swasta sebaiknya juga dibuat property
dinas kepada pihak selain kantor tempat di- perlu dibuat kesepakatan mengenai batasan- release. Model release dan surat kesepakatan
mana ia bekerja. Maka dari itu ketika sebuah batasan penggunaan foto tersebut. Maria Y.P. semacam ini secara garis besarnya berisi:
foto ditayangkan di surat kabar, pasti ada Ardianingtyas menyarankan bahwa dalam kedudukan pihak-pihak yang terlibat dalam
nama instansi yang memegang hak cipta dan kasus pembuatan foto dengan team yang kesepakatan, hak dan kewajiban, tujuan
nama fotografer yang membuatnya di bagian beranggotakan lebih dari 1 orang, sebaiknya penggunaan materi foto, lama penggunaan
bawahnya.” disepakati saat itu juga mengenai batasan- materi foto, ijin reproduksi dan juga pilihan
Maria Y.P. Ardianingtyas pun berpendapat batasan itu. Jika melibatkan model maka penyelesaian sengketa.
senada, “menurut UU no.19 tahun 2002: Jika sebaiknya ada model release yang merupakan
suatu Ciptaan dibuat dalam hubungan dinas surat perjanjian mengenai batasan penggu- Upaya-upaya pencegahan semacam ini bisa
dengan pihak lain dalam lingkungan peker- menghindarkan anda dari tuntutan hukum.
jaannya, Pemegang Hak Cipta adalah pihak Berdasarkan UU no.19 tahun 2002 pelang-
yang untuk dan dalam dinasnya Ciptaan itu garan hak cipta bisa menyeret tertuduh tidak
dikerjakan, kecuali ada perjanjian lain antara hanya pada tingkat perdata namun juga
kedua pihak dengan tidak mengurangi hak pidana dengan hukuman kurungan maksimal
Pencipta apabila penggunaan Ciptaan itu 7 tahun disamping denda maksimal 5 miliar
diperluas sampai ke luar hubungan dinas. rupiah.
Artinya pihak yang menugaskan juga ikut

42 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 43


LIPUTANUTAMA LIPUTANUTAMA

Beberapa upaya yang bisa ditempuh untuk melindungi hak cipta foto kita adalah dengan
mendaftarkannya di dijern HAKI (Hak kekayaan intelektual). Prosesnya memang cukup mema-
kan waktu tapi jelas aman. Selanjutnya timbul pertanyaan, bagaimana jika yang mendaftarkan
HAKI adalah “maling”nya? Maria Y.P. Ardianingtyas menjawab “HAKI bisa dibatalkan walaupun
harus melalui pengadilan niaga. Tapi jika bisa dibuktikan bahwa yang mendaftarkan HAKI bukan
pihak yang berhak maka HAKI bisa dibatalkan dan setelah itu malah malingnya bisa dituntut
balik.”

Untuk menghindari pencurian, Maria Y.P. Ardianingtyas menyarankan pencipta sebuah foto
untuk mempublish fotonya tersebut di ruang umum baik di internet ataupun media massa. Jika
dalam kurun waktu tertentu tidak ada tuntutan atau klaim dari pihak lain mengenai foto tersebut
secara otomatis muncul semacam legitimasi social terhadap hak cipta foto tersebut atas
nama anda. Cara lain adalah dengan memanfaatkan teknologi yang ada seperti diungkapkan
Roy Suryo kepada kami berikut ini, “yang pertama, di beberapa camera terdapat fungsi untuk
menambahkan comment pada setiap foto yang dibuat. Manfaatkanlah itu untuk memberi nama
anda pada foto-foto tersebut. Fungsi ini juga bisa ditemui pada beberapa software pengolah
grafis. Jangan lupa juga untuk selalu melakukan setting tanggal terutama ketika anda telah
mengganti battery atau mencabut battery. Agar tanggal yang tersimpan pada metadata bisa di-
gunakan sebagai bukti tanggal pembuatan..” Untuk kamera-kamera canggih yang memiliki fitur
GPS Roy juga menyarankan pemiliknya untuk mengaktifkannya ketika memotret. Hal ini untuk
membuktikan posisi pemotretan sesuai dengan klaim pencipta jika perlu pembuktian dikemu-
dian hari. Walaupun masih meninggalkan banyak celah, Roy optimis bahwa dukungan teknologi
yang ada saat ini jika dikelola dengan benar bisa dijadikan bukti hukum dengan dukungan saksi
ahli jika dikemudian hari terjadi perselisihan. Roy yakin bahwa secanggih-canggihnya teknologi
pasti masih meninggalkan celah. Termasuk rencana beberapa manufaktur kamera yang beren-
cana melengkapi kamera dengan scanner fingerprint dan retina. “Makanya pinter-pinteran saja.
Jangan sampai kita kalah pinter dari maling.” Tutupnya.

44 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 45


THEEVENT THEEVENT

KUAT SECARA TEKNIS...


KUAT SECARA STYLE!
Awal tujuan diterbitkannya majalah ini adalah menjembatani kalangan amatir dan profesional
sehingga profesional bisa membagikan ilmunya kepada fotografer amatir & hobi.
Salah satu program pendukung untuk mencapai hal itu adalah dengan mengadakan workshop.
Melalui workshop fotografer hobi dan amatir bisa bertemu muka dan berkonsultasi dengan
professional mengenai fotografi. Tanggal 21-22 Juli 2007 adalah workshop kami yang pertama.
Kami sengaja membuatnya menginap di luar kota supaya peserta memiliki banyak waktu untuk
berkonsultasi dengan fotografer professional yang menjadi pembicara. Peserta bisa menghabis-
kan waktu bebas di malam hari untuk mengakrabkan diri dan berkonsultasi dengan pembicara.
Berbeda dengan workshop dari pagi sampai sore dimana kesempatan peserta untuk bisa
berkonsultasi dengan pembicara sangat terbatas.

Workshop perdana THE LIGHT ini bertema Fashion Outdoor. Hal ini didasari begitu minimnya
workshop yang diadakan di outdoor, sementara set up lighting untuk outdoor tentunya memiliki
tingkat kesulitan yang lebih sulit dari indoor karena bergantung banyak hal yang tidak bisa
dikontrol. Workshop ini akan mengajarkan kemampuan set up lighting mix light yang “tidak
biasa” ditambah pengarahan tentang fashion styling oleh professional fashion stylist. Begitu
sulitnya set up lighting untuk pemotretan fashion di outdoor bisa kita lihat dari minimnya foto
fashion outdoor yang outstanding dan tidak pasaran. Untuk itu kami menghadirkan Gerard Adi
professional commercial photographer yang terkenal sangat sempurna kualitas detail teknisnya.
Dipadukan dengan Heret Frasthio seorang professional commercial photographer yang dikenal
memiliki style yang outstanding tentunya akan membuat siapapun pesertanya mendapat suatu
kemampuan fotografi yang integrated, tidak hanya kuat secara teknis saja ataupun style saja
namun keduanya.
Untuk informasi selengkapnya, silakan hubungi Sdri. Lia (0812 815 8864) atau Sdr. Untung
(0813 1100 5200)

46 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 47


PORTRAITUREPHOTOGRAPHY PORTRAITUREPHOTOGRAPHY

EKSPLORASI
AURA FOTO
PORTRAITURE
WITH AJIE LUBIS
Salah satu sepsialisasi dalam fotografi yang tidak begitu banyak peminatnya terutama di
Indonesia, adalah portraiture. Sebagian menganggap portraiture tidak menarik, sebagian orang
lain ada yang menganggap terlalu mudah dan tidak menantang. Namun kami memilih untuk
menganggap portraiture terlalu sulit. Sulit karena subyek yang difoto relative sederhana jika
dibandingkan dengan fashion dan commercial. Sulit karena sang fotografer dituntut untuk
mengeluarkan aura dan karakter dari subyek yang difoto.
Namun begitu banyak orang yang berani mengaku bisa memotret portraiture. Memang benar
bisa, hanya saja sebagus apa? Untuk itu pada edisi ini kami menghadirkan Ajie H. Lubis, salah
seorang fotografer muda yang banyak melakukan pemotretan portraiture selain melakukan
pemotretan komersial corporate.

Ceritakan tentang perkenalan anda dengan fotografi.


Sama seperti kebanyakan orang, saya start mengenal fotografi dengan menjadikannya sebagai
hobby saya. Awalnya saya hanya mencoba kamera milik ayah saya yang wartawan salah satu
surat kabar. Pada tahun 1995 saya pindah ke Australia untuk melanjutkan belajar bisnis dan
juga meneruskan hobby motret saya. Hingga akhirnya ada seorang guru yang menyuruh saya
untuk kuliah fotografi. Saya pun menyambut tantangannya. Akhirnya saya mencoba tes masuk
sekolah fotografi di School of Creative Media, RMIT Univ., Melbourne, Australia, dan diterima.

