Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Di era globalisasi seperti sekarang ini setiap negara dituntut untuk menjadikan kondisi
kehidupan ekonominya menjadi semakin efektif, efisien, dan kompetitif. Indonesia
merupakan negara berkembang yang terus mengupayakan pembangunan. Pembangunan
memiliki hakikat dan tujuan untuk mensejahterakan masyarakat, tidak berlebihan jika
kemudian pembangunan, dilaksanakan sebagaimana kecenderungan yang terjadi di negara-
negara berkembang lebih kepada mengejar pencapaian pertumbuhan ekonomi semata.
padahal pembangunan harus dipandang sebagai suatu proses yang multidimensional
mencakup berbagai perubahan mendasar atas struktur sosial, sikap masyarakat, dan institusi
dengan tetap mengejar akselerasi pertumbuhan ekonomi, penanganan ketimpangan
pendapatan serta pengentasan kemiskinan. Pada hakikatnya pembangunan harus
mencerminkan perubahan total suatu masyarakat untuk bergerak menuju suatu kehidupan
yang lebih baik, secara material maupun spiritual (todaro dan smith : 2006). Salah satu tujuan
nasional adalah memajukan kesejahteraan bangsa, yang berarti memenuhi kebutuhan dasar
manusia, yaitu pangan, sandang, pangan, pendidikan, kesehatan, lapangan kerja dan
ketenteraman hidup. Pembangunan kesehatan memegang peranan penting dalam
meningkatkan kesejahteraan manusia, dan sebagai sumber daya pembangunan. Derajat
kesehatan yang tinggi akan meningkatkan produktivitas dan memperkuat daya saing bangsa
yang semakin ketat di dunia. (Hasbi dkk, 2012)
Dewasa ini, banyak program yang telah dilaksakan oleh pemerintah dalam upaya
peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Namun, program-program tersebut belum berjalan
secara optimal. Hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya seperti rendahnya
pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan, terutama pada masyarakat desa,
oleh karena itu, saat ini pemerinah lebih memfokuskan perhatiannya kepada peningkatan
pengetahuan dan kesadaran masyarakat desa terhadap kesehatan. Sehingga pemerintah
membuat program-program yang dapat mengembangkan potensi masyarakat dengan
menciptakan masyarakat desa yang berperilaku sehat secara mandiri. Adapun program yang
dijalankan pemerintah untuk meningkatkat derajat kesehatan masyarakat desa melalui
peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat adalah Pembangunan Kesehatan
Masyarakat Desa (PKMD). Tujuan pembangunan kesehatan adalah tercapainya kemampuan

1
untuk hidup sehat bagi setiap penduduk. Tujuan dari pembangunan nasional khususnya
bidang kesehatan adalah tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang optimal.
Partisipasi masyarakat dalam pembangunan di Indonesia sudah lama disadari sebagai
hal yang penting dan perlu diwujudkan. Konsep pembangunan yang partisipatif merupakan
suatu proses pemberdayaan pada masyarakat sehingga masyarakat mampu untuk
mengidentifikasi kebutuhannya sendiri atau kebutuhan kelompok masyarakat sebagai suatu
dasar perencanaan pembangunan. Adanya partisipasi masyarakat dapat dijadikan sebagai
tolok ukur dalam menilai keberhasilan pembangunan diantaranya pembangunan kesehatan
masyarakat desa. Pembangunan ini merupakan salah satu proses dari perubahan yang
direncanakan yang bertujuan untuk mengubah keadaan yang tidak dikehendaki ke arah yang
dikehendaki dan lebih baik, dan pembangunan kesehatan masyarakat desa ini merupakan
bagian dari pembangunan nasional. Konsep dari pembangunan masyarakat desa ini objek
utamanya adalah manusia yang bertujuan agar setiap manusia atau masyarakat mempunyai
kemauan dan kemampuan untuk menolong dirinya sendiri. Tujuan utama dari pembangunan
masyarakat desa itu sendiri adalah meningkatkan taraf hidup warga masyarakat,
mengutamakan pendayagunaan potensi dan sumber-sumber daya setempat, memerlukan
kreatifitas dan inisiatif masyarakat serta peran serta atau partisipasi masyarakat (Soetomo,
2009 : 166)

1.2 Tujuan Penulisan


1. Mengetahui gambaran umum masyarakat Desa Pabean
2. Mengetahui karakteristik masyarakat
3. Mengetahui masalah kesehatan pada masyarakat melalui analisis SWOT.
4. Mengetahui intervensi pemberdayaan masyarakat yang dapat dilakukan di
masyarakat
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Masyarakat


Masyarakat dalam istilah bahasa Inggris adalah society yang berasal dari kata Latin
socius yang berarti (kawan). Istilah masyarakat berasal dari kata bahasa Arab syaraka yang
berarti (ikut serta dan berpartisipasi). Masyarakat adalah sekumpulan manusia yang saling
bergaul, dalam istilah ilmiah adalah saling berinteraksi. Suatu kesatuan manusia dapat
mempunyai prasarana melalui warga-warganya dapat saling berinteraksi. Definisi lain,
masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat
istiadat tertentu yang bersifat kontinyu, dan yang terikat oleh suatu rasa identitas bersama.
