Anda di halaman 1dari 9

Jurnal Bio Educatio, Volume 2, Nomor 2, Oktober 2017 , hlm.

50-58 ISSN: 2541-2280

MISKONSEPSI SISWA PADA PEMBELAJARAN IPA


SERTA REMEDIASINYA

Yuyu Yuliati1
1
Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Majalengka
Jln. KH. Abdul Halim No. 103, Majalengka
Email: yuyuliati74@gmail.com

Abstrak

Artikel ini sebagai literature review bertujuan untuk mengetahui berbagai penyebab
miskonsepsi yang dialami oleh siswa pada pembelajaran IPA beserta remediasinya. Dalam
pembelajaran IPA, kemampuan memahami konsep merupakan salah satu indikator
penting. Namun pada kenyataannya salah satu permasalahan yang ditemukan adalah masih
banyak siswa yang mengalami miskonsepsi, hal tersebut disinyalir dapat berdapak pada
rendahnya hasil belajar siswa khususnya pada pembelajaran IPA. Miskonsepsi merujuk
pada suatu konsep yang tidak sesuai dengan pengertian ilmiah yang diterima oleh para ahli.
Ada begitu banyak hal yang menjadi faktor penyebab terjadinya miskosepsi yang dialami
oleh siswa diantanya adalah prakonsepsi yang dimiliki oleh siswa itu sendiri, guru,
pembelajaran yang dilakukan oleh guru, atau bahkan bahan ajar yang digunakan.
Permasalahan miskonsepsi ini tidaklah mudah untuk diselesaikan. Berdasarkan kondisi
tersebut sangat penting untuk dilakukan remediasi. Oleh karena itu, pada proses
pembelajaran di sekolah, sangat dianjurkan pada guru untuk menggunakan model atau
metode pembelajaran yang lebih menantang dan mengajak siswa untuk mengkonstruksi
pengetahuan baru melalui pengalaman belajar yang tepat.

Kata Kunci : Miskonsepsi, Remediasi Miskosepsi, Pembelajaran IPA

[50]
Jurnal Bio Educatio, Volume 2, Nomor 2, Oktober 2017 , hlm. 50-58 ISSN: 2541-2280

