Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Apendiks atau yang disebut juga dengan umbai cacing meupakan

bagian dari organ pencernaan yang sampai saat ini belum diketahui

fungsinya. Meskipun demikian tidak sedikit kasus kesehatan yang

disebabkan karena apendiks. Jika apendiks tidak ditangani dengan

segera bisa berdampak lebih buruk (Sjamsuhidajat & De Jong,2011).

Apendiks atau infeksi apendiks adalah penyakit yang jarang mereda

dengan cepat, tetapi penyakit ini tidak dapat diramalkan dan mempunyai

kecenderungan menjadi progresif dan mengalami perforasi. Karena

perforasi jarang terjadi 8 jam pertama, observasi aman untuk dilakukan

dalam masa tersubut. Tanda-tanda terjadinya perforasi meliputi

meningkatnya nyeri, sasme atau abses yang terlokalisasi, ileus, demam,

malaise, dan leukositosis semakin jelas. Bila perforasi dengan peritonitis

umum atau pembentukan abses telah terjadi sejak pasien pertama kali

dating, diagnosid dapat ditegakkan dengan pasti (Mansjor, 2012).

Tindakan pengobatan teradap Apendiks salah satunya dapat di

lakukan dengan cara operasi (pembedahan). Operasi Apendiks

dikeluarkan dengan cara Appendiktomy yang merupakan suatu tindakan

pembedahan membuang Apendiks. (Price, 2006)

(PDFhttps://publikasi.unitri.ac.id, 2017 & di akses pada tanggal 01 februari

1
2019). Permasalahan yang mungkin timbul setelah dilakukan tindakan

pembedahan antara lain : nyeri, keterbatasan aktivitas, gangguan

keseimbangan cairan dan elektrolit, kecemasan potensial terjadinya

infeksi (Doenges, 2000) (PDFhttps://publikasi.unitri.ac.id, 2017 & di akses

pada tanggal 31 Januari 2019).

Pemulihan pasien Post operasi membutuhkan waktu rata-rata 72,45

menit, sehingga pasien akan merasakan nyeri yang hebat rata-rata pada

dua jam pertama sesudah operasi karena pengaruh anastesi sudah

hilang, dan pasien keluar kamar sadar (Mulyono, 2008) (IPI PENGARUH

TEKNIK GENGGAM JARI id.portalgaruda.org, 2012 & di akses pada

tanggal 31 Januari 2019).

Angka kejadian appendicitis cukup tinggi di dunia. Berdasarkan

Word Health OrganisationI (2010) yang dikutip oleh Naulibasa (2011),

angka mortalitas appendicitis adalah 21.000 jiwa, di mana poulasi laki-laki

dan sekitar 10.000 jiwa pada perempuan. Di Amerika Serikat terdapat

70.000 kasus appendicitis setuap tahunnya. Kejadian appendicitis di

Amerika Serikat memiliki insiden 1-2 kasus per 10.000 anak pertahunnya

antara kelahiran sampai umur 4 tahun. Kejadian appendicitis meningkat

25 kasus per 10.000 anak pertahunnya antara 10-17 tahun di Amerika

Serikat. Apabila dirata-rata appendicitis 1,1 kasus per 1000 orang

pertahun di Amerika Serikat.

2
Survey di 12 Provinsi di Indonesia tahun 2008 menunjukkan jumlah

penduduk appendisitis yang dirawat di Rumah sakit sebanyak 3251 kasus.

Jumlah ini meningkat drastic dibandingkan dengan tahun sebelumnya,

yaitu sebanyak 1.236 orang. Tahun 2009 tercatat 2.159 orang di Jakarta

yang dirawat di rumah sakit akibat appendisits. Departemen Kesehatan

Republik Indonesia menganggap appendicitis merupakan su prioritas

kesehatan di tingkat local dan nasional karena mempunyai dampak besar

pada kesehatan masyarakat (Setyaningrum, 2013).

Jumlah kasus appendicitis menurut Dinas Kesehatan Sulawesi

Tenggara pada tahun 2017, dilaporkan sebanyak 980 dan 77 diantaranya

menyebabkan kematian. Jumlah penderita appendicitis tertinggi ada di

Kota Kendari, yaitu 371 orang (Dinas Kesehatan Sulawesi Tenggara,

2017).

Dari data RSUD Kota Kendari menunjukan penderita appendicitis

pada tahun 2016 sebanyak 334 orang, kemudian pada tahun 2017

sebanyak 398 orang, dan pada tahun 2018 menunjukkan penderita pasien

appendicitis sebanyak 302 orang (Rekam Medik dan SIRS RSUD Kota

Kendari, 2018).

Berdasarkan survey pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti di

Ruang Melati RSUD Kota Kendari pada tanggal 31 Januari 2019, peneliti

mendapatkan informasi bahwa dari 5 orang yang baru mengalami operasi

appendicitis mengatakan nyeri dengan intensitas 5 sebanyak dua orang

3
dan intensitas nyeri pasien yang lain menunjukan intensitas nyeri 7 dan 8

pada daerah pada hari kedua sampai hari ketiga pasca pembedahan.

Beberapa penelitian telah menunjukan bahwa meskipun nyeri telah

dikelola dengan baik, kira-kira 70% pasien yang mengalami nyeri akut

sedang berlanjut menjadi nyeri akut hebat setelah dua hari pasca bedah

(Owen, McMilan, & Rogowski, 1995, dalam Fink, 2006). Selain itu juga,

survey mengidentifikasi bahwa lebih dari 86% pasien mengalami nyeri

sedang ke nyeri hebat pasca gynecology, meskipun analgesic

ditingkatkan (Mukherji & Rudra, 2006) dan dapat menyebabkan efek

samping yang dapat menimbulkan dampak fisiologis terhadap system

organ dan psikologi pasien (Black & Hawks, 2014) (analisis faktor-faktor

yang mempengaruhi nyeri pasca bedah, PDFhttps://media.neliti.com,

2013, dan diakses pada tanggal 31 Januari 2019).