Kontinuitas merupakan kesatuan masyarakat yang memiliki keempat ciri yaitu:
1. Interaksi antar warga-warganya
2. Adat istiadat
3. Kontinuitas waktu
4. Rasa identitas kuat yang mengikat semua warga
Masyarakat adalah sekumpulan warga yang tinggal dalam wilayah terbatas luasnya dan
mempunyai kepentingan yang sama berkaitan dengan wilayah tempat tinggalnya. Komunitas
adalah basis dari pengembangan masyarakat. Namun bila suatu pengembanga masyarakat
dijadikan suatu pendekatan atau strategi suatu program /proyek maka program tersebut dapat
mempunyai suatu cakupan atau wilayah yang lebih luas, mulai dari komunitas terkecil,
RT/RW, desa, kelurahan, kecamatan, kabupaten, provinsi, negara.
Menurut Emile Durkheim bahwa masyarakat merupakan suatu kenyataan yang obyektif
secara mandiri, bebas dari individu-individu yang merupakan anggota-anggotanya.
Masyarakat sebagai sekumpulan manusia didalamnya ada beberapa unsur yang mencakup.
Adapun unsur-unsur tersebut adalah:
1. Masyarakat merupakan manusia yang hidup bersama
2. Bercampur untuk waktu yang cukup lama
3. Mereka sadar bahwa mereka merupakan suatu kesatuan
4. Mereka merupakan suatu sistem hidup bersama
2.2 Ciri Masyarakat Berdaya
1. Mampu mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi, merumuskan serta
menetapkan prioritasnya Mampu merumuskan alternative jalan keluar untuk
mengatasi permasalahan tersebut

3
2. Mampu mengorganisasikan diri, sebagai salah satu cara penanggulangan secara
bersama
3. Mampu memperluas kerjasama serta mampu menjalani kemitraan yang setara.
2.3 Pengertian Pengembangan Masyarakat
Pengembangan masyarakat adalah Suatu gerakan yang dirancang untuk meningkatkan
taraf hidup keseluruhan komunitas melalui partisipasi aktif, dan jika memungkinkan
berdasarkan prakarsa komunitas. Pengembangan masyarakat merupakan suatu aktivitas
pembangunan yang berorientasi pada kerakyatan,tersentuhnya aspek-aspek keadilan,
keseimbangan sumber daya alam dan adanya partisipasi masyarakat.
Menurut Bhattacarya, Pengembangan Masyarakat adalah Pengembangan manusia yang
bertujuan untuk mengembangkan potensi dan kemampuan manusia untuk mengontrol
lingkungannya. Pengembangan masyarakat merupakan usaha membantu manusia mengubah
sikapnya terhadap masyarakat, membantu menumbuhkan kemampuan untuk berorganisasi,
berkomunikasi dan menguasai lingkungan fisiknya. Manusia didorong untuk mampu
membuat keputusan, mengambil inisiatif dan mampu berdiri sendiri.
Menurut Betten, Pengembangan Masyarakat bertujuan mempengaruhi perikehidupan rakyat
jelata dimana keberhasilannya tergantung sekali pada kemauan masyarakat untuk aktif
bekerjasama.
Menurut Com.Dev. Handbook, Pengembangan Masyarakat adalah evolusi terencana
dari aspek ekonomi, sosial, lingkungan dan budaya yang ada dalam masyarakat. Dia adalah
sebuah proses dimana anggota masyarakat melakukan aksi bersama dan menyelesaikan
permasalahan yang dihadapi bersama.
Menurut Sudjana, Pengembangan Masyarakat mengandung arti sebagai upaya yang
terencana dan sistematis yang dilakukan oleh, untuk dan dalam masyarakat guna
meningkatkan kualitas hidup penduduk dalam semua aspek kehidupannya dalam suatu
kesatuan wilayah. Upaya untuk meningkatkan kualitas hidup dan kehidupan dalam suatu
kesatuan wilayah ini mengandung makna bahwa pengembangan masyarakat dilaksanakan
dengan berwawasan lingkungan, sumberdaya manusia, sosial maupun budaya, sehingga
terwujudnya pengembangan masyarakat yang berkelanjutan.