PENDAHULUAN dengan kesepakatan para ilmuwan, tidak


Sains merupakan bagian dari menyimpang dan tidak menimbulkan
kehidupan kita dan kehidupan kita hipotesis lain yang dapat menimbulkan
merupakan bagian dari sains. Abad 21 konflik kognitif. Sedangkan miskonsepsi
ditandai oleh pesatnya perkembangan sains merupakan kesalahan atau ketidaksesuaian
dan teknologi dalam bidang kehidupan di konsep dengan pengertian ilmiah yang
masyarakat, terutama teknologi informasi diterima oleh para ahli. Adapun bentuk
dan komunikasi. Menurut Morocco, et al. miskonsepsi dapat berupa kesalahan konsep
(dalam Abidin, Mulyati, & Yunansah, awal, kesalahan dalam menghubungkan
2015), harus ada empat kompetensi yang berbagai konsep, dan gagasan yang salah.
dimiliki siswa di abad 21 ini. Keempat Adanya miskonsepsi haruslah menjadi
kompetensi tersebut adalah: conceptual perhatian bagi para guru, hal ini
understanding, critical thinking, creative dikarenakan miskonsepsi dapat berdampak
thinking, dan collaboration and pada keberhasilan siswa dalam belajar IPA.
communication. Sejalan dengan pernyataan Nyatanya salah satu permasalahan
tersebut maka tantangan pembelajaran pada yang sering ditemukan dalam pembelajan
abad ke 21 fokus pada proses IPA adalah masih banyak siswa yang
pengkonstruksian pengetahuan. Pada hal ini mengalami miskonsepsi. Berdasarkan
belajar adalah proses penemuan, konsep temuan hasil penelitian yang dilakukan
dibangun melalui asimilasi dan akomodasi. oleh Clara,dkk (2013) data diperoleh dari
Pengetahuan tidak sekedar 14 siswa kelas III dan 15 siswa kelas IV,
ditransformasikan tetapi juga diinterpretasi mengenai miskonsepsi yang terjadi pada
untuk menghasilkan ilmu baru dan siswa materi sifat dan perubahan wujud benda di
dilatih untuk dapat berpikir kritis, berpikir kelas III dan IV SDN 47 Sekadau
kreatif, kolaboratif dan mampu Pontianak menunjukkan bahwa siswa
menkomunikasikan suatu ilmu dengan masih memiliki miskonsepsi. Konsep
baik. Pernyataan tersebut senada dengan mengenai sifat-sifat benda cair dan
penjelasan P. C. Ifegho (2012: 76) yaitu: contohnya siswa kelas III yang miskonsepsi
Teacher of science education in the 21st sebanyak 78,57% dan kelas IV sebanyak
century should accept the contemporary 80%, konsep sifat-sifat benda gas dan
view of NOS to ensure successful contohnya siswa kelas III yang miskonsepsi
inculcation of the 21st century learning sebanyak 71,43% dan kelas IV sebanyak
skills to the primary science learner and to 73,33%, konsep perubahan yang terjadi
enable them face the scientific and pada benda akibat pemanasan hanya
technological challenges for sustainable dilaksanakan di kelas III dan siswa yang
development. miskonsepsi sebanyak 57,14% dan konsep
Sebelum sains diajarkan secara formal perubahan wujud dan contohnya hanya
sebenarnya siswa sudah mengenal konsep dilaksanakan di kelas IV siswa yang
dasar sains berdasarkan fenomena alam miskonsepsi sebanyak 73,33%. Begitupun
yang mereka alami dalam kehidupan dengan beberapa penelitian lain yang juga
sehari-hari, dengan begitu seharusnya siswa sama-sama mengkaji miskonsepsi siswa
memiliki pemahaman yang baik terhadap menunjukan hasil yang tidak jauh berbeda.
konsep sains. Conceptual understanding Kondisi miskonsepsi apabila dibiarkan
atau pemahaman konsep tentang sains tentu saja akan berbahaya mengingat
merupakan salah satu indikator penting apabila kondisi ini dibiarkan menetap akan
untuk mencapai keberhasilan belajar IPA. berdampak pada penerimaan konsep
Terdapat hubungan antara pemahaman selanjutnya. Miskonsepsi yang dialami
konsep dengan miskonsepsi, pemahaman setiap siswa di sekolah bisa berlainan
konsep pada pembelajaran IPA berupa dengan penyebab yang berbeda-beda. Oleh
penguasaan terhadap konsep yang sesuai karena itu, sangat penting bagi guru untuk

[51]
Jurnal Bio Educatio, Volume 2, Nomor 2, Oktober 2017 , hlm. 50-58 ISSN: 2541-2280

