Anda di halaman 1dari 4

Melihat Kembali Pelayanan Kesehatan yang Berorientasi pada Nilai

Andreasta Meliala1

“People at the heart of health services in peace and crisis” adalah tema dari International Hospital
Federation (IHF) World Congress ke 43, yang berlangsung di Muscat, Oman. Terdapat kata kunci
penting dalam tema tersebut, yaitu: people dan heart of service, serta peace and crisis. Pemilihan
tema ini didasarkan pada beberapa report yang mengatakan bahwa pelayanan kesehatan saat ini
cenderung semakin business-oriented dan menggunakan nilai-nilai mass-industry, serta dirasakan
semakin meninggalkan aspek people sebagai subyek dari pelayanan kesehatan.

Pada sisi lain, pelayanan kesehatan yang memandang manusia sebagai subyek pelayanan,
ternyata memiliki nilai-nilai yang berbeda ketika pelayanan tersebut dijalankan pada saat aman dan
damai, dibandingkan dengan ketika pelayanan dilaksanakan pada saat krisis (perang atau
bencana). Secara prinsip, pelayanan kesehatan pada saat damai maupun krisis, seharusnya tidak
boleh melepaskan nilai-nilai kemanusiaan dan tetap memandang manusia sebagai inti dari
pelayanan kesehatan.

Definisi dan konsep “value” dalam dunia pelayanan kesehatan

Value dalam pelayanan kesehatan, menurut Michael E. Porter (2010) 2 adalah outcome pelayanan yang
didapatkan oleh pasien untuk setiap uang (biaya) yang dihabiskan untuk membiayai pelayanan tersebut.
Value, menurut sudut pandang pasien dan keluarganya, seharusnya menjadi acuan utama rumah sakit
dalam menjalankan pelayanan. Value ini pula yang menjadi acuan pembayar (asuransi) dan regulator,
agar semua aktor dalam sistem pelayanan kesehatan terikat dalam satu kepentingan yang sama.

Value walaupun telah lama dipahami sebagai hal yang sangat mendasari pelayanan kesehatan, ternyata
masih sulit untuk dikuantifikasi. Padahal seharusnya, value sangat penting untuk diukur secara langsung,
oleh karena profitabilitas (sebagai nilai utama dalam industri) tidak dapat dijadikan ukuran dalam dunia
pelayanan kesehatan.

Manajer pelayanan kesehatan sering menterjemahkan value sebagai kualitas. Kualitas juga dipandang
sebagai istilah yang menjembatani nilai-nilai pasien dengan nilai-nilai manajerial, terutama pada konteks
rumah sakit. Pada prakteknya, kualitas juga menjadi isitilah yang sulit untuk didefinisikan. IOM mencoba
membuat konsep “kualitas” dengan membaginya menjadi 6 elemen (yang terkadang tidak mudah
dipahami), yaitu: safety, effectiveness, patient-centeredness, timelines, efficiency, dan equity. Masing-
masing elemen tersebut memerlukan pemahaman yang mendalam, sebelum diterjemahkan menjadi
dimensi mutu pada sebuah organisasi pelayanan kesehatan.

The failures to adopt value as the central goal in health care and to measure value are arguably
the most serious failures of the medical community.