Perserikatan bangsa-bangsa (PBB (dalam sheri bangbang, 1989) menyebutkan : “istilah
pengembangan masyarakat menunjukkan digunakannya berbagai pendekatan dan teknik
dalam suatu progaram tertentu pada masyarakat –masyarakat lokala sebagai kesatuan
tindakan dan mengusahakan perpaduan diantara bantuan yang berasal dari keputusan serta
upaya mastyarakat lokal yang berorganisasi. Program ini dimasukkan sebagai upaya untuk
mendorong prakarsa dan kepemimpinan lokal sebagai sarana perubahan primer”
Pengembangan masyarakat dapat dipandang dari dua sudut yaitu dalam arti luas berarti
perubahan sosial berencana, dimana sasaran pengembangan masyarakat adlaha perbaiakan
dan peningkatan bidang ekonomi, teknologi bahakan politik dan sosial. Sedangkan dalam arti
sempit, berarti perubahan sosiala berencana di lokalitas tertentu,sepoerti kampung, desa, kota
kecil atau kota besar. Pengertina dalam arti sempit ini dikaitkan dengan berbagsi proyek atau
program yang langsung berhubungan dengan upaya pemenuhan kebutuhan dan pengurusan
kepentingan lokalitas atau masyarakat setempat, dan sepanjang mampu dilakukan oleh
masyarakat itu sendiri.
Istilah pengembangan masyarakat dalam arti sempit dianggap lebih humanistik karena
lebih menitik beratkan pada kemampuan pengembangan kemampuan dan prakarsa dari
komuniti. Bantuan dan intervansi dari luar sekedar sebagai stimula yang memacu tumbuh dan
berkembangnya kemampuan dari dlam komunitas itu sendiri, dengan perkataan lain bantuan
dan intervensi dari luar harus di dudukkan sebagai bagian dari proses membina kemampuan
masyarakat.
2.4 Tujuan Pengembangan Masyarakat
Memberdayakan individu dan kelompok yang melalui pengutan kapasitas (termasuk
kesadaran, pengetahuan dan keterampilan-keterampilan) yang diperlukan untuk mengubah
kualitas kehidupan komunitas mereka. Kapasitas tersebut berkaitan dengan pengutan aspek
ekonomi dan politik melalui pembentukan kelompok sosial besar berdasarkan agenda
bersama. Tujuan dalam pengembangan masyarakat terbagi atas aspek tujuan antara yaitu
membangkitkan partispasi penuh warga masyarakat dan tujuan akhir yaitu perwujudan
kemampuan dan integrasi masyarakat untuk membangun diri mereka sendiri
2.5 3 Komponen Pengembangan Masyarakat
1. Adanya fungsi kemandirian termasuk sumber dan tenaga serta kemampuan
manajeman lokal
2. Penekanan dan penyatuan masyarakat sebagai suatu kesatuan, terlihat dari adanya
pembentukan organisasi lokal termasuk lembaga yang bertanggung jawab atas
masalah administrasi atau suatu lembaga masyarakat
3. Keyakinan mengenai situasi dan arah perubahan sosial serta masalah yang
ditimbulkannya.

5
2.6 Prinsip Pengembangan Masyarakat
Prinsip- prisip umum pengembangan masyaraka menurut bambang shergi lasmono
(1989), adalah sebagai berikut :
1. Pengembangan masyarakata merupakan proses perubahan yang disengaja dan
terarah. Perubahan tersebut secara garis besar meliputi dua aspek yaitu perubahan
fisik dan teknologi serta perubahan sistem nilai dan sikap.
2. Pengembangan masyarakat bertujuan meningkatakan taraf hidup warga
masyarakat,k tidak saja aspek makro yaitu masyarakat secara keseluruhan, melainkan
juga unsur mikro yaitu dapt dinikmati oleh segenap warga masyarakat atau paling
tidak bagian terbesar warga masyarakat.
3. Mengutamakan pendayagunaan potensi dan sumber-sumber setempat meliputi
faktorfisik, manusia dan sosial,. Warga masyarakat masih kurang peka/ tanggap
terhadap sumber dan potensial yang di sebabkan oleh kurangnya pengetahuan,
ketwerampilan, model, teknologi atau sistem nilai sosial budaya. Oleh karena itu
pengembangan mkasyarakat merupakan usaha untuk mendorong dan meningkatakan
sikap tanggap masyarakat terhadap potensi san sumber-sumber yang ada
disekitarnya.
4. Mengutamakan kreativitas dan inisiatif masyarakat. Hal inj berarti dalam kegiatan
pengembangan masyarakat memperlakukan masyarakat tidak sebagai objek
melainkan jugha sebagai subjek pembanguyanan.
5. Mengutamakan partisipasi masyarakat. Dalam menggerakkan paqrtisiapasi
masyarakata adalah menanamkan pengertian secara luas dan merata makna progran
pemnbangunan, arti penting program dan materi program pembanguan itu sendiri.
