Anda di halaman 1dari 10

IMPLEMENTASI IPE ( INTEPROFESSIONAL

EDUCATION) PADA MAHASISWA


KEPERAWATAN

Dosen Pengampu : Ns. Nana Rochana, S. Kep. MN

Dosen pembimbing : Ns. Dwi Susilawati, M.Kep. Sp. Mat

Fahrun Ningsih
22020117120016

FAKULTAS KEDOKTERAN
JURUSAN ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2017
IMPLEMENTASI IPE ( INTEPROFESSIONAL EDUCATION)
PADA MAHASISWA KEPERAWATAN

Pada zaman sekarang yang semakin maju, sebuah kecerdasan akademik


sudah tidak dapat menjamin arah perkembangan mahasiswa apabila tanpa
diimbangi dengan suatu keterampilan berhubungan dengan orang lain dan
keterampilan mengatur diri sendiri yang mampu mengembangkan unjuk kerja
secara maksimal, dimana hal itu dapat kita sebut sebagai soft skill. Dapat menjadi
mahasiswa yang aktif dan terampil dalam segala hal merupakan sebuah nilai
tersendiri yang dapat dijadikan ciri maupun identitas yang kuat pada mahasiswa
itu sendiri terhadap pandangan orang lain. pandai dalam hal pengetahuan saja
dianggap masih kurang untuk membawa dirinya menuju dunia yang penuh dengan
persaingan.

Khususnya para mahasiswa keperawatan yang dalam kesehariannya harus


dituntut bekerja secara aktif. Tidak hanya pandai di bidang pengetahuan (hard
skill) saja, tetapi soft skill pun merupakan hal yang sangat penting bagi mereka.
Mengapa demikian?. Hal itu didasari oleh arah menuju profesi sebagai perawat
bagi mereka kedepannya. karena Perawat profesional adalah Perawat yang
bertanggungjawab dan berwenang memberikan pelayanan keparawatan secara
mandiri dan atau berkolaborasi dengan tenaga Kesehatan lain sesuai dengan
kewenanganya.(1) mengenai pentingnya tugas perawat tersebut, maka sudah
seharusnya para mahasiswa kaperawatan dibekali dengan suatu praktik yang mana
dalam praktik tersebut terdapat banyak pelajaran maupun pengalaman bagi
mereka untuk mempermudah ketika mereka berinteraksi secara langsung di dunia
kerja. World Health Organization (WHO) (2010) menyebutkan, salah satu upaya
untuk mewujudkan kolaborasi antar tenaga kesehatan adalah dengan
memperkenalkan sejak dini praktik kolaborasi melalui proses pendidikan yaitu
dengan cara menerapkan praktik IPE (Interprofessional Education) pada
mahasiswa keperawatan. Melalui praktik IPE ini, selain menambah wawasan juga
diharapkan mampu meningkatkan kerja sama yang baik antar sesama tim medis
lainnya.

Interprofessional education (IPE) merupakan bagian integral dari


pembelajaran professional kesehatan, yang berfokus pada belajar dengan, dari,
dan tentang sesama tenaga kesehatan untuk meningkatkan kerja sama dan
meningkatkan kualitas pelayanan pada pasien.(2) Peserta didik dari berbagai
jurusan maupun profesi dapat saling bekerja sama dalam memecahkan suatu
persoalan mengenai tindakan maupun berbagi macam fenomena yang mereka
jumpai di rumah sakit. Dalam menyelesaikan suatu permasalahan sendiri perlu
adanya kerja sama tim yang bagus. Apabila masing-masing profesi mampu
menempatkan diri mereka pada tugasnya, dan adanya rasa tanggung jawab yang
penuh, serta sikap saling membantu maka kesuksesan dalam berkolaborasi pun
akan terpenuhi. Namun, jika dari masing-masing profesi saja sudah tidak bisa
menempatkan posisi mereka sebagaimana mestinya dan minimnya timbul rasa
tanggung jawab penuh, serta kurangnya kesadaran diri akan sikap saling
membantu maka praktek kolaborasi dari berbagai profesi kesehatan tersebut dapat
dinyatakan gagal.