Dari penjelasan di atas peneliti sangat tertarik untuk meneliti lebih

lanjut tentang “Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Nyeri Pada

Pasien Post Operasi Appendisitis Di RSUD Kota Kendari”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut di atas, maka rumusan

masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Apakah ada hubungan Ansietas dengan kejadian nyeri pada pasien

Post operasi Appendisitis di RSUD Kota Kendari ?

4
2. Apakah ada hubungan Kualitas Tidur dengan kejadian nyeri pada

pasien Post operasi Appendisitis di RSUD Kota Kendari ?

3. Apakah ada hubungan Lingkungan dengan kejadian nyeri pada

pasien Post operasi Appendisitis di RSUD Kota Kendari ?

C. Tujuan Penlitian

1. Tujuan umum

Untuk mengetahui Faktor-faktor yang berhubungan dengan

Nyeri pada pasien Post Operasi Appendicitis di RSUD Kota

Kendari.

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui hubungan Ansietas dengan kejadian nyeri

pada pasien Post operasi Appendisitis di RSUD Kota Kendari.

b. Untuk mengetahui hubungan Kualitas Tidur dengan kejadian

nyeri pada pasien Post operasi Appendisitis di RSUD Kota

Kendari.

c. Untuk mengetahui hubungan Lingkungan dengan kejadian nyeri

pada pasien Post operasi Appendisitis di RSUD Kota Kendari.

D. Manfaat penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat yaitu :

1. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan dan referensi bagi

peneliti selanjutnya dalam melakukan penelitian yang berkaitan

dengan topic permasalahan yang sama.

5
2. Manfaat Teoritis

a. Hasil penelitian ini dapat menjadi sumber bacaan dalam

menambah pengetahuan dan referensi di bidang ilmu

keseatan tentang Nyeri Post Operasi Appendisitis.

b. Hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi perkembangan

dalam menentukan intensitas nyeri pada pasien Post

Operasi Appendisitis.

6
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Ruma Sakit

1. Definisi Rumah Sakit

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun

2009 tentang rumah sakit, ruma sakit adalah insitusi pelayanan

kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan

perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat

inap, rawat jalan, dan gawat darurat.

Rumah sakit adalah bagian dari integral dari keseluruhan

system sv kesehatan yang dikembangkan mealui rencana

pembangunan Kesehatan Nasional dan repelita dibidang kesehatan

serta peraturan perundang-undangan.

Menurut peraturan Menteri Kesehatan Tahun 1988 No.

15b/Men-Kes/Kes/II/1988 Bab II pasal tiga dinyatakan bahwa:

a. Rumah sakit dapat dimiliki dan diselenggarakan oleh pemerinta

dan swasta,

b. Rumah sakit pemerintah dimiliki dan diselenggarakan oleh :

Departemen Kesehatan, Pemerintah Daerah, ABRI, Badan

Usaha Milik Negara,

c. Rumah sakit swasta dimiliki dan diselenggarakan oleh : yayasan

dan badan hukum lain yang bersifat social.

7
2. Tugas dan Fungsi Rumah Sakit

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44

Tahun 2009 tentang rumah sakit, rumah sakit mempunyai tugas

memberikan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna.

Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 tahun

2009, rumah sakit mempunyai fungsi :

a. Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan

kesehatan sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit.

b. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatn perorangan melalui

pelayanan kesehatan paripurna.

c. Penyelenggaraan pendidikan danpelatihan sumber daya

manusia dalam rangka peningkatan kemampuan dalam

pemberian pelayanan kesehatan.

d. Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta

penapian teknologi bidang kesehatan dalam rangka

peningkatan pelayanan kesehatan dengan memperhatikan

etika ilmu pengetahuan bidang kesehatan.

3. Struktur Organisasi Rumah Sakit

Struktur organisasi rumah sakit umumnya terdiri atas bedan

pengurus yayasan, dewan Pembina, dewan penasehat, dewan

penyantun, badan penyelenggara. Badan penyelenggara terdiri

atas direktur, komite medic satuan pengawas dan berbagai bagian

8
dari instaasi. Sebuah rumah sakit bisa memiliki lebih dari seorang

wakil direktur, tergantung pada besarnya rumah sakit.

Wakil direktur pada umumnya terdiri atas wakil direktur

pelayanan medic, wakil direktur penunjang medic dan keperawatan,

serta wakil direktur keuangan dan administrasi. Staf Medik

Funsional (SMF) berada di bawah koordinasi komite medic. SMF

terdiri atas dokter umum, dokter gigi dan dokter spesialis dari

semua disiplin yang ada di suatu rumah sakit.

B. Konsep Dasar Appendisistis

1. Definisi Appendisitis

Appendisitis adalah peradangan aibat infeksi pada usus buntu

atau umbai cacing (apendiks). Usus buntu sebenarnya adalah sekum

(cecum). Infeksi ini bisa mengakibatkan peradangan akut sehingga

memerlukan tindakan bedah segera untuk mencegah komplikasi

yang umumnya berbahaya (Nurarif dan Kusuma, 2015).

Appendicitis merupakan penyebab yang paling umum dari

inflamasi akut kuadran kanan bawah abdomen dan penyebab yang

paling umum dari pembedahan abdomen darurat. Pria lebih banyak

terkena daripada wanita, remaja lebih banyak dari orang dewasa;

insiden tertinggi adalah mereka yang berusia 10 sampai 30 tahun

(Baughman dan Hackley, 2016).