mengenali miskonsepsi beserta diselesaikan maka miskonsepsi yang


penyebabnya yang terjadi pada masing- dimiliki siswa akan terus bertahan sampai
masing siswa. Adapun penyebab pada jenjang pendidikan selanjutnya
miskonsepsi yang dialami oleh siswa dapat bahkan mungkin akan tetap bertahan
berasal dari siswa itu sendiri yaitu berkaitan sampai siswa tersebut dewasa. Sebagai
dengan pengetahuan awal yang dimiliki fasilitator pembelajaran, guru hendaknya
siswa (prakonsepsi), tahap perkembangan memiliki kemampuan untuk meremediasi
kognitif yang tidak sesuai dengan konsep miskonsepsi yang terjadi. Proses remediasi
yang dipelajari, penalaran siswa yang miskonsepsi ini dapat dilakukan dengan
terbatas dan salah, kemampuan siswa cara mengenali dan menggali pengetahuan
menangkap dan memahami konsep yang awal siswa, terutama pengetahuan awal
dipelajari, dan minat siswa untuk yang salah agar tidak terjadi miskonsepsi
mempelajari konsep yang diajarkan. Selain yang berkepanjangan. Selain itu, guru juga
dari faktor siswa terjadinya miskonsepsi hendaknya memiliki kemampuan untuk
juga dipengaruhi oleh beberapa hal lain mengatasi miskonsepsi yang terjadi pada
seperti guru, pembelajaran yang dilakukan siswa dengan menerapkan pembelajaran
oleh guru, bahkan bahan ajar yang yang lebih menantang siswa untuk
digunakan oleh siswa pun dapat menjadi mengkonstruksi pengetahuannya secara
faktor penyebab munculnya miskonsepsi langsung dan mandiri. Pada
pada siswa (Suparno, 2013: 82). Berkaitan pelaksanaannya guru dapat memilih model
dengan pengetahuan awal, siswa atau metode pembelajaran yang relevan.
mengetahui banyak hal dari pengalaman Intinya adalah model atau metode yang
keseharian yang dialaminya bahkan dari dipilih adalah model atau metode yang
sebelum jenjang sekolah formal, dan dari berfariasi supaya siswa tidak bosan dan
pengalaman ini lah pengetahuan awal siswa termotivasi dalam belajar, selain itu model
terbentuk. Namun sayangnya pengetahuan atau metode yang dipilih juga dapat
awal yang didapat siswa bisa benar ataupun mendorong siswa untuk mengembangkan
bisa salah, hal ini disebabkan karena cara berpikir logis dengan mengkontruksi
sumber informasi siswa tidak akurat dan sendiri pengetahuannya. Dengan demikian
pengalaman yang dialami siswa juga pembelajaran IPA akan menjadi sebuah
berbeda-beda. Padahal pengetahuan awal pembelajaran yang bermakna, karena siswa
yang dimiliki oleh siswa tersebut menjalani suatu proses perubahan konsepsi.
merupakan hal yang sangat penting karena Pada tulisan ini lebih lanjut akan
berpengaruh terhadap pemerolehan dipaparkan berbagai kajian terkait dengan
pengetahuan siswa pada jenjang pendidikan faktor penyebab miskonsepsi siswa pada
selanjutnya. Hal tersebut senada dengan pembelajaran IPA serta bentuk
penjelasan dari Samatowa (2010: 55), pembelajaran remediasi.
kemampuan siswa untuk belajar dan apa PEMBAHASAN
yang dipelajari siswa bergantung pada 1. Miskonsepsi dan Faktor Penyebab
konsepsi yang terdapat pada pengalaman Miskonsepsi
siswa sebelumnya. Tidak jauh berbeda dari Sebelum siswa belajar IPA secara
pendapat sebelumnya, Rustaman (2005: formal, secara tidak sengaja sebenarnya
170) menjelaskan bahwa keberhasilan siswa telah memiliki konsep sains melalui
belajar bergantung bukan hanya pada pengalamannya dalam kehidupan sehari-
lingkungan atau kondisi belajar, tetapi juga hari. Menurut Wisudawati dan Eka (2014:
pada pengetahuan awal siswa. 9) “tantangan pertama pembelajaran sains
Permasalahan miskosnsepsi ini sulit di sekolah adalah memberikan akses
untuk diselesaikan hal itu karena kerangka kepada siswa untuk mengkonstruksi
berpikir siswa yang cukup kuat sehingga konsep-konsep sains mereka sendiri, serta
sulit untuk diubah. Apabila tidak segera mengenalkan konsep-konsep yang sudah

[52]
Jurnal Bio Educatio, Volume 2, Nomor 2, Oktober 2017 , hlm. 50-58 ISSN: 2541-2280