Pada intinya, Peserta didik dari beberapa profesi kesehatan belajar


bersama dalam meningkatkan pelayanan kepada pasien secara bersama-sama
(kolaborasi) dalam lingkungan interprofesional. Memanglah benar bahwa melatih
semua itu bukan merupakan hal yang mudah. Akan tetapi jika kita membiasakan
hal tersebut, terlebih ketika sedang belajar di kelas justru hal itu tidak terasa
sehingga tidak memberatkan diri sendiri. Kemampuan bekerjasama secara
interprofesi (interprofessional teamwork) tidak muncul begitu saja, melainkan
harus ditemukan dan dilatih sejak dini mulai dari tahap perkuliahan agar
mahasiswa mempunyai bekal pengetahuan dan keterampilan.(3) Salah satu melatih
berkolaborasi yang baik yaitu dengan cara ikut aktif dalam berbagai organisasi
yang ada dalam suatu universitas. Setidaknya, dengan begitu karakter seseorang
akan mulai terbentuk karena adanya komunikasi yang terjalin saat mereka bekerja
sama untuk mencapai tujuan bersama sesuai apa yang telah menjadi kesepakatan
dalam suatu organisasi.
Untuk pelaksanaannya sendiri, IPE masih belum semuanya diterapkan di
berbagai universitas yang terdapat jurusan keperawatannya. Institusi pendidikan
kesehatan yang ada di Indonesia tidak semuanya mampu untuk melakukan
kurikulum terintegrasi. Di Indonesia, sistem IPE dalam pendidikan kesehatan
mulai dimasukkan dalam suatu kurikulum, dan dicanangkan pemerintah tetapi
terbatas pada beberapa perguruan tinggi di daerah Jawa, termasuk Universitas
Indonesia dan Universitas Gadjah Mada.(4) Banyak institusi kesehatan yang
terkendala dengan berbagai permasalahan terhadap pelaksanaan IPE sendiri.
padahal Praktik IPE di jenjang perguruan tinggi dapat melatih serta meningkatkan
kemampuan komunikasi dan kerjasama antara mahasiswa kesehatan sejak dini.
Yang menjadi pertanyaan di sini adalah mengapa pemerintah membatasi praktik
IPE pada universitas-universitas yang ada di Indonesia. apakah hanya dengan
alasan baik tidaknya akreditasi suatu universitas untuk menerapkan praktik IPE?,
sehingga universitas tersebut dapat mengalami tingkat kemajuan yang signifikan
di bidang kesehatannya. Ataukah karena alasan-alasan lain yang dianggap lebih
baik dan lebih kuat yang dapat menyanggah pernyataan mengenai hal tersebut.

Sebagai contoh, Universitas Diponegoro juga merupakan salah satu


universitas yang mengimplementasikan praktik IPE kepada mahasiswanya yang
berada di program studi ilmu keperawatan. IPE awalnya belum pernah diterapkan
di Universitas Diponegoro. Namun sudah 2 tahun terakhir ini IPE mulai berjalan.
Program IPE telah dilakukan pertama kali pada tahun 2016 oleh mahasiswa
angkatan 2013 Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.(5) Program
kolaborasi antar profesi kesehatan tersebut di ikuti oleh mahasiswa prodi
kedokteran umum, ilmu keperawatan,dan ilmu gizi. Sistem yang digunakan
adalah setiap kelompok terdiri atas 3-4 orang yang didalamnya terdapat 3 prodi
tersebut. Selanjutnya mereka diberi tugas untuk mendampingi ibu hamil.
pendampingan tidak hanya berpusat pada ibu hamilnya saja, melainkan juga pada
anggota keluarganya. Setiap kelompok kemudian melakukan kajian ataupun
asuhan perawatan dan saling berkolaborasi antar 3 prodi tersebut untuk
mendiskusikan permasalahan yang didapat. Setiap prodi memiliki diagnosa yang
berbeda-beda, yang mana sesuai dengan prodi mereka masing-masing. misalnya,
pada prodi kedikteran umum, diagnosanya langsung mengerucut pada penyakit
medis. Pada prodi ilmu keperawatan, diagnosa keperawatannya tidak seperti
kedokteran umum, akan tetapi mereka lebih condong dengan apa yang dikeluhkan
oleh pasien. Misalnya saja pasien mengatakan nyeri dibagian perutnya. Maka rasa
nyeri yang dirasakan oleh pasien tersebut dapat dijadikan suatu diagnosa dalam
keperawatan. Sedangkan pada prodi ilmu gizi hanya membantu perawat dalam
menentukan status kebutuhan nutrisi bagi klien berdasarkan hasil pengkajian.