9
2. Klasifikasi

Menurut Nurarif dan Kusuma (2015), Aapendisitis

diklasifikasikan menjadi 3 yaitu :

a. Appendisitis akut

Appendicitis akut merupakan infeksi yang disebabkan

oleh bacteria, dan faktor pencetusnya disebabkan oleh sumbatan

lumen apendiks. Selain itu hyperplasia jaringan limf, fikalit

((tinja/batu), tumor apendiks dan cacing askari yang dapat

menyebabkan sumbatan dan juga erosi mukosa apendiks karena

parasit (E. histolycita).

b. Appendicitis rekurans

Appendicitis kronis memiliki semua gejala riwayat nyeri

perut kanan bawah lebih dari 2 minggu, radang kronik apendiks

secara makroskopik dan mikroskopik (fibrosis enyeuruh di

dinding apendiks, sumbatan parsial atau umen apendiks, adanya

jaringan paru dan ulkus lama dimukosa dan infiltasi sel inflamasi

kronik), dan keluhan menghilang setelah apendiktomi.

Sedangkan menurut Sjamsuhidayat dan De Jong W (2011),

appendicitis dikalasifikasikan menjadi 2 yaitu:

a. Appendicitis akut

Appendicitis akut sering tampil dengan gejala khas yang

didasari oleh radang mendadak umbai cacing yang memberikan

10
tanda setempat, disertai maupun tidak disertai rangsangan

peritoneum local. Gejala appendicitis akut nyeri samar-samar dan

tumpul yang merupakan nyeri visceral didaerah epigastrium

disekitar umbilicus. Keuhan ini sering disertai mual dan kadang

muntah. Umumnya nafsu makan menurun. Dalam beberapa jam

nyeri akan berpindah ketitik mcBurney. Disini nyeri dirasakan lebih

tajam dan lebih jelas letaknya sehingga merupakan nyeri somatic

setempat.

b. Appendicitis kronis

Diagnosis appendicitis kronis baru dapat ditegakkan jika

ditemukan adanya riwayat nyeri perut kanan bawah lebih dari 2

minggu, raang kronik apendiks secara makroskopik appendicitis

kronik adalalh fibrosis menyeluruh dinding apendiks, adanya

jaringan parut dan ulkus lama dimukosa dan adanya sel infamasi

kronik. Insiden appendicitis kronik antara 1-5%.

3. Manifestasi klinis

Menurut Baughman dan Hackley (2016), manifestasi

klinis apendisitis meliputi:

a. Nyeri kuadran bawah biasanya disertai dengan demam

derajat rendah, mual dan seringkali muntah.

b. Pada titik McBurney (terletak dipertengahan antara umbilicus

dan spina anterior dari ilium) nyeri tekan setempat karena

tekanan dan sedikit kaku dari bagian bawah otot rektus kanan.

11
c. Nyeri alih mungkin saja ada, letak apendiks mengakibatkan

sejumlah nyeri tekan, spasm otot, dan konstipasi atau diare

kambuhan.

d. Tanda rovsing (dapat diketahui dengan mempalpasi kuadran

kanan bawah, yang menyebabkan nyeri pada kuadran kiri bawah

e. Jika terjadi rupture apendiks, maka nyeri akan menjadi

lebih melebar; terjadi distensi abdomen akibat ileus paralitik dan

kondisi memburuk.

Sedangkan menurut Grace dan Borley (2014), manifestasi klinis

apendisitis meliputi :

a. Nyeri abdomen periumbilikal, mual, muntah

b. Lokalisasi nyeri menuju fosa iliaka kanan.

c. Pereksia ringan.

d. Pasien menjadi kemerahan, takikardi, lidah berselaput, halitosis.

e. Nyeri tekan (biasanya saat lepas) di sepanjang titik McBurney).

f. Nyeri tekan pelvis sisi kanan pada pemeriksaan per rektal.

g. Peritonitis jika apendiks mengalami perforasi

h. Masa apendiks jika pasien datang terlampat.

4. Patofisiologi

Appendicitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan

lumen apendiks oleh hyperplasia folikel limfoid, fekalit, benda asing,

striktutur karena fibrosis akibat perdangan sebelumnya, atau

neoplasma. Obtruksi tersebut menyebabkan mucus yang diproduksi

12
mukosa mengalami bendungan. Makin lama mucus tersebut makin

banyak, namun elastisitas dindidng apendiks mempinyai

keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan tekanan

intralumen. Tekanan yang meningkat tersebut akan menghambat

aliran limfe yang mengakibatkan edema, diapedesis bakteri, dan

ulsera mukosa. Pada saat inilah terjadi appendicitis akut fokal yang

ditandai oleh nyeri epigastrium. Apabila sekresi mucus terus

berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal terseubut akan

menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri akan

menembus dinding. Peradangan yang timbul meluas dan mengenai

peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri di daerah kanan

bawah. Keadaan ini disebut dengan appendicitis supuraktif akut.

Apabila kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark dinding

apendiks yang di ikuti dengan gengrem. Stadium disebut dengan

appendicitis gangrenosa. Bila dinidng yang rapuh itu pecah, akan

terjadi appendicitis perforasi. Bila proses di atas berjalan lambat,

omentum dan usus yang berdekatan akan bergerak kea rah

apendiks hingga timbul suatu massa local yang disebut infitrat

apendikuaris. Oleh karena itu tindakan yang paling tepat adalah

apendiktomi, jika tidak dilakukan tindakan segera mungkin maka

peradangan apendiks tersebut dapat menjadi abses atau

menghilang (Mansjoer, 2012).

13
5. Pemeriksaan penunjang

Menurut Nurarif dan Kusuma (2015) pemeriksaan penunjang

meliputi :

a. Pemeriksaan fisik

 Inspeksi : akan tampak adanya pembengkakan (swelling)

rongga perut di mana dinding perut tampak mengencng

distensi).

 Palpasi : didaerah perut kanan baah bila ditekan akan terasa

nyeri dan bila tekanan dilepas juga akan terasa nyeri

(Blumberg sign) yang mana merupakan kunci dari diagnosis

appendicitis akut.