disepakati bersama oleh masyarakat sains”. ilmiah para ahli. Berkaitan dengan
Peran guru sangat penting dalam proses terjadinya miskonsepsi pada siswa, ahli
membangun pengetahuan siswa, akibatnya konstruktivisme berpandangan bahwa
pembelajaran IPA tidak sekedar proses pengetahuan siswa dikontruksi atau
transfer ilmu dari guru ke siswa, melainkan dibangun oleh siswa sendiri. Proses
proses pembelajaran yang diupayakan konstruksi pengetahuan tidak melulu hanya
bermakna sehingga konten IPA dipahami logika berpikir tetapi merupakan campuran
dengan baik dan dapat diaplikasikan oleh antara pengalaman, hasil pengamatan,
siswa. Perbedaan pengalaman yang dialami kemampuan berpikir, dan kemampuan
oleh siswa memungkinkan siswa memiliki berbahasa. Karena itu, pengetahuan yang
pemahaman yang salah terhadap suatu dikonstruksi siswa tidak akan mungkin
konsep. Kesalahan pemahaman terhadap sama antara yang satu dengan yang lain.
konsep tersebutlah yang dinamakan sebagai Apalagi, jika dibandingkan dengan
miskonsepsi. pengetahuan yang disusun para ilmuwan.
Konsep merupakan abstraksi yang Pada saat siswa berinteraksi dengan
berdasarkan dari pengalaman. Menurut lingkungan belajarnya, siswa
Dahar (dalam Samatowa, 2010: 52) konsep mengkonstruksi pengetahuan berdasarkan
adalah suatu abstraksi yang mewakili satu pengalamannya. Oleh karena itu, ketika
kelas, objek, kejadian, kegiatan, atau proses kontruksi pengetahuan terjadi pada
hubungan yang memiliki atribut sama. siswa, sangat besar kemungkinan terjadinya
Selain itu menurut Rustaman (2005: 51), kesalahan dalam proses mengkontruksi
konsep merupakan suatu abstaksi yang karena secara alami siswa belum terbiasa
menggambarkan ciri-ciri, karakter yang mengkontruksi pengetahuan sendiri secara
sama dari sekelompok objek dari suatu tepat. Apalagi jika tidak didampingi sumber
fakta, baik merupakan suatu proses, informasi yang jelas dan akurat.
peristiwa, benda, fenomena di alam yang Kontruksi pengetahuan siswa tidak
membedakannya dari kelompok lainnya. hanya dilakukan siswa sendirian tetapi juga
Pemahaman seseorang tentang suatu dibantu oleh konteks dan lingkungan siswa.
konsep disebut konsepsi, konsepsi Ada beberapa hal yang dapat menjadi
seseorang berbeda dengan konsepsi orang faktor penyebab munculnya miskonsepsi,
lain. Sedangkan kesalahan dalam diantaranya dapat berasal dari siswa, guru,
memahami konsep atau pemahaman buku ajar, konteks, dan cara mengajar. Jika
terhadap konsep yang tidak sesuai dengan aspek-aspek tersebut memberikan
kesepakatan para ilmuan itulah yang informasi dan pengalaman yang berbeda
disebut miskonsepsi. Miskonsepsi berasal dengan kesepakatan ilmiah maka sangat
dari 2 kata yaitu miss dan concept, miss besar kemungkinan terjadinya miskonsepsi
artinya hilang dan concept berati konsep pada diri siswa. Faktor penyebab
atau makna tentang suatu hal. Miskonsepsi miskonsepsi yang datang dari siswa dapat
dipandang sebagai pengertian yang tidak berupa prakonsepsi yang dimiliki siswa,
akurat mengenai konsep, penggunaan struktur mental yang tidak siap,
konsep yang salah, klasifikasi contoh- pengalaman, cara berpikir, minat siswa, dan
contoh yang salah, kekacauan konsep- kemampuan siswa. Berdasarkan temuan
konsep yang berbeda, dan hubungan penelitian yang dilakukan oleh Munawaroh
hierarkis konsep-konsep yang tidak benar & Falahi (2016), terbukti bahwa siswa
(Suparno, 2005). Senada dengan penjelasan kelas VI SDN Kemayoran I masih banyak
sebelumnya Pesman (2005) mengartikan yang mengalami miskonsepsi pada konsep
miskonsepsi sebagai prasangka atau cahaya dengan rata-rata sebesar 40,20 %,
pemahaman tentang suatu konsep yang dan persentase tertinggi miskonsepsi terjadi
diyakini secara kuat namun konsep yang pada soal mengenai proses terbentuknya
diyakini tidak sesuai dengan konsep-konsep warna pelangi yaitu sebesar 71,57%.

[53]
Jurnal Bio Educatio, Volume 2, Nomor 2, Oktober 2017 , hlm. 50-58 ISSN: 2541-2280