Dalam suatu kerja kelompok pasti ada permasalahan-permasalahan baik


kecil maupun besar yang dapat menjadi kendala dalam mencapi tujuan secara
bersama-sama. Berdasarkan hasil wawancara yang telah saya lakukan dengan
salah satu mahasiswa undip prodi ilmu keperawatan yang sudah pernah mengikuti
program IPE sebelumnya mengatakan bahwa kendala yang dialami meraka saat
melakukan program tersebuat adalah terkadang terdapat mahasiswa dari prodi lain
yang kurang aktif dan kurang mendominasi dalam suatu kelompok. Padahal
dalam program IPE sendiri, semua anggota dari berbagai prodi dituntut untuk
saling bekerja sama dan berkolaborasi dengan profesi kesehatan yang lain agar
dalam menentukan proses perawatan pada ibu hamil tersebut diharapkan tidak
terjadi kesenjangan komunikasi antar profesi yang mana hal itu berarti dapat
menyebabkan gagalnya paktek kolaborasi.

Biasanya ketidak aktifan seseorang dalam suatu kelompok disebabkan


oleh beberapa faktor yaitu yang pertama adalah karena memang dari individu itu
sendiri tidak bertanggung jawab dan karena merasa hal tersebuat adalah tugas
kelompok maka dia membebankan semua tugas-tugas tersebut pada beberapa
orang saja, tanpa mempertanggung jawabkan tugas-tugas yang memang sudah
menjadi kewajibannya juga. Faktor yang kedua adalah karena sulitnya mengatur
waktu petemuan antar masing-masing prodi yang mana mereka memiliki
kesibukan sendiri, seperti ada yang fokus dalam organisasi, sudah adanya agenda
kerja kelompok dengan kelompok yang lain, sehingga kajian-kajian dari masing-
masing profesi pun ada yang belum tersusun dengan efektif sebagaimana
mestinya. Jika hal-hal sepeti itu sering kita jumpai dalam memenuhi standar tugas,
alangkah baiknya kita sesama anggota lebih mengrangkul lagi dengan anggota
yang lain. Misalnya saja dengan mengajak kumpul bersama, setidaknya kita telah
memberikan perhatian kepada individu yang bermasalah dalam suatu kelompok
tersebut. Jika diingatkan dan diajak saja tidak cukup baginya, maka langkah
terakhir kita sebagai rekannya yaitu membiarkan saja. Mungkin dengan cara
begitu, hati seseorang akan lebih terketuk dan pada akhirnya menyadari
kekeliruan dari sikap mereka.