48 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 49


www.ajielubis.net Model: David Soeng
PORTRAITUREPHOTOGRAPHY PORTRAITUREPHOTOGRAPHY

50 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 51


PORTRAITUREPHOTOGRAPHY PORTRAITUREPHOTOGRAPHY

Setelah lulus, apa yang anda lakukan? ggu, padahal saya bukan siapa-siapa saat itu.
Awal tahun 2001 saya mulai bekerja sebagai Tapi saya pikir “untuk menguasai pasar Indo-
freelance photographer. Kerjaan belum ban- nesia saya butuh gebrakan besar.” Makanya
yak, makanya saya sempatkan untuk ikutan saya nekat bikin pameran sendiri. Dan setelah
pameran bersama 17 fotografer di Galery pameran itu orang mulai mengenal karakter
cahaya. Saya ingat sekali waktu itu pertama foto saya. Banyak yang menyimpulkan foto
kali saya ketemu Prana (public relation The saya colorful. Setelah pameran itu project
Light –Red.). Waktu itu dia tertarik dengan komersil pertama saya datang. Waktu itu
foto saya. Dia tanya ke saya kenapa foto saya saya diminta motret industrial. Saya bingung
dicetaknya kecil dan bingkainya pun termasuk juga karena saya nggak pernah tahu tentang
kecil dibandingkan foto milik fotografer lain. motret industrial, tapi saya nekat ambil aja.
Tapi tetap “keluar” auranya. Saya jawab “saya Dan ternyata mereka puas. Selanjutnya saya
cetak kecil karena saya nggak jualan bingkai, dikontak Nestle untuk memotret produk mer-
jadi nggak perlu besar, karena yang penting eka. Saya bingung juga karena nggak punya
fotonya.” studio, punyanya Cuma lampu dan kamera.
Setelah itu saya memberanikan diri untuk Akhirnya saya nekat aja saya terima dan saya
melakukan pameran tunggal selama 2 min- sulap kamar saya yang berukuran 4 X 6 meter

52 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 53


PORTRAITUREPHOTOGRAPHY PORTRAITUREPHOTOGRAPHY

54 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 55


PORTRAITUREPHOTOGRAPHY PORTRAITUREPHOTOGRAPHY

jadi studio. Table topnya saja saya bikin sendiri ke tukang alumunium dan akrilik. Hingga saat ini
saya banyak melakukan pemotretan commercial, corporate, portraits, fashion dengan bermar-
kas di bilangan Kelapa Gading yang tentunya sekarang sudah ada studio, ya lebih besar sedikit
lah 6 x 6 meter, tapi kan sudah lebih professional hahaha.

Kami dengar, anda mengajar juga?


Ya, saya pernah mengajar di Trisakti, Pelita Harapan, ADVY Yogya, Neumatt, Neep’s. Juga per-
nah mengajar dibeberapa perusahaan yang mempunyai komunitas fotografi dan sebagai tamu
pembicara diberbagai institusi. Tapi sekarang saya hanya mengajar di Trisakti dan Neep’s saja.

Bagaimana dengan fotografi portraiture, boleh ceritakan sedikit?


Portraiture itu ribet, karena subyeknya benda bergerak, yaitu manusia. Masing-masing subyek
punya emotion, feeling dan karakternya sendiri-sendiri. Lebih ribetnya lagi ketiga elemen tadi
berbeda-beda antara satu orang dengan yang lain. Jadi hal awal untuk belajar portraiture ada-
lah memperdalam pengetahuan tentang karakter. Saya pernah coba memotret orang dengan
mengganti karakter orang. Yang tadinya ganteng saya ubah jadi seram, pokoknya saya coba
eksplor. Yang penting adalah komunikasi dan interaksi. Komunikasi dengan subyek harus jalan.
Kita harus menyampaikan sejelas-jelasnya mengenai concept yang akan kita foto kepada sub-
yeknya, sehingga ia juga bisa membantu. Saat saya ada pemotretan orang/model, saya selalu
perkenalkan diri saya secara jelas agar dia tahu dengan siapa dia nanti berkomunikasi. Tentunya
saya juga memperkenalkan asisten2 saya yang nantinya juga akan terlibat dalam pemotretan.
Saya juga selalu ngajak ngobrol orang tersebut, ya tanya tentang banyak hal, misalnya gimana
tadi? Macetkah dijalan? Bla bla bla…Hal tersebut saya lakukan supaya model/orang yang akan
saya foto tidak merasa canggung atau asing dengan saya. Dan ketika dalam pemotretan kita
juga harus berkomunikasi dengan model tersebut, arahkan dia harus lihat kemana, dan seba-
gainya. Ketika itulah akan terlihat ada interaksi yang terekam di ekspresi si model pada hasil
akhir foto. Banyak fotografer yang motretnya bagus secara teknis, tapi sayangnya interaksinya
kurang jadi ekspresinya cenderung kosong seperti nggak bernyawa atau lagi ngelamun. Maka
dari itu subyek harus dianggap sebagai partner kerja, jangan dijadikan obyek.

56 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 57


PORTRAITUREPHOTOGRAPHY PORTRAITUREPHOTOGRAPHY

Pernah nggak motret jelek?


Kebanyakan dari kita kalau motret orang
atau model dan hasilnya tidak bagus, selalu
menyalahkan modelnya. Ini foto gak bagus
karena modelnya sih yang jelek, model-
nya gak professional, gak bisa posing, dan
lain-lainnya. Tapi sadar gak sih kita pada
kenyataannya model itu tidak tahu konsep
yang kita mau bahkan isi kepala kita. They
just do what photographer says. Jadi intinya karena fotografernya bukan karena yang lain.
kita sebagai fotografer yang harus mengatur Model bisa nggak bagus posenya juga karena
dan mengarahkan model. Saya tidak hanya kita nggak bisa direct. Maka jangan salahin
bicara model wanita saja, tapi juga berlaku orang lain.
dalam pemotretan anak kecil, orang tua,
pejabat, dan lainnya. Jadi jangan salahkan Bagaimana dengan portraiture yang
siapa-siapa. Tapi salahkanlah diri sendiri, bila dilakukan dengan candid?
foto yang kita hasilkan tidak bagus khususnya Saya biasa melakukan pendekatan. Ajak
di modelnya. Model bisa ngambek seringnya ngobrol dulu perlahan-lahan, kamera saya
umpetin dulu. Lama-lama kamera mulai saya
tunjukin tapi masih dipegang biasa aja. Kalau
komunikasinya sudah makin enak baru minta
ijin untuk foto. Gampang enggak untuk dapet
mood si obyek tergantung direction kita. Ma-
kanya kita juga harus belajar psikologi sedikit
untuk tahu karakternya. Sering saya dimarahi
oleh klien saya yang minta difoto karena lama
settingnya, tapi saya nggak pernah anggap
marah-marahnya itu sebagai karakternya dia.
Jadi saya cuekin aja.

58 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 59


PORTRAITUREPHOTOGRAPHY PORTRAITUREPHOTOGRAPHY

Orang seperti apa yang menarik untuk foto portraiture?


Pada dasarnya semua orang menarik untuk difoto. Hanya saja tergantung konsepnya. Tergan-
tung bentuk mukanya juga. Nah dalam portraiture, dan harusnya juga untuk semua spesialisasi
dalam fotografi lighting harus menyesuaikan model yang mau difoto. Banyak fotografer yang
motret dengan setting lampu yang hapalan. Lampunya atas bawah atau kiri kanan tanpa
mempelajari bentuk muka. Begitu juga dengan angle kamera, kita harus bisa menggunakannya
sesuai dengan bentuk muka model tersebut.

Memangnya harusnya gimana?


Contohnya saja, kalau modelnya rahangnya besar, jangan ambil angle dari bawah. Jangan juga
kasih lampu yang terlalu kuat di rahangnya. Hal ini akan membuat rahangnya jadi terlalu besar.
Contoh lain kalau mukanya kotak, jangan ambil angle frontal karena akan makin terlihat kotak
mukanya.

Bagaimana dengan orang gemuk?


Orang gemuk jangan dikasih lampu yang terang semua. Karena akan terlihat lebih besar. Saya
biasanya kasih side light setengah gelap. Sebagai penyeimbang saya kasih rim light sedikit di
bagian yang gelap.

Konsep 3D lighting?
Kurang lebih seperti itu. Konsep 3D lighting itu kan terdiri dari main light, fill light (filler) dan
back light. Main light sebagai lampu utamanya, fill light untuk mengeluarkan dimensi shadow,
sementara back light untuk mengeluarkan dimensi highlight. Posisinya disesuaikan aja dengan
konsepnya.

Apa pendapat anda mengenai penggunaan software pengolah foto?


Saya selalu bilang ke mahasiswa saya, “ketika kamu motret anggap kamu nggak kenal
teknologi computer, anggap aja nggak pernah ada photoshop. Jadi semuanya dimaksimalkan

60 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 61


PORTRAITUREPHOTOGRAPHY PORTRAITUREPHOTOGRAPHY

62 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 63


Model: Nini, Make-up: Julia Model: Mary, Make-up: Julia
PORTRAITUREPHOTOGRAPHY PORTRAITUREPHOTOGRAPHY

di kamera.”. Sebisa mungkin proses olah


digital jangan lebih dari 20%. Kecuali untuk
kasus tertentu yang sebagian besar terjadi di
komersil.
Yang penting jangan sampai photoshop dijadi-
kan sebagai excuse terhadap kegagalan kita
dalam memotret. Banyak fotografer yang suka
excuse. I hate excuses.