 Dengan tindakan tungkai kanan dan paha ditekuk kuat /

tungkai di angkat tingi-tingi, maka rasa nyeri di perut semakin

parah psoas sign).

 Kecurigaan adanya peradangan usus buntu semakin

bertambah bila pemeriksaan dubur dan atau vagina

menimbulkan rasa nyeri juga.

 Suhu dubur (rectal) yang lebih tinggi dari suhu ketiak (axilla),

lebih menunjang lagi adanya radang usus buntu.

 Pada apendiks terletak pada retro sekal maka uji Psoas akan

positif dan tanda perangsangan peritoneum akan lebih

menonjol.

14
b. Pemeriksaan Laboratorium

Kenaikan dari sel darah putih (leukosit) hingga sekitar 10.000-

18.00/mm3. Jika terjadi peningkatan yang lebih dari itu, maka

emungkinan apendiks sudah mengalami perforasi (pecah).

c. Pemeriksaan radiologi

- Foto polos perut dapat memperlihatkan adanya fekalit (jarang

membantu).

- Ultrasonografi USG). CT scan.

6. Komplikasi

Komplikasi yang terjadi pasca operasi menurut Mansjoer (2012) :

a. Perforasi apendiks

Perforasi adalah pecahnya appendiks yang berisi pus sehingga

bakteri menyebar ke rongga perut. Perforasi jarang terjadi dalam

12 jam pertama sejak awal sakit, tetapi meningkat tajam sesudah

24 jam. Perforasi dapat diketahui praoperatif pada 70% kasus

dengan gambaran klinis yang timbul dari 36 jam sejak sakit,

panas lebih dari 38,5 derajat celcius, tampak toksik, nyeri tekan

seluruh perut dan leukositisis. Perforasi dapat menyebabkan

peritonitis.

b. Peritonitis

Peritonitis adalah peradangan peritoneum, merupakan

komplikasi berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut

maupun kronis. Bila infeksi tersebar luas pada permukaan

15
peritoneum menyebabkan timbulnya peritonitis umum. Aktivitas

peristaltic berkurang sampai timbul ileus paralitik, usus meregang

dan hilangnya cairan elektrolit mengakibatkan dehidrasi, syok,

gangguan sirkulasi dan oligouria. Peritonitis disertai rasa sakit

perut yang semakin hebat, nyeri abdomen demam dan

leukositosis.

c. Abses

Abses merupakan peradangan appendicitis yang berisi pus

teraba masa lunak di kuadran kanan bawah atau daerah pelvis.

Masa ini mula-mula berupa flegmon dan berkembang menjadi

rongga yang mengandung pus. Hal ini terjadi bila appendicitis

gangrene atau mikroperforasi ditutupi oleh omentum.

7. Penatalaksanaan

Tatalaksana appendicitis pada kebanyakan kasus adalah

apendiktomi. Keterlambatan dalam tatalaksana dapat meningkatkan

kejadian perforasi. Teknik laparoskopik, apendiktomi laparoskopik

sudah terbukti menghasilkan nyeri pasca bedah yang lebih sedikit,

pemulihan yang lebih cepat dan angka kejadian infeksi luka yang

lebih rendah. Akan tetapi terdapat peningkatan kejadian abses intra

abdomen dan pemanjangan waktu operasi. Laparoskopi itu

dikerjakan untuk diagnose dan terapi pada pasien dengan akut

abdomen, terutama pada wanita.

16
C. Konsep Nyeri

1. Pengertian Nyeri

Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak

menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan actual atau potensial.

Nyeri adaah alasan utama seseorang untuk mencari bantuan

perawatan kesehatan. Nyeri terjadi bersama banyak proses penyakit

atau bersamaan dengan beberapa pemeriksaan diagnostic atau

pengobata. Nyeri sangat mengganggu dan menyulitkan lebih banyak

orang disbanding suatu penyakit manapun (Brunner & Suddarth,

2002). (dalam kutipan Brunner & Suddarth, 2002)

Definisi keperawatan tentang nyeri adalah apapun yang

menyakitkan tubuh yang dikatakan individu mengatakannya.

Peraturan utama dalam merawat pasien dengan nyeri adalah bahwa

semua nyeri adalah nyata, meskipun penyebabnya tidak di ketahui

(Brunner & Suddarth, 2002).

2. Klasifikasi Nyeri

Nyeri dapat diklasifikasin berdasarkan durasi nyeri dan kondisi

patologis.

a. Berdasarkan durasi Nyeri

 Nyeri akut

Nyeri akut adalah nyeri yang timbul secara mendadak dan

berangsung dalam waktu singkat kurang dari 6 bulan (Black &

Hawsk, 2009). Nyeri akut bersifat melindungi, penyebabnya dapat

17
didentifikasi, berdurasi pendek dan memiliki sedikit kerusakan

jaringan serta respon emosional (Potter & Perry, 2009). Nyeri akut

biasanya disebabkan oleh trauma, bedah, atau inflamasi

(Prasetyo, 2010). Durasi nyeri akut berkaitan dengan faktor

penyebab dan umumnya dapat diperkirakan (Price, 2005). Nyeri

akut dapat diredakan dan perahan-lahan akan menghilang ketika

kelainan yang mendasarinya disembuhkan (Robinson & Saputra,

2016).

