Anda di halaman 1dari 12

TUGAS ORGANISASI DAN LINGKUNGAN

(Kasus Penyalahgunaan Data Privasi Pengguna Aplikasi Online)


Dosen Pengampu : Prof. Dr. Tata Wijayanta S.H., M.Hum.

Nama : Ayuvera Rifani Ray


NIM : 447384
Kelas : MAK-40/A

MAGISTER AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2019
PENDAHULUAN

Kemajuan teknologi di zaman ini semakin mempermudah manusia


dalam melakukan aktivitasnya. Penggunaan telepon seluler dikalangan
masyarakat sudah dianggap sebagai hal yang biasa. Dimulai dari anak-anak
hingga orang lanjut usia, menggunakan telepon seluler sebagai alat
berkomunikasi. Kemajuan teknologi berkomunikasi juga mulai mendorong
munculnya berbagai aplikasi berbasis online yang memiliki banyak pengguna
saat ini.

Aplikasi berbasis online tidak hanya untuk mempermudah komunikasi


antar sesama tetapi juga membantu masyarakat dalam melakukan aktivitas
sehari-hari. Aplikasi untuk berbelanja dibuat untuk mempermudah para
pelanggan untuk berbelanja tanpa harus keluar rumah. Banyak aplikasi
berbelanja yang sangat gencar untuk melakukan promosinya dengan
menawarkan berbagai macam kemudahan pembayaran, memberikan banyak
promo, dan juga menawarkan cashback sehingga para pelanggan semakin
tertarik untuk berbelanja barang kebutuhannya dengan menggunakan
aplikasi mereka. Beberapa contoh aplikasi berbelanja seperti Tokopedia,
Shopee, Lazada, Zalora, Sociolla, JD.Id dan masih banyak lagi. Kemudian,
muncul aplikasi untuk transportasi yang dibuat untuk mempermudah
pelanggan bepergian ke berbagai tempat yang ingin dikunjungi. Zaman
sekarang untuk bepergian kemana saja dan kapan saja, para pelanggan bisa
menggunakan jasa dari aplikasi transportasi yang sudah cukup banyak
armadanya. Berbeda dengan transportasi konvensional yang memaksa
pelanggan untuk mencarinya di tempat-tempat tertentu, transportasi online
dapat dengan mudah kita gunakan hanya dengan menginstal aplikasinya
didalam telepon seluler kita masing-masing. Beberapa contoh aplikasi
transportasi online di Indonesia yaitu Gojek dan Grab. Selanjutnya, aplikasi
untuk mencari teman juga ikut mewarnai kemajuan teknologi saat ini.
Munculnya Facebook, Instagram, dan Twitter, membuktikan bahwa
masyarakat sekarang menggunakan aplikasi online dalam banyak aktivitas
keseharian mereka.

Dalam bidang keuangan, berbagai bank berlomba-lomba memberikan


kemudahan bagi para nasabahnya untuk sekedar mengecek saldo tabungan,
melakukan transaksi keuangan dengan aplikasi yang ditawarkan ataupun
membuka tabungan baru tanpa harus mengunjungi bank yang dituju. Selain
itu, aplikasi dompet digital juga semakin marak bermunculan sehingga para
pengguna bisa membeli suatu barang hanya dengan bantuan dompet digital.
Beberapa contoh aplikasi dompet digital adalah DANA dan OVO. Kemudian,
aplikasi untuk meminjam uang secara online juga mulai berkembang pesat
saat ini. Para pengguna bisa melakukan pinjaman uang dengan proses yang
sangat cepat dengan memberikan data diri kedalam aplikasi tersebut.
Berbagai aktivitas masyarakat dapat dengan mudah dilakukan dan dipenuhi
dengan memasang aplikasi-aplikasi berbasis online di telepon seluler. Oleh
karena itu, perlu kita sadari bahwa kemajuan teknlogi dalam hal ini adalah
munculnya berbagai aplikasi online sangat mempermudah aktivitas sehari-
hari.

Dalam kemajuan teknologi saat ini, kemunculan berbagai sosial media


dan aplikasi online lainnya secara tidak langsung memunculkan masalah
penyalahgunaan data ketika saling berinteraksi. Dalam sebuah aplikasi,
biasanya pemilik aplikasi membuat kebijakan privasi tentang sejauh mana
data pengguna pelanggan dapat diakses oleh pihak selain pelanggan tersebut.
Kebijakan privasi dibuat untuk memberikan pengetahuan kepada pelanggan
agar bisa lebih memahami syarat dan ketentuan dari aplikasi yang
ditawarkan sehingga pengguna bisa memilih untuk setuju dan menggunakan
aplikasi atau tidak setuju dan tidak menggunakan aplikasi tersebut. Dalam
hal ini, pengguna harusnya lebih mengenali dampak dari penggunaan aplikasi
terkait dengan data pribadi yang akan diketahui pihak aplikasi ketika
pelanggan membuat akun dalam aplikasi tersebut.