Terakhir, kalau bisa disimpulkan hal


penting apa saja yang harus diperhatikan
dalam pemotretan portraiture?
Yang pertama, banyak orang melakukan
pemotretan portraiture seperti di studio foto
pinggir jalan tapi sayangnya nggak banyak
yang paham portraiture. Yang harus diperha-
tikan dalam portraiture adalah pertama mod-
elnya. Siapakah dia, berapa umurnya, kondisi
kesehatannya, berat badannya, jenis kelamin-
nya. Dari situ treatment lighting bisa lahir, tapi
semuanya harus disesuaikan dengan konsep
foto yang kita inginkan. Selanjutnya konsep
diperkuat dengan menghadirkan background
dan properties yang sesuai. Ketika masuk
tahap pemotretan ada faktor komunikasi
dan interaktif. Cobalah bangun komunikasi
dan interaktif dengan model. Arahkan model
dia harus melakkan apa, karena kalau tidak
pastinya dia tidak akan bergerak. Kita harus

64 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 65


PORTRAITUREPHOTOGRAPHY JURNALISTIKPHOTOGRAPHY

Model: Indah Kalalo, Make-up: Sugi Salon

tahu dan ingat bahwa kita sebagai fotografer adalah orang yang mengkontrol fotografi termasuk
mengarahkan, posing, dan behaviour model agar dia tahu apa yang harus dilakukan. Dan
terakhir teknik dan kamera angle.

66 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 67


THELEPASAN THELEPASAN

TETAP BODOH
kondisi pencahayaan yang berbeda. F11 tidak
akan bekerja dengan baik bersama 1/160
detik seperti pada waktu anda masih di kelas.

DI TENGAH
Karena memang kondisi pencahayaannya
bisa berbeda. Untuk itulah dibutuhkan yang
namanya pemahaman dan logika.

BANJIR ILMU
Ketika kita duduk di bangku sekolah dasar, kita diajari berbagai macam pelajaran yang memang
Beberapa hari yang lalu ada seorang teman
yang bertanya, “motret mobil caranya gimana
ya? Pengen banget belajar tapi nggak ada
kursus fotografi kusus otomotif.” Saya pun
sudah diberi judul “pelajaran” dan disajikan sebagai “pelajaran”. Ada pelajaran mengenai tidak serta merta menjawabnya. Namun
tambah-tambahan, ada pelajaran berbahasa yang baik dan benar, ada pelajaran mengenai ilmu Tuhan memang baik, karena ia mempertemu-
alam. Tapi di atas semuanya itu semua pelajaran itu tidak akan berguna ketika tidak dimengerti kan saya kepada Pak Djoni Darmo yang tanpa
aplikasinya. Sebagai contoh ketika di sekolah kita diajari pelajaran 1 + 1 = 2 atau 10 X 9 = diminta membagikan ilmu fotografi otomotif
90. Namun bahkan ketika kita melamar pekerjaan tidak ada yang menanyakan pertanyaan secara gratis kepada saya. Seperti yang bisa
semacam itu? Apa artinya ilmu tadi tidak berguna? Ketika kita melamar pacar kita, bapak and abaca pada rubrik pak Djoni edisi ini, cara
mertua pun tidak pernah menanyakan pertanyaan-pertanyaan seperti itu, apa artinya ilmu itu belajar memotret mobil sangatlah murah yaitu
tidak ada gunanya? dengan memperhatikan mobil yang sedang
parkir, perhatikan refleksinya, perhatikan
Memang ilmu tanpa jembatan aplikasi tidak akan ada gunanya. Ketika kita diajari pelajaran 1 highlight dan shadownya, perhatikan semua
+ 1 = 2, kita diharapkan bisa menghitung sehingga ketika suatu saat ada promo kartu kredit bagaimana obyek yang ada di sekelilingnya
di bioskop tertentu dengan system buy one get one free kita tahu bahwa dengan membayar bisa mempengaruhinya. Pelajari bagaimana
satu kita mendapat dua. Padahal waktu di sekolah pelajarannya hanya 1 + 1 = 2 bukan beli 1 cahaya berinteraksi dengannya. Saat itu pula
tiket dapat gratis 1 tiket jadinya saya dapat 2 tiket. Semua ilmu perlu proses pencernaan dan si mobil yang sedang parkir memberikan
pemikiran untuk bisa menjadi aplikatif. Begitu juga dengan fotografi. Banyak teori-teori dalam pelajaran kepada kita. Walaupun ia tidak
fotografi yang memerlukan lebih dari sekedar dihapal. Misalnya ketika anda belajar di kursus datang kepada kita dan berkata “hei, ini saya
fotografi, anda diajari kalau motret model dengan f11, maka speednya 1/160 detik. Tapia pa ajari kamu motret mobil.”
yang terjadi ketika anda melakukan pemotretan sendiri dengan lokasi yang berbeda, atau Yang ingin saya sampaikan, banyak orang

68 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 69


THELEPASAN JURNALISTIKPHOTOGRAPHY

berusaha mencari ilmu sebanyak-banyaknya. orang peka ada pelajaran yang bisa diambil
Banyak yang mencoba bersekolah di sana- dari situ.
sini. Memang baik dan mempermudah, na-
mun tanpa logika, kepekaan dan pemahaman Ya lingkungan selalu memberikan pelajaran
yang baik tentunya ilmu tidak akan berteman kepada kita setiap saatnya. Yang membuat
dengan anda. kita tidak melihatnya adalah karena kepekaan
kita yang kurang terhadap pelajaran itu. Sama
Beberapa waktu yang lalu ketika bertemu hal nya dengan majalah ini. Sejak awal berdiri
dengan Sam Nugroho, beliau menceritakan kami tidak serta merta memberikan tips &
bagaimana caranya belajar lighting. Beliau trick atau tutorial step by step yang menjadi
berkata “sekarang saya bisa belajar lighting, mudah dipelajari namun cenderung menjebak
saya bisa melihat bagaimana cahaya matahari orang untuk hanya menghapal. Untuk itu
jatuh di muka anda, bagaimana pantulan ke kami mengemas “pengetahuan” ini ke dalam
cermin belakang membentuk sedikit rim light bentuk cerita pengalaman dari para fotografer
di leher, bagaimana lampu di atas kepala professional sebagai sesuatu yang sarat ilmu
anda seolah-olah menjadi hair light.” Dalam namun tidak diberi label “pelajaran”. Banyak
hati saya berkata, “wah, orang ini peka sekali sekali ilmu yang bisa didapat dari kisah per-
terhadap kondisi sekitar.” jalanan fotografer professional, namun hanya
jika anda peka terhadap pelajaran itu. Jika
Beberapa abad yang lalu, manusia menemu- anda tidak peka, maka ini hanyalah bacaan di
kan teori gravitasi ketika melihat apel terjatuh waktu senggang.
dari atas. Itu bukanlah sebuah kelas dimana
seseorang datang sebagai guru dan berkata Pertanyaannya apakah kita sudah cukup peka
“sekarang lihat apel ini, ini membuktikan untuk bisa mencari “ilmu” walaupun tidak
bahwa bumi ini memiliki gravitasi.” Sang guru berlabel “ilmu” atau justru kita akan mati
pada saat itu adalah si pohon apel dan apel- kelaparan ilmu di tengah banjir ilmu?
nya sendiri. Tapi ia tidak berucap sepatah kata
pun. Bagi orang yang tidak peka, itu sebagai
kejadian biasa dimana apel jatuh. Tapi bagi

70 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 71


HUMANINTEREST HUMANINTEREST

PERJALANAN
SPIRITUAL
LANS
BRAHMANTYO
Beberapa tahun yang lalu sebuah buku yang berisi foto-foto perjalanan spiritual dirilis. Judulnya
Soul Odyssey. Beberapa bulan yang lalu beberapa foto dari buku tersebut mendapat penghar-
gaan dalam sebuah ajang penghargaan foto di Perancis.
Kali ini kami mendapat kehormatan untuk bisa bertemu dan berbincang-bincang dengan Lans
Brahmantyo, fotografer di balik foto-foto dalam buku Soul Odyssey.

Lans Brahmantyo atau yang biasa dipanggil Brahm bukanlah seorang fotografer professional.
Brahm hanyalah seorang lulusan teknik elektro yang kebetulan “nyangkut” di industri design
grafis. Ia memiliki Afterhours, sebuah perusahaan design grafis tempat salah satu fotografer
kenamaan, Jerry Aurum pernah bekerja sebagai graphic designer. “Saya seorang praktisi ko-
munikasi visual. Kerjaannya “menterjemahkan” kebutuhan klien dalam bentuk visual, terutama
cetak. Istilah mudahnya: desain grafis.” Ungkap lelaki yang saat ini memiliki tidak kurang dari
50 orang pegawai ini. “Selain itu saya juga berkecimpung di dunia publishing buku2 di Red &
White Publishing (R&W) yang sudah menerbitkan berbagai coffee table books berkualitas tinggi
(termasuk di dalamnya beberapa buku fotografi seperti buku fotografi milik Sigit Prasetyo, Indra
Leonardi dan banyak fotografer lainnya.)” tambahnya.