 Nyeri Kronis

Nyeri kronis adalah nyeri yang berangsung lebih lama

dibandingkan nyeri akut (Hariyanto & Sulistyowati, 2015). Nyeri

kronis merupkan nyeri yang timbul secara perlahan-lahan dan

berlangsung dalam waktu yang cukup lama yaitu lebih dari 6 bulan

(Hidayat, 2009). Nyeri dapat berupa hal yang bersifat kanker atau

bukan. Contoh dari nyeri yang bersifat bukan kanker termasuk

arthritis, nyeri punggung (lao back pain), nyeri miofasial, sakit

kepala dan neuropatik perifer. Nyeri kronis yang bersifat bukan

kanker biasanya tidak mengancam hidup. Terkadang area yang

terkena cedera telah sembuh bertahun-tahun lalu, namun nyeri

yang dirasakan masih tetap berlanjut dan menunjukkan tidak

adanya respon terhadap pengobatan Potter & Perry, 2009). Nyeri

kronis berlangsung lebih lama dari yang diharapkan, tidak sealu

memiliki penyebab yang dapat didentifikasi, dan dapat memicu

18
penderita yang teramat sangat bagi seseorang (Potter & Perry,

2009). Berbeda dengan nyeri akut, nyeri kronis memiliki

neurofisiologis dan tujuan yang lebih kompleks dan sulit dipahami

(Lemone, 2015). Pasien dengan nyeri kronis tidak atau kurang

memperlihatkan hiperativitas autonom tetapi memperlihatkan

gejala irritabilitas.

Kehilangn semangat dan gangguan kemampuan

berkonsentrasi. Nyeri kronis ini sering mempengaruhi semua

aspek kehidupan penderitanya. Menimbulkan distress, emosi, dan

mengganggu fungsi fisik dan social (Price, 2005). Pasien dengan

nyeri kronis mungkin menunjukkan suasana hati depresif dan

memperlihatkan perilaku individu dengan penyakit kronis. Seiring

berjalannya waktu dan berlanjutnya manisfestasi, kondisi ini

menjadi lebih kompleks dan faktor lain yang memengaruhi

maisfestasi, perilaku, gejala klien dengan nyeri kronis dapat

menjadi 3 kategori yaitu :

- Nyeri Kronis Intermiten

Nyeri kronis intermien (hilang – timbul) yaitu nyeri yang

muncul pada periode tertentu, di waktu yang lain, klien tidak

merasakan nyeri. Contohnya sakit kepala migraine dan nyeri

abdomen intermiten yang dihubungkan dengan gangguan sindrom

iritasi bowell (Black & Hawks, 2009).

- Nyeri Maligna Kronis

19
Nyeri maligna kronis disebabkan oleh berkembangnya

penyakit yang mengancam jiwa atau berhubungan dengan terapi.

Nyeri kanker merupakan jenis nyerimaligna kronis (lemone, 2015).

- Nyeri Nonmaligna Kronis

Nyeri nonmaligna kronis merupakan nyeri yang tidak

mengancam jiwa dan tidak melibihi waktu penyembuhan yang

diharakan. Nyeri punggung bawah (low back pain). Penyebab

utamapenderitaan dan merupakan penyita wkatu kerja masuk

dalam kategori ini (Lemone, 2015).

b. Berdasarkan Lokasi Nyeri

 Nyeri superficial

Ada dua macam bentuk nyeri superficial. Bentuk yang

pertama adalah nyeri dengan onset yang tiba-tiba dan mempunyai

kualitas yang tajam dan bentuk kedua adalah nyeri dengan onset

yang lambat disertai rasa terbakar. Nyeri superficial dpat dirasakan

diseluruh permukaan kulit klien. Traumagesejan, suhu yang terlalu

panas dapat menjadi penyebab timbulnya nyeri superficial ini

(Prasetyo, 2010). Contohnya klien dengan luka sayatan dengan

mudah menunjukkan lokasi nyeri (Black & Hawks, 2009).

 Nyeri somatic dalam

Nyeri somatic dalam mengacu kepada nyeri yang berasal dari

otot, tendon, ligamentum, tulang, sendi, dan arteri. Struktur-struktur

ini memiliki lebih sedikit reseptor nyeri sehingga lokasi nyeri sering

20
tidak jelas. Nyeri dirasakan lebih difus (menyebar) berada dengan

nyeri superficial yang mudah untuk dilokalisir (Price,2005).

 Nyeri visceral

Nyeri visceral mengacu pada nyeri yang berasal dari organ-

organ tubuh. Nosiseptor visera terletak didalam bagian organ dan

celah bagian dalam. Terbatasnya jumlah nosiseptor di area ini

menghasilkan nyeri yang biasanya lebih menyakitkan dan

berlangsung lebih lama dari nyeri somatic. Nyeri viscera sangat

sulit untuk dilokalisasikan dan beberapa cedera pada jaringan

visera mengakibatkan terjadi nyeri yang menjalar, dimana sensasi

nyeri berada di area yang sebenarnya tidak berkaitan dengan

lokasi cedera (Black & Hawks, 2009). Contoh dari nyeri visceral

yaitu appendicitis akut, cholecytis, penyakit kardiovaskuler, renal

kolik uretra dn lain-lain (Prasetyo, 2010).

3. Penanganan Nyeri

Untuk mengatasi nyeri bberapa penanganan nyeri yang

dapat dilakukan adalah dengan farmakologis maupun non

farmakologis, yaitu :

a. Farmakologis

Penatalaksanaan farmakologis merupakan penanganan

nyeri dengan menggunakan agen farmakaologis. Analgeik

merupakan metode penanganan nyeri yang paling umum dan

efektif. Analgesic adalah mediaksi yang dikembangkan untuk

21
meredakan nyeri. World Health Organization (WHO)

merekomendasikan petunuj untuk penanganan nyeri dalam bentuk

tengga analgesic yang membantu perawatan klien dengan nyeri

(Black & Hawks, 2009). Penggunaan analgesic ditentukan oleh

tingkat keparahan dari nyeri yang dirasakan. Untuk nyeri ringan

maka disarankan penggunaan non-opiod (Prasetyo, 2010). Non-

opoiod mencaup asetaminofen dan obat anti-inflamasi non steroid

(nonsteroid anti-inflamatory drug/NSAID) disarankan sebagai

langka utama. Jika nyeri berlanjut dilakukan penggunaan opiod.

Opiod (disebut juga narkotik) merupakan turunan tumbuhan opium.