Sehingga demikian partisipasi yang muncul adalah karena mengeti dan sadar bahwa
partisipasi dalam pembangunan merupakan kewajiban sekaligus haknya.
Kegiatan pengembangan masyarakat dilakukan dengan berpedoman pada perencanaan,
namuka pleksibel untuk memodifikasi sesuai dengan umpan balik dan kebutuhan yang
berkembang pada saat pelaksanaan, dengan sarat dilakukan secara transparan dan berorientasi
pada kelompok sasaran. Asetiap pihak yang berkepentingan (yang dipengaruhi dan
mempengaruhi keputusan berkenaan dengan program kegiatan yung sedang dijalankan) dapat
berpartisipasi secara luas untuk memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil yang
dicapai.
2.7 Peranan Pengembangan Masyarakat
Untuk mengoptimalkan program pengembangan masyarakat, CD Comunity
Development werker harus memiliki beberapa peran sebagai agen perubah ( baik yang bersal
dari organisasi pemerintah amupun organisasi non pemerintah/NGO ).peran yang terkait
dengan pengembang masyarakat adalah sesuai dengan yang dikemukakan jim ife (1995) yang
erat kaitannya dengan intervensi kepada masyarakat sbb:
1. Facilitatife roles
Peran pertama adalah mempasilitasi komunitas sasaran.CD worker harus dapat
melakukan mediasi dan negosiasi (mediation and negotiation), memberi dukungan,
membentuk konsessus, memfasilitasi kelompok, pemanfaatan sumber daya dan
keterampilan dan mengorganisir.
2. Educational roles
Peran yang harus dilakukan CD werker dalam mendidik masyarakat meliputi:
membangkitkan kesadaran masyarakat, menyampaikan informasi,
mengkomprontasikan dan pelatiahan.
3. Refprentational roles
Peran CD werker yang ketiga adlaha peran sebagai wakil masyarakat dalam hal
mencari sumber daya, advokasi, memanfaatkan media, membina hubungan
masyarakat, mengem,bangkan jaringan dan membagi pengetahuan dan pengalaman.
2.8 Ruang Lingkup Program Pengembangan Masyarakat
1. Community services pelayanan masyarakat)
Merupakan pelayanan korporat untuk memenuhi kepentingan masyarakat ataupun
kepentingan umum, seperti pembangunan fasilitas umum antara lain pembangunan
ataupun peningkatan sarana transportasi/jalan, sarana pendidikan dll.
2. Community Empowering (pemberdayaan masyarakat)
Program-program yang berkaitan dengan memberikan akses yang lebih luas kepada
masyarakat untuk menunjang kemandirianya. Berkaitan dengan program ini adalah
seperti pengembangan ataupun penguatan kelompok-kelompok swadaya
masyarakat,komuniti lokal, organisasi profesi serta peningkatan kapasitas usaha
masyarakat yang berbasiskan sumber daya setempat.
3. Community Relation (hubungan masyarakat)
Kegiatan-kegiatan yang menyangkut pengembangan kesepahaman melalui
komunikasi dan informasi kepada para pihak yang terkait, seperti konsultasi publik,
penyuluhan dan sebagainya.

7
2.9 Kegiatan Pokok Pengembangan Masyarakat
Proses pengembangan masyarakat terdiri dari beberapa kegiatan pokok yaitu;
1. Proses dimulai pada waktu community development worker datang ke komunitas
atau masyarakat dan berhadapan dengan tokoh-tokoh masyarakat serta menjelaskan
dan menganjurkan tentang pentingnya diadakan kegiatan pembangunan oleh
masyarakat sendiri.
2. Dalam kontak-kontak pendahuluan community development worker menjelaskan
tentang kehadirannya di desa tersebut sebagai seorang yang datang untuk membantu
masyarakat dalam usha memperbaiki kondisi-kondisi hidup mereka, tetapi ia tidak
boleh memberi pesan seakan akan dialah yang menjadi pelaksana pembangunan di
desa itu.
3. community development worker memberi dorongan untuk mengadakan diskusi-
diskusi tentang berbagai permasalahan dan memberi petunjuk-petunjuk kepada
masyarakat dalam membicarakan masalah-masalah yang paling penting untuk
dipecahkan. Tujuan utama diadakan diskusi adalah : membantu masyarkat dalam
mencapai suatu kesepakatan atau konsensus dan tanggung jawab bersama untuk
memecahkan suatu masalah khusus yang ada dalam masyarakat mereka.
4. Setelah dicapai kesepakatan dan dietpkan kewajiban serta tanggung jawab oleh para
pemimpin/tokoh masyarakat, maka akan terjadi tahap berikut dalam proses
perubahan dimana perhatian pettugas dan para pemimpin diarahkan tidak hanya pada
apa yang harus dikerjakan tetapi yang lebih penting yaitu tentang bagaimana
pekerjaan harus dilakukan.