Penelitian tersebut menggambarkan bahwa berpeluang mengalami paham konsep pada


masih banyak siswa yang mengalami materi listrik statis 13,33%, berpeluang
miskonsepsi terhadap konsep yang miskonsepsi 46,67%, dan tidak paham
dipelajari yang bisa jadi salah satunya konsep 38,33%. Hasil investigasi
diakibatkan karena masih rendahnya ditemukan beberapa jenis miskonsepsi yang
pengetahuan awal siswa. terjadi pada sebagian besar mahasiswa
Faktor penyebab miskonsepsi tidak calon guru sekolah dasar di lembaga
hanya terjadi pada siswa tetapi juga terjadi tersebut terkait materi listrik statis, yakni:
pada guru. Guru yang tidak menguasai (1) benda bermuatan listrik tidak dapat
bahan ajar atau memiliki pemahaman yang menarik benda netral; (2) benda netral
tidak benar tentang suatu konsep akan adalah benda yang tidak mengandung
menyebabkan siswa mengalami muatan listrik; (3) besar gaya tarik menarik
miskonsepsi. Berdasarkan temuan hasil antara dua benda bermuatan bergantung
penelitian yang dilakukan oleh Pujayanto pada besar muatan benda. Berdasarkan
(2007) terhadap 20 orang guru Kelas 5 temuan dari kedua penelititian tersebut
Sekolah Dasar yang dipilih secara acak di dapat dilihat masih banyak calon guru
Kecamatan Tasikmadu Kabupaten bahkan guru yang mengalami miskonsepsi,
Karanganyar, terbukti bahwa guru apabila miskonsepsi tersebut dipertahankan
mengalami miskonsepsi IPA pada pokok tentu saja akan memberikan dampak buruk
bahasan Gaya dan Cahaya. Adapun profil bagi pemahaman siswa, hal ini dikarenakan
miskonsepsi yang dimiliki guru adalah guru merupakan salah satu sumber belajar
sebagai berikut: 1). gaya dapat berupa siswa. Selain pemahaman guru yang tidak
tarikan atau dorongan, gaya magnet selalu benar terhadap konsep IPA, masih banyak
berupa tarikan (45%); 2). gaya gravitasi guru yang melaksanaan pembelajaran
dapat berupa dorongan maupun tarikan hanya dengan ceramah, guru jarang
(40%); 3). massa benda di bumi sama melaksanakan kegiatan demonstrasi
dengan massa benda di bulan, berat benda ataupun eksperimen. Selain itu dalam
di bumi sama dengan berat benda di bulan pelaksanaan pembelajaran guru jarang
(60%); 4). setiap dua benda bersentuhan memberikan contoh aplikasi konsep dalam
muncul gaya gesekan (60%); 5). pesawat kehidupan sehari-hari, guru hanya sebatas
sederhana meringankan kerja manusia, mengajar IPA berupa hafalan konsep saja.
berarti pada umumnya dengan Hal ini menyebabkan miskonsepsi pada
menggunakan pesawat sederhana gaya dan siswa semakin besar dikarenakan siswa
energi yang digunakan menjadi lebih kecil tidak dilibatkan secara aktif baik fisik
(100%); 6). cahaya merambat lurus, berarti maupun mental dalam proses pembelajaran.
cahaya tidak dapat dipantulkan oleh Selain dari siswa dan guru miskonsepsi
permukaan tembok tetapi dapat dibiaskan juga dapat terjadi pada buku-buku yang
oleh sebuah medium (85%); 7). Benda dijadikan sebagai sumber belajar siswa. Jika
dapat dilihat jika benda tersebut sebagai buku tersebut digunakan guru dan siswa
sumber cahaya atau ada cahaya dari mata sebagai sumber belajar maka guru dan siswa
yang sampai ke benda (50%); 8). cahaya tersebut akan mengalami konsepsi dan
lampu neon dapat diurai menjadi cahaya bahkan makin memperkuat miskonsepsi yang
warna pelangi, karena cahaya lampu neon sebelumnya sudah terjadi. Merujuk pada
adalah cahaya putih seperti cahaya putih penjelasan-penjelasan sebelumnya terkait
matahari (55%). Penelitian lain yang dengan berbagai faktor penyebab
miskonsepsi pada siswa, maka sudah
dilakukan oleh Hermita (2016) terhadap 40
selayaknya guru melakukan perbaikan
orang mahasiswa PGSD FKIP Universitas
sehingga miskonsepsi yang terdapat pada
Riau tentang materi listrik statis mendapati siswa tidak berkelanjutan. Adapun perbaikan
hasil yang tidak jauh berbeda, berdasarkan yang dilakukan haruslah didasarkan pada
temuan penelitian mahasiswa yang