72 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 73


HUMANINTEREST HUMANINTEREST

74 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 75


HUMANINTEREST HUMANINTEREST

Bercerita mengenai perkenalannya dengan


bidang fotografi, Brahm mengaku terbalik
dalam belajar fotografi. “Banyak orang belajar
dari film lalu pindah ke digital, saya malah
sebaliknya.” Ungkapnya. “Saya mengenal
fotografi karena tuntutan sebagai elemen
dari sebuah design. Saya banyak berkenalan
dan berkawan dengan fotografer sebelum
benar2 “kesamber racun” nya. Pada waktu
itu digital photography masih infancy tapi
sudah menarik perhatian saya krn saya
anggap merupakan jalur cepat untuk belajar
fotografi daripada memakai film. Pada tahun
2002 ketika saya mau jalan-jalan ke Eropa
dan perlu kamera, maka saya nekat mengha-
biskan tabungan dengan beli DSLR pertama

saya yang mahal sekali. Dan ternyata hanya teknis nya krn bisa langsung lihat hasil dan mencoba2 secara instant. Untuk komposisi, saya
dengan sekilas membaca manual sebelum secara langsung sudah belajar dari pekerjaan sehari2 dalam mendirect seorang fotografer.
berangkat, dengan cepat saya bisa belajar Jadi memang waktu itu tinggal masalah teknis dan kemauan untuk meng-click shutter sendiri

76 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 77


HUMANINTEREST HUMANINTEREST

78 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 79


HUMANINTEREST HUMANINTEREST

80 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 81


HUMANINTEREST HUMANINTEREST

saja.”Tambahnya
Selain itu Brahm pun mulai mempelajari
foto-foto karya fotografer terkenal. “Saya
banyak belajar dari buku2 fotografer ternama
dengan memperhatikan komposisi-komposisi
dan moment. Saya kurang tertarik dengan
foto fashion ataupun yang commercial karena
fotografi buat saya lebih sebagai balancer dari
kegiatan komersial saya di design.” Jelasnya.
Akhirnya Brahm pun memutuskan untuk lebih
tertarik pada fotografi human interest. “Dalam
human interest kita bisa merekam orang
berkontemplasi dengan alam sekitarnya,
baik itu tempat, pekerjaannya, serta manusia
lain. Dan itu yang sangat menarik buat saya
karena foto jadi ada “isi”nya.” Ujarnya. Bahkan
ketika ingin memotret landscape pun Brahm
mencoba memasukkan unsur human interest
di dalamnya, sehingga foto yang dihasilkan
lebih memiliki “rasa”.

Beberapa tahun menggunakan kamera digital,


Brahm pun memutuskan untuk berpindah
ke kamera range finder analog. Walaupun
memotret dengan kamera digital relative lebih
terkontrol namun Brahm justru menghin-
darinya. “Orang kalau motret pakai digital,
pasti godaannya selalu ingin melihat hasilnya
sesudah menjepret. Akhirnya momennya

82 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 83


HUMANINTEREST HUMANINTEREST

84 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 85


HUMANINTEREST HUMANINTEREST

keburu lewat.” Ungkapnya. “Justru dengan tidak bisa melihat hasilnya saat itu juga itulah yang
membuat memotret jadi menyenangkan. Karena kita jadi dilatih untuk memotret dengan “rasa”
bukan sekedar dengan mata saja.” Tambahnya.

Brahm yakin bahwa sebuah foto human interest harus berjiwa dan bisa membawa penikmat
foto untuk me-relate foto tersebut dengan dirinya. Tidak harus selalu sempurna secara teknis
karena kecenderungan foto apabila hanya perfect secara teknis akan menjadi dekoratif belaka,
kecuali untuk bidang komersil yang memang tuntutannya lain.
Brahm percaya bahwa untuk menghasilkan foto human interest yang baik seorang fotografer
harus mengerti betul subyek yang akan difoto. Brahm menyarankan fotografer human interest
untuk mau berbaur dengan subyek. Selain itu, akan sangat baik jika fotografer human interest
mengetahui budaya dan kebiasaan yang dianut daerah tempat ia akan memotret. “Waktu saya
motret di Israel, saya nggak tau bahwa di sana ada keyakinan di mana mereka nggak boleh di-
foto mukanya. Maka dari itu ada yang menutup mukanya ketika saya mau motret.” Ungkapnya.

Ditanya mengenai begitu banyaknya pehobi fotografer yang lebih tertarik untuk memotret
fashion dan model terutama wanita, serta ketidaktertarikannya pada bidang fotografi fashion
dan commercial Brahm menjawab, “Bertemu dengan wanita cantik memang menjadi daya tarik
tersendiri untuk mempelajari fotografi, tapi cenderung hasilnya akan bersifat ‘vulgar’ apabila
hanya untuk memotret kecantikan fisik belaka. Kecuali memang itu tujuan dari memotretnya.”.
“Saya tidak terlalu tertarik dengan commercial photography karena bagi saya merupakan
sebuah pressure. Buat saya, memotret harus dari dalam hati dan tidak terbentur oleh aturan-
aturan maupun constraints. Jadi ya saya tetap memilih untuk meng-hire professional photogra-
phers untuk menunjang pekerjaan design saya. Kecuali apabila keadaan memaksa atau client
meminta saya yang memotret sendiri.” Tambahnya.

Bercerita mengenai foto-foto dalam buku Soul Odyssey Brahm mengaku bahwa proses pen-
ciptaan foto-foto hingga menjadi sebuah buku dilakukan benar-benar tanpa rencana. Brahm
lebih senang menganggap perjalanan dalam menghasilkan foto-foto itu sebagai perjalan

86 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 87


HUMANINTEREST HUMANINTEREST

88 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 89


HUMANINTEREST HUMANINTEREST

spiritual yang secara tidak sengaja ia lakukan.


Waktu itu ia diminta ibunya untuk meneman-
inya ikut sebuah paket tour ke timur tengah.
Negara-negara yang akan dikunjunginya
adalah Mesir, Israel dan juga Yordania. Selama
perjalanan Brahm merasa mendapatkan ban-
yak hal yang bersifat spiritual selain foto-foto
bagus yang kini sudah menjadi sebuah buku.
Misalnya saja foto yang menjadi sampul buku-
Setelah beberapa saat berbincang-bincang
nya tersebut. Pada saat itu ia sedang berada
si pemiliki café itu menawarkan diri kepada
di Gunung Sinai. Ketika ia tertinggal oleh rom-
Brahm untuk mengantarnya turun karena ia
bongan tournya yang sudah lebih dulu turun
takut tersasar. Yang menarik adalah, ternyata
dari Gunung Sinai, Brahm bertemu dengan
orang itu bernama Musa. Nama yang sama
seorang penduduk setempat yang pekerjaan-
dengan Nabi yang dikisahkan banyak kitab
nya mengumpulkan selimut dan bantal yang
suci pernah berada di gunung itu.
sudah selesai digunakan pengunjung. Brahm
pun menyempatkan diri untuk mampir ke café
Kisah lain adalah pada saat berada di kota
sederhana milik orang itu untuk minum kopi.
Mara. Saat itu Brahm bertemu dengan
seorang penduduk setempat yang bisa mem-
baca masa lalu seseorang. Masa lalu Brahm
pun tidak luput dari terawangannya. Hingga
akhirnya di suatu tempat setelah mendoakan
Brahm agar menjadi orang yang lebih baik
lagi, orang itu pun berpesan bahwa sepulang-
nya dari tempat itu Brahm akan membawa
sebuah pesan untuk orang banyak. Dan akh-
irnya Brahm pun meyakini bahwa salah satu
pesan itu adalah terbitnya buku Soul Odyssey
walaupun tidak pernah direncanakan. Selain

90 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 91


HUMANINTEREST HUMANINTEREST

92 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 93


HUMANINTEREST HUMANINTEREST

itu, Brahm yang saat itu sempat ragu akan


adanya Tuhan, berubah menjadi amat sangat
yakin bahwa Tuhan itu ada.

Sepulangnya dari perjalanan ke timur tengah


itu, Brahm menunjukkan foto-fotonya itu
kepada Oscar Motuloh. Oscar yang saat itu
sedang mampir ke rumahnya pun segera
sibuk memperhatikan foto-foto itu. Ia mulai
menyusun foto-foto itu dan berkata “wah ini
ada ceritanya nih Brahm.”. Brahm pun terke-
jut karena bahkan ia sendiri tidak berusaha
membuat sebuah cerita ketika memotret foto-
foto itu. Oscar pun mulai menterjemahkan
foto-foto itu kepada Brahm. Akhirnya Oscar
menyarankan Brahm untuk memamerkan
foto-fotonya dalam sebuah pameran. Brahm
pun menyambutnya. Dengan memilih sebuah
gallery di kemang dengan bentuk ornament
dan warna bangunan yang mirip dengan
bangunan-bangunan di timur tengah seperti
dalam fotonya Brahm pun membuat sebuah
pameran. Awalnya foto-fotonya itu hanya akan
dibuat dalam sebuah catalog. Namun karena
terlalu banyak akhirnya dibuatlah sebuah
buku yang kini bisa kita dapatkan di beberapa
toko buku terkemuka.

94 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 95


HUMANINTEREST HUMANINTEREST

96 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 97


HUMANINTEREST HUMANINTEREST

Hari semakin sore, kami pun tertarik untuk


“kembali” ke “dunia nyata” dengan menan-
yakan pendapatnya mengenai penggunaan
teknologi digital seperti post processing den-
gan software editing foto. Brahm berpendapat
bahwa di tengah kemajuan teknologi yang
semakin memudahkan manusia ini memang
sulit untuk benar-benar lepas dari teknologi. Ia
sendiri selalu melakukan konversi dari analog
ke digital dengan cara melakukan scanning
film nya dengan drum scan. Setelah itu ia
juga terkadang masih melakukan adjustment
tonal dengan burning dan dodging, cropping,
serta proses penajaman untuk keperluan
offset atau digital print. “Saya bisa memahami
euforia pemakaian Photoshop dalam fotografi
meskipun saya sendiri tidak setuju apabila
hasil karya Photoshop itu justru menjadi tidak Pada akhir perbincangan kami Brahm pun
“fotografis” lagi alias nggak masuk di akal dari berpendapat bahwa fotografer pada umum-
segi lighting, komposisi dll sehingga menjadi nya semakin bagus dan banyak. Namun amat
pantas disebut “Photoshopgrapher” ataupun disayangkan sebagian besar di antaranya
seni grafis.” Ungkapnya. “Seperti di design, tidak unik. “fotografer yang unik belum ke-
foto yang overdone akan justru menjadi luar.” Ungkapnya. Hal ini bisa dilihat dari angle
tidak menarik lagi dan justru menunjukkan yang biasa saja selain penggunaan teknologi
ketidakyakinan dan ketidakpercayadiri sang computer grafis yang berlebihan.
fotografer.” Tambahnya.