Obat ini pereda nyeri yang paling kuat dan terapi pilihan untuk

nyeri sedang hingga berat (Lemone, 2015).

b. Non farmakologis

Penanganan non farmakologis digunakan untuk

meredekana nyeri terutama ketika dikombinasikan dengan obat-

obat farmakologi. Penanganan non farmakologis mencakup terapi

modalitas fisik dan perilaku kognitif. Terapi modalitas fisik

memberikan kenyamanan, meningkatkan mobilitas dan membantu

respon fisiologis. Terapi perilaku kognitif bertujuan untuk

mengubah persepsi dan perilaku klien terhadap nyeri, menurunkan

ktakutan dan memberikan klien control didri yang lebih (Black &

Hawks, 2009).

 Stimulasi kutaneus

22
Stimulasi kutaneus adalah stimulasi pada kulit membantu

untuk mngurangi nyeri. Masase/pijatan, mandi dengan air hangat,

kantong es dan stimulasi elektrik pada saraf transkuteneus

menstimulasi kulit untuk mengurangi persepsi nyeri. Stimulasi

kutaneus memberikan klien dan keluarga rasa control terhadap

nyeri dan pengobatan dirumah. Penggunaan yang tepat dari

stimulasi kutaneus membantu mengurangi ketegangan otot yang

meningkat nyeri (Potter & Perry, 2009).

 Distraksi

Distraksi adalah suatu tindakan pengalihan perhatian pasien

ke hal-hal lain diluar nyeri, yang diharapkan dapat menurunkan

kewaspadaan pasien terhadap nyeri bahkan meningkatkan

toleransi terhadap nyeri (Prasetyo, 2010). Contoh distraksi adalah

mendengarkan music dan menonton TV, melihat pemandangan.

Misalnya, pasien yang menggunakan rekaman music untuk

distraksi dapat dinyanyikan disertai agu, ketukkan irama dengan

jari atau kaki, nyalakan music (Lemone, 2015). Menonton acara-

acara yang bersifat lucu/humor atau acara yang disukai oleh klien

akan menjadi teknik distraksi yang dapat mengalihkan perhatian

klien terhadap nyeri yang dialami (Prasetyo, 2010).

 Relaksasi

Relaksasi adalah suatu tindakan membebaskan mental

dan fisik dari ketegangan dan stress, sehingga dapat meningatkan

23
toleransi terhadap nyeri (Prasetyo, 2010), mengurangi efek stress

terhadap nyeri, dan meningkatkan persepsi pengendalian nyeri.

Contoh tindakan relaksasi yang dapat dilakukan untuk menurunkan

nyeri adalah nafas daam dan relaksasi progresif. Teknik nafas

dalam efektif dilakukan ketika klien berbaring atau duduk dengan

nyaman, tetap berada dilingkungan yang tenang. Klien

memejamkan mata kemudian menarik nafas dalam dengan pelan,

menahan beberapa detik dan menghembuskan secara perlahan

(Lemone, 2015).

 Terapi kognitif

Apa yang dipikirkan seseorang tentang nyeri yang dialami

memberikan pengaruh terhadap kehidupannya dan terhadap

seberapa besar nyeri yang dia rasakan. Pikiran yang negative

tentang nyeri akan memfokuskan perhatian seseorang terhadap

aspek yang tidak menyenangkan dan membuat nyeri yang

dirasakan bertambah buruk (DImetteo, 1991 dalam Pasabiru,

2016). Keyakinan klien terhadap efektivitas intervensi yang didapat

memengaruhi derajat turun atau redanya nyeri yang dirasakan.

Keparcayaan diri yang ditampilkan mengenai potensi efektifitas

dari intervensi yang diberikan akan memberikan efek yang

signifikan pada kemampuan klien untuk mendapatkan hasil positif

dari prosesatau menurunkan nyeri (Black & Hawks,

2009).pemberian terapi kognitif ini adalah meningkatkan cara

24
berfikir klien dengan mengarahkan klien untuk memahami masalah

yang dihadapinya. Klien diyakinkan bahwa ia memiliki kemampuan

untuk berperilaku normal (Tailor, 1995 dalam Pasaribu, 2016).

4. Intenitas Nyeri

a. Pengertian Intensitas Nyeri

Intensistas nyeri adalah gambaran tentang seberapa parah

nyeri yang diraskan oleh individu. Pengukuran intensitas nyeri

sangat subjektif dan individual (Hariyanto & Sulistyowati, 2015).

Setiap pasien akan memiliki perilaku yang berbeda terhadap nyeri

karena intensitas nyeri dan toleransi setiap orang terhadap nyeri

sangat beragam (Robinson & Saputra, 2016). Pengukuran nyeri

dengan pendekan objektif yang paing mungkin adalah dengan

menggunakan respons fisiologik tubuh dan perilaku terhdap nyeri.

Penilaian terhadap klinis nyeri dapat digunakan untuk mengkaji

persepsi nyeri seseorang (Hariyanto & Sulistyowati, 2015).

Intensitas nyeri dapat dibagi menjadi beberapa tingkat

keparahannya :

 Nyeri ringan

Nyeri yang timbul dengan intensitas yang ringan. Individu

secara objektif mampu berkomunikasi dengan baik. Skala nyeri

pada nyeri ringan adalah pengukuran nyeri dengan menggunakan

skala numeric (Blackonja et al, 2010)

 Nyeri sedang

25
Nyeri yang timbul dengan intensitas nyeri sedang. Pada

nyeri sedang secara objektif pasien mendesis, menyeringai dapat

menunukkan lokasi nyeri, dapat mendeskripsikannya, dapat

mengikuti perintah dengan baik. Skala nyeri berkisar anata 5-6

dalam skala numeric (Blackonja et al, 2010 dalam Simamora,

2015).