5. community development worker secara terus menerus memberi semangat dan
dukungan terhadap masyarakat yang bersangkutan untuk memperhatikan berbagai
aspek dari pelaksanaan tugas-tugas yang harus diselesaikan
6. Dalam pembuatan analisa dan perencanaan kegiatan-kegiatan mungkin saja timbul
kebutuhan akan sumber-sumber tambahan (additional resources) disamping sumber-
sumber yang dimiliki masyarakat. Dalam hal ini community development worker
diharapkan dapat membantu dan mencari sumber-sumber dari luar masyarakat.
7. Tahap berikutnya berkaitan dengan pelaksanaan program yang telah ditetapkan. Pada
waktu ini kewajiban dan hubungan sosial sudah harus mencapai suatu tingkat dimana
masyarakat secara sukarela melakukan peranan-peranan yang diperlukan dalam
proses kegiatan. community development worker ikut bekerja dalam melaksanakan
kegiatan-kegiatan sebagai salah satu anggota masyarakat.
8. Jika peranan community development worker dapat dilaksanakan dengan tepat, maka
masyarakat akan merasakan bahwamereka sendirilah yang harus bertanggung jawab
terhadap keberhasilan dari proyek yang dikerjakan.
2.10 Penyebab Kegagalan Pengembangan Masyarakat
Pada dasarnya kegagalan program pengembangan masyarakat adalah tidak terpenuhinya
prinsip-prinsip community development secara ideal.
1. Terdapat kecenderungan hanya kaum elit komunitas saja yang mampu dan
berkesempatan untuk berpartisipasi dalam proses penyusunan kebijaksanaan dan
pengambilan keputusan.
Pengembangan masyarakat masih belum melibatkan masyarakat lokal sepenuhnya,
terutama masyarakat miskin. Partisipasi masyarakat miskin dalam proses kebijakan
masih belum jelas dan masih ditempatkan sebagai sasaran program yang kadang-
kadang tersisihkan oleh desakan kepentingan kelompok lain yang lebih mempunyai
kekuasaan. Misalnya; pada masyrakat miskin di daerah tertentu ditetapkan program
kegiatan pengembangan masyarakat, dimana sebelumnya masyarakat tidak
dilibatkan secara aktif dalam menganalisis kebutuhan masyarakat, perencanaan,
identifikasi sumber seta kegiatan yang diperlukan sehingga dampak dari
pengembangan masyarakat hanya bisa dirasakan dan dimamfaatkan oleh sebagian
kecil kelompok masyarakat.
2. Program community development tidak dapat diakses/dimamfaatkan oleh sasaran
program (terdapat keterpihakan).
Sering kali beberapa program pengembangan masyarakat sudah disusun dan
direncanakan secara matang dan berdasarkan hasil uji coba di beberapa kelompok
masyarakat tertentu menunjukkan hasil yang optimal. Akan tetapi dalam skala yang
lebih luas, tidak jarang justru memberi untung kepada kelompok yang status sosial
ekonominya lebih baik. Hal ini terjadi karena pelaksana program biasanya terdiri dari
para pemuka masyarakat dan mereka tidak jarang berusaha menarik manfaat sebesar-
besarnya dari program kegiatan yang dilaksanakan (disamping untuk peningkatan
taraf hidup dirinya, juga para “saudara” dekat pengelolah kegiatan/terjadi kolusi dan
nepotisme).
3. Pengembangan masyarakat dilaksanakan karena tujuan politik, artinya pembangunan
masyarakat dijadikan alat komunikasi politik dan simbol politik oleh partai tertentu.

9
Penembangan masyarakat disini dilakukan untuk menarik simpati masyarakat serta
membangun massa/menarik simpatisan dari suatu partai tertentu, sehingga yang
bukan anggota tidak dapat memamfaatkan program.
4. Semakin besar komunitas, semakin bervariasi kepentingannya sehingga terdapat
kepentingan yang saling bersaing atau kompetitif.
Disini pengembangan masyarat cenderung bekerja menurut model konsensus artinya
hanya kepentingan yang sangat umum sifatnya yang diperhatikan sementara
kepentingan lapisan atau kelompok masyarakat lainnya di dalam komunitas
terabaikan atau tersisihkan
5. Sistem target tidak dapat dibujuk/diyakinkan, atau menolak perubahan untuk
kegiatan community development yang diusulkan.
6. Tidak terdapat kontinuitas pembinaan dari kegiatan community development
Terminasi merupakan kegiatan pengakhiran dari suatu relasi perubahan dan
dilakukan apabila masyarakat dipandang sudah mandiri untuk dapat terus
mengembangkan kegiatan.