98 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 99


HUMANINTEREST HUMANINTEREST

100 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 101


HUMANINTEREST HUMANINTEREST

102 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 103


PROCOMMENT PROCOMMENT

FOTOGRAFER: GARY EVAN FOTOGRAFER:


AJIE LUBIS: Set background yang sangat IDA BAGUS “GUSDE” PRADNYANA
menarik. Wardrobe dan model yang juga AJIE LUBIS: Foto ini sangat menarik. Konsep
cantik. Namun menurut saya lebih baik yang dibuat pada foto ini sangat kuat. Tetapi
tidak menggunakan lilin tersebut. Akan lebih sesaat saya melihat dengan dipotongnya
bagus lagi bila menggunakan pose dan body kepala si wanita dan tatapan model pria dari
movement yang menarik. Tapi kalau haruspun pintu mobil, membuat saya berfikir sepertinya
menggunakan lilin, sebaiknya lilin tersebut da- foto ini adalah salah satu seri dari beberapa
lam keadaan nyala, dan cahayanya sekitarnya foto yang dibuat, artinya foto ini memang
dibuat lebih dramatik, tidak seterang yang ini. berseri atau bercerita. Overall sebagai foto
fashion, foto ini bagus sekali. Keep it up!
GERARD ADI: Pose modelnya bisa lebih di-
namis lagi. Lilinnya lebih bagus kalau terlihat GERARD ADI: Fotonya sudah bagus tapi

nyala. Bisa lebih bagus kalau wardrobenya pemotongnya agak tanggung karena pas di

white on white. leher. Kalau bisa lebih naik atau turun sekalian mungkin bisa lebih bagus. Lighting keseluruhan
sudah baik, tapi bisa lebih menarik jika di fill in di 2 object.

FOTOGRAFER: CHARLES SIE FOTOGRAFER: REZIE “EZIE” ILHAMSYAH


AJIE LUBIS: Sebaiknya ada yang lebih
AJIE LUBIS: Saya tertarik dengan komposisi ditonjolkan, dan ada yang mensupportnya.
warna yang ada difoto ini. Warna langit yang Saya tidak tahu secara jelas konsep foto ini,
biru membuat foto ini hidup. Penggunaan apakah tas ini sebagai support atau orangnya
pencahayaan pada model sangat tepat yang jadi support. Tapi yang saya lihat foto
untuk menyeimbangkan langit biru. Pohon ini lebih menonjolkan si modelnya daripada
disebelahnya juga membuat keserasian dan tasnya. Namun bila dilihat dari cara si model
keseimbangan dalam komposisi. Menurut memegang tas, yang mana tidak lazim dilaku-
saya coba beberapa pose yang berbeda den- kan oleh seorang wanita cantik, foto ini lebih
gan menggunakan body movement dan juga menonjolkan tasnya, tapi sayang cahaya pada
GERARD ADI: komposisi bagus, langitnya
ekspresi model yang lebih ceria tapi terlihat tas tersebut gelap.
bagus, semuanya bagus.
natural. Hal tersebut akan membuat foto ini
GERARD ADI: POInya nggak jelas model / produk karena distribusi lightingnya seimbang antara
lebih hidup lagi. Selamat mencoba!
produk dan model. Kalau bisa dipilih salah satu yang lebih kuat mungkin bisa lebih bagus.

104 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 105


DIGITALPROCESS DIGITALPROCESS

KALIBRASI
menggunakan software RAW editor tertentu,
anda bisa dengan mudah melakukan kalibrasi

WHITE BALANCE
dengan grey card ini. Namun akan lebih baik
lagi jika anda mengerti betul bagaimana cara
kerja kalibrasi dengan grey card atau color

MANUAL
Banyak pehobi foto yang senang bermain dengan warna-warna dalam sumbu hue tertentu.
checker seperti yang kami gunakan.

Untuk mengerti lebih jauh lagi mengenai kali-


brasi dengan grey card akan sangat baik jika
Terutama foto-foto yang bertema fashion dan wedding. Ketika banyak fotografer yang berusaha anda mengerti color model yang ada. Color
keras mencari warna netral pada foto-foto mereka, fotografer yang suka bermain dengan warna model yang digunakan oleh kamera digital
justru merubah foto netral menjadi bernada warna tertentu misalnya kemerahan, kebiruan, kehi- adalah RGB (Red, Green, Blue). Ilmuwan blue) bernilai maksimal (dinyatakan dengan
jauan, kekuningan, dll. Berbeda dengan fotografer komersial khususnya dalam melakukan foto warna menamakan ini sebagai warna additive. angka 255) maka yang terjadi adalah warna
produk. Foto produk seringkali menuntut akurasi warna yang tepat karena harus bisa meng- Warna ini diciptakan oleh Tuhan. Prinsip cara putih. Teorinya ketika anda memiliki 3 buah
gambarkan warna asli produk yang difoto. kerja warna additive adalah berdasarkan lampu dengan warna merah, hijau dan biru
Lepas dari termasuk kategori manakah anda, kami melihat akan sangat baik jika setiap cahaya. Ketika ketiga elemen (Red, Green dan dinyalakan secara maksimal dan dipertemu-
fotografer mengerti dan tau betul bagaimana cara mendapatkan warna netral. Untuk itu pada kan maka yang terjadi adalah warna putih.
edisi ini, dengan sangat terpaksa kami melanggar janji kami sendiri untuk tidak menampilkan Sementara jika nilainya minimum (dinyata-
step by step tutorial pada majalah ini. Karena hal yang akan kami jelaskan dalam mendapatkan kan dengan angka 0) maka sama seperti
warna netral bersifat sangat teknis. Mudah-mudahan tidak sekedar dihapal namun dimengerti ketika ketiga buah lampu tadi tidak ada yang
sehingga lain kali anda tidak perlu membuka halaman ini lagi untuk melakukan kalibrasi warna menyala, yaitu gelap alias hitam. Sementara
dan tonal. Warna abu-abu ad adi tengahnya. Artinya
untuk memproduksi warna hitam, abu-abu,
Pada jaman digital seperti sekarang ini, white balance bukan masalah lagi karena anda dengan putih dan warna lainnya pada kamera anda,
mudah bisa berganti-ganti setting white balance dengan mudahnya. Lain halnya ketika anda digunakan pencampuran dari warna utama
menggunakan kamera analog dimana white balancenya tergantung pada film yang digunakan. Red, Green dan Blue dengan kadar tertentu
Namun apakah benar white balance yang selalu anda gunakan di kamera benar-benar akurat? bergantung pada kepekatan tonalnya.
Banyak fotografer professional yang menggunakan lembaran kertas yang dicetak khusus yang
berisi 3 warna, keputihan (bukan 100% putih), abu-abu, dan kehitaman (bukan 100% hitam)
untuk melakukan kalibrasi dengan white balance. Alat itu dinamakan Grey Card. Jika anda

106 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 107


DIGITALPROCESS DIGITALPROCESS

Mengapa kalibrasi kamera menggunakan (Highlight, Midtone, Shadow). Pada palet info
grey card atau color checker? Begini cara bisa terlihat kadar komposisi R,G,B yang
kerjanya. Kalibrasi kamera adalah mencari membentuk highlight, midtone dan shadow.
settingan warna netral dari tiga elemen Jika pada color sample highlight besaran
tonal, yaitu Highlight, Midtone, dan Shadow. R,G,B nya sama, artinya pada highlight
Highlight adalah titik paling terang dimana warnanya netral. Selanjutnya cek juga pada
masih menyimpan detail gelap sedikit (bukan midtone & shadow.
R:255, G:255, B:255), sementara Shadow
adalah titik paling gelap di mana masih me- Pada contoh yang kami berikan, terdapat
nyimpan sedikit terang (Bukan R:0, G:0, B:0). perbedaan baik pada highlight, midtone
Warna netral artinya tidak kemerahan, tidak maupun shadow. Pada highlight kandungan
kehijauan, tidak kebiruan dan lain sebagainya. red terlalu tinggi sehingga perlu diadjust.
Artinya ketika anda mengukur kadar kompo- Selain itu ketiga elemen warnanya tidak
sisi warna R,G,B pada tiap elemen (Highlight, ada yang sama. Sementara pada shadow
Midtone, Shadow) komposisi ketiga warna kandungan greennya terlalu lemah, sehingga
tersebut sebaiknya berimbang. Untuk itu shadownya cenderung bernuansa magenta.
HIGHLIGHT SHADOW
pengukurannya tidak bisa dilakukan dengan Dan terakhir pada midtone kandungan rednya MIDTONE
mengira-ngira berdasarkan penglihatan kita, terlalu tinggi. Untuk mendapatkan warna
namun akan lebih akurat jika diukur berdasar- netral sebaiknya angka yang tercantum di SHADOW
kan data angka melalui software grafis seperti ketiga warna R,G,B besarannya sama atau Kandungan green
terlalu lemah.
Adobe Photoshop. sedekat mungkin. Bagaimana cara melaku-
HIGHLIGHT
kan adjustmentnya? Pertama anda harus
Kandungan red
Langkah awalnya adalah dengan mengawali melakukan adjustment pada highlight dan terlalu tinggi.
pemotretan dengan grey card atau color shadow. Anda bisa menggunakan Level pada
MIDTONE
checker seperti yang kami gunakan. Setelah Adobe Photoshop. Pertama lakukanlah koreksi Kandungan red
itu file tersebut kita buka di software yang pada highlight. Cari elemen warna apa yang terlalu tinggi.
bisa membaca kadar komposisi warna, lalu akan diadjust lalu lakukan adjustment pada
dengan color sampler kita klik di ketiga channel tersebut di level. Caranya adalah
tempat dalam grey card atau color checker dengan menggeser slider highlight baik input