Penggunaan aplikasi berbasis online mengharuskan para pengguna


layanannya untuk memberikan data-data pribadi mereka. Seringkali untuk
membuat akun disebuah aplikasi online, para pengguna akan diminta data-
data pribadi seperti nama lengkap, tanggal lahir, alamat, nomor telepon, NIK
dan beberapa data pribadi lainnya. Banyak pengguna aplikasi yang seringkali
tidak membaca ketentuan dan syarat membuat akun dengan seksama. Kasus-
kasus yang muncul saat ini terkait dengan pelanggaran data privasi menjadi
sebuah dampak dari kurangnya kewaspadaan pengguna dalam memberikan
data-data yang bersifat pribadi kepada pihak ketiga. Data pribadi yang
tersimpan di aplikasi dapat disalahgunakan oleh pihak tertentu yang
kemudian dapat menjual data tersebut kepada pihak-pihak yang
membutuhkan. Selain itu, peran pemerintah dalam melindungi data privasi
warga negaranya dinilai sangat kurang karena beberapa aplikasi online yang
sudah berjalan, nyatanya memiliki akses yang luas untuk mengetahui
informasi-informasi para pelanggannya dengan data awal yang mereka miliki.
PEMBAHASAN

Penggunaan data pribadi dalam sebuah aplikasi berbasis online


sepertinya sudah menjadi hal yang wajar. Para pengguna aplikasi diminta
untuk memberikan data pribadi pada awal menggunakan aplikasi tertentu.
Syarat memberi data pribadi di aplikasi menjadi sebuah keharusan agar para
pengguna semakin mudah membuat akun dan bisa menikmati aplikasi
berbasis online tersebut. Tanpa pengawasan yang lebih, seringkali data
pribadi para pengguna aplikasi sering disalahgunakan oleh pembuat atau
pemilik aplikasi, contohnya saja pada aplikasi menambah teman yaitu
Facebook. Aplikasi ini dituduh lalai menjaga data privasi yang dimiliki oleh
para pelanggannya. Seringkali ketika kita ingin misalnya membuat sebuah
akun game maka akan diberikan pilihan untuk masuk dengan akun Facebook.
Secara otomatis, perlu disadari bahwa Facebook menyimpan data pribadi
penggunanya dan ketika kita masuk ke aplikasi lain dengan akun Facebook
maka disaat yang sama kita juga harus menyadari bahwa data pribadi kita
juga akan diberikan kepada pihak lain dalam hal ini adalah penyedia aplikasi
tersebut. Facebook diduga mengambil data-data pengguna Facebook untuk
kepentingan politik. Facebook divonis bersalah karena kasus kebocoran data
privasi para penggunanya. Kasus tersebut mengingatkan kita bahwa
sejatinya kita harus lebih waspada saat memberi data pribadi kepada pihak
lain karena data pribadi seorang pengguna aplikasi bisa diperjualbelikan oleh
pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab sehingga kasus seperti ini sangat
meresahkan para pengguna aplikasi.

Perkembangan digital di Indonesia sangat cepat dalam beberapa waktu


belakangan ini. Hal ini tidak diimbangi dengan kemampuan masyarakat
Indonesia dalam memahami pentingnya menjaga dan memberikan data
privasinya kepada pihak lain. Munculnya kasus kebocoran data privasi
pengguna Facebook, seharusnya menjadi momentum bagi masyarakat
Indonesia untuk lebih waspada memberikan data privasinya kepada pihak
aplikasi online. Jumlah pengguna Facebook di Indonesia sangatlah banyak
sehingga negara kita berada diurutan keempat pengguna terbanyak di
seluruh dunia. Oleh karena itu, kemampuan masyarakat dalam memahami
perkembangan digital harus lebih ditingkatkan dengan memberikan banyak
sosialisasi dari pemerintah terkait pentingnya menjaga data privasi selama
menggunakan aplikasi apapun.