[54]
Jurnal Bio Educatio, Volume 2, Nomor 2, Oktober 2017 , hlm. 50-58 ISSN: 2541-2280

hasil identifikasi terhadap penyebab dari Ada tiga cara yang dapat digunakan
miskonsepsi siswa itu sendiri. untuk mengetahui pengetahuan awal dan
miskonsepsi yang terdapat pada diri siswa
2. Remediasi Miskonsepsi yaitu: (1) tes diagnostik melalui tes tertulis
Sebelum melakukan perbaikan atau dan memberi alasan, (2) wawancara klinis,
remediasi miskonsepsi, hal penting yang dan (3) penyajian peta konsep. Berdasarkan
harus dilakukan oleh guru adalah dapat jawaban dan argumentasi yang
mengidentifikasi miskonsepsi yang dialami dikemukakan siswa pada lembar tes, dapat
oleh siswa. Miskonsepsi bisa terjadi karena ditelusuri pengetahuan awal dan
siswa mengalami kondisi tidak tahu atau miskonsepsi siswa serta latar belakangnya.
belum tahu konsep. Maka dalam Dalam melakukan tes diagnostik guru dapat
pelaksaanaan diagnosis harus dapat menggunakan four tier test. Four tier test
membedakan mana siswa yang tidak paham merupakan pengembangan dari three tier
konsep dengan siswa yang mengalami test yang dipadukan dengan confidence
miskonsepsi, karena ketika siswa rating pada alasan jawaban, sehingga lebih
mengalami miskonsepsi siswa meyakini akurat tingkat keyakinan atas jawaban dan
benar secara ilmiah apa yang menjadi alasan jawaban. Adapun kategori dari
pemahaman mereka, sehingga penanganan kombinasi jawaban four tier test yaitu pada
pun tepat untuk meluruskan tabel berikut.
pemahamannya.
Tabel 1
Kategori dari Kombinasi Jawaban Four Tier Test
Kategori Kombinasi Jawaban
Jawaban Confidence Alasan Confidence
Rating rating alasan
jawaban
Paham Benar Yakin Benar Yakin
Tidak Benar Yakin Benar Tidak Yakin
Paham Benar Yakin Salah Tidak Yakin
Konsep Benar Tidak Yakin Benar Yakin
Benar Tidak Yakin Benar Tidak Yakin
Benar Tidak Yakin Salah Tidak Yakin
Salah Yakin Benar Tidak yakin
Salah Yakin Salah Tidak yakin
Salah Tidak Yakin Benar Tidak yakin
Salah Tidak Yakin Salah Tidak yakin
Miskonsepsi Benar Yakin Salah Yakin
Benar Tidak Yakin Salah Yakin
Salah Yakin Salah Yakin
Salah Tidak Yakin Salah Yakin
Error Salah Yakin Benar Yakin
Salah Tidak Yakin Benar Yakin
(Hermita, dkk, 2016)

Setelah melakukan identifikasi terhadap pembelajaran, hal ini dikarenakanp proses


miskonsepsi maka data yang didapat dapat mengajar guru dan bahkan cara belajar
dijadikan acuan bagi guru untuk melakukan siswa dapat memberikan peluang terhadap
perbaikan terhadap miskonsepsi yang terjadinya miskonsepsi pada siswa. Untuk
terjadi. Proses perbaikan miskonsepsi dapat memperbaiki miskonsepsi pembelajaran
dilakukan dengan cara memperbaiki proses dapat dilakukan dengan melaksanakan
[55]
Jurnal Bio Educatio, Volume 2, Nomor 2, Oktober 2017 , hlm. 50-58 ISSN: 2541-2280