WHO telah mendukung IPE karena dianggap sebagai langkah penting


dalam meningkatkan pendidikan profesi kesehatan.(6) kita sebagai mahasiswa
kesehatan harus mendukung dan ikut aktif dam berpartisipasi dalam program IPE.
Saya rasa, sistem ini adalah sistem yang paling efektif untuk menjawab berbagai
permasalahan di dunia kesehatan serta untuk meningkatkan kualitas mahasiswa
yang dihasilkan agar menjadi tenaga kesehatan yang handal dan sudah terlatih
dalam berkolaborasi ketika mereka terjun langsung dalam dunia kerja yang
sesungguhnya. Selain itu, kualitas kesehatan yang ada di Indonesiapun juga ikut
terangkat seiring dengan bagusnya sumber daya mahasiswa yang dihasilkan.
Interprofessional education juga memberikan suatu batasan terhadap
wewenang profesi satu dengan yang lainnya, sehingga nantinya tidak ada bidang
profesi yang merasa terdiskriminasi dan teragungkan.(7) Karena pada
kenyataannya sendiri, profesi seorang perawat sering disalah artikan. Masyarakat
hanya mengira bahwa perawat merupakan pembantu dokter. Mereka yang sering
mengikuti apa saja yang diperintahkan oleh dokter. Padahal pada kenyataannya
profesi seorang perawat sendiri adalah mitra dokter, yaitu teman/rekan kerja
dokter dalam melakukan perawatan kepada pasien. Dan di dalam melaksanakan
tugasnya perawat dan dokter mempunyai undang-undang sendiri-sendiri. Alasan
perlunya UU keperawatan di indonesia adalah: pertama sebagai suatu profesi yang
mandiri, organisasi keperawatan memiliki kewenangan mengatur kehidupan
profesi sendiri (yaitu bidang pendidikan, peneitian, dan pelayanan keperawatan);
kedua untuk mencegah dampak negatif dari perdagangan bebas bidang jasa,
karena sekarang ini perawat dari luar negeri sudah boleh bekerja di Indonesia;
ketiga adalah untuk mengejar ketinggalan dari dari luar negeri, karena di luar
negeri profesi perawat sudah memiliki UU keperawatan sendiri; keempat untuk
memenuhi amanat peraturan perundangan; kelima adalah kelangkaan peraturan
perundangan terkait dengan profesi keperawatan itu sendiri dan yang keenam
adalah bahwa jumlah tenaga perawat yang besar dan peranan perawat penting
dalam pelayanan kesehatam di Indonesia.(8)
Mengingat betapa pentingnya program Interprofessional Education (IPE),
khususnya bagi mahasiswa keperawatan maka sudah sepatutnya program IPE ini
di implementasikan ke berbagai universitas yang ada di Indonesia. Tujuan
utamanya sendiri adalah agar terciptanya lulusan yang cakap dalam praktek
kolaborasi. Sehingga mereka terdidik lebih dini dan terbentuknya timehomework
yang saling melengkapi antar satu profesi dengan profesi yang lainnya sehingga
permasalahan klien dapat teratasi secara bersama-sama juga.
DAFTAR PUSTAKA

1.Sasha, A. Peran dan fungsi perawat profesional. [online] 14 April 2013. [Dikutip: 20
November 2017.] http://nizaraharja92.blogspot.co.id/2013/04/bab-i-pendahuluan-
a.html

2. Kurniawan, D. Interprofessional education sebagai upaya membangun kemampuan


perawat dalam berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain. [online] 10 Desember 2014.
[Dikutip: 20 November 2017.]
https://nersdicky.wordpress.com/2014/12/10/interprofessional-education-sebagai-
upaya-membangun-kemampuan-perawat-dalam-berkolaborasi-dengan-tenaga-
kesehatan-lain/

3. Kurniawan, D. Interprofessional education sebagai upaya membangun kemampuan


perawat dalam berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain. [online] 10 Desember 2014.
[Dikutip: 20 November 2017.]
https://nersdicky.wordpress.com/2014/12/10/interprofessional-education-sebagai-
upaya-membangun-kemampuan-perawat-dalam-berkolaborasi-dengan-tenaga-
kesehatan-lain/

4. Siokal, B. Mengapa IPE penting dalam pendidikan profesi kesehatan?. [online]


[Dikutip: 20 November 2017.] http://www.bcf.or.id/publications/others/518-mengapa-
ipe-penting-dalam-pendidikan-profesi-kesehatan.html

5. Jauhara, II. Gambaran kerjasama (teamwork) interprofesi mahasiswa FK undip yang


terpaparinterprofessional education (IPE) pada tahun 2017. [online] Juli 2017. [Dikutip:
21 November 2017.]
http://eprints.undip.ac.id/55709/1/Proposal_skripsi_Isna_Intan_J.pdf

6. Hakiman AP, Dewi SP, Syusman C, Wahyudi K. Persepsi mahasiswa profesi kesehatan
universitas padjadjaran terhadap interprofessionalism education. 4 Juni 2016;1:207.
http://jurnal.unpad.ac.id/jsk_ikm/article/view/10382/4747

7. Putri, WS. Penerapan ipe (interprofessional education) pada mahasiswa kedokteran


saat pembelajaran guna membangun kerjasama dan pelayanan prima pada pasien.
[online] 15 Agustutus 2016. [Dikutip: 22 November 2017.]
http://windisukmaputri97.blogspot.co.id/2016/08/kajian-ipe-interprofessional-
education.html
8. Oberty, E. Perlunya undang-undang keperawatan di Indonesia. [online] 25 Juni
2015. [Dikutip: 22 November 2017.]
https://www.kompasiana.com/elvi.oberty/perlunya-undang-undang-
keperawatan-di-indonesia_55105499a333112e3cba7ea1