Seringkali terjadi terminasi dilakukan karena adanya keterbatasan waktu dari
community development worker ataupun keterbatasan dana dari lembaga yang
memberi bantuan dan bukan karena masyarakat sudah mandiri yang menyebabkan
kegagalan program pengembangan masyarakat, karena setelah program selesai,
kehidupan masyarakat kembali seperti keadaan semula.
7. Pengembangan masyarakat tidak sepenuhnya berusaha mendorong perubahan sosial
pada masyarakat, kalaupun terdapat perubahan, bukan merupakan perubahan yang
mendasar.
8. Program pengembagan masyarakat dilaksanakan secara parsial tanpa ada upaya yang
serius untuk mengkoordinasikan dan mensinergikan pelaksanaannya.
2.11 Metode dan Tehnik Pengembangan Masyarakat
1. Metodologi Pengembangan Masyarakat
Menjangkau masyarakat secara luas pendekatan yang digunakan oleh yaitu
pembinaan melalui pembinaan sumberdaya manusianya seperti pembinaan kelompok
dan kader lokal.
a. Pembinaan melalui kelompok mempunyai beberapa kelebihan antara lain:
 Mempermudah pengorganisasian
 Memperlancar pencapaian tujuan bersama
 Meningkatkan kerjasama dan gotong-royong
b. Pembinaan kader lokal diharapkan membentuk seseorang menjadi motivator,
fasilitator dan katalisator bagi masyarakat sendiri sehingga keberlanjutan
kegiatan diharapkan dapat lebih terjamin.
2. Teknik dan Metode Lapangan
Masyarakat mempunyai karakteristiknya masing-masing. Untuk itu ada beberapa
teknik dan metode pendekatan lapangan lain:
a. Participatori Rural Appraisal (PRA), teknik ini merupakan kelanjutan dari RRA
yang mengemas metode-metode pengembangan masyarakat menjadi bagian dari
metodenya.
b. Achievement Motivation Training (AMT), yaitu latihan motivasi yang
berdasarkan pada prinsip-prinsip pendidikan orang dewasa yang memperhatikan 3
aspek domain, yaitu achievement, power dan psikomotorik.
c. Action-Research adalah sebuah metode untuk menyadarkan masyarakat terhadap
potensi dan masalah yang ada pada masyarakat.
d. Participatory Action Research adalah metode penyadaran masyarakat terhadap
potensi dan masalah yang dimiliki yang menekankan pada keikutsertaan
masyarakat pada kegiatan yang dilaksanakan.
e. Why tree dan problem tree merupakan metode perencanaan dan evaluasi yang
mempergunakan struktur analisis jaringan seperti pohon. Teknik ini antara lain
problem tree, solution tree dan sebagainya.
Terdapat beberapa metoda pemberdayaan masyarakat yang digunakan sejak lama.
Antara lain adalah sebagai berikut:
No. Kelompok Ragam Metoda Keterangan
Metoda
1. Tatap-muka Percakapan/dialog, Anjang-sana, Anjang- Individual
karya.
Pertemuan, Ceramah, diskusi, FGD, RRA, Kelompok
PRA, PLA, Sekolah Lapang, Pelatihan.
Pameran
Masal
2. Percakapan Telepon, TV, Radio. Individual
tak-langsung Teleconference Kelompok
3. Demonstrasi Demonstrasi cara, Demonstrasi hasil, Kelompok

11
Demonstrasi cara dan hasil.
4. Barang Foto, pamflet, leaflet, folder, brosur,
cetakan poster, baliho, dll
5. Media-masa Surat kabar, tabloid, majalah. Media cetak
Radio, tape-recorder. Media lisan
TV, VCD, DVD. Media terproyeksi
6. Kampanye Gabungan dari semua metoda di atas
Selain metoda di atas, terdapat beberapa metoda pemberdayaan masyarakat partisipatif.
Antara lain adalah sebagai berikut.
1. RRA (Rapid Rural Appraisal)
RRA merupakan metoda penilaian keadaan desa secara cepat, yang dalam praktek,
kegiatan RRA lebih banyak dilakukan oleh “orang luar” dengan tanpa atau sedikit
melibatkan masyarakat setempat. Meskipun sering dikatakan sebagai teknik
penelitian yang “cepat dan kasar/kotor” tetapi RRA dinilai masih lebih baik
dibanding teknik-teknik kuantitatif klasik. Sebagai suatu teknik penilaian, RRA
menggabungkan beberapa teknik yang terdiri dari:
a. Review/telaahan data sekunder, termasuk peta wilayah dan pengamatan lapang
secara ringkas
b. Oservasi/pengamatan lapang secara langsung
c. Wawancara dengan informan kunci dan lokakarya
d. Pemetaan dan pembuatan diagram/grafik
e. Studi kasus, sejarah lokal, dan biografi
f. Kecenderungan-kecenderungan
g. Pembuatan kuesioner sederhana yang singkat
h. Pembuatan laporan lapang secara cepat
Untuk itu, terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan, yaitu:
a. Efektivitas dan efisiensi, kaitannya dengan biaya, waktu, dengan perolehan
informasi yang dapat dipercaya yang dapat digunakan dibanding sekadar jumah
dan ketepatan serta relevansi informasi yang dibutuhkan.