 Nyeri berat

Nyeri berat adalah nyeri yang timbul dengan intensitas

yang berat. Pada nyeri berat secara objektif pasien terkadang tidak

dapat mengikuti perintah tetapi masih respon terhadap tindakan,

dapat diatasi dengan alih posis nafas panjang. Skala nyeri di atas

7 dengan skala nyeri numerik (Blackonja et al, 2010 dalam

Simamora, 2015).

 Pengukuran Intensitas Nyeri

Numerica Pain Rating Scale (NPRS) digunakan untuk

mengukur intensitas nyeri. Skala terdiri dari 10 poin yang mana 0

menunjukkan “tidak ada nyeri” dan 10 menunjukkan “nyeri sangat

bert”, penilaian dari 1-3 disamakan dengan nyeri ringan, 4-6 untuk

26
nyeri sedang, dan 7-10 untuk nyeri berat (McCafferey & Beebe,

1993 dalam Phona, 2015).

5. Perilaku Nyeri

a. Pengertian Perilaku Nyeri

Respons terhadap adanya stimulasi kerusakan dibagi

menjadi dua bagian yaitu pengalaman nyeri yang bersifat subjektif

dan perilaku yang dapat diobservasi. Kata nyeri digunakan untuk

menyatakan pengalaman yang tidak menyenangkan yang bersifat

subjektif. Sementara perilaku yang dapat diobservasi disebut

dengan perilaku nyeri (Fields, 1987 dalam Harahap 2007). Menurut

Wall (1991, dalam Pasaribu, 2011) perilaku nyeri adalah segala

Sesutu yang dilakukan oleh seseorang dan setiap perubahan

kebiasaan ketika ia mengalammi nyeri yang dapat observasi.

Perilaku nyeri juga dapat dilihat dari perubahan perilaku individu

seperti postur tubuh, ekspresi wajah, perkataan, berbaring,

mengkonsumsi obat, mencari pengobatan, dan pencarian

kompensasi. Perilaku nyeri merupakan tindakan berkomunikasi

dari ketidaknyamanan (misalnya meringis, penurunan aktivitas)

yang memiliki peran penting dlam mengurangi fungsi tingkat

individu dan memperburuk kondiri nyeri (Fordyce, 1976 dalam

Harahap, 2006).

Perilaku nyeri dapat berupa : (1) respon verbal, meliputi

mengeluh, mendesah, merintih dan mengadukan nyeri yang

27
dialami, (2) respon non verba, meliputi wajah tegang, keresahan,

sudut muut dilengkungkan ke bawah, terlihat sedih, terlihat

ketakutan, bibir berkerut, dan dagu bergetar, (3) sikap badan dan

iyarat meliputi menggosok-gosok bagian tubuh yang nyeri,

immobilisasi dan menyeringai, (4) perilaku yang berbeda dengan

keadaan normal meliputi beristirahat dan berbaring secara

berebihan (Fordyce, 1976 dalam Harahap, 2007).

b. Jenis Perilaku Nyeri

 Respondent behavior

Respondent behavior adalah respon yang timbu akibat

adanya stimulus spesifik. Pada perilaku ini terilhat jelas hubungan

antara stimulus dan respon. Respon reflektif merupakan respon

yang secara otomatis dapat terjadi walaupun diinginkan atau tidak.

Respon ini dikontrol oleh stimulus nociceptif yang spesifik, contoh

perilaku nyeri reflektif ini adalah sensasi terbakar yang

berhubungan dengan injuri pada kulit ataupun pada otot (Kast,

1998 dalam Harahap, 2006).

 Operan behavior

Opean behavior tidak selalu berhubungan dengan

ransangan yang spesifik. Operan behavior terjadi secara langsung

dan otomatis terhadap ransangan yang sama seperti perilaku

responden. Tipe perilaku nyeri ini tidak dikontrol o;eh ransangan

dan bahkan saat ransangan tersebut tidak adekuat tetapi pasien

28
menerima pengaruh dari lingkungan (keberadaan pasangan,

perawat dan lingkungan) maka perilaku nyeri akan terlihat (Kats,

dalam Harap, 2006).

6. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Nyeri

a. Usia

Usia mempengaruhi persepsi dan ekspresi individu terhadap

nyeri khususnya anak-anak dan lansia. Perbedaan perkembangan

yang ditemukan diantara kelompok ini dapat dipengaruhi

seseorang bereaksi terhadap nyeri (Hariyanto & Sulistyowati,

2015). Cara lansia merespon nyeri dapat berbeda dengan orang

lain yang berusia lebih muda. Lansia cenderung mengabaikan

nyeri dan menahan nyeri yang berat dalam waktu yang lama

sebelum melaporkannya atau mencari perawatan kesehatan

(Smeltzer & Bare, 2001 dalam Pasaribu, 2016).

b. Jenis kelamin

Studi klinis menunjukkan bahwa wanita mengalami ambang

nyeri yang lebih rendah dan mengalami intensitas nyeri lebih tinggi

dibandingkan pria (Tooney, 2008 ; Wilson, 2006 dalam Lemone,

2015). Siklus yang memfasilitasi respon nyeri berbeda antara pria

dan wanita, terutama system modulatori opiod. Karena perbedaan

ini, wanita dan pria dapat merespons secara berbeda terhadap

analgetik opiod seperti morfin (Wilson, 2006 dalam Lemon, 2015).

29
c. Intensitas nyeri

Indicator tunggal yang paling dari intensitas nyeri adaah

laporan mandiri klien tentang nyeri (Black & Hawks, 2009). Willkie

et al (1992 dalam Harahap, 2006) menemukan bahwa perilaku

nyeri memiliki hubungan yang signifikan dengan intensitas nyeri.