108 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 109


DIGITALPROCESS DIGITALPROCESS

maupun output. Lakukan juga pada warna lain pada curve channel green masukkan 164
jika perlu. Perhatikan pergeseran nilai pada pada input (angka sebelum koreksi) dan 163
palet info. Ketika nilai yang diinginkan sudah pada output (angka rata-rata). Begitu juga Pilihan adjust-
didapat bergantilah pada elemen shadow. pada curve channel blue, masukkan 158 ment pada
channel tertentu
Lakukan hal yang sama. Tujuannya adalah un- pada input (nilai sebelum koreksi) dan 163
tuk mendapatkan besaran yang sama antara pada output (nilai rata-rata). Maka anda akan
R,G,B di tiap elemen (shadow, highlight). mendapatkan nilai yang sama. Dan anda
Sementara untuk melakukan koreksi pada mendapatkan warna netral. Artinya foto anda
midtone anda bisa menggunakan curve. terkalibrasi. Untuk melakukan hal ini pada
Yang pertama harus anda lakukan adalah foto-foto yang lain silakan save preset ini Kolom output:
melindungi bagian highlight (bagian atas) dan dan load pada foto lain yang satu sequence masukkan
angka rata-
shadow (bagian bawah) pada curve anda. dengan foto ini. Selamat mencoba. rata ketiga
Caranya adalah dengan mengklik satu kotak warna.
Pilihan adjustment pada channel tertentu
paling atas dan paling bawah sehingga yang
akan terkoreksi hanyalah midtone. Selanjut-
Klik pada kotak ini untuk mengunci highlight & shadow.
nya anda perlu menghitung nilai rata-rata dari
ketiga elemen R, G, B pada elemen midtone.
Caranya adalah dengan menjumlahkan nilai Kolom input: masuk-
kan angka awal dari
ketiga elemen warna tadi lalu bagi dengan 3. tiap warna.
Contoh yang saya berikan adalah 167, 164,
dan 158. rata-rata dari penjumlahan ketiga Kandungan
warna pada tiap
nilai tadi adalah 163. Langkah selanjutnya, elemen high-
klik bagian tengah curve pada channel red light, shadow &
midtone setelah
lalu masukkan angka 167 (nilai awal sebelum koreksi (sebelah
dikoreksi) pada bagian input dan 163 (angka kanan) menun-
jukkan warna
rata-rata) pada bagian output, maka secara netral (tidak ada
yang dominan).
otomatis nilainya akan bergeser ke angka
yang sama dengan Green dan blue setelah Slider untuk adjustment Slider untuk adjustment
anda melakukan hal yang sama. Selanjutnya shadow highlight

110 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 111


COMMERCIALPHOTOGRAPHY FASHIONPHOTOGRAPHY

MENGGALI
KARAKTER
FOTOGRAFER
FASHION
AN INTERVIEW WITH HERET FRASTHIO

Pada edisi-edisi terdahulu segmen fotografi fashion selalu diisi oleh fotografer fashion yang
bekerja pada majalah. Irvan Arryawan dari Femina Group, Bambang Santoso dari majalah A+,
dan Hary Subastian dari Cosmopolitan Group. Pada edisi ini kami mencoba untuk menghadir-
kan seorang fotografer yang berprofesi sebagai fotografer komersil namun memenuhi segala
persyaratan untuk menjadi fotografer fashion. Karya fotonya sering dimuat di berbagai majalah
fashion Indonesia dan tidak kalah bagusnya dibandingkan dengan fotografer fashion manapun.
Begitu juga dengan pekerjaannya sebagai fotografer komersil. Ia adalah Heret Frasthio. Pada
edisi ini kami mendapat kesempatan untuk berbincang-bincang dengannya mengenai fotografi
fashion komersil. Fashion Komersil di sini artinya fotografi dengan style fashion baik untuk
keperluan majalah maupun untuk keperluan komersil (iklan).

Heret mengenal fotografi pada tahun 2000, tergolong terlambat dibanding banyak fotografer
professional lainnya. Perkenalannya dengan fotografi itu pun dikarenakan sebuah mata kuliah
dasar-dasar fotografi di bangku kuliahnya. Mempelajari fotografi hanya melalui satu mata kuliah
selama 6 bulan itu, akhirnya Heret memberanikan diri untuk mempelajarinya lebih dalam.

112 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 113


FASHIONPHOTOGRAPHY FASHIONPHOTOGRAPHY

Heret Frasthio Rolling Stone for Lea

114 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 115


FASHIONPHOTOGRAPHY FASHIONPHOTOGRAPHY

“Waktu itu kemana-mana bawa kamera, apa untuk mencoba spesialisasi lain seperti
aja gue potret.” Kenang fotografer yang masih memotret bunga untuk keperluan dekorasi.
berusia berkepala 2 ini. Waktu itu segala “Bosenin sih karena yang difoto Cuma bunga
obyek yang ditemui tidak luput dari jepretan terus, tapi bayarannya lumayan.” Ungkapnya.
Heret, mulai dari jurnalistik, human interest, Pada suatu saat Heret pun sampai pada
sampai wedding. Keseriusan Heret dalam titik balik perjalanannya ke dunia fotografi
mempelajari fotografi pun makin berkobar. professional. Saat itu Heret mengikuti sebuah
Setiap bulannya Heret mengirimkan fotonya lomba foto di Universitas Atma Jaya dengan
untuk diikutsertakan dalam lomba foto bu- Anton Ismael sebagai jurinya. Heret menang
lanan di majalah Fotomedia. “Waktu itu target dan memiliki kesempatan untuk berbincang-
gue harus menang tiap bulannya. Dan puji bincang lebih banyak dengan Anton. Selan-
Tuhan berhasil.” Ungkapnya. Karena terlalu jutnya Heret sering mampir ke studio Anton
sering memenangi lomba foto bulanan itu pun yang kala itu masih bergabung dengan Sam
akhirnya Heret diangkat menjadi kontributor Nugroho. Heret sering membantu Anton
tetap majalah itu untuk rubric foto kreatif. memotret. “mulai dari ngangkat lampu, tapi
Setiap edisinya Heret harus bereksperimen lumayan sambil belajar.” Ungkapnya. Sesekali
dengan lighting. Mulai dari lighting seadanya Heret juga berkesempatan untuk berbincang-
seperti lilin hingga lighting equipment yang bincang dengan Sam Nugroho. Hingga
lebih canggih. akhirnya suatu saat Sam menawarkan Heret

Selama bekerja sebagai kontributor tetap


Heret juga masih menjalankan usaha
pemotretan wedding. “Waktu itu gue dibayar
Rp.75.000 per hari.” Kenangnya sambil
tertawa. “Sedikit banget memang, tapi dipikir-
pikir kalau gue motret tiap hari lumayan juga
jadinya.” Tambahnya.
Setelah beberapa lama memotret wedding,
Heret pun merasa bosan dan memutuskan
Heret Frasthio Pixy Matari Adv Lupi

116 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 117


FASHIONPHOTOGRAPHY FASHIONPHOTOGRAPHY

Nicholas Edward Hani Tirtandi


118 EDISI IVHeret
/ 2007Frasthio Matari EDISI IV / 2007 119
FASHIONPHOTOGRAPHY FASHIONPHOTOGRAPHY

untuk bergabung menjadi salah satu fotografer di The Looop Indonesia yang dimiliki Sam. Set-
elah bergabung dengan The Looop, Heret meminta untuk tidak melakukan pemotretan komersil
dulu. “Selama setahun gue minta nggak motret komersil dulu, karena gue sadar kemampuan
teknis gue masih belum memenuhi standar.” Ungkapnya. Heret pun belajar lebih serius dengan
memotret wedding dan fashion untuk majalah. Heret menyadari bahwa untuk melakukan
pemotretan fashion diperlukan dukungan team yang baik. Untuk itu Heret sengaja melakukan
pendekatan kepada fashion designer, make up artist, model. Hal ini dilakukan supaya biaya
pemotretan bisa ditekan semurah mungkin atau bahkan gratis. Selanjutnya foto-foto Heret pun
mulai menghiasi majalah-majalah fashion.
Setelah merasa cukup mempelajari fotografi fashion dan merasa kemampuan teknis fotografin-
ya sudah mencukupi, Heret memutuskan untuk memulai karirnya sebagai fotografer komersil.