1
Pengelola Magister Manajemen Rumahsakit, FKKMK, UGM

2
Porter ME. 2010. What is value in health care? N Engl J Med 2010; 363:2477-81 (10.1056/NEJMp1011024).

1
A. Apakah benar pelayanan kesehatan semakin berorientasi pada bisnis?
Menyatakan bahwa pelayanan kesehatan semakin berorientasi pada bisnis dan semakin
meninggalkan nilai-nilai yang mengedepankan kemanusiaan, bukanlah hal yang mudah. Bahwa
pelayanan kesehatan semakin mengarah pada nilai-nilai bisnis, mungkin mudah untuk dipahami.
Tetapi apakah arah tersebut yang menjadi penyebab ditinggalkannya nilai-nilai kemanusiaan,
jawabannya masih memerlukan telaah yang lebih dalam.
Contoh klasik untuk menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan cenderung telah menjadi industri
besar adalah kasus “healthcare business” di US. Berbagai bahan bacaan menggambarkan
bagaimana pelayanan kesehatan di US berubah menjadi industri yang berkembang dengan cepat
sejak 40 tahun terakhir. Pembiayaan kesehatan yang sangat besar menjadikan dunia pelayanan
kesehatan sebagai tempat investasi yang menarik bagi sektor swasta yang dikendalikan sepenuhnya
oleh para entrepreneur.
Pelayanan kesehatan di US adalah salah satu pelayanan kesehatan yang paling maju di dunia.
Teknologi kedokteran yang dipergunakan oleh dokter terbaik di dunia merupakan keunggulan yang
tidak banyak dimiliki oleh negara-negara lain. Perkembangan ini dilandasi oleh “keinginan’ dunia
kedokteran untuk memberikan treatment yang terbaik bagi pasien.
Pada sisi lain, biaya yang dikeluarkan untuk mengembangkan teknologi kedokteran ternyata sangat
besar. Biaya investasi ini akan dikembalikan melalui penggunaan teknologi tersebut oleh pasien.
Kemudian timbul pertanyaan, apakah teknologi yang mahal tersebut memberikan dampak yang positif
bagi masyarakat?
Kenyataannya, belanja kesehatan di US yang menghabiskan lebih dari 25% per capita hasilnya tidak
seperti yang dibayangkan. Berikut adalah capaian status kesehatan di US, dimana US menempati
ranking 42 untuk Usia Harapan Hidup, rangking 46 untuk maternal mortality, dan rangking 55 untuk
infant mortality, dibandingkan dengan negara-negara maju lainnya. Sebuah studi pada tahun 2014
bahkan menempatkan pelayanan kesehatan di US pada urutan terakhir untuk kualitas dan efisiensi,
diantara 11 negara maju yang dinilai.3
Gambaran “Bisnis” Pelayanan Kesehatan di US4
1. Setiap USD$1 dari USD$6 yang dikeluarkan rakyat USA dibelanjakan untuk pelayanan
kesehatan
2. Healthcare spending di US bergerak dari $2.8 Trillion (2012) menjadi $3.5 Trillion (2016),
suatu kenaikan yang luar biasa dan sulit untuk dibandingkan dengan outcome yang
dihasilkan. Pada situasi ini, maka pada tahun 2025, diperkirakan 25% dari GDP USA akan
dibelanjakan untuk pelayanan kesehatan.
3. Kebangkrutan yang terjadi di US, sebanyak 60% berhubungan dengan besarnya
pengeluaran kesehatan. Ironisnya, 75% dari kebangkrutan akibat pelayanan kesehatan
tersebut dialami oleh individu yang memiliki asuransi kesehatan.
4. Pada tahun 2016, sebanyak 2,7 juta rakyat US tidak lagi sanggup membeli premi asuransi
5. Menggembungnya industrialisasi pelayanan kesehatan di US juga ditunjang dengan adanya
lobbyist di tingkat Kongres. Terdapat 1.564 lobbyist yang siap mengadvokasi semua
member Kongres. Jika dirasiokan, terdapat 3 lobbyist untuk setiap 1 anggota Kongres.

3 Guss, DA. 2018. Medicine: Nobele profession or big business. https://www.kevinmd.com/blog/2018/11/medicine-noble-


profession-or-big-business.html
4 Hammer, R. 2013. Healthcare is big business and the most wasteful. https://getreferralmd.com/2013/12/healthcare-big-

business/

2
Penyebab besarnya biaya pelayanan kesehatan tidak ditimbulkan oleh satu faktor saja. Kompleksitas
ekosistem pelayanan kesehatan menyulitkan ada analis untuk mencari kambing hitam dari
membengkaknya biaya pelayanan kesehatan. Namun perubahan konsep pelayanan dari profesi
individual menjadi organisasi bisnis ditengarai sebagai penyebab yang utama.
Perubahan yang bertujuan untuk meningkatkan akses dan efisiensi ini, ternyata mengalami deviasi
oleh karena entitas bisnis selalu memerlukan profit. Profit didapatkan dari besarnya utilisasi semua
sumber daya dan biaya utilisasi tersebut, ditambah dengan margin, akan dibayar oleh pasien (dan
pembayar). Tidak semua sumberdaya diperlukan oleh pasien, namun oleh karena tuntutan untuk
menghasilkan profit, maka terjadi supplier-induced demand.