pembelajaran yang berorientasi pada mengkonstruksi pengetahuan, pentingnya


pandangan konstruktivisme. Hal ini sejalan membuat kaitan antar gagasan dalam
dengan pendapat Clough dan Wood- mengkonstruksi pengetahuan, dan
Robinson (1985) yang menyarankan supaya mengaitkan gagasan siswa dengan
pembelajaran diawali dengan menggali informasi baru di kelas. Pada pembelajaran
gagasan siswa dan mempergunakan konstruktivisme siswa dapat melakukan
gagasan tersebut sebagai batu pijakan tahap berbagai kegiatan seperti eksperimen atau
pembelajaran selanjutnya dan sebaiknya demonstrasi untuk menguji hipotesis.
pembelajaran yang dilakukan dapat Terdapat beberapa contoh model
memfasilitasi perubahan konseptual. pembelajaran yang berlandaskan
Senada dengan penjelasan sebelumnya, pandangan konstruktivisme yang dapat
hendaknya siswa juga diberi keleluasaan dijadikan sebagai salah satu alternative
mengeksplorasi gagasannya dan dalam meremediasi miskonsepsi siswa pada
mengkonstruksi pengetahunannya sendiri pembelajaran IPA. Berdasar pada hasil
melalui pengalaman nyata, sehingga belajar temuan yang dilakukan oleh Dewi (2016)
sains atau IPA merupakan proses pada penelitiannya yang berjudul
konstruktif yang mengendaki partisipasi Penerapan Strategi Predict, Discuss,
aktif siswa. Selanjutnya pembelajaran Explain, Observe, Discuss, Explain
sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri (PDEODE) untuk Meningkatkan
ilmiah (scientific inquiry) untuk Pemahaman Konsep dan Menurunkan
menumbuhkan kemampuan berpikir, Kuantitas Siswa yang Miskonsepsi pada
bekerja dan bersikap ilmiah serta Materi Perubahan Wujud Benda di Kelas V
mengkomunikasikannya sebagai aspek MI terbukti bahwa setelah diterapkannya
penting kecakapan hidup. Pemberian pembelajaran dengan menggunakan strategi
pengalaman langsung dengan cara inkuiri PDEODE siswa yang mengalami
kritis ini, diharapkan dapat membantu miskonsepsi, tidak paham konsep, dan
siswa untuk memperoleh pemahaman yang menebak mengalami penurunan. Hal ini
lebih mendalam tentang alam sekitar. menunjukan bahwa penerapan strategi
Dengan kegiatan tersebut, diharapkan PDEODE merupakan alternative
pembelajaran menjadi sebuah proses pembelajaran yang dapat digunakan untuk
bermakna bagi siswa. Dengan demikian, menurunkan kuantitas miskonsepsi dan
peran guru berubah dari sumber dan memperluas konsep bagi yang tidak paham
pemberi informasi menjadi pendiagnosis konsep atau yang menebak konsep.
dan fasilitator belajar siswa. Merujuk pada penjelasan sebelumnya dapat
Terdapat berbagai metode atau model dijelaskan bahwa Strategi PDEODE
pembelajaran yang mengadopsi persfektif merupakan strategi pembelajaran yang
konstruktivisme yang memandang belajar berlandasakan pada pandangan
merupakan proses perubahan konsepsi. konstruktivisme. Pada pelaksananaannya
Menurut Rustaman pembelajaran yang model ini lebih menekankan aktivitas siswa
berorientasi pada pandangan untuk dapat menemukan sendiri
konstruktivime memiliki empat kegiatan pengetahuannya dengan cara melakukan
inti yaitu pembelajaran konstruktivisme sebuah pengamatan melalui kegiatan
berkaitan dengan pengetahuan awal, memprediksi, mengobservasi, diskusi, dan
adanya pengalaman nyata, terjadi interaksi menerangkan sesuatu hasil dari pengamatan
sosial, dan membentuk kepekaan siswa yang telah dilakukan. Tidak berbeda dari
terhadap lingkungan (2005: 171). Lebih penelitian sebelumnya, penelitian lain yang
lanjut Tasker (dalam Samatowa, 2010: 57) dilakukan oleh Taufiq (2012) menerapkan
menjelaskan bahwa para prakteknya model learning cycle 5E yang juga
pembelajaran konstruktivisme menitik berorientasi pada pandangan
beratkan pada peran aktif siswa dalam konstruktivisme, dengan judul remediasi

[56]
Jurnal Bio Educatio, Volume 2, Nomor 2, Oktober 2017 , hlm. 50-58 ISSN: 2541-2280

