Anda di halaman 1dari 3

Nama : Dami Lail Hanifah

NPM : 1706977273
Kelas : Filsafat Hukum B

Natural Law Theory

Buku “Pengantar ke Filsafat Hukum” oleh Antonius Cahyadi dan E. Fernando M. Manullang

Hukum kodrat berakar pada ide yang religius atau supernatural. Namun, di masa
modern ini, Hukum Kodrat telah dijadikan landasan ideologis dan moral dalam membenarkan
setiap sistem hokum, ekonomi, maupun sosial yang ada. Penggunaan istilah hukum kodrat ini
agar maknanya direferensikan pada semisal keniscayaan-keniscayaan kodratiah yang telah
digariskan Tuhan (menekankan dimensi rohaniah). Maka, dengan kata kodrat dapatlah
diorientasikan acuan pemaknaannya pada alam rohani, metafisika. Istilah Hukum Kodrat juga
dikenal dengan istilah Natural Law. Pendekatan dari teori hokum kodrat ini ada yang berpijak
dari pandangan teologis dan sekuler. Pada pandangan teologis, teori hukum kodrat
dipengaruhi oleh pandangan atau keyakinan yang melihat bahwa seluruh alam semesta yang
ada, diciptakan dan diatur oleh yang mahakuasa yaitu Tuhan yang juga telah meletakkan
prinsip-prinsip abadi untuk mengatur berjalannya alam semesta. Kitab suci menjadi sumber
dari pandangan semacam ini. Semua hukum yang diciptakan oleh manusia karena itu harus
sesuai dengan hukum Tuhan seperti yang digariskan dalam kitab suci. Sedangkan menurut
pandangan sekuler yang didasari keyakinan bahwa manusia (kemampuan akal budinya) dan
dunianya (masyarakat) menjadi sumber bagi tatanan moral yang ada. Tatanan moral yang ada
menjadi manifestasi tatanan moral dalam diri dan masyarakat manusia. Keutamaan moral
tidak ada dalam sabda Tuhan yang tertulis dalam Kitab Suci tetapi dalam hati kehidupan
sehari-hari manusia. Prinsip-prinsip universal yang ada pada teori hukum kodrat berlaku
secara universal pula dan saat menggapainya kita harus menyingkirkan segala hukum positif
yang tidak bersumber pada hukum kodrat.

Alam semesta dan manusia memiliki tujuan akhir. Tujuan akhir itu adalah kebaikan
atau kebaikan bersama bila berbicara dalam konteks masyarakat manusia. Kebaikan ini
mejadi tolak ukur bagi berbagai hukum yang ada di dunia, maka validitas norma dilihat
bukan sebagai kecocokan secara formal tetapi apakah norma yang bersangkutan menjadi
representasi bagi kebaikan dan keutamaan yang ingin dicapai. Jadi yang diperhatikan adalah
substansi norma bukan formalnya. Mahzab atau aliran pemikiran mempunyai ciri-ciri sebagai
berikut: (1) Mempunyai titik pijak tertentu dalam memandang dunia (landasan epistemologi).
Penjelasan akan dunia didasarkan pada titik pijak ini; (2) Secara sosiologis mempunyai
komunitas tersendiri yang keberadaannya dicirikan dan ditentukan oleh keberadaan aliran
pemikiran tersebut; dan (3) Secara historis terdapat kontinuitas dalam waktu baik eksistensi
sosiologisnya ataupun epistemologinya. Maka, mahzab Hukum Kodrat berarti aliran
pemikiran mengenai sudut pandang penjelasan akan keberadaan (dunia) hukum adalah kodrat
(alam). Dapat dikatakan bahwa dunia kehidupan manuisa bergantung pada dan diatur oleh
norma-norma objektif di luar dunia manusia yang dapat bersifat teologis, metafisika, dan
rasionalis, tergantung pada waktu yang dilaluinya. Dikatakan bersifat teologis apabila norma
objektif tersebut berasal dari Tuhan yang dipahami lewat agama. Bersifat metafisika apabila
norma objektif tersebut berasal dari karisma atau masyarakat. Bersifat rasional apabila rasio
manusia menjadi tolak ukur bagi norma objektif tersebut.

Kemudian, jika berkaitan dengan konteks keberadaan, sebelum masa pencerahan


norma objektif dipahami sebagai di luar diri manuisa dan datang dari dunia yang di luar
realitas kemanusiaan, misalnya pada pemikiran Thomas Aquinas, dimana menurutnya ada
sumber di luar diri manusia yang menjadi dasar ketaatan moral manusia dalam tatanan
politik, dan sumber ketaataan moral ini berasal dari konsep yang ilahi sifatnya tentang
ketertiban alam semesta, dan oleh sebab itu semua bentuk hukum diwajibkan secara moral
mesti berakar pada akal Tuhan, yaitu kebijaksanaan-Nya. Lalu, pada masa pencerahan, norma
objektif adalah akal budi manusia atau rasio. Contohnya ialah Immanuel Kant yang
membedakan antara Legalitas dengan Moralitas, bagi Kant yang paling tepat bagi manusia
adalah bertindak secara moral atau sesuai dengan hukum moral bukan legalitas. Bertindak
secara moral berarti bertindak sesuai dengan arahan imperatif kategoris yang ada dalam diri
manusia, ciri-ciri hukum moral adalah universal (menjadi hukum umum, dapat diberlakukan
pada semua manusia), manusia (kesejatian manusia) menjadi tujuan dari keberadaannya, dan
otonomi manusia menjadi dasarnya. Sesudah masa Kant, terdapat Idealisme dan Positivisme.
Idealisme menekankan kesadaran dan bahwa Subjek memberi struktur pada realitas.
Positivisme ialah apa yang bisa diketahui hanyalah fenomena-fenomena saja. Pemikiran
tentang hukum kodrat ini menjadi senjata yang penting dalam ideologi politik dan hukum.
Hal itu memberi bantuan kepada kekuasaan yang ada dan bersifat pembenar terhadap hukum
yang berlaku serta sistem sosial ekonomi yang terkait untuk menerima suatu sistem yang
lebih tinggi yang ditetapkan oleh Tuhan atau oleh Alasan Suci atau Alamiah (sifat-sifat
manusia sebagai kodrat). Dari masa ke masa Hukum Kodrat masih tetap dapat bertahan
dalam dewasa ini karena terdapat situasi sosial ekonomi yang tidak stabil serta terdapat
keragu-raguan terhadap ilmu-ilmu empiris.