b. Hindari bias, melalui: introspeksi, dengarkan, tanyakan secara berulang-ulang,
tanyakan kepada kelompok termiskin.
c. Triangulasi sumber informasi dan libatkan Tim Multi-disiplin untuk bertanya
dalam beragam perspektif
d. Belajar dari dan bersama masyarakat
e. Belajar cepat melalui eksplorasi, cross-check dan jangan terpaku pada bekuan
yang telah disiapkan
2. PRA (Participatory Rural Appraisal)
PRA merupakan penyempurnaan dari RRA. PRA dilakukan dengan lebih banyak
melibatkan “orang dalam” yang terdiri dari semua stakeholders dengan difasilitasi
oleh orang-luar yang lebih berfungsi sebagai narasumber atau fasilitator dibanding
sebagai instruktur atau guru yang menggurui. Melalui PRA dilakukan kegiatan-
kegiatan:
a. Pemetaan-wilayah dan kegiatan yang terkait dengan topik penilaian keadaan.
b. Analisis keadaan yang berupa:
1. Kedaan masa lalu, sekarang, dan kecenderungannya di masa depan
2. Identifikasi tentang perubahan-perubahan yang terjadi dan alasan-alasan atau
penyebabnya
3. Identifikasi (akar) masalah dan alternatif-alternatif pemecahan masalah
4. Kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman atau analisis strength, weakness,
opportunity, and treat terhadap semua alternatif pemecahan masalah.
c. Pemilihan alternatif pemecahan masalah yang paling layak atau dapat diandalkan
(dapat dilaksanakan, efisien, dan diterima oleh sistem sosialnya).
d. Rincian tentang stakeholders dan peran yang diharapkan dari para pihak, serta
jumlah dan sumber-sumber pembiayaan yang dapat diharapkan untuk
melaksanakan program/kegiatan yang akan diusulkan/direkomendasikan.
3. FGD (Focus Group Discussion) atau Diskusi Kelompok yang Terarah
Sebagai suatu metoda pengumpulan data, FGD merupakan interaksi individu-
individu (sekitar 10-30 orang) yang tidak saling mengenal dan oleh seorang pemandu
(moderator) diarahkan untuk mendiskusikan pemahaman dan atau pengalamannya
tentang sesuatu program atau kegiatan yang diikuti dan atau dicermatinya. Sebagai
suatu metoda pengumpulan data, FGD dirancang dalam beberapa tahapan, yaitu:
a. Perumusan kejelasan tujuan FGD, utamanya tentang isu-isu pokok yang akan
dipercakapkan, sesuai dengan tujuan kegiatannya.
b. Persiapan pertanyaan-pertanyaan yang akan ditanyakan
c. Identifikasi dan pemilihan partisipan, yang terdiri dari para pemangku
kepentingan kegiatan terkait, dan atau narasumber yang berkompeten.

13
d. Persiapan ruangan diskusi, termasuk tata-suara, tata-letak, dan perlengkapan
diskusi (komputer dan LCD, papan-tulis, peta-singkap, kertas-plano, kertas meta-
plan, spidol berwarna, dll)
e. Pelaksanaan diskusi
f. Analisis data (hasil diskusi)
g. Penulisan laporan, termasuk lampiran tentang transkrip diskusi, rekaman suara,
foto, dll.
Tentang hal ini, Krueger (1994)) menyampaikan adanya beberapa jenis pertanyaan
yang harus disiapkan, yaitu:
1. Pertanyaan pembuka, yang sebenarnya hanya berfungsi sebagai penciran suasana
(ice breaking), agar proses interaksi/diskusi antar peserta dapat berlangsung
lancar
2. Pertanyaan pengantar,
3. Pertanyaan transisi, yaitu pertanyaan tentang isu pokok yang berfungsi untuk
membuka wawasan partisipan tentang topik diskusi
4. Pertanyaan kunci, yang terdiri sekitar 5 isu yang akan dikaji melalui FGD
5. Pertanyaan penutup, tentang catatan tambahan yang ingin disampaikan oleh para
peserta.