Heret Frasthio Wismilak Pantarei Hermanto & Yohanes

120 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 121


FASHIONPHOTOGRAPHY FASHIONPHOTOGRAPHY

Heret pun tidak sulit untuk memulai karirnya


di fotografi komersil. Tiap bulannya Heret
melakukan 2 sampai 3 project pemotretan
iklan. Hingga akhirnya pada tahun 2006
Heret mendirikan perusahaan sediri bersama
Henky Christianto bernama 2H Photography.
Heret memulai usaha sendirinya ini dengan
susah payah. Tahun-tahun awal ia sempat
tidak merasakan bayaran hasil pekerjaan-
nya. Bahkan ia sempat terlambat menggaji
pegawainya sampai 1 bulan. Namun akhirnya
ia dan Henky berhasil melewati masa-masa
sulit itu dan kini pun usahanya semakin
berkembang.

Berbicara mengenai fotografi fashion


komersil, Heret berpendapat bahwa men-
jadi fotografer fashion komersil tidaklah
susah. “Yang penting bisa bergaul, dan bisa

Heret Frasthio Mal Kelapa Gading

122 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 123


FASHIONPHOTOGRAPHY FASHIONPHOTOGRAPHY

bekerja dengan team.” Ungkapnya. “Belum


tentu orang yang bagus bisa kerja sama lo.
Maka dari itu pilihlah orang yang pas untuk
kerja bareng lo.” Tambahnya. Untuk itu bagi
fotografer yang baru memulai karirnya di
fashion komersil, Heret menyarankan untuk
mencari team yang pas, tidak harus yang
terbaik tapi lebih penting yang cocok dan bisa
bekerjasama.
Pada bidang fashion fotografi, Heret terin-
spirasi dari karya-karya Anton Ismael dan
Davy Linggar. Namun begitu Heret menyadari
bahwa ia tidak bisa mencontek habis-habisan
kedua inspiratornya itu. “Gue nggak bisa jadi
Anton dengan karakter Anton karena gue
bukan Anton.” Ujarnya. “Kalau gue ikutin gaya
Anton habis-habisan, orang juga nggak ingat
sama foto gue itu karena gue hanya mencoba
menjadi Anton.” Tambahnya.
Untuk itu Heret menyarankan setiap fotografer

Heret Frasthio Sudirman Place Matari Alvin Darmawan


124 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 125
FASHIONPHOTOGRAPHY FASHIONPHOTOGRAPHY

untuk mencari karakternya masing-masing


dan mulai konsisten memotret dengan
karakternya sendiri. “Fotografi bukan sekedar
hasil akhirnya saja, tapi melibatkan karakter
dari sang pembuatnya juga dan itulah yang
membuat unik.”

Heret melihat pada pemotretan fashion hal


utama yang paling sering dilupakan adalah
konsep dan mood. Hal ini bisa terjadi karena
pekerjaan datangnya mendadak sehingga
tidak ada waktu untuk mempersiapkan
konsep, atau bisa juga karena fotografer yang
bersangkutan memang tidak begitu memikir-
kan konsep. “Bahkan ketika kita ngejiplak
foto yang bagus sekalipun nggak akan bagus
karena foto tersebut juga dibuat dengan satu
latar belakang konsep tertentu. Masalahnya
ketika kita jiplak, kita nggak tau apa konsep-
nya. Jadinya ya bagus tapi cepet dilupain.”

126 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 127


Heret Frasthio Senayan City Brand inc Toto
FASHIONPHOTOGRAPHY FASHIONPHOTOGRAPHY

Heret Frasthio Nicholas Edwards Ants Lia

128 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 129


FASHIONPHOTOGRAPHY FASHIONPHOTOGRAPHY

Ungkapnya.
Heret melihat fotografi sebagai transfer
perasaan. “Foto itu adalah proses transfer
pesan yang merupakan “rasa”. Rasa yang
dirasakan fotografer yang kemudian ditransfer
ke si model untuk dieksplorasi oleh model ke-
mudian direkam pada kamera. Pada akhirnya
rasa yang ingin ditransfer itu bisa diterima
oleh orang yang melihat foto itu.” Jelasnya.
Untuk itu proses transfer rasa yang harus
dikuasai oleh fotografer adalah proses trans-
fer rasa kepada model agar modelnya bisa
mengeksplorasi konsep yang disampaikan
dan juga kepada penikmat foto melalui hasil
akhir foto tersebut. Ketika foto yang dibuat
bisa dimengerti dan dirasakan oleh penikmat
foto artinya porses transfer rasa tersebut
berhasil. “gue sendiri sering nggak bisa kasih

130 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 131


Heret Frasthio Nicholas Edwards Matari Hani Tirtandi
FASHIONPHOTOGRAPHY FASHIONPHOTOGRAPHY

Heret Frasthio Rolliong Stone

132 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 133


FASHIONPHOTOGRAPHY FASHIONPHOTOGRAPHY

134 EDISI IV / 2007 Heret Frasthio Rolliong Stone for levis EDISI IV / 2007 135
FASHIONPHOTOGRAPHY FASHIONPHOTOGRAPHY

Heret Frasthio Free magazine


judul ke foto gue, tapi justru karena itu gue jadi tau kalau orang lain bisa mengerti foto gue. Kar-
ena seringkali yang ngasih judul malah orang lain dan judulnya memang bisa menggambarkan Untuk para fotografer yang tertarik untuk
konsep yang mau gue sampaikan.” Ungkapnya. mendalami fotografi fashion komersil Heret
berbagi tips untuk mempelajari fotografi
Hal lain yang sering dilupakan oleh seorang fotografer fashion adalah teknis yang pas untuk lay- fashion. Pada tahap awal Heret menyarankan
out yang tepat. “Banyak orang yang maunya motret yang heboh-heboh tapi nggak mempertim- setiap fotografer untuk mengikuti style
bangkan bahwa modelnya Cuma punya waktu beberapa jam saja. Akhirnya ketika harus motret fotografer yang disukai. Namun jangan lupa,
5 foto yang bagus Cuma yang satu aja, sisanya jelek karena nggak keburu.” Jelasnya. Untuk itu ketika sudah bisa melakukannya dengan baik
sang fotografer harus tau betul waktu yang tersedia untuk melakukan pemotretan sehingga bisa fotografer harus mencari karakternya sendiri.
memilih konsep dan teknik yang sesuai dengan waktu yang tersedia. “Gue lebih suka ketika Setelah itu belajarlah membuat konsep.
kerjaan gue udah dikotak-kotakin jadi batasannya lebih jelas sehingga gue bisa cari konsep dan Heret merasa beruntung bisa banyak belajar
teknis yang pas.” Tambahnya. “Memang banyak yang nggak suka dibatasi, tapi justru karena membuat konsep dari pekerja kreatif advertis-
dibatasi itu kita jadi kreatif.” ing. Heret merasa bahwa para pekerja kreatif

136 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 137


FASHIONPHOTOGRAPHY FASHIONPHOTOGRAPHY

Heret Frasthio Venue for Puma

138 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 139


FASHIONPHOTOGRAPHY FASHIONPHOTOGRAPHY

advertising adalah salah satu dari sedikit


orang yang sangat hebat dalam membuat
konsep. “Gue jadi tau gimana sebuah konsep
diciptakan, mulai dari brainstorming hingga
idenya lahir. Dan yang jelas tujuan pemasa-
rannya juga tercapai. Itu dia hebatnya.” Ung-
kapnya. Untuk itu Heret selalu menyempatkan
diri untuk bergaul dengan para art director
dan creative director advertising. Sementara
untuk kemampuan teknis, Heret menyarankan
untuk mempelajari satu per satu aspek-aspek
teknis. Mulai dari lighting, komposisi, dan
hal teknis lainnya. Akan sangat baik pula jika
fotografer pemula mau mencoba berbagai
macam jenis spesialisasi dalam fotografi.
Dengan begitu kemampuan spesifik tiap spe-
sialisasi jadi bisa dikuasai. Seperti misalnya
pada jurnalistik prioritasnya lebih kepada
kecepatan dan kepekaan, pada fashion lebih
kepada mood dan style, pada komersil lebih
kepada teknis. Heret juga menyarankan setiap
fotografer yang tertarik untuk terjun ke profes-
sional untuk mempelajari cara menghadapi
Heret Frasthio Leo Burnetts Dody Triviandi

klien. Dan yang paling penting jangan desper- kan fashion dan komersil dalam setiapkarya itu Heret menargetkan untuk bisa meraih
ate mempelajari semua hal ini. fotonya. Heret ingin bisa membuat karya foto penghargaan sebagai best photography dalam
yang sempurna secara teknis seperti foto Adfest (Asia Pacific Advertising Festival), set-
Di akhir perbincangan kami dengan Heret, ia komersil, namun juga sempurna dari segi elah beberapa saat yang lalu berhasil meraih
menceritakan targetnya untuk bisa menyatu- style seperti sebuah fotografer fashion. Selain juara ke-3 pada level citra pariwara.