miskonsepsi mahasiswa calon guru fisika (PDEODE) untuk Meningkatkan


pada konsep gaya melalui model learning Pemahaman Konsep dan
cycle 5E membuktikan bahwa Menurunkan Kuantitas Siswa yang
Implementasi model learning cycle 5E Miskonsepsi pada Materi
mampu menurunkan proporsi siswa yang Perubahan Wujud Benda di Kelas
mengalami miskonsepsi pada konsep gaya, V MI. Tesis, Program Studi
yakni dari 46% menjadi 2,8%. Hal ini Pendidikan Dasar Universitas
menunjukkan bahwa model pembelajaran Pendidikan Indonesia. Tidak
learning cycle 5E efektif untuk diterbitkan.
meningkatkan proporsi penurunan jumlah Harlen, W. (2004). The teaching of science.
siswa yang mengalami miskonsepsi. London: David Fulton Publisher.
Beberapa penelitian di atas
menggunakan model yang berbeda satu
Hermita, dkk. (2016). Identifikasi
dengan lainnya, walaupun setiap model
tersebut memiliki kekhasannya masing- miskonsepsi pada materi listrik statis
masing pada dasarnya memiliki tujuan pada mahasiswa calon guru sekolah
yang sama yaitu mengembangkan dasar. Prosiding seminar nasional
kemampuan siswa untuk membangun pendidikan dasar, Vol. 1, hlm 335-
pengetahuannya sendiri sehingga siswa 338.
dapat terhindar dari miskonsepsi.
Kirbulut, Zubeyde Demet. (2014). Using
SIMPULAN Three-Tier Diagnostic Test to Assess
Miskonsepsi merujuk pada suatu konsep Students’ Misconceptions of States of
yang tidak sesuai dengan pengertian ilmiah Matter. Eurasia Journal of
yang diterima oleh para ahli. Ada begitu Mathematics, Science & Technology
banyak hal yang menjadi factor penyebab
Education. Vol. 10, No. 5, pp. 509-
terjadinya miskosepsi yang dialami oleh
siswa diantanya adalah pengetahuan awal 521.
(prakonsepsi) yang dimiliki oleh siswa itu Morroco, et. al. (2008). Supported Literacy
sendiri, guru, atau pembelajaran yang for Adolescements : Transforming
dilakukan oleh guru. Permasalahan Teaching and Content Learning for
miskonsepsi ini tidaklah mudah untuk the 21 st Century. Education
diselesaikan. Berdasarkan kondisi tersebut Development Center All Right
sangat penting untuk dilakukan remediasi Resrved: Published by Jossy-Bass
dengan melaksanakan pembelajaran yang Munawaroh, F & Falahi, D.M. (2016).
lebih menantang dan mengajak siswa untuk Identifikasi miskonsepsi siswa SDN
mengkonstruksi pengetahuan baru melalui
Kemayoran I Bangkalan pada konsep
pengalaman belajar yang tepat.
cahaya menggunakan CRI (Certainty
DAFTAR PUSTAKA of response Index). Jurnal Pena
Arends. (2008). Learning to Teach. sains, 3 (1), hlm. 69-76.
Yogyakarta: Pustaka Belajar. Pesman. (2005). Development Of A Three-
Clara, dkk. (2013). Miskonsepsi Siswa Tier Test To Assess Ninth Grade
Kelas Rangkap SDN 47 Sekadau Students’Misconceptions About
pada Materi Sifat & Perubahan Simple Electric Circuits [Tesis, 2005,
Wujud Benda. Middle East Technical University,
Tidak diterbitkan]
Dewi, Suci Zakiah. (2016). Penerapan
Strategi Predict, Discuss, Explain, Pujayanto. (2007). Miskonsepsi IPA
Observe, Discuss, Explain (Fisika) pada guru SD. Jurnal

[57]
Jurnal Bio Educatio, Volume 2, Nomor 2, Oktober 2017 , hlm. 50-58 ISSN: 2541-2280

Materi dan Pembelajaran Fisika Suparno, Paul. (2013). Miskonsepsi dan


(JMPF), 1 (1), hlm. 22-28. Perubahan Konsep dalam
Rustaman, N. (2005). Strategi belajar Pendidikan Fisika. Jakarta:
mengajar biologi. Malang: UM PT.Grasindo
Press. Taufiq, M. (2012). Remediasi Miskonsepsi
Samatowa, U. (2010). Pembelajaran IPA di Mahasiswa Calon Guru Fisika
Sekolah Dasar. Jakarta: PT Indeks. Pada Konsep Gaya Melalui Model
Learning Cycle 5E. Jurnal
Suparno, Paul. (2005). Miskonsepsi dan
Pendidikan IPA Indonesia, 1(2),
Perubahan Konsep dalam
hlm. 198-203
Pendidikan Fisika. Jakarta:
Grasindo

[58]