Aplikasi lain seperti aplikasi pinjaman uang online juga memberikan


cerita tersendiri terkait pentingnya menjaga data privasi. Beberapa orang
mengalami pengalaman yang kurang mengenakkan setelah menggunakan
aplikasi pinjaman uang online. Adanya aplikasi pinjaman uang online yang
bisa mengakses data pribadi pelanggan hingga bisa mengakses nomor telepon
yang disimpan di telepon seluler milik pelanggannya membuat sebagian
pengguna merasakan dampak negatif dalam kehidupannya. Hal ini terjadi
ketika pengguna terlambat membayar kewajibannya sehingga pemilik
aplikasi pinjaman uang akan mencoba menghubungi beberapa nomor telepon
di data penggunanya untuk sekedar memberitahukan tentang keterlambatan
pembayaran pinjaman yang dilakukan penggunanya. Beberapa pengguna
mengatakan bahwa akibat dari penyebaran kasus yang dihadapi membuat
beberapa pengguna harus rela kehilangan pekerjaannya karena masalah
tersebut yang beredar luas di lingkungan pekerjaannya. Patut disadari bahwa
dengan mudahnya syarat meminjam uang seringkali membuat para pengguna
lalai dalam memperhatikan syarat dan ketentuan serta bunga yang berlaku
di aplikasi peminjaman uang tertentu. Jika dilihat dari sudut pandang
pemilik aplikasi, maka tindakan mengakses nomor telepon yang ada dikontak
penggunanya bukanlah tindakan yang salah. Hal ini dikarenakan saat awal
mengunduh aplikasi tersebut maka dalam syarat dan ketentuan dari aplikasi
tersebut tertulis jelas bahwa aplikasi pinjaman tersebut sudah meminta akses
kepada penggunanya untuk mengecek daftar kontak di telepon seluler
penggunanya. Seringkali yang dijumpai adalah para pengguna aplikasi yang
tidak benar-benar membaca dan memperhatikan isi dari syarat dan ketentuan
dalam aplikasi yang mereka gunakan. Padahal jika para pengguna membaca
dengan lebih seksama dan membayar kewajibannya sesuai waktu yang
ditentukan maka sebenarnya tidak akan ada masalah terkait penyebaran
berita utang yang sudah jatuh tempo kepada pihak lain dan dampak negatif
tersebut tidak akan terjadi.

Masalah kebocoran data privasi ataupun penyalahgunaan data pribadi


yang berdampak pada para pengguna menuntut Pemerintah Indonesia untuk
segera merampungkan dasar hukum yang lebih rinci terkait perlindungan
data pribadi. Privasi dan perlindungan data pribadi saat ini merupakan suatu
hal yang sangat penting dengan kemajuan teknologi diberbagai bidang
sehingga aturan tentang privasi dan perlindungan data pribadi dirasa sangat
penting untuk menjamin kehidupan berbangsa dan bernegara dengan rasa
aman terkait hal tersebut. Sejauh ini sumber hukum yang menunjuk tentang
perlindungan data pribadi tertulis dalam Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 pada pasal 28 G yang berbunyi: setiap orang
berhak atas perlindungan atas perlindungan diri pribadi, keluarga,
kehormatan, martabat, dan harta benda yang di bawah kekuasaannya, serta
berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk
berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi. Menurut UUD
1945, Pemerintah menjamin hak warga negaranya terkait perlindungan diri
pribadi sehingga Pemerintah diharuskan untuk memenuhi hak warga
negaranya dengan membuat aturan terkait privasi dan perlindungan data
pribadi yang menjadi sangat penting disaat ini dengan adanya kemajuan
dalam teknologi dan komunikasi yang dialami oleh seluruh negara di dunia.
Ketentuan ini tidak menjelaskan secara mendalam terkait perlindungan data
pribadi tetapi hanya menjelaskan terkait Hak Asasi Manusia dalam hal ini
Hak Asasi Pribadi (Personal Rights) dan Hak Asasi Sosial Budaya (Social
Culture Rights).

Seperti yang diketahui, perlindungan data pribadi juga sudah dimuat


dalam UU No.19 tahun 2016 pada pasal 26 ayat 1. Menurut UU tersebut, hak
pribadi didefinisikan sebagai berikut:

a. hak untuk menikmati kehidupan pribadi dan bebas dari segala macam
gangguan;
b. hak untuk dapat berkomunikasi dengan orang lain tanpa tindakan
memata-matai; dan
c. hak untuk mengawasi akses informasi tentang kehidupan pribadi dan
data seseorang.

