Anda di halaman 1dari 4

NAMA : RIFKY EDISTI

NIM : P07120216082
PEMBIMBING : 1.
2.

NO JUDUL FENOMENA
1 Perbandingan risiko penyakit Penyakit jantung dan pembuluh darah
Kardiovaskular/Jantung pada guru- (kardiovaskuler) merupakan masalah kesehatan
guru di SMP 1 Tamban dengan SMA utama di negara maju maupun negara
1 Tamban berkembang. Hipertensi menjadi penyebab
kematian nomor satu di dunia setiap tahunnya.
Hipertensi merupakan salah satu penyakit
kardiovaskular yang paling umum dan paling
banyak disandang masyarakat. (Depkes RI,
2019)

Data Riskesdas tahun 2013 menunjukkan,


prevalensi tertinggi untuk penyakit
Kardiovaskuler di Indonesia adalah PJK, yakni
sebesar 1,5%. Dari prevalensi tersebut, angka
tertinggi ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur
(4,4%) dan terendah di Provinsi Riau (0,3%).
(Depkes RI, 2017)

Dari data Riskesdas tahun 2018 menunjukkan,


prevalesnsi tertinggi untuk penyakit jantung di
Indonesia paling banyak terjadi pada pekerja
PNS/TNI/Polri/BUMN/BUMD sebesar 2.7%
diikuti dengan terbanyak kedua yaitu
D1/D2/D3/D4/PT sebesar 2.1%. (Riskesdas,
2018)

Dan karena banyaknya kasus stroke dan penyakit


jantung yang terjadi pada guru-guru sekolah-
sekolah SMP dan SMA Tamban jadi peniliti
sangat berminat untuk meneliti perbandingan
risiko penyakit Kardiovaskular/Jantung yang
bertempat di SMP 1 Tamban dan SMA 1 Tamban
sekaligus memberikan cek kesehatan terhadap
guru-guru agar dapat meneliti risiko penyakit
Kardiovaskular/Jantung
2 Analisis faktor-faktor yang Hasil penelitan menunjukkan bahwa rata-rata
mempengaruhi tingkat stress selama usia mahasiswa 22,01 tahun. Rata-rata masa
mengikuti praktik klinik untuk studi untuk program Diploma III (D3) adalah
pertama kali di rumah sakit pada 6,00 semester, untuk program Sarjana (S1) rata-
mahasiswa Poltekkes Kemenkes ratanya adalah 8,05 semester. Tingkat stres pada
Banjarmasin Jurusan Keperawatan mahasiswa menunjukkan stres ringan sebanyak
35,6%, stres sedang 57.4 %, dan stres berat
sebanyak 6,9 %. Tingkat stres tertinggi dialami
oleh jenis kelamin perempuan dengan hasil stres
sedang 33,6 %, dan tingkat stres berat 4,0%.
Gambaran tingkat stres pada mahasiswa di
Universitas Muhammadiyah Magelang
menunjukkan stres sedang sebanyak 33,6 %.
(Ambarwati, Putri Dewi dkk. 2017)

Tidak sedikit mahasiswa keperawatan yang


mengalami stress dengan tingkat yang berbeda-
beda saat berhadapan dengan praktik klinik
untuk pertama kalinya dan untuk faktor
penyebabnya mungkin berbeda-beda tiap
individu. Karena itu peneliti ingin mengetahui
faktor apa saja yang mempengaruhi tingkat stress
mahasiswa keperawatan selama mengikuti
praktik klinik untuk peratama kalinya di rumah
sakit
3 Hubungan tingkat pengetahuan Pasien di ruang ICU berbeda dengan pasien di
keluarga pasien terhadap penyakit ruang rawat biasa, karena pasien ICU
yang dialami pasien dengan tingkat mempunyai ketergantungan yang sangat tinggi
kecemasan keluarga yang dirawat di terhadap perawat dan dokter. Di ruang ICU
ruang ICU pasien kritis atau kehilangan kesadaran atau
mengalami kelumpuhan sehingga segala sesuatu
yang terjadi dalam diri pasien hanya dapat
diketahui melalui monitoring yang baik dan
teratur, karena setiap perubahan yang terjadi
harus dianalisa secara cermat untuk mendapatkan
tindakan yang cepat dan tepat. Reaksi pasien di
ICU yang mengalami ini berbeda-beda, reaksi
pasien ICU ini antara lain muncul kecemasan.
Perasaan cemas ini muncul ketika seseorang
terlalu mengkhawatirkan kemungkinan peristiwa
yang menakutkan yang terjadi di masa depan
yang tidak biasa dikendalikan, dan jika itu terjadi
akan dinilai sebagai sesuatu yang mengerikan
(Sivaltar, 2007)

Karena itu peneliti ingin meneliti apakah ada


hubungannya tingkat pengetahuan keluarga
pasien terhadap penyakit yang di alami pasien
dengan tingkat kecemasan keluarga yang di
rawat di ruang ICU
NO JUDUL
1 Hubungan dukungan keluarga dan motivasi pasien
terhadap tingkat kecemasan pasien di ruang icu
2 Factor-faktor yang mempengaruhi komunikasi terapeutik
3 Perbandingan angka kejadian penyakit paru antara
perokok aktif dan perokok pasif di RS