Salah satu ciri dari healthcare industry di US adalah hubungan dokter dengan industri pelayanan
kesehatan. Sebanyak 65% pasien di US mengamati ada kecenderungan terjadinya conflict of interest
dalam pelayanan dokter kepada pasien oleh karena hubungan tersebut. Dampak bagi pasien adalah
adanya advis dokter yang berlebihan, peresepan obat mahal yang berhubungan dengan pemberian
gift dan grant (dari perusahaan farmasi kepada dokter), dan sebagainya.5
Dampak tersebut menjadi salah satu tanda bahwa pelayanan kesehatan mulai cenderung
meninggalkan value dari aspek kemanusiaan dan mengarah pada kentalnya nilai-nilai bisnis. Liz
Seegert (2017), dalam majalah Forbes, menggambarkan bahwa dokter, rumah sakit, asuransi
komersial, dan perusahaan farmasi, telah terjebak dalam “hubungan bisnis” yang kompleks. Pendapat
ini menambah kejelasan arah industrialisasi pelayanan kesehatan6.

B. Pelayanan Kesehatan di Area Krisis


Konflik dan bencana terjadi semakin sering dengan tingkat kerusakan yang semakin besar.
Terjadinya konflik dan bencanatidak mudah diprediksi kapan terjadinya, seberapa besar kerusakan
yang akan terjadi, serta menimbulkan korban jiwa7.

Konflik dan bencana yang terjadi di berbagai belahan dunia menyebabkan timbulnya masalah
kesehatan. Selain itu, pada setiap konflik dan bencana yang terjadi, banyak fasilitas pelayanan
kesehatan, bahkan SDM Kesehatan yang menjadi korban. Akibatnya pelayanan kesehatan tidak
dapat diselenggarakan dan masyarakat tidak dapat mengakses pelayanan pada saat yang sangat
kritis8.
Rumah sakit memiliki tanggung jawab yang besar jika terjadi bencana dan diharapkan dapat terus
memberikan pelayanan, walapun rumah sakit menjadi korban dari bencana itu sendiri. Respon

5 Rose, SL., et al. 2019. Patient responses to physician disclosures of industry conflicts of interest: A randomized field
experiment. Organizational Behavior and Human Decision Processes. https://doi.org/10.1016/j.obhdp.2019.03.005
6 Seegert, L. 2017. How We Can Take Back Health Care From Big Business.

https://www.forbes.com/sites/nextavenue/2017/05/12/

7
Mao, X., et al. 2019. What it takes to be resilient: The views of disaster healthcare rescuers. International Journal
of Disaster Risk Reduction Volume 36, May 2019, 101112

8
Thobaity AA., et ak. 2019. Exploring the necessary disaster plan components in Saudi Arabian hospitals.
International Journal of Disaster Risk Reduction 41 (2019) 101316

3
cepat dari rumah sakit untuk melakukan pembenahan diri dan melanjutkan pelayanan, menjadi
salah satu kunci penting ketika terjadi bencana9.
Salah satu hal yang sering terlupakan dalam menjalankan pelayanan kesehatan dimasa krisis
adalah nilai-nilai kemanusiaan dan kedudukan rumah sakit yang netral ketika terjadi peperangan.
Ketika terjadi perang di Suriah, 50% rumah sakit ikut dihancurkan dan semua fasilitas, terutama
mobil ambulance, menjadi sasaran yang paling sering dirusak. Konvensi yang melindungi fasilitas
pelayanan kesehatan dari ancaman perang semakin tidak dipatuhi.
Pada keadaan normal sekalipun, sebenarnya rumah sakit telah mengalami keterbatasan untuk
melayani pasien. Ketika terjadi konflik, dimana jumlah rumah sakit dan SDM Kesehatan berkurang
drastis, dan jumlah pasien meningkat pesat, maka kapabilitas dan kapasitas rumah sakit semakin
menurun.
Berkurangnya jumlah rumah sakit pada saat perang, diikuti oleh semakin banyaknya kebutuhan
akan pelayanan oleh karena semakin banyaknya korban peperangan. Situasi ini semakin banyak
terlihat di area-area konflik dan semakin tidak ditemukan solusi cepat bagi rumah sakit untuk tetap
dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Pengambil kebijakan dan ahli manajemen rumah sakit sangat diharapkan memberikan solusi yang
praktis dan efisien, agar pelayanan kesehatan di area krisis dapat tetap berlangsung dengan prinsip-
prinsip kemanusiaan yang sama dengan pelayanan rumah sakit di area normal.

Muscat, 6 November 2019

9
Shabanikiya, H., et al. 2019. Developing a practical toolkit for evaluating hospital preparedness for surge capacity
in disasters. International Journal of Disaster Risk Reduction 34 (2019) 423–428