UU ini dirasa kurang dalam melindungi data pribadi dari para pengguna
aplikasi berbasis online. Dalam UU No.19 tahun 2016 pasal 40 ayat 2
dijelaskan bahwa Pemerintah melindungi kepentingan umum dari segala
jenis gangguan sebagai akibat penyalahgunaan informasi elektronik dan
transaksi elektronik yang mengganggu ketertiban umum, sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan. Kemudian, pada UU No.19 tahun
2016 pasal 40 ayat 2a dijelaskan juga bahwa Pemerintah wajib melakukan
pencegahan penyebarluasan dan penggunaan informasi elektronik dan
transaksi elektronik yang memiliki muatan yang dilarang sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan. Munculnya kasus kebocoran data
pribadi, menunjukkan kurangnya dasar hukum yang mengatur secara rinci
terkait perlindungan data pribadi di Indonesia. Pemerintah sebagai regulator
seharusnya dapat melindungi penyebaran data elektronik dengan mengatur
UU yang mencegah pembuat atau pemilik aplikasi untuk mengakses dan
menyimpan banyak data pribadi dari para penggunanya.

Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika


mempersiapkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perlindungan Data
Pribadi, yang pembahasannya masuk dalam Program Legislasi Nasional
(Prolegnas) tahun 2016. RUU ini dirancang dan diharapkan dapat memberi
dampak positif bagi pemerintah, pelaku bisnis, dan masyarakat Indonesia.

Dampak bagi pemerintah dengan adanya RUU ini adalah menciptakan


suatu sistem administrasi pemerintahan yang efisien dan efektif dalam
memberikan pelayanan bagi masyarakat dan akan membentuk tata kelola
perlindungan data pribadi penduduk dan sekaligus melindungi hak-hak dasar
warga negara. Selain itu, RUU Perlindungan Data Pribadi akan menciptakan
iklim investasi yang lebih baik, karena perlindungan data pribadi yang
diberikan oleh RUU ini akan mendorong perkembangan di sektor bisnis
dengan meningkatnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap sektor
bisnis dengan keyakinan bahwa data pribadi mereka terlindungi.

Dampak bagi pelaku bisnis dengan adanya RUU ini adalah memperkuat
posisi Indonesia sebagai pusat bisnis tepercaya dan menciptakan lingkungan
yang kondusif untuk pertumbuhan manajemen data global dan industri
pengolahan data seperti cloud computing untuk berkembang di Indonesia.
Kemudian, dampak bagi masyarakat Indonesia dengan adanya RUU ini
diharapkan dapat menggiring masyarakat terutama anak-anak muda untuk
lebih berhati hati dalam memberi atau membagi data pribadi kepada pihak
lain. RUU ini diharapkan menjadi jawaban untuk mengatasi masalah-
masalah yang dihadapi oleh para pengguna aplikasi dalam hal ini adalah
masyarakat Indonesia sendiri. RUU ini sangat diperlukan agar dapat
mengatur penggunaan, keamanan dan kebutuhan perlindungan dari data
pribadi individu agar dapat menjadi seimbang dengan kebutuhan Pemerintah
dan para pelaku bisnis untuk memperoleh dan memproses data pribadi untuk
keperluan tertentu secara wajar dan sah.
PENUTUP

Perkembangan digital di Indonesia sangat cepat tetapi tidak diimbangi


dengan kemampuan masyarakat Indonesia dalam memahami pentingnya
menjaga dan memberikan data privasinya kepada pihak lain. Munculnya
masalah kebocoran data privasi menjadi suatu permasalahan yang sangat
kompleks karena belum adanya peraturan berupa Undang-Undang yang
menjelaskan secara rinci terkait perlindungan data privasi di Indonesia. Oleh
karena itu, Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika
mempersiapkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perlindungan Data
Pribadi, yang pembahasannya masuk dalam Program Legislasi Nasional
(Prolegnas) tahun 2016. RUU ini diharapkan menjadi jawaban untuk
mengatasi masalah-masalah yang dihadapi oleh para pengguna aplikasi
dalam hal ini adalah masyarakat Indonesia sendiri. RUU ini sangat
diperlukan agar dapat mengatur penggunaan, keamanan dan kebutuhan
perlindungan dari data pribadi individu agar dapat menjadi seimbang dengan
kebutuhan Pemerintah dan para pelaku bisnis untuk memperoleh dan
memproses data pribadi untuk keperluan tertentu secara wajar dan sah.
DAFTAR PUSTAKA

UU Nomor 19 Tahun 2006 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik


https://web.kominfo.go.id/sites/default/files/users/4761/UU%2019%20Tahun%
202016.pdf diakses pada 29 Agustus 2019 pukul 21:42
RUU Perlindungan Data Pribadi Tahun 2016
https://www.bphn.go.id/data/documents/na_perlindungan_data_pribadi.pdf
diakses pada 29 Agustus 2019 pukul 23:32