4. PLA (Participatory Learning and Action), atau proses belajar dan praktek secara
partisipatif
PLA merupakan bentuk baru dari metoda pemberdayaan masyarakat yang dahulu
dikenal sebagai “learning by doing” atau belajar sambil bekerja. Secara singkat, PLA
merupakan metoda pemberdayaan masyarakat yang terdiri dari proses belajar tentang
suatu topik, seperti pesemaian, pengolahan lahan, perlindungan hama tanaman, dll.
Yang segera setelah itu diikuti aksi atau kegiatan riil yang relevan dengan materi
pemberdayaan masyarakat tersebut. Melalui kegiatan PLA, akan diperoleh beragam
manfaat, berupa:
a. Segala sesuatu yang tidak mungkin dapat dijaab oleh “orang luar”
b. Masyarakat setempat akan memperoleh banyak pengetahuan yang berbasis pada
pengalaman yang dibentuk dari lingkungan kehidupan mereka yang sangat
kompleks
c. Masyarakat akan melihat bahwa masyarakat setempat lebih mampu untuk
mengemukakan masalah dan solusi yang tepat dibanding orang luar
d. Melalui PLA, orang luar dapat memainkan peran penghubung antara masyarakat
setempat dengan lembaga lain yang diperlukan. Disamping itu, mereka dapat
menawarkan keahlian tanpa harus memaksakan kehendaknya.
Terkait dengan hal itu, sebagai metoda belajar partisipatif, PLA memiliki
beberapa prinsip sebagai berikut:
a. PLA merupakan proses belajar secara berkelompok yang dilakukan oleh semua
stakeholders secara interaktif dalam suatu proses analisis bersama
b. Multi perspective, yang mencerminkan beragam interpretasi pemecahan
masalah yang riil yang dilakukan oleh para pihak yang beragam dan berbeda
cara pandangnya
c. Spesifik lokasi, sesuai dengan kondisi para pihak yang terlibat
d. Difasilitasi oleh ahli dan stakeholders (bukan anggota kelompok belajar) yang
bertindak sebagai katalisator dan fasilitator dalam pengambil keputusan; dan
(jika diperlukan) mereka akan meneruskannya kepada pengambil keputusan
e. Pemimpin perubahan, dalam arti bahwa keputusan yang diambil melalui PLA
akan dijadikan acuan bagi perubahan-perubahan yang akan dilaksanakan oleh
masyarakat setempat
5. Pelatihan Partisipatif
Penyelenggaraan pemberdayaan masyarakat harus diawali dengan “scopping” atau
penelusuran tentang program pendidikan yang diperlukan dan analisis kebutuhan
atau “need assesment”. Untuk kemudian berdasarkan analisis kebutuhannya,
disusunlah programa atau acara pemberdayaan masyarakat yang dalam pendidikan
formal (sekolah) disebut dengan silabus dan kurikulum, dan perumusan
modul/lembar persiapan fasilitator pada setiap pelaksanaan pemberdayaan
masyarakat. Berbeda dengan kegiatan pelatihan konvensional, pelatihan partisipatif
dirancang sebagai implementasi metoda pendidikan orang dewasa (POD), dengan
ciri utama:
a. Hubungan instruktur/fasilitator dengan peserta didik tidak lagi bersifat vertikal
tetapi bersifat lateral/horizontal
b. Lebih mengutamakan proses daripada hasil, dalam arti, keberhasilan pelatihan
tidak diukur dari seberapa banyak terjadi alih-pengetahuan, tetapi seberapa jauh
terjadi interaksi atau diskusi dan berbagi pengalaman (sharing) antara sesama
peserta maupun antara fasilitator dan pesertanya.

15
DAFTAR PUSTAKA

Arif Budimanta dan Bambang Rudito, Metode dan Teknik Pengelolaan Community
Development, cet. Ke II (Jakarta: CSD, 2008), hal. 33.
http://vivaldivena.wordpress.com/2008/08/21/pengembangan-pengorganisasian-masyarakat/,
18 mei 2014
Koentjaraningrat.2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta
Soleman,b.Taneko.1984.Struktur dan Proses Sosial Suatu Pengantar Sosiologi
Pembangunan.Jakarta:CV.Rajawali
Ife, Jim. 1996. Community Development: Creating Community Alternatives Vision.
Analisysis and Practice. Melbourne. Longman.
Kenny, S. 1994. Developing Communities For The Future Development The Australia.
Australia : Nelson Australia Prelimited, Canbera.
Mardikanto, Totok. 2011. Pemberdayaan Masyarakat. Surakarta. UNS Press
Moh. Ali Aziz. 2005. Dakwah Pengembangan Masyarakat. Gramedia. Jakarta.
Soetarso. 1994. Praktek Pekerjaan Sosial Dalam Pembangunan Masyarakat. Koperasi Sekolah
Tinggi Kesejahteraan Sosial. Bandung