140 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 141


WHERETOFIND WHERETOFIND

JABOTABEK Jl. Cideng Barat No. 21A Fotografi Institut Bisnis Jl Jend Gatot Subroto Kav PT Freport Indonesia Plaza iBox Ratu Plaza
Seasons Imaging Jakarta Pusat Indonesia (FOBI) 9-11, JakSel 12930 895th Floor. Jl Rasuna Said Ratu Plaza 3rd Floor #7, Jl. Jend.
Jl Senopati no 37 Tel/Fax : 021-633 0950 Kampus STIE-IBII LFCN (Lembaga Fotografi Kav X-7 No. 6 Sudirman No 9, Jakarta
Kebayoran Baru Darwis Triadi School of Jl Yos Sudarso Kav 87, Candra Naya) V-3 Technologies iBox Pondok Indak Mal 1
Jakarta selatan Photography Sunter, Jakarta Utara Komplek Green Ville – AW / Mal Ambasador Lt. UG / 47 Pondok Indah Mall 1st Fl. #118 A
Focus Nusantara Jl. Patimura No.2 Perhimpunan Penggemar 58-59, Jakarta Barat 11510 Jl. Prof. Dr. Satrio - Kuningan Jl. Metro Pondok Indah Blok III B,
KH Hasyim Azhari No 18 Kebayoran Fotografi Garuda Indone- Klub Fotografi PT Komatsu Neep’s Art Institute Jakarta
Jakarta eK-gadgets Centre sia (PPFGA), Jl. Raya Cakung CIlincing Km.4 Jl. Cideng Barat 12bb
5804848 Roxy Square Lt. 1 Blok B2 28- PPFGA, Gedung Garuda Jakarta Utara 14140 Jakarta BANDUNG & JAWA
Susan Photo Album 29, Jakarta Indonesia Lt.18 Style Photo Cybilens BARAT
Kemang raya no.15, LT 3 Lubang Mata Jl. Medan Merdeka Selatan Jl Gaya Motor Raya No. 8 PT Cyberindo Aditama, Padupadankan Photography
Jakarta Selatan Jln. Pondok Cipta Raya B2/28 No.13 Gedung AMDI-B, Manggala Wanabakti IV, Jl. Lombok No 9s
12730 .Bekasi Barat 17134 Jakarta Sunter Jakarta Utara 14330 6th floor. Jl. Gatot Subroto, Bandung
E-studio TELP: 8847105 Komunitas Fotografi Contact Person: Hasan Supriadi jakarta 10270 4232521
Wisma Starpage CONTACT PERSON: Rafi Indra Psikologi Atma Jaya Perhimpunan Fotografi iBox Puri Imperium Laboratorium Teknologi Proses
Jl Salemba tengah no 5 Telefikom Fotografi Jakarta Tarumanagara Puri Imperium Office Plaza Unit Material
3928440 Universitas Prof. Dr. UNIKA Atma Jaya Jakarta Jl Kampus I UNTAR Blok M lt. 7 G11-12 Jl. Ganesha 10 Labtek VI
Vogue Photo Studio Moestopo (B). Jendral sudirman 51 Ruang PFT (Belakang Menara Imperium) Lt.dasar Bandung
Ruko Sentra Bisnis Blok Jln. Hang Lekir I Jak-pus. Sekretariat Bersama Fakul- Jl. Letjen S. Parman I Jak Bar Jl. Kuningan Madya Kav. 5-6, CP: dwi karsa agung r.
B16-17 Indonesia Photographer tas Psikologi Atma Jaya Studio 51 Jakarta 12980 STUDIO INTERMODEL
Tanjung Duren raya 1-38 Organization (IPO) Ruang G. 100 Universitas Atma Jaya iBox Senayan City Fashion Design and Photography
Jakarta Studio 35 Kelompok Pelajar Jakarta Senayan City 4th Fl. Unit #4-29 Course
5647873-75 Rumah Samsara Peminat fotografi SMU 28 CP PERFILMA (Film dan Jl. Asia Afrika Lot 19, Jakarta Jl. Cihampelas 57 A - Bandung
Shoot & Print Jl. Bunga Mawar, no. 27 (KPPF28) Fotografi Hukum UI) iBox Mal Kelapa Gading 3 40116
Jl. Bulevard Raya Blok FV-1 Jakarta Selatan 12410 Jl Raya Ragunan (depan RS Freephot (Freeport Jakarta Mal Kelapa Gading 3 Lantai Perhimpunan Amatir Foto
No. 4 Unit Seni Fotografi IPEBI Pasar Minggu) Photography Community) Dasar Unit. G-40 (PAF-Bandung)
Kelapa Gading-Jakarta (USF-IPEBI) Jakarta PT Freeport Indonesia Jl. Bulevar Kelapa Gading Blok Kompleks Banceuy Permai Kav
TELP: 021-4530670 Komplek Perkantoran Bank XL Photograph Plaza 89, 6th floor M Jakarta A-17, Bandung 40111
QFoto Indonesia , Grha XL, Jl. Mega Kuningan Jl. HR Rasuna Said Kav X-7/ iBox eX’ - Bridge Jepret
Jl. Balai Pustaka Timur No 17 Menara Sjafruddin Prawirane- Kav. E 4 – 7 no. 1 No.6 Plaza Indonesia Entertainment Sekeretariat Jepret Lt Basement
Rawamangun, Jakarta gara lantai 4, Jakarta Selatan CANILENS X’nter 2, 2nd Floor #EX-i082, Labtek IXB Arsitektur ITB
4706022 Jl. MH.Thamrin No.2, Jakarta HSBC Photo Club Kolese Kanisius Jakarta Jl. MH Thamrin Kav. 28-30 Jl. Ganesa 10 Bandung
Digital Studio College UKM mahasiswa IBII Menara Mulia Lantai 22, Nothofagus Jakarta FSRD ITB

142 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 143


WHERETOFIND WHERETOFIND

Contact: Genoveva Hega semarang Hot Shot Photo Studio Medan Photo Club Masyarakat Fotografi Gorontalo
EcoAdventure Community Lembaga pendidikan seni Ploso Baru 101 Jl. Dolok Sanggul Ujung No.4 Samping Kolam Graha Permai Blok B-18, Jl. Rambutan, Huan-
Jl. Margasari No. 34 RT 2 dan design visimedia col- Surabaya Paradiso Medan, 20213 Sumut gobotu, Dungingi, Kota Gorontalo
RW 8 Rajapolah lege 3817950 Telp : 061-77071061 MAILING LIST
Tasikmalaya 46155 jl. Bhayangkara 72 Solo Toko Digital CCC Caltex Camera Club thelightmagz@yahoogroups.com
SEMARANG & JAWA YOGYAKARTA Ambengan Plasa B2 PT. Chevron Pacific Indonesia, SCM-Planning, pentax-indonesia@yahoogroups.com
TENGAH Atmajaya Photography club 031-5313366 Main Office 229, Rumbai Pekanbaru 28271 indonikon@yahoogroups.com
Digimage Studio I Gedung PUSGIWA kampus 3 Himpunan Mahasiswa Malahayati Photography Club indonesianphotographer@yahoogroups.com
Jl Setyabudi 86a UAJY, Penggemar Fotografi (HIM- Jl. Pramuka No. 27, Kemiling, CanonMania@yahoogroups.com
Semarang jl. babarsari no. 007 yogya- MARFI) Bandar Lampung, 35153 artdirectorclub@yahoogroups.com
7461151 karta INDONESIA Jl. Rungkut Harapan K / 4, KALIMANTAN komunitas-fotografer@yahoogroups.com
Digimage Studio II “UKM MATA” Surabaya Badak Photographer Club (BPC) kameradigital@yahoogroups.com
Jl Pleburan VIII No 2 Akademi Seni Rupa dan UFO (united fotografer club) ICS Department foto-id@yahoogroups.com
Semarang Desain MSD perum mastrip y-8 jember, System Support Section belajardesain@yahoogroups.com
8413991 (Modern SchooL of DEsign) jawatimur PT BADAK NGL fgd@yahoogroups.com
Ady Photo Studio Jalan Taman Siswa 164 Yog- JUFOC (Jurnalistik Fotografi Bontang, KALTIM 75324 id_photographer@yahoogroups.com
d/a Kanwil BRI yakarta 55151, Club) KPC Click Club/PT Kaltim Prima Coal bursakamera@yahoogroups.com
Jl. Teuku Umar 24 UFO (Unit Fotografi UGM) Universitas Muhammadiah Supply Department (M7 Buliding), PT Kaltim DiPan@yahoogroups.com
Semarang Gelanggang Mahasiswa UGM, Malang Prima Coal, Sangatta indomelb_fotografi@yahoogroups.com
Contact Person: Ady Bulaksumur VANDA Gardenia Hotel & Villa FOBIA WEBSITE
Agustian Yogyakarta Jl Raya Trawas, Jawa Timur Indah Foto Studio www.thelightmagz.com
Prisma UNDIP Fotografi Jurnalistik Klub Contact Person : Roy Komplek Ruko Bandar Klandasan Blok A1 www.estudio.co.id
PKM (Pusat Kegiatan Maha- Kampus 4 FISIP UAJY SENTRA DIGITAL Balikpapan www.forumkamera.com
siswa) Joglo Jl. Babarsari Pusat IT Plasa Marina Lt. 2 SULAWESI www.ayofoto.com
Jl. Imam Bardjo SH No. 1 Yogyakarta Blok A-5. Jl. Margorejo Indah Sorowako Photographers Society http://charly.silaban.net
Semarang 50243 ADVY Yogyakarta 97-99 Surabaya General Facilities & Serv. Dept - DP. 27
Pandawa7 digital photo Contact person: Sdr. Toddy Jurusan Komunikasi UNAIR (Town Maintenance) - Jl. Sumantri Brojone-
studio FOTKOM JL. Airlangga 4-6, Surabaya goro
jl. Wonodri sendang raya Universitas Pembanungan SUMATRA SOROWAKO 91984 - LUWU TIMUR
no. 1068 c, Semarang Nasional (UPN) Batam Photo Club SULAWESI SELATAN
Jurusan Komunikasi Yogyakarta Perumahan Muka kuning indah
UNDIP SURABAYA & JAWA Blok C-3
Jl. Imam Bardjo SH. No. 1, TIMUR Batam 29435

144 EDISI IV / 2007 EDISI IV / 2007 145