Buckelew et al (1994 dalam Harahap, 2006) juga menemukan

bahwa perilaku nyeri berolerasi dengan nyeri yang dilaporkan

sendiri oleh individu. Demikian juga dengan peneliian (Asghry &

Nicholas, 2001) menguji self efficacy dengan berbagai perilaku

nyeri pada pasien nyeri kronis menemukan bahwa intensitas nyeri

memiliki hubungan yang signifikan berkorelasi positif dengan

perilaku nyeri (Harahap, 2006).

d. Pengaruh budaya

Setiap respon individu terhadap nyeri sangat di pengaruhi

oleh budaya. Pengaruh budaya memegaruhi perilaku nyeri,

ekspresi nyeri standar yang tepat dan tidak tepat. Pada umumnya

respon budaya terhadap nyeri dibagi menjadi dua kategori, yaitu

toleransi dan sensitive ((Andrew & Boyle, 2008 dalam Lemone,

2015). Misalnya, jika budaya pasien mengajarkan bahwa individu

harus menoleransi nyeri dengan sabar, pasien mungkin terlihat

diam dan menolak (atau tidak meminta) obat nyeri. Jika nnorma

budaya menganjurkan emosional yang terbuka dan sering, pasien

30
mungkin menangis dengan bebas dan terlihat nyaman ketika

meminta obat nyeri (Lemone, 2015).

e. Makna nyeri

Makna nyeri mempengaruhi pengalaman terhadap nyeri dan

caranya beradaptasi terhadap nyeri (Hariyanto & Sulistyowati,

2015). Kurangnya pemahaman sumber, hasil, dan makna nyeri

dapat mempengaruhi secara berlawanan terhadap pengalaman

nyeri (Lemone, 2015).

f. Ansietas

Hubungan antara nyeri dan ansietas bersifat kompleks.

Ansietas dapat meningkatkan persepsi nyeri dan sebaiknya nyeri

dapat menyebabkan ansietas. Selain itu, tensi otot yang umumnya

disertai dengan anastesi dapat membuat sumber nyeri itu sendiri

(Lemone, 2015).

g. Keletihan, kurang tidur dan depresi

Nyeri mengganggu kemampuan individu untuk tidur dan

tetap terjaga sehingga menimbulkan keletihan. Sebaliknya,

keletihan dapat menurunkan toleransi nyeri. Pada individu yang

depresi secara klinis, serotonin menurun, mengakibatkan

peningkatan sensasi nyeri. Sebaliknya, individu yang tidak depresi

secara klinis juga benar, ketika ada nyeri depresi terjadi (Lemone,

2015).

31
h. Pengalaman masa lalu

Setiap orang belajar dari pengaaman nyeri. Cara seseorang

beespon teradap nyeri adalah akibat dari banyak kejadian nyeri

selama rentang kehidupannya, sehingga individu tersebut lebih

mudah menginterpretasikan sensasi nyeri. Sebaliknya apabila

seseorang tidak pernah merasakan nyeri maka persepsi pertama

nyeri dapat mengganggu koping terhadap nyeri (Hariyanto &

Sulistyowati, 2015).

i. Gaya koping

Sumber-sumber koping seperti komunikasi dengan keluarga

atau melakukan latihan dapat mengurangi tingkat nyeri. Dalam

proses nyeri seseorang seringkali menemukan berbagai cara untuk

mengembangkan koping terhadap efek fisik dan psikologis nyeri.

Namun nyeri juga dapat menyebabkan ketidakmampuan koping

baik sebagian maupun keseluruhan (Hariyanto & Sulistyowati,

2015).

j. Lingkungan, dukungan keluarga dan social

Lingkungan akan mempengaruhi persepsi nyeri, lingkungan

yang ribut, cahaya dan aktivitasnya, dapat meningkatkan intensitas

nyeri. Faktor lain yang bermakna memengaruhi respons nyeri

adalah kehadiran orang-orang terdekat dan bagaimaa sikap

mereka terhadap seseorang yang mengalami nyeri (Hariyanto &

Sulistyowati, 2015).

32
BAB III

KERANGKA KONSEP

A. Dasar Pikir Penelitian

Appendisitis merupakan peradangan pada Apendiks yang

berbahaya jika tidak ditangani dengan segera. Tindakan yang dapat

dilakukan yaitu dengan cara appendiktomi atau pembedahan, dan

pada tindakan operasi pada pasien appendicitis banyak menimbulkan

dampak psikososial spiritual, salah satunya dapat terjadi nyeri setelah

dua jam pertama pasien akan merasakan nyeri hebat. Ada beberapa

yang mempengaruhi faktor di antaranya usia, jenis kelamin, intensitas

nyeri, pengaruh budaya, makna nyeri, ansietas, Keletihan, kurang

tidur dan depresi, Pengalaman masa lalu, Gaya koping, Lingkungan,

dukungan keluarga dan social.

Ansietas merupakan salah satu faktor yang hubungan dengan

nyeri. Karena ansietas dapat meningkatkan persepsi nyeri dan

sebaliknya nyeri dapat menyebabkan ansietas.

Tidur merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia.

Mencapai kualitas yang baik penting untuk kesehatan, namun pasien

denga post operasi akan mengalami nyeri akut. Yang di mana nyeri

dapat mengganggu kemampuan individu untuk tidur dan tetap terjaga

sehingga menimbulkan keletihan.

Lingkungan yang baik untuk paisen yang menjalani perawatan

di rumah sakit pasti mebutuhkan lingkungan yang tenang serta

33
pencahayaan yang baik. Namun yang terjadi bahwa lingkungan akan

mempengaruhi persepsi nyeri, lingkungan yang ribut, cahaya dan

aktivitasnya, dapat meningkatkan intensitas nyeri.

B. Kerangka Konsep

Variable Independen :
Pengalaman masa lalu
Gaya koping
Kuaitas
Dukungan Tidur dan
keluarga
Makna
Jenis nyeri
kelamin
Ansietas
Usia
Pengaruh budaya
Intensitas
soial nyeri
Lingkungan

Nyeri Post operasi

